Hari Kesehatan Sedunia 2026: Wujudkan Kesehatan Global Melalui Pendekatan One Health

Hari Kesehatan Sedunia 2026: Wujudkan Kesehatan Global Melalui Pendekatan One Health

Setiap 7 April diperingati sebagai Hari Kesehatan Sedunia atau World Health Day 2026. Tanggal ini menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya kesehatan di seluruh dunia. Berdasarkan WHO, tema tahun 2026 yakni, “Together for health. Stand with science” menjadi seruan bagi masyarakat global untuk tidak hanya melindungi kesehatan manusia tetapi juga hewan, tumbuhan, dan lingkungan sekitar. Selain itu, tema ini juga menyoroti pentingnya kekuatan kolaborasi ilmiah dalam menjawab tantangan kesehatan global secara tepat dan akurat.

Salah satu fokus utama dalam peringatan tahun 2026 adalah pendekatan One Health. Pendekatan One Health menekankan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan, tumbuhan, dan ekosistem. Hal tersebut memiliki arti bahwa segala aspek kehidupan di bumi saling terhubung dan saling mempengaruhi. Pendekatan ini menjadi semakin relevan sejak meningkatnya variasi beberapa ancaman kesehatan seperti penyakit infeksi baru, resistensi antimikroba, isu keamanan pangan, dan perubahan lingkungan.

Melalui pendekatan One Health, berbagai sektor lain dari lingkungan hingga pertanian didukung untuk bekerja sama secara lintas disiplin. Kolaborasi lintas sektor ditekankan karena dapat membuka upaya penanganan kesehatan yang lebih komprehensif mulai dari pencegahan, deteksi dini, kesiapsiagaan, hingga respons dan pengelolaan masalah kesehatan. Pendekatan tersebut tidak hanya memperkuat sistem kesehatan tetapi juga dapat berkontribusi pada ketahanan kesehatan global secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, Hari Kesehatan Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa solusi tantangan kesehatan tidak dapat dicapai secara individual. Kolaborasi, kepercayaan, dan komitmen bersama dibutuhkan untuk mendukung kebijakan dan tindakan berbasis bukti ilmiah. Melalui kampanye ini, masyarakat global juga diajak untuk lebih aktif terlibat dengan bijak menggunakan dan memilah informasi kesehatan berbasis bukti dalam kehidupan sehari-hari. Kampanye ini juga mendorong upaya bersama untuk membangun kembali kepercayaan terhadap bukti berbasis ilmiah yang menjadi fondasi penting dalam menghadapi berbagai krisis kesehatan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://www.who.int/news-room/events/detail/2026/04/07/default-calendar/world-health-day-2026-together-for-health-stand-with-science 
https://www.who.int/health-topics/one-health#tab=tab_1 

 

 

Hari Autis Sedunia 2026: Momentum untuk Mendorong Pemberdayaan Individu Autisme

Hari Autis Sedunia 2026: Momentum untuk Mendorong Pemberdayaan Individu Autisme

World Autism Awareness Day (WAAD) atau hari autis sedunia diperingati setiap 2 April sejak ditetapkan oleh United Nations General Assembly pada 2007. Momentum ini menjadi pengingat terhadap pentingnya pemenuhan hak asasi manusia dan kebebasan dasar bagi individu autis secara global. Peringatan ini sekaligus juga bertujuan untuk memastikan pemberdayaan partisipasi individu autis secara produktif dan mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perjalanannya, upaya ini semakin kuat berkat kontribusi para advokator autis yang membawa pengalaman nyata ke dalam diskusi global. Sejak diperingati secara rutin, dunia mulai mengakui bahwa individu autis bukan hanya sekadar menjadi bagian dari masyarakat melainkan berperan sebagai kontributor penting yang membawa perspektif baru, kreatif, dan inovatif.

Resolusi awal peringatan WAAD tidak hanya menekankan pentingnya peningkatan kesadaran tentang autisme tetapi juga mengarah pada acceptance (penerimaan), appreciation (apresiasi), dan inclusion (inklusi). Pada 2026, peringatan WAAD mengusung tema “Autism and Humanity – Every Life Has Value.” Tema ini menegaskan bahwa setiap individu autis memiliki martabat dan nilai yang setara sebagai bagian dari masa depan kehidupan. Dalam maraknya misinformasi dan narasi yang keliru tentang autisme, peringatan tahun ini menjadi seruan untuk bergerak melampaui stigma dan membangun pemahaman yang lebih inklusif dan manusiawi.

Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), pendekatan yang mengedepankan “neurodiversity” atau keberagaman fungsi neurologis manusia dipandang sebagai kunci dalam menciptakan masyarakat yang adil dan berkelanjutan. Melalui prinsip ini, masyarakat dapat memperkuat inovasi, ketahanan, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Diskusi global WAAD juga menyoroti peran neurodiversity dalam berbagai sektor penting, mulai dari kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, serta pembangunan ekonomi dan institusi lintas sektor yang kuat.

Penyelenggaraan WAAD 2026 didukung oleh Institute of Neurodiversity (ION) bersama United Nations Department of Global Communications. Sebagai organisasi global yang dipimpin oleh komunitas neuro minoritas, ION berperan aktif dalam mendorong perubahan di berbagai sektor seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan keadilan. Melalui jaringan di lebih dari 100 negara, ION menghubungkan ribuan individu, profesional, dan institusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan berorientasi pada seluruh masyarakat termasuk individu autis.

Melalui peringatan ini, seluruh masyarakat global didorong untuk melihat autisme bukan sebagai keterbatasan melainkan sebagai bagian dari keberagaman manusia yang memperkaya kehidupan bersama. Hari Autisme Sedunia 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa setiap kehidupan individu autisme memiliki nilai dan layak dihargai. Selain itu, setiap individu autisme juga berhak untuk tumbuh, berkembang, serta berdaya untuk berkontribusi secara optimal dalam masyarakat.

 

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://www.un.org/en/observances/autism-day

 

Deteksi Dini Tuberkulosis: Kunci Pemutus Rantai Penularan dan Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan

tuberculosis

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang signifikan dengan jutaan kasus baru setiap tahunnya. Review Yayan et al. (2024) menemukan bahwa celah terbesar dalam pengendalian TB bukan hanya pada pengobatan melainkan pada keterlambatan deteksi dini. Proses deteksi dini sebenarnya tidak hanya sekadar menemukan pasien saat sudah sakit berat tetapi juga mengidentifikasi infeksi laten hingga gejala awal yang sering kali ringan dan tidak spesifik (seperti batuk berkepanjangan, demam, atau penurunan berat badan). Pendekatan ini terbukti krusial untuk mencegah progresivitas penyakit sekaligus menekan penularan.

Saat ini, berbagai metode deteksi dini terus berkembang pesat. Selain metode konvensional seperti pemeriksaan dahak, kini tersedia teknologi diagnostik molekuler seperti Nucleic Acid Amplification Tests (NAATs) dan Xpert MTB/RIF yang mampu mendeteksi bakteri TB dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Inovasi lain seperti penggunaan kecerdasan buatan pada foto rontgen dada juga menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kecepatan dan akurasi diagnosis. Selain itu, metode berbasis imunologi seperti Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) serta ELISA ultra-sensitif mampu mendeteksi infeksi secara lebih dini dengan waktu pemeriksaan yang jauh lebih cepat .

Selain teknologi, deteksi dini berbasis pendekatan komunitas juga memiliki peran penting. Skrining kontak serumah pasien TB terbukti efektif dalam menemukan kasus aktif maupun infeksi laten yang sebelumnya tidak terdeteksi. Edukasi kesehatan yang komprehensif kepada keluarga pasien meningkatkan kesadaran, kepatuhan terhadap pemeriksaan, serta keberhasilan pengobatan. Selain itu, strategi active case finding menggunakan mobile X-ray memungkinkan tenaga kesehatan menjangkau populasi rentan di daerah terpencil atau padat penduduk sehingga mempercepat identifikasi kasus dan memulai terapi lebih awal.

Namun, implementasi deteksi dini masih menghadapi berbagai tantangan terutama di negara berkembang. Keterbatasan akses terhadap fasilitas diagnostik, biaya pemeriksaan yang relatif tinggi, dan stigma sosial menjadi hambatan utama. Selain itu, variasi metode dan kualitas penelitian menunjukkan perlunya standarisasi protokol serta pengembangan teknologi yang lebih terjangkau dan mudah diakses. Tanpa mengatasi hambatan ini, potensi besar dari inovasi deteksi dini tidak akan optimal dalam praktik lapangan.

Bagi praktisi kesehatan, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam diagnosis TB mulai dari mengkombinasikan gejala klinis, skrining aktif, serta teknologi diagnostik terbaru. Sementara itu, investasi pada alat diagnostik modern, penguatan sistem rujukan, serta integrasi teknologi seperti AI menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu layanan bagi manajemen rumah sakit. Penguatan program edukasi pasien dan keluarga serta kolaborasi lintas sektor juga dapat membantu menciptakan efektivitas sistem deteksi dini yang efisien dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, deteksi dini sejatinya tidak hanya sekadar menjadi strategi klinis tetapi juga investasi penting dalam keselamatan pasien dan pengendalian penyakit secara menyeluruh.

 

Disarikan oleh: 

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://link.springer.com/article/10.1186/s41479-024-00133-z

 

Clinical Pathways: Menyatukan Standar, Menguatkan Mutu

clinical

Dalam sistem pelayanan kesehatan modern, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara biaya pelayanan dan kualitas perawatan. Rumah sakit dituntut memberikan layanan yang efektif, efisien, dan berbasis bukti ilmiah. Salah satu pendekatan yang berkembang untuk menjawab tantangan ini adalah penggunaan clinical pathway atau jalur klinis.

Clinical pathway adalah rencana perawatan multidisiplin yang merinci urutan dan waktu intervensi medis untuk diagnosis atau prosedur tertentu. Jalur ini disusun secara kolaboratif oleh dokter, perawat, apoteker, fisioterapis, manajer kasus, dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuannya adalah meningkatkan mutu pelayanan pasien sekaligus mengendalikan biaya.

Penggunaan clinical pathway telah berkembang pesat di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Namun, di Asia, penerapannya masih terbatas dan belum banyak dipublikasikan. Artikel ini menjelaskan pengalaman pengembangan dan implementasi program clinical pathway di sebuah rumah sakit umum akut di Singapura, dengan contoh kasus infark miokard akut tanpa komplikasi.

Apa Itu Clinical Pathway?

Secara sederhana, clinical pathway adalah panduan perawatan terstruktur yang:

  • Menentukan intervensi utama yang harus dilakukan selama perawatan di rumah sakit
  • Mengatur koordinasi antarprofesi kesehatan
  • Menetapkan target hasil klinis yang diharapkan
  • Mengurangi variasi praktik yang tidak perlu

Berbeda dengan pedoman klinis umum, clinical pathway bersifat operasional dan digunakan langsung dalam praktik sehari-hari. Dokumen ini tidak kaku, melainkan fleksibel dan memungkinkan penyesuaian sesuai kondisi pasien.

Tujuan Penerapan Clinical Pathway

Beberapa tujuan utama penerapan clinical pathway antara lain:

  1. Menentukan praktik terbaik ketika terdapat variasi yang tidak perlu dalam pelayanan.
  2. Menetapkan standar lama rawat dan penggunaan pemeriksaan atau prosedur.
  3. Mengoptimalkan koordinasi antar tahap pelayanan.
  4. Menyatukan tujuan tim multidisiplin.
  5. Mengumpulkan dan menganalisis data penyimpangan dari rencana perawatan.
  6. Mengurangi beban dokumentasi yang berlebihan.
  7. Meningkatkan kepuasan pasien melalui komunikasi yang lebih jelas.

Dengan demikian, clinical pathway berfungsi tidak hanya sebagai panduan klinis, tetapi juga sebagai alat audit mutu.

Tantangan Implementasi

Beberapa hambatan yang muncul antara lain:

  • Kurangnya dukungan awal dari sebagian dokter.
  • Kekhawatiran perawat terhadap beban dokumentasi tambahan.
  • Rotasi dokter muda yang sering berganti.
  • Keterbatasan sistem informasi untuk analisis data.

Solusi yang dilakukan meliputi edukasi intensif, komunikasi terbuka, penyederhanaan dokumentasi, dan penggunaan sistem database sederhana untuk pencatatan variasi.

Efektivitas dan Isu Biaya

Hingga kini, bukti ilmiah tentang efektivitas clinical pathway masih beragam. Beberapa studi menunjukkan penurunan lama rawat dan biaya tanpa menurunkan mutu, sementara penelitian lain tidak menemukan perbedaan signifikan.

Salah satu tantangan utama adalah sulitnya melakukan uji klinis acak dalam konteks operasional rumah sakit. Selain itu, pengurangan biaya rawat inap bisa saja hanya memindahkan beban biaya ke layanan rawat jalan.

Kesimpulan

Clinical pathway merupakan alat manajemen klinis yang menjanjikan dalam meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan kesehatan. Dengan pendekatan multidisiplin dan berbasis bukti, jalur klinis membantu mengurangi variasi yang tidak perlu serta meningkatkan koordinasi perawatan. Meskipun masih terdapat perdebatan mengenai efektivitas dan dampaknya terhadap biaya, clinical pathway tetap menjadi strategi penting dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan di era modern.

Info pelatihan: Eva Tirtabayu Hasri (0823-2433-2525)

 

 

Memahami ICD-10-CM sebagai Pilar Sistem Informasi Kesehatan Modern

ICD-10 (International Classification of Diseases, 10th Revision) diadopsi oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 1990 sebagai sistem klasifikasi penyakit internasional. Sejumlah negara, seperti Australia pada 1998 dan Kanada pada 2001, lebih dahulu menerapkannya. Di Amerika Serikat, ICD-10 mulai digunakan untuk pencatatan kematian (mortalitas) sejak 1999. Namun, untuk pencatatan penyakit dan kondisi klinis (morbiditas), negara tersebut masih menggunakan ICD-9-CM hingga tahun 2014.

Sejak 1994, National Center for Health Statistics (NCHS) mengembangkan versi modifikasi klinis yang dikenal sebagai ICD-10-CM agar sesuai dengan kebutuhan sistem pelayanan kesehatan di Amerika Serikat. Aturan final penerapan ICD-10-CM diterbitkan pada 16 Januari 2009 sebagai bagian dari kebijakan Health Insurance Portability and Accountability Act (HIPAA). Implementasi wajib dimulai pada 1 Oktober 2014.

Peran ICD-10-CM dalam Pelayanan Kesehatan Berbasis Data

Dalam sistem kesehatan modern yang semakin bergantung pada data, ketepatan pencatatan diagnosis menjadi sangat penting. Informasi diagnosis tidak hanya digunakan untuk kepentingan klinis, tetapi juga untuk penagihan biaya layanan, klaim asuransi, evaluasi mutu pelayanan, hingga perumusan kebijakan kesehatan.

ICD-10-CM hadir sebagai sistem pengodean diagnosis yang lebih rinci dibandingkan versi sebelumnya. Tingkat detail yang lebih tinggi memungkinkan tenaga kesehatan mendokumentasikan kondisi pasien secara lebih spesifik dan akurat.

Hasil studi dari AHIMA Foundation menunjukkan bahwa setelah penerapan ICD-10-CM, terjadi peningkatan akurasi dalam pengodean klinis. Dari lebih dari 30.000 rekam medis yang dianalisis, sekitar 38% responden melaporkan adanya perubahan dalam akurasi pengodean, dan sebagian menyatakan peningkatan yang signifikan. Temuan ini memperkuat bahwa sistem kode yang lebih detail berkontribusi pada dokumentasi medis yang lebih presisi.

Manfaat Implementasi ICD-10-CM

Penerapan ICD-10-CM memberikan berbagai dampak positif bagi sistem kesehatan. Berikut beberapa manfaat utamanya:

  1. Meningkatkan Kualitas Data
    Kode yang lebih spesifik menghasilkan data yang lebih akurat untuk menilai mutu, keselamatan, dan efektivitas pelayanan kesehatan.
  2. Memperbaiki Proses Reimbursement
    Spesifisitas diagnosis membantu proses klaim dan pembayaran menjadi lebih tepat, sehingga fasilitas kesehatan menerima kompensasi sesuai dengan kompleksitas layanan yang diberikan.
  3. Mendukung Penelitian dan Epidemiologi
    Klasifikasi yang lebih rinci memungkinkan analisis tren penyakit, penelitian epidemiologi, dan uji klinis dilakukan dengan data yang lebih valid dan terstruktur.
  4. Menjadi Dasar Perumusan Kebijakan
    Data yang detail membantu pemerintah dan institusi kesehatan memahami pola penyakit serta merencanakan intervensi yang tepat bagi masyarakat.
  5. Mendukung Perencanaan Strategis
    Informasi yang komprehensif membantu perencanaan operasional dan pengembangan sistem pelayanan kesehatan yang lebih efisien.
  6. Memantau Pemanfaatan Sumber Daya
    ICD-10-CM memungkinkan evaluasi penggunaan sumber daya medis sehingga distribusinya dapat dioptimalkan.
  7. Meningkatkan Kinerja Organisasi
    Detail kode berkontribusi pada peningkatan kinerja klinis, administratif, dan keuangan di fasilitas pelayanan kesehatan.
  8. Mendeteksi Kecurangan dan Penyalahgunaan
    Spesifisitas kode membantu mengidentifikasi ketidaksesuaian dalam pelaporan, sehingga mendukung pencegahan fraud dalam sistem pembiayaan kesehatan.
  9. Mendukung Surveilans Kesehatan Masyarakat
    ICD-10-CM berperan penting dalam memantau tren kesehatan dan mendeteksi kejadian luar biasa atau wabah penyakit secara lebih cepat.

Kesimpulan

ICD-10-CM bukan sekadar sistem pengodean administratif, melainkan bagian penting dari infrastruktur informasi kesehatan modern. Sistem ini mendukung peningkatan kualitas pelayanan, efisiensi pembiayaan, serta pengembangan ilmu kedokteran berbasis data.

Di tengah transformasi digital sektor kesehatan, pemahaman terhadap ICD-10-CM menjadi kompetensi yang penting bagi tenaga kesehatan, pengelola fasilitas layanan kesehatan, peneliti, dan pembuat kebijakan. Dengan dokumentasi yang lebih akurat, sistem kesehatan dapat bekerja lebih efektif, transparan, dan berbasis bukti ilmiah.

Informasi pelatihan: 0823-2433-2525 (Eva Tirtabayu Hasri)

 

 

Dampak Transformasi Infrastruktur Rumah Sakit bagi Tenaga Kesehatan dan Pasien

Perubahan infrastruktur rumah sakit sering dipandang sebagai simbol kemajuan pelayanan kesehatan. Namun, studi Pomare et. al (2022) yang dilakukan di rumah sakit publik di Sydney, Australia, menunjukkan bahwa proses pindah ke gedung rumah sakit baru bukanlah perjalanan yang sepenuhnya mulus. Penelitian ini menelaah pengalaman staf dan pasien sebelum dan setelah pembukaan gedung rumah sakit baru sebagai bagian dari proyek pengembangan berskala besar dengan menyoroti dinamika perubahan organisasi, kesiapan staf, serta dampaknya terhadap pengalaman pasien.

Melalui survei staf dan pasien, wawancara mendalam, dan analisis data rumah sakit selama dua tahun, peneliti menemukan bahwa masa transisi ditandai oleh ketidakpastian yang tinggi di kalangan staf. Banyak staf merasa kurang mendapatkan informasi yang jelas, menghadapi perubahan rencana yang dinamis, serta harus beradaptasi dengan alur kerja dan tata ruang baru dalam waktu singkat. Menariknya, meskipun persepsi staf terhadap perubahan organisasi justru menurun setelah gedung baru dibuka, kepercayaan diri mereka dalam kemampuan menghadapi perubahan meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan adanya proses adaptasi dan ketahanan (resilience) staf dalam menghadapi tekanan perubahan besar.

Dalam sisi pasien, pengalaman yang dirasakan bersifat paradoks. Fasilitas baru dipandang lebih nyaman, modern, dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan perawatan. Namun di sisi lain, skor kepuasan pasien menurun secara signifikan sesaat setelah pembukaan gedung baru. Penurunan ini berkaitan dengan meningkatnya waktu tunggu, alur layanan yang membingungkan, serta persepsi bahwa staf tampak kelelahan dan kurang sumber daya. Kabar baiknya, kepuasan pasien kembali membaik seiring meningkatnya adaptasi staf dan stabilisasi sistem kerja beberapa bulan setelah operasional berjalan.

Studi ini memberikan pesan penting bagi praktisi kesehatan bahwa perubahan fisik rumah sakit tidak bisa dipisahkan dari kesiapan sumber daya manusia. Komunikasi yang terbuka, konsisten, dan melibatkan staf garis depan sejak tahap desain hingga operasional terbukti berperan besar dalam memperlancar transisi. Selain itu, kecukupan staf dan pelatihan adaptif menjadi kunci agar kualitas asuhan pasien tetap terjaga selama masa perubahan.

Temuan ini juga menegaskan bahwa investasi infrastruktur perlu diiringi dengan perencanaan operasional yang realistis. Perubahan tata ruang diketahui berdampak pada jarak tempuh, waktu kerja, dan beban staf, sehingga perlu diperhitungkan dalam penentuan rasio staf, alur logistik, dan model pelayanan. Melalui pendekatan yang lebih berpusat baik pada staf maupun pasien, transformasi rumah sakit diharapkan tidak hanya akan menghasilkan gedung baru tetapi juga sistem pelayanan yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0272251 

 

Rantai Dingin: Kunci Agar Obat Tetap Aman dan Berkhasiat

Rantai dingin adalah suatu sistem terintegrasi yang dirancang untuk menjamin kestabilan suhu produk farmasi sejak proses produksi hingga produk tersebut diterima dan digunakan oleh pasien. Sistem ini memiliki peran yang sangat penting, khususnya bagi produk yang sensitif terhadap perubahan suhu seperti vaksin, insulin, produk biologis, sediaan injeksi tertentu, serta bahan pemeriksaan laboratorium.

Secara ilmiah, tidak semua obat memiliki stabilitas yang baik pada suhu ekstrem. Banyak vaksin, misalnya, harus disimpan dalam rentang suhu 2–8°C untuk mempertahankan potensi dan efektivitasnya. Paparan suhu di luar batas tersebut dapat menyebabkan degradasi zat aktif tanpa disertai perubahan fisik yang terlihat. Akibatnya, efektivitas obat dapat menurun, terapi menjadi tidak optimal, bahkan berpotensi membahayakan pasien. Selain risiko klinis, produk yang mengalami kerusakan juga harus dimusnahkan sehingga menimbulkan kerugian ekonomi. Dalam konteks vaksinasi, kegagalan menjaga suhu penyimpanan dapat berdampak pada tidak tercapainya target imunisasi serta menurunnya kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan.

Agar sistem rantai dingin berfungsi secara optimal, diperlukan pengelolaan yang terstandar. Penyimpanan harus menggunakan peralatan khusus seperti lemari es farmasi atau ruang pendingin dengan pemantauan suhu secara kontinu. Selama distribusi, produk perlu diangkut menggunakan sarana berpendingin atau wadah terisolasi sesuai standar. Pemantauan suhu dilakukan dengan alat ukur yang terkalibrasi, seperti termometer digital atau data logger, untuk mendeteksi secara dini setiap penyimpangan. Selain itu, sumber daya manusia yang terlibat harus memahami prosedur operasional, termasuk penanganan ketika terjadi deviasi suhu.

Dalam praktiknya, implementasi rantai dingin kerap menghadapi kendala, antara lain gangguan pasokan listrik, keterbatasan fasilitas di wilayah terpencil, kurangnya pelatihan petugas, serta sistem dokumentasi yang belum optimal. Oleh karena itu, pengelolaan rantai dingin memerlukan komitmen yang kuat, pengawasan berkelanjutan, dan tanggung jawab profesional guna menjamin mutu serta keselamatan produk farmasi yang diberikan kepada masyarakat.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang topik ini bisa mengikuti pelatihan pada link berikut klik disini

Infografis farmasi

 

Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien

Kerangka Pikir

Pelayanan kesehatan yang bermutu dan aman bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan wajib menyelenggarakan pelayanan yang bermutu serta mengutamakan keselamatan pasien. Pasal 176 dalam UU 17 Tahun 2023 sangat tegas menyampaikan bahwa (1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib menerapkan standar keselamatan Pasien. (2) Standar keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui identifikasi dan pengelolaan risiko, analisis dan pelaporan, serta pemecahan masalah dalam mencegah dan menangani dan pada pasal 178 menyatakan bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara internal dilakukan melalui: a. pengukuran dan pelaporan indikator mutu; b. pelaporan insiden keselamatan Pasien; dan c. manajemen risiko.

Ketentuan ini diperkuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 yang menegaskan bahwa peningkatan mutu dilakukan melalui pengukuran indikator mutu, pelaporan insiden keselamatan pasien, dan manajemen risiko (Pasal 885 (ayat 2). Sebagai implementasinya, rumah sakit wajib menjalankan Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) secara sistematis, terintegrasi, dan berkesinambungan sesuai standar akreditasi rumah sakit terbaru.

Seperti Apa Pengelolaan Program PMKP dan Manajemen Risiko?

Pelaksanaan PMKP dimulai dari komitmen pimpinan dan pembentukan Komite Mutu yang terintegrasi dengan komite-komite lain seperti Komite Medis, Keperawatan, PPI, K3RS, PPRA, dan lainnya. Struktur ini memastikan tidak terjadi tumpang tindih program serta memperkuat koordinasi lintas unit.

Bagaimana Melakukan Pemilihan dan Pengumpulan Indikator Mutu?

Indikator mutu menjadi instrumen utama dalam mengukur kualitas layanan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2022, Indikator Nasional Mutu (INM) antara lain:

  1. Kepatuhan kebersihan tangan
  2. Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
  3. Kepatuhan identifikasi pasien\
  4. Waktu tanggap seksio sesarea emergency
  5. Waktu tunggu rawat jalan
  6. Penundaan operasi elektif
  7. Kepatuhan waktu visite dokter penaggung jawab pelayanan
  8. Pelaporan hasil kritis laboratorium
  9. Kepatuhan penggunaan formularium nasional
  10. Kepatuhan terhadap clinical pathway
  11. Kepatuhan upaya penegahan risiko pasien jatuh
  12. Kecepatan waktu tanggap terhadap komplain
  13. Kepuasan pasien dan keluarga

Selain INM, rumah sakit menetapkan indicator mutu prioritas Rumah Sakit

  1. Indikator Sasaran Keselamatan Pasien (minimal 1 untuk tiap sasaran)
  2. Indikator Pelayanan Klinis Prioritas (minimal 1)
  3. Indikator Tujuan Strategis RS – KPI (minimal 1)
  4. Indikator Perbaikan Sistem (minimal 1)
  5. Indikator Manajemen Risiko (minimal 1)
  6. Indikator Penelitian Klinis & Program Pendidikan Kedokteran (minimal 1, apabila ada)

Selain indikator prioritas RS, maka RS juga melakukan pengukuran Indikator prioriotas unit

  1. Dipilih kepala unit (minimal 1) sesuai Tupoksi unit dan dijadikan prioritas untuk tahun itu
  2. Sebisa mungkin disesuaikan yang dapat mendukung tercapainya indikator mutu prioritas RS
Bagaiman Cara Melakukan Analisis, Validasi, dan Pelaporan Data

Data yang dikumpulkan dianalisis dengan cara:

  1. Membandingkan Trend RS sendiri dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun
  2. Membandingkan Dengan RS sejenis (seperti melalui database)
  3. Membandingkan Membandingkan Dengan standar yang ada (seperti dari badan akreditasi, organisasi professional, ditentukan regulasi)
  4. Dengan best practice (praktik terbaik) atau practice guidelines (panduan praktik klinik)
Sistem Pelaporan dan Pembelajaran Insiden Keselamatan Pasien

Keselamatan pasien merupakan sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman melalui identifikasi risiko, analisis insiden, serta implementasi solusi perbaikan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017, insiden keselamatan pasien dikategorikan menjadi:

  • Kejadian tidak diharapkan (KTD) adalah insiden keselamatan pasien yang menyebabkan cedera pada pasien.
  • Kejadian tidak cedera (KTC) adalah insiden keselamatan pasien yang sudah terpapar pada pasien namun tidak menyebabkan cedera.
  • Kejadian nyaris cedera (KNC) adanya insiden keselamatan pasien yang belum terpapar pada pasien.
  • Kondisi potensial cedera signifikan (KPCS) adalah suatu kondisi yang berpotensi menyebabkan terjadinya kejadian tidak diharapkan (KTD)
  • Kejadian Sentinel* adalah suatu kejadian yang terjadi pada pasien dan menyebabkan: kematian; cedera permanen; atau cedera berat yang bersifat sementara/reversible.

Analisis data IKP dilakukan setiap 3 bulan untuk memantau tren dan variasi yang tidak diinginkan.

Pencapaian dan Keberlanjutan Perbaikan

Perbaikan mutu harus terdokumentasi menggunakan pendekatan: PDCA (Plan-Do-Check-Act) atau PDSA (Plan-Do-Study-Act). Jika indikator telah tercapai dan stabil selama 1 tahun, indikator dapat diganti dengan prioritas baru.

Evaluasi Budaya Keselamatan Pasien

Budaya keselamatan pasien adalah budaya organisasi yang mendorong setiap staf melaporkan masalah mutu dan keselamatan tanpa rasa takut. Survey budaya keselamatan dilakukan setiap tahun yang mana hasilnya dianalisis dan ditindaklanjuti oleh Direktur untuk memperkuat sistem yang aman dan transparan.

Penerapan Manajemen Risiko

Penerapan manajemen risiko merupakan bagian integral dari Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) yang dilaksanakan secara terstruktur dan berkelanjutan. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, fasilitas pelayanan kesehatan wajib menerapkan standar keselamatan pasien melalui identifikasi dan pengelolaan risiko, analisis dan pelaporan insiden, serta penyelesaian masalah secara sistematis. Proses ini diawali dengan penyusunan risk registry di setiap unit kerja untuk memetakan potensi risiko klinis maupun non-klinis, yang kemudian dianalisis berdasarkan tingkat dampak (severity), kemungkinan terjadi (occurrence), dan kemampuan deteksi (detectability). Pendekatan proaktif seperti FMEA, HVA, atau ICRA digunakan untuk menilai prioritas risiko sehingga organisasi dapat melakukan pencegahan sebelum insiden terjadi.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, rumah sakit melakukan langkah mitigasi melalui penyempurnaan SOP, redesign proses pelayanan, penguatan sistem monitoring, serta peningkatan kompetensi staf. Manajemen risiko tidak berhenti pada tahap pengendalian, tetapi dilanjutkan dengan pemantauan dan evaluasi berkala oleh Komite Mutu untuk memastikan efektivitas tindakan korektif serta mencegah terulangnya kejadian serupa. Budaya organisasi yang terbuka dan tidak menyalahkan (no blame culture) menjadi kunci keberhasilan penerapan manajemen risiko, karena mendorong seluruh tenaga kesehatan untuk aktif melaporkan potensi bahaya. Dengan pendekatan yang konsisten dan terintegrasi, manajemen risiko menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang aman, efisien, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Penutup

Program PMKP bukan sekadar pemenuhan standar akreditasi, melainkan strategi manajemen rumah sakit untuk; menurunkan variasi klinis; mengurangi kejadian tidak diharapkan, Meningkatkan efisiensi sumber daya; membangun budaya keselamatan; meningkatkan kepercayaan Masyarakat melalui sistem yang terstruktur, data yang valid, kepemimpinan yang kuat, serta budaya aman yang konsisten sehingga rumah sakit dapat mencapai pelayanan yang unggul dan berkelanjutan.

Informasi lebih lanjut tentang penerapan PMKP di Fasilitas Layanan Kesehatan dapat menghubungi:

Andriani Yulianti, MPH
( Konsultan PKMK FK-KMK UGM)

Telepon/Email: 081328003119 / andriani_36@mail.ugm.ac.id

 

 PMKP Apr

 

Optimalisasi Pendekatan “Project Management” sebagai Kunci Ketangguhan Sistem Respon Darurat Kesehatan

Kasus krisis kesehatan dalam kondisi darurat seperti wabah penyakit menular hingga bencana alam menghadirkan tantangan yang kompleks khususnya di wilayah perkotaan. Kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, ketimpangan sosial, serta keterbatasan ruang dan sumber daya membuat respon darurat harus berjalan cepat, terkoordinasi, dan adaptif. Penelitian Ongesa, et al. (2024) menegaskan bahwa kesiapsiagaan dan respons kesehatan masyarakat di kota tidak cukup hanya mengandalkan protokol kesehatan konvensional tetapi juga memerlukan integrasi pendekatan manajemen proyek yang sistematis dan terstruktur.

Melalui telaah naratif dalam berbagai pengalaman global, kerangka kerja manajemen proyek seperti Project Management Body of Knowledge (PMBOK) terbukti dapat meningkatkan efektivitas respons darurat kesehatan. Pendekatan ini membantu otoritas kesehatan dalam merencanakan, mengoordinasikan, dan mengevaluasi respons secara lebih jelas mulai dari pelaporan penyakit, distribusi sumber daya, manajemen risiko, hingga komunikasi krisis. Penggunaan kerangka PMBOK telah diimplementasikan oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman bioterorisme, Jepang saat gempa besar 2011, dan respons Singapura terhadap COVID-19. Hasilnya menunjukkan bahwa perencanaan yang matang dan koordinasi lintas sektor menjadi faktor penentu keberhasilan penanganan krisis.

Ongesa, et al. (2024) juga menyoroti peran penting teknologi modern dalam mengoptimalkan sistem respons darurat di perkotaan. Pemanfaatan kecerdasan buatan, big data, Internet of Things (IoT), serta sistem informasi geografis memungkinkan pemantauan kondisi kesehatan secara real-time, prediksi lonjakan kasus, dan alokasi sumber daya yang lebih tepat sasaran. Contohnya terdapat dalam penggunaan aplikasi pelacakan kontak dan dashboard data selama pandemi COVID-19. Penggunaan ini terbukti membantu pengambilan keputusan yang cepat dan berbasis bukti sekaligus juga meningkatkan transparansi kepada publik.

Aspek lain yang ditekankan adalah keterlibatan pemangku kepentingan dan masyarakat. Respons krisis yang efektif membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, fasilitas kesehatan, organisasi non-pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat umum. Komunikasi yang jelas, konsisten, dan dapat dipercaya terbukti meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan kesehatan. Selain itu, keterlibatan tokoh masyarakat dan organisasi lokal berperan penting dalam menjangkau kelompok rentan yang sering kali terlewatkan oleh sistem formal.

Terkait isu etika dalam respons krisis, Ongesa, et al. (2024) menemukan banyak keterkaitan dengan alokasi sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu, keputusan mengenai prioritas vaksin, alat kesehatan, atau tenaga medis harus mempertimbangkan keseimbangan antara efisiensi dan keadilan. Pendekatan manajemen proyek tentunya membantu proses tersebut dengan menyediakan mekanisme pengambilan keputusan yang transparan, berbasis data, dan dapat dievaluasi secara berkelanjutan.

Bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit, temuan ini memiliki implikasi yang sangat relevan. Rumah sakit tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan klinis tetapi juga sebagai bagian dari sistem respons terintegrasi. Penerapan prinsip manajemen proyek dapat membantu rumah sakit dalam mengelola lonjakan pasien, memastikan distribusi sumber daya yang adil, menjaga mutu layanan, serta meningkatkan kesiapan tenaga kesehatan melalui pelatihan berkelanjutan dan simulasi krisis. Dalam tingkat manajemen, pendekatan PMBOK mendorong evaluasi rutin dari krisis sebelumnya untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan di masa depan.

Secara keseluruhan, penelitian Ongesa, et al. (2024) menegaskan bahwa integrasi manajemen proyek ke dalam kebijakan dan praktik kesehatan masyarakat bukan hanya sekadar pilihan melainkan kebutuhan mendesak bagi kota-kota yang semakin rentan terhadap krisis kesehatan. Melalui perencanaan yang adaptif, pemanfaatan teknologi, keterlibatan komunitas, dan perhatian pada aspek etika, sistem respons darurat dapat menjadi lebih efektif, adil, dan berkelanjutan dalam melindungi kesehatan masyarakat perkotaan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://journals.lww.com/md-journal/fulltext/2025/01170/optimizing_emergency_response_systems_in_urban.17.aspx 

 

Hari Kanker Sedunia 2026: Membuka Era Baru Deteksi Dini Penyakit Kanker

Setiap 4 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara global terhadap isu dan tren penyakit kanker. Peringatan ini dipelopori oleh Union for International Cancer Control (UICC) dan telah rutin dilaksanakan sejak tahun 2000. Pada periode 2025–2027, tema peringatan yang diangkat adalah “United by Unique” (Bersatu dalam Keunikan). Tema tersebut memiliki arti bahwa setiap masyarakat dapat menjadi pelopor dari setiap langkah perawatan penyakit kanker, salah satunya melalui upaya deteksi dini berbasis penelitian.

Sejalan dengan semangat perayaan Hari Kanker Sedunia, review artikel oleh Passaro, et al. (2024) membahas langkah deteksi dini penyakit kanker melalui pemanfaatan biomarker. Kini, kondisi pasien dapat dipetakan secara biologis dengan tanda molekuler. Tanda molekuler ini memungkinkan dokter memahami profil spesifik tumor. Integrasi biomarker dalam praktik klinis menandai pergeseran besar menuju pengobatan yang dipersonalisasi (personalized treatment). Intervensi medis tidak lagi bersifat seragam tetapi disesuaikan dengan karakteristik unik dari biologis masing-masing individu. Hal ini memungkinkan setiap pasien mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan karakteristik tubuh. Implementasi tren biomarker memiliki implikasi klinis yang sangat luas, mulai dari diagnosis dini yang lebih akurat hingga pemilihan terapi target yang lebih efektif.

Selain pemanfaatan biomarker berbasis jaringan tumor, Passaro et al. (2024) juga menyoroti perkembangan pesat liquid biopsy sebagai terobosan penting dalam deteksi dini kanker. Melalui analisis DNA tumor sirkulasi (circulating tumor DNA/ctDNA) yang diperoleh dari sampel darah, dokter kini dapat mendeteksi perubahan molekuler kanker secara non-invasif bahkan pada stadium sangat awal ketika gejala klinis belum muncul. Pendekatan ini membuka peluang besar skrining kanker yang lebih aman, nyaman, dan berulang sekaligus memungkinkan pemantauan respons terapi serta deteksi kekambuhan secara lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Artikel tersebut juga menegaskan bahwa masa depan deteksi dini kanker tidak lagi bergantung pada satu biomarker tunggal tetapi pada pendekatan multi parameter yang mengkombinasikan biomarker genetik, imunologis, dan karakteristik mikro-lingkungan tumor. Integrasi data genomik, profil respons imun, dan dinamika perubahan biomarker dari waktu ke waktu memungkinkan tenaga medis memahami heterogenitas kanker secara lebih komprehensif. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan akurasi diagnosis tetapi juga membantu menghindari overdiagnosis dan terapi yang tidak perlu sehingga lebih efisien bagi sistem pelayanan kesehatan.

Peringatan Hari Kanker Sedunia 2026 pada intinya menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa perkembangan deteksi dini harus diiringi dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Melalui dukungan riset ilmiah, kebijakan kesehatan yang inklusif, dan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini, era baru pengendalian kanker bukan lagi sekadar harapan melainkan sebuah langkah nyata menuju masa depan kesehatan yang lebih baik.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Sumber:

https://www.worldcancerday.org/about 
https://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674(24)00244-7?_returnURL=https%3A%2F%2Flinkinghub.elsevier.com%2Fretrieve%2Fpii%2FS0092867424002447%3Fshowall%3Dtrue