Oleh: Hanevi Djasri, dr, MARS
Banyaknya kejadian tidak diharapkan (KTD) yang sebenarnya dapat dicegah di rumah sakit telah lama menjadi pusat perhatian, di Amerika the Joint Comission on Accreditation of Health Organization (JCAHO) mewajibkan rumah sakit untuk melakukan setidaknya satu Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) setiap tahun untuk dapat mengidentifikasi berbagai upaya pencegahan. FMEA awalnya dikembangkan di luar bidang pelayanan kesehatan dan sekarang digunakan di pelayanan kesehatan untuk menilai resiko kegagalan dan kesalahan pada berbagai proses dan untuk mengidentifikasi area-area penting yang membutuhkan perbaikan. Di bidang kesehatan sendiri, di Amerika FMEA telah diterapkan di ratusan rumah sakit dalam berbagai program perbaikan pelayanan kesehatan.
Program perbaikan pelayanan kesehatan yang dapat bertahan lama dan dapat mengurangi kemungkinan kegagalan hanya dapat dicapai melalui perbaikan sistem. Failure mode and effects analysis (FMEA) merupakan suatu teknik yang digunakan untuk perbaikan sistem yang telah terbukti dapat meningkatkan keselamatan. FMEA merupakan teknik yang berbasis tim, sistematis, dan proaktif yang digunakan untuk mencegah permasalahan dari proses atau produk sebelum permasalahan tersebut muncul/terjadi. FMEA dapat memberikan gambaran tidak hanya mengenai permasalahan-permasalahan apa saja yang mungkin terjadi namun juga mengenai tingkat keparahan dari akibat yang ditimbulkan.
Berikut ini adalah langkah-Langkah Failure Mode and Effect Analysis menurut Joint Comission Resources
| Langkah | Deskripsi |
| 1 | Menentukan proses yang mempunyai resiko tinggi dan membentuk tim (Select a high-risk process and assemble a team) … lihat HFMEA Decision Tree |
| 2 | Menyusun diagram proses (Diagram the process) |
| 3 | Brainstorming potential failure modes dan akibat-akibat yang ditimbulkan (Brainstorm potential failure modes and determine their effects) |
| 4 | Menentukan prioritas failure modes (Prioritize failure modes) … lihat Langkah Penetapan Prioritas berdasarkan Risk Priority Number (RPN) |
| 5 | Identifikasi akar penyebab masalah dari failure modes (Identify root causes of failure modes) |
| 6 | Membuat rancangan ulang proses (Redesign the process) |
| 7 | Analisa dan pengujian proses baru (Analyze and test the new process) |
| 8 | Implementasi dan monitoring rancangan ulang proses (Implement and monitor the new process) |
Langkah untuk menentukan apakah failure modes perlu ditindak lanjuti dengan HFMEA Decision Tree

Langkah Penetapan Prioritas berdasarkan Risk Priority Number (RPN)
| # | Tahapan Proses | Kegagalan | OCC | SEV | DET | RPN | Prioritas |
| 1 | |||||||
| 2 | |||||||
| 3 | |||||||
| 4 |
{module [150]}
Keselamatan pasien atau patient safety merupakan hal yang marak dibicarakan dalam dunia medis belakangan ini. Pertemuan tahunan Joint Comission International tahun 2005 telah menekankan mengenai pentingnya pelayanan kesehatan yang aman. Kesalahan yang terjadi pada upaya pelayanan kesehatan adalah kesalahan dalam mendiagnosis, kesalahan dalam menggunakan alat bantu penegakan diagnosis, kesalahan dalam melakukan follow up, pengobatan yang salah atau kejadian yang tidak diharapkan setelah pemberian pengobatan. Permasalahan-permasalahan diatas dapat terjadi karena penggunaan teknologi yang tidak diimbangi kompetensi penggunanya, bertambahnya pemberi pelayanan kesehatan tanpa mengindahkan komunikasi antar individu serta tingginya angka kesakitan serta kecelakaan, perlunya pengambilan keputusan yang cepat dan tepat yang menyebabkan stressor tersendiri serta kelelahan yang dialami oleh para staff medis karena keterbatasan jumlah staff yang tersedia. Salah satu budaya patient safety adalah mengkomunikasikan kesalahan, melaporkan kesalahan dengan tetap berpegang pada keselamatan pasien dan belajar dari kesalahan dan mendesain ulang sistem keselamatan pasien yang lebih baik. Untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi, dicetuskan suatu ide sistem analisis yang proaktif sebagai strategi pencegahan error.
“…malam ini tepat pukul 20.00 wib saya menerima pengumuman resmi dari kantor pusat JCI Chicago bahwa RSCM telah dinyatakan terakreditasi, bahwa RSCM lulus akreditasi JCI…” demikian pesan pendek dari Direktur Utama Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada akhir bulan lalu, yang mengabarkan bahwa RSCM telah menjadi RS umum pemerintah yang pertama terakreditasi oleh JCI.
Sleman (Republika.co.id) — Direktur Rumah Sakit Daerah (RSUD), Joko Hastaryo mengatakan siap melayani pasien miskin. Manyusul akan diberlakukannya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mulai 1 Januari 2014 mendatang.
Jakarta (detik.com), Bedah plastik bukan hanya urusan bikin cantik atau estetik, tapi juga bedah rekonstruksi yang menangani banyak kasus seperti luka bakar, trauma, pasca operasi kanker, dan lainnya. Untuk itu, dibutuhkan cukup banyak dokter bedah plastik guna melayani hampir 250 juta penduduk Indonesia. Sayangnya, Indonesia hanya punya 106 ahli bedah plastik.

Kompas.com – Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi menyatakan, pelayanan di bidang kesehatan perlu terus berbenah menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada 2015. Beberapa permasalahan terkait sumber daya seperti distribusi tenaga kesehatan perlu segera dicarikan jalan keluar dalam mengantisipasi serbuan tenaga kesehatan asing.