Headline tersebut menjadi sub tema yang disampaikan pada Workshop Nasional Manajemen Rumah Sakit dan Dewan Pertimbangan Medik di Bandung 10-11 September 2014 lalu. Bahasan menarik mengenai fraud ditinjau dari berbagai aspek, mulai dari definisi, berbagai kemungkinan penyebab terjadinya fraud, sampai dengan dampak fraud ditinjau dari aspek hukum.
Paparan diawali dengan bagaimana peningkatan daya saing dan penguatan puskesmas serta rumah sakit menjadi tuntutan yang harus dapat terpenuhi ke depannya. Salah satunya dengan penerapan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk mencapai tujuan universal health coverage, dengan cakupan JKN yang ditingkatkan secara bertahap dan ditargetkan pada tahun 2019 dapat menjangkau seluruh penduduk Indonesia agar mempunyai jaminan kesehatan.
Salah satu tujuan penerapan JKN sendiri seperti diketahui adalah untuk mencapai kendali mutu dan kendali biaya, dengan adanya Panduan Nasional Praktek Klinis (PNPK) diharapkan setiap rumah sakit dapat mempunyai acuan dalam menyiapkan Standar Prosedur Operasional dan Clinical Pathway di rumah sakit. Selain itu tentu saja manajemen rumah sakit perlu mempersiapkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam rangka kendali mutu dan kendali biaya dalam pelaksanaan JKN tersebut, antara lain:
- Menyiapkan, menerapkan, dan mematuhi SOP serta Clinical Pathway
- Melakukan efisiensi pelayanan seperti dalam penggunaan obat, alat bahan, tindakan medis (dengan tanpa mengorbankan kepentingan pasien), Pemanfaatan sarana penunjang pelayanan, Pemeliharaan sarana prasarana
- Membangun dan memperkuat sistem pengawasan internal
Langkah-langkah lainnya yang perlu dilakukan oleh rumah sakit dalam menghadapi JKN, antara lain:
- Memahami konsep JKN secara utuh
- Memahami sistem pembayaran prospektif kapitasi dan INA CBGs
- Memahami kendali mutu dan kendali biaya dalam pelayanan kesehatan
- Memahami persyaratan untuk untuk menjadi fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS, dan
- Mempercepat penetapan kelas bagi FKRTL oleh Kementerian Kesehatan.
Potensi fraud sendiri kemungkinan akan selalu ada dalam sistem pembayaran yang menggunakan mekanisme klaim. Sehingga pada proses penerapan JKN, berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mencegah dan bahkan menghilangkan terjadinya fraud, antara lain; memperbaiki sistem pelayanan JKN, sistem monitoring evaluasi dan pengawasan JKN, menyusun pedoman untuk mencegah terjadinya fraud dalam pelaksanaan JKN.
Berbagai potensi fraud yang bisa terjadi di rumah sakit pada penerapan JKN :
- Pasien dipulangkan sebelum waktunya
- Pemecahan/ fragmentasi pelayanan
- Memperpendek jam pelayanan rawat jalan
- Mengurangi mutu pelayanan
- Membayar selisih atau kekurangan biaya yang seharusnya merupakan manfaat dari peserta
- Rawat inap menjadi rawat jalan atau sebaliknya
- Up coding / code creep
- Klaim palsu
Fraud sendiri bisa dilakukan dalam banyak cara dan oleh berbagai pihak, seperti; kolusi pihak BPJS kesehatan dengan rumah sakit, kolusi pihak vendor dengan rumah sakit, kolusi pasien dengan rumah sakit, kolusi internal rumah sakit, dan sebagainya. Namun area yang paling rawan terjadinya fraud adalah pada proses penentuan tarif dan klaim serta pemberian pelayanan dan penetapan kepesertaan. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Iswan Elmi, Deputi Pencegahan KPK. Sedangkan upaya untuk mencegah korupsi di JKN juga dilakukan oleh KPK antara lain melakukan koordinasi dan supervisi (korsup) dengan membentuk forum bersama BPJS kesehatan, Kemenkes, Kemensos, Kemendagri, Kemenkeu, OJK, dan DJSN. Terdapat 3 hal mendesak yang memerlukan penyelesaian, yakni:
- Kepesertaan PBI
- Pengawasan fraud dalam layanan
- Regulasi dan pengawasan penggunaan dana kapitasi di faskes primer
Fraud dalam JKN dinilai dapat merugikan keuangan negara karena apabila dana jaminan sosial tidak cukup untuk membayar klaim maka negara yang akan menanggung kekurangan dana tersebut. Untuk itu apabila terjadi indikasi adanya fraud maka semua pihak terkait akan dilibatkan pada proses investigasi. Kehati-hatian dalam setiap langkah yang dilakukan sangat diperlukan mengingat dampak terjadinya fraud dapat menjadi tanggungjawab semua pihak terkait.
Materi lengkap dapat diakses dibawah
Disarikan oleh Lucia Evi I.
Sumber: Berbagai materi presentasi pada Workshop Nasional Manajemen Rumah Sakit dan Dewan Pertimbangan Medik, Bandung 10-11 September 2014.
{module [150]}
Okezone.com – Kehadiran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan seperti memberikan suatu kesempatan menata sistem kesehatan yang lebih baik. Dalam menentukan tarif maupun regulasi, salah satu yang diharapkan adalah tenaga kesehatan merasakan keuntungan dari pelaksanaan JKN.
Salah memasukkan koding penyakit dalam layanan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dapat berpotensi menjadi indikasi terjadinya fraud. Hal ini menjadi salah satu hal yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi saat membuka Pertemuan Nasional Manajemen Rumah Sakit dan DPM, di kota Bandung, Rabu (10/9) malam. Tentu saja hal itu apabila salah koding penyakit dilakukan dengan unsur kesengajaan, namun menjadi kekhawatiran apabila hal tersebut terjadi karena kebingungan dalam melakukan koding. Untuk itu bertanya pada dewan pertimbangan medik (DPM) di masing-masing provinsi menjadi salah satu alternatif untuk meminimalkan kesalahan ataupun kebingungan dalam proses koding penyakit.
Jakarta (health.detik.com), Sempat menuai protes dari perawat dari seluruh Indonesia dan melalui proses pembahasan yang panjang, rapat kerja antara Kementerian Kesehatan RI dengan Komisi IX DPR RI akhirnya menyepakati RUU Keperawatan untuk disahkan dalam rapat paripurna.
Jakarta (beritasatu.com) – Untuk meningkatkan peran serta fungsi rumah sakit dan Dewan Pertimbangan Medik (DPM), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menggelar pertemuan nasional dengan para pihak tersebut. Kegiatan yang berlangsung pada 10-12 September di Bandung ini dibuka Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, di Bandung, Rabu (10/9).
Okezone.com – Tiga Rumah Sakit Vertikal Ibu Kota, yakni Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJP), Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSAB) Harapan Kita, serta Rumah Sakit Kanker Dharmais dinilai sudah memberikan pelayanan terbaik. Namun, Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A berharap tiga rumah sakit tersebut tahun depan dapat memeroleh akreditasi internasional.
Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Kesahatan bersama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menggelar Hospitan Awards the Best Role Model RS Vertikal 2014. Acara ini digelar di Auditorium Siwambessy, Kementerian Kesehatan RI, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (8/9/2014).
KOMPAS.com – Siapa yang betah berlama-lama tinggal di rumah sakit? Selain karena rasa bosan dan terapi pengobatan yang tidak enak, ternyata opname yang lama di rumah sakit dapat meningkatkan risiko terkena infeksi yang lebih parah.