FORUM MUTU IHQN Ke-21

Strengthening health quality management systems for better patient outcomes

Pendahuluan

Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan merupakan prioritas strategis dalam pembangunan kesehatan nasional. Kementerian Kesehatan telah menegaskan arah kebijakan kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2025–2029, yang menempatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien, dan transformasi sistem kesehatan sebagai salah satu pilar utama. Regulasi ini tidak hanya menekankan aspek kepatuhan administratif, tetapi juga mendorong perubahan sistemik menuju pelayanan yang lebih berkualitas, berorientasi hasil (outcome-based), dan berkelanjutan.

Penguatan Sistem Manajemen Mutu Kesehatan menjadi elemen kunci untuk memastikan bahwa setiap fasilitas pelayanan kesehatan mampu memberikan layanan yang aman, efektif, efisien, dan berkeadilan. Namun, implementasi kebijakan mutu di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan sumber daya, variasi kapasitas manajemen mutu antar fasilitas, serta adaptasi terhadap regulasi dan teknologi baru. Oleh karena itu, dibutuhkan ruang dialog dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat pemahaman dan strategi implementasi sistem mutu yang terintegrasi dan berorientasi hasil pasien.

Forum Mutu ini mengangkat tema “Strengthening Health Quality Management Systems for Better Patient Outcomes”, atau memperkuat sistem manajemen mutu kesehatan untuk hasil pasien yang lebih baik dengan tujuan memfasilitasi pertukaran gagasan dan praktik terbaik dalam memperkuat tata kelola mutu layanan kesehatan di berbagai tingkat fasilitas layanan kesehatan dalam era transformasi sistem dan regulasi baru. Forum ini juga menjadi sarana untuk menelaah keterkaitan antara arah kebijakan nasional dengan realitas implementasi di fasilitas pelayanan kesehatan, baik rumah sakit maupun layanan primer. Peserta akan mendapatkan wawasan strategis mengenai implementasi PMK No. 12 Tahun 2025 dari perspektif mutu, serta tantangan implementasi di rumah sakit, termasuk implementasi PMK No. 11 Tahun 2025 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Standar Produk/Jasa pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sub Sektor Kesehatan.

Selain aspek strategis dan budaya organisasi, forum ini juga menekankan pentingnya transformasi teknologi dalam peningkatan mutu layanan kesehatan. Peserta akan mempelajari bagaimana data mutu dapat dimanfaatkan sebagai siklus pembelajaran berkelanjutan. Sesi inovasi layanan kemudian memperluas perspektif dengan membahas integrasi perangkat digital serta data lingkungan untuk mendukung pengelolaan penyakit secara cerdas dan adaptif.

Sebagai bagian dari pembelajaran praktis, forum ini juga akan menghadirkan praktik baik (best practices) dari fasilitas pelayanan kesehatan yang telah menerapkan umpan balik pasien real-time, digitalisasi pelaporan insiden keselamatan pasien, dan sistem pembelajaran mutu berbasis teknologi. Dengan pendekatan komprehensif ini, forum diharapkan dapat memperkuat kapasitas manajerial dan teknis para pengelola mutu, sekaligus menumbuhkan budaya keselamatan dan just culture yang menjadi pondasi utama dalam sistem mutu berkelanjutan.

Tujuan

Tujuan penyelenggaraan forum ini adalah meningkatkan kapasitas dan kolaborasi pemangku kepentingan dalam memperkuat sistem manajemen mutu kesehatan yang berorientasi pada kesehatan pasien, melalui pemahaman kebijakan, strategi peningkatan mutu, serta penerapan inovasi dan teknologi kesehatan yang sejalan dengan implementasi PMK No. 12 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan dan PMK No. 11 Tahun 2025 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Standar Produk/Jasa pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sub Sektor Kesehatan.

Adapun tujuan khusus dari forum ini adalah:

  1. Memperkuat jejaring kolaborasi multi-stakeholder di bidang kesehatan sebagai fondasi peningkatan mutu layanan yang berkelanjutan.
  2. Meningkatkan kapasitas pengelola rumah sakit, tenaga kesehatan, regulator, dan akademisi dalam menghadapi tantangan mutu di era disrupsi.
  3. Mengeksplorasi pemanfaatan teknologi digital untuk inovasi mutu pelayanan kesehatan.

Peserta

  1. Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur/Manajer/Ketua Komite Mutu/Kepala Instansi/Kepala Unit RS, Kepala Puskesmas, Pimpinan Balai Kesehatan, serta Pimpinan Klinik dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.
  2. Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi, Lembaga Asuransi/Pembiayaan Kesehatan (BPJS Kesehatan, Asuransi Kesehatan Swasta/Perusahaan), Lembaga Akreditasi Fasyankes, LSM Bidang Kesehatan, dan sebagainya.
  3. Klinisi: Dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan lainnya.
  4. Mahasiswa: S1, S2, Pendidikan dokter spesialis, S3.
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: Perguruan tinggi, Peneliti, Konsultan.

Waktu & Tempat

Hari/Tanggal : Rabu–Kamis, 10–11 Desember 2025
Waktu : 07:30–16:00 WIB
Tempat : Gedung Litbang & FK-KMK UGM

Agenda

 

Waktu Agenda Narasumber
Tempat: Auditorium Gedung Tahir Sayap Utara Lt. 1 
07:30 – 08:00 Registrasi Peserta Panitia
08:00 – 08:10

Sambutan ketua PKMK FKKMK UGM – Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes, MAS

video

Sambutan Ketua IHQN – Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA

video

MC

Topik: Sinergi Kebijakan Menuju Mutu Kesehatan

reportase

08:10 – 08:45

Paparan Materi 1:
Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Bermutu melalui Sinergi Kebijakan dan Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan No 12 Tahun 2025

video   materi

Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, Ph.D
08:45 – 09:15

Paparan Materi 2:
Aspek Mutu dalam Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2025: Rencana Implementasi di Dinas Kesehatan DIY

video   Materi

dr. Gregorius Anung Trihadi, MPH – Kepala Dinas Kesehatan DIY
09:15 – 09:45 Diskusi Tanya Jawab Moderator
09:45 – 10:00 Coffee Break

Topik: Quality Improvement Strategies in Healthcare Facility

reportase

10:00 – 10:35

Paparan Materi 3:
Becoming C-Suite Hospital Leader at Young Age: How to Overcome the Challenges?

video   materi

dr. Mega Febriora, Sp.JP – IHF Young Executive Leaders Program
10:35 – 11:10

Paparan Materi 4:
Membangun Ekosistem Riset di Rumah Sakit melalui Penguatan Clinical Research Unit (CRU) untuk Meningkatkan Mutu Layanan Kesehatan

video   materi

Dr. dr. Heidy Agustin, Sp. P(K) – RSUP Persahabatan
11:10 – 11:45

Paparan Materi 5:
Penerapan qualified risk management analyst (QRMA) untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan

video   materi

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
(Dosen dan konsultan FKKMK UGM)
11:45 – 12:15 Diskusi Tanya Jawab Moderator
12:15 – 13:15 ISHOMA

Topik: Transformasi Teknologi dalam Sektor Kesehatan untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan

reportase

13:15 – 13:50

Paparan Materi 6:
Streamlining Workflow with Connected Patient Care

video   materi

Benedict Sulaiman, S.Kom., MM., MARS., MCSE., CFP – Director of IT, CTO, Mandaya Hospital Group, Indonesia

13:50 – 14:25

Paparan Materi 7:
Stroke Digital Twin: Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan

video   materi

Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D
14:25 – 14:55 Diskusi Tanya Jawab Moderator
14:55 – 15:15

Penutupan: Penyampaian PoA oleh Ketua IHQN

video

MC

 

 

Waktu Agenda Narasumber
Tempat: Gedung Litbang & FK-KMK UGM
Paralel Workshop/Pelatihan
08:00 – 12:00

Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dalam Era Integrasi Layanan Primer (ILP)

Reportase

dr. Tjahjono Kunjoro, MPH, DrPH

 
13:00 – 16:00

⁠⁠Pelatihan Clinical Pathways dan Cost of Care sebagai Indikator Kesehatan Finansial Program JKN

Reportase

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

 

 

16:00 – 16:15 Penutupan MC

 

Kontak Person

Nita (+62 851‑1744‑8499)

 

 

FORUM MUTU IHQN Ke-20

Aktif, kolaboratif dan inovatif untuk mutu pelayanan kesehatan terbaik di Indonesia

Kerjasama antara:
Indonesia Health Care Quality Network (IHQN), Prodi Manajemen Rumah Sakit (MMR) FK-KMK UGM dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM

Secara Daring, 5 Juli 2024

PENGANTAR

Mutu Pelayanan kesehatan merupakan hak dari setiap warga masyarakat. Meski saat ini masyarakat di Indonesia secara umum kini lebih sehat dan hidup lebih lama dibandingkan sebelumnya, namun pelayanan berkualitas rendah masih menyebabkan kematian yang dapat dicegah dan kesenjangan yang tidak dapat diterima. Upaya memastikan dan meningkatkan mutu mengadapi tantangan dalam hal pembiayaan, tenaga kerja, dan infrastruktur layanan kesehatan, serta tantangan global yang saling tumpang tindih seperti pandemi dan perubahan iklim. Tantangan tersebut membutuhkan dukungan kepemimpinan yang konsisten dan lingkungan yang mendorong keterlibatan semua aktor dalam perbaikan berkelanjutan dan menstimulasi budaya inovasi.

Kepemimpinan mempunyai peran penting dalam menetapkan visi, nilai-nilai, dan prioritas yang mendorong upaya untuk meningkatkan mutu layanan. Kepemimpinan harus konsisten dan melampaui berbagai pernyataan politik, perlu menetapkan kebijakan dan strategi manajemen mutu nasional yang jelas dan kuat dan dapat mendorong berbagai program kesehatan dan pemangku kepentingan berpartisipasi untuk bersama-sama menciptakan dan menerapkan solusi berbasis kualitas, menunjukkan akuntabilitas atas hasil, dan meningkatkan praktik terbaik dan inovasi.

Lingkungan yang mendukung mutu dapat mendorong dan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan untuk memberikan layanan berkualitas. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan, kerja tim, dan budaya pembelajaran, serta akuntabilitas memungkinkan penyedia layanan kesehatan menerima perubahan demi mutu. Lingkungan yang mendukung mutu juga menciptakan ruang untuk melibatkan dan memaksimalkan kontribusi pemangku kepentingan termasuk keterlibatan masyarakat.

Namun, perubahan cepat dalam komunikasi dan berbagi informasi yang disebabkan oleh teknologi dan media sosial sangat mengubah ekspektasi pengguna terhadap mutu dan penggunaan layanan. Masa depan kualitas akan ditentukan oleh suara masyarakat yang disampaikan melalui platform yang tidak dipimpin atau dikelola oleh penyedia layanan kesehatan, sehingga kemampuan sistem dan penyedia layanan kesehatan untuk memberikan layanan berkualitas akan ditentukan oleh kemampuan mereka untuk mendengarkan harapan dan kebutuhan masyarakat, serta kemampuan untuk menunjukkan akuntabilitas, berbagi informasi yang benar, dan memperbaiki kesalahpahaman yang melemahkan kepercayaan publik.

Pembelajaran dan inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks di tingkat nasional akan merangsang dan mendukung perbaikan berkelanjutan di seluruh sistem layanan kesehatan. Untuk itu diperlukan penelitian dan pengembangan yang proaktif dalam mengidentifikasi inovasi paling efektif untuk memberikan layanan bermutu di Indonesia.

Forum Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan tahun 2024 ini akan membahas berbagai hal tersebut: Kepemimpinan; Lingkungan yang Mendukung; Pengelolaan Teknologi Komunikasi dan Media Sosial; Pembelajaran dan Inovasi Nasional untuk Mutu Pelayanan Kesehatan

KOMPETENSI

Setelah mengikuti seminar nasional “Forum Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan ke-20”, peserta mempunyai pengetahuan tentang:

  1. Analisa Kepemimpinan Nasional dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan: Studi Kasus Transformasi Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI
  2. Terobosan Pimpinan RS dalam Perencanaan Mutu Pelayanan Kesehatan: Pengalaman Bali International Hospital
  3. Membangun Peran Serta Stakeholders dalam Peningkatan Mutu: Penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Penguatan Layanan Kesehatan Rujukan Menuju Indonesia Maju di Provinsi Bali
  4. Pelatihan dan Pengembangan Profesional Berkelanjutan dalam Bidang Mutu Pelayanan Kesehatan: Dukungan Plataran Sehat, Platform Pembelajaran Digital
  5. Trik Jitu Menghadapi Pemberitaan di Media Sosial tentang Mutu Pelayanan Kesehatan di RS, Puskesmas, atau Klinik: Berbagai contoh Berita Viral dan Cara Mengatasinya
  6. Pembelajaran dan Inovasi Mutu Pelayanan Kesehatan: Penerapan Digitalisasi Manajemen Risiko di RSUP Prof. Ngoerah

SASARAN PESERTA

  1. Regulator Pelayanan Kesehatan: Pimpinan dan Staf Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota, BPJS Kesahatan,
  2. Manajerial/Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan: Direktur RS, Kepala Bidang/Bagian/Komite/Unit/Instalasi di RS, Kepala Puskesmas, Kepala Klinik, dan pimpinan serta staf lainnya
  3. Tenaga Kesehatan: tenaga Dokter, Dokter Gigi, Tenaga Kefarmasian, Perawat, Bidan, Nutrisionis, Sanitasian, Promosi Kesehatan, dan Ahli Teknik Laboratorium Medis (ATLM).
  4. Organisasi Profesi: Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarkat Indonesia (IAKMI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI), Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI), Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Perhimpunan Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia (PORMIKI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI).
  5. Asosiasi Kesehatan: PERSI, ARSADA, ADINKES, dan lainnya.
  6. Lembaga Akreditasi: LAPRIDA, ASKIN, LAPKLIN, KMKP, LMN, LPAPKP, LAFI, LAFKI, LAMFI, LAI SBN, LAFKESPRI, LASKESI, KAKP, KARS, LAM-KPRS, LAFKI, Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damar Husada Paripurna, LARS, LARSI.
  7. Dosen dan peneliti.

MANFAAT

Forum Mutu Nasional menyediakan platform bagi rekan-rekan yang berpikiran sama untuk berjejaring, berbagi ide dan mendorong inovasi untuk meningkatkan dan mendukung layanan kesehatan yang bermutu di Indonesia.

  1. Membangun jejaring
  2. Meningkatkan pengetahuan dan inovasi tentang mutu pelayanan kesehatan

MENDAPAT SERTIFIKAT TERAKREDITASI KEMENTRIAN KESEHATAN

 

AFENDA

Waktu Materi Narasumber/Moderator
08.00-09.00 Registrasi Peserta
09.00-09.15

Pembukaan
Lagu Indonesia Raya

Master of Ceremony
09.15-09.30 Sambutan Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
(Ketua IHQN)
09:30-10:10

Tata kelola dan kepemimpinan dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan: Studi Kasus Transformasi Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI

Prof. dr. Adi Utarini MSc, PhD
(Guru Besar FKKMK UGM)
10:10-10:50

Terobosan Pimpinan RS dalam Perencanaan Mutu Pelayanan Kesehatan: Pengalaman Bali International Hospital

drg. Mira Dyah Wahyuni, MARS
(Direktur Utama PT Pertamina Bina Medika IHC)

10:50-11:30

Membangun Peran Serta Stakeholders dalam Peningkatan Mutu: Penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Penguatan Layanan Kesehatan Rujukan Menuju Indonesia Maju di Provinsi Bali

dr. Kadek Iwan Nyoman Gede Anom, MPH
(Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Bali)

11:30-12:00 Diskusi dan tanya jawab Moderator: dr. Novika Handayani
Reportase
12:00-13:00 Istirahat Siang  
13:00-13:40

Pelatihan dan Pengembangan Profesional Berkelanjutan dalam Bidang Mutu Pelayanan Kesehatan: Dukungan Plataran Sehat, Platform Pembelajaran Digital

Lupi Trilaksono, SF, MM, Apt
(Direktur Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI)
13:40-14:20

Trik Jitu Menghadapi Pemberitaan di Media Sosial tentang Mutu Pelayanan Kesehatan di RS, Puskesmas, atau Klinik: Berbagai contoh Berita Viral dan Cara Mengatasinya

Anjari Umarjianto, S.Kom, SH, MARS
(Ketua Umum Perhimpunan Humas Rumah Sakit Indonesia)

14:20-15:00

Pembelajaran dan Inovasi Mutu Pelayanan Kesehatan: Penerapan Digitalisasi Manajemen Risiko di RSUP Prof. Ngoerah

dr. I Wayan Sudana, M.Kes
(Direktur Utama RSUP Prof. Ngoerah)
15:00-15:30 Diskusi dan tanya jawab Moderator: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH
15.30-16.00 Penutup Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua
(Ketua IHQN)
Reportase

 

Biaya

Kategori Biaya
Online Rp. 300.000,-

Pembayaran peserta dapat dilakukan melalui transfer ke rekening panitia dengan Kode Unik 02, contoh Rp. 300.002,-
No Rekening (BSI): 2802202809
Atas nama Ika MMR UGM

 

KONTAK PERSON

Rizky Adinda (0858-7888-0380)
Arista  (0821-3835-3835)

 

 

 

 

 

 

 

 

FORUM MUTU IHQN Ke-18

“Meningkatkan Kesiapan Adaptasi Dalam Transformasi Layanan Kesehatan Untuk Mutu dan Keselamatan Pasien Yang Lebih Baik”

30 November- 1 Desember 2022

PENGANTAR

Peningkatan mutu dalam pelayanan kesehatan memiliki sejarah panjang dan sejak akhir tahun 1990an, isu keselamatan pasien muncul sebagai tantangan utama pelayanan kesehatan secara global. Pelayanan yang bermutu dan aman tidak pernah terjadi karena kebetulan, namun hanya dapat terwujud dari keinginan yang kuat, upaya yang tulus, arahan yang cerdik dan pelaksanaan yang terampil (William A. Foster).

Hal di atas menjadi tantangan bagi pemerhati mutu layanan kesehatan dimana saat ini tenaga kesehatan maupun fasyankes diminta siap beradaptasi di tengah misi Kementerian Kesehatan RI untuk mentransformasikan layanan kesehatan dengan terus meningkatkan kapabilitas dan menjaga integritas layanan kesehatan untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang lebih baik, dengan tidak meninggalkan mutu dan keselamatan pasien.

Untuk melihat bagaimana transformasi sistem kesehatan mengedepankan mutu dan keselamatan pasien sehingga forum ini dikembangkan dalam kemitraan erat dengan mitra strategis daerah, bertujuan untuk mempertemukan para profesional kesehatan yang memiliki perhatian dan semangat untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan mempelajari praktik-praktik terbaik terutama pengalaman dalam meningkatkan mutu layanan Kesehatan.

Berbeda dengan Forum Mutu IHQN tahun sebelumnya, dimana forum tahun ini dapat dilaksanakan secara hybrid dengan tetap mematuhi protocol kesehatan. Berdasarkan latar belakang tersebut maka Forum Mutu IHQN tahun ini bertema “Meningkatkan Kesiapan Adaptasi Dalam Transformasi Layanan Kesehatan Untuk Mutu dan Keselamatan Pasien Yang Lebih Baik”. Forum Mutu IHQN Ke-18 akan terdiri dari kegiatan seminar, workshop, pameran poster dan studi banding.

PESERTA

Peserta yang diharapkan dapat ikut serta dalam Forum Mutu ini adalah:

  1. Pengelola fasilitas pelayanan kesehatan: Direktur/ Manajer RS, Kepala Puskesmas dan Pimpinan klinik dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
  2. Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Organisasi profesi (IDI, POGI, HOGSI, IDAI, PPNI, IBI, dsb), lembaga asuransi/ pembiayaan kesehatan (BPJS Kesehatan, Jamkesda, Asuransi Kesehatan Swasta), lembaga sertifikasi/ akreditasi (KARS, KALK, ISO, MenPAN, Badan Mutu, dsb), LSM bidang kesehatan dan sebagainya
  3. Klinisi: Dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, penunjang medik, dsb
  4. Mahasiswa: S1, S2, Pendidikan dokter spesialis, S3
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: Dosen, Peneliti, Konsultan

WAKTU PELAKSANAAN FORUM

Hari, tanggal : 30 November – 1 Desember 2022
Metode : Secara Hybrid
Tempat : Auditorium Tahir lantai 8, Gedung Pascasarjana Tahir, FK-KMK UGM, Jalan Farmako, Yogyakarta

PRE-FORUM

Pre Forum akan dilaksanakan pada 28-29 November 2022. Peserta dapat memilih salah satu:

  1. Kredensial, OPPE dan Rekredensial untuk tenaga medis, perawat dan tenaga kesehatan lain
  2. Integrasi satu sehat kedalam simrs karena diwajibkan dalam Permenkes 24 2022 tentang Rekam Medis dan dampaknya
  3. Penyusunan, Pelaksanaan, dan Evaluasi Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)

Forum Mutu IHQN

Tanggal 30 November 2022
Pukul 09.00-12.00 (WIB) Pukul 13.00-16.00 (WIB)
Pukul Sub Topik: Kesiapan Transformasi layanan Rujukan Pukul Sub Topik: Kesiapan Transformasi layanan primer
08.40-09.00

Pembukaan Forum Mutu ke-18 oleh Ketua IHQN: Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS FISQua

VIDEO

   
09:00-09:10 Pengantar 13:00-13:10 Pengantar
09:10-09:50

Pembicara 1: Sistem Pembelajaran Untuk Peningkatan Mutu

Narasumber: Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc, MPH., Ph.D (Ketua Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK UGM)

materi   video

13:10-13:50

Pembicara 1: Integrasi pelayanan kesehatan primer melalui penerapan care pathway

Narasumber: dr. Yanti Herman, S.H, M.H.Kes Direktur Pelayanan Kesehatan Primer

materi   video

09:50-10:30

Pembicara 2: Pengalaman persiapan dan penilaian akreditasi RS

Narasumber: drg. Ling Ichsan Hanafi, MARS (Hermina Hospital Group)

materi   video

13:50-14:30

Pembicara 2: Edukasi publik yang efisien dan efektif, dan tepat sasaran di layanan Primer

Narasumber: Wicaksono (Ndoro Kakung) – Praktisi Media Sosial

materi   video

10:30-11:10

Pembicara 3: Strategi meningkatkan efektifitas Akreditasi Rumah Sakit

Narasumber: Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS FISQua – Ketua IHQN

materi   video

14:30-15:10

Pembicara 3: Tata Kelola dan Sistem Pelaporan Puskesmas

Narasumber: dr. Sapta Eka Putra., MH.Kes (APKESMI)

materi   video

11:10-11:50 Diskusi: Lucia Evi Indriarini, SE, MPH 15:10-15:50 Diskusi: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH
Tanggal 1 Desember 2022
Pukul 09.00-12.00 (WIB) Pukul 13.00-16.00 (WIB)
Pukul Sub Topik: Kesiapan Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan Pukul Sub Topik:Kesiapan Transformasi Digital Kesehatan
09:00-09:10 Pengantar 13:00-13:10 Pengantar
09:10-09:50

Pembicara 1: Kebijakan Deteksi cepat Infeksi emerging

Narasumber: dr. Indra Kurnia Sari Usman, M.Kes (Surveilans dan Karantina Kemenkes RI)

materi   video

13:10-13:50

Pembicara 1: Rekam medis elektronik dan platform 1 sehat untuk menunjang mutu pelayanan kesehatan

Narasumber: Patota Putra Tambunan (Digital transformation office, Kemenkes RI)

MATERI   video

09:50-10:30

Pembicara 2: Best practice dalam penanganan infeksi emerging

Narasumber: Dwi Oktavia (Dinas Kesehatan DKI Jakarta)

materi   video

13:50-14:30

Pembicara 2: Strategi Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam Menghadapi Transformasi Digital Kesehatan

Narasumber: Dr. dr. Sri Mulatsih, Sp.A(K), MPH – Direktur Medik, Keperawatan, dan Penunjang, RSUP Dr. Sardjito

materi   video

10:30-11:10

Pembicara 3: Pencegahan dan pengendalian zoonosis (Pendekatan one health)

Narasumber: Prof. Dr. drh. I Wayan Tunas Artama (Dosen Fakultas Kedokteran Hewan, UGM)

MATERI   video

14:30-15:10

Pembicara 3: Transformasi Digital Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional

Narasumber: Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D, AAK (Direktur Utama BPJS Kesehatan)

materi   video

11:10-11:50 Diskusi: dr. Muh. Hardhantyo, MPH, FRSPH 15:10-15:50 Diskusi: dr. Aldylas Achmad Nursetyo, MS
11:50-12:00   15:50-16:00 16.20

Penutup Forum Mutu ke-18 oleh Ketua IHQN: Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS FISQua

video

REPORTASE KEGIATAN

 

LAPORAN KEGIATAN

 

KONTAK PERSON

Pendaftaran : Indra Komala /081239756111/ indrakomalarn@gmail.com
Maria Lelyana / 082134116190 / lelyana.pkmk@gmail.com 

SEKRETARIAT IHQN

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan keperawatan
Universitas Gadjah Mada
Gedung Litbang FK-KMK Jl. Medika Yogyakarta 55281

 

 

 

 

 

 

FORUM MUTU IHQN Ke-19

Resiliensi indonesia mengatasi tantangan global mutu bidang kesehatan dan implementasi UU Kesehatan 2023

Diselenggarakan Oleh Indonesia Healthcare Quality Network (IHQN)
Bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, FK-KMK UGM dan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

PENGANTAR

Indonesia telah menghadapi berbagai tantangan global di bidang kesehatan dan hingga saat ini terus berupaya untuk meningkatkan resiliensinya dalam menghadapi tantangan tersebut, diantaranya dalam penanganan pandemi COVID-19, peningkatan infrastruktur kesehatan, penanggulangan penyakit menular, penyediaan layanan kesehatan yang merata, hingga kolaborasi Internasional yakni pemeirntah Indonesia bekerja sama dengan negara-negara lain, bersama mitra pembangunan, dan lembaga penelitian dalam upaya menyelesaikan tantangan global di bidang kesehatan.

Mutu layanan kesehatan memainkan peran penting dalam menghadapi tantangan tersebut , termasuk diantaranya peningkatan aksesibilitas melalui sistem kesehatan yang tangguh dan harus mampu memberikan aksesibilitas yang lebih baik bagi semua orang, terutama kelompok rentan, termasuk akses yang mudah terhadap fasilitas kesehatan, tenaga medis yang terlatih, dan obat-obatan yang diperlukan. Termasuk diantaranya peningkatan kualitas pelayanan melalui pendidikan dan pelatihan tenaga medis, peningkatan infrastruktur fasilitas kesehatan, serta penggunaan teknologi medis yang mutakhir, pencegahan dan promosi kesehatan, kapasitas yang cukup untuk menghadapi kejadian darurat kesehatan, Kolaborasi yang erat antara berbagai pemangku kepentingan akan memperkuat resiliensi sistem kesehatan dan memungkinkan pertukaran pengetahuan dan sumber daya yang lebih efektif, penggunaan teknologi serta Investasi pembiayaan yang cukup dalam sistem kesehatan.

Untuk melihat bagaimana resiliensi indonesia menyelesaikan tantangan global bidang kesehatan mengedepankan mutu dan keselamatan pasien. Oleh karena itu, forum ini dikembangkan dalam kemitraan erat dengan mitra strategis daerah, bertujuan untuk mempertemukan para profesional kesehatan yang memiliki perhatian dan semangat untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan mempelajari praktik-praktik terbaik terutama pengalaman dalam meningkatkan mutu layanan Kesehatan.

PESERTA

  • Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur/Manajer RS, Kepala Puskesmas, Pimpinan Balai Kesehatan, dan Pimpinan klinik dan sarana pelayanan kesehatan lainnya
  • Tenaga kesehatan dan non kesehatan: Dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, apoteker, gizi, penunjang medik, dsb
  • Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan, Organisasi profesi (IDI, PPNI, IBI, dsb), lembaga asuransi/pembiayaan kesehatan (BPJS Kesehatan, Jamkesda, Asuransi Kesehatan Swasta), lembaga sertifikasi/akreditasi (KARS, KALK, ISO, MenPAN, Badan Mutu, dsb), LSM bidang kesehatan dan sebagainya
  • Mahasiswa: S1, S2, Pendidikan dokter spesialis, S3
  • Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: Perguruan tinggi, Peneliti, Konsultan

PRE-FORUM

Diselenggarakan 8 Agustus 2023 , Pukul; 09:00 – 15:00 WITA

No. Pelatihan  
1 Pelatihan Lean management di Fasilitas Pelayanan Kesehatan AGENDA
2 Kegiatan Sosialisasi Kode ICD-10 Pelengkap Algoritma Penyakit yang Dipantau dalam Program Kewaspadaan Dini dan Respons Penyakit Infeksi Berpotensi Wabah bagi Dokter dan Petugas Surveilans di Puskesmas Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat AGENDA  Reportase

 

AGENDA FORUM

Diselenggarakan pada 9 – 10 Agustus 2023
di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Mataram (Unram), Kota Mataram Pulau Lombok

 

  Waktu   Agenda
08:00-08:30 wita Registrasi
08:30-08:40 wita Pembukaan
Tari Pembukaan: Sanggar Lonto Engal
08:40-09:00 wita Pembukaan Forum Mutu IHQN XVII
oleh Dr. dr. Hanevi Djasri, FISQua, MARS (Ketua IHQN)
09:00-09:30 wita

Keynote I: Mutu Pelayanan Kesehatan dalam Undang Undang Kesehatan 2023.
Pembicara: Prof. dr. Adi Utarini MSc, PhD (Guru besar FKKMK UGM)

Materi  Reportase

09:30-10:00 wita

Keynote II: pendekatan one health: konsep dan penerapannya pada kasus outbreak rabies di NTT, hasil analisis kebijakan.

Pembicara: dr. Imran Pambudi, M.P.H.M (Direktur Direktorat P2PM KemenKes)

Materi  Reportase

10:00-10:15 wita Coffe break
 Pleno I: Memastikan manfaat akreditasi dalam peningkatan mutu dan efisiensi biaya
Moderator: dr. H. Nanang widodo, Sp.B,MS.,MPH, FINACS
10:15-10:35 wita

Pleno 1: Berbagai bukti peningkatan mutu pelayanan kesehatan di RS setelah lulus akreditasi: fakta dari RS Siloam Group
Pembicara: Dr. Danny Widjaja, MM, FISQua (Direksi RS Siloam Group)

Materi  Reportase

10:35-10:45 wita

Pleno 2: Berbagai bukti efesiensi biaya pelayanan kesehatan di puskesmas setelah lulus akreditasi.
Pembicara: dr. ID. G. Ngurah Agung (Puskesmas Narmada)

Materi  Reportase

10:45-11:05 wita

Pleno 3: Akreditasi tidak meningkatkan mutu dan keselamatan pasien: hasil berbagai penelitian – Bagaimana cara menghindarinya
Pembicara: Dr. dr. Viera Wardhani, MKes (FK Universitas Brawijaya)

Materi  Reportase

11:05-12:00 wita Diskusi
12:00-13:30 wita Lunch Break
 Pleno II: Peran NGO dalam SDG’s di Indonesia
Moderator: Muhammad Hardhantyo, MD, MPH, Ph.D
13:30-13:50 wita

Pleno 4: JICA’s Efforts for Health
Pembicara: Kenji Okamura (Senior Representative JICA)

Materi  Reportase

13:50-14:10 wita

Pleno 5: Evidence based berbagai Proyek USAID menurunkan AKI dan AKB di Indonesia
Pembicara: dr. Dwirani Amelia, Sp.OG

Materi  Reportase

14:10-14:30 wita

Pleno 6: Menjamin kualitas fasilitas air dan sanitasi di fasilitas kesehatan: pengalaman penggunaan instrument WASH Fit di Sumbawa, NTB
Pembicara: Stevie Ardianto Nappoe, SKM, MPH (PLAN Indonesia)

Materi  Reportase

14:30-15:00 wita Diskusi dan Penutupan Reportase
15:00-17.00 wita Program sosial*

 

 

  Waktu   Agenda
08:00-09:00 wita Registrasi
09:00-09:10 wita Pembukaan oleh MC
 Pleno III: Keamanan penggunaan digital healthcare
Moderator: Apt. Candra E. Puspitasari, M.Sc
09:10-09:30 wita

Pleno 7: Keamanan dan kualitas telemedicine dan telehealth
Pembicara: dr. I Gusti Lanang Suartana Putra, MM, MARS (Rumah Sakit Umum Pusat Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah)

Materi

09:30-09:50 wita

Pleno 8: Menjamin keamanan data pasien dalam pelayanan kesehatan berbasis platform kesehatan
Pembicara: Anis Fuad, DEA (Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM)

Materi

09:50-10:10 wita

Pleno 9: Kebutuhan Pengembangan aplikasi peresepan elektronik di afrmasi RS
Pembicara: Drs. H. Ruslan M. Rauf, M.Kes., Apt – HISFARSI

Materi

10:10-10:40 wita Diskusi
10:40-12:00 wita Presentasi 8 Poster @10 menit
12:00-13:30 wita Lunch Break
Reportase
 Pleno IV: Pengendalian zoonosis butuh peran berbagai pihak
Moderator: Lalu Simbawara SKM M. Si
13:30-13:50 wita

Pleno 10: Peran perguruan tinggi dalam pengendalian zoonosis
Pembicara: Dr. drh. Kholik, M.Vet (Dekan FKH Undikma)

Materi  Reportase

13:50-14:10 wita

Pleno 11: Evidence based policy making dalam pencegahan zoonosis tingkat provinsi
Pembicara: dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM., MARS (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB)

Materi  Reportase

14:10-14:30 wita

Pleno 12: Dukungan kerjasama WHO dengan pemerintah daerah dalam pencegahan zoonosis
Pembicara: dr. Endang Widuri Wulandari M.Epid dari WHO Indonesia

Materi  Reportase

14:30-15:00 wita Diskusi dan Penutupan
15:00-17.00 wita Program sosial*

 

KONTAK PERSON

Maria Lelyana / 082134116190 
email lelyana.pkmk@gmail.com 

Sekretariat IHQN

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan keperawatan
Universitas Gadjah Mada
Gedung Litbang FK-KMK Jl. Medika Yogyakarta 55281

 

 

 

 

 

 

Reportase Pertemuan Evaluasi SKDR Nasional 2022: Pemanfaatan Kode ICD-10 Sebagai Dasar Standarisasi Klasifikasi Pencatatan dan Pelaporan

3oktKegiatan Evaluasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Nasional diadakan pada tanggal 28 – 30 September 2022 di Hotel Harris Summarecon, Bekasi, Jawa Barat.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan (SKK), Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kemenkes RI sebagai bentuk evaluasi tahunan kegiatan deteksi dini dan respon penyakit berpotensi wabah melalui aplikasi SKDR. Selain dihadiri oleh PKMK FK-KMK UGM, juga dihadiri development partners yang lain seperti WHO, AISPH, JICA, dan lain sebagainya.

Continue reading

Mengasuh Gangguan Perilaku Pada Demensia

Penulis: Sabar P Siregar (Dokdiknis, Praktisi Psikiater di RSJ Prof dr Soerojo Magelang)

Ilustrasi Kasus

Seorang wanita 65 tahun yang diklasifikasikan dengan diagnosis Demensia Alzheimer, datang dengan diantar keluarganya ke Poliklinik Rawat Jalan untuk kontrol rutin. Dari alloanamnesis, wawancara dengan keluarga yang mengantarkan, didapatkan informasi bahwa seminggu belakangan, ibu ini sering gelisah, tidur hanya sebentar-sebentar dan makan hanya sedikit-sedikit.

Komunikasi yang tadinya sebagian masih dapat dipahami, antara pasien dan keluarga, sudah tidak dapat dilakukan lagi. Pasien tidak dapat menyampaikan apa yang dibutuhkan dan dirasakan. Sehingga seluruh kebutuhan pasien dipenuhi keluarga hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman keluarga selama merawat pasien ini.

Setelah melakukan alloanamnesis lebih detail, ada informasi yang disampaikan oleh keluarga bahwa pasien sudah hampir satu bulan tidak lancar buang air besar. Keluarga sudah berusaha memberi obat pencahar tapi tidak begitu berhasil. Setelah berdiskusi dengan keluarga, disepakati agar pasien dirawat inap untuk masalah gangguan buang air besarnya.

***

Dampak dari demensia sangat luas, baik untuk pasien sendiri, perawat maupun keluarganya. Dari salah satu literatur disampaikan bahwa karena terlalu banyaknya kondisi yang harus dihadapi pada penderita demensia, ada kalanya membuat bingung untuk memutuskan kondisi mana dulu yang harus ditangani. Untuk itu, prinsip utama adalah mengelola terlebih dahulu keadaan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Perbedaan antara agitasi dan menolak dirawat pada demensia

Gangguan perilaku adalah salah satu gangguan yang paling sering ditemui pada demensia. Hampir semua pasien dengan demensia pernah menunjukkan gangguan perilaku. Gangguan perilaku dapat dikategorikan, mengganggu atau tidak mengganggu sekitarnya. Semakin bertambah beratnya gangguan kognitif semakin berat juga gangguan perilaku yang dihadapi serta semakin sulit penanganannya.

Adanya gangguan kognitif dapat didasari berbagai aspek. Kondisi ketersediaan sel-sel otak yang masih berfungsi fisiologis aktif, sangat mempengaruhi fungsi kognitif. Seperti diketahui bahwa pada demensia ada kerusakan sel-sel otak yang disebabkan penyakit Alzheimer. Kerusakan itu dapat terjadi di dalam sel sendiri atau di luar sel.

Semakin luas kerusakan sel-sel otak maka ketersediaan sel-sel otak untuk fungsi kognitif akan semakin berkurang dan tentu hal ini akan sangat mempengaruhi kualitas fungsi kognitif. Patofisiologi penyakit Alzheimer sendiri belum sepenuhnya dipahami. Ilmu pengetahuan memang terus berkembang untuk memahami patofisiologi terjadinya penyakit Alzheimer yang pada akhirnya sangat berguna untuk menangani penderita-penderita demensia saat ini dan dimasa mendatang.

Agitasi pada kondisi umum adalah kondisi dimana seseorang marah karena emosinya tersulut. Ekspresi agitasi biasanya dapat berupa mondar mandir, keluyuran atau peningkatan aktivitas lainnya, dapat merupakan aktivitas verbal atau motorik. Sementara itu pada demensia, agitasi dapat merupakan salah satu sarana berkomunikasi untuk menyampaikan bahwa ada hal yang tidak menyenangkan dalam dirinya. Dengan demikian saat ditemukan agitasi pada demensia sebaiknya jangan diinterpretasi secara subyektif oleh perawat dan keluarga tetapi dicari penyebab objektif dari agitasi tersebut karena agitasi pada demensia dapat merupakan manifestasi berbagai keadaan, diantaranya adalah sebagai ekspresi rasa nyeri dan ketidaknyamanan dalam dirinya.

Pada kasus diawal tulisan ini sumber permasalahannya adalah terganggunya buang air besar kurang lebih satu bulan. Gangguan yang dialami pasien ini merupakan gangguan pada salah satu fungsi paling dasar dari kehidupan seorang manusia yaitu fungsi vegetatif. Dalam kondisi normal ketika salah satu fungsi vegetatif seseorang terganggu maka akan menyebabkan ketidaknyamanan sehingga akan segera menyampaikan apa yang dialami agar dicarikan jalan keluar.

Pada kondisi kasus diatas pada pasien ada hambatan komunikasi sehingga tidak mampu menyampaikan apa yang sesungguhnya dialaminya tetapi menyampaikan ketidaknyamanan yang dialaminya lewat perubahan perilaku dari biasanya yaitu adanya agitasi. Kesulitan komunikasi ini, memang sering menjadi tantangan tersendiri untuk menegakkan diagnosis adanya berbagai penyakit yang mungkin terjadi pada demensia. Karena keadaan inilah sering berbagai penyakit dapat terjadi pada demensia tanpa diketahui gejala-gejala awalnya.

Semua diawali dari adanya gangguan kognitif pada demensia khususnya memori yang sangat berguna saat anamnesis. Saat dilakukan anamnesis pada penderita demensia sering lupa apa yang sudah terjadi dan pada tingkat demensia yang lebih berat, tidak dapat lagi bekerja sama saat dilakukan pemeriksaan. Tentu keadaan ini akan mempengaruhi kualitas diagnosis suatu penyakit pada demensia dan dipastikan hal ini sangat berpengaruh dengan penanganannya.

Di sisi lain agitasi juga merupakan salah satu manifestasi gejala gangguan jiwa berat (psikosis) sehingga saat agitasi terjadi pada penderita demensia sangat mungkin pasien demensia agitasi tersebut akan dikategorikan sebagai gejala psikosis. Padahal ada perbedaan yang mendasari terjadinya agitasi. Sehingga jika dasar penyebab agitasinya berbeda maka penanganannya tentu sangat berbeda. Hal lain yang sangat perlu diperhatikan adalah suasana saat terjadinya gangguan perilaku. Karena walau ekspresi gangguan perilakunya sama tetapi dapat berbeda arti dalam suasana berbeda dan tentunya hal ini akan membutuhkan manajemen berbeda.

Menolak dirawat juga merupakan salah satu gangguan perilaku yang sangat mengganggu dan menguras emosi bagi seseorang yang merawat penderita demensia. Peningkatan penolakan perawatan dari pasien demensia berhubungan dengan menurunnya kemampuan berbicara dan memahami bahasa. Kemampuan berbicara dan memahami bahasa sangat berhubungan erat dengan fungsi kognitif. Jika kedua kemampuan itu masih baik berarti fungsi kognitif masih cukup baik.

Pasien demensia yang sering bersikap kasar di tengah masyarakat, juga biasanya menolak untuk dirawat. Faktor psikopatologi yang mungkin berperan meningkatkan penolakan terhadap perawatan adalah waham, halusinasi dan depresi. Waham adalah keyakinan pikiran yang salah. Jadi pasien dengan demensia dan memiliki waham tertentu dapat akan menolak jika mau dirawat karena keyakinan pikirannya yang salah itu meyakini bahwa orang-orang di sekitarnya pasti akan mencelakakan dirinya.

Halusinasi adalah adanya pengalaman persepsi tanpa adanya stimulasi pada salah satu pancaindera. Halusinasi auditorik adalah salah satu halusinasi yang paling signifikan untuk menunjukkan seseorang mengalami gangguan jiwa berat. Halusinasi auditorik dapat berupa suara perintah supaya menolak dirawat. Pada demensia salah satu gejala depresi yang sering adalah apatis.

Tujuan perawatan adalah mencegah meningkatnya penolakan perawatan, untuk itu diperlukan sikap pengasuh yang tenang dan santai yang akan membuat suasana lebih tenang serta melihat apa yang menjadi kebutuhan prioritas.

Di sisi lain, seorang yang merawat merasa apa yang dilakukan atau akan dilakukan adalah untuk kebaikan penderita demensia itu sendiri. Sehingga ketika terjadi penolakan dirawat dari penderita demensia sering membuat yang merawat terbawa emosi. Banyak hal yang membuat pihak yang merawat jadi emosi. Diantaranya adalah kelelahan pribadi yang merawat. Kelelahan dapat terjadi karena yang merawat penderita demensia juga seseorang yang mempunyai kebutuhan pribadi dan kebutuhan itu harus dipenuhi. Jadi yang merawat harus memenuhi kebutuhan penderita demensia yang dirawat dan kebutuhan diri sendiri.

Memenuhi kedua kebutuhan ini, saat bersamaan, tentu sangat berpotensi melelahkan. Tanpa ada penolakan untuk dirawat saja, merawat penderita demensia sudah merupakan hari-hari yang melelahkan apalagi jika ada penolakan. Seakan-akan kebaikan yang sudah dilakukan semua tidak ada artinya, tentu ini sangat melelahkan. Masalah lain adalah jika yang merawat juga memiliki keluarga sendiri. Sudah pasti keluarga yang merawat penderita demensia juga membutuhkan kehadirannya.

Biasanya tanggung jawab merawat penderita demensia adalah anak-anaknya. Padahal anak-anaknya itu juga pada umumnya sudah berkeluarga dan tentu itu sangat membutuhkan pengorbanan yang sangat besar dari diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan kebutuhan penderita demensia. Diantara anak penderita demensia sering juga terjadi silang pendapat karena penderita demensia kadang-kadang menyampaikan informasi yang berubah-ubah diantara anak-anaknya. Bagi keluarga sebaiknya saling mengklarifikasi satu sama lain.

Sedikit catatan bagi pengasuh (perawat)

Tidak ada cara atau metode tertentu yang sistematis dan dapat dipelajari untuk mengasuh gangguan perilaku pada semua demensia. Kesiapan hati dan sikap mau menerima untuk merawat demensia, itu yang utama. Adapun beberapa langkah yang perlu disiapkan hanyalah merupakan prinsip-prinsip umum pada pengasuhan demensia. Diantaranya, menghindari membuat tuntutan kegiatan yang menciptakan stres atau diluar batas kemampuan pasien dengan demensia. Pengasuhan dapat juga dilakukan melalui melibatkan mereka melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari misal menawarkan minum teh, meminta pasien membantu melipat cucian atau kegiatan rumah yang sederhana.

Faktor penting lainnya adalah lingkungan perawatan (suasana) misal dengan sedapat mungkin menghindari perdebatan atau konfrontasi terkait wahamnya. Karena seperti diketahui bersama bahwa waham itu tentu sulit bagi pengasuh untuk merasionalisasi atau mengoreksi waham seseorang terlebih lagi pada demensia yang mana struktur otaknya juga sudah banyak yang rusak.

Mungkin beberapa pengasuh merasa bersalah karena seperti membiarkan pasien tetap mempercayai suatu pikirannya yang salah itu, sehingga tetap berusaha menghilangkan pikiran yang salah itu dan tentu dapat menyebabkan pertengkaran yang hebat diantara keduanya.
Mengubah topik pembicaraan adalah cara lain untuk dapat melihat apa yang mendasari emosi simptom psikotik dan memberi respon yang sesuai. Pengembangan pengetahuan untuk tujuan agar pengasuh memiliki berbagai kemampuan untuk mengurangi kesulitan pasien, sangat diperlukan.

Dampak bagi pengasuh demensia

Tekanan yang dialami pengasuh pasien demensia lebih berat dibandingkan pengasuh lansia dengan hambatan fisik. Pengasuh untuk seseorang demensia, tidak mempunyai waktu untuk liburan atau menikmati hobinya, tidak punya waktu yang cukup untuk anggota keluarga lain. Juga lebih sering melaporkan banyak kesulitan yang berhubungan dengan pekerjaannya dibandingkan pengasuh seseorang dengan hambatan fisik. Stressor utama pada pengasuh pasien demensia adalah tuntutan kebutuhan yang tinggi dari pengasuhan demensia itu sendiri. Stressor kedua muncul dari aspek-aspek kehidupan pengasuh yang dipengaruhi oleh tugas-tugas pengasuhan mereka. Sehingga tingkat mortalitas pengasuh demensia juga meningkat.

Pada akhirnya mengasuh gangguan perilaku pada demensia memerlukan pengembangan pengetahuan yang komprehensif secara kontinyu. Tentu tidak mungkin mencapai pengetahuan itu dalam waktu singkat. Mengasuh penderita demensia dari waktu ke waktu, secara tidak langsung juga mengembangkan pengetahuan diri sendiri terhadap penderita demensia. Memang pengetahuan untuk pasien demensia tertentu belum tentu dapat diterapkan untuk pasien demensia lainnya. Prinsipnya adalah membuat penderita demensia nyaman dan aman sesuai kemampuan pengasuh.

Keterlibatan komunitas untuk mengelola penderita-penderita dengan demensia memang menjadi suatu keniscayaan. Langkah awal adalah adanya komunikasi antara keluarga dengan demensia disuatu wilayah tertentu. Berbagi pengalaman dengan memanfaatkan sistem informasi media sosial yang saat ini sudah lebih mudah terjangkau. Selanjutnya wadah saling berkomunikasi ini dibuat lebih terstruktur sehingga menjadi suatu wadah komunitas yang saling mendukung satu sama lain. Harus ada yang memulai dan mari kita memulai dari diri sendiri untuk saling berkomunikasi. Tulisan ini adalah sarana memulai untuk saling berkomunikasi.