Reportase Pelatihan Penerapan Klasifikasi Robson

Hotel Phoenix Yogyakarta, 8-9 Juni 2021

Reporter: Andriani Yulianti (Peneliti PKMK FK KMK UGM)

14jn

Yogyakarta, Pelatihan penerapan Klasifikasi Robson telah dilaksanakan pada tanggal 8-9 Juni 2021, menghadirkan peserta yang berasal dari RSUD Panembahan Senopati Bantul dan RSKIA Sadewa Yogyakarta, kegiatan ini merupakan kerja sama Direktorat Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan R.I berkolaborasi dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK FK KMK UGM), yang bertujuan meningkatkan kemampuan Rumah Sakit dalam menerapkan Klasifikasi Robson, serta meningkatkan kemampuan Rumah Sakit dalam melaksanakan audit kasus SC dengan Klasifikasi Robson.

Pertemuan ini dibuka dengan sambutan oleh dr. Muhammad Yusuf, MKM (Perwakilan Direktorat Kesehatan Keluarga) dan Ketua tim Robson yakni dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, Ph.D, Sp.OG(K). Serta menghadirkan narasumber yakni Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D, dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, Ph.D, Sp.OG(K), dr. Irwan Taufiqurrahman, Sp.OG (K) dan dr. Diannisa Ikarumi Sp.OG(K), yang sekaligus sebagai tim penyusun modul penerapan Klasifikasi Robson untuk meningkatkan patient safety.

Pengantar dibuka dengan menjelaskan mengenai tingginya kejadian SC di Indonesia, yang menimbulkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi serta tidak sejalan dengan upaya mengejar penurunan angka kematian ibu dan bayi sesuai RPJMN 2024. Dari data SDKI 2017 diketahui tren SC di Indonesia meningkat dari tahun 1997–2017 dari 4,3% menjadi 17%.

Kemudian disampaikan oleh ketua Tim Robson pada penerapan Robson diharapkan dalam jangka panjang terjadi penurunan angka kejadian SC yang tidak optimal/tidak perlu, penurunan angka kesakitan dan kematian akibat tindakan SC yang tidak optimal/tidak perlu, seperti perdarahan, jumlah tranfusi darah, infeksi, lama rawat, kondisi bayi, masuk RS kembali dalam 1 minggu serta berharap akan menjadi rekomendasi ke Kementerian Kesehatan untuk menerapkan Klasifikasi Robson.

Disampaikan pula, setelah pelatihan Klasifikasi Robson, akan ada pendampingan lanjutan yang akan dilakukan oleh tim PKMK FK-KMK UGM secara luring dan daring, pengisian formulir Robson (4 bulan sebelum pelatihan) dan 4 bulan setelah pelatihan, pengelolaan data untuk dapat dianalisis oleh tim RS, analisis untuk dipresentasikan di RS sebagai bahan audit, serta evaluasi yang dilakukan setiap saat pada pendampingan untuk identifikasi dan mengatasi kendala dengan segera.

Pemateri berikutnya, dr. Irwan juga memberikan gambaran mengenai klasifikasi Robson, bahwa saat ini penerapan Klasifikasi Robson sudah digunakan di 100 negara, dan direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO), International Federation of Gynecology and Obstetrics dan European Board of Obstetrics and Gynecology.

Sistem penilaian Klasifikasi Robson dilakukan saat ibu hamil tiba di tempat layanan kesehatan dan bermanfaat untuk membandingkan angka SC di lima tingkat fasilitas kesehatan, baik itu di pelayanan dasar/primer, pelayanan dasar (khusus), pelayanan spesialistis, pelayanan multi spesialistis/subspesialistis dan pelayanan multi spesialistis/subspesialistis dengan kasus kompleksitas tinggi. Disampaikan juga bahwa hasil systematic review menunjukkan bahwa Klasifikasi Robson sederhana, kuat, terpercaya dan fleksibel.

Pemaparan materi dilanjutkan oleh dr. Detty mengenai cara pengelompokkan 10 klasifikasi Robson, bahwa setiap ibu hamil yang akan melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan secara pervaginam maupun sesar dapat digolongkan ke dalam salah satu 10 kelompok Robson. Dalam menentukan pengelompokkan Robson perlu pemahaman tentang variabel klasifikasi Robson.

Variabel klasifikasi tersebut yakni: paritas, riwayat SC, onset persalinan, jumlah janin, usia kehamilan, letak janin dan presentasi. Pengumpulan data untuk pengelompokkan klasifikasi Robson dapat dilakukan menggunakan rekam medis dan spreadsheet atau kalkulator otomatis. Berikut 10 mengelompokkan klasfikasi Robson:

Grup Deskripsi
1 Ibu nulipara, janin tunggal presentasi kepala, ≥ 37 minggu, lahir spontan
2 Ibu nulipara, janin tunggal presentasi kepala, ≥ 37 minggu, lahir dengan induksi atau riwayat SC
3 Ibu multipara, tanpa riwayat SC, janin tunggal, presentasi kepala, UK ≥ 37 minggu, dalam persalinan spontan.
4 Ibu multipara, tanpa riwayat SC, janin tunggal, presentasi kepala, UK ≥ 37 minggu, induksi persalinan / SC sebelum persalinan.
5 Semua Ibu multipara, riwayat SC, janin tunggal, presentasi kepala, UK ≥ 37 minggu.
6 Semua Ibu nullipara, janin tunggal, presentasi bokong.
7 Semua Ibu multipara, janin tunggal, presentasi bokong, termasuk dengan riwayat SC.
8 Semua Ibu hamil kembar, termasuk dengan riwayat SC.
9 Semua Ibu hamil, janin tunggal, letak lintang/oblique, termasuk dengan riwayat SC.
10 Semua Ibu hamil, janin tunggal, presentasi kepala, UK < 37 minggu, termasuk dengan riwayat SC.

Selanjutnya, dr.Dianisa menekankan cara melakukan analisa data setelah melakukan penggolongan Robson, dilakukan dengan melakukan proses penilaian kualitas data dan penilaian terhadap populasi dari data yang sudah terkumpul serta memberikan interpretasi lanjut dengan cara membandingkan hasil ketentuan yang ada di tabel nilai rujukan Robson dengan nilai yang ditemukan di Rumah Sakit.

Kemudian melakukan audit data yang terkumpul dari formulir tabel laporan dengan mengidentifikasi masalah dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapi, dengan cara melakukan proses penilaian terhadap populasi dari data yang sudah terkumpul, dengan cara membandingkan hasil ketentuan yang ada di nilai rujukan table audit Robson dengan nilai yang ditemukan di Rumah Sakit.

Setelah melakukan proses Analisa data dan audit, selanjutnya dr Irwan sebagai pemateri terakhir juga mengajak peserta untuk melakukan proses identifikasi masalah, menemukan akar masalah sehingga dapat menemukan rekomendasi yang operasional, agar kejadian serupa tidak terjadi secara berulang. Setelah menemukan rekomendasi maka peserta diminta untuk kembali berdiskusi mengenai manakah rekomendasi prioritas yang dapat dilaksanakan sesuai dengan sumber daya yang ada di RS, kemudian dilanjutkan dengan menyusun rencana tindak lanjut.

Secara keseluruhan rangkaian acara berjalan dengan baik dan diikuti dengan antusias oleh peserta, karena pelatihan klasifikasi Robson merupakan hal yang baru dan sangat baik untuk memperbaiki proses penetapan indikasi SC untuk meningkatkan keselamatan pasien.

Lebih lengkap materi pertemuan dapat di akses melalui link berikut

klik disini

 

 

Pelatihan Penerapan Klasifikasi Robson

 KERANGKA ACUAN KEGIATAN

Pelatihan Penerapan Klasifikasi Robson

Diselenggarakan oleh:
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM
Bekerjasama dengan: Kementerian Kesehatan RI

Selasa- Rabu, 8-9 Juni 2021

A. PENDAHULUAN

Keselamatan pasien merupakan hal yang penting dan menjadi prioritas dalam suatu layanan kesehatan. Badan akreditasi nasional, Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS, 2019), dan badan akreditasi internasional, the Joint Commission International (JCI, 2015), menempatkan keselamatan pasien pada salah satu penilaian akreditasi; termasuk di dalamnya, memastikan lokasi, prosedur dan pembedahan pasien yang benar. RS yang memiliki rerata tindakan SC yang tinggi, akan mengalami peningkatan penggunaan sumber daya, karena tindakan SC dengan risiko yang lebih tinggi membuat RS untuk memperhatikan keselamatan ibu, sejak hamil, saat operasi dan masa nifas. Oleh karenanya tindakan SC baik terencana maupun emergensi yang dilakukan sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi, harus mempunyai indikasi yang kuat.

Tingginya kejadian SC di Indonesia, yang menimbulkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi serta tidak sejalan dengan upaya mengejar penurunan angka kematian ibu dan bayi sesuai RPJMN 2024. Dari data SDKI 2017 diketahui tren SC di Indonesia meningkat dari tahun 1997 – 2017 dari 4,3% menjadi 17%. Peningkatan angka SC ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi perdebatan oleh karena selain adanya ketimpangan akses dan masalah biaya, juga dapat berdampak pada kemungkinan peningkatan risiko ibu maupun bayi (WHO, 2017).

Oleh karena itu, PKMK FK-KMK bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan R.I bermaksud akan menyelenggarakan pelatihan penerapan klasifikasi Robson dalam meningkatkan patient safety, yang merupakan Sistem Klasifikasi Sepuluh Kelompok (The Ten Group Classification System-TGCS), juga dikenal sebagai Klasifikasi Robson, dapat digunakan di tingkat rumah sakit sebagai acuan dalam menentukan apakah tindakan SC sesuai dengan indikasi yang dibutuhkan (WHO 2017).

B. TUJUAN PERTEMUAN

  1. Meningkatkan kemampuan RS dalam menerapkan Klasifikasi Robson
  2. Meningkatkan kemampuan RS dalam melaksanakan audit kasus SC dengan Klasifikasi Robson.

C. PESERTA

  • Terdiri dari 8-10 orang tim dari RSUD Panembahan Senopati Bantul
  • Terdiri dari 8-10 orang tim dari RSKIA Sadewa

Komposisi tim berasal dari:

  • Dokter SPOG
  • Dokter Umum
  • Bidan
  • Perawat
  • Petugas Rekam Medis

D. JADWAL DAN AGENDA KEGIATAN

Hari : Selasa-Rabu, tanggal 8-9 Juni 2021
Selasa : Pukul 08.00-15.00
Rabu : pukul 08.00-13.00
Lokasi : Hotel Phoenix Yogyakarta

AGENDA KEGIATAN

Hari 1

Waktu

Kegiatan

Fasilitator

08.00-08.15

Pembukaan acara

  • Sambutan dari Kementerian Kesehatan dari Poksi Kesehatan Maternal dan Neonatal
  • Pembukaan acara oleh Dekan FKKMK UGM
  • Sambutan Ketua Tim Robson
  • Direktorat Kesehatan Keluarga:
    dr. Muhammad Yusuf, MKM
  • Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D.
  • dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, Ph.D, Sp.OG(K)

08.15-08.25

Pre test

Panitia

08.25-08.50

Perkenalan peserta dan fasilitator

Panitia

08.50- 09.00

Penyampaian General Rules dan pembagian kelompok

Panitia

09.00-09.30

Modul 1: Overview Klasifikasi Robson

materi

dr. Irwan Taufiqurrahman, Sp.OG (K)

09.30-10.10

Sesi praktik dan diskusi modul 1

Peserta dan Tim Fasilitator PKMK FK KMK UGM

10.10-10.25

Coffee Break

Panitia

10.25-10.55

Modul 2: Penggunaan Klasifikasi Robson dan Pengumpulan Data 

materi

dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, Ph.D, Sp.OG(K)

10.55-11.40

Sesi praktik dan studi kasus

Peserta dan Tim Fasilitator PKMK FK KMK UGM

11.40- 11.50

Rangkuman Modul 2

Peserta

11.50-13.20

ISHOMA

Panitia

13.20-13.25

Energizer

Panitia

13.25- 13.55

Modul 3 dan 4:
Analisis Data dan Audit SC

materi

  • Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K). Ph.D.
  • dr. Diannisa Ikarumi Sp.OG(K)

13.55- 15.45

Sesi praktik: Analisis Data

Peserta dan Tim Fasilitator PKMK FK KMK UGM

15.45-15.55

Evaluasi Modul 1-4

Peserta

15.55-16.00

Rangkuman Kegiatan

Peserta

16.00- selesai

Coffee Break dan Penutup

Panitia

Hari 2

08.00-08.05 Pembukaan MC
08.05- 08.15 Refleksi Kegiatan Hari 1 Peserta
08.15-08.20 Ice Breaking Panitia 

08.20-08.50

Modul 5: Rekomendasi dan Tindak Lanjut

materi

dr. Irwan Taufiqurrachman, Sp.OG(K)
08.50-09.50 Sesi praktik Modul 5 Peserta dan Tim Fasilitator PKMK FK KMK UGM
09.50-10.05 Coffee Break  
10.05-10.10 Briefing 5.0Praktik Komprehensif Panitia
10.10- 11.10 Praktik Komprehensif dr. Irwan Taufiqurrachman, Sp.OG(K)
11.10- 11.30

Rencana Tindak Lanjut Pelatihan

materi

  dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, Ph.D, Sp.OG(K)
11.30-11.40 Post test Panitia
11.40-11.50 Evaluasi Materi dan Pelaksanaan Pelatihan Panitia
11.50-12.00 Penutupan Ketua tim Robson PKMK FK-KMK UGM

New Report Reveals Better Approach for Elderly Care

An increasing body of evidence indicates that the best place for quality of life for elderly people is in their own homes. Care homes and nursing homes in the UK use an institutionalised and inflexible model of care which, despite the best efforts of carers, cannot provide a safe, dignified and happy life for residents. The pandemic over the past year has laid bare the failings in the current approach to care of our elderly population.

Continue reading

Setiap Orang Bisa Berkontribusi Bagi Mutu Kehidupan Lansia

Alzheimer Indonesia (Alzi) bekerja sama dengan Ashoka Indonesia menyelenggarakan seminar daring bertema ‘Lansia dan Demensia: Peran Kita Semua (Lintas Generasi), mengemukakan perlunya keterlibatan lintas generasi dalam keluarga dan masyarakat bagi kesehatan dan kesejahteraan lansia, terutama mereka yang hidup dengan demensia’. Seminar dihelat untuk memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN).

Continue reading

Kerjasama Penerapan Klasifikasi Robson Untuk Meningkatkan Patient Safety

Tindakan SC jika dilakukan dengan benar dapat menyelamatkan jiwa, namun demikian SC yang merupakan tindakan operasi besar, memiliki risiko baik ibu maupun bayi. Untuk itu, the Joint Commission, menetapkan bahwa mulai tahun 2020, akan mengeluarkan laporan rutin angka tindakan SC di RS, sebagai salah satu upaya untuk menurunkan angka SC yang cenderung meningkat (Baker & Turicchi, 2019). Sistem Klasifikasi Sepuluh Kelompok (The Ten Group Classification System-TGCS) yang juga dikenal sebagai Klasifikasi Robson, dapat digunakan di tingkat rumah sakit sebagai acuan dalam menentukan apakah tindakan SC sesuai dengan indikasi yang dibutuhkan (WHO 2017). Klasifikasi Robson diharapkan dapat menggantikan kriteria untuk melihat prognosis persalinan sejak ibu masuk rumah sakit. Klasifikasi Robson ini membantu dalam strategi menurunkan angka rerata SC dan memperhatikan keselamatan pasien sehingga dapat memperbaiki luaran ibu dan bayi.

Berikut ini detil dokumentasi kegiatan kerjasama penerapan Klasifikasi Robson untuk meningkatkan patient safety yang dilakukan di 4 Rumah Sakit, yakni:

  1. RSUD Panembahan Senopati, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY
  2. RSKIA Sadewa Kabupaten Sleman, Provinsi DIY
  3. RSUD Bagaswaras, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah
  4. RSUD Pandan Arang, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
No Tahapan Kegiatan
1

Rapat persiapan dan Sosialisasi

2 Pengembangan Modul Pelatihan Klasifikasi Robson
3 Uji Coba Modul Klasifikasi Robson dan Penggunaan Formulir Klasifikasi Robson
4

Pelatihan dan Pendampingan dalam Pelaksanaan Audit SC Melalui Metode Robson

  1. Pelatihan Gelombang I: RSUD Panembahan Senopati Bantul dan RSKIA Sadewa Yogyakarta (8-9 Juni 2021)
  2. Pelatihan Gelombang II: RS Pandan Arang Boyolali dan RSUD Bagas Waras Klaten (22- 24 Juni 2021)
5 Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan
6

Pengolahan Data dan Penyusunan Laporan

7 Diseminasi Hasil

 

{jcomments on}

Mengenal Tipe-Tipe Karakter Lansia Di Era New Normal Agar Menjadi Lansia Bijak dan Berkualitas

Penulis: Sabar P Siregar (Praktisi Psikiater dan Dokdiknis di RSJ Prof dr Soeroyo Magelang)

Batasan usia seseorang masuk kelompok Lanjut Usia (Lansia) telah beberapa kali mengalami penyesuaian. Peraturan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia membuat batasan lansia mulai usia 60 tahun. Sementara WHO (2013) mengatakan lansia adalah seseorang yang memiliki usia sejak 55 tahun dan lebih. Di sisi lain ada literatur yang menyampaikan bahwa otak manusia mulai mengalami pengecilan sejak seseorang berusia 50 tahun karena mengalami proses kemunduran (degenerasi).

Saat proses awal degenerasi ini tidak menunjukkan dampak yang bermakna dalam fungsi keseharian, karena sel-sel otak yang masih ada mampu mengambil alih fungsi dari sel-sel otak yang mengalamai degenerasi. Kalaupun ada dampak, keadaan itu sering dimaknai sebagai hal yang wajar bagi seseorang seiring dengan bertambah lanjutnya usia, misalnya bertambah lambat dalam melakukan beberapa fungsi sehari-hari namun secara umum masih dapat diterima lingkungan.

Tetapi proses degenerasi terus berlanjut, sehingga pada suatu fase tertentu, sel-sel otak yang tersisa tidak mampu lagi menjalankan fungsi sel-sel yang sudah mengalami degenerasi maka tampaklah manifestasi akibat terjadinya degenerasi sel-sel otak yaitu berupa terganggunya kemampuan melaksanakan fungsi untuk kehidupan sehari-hari. Tidak mampu lagi melakukan dengan leluasa beberapa kegiatan sehari-hari yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah.

Secara umum terjadi proses degenerasi sel-sel otak pada setiap lansia dan proses degenerasi ini tentunya mempengaruhi kapasitas fisiologis dan psikologis seorang lansia. Penanda sudah terjadinya degenerasi bukan pada tampilan organ atau organisma saat istirahat akan tetapi bagaimana organ atau organisme tersebut dapat beradaptasi terhadap perubahan (stres) yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Kemampuan adaptasi pada masing-masing lansia berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan ini disebabkan salah satunya adalah bagaimana gaya hidup lansia dimasa lalunya.

Perubahan, baik dalam diri dan lingkungan lansia, senantiasa terjadi secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu perubahan yang terjadi secara masif adalah bidang digitalisasi yang meliputi hampir seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Hal itu tidak dapat dihindari. Perubahan-perubahan ini sangat membutuhkan kondisi fisiologis dan psikologis yang harus selalu adaptif. Sementara itu secara alamiah pada lansia terjadinya proses degenerasi mendasari penurunan fungsi fisiologis dan psikologis dan tentunya mempengaruhi kemampuan adaptasi seorang lansia baik secara kapasitas dan kecepatan.

Saat pelayanan di poliklinik, penulis mendengarkan keadaan kondisi seorang guru. Usia yang bersangkutan masuk kategori lansia menurut WHO (2013), menghendaki pensiun dini. Dari pemeriksaan dengan wawancara klinis, penulis mendapatkan informasi bahwa alasan utama untuk minta pensiun dini adalah tuntutan kerja di kantor saat ini yang mengharuskan memakai komputer. Guru tersebut mengalami beberapa hambatan, terutama sistem penglihatannya, saat menggunakan komputer. Sering merasa silau dengan monitor komputer dan hurufnya terlalu kecil, apalagi menggunakannya terus menerus setiap hari dan hampir sepanjang jam kerja. Selain masalah penglihatan, masalah lainnya adalah seringnya ada perubahan-perubahan program komputer dikantor yang menuntut kecepatan dan ketepatan. Perubahan begitu cepat terjadi.

Masalah bertambah berat saat era new normal ini, karena pandemi maka pembelajaran banyak menggunakan media digitalisasi. Sesungguhnya beberapa lansia menyadari perubahan memang harus terjadi dan tidak menolak perubahan akan tetapi kapasitas fisiologis dan psikologis yang dimiliki beberapa orang lansia tidak cukup untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan saat ini.

Adanya perbedaan kemampuan adaptasi pada masing-masing lansia, akan mempengaruhi bagaimana seorang lansia menghadapi perubahan-perubahan lingkungan yang selalu dan pasti akan terjadi. Respon adaptasi yang sering ditemukan pada masa lalu adalah bertarung atau menyerah. Sistem organ pendukung dan pengendali untuk respon adaptif bertarung atau menyerah tersebut masih tetap sama. Namun perilaku adaptasi bertarung atau menyerah ini, berubah total sesuai dengan tuntutan lingkungan modern yang memaksa manusia harus berperilaku berlawanan dengan respon biologis yang sudah diturunkan dari masa lalu.

Bentuk respon bertarung modern dapat dalam bentuk: marah, argumentatif, agresif. Sementara respon menyerah modern adalah: penarikan sosial, penyalahgunaan zat, promiskuitas dan menonton bola terus menerus.

Selain respon adaptif bertarung atau menyerah, kemampuan adaptasi lansia juga dipengaruhi bagaimana karakter (pribadi). Tipe karakter sangat dipengaruhi nature dan nuture karena ke-dua faktor tersebut saling berinteraksi selama kehidupan. Hasil interaksi faktor bawaan dan pengalaman membentuk karakter (pribadi) seseorang. Faktor bawaan dan pengalaman setiap orang berbeda sehingga karakter masing-masing orang juga berbeda walaupun ada kemiripan. Jadi karakter tidak terbentuk dalam waktu singkat tapi prosesnya sepanjang kehidupan. Misal ada yang tinggal di lingkungan atau situasi yang sama, namun ada yang terpengaruh oleh lingkungannya ada yang tidak.

Secara kultur gambaran karakter seorang lansia adalah seseorang yang bijak, tenang dan dapat mengendalikan emosi secara penuh dalam kesehariannya dan gambaran ini menjadi teladan bagi yang berusia lebih muda. Tentu tidak semua lansia memiliki karakter seperti gambaran kultur tersebut.

Beberapa tipe karakter pada lansia:

  1. Tipe konstruktif: seseorang dengan tipe ini memiliki integritas baik, dapat menikmati hidup, toleransi tinggi, humoris, fleksibel, tahu diri, dapat menerima fakta proses menua dan dimasa pensiunnya dapat hidup dengan tenang.
  2. Tipe ketergantungan: tipe ini secara umum masih dapat diterima ditengah masyarakat, walau tipe ini pasif, tidak berambisi tapi tipe ini masih tahu diri walau tidak praktis. Biasanya dikuasai istri, senang pensiun, banyak makan dan minum, tidak suka bekerja dan senang berlibur.
  3. Tipe defensif: ciri tipe ini adalah adanya riwayat pekerjaan/jabatan tidak stabil, selalu menolak bantuan. Sisi emosi sering tidak dapat dikontrol, memegang teguh kebiasaan, kompulsif aktif, takut menghadapi “menjadi tua”, tidak menyenangi masa pensiun.
  4. Tipe bermusuhan: karakter tipe ini sering menganggap orang lain sebagai peyebab kegagalan, selalu mengeluh, agresif, curiga, riwayat pekerjaan tidak stabil, menganggap tidak ada hal baik jika menjadi tua, takut mati, juga iri hati sama yang muda dan senang mengadu untung.
  5. Tipe membenci/menyalahkan diri sendiri: bersifat kritis dan sering menyalahkan diri sendiri, tidak mempunyai ambisi, sehingga kondisi sosio-ekonomi menurun. Biasanya mempunyai pernikahan tidak bahagia, mempunyai sedikit “hobby”, merasa menjadi korban dari keadaan tapi tidak iri hati pada yang muda, merasa sudah cukup dengan apa yang ada, menganggap kematian merupakan kejadian yang membebaskan diri dari penderitaan sehingga tipe ini memiliki risiko bunuh diri tinggi dibanding tipe lainnya.

Penulis belum menemukan sumber yang menunjukkan secara pasti distribusi pola sebaran tipe-tipe karakter tersebut di populasi umum. Tapi dengan memahami tipe-tipe karakter tersebut maka ketika ada keadaan yang mengharuskan berinteraksi dengan tipe karakter tertentu seperti di atas, dapat menghadapi lansia dengan lebih tepat. Pada era new normal ini, banyak terjadi perubahan-perubahan lingkungan. Kebijakan-kebijakan baru dibuat untuk menghindari dampak pandemi yang menyerang hampir semua negara yang ada di dunia ini. Dapat dipastikan kebijakan-kebijakan yang dibuat tidak akan dapat diterima semua pihak walau sesungguhnya kebijakan itu dibuat untuk kepentingan semua pihak.

Untuk lansia dengan tipe konstruktif tentu dapat menerima era nature dan nuture ini dan mau bekerjasama untuk mencegah dampak pandemi bahkan mau terlibat mensosialisasikan kebijakan-kebijakan.

Tipe ketergantungan mungkin dapat menikmati supaya tinggal di rumah saja. Berbeda dengan tipe konstruktif walau tinggal di rumah tetap dapat membuat kegiatan berguna. Era new normal ini bagi tipe ketergantungan seakan-akan membenarkan karakter mereka selama ini. Hidup datar-datar saja, tidak menolak kebijakan tapi tidak mendukung seperti tipe konstruktif.

Tipe defensif adalah tipe yang sisi emosionalnya dominan dan sulit untuk menerima perubahan-perubahan (kebijakan) apapun alasannya. Apalagi kalau ada informasi, walau tidak ada bukti yang dapat dipertanggung jawabkan tentang informasi yang didapat, yang mendukung pendapatnya maka tipe ini akan makin yakin dengan pendapatnya. Tentu tipe ini sangat membutuhkan pendekatan dan usaha ekstra keras untuk mau menerima program vaksinasi untuk lansia.

Tipe bermusuhan dapat membingungkan pihak yang mau menolong, karena niat mau menolong dari pihak yang menolong disalah artikan dari tipe bernusuhan ini. Sering mengeluh takut mati tapi ketika diberi pertolongan menolak. Saat pandemi seperti sekarang ini mungkin bagi tipe ini sulit untuk menerima kebenaran informasi apalagi jika yang menyampaikan informasi tersebut berusia lebih muda dari dirinya.

Tipe membenci/menyalahkan diri sendiri, merupakan tipe yang sering salah menilai dirinya sendiri sehingga cenderung bersikap apatis. Sudah merasa cukup dengan keadaannya sekarang. Tipe ini dapat menganggap dirinya adalah korban dari keadaan. Jadi disaat pandemi ini tipe ini menganggap diri mereka tidak ada guna bahkan tidak memperdulikan dirinya jika meninggal. Sehingga ketika ada kebijakan-kebijakan yang terkait pandemi tipe ini cenderung tidak mau tau.

Tipe karakter bukan sesuatu yang setiap waktu dalam kehidupannya akan seperti itu terus menerus, tapi tipe-tipe ini merupakan gambaran dominan seseorang dalam berinteraksi menjalani kehidupannya sehari-hari, termasuk lansia.

Dapatkah tipe karakter berubah? Jawabnya: dapat. Berubah bukan berarti mengganti tipe karakternya tapi mengubah tipe yang dominan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu semua ini sangat membutuhkan waktu dan usaha yang keras secara terus menerus serta dukungan dari orang-orang terdekat. Perlu menjadi perhatian, seperti diawal tulisan ini, bahwa diawal usia 50 tahun sudah mulai terjadi proses degenerasi sel-sel di otak. Tentu hal ini mempengaruhi kemampuan sistem elastisitas koneksi di otak. Elastisitas koneksi ini mendasari kemampuan sel-sel otak untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan.

Perubahan tipe karakter memerlukan elastisitas koneksi di otak. Dasar dari perubahan tipe karakter adalah tumbuhnya koneksi-koneksi yang baru di otak. Pada lansia yang secara alamiah telah terjadi proses degenerasi tentu keadaan ini akan membuat sulit terbentuknya koneksi-koneksi yang baru di otak dan proses pembentukan ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga dapat ditarik kesimpulan proses perubahan tipe karakter pada lansia sangat sulit walaupun ada perubahan mungkin hanya sedikit.

Setiap manusia semakin tambah umur pasti akan mengalami degenerasi semua organ-organ ditubuh termasuk otak. Jadi cara hidup dimasa muda adalah salah satu faktor penentu bagaimana saat lansia. Menjadi lansia bijak yang berkualitas.

Selamat memperingati hari lansia.

 

Why the role of midwives in health systems is more imperative now

We are witnessing the impact of the Covid-19 pandemic on our health systems. As India reels under the second Covid wave, healthcare professionals are at the forefront, battling the pandemic in the mitigation of the spread and ensuring the continuity of essential healthcare services. The pandemic has brought to the fore the need for more human resources for health in the public health system.

Continue reading

Pelaksanaan ANC Terpadu Versi Revisi Tahun 2020, Apa Yang Membedakan dari Versi Sebelumnya?

Disarikan oleh: Andriani Yulianti
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu, PKMK FK KMK UGM)

Angka kematian ibu dan bayi saat ini menjadi masalah prioritas, yang terus di upayakan intervensi terbaik dalam menurunkan jumlah kasusnya. Terlebih saat ini, AKI di Indonesia merupakan yang tertinggi ke-2 di ASEAN dan AKB menduduki peringkat ke-5 di antara negara di ASEAN. Pemerintah Indonesia melalui Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2020-2024 telah menargetkan AKI 183 per 100.000 kelahiran hidup dan AKN 10 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan AKI-AKB melalui pelaksanaan Antenatal Care (ANC) terpadu.

Pelayanan ANC terpadu merupakan suatu program yang menjembatani pertemuan antara ibu hamil dengan petugas kesehatan, sehingga pelayanan ini seharusnya dapat dilaksanakan secara berkualitas dan sesuai dengan standar. Berdasarkan data riskesdas 2018 bahwa tempat pelaksanaan ANC sebesar 45,3% dilaksanakan di praktek dokter/bidan, 14,6% di Puskesmas, 12,5% di Pustu/Polindes, 11,3% di Posyandu, 10,1% di RS, serta 3,1% tidak ANC, 2,9% dilaksanakan di klinik swasta, dan 0,3 di tempat lainnya. Sedangkan tenaga yang memberi layanan ANC sebagian besar dilakukan oleh bidan sebesar 82,4%, disusul dokter SPOG 13,4%, kemudian dr umum 0,5% dan perawat 0,5%.

Sedangkan tempat persalinan untuk perempuan dengan usia 10-54 tahun sebagian besar dilaksanakan di Praktek bidan, kemudian disusul di RS Swasta, Rumah, RS Pemerintah, Puskesmas, Klinik, Polindes dan Praktek dokter. Data-data di atas merupakan gambaran pelaksanaan ANC, sehingga diharapkan dengan adanya pedoman ANC terpadu versi revisi maka dapat memperkuat pelaksanaannya.

Buku pedoman ANC versi revisi merupakan buku pedoman pelayanan ANC terpadu tahun 2021 edisi ke-3, disampaikan bahwa ANC dilaksanakan minimal 6 kali, dimana pada ANC kunjungan pertama di dokter akan melakukan skrining dan menangani faktor risiko kehamilan. Sedangkan pada kunjungan kelima di trimester 3 kehamilan, dokter melaksanakan skrining faktor risiko persalinan.

Lebih lengkapnya, berikut ini perbedaan pedoman ANC versi tahun 2015 dan versi tahun 2020 edisi ketiga, meliputi:

  1. Terdapat tabel pengawasan Ibu hamil meminum tablet tambah darah (TTD) dengan memberi tanda V pada setiap kotak bila sudah meminum tablet TTD. Tabel ini tidak ada pada versi sebelumnya.

    28me1

  2. Terdapat catatan tambahan untuk menyambut persalinan, yang sebelumnya sudah ada pada versi sebelumnya, hanya ditambahkan calon pendonor darah, dari sebelumnya 2 orang menjadi 4 orang yang harus dicantumkan, serta adanya perubahan posisi penanda tangan.

    28me2

  3. Terdapat catatan yang menginformasikan bahwa ibu hamil pada TM1 dengan usia kehamilan <12 minggu harus kontak dengan dokter. Merupakan evaluasi kesehatan ibu hamil, bertujuan untuk melihat riwayat kesehatan ibu selama menjalani kehamilannya, baik riwayat kesehatan sebelumnya maupun riwayat kesehatan saat ini. Halaman ini tidak ada pada versi sebelumnya.

    28me2

  4. Terdapat catatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh dokter pada saat memeriksa ibu hamil pada trimester pertama dengan usia kehamilan <12 minggu. Halaman ini juga mencantumkan hasil USG pada ibu hamil (hasil USG dapat ditempel dikotak kosong tersebut). Informasi ini tidak tercantum pada pedoman ANC versi sebelumnya.

    28me4

  5. Terdapat skrining preeklampsia dikerjakan pada semua ibu hamil saat kunjungan/kontak pertama. Sebaiknya dilakukan pada usia kehamilan<20mg, akan tetapi apabila ibu datang pada kehamilan >20 mg, skrining tetap dilakukan. (Jika didapatkan tanda centang di dua kotak kuning dan atau 1 kotak merah maka ibu berisiko mengalami preeklamsia dan lakukan segera lakukan rujukan ke dokter spesialis obsgyn). Halaman ini tidak tercantum pada pedoman ANC versi sebelumnya.

    28me4

  6. Terdapat pelayanan bidan dengan grafik evaluasi kehamilan yang sebelumnya tidak ada pada Pedoman ANC versi sebelumnya.

    28me6

  7. Terdapat pelayanan bidan berupa grafik peningkatan berat badan, yang tidak ada pada versi tahun 2015

    28me6

  8. Terdapat pelayanan dokter trimester 3 (usia kehamilan 32-36 minggu) yang tidak ada pada pedoman sebelumnya. Halaman ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kehamilan ibu dan merencanakan tempat persalinan.

    28me8

 

Sumber:

  • Kementerian Kesehatan RI, 2020. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu tahun 2020 edisi ketiga. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
  • 2021. Indikator dan Kegiatan Program Kesehatan Ibu Hamil di FKTP. Materi dipresentasikan pada kegiatan penyusunan IQ-Care pada 10 Mei 2021.

 

Upaya Meningkatkan Layanan Pengobatan Hipertensi Yang Efektif

Disarikan oleh: Andriani Yulianti (Peneliti Divisi Mutu, PKMK FK KMK UGM)

Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan The Silent Killer sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan global. Hipertensi merupakan penyebab utama kematian di dunia, meskipun pengobatan untuk hipertensi aman, efektif, dan berbiaya rendah, kebanyakan penderita hipertensi di seluruh dunia tidak dapat mengendalikannya.

Berikut ini artikel yang merangkum pelajaran penanganan hipertensi dalam 2 tahun pertama program manajemen hipertensi Resolve to Save Lives (RTSL), yang dijalankan dalam koordinasi bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mitra lainnya. Diperlukan diagnosis, pengobatan, dan kesinambungan perawatan yang lebih baik untuk mengendalikan hipertensi, dan terdapat lima komponen yang telah direkomendasikan oleh RTSL, WHO dan mitra lainnya sebagai hal yang penting untuk keberhasilan program pengendalian hipertensi.

Program manajemen hipertensi RTLS juga merangkum beberapa tantangan dalam pengendalian hipertensi yang telah diidentifikasi, yang sebagian besar terkait dengan keterbatasan dalam sistem pelayanan kesehatan yang terkait dengan perilaku pasien. Pelayanan yang sesuai dengan protokol standar yang harus segera dimulai setelah didiagnosis sebagai pasien hipertensi, serta praktik medis dan sistem kesehatan harus memantau kemajuan pasien dan kinerja sistem Kesehatan dengan cermat.

Perbaikan dalam manajemen dan pengendalian hipertensi, bersama dengan mengurangi lemak trans buatan dan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung natrium yang akan meningkatkan banyak aspek di pelayanan primer, yang dapat berkontribusi pada tujuan untuk menuju cakupan kesehatan semesta. Implementasi program ini di klaim dapat menyelamatkan 100 juta nyawa di seluruh dunia selama 30 tahun ke depan.

Berikut lima komponen yang diperlukan untuk keberhasilan program pengendalian hipertensi seperti yang telah direkomendasikan oleh WHO, CDC UG, RTSL, dan mitra dalam paket teknis HEARTS untuk pengobatan hipertensi dalam pelayanan primer adalah 1) Protokol khusus obat dan dosis; 2) Obat-obatan yang terjamin kualitasnya dan kontrol tekanan darah; 3) Perawatan berbasis tim; 4) Perawatan yang berpusat pada pasien; dan 5) Sistem informasi untuk memungkinkan peningkatan kualitas.

Baca dokumen lengkap: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1111/jch.13655 

Sumber: Frieden, T, R., et al. 2019. Scaling up effective treatment of hypertension—A pathfinder for universal health coverage. The jurnal of clinical hypertension.21:1442 1449. https://doi.org/10.1111/jch.13655.