The integration of artificial intelligence (AI) into healthcare offers great potential for advancing medical research, improving patient outcomes, and optimizing healthcare delivery. However, this integration also presents significant ethical, legal, and privacy challenges. The World Health Organization (WHO) has recently issued three guiding documents addressing the challenges of AI use for health. This contribution seeks to provide an overview of these guidelines, focusing on aspects of data protection and privacy in general.
Diagnosis Penyakit Makin Canggih dengan Stetoskop AI
Kehadiran stetoskop di dunia telah ada selama hampir 200 tahun dan masih dikalungkan di leher setiap dokter atau dimasukkan ke dalam saku jas lab. Fungsi stetoskop yang penting adalah penilaian terhadap suara detak jantung, apakah normal atau tidak.
Dokter dapat mengetahui irama jantung yang tidak teratur melalui stetoskop. Pemeriksaan awal dengan menggunakan stetoskop tanpa segala fitur tambahan sangat berguna untuk mengetahui dengan cepat, apakah orang tersebut sakit dan membutuhkan perawatan darurat untuk menyelamatkan nyawanya.
Finalisasi Kurikulum dan Bahan Ajar MOOC SKDR

Tanggal 28-29 Mei 2024, PKMK UGM telah sukses menyelenggarakan pertemuan Finalisasi Massive Open Online Course (MOOC) Pelatihan Penguatan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Penyakit Menular Potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) di Unit Pelapor. Kegiatan ini merupakan tonggak penting dalam memastikan kualitas dan kesesuaian kurikulum dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Kegiatan ini merupakan Kerjasama antara PKMK dengan kementrian kesehatan, WHO (World Health Organization), JICA (Japan International Cooperation Agency), Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto dan didukung oleh CDC (Centers for Disease Prevention and Control) dan safetynet.
Reportase Workshop Pertemuan Penyusunan Kerangka Strategis Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan

Jakarta, Workshop diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI bekerjasama dengan PKMK FK-KMK UGM. Kegiatan diadakan pada tanggal 12-14 Mei di Bekasi dalam rangka melakukan penyusunan lanjutan kerangka kerjas strategis di Direktorat Surveilasn dan Kekarantinaan Kesehatan. Kegiatan penyusunan kerangka strategis ini merupakan langkah strategis dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks, terutama dalam mendeteksi dan merespons potensi wabah penyakit dengan cepat dan tepat.
Kita ketahui bahwa Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan dan responsivitas sistem kesehatan terhadap ancaman pandemi. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 lalu bukanlah yang terakhir, mengingat tingginya mobilitas penduduk dan peningkatan dinamika interaksi manusia dengan lingkungan dan hewan yang terus berubah. Perlu adanya pendekatan program yang mampu menyasar aspek strategis dalam mendukung kesiapsiagaan terhadap berbagai ancaman kesehatan masyarakat.
Penyusunan dokumen didasarkan pada pentingnya membangun suatu ketahanan kesehatan nasional dalam berbagai aspek dan pilar pembangunan. Kebutuhan untuk memiliki sistem yang terintegrasi dan responsif terhadap dinamika kesehatan masyarakat, serta untuk mendukung upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian penyakit. Dalam proses penyusunannya seluruh tim telah berupaya memperhatikan berbagai aspek, mulai dari identifikasi risiko, pengembangan infrastruktur dan teknologi, hingga kolaborasi antar lembaga dan institusi baik dalam maupun luar negeri.
Hasil pembahasan pertemuan ini dapat di akses melalui link berikut: https://docs.google.com/document/d/1806GEC8J3Eu5ULYbDwFkQoRlvrhsapm9/edit
Urgent call to policymakers – make chronic kidney disease a public health priority
Governments and policymakers must act now to elevate chronic kidney disease (CKD) as an urgent health policy priority, to bring the best possible outcomes for patients, caregivers, health systems, the economy and our planet.
We must make an impact on CKD worldwide
Time is crucial for the almost 850 million people – around 1 in 10 people worldwide – living with CKD. Every day that someone remains undiagnosed, CKD is allowed to progress silently
Kemenkes Sebut Gagal Ginjal Jadi Penyakit dengan Beban Kematian Tinggi
Kementerian Kesehatan menyebut penyakit gagal ginjal merupakan salah satu penyakit dengan beban kematian tertinggi di Indonesia. Oleh karenanya, Kemenkes menekankan pentingnya pemerataan akses pelayanan dan praktik kesehatan yang optimal di seluruh daerah.
Hal tersebut disampaikan dalam acara konferensi pers Kidney Health for All; Advancing equitable access to care and optimal medication di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/3/2024)
The Role of Purchasing Arrangements for Quality Chronic Care: a Scoping Review
Sistem pembelian yang dirancang dengan baik merupakan kunci untuk mengoptimalkan layanan kesehatan. Hal ini dapat membantu mengendalikan biaya, meningkatkan kualitas, dan memperluas akses ke layanan kesehatan. Di tengah tantangan global seperti biaya kesehatan yang meningkat, kualitas layanan yang tidak merata, dan kekurangan tenaga kesehatan, sistem pembelian yang strategis dapat menjadi solusi yang efektif. Dengan merancang sistem pembelian yang tepat, pemerintah dan organisasi kesehatan dapat memastikan penggunaan sumber daya yang efisien, mendorong praktik terbaik, dan meningkatkan akuntabilitas. Hal ini akan menghasilkan layanan kesehatan yang lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi semua orang.
Terdapat konsent global yang signifikan untuk memahami bagaimana sistem pembelian dapat dirancang secara strategis untuk mengoptimalkan layanan kesehatan. Hal ini dirasa penting mengingat beban penyakit kronis yang terus meningkat di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Penyakit kronis masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia, sejumlah penyakit tak menular kategori katastrospik masih menjadi pembiayaan tertinggi dengan posisi pertama ditempati oleh penyakit jantung, disusul penyakit kanker. Kemudian, urutan ketiga ditempati oleh penyakit stroke, lalu diikuti oleh penyakit gagal ginjal dengan biaya yang sangat signifikan pada sistem kesehatan.
Layanan kesehatan untuk penyakit kronis perlu pengaturan terkait pembeliannya dengan cara berkontribusi terhadap: tujuan jaminan kesehatan universal, termasuk peningkatan kualitas, dan pada akhirnya mencapai hasil kesehatan yang lebih baik. Makalah ini akan mengeksplorasi mekanisme pembelian dalam meningkatkan kualitas pelayanan penyakit kronis. Secara khusus, makalah ini memberikan gambaran umum dan ringkasan jenis metode pembayaran yang telah digunakan, merangkum bukti efektivitas metode tersebut dalam meningkatkan kualitas layanan kronis dan menilai faktor pendukung dan hambatan dalam penerapan reformasi pembelian.
Lebih lanjut dapat di baca pada artikel berikut: https://www.who.int/publications/i/item/9789240084919
Pertemuan Diseminasi Studi Evaluasi SKDR melalui Audit Medik dan Studi PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku) di Provinsi DIY dan Maluku Utara
Kerangka Acuan Kegiatan
Pertemuan Diseminasi Studi Evaluasi SKDR
melalui Audit Medik dan Studi PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku)
di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara
Program INSPIRASI
(Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia)
Diselenggarakan oleh: PKMK FKKMK UGM Bekerjasama dengan Kemenkes RI dan CDC
![]()
Pendahuluan
Wabah penyakit merupakan peristiwa kesehatan masyarakat yang dapat menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Peristiwa ini berdampak pada aspek ekonomi, sosial dan psikologis masyarakat dan dapat menyebar ke seluruh wilayah, provinsi bahkan internasional. Indonesia memiliki beberapa penyakit yang dapat menjadi epidemi, antara lain malaria, demam berdarah, leptospirosis, diare, kolera, difteri, antraks, rabies, campak, batuk rejan,dan penyakit baru. Tanpa pengawasan yang tepat, penyakit-penyakit tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi penduduk Indonesia.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia dengan pendampingan dari WHO dan Center for Disease Control and Prevention US (CDC US) telah membangun Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) pada tahun 2009. Sistem ini berfungsi untuk mendeteksi potensi wabah penyakit menular melalui laporan mingguan, memicu peringatan atau sinyal peringatan dini jika jumlah kasus penyakit melampaui ambang batas yang ditetapkan. Selain data mingguan, SKDR Indonesia juga menggunakan sistem Surveilans Berbasis Kejadian (Event-Based Surveillance/EBS). EBS melibatkan pelaporan penyakit segera dalam waktu 24 jam setelah kejadian kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan keadaan darurat kesehatan masyarakat, dengan memanfaatkan sumber data dari media, masyarakat, dan laporan petugas kesehatan.
Terdapat 24 penyakit infeksi menular yang dilaporkan secara mingguan ke dalam aplikasi SKDR yang didasarkan kepada algoritma yang telah ditetapkan oleh Tim Kerja Surveilans, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan. Algoritma tersebut dapat dipahami oleh tenaga kesehatan yang memiliki latar belakang klinis, seperti dokter umum. Namun kenyataan di lapangan, petugas pelapor SKDR tidak memiliki latar belakang klinis. Beberapa puskesmas juga menggunakan data rekam medis sebagai acuan pelaporan SKDR, sehingga terdapat standar yang berbeda dalam pelaporan SKDR di lapangan yang akan berpengaruh pada kualitas data SKDR. Data yang berkualitas sangatlah penting dalam menentukan KLB di berbagai tingkatan dan dalam analisis surveilans untuk mencegah terjadinya KLB di masa depan.
PKMK FKKMK UGM bekerja sama dengan CDC Indonesia telah melakukan audit medis serta studi PSP untuk mengevaluasi pelaksanaan SKDR di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara. Sebagai langkah selanjutnya adalah perlu adanya diseminasi hasil evaluasi SKDR yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun rencana tindak lanjut dalam meningkatkan kualitas pelaporan dan data SKDR.
Tujuan Pertemuan
- Memaparkan hasil evaluasi SKDR melalui audit medis dan studi PSP (Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan maluku Utara
- Mendiskusikan tindak lanjut pengembangan kurikulum SKDR
Peserta Luring
- Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI
- CDC Country Office of Indonesia
- Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI)
- Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta
- Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara
- Balai Besar Pelatihan Kesehatan Ciloto
- South Asia Field Epidemiology and Technology Network (Safety Net)
- Japan International Cooperation Agency (JICA)
- WHO Representative of Indonesia
- PKMK FK-KMK UGM
Peserta Daring
- Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta
- Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman
- Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul
- Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo
- Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul
- Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara
- Dinas Kesehatan Kota Ternate
- Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan
- Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Utara
- Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Tengah
- Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Timur
- Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan
- Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Barat
- Dinas Kesehatan Kabupaten Morotai
- Dinas Kesehatan Kabupaten Sula
- Dinas Kesehatan Kabupaten Taliabu
Jadwal Kegiatan
Hari, tanggal : Kamis, 29 Februari 2024
Waktu : 08.00 – 16.00 WIB
Tempat : JS Luwansa Hotel and Convention Center
Jl. H. R. Rasuna Said No.22 Kav. C, RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Meeting ID: 899 4596 4690
Password: 123456
Waktu Agenda
| Waktu | Agenda | Pemateri |
| 08.00 – 09.00 WIB | Registrasi | Panitia |
| 09.00 – 09.10 WIB | Pembukaan dan sambutan |
|
| 09.10 – 09.40 WIB |
Paparan Hasil Audit Medik dan studi PSP penerapan kode ICD-10 dalam kewaspadaan dini dan respon penyakit menular potensi wabah di Provinsi DI Yogyakarta dan Maluku Utara |
PKMK UGM |
| 09.40 – 10.40 WIB | Diskusi | Peserta |
| 10.40 – 12.00 WIB | Rencana Tindak Lanjut | PKMK UGM |
| 12.00 – 13.00 WIB | ISHOMA | |
| 13.00 – 13.30 WIB | Paparan draft Kurikulum Unit Pelapor | PKMK UGM |
| 13.30 – 13.45 WIB | Diskusi | Peserta |
| 13.45 – 15.45 WIB | Revisi Kurikulum Unit Pelapor | Peserta |
| 15.45 – 16.00 WIB | Rencana Tindak Lanjut | PKMK UGM |
| 16.00 WIB | Penutup | PKMK UGM |
Diseminasi Riset Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi
Diseminasi Riset
Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM
bekerja sama dengan CDC US
![]()
Latar Belakang
Pada akhir tahun 2023, Indonesia mengalami kenaikan kasus COVID-19 yang signifikan. Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat adanya sebaran varian baru COVID-19, yang dikenal sebagai JN.1. Hingga 19 Desember 2023, varian ini terdeteksi dalam 41 kasus yang ditemukan melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap 77 sampel. Ini merupakan 43 persen dari 453 kasus konfirmasi COVID-19 yang tercatat sejak November hingga awal Desember 2023. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena penyebaran virus yang cepat dan beban yang ditimbulkannya pada sistem kesehatan Indonesia.
Masalah penting lainnya yang muncul bersamaan dengan pandemi adalah Long COVID. Ini adalah kondisi di mana pasien yang telah sembuh dari COVID-19 mengalami gejala yang berkepanjangan, termasuk kelelahan kronis, masalah pernafasan, dan gangguan fungsi otot. Meskipun gejala Long COVID telah terdokumentasi dengan baik di negara-negara lain, di Indonesia masih terdapat keterbatasan pengetahuan dan penelitian mengenai kondisi ini. Akibatnya, upaya pengobatan dan pencegahan Long COVID di Indonesia menjadi lebih sulit.
Pandemi juga menunjukkan bahwa kerja sama antar lembaga sangat penting dalam mengelola bencana kesehatan masyarakat. Tidak hanya Kementerian Kesehatan, tapi juga Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlu berkolaborasi dengan pendekatan One Health untuk mencegah dan menangani penyakit zoonosis. Kolaborasi ini penting untuk menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.
Penelitian dalam kerangka “Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi” memberikan informasi dan wawasan untuk mengatasi dampak kesehatan masyarakat setelah pandemi. Tujuan utamanya adalah menyebarkan hasil penelitian ini dan membahas masalah kesehatan yang akan muncul di masa depan.
Tujuan Diseminasi
- Menyampaikan temuan, data dan analisis studi yang berkaitan dengan kebijakan dan rekomendasi dalam mengatasi tantangan kesehatan masyarakat pasca pandemi
- Mendapatkan umpan balik dari para stakeholder terkait temuan, data dan analisis studi untuk mendapatkan rekomendasi kebijakan bagi daerah
- Menyusun rencana tindak lanjut dalam penanganan long COVID-19 di Indonesia berdasarkan hasil temuan dan umpan balik
Waktu dan Tempat
Hari : Rabu, 28 Februari 2023
Waktu : 07.30 – 16.00 Wib
Tempat : JS Luwansa Hotel and Convention Center,
Jl. H. R. Rasuna Said No.22 Kav. C, RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
| Waktu | Agenda | PIC/Fasilitator/Narasumber |
| 07.30-08.00 WIB | Registrasi peserta | PKMK FK-KMK UGM |
| 08.00-08.05 WIB | Pembukaan dan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya | MC |
| 08.05-08.30 WIB |
Sambutan dan Pengantar Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi |
|
| 08.30-10.00 WIB |
Sesi I: Paparan Tim Peneliti Gambaran Pasca Covid di Indonesia: Studi Kasus Jawa Timur dan Sulawesi Tenggara |
|
|
Sesi II: Paparan Tim Peneliti Gangguan Kognitif dan Gejala Lanjut Pasca Akut Covid-19 di Indonesia |
||
|
Sesi III: Paparan Tim Pengembangan Modul Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Bagi Tenaga Kesehatan di RSUP. Nasional dr. Cipto Mangunkusumo – Dr. dr. Hervita Diatri, SpKJ(K) |
||
| 10.00-11.00 WIB | Diskusi |
|
| 11.00-12.00 WIB |
Sesi IV: Paparan Tim Peneliti Prevalensi Long Covid dan Faktor Berhubungan di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia – Hayani Anastasia |
|
|
Sesi V: Paparan Tim Peneliti Gambaran Penyintas Covid dan Faktor Risiko Long Covid Pada Populasi dengan Riwayat Covid-19 Berat |
||
| 12.00-13.00 WIB | Diskusi |
|
| 13.00-14.00 WIB | ISHOMA | |
| 14.00-15.30 WIB |
Penyampaian Policy Brief dan rencana tindak lanjut |
|
| 15.30-16.00 WIB | Penutup |
|
Pelayanan Pendukung untuk Gejala yang Terkait dengan Kanker pada Anak: Studi Kualitatif di Kalangan Penyedia Layanan Kesehatan
Kanker adalah penyebab utama kematian pada anak-anak dan remaja di seluruh Dunia, Proses pengobatan kanker pada anak seringkali memerlukan biaya yang tinggi. Keluarga seringkali menghadapi beban keuangan yang berat, dan ini dapat mempengaruhi aspek sosial dan kesejahteraan keluarga. Kanker pada anak-anak memiliki dampak yang signifikan pada pasien, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Keterbatasan akses terhadap perawatan menjadi masalah serius. Banyak keluarga yang tinggal di daerah terpencil atau berpenghasilan rendah menghadapi kesulitan dalam mendapatkan akses ke layanan kesehatan dan pengobatan yang diperlukan.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mora et al, (2023) bertujuan untuk mendapatkan wawasan tentang pengalaman dan persepsi klinis yang dimiliki oleh para ahli onkologi pediatrik, penyedia layanan kesehatan, dan penyedia pengobatan komplementer dan alternative. Metode Penelitian kualitatif dilakukan dengan menggunakan wawancara mendalam semi-terstruktur dengan penyedia layanan kesehatan yang memiliki pengalaman klinis bekerja dengan penyedia pengobatan komplementer dan alternative. Perawatan suportif lainnya pada anak-anak dan remaja penderita kanker dari lima negara berbeda. Peserta direkrut melalui asosiasi profesional dan jaringan pribadi.
Penelitian ini menyediakan wawasan yang berharga mengenai pengalaman klinis para ahli onkologi pediatrik, penyedia layanan kesehatan konvensional dalam memberikan pemahaman tentang bagaimana modalitas perawatan suportif dapat dirasakan di lapangan dan bagaimana modalitas tersebut dapat diterapkan sebagai alat adaptasi untuk mengelola dampak buruk dan meningkatkan kualitas hidup. Temuan-temuan ini dapat membantu mengarahkan pengembangan strategi lebih lanjut untuk meningkatkan perawatan pendukung dalam konteks pediatrik onkologi.
Baca lebih lanjut:
https://typeset.io/papers/supportive-care-for-cancer-related-symptoms-in-pediatric-2vv7dr5r