PADANG, KOMPAS.com – Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ternyata memang tak selalu lancar. JKN bertujuan meningkatkan standar kesehatan namun manfaat ini sulit didapat jika tidak diikuti perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Oleh sebab itu masyarakat dan tenaga kesehatan perlu memahami keuntungan JKN bagi mereka.
BPJS Terintegrasi Mulai Mei 2014
SOREANG, (PRLM).- Pelayanan kesehatan di Kabupaten Bandung semuanya akan diintegrasikan ke dalam pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial mulai Mei 2014. Untuk membayar klaim asuransi, Pemerintah Kabupaten Bandung tahun ini menyiapkan anggaran sebesar Rp 51,843 miliar.
Verifikator Independen Gugat UU BPJS
Hukumonline.com – Seorang tenaga verifikator independen program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Dwi Arifianto mempersoalkan Pasal 60 ayat (2) huruf a UU No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Dia merasa dirugikan akibat berlakunya ketentuan penghapusan program Jamkesmas itu yang berujung PHK lebih dari 1.500 tenaga verifikator independen Jamkesmas dan Jamkesda.
Continue reading
RS Diminta Tinjau Perangkat Peraturan
Kompas.com – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan mengimbau rumah sakit untuk meninjau perangkat peraturan yang terkait dengan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional. Hal itu bisa diunduh di situs bpjs-kesehatan.go.id.
Target MDGs untuk TB di Indonesia Telah Tercapai
Liputan6.com, Jakarta Dalam rangka mencapai target MDGs 2015 dibidang Tubercullosiss (TB) yang dilakukan atas kerjasama dengan Organisasi Profesi, masyarakat dan Pemerintah Daerah berdasar data 2013, Target MDGs TB 2015 sudah tercapai.
Menkes Akui Tenaga Medis Tak Merata
mdopost.com – Menteri Kesehatan (Menkes) RI dr Nafsiah Mboi SpA MPH mengakui kurangnya tenaga medis di Indonesia. Kelemahan lainnya, ungkap Mboi, adalah distribusi yang tidak merata. Hal ini dikatakannya saat meresmikan Gedung Jurusan Kebidanan, Analis Kesehatan dan Laboratorium Gizi, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Manado, dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL PP) Kelas I Manado, Senin (24/3) kemarin.
Penyusunan Proposal Penelitian Pencegahan dan Pengurangan Fraud dalam Jaminan Kesehatan Nasional
Kerangka Acuan Workshop Blended Learning
Penyusunan Proposal Penelitian Pencegahan dan Pengurangan Fraud
dalam Jaminan Kesehatan Nasional
Workshop ini juga dapat diikuti melalui Webbinar
LATAR BELAKANG
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah mulai berjalan sejak awal tahun 2014. Dalam masa awal pelaksanaan JKN, pemerintah cukup banyak mendapat kritik dari berbagai pihak, salah satunya berasal dari provider (Puskesmas dan rumah sakit). Besaran klaim (tarif kapitasi dan tarif INA-CBGs) yang dirasa kurang memadai menjadi salah satu keluhan utama dan termasuk menjadi dasar “pembenaran” untuk melakukan fraud.
Fraud dalam bidang kesehatan terbukti berpotensi menimbulkan kerugian finansial negara dalam jumlah yang tidak sedikit. Sebagai contoh, pontesi kerugian akibat fraud di dunia adalah sebesar 7,29% dari dana kesehatan yang dikelola tiap tahunnya. Di AS potensi kerugian yang mungkin ditimbulkan akibat fraud layanan kesehatan adalah sebesar 3 – 10% dari dana yang dikelola (data FBI). Di Inggris angka fraud adalah sebesar 3 – 8 % dari dana yang dikelola (Data dari penelitian University of Portsmouth). Fraud juga menimbulkan kerugian sebesar 0,5 – 1 juta dollar Amerika di Afrika Selatan (data dari lembaga investigasi fraud).
Fraud dalam bidang kesehatan banyak sekali bentuknya. Setidaknya ada 10 bentuk populer fraud antara lain: Mengklaim pelayanan yang tidak pernah diberikan; Mengklaim layanan yang tidak dapat ditanggung asuransi, sebagai layanan yang ditanggung asuransi; Memalsukan lokasi layanan (contohnya, pelayanan kesehatan yang dilakukan di rumah dilaporkan dilakukan di fasilitas kesehatan agar bisa diklaim); Pelaporan diagnosis dan prosedur yang salah agar mendapat keuntungan lebih.
Bentuk-bentuk fraud semacam ini sangat mungkin terjadi dalam skema JKN di Indonesia. Untuk mencegah terjadinya fraud dalam skema JKN ini, perlu dilakukan berbagai penelitian yang akan menjadi dasar penyusunan program pencegahan dan pengurangan fraud.
TUJUAN
Workshop ini bertujuan untuk memfasilitasi peserta Blended Learning Fraud Modul V dalam menyusun latar belakang dan perumusan masalah yang akan digunakan dalam proposal penelitian tentang fraud dalam Jaminan Kesehatan Nasional.
PESERTA
Peserta workshop adalah para peserta blended learning Fraud yang telah terdaftar, yaitu:
- Laksmi Amalia, S.Ked
- Eka Dian Safitri, dr.,Sp.THT-KL
- Yupitri Pitoyo, dr. Sp.THT-KL
- Firman SE.,MPH
- Ambo Saka, SKM, MARS
- Mawardi Arifin
- Evi Derma Sastiva, dr.
- Respati Wulansari Ranakusuma
- Ariani Arista Putri Pertiwi, SKep., Ns, MAN
- Erfen Gustiawan Suwangto, dr.,
- Bryany Titi Santi, dr., M.Epid
- Eko Arisetijono, dr.,SpS-K
- Bambang Syahrial, dr.
- Wening Prastowo, dr. SpF
- Agustian Fardianto, dr., CFE
- Ade Widyaningsih, SKM, MKM
- Tifauzia Tyassuma, dr., MSc
- Sitti Rizny Firtriana Saldi, Apt, MSc
Peserta lain masih dapat mengikuti workshop ini dengan melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Peserta dapat mengikuti dengan hadir secara langsung ditempat pelaksanaan workshop atau mengikuti melalui webinar (link webbinar akan diberikan setelah melakukan pendaftaran)
LOKASI DAN WAKTU
Tempat : Lab Leadership Lt.3 Gedung IKM FK UGM, Yogyakarta
Waktu : Sabtu, 29 Maret 2014
JADWAL KEGIATAN
|
Jam |
Topik |
Fasilitator |
|
12:00-13:00 |
Pendaftaran dan makan siang |
|
|
13:00-13:30 |
Pengantar workshop Penyusunan latar belakang dan perumusan masalah dalam penelitian tentang fraud dalam jaminan kesehatan:
|
|
|
13:30-14:00 |
Literatur review Latar belakang dan perumusan masalah dari berbagai contoh judul penelitan tentang fraud dalam jaminan kesehatan Link Beberapa Jurnal Penelitian Tentang Fraud dalam Jaminan Kesehatan Contoh Penelitian Tentang Pencegahan Fraud
Contoh Penelitian Tentang Deteksi Fraud
Contoh Penelitian Tentang Tindak Lanjut Adanya Fraud |
|
|
14:00-14:30 |
Studi kasus Proposal penelitian potensi fraud dalam pelayanan jantung di rumah-sakit |
|
|
14:30-15:00 |
Diskusi tanya jawab |
|
|
15:00-16:00 |
Diskusi kelompok penyusunan latar belakang dan perumusan masalah: Peserta akan dibagi menjadi 3 kelompok. Hasil diskusi akan dibahas di miling list blended learning fraud |
|
Ini Strategi Rumah Sakit Swasta Hadapi JKN
Hukumonline.com – Pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang digelar BPJS Kesehatan diyakini akan membawa perubahan besar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Salah satu perubahan yang paling disorot adalah mekanisme pembayaran klaim dari BPJS Kesehatan kepada penyedia pelayanan kesehatan seperti Puskesmas, Klinik dan Rumah Sakit (RS).Continue reading
Penyusunan Indikator Mutu Pelayanan Keperawatan
Oleh: Endri Astuti
American Nursing Association/ANA (1995) menyebutkan bahwa proses pengembangan indikator mutu keperawatan adalah seperti pada Tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1. Proses Pengembangan Indikator Mutu Keperawatan ANA
|
No |
Langkah |
|
1 |
Review literatur: |
|
|
|
2 |
Mengumpulkan informasi dari para peneliti tentang validitas dan reliabilitas indikator |
|
3 |
Menghubungi para ahli untuk melakukan review draf: |
|
|
|
4 |
Mendistribusi revisi dari definisi, panduan dan format pengumpulan data pada para ahli untuk mendapatkan masukan mengenai face validity dan feasibility dari pengumpulan data |
|
5 |
Mengumpulkan data masukan dari para ahli dan mengembangkan definisi, panduan dan format yang telah direvisi |
|
6 |
Melakukan uji coba |
|
7 |
Finalisasi definisi, panduan dan format pengumpulan data |
|
8 |
Melatih RS /personal yang berpartisipasi dalam praktek pengumpulan data yang terstandar |
Sumber: The National Database of Nursing Quality Indicators (NDNQI), 2007
Sedangkan menurut Wollersheim et.al.(2007), menyatakan bahwa dalam menyusun indikator mutu harus mempertimbangkan karakteristik dari indikatornya seperti yang ada pada tabel 2 berikut:
Tabel 2. Karakteristik Indikator Mutu
|
Relevansi |
Relevan dengan aspek-aspek penting (efektivitas, keamanan, dan efisiensi) dan dimensi (profesional, organisasi, dan patient oriented) dari mutu pelayanan |
|
Validitas |
|
|
Reliabilitas |
|
|
Keandalan |
|
Sumber: Wollersheim et.al.,2007.
Pengumpulan data yang dilakukan untuk uji coba ada dua cara yaitu dengan menggunakan data yang sudah ada atau menggunakan calon pengumpul data (prospektif). Pengumpulan data yang menggunakan data yang sudah ada seringkali tidak lengkap dan menimbulkan interpretasi yang subjektif sehingga dalam membuat keputusan dapat mengurangi reliabilitas. Sedangkan bila menggunakan data prospektif bisa mengurangi kerancuan interpretasi sehingga cara pengumpulan data ini adalah yang terbaik, namun seringkali dalam pelaksanaannya tidak dapat dilakukan karena berbagai hal (Wollersheim et.al., 2007).
Sedangkan menurut Pencheon (2008) mengatakan bahwa sepanjang sejarah pengembangan dan pengukuran indikator tidak ada yang sempurna. Tidak ada indikator yang bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan mengenai: (1) Apakah indikator yang dibuat untuk mengukur suatu hal yang penting? (2) Apakah indikator tersebut valid? (3) Apakah indikator tersebut benar-benar diisi dengan data yang bermakna? (4) Apakah indikator ini bisa menjelaskan sesuatu secara tepat? Seringkali dalam pelaksanaan penyusunannya gagal untuk menentukan bahwa indikator tersebut benar-benar mengukur sesuatu yang penting, sehingga perlu difokuskan pada pengukuran proses atau hasil dari suatu pelayanan. Sering pula indikator yang disusun ternyata tidak bisa benar-benar untuk mengukur, sehingga perlu dilakukan pengujian dari indikator tersebut. Suatu indikator harus dapat mengidentifikasi persoalan. Hasil pengukuran yang lebih tinggi atau yang lebih rendah dari target, sebaiknya diterima, dikomunikasikan untuk kemudian dilakukan upaya perbaikan.
{module [150]}
Jenis-Jenis Indikator Mutu Pelayanan Keperawatan
Oleh: Endri Astuti, SKp
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, melalui SK Direktur Jenderal Pelayanan Medik, No.YM.00.03.2.6.7637 tahun 1993 telah menetapkan “Standar Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit”. Standar Asuhan Keperawatan menurut Departemen Kesehatan meliputi enam standar yaitu: (1) Pengkajian keperawatan, (2) Diagnosa keperawatan, (3) Perencanaan keperawatan, (4) Intervensi keperawatan, (5) Evaluasi keperawatan, dan (6) Catatan asuhan keperawatan.
Dalam melaksanakan intervensi keperawatan terdapat 14 kebutuhan pasien yang harus mendapat perhatian perawat yaitu:
- Memenuhi kebutuhan oksigen
- Memenuhi kebutuhan nutrisi dan keseimbangan cairan serta elektrolit
- Memenuhi kebutuhan eliminasi
- Memenuhi kebutuhan keamanan
- Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan
- Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
- Memenuhi kebutuhan gerak dan kegiatan jasmani
- Memenuhi kebutuhan spiritual
- Memenuhi kebutuhan emosional
- Memenuhi kebutuhan komunikasi
- Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis
- Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses penyembuhan
- Memenuhi kebutuhan penyuluhan
- Memenuhi kebutuhan rehabilitasi.
Menurut Griffiths et.al.,2008 indikator keperawatan dapat mengambarkan keselamatan, efektifitas dan perhatian dalam pelayanan keperawatan, yaitu: 1) Safety: kegagalan penyelamatan (kematian pada pasien dengan komplikasi pengobatan); Jatuh; Hospital acquired infections; Hospital acquired pneumonia; Dekubitus. 2) Effectiveness: Pola dan level perawat; Kepuasan perawat; Persepsi perawat terhadap lingkungan kerja. 3) Compassion: pengalaman pasien selama dirawat; Pengalaman pasien dalam komunikasi.
Standar Nasional American Nurses Association (ANA) dalam mengukur mutu perawatan telah menyepakati indikator-indikator mutu keperawatan seperti yang ada pada Tabel 1:
Tabel 1. Indikator Mutu Keperawatan menurut ANA
|
Kategori |
Ukuran |
|
|
Ukuran berfokus outcomes pasien |
1 |
Anga kematian pasien karena komplikasi operasi |
|
2 |
Angka dekubitus |
|
|
3 |
Angka pasien jatuh |
|
|
4 |
Angka psien jatuh dengan cidera |
|
|
5 |
Angka restrain |
|
|
6 |
ISK karena pemasangan cateter di ICU |
|
|
7 |
Blood stream infection karena pemasangan cateter line central di ICU dan HDNC |
|
|
8 |
VAP di ICU dn HDNC |
|
|
Ukuran berfokus pada intervensi perawat |
9 |
Konseling berhenti merokok pada kasus AMI |
|
10 |
Konseling berhenti merokok pada kasus Gagal jantung |
|
|
11 |
Konseling berhenti merokok pada kasus Peneumonia |
|
|
Ukuran berfokus pada sistem |
12 |
Perbandingan antara RN, LVN/LPN, UAP dan kontrak |
|
13 |
Jam perawatan pasien per hari oleh RN,LPN/LPN dan UAP |
|
|
14 |
Practice Environment Scale—Nursing Work Index |
|
|
15 |
Turn over |
|
Sumber: The National Database of Nursing Quality Indicators (NDNQI),2007.
Sedangkan Pazargadi et.al, 2008 telah mengembangkan indikator mutu keperawatan di delapan propinsi di Iran dan didapatkan bahwa indikator mutu keperawatan seperti yang ada pada Tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2. Indikator mutu Keperawatan di Iran
|
Jenis |
Kategori |
Indikator |
|
|
struktur |
Management and
|
1 |
Tingkat pendidikan dan pengalaman kerja perawat manajer |
|
2 |
Penetapan tujuan organisasi |
||
|
3 |
Uraian tugas tenaga keperawatan |
||
|
4 |
Supervisi keperawatan |
||
|
Staffing and nursing resources |
5 |
Perbandingan jumlah perawt: pasien di ICU |
|
|
6 |
Pendidikan berkelanjutan perawat |
||
|
7 |
Jam kerja tenaga keperawatan |
||
|
Facilities and budget |
8 |
Jumlah jam peningkatan SDM perawat per tahun |
|
|
9 |
Fasilitas untuk meningkatkan pengetahuan perawat : Perpustakaan, internet, dll |
||
|
10 |
Pengelolaan dana untuk peningkatan keselamatan pasien |
||
|
Proses |
Time and quality of care |
11 |
Respon time perawat di IGD |
|
12 |
Standar Pelayanan keperawatan di RS |
||
|
13 |
Respon time dokter di IGD |
||
|
Nursing satisfaction and work conditions |
14 |
Lingkungan yang aman untuk perawat |
|
|
15 |
Kepuasan kerja perawat |
||
|
Outcomes |
Patient satisfaction |
16 |
Kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan |
|
17 |
Kepuasan pasien secara umum |
||
|
18 |
Kepuasan pasien terhadap komunikasi perawat |
||
|
Complications and adverse events |
19 |
Rasio pasien dekubitus di ICU |
|
|
20 |
Rasio pasien infiltrasi intravaskuler pada pasien dengan terapi IV di ICU |
Sumber: International Council of Nurses, 2008.
Indikator mutu keperawatan juga dikembangkan di Thailand pada tahun 2005 oleh Kunaviktikul et al., yang terdiri dari 3 kategori yaitu: structure, process, and outcome, seperti pada tabel 3 berikut:
Tabel 3. Indikator Mutu Pelayanan Keperawatan di Thailand
No |
Indikator |
Definisi |
1 |
Rasio perawat profesional |
Rasio antara tenaga perawat professional dengan total jumlah seluruh tenaga keperawatan |
2 |
Jam Perawatan |
Rasio jam perawatan per pasien per hari. |
3 |
Integritas kulit |
Rasio pasien yang mengalami dekubitus setelah 72 jam perawatan dibagi dengan jumlah pasien yang keluar pada periode yang sama |
4 |
Kepuasan perawat |
Skala respon atas pertanyaan kepada para perawat, mengenai their employment situation, meliputi : hubungan antar perawat, recognition, opportunity for advancement, safety, autonomy, workload, pay and benefits, achievement, and participation |
5 |
Infeksi nosokomial |
Angka infeksi nosokomial pada saluran kemih adalah rasio infeksi saluran kemih setelah 48 jam dipasang kateter urine dibagi jumlah pasien yang keluar pada periode yang sama |
6 |
Jatuh |
Rasio antara pasien yang jatuh di rumah sakit dibagi dengan jumlah pasien yang keluar pada periode yang sama |
7 |
Kepuasan pasien dalam pendidikan kesehatan |
Persepsi pasien terhadap kegiatan yang dilakukan oleh perawat dalam memberikan pendidikan kesehatan sesuai kondisi pasien baik dari isi materi pendidikan kesehatan maupun cara penyampaian pendidikan kesehatan |
8 |
Kepuasan pasien dalam manajemen nyeri |
Persepsi pasien terhadap perawat dalam pengelolaan nyeri meliputi perawatan, perhatian, pengobatan, kebutuhan dan nasihat. |
9 |
Kepuasan pasien terhadap keperawatan secara umum |
Kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan secara umum selama proses perawatan, dengan pertanyaan meliputi: fisik, psikologis, emosional, spiritual, hak-hak pasien dan partisipasi pasien dalam pengambilan keputusan |
Sumber: Kunaviktikul et al., 2005
{module [150]}