8 Strategi Pemerintah Menanggulangi Ancaman Rabies

RABIES adalah penyakit mematikan yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat berakibat fatal hingga 100% jika gejala klinis muncul. Penyakit ini menjadi perhatian serius di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, di mana jumlah kasus rabies cukup mengkhawatirkan. Hingga April 2023, tercatat 31.113 kasus dengan 11 kematian akibat rabies di Indonesia.

Continue reading

Inovasi Kesehatan Digital untuk Meningkatkan Layanan Penyakit Kardiovaskular

Tanggal 29 September 2024 yang diperingati sebagai Hari Jantung Sedunia, merupakan peringatan untuk meningkatkan kesadaran dan mengedukasi masyarakat secara lebih lanjut mengenai penyakit kardiovaskular. Peringatan Hari Jantung Sedunia kali ini mengusung tema internasional “Use Heart for Action”, sedangkan tema nasional yang dibawakan yakni Ayo Bergerak untuk Sehatkan Jantungmu. Sebagai penyakit yang menyumbang kematian paling tinggi di tingkat global dengan prevalensi berkisar di angka 470 juta pada 2016, dengan peningkatan persentase kematian akibat penyakit kardiovaskular sebanyak 15% dari tahun 2006 hingga 2016, penyakit kardiovaskular patut menjadi perhatian utama dalam sasaran peningkatan mutu layanan. Penyakit kardiovaskular mencakup penyakit jantung iskemik, penyakit serebrovaskular, penyakit jantung hipertensi, penyakit vaskular perifer, penyakit jantung rematik, kardiomiopati, hingga aritmia. Teknologi kesehatan digital dapat digunakan untuk transformasi layanan kesehatan dengan menyediakan layanan pencegahan penyakit, juga diagnosis dan manajemen, yang dapat memperkuat pasien dan tenaga kesehatan profesional untuk memperoleh luaran kesehatan yang lebih baik.

Kesehatan Digital didefinisikan sebagai penggunaan teknologi digital, mobile, dan nirkabel untuk mendukung pencapaian tujuan kesehatan. Sekarang kesehatan digital digunakan untuk mendeskripsikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk kesehatan, meliputi intervensi kesehatan, seperti yang terdapat di bidang baru, yakni analisis big data, kecerdasan buatan, dan machine learning.

Kesehatan digital merupakan bidang yang dinamis dan selalu berkembang yang membutuhkan pendekatan baru untuk meninjau efikasi dan efektivitas teknologi terbarunya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, World Health Organization (WHO) mengeluarkan pedoman untuk memonitor dan mengevaluasi teknologi kesehatan digital. Pada pedoman ini, terdapat beberapa rekomendasi, seperti cara memilih desain studi dan indikator untuk mengevaluasi intervensi kesehatan digital, komponen kunci dan tools untuk memonitor kesehatan digital, pendekatan yang berbeda pada asesmen kualitas data, dan pedoman untuk melaporkan temuan, contohnya dengan menggunakan daftar mHealth Evidence Reporting and Assessment (mERA).

Meski kesehatan digital memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan layanan dan pencegahan penyakit kardiovaskular, terdapat beberapa bukti ilmiah yang terbatas untuk mendukung penggunaan teknologi kesehatan digital. Intervensi kesehatan digital yang akan dibahas yakni: (i) program pesan singkat, (ii) aplikasi ponsel, (iii) perangkat yang digunakan.

Program Pesan Singkat

Kepatuhan pengobatan merupakan landasan dari manajemen penyakit kardiovaskular, seperti perilaku hidup sehat, beberapa studi mengevaluasi program pengiriman pesan singkat dalam meningkatkan kepatuhan. Peninjauan sistematik Cochrane (2017) menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan sebagai efek positif dari program pengiriman pesan singkat pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. Yang perlu digaris bawahi dari intervensi ini adalah hampir seluruh program pengiriman pesan singkat hanya mengevaluasi dampaknya terhadap satu perilaku kesehatan. Meski meningkatkan perilaku kesehatan secara spesifik dapat bermanfaat bagi orang dengan penyakit kardiovaskular, peningkatan pada beberapa perilaku secara simultan dapat lebih berdampak signifikan pada kesehatan secara signifikan.

Aplikasi Ponsel

Intervensi lewat ponsel pintar dan tablet dalam aplikasi dapat mengedukasi pasien lewat informasi tertulis dan visual, serta monitor dan manajemen kondisi kesehatan melalui harian dan pengingat otomatis. Meski ada potensi besar dari aplikasi kesehatan, terdapat satu aspek yang harus dipertimbangkan, yakni pengembang dari aplikasi kesehatan dengan latar belakang tenaga kesehatan profesional yang sedikit hingga tidak sama sekali dan pengembangannya tidak berdasarkan bukti ilmiah. Penting untuk membangun aplikasi yang berfokus pada perilaku individu. Studi yang dilakukan oleh Santo et. al pada 2019 dengan randomized control trial terhadap aplikasi pengingat pengobatan dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan, menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan pengobatan yang dilaporkan pengguna (self-report) yang tidak diikuti oleh peningkatan signifikan dari luaran klinis pengguna aplikasi jika dibandingkan dengan layanan manual tanpa aplikasi. Evaluasi ini juga menemukan mayoritas pasien yang menerima intervensi aplikasi menemukan kegunaan aplikasi dalam pencatatan nama dan dosis obat yang dikonsumsi sehingga pengingat pengobatan dapat meminum obat dengan benar.

Perangkat yang Digunakan

Perangkat yang dapat digunakan merupakan alat elektronik yang dapat digunakan dan memiliki kemampuan untuk menangkap informasi, memproses data, dan menyediakan luaran informasi yang relevan lewat koneksi dengan perangkat lain, seperti aplikasi ponsel pintar. Dalam konteks layanan dan manajemen penyakit kardiovaskular, faktor gaya hidup menjadi target utama dari perangkat pintar adalah aktivitas fisik. Pencatat aktivitas menyediakan informasi langkah harian, jarak jalan, energi yang dihabiskan , dan detak jantung. Tinjauan sistematik yang dipublikasikan pada 2019 mengenai investigasi dampak intervensi yang menggunakan pencatat aktivitas berbasis pengguna perangkat dibandingkan dengan pengguna yang tidak memakai perangkat pencatat aktivitas dan perilaku sedenter dengan 3646 partisipan, menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah langkah harian dengan peningkatan mencapai 627 langkah per hari. Studi meta analisis secara spesifik pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dengan total pada 4528 pasien, menunjukkan peningkatan signifikan dengan rerata 2592.33 langkah per hari dengan penggunaan perangkat pintar. Sedangkan, bagi perangkat pintar terbaru, seperti smartwatch, dapat digunakan sebagai tool untuk monitor ritme jantung dan mendeteksi aritmia.

Selengkapnya dapat diakses di:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7532121/

 

 

Laporan dari IHF-Rio 47th World Hospital Congress 2024

Laporan dari IHF-Rio 47th World Hospital Congress 2024

Rio de Janerio, Brazil, 10-12 September 2024

Disusun oleh: Hanevi Djasri
Kompartemen Mutu dan Tatakelola Klinis PP PERSI
Magister Manajemen Rumahsakit, HPM UGM


  Pengantar

Pada tanggal 10-12 September 2024, International Hospital Federation (IHF) menyelenggarakan World Hospital Congress (WHC) ke 47 di Rio de Janeiro, Brazil. Hanevi Djasri menjadi anggota IHF-Rio Scientific Committee perwakilan resmi dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan turut menghadiri konggres tersebut. WHC sendiri merupakan forum global yang menghubungkan para pemimpin dan pengambil keputusan di rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan lainnya, untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik, bertukar ide dan inovasi baru, serta membangun jaringan dengan para eksekutif senior dari seluruh komunitas pelayanan kesehatan internasional.

Berikut ini laporan baik sebagai scientific committee maupun peserta konggres.

  Scientific Committee

Scientific committee WHC 2024 terdiri dari 40 orang, yaitu:

Scientific Committee Co-chairs

  1. Dr. Graccho Alvim Neto: VP, Associação de Hospitais do Estado do Rio de Janeiro, Brazil
  2. Ms Gilvane Lolato: Operational Manager, Organização Nacional de Acreditação, Brazil

Scientific Committee Members

  1. Prof. Arnon Afek: Associate Director General and Acting Director of General Hospital, Sheba Medical Center, Israel
  2. Ms Zulaikha Al Hosani: Chief Nursing Officer, Sheikh Shakhbout Medical City, UAE
  3. Dr Noor Al Mheiri: Head of Medical Services Unit, Hospitals Department, Emirates Health Services, UAE
  4. Dr Hatem Alameri: Director, Healthcare Workforce Monitoring Division, Department of Health, UAE
  5. Dr Lama Aldakhil: Executive Director of Continuous Professional Development, Saudi Commission for Health Specialties, Saudi Arabia
  6. Dr Abdulateef Saad Alokifi: General Director for Organizational Excellence, Ministry of Health, Saudi Arabia
  7. Dr Ernesto Báscolo: Unit Chief of the Primary Health Care and Integrated Service Delivery, Pan American Health Organization under the World Health Organization, USA
  8. Ms Sylvia Basterrechea: Programme Lead, Geneva Sustainability Centre, Switzerland
  9. Ms Linda Clark: Director of Professional Development, International Hospital Federation, UAE
  10. Dr Hanevi Djasri: Quality Division Head of Indonesian Hospital Association (PERSI), and Consultant of Centre for Health Policy and Management (CHPM), Gadjah Mada University, Indonesia
  11. Mr Alan Dubovsky: VP and Chief Patient Experience Officer, Cedars-Sinai, USA
  12. Dr Amir ElTelwany: Executive Director and CEO, Egypt Healthcare Authority, Egypt
  13. Dr Emad Estemalik: Chair for International Business Development and Section Head for Headache Medicine, Cleveland Clinic, USA
  14. Prof. Dr Jaroslaw J. Fedorowski: President and CEO, Polish Hospital Federation, Poland
  15. Dr Juan Maria Ferrer: Director of Quality, Education and Research, Fundació Sanitària de Mollet, Mollet del Vallés, Spain
  16. Dr Mohamed Hablas: Regional Director, Egypt and North Africa, Saudi German Hospitals, Egypt
  17. Ms Michelle Hood: EVP and COO, American Hospital Association, USA
  18. Dr Sarah Jarmain: Chief of Staff and EVP for Medical and Academic Affairs, St. Joseph’s Healthcare Hamilton, Canada
  19. Ms Barbara Walczyk Joers: President and CEO, Gillette Children’s Specialty Healthcare, USA
  20. Ms Pritindira Kaur: Regional Quality Head, Apollo Hospitals Group, India
  21. Dr Suhail Javed Khan: Physician, Medical Adviser and Health Manager, MEDIKER Healthcare, Kazakhstan
  22. Dr Gladys Kwan: Chief Manager (Medical Grade), Cluster Services Division, Hospital Authority Head Office, Hong Kong
  23. Mr Ronald Lavater: CEO, International Hospital Federation, Switzerland
  24. Ms Kyung Eun Lee: Chairman and CEO, Keyo Medical Foundation, South Korea
  25. Dr Wui-Chiang Lee: Vice Superintendent, Taipei Veterans General Hospital, Taiwan
  26. Dr Adolfo Llinás: Chief Medical Officer, Fundación Santa Fe de Bogotá, Colombia
  27. Professor Alexandre Lourenço: CEO and Chairman, Coimbra’s Healthcare Integrated Delivery System, Portugal
  28. Ms Thaira Madi: Director of Accreditation Department, Health Care Accreditation Council, Jordan
  29. Prof. Dr Fadi Abdul Kader Ghazi Mirza: Medical Director and Director of Obstetrics Department, Latifa Women and Children Hospital; Chair of Obstetrics, Gynecology, and Women’s Health, Dubai Health, UAE
  30. Ms Aika Albert Felicia Mongi: Director of Nursing Services, Aga Khan Health Services, Tanzania
  31. Dr Simon Onsongo: Consultant Clinical Pathologist and Head of Department, Aga Khan Hospital Kisumu and Cluster, Kenya
  32. Ms Giulia Petrarulo: International Relations Coordinator and Communications Project Manager, Unicancer, France
  33. Dr Dana Gelb Safran: President and CEO, National Quality Forum; Chief Scientific Officer, The Joint Commission, USA
  34. Mr Richard Stubbs: CEO, Health Innovation Yorkshire and Humber; Chair, Health Innovation Network, UK
  35. Mr Artur Vaz: Administrator, Member of the Executive Board and Chief Risk Officer, Luz Saúde, Portugal
  36. Mr Walt Vernon: CEO, Mazzetti; Sextant Foundation, USA
  37. Mrs Vera Vertessen: Director of Patient Care, Universitair Ziekenhuis Brussel, Belgium
  38. Mr Daniel Yaross: President-Elect, International Association for Healthcare Security and Safety, USA

rio 1

Tugas scientific committee adalah turut mengembangkan program dan agenda WHC yang dimulai sejak awal Bulan Januari 2024. Diawali dengan menyebarluaskan call for abstract, melakukan penilaian abstract, memilih abstract yang masuk sebagai presentasi poster maupun sebagai presentasi oral dalam sesi pararel, serta menentukan narasumber yang perlu diundang untuk sesi pleno serta narasumber untuk melengkapi sesi pararel. Disamping itu committee juga bertugas untuk mengusulkan kandidat pemenang “IHF Awards” ataupun pemenang “i-to-i Innovation Hub” yang tahun ini disponsori oleh Standford Medicine.

Terdapat 5 tract dalam WHC 2024, yang dibahas baik dalam sesi pleno maupun sesi pararel (jadwal lengkap disini https://worldhospitalcongress.org), yaitu:

  • Contemporary leadership
  • Workforce
  • Clinical models enhancing quality
  • Innovation in care and hospital operations
  • Sustainability

Committee mengadakan pertemuan evaluasi saat konggres hari pertama, salah satunya untuk membahas mengenai pembagian tract, beberapa anggota mengusulkan pada konggres tahun depan dapat memperbanyak jumlah tract supaya lebih mendetail, namun beberapa anggota yang lain justru mengusulkan untuk lebih memastikan adanya keterkaitan antara satu tract dengan tract lainnya.

Tahun ini membanggakan Indonesia, dari IHF Award terdapat RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita yang mendapatkan “American College of Healthcare Executives Excellence Award for Leadership and Management”, dari Inovation Hub terdapat RSUD dr. Zainoel Abidin yang terpilih sebagai salah inovator IHF 2024 dengan inovasinya untuk “Non-Surgical Innovation for Diagnostic and Therapeutic of Thyroid Nodules (TAGTO), serta dari sesi presentasi oral terdapat RSUD Sekarwangi Sukabumi yang menyampaikan presentasinya dalam sesi “Integrating AI into everday decisions and processes”, dan dari sesi YEL (Young Executive Leaders) terdapat perwakilan dari Silaom Hospital Group.

  Kontingen Indonesia

Panjangnya perjalanan dari Indonesia ke Brazil (Jakarta – Amsterdam 13 jam + Amsterdam – Rio de Janeiro 11 jam) yang mungkin menyebabkan tidak banyaknya peserta dari Indonesia dibanding IHF tahun lalu di Portugal. IHF-Rio dihadiri 12 peserta dari Indonesia yaitu:

  1. dr. Rachmat Mulyana Memet, Sp.Rad: Wakil Ketua II PERSI
  2. dr. Tri Hesty Widyastoeti, SpM, MPH: Seketaris Umum PERSI
  3. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA: Ketua Kompartemen Mutu dan Tatakelola Klinis PERSI
  4. Dr. dr. Iwan Dakota SpJP(K), MARS, FIHA, FESC,FACC, FSCAI: Direktur Utama RS Jantung Harapan Kita
  5. dr. Muhadi, SpPD-KKV, M.Epid, FINASIM: Direktur Medik dan Keperawatan RS Jantung Harapan Kita
  6. Tri Hartono Rianto, SE, M.Bus, Ak: Direktur Keuangan dan BMN RS Jantung Harapan Kita
  7. Ghotama Airlangga, SKM, MKM, QRMA, CFrA, CPRM, CGRCP: Direktur Layanan Operasional RS Jantung Harapan Kita
  8. dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K), MARS: Direktur Medis dan Keperawatan RSAB Harapan Kita
  9. dr. Gatot Sugiharto, SpB: Direktur Utama RSUD Sekarwangi, Sukabumi
  10. drg. Iing Ichsan Hanafi, MARS, MH: Direktur Regional RS Hermina Grup
  11. dr. Hendra Zulfry, Sp.PD, K-EMD, FINASIM: SMF Penyakit Dalam, RSUD Zainal Abidin, Banda Aceh
  12. Benny Wijaya: Ancillary Product Management, Siloam Hospitals Group.

rio 2

Delegasi PERSI IHF-Rio 2025

  Reportase Singkat Beberapa Isu Menarik

Secara keseluruhan isu-isu yang diangkat sangat menarik, hampir semua sesi diawali dengan pemaparan konsep dasar dari berbagai perkembangan pengetahuan dan ide terkini serta didetailkan dengan berbagai contoh penerapan dan inovasi dilapangan. Dengan adanya mekanisme seleksi abstrak yang baik, maka seluruh paparan penerapan dan inovasi disajikan dengan menjelaskan latar belakang, tujuan, metode, hasil inovasi, dan pembahasan, serta kesimpulan. Persyaratan ini yang mungkin tidak terpenuhi, dan membuat hanya sedikit makalah inovasi RS di Indonesia yang tembus untuk disajikan dalam konggres IHF 2024.

Sesi pembukaan diberikan oleh Dr Muna A. Tahlak, Presiden IHF, dan Dr Adelvânio F. Morato, Presiden Federasi Rumah Sakit Brasil, serta oleh Dr Jarbas Barbosa da Silva Jr., Direktur Organisasi Kesehatan Pan Amerika, yang menyampaikan pidato secara virtual kepada para delegasi. Salah satu yang disampaikan adalah Sistem kesehatan di Brasil yang memiliki beberapa keunggulan dan juga tantangan yang perlu diperhatikan, dan dapat menjadi pembelajaran tingkat internasional. Beberapa keunggulan sistem kesehatan rumah sakit di Brasil adalah:

  1. UHC: Brasil memiliki sistem jaminan kesehatan yang disebut Sistema Único de Saúde (SUS). Sistem ini menjamin akses layanan kesehatan dasar bagi semua warga negara, tanpa memandang kemampuan membayar.
  2. Jaringan rumah sakit luas: Brasil memiliki lebih dari 8.000 RS, baik milik pemerintah maupun swasta. Hal ini memungkinkan masyarakat memiliki pilihan yang lebih banyak dalam mengakses layanan kesehatan.
  3. Penelitian medis yang maju: Brasil memiliki komunitas medis yang aktif dalam melakukan berbagai penelitian medis penting, terutama di bidang penyakit tropis dan kesehatan masyarakat.
  4. Program kesehatan masyarakat yang komprehensif: Brasil telah menjalankan berbagai program kesehatan masyarakat yang sukses, seperti imunisasi, pengendalian penyakit menular, dan promosi kesehatan reproduksi.

Brazil juga telah menjadi pusat rujukan ilmu dan teknologi terkait dengan: Penyakit Tropis seperti malaria, demam kuning, dan penyakit Chagas; Program transplantasi organ di Brasil telah berkembang pesat dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia; Kesehatan reproduksi yang komprehensif, termasuk akses ke kontrasepsi dan layanan kesehatan ibu dan anak.

Dari ke lima tract pada IHF-Rio, tract yang selalu dipadati para peserta adalah:

  1. Clinical models enhancing quality, terutama terkait dengan “Patient Experience”
  2. Innovation in care and hospital operations, terutama penggunaan “Artificial Intellegence”
  3. Hospital Sustainability, terutama tentang berbagai inovasi RS dalam memberikan pelayanan bermutu tinggi namun dengan dampak minimal ke lingkungan hidup

Berikut beberapa catatan dari beberapa sesi tersebut:

{tab title=”PATIENT EXPERIENCE” class=”green” align=”justify”}

PATIENT EXPERIENCE

  Barbara Walczyk Joers (Gillette Children’s Specialty Healthcare, AS), “Patient Experience pada Pasien Anak”

Barbara Walczyk Joers adalah Presiden dan Chief Executive Officer di Gillette Children’s Specialty Healthcare di Minnesota, AS sejak 2013. Gillette Children’s merupakan rumah sakit pertama di Amerika Serikat yang didanai publik dan didedikasikan untuk melayani anak-anak penyandang disabilitas, termasuk kini menjadi organisasi independen yang menyediakan perawatan subspesialisasi bagi anak-anak yang memiliki kondisi kompleks, langka, atau traumatis yang memengaruhi kinerja sistem muskuloskeletal dan neurologis.

Barbara menyampaikan bahwa Gillette Children’s Specialty Healthcare telah mengembangkan berbagai program dan inisiatif untuk memastikan bahwa setiap pasien dan keluarga mereka memiliki pengalaman yang positif dan mendukung selama perawatan. Berikut adalah beberapa hal yang dilakukan untuk meningkatkan pengalaman pasien:

Pendekatan yang Sentris pada Pasien dan Keluarga, terdiri dari: Kolaborasi antara dokter, perawat, terapis, dan keluarga pasien untuk memastikan bahwa rencana perawatan disesuaikan dengan kebutuhan individu setiap anak; Menyediakan sumber daya pendidikan yang komprehensif bagi keluarga, termasuk informasi tentang kondisi medis anak, pilihan perawatan, dan cara mengelola gejala; Dukungan emosional kepada pasien dan keluarga mereka melalui konseling, kelompok dukungan, dan program relaksasi.

Fasilitas yang Ramah Anak, terdiri dari: Desain yang menyenangkan untuk ruang tunggu, kamar pasien, dan area bermain yang dirancang dengan cermat untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan mengurangi kecemasan anak-anak; Penggunakan teknologi terbaru untuk diagnosis dan perawatan, namun tetap memastikan bahwa teknologi tersebut mudah digunakan dan tidak menakutkan bagi anak-anak.

Program Khusus, terdiri dari: Menyediakan rehabilitasi komprehensif untuk membantu anak-anak mencapai potensi penuh mereka, termasuk terapi fisik, okupasi, dan wicara; Menyediakan Pendidikan khusus bekerja sama dengan sekolah untuk memastikan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat terus belajar selama menjalani perawatan.

Kualitas Hidup, terdiri dari: Pengelolaan nyeri dengan menggunakan berbagai teknik untuk mengelola nyeri pada anak-anak, termasuk obat-obatan, terapi fisik, dan teknik relaksasi; Asuhan gizi bekerja sama dengan keluarga untuk memastikan bahwa anak-anak menerima nutrisi yang tepat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.

  Point-point penting:
  1. Tujuan utama Gillette Children’s Specialty Healthcare adalah untuk memberikan perawatan yang berkualitas tinggi dan pengalaman yang positif bagi setiap pasien dan keluarga mereka.
  2. Dengan fokus pada pendekatan yang sentris pada pasien, fasilitas yang ramah anak, dan program khusus, Gillette telah menjadi pemimpin dalam perawatan anak-anak dengan kondisi medis kompleks.

 

  Emmanuelle Hoche (Unicancer, Prancis), “Patient Experience pada Pasien Kanker”

Emmanuelle Hoche memiliki gelar Magister Bisnis Internasional dan juga Psikologi Klinis serta Psikopatologi. Sebelumnya dia adalah Pendiri dan Direktur dari sebuah firma konsultan sumber daya manusia selama 15 tahun, namun setelah menderita kanker payudara, Emmanuelle mengarahkan kariernya untuk meningkatkan pengalaman pasien dalam onkologi. Saat ini sebagai mantan pasien dan juga mantan pemberi pelayanan onkologi, dia bekerja sebagai Manajer Proyek Patient Experience di UNICANCER di Paris yang terdiri dari 18 pusat kanker komprehensif (CCC = Comprehensive Cancer Centers), yang semuanya didedikasikan untuk perawatan pasien, penelitian, dan pelatihan terkait onkologi. Kemitraan pasien merupakan aspek utama dari filosofi mereka, dengan fokus pada pengalaman dan keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan.

Strategi UNICANCER terdiri dari 3 prioritas:

  • Pasien sebagai “co-pilot” pelayanan kesehatan: memfokuskan kepada pengalaman pasien dan penilaian hasil oleh pasien; mempromosikan akses yang setara untuk pelayanan kesehatan; menyediakan dukungan jangka panjang dan cakupan wilayah yang lebih baik.
  • CCC sebagai garda terdepan dalam memerangi kanker: berupaya dalam aspek mutu, e-health, inovasi, dan kerjasama
  • Membangun jejaring kerjasama dengan fokus regional: memperbesar pelayanan, membangun jejaring “town-hospital”, dan berperan dalam inisiatif pencegahan.

Secara praktis UNICANCER mendorong dan mendukung semua CCC untuk: Memperkuat upaya patient partnership; Mengembangkan communities of practices; Menyusun pedoman tematik dan melakukan analisa keberhasian berbagai inisiatif; Mengembangkan peluang kerjasama antara CCC; Menyusun tools yang dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan dan struktur dari patient partenership; dan Mereplikasi upaya yang telah dicoba dan berhasil di CCC yang lain (misalnya patient-partnership dalam kemoterapi pathways); serta Meningkatkan respon sesuai kebutuhan keluarga pasien yang memberikan pelayanan kesehatan di rumah (family caregiver), seperti pedoman bantuan sosial dan finansial, dukungan psikologi, dan perawatan akhir hayat.

  Point penting:
  1. Kemitraan pasien di Prancis saat ini telah didasarkan pada kerangka legislatif dan peraturan yang telah terbit dari tahun 2002. Dimana Kemitraan dan pengalaman pasien didasarkan pada empat nilai: keunggulan, solidaritas, inovasi, dan manusia di atas segalanya.
  2. UNICANCER memiliki tiga misi bersama: Pelayanan, Penelitian, dan Pelatihan.
  3. UNICANCER memiliki strategi dengan tiga prioritas: Pasien sebagai pendamping perawatan; Mempromosikan akses yang sama ke layanan kesehatan; serta Dukungan jangka panjang dan cakupan teritorial yang lebih baik. Secara teknis mereka telah menyusun berbagai rekomendasi pedoman pelayanan, seperti pedoman bantuan sosial dan finansial, dukungan psikologis, rasa hormat, dan kepedulian bagi pasien kanker.
  4. UNICANCER juga bertujuan untuk menciptakan peluang kolaborasi baik di Prancis dan luar negeri, mengembangkan panduan perekrutan di pusat-pusat, dan berbagi model tindakan khusus yang diterapkan di pusat-pusat tersebut.

Sesi selanjutnya: ARTIFICIAL INTELLEGENCE

 

{tab title=”ARTIFICIAL INTELLEGENCE” class=”red”}

ARTIFICIAL INTELLEGENCE

  Prof. Aymeric Lim (CEO, National University Hospital, Singapura) “AI di Singapore”

Aymeric memimpin RS tersier terkemuka yang memadukan pendidikan, penelitian, dan inovasi untuk mengatasi tantangan perawatan kesehatan saat ini dan masa depan dengan 1.200 tempat tidur dan merupakan rumah sakit pendidikan utama dari School of Medicine dan Fakultas Kedokteran Gigi dari National University of Singapore. Aymeric juga seorang dokter bedah tangan yang masih praktek dengan sub-spesialisasi bedah saraf tepi.

Rumah sakit ini mengadopsi strategi digital first. Rumah sakit ini merupakan bagian dari klaster perawatan kesehatan publik pertama yang terintegrasi sepenuhnya pada NGEMR. Keberhasilannya dalam memadukan AI dalam perawatan pasien meliputi penggunaan kemampuan neuro imaging berbasis AI untuk mempercepat identifikasi pasien stroke; dan jaringan dasbor data yang menyediakan data medis pasien “langsung”, yang memungkinkan pelacakan waktu tunggu dan prediksi jumlah pasien yang datang setiap hari, sehingga memungkinkan keputusan yang lebih tepat tentang cara terbaik untuk mengalokasikan sumber daya. Alat lain memberi tanda hiperkalsemia kepada dokter secara langsung, yang mendorong tindakan lebih cepat bagi pasien. Rumah sakit telah menetapkan tujuan ambisius untuk menjadi organisasi yang melek AI dengan menanamkan inovasi sebagai cara kerja dan kehidupan untuk meningkatkan efisiensi, dan menjadi kreatif dalam pemberian layanan kesehatan.

Aymeric, membahas penerapan inisiatif AI dari perspektif RS secara lebih luas. Dengan latar belakang bahwa RS menghadapi tantangan seperti populasi yang menua, hambatan ekonomi, kekurangan tenaga kerja, kenaikan biaya, dan ekspektasi pasien, maka teknologi AI diharapkan dapat berperan mengatasi tantangan ini dengan mengurangi kekurangan tenaga kerja, meningkatkan alokasi sumber daya, dan meningkatkan akses melalui telemedicine dan basis data informasi. Contoh aplikasi AI yang diterapkan meliputi chatbot untuk dokter dan administrator, dasbor prediktif untuk IGD, model untuk memperkiraan LOS, sistem chatbot penyakit kronis, dan aplikasi NUHS untuk akses pasien. AI juga membantu mengurangi biaya pelayanan kesehatan melalui berbagai tools efisiensi administratif dan memperbaikin jalur perawatan pasien yang dioptimalkan. Dalam hal mutu, AI membantu dalam tatalaksana cancer.

Rumah sakit juga menyadari adanya risiko AI dalam pelayanan kesehatan, terutama untuk keselamatan klinis, dan telah menyusun prosedur tata kelola (catatan Hanevi: hal juga telah disampaikan oleh pembicara JCI yang terkait dengan akreditasi penggunaan AI dalam pelayanan kesehatan, silahkan pelajari standar akreditasi JCI tentang ini) Profesor Aymeric menekankan pentingnya infrastruktur data, komitmen dan kepercayaan organisasi, serta tata kelola proaktif dalam penerapan AI.

  Poin-poin penting
  1. AI mengatasi tantangan akses: mengurangi kekurangan tenaga kerja, mengalokasikan sumber daya, telemedicine, basis data informasi.
  2. Contoh penerapan AI di NUHS:
    • Russell GPT (catatan Hanevi: baca lebih detail https://nuhsplus.edu.sg/article/ai-healthcare-in-nuhs-receives-boost-from-supercomputer), untuk NLM para dokter (Large Language Model/LLM adalah model komputasi yang mampu menghasilkan bahasa atau tugas pemrosesan bahasa alami lainnya), aplikasi suara ke teks, dan rekam medis.
    • Dasbor prediktif unit gawat darurat, model estimasi lama rawat inap, model prediksi penerimaan kembali 30 hari, sistem chatbot penyakit kronis.
    • Aplikasi NUHS: aplikasi utama untuk pasien, mencakup keseluruhan akses pasien dan operasi rumah sakit.
  3. AI membantu mengurangi biaya pelayanan kesehatan: aplikasi NUHS, LLM administratif, aplikasi pengurangan pesanan duplikat, perencanaan rute perawatan komunitas.
  4. AI dalam peningkatan kualitas: bot papan tumor kanker, aplikasi pendidikan.
  5. Risiko AI dalam pelayanan kesehatan, terutama untuk keselamatan klinis.
  6. Pendekatan terstruktur NUHS untuk penerapan AI: gudang data, Discovery AI, Endeavor, prinsip tata kelola, langkah-langkah tata kelola proaktif.
  7. Tantangan dalam implementasi AI: masalah penerapan dan penggunaan.
  8. Pelajaran yang dipetik: fondasi infrastruktur data, kepercayaan organisasi, pengawasan manusia yang konstan.
  9. Masa depan AI dalam pelayanan kesehatan: potensi transformatif, adaptasi masyarakat, penerapan yang seimbang dengan tata kelola proaktif.

 

  Dr. Rohini Sridhar (Chief of Medical, Apollo Hospitals, India), “AI di Apollo Hopital”

Rumah Sakit Apollo, salah satu ekosistem layanan kesehatan terbesar di India, terdiri dari 73 rumah sakit dan sekitar 11.000 tempat tidur, menghadapi tantangan dalam menyediakan perawatan berkelanjutan bagi pasien yang menempuh jarak jauh untuk berobat. Untuk mengatasi hal ini, Apollo meluncurkan aplikasi Apollo 24/7 pada tahun 2020, yang menawarkan berbagai layanan seperti konsultasi daring, pengiriman obat, pengambilan sampel darah, dan akses ke catatan kesehatan.

Aplikasi tersebut memperoleh popularitas luar biasa, mengumpulkan 33 juta pengguna dan 0,7 juta transaksi harian dalam waktu lima tahun. Menyadari potensi aplikasi tersebut, Apollo berupaya memanfaatkan kemampuan digitalnya untuk meningkatkan hasil pasien. Salah satu inisiatif tersebut adalah program ProHealth, yang berfokus pada kesehatan preventif. Melalui diagnostik yang dipersonalisasi, analisis prediktif berbasis AI, dan jalur kesehatan terpandu. ProHealth bertujuan untuk memberdayakan individu masyarakat dalam mengendalikan kesehatan mereka. Dengan menganalisis 200.000 pemeriksaan ProHealth, Apollo mengidentifikasi 168.000 individu yang memerlukan tindak lanjut.

Lebih lanjut intervensi berbasis dorongan (push intervention), termasuk pesan teks, WhatsApp, dan panggilan telepon, digunakan untuk melibatkan pasien-pasien secara proaktif. Hasilnya, peningkatan signifikan dari berbagai parameter kesehatan seperti kadar HbA1c, penurunan berat badan, dan tekanan darah terkontrol. Meskipun ada tantangan dalam menjangkau semua pasien, dampak positif pada 16.000 orang menunjukkan potensi intervensi digital dalam meningkatkan perawatan pasien.

  Poin-poin penting
  1. Pasien menempuh jarak yang cukup jauh untuk mengakses perawatan Apollo yang telah terkenal karena reputasinya.
  2. Apollo memiliki jaringan besar yang terdiri dari 6.000 apotek, 500 klinik, dan 300 pusat diagnostik di luar rumah sakitnya.
  3. Tantangannya adalah menyatukan semua ini menjadi satu sistem yang menawarkan manfaat ekosistem Apollo secara menyeluruh kepada pasien.
  4. Aplikasi Apollo 24/7 diluncurkan pada tahun 2020 dan telah berkembang hingga mencapai 33 juta pengguna dengan 0,7 juta transaksi per hari.
  5. Aplikasi ini menyediakan konsultasi, pengiriman obat, pengambilan sampel darah, dan hasil tes dalam jangka waktu tertentu.

 

  Dr. Rafael Correia Barao (Portugal) “Glucoma and AI”

Salah satu penerapan AI dalam clinical care di presentasikan oleh dr. Rafael, seorang dokter mata. Diawali dengan informasi dari Rafael yang menyoroti dampak signifikan kebutaan di Eropa, yaitu 10 juta orang terkena dampak dan biaya tahunan sekitar 50 miliar euro. Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan pencegahan, khususnya untuk glaukoma dan retinopati diabetik, yang merupakan penyebab utama kebutaan ireversibel. Rafael membahas tantangan dalam mendiagnosis glaukoma, termasuk perlunya pengujian ekstensif dan tingginya prevalensi kasus yang tidak terdiagnosis.

Dr. Rafael mengusulkan penggunaan AI sebagai alat skrining untuk mengidentifikasi individu yang berisiko, memanfaatkan kemampuannya untuk menganalisis gambar yang diambil dengan kamera biasa. Dengan menerapkan skrining berbasis AI dalam pengaturan perawatan primer, Rafael memproyeksikan peningkatan tiga kali lipat dalam jumlah pasien yang diskrining, pengurangan 90% dalam kunjungan rumah sakit untuk glaukoma, dan penurunan substansial dalam biaya pelayanan kesehatan terkait glaukoma dalam waktu 15 tahun. Ia menyajikan hasil sementara dari studi percontohan yang dilakukan di Lisbon, yang menunjukkan tingkat respons dua pertiga dan identifikasi sejumlah besar pasien dengan glaukoma atau tersangka glaukoma. Rafael menyimpulkan bahwa model skrining berbasis AI memiliki presisi yang baik, dapat mendeteksi beberapa penyakit dalam satu pemindaian, dan berpotensi untuk ditingkatkan dan diintegrasikan ke dalam pengaturan perawatan primer, menawarkan manfaat yang signifikan dalam hal pemanfaatan sumber daya pelayanan kesehatan, efektivitas biaya, dan dampak sosial.

  Poin-poin penting:
  1. Glaukoma dan retinopati diabetik merupakan penyebab utama kebutaan ireversibel di seluruh dunia.
  2. Lebih dari separuh pasien glaukoma tidak terdiagnosis dan sepertiga dari mereka yang datang ke klinik sudah dalam tahap lanjut.
  3. Hambatan untuk skrining yang efektif meliputi waktu, biaya, dan kurangnya kesadaran.
  4. AI belum memiliki tempat dalam penerapan klinis saat ini di bidang oftalmologi, meskipun penelitiannya ekstensif.
  5. AI dapat digunakan untuk skrining glaukoma dan retinopati diabetik menggunakan kamera biasa.
  6. Algoritme AI dapat mendeteksi beberapa penyakit dalam satu pemindaian dan dapat diintegrasikan ke dalam pengaturan perawatan primer.
  7. Proyek dimana dr. Rafael terlibat bertujuan untuk menyaring tiga kali lebih banyak pasien, mengurangi kunjungan klinis hingga 90%, dan mengurangi biaya pelayanan kesehatan hingga 10 kali lipat dalam waktu 15 tahun.
  8. Analisis efektivitas biaya memproyeksikan BEP dalam waktu tiga hingga delapan tahun di sebagian besar negara maju.
  9. Deteksi dan perawatan dini dapat mengurangi risiko kebutaan akibat glaukoma hingga setengahnya dalam waktu 15 tahun.
  10. Proyek ini menargetkan 150 juta orang di Eropa yang berusia di atas 15 tahun dan diharapkan dapat mendiagnosis hampir 10.000 pasien dan mencegah 1.500 pasien menjadi buta.
  11. Hasil sementara dari studi percontohan menunjukkan tingkat respons dua pertiga, dengan 82 pasien diidentifikasi positif glaukoma atau diduga glaukoma.

Sesi selanjutnya: SUSTAINABILITY

 

{tab title=”SUSTAINABILITY” class=”blue”}

SUSTAINABILITY

  Dr. Penelope Dash (Ketua, NHS North West London, UK), “Efisiensi = Sustainability”

Penny adalah Ketua North West London Integrated Care System (ICS), yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan sekitar 2,5 juta orang, mengurangi kesenjangan dalam kesehatan, dan memastikan layanan berkualitas tinggi dan efisien dengan anggaran sekitar £6 miliar. ICS mencakup semua penyedia layanan kesehatan dan perawatan di area tersebut (layanan perawatan primer, layanan sosial, layanan kesehatan mental dan komunitas, rumah sakit akut) serta pemerintah daerah dan Universitas.

ICS memiliki empat tujuan utama: meningkatkan output kesehatan masyarakat, mengatasi ketidaksetaraan dalam akses pelayanan kesehatan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi dana (value money), dan mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur sosial yang lebih luas. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, ICS telah menerapkan berbagai strategi, termasuk melibatkan individu dalam mengambil tanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri, mempromosikan pencegahan dan pendidikan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi, dan mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur sosial yang lebih luas. Meskipun ada kemajuan yang telah dibuat, tantangan tetap ada, seperti menemukan cara untuk meningkatkan perawatan di luar rumah sakit, mengintegrasikan pelayanan kesehatan, dan meminta pertanggungjawaban orang untuk kesehatan diri mereka sendiri.

Presentasi diakhiri dengan kutipan dari George Griffiths dan Albert Einstein yang menekankan pentingnya perubahan dan kemampuan beradaptasi.

  Poin-poin penting
  1. NHS di London Barat Laut mengalami defisit 400 juta pound dan hasil kesehatan yang buruk tiga tahun lalu.
  2. Sejak itu, mereka secara sistematis memperbarui di mana dan bagaimana mereka membelanjakan uang, dengan berfokus pada nilai investasi dan melembagakan perubahan organisasi untuk meningkatkan kualitas, akses ke perawatan, dan mengatasi ketidakadilan kesehatan.
  3. Rumus sederhana untuk nilai adalah hasil di atas biaya, yang dapat dicapai dengan meningkatkan hasil atau mengurangi biaya.
  4. Pengeluaran pelayanan kesehatan meningkat lebih cepat daripada inflasi, didorong oleh faktor-faktor seperti peningkatan permintaan, pertumbuhan populasi, dan kemajuan teknologi.
  5. Pelayanan kesehatan tertinggal dari industri lain dalam mengadopsi teknologi baru, yang mengakibatkan produktivitas dan manfaat yang lebih rendah.
  6. Penolakan terhadap perubahan merupakan tantangan signifikan dalam pelayanan kesehatan, yang datang dari berbagai pemangku kepentingan seperti profesional, politisi, masyarakat, dan bisnis.
  7. Perubahan sistemik diperlukan untuk meningkatkan layanan kesehatan, termasuk melibatkan individu dalam kesehatan mereka sendiri, manajemen penyakit kronis yang lebih baik, mengalihkan perawatan ke tempat yang tepat, dan mengintegrasikan perawatan di luar rumah sakit.
  8. Sistem perawatan terpadu di London Barat Laut bertujuan untuk meningkatkan hasil kesehatan masyarakat, mengatasi kesenjangan, meningkatkan produktivitas dan nilai uang, serta mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur sosial yang lebih luas.
  9. Keberhasilan mencakup peningkatan produktivitas, identifikasi inefisiensi sistem, eksplorasi teknologi baru, dan penjangkauan yang ditargetkan ke masyarakat yang kurang terlayani.
  10. Tantangan tetap ada dalam menemukan perawatan, meningkatkan perawatan di luar rumah sakit, mengintegrasikan layanan, dan memastikan akuntabilitas.
  11. Faktor kunci untuk perubahan yang berhasil mencakup visi bersama, kepemimpinan yang kuat, akses ke informasi yang tepat, manajemen kinerja dan akuntabilitas, insentif yang tepat, dan model organisasi yang mendukung reformasi.

 

  Vital Ribeiro (Healthy Hospitals Project, Brasil), “Data untuk Hospital Sustainability”

Ribeiro adalah Presiden Dewan organisasi nonpemerintah Brasil yang disebut Projeto Hospitais Saudáveis atau Healthy Hospitals Project, yang menyatukan lebih dari 450 organisasi pelayanan kesehatan di Brasil dan merupakan pusat dari organisasi internasional “Health Care Without Harm” dan “Global Green and Healthy Hospitals Network”

Vital telah bekerja selama 35 tahun dalam pengelolaan limbah padat dan lingkungan serta selama 15 tahun terakhir dalam perubahan iklim, energi, dan pengadaan berkelanjutan di sektor kesehatan. Ia adalah seorang Arsitek dan Perencana Kota serta Administrator Rumah Sakit dan Sistem Kesehatan. Sejak 1987, bekerja di Departemen Kesehatan Lingkungan Sekretariat Kesehatan Negara Bagian São Paulo – mengoordinasikan Program Pengelolaan Limbah Layanan Kesehatan dan melaksanakan Kebijakan Perubahan Iklim Negara Bagian untuk sektor kesehatan.

Ribeiro menyampaikan tinjauan umum dari projectnya yang mempromosikan keberlanjutan lingkungan dalam pelayanan kesehatan, dengan meluncurkan kampanye global yang membahas perubahan iklim dan dampaknya pada sistem kesehatan. Pendekatan mereka melibatkan dukungan bagi para profesional pelayanan kesehatan, melibatkan masyarakat, dan membantu rumah sakit dalam menerapkan praktik berkelanjutan. Mereka memiliki lebih dari 1.800 anggota dan 350 rumah sakit yang melaporkan data tentang tantangan iklim, limbah, energi, dan pengadaan berkelanjutan. Riveiro menekankan pentingnya pengumpulan dan pengukuran data untuk manajemen lingkungan yang efektif dan menyoroti perlunya dekarbonisasi dan kolaborasi lintas sektor

  Poin-poin penting
  1. Data sangat penting untuk “inisiatif keberlanjutan dalam pelayanan kesehatan”
  2. Limbah, energi, dan pengadaan berkelanjutan juga merupakan aspek penting dari pengelolaan perubahan klim.
  3. Pengumpulan data di tingkat fasilitas kesehatan penting untuk memahami dampak lingkungan dari organisasi pelayanan kesehatan.
  4. Dekarbonisasi penting, meski di negara-negara berkembang secara bersama menghadapi isu kualitas, cakupan, dan akses pelayanan kesehatan.
  5. Pelayanan kesehatan rendah karbon dapat dicapai dengan meningkatkan kinerja dan efisiensi.
  6. Banyak rumah sakit telah menghentikan penggunaan nitrogen oksida dan telah mengurangi 20% dari total emisi rumah sakit.
  7. Mengorganisasikan proses dalam organisasi dan memiliki tim sangat penting untuk program “sustainbility RS”

 

  Dr. Zeenat Khan (Aga Khan Health Services, Afrika Timur, Kenya)

Dr Khan adalah Kepala Eksekutif Regional yang mengawasi Aga Khan Health Services, Afrika Timur yang terdiri dari 5 rumah sakit dan 50 fasyaneks primer, terlibat dalam Aga Khan Development Network (AKHN), termasuk dalam penerapan Hospital Sustainbility terkait perubahan iklim.

Meski awalnya skeptis, namun para pengelola RS di Afrika Timur mulai bersama-sama mengembangkan alat untuk mengukur dampak lingkungan dari RS, mereka dan menerapkan berbagai langkah untuk menghemat biaya seperti panel surya dan desain bangunan hemat energi, yang menghasilkan pengurangan biaya operasional. Dr. Khan menekankan pentingnya komitmen kepemimpinan, kolaborasi antar departemen yang berbeda, dan mengeksplorasi berbagai sumber pendanaan, termasuk anggaran internal, pinjaman, dan hibah. Mereka menyimpulkan bahwa inisiatif hijau tidak hanya baik untuk lingkungan tetapi juga masuk akal secara bisnis, serta mendesak rekan-rekan pengelola RS untuk ikut bertanggung jawab dan melibatkan semua orang dalam upaya tersebut.

Beberapa kontribusi spesifik AKHN dalam konteks tersebut antara lain: 1. Infrastruktur RS yang tangguh iklim dengan memastikan desain bangunan yang tahan bencana: AKDN memastikan bahwa rumah sakit yang dibangunnya didesain dengan mempertimbangkan risiko bencana seperti banjir, gempa bumi, dan badai. Hal ini meliputi penggunaan material yang kuat, sistem drainase yang efektif, dan tata letak bangunan yang aman; 2. Energi terbarukan: AKDN mengintegrasikan sumber energi terbarukan seperti panel surya dan turbin angin ke dalam infrastruktur rumah sakit. Hal ini tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca tetapi juga memastikan pasokan listrik yang stabil saat terjadi bencana; 3. Pengelolaan limbah medis yang aman: AKHN menerapkan praktik pengelolaan limbah medis yang aman dan berkelanjutan, mengurangi risiko kontaminasi lingkungan dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

  Poin-poin penting
  1. AKHN mengembangkan alat untuk mengukur kerentanan iklim di komunitas dan lembaga mereka.
  2. AKHN tersebut mengumpulkan data di setiap tingkatan untuk memahami dampak iklim mereka.
  3. Penekanan pada tanggung jawab administrator, CEO, dan badan pemerintahan untuk mengatasi perubahan iklim.
  4. “Aksi iklim” baik untuk bisnis dan menguntungkan klinik kecil dan rumah sakit besar.

 

  Carrie Owen Plietz (Kaiser Permanente, AS), “Efisiensi Energi = Hemat Biaya Operasional”

Owen adalah presiden Kaiser Permanente California Utara, yang mengawasi semua pelayanan kesehatan Kaiser Permanente di California Utara untuk lebih dari 4,6 juta anggota melalui 21 rumah sakit dan 264 klinik.

Kaiser Permanente memiliki misi untuk menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas tinggi serta meningkatkan kesehatan masyarakat. Mereka menekankan pentingnya menangani keberlanjutan lingkungan dan mencapai netralitas karbon, dengan berbagi perjalanan yang dimulai pada tahun 2016 dan menjadi sistem layanan kesehatan pertama di Amerika Serikat yang mencapai netralitas karbon pada tahun 2020. Pencapaian tersebut dilakukan dengan mengurangi emisi, memproduksi dan membeli energi terbarukan, dan mengompensasi kompensasi karbon. Mereka menekankan bahwa berinvestasi dalam sistem layanan kesehatan yang berkelanjutan tidak hanya sejalan dengan misi mereka dan memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan, tetapi juga mendatangkan keuntungan finansial, karena peningkatan efisiensi penggunaan energi hingga 7% menghasilkan penghematan biaya organisasi secara signifikan.

  Poin-poin penting
  1. Misi Kaiser Permanente: menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas tinggi serta meningkatkan kesehatan masyarakat.
  2. Masyarakat yang sehat memerlukan lingkungan yang sehat, termasuk faktor-faktor seperti kerawanan pangan, kualitas udara, dan air.
  3. Kaiser Permanente memiliki komitmen untuk terlibat dalam netralitas karbon pada tahun 2016 dan mencapainya pada tahun 2020, menjadi sistem layanan kesehatan pertama di AS yang melakukannya.
  4. Mencapai netralitas karbon melalui pengurangan emisi, produksi dan pembelian energi terbarukan, serta kompensasi karbon.

Sesi selanjutnya: PENUTUP

 

{tab title=”PENUTUP” class=”orange”}

PENUTUP

Tujuan utama pertemuan IHF-Rio adalah untuk mempromosikan kegiatan “Pembelajaran global, aksi lokal”. Terdapat berbagai usulan aksi yang dapat dilakukan di Indonesia, baik ditingkat RS maupun di tingkat Global, antara lain:

  1. Membangun budaya menulis makalah ilmiah berdasarkan berbagai inoviasi yang telah dikerjakan di RS. Hampir seluruh presentasi yang disajikan di IHF-Rio berdasarkan pengalaman nyata dalam penerapan inovasi di berbagai RS yang ditulis secara runtut sejak awal penyusunan proposal hingga evaluasi hasil. Membangun budaya menulis ini dapat didukung secara internal di RS antara lain dengan mengembangkan Clinical Research Unit (CRU) yang tidak saja melakukan penelitian teknis medis atau hingga biomolukuler, namun juga bisa ke penelitian manajemen klinis.
  2. Sejak Picker/Commonwealth Programme for Patient Centred Care menerbitkan buku “Through the Patient’s Eyes” pada tahun 1993, patient experience menjadi fokus perhatian para pengelola RS, berbagai RS interenasional sudah sangat dalam dan spesifik dalam mengembangan upaya meningkatkan pelayanan pasien seperti untuk pasien kanker dan pasien anak dengan kondisi medis kompleks. RS di Indonesia juga perlu melakukan hal tersebut, bukan hanya karena mengikuti “trend” internasional, tapi memang sudah menjadi kebutuhan dan tututan sebagian masyarakat yang kedepan akan semakin banyak. Perlu ada pedoman pelaksanaan “patient centered care/PCC” dan atau “patient experience”.
  3. Evolusi penggunaan komputer di RS mulai dari “electronic data procesing”, “digitalasi”, hingga “artificial intellegence” sangat cepat dan masif. RS Intenasional sudah mulai banyak menerapkan AI untuk pelayanan klinis, sementara banyak RS di Indonesia masih terjebak dalam sekedar digitalitasi rekam medis tanpa mengarah menjadi smart hospital, bahkan beberapa RS masih kesulitan mencari-cari “vendor” yang tepat. Pembelajaran dari tiga pembicaa utama dalam sesi AI di IHF-Rio, dimana ada integrasi dan keselarasan antara pengembangan di tingkat nasional, di tingkat RS, dan di tingkat unit pelayanan klinis, maka perlu adanya cetak biru pengembangan smart hopital ataupun penerapan AI di RS untuk Indonesia, sehingga baik pengembangan, pengguna, dan pengelola aplikasi dapat lebih efektif dan efisien dalam kerjasamana mengembangan ekosistem AI di RS.
  4. Sejak lebih dari 10 tahun lalu, gerakan “green hospital” telah dilakukan diberbagai RS di Indonesia, namun pada beberapa pertemuan RS internasional terakhir, semakin kuat dorongan agar RS lebih berperan serta dalam menjaga keberlanjutan (sustainablity), yang secara umum berarti turut berperan dalam menjaga sistem biologis dunia agar tetap mampu menghidupi keanekaragaman hayati dan produktivitas tanpa batas. Pengalaman internasional menunjukan bahwa RS Indonesia perlu mengembangkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang sangat membutuhkan kerjasama lintas batas: batas institusi, batas keilmuan, batas negara, hingga batas-batas pembiayaan. Hal itu semua dimulai dengan membangun kesadaran pentingnya kebersamaan dalam menjaga keberlanjutan.

Keempat usulan tersebut diatas merupakan “project besar” yang perlu peran serta bersama, perencanaan detail, serta pelaksanaan yang konsisten disertai dengan mekanisme efektif dalam monitoring dan evaluasi. Kementerian Kesehatan, PERSI, dan akademisi juga dapat memfasilitasi upaya ini.

 

{/tabs}

 

Penulis:

Hanevi Djasri
Schiphol, Amsterdam, 16 September 2024, 18:00

 

 

 

Integration of Oral Health into Primary Healthcare: A Systematic Review

Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional atau Hari Kesehatan Gigi Nasional pada tanggal 12 September 2024 merupakan waktu yang tepat untuk kesadaran akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut yang perlu dimulai sejak dini. Kesehatan gigi dan mulut yang baik dapat mencegah berbagai penyakit sistemik di kemudian hari. Berbagai penelitian telah melihat hubungan antara kebersihan mulut yang buruk dan peningkatan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes, penyakit hati, dan kanker. Pentingnya kesehatan gigi dan mulut membutuhkan dukungan lebih dari berbagai pihak, sehingga sistem layanan gigi yang bermutu harus diterapkan sejak di Fasilitas Kesehatan Layanan Primer (FKTP).

Definisi layanan kesehatan primer menurut World Health Organization (WHO) adalah layanan dasar esensial yang praktikal, saintifik, menggunakan metode yang dapat diterima secara sosial, dan aksesibel secara universal bagi individu dan keluarga di kelompok masyarakat lewat partisipasi penuh, serta biaya yang terjangkau bagi masyarakat dan negara. Fasilitas kesehatan tingkat pertama mencakup kontak pertama dengan individu, keluarga, dan kelompok masyarakat dengan sistem kesehatan nasional yang mendekatkan layanan kesehatan sedekat mungkin dengan lokasi tempat tinggal dan kerja seseorang dan merupakan elemen pertama dari proses melanjutkan proses pelayanan kesehatan (health care process [HCP]).

Konferensi global dari WHO tahun 2007 mengadvokasikan integrasi layanan kesehatan gigi ke dalam layanan kesehatan primer sebagai bentuk kolaborasi susunan kelanjutan proses pelayanan kesehatan.Strategi integratif ini bertumpu pada premis faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti pola makan dan merokok yang dapat berkontribusi pada penyakit mulut dan penyakit tidak menular secara bersamaan. Hampir di setiap negara, terdapat banyak orang yang tidak memiliki akses permanen terhadap layanan kesehatan gigi pada di banyak tingkatan. Pendekatan layanan kesehatan mulut primer dapat memperkuat promosi kesehatan dan pencegahan penyakit mulut. Maka dari itu diperlukan berbagai domain, seperti asesmen risiko, evaluasi kesehatan mulut, intervensi preventif, komunikasi, dan edukasi, serta praktik kolaborasi interprofesional.

Cara Integrasi Kesehatan Mulut ke dalam Layanan Kesehatan Primer

WHO “ Stewardship” dan Ahli Kesehatan Gigi
Kesempatan diciptakan lewat penatalayanan dari WHO untuk ekspansi pencegahan penyakit mulut dan promosi kesehatan, serta praktik di masyarakat lewat program masyarakat dan di layanan kesehatan. Hal ini termasuk implementasi program demonstrasi perawatan kesehatan mulut berbasis komunitas.

Menggabungkan Tenaga Kerja untuk Layanan Kesehatan Mulut
Direkomendasikan untuk menggabung tenaga kerja dalam formasi dokter gigi, dokter gigi spesialis, terapis gigi, ahli kesehatan gigi, asisten, ahli teknologi gigi, dan koordinator kesehatan gigi komunitas.

Model Layanan Inovatif
Spektrum program berupa membawa layanan gigi ke dalam setting medis dan komunitas dengan cara:

  1. Koordinasi dengan meningkatkan layanan oleh tenaga medis dalam hal layanan pencegahan kesehatan mulut dasar dengan kunjungan medis yang terkoordinasi dengan rujukan ke layanan gigi
  2. Lokasi bersama layanan kesehatan gigi di tempat praktik medis
  3. Integrasi pelayanan kesehatan gigi dengan tim layanan kesehatan melalui koordinasi kasus untuk kebutuhan restorasi gigi
  4. Telehealth yang didukung layanan kesehatan gigi

Kerangka Integrasi (Rainbow Model)

Rainbow model dikemukakan oleh Harnagea et al. (2018), dimana dimensi layanan terintegrasi terstruktur dalam 3 level dimana integrasi dapat diterapkan: level makro (sistem), level meso (organisasi), dan level mikro (klinis).

Level makro (integrasi sistem): Menggabungkan integrasi vertikal dan horizontal dapat meningkatkan penyediaan layanan yang berkesinambungan, komprehensif, dan terkoordinasi di seluruh rangkaian perawatan. Integrasi vertikal terkait dengan perawatan penyakit di level spesialisasi (berdasarkan penyakit) yang berbeda secara vertikal. Hal ini melibatkan integrasi perawatan antar sektor, seperti integrasi layanan kesehatan primer dengan layanan sekunder serta tersier. Sebaliknya, integrasi horizontal dilakukan dengan meningkatkan kesehatan individu dan populasi secara keseluruhan (holistik) oleh kolaborasi rekan dan antar sektor.

Level meso (integrasi organisasi): Integrasi organisasi merujuk pada layanan yang diproduksi dan diberikan dengan cara saling terkait. Hubungan interorganisasi dapat meningkatkan mutu, pangsa pasar, dan efisiensi. Contohnya dengan menggabungkan keterampilan dan keahlian dari organisasi yang berbeda.

Level meso (integrasi profesional): Integritas profesional merujuk pada kemitraan antara profesional, baik dalam (intra) dan antara (inter) organisasi. Kemitraan ini dapat dicirikan sebagai bentuk integrasi vertikal dan/atau horizontal.

Level mikro (integrasi klinis): Koordinasi layanan yang berfokus pada individu di sebuah proses tunggal lintas waktu, tempat, dan disiplin.

Integrasi fungsional: Menghubungkan level mikro-, meso-, dan makro. Integrasi fungsional termasuk koordinasi fungsi pendukung utama, seperti sumber daya manusia manajemen keuangan, perencanaan strategis, manajemen informasi, dan peningkatan mutu.

Integrasi normatif: Menghubungkan level mikro-, meso-, dan makro. Mengembangkan dan mempertahankan kerangka acuan umum antara organisasi, kelompok profesional, dan individu sehubungan dengan misi, visi, nilai-nilai, dan budaya bersama.

Selengkapnya dapat diakses melalui:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6618181/ 

 

 

Perkuat Kembali Strategi Nasional Penanggulangan Alzheimer

Pemerintah telah memiliki strategi nasional penanggulangan penyakit alzheimer dan demensia sejak 2015. Namun, implementasinya belum berjalan optimal hingga hampir 10 tahun sejak strategi nasional itu ada. Upaya penguatan perlu dilakukan beserta dengan perbaikan dalam pemberian layanan yang terintegrasi bagi orang dengan alzheimer.

Continue reading

Considerations for National Public Health Leadership in Advancing Sexual Health

Tantangan bidang kesehatan masyarakat terkait perilaku seksual, termasuk HIV/AIDS, penyakit menular seksual (PMS) lainnya, hepatitis virus, kehamilan tidak diinginkan, dan kekerasan seksual, merupakan masalah kesehatan dunia dan memengaruhi 3 dari 8 Millennium Development Goals seperti mengurangi mortalitas anak, meningkatkan kesehatan mental, dan melawan HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya. Tantangan ini umumnya lebih tinggi derajat keparahannya di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Di Inggris, terdapat hampir 400.000 diagnosis PMS baru yang muncul setiap tahunnya. Angka tersebut merupakan kenakan sejumlah 30% dari angka sejak tahun 2000. pada negara uni Eropa , lebih dari 27.00 infeksi HIV baru muncul setiap tahunnya, dan sekitar 44% dari seluruh kehamilan di Eropa merupakan kehamilan tidak diinginkan. Pada negara Australia, diperkirakan 170.000 orang hidup dengan infeksi hepatitis B dan 34% wanita melaporkan telah mengalami kekerasan seksual dalam 12 bulan terakhir. DI negara Amerika serikat, diperkirakan 19 juta PMS dan hampir 50.000 infeksi HIV baru muncul tiap tahunnya; 1,2 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, dan 800.000 hingga 1,4 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis; lebih dari 1,8 juta wanita mengalami kehamilan tidak diinginkan, dan 1,3 juta wanita dirudapaksa. Kelahiran pada remaja di Amerika Serikat terhitung lebih tinggi dibandingkan negara Barat lainnya. Penderita kanker di alat reproduksi, dan kanker lainnya terkait PMS seperti human papilloma virus (HPV) dan virus hepatitis B, dan isu fungsi seksual (seperti disfungsi ereksi, nyeri dalam hubungan seksual, dan libido rendah) juga merupakan kekhawatiran dalam kesehatan seksual, terutama orang dewasa di dunia.

Luaran kesehatan reproduksi dan seksual menunjukkan ketidakadilan dalam kesehatan yang sangat timpang. Beberapa kelompok terus-menerus mengalami tantangan besar dalam melindungi kesehatan seksual mereka karena keterbatasan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang meningkatkan risiko mereka untuk mengalami luaran dampak kesehatan yang buruk. Wanita sebagai kelompok yang mengalami dampak buruk lebih banyak akibat dari kehamilan tidak diinginkan dan kekerasan seksual dibandingkan pria. hal ini juga berdampak pada kelompok usia remaja; minoritas ras dan etnis; lesbi, gay, biseksual, dan transgender; lelaki seks lelaki (LSL); dan yang memiliki disabilitas. Populasi ini banyak mengalami sindemik, dua atau lebih masalah kesehatan yang berkaitan secara sinergis, yang menimbulkan beban penyakit berlebih.

Kesehatan seksual menurut Centers for Disease Control and Prevention/Health Resources and Services Administration Advisory Committee on HIV, Viral Hepatitis, and STD Prevention and Treatment (CDC/HRSA CHACHSPT) merupakan kondisi kesejahteraan yang berhubungan dengan seksualitas sepanjang hidupnya yang melibatkan dimensi fisik, emosional, mental sosial, dan spiritual. Kesehatan seksual merupakan elemen intrinsik dari kesehatan manusia berdasarkan pendekatan seksualitas, hubungan, dan reproduksi yang positif, adil, dan terhormat yang bebas dari paksaan , ketakutan, diskriminasi stigma, rasa malu, dan kekerasan. Hal tersebut, termasuk kemampuan untuk memahami manfaat, risiko, dan tanggung jawab dari perilaku seksual; pencegahan dan perawatan penyakit dan dampak buruk luaran lainnya; dan kemungkinan untuk memenuhi hubungan seksual. Secara umum, kesehatan seksual dipengaruhi oleh konteks sosio ekonomi dan budaya, termasuk peraturan, praktik, dan layanan, yang mendukung luaran kesehatan bagi individu, keluarga, dan komunitas.

Promosi kesehatan sebagai layanan kesehatan masyarakat esensial

Pemimpin dalam kesehatan masyarakat sangat memahami peran penting dari promosi kesehatan dan pembuatan keputusan yang sehat dapat mencegah penyakit infeksi dan kronis, serta cedera. Dalam beberapa dekade, pendekatan dengan promosi kesehatan telah menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang terkait seksualitas dan perilaku seksual yang mengilhami kesehatan seksual sebagai aspek penting dalam kesehatan secara menyeluruh dan kesejahteraan individu, keluarga , komunitas, dan negara. Beban kesehatan yang besar, pengeluaran untuk dampak buruk yang terkait perilaku seksual, dan peningkatan minat dalam menggunakan pendekatan promosi kesehatan untuk mengatasinya, sektor kesehatan masyarakat sebaiknya mempertimbangkan untuk mengatasi kesehatan seksual karena beberapa alasan.

  1. Pendekatan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan seksual secara tradisional bergantung pada intervensi, termasuk edukasi, skrining, terapi, notifikasi pasangan, imunisasi, dan layanan pencegahan lainnya, yang utamanya berfokus pada luaran negatif, seperti penyakit dan dampak buruk lainnya terkait perilaku seksual. Cara ini sering berfungsi terkategori dalam kolaborasi yang terbatas antar program dan belum memberikan hasil optimal.
  2. Semua negara menghadapi tantangan dalam menurunkan pembiayaan layanan kesehatan, sehingga membutuhkan pendekatan yang hemat biaya untuk layanan kesehatan dan kesehatan masyarakat. Anggaran yang terbatas meningkatkan efisiensi dalam pemberian layanan kesehatan dan praktik kesehatan masyarakat. Investasi pada layanan kesehatan reproduksi dan seksual dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Menyediakan kesehatan seksual yang lebih luas dapat membantu individu untuk membuat pilihan kesehatan seksual yang sehat dan meningkatkan pencegahan HIV, PMS lainnya, kehamilan tidak diinginkan, dan kekerasan seksual, serta dengan potensi menurunkan pembiayaan pelayanan kesehatan.
  3. Fokus kesehatan seksual konsisten dengan prioritas kesehatan nasional
  4. Misi intrinsik kesehatan masyarakat untuk menilai dan memformulasikan respon terhadap masalah kesehatan.

Kerangka promosi kesehatan seksual

shp

Dari dampak yang substansial dan biaya dampak buruk dari luaran terkait perilaku seksual, entitas kesehatan masyarakat dapat membentuk pendekatan kesehatan masyarakat yang lebih terkoordinasi untuk memajukan kesehatan seksual. Pendekatan ini dapat melengkapi dan mempersatukan kerangka kesehatan seksual untuk menekankan pentingnya promosi kesehatan dalam mendukung dan meningkatkan kontrol penyakit dan aktivitas pencegahan dalam lingkup kesehatan masyarakat. Kerangka ini meliputi 5 prinsip kunci, yakni:

  1. Mengkontektualisasikan isu. Dalam kerangka kesehatan seksual, kontrol dan pencegahan penyakit tetap merupakan fokus utama kesehatan masyarakat. Usaha dapat diperkuat dengan mendorong perspektif yang lebih kuat yang mempertimbangkan faktor kompleks pada tahap individu, relasi, komunitas, dan luaran kesehatan seksual nasional.
  2. Menekankan kesejahteraan. Kesehatan seksual membutuhkan pendekatan holistik yang dapat menggabungkan aspek fisik, emosional, mental, sosial, dan spiritual dari seksualitas. Dalam kerangka kesehatan seksual, fokus inti melakukan pendekatan holistik pada kesehatan manusia dari luaran penyakit, yang tergabung ke dalam agenda pencegahan dan kesejahteraan baru, juga dapat membantu melawan stigma yang umumnya muncul beriringan dengan kesehatan seksual.
  3. Fokus pada hubungan yang positif dan saling menghargai. Pentingnya hubungan yang penuh hormat bagi kesehatan seksual dapat menyediakan titik temu bagi tindakan dalam mencegah dan meningkatkan kesehatan. Hubungan yang positif dan saling menghargai dalam berbagai jenis (seperti orangtua-anak. pasangan, dan sebaya) menunjukkan faktor protektif bagi berbagai isu kesehatan. sehingga dapat membuat hubungan esensial yang sehat bagi perkembangan manusia.
  4. Memahami dampak seksualitas bagi kesehatan. Memahami dan mengartikulasikan komponen kesehatan seksual merupakan aspek esensial untuk penguatan pencegahan penyakit, kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan, dan komponen lain menjadi kerangka kesejahteraan yang lebih luas.
  5. Mengambil pendekatan sindemik untuk pencegahan. Pendekatan inklusif berpotensi memperkuat kolaborasi dan komunikasi antar staff yang menyediakan layanan yang berbeda dalam program yang beragam. Hal ini membantu merincikan divisi untuk mengatasi, masalah kesehatan seksual.

Potential benefits of a sexual health framework

Adoption of a sexual health framework as part of a multisectoral approach for public health action35 has several potential benefits. First, it has the potential to engage new and diverse partners linked by mutual goals, a commitment to addressing common determinants, and a desire to seek and enhance synergistic impacts. Second, the sexual health framework can normalize open, honest, and respectful conversations around sexuality and sexual responsibility and their contributions to overall health and well-being. Third, because STIs and other adverse health outcomes are highly stigmatized conditions, use of a broader, health-focused framework has the potential to reduce stigma, fear, and discrimination associated with these conditions. Fourth, the sexual health framework provides opportunities to enhance the efficiency and effectiveness of prevention messages and services by packaging an array of often disparately presented messages and services within a comprehensive structure

Strategi potensial untuk memajukan kesehatan seksual

Usaha untuk mengatasi masalah kesehatan menggunakan kerangka kesehatan seksual dapat menstimulasi upaya kesehatan masyarakat yang baru dan kreatif di level nasional. Strategi tersebut adalah:

  1. Memberikan kepemimpinan nasional. Pekerjaan kesehatan masyarakat yang memungkinkan kerjasama dengan partner multisektor di tingkat nasional, provinsi, dan lokal untuk mengimplementasikan pendekatan tersebut.
  2. Meningkatkan kemitraan strategis. Kemitraan yang dinamis dapat membentuk dan mendukung upaya kesehatan masyarakat. Kelompok dari berbagai sektor (seperti bisnis, layanan kesehatan, dan akademia) juga politik, agama, dan sosial penting untuk mencapai persetujuan dalam isu sulit yang membutuhkan dukungan luas dan meningkatkan upaya kesehatan seksual yang efektif.
  3. Memperkuat dasar sains: surveilans, monitoring dan evaluasi, serta penelitian. Untuk mengoptimalkan upaya kesehatan seksual nasional, kegiatan dalam domain saintifik penting, seperti meningkatkan surveilans untuk meningkatkan aktivitas monitor dan luaran terkait kesehatan seksual (seperti pengetahuan, komunikasi, sikap, akses layanan dan kelengkapan, perilaku seksual, hubungan, dan dampak buruk); monitoring evaluasi untuk menilai implementasi kegiatan kesehatan seksual; dan penelitian untuk membentuk dan menilai pendekatan pencegahan baru yang mengatasi celah dalam menggunakan kerangka kesehatan seksual secara efektif.
  4. Mendorong tindakan kebijakan yang efektif. Pembangunan dan implementasi kebijakan yang sesuai dapat mendukung akses yang lebih baik ke pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual yang aman, lingkungan yang mendukung (bebas tekanan, diskriminasi, dan kekerasan) yang dapat berdampak pada perilaku seksual. Pemangku kebijakan dapat mengidentifikasi dan mendukung kebijakan berdasarkan bukti terkait kesehatan seksual.
  5. Memperkuat infrastruktur dan memberikan pelatihan penyediaan layanan kesehatan seksual yang layak
  6. Mendukung kesadaran dan meningkatkan pengetahuan lewat komunikasi dan edukasi

Komunikasi dapat diperkuat untuk membuat upaya yang sinergis dalam mengupayakan kesehatan seksual. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan secara umum mengenai kesehatan seksual penting untuk dilakukan bagi masyarakat, komunitas, organisasi, dan pemangku kebijakan lainnya.

Selengkapnya dapat mengakses: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3562752/

 

 

 

 

Peningkatan Kapasitas di Rumah Sakit: Efektivitas Strategi Respons dan Mitigasi

Departemen emergensi rumah sakit diharuskan untuk menstabilkan dan merawat pasien dengan cedera atau sakit yang membahayakan nyawa, tanpa memperdulikan dampaknya pada kinerja rumah sakit. Ketika kebutuhan dari insiden dengan penyebab multipel atau kejadian emergensi lain melebihi kapasitas, rumah sakit akan meningkatkan suplai layanan kesehatan dengan cepat, hal inilah yang disebut sebagai surge capacity. Kejadian seperti ini dapat terjadi setiap minggu, bahkan setiap hari , dimana departemen emergensi beroperasi mendekati atau melebihi kapasitas di waktu puncak dan ketika kejadian dengan penyebab multipel terjadi lebih sering. Rumah sakit akan memberikan surge capacity ketika utilisasi sumberdaya sedang dibutuhkan, dimana hal ini terjadi ketika ada kejadian disruptif atau ketika pasien datang dalam jumlah yang banyak.

Menurut pemerintah Amerika Serikat, surge capacity merupakan kunci dari kinerja rumah sakit dan pembuat kebijakan mensyaratkan rumah sakit untuk memiliki program persiapan yang mengikutsertakan surge capacity yang adekuat. Keputusan operasional yang terlibat dalam manajemen surge capacity dapat dilihat dalam kerangka konseptual yang lebih besar dari manajemen emergensi, yang meliputi 4 fase, yakni persiapan (preparation), response (response), pemulihan (recovery), dan mitigasi (mitigation). Dalam fase persiapan, rumah sakit akan membangun kapasitas dan mengidentifikasi sumberdaya yang dapat digunakan saat emergensi. Dalam fase respons, rumah sakit akan merespon emergensi dan mengontrol efek negatifnya. Pada fase pemulihan, rumah sakit akan melanjutkan operasional secara normal. Terakhir, di fase mitigasi, rumah sakit akan mengambil langkah untuk mengurangi keparahan dan dampak dari emergensi terhadap operasinya.

Dalam studi yang dilakukan dalam penelitian ini, terdapat beberapa rumah sakit yang diwawancarai mengenai fase respon dan fase mitigasi yang menjelaskan bagaimana cara membuat keputusan tentang surge capacity. Dua strategi yang dipelajari untuk meningkatkan surge capacity dalam fase repson dan fase mitigasi, yakni: (1) koordinasi keputusan pemulangan antara departemen emergensi dan unit rawat inap selama fase respon dan (2) manajemen kebutuhan eletif di unit rawat inap lewat penghalusan beban kerja selama fase mitigasi. Dalam model yang dibentuk dan disimulasikan untuk menghitung dampak dari kedua strategi surge capacity, didapatkan bahwa kedua strategi dapat meningkatkan surge capacity.

Surge Capacity dan Respon terhadap Insiden

Peninjauan literatur terhadap berbagai studi kualitatif dan kuantitatif menghasilkan beberapa kesimpulan yang direkomendasikan, seperti memberikan patokan surge capacity sebesar 20%-30% dari kapasitas normal rumah sakit, melakukan 5 tahap rencana pemulangan untuk pasien yang tersedia berdasarkan risiko konsekuensial kejadian medis, dan proporsi rawat inap substansial dapat dipulangkan ke fasilitas keperawatan untuk meningkatkan surge capacity.

Keputusan Pemulangan dan Mekanisme Koordinasi Alur pasien

Keputusan pemulangan memberikan dampak bagi rumah sakit untuk menerima pasien dari departemen emergensi. Bukti dari studi yang dilakukan oleh Shi et. al (2015) dan KC dan Terwiesh (2017) mendemonstrasikan bahwa rumah sakit yang memberlakukan aturan pemulangan secara aktif mampu menerima pasien lebih banyak. Kurangnya koordinasi dari unit rawat ini merupakan penyebab penuhnya departemen emergensi dan lamanya rawat inap di departemen emergensi dikaitkan dengan lamanya pasien dirawat inapkan, sehingga koordinasi pemulangan pasien antara departemen emergensi dan unit rawat inap dapat meningkatkan surge capacity. Mekanisme seperti mempekerjakan manajer penempatan bed dan kontrol bed tersentralisasi, hingga sistem informasi real-time dan memperkirakan permintaan dapat digunakan.

Ketersediaan Bed Rawat Inap dan Mekanisme Penghalusan Beban Kerja

Usaha untuk memperhalus beban kerja rawat inap memerlukan 2 strategi, yakni admisi elektif dan optimisasi jadwal blok. Admisi elektif merupakan metode efektif untuk menurunkan variabilitas beban kerja rawat inap tanpa mengurangi volume keseluruhan. Ketika admisi yang terencana terlalu banyak, otomatis operasi yang direncanakan akan dijadwalkan ulang ke hari lain yang jumlah admisi terencana lebih rendah dibandingkan dengan biasanya. Implementasi admisi elektif terbukti dapat menurunkan luaran mutu yang tidak diharapkan, seperti diversi intensive care unit (ICU). Optimisasi jadwal blok pembedahan melibatkan 2 tahap yaitu memperkirakan penggunaan sumberdaya rawat inap post bedah dan informasi real time dan real space terkait ketersediaan kapasitas ruangan operasi. Prosedur penjadwalan blok terstandarisasi dapat mengurangi variasi kebutuhan bed rawat inap. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan Levine dan Dunn (2015) yang mengatur ulang 21% blok pembedahan dapat mengurangi okupansi puncak sebanyak 3% meski terdapat peningkatan 9% dari volume total.

Selengkapnya dapat diakses di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8759806/