How To Determine Quality In Healthcare

Forbes.com – Big data is revolutionizing everything from travel to social media. But it has yet to revolutionize the healthcare industry and that’s “crippling American business,” according to Naomi Allen, Vice President of Strategic Alliances at Castlight Health.

Continue reading

Meningkatkan Mutu Pelayanan Melalui Proses Rujukan yang Berkualitas

Rujukan merupakan proses yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan terutama untuk daerah dengan keterbatasan fasilitas. Dengan proses rujukan yang baik masyarakat atau pasien bisa mendapatkan pelayanan yang berkualitas serta komprehensif. Apalagi dalam era JKN telah ditetapkan system rujukan berjenjang sehingga proses rujukan merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan. Masalah-masalah seperti administrasi, kepatuhan terhadap SOP rujukan, fasilitas, dan juga akses transportasi masih menjadi kendala dalam system rujukan kita. Masalah yang paling sering dijumpai adalah system rujukan balik yang tidak berjalan.

Rujukan balik merupakan bagian yang esensial dari system komunikasi dalam rujukan untuk memberikan pelayanan lanjutan yang tepat bagi pasien setelah mendapatkan pelayanan spesialis. Rujukan balik yang tepat selain meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada pasien juga membentuk kerjasama yang solid antara penyedia layanan yang berbasis pada kepercayaan dan komunikasi.

Menurut Piterman dan Koritsas, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun komunikasi rujukan antara pemberi rujukan dan penerima rujukan adalah sebagai berikut :

  1. Penerima rujukan menginginkan informasi yang mendetail terkait dengan masalah yang dihadapi sehingga pasien tersebut dirujuk. Mereka merasa bahwa pemberi rujukan kurang memberikan informasi yang cukup terkait masalah yang dihadapi. Informasi yang diharapkan oleh dokter spesialis antara lain detail pengobatan yang sudah diberikan kepada pasien, pemeriksaan lanjutan yang diperlukan, dan masalah medis lain yang perlu didiskusikan.
  2. Pemberi rujukan mengharapkan respons yang jelas dari penerima rujukan, seperti jawaban yang spesifik untuk masalah yang ditangani, diagnosa yang jelas, rekomendasi untuk perawatan lebih lanjut, follow-up yang diperlukan, pengobatan yang sudah diberikan, serta nama jelas dan tujuan kepada siapa rujukan balik diberikan untuk ditindaklanjuti.

Bisa dilihat disini bahwa komunikasi merupakan bagian yang penting dalam proses rujukan baik itu dalam memberikan rujukan maupun rujukan balik. Untuk rujukan balik kita bisa belajar dari Guidelines on Feedback to General Practitioners for Community Health Services 2011 yang dikembangkan oleh pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, secara singkat sebagai berikut :

Mengapa perlu rujukan balik?

  • Memungkinkan support yang relevan dan efektif untuk primary health care;
  • Mencegah kebingungan pada pasien;
  • Meningkatkan manajemen perawatan tindak lanjut;
  • Menjamin keselamatan pasien;
  • Menghindari duplikasi manajemen perawatan, tes, dan personal informasi yang diberikan kepada pasien;
  • Memastikan pelayanan yang diberikan kepada pasien tidak terfragmentasi;
  • Meningkatkan standar pelayanan.

Kapan rujukan balik harus diberikan?

Rujukan balik harus diberikan baik untuk pasien yang dirujuk maupun yang datang sendiri, namun hal ini harus sesuai ijin pasien kecuali yang menyangkut keselamatan pasien dan kesehatan masyarakat.

Siapa yang harus memberikan rujukan balik?

Untuk pelayanan yang melibatkan multidisciplinary team, rujukan balik yang diberikan menjadi lebih kompleks, bisa dengan membuat laporan dengan input dari setiap provider pelayanan atau laporan komprehensif atau progress report.

Bagaimana rujukan balik diberikan?

Rujukan balik bisa diberikan secara lisan maupun tulisan, namun tulisan lebih disarankan. Apabila dalam keadaan urgent maka penerima rujukan bisa langsung mengontak pemberi rujukan, namun selalu harus diikuti dengan surat rujukan balik setelahnya.

Rujukan untuk kebutuhan pelayanan yang kompleks

 

 

 

Rencana koordinasi antar provider

Dalam rujukan balik harus memuat investigasi, tes, maupun assessment yang diterima oleh pasien; perawatan yang diberikan; dan rencana perawatan untuk penyakit yang diderita oleh pasien.

Untuk pasien dengan kondisi yang kompleks dan membutuhkan perawatan dari beberapa provider maka perlu dikembangkan rencana koordinasi perawatan (care coordination plan) yang melibatkan provider-provider tersebut.

Komunikasi yang baik dalam rujukan tidak hanya penting bagi pemberi rujukan dan penerima rujukan tetapi juga bagi pasien. Komunikasi yang buruk antara pemberi dan penerima rujukan bisa merugikan pasien, diantaranya mengeluarkan biaya lebih untuk mengulangi kunjungan atau tes yang sebenarnya tidak perlu, memperlambat diagnosa atau perawatan, dan menurunkan kepercayaan pada sarana pelayanan kesehatan.

Sumber :

Piterman & Koritsas. 2005. Personal Viewpoint, Part II. Genaral Practitioner-Spesialist Referral Process. Internal Medicine Journal; 35 : 491-496

Department of Health, State Government Victoria. 2011. Guidelines on Feedback to General Practitioners for Community Health Services. Department of Health.

Oleh: Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran

{module [150]}

Penyebaran Pasien Harus Merata, Tak Ada Alasan Dokter Malas

Harianterbit – Warga tentunya acap mengeluhkan tentang dokter atau petugas kesehatan yang tidak berada di tempat atau bolos saat hari sibuk. Dan selama ini juga kita hanya bisa mengatakan mereka malas. Aktivis Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo bisa betul bisa salah, sebab saat ini ada ditemukan alasan lainnya seperti ada ketimpangan dalam penyebaran pasien di sebuah wilayah.

Continue reading

Template Daftar Pasien yang dirujuk

Yth. Bapak/Ibu Kepala Puskesmas / dokter di Puskesmas Kecamatan DKI Jakarta
di tempat,

Dengan hormat,

Sehubungan dengan akan diadakannya pertemuan penjelasan teknis pengambilan data audit rujukan pada tanggal 7 Juli 2014 di Dinas Kesehatan Jakarta, bersama ini kami mohon Bapak/Ibu dapat mempersiapkan beberapa dokumen yang dibutuhkan pada acara tersebut diantaranya:

  1. Daftar Pasien Rujukan Bulan Januari – Juni 2014
  2. Status Pasien / RM (beserta Surat rujukan) sebanyak minimal 10 dokumen

Kami lampirkan template daftar pasien rujukan yang bisa bapak/ibu isi. Hal ini bertujuan untuk mempermudah kami & bapak/Ibu dalam proses pengambilan rekam medis sebanyak 100 dokumen.

Pengumpulan Point 1, dapat bapak/ibu kirimkan ke email nasiatul_aish88@yahoo.co.id paling lambat hari Sabtu, 5 Juli 2014.

Mohon 2 hal yang tersebut diatas bisa Bapak/Ibu bawa saat acara tanggal 7 Juli 2014.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Atas perhatian & kerjasama nya, kami ucapkan banyak terimakasih.

  Template Daftar Pasien yang dirujuk bulan Januari-Juni 2014.

 

 

 

 

Menkes: Tak Ada Pengurangan Peserta PBI JKN

Jakarta, HanTer –  Menteri Kesehatan (Menkes), dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, menegaskan, tidak ada pengurangan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari 84,6 juta jiwa menjadi 80,2 juta. Sebab, katanya, masih banyak rakyat Indonesia yang belum masuk sebagai peserta PBI seperti gelandangan, pengemis, orang ganggungan jiwa dan lainnya.

Continue reading

BPJS Diharapkan Mengcover ODGJ

JAKARTA, (PRLM).- Dengan disahkannya Rancangan Undang-undang (RUU) Kesehatan Jiwa, diharapkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS ) dapat turut pula mengcover orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). RUU tersebut kini dibahas intensif di dewan dan diharapkan segera selesai dan disahkan.

Continue reading

Hingga April, Banyak Pekerja Komplain Layanan BPJS

VIVAnews – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi mengatakan bahwa terdapat banyak keluhan dari karyawan, atau pekerja terhadap pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) terkait dengan sistem pelayanan.

Continue reading

Workshop Audit Mutu Rujukan Pelayanan Primer di Puskesmas Provinsi DKI Jakarta

Workshop Audit Mutu Rujukan Pelayanan Primer
di Puskesmas Provinsi DKI Jakarta

Hotel Puri Denpasar Jakarta, 23-24 Juni 2014

Telah terselenggara workshop audit mutu Rujukan Pelayanan Primer di Puskesmas Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 23-24 Juni 2014 di Hotel Puri Denpasar Jakarta. Workshop ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan proyek pengembangan sistem rujukan pelayanan primer terpadu di Puskesmas Provinsi DKI Jakarta antara Dinas Kesehatan Jakarta dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM).

Worskhop ini bertujuan untuk membandingkan antara standar mutu layanan rujukan dengan kenyataan yang ada di lapagan. Hasil audit akan memberikan gambaran seberapa baik mutu layanan rujukan serta upaya perbaikan/pengembangan yang dapat dilakukan, termasuk pengembangan sistem dan pedoman rujukan serta peningkatan kompetensi dokter umum di Puskesmas.

2jul14-3Workshop ini dihadiri oleh perwakilan dari 40 Puskesmas Kecamatan di DKI Jakarta, 2 RSUD di Jakarta (RSUD Tarakan & RSUD Budi Asih), Suku dinas kesehatan jakarta Pusat, dan 3 Puskesmas Kelurahan (Puskesmas Kelurahan Pademangan Timur, Puskesmas Kelurahan Rawa Badak Utara I, Puskesmas Kelurahan Kalisari). Empat Puskesmas Kecamatan yang belum hadir dalam acara workshop ini adalah Puskesmas Kecamatan Johar Baru, Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan, Puskesmas Kecamatan Taman Sari dan Puskesmas Kecamatan Koja.

Sebelum fasilitator dari tim UGM menjelaskan mengenai pelaksanaan audit mutu rujukan layanan primer di Puskesmas, setiap peserta yang hadir diminta untuk menuliskan di secarik kertas mengenai permasalahan rujukan yang terjadi di setiap Puskesmasnya masing-masing. Beberapa permasalahan yang dituliskan peserta perwakilan tiap puskesmas antara lain

  1. Rujukan dibuat berdasarkan atas permintaan sendiri
    Pasien sering meminta rujukan atas permintaan sendiri sehingga sering menimbulkan benturan dengan pasien. Hal ini karena banyak pasien yang tidak mengerti sistem rujukan.
    1. Pasien yang sudah rutin berobat ke RS (seperti DM & Hipertensi) masih memaksa untuk dirujuk walaupun bisa dilayani atau ada pengobatan di Puskesmas
    2. Pasien tidak membawa data kesehatan/kondisi sebelumnya dan tidak mau diperiksa namun pasien meminta rujukan karena merasa sudah berobat ditempat lain dan dipaksakan harus dirujuk
    3. Pasien tidak datang ke Puskesmas saat meminta rujukan padahal pasien yang bersangkutan baru satu kali datang ke puskesmas
    4. Setiap bulan pasien meminta rujukan untuk kasus yang sama
    5. Pasien selalu memaksa meminta rujukan dengan alasan disuruh dari RS / dokter yang memeriksa di RS
    6. Pasien meminta rujukan dengan fasilitas BPJS padahal pasien bukan dari wilayah / bukan yang terdaftar sebagai peserta di Puskesmas
  2. Rumah Sakit Rujukan
    1. Penuhnya Rumah Sakit Rujukan sehingga kesulitan bagi Puskesmas dalam hal merujuk pasien
    2. Rujukan antar poli di RS (rujukan internal RS) dibeberapa RS tidak berlaku. Sehingga puskesmas harus membuat beberapa rujukan untuk satu pasien. Misalnya pasien DM dengan katarak DM yaitu RS hanya mau melakukan konsul dengan spesialis mata. Kemudian pasien disuruh kembali ke puskesmas untuk meminta rujukan ke Spesialis penyakit dalam
    3. Rumah sakit menanyakan sumber pendanaan pasien (BPJS atau pribadi)
  3. Sistem rujukan balik tidak berjalan
    1. Jawaban rujukan balik dari RS tidak ada sehingga puskesmas tidak bisa melanjutkan pengobatan dan terpaksa harus kembali di rujuk ke RS
    2. Dokter RS tidak menuliskan follow up yang jelas
    3. Selama berlakunya BPJS, bila ingin rujuk ulang (kontrol) pihak Rumah sakit minta surat rujukan lagi. Padahal menurut BPJS bila dokter spesialis masih perlu dirujuk maka tidak perlu surat rujukan lagi.
  4. Sistem Rujukan online (SPGDT 119) belum berjalan dengan baik
    1. Sulitnya menghubungi 119 untuk menanyakan rumah sakit yang kosong
    2. Ketika puskesmas harus merujuk dengan menelpon RS rujukan terlebih dahulu atau SPGDT, sementara SPGDT/RS tidak selalu menggangkat telepon untuk memberi jawaban sehingga berpengaruh pada ketepatan waktu pasien yang dirujuk
    3. Sistem v-care BPJS belum online dengan RS Rujukan sehingga pasien kesulitan untuk mengetahui jadwal pelayanan dokter spesialis di RS Rujukan
    4. Di Puskesmas belum ada online pendaftaran rujukan untuk pasien khusus (beberapa penyakit tertentu) untuk kontrol ke RSCM / Harapan Kita
  5. Sumber Daya manusia di Puskesmas
    1. Jumlah tenaga kesehatan yang terbatas
    2. Kompetensi dokter belum sama (misalnya kompetensi untuk kasus darurat kardiologi)
    3. 144 jenis penyakit yang bisa ditangani di layanan primer tidak semua dapat ditangani sehingga pasien dirujuk
    4. Keahlian tenaga pendamping belum memadai
  6. Standar Operasional Prosedur Rujukan
    1. Belum adanya SOP (Standar Operasional Prosedur) Rujukan
    2. Formulir Rujukan (dari BPJS) tidak lengkap : tidak menyediakan kolom tindakan yang telah dilakukan dan kolom rujuk balik
    3. Belum ada kriteria Rujukan
  7. Sarana & prasarana
    1. Pemeriksaan Lab/rontgen yang sudah ada di Puskesmas tidak dicover oleh BPJS sehingga pasien terpaksa di rujuk ke RS hanya untuk menjalani pemeriksaan penunjang
    2. Peralatan kurang memadai di Puskesmas
    3. Banyak Obat-obatan pada penyakit hipertensi dan cardiovaskuler yang tidak tersedia di Puskesmas (misal: bisoprolol, clopidrogel) sehingga pasien tetap dirujuk walaupun obat-obat tersebut hanya maintenance
    4. Kurangnya ambulance sebagai transportasi
  8. Monitoring dan evaluasi tidak ada (misalnya belum ada audit mutu rujukan)

2jul14-2Acara yang berlangsung selama dua hari ini meliputi kegiatan (1) Menyusun kriteria audit layanan rujukan, (2) membentuk tim audit mutu layanan rujukan di setiap Puskesmas, (3) menyusun jadwal uji coba instrumen audit serta pelaksanaan audit.

Sebelum menentukan kriteria audit layanan rujukan, fasilitator meminta peserta menyebutkan topik penyakit audit rujukan. Topik penyakit yang dirujuk ini dipilih dengan alasan high volume, high risk, high cost, problem.

 

Berikut Topik yang dipilih oleh peserta workshop untuk dilakukan audit rujukan:

  1. Hipertensi Grade 2
  2. DM (Gangren)
  3. Jantung
  4. Ibu hamil dengan PEB
  5. Kehamilan dengan Eclampsia
  6. Kehamilan dengan HIV
  7. TB Relaps / MDR
  8. BBLR
  9. DBD
  10. Kejang Demam
  11. Impaksi M3
  12. Tumor FAM

Dari topik penyakit diatas, peserta workshop dibagi menjadi lima kelompok untuk membahas penyakit yang akan di audit. Dan dipilihlah lima topik penyakit diantaranya FAM (Fibro Adenoma Mammae), DM (Diabete Melitus), DBD (Demam Berdarah Dengue), PEB (Pre Eclampsia Berat), dan Hipertensi.

2jul14-1