Egypt and the Global Fund partner to strengthen health systems in the fight against HIV and tuberculosis, enhancing support for vulnerable communities

The Arab Republic of Egypt and the Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria today signed a Framework Agreement which serves as a foundation to strengthen Egypt’s health systems. With a focus on the national response to HIV and tuberculosis, as well as mitigating the impact of COVID-19 on health infrastructure, this partnership underscores Egypt’s commitment to health resilience for vulnerable communities.

Continue reading

Pemimpin Kesehatan Global Membahas Alat Inovatif dan Transformatif untuk Mengakhiri TBC

Pemerintah Indonesia, bersama para pemimpin kesehatan global dan mitra, menyerukan tindakan cepat untuk mengatasi tantangan kesehatan masyarakat global berupa tuberkulosis (TBC) melalui pendekatan inovatif dan transformatif. Dalam pertemuan tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, para pemangku kepentingan global seperti Gates Foundation, FIND, dan TB Alliance menyampaikan visi mereka tentang inovasi dan aksi kolaboratif untuk membawa perubahan paradigma dalam pencegahan, diagnosis, dan pengobatan TBC.

Continue reading

Biaya Ketiadaan Tindakan terhadap Ketidakaktifan Fisik terhadap Sistem Layanan Kesehatan

Tanggal 12 November 2024 merupakan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60 yang bertema “Gerak Bersama, Sehat Bersama” adalah perayaan tahunan untuk mengajak dan mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta membangun serta mewujudkan target kesehatan nasional demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Penduduk Indonesia yang mayoritas berada pada masa usia produktif merupakan sebuah nilai positif yang semestinya dimanfaatkan untuk membangun perekonomian dalam sektor industri maupun sektor lainnya. Produktivitas ini tidak lepas dari tingkat kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dengan tubuh yang sehat dan bugar. Kebugaran tentu didukung oleh seberapa aktif tubuh dalam melakukan aktivitas fisik sehari-hari. Sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran yang cukup baik untuk meningkatkan aktivitas fisik, sehingga beban layanan kesehatan dalam menangani penyakit tidak menular terus meningkat.

Sebagian besar negara masih tertinggal dalam memenuhi komitmen mereka terhadap Sustainable Development Goals (SDG) 3.4 PBB tahun 2030 untuk mengurangi sepertiga angka kematian dini akibat penyakit tidak menular (PTM), yang merupakan penyebab utama kematian dan kesehatan yang buruk secara global. Mengurangi prevalensi faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti penggunaan tembakau, penggunaan alkohol yang berbahaya, pola makan yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik, merupakan strategi yang hemat biaya untuk mengurangi beban PTM dan masalah kesehatan mental. Setiap US$1 yang diinvestasikan dalam meningkatkan intervensi efektif untuk mengurangi faktor risiko dan mengelola PTM, dapat menghasilkan keuntungan hingga US$7 di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, dimana hampir 85% dari seluruh kematian dini lebih sering terjadi akibat PTM.

Ketidakaktifan fisik merupakan faktor risiko utama yang dapat dimodifikasi untuk PTM dan kondisi kesehatan mental, termasuk stroke, hipertensi, diabetes tipe 2, penyakit jantung koroner, beberapa jenis kanker, demensia, depresi, dan semua penyebab kematian; khususnya, kematian akibat penyakit kardiovaskular. Kerugian global akibat kurangnya aktivitas fisik pada sistem layanan kesehatan, berdasarkan pada lima dampak kesehatan (penyakit jantung koroner, stroke, diabetes melitus tipe 2, kanker payudara, dan kanker usus besar), diperkirakan senilai USD $53,8 miliar (2013), dimana 58% di antaranya dibayar oleh sektor publik.

Dalam mendukung berbagai negara, World Health Organization mengidentifikasi 20 rekomendasi kebijakan berbasis bukti, yang diuraikan dalam Rencana Aksi Global WHO tentang Aktivitas Fisik 2018–30, untuk memandu upaya nasional untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik populasi. Namun kemajuan global dalam mengurangi tingkat ketidakaktifan aktivitas fisik berjalan lambat. Advokasi yang lebih kuat diperlukan untuk membentuk tindakan multisektoral yang diperlukan untuk mendorong dan memungkinkan lebih banyak aktivitas fisik. Advokasi ini dapat didukung dengan alasan ekonomi bagi pemerintah dan organisasi non-pemerintah untuk berinvestasi dalam aktivitas fisik.

Mempertimbangan investasi untuk aktivitas fisik adalah kunci untuk memberikan masukan bagi pemangku kebijakan dan memprioritaskan sumber daya, serta menghasilkan dukungan politik dan masyarakat untuk implementasi kebijakan. Memperkirakan dampak kesehatan dan ekonomi jika tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi tingkat ketidakaktifan fisik adalah langkah pertama dalam membangun alasan untuk berinvestasi dalam aktivitas fisik.

Pada studi yang dilakukan oleh Costa, A et. al (2022) dengan Fraksi Atributabel Populasi (PAF) yang merupakan ukuran epidemiologi untuk menilai dampak kesehatan masyarakat dari paparan pada populasi, diperkirakan terdapat 499,2 juta kasus baru PTM dan kondisi kesehatan mental yang dapat dicegah akan terjadi secara global, dari tahun 2020 hingga 2030, dalam kondisi prevalensi ketidakaktifan fisik saat ini tidak berubah. Terdapat 234.6 juta (47%) dari kasus baru ini merupakan hipertensi dan 215,7 juta (43%) disebabkan oleh depresi dan kecemasan. Sebanyak 368•4 juta (74%) kasus baru akan terjadi di negara-negara berkembang, dan dari jumlah total kasus baru PTM dan kondisi kesehatan mental akibat kurangnya aktivitas fisik, 125,9 juta (25%) akan terjadi di wilayah Pasifik Barat dan 103,5 juta (21%) di wilayah Asia Tenggara.

Perkiraan biaya global dari semua PTM dan kondisi kesehatan mental yang dapat dicegah mencapai US$301,8 miliar untuk periode 2020–30, sekitar USD $27,4 miliar per tahun. Biaya pengobatan dan pengelolaan PTM dan kondisi kesehatan mental bervariasi,sehingga meskipun demensia hanya menyumbang 3% dari kasus baru yang dapat dicegah, penyakit ini menyumbang 22% dari total biaya layanan kesehatan langsung. Selain itu, diabetes tipe 2 menyumbang 2% dari kasus yang dapat dicegah namun 9% dari seluruh biaya, dan kanker menyumbang 1% dari seluruh kasus namun 15% dari seluruh biaya.

Meskipun sebagian besar (74%) kasus baru terjadi di negara-negara berkembang, negara-negara berpendapatan tinggi akan menanggung beban ekonomi terbesar (63%). Beban ekonomi yang disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik paling tinggi terjadi di kawasan Eropa (32%), diikuti oleh kawasan Amerika (25%), kawasan Pasifik Barat (20%), kawasan Mediterania Timur (13%), dan Asia Tenggara. wilayah (8%), dan wilayah Afrika (2%).

Kami memperkirakan bahwa total kerugian akibat ketidakaktifan fisik secara global akan mencapai sekitar USD $520 miliar selama periode 11 tahun (2020–30) jika tingkat aktivitas fisik global tidak ditingkatkan. Yang menjadi perhatian khusus adalah tingginya beban ketidakaktifan fisik yang terlihat pada kasus-kasus demensia dan kanker yang dapat dicegah, karena meskipun insiden kondisi-kondisi ini relatif lebih rendah dibandingkan dengan PTM lainnya, penyakit-penyakit ini memerlukan biaya yang tinggi karena persyaratan diagnosis, pengobatan, dan manajemen jangka panjang. Selain itu, meskipun sebagian besar kasus penyakit tidak menular diperkirakan akan terjadi di negara-negara berkembang, negara-negara berpendapatan tinggi akan menanggung beban ekonomi yang lebih besar. Temuan ini mencerminkan peningkatan cakupan dan biaya layanan kesehatan di negara-negara kaya dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan rendah.

Selengkapnya dapat diakses pada:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9748301/ 

 

 

Dari Tanggap Bencana hingga Pemulihan Komunitas: Lembaga Swadaya Masyarakat, Pemerintah, dan Kesehatan Masyarakat

Bencana memberikan implikasi yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Bencana yang menimbulkan risiko langsung terhadap kesehatan dan keselamatan, seperti angin topan, tornado, banjir, gempa bumi, dan kebakaran hutan juga dapat merusak jaringan listrik, jaringan komunikasi, dan infrastruktur transportasi. Hal ini menyebabkan gangguan serius dalam perawatan pasien dan akses terhadap fasilitas dan teknologi medis. Kondisi Puerto Rico setelah Badai Maria, berdampak pada krisis kesehatan masyarakat berskala besar dan ribuan kematian. Dalam jangka panjang, bencana dapat mengubah perekonomian lokal serta lingkungan dan lingkungan fisik, dengan konsekuensi berbahaya bagi mereka yang hidup di sana. margin sosial dan ekonomi.

Bencana memerlukan perhatian cepat untuk menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat. Akses terhadap air, makanan, dan tempat tinggal merupakan masalah yang mendesak, begitu pula kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Bencana juga dapat menyebabkan gangguan signifikan terhadap sistem layanan kesehatan, yang diperburuk dengan pemadaman listrik, kekurangan bahan bakar, dan kerusakan pada transportasi dan komunikasi. infrastruktur. Bagi pasien dengan penyakit kronis, akses terhadap resep, teknologi medis, dan rencana pengobatan yang ada mungkin terganggu. Mereka yang mempunyai kebutuhan fungsional, penghuni panti jompo, dan pasien dialisis juga menghadapi tingkat risiko yang tinggi.

Sistem tanggap bencana seharusnya dilakukan oleh otoritas lokal, negara bagian, dan federal, bekerja sama dengan organisasi nirlaba, kelompok berbasis agama, dan perusahaan swasta. Berdasarkan Stafford Act tahun 1988, deklarasi keadaan darurat presiden dan bencana besar dapat dibuat setelah bencana besar terjadi. permintaan gubernur, yang harus menyatakan bahwa pemerintah daerah tidak mampu merespons bencana sendiri. Deklarasi presiden memungkinkan dukungan federal mengalir ke negara bagian, persemakmuran, suku-suku Indian yang diakui secara federal, dan wilayah-wilayah Amerika.

Pemerintah Non Pemerintah

Pemerintah daerah
Mempertahankan tanggung jawab utama untuk mempersiapkan dan merespons insiden buatan manusia dan alam

Pemerintahan negara bagian, suku, teritorial, dan wilayah kepulauan
Melengkapi upaya lokal sebelum, selama, dan setelah insiden

Ketika sumber daya lokal terlampaui (atau ketika hal ini diantisipasi), mintalah bantuan dari negara bagian lain atau dari pemerintah federal melalui proses Stafford Act

Pemerintah Federal
Mengikuti deklarasi Stafford Act, memberikan dukungan kepada pemerintah negara bagian, suku, teritorial, wilayah kepulauan, dan lokal

Mengkoordinasikan tanggapan badan-badan federal

Mengambil peran utama jika yurisdiksi federal

Bisnis
Merencanakan, merespons, dan melakukan pemulihan dari insiden yang berdampak pada infrastruktur dan fasilitas penting milik swasta

Berkontribusi pada komunikasi dan berbagi informasi selama insiden

Menyediakan komoditas, layanan, dan personel untuk mendukung respons

Nirlaba, sukarela, komunitas berbasis agama
Menyediakan komoditas dan layanan darurat termasuk air, makanan, tempat tinggal, manajemen kasus, pakaian, sumber daya kesehatan, dan persediaan

Terlibat dalam dan mendukung layanan pencarian dan penyelamatan, transportasi, dan logistik

Mengelola dan mengoordinasikan sukarelawan

Mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi

Pemerintah dan organisasi non pemerintah memainkan peran penting dalam tanggap bencana dan pemulihan. Dengan bekerja sama, mereka dapat menerapkan kebijakan dan upaya yang bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan mengatasi kerentanan sosial terhadap bencana. Sebagai langkah pertama, isu-isu koordinasi yang secara rutin dijelaskan selama wawancara pascabencana dapat diatasi melalui komitmen pemerintah federal yang signifikan dan berkelanjutan untuk membantu mendanai Voluntary Organizations Active in Disaster (VOAD) negara bagian, regional, dan kabupaten. Komitmen ini harus dilaksanakan terlepas dari lokasi atau kedekatannya dengan bencana yang terjadi baru-baru ini. Struktur VOAD yang kuat dan tertanam secara lokal mungkin juga terlibat dalam penjangkauan organisasi-organisasi yang hanya sesekali terlibat dalam tanggap bencana. Perluasan sumber daya untuk VOAD mungkin terbukti berguna di wilayah dimana sumber daya lokal relatif terbatas, membantu kelompok-kelompok menargetkan sumber daya mereka dan menyediakan struktur yang melekat secara lokal bagi organisasi luar untuk berkoordinasi selama tanggap bencana.

Selengkapnya dapat diakses di: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6366522/ 

 

 

Tracks Workforce, Policy, and Governance

{tab title=”Bagian 1″ class=”red” align=”justify”}

Can ‘Living’ Guidelines Be Made and If So Will They Be Used? An Evaluation of the Australian Living Stroke Guidelines

Presentasi ini oleh Prof. Peter Hibbert dan timnya dari Australian Institute of Health Innovation mengevaluasi Living Stroke Guidelines (LSGs) di Australia, yang berfokus pada penerapan panduan klinis yang diperbarui secara berkala untuk perawatan stroke. Presentasi ini menyimpulkan bahwa panduan ‘living’ seperti LSGs dapat meningkatkan kualitas perawatan dengan memastikan panduan yang selalu diperbarui dan relevan dengan perkembangan bukti terbaru.

Poin-poin utama:

  1. Panduan Praktik Klinis (CPGs):
    • CPGs adalah pernyataan yang mencakup rekomendasi untuk mengoptimalkan perawatan pasien, berdasarkan tinjauan sistematis bukti dan penilaian manfaat serta risiko pilihan perawatan.
    • Panduan ini telah menjadi bagian dari sistem kesehatan sejak 1990-an untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien. Namun, masalah seperti duplikasi, ukuran dokumen yang besar, dan keterlambatan pembaruan sering terjadi.
  2. Masalah dengan Panduan yang Usang:
    • Satu dari lima rekomendasi dalam panduan klinis menjadi usang dalam waktu tiga tahun. Hal ini menekankan pentingnya pembaruan yang lebih cepat.
  3. Panduan ‘Living’ (LSGs):
    • LSGs adalah pendekatan baru di mana panduan diperbarui secara berkala berdasarkan bukti terbaru, sehingga rekomendasi dapat diubah seiring dengan munculnya data baru. Panduan ini berbeda dari pendekatan tradisional yang merevisi seluruh dokumen sekaligus.
    • Stroke Foundation Australia, bekerja sama dengan Cochrane Australia, mulai menerapkan metode pengembangan panduan ‘living’ ini pada 2017, termasuk lebih dari 300 rekomendasi yang mencakup 80 topik klinis.
  4. Evaluasi LSGs:
    • Evaluasi dilakukan untuk memahami dampak LSGs terhadap beban kerja, efisiensi produksi panduan, dan penerimaan di antara pengguna akhir. Evaluasi menggunakan metode survei kuantitatif dan wawancara kualitatif, serta data Google Analytics untuk mengukur akses panduan selama lima tahun.
    • Hasil survei menunjukkan bahwa 69% pengguna memiliki kepercayaan yang lebih besar pada LSGs dibandingkan versi statis sebelumnya, dan 66% mengikuti rekomendasi panduan.
  5. Hambatan dan Fasilitator dalam Pengembangan LSGs:
    • Hambatan termasuk kurangnya integrasi antara platform perangkat lunak dan alat kolaboratif serta beban kerja yang tidak dapat diprediksi. Namun, kolaborasi antara pemangku kepentingan dan pengakuan kontribusi menjadi fasilitator utama.
    • Meskipun panduan ini meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas, ada kekhawatiran tentang kesinambungan dan pendanaan yang berkelanjutan.
  6. Kesimpulan:
    • LSGs dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dalam lembaga yang memiliki sumber daya yang baik. Panduan ini memungkinkan pembaruan rekomendasi yang terus menerus sesuai dengan bukti baru.
    • Ke depan, fokus harus diarahkan pada kondisi dengan beban penyakit yang tinggi dan perubahan bukti yang cepat, serta pentingnya komunikasi yang efektif dan penyediaan sumber daya untuk mendukung adopsi panduan yang terus berubah.

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{tab title=”Bagian 2″ class=”orange”}

WHO: From Policy to Practice: Application of Quality and Safety Service Delivery Framing

isq 8Sesi ini menampilkan banyak presentan, mereka memaparkan tentang cara menghubungkan kebijakan tingkat tinggi dengan praktik klinis sehari-hari. Salah satu kebijakan yang dibahas yaitu tentang global medication without harm. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan kampanye global Medication Without Harm pada tahun 2017. Kampanye ini bertujuan untuk mengurangi bahaya yang terkait dengan penggunaan obat dan meningkatkan keselamatan pasien di seluruh dunia.

Di seluruh dunia, diperkirakan biaya yang disebabkan oleh kesalahan pengobatan mencapai sekitar $42 miliar USD per tahun. Kesalahan ini dapat terjadi pada berbagai tahap dalam proses penggunaan obat. Faktor-faktor seperti sistem pengobatan yang lemah dan kondisi manusia, misalnya kelelahan, lingkungan yang tidak memadai, atau kekurangan tenaga medis, dapat memengaruhi praktik peresepan, transkripsi, pemberian, dan pemantauan obat, yang berpotensi menyebabkan bahaya serius, kecacatan, atau bahkan kematian.

Guna menghindari kesalahan pengobatan, WHO meluncurkan Global Patient Safety Action Plan 2021-2030. Kegiatan berfokus pada 7 strategi, yaitu:

Strategic objective 1. Policies to eliminate avoidable harm in health care
Strategic objective 2. High-reliability systems
Strategic objective 3. Safety of clinical processes
Strategic objective 4. Patient and family engagement
Strategic objective 5. Health worker education, skills and safety
Strategic objective 6. Information, research and risk management
Strategic objective 7. Synergy, partnership and solidarity

isq 9

Poin-poin utama:

  1. Kampanye Medication Without Harm yang diinisiasi oleh WHO merupakan langkah krusial untuk mengurangi kesalahan medis yang berkaitan dengan penggunaan obat serta meningkatkan keselamatan pasien secara global. Inisiatif ini penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih aman dan efisien, mengurangi dampak dari penyakit yang dapat dicegah, serta meningkatkan kualitas hidup pasien di seluruh dunia.
  2. Peningkatan sistem pelaporan terkait efek samping obat dan kesalahan pengobatan yang dapat digunakan untuk memperbaiki praktik pengelolaan obat baik di tingkat rumah sakit maupun dalam sistem kesehatan secara keseluruhan.
  3. Memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan mengenai praktik pengelolaan obat yang aman dan efisien, serta menyusun pedoman berbasis bukti untuk praktik terbaik dalam penggunaan obat.
  4. Mengoptimalkan penggunaan teknologi, seperti rekam medis elektronik dan sistem informasi kesehatan, untuk meningkatkan keamanan dalam penggunaan obat dan mencegah terjadinya kesalahan pengobatan.
  5. Mengajak berbagai sektor, termasuk industri farmasi, organisasi non-pemerintah, dan lembaga internasional, untuk bekerja sama dalam merancang kebijakan yang mendukung penggunaan obat yang lebih aman.
  6. Kesalahan Pemberian Obat: Kesalahan dalam pemberian obat sering kali disebabkan oleh ketidakcocokan informasi antara dokter, apoteker, dan perawat, serta kurangnya informasi yang lengkap mengenai alergi atau kondisi medis pasien.
  7. Polifarmasi pada Lansia: Banyak lansia yang mengonsumsi berbagai obat untuk mengelola kondisi medis yang berbeda, yang dapat meningkatkan risiko interaksi obat yang berbahaya.

Usulan berbagai tindak lanjut

  1. Kementerian Kesehatan, akademisi, dan lembaga akreditasi menyusun elemen penilaian patient centre care
  2. Menyusun pedoman implementasi dan pengukuran patient centre care untuk penyakit esensial
  3. Kementerian kesehatan perlu membuat sebuah kanal pengetahuan untuk membagikan praktik-praktik terbaik berbasis bukti di level Global/ international maupun praktik-praktik keselamatan pasien yang ada di Indonesia.
  4. Kementerian kesehatan perlu melakukan review kembali terkait langkah-langkah melakukan investigasi keselamatan pasien yang berkualitas
  5. Pelayanan kesehatan perlu membangun sistem pelaporan insiden yang aman dan berbasis IT dan konfidensial untuk mendorong tenaga kesehatan melaporkan kesalahan tanpa takut akan sanksi.

Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH

 

{/tabs}

 

  Ke halaman utama

Tracks Future of Healthcare: AI and Digital Transformation

{tab title=”Bagian 1″ class=”red” align=”justify”}

DISCO with Patients, Patient Advocates, and Healthcare Teams – A Healthcare Improvement Collaboration Platform

Presentasi ini oleh Keith Heng dari SingHealth, memperkenalkan platform kolaborasi DISCO (Design, Ideate, Sustain, Change for Organisation) yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas perawatan pasien dengan melibatkan pasien, advokat, dan tim kesehatan. Presentasi ini menyoroti bagaimana DISCO Café menjadi platform inovatif yang menggabungkan ide-ide dari berbagai pihak untuk meningkatkan perawatan kesehatan yang lebih berpusat pada pasien.

Poin-poin utama:

  1. Tentang SingHealth dan IPSQ:
    • SingHealth adalah kelompok institusi kesehatan terbesar di Singapura, mencakup 4 rumah sakit umum, 3 rumah sakit komunitas, 5 pusat spesialis nasional, dan 8 poliklinik.
    • Institut Keselamatan Pasien & Kualitas (IPSQ) di bawah SingHealth didirikan pada 2017 dan berperan dalam mengintegrasikan usaha keselamatan dan kualitas pasien di Singapura melalui program pendidikan berkelanjutan yang berfokus pada peningkatan kualitas perawatan dan inovasi.
  2. Masalah dalam Upaya Peningkatan Kesehatan Tradisional:
    • Sebelum adanya DISCO Café, upaya peningkatan kualitas kesehatan sering kali terhambat oleh adanya silo antar departemen, kurangnya visi bersama, dan komunikasi yang terbatas antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.
  3. DISCO Café:
    • Diluncurkan pada Maret 2023, DISCO Café adalah platform kolaboratif yang mempertemukan tim proyek, advokat pasien, dan ahli materi untuk bertukar ide melalui proses ideasi terstruktur.
    • Acara ini melibatkan sesi “table hopping” di mana berbagai ide dikembangkan dengan bimbingan ahli dari SingHealth dan jaringan institusi lainnya.
    • DISCO Café bertujuan untuk memperkuat ide proyek, memfasilitasi kolaborasi antar-disiplin, dan memperkuat fokus pada perawatan yang berpusat pada pasien.
  4. Co-creation dengan Pasien:
    • DISCO Café menekankan pentingnya co-creation, di mana pasien dan tim kesehatan bekerja bersama untuk menemukan solusi yang relevan dan efektif. Ini menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang perjalanan pasien dan menghasilkan solusi yang lebih berpusat pada pasien.
    • SingHealth Patient Advocacy Network (SPAN), yang terdiri dari pasien dan keluarga, berkolaborasi erat dengan tim kesehatan untuk memberikan perspektif berharga dan meningkatkan pengalaman perawatan.
  5. Hasil dan Umpan Balik:
    • Dari tiga sesi DISCO Café yang telah dilaksanakan, sebanyak 94% peserta menyatakan manfaat dari sesi tersebut, dan 88% merasa konten relevan dengan proyek mereka.
    • Umpan balik menunjukkan bahwa peserta dapat memperoleh perspektif yang beragam dan ide-ide baru yang bermanfaat bagi proyek mereka.
  6. Tema DISCO Café:
    • Sesi pertama pada Maret 2023 berfokus pada “Membangun Layanan Digital untuk Meningkatkan Pengalaman Pasien”.
    • Sesi kedua pada September 2023 mengangkat tema “Meningkatkan Keterlibatan dan Pemberdayaan Pasien & Pengasuh”.
    • Sesi ketiga yang direncanakan pada April 2024 akan membahas “Transportasi Aman Pasien di Fasilitas Kesehatan”.

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{tab title=”Bagian 2″ class=”orange”}

The Challenges of Digital Risks in the French Hospitals Accreditation

Presentasi ini, disampaikan oleh Sophie Ollivier dan Isabelle Dorleans, membahas tantangan digital dalam proses akreditasi rumah sakit di Prancis, dengan fokus pada penguatan persyaratan dan kriteria baru terkait risiko digital.

Poin-poin utama:

  1. Latar Belakang Akreditasi Rumah Sakit di Prancis:
    • Semua rumah sakit di Prancis, baik publik maupun swasta, diwajibkan untuk melalui proses akreditasi setiap 4 tahun.
    • Proses ini dikelola oleh French National Authority for Health (HAS) dengan fokus pada evaluasi kualitas perawatan dan keselamatan pasien.
    • Hasil evaluasi dipublikasikan secara terbuka melalui platform QualiScope.
  2. Tantangan Digital dalam Akreditasi:
    • Pengelolaan risiko keamanan digital menjadi tantangan utama. Rumah sakit harus memastikan kelangsungan operasionalnya untuk menjaga keselamatan perawatan, terutama menghadapi risiko serangan siber.
    • Program nasional seperti roadmap kesehatan digital 2023-2027 mendukung peningkatan persyaratan digital dalam akreditasi.
    • Penilaian digital ini bukan inspeksi teknis melainkan audit hasil yang fokus pada praktik terbaik yang diterapkan oleh tenaga profesional.
  3. Kriteria Penilaian Digital:
    • Ada tujuh kriteria penilaian digital utama, termasuk manajemen risiko keamanan digital, identifikasi profesional, akses ke catatan medis pasien, serta komunikasi yang aman dari informasi medis.
    • Penekanan pada kesadaran, pelatihan, dan promosi praktik terbaik terkait kebersihan IT dan penggunaan sistem informasi yang aman.
  4. Integrasi Keahlian Digital dalam Tim Surveyor:
    • Mulai Januari 2024, setiap tim surveyor harus memiliki keahlian digital khusus yang bertugas untuk mengevaluasi kriteria digital.
    • Digital surveyor ini akan direkrut, dilatih, dan dipandu dalam pelaksanaan kunjungan lapangan untuk memastikan pemahaman menyeluruh tentang risiko digital dan penerapan standar.
  5. Hasil Awal dan Prospek:
    • Sejak Januari 2024, telah dilakukan 368 survei yang mencakup kriteria digital. Hasilnya menunjukkan perlunya memperkuat budaya keamanan digital di rumah sakit.
    • Kolaborasi antara tim kesehatan dan tim IT meningkat, dan kesadaran para direktur rumah sakit terhadap isu keamanan siber semakin tinggi.
    • Ke depan, fokus akan ditingkatkan pada telehealth dan penggunaan perangkat medis digital yang terhubung dengan kecerdasan buatan (AI).

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

  

{tab title=”Bagian 3″ class=”green”}

Artificial Intelligence and Improving Care: CAIBILS (Center for AI and Biomedical Informatics for the Learning Healthcare System)

Presentasi ini oleh Dr. David W. Bates dari CAIBILS memaparkan peran kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan perawatan kesehatan, dengan fokus pada inisiatif CAIBILS untuk mengintegrasikan AI dan informatika biomedis dalam sistem perawatan kesehatan berbasis pembelajaran.

Poin-poin utama:

  1. Misi CAIBILS:
    • CAIBILS bertujuan untuk menyediakan sumber daya pendidikan, data, dan keahlian konsultatif dalam penelitian kesehatan dan operasi kualitas. Tujuannya adalah untuk mendukung inovasi AI dan informatika biomedis untuk meningkatkan perawatan pasien dalam sistem kesehatan berbasis pembelajaran.
    • Learning Health System adalah sistem di mana data internal dan pengalaman klinis diintegrasikan secara sistematis dengan bukti eksternal, dan pengetahuan yang diperoleh diterapkan dalam praktik.
  2. Peran Penting CAIBILS:
    • CAIBILS mengisi kebutuhan di Mass General Brigham (MGB) dengan mengembangkan penelitian AI/informatika biomedis yang terintegrasi untuk meningkatkan perawatan pasien, efisiensi, dan kepuasan kerja.
    • CAIBILS juga berperan dalam menghubungkan akademisi dengan industri serta mendukung kolaborasi dengan pemerintah untuk mengembangkan aplikasi penelitian mutakhir yang dapat diintegrasikan ke dalam strategi organisasi.
  3. Pengembangan Fakultas Ilmiah:
    • CAIBILS merekrut dan mempertahankan fakultas kelas dunia dalam informatika dasar, translasi, dan klinis. Mereka juga menyediakan pendidikan lanjutan dan pelatihan melalui seminar, kursus sertifikasi, dan kolaborasi dengan institusi akademik seperti MIT.
    • Salah satu fokus utama adalah mengembangkan informatika sebagai disiplin klinis yang relevan dengan pasien dan penyedia layanan kesehatan serta mengevaluasi dampak klinis dan ekonomi dari bidang ini.
  4. Contoh Proyek Penelitian dan Analisis Kualitas:
    • CAIBILS mengidentifikasi masalah dan peluang untuk meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas perawatan, seperti melalui dukungan keputusan klinis, analisis catatan kesehatan elektronik (EHR), dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan/machine learning (AI/ML).
    • Contoh proyek termasuk prediksi kejadian efek samping obat (ADE), respons terapeutik, dan deteksi dini kesalahan resep obat untuk mengurangi risiko dan meningkatkan hasil klinis.
  5. Penggunaan AI untuk Mengurangi Efek Samping Obat:
    • Proyek CAIBILS mencakup pengembangan algoritma AI untuk memprediksi pasien yang mungkin mengalami ADE, menentukan respons obat yang optimal, dan memilih perawatan yang paling aman dan efektif.
    • Proyek lain yang melibatkan AI meliputi pengembangan dukungan keputusan alergi obat dan studi genetik serta faktor risiko epidemiologis untuk reaksi kulit parah akibat obat.
  6. Kesimpulan:
    • CAIBILS sedang berkembang untuk menjadi pusat penelitian AI dan informatika yang terintegrasi. Meskipun AI menawarkan potensi transformasional, banyak tantangan yang harus diatasi, termasuk pemantauan dan implementasi aplikasi yang tepat.
    • Kolaborasi dengan industri sangat penting, dan CAIBILS bertujuan untuk menjadi penggerak utama dalam inovasi AI di sistem kesehatan berbasis pembelajaran.

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{/tabs}

 

  Ke halaman utama

 

 

Tracks External Evaluation

Beyond Standards: Exploring the Impact of Hospital Accreditation on Patients’ Experience

Presentasi oleh Prof. Mahi Al Tehewy dari Ain Shams University membahas dampak akreditasi rumah sakit terhadap pengalaman pasien. Akreditasi meningkatkan beberapa aspek pengalaman pasien, terutama dalam hal komunikasi dan manajemen lingkungan rumah sakit. Meski demikian, perbaikan lebih lanjut diperlukan, terutama dalam hal responsivitas terhadap pasien dan pemberian informasi obat-obatan. Presentasi ini menyoroti pentingnya akreditasi rumah sakit dalam meningkatkan kualitas interaksi dan pengalaman pasien, meskipun beberapa aspek masih memerlukan perhatian lebih.

Poin-poin utama:

  1. Pengalaman pasien adalah akumulasi semua interaksi yang membentuk persepsi pasien terhadap perawatan, meliputi fakta objektif dan pandangan subjektif pasien selama mendapatkan pelayanan kesehatan.
  2. Pengalaman pasien berbeda dengan kepuasan pasien. Kepuasan berfokus pada apakah ekspektasi pasien terpenuhi, sementara pengalaman mencakup apa yang sebenarnya terjadi selama perawatan.
  3. Pentingnya Pengalaman Pasien: Pengalaman pasien menjadi metrik penting untuk kualitas layanan kesehatan. Memperbaiki pengalaman pasien dapat meningkatkan reputasi rumah sakit, efisiensi, pendapatan, kepuasan staf, dan mengurangi risiko tuntutan hukum.
  4. Pengukuran Pengalaman Pasien: Pengukuran pengalaman pasien dilakukan dengan menggunakan berbagai metode seperti survei HCAHPS (Hospital Consumer Assessment of Healthcare Providers and Systems), wawancara mendalam, dan komunikasi langsung dengan pasien.
    Survei HCAHPS mencakup berbagai aspek, termasuk komunikasi dengan dokter dan perawat, kebersihan lingkungan rumah sakit, manajemen nyeri, dan informasi tentang pengobatan serta proses keluar dari rumah sakit.
  5. Pengaruh Akreditasi Rumah Sakit terhadap Pengalaman Pasien:
    Studi ini membandingkan pengalaman pasien di rumah sakit terakreditasi dan non-terakreditasi di Ain Shams University Hospitals. Hasil menunjukkan bahwa akreditasi meningkatkan komunikasi dengan perawat, dokter, manajemen nyeri, serta lingkungan rumah sakit. Namun, pengalaman terkait informasi obat-obatan lebih baik di rumah sakit non-terakreditasi. Secara keseluruhan, pasien di rumah sakit terakreditasi memberikan penilaian yang lebih tinggi untuk rumah sakit dan lebih mungkin merekomendasikannya kepada orang lain.

 

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

  Ke halaman utama

Navigating Climate Change and Sustainability in Healthcare System

Decarbonising Healthcare Systems: We All Have a Role to Play

Presentasi ini, yang disampaikan oleh Prof. Jeffrey Braithwaite, Prof. Yvonne Zurynski, dan Dr. K-lynn Smith dari Australian Institute of Health Innovation (AIHI), menyoroti peran penting sektor kesehatan dalam mengatasi perubahan iklim dengan mendekarbonisasi sistem perawatan kesehatan. Presentasi ini menekankan bahwa semua pihak dalam sistem kesehatan—mulai dari klinisi hingga pembuat kebijakan—memiliki peran penting dalam mengurangi dampak karbon dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Poin-poin utama:

  1. Perubahan Iklim dan Sistem Kesehatan:
    • Perubahan iklim berdampak langsung pada kesehatan manusia dan sistem kesehatan. Ironisnya, sektor kesehatan juga merupakan penyumbang signifikan emisi karbon, dengan 4% hingga 8,5% dari total emisi nasional berasal dari aktivitas kesehatan.
    • Sistem kesehatan harus mengurangi emisinya sambil terus merespons dampak kesehatan akibat perubahan iklim, terutama di unit gawat darurat dan layanan kesehatan primer.
  2. Kerangka untuk Mengurangi Jejak Karbon:
    • Kerangka “Scopes” disajikan sebagai alat untuk mengukur dan mengelola emisi gas rumah kaca (GHG) di sektor kesehatan.
    • Empat strategi utama untuk mendekarbonisasi adalah: memperkuat infrastruktur, menerapkan kebijakan dan tata kelola, mengubah perilaku organisasi, dan mengurangi perjalanan serta pengelolaan limbah fisik.
  3. Peran Klinisi dalam Menangani Perubahan Iklim:
    • Klinisi memiliki peran penting dalam mempromosikan praktik berkelanjutan, mengurangi perawatan yang tidak perlu, dan meminimalkan limbah klinis. Sebagai contoh, sekitar 40% dari perawatan yang diberikan dianggap sia-sia atau memiliki dampak yang rendah bagi pasien, yang berkontribusi pada emisi yang signifikan.
    • Penggunaan alat-alat yang dapat digunakan kembali dan pengurangan penggunaan peralatan sekali pakai disoroti sebagai langkah konkret untuk mengurangi jejak karbon.
  4. Strategi Adaptasi dan Mitigasi:
    • Dua tinjauan sistematis dilakukan untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap sistem kesehatan dan kontribusi sistem kesehatan terhadap perubahan iklim. Temuan ini mendukung perlunya taktik adaptasi, seperti pengelolaan rantai pasokan yang ramah lingkungan dan implementasi kebijakan energi bersih.
    • Tindakan yang diusulkan meliputi: meningkatkan pelacakan dan pelaporan emisi GHG, memperkuat infrastruktur, dan mengadopsi praktik klinis dan bedah yang lebih ramah lingkungan.
  5. Game Simulasi Kompleksitas:
    • Sebagai bagian dari pendekatan interaktif, peserta diundang untuk berpartisipasi dalam Complexity Simulation Game, di mana mereka diminta untuk memecahkan masalah hipotetis terkait mencapai emisi nol bersih di sistem kesehatan sebelum COP29 pada tahun 2035. Permainan ini menyoroti tantangan dalam mengelola sistem yang kompleks dan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
  6. Survei dan Tanggapan Terhadap Aksi Iklim di Sektor Kesehatan:
    • Survei terhadap anggota ISQua menunjukkan bahwa sebagian besar responden setuju bahwa layanan kesehatan harus memimpin dalam mengatasi perubahan iklim. Namun, hanya sebagian kecil organisasi yang memiliki target iklim yang jelas.

 

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

  Ke halaman utama

Tracks Equity in Action: Addressing Global Healthcare Emergencies

Bridging the Equity Gap: Virtual Healthcare and the Digital Divide

Presentasi ini, yang disampaikan oleh Ulfat Shaikh dan Peter Lachman, berfokus pada tantangan dan solusi terkait kesenjangan kesetaraan dalam layanan kesehatan virtual. Presentasi ini menyoroti pentingnya layanan kesehatan virtual dalam menjembatani kesenjangan kesetaraan, terutama bagi kelompok yang rentan, dan perlunya mengatasi tantangan teknologi serta infrastruktur untuk memberikan akses yang merata.

Poin-poin utama:

  1. Layanan Kesehatan Virtual: Layanan kesehatan virtual menggunakan teknologi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien di luar fasilitas medis secara sinkron dan asinkron, misalnya melalui konsultasi video, pesan teks, pendidikan daring, atau pemantauan jarak jauh. Hal ini dapat meningkatkan akses perawatan, memperbaiki hasil kesehatan, dan mengurangi emisi karbon.
  2. Kerangka SQUARE DEALS:
    Kerangka ini bertujuan untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam akses layanan kesehatan virtual. Pendekatan ini melibatkan:
    Recognize: Mengakui adanya ketidakadilan dan kesenjangan.
    Engage: Melibatkan pasien, keluarga, dan komunitas dalam merancang solusi.
    Lead: Memimpin dengan kepemimpinan yang sadar akan kesetaraan di semua tingkatan.
    Study: Menganalisis dan melacak data melalui lensa kesetaraan.
    Ask: Mencari dan bertanya tentang kesenjangan yang mungkin ada dalam sistem.
    Define: Menjelaskan masalah ketidaksetaraan secara bersama-sama dengan komunitas.
    Quantify: Mengukur kesenjangan dan mengintegrasikan data ke dalam perencanaan.
    Unify: Menggunakan model perawatan yang terintegrasi untuk mengatasi ketidaksetaraan.

    Kasus Mia: Contoh kasus seorang anak dengan gangguan perkembangan dan masalah akses perawatan menunjukkan pentingnya perawatan virtual dalam situasi di mana jarak dan kendala bahasa menjadi penghambat. Melalui telehealth, kendala transportasi dapat diatasi, namun tantangan tetap ada terkait akses teknologi dan biaya.

  3. Mengatasi Ketidaksetaraan dalam Layanan Kesehatan Virtual: Solusi yang ditawarkan termasuk menyediakan ruang pribadi untuk kunjungan telehealth, memperluas akses ke hotspot internet gratis, menawarkan pelatihan keterampilan digital, serta memastikan teknologi ramah pengguna dan inklusif secara bahasa.

 

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

  Ke halaman utama

Tracks Co-production – Creating a patient-centred healthcare service

{tab title=”Bagian 1″ class=”red” align=”justify”}

The Patient Engagement Puzzle

isq 6“Patient Engagement Puzzle” adalah sebuah konsep yang menggambarkan kompleksitas dalam melibatkan pasien dalam perawatan kesehatan sehingga kita dapat merancang kebutuhan pasien secara bersama dengan karakteristik atau kebutuhan yang berbeda, baik yang menghadapi berbagai jenis stigma atau yang mungkin menunjukkan kerentanan yang dinamis selama menjalani perawatan. Keterlibatan pasien melibatkan banyak aspek, mulai dari pemahaman pasien tentang kondisi mereka, komunikasi antara pasien dan penyedia layanan kesehatan, hingga dukungan sistem kesehatan yang memadai. Semua aspek ini saling terkait dan membentuk sebuah gambaran yang kompleks. Berikut ini terdapat 2 pemateri yang membahas secara detail mengenai Patient Engagement Puzzle yang dimoderatori oleh Anna Edwards seorang Associate Director Transformation and Change.

Nidhi Swarup adalah seorang Pendiri dan Presiden Crohn’s & Colitis Society of Singapore (CCSS) sejak 2012. Beliau telah memfasilitasi pembentukan Kelompok Dukungan Pasien IBD di Thailand, Malaysia, Filipina, dan India. Nidhi menyampaikan presentasi yang berjudul “Co- Design Healthcare Ecosystem Including Patient Experience”. dengan menggambarkan ketika seseorang mendapat diagnosis penyakit kronis seperti Crohn’s Disease, hal ini bisa menjadi pengalaman yang sangat mengejutkan dan menimbulkan banyak pertanyaan. Beberapa pertanyaan umum yang sering muncul adalah: 1) Apakah ini kesalahan saya? Banyak orang merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri atas kondisi kesehatan mereka. 2) Bisakah saya mencegahnya? Mungkin akan mencari tahu apakah ada sesuatu yang bisa mereka lakukan untuk mencegah penyakit ini. 3) Apakah penyakit ini diturunkan? Mereka mungkin khawatir tentang risiko penyakit ini pada keluarga mereka. 4) Apakah penyakit ini menular? Mereka mungkin khawatir akan menularkan penyakit ini kepada orang lain. 5) Apakah saya perlu operasi? Mereka mungkin khawatir tentang prosedur medis yang mungkin diperlukan untuk mengobati penyakit mereka.

Setiap orang akan mengalami emosi yang berbeda-beda dan dengan intensitas yang berbeda pula. Nidhi juga menyampaikan kompleksitas hidup dengan penyakit kronis. Tidak hanya dampak fisik yang langsung terlihat, tetapi juga dampak emosional, finansial, dan sosial yang seringkali tidak terduga dan dapat sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Penting untuk memahami kompleksitas penyakit kronis: Tidak hanya gejala fisik yang perlu diperhatikan, tetapi juga aspek emosional, finansial, dan social, dan Dukungan dari keluarga, teman, dan profesional kesehatan sangat penting: Dukungan ini dapat membantu pasien mengatasi tantangan yang mereka hadapi. Untuk melakukan analisis lebih dalam terkait Patient Engagement Puzzle, menurut Nidhi perlu melakukan SWOT Analisis untuk mengetahui Pendidikan, Pengalaman, Celah dalam pelayanan dan penyakit yang membutuhkan perhatian khusus. Analisis tersebut penting agar pasien dapat terlibat secara aktif dalam merencanakan, memberikan, dan mengevaluasi perawatan kesehatan mereka sendiri. Ini melibatkan kerja sama antara pasien, penyedia layanan kesehatan, dan pihak terkait lainnya untuk membuat keputusan yang berpusat pada pasien. Serta bagaimana setiap pemangku kepentingan dapat berperan dalam co-creating tersebut.

Menurut Nidhi ada empat poin utama yang diharapkan oleh pasien pelayanan kesehatan di masa depan, yakni dari sisi Pasien & Dokter Umum (GP) yakni Bimbingan personal menggunakan aplikasi yang dapat dikenakan (misalnya wearable apps) dan perangkat medis, Fokus pada pengelolaan kondisi kronis. Sisi Spesialis & Pasien yakni dengan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk diagnosis yang lebih awal dan akurat, Edukasi pasien yang terkurasi, Pengawasan melalui alat digital dan konsultasi jarak jauh (telekonsultasi), Ko-kreasi rencana perawatan yang dipersonalisasi, serta Kemitraan Spesialis-Pasien-Peneliti dengan meluangkan waktu untuk membangun hubungan saling percaya, Pengambilan keputusan bersama untuk perawatan holistic, Identifikasi kebutuhan pasien yang belum terpenuhi, Ko-kreasi penelitian dan pengembangan (R&D) serta uji klinis, dan Diskusi Tepat Waktu: Pedoman medis lanjutan, Pengambilan keputusan kritis dalam perawatan, Pembahasan tentang isu-isu update dan perawatan paliatif.

Arda Karapinar (alias Minas Panosian) adalah seorang aktivis pengobatan HIV global, penulis komunitas, dan pendiri Red Ribbon Istanbul Association, organisasi masyarakat sipil/penyedia informasi terkemuka di Turki yang berfokus pada HIV. Panosian memulai presentasinya dengan menyoroti bagaimana penyakit baru dapat membawa tantangan sekaligus peluang bagi pasien dan penyedia layanan kesehatan untuk melakukan perubahan positif. Dimulai dari awal dari perjalanan seseorang setelah didiagnosis dengan suatu penyakit baru, lalu muncul ketidakpastian atau kekurangan informasi mengenai penyakit tersebut, bahkan memanfaatkan kesempatan dalam menghadapi tantangan penyakit dengan cara-cara baru melalui pendekatan inovatif dalam perawatan atau pengobatan, dan sampai pada level menunjukkan bahwa ada peluang baru yang dapat diambil dari situasi yang dihadapi pasien, baik dalam hal perawatan kesehatan, teknologi, atau pendekatan hidup yang baru.

Panosian juga menekankan pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi dan holistik dalam pelayanan kesehatan, seperti yang dicontohkan pada pelayanan HIV. Tidak hanya fokus pada penyakit, perawatan kesehatan harus juga memperhatikan aspek-aspek lain dari kehidupan seseorang bahwa setiap individu memiliki pengalaman dan kebutuhan yang unik, sehingga perawatan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Diagnosis penyakit seringkali membawa dampak psikologis yang besar, seperti stigma dan isolasi sosial, dan penting untuk diketahui bahwa komunitas memiliki peran penting dalam memberikan dukungan emosional dan sosial bagi individu yang sedang menjalani pengobatan sehingga pasien harus menjadi pusat dari semua keputusan perawatan, tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab untuk memberikan perawatan yang komprehensif dan mendukung pasien secara holistic, serta komunitas harus terlibat dalam memberikan dukungan kepada individu yang sedang sakit.

Poin-poin utama:

  1. Pelayanan kesehatan harus dapat memberikan ekosistem perawatan yang lebih holistik, dengan pendekatan yang berpusat pada pasien.
  2. Pelayanan kesehatan sebaiknya memahami bahwa setiap pasien menghadapi pengalaman emosional yang berbeda-beda, yang memerlukan pendekatan individual dalam menangani kondisi mereka sehingga treatment dapat dilakukan sesuai dengan kondisi pasien.
  3. Penyakit baru tidak hanya membawa tantangan, tetapi juga peluang bagi pasien dan penyedia layanan kesehatan untuk melakukan perubahan positif.

Penulis: Penulis: Andriani Yulianti, SE MPH

 

{tab title=”Bagian 2″ class=”orange”} 

Making Coproduction a Reality: From Theory to Action

Presentasi ini menyoroti pentingnya “coproduction” dalam layanan kesehatan, yang berarti kerja sama antara pengguna (pasien dan keluarga) serta profesional kesehatan untuk menciptakan, mengembangkan, dan meningkatkan layanan kesehatan. Paul Batalden mengakhiri presentasinya dengan mendorong diskusi lebih lanjut dan refleksi tentang bagaimana coproduction dapat diterapkan secara lebih luas dalam layanan kesehatan.

Poin-poin utama:

  1. Definisi Coproduction: Coproduction didefinisikan sebagai kerja interaktif antara pengguna dan profesional dalam desain, penyampaian, evaluasi, dan peningkatan layanan kesehatan. Hal ini dilakukan dengan rasa hormat dan kemitraan yang mengundang kekuatan serta keahlian unik masing-masing peserta.
  2. Hubungan dan Tindakan dalam Layanan Kesehatan: Batalden menekankan bahwa setiap interaksi kesehatan terdiri dari hubungan dan tindakan. Hubungan antara pasien dan profesional kesehatan sering kali memiliki kekuatan penyembuhan yang lebih besar daripada tindakan medis itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya fokus pada tindakan medis tetapi juga pada hubungan yang mendasarinya.
  3. Peran Ilmu Pengetahuan dan Praktik yang Berbasis Sains: Layanan kesehatan harus diinformasikan oleh praktik berbasis sains, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial, antropologis, dan psikologis dari pengalaman sakit dan sehat. Dengan demikian, integrasi berbagai sistem pengetahuan sangat penting dalam coproduction.
  4. Sistem Layanan yang Efektif: Batalden menyarankan penggunaan studi kasus terstruktur sebagai cara untuk mempelajari bagaimana menerapkan coproduction di layanan kesehatan. Studi ini mencakup situasi nyata, navigasi sistem yang ada, serta pengetahuan profesional dan pasien tentang kondisi dan penyakit.
  5. Membuat Coproduction Menjadi Kebiasaan: Untuk membuat coproduction berhasil, diperlukan keterampilan, kebiasaan, dan kemampuan untuk berkolaborasi. Ini termasuk berbagi kekuatan, saling percaya, serta keberanian untuk rentan dalam kemitraan antara pasien dan profesional kesehatan.
  6. Perubahan Global dalam Coproduction: Presentasi ini juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama lintas budaya dan lintas negara untuk menerapkan coproduction secara efektif. Hal ini melibatkan pengembangan kepemimpinan dan kapasitas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs).

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{/tabs}

 

  Ke halaman utama