Hari Kesehatan Nasional pada tanggal 6 November 2025 bertema “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat” memiliki makna pentingnya menjaga kesehatan dimulai dari individu dimulai dari lingkup yang paling kecil. Dengan menjaga diri, baik secara fisik, mental, maupun sosial, setiap warga negara berkontribusi memperkuat ketahanan dan kemajuan Indonesia, mewujudkan Indonesia Hebat.
Kesehatan masyarakat menjadi dasar dari kuatnya kemajuan sudatu negara. Hal ini tidak terlepas dari peran pemangku kebijakan untuk mendukung program kesehatan. Salah satu kelompok yang memerlukan dukungan penuh agar dapat meningkatkan kesehatannya secara optimal adalah anak dan remaja. Anak dan remaja yang sehat akan menghadilkan orang dewasa yang juga sehat, bukan hanya secara fisik, namun juga mental.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh McGovern, et al. (2022), menunjukkan sekitar separuh dari seluruh gangguan kesehatan mental pada orang dewasa sebenarnya mulai muncul sebelum usia 14 tahun, dan tiga perempatnya muncul sebelum usia 24 tahun. Anak-anak yang mengalami masalah kesehatan mental sejak dini juga cenderung memiliki berbagai dampak negatif, seperti meningkatnya risiko penyalahgunaan zat, keterlibatan dalam perilaku melanggar hukum, kesulitan dalam hubungan sosial dengan keluarga maupun teman, menurunnya peluang pendidikan, serta risiko kehamilan dan menjadi orang tua di usia muda. Selain itu, anak-anak dengan gangguan mental berisiko besar mengalami masalah serupa secara berkelanjutan hingga dewasa, yang kemudian berdampak pada kesulitan ekonomi di masa depan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kasus gangguan kesehatan mental pada remaja terus meningkat, ditambah lagi dengan melonjaknya angka depresi dan kecemasan setelah pandemi COVID-19. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius dari perspektif kesehatan masyarakat. Walaupun jumlah intervensi berbasis bukti ilmiah untuk menangani masalah kesehatan mental pada anak dan remaja terus bertambah, akses terhadap layanan ini masih terbatas. Banyak remaja yang membutuhkan bantuan justru menghadapi waktu tunggu yang panjang sebelum mendapatkan penanganan.
Bukti ilmiah yang kuat menunjukkan bahwa pencegahan primer memiliki peran penting dalam mengurangi risiko gangguan kesehatan mental. Intervensi jenis ini biasanya diterapkan secara universal kepada seluruh anak dan remaja, dengan tujuan memperkuat kesehatan mental positif serta mencegah timbulnya gangguan psikologis. Namun, anak-anak yang memiliki risiko lebih tinggi tampaknya memerlukan pendekatan yang lebih spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Sejumlah tinjauan sistematis juga telah meneliti efektivitas berbagai bentuk intervensi pencegahan sekunder untuk kesehatan mental anak dan remaja, guna menekan risiko berkembangnya gangguan yang lebih berat di kemudian hari.
Intervensi preventif yang dinilai efektif menurut penelitian McGovern, et al. (2022), yakni:
- Program berbasis sekolah atau komunitas untuk meningkatkan resilience (ketahanan psikososial) dan mengurangi faktor risiko seperti bully, konflik keluarga, dan stres.
- Intervensi keluarga/sistem keluarga (family-based) termasuk konseling, dukungan parental, pelatihan keterampilan parenting sehingga mengurangi dampak adversitas.
- Program untuk individu yang sudah menunjukkan tanda-tanda awal (misalnya gejala internalising atau externalising) agar tidak berkembang menjadi gangguan penuh.
- Strategi kombinasi antara pengurangan faktor risiko (risk reduction) dan peningkatan faktor protektif (resilience/enhancement) dianggap paling efektif.
Dalam pelaksanaannya, intervensi di atas dilakukan berdasarkan 3 kategori, yakni
- Intervensi Selektif
Intervensi yang ditargetkan kepada kelompok/individu yang berisiko tinggi tapi belum
menunjukkan gangguan penuh. Contoh: anak remaja yang memiliki riwayat kekerasan rumah tangga, atau tinggal di lingkungan sosial dengan banyak faktor stres. Dalam penelitian ini, program berbasis komunitas atau sekolah untuk kelompok seperti itu termasuk dalam kategori selektif. - Interevensi yang Diindikasikan
Intervensi yang ditujukan kepada individu yang sudah menunjukkan gejala ringan/awal dari gangguan psikologis (misalnya gejala depresi ringan, kecemasan, perilaku eksternalising) tapi belum memenuhi kriteria penuh penyakit. Contoh dari penelitian ini: program individu atau keluarga yang menangani anak dengan gejala internalising/externalising untuk mencegah progres ke gangguan penuh. - Intervensi Sekunder Kombinasi
Intervensi yang mencakup elemen pencegahan sekunder (deteksi awal + intervensi cepat) dengan kombinasi komponen risk reduction dan resilience building. Dalam penelitian ini disebut bahwa intervensi paling efektif adalah yang menggabungkan kedua pendekatan: mengurangi faktor risiko sekaligus memperkuat proteksi (resilience) bagi anak/keluarga yang sudah berada di lingkungan dengan banyak stres atau sudah menunjukkan gejala awal.
Interventions to prevent mental health problems in young people are more likely to be effective if they combine both risk reduction and resilience enhancing approaches to targeting younger children and young people who have experience adversity and/or those with subclinical externalising and internalising difficulties. Interventions may include both individual and family level interventions components.
Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11271346/
The year 2024 was the hottest on record, continuing a decade-long trend of unprecedented global temperatures. All of the past ten years now rank among the hottest ever recorded. January 2025 has already set a new record as the warmest January, signaling another year of escalating global temperatures.
One in six laboratory-confirmed bacterial infections causing common infections in people worldwide in 2023 were resistant to antibiotic treatments, according to a new World Health Organization (WHO) report launched today. Between 2018 and 2023, antibiotic resistance rose in over 40% of the pathogen-antibiotic combinations monitored, with an average annual increase of 5–15%.
More than 120 people have fallen ill in Russia’s Siberian republic of Buryatia following a mass food poisoning outbreak linked to ready-made meals sold in a regional supermarket chain, local health officials told media.
The Indonesian government has suspended 112 nutrition fulfillment service units (SPPGs), or kitchens for the Free Nutritious Meals (MBG) program, for failing to meet safety standards set by the National Nutrition Agency (BGN).
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D. (PKMK FK-KMK UGM) membuka sesi dengan membuka diskusi terhadap praktik bedah. Beliau menyoroti bahwa variasi lama rawat Inap (LOS) yang lebar dalam prosedur seperti operasi kolon menunjukkan ruang perbaikan yang besar di Indonesia.
Eva Reinander dan dr. Winner, MARS, MMedSc.,MSc (Encare, ERAS® Society) menegaskan bahwa prinsip utama ERAS adalah menjadikan kualitas berbasis praktik terbaik (evidence-based best practice) sebagai motor efisiensi. ERAS merupakan langkah niat untuk membuat efisiensi dengan mengurangi tradisi yang tidak lagi menguntungkan pasien. Eva menjelaskan bahwa untuk mencapai efisiensi dan cost saving yang tinggi seperti yang telah terbukti di Amerika Selatan, Korea Selatan, dan Australia diperlukan sistem audit yang ketat (seperti EIAS) untuk memastikan kepatuhan yang konsisten. Kehadiran teknologi audit inilah yang mengatasi tantangan terbesar dalam implementasi: compliance decay atau penurunan kepatuhan seiring waktu.
Dr. dr. Birowo, SpAn(K) (Departemen Anestesiologi) membahas implementasi ERAS sebagai tantangan untuk mengubah budaya dan doktrin tradisional dalam pelayanan bedah. Beliau menjelaskan bahwa ERAS adalah usaha untuk memodifikasi respons stres fisiologis dan psikologis terhadap operasi besar melalui pendekatan multimodal. Protokol Anestesi ERAS yaitu:
Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA (Spesialis Mutu Pelayanan) menyoroti pentingnya ERAS dari sudut pandang mutu dan kebijakan. Terkait mutu dan biaya, Dr. Hanevi menekankan bahwa mutu yang baik tidak selalu harus mahal. ERAS membuktikan bahwa kualitas didasarkan pada praktik terbaik (best practice) yang terbukti ilmiah, yang secara otomatis membawa efisiensi. Kemudian soal tantangan kepatuhan terdapat hambatan terbesar dalam implementasi ERAS di Indonesia adalah budaya organisasi dan masalah kepatuhan yang tidak konsisten (compliance decay). Terakhir, kaitannya dengan strategi penguatan mutu, dalam rangka mengatasi hambatan budaya dan memastikan keberlanjutan mutu, manajemen harus menggunakan data audit yang transparan (misalnya dari sistem EIAS) sebagai alat umpan balik untuk membangun akuntabilitas dan kolaborasi lintas disiplin. ERAS adalah inisiatif yang sangat sejalan dengan tuntutan JKN menuju pelayanan kesehatan berbasis nilai (value-based healthcare).
Dr. dr. Darwito, SpB Onk (K) (Direktur RSA UGM) memaparkan bagaimana manajemen menerjemahkan ERAS sebagai alat untuk efisiensi dan kualitas: