Reportase Hari kedua, Kongres ISQua di Edinburgh United Kingdom

Oleh : dr. Tjahjono kunjoro, MPH, DrPH

h2isquaHari kedua, Morning Plenary dibuka dengan tema Quality and Efficiency of the Electronic Medical Record System in Hongkong and Taiwan (NT. Cheung & Jack Li). Terkait dengan penggunaan electronic medical records system (EMRs) dijelaskan adanya 3 kunci sukses, yaitu: clinical, sustainability, dan governance. Dari kunci sukses klinis: 1). EMRs merupakan clinical tools: raise of case, enhance patient safety and greater efficiency, 2). Menunjukkan workflow yang terintegrasi, dan bermanfaat untuk mengetahui potensi terjadinya clinical harm.

Dengan adanya EMRs diharapkan akan meningkatkan mutu, mengurangi terjadinya error, meningkatkan efisiensi dan meningkatkan service management. Dalam EMRs perlu diperhatikan juga unexpected consequenses akibat dari penggunaan EMRs, seperti information system error, sistem informasi yang mendadak mati, dsb, tentunya hal-hal tersebut perlu diperhatikan agar sistem informasi tersebut sustainable dengan memperhatikan misalnya bandwidth yang dibutuhkan, sumber daya manusai, keahlian dalam information tehnologi dan keterbatasan budget dari rumah sakit. Penerapan EMRs perlu adanya governance, stakeholders mempunyai komitmen dan engage dengan EMRs.

Pengalaman di Hongkong membangun Clinical management System suatu EMRs yang komprehensif yang digunakan di 41 rumah sakit dan 120 klinik. Langkah yang dikembangkan adalah: siklus yang dimulai dengan budgeting/implementing, acculturating, realizing benefit, and strategizing. Diberikan contoh penerapan dalam medication management baik dalam pelayanan rawat inap maupun rawat jalan: standardisasi order, standardisasi formularium, full medical history, reduce transcription, logistic obat, dan electronic prescribing.

Pengalaman dari Taiwan: data yang ada di rumahsakit merupakan “Big Data” : a collection of data set that is to large and complex that difficult to process using on hand, sehingga perlu dikelola dengan baik. Big data tersebut mempunyai beberapa elemen, yaitu kompleksitas, nilai yang diturunkan dari tehnik yang inovatif dibandingkan tehnik tradisional, dan penggunaan informasi longitudinal yang mendukung analisis. Dalam pelayanan klinis dikemukakan data interaction model yang terdiri dari elemen data: patient profile, laboratory anda examination data, medication, terapi, diagnosis dan problem list. Pengalaman di Taiwan menunjukkan 96 % akurasi dalam prescription dengan sensitivity 75,9 % dan specificity 89,5 %.

Sesion pagi yang kami ikuti adalah Integrating Proactive Risk Assessment and Quality Management System (Patricia Gray, Paul Huntly, Karen Timmons, Deborah Weller). Disampaikan suatu alternative akreditasi dengan DNV Health Care yang mengadopsi standar sistem manajemen mutu ISO yang diterapkan di Scottsdale Healthcare. Prinsip dalam mengelola risiko adalah: collaborative, not confrontational, engaging staff, dayly feedback, no surprise dan no magic number. Contoh penerapan manajemen risiko infeksi dilakukan dalam wujud tindak korektif (corrective action) dimana ada tanggung jawab dari team leader, penerapan pendekatan sistem dan penggunaan A3 tool, dengan langkah: Problem identification, setting aims, doing RCA, doing PDSA, penghitungan cost and benefit, follow up, dan results (hasil).

Mengacu pada ISO 31000 Risk Management: Principles and Guidelines, ada 18 elemen standar yang diacu dalam mengelala risiko: infection risk management system, risk assessment, microbial surveillance, antimicrobial use and surveillance, emergency outbreak and contingency planning, accident/incident investigation, personeel and competency, human factor, occupational health, health care facility managemen and layout, health care environment, eguipment and maintenance, cleaning, decontamination, disinfection and sterilization, patient care, hand hygine, etc.

Prinsip risk assessment: what can go wrong (hazard identification), how often (frequency analysis), how big (consequence analysis), so what (risk assessment, dan what do I do (risk mitigation). Diperkenalkan juga dengan exercise penggunaan BOW-Tie Methodology untuk risk assessment: Hazard/error disisi kiri digambarkan sebagai upaya preventive dengan menganalisis penyebab dan bagaimana membuat barrier agar tidak terjadi hazard/error, sedang di sebelah kanan bersifat reaktif, dan bagaimana barrier dibuat dan bagaimana outcomenya.

Session siang: Lesson learned in accelerating patient safety across countries and cultures through WHO Change model (Benedetta Allegranzi, Sham Syed, Kadar Marikar, Edward Kelley, Piere Barker. Dijelaskan contoh penerapan hand hygiene dengan memperhatikan tema: leadership and evidence based, dan local adaptation dengan memperhatikan budaya dan sumber daya. Meskipun kampanye hand hygiene telah dilakukan di berbagai Negara, ternyata rerata pencapaian hanya 38,7 %, oleh karena itu dikembangkan model GPSC dengan tiga tujuan: awareness raising, mobilizing nations, and technical guidelines and tools (sebagai strategi implementasi). Agar kampanye berhasil maka perlu adanya country pledge (sebagai komitmen politik) yang diwujudkan dalam implementasi pada pemberi pelayanan. Strategi yang dikembangkan adalah: system change, training and education, evaluation and feedback, reminders in the workplace, dan institutionalisasi safety climate pada tiap level pelayanan. Barier dalam implementasi antara lain barrier agama terkait dengan penggunaan alcohol, dan ketidak tersediaan produk alcohol gel sehingga perlu dikembangkan produksi local. Tanggal 5 Mei 2014 akan ditetapkan sebagai Hand Hygiene Day.

Malaysia mengembangkan WHO Change model antara lain untuk: safe surgery safe lives, National Incident Reporting, Dental Service, Pharmacy Service, MSQH accreditation program yang mengadopsi standar patient and family rights, launching Malaysian patient safety goal pada Juni 2013, dan penerapan patient for patient safety Malaysis. Comliance hand hygiene di Malaysia mencapai > 75 %. Demikian juga model tersebut diterapkan di Afrika dalam bentuk APPS (African Partnership for Patient safety) yang mengikuti 12 langkah keselamat pasien dari WHO AFRO. Untuk menerapkan keselamatan pasien di Afrika dilakukan pendekatan hospital to hospital (seperti sister hospital antara rumahsakit di Eropa dan rumahsakit di Afrika) yang meliputi: partnership strength, patient safety improvement, dan national patient safety spread. Seven key lessons: 1). Keep it grounded and real, 2). Make the case for an alternative model, 3). Take leadership seriousely, 4). Focus on borderless capacity, 5). Embrace local innovation for local change, 6). Influence national policy linear to triangular, 7). Keep an eye on global innovation flow.

Pendekatan selain hospital to hospital, juga diperkenalkan pendekatan community to hospital sebagai suatu pendekatan/sudut pandang komprehensif terhadap safety, dengan dua konsep dasar: pendekatan terintegrasi, dan perhatian pada : “patient journey“.

  1. Plenary session sore hari:
    Sesi pleno sore hari adalah lecture dari Robert Brook: How we communicate and improve the value of quality movement, dengan pokok bahasan yang diangkat adalah
    • Do we practice what we preach ?
    • Preventable death vs non-preventable death: bagaimana batasannya ?
    • Shared patient decision making and learning
    • Major issues related to improving quality and safety: 1) limiting inappropriate surgical care, 2). What do the clinicians do in the ward, 3) Finance dalam pelayanan kesehatan
    • Dalam pendidikan kedokteran tidak diajarkan konsep quality dan konsep cost, maka dokter perlu mempunyai pemahaman tentang quality dan cost

Sesi sore dilanjutkan dengan Hello healthcare oleh Beth Lilja dari Denmark yang menjelaskan pentingnya memberi kesempatan pada pasien untuk bertanya. Pasien diharapakn aktif dalam memperhatikan kesehatannya. Dua isus utama yang disampaikan adalah: 1). Apakah dokter memberi kesempatan pasien untuk bertanya, dan 2). Apakah visiting hour di rumah sakit masih relevan ? Untuk isu tentang apakah dokter memberi kesempatan pasien untuk bertanya dikembangkan program “Just Ask”.

 

Reportase Hari Pertama, Kongres ISQua di Edinburgh United Kingdom

Oleh : dr. Tjahjono kunjoro, MPH, DrPH.

h1isqua

Kongres dimulai pada pukul 08.45 dengan moderator David Bates (the president elect). Dalam Conference opening and welcome: Tracey Cooper (ISQua President) dan Peter Carter (ISQua CEO), Isu utama yang disampaikan adalah:

  1. Telah disusun standar baru untuk akreditasi lembaga akreditasi
  2. Rencana tiga tahun ke depan untuk konferensi ISQua: tahun 2014 di Rio de Janeiro, Brasil, tahun 2015 di Doha, Qatar, dan tahun 2016 di Tokyo, Jepang.
  3. Board election
  4. Penjelasan program konferensi di Edinburgh (Peter Carter)

Saat plenary session 1 (Atul Gawande), dua permasalahan utama dalam pelayanan klinis: problem dengan praktisi klinis yang terkait dengan uang dan regulasi, dan problem kompleksitas pelayanan klinis. Hal ini di ilustrasikan dengan jatuhnya pesawat Boeing model 299 pada oktober 1985 karena pilot lupa mengaktifkan tombol pengendali elevator. Atul menjelaskan tahapan perbaikan kinerja:

  1. Primitive: you should do X
  2. Miedival: you must do X: guideline, standard, regulation, incentives
  3. Modern: X is the norm (check list, defaults, feed back loop)
  4. Future: X is done (automation)

h1isqua-2Atul Gawande yang menyusun dan mengenalkan safe surgical check list menjelaskan pentingnya check list untuk mengatasi permasalahan keselamatan pasien. Dari penelitian yang dilakukan diberbagai Negara ternyata penerapan safe surgical check list menurunkan kematian (surgical death) sebesar 47 %. Juga dijelaskan tentang beberapa check list yang dikembangkan antara lain adalah operating room crisis check list.

Plenary session 1 dilanjutkan dengan pembicara dari Scotland: Alex Neil MSP, Cabinet Secretary for Health and Wellbeing, Scotland yang menyampaikan prinsip dan strategi pelayanan kesehatan di Scotland. Tiga prinsip utama adalah: Safe care, Patient Centered Care, dan Effective Care, dalam perumusan strategi ditetapkan tujuan yang jelas (aims), pendorong primer (primary drivers) dan pendorong sekunder (secondary drivers), dan penerapan 7 day service and 24 hour service di Scotland.
Kegiatan kongres dilanjutkan dengan morning concurrent sessions. Morning session yang kami ikuti :

  1. Improving health care together: Engaging Clinicians in national Quality Improvement Initiatives. (Brian Robson, Kevin Rooney, Jennifer Graham):
  2. Isu utama yang diangkat dalam session ini adalah clinicians engagement dalam peningkatan mutu pelayanan klinis dengan tiga tahapan: improvement, scrutiny, dan evidence actions.
  3. Clinicians engagement diartikan: memastikan praktisi klinis untuk berpartisipasi aktif mulai dari perencanaan , pengembangan, dan penerapan upaya-upaya peningkatan pelayanan yang merupakan kegiatan yang progresif dan sustainable
  4. Dalam implementasi di Scotland, mengikuti model 90 day R&D process: 30 hari scan, 30 hari focus, dan 30 hari test/summarize.
  5. Dua tugas utama praktisi klinis adalah: to do the work and to improve it
  6. Tahapan yang dilakukan: 1). Discover purpose, 2). Reframe value and belief, 3). Segment the engagement plan, 4). Use engagement improment methods, 5). Show courage, dan 6). Adopt an engagement style
  7. Contoh implementasi di rumah sakit adalah clinical engagement dalam meminimalkan sepsis pasca operasi.

Afternoon session yang kami ikuti adalah Hospital as highly reliable organizations: examples from intensive care settings (Daniel L Cohen, Malcom Daniels). Rumah sakit dengan berbagai permasalahan yang kompleks perlu dipandang sebagai sistem yang highly reliable: operate in complex environment, incorporate/inculcate improvement data and methods, increment culture, involve patient and is more complex than any other high reliable organizations. Karakteristik dari highly reliable organization: sensitivity to operasions 9awareness of risk and prevention), reluctance to simplicity, preoccupied with failure. Ada perbedaan antara rumah sakit dengan high reliable organization yang lain (misalnya pilot yang menjalanan airplane): rumah sakit lebih kompleks, profesi kesehatan tidak sama dengan pilot (communication, challenge, abound), pasien bukan pesawat terbang, dan pasien berpartisipasi aktif. High reliable organization harus dapat mengantisipasi gaps dalam pelayanan, seperti: protocol yang tidak evidence based, error dalam pelayanan farmasi, dsb, melalui: standardisasi, checklist (summarize and simplify), dan segmentasi yang akan mengarah pada disain yang lebih sempurna. Contoh pelaksanaan di ICU: buntuk mengendalikan infeksi central line iv blood infection, dengan tahapan: 1). Set aim, 2). Clear specification process, 3). Monthly data, 4). A nurse standardize central line trolley contents, development of check list, assumed if check list not completed-it was not done, attached checklist to central line package.

How to secure better outcomes from person centered care (Adrian Sieff, Ewan King, David tomson):

  1. Better outcomes from patient centered care
  2. Dua isu utama yang disampaikan adalah people make informed decision, dan shared decision making as example and exemplar
  3. Dijelaskan pengalaman penerapan Program di Scotland: Making Good Decision in Collaboration (MAGIC) dan keberhasilan dalam menerapkan shared decision making
  4. Dalam melibatkan pasien dalam pengobatan 3 pertanyaan diajukan:
    • What are my options
    • What are the possible benefits and risks
    • How can we make a decision that will be right for me

Plenary session sebagai penutup hari pertama:

  1. Pemberian award kepada Professor Nick
  2. Scotland’s Quality Journey:
    1. Problem dalam pelayanan: patient safety problem, staff can not be blamed, incorrect priorities, with too many in charge, actually no one is, fear is tocis to both safety and quality
    2. Solution improving the safety of patients: quality and safety is number one, engage and empower patient and carer, staff development, embrace transparency unequivocally
    3. 2020 vision: safe, effective, and person centered care
    4. Silver bullets for strategy:
      • Human factor and reliability
      • Spread and sustainability
      • Person centered care: patient and family experience, coproduction, staff experience
      • The methods of improvement: design, test and modify, test and modify, test and modify, approve if necessary, and start to implement

Kesimpulan untuk hari pertama adalah Isu utama yang diangkat meliputi

  1. Engagement dari praktisi klinis dalam upaya-upaya peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien
  2. Shared decision making: keterlibatan pasien secara aktif dalam pengambilan keputusan klinis
  3. Rumah sakit sebagi Highly Reliable organization

ISQua’s 30th International Conference, 13-16 Oktober 2013 : Quality and Safety in Population Health and Healthcare

edi-14okt13ISQua (The International Society for Quality in Health Care) merupakan organisasi nirlaba, independen yang berdiri pada tahun 1984 memiliki misi mempromosikan, mendukung perbaikan terus menerus dalam keselamatan dan mutu pelayanan kesehatan di seluruh dunia.

ISQua pada tanggal 13-16 Oktober 2013 mengadakan konferensi Internasional ke 30 di Edinburgh dengan tema quality and safety in population health and healthcare. Konferensi ISQua ini dihadiri lebih dari perwakilan 70 Negara dengan 1.000 delegasi yang salah satunya konsultan dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM, dr. Tjahjono kunjoro, MPH, DrPH.

Konferensi ini terbagi 9 area yaitu Governance, Leadership and Health Policy; Patient Safety; Improving Population Health; Patient and Family Experience, Engagement and Coproduction; Accreditation and External Evaluation Systems; Education in Safety and Quality; Quality & Safety in Transitional and Developing Countries; Health Information Technology; Measuring Service Performance and Outcomes.

Berikut ini adalah reportase selama tiga hari pelaksanaan konferensi dalam bentuk ringkasan apa yang disampaikan oleh para narasumber menurut pandangan penulis.

Reportase kegiatan ISQua:

{module [152]}

Seminar Paket Rekomendasi Kebijakan untuk Penurunan Kematian Ibu dan Bayi

Kerangka Acuan
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM dalam program
Pengembangan Konsultan Manajemen Kesehatan Ibu dan Anak
untuk mengurangi kematian ibu dan bayi menyelenggarakan:

Seminar
Paket Rekomendasi Kebijakan untuk Penurunan Kematian Ibu dan Bayi
( 29 Oktober 2013 di Hotel Puri Denpasar di Jakarta)

dan

Workshop Pengembangan Konsultan Manajemen dan
Tenaga Ahli untuk Penurunan Kematian Ibu dan Bayi
(30 Oktober 2013 di Kampus FK UGM Yogyakarta)

dapat diikuti dengan Live Streaming melalui:

www.kebijakankesehatanindonesia.net
atau
www.kesehatan-ibuanak.net 

  Pendahuluan

Pada akhir bulan September 2013, keluar sebuah berita yang mengejutkan: MDG bertambah. SDKI 2012 memberikan hasil angka kematian ibu (AKI) mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Rata-rata kematian ini jauh melonjak dibanding hasil SDKI 2007 yang mencapai 228 per 100 ribu. Dalam hal ini, meningkatnya AKI ini menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Sebagaimana diketahui, target MDGs adalah 108 per 100 ribu pada 2015. Angka ini memang kontroversial. Di pemerintahan sendiri ada yang menolak, namun juga ada yang menerima.

Di luar kontroversi data ini, salah satu hal penting adalah bagaimana kita mensikapi permasalah ini. Dengan menggunakan data kematian absolut, di berbagai propinsi memang terjadi kenaikan jumlah kematian ibu. Hal ini yang perlu dibahas. Mengapa terjadi peningkatan kematian ibu? Apakah kebijakan penanganan sudah tepat? Apakah strategi pelaksanaan kebijakan sudah baik di lapangan?

Setelah 4 tahun melakukan kegiatan operasional di NTT dan DIY serta Papua (lihat lampiran 1), PKMK FK UGM mengambil berbagai kesimpulan yang dirangkum dalam usulan Paket Kebijakan untuk mengurangi kematian ibu dan bayi dalam usaha menuju ke perbaikan pencapaian MDGs. Paket kebijakan mencerminkan berbagai kondisi daerah dimana DIY mewakili daerah maju, NTT daerah sulit, dan Papua merupakan daerah yang sangat sulit. Inti paket kebijakan adalah mengacu pada integrasi hulu dan hilir (preventif dan kuratif), penggunaan data absolut agar secara real time terjadi perubahan sikap dan “peningkatan adrenalin” untuk usaha penurunan kematian, perbaikan sistem rujukan dan mutu pelayan klinik, dan dukungan seluruh pihak untuk intervensi kebijakan yang multi disiplin. Pengalaman tersebut juga menunjukan bahwa dalam usaha penurunan kematian ibu dan bayi, diperlukan adanya tim konsultan manajemen dan tenaga ahli yang aktif bekerja.

Dalam konteks situasi pemburukan ini, PKMK FK UGM mengajak pemerintah pusat (Bappenas, Kemenkes, DPR Komisi Kesehatan, Menko Kesra), Pemerintah propinsi dan kabupaten, LSM-LSM kesehatan, Asosiasi Rumahsakit dan Dinas Kesehatan, ikatan profesi, serta para akademisi, peneliti, dan konsultan untuk berfikir ulang mengenai strategi kebijakan MDGs. Perlu ada perbaikan kebijakan dan perubahan strategi untuk mengurangi kematian ibu dan bayi. Perdebatan mengenai metode pengukuran kematian ibu sebaiknya jangan sampai berlarut-larut. Saatnya bangsa Indonesia menatap ke depan dengan mempelajari masa lalu dan masa kini.

Perubahan strategi ini perlu didukung oleh ketersediaan tim konsultan manajemen KIA yang membantu DInas Kesehatan/Pemerintah Propinsi-Kabupaten-Kota dan Kementerian Kesehatan untuk menurunkan kematian ibu dan bayi. Sayang, sampai saat ini belum banyak lembaga konsultan manajemen yang berfokus pada penurunan kematian ibu dan bayi.

 Kegiatan:

Kegiatan 1: Di Jakarta

  1. Seminar mengenai Rekomendasi Kebijakan untuk pengurangan MDG
  2. Peresmian website khusus KIA untuk penurunan kematian ibu dan bayi: www.kesehatan-ibuanak.net 

Kegiatan 2: Di Yogyakarta

  1. Workshop Pengembangan Konsultan Manajemen dan Tenaga Ahli untuk Menurunkan Kematian Ibu dan Bayi Di Kabupaten

 

  Tujuan:

Seminar di Jakarta

  1. Menyajikan Rekomendasi Kebijakan pengurangan kematian ibu dan bayi untuk kegiatan di Kabupatan, Propinsi, dan Nasional.
  2. Rekomendasi kebijakan ini mencakup kebijakan hulu dan hilir.
  3. Mengembangkan pemahaman mengenai peran, posisi dan kemampuan Technical Assistance/Konsultan untuk penurunan kematian ibu dan bayi di perguruan tinggi.
  4. Mengembangkan berbagai pola pengembangan melalui penggunaan web sites dan teknologi telematika untuk pengurangan kematian ibu dan bayi

Workshop di Yogyakarta

  1. Membahas pengembangan Tim Konsultan Manajemen dan Ahli Teknis KIA di Propinsi dan Kabupaten. Apakah bertumpu di Perguruan Tinggi atau lembaga Swasta? Apabila berada di perguruan tinggi, siapa saja anggotanya dan bagaimana struktur dan proses kegiatannya?
  2. Membahas Proses Bekerja Tim Konsultan (lampiran 2)
  3. Membahas Sumber Pendanaan Tim Konsultan
  4. Memulai kegiatan pengembangan.

 

  Peserta

Seminar   : diharapkan dari para pengambil kebijakan di tingkat pusat dan daerah serta dari tim perguruan tinggi*.
Workshop : diharapkan dari tim perguruan tinggi* dan lembaga konsultan swasta yang berminat

*Tim perguruan tinggi terdiri dari:

  1. Ahli kesehatan Masyarakat
  2. SpOG
  3. SpA
  4. Promosi Kesehatan
  5. Ahli Pembiayaan Kesehatan

 

  Tempat, Hari-Tanggal, dan Jadwal Kegiatan

Seminar: Hotel Puri Denpasar Jakarta, Selasa 29 Oktober 2013, 12:00-15:00

Jam

Topik

Fasilitator

12:00-13:00

Makan Siang

 

13:00-13:30

Paket Rekomendasi Kebijakan untuk Penurunan AKI-AKB: Berdasarkan Pengalaman PKMK FK-UGM selama 4 tahun di DIY, NTT dan Papua

Prof Laksono Trisnantoro MSc PhD

Dr. Rukmono SpOG

Dr. Siti Noor Zaenab MKes

13:30-14:45

Diskusi

Moderator:
Dr. Hanevi Djasri MARS

14:45-15:00

Kesimpulan

 

 

Workshop: Ruang Senat Kampus FK-UGM, Yogyakarta, Rabu 30 Oktober 2013, 08:00-15:00

Jam

Topik

Fasilitator

08:00-09:00

Membahas pengembangan Tim Konsultan Manajemen dan Ahli Teknis KIA di Propinsi dan Kabupaten. Apakah bertumpu di Perguruan Tinggi atau lembaga Swasta? Apabila berada di perguruan tinggi, siapa saja anggotanya dan bagaimana struktur dan proses kegiatannya?

Prof. dr. Laksono Trisnantoro MSc, PhD.

09:00-12:00

Proses Bekerja Tim Konsultan:

  1. Pra kontrak
  2. Kontrak
  3. Pasca kontrak

dr. Hanevi Djasri, MARS

12:00-13:00

Lunch break

 

13:00-14:00

Sumber Pendanaan Tim Konsultan:

  1. APBN: Dana dekonsentrasi
  2. APBD: Tenaga ahli
  3. Sumber dana luar negeri
  4. Corporate Social Responsibility
  5. Dana pengabdian dan penelitian dari perguruan tinggi yang bersangkutan

M. Faozi Kurniawan, SE, Akt, MM

14:00-15:30

Penutup:

Penyusunan Strategi untuk melakukan kerjasama dengan Pemerintah Propinsi/Kabupaten.

Akan dilanjutkan dengan penggunaan internet untuk pengembangan tim konsultan selama 1 bulan.

 

 

Biaya

Seminar:

  1. Tatap muka Rp 200.000,- per orang (penggati makan siang sebesar)
  2. Jarak jauh (streaming) Rp. – (tidak dipungut biaya)

Workshop

  1. Tatap muka Rp 4.000.000,- per tim (5 orang)
  2. Jarak jauh (streaming) Rp. 2.500.00,- per tim (5 orang)

 

  Pendaftaran

Angelina Yusridar / Hendriana Anggi

Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM Sayap Utara Lt. 2, Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Ph. /Fax : +62274-549425 (hunting)
Mobile : +628111409442 / +6281227938882
Email : Angelina_yusridar@rocketmail.com; Hendrianaanggi@gmail.com
Website : www.kebijakankesehatanindonesia.net 

 


Lampiran 1: Pengalaman PKMK FK-UGM

Peningkatan kematian ibu sudah diduga sejak lima tahun yang lalu. Pada tahun 2009, kelompok studi MDGs Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM memprediksi bahwa ada kemungkinan terjadi stagnasi dan bahkan pemburukan situasi. Dilakukan analisis kebijakan KIA. Hasil analisis kebijakan menunjukkan bahwa ada ketidak logisan dalam kebijakan KIA. Berbasis analisis ini, sejak tahun 2009, PKMK FK UGM melakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan yang tujuan utamanya untuk langsung memberikan dampak pada kematian ibu dan bayi.

Kegiatan-kegiatan tersebut adalah: Riset Operasional mengenai Sister Hospital dalam kerangka Revolusi KIA NTT untuk meningkatkan kemampuan PONEK RS, dukungan terhadap PONED Puskesmas, pengembangan SDM KIA di NTT, sampai penyusunan manual rujukan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi NTT, Kemenkes, dan AusAId dalam program AIPMNH. Kematian Ibu secara absolut di NTT menurun. Pada tahun 2010: 252, tahun 2011: 208, dan tahun 2012: 172. Jika angka absolut diubah menjadi rates, akan menjadi: 288 (tahun 2010), 222, dan 177(tahun 2011). Sumber data adalah: Laporan F1 – F8 Thn dan Laporan Indikator Antara Revolusi KIA NTT 2010-2012 Kab/Kota melalui Bidang Kesmas Dinkes NTT

Sejak tahun 2011 dilakukan kerjasama dengan pemerintah Propinsi DIY dan Kementerian Kesehatan untuk penurunan kematian ibu dengan menggunakan pendekatan surveilans-respon kematian ibu-bayi dan penyusunan manual rujukan. Kegiatan dilakukan karena data absolut menunjukkan peningkatan (tahun 2009: 36 kematian menjadi 56 di tahun 2011). Setelah hampir dua tahun DinKes Porpinsi dan Kabupaten/Kota melakukan kegiatan dengan penekanan pada surveilans kematian dan respon ketat, ada perubahan yang tercatat. Pada tahun 2012, kematian ibu jumlahnya 41, dan pada tahun 2013 (sampai bulan September) adalah 26. Sumber data: Dinas Kesehatan Propinsi DIY.

Pengembangan di Papua dilakukan bekerjasama dengan UNICEF untuk Perencanaan Berbasis Bukti dan USAID untuk peningkatan kinerja Puskesmas. Kegiatan ini masih berupa pengembangan input dan infrastruktur untuk kesehatan ibu dan anak melalui perencanaan dan prinsip peningkatan kinerja. Dimulai sejak tahun 2012. Kegiatan ini belum banyak dihubungkan dengan penurunan atau peningkatan kematian.

Lampiran 2: Konsultan Manajemen dan Tenaga Ahli KIA

Dibayangkan di sebuah kabupaten, tim konsultan ini melakukan kerjasama dengan pemerintah kabupaten setempat dengan kontrak multi-years. Janji atau target tim konsultan adalah dalam waktu 3 – 5 tahun dapat menurunan kematian ibu dan bayi melalui perubahan cara kerja program kesehatan ibu dan anak di kabupaten tersebut.

Tim ini mempunyai anggota yang multi disiplin, antara lain:

  1. Ahli manajemen pelayanan kesehatan
  2. Dokter Spesialis Obsgin atau dokter umum yang memahami masalah kebidanan dan kandungan, atau bidan;
  3. Dokter Spesialis Anak atau dokter umum yang memahami masalah kesehatan anak;
  4. Ahli epidemiologi;
  5. Promotor kesehatan.

Tim bekerja dengan klien pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait di kabupaten, misalnya: tokoh-tokoh masyarakat, LSM-LSM, POGI setempat, IDAI setempat, IBI setempat, IDI setempat, dan berbagai kelompok masyarakat.

  1. Pengembangan Tim Konsultan Manajemen dan Ahli Teknis KIA di Propinsi dan Kabupaten. Apakah bertumpu di Perguruan Tinggi atau lembaga Swasta? Apabila berada di perguruan tinggi, siapa saja anggotanya dan bagaimana struktur dan proses kegiatannya?
  2. Proses Bekerja Tim Konsultan.

    Pra-Kontrak:

    1. Melakukan pendekatan ke Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Propinsi dan Kabupaten mengenai perlunya tim konsultan manajemen dan ahli teknis KIA untuk menurunkan kematian ibu dan bayi
    2. Menyusun perjanjian kerjasama yang bersifat multi-year dengan pemerintah kabupaten dan proponsi dengan dukungan Kementerian Kesehatan.

      Di dalam Kontrak:

    3. Melakukan analisis kebijakan KIA di propinsi dan kabupaten yang bersangkutan
    4. Melakukan Perencanaan Berbasis Bukti dan menyusun Strategi Pengembangan dengan indicator kinerja Jumlah Kematian Absolut. Penurunan jumlah kematian absolut yang sebenarnya merupakan indicator keberhasilan Tim Konsultam.
    5. Penentuan Strategi Pengembangan dengan menggunakan pemetaan intervensi dari hulu ke hilir
    6. Melakukan Monitoring dan Evaluasi kebijakan, strategi dan program yang dijalankan. Pasca Kontrak
    7. Melakukan Monitoring kegiatan secara independen dan terus menerus.
       
  3. Sumber Pendanaan Tim Konsultan:
    1. APBN: Dana dekonsentrasi
    2. APBD: Tenaga ahli
    3. Sumber dana luar negeri
    4. Corporate Social Responsibility
    5. Dana pengabdian dan penelitian dari perguruan tinggi yang bersangkutan.

 

Apa yang Salah dari Adanya Dokter Asing di RSUD Tangsel?

Tangerang (Liputan6.com): Ribut soal pemecatan 5 dokter di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) dan pemberian SP (Surat Peringatan) I dan II bagi 23 dokter di kota Tangerang Selatan kian rumit. Akibatnya jelas, selain pelayanan RS yang jadi terbengkalai, keberadaan dokter asing juga disebut mengganggu pertahanan negara.

Continue reading

The 1000 Lives Plus Quality Improvement Guide

thequalityThe 1000 Lives Plus Quality Improvement Guide akan menjelaskan bagaimana 1 set teknik sederhana dapat diterapkan untuk meningkatkan mutu layanan yang diberikan sehingga akan mendorong semua orang (masyarakat, manajer, professional kesehatan, akuntan) untuk bisa menerapkan teknik ini dan menjadi bagian dari memperkenalkan perubahan untuk membawa suatu perbaikan.

Hal yang akan dibahas dalam e-book ini adalah

1. Identifikasi masalah
2. Memastikan perubahan yang dilakukan adalah perbaikan
3. Mengukur perbedaan
4. Memperkenalkan perubahan
5. Kerja tim dan kepemimpinan
6. Berkomunikasi dengan staf dan melibatkan staf
7. Menyebarkan perubahan melalui kuesioner

Panduan selengkapnya silahkan klik disini

 

 

 

 

 

 

 

The 1000 Lives Plus Quality Improvement Guide : Nursing Edition

t1000Meningkatkan mutu dan keselamatan kesehatan bagi pasien merupakan prioritas utama bagi perawat dan bidan. Panduan ini berisi contoh inovasi keperawatan yang telah berhasil dilaksanakan. E-book ini akan berperan sebagai pelengkap bagi perawat untuk membuat perubahan dalam lingkungan kerja mereka untuk terus meningkatkan perawatan pasien.

Isu yang akan dibahas dalam e-book ini adalah

–  Mengidentikasi masalah
–  Memastikan perubahan yang dilakukan adalah perbaikan
–  
Mengukur perbedaan
–  Memperkenalkan perubahan
–  Kerja tim dan keperimpinan
–  Berkomunikasi dan melibatkan staf
–  
Menyebarkan perubahan

Laporan selengkapnya silahkan klik disini

 

 

 

 

 

 

 

Menkes: Dokter Asing Harus Ikuti Aturan Pemerintah

Jakarta (Republika.co.id) — Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menegaskan kehadiran dokter asing di Indonesia harus mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah. Mereka harus memenuhi empat persyaratan. “Sekarang sedang disusun aturannya, tapi yang penting pertama adalah dokter asing hanya diperbolehkan jika tidak ada tenaganya di sini,” kata Menkes di Jakarta, Senin (30/9).

Continue reading