Kualitas Layanan Kesehatan dalam Konteks Cakupan Kesehatan Universal

Di tengah upaya global mencapai Universal Health Coverage (UHC), perluasan akses layanan kesehatan sering kali menjadi fokus utama, sementara kualitas layanan justru tertinggal dalam perhatian kebijakan dan praktik. Padahal, layanan kesehatan yang mudah diakses namun bermutu rendah tidak hanya gagal meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak yang merugikan. Penelitian yang dilakukan oleh Yanful et al. (2023) menyoroti pentingnya kualitas layanan sebagai komponen kunci dalam UHC, dengan menelaah secara sistematis bagaimana mutu pelayanan kesehatan dipahami, diukur, dan diintegrasikan dalam berbagai sistem kesehatan di dunia.

Penelitian ini mengulas secara luas hubungan antara kualitas layanan kesehatan dan Universal Health Coverage (UHC), yang merupakan tujuan global utama sistem kesehatan saat ini. UHC bertujuan memastikan semua orang mendapatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan tanpa mengalami beban finansial yang berat, namun fokus pada kualitas layanan masih belum cukup dipahami dalam banyak konteks negara.

Scoping review dilakukan berdasarkan kerangka kerja yang sudah mapan, mencari literatur ilmiah dari berbagai basis data yang menggambarkan bagaimana kualitas layanan dipertimbangkan dalam konteks UHC. Dari ribuan artikel awal, dipilih 45 studi yang relevan dari berbagai wilayah dunia untuk dianalisis lebih mendalam.

Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun banyak penelitian menyoroti aspek seperti governance (tata kelola) dan efisiensi sistem kesehatan, dua faktor penting dalam mewujudkan UHC, bukti yang ada masih terbatas mengenai bagaimana kualitas layanan sendiri berkontribusi terhadap hasil kesehatan yang lebih baik di bawah skema UHC. Dengan kata lain, UHC bukan sekadar soal akses dan pembiayaan, tetapi juga bagaimana layanan itu dilakukan secara tepat dan aman.

Beberapa studi yang ditinjau menekankan pentingnya tata kelola yang kuat dan efisiensi sistem untuk mendorong kualitas layanan. Riset pada berbagai negara menunjukkan bahwa sistem dengan pengawasan yang baik dan alur kerja yang jelas cenderung lebih berhasil memenuhi tujuan layanan berkualitas tinggi sebagai bagian dari cakupan universal.

Namun, penelitian ini juga menemukan adanya gap besar, terutama dalam ukuran kualitas layanan yang konkret dan bagaimana hal itu memengaruhi pencapaian UHC di berbagai negara secara spesifik. Banyak studi yang belum mengembangkan indikator yang kuat terkait kualitas dalam konteks cakupan universal, terutama yang mempertimbangkan aspek kesetaraan layanan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Penulis menutup dengan rekomendasi bahwa dibutuhkan lebih banyak penelitian yang fokus pada monitoring dan evaluasi kualitas layanan dalam program UHC, termasuk pengembangan alat ukur yang tepat untuk kualitas, serta kerangka kerja kebijakan yang bisa membantu pembuat kebijakan memahami hubungan antara akses, pembiayaan, mutu layanan, dan hasil kesehatan. Penekanan pada kualitas layanan dianggap penting untuk memastikan UHC benar-benar memberi dampak positif bagi kesehatan masyarakat tanpa hanya sekadar memperluas cakupan administratif.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10035485/ 

 

 

Fenomena Self-Diagnose di Kalangan Mahasiswa: Tantangan Baru bagi Mutu Kesehatan Mental

Saat ini, kualitas mutu kesehatan mental merupakan isu yang sangat penting, khususnya bagi kelompok dewasa muda seperti mahasiswa. Mahasiswa adalah kelompok yang sangat aktif mengakses informasi kesehatan mental baik melalui media sosial maupun platform digital lain. Studi oleh Ismail, Kusumaningtyas, dan Kanapsijah Firngadi (2023) di Yogyakarta telah mengungkap fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan, yakni sebagian mahasiswa cenderung melakukan self-diagnose atau menilai kondisi psikologis mereka sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga profesional. Penelitian ini melibatkan 402 mahasiswa dan menunjukkan bahwa sekitar 12,9% responden pernah melakukan self-diagnose. Self-diagnose berkaitan dengan pengetahuan yang kurang tepat serta sikap yang kurang mendukung isu kesehatan mental. Mahasiswa yang melakukan self-diagnose memiliki kemungkinan dua kali lebih besar memiliki pengetahuan rendah (AOR 2,31) dan sikap yang kurang positif (AOR 2,12) terhadap kesehatan mental.

Penelitian ini juga mencatat bahwa hanya sekitar separuh mahasiswa yang memiliki pengetahuan baik mengenai gangguan mental dan 53% menunjukkan sikap positif terhadap individu dengan kondisi tersebut. Faktor pendidikan diketahui merupakan pengaruh sangat menentukan pengatahuan dan sikap positif. Mahasiswa yang tidak pernah mendapatkan materi psikologi atau psikiatri memiliki risiko lebih tinggi memiliki pengetahuan yang kurang memadai. Menariknya, anggota keluarga mahasiswa dengan riwayat gangguan mental tidak selalu meningkatkan pemahaman tetapi justru menjadi faktor risiko pengetahuan rendah dalam studi ini. Hal tersebut berkaitan dengan kuatnya stigma keluarga dan budaya. Misalnya seperti praktik pasung yang masih terjadi di sebagian wilayah Indonesia sehingga pengalaman personal belum tentu diiringi dengan pemahaman yang tepat terhadap kesehatan mental.

Selain temuan di atas, hubungan antara pengetahuan dan sikap juga ditemukan. Meskipun sangat lemah tetapi tetap menunjukkan arah yang jelas, yaitu semakin baik pemahaman seseorang tentang kesehatan mental maka semakin positif juga sikapnya. Berdasarkan temuan ini, literasi kesehatan mental disarankan dapat menjadi fondasi penting dalam mendorong penerimaan dan mengurangi stigma. Dalam konteks mahasiswa yang sedang membangun pola pikir jangka panjang, peneliti mempertegas perlunya pendidikan literasi kesehatan mental yang terstruktur, sistematis, dan mudah diakses. Program kampus yang menyediakan edukasi formal, modul konseling, atau kampanye kesehatan mental dapat berperan besar dalam membentuk sikap inklusif di masa depan.

Bagi praktisi kesehatan dan pengelola layanan kesehatan mental, temuan ini memberi implikasi kuat bahwa tren self-diagnose perlu dipandang sebagai tantangan baru. Praktisi perlu memperkuat edukasi berbasis bukti serta memberikan layanan konsultasi yang lebih ramah, cepat, dan mudah diakses agar mahasiswa tidak bergantung pada informasi daring yang sering kali bias atau tidak akurat. Sementara itu, pengelola layanan dan manajemen mutu kesehatan mental dapat memanfaatkan temuan ini untuk merancang intervensi yang menekan stigma, memperluas literasi, serta mengurangi kesenjangan antara kebutuhan dan akses layanan. Melalui optimalisasi pendekatan promotif-preventif serta mengintegrasikan edukasi di lingkungan kampus, upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan mental dapat berjalan lebih efektif dan relevan bagi mahasiswa di Indonesia.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://link.springer.com/article/10.1186/s41983-023-00760-1 

 

 

Merancang Strategi Menuju Rumah Sakit Masa Depan: Sebuah Pendekatan Systems Thinking

Meningkatnya tekanan terhadap sistem kesehatan, rumah sakit di seluruh dunia berada pada titik kritis. Banyak negara masih mengandalkan model rumah sakit yang dirancang puluhan tahun lalu, padahal kompleksitas kebutuhan saat ini telah melampaui batas sistem tradisional. Pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa banyak tempat tidur atau tenaga medis yang harus ditambah, tetapi bagaimana seluruh ekosistem rumah sakit dapat bergerak secara dinamis, responsif, dan berkelanjutan. Tantangan ini menjadi dasar pembentukan systems thinking dengan membentuk tim pemodelan lintas-profesi dan melakukan 20 sesi diskusi dalam penelitian yang dilakukan Kumar et al. (2025). Hasilnya adalah tujuh causal loop diagrams (CLD) komprehensif yang menggambarkan hubungan sebab-akibat di seluruh sistem rumah sakit, mulai dari sistem kesehatan nasional, layanan rawat jalan, IGD, rawat inap, bedah/prosedur, hingga perencanaan kluster rumah sakit. CLD ini berfungsi sebagai “bahasa bersama” yang memudahkan berbagai pemangku kepentingan memahami bagaimana variabel-variabel seperti permintaan, kapasitas, alur pasien, dan sumber daya saling memengaruhi.

Salah satu penemuan penting adalah adanya banyak positive feedback loops dalam berbagai layanan inti. Sebagai contoh, ketika permintaan meningkat, rumah sakit biasanya merespons dengan menambah tempat tidur atau tenaga kesehatan. Namun penambahan kapasitas ini justru dapat memicu peningkatan permintaan lebih lanjut, yakni fenomena yang dikenal sebagai supplier-induced demand. Dengan memahami pola umpan balik seperti ini, rumah sakit dapat menghindari solusi jangka pendek yang hanya memperbesar masalah dalam jangka panjang.

Analisis causal loop juga membantu mengidentifikasi 15 titik intervensi potensial yang dapat mengubah perilaku sistem secara signifikan. Beberapa di antaranya meliputi right-siting pasien ke layanan primer atau telehealth, pemanfaatan teknologi untuk mempercepat length of stay, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan layanan pencegahan dan berbasis komunitas untuk menurunkan angka kunjungan. Intervensi ini dirancang untuk memutus siklus tekanan permintaan yang berulang dan menciptakan sistem rumah sakit yang lebih berkelanjutan.

Selain itu, salah satu variabel terpenting yang ditemukan adalah “agilitas”, yaitu kemampuan rumah sakit untuk mengalihkan atau menambah sumber daya secara cepat dalam menghadapi krisis. Dalam analisis jaringan dari seluruh CLD, agilitas menempati posisi pusat, menunjukkan bahwa fleksibilitas dalam penempatan staf, alokasi tempat tidur, dan pengaturan alur layanan adalah komponen kunci bagi rumah sakit masa depan yang mampu beradaptasi dengan cepat.

CLD dan peta logika yang dihasilkan dalam penelitian ini dipublikasikan secara terbuka sehingga dapat digunakan oleh perencana rumah sakit di berbagai negara. Dengan pendekatan ini, keputusan strategis dapat diambil secara lebih holistik dan berbasis bukti, bukan reaktif atau parsial karena semua variabel dalam sistem dilihat sebagai satu kesatuan yang saling terkait. Secara keseluruhan, penggunaan causal loop dan systems thinking memberikan cara baru untuk memahami dinamika kompleks permintaan dan kapasitas rumah sakit. Pendekatan ini dapat mencegah perangkap ekspansi kapasitas tanpa arah, mengungkap intervensi strategis yang lebih efektif, memperkuat fleksibilitas rumah sakit, serta membantu merancang sistem layanan kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan untuk kebutuhan masa depan.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12107927/ 

 

Artificial Intelegence sebagai Pilar Inovasi Mutu, Efisiensi, dan Keselamatan Rumah Sakit

Seiring perkembangan teknologi, praktik penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sudah banyak mulai mengubah pendekatan peningkatan mutu di rumah sakit. Perubahan pendekatan khususnya terjadi dalam dua level utama, yakni diagnosis terapi dan operasi klinis. Berdasarkan review artikel Abu Khadijah dan Nashwan (2024), AI terbukti berperan penting dalam menekan kesalahan medis yang memiliki dampak merugikan pada level klinis. Misalnya seperti dalam deteksi dini sepsis yang mampu mengurangi lama rawat inap hingga 2,7 hari dan menurunkan angka kematian sebesar 12,4%. AI juga membantu tenaga kesehatan menginterpretasi citra medis, mengidentifikasi interaksi obat yang berbahaya, dan mengenali pola risiko dalam catatan medis elektronik yang terlewat. Contoh lain penggunaan AI terdapat dalam bidang kesehatan mental dan manajemen kondisi kritis.

Dalam level operasional, AI menawarkan solusi untuk tantangan efisiensi yang selama ini membebani rumah sakit. Tantangan efisiensi diketahui didominasi oleh porsi waktu kerja klinisi yang tersita oleh tugas administratif. Teknologi AI dapat membantu untuk memperkirakan volume kunjungan pasien, mengotomatisasi penjadwalan, menyeimbangkan beban kerja staf, serta memberikan sistem pengingat otomatis untuk kunjungan tindak lanjut atau imunisasi. Melalui bantuan AI, alur kerja yang disusun menjadi lebih ringkas, penggunaan sumber daya lebih tepat, dan waktu layanan klinis dapat kembali terfokus pada interaksi langsung dengan pasien.

Selain itu, artikel ini menyoroti bagaimana AI memperkuat proses penilaian risiko seperti Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) dan Root Cause Analysis (RCA). Dalam studi kasus yang dibahas, AI GPT-4 mampu mengidentifikasi berbagai failure modes secara cepat dibandingkan proses manual yang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Meskipun praktis, masih terdapat catatan bahwa penilaian akhir tetap harus dilakukan oleh tenaga ahli yang memahami konteks klinis. Pada saat yang sama, AI meningkatkan pelaporan indikator mutu melalui analisis pola tersembunyi dalam Electronic Health Record (EHR) secara real-time. Inovasi lain seperti augmented reality juga membuka cara baru dalam pelatihan staf mutu dengan simulasi yang aman dan interaktif tanpa risiko terhadap pasien.

Meskipun potensinya besar, penulis menekankan adanya tantangan yang wajib dikelola seperti kualitas dan akses data, interoperabilitas sistem, isu privasi dan etika, bias algoritma, dan resistensi pengguna. Oleh karena itu, integrasi AI memerlukan tata kelola yang kuat dan kerangka regulasi yang jelas. Secara praktis, artikel ini menegaskan bahwa AI bukan pengganti tenaga kesehatan melainkan alat strategis bagi praktisi dan manajemen rumah sakit untuk memperkuat keselamatan, mempercepat analisis mutu, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperkaya pelatihan staf. Melalui penggunaan AI yang bijak, layanan kesehatan dapat bergerak menuju sistem yang lebih aman, efektif, efisien, berpusat pada pasien, dan responsif.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH (Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39104802/ 

 

 

Ancaman Tersembunyi Tuberkulosis: Kontribusi Bagi Dampak Penularan Global

Tuberkulosis (TB) diketahui sering berhubungan dengan gejala batuk, demam, atau penurunan berat badan. Namun, studi Emery et. al (2022) melalui analisis empat survei prevalensi di Asia dan Afrika menemukan bahwa penularan TB justru banyak terjadi pada individu yang tidak menunjukkan gejala apapun. Studi ini menggunakan pendekatan pemodelan berbasis Bayesian yang mengintegrasikan data household contacts, tingkat hasil uji lab smear-positivity, dan estimasi durasi penyakit untuk menghitung kontribusi relatif setiap fase TB terhadap penularan. Hasilnya ditemukan bahwa durasi TB subklinis cenderung lebih panjang daripada fase klinis sehingga akumulasi penularan tetap lebih besar meskipun infektivitas per hari sedikit lebih rendah.

Analisis terhadap 414 pasien TB dan 789 kontak serumah menunjukkan bahwa pasien dengan TB subklinis memiliki tingkat infektivitas yang hampir setara dengan pasien TB klinis. Pasien tersebut bahkan berpotensi dua kali lebih tinggi per satuan waktu karena fase subklinis dapat berlangsung lebih lama. Ketika dipadukan dengan data dari 14 survei prevalensi nasional, model menyimpulkan bahwa sekitar 68% penularan TB global berasal dari kasus subklinis dengan variasi 45–84% antarnegara. Penelitian Emery et. al (2022) juga menyoroti bahwa sepertiga pasien subklinis ternyata memiliki smear-positif. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas penularan tinggi dan banyak pasien yang tidak mampu menghasilkan sputum sehingga tidak terdeteksi melalui metode konvensional.

Selain itu, penelitian membandingkan pola antarnegara dan menemukan bahwa negara dengan proporsi TB subklinis tinggi memiliki beban ancaman tersembunyi yang jauh lebih besar. Temuan tersebut terutama terjadi di kawasan dengan akses skrining rendah atau ketergantungan tinggi pada deteksi berbasis gejala. Studi ini juga menggarisbawahi bahwa skrining gejala, termasuk algoritma “batuk ≥2 minggu”, melewatkan banyak kasus yang secara bakteriologis sudah positif dan berpotensi menular. Peneliti menekankan perlunya strategi skrining aktif berbasis populasi, penggunaan pemeriksaan radiologi dan alat deteksi molekuler yang tidak bergantung pada sputum, serta integrasi skrining TB pada pelayanan rawat jalan atau pemeriksaan rutin bagi kelompok berisiko tinggi.

Implikasi penelitian ini bagi praktik pelayanan mutu kesehatan tentunya sangat luas. Bagi manajemen rumah sakit dan pembuat kebijakan, temuan ini dapat mendorong upaya investasi perencanaan deteksi dini. Upaya misalnya dapat dilakukan melalui pemanfaatan artificial intelligence untuk pembacaan foto toraks dan pergeseran paradigma dari deteksi pasif ke pencarian aktif kasus. Kesimpulan utama penelitian ini jelas, yakni kasus subklinis TB adalah sumber penularan terbesar yang selama ini terabaikan. Strategi eliminasi TB global tidak akan tercapai tanpa melibatkan prioritas fase subklinis sebagai prioritas utama dalam kebijakan, program, dan intervensi di tingkat layanan maupun komunitas.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://elifesciences.org/articles/82469

 

 

Pentingnya Sistem Respon Darurat untuk Penanganan Krisis Kesehatan

Tantangan krisis kesehatan seperti pandemi, bencana alam, hingga serangan biologis yang dihadapi oleh pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat diketahui semakin kompleks. Seiring perkembangan, tantangan krisis kesehatan memerlukan solusi yang efektif, optimal, dan tepat sasaran. Narrative review oleh Ongesa et al. (2025) membahas pentingnya pendekatan project management yang dapat diintegrasikan dengan sistem kesehatan masyarakat untuk mempercepat dan mengoptimalkan respon darurat di wilayah perkotaan. Pendekatan ini menekankan pentingnya perencanaan strategis, kolaborasi lintas sektor, penggunaan teknologi, dan pengambilan keputusan yang didasari dengan etik.

Ongesa et al. (2025) mengemukakan bahwa penerapan kerangka kerja Project Management Body of Knowledge (PMBOK) dapat meningkatkan koordinasi lintas lembaga, mempercepat distribusi sumber daya, dan memastikan komunikasi publik yang lebih efektif selama krisis. PMBOK adalah kerangka standar internasional yang memberikan panduan sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi proyek secara efisien. Dalam konteks kesehatan, PMBOK membantu mengoptimalkan koordinasi, alokasi sumber daya, dan pengambilan keputusan selama situasi darurat. Contohnya dalam penanganan COVID-19 di New York, Tokyo, dan Singapura, penggunaan prinsip manajemen proyek memungkinkan pemerintah untuk mengatur sumber daya secara lebih sistematis. Kerangka kerja ini juga memungkinkan pihak fasilitas kesehatan untuk memantau kebutuhan rumah sakit secara real-time dan menyesuaikan strategi berdasarkan data lapangan. Hasilnya, waktu tanggap menjadi lebih cepat dan kepercayaan publik dapat terjaga.

Aspek penting lainnya adalah integrasi teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Big Data, dan Internet of Things (IoT). Ketiganya digunakan untuk memprediksi pola penyebaran penyakit, memantau rantai pasokan medis, serta mengoptimalkan distribusi vaksin dan alat pelindung diri (APD). Dalam kasus Singapura, penggunaan aplikasi TraceTogether menjadi contoh sukses penerapan teknologi untuk pelacakan kontak secara efisien tanpa mengorbankan transparansi informasi kepada masyarakat. Penulis juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam kesiapsiagaan kesehatan. Keterlibatan aktif warga dan tokoh lokal dalam penyebaran informasi, pelatihan tanggap darurat, dan pengawasan komunitas terbukti memperkuat ketahanan sosial. Selain itu, isu etika menjadi kunci terutama dalam hal alokasi sumber daya yang terbatas. Pendekatan utilitarian (memaksimalkan manfaat bagi banyak orang) dan egalitarian (menjamin keadilan bagi semua) perlu dipadukan agar keputusan tetap efisien sekaligus adil.

Bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit, artikel ini memberikan pelajaran penting bahwa kesiapsiagaan tidak hanya menekankan pada aspek logistik tetapi juga kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi. Penerapan prinsip manajemen proyek dapat membantu rumah sakit dalam merancang sistem respons yang tangguh. Sistem respon contohnya dapat dimulai dari simulasi krisis, pelatihan tenaga medis, hingga penerapan sistem pemantauan berbasis data. Melalui pendekatan yang terstruktur, inovatif, dan berorientasi etika, fasilitas kesehatan dapat lebih siap menghadapi ancaman kesehatan dengan cepat, terkoordinasi, dan berkeadilan secara berkelanjutan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://journals.lww.com/md-journal/fulltext/2025/01170/optimizing_emergency_response_systems_in_urban.17.aspx 

 

 

Efektivitas Intervensi Preventif dalam Menurunkan Masalah Kesehatan mental pada Anak dan Remaja Berisiko

Hari Kesehatan Nasional pada tanggal 6 November 2025 bertema “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat” memiliki makna pentingnya menjaga kesehatan dimulai dari individu dimulai dari lingkup yang paling kecil. Dengan menjaga diri, baik secara fisik, mental, maupun sosial, setiap warga negara berkontribusi memperkuat ketahanan dan kemajuan Indonesia, mewujudkan Indonesia Hebat.

Kesehatan masyarakat menjadi dasar dari kuatnya kemajuan sudatu negara. Hal ini tidak terlepas dari peran pemangku kebijakan untuk mendukung program kesehatan. Salah satu kelompok yang memerlukan dukungan penuh agar dapat meningkatkan kesehatannya secara optimal adalah anak dan remaja. Anak dan remaja yang sehat akan menghadilkan orang dewasa yang juga sehat, bukan hanya secara fisik, namun juga mental.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh McGovern, et al. (2022), menunjukkan sekitar separuh dari seluruh gangguan kesehatan mental pada orang dewasa sebenarnya mulai muncul sebelum usia 14 tahun, dan tiga perempatnya muncul sebelum usia 24 tahun. Anak-anak yang mengalami masalah kesehatan mental sejak dini juga cenderung memiliki berbagai dampak negatif, seperti meningkatnya risiko penyalahgunaan zat, keterlibatan dalam perilaku melanggar hukum, kesulitan dalam hubungan sosial dengan keluarga maupun teman, menurunnya peluang pendidikan, serta risiko kehamilan dan menjadi orang tua di usia muda. Selain itu, anak-anak dengan gangguan mental berisiko besar mengalami masalah serupa secara berkelanjutan hingga dewasa, yang kemudian berdampak pada kesulitan ekonomi di masa depan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus gangguan kesehatan mental pada remaja terus meningkat, ditambah lagi dengan melonjaknya angka depresi dan kecemasan setelah pandemi COVID-19. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius dari perspektif kesehatan masyarakat. Walaupun jumlah intervensi berbasis bukti ilmiah untuk menangani masalah kesehatan mental pada anak dan remaja terus bertambah, akses terhadap layanan ini masih terbatas. Banyak remaja yang membutuhkan bantuan justru menghadapi waktu tunggu yang panjang sebelum mendapatkan penanganan.

Bukti ilmiah yang kuat menunjukkan bahwa pencegahan primer memiliki peran penting dalam mengurangi risiko gangguan kesehatan mental. Intervensi jenis ini biasanya diterapkan secara universal kepada seluruh anak dan remaja, dengan tujuan memperkuat kesehatan mental positif serta mencegah timbulnya gangguan psikologis. Namun, anak-anak yang memiliki risiko lebih tinggi tampaknya memerlukan pendekatan yang lebih spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Sejumlah tinjauan sistematis juga telah meneliti efektivitas berbagai bentuk intervensi pencegahan sekunder untuk kesehatan mental anak dan remaja, guna menekan risiko berkembangnya gangguan yang lebih berat di kemudian hari.

Intervensi preventif yang dinilai efektif menurut penelitian McGovern, et al. (2022), yakni:

  • Program berbasis sekolah atau komunitas untuk meningkatkan resilience (ketahanan psikososial) dan mengurangi faktor risiko seperti bully, konflik keluarga, dan stres.
  • Intervensi keluarga/sistem keluarga (family-based) termasuk konseling, dukungan parental, pelatihan keterampilan parenting sehingga mengurangi dampak adversitas.
  • Program untuk individu yang sudah menunjukkan tanda-tanda awal (misalnya gejala internalising atau externalising) agar tidak berkembang menjadi gangguan penuh.
  • Strategi kombinasi antara pengurangan faktor risiko (risk reduction) dan peningkatan faktor protektif (resilience/enhancement) dianggap paling efektif.

Dalam pelaksanaannya, intervensi di atas dilakukan berdasarkan 3 kategori, yakni

  1. Intervensi Selektif
    Intervensi yang ditargetkan kepada kelompok/individu yang berisiko tinggi tapi belum
    menunjukkan gangguan penuh. Contoh: anak remaja yang memiliki riwayat kekerasan rumah tangga, atau tinggal di lingkungan sosial dengan banyak faktor stres. Dalam penelitian ini, program berbasis komunitas atau sekolah untuk kelompok seperti itu termasuk dalam kategori selektif.
  2. Interevensi yang Diindikasikan
    Intervensi yang ditujukan kepada individu yang sudah menunjukkan gejala ringan/awal dari gangguan psikologis (misalnya gejala depresi ringan, kecemasan, perilaku eksternalising) tapi belum memenuhi kriteria penuh penyakit. Contoh dari penelitian ini: program individu atau keluarga yang menangani anak dengan gejala internalising/externalising untuk mencegah progres ke gangguan penuh.
  3. Intervensi Sekunder Kombinasi
    Intervensi yang mencakup elemen pencegahan sekunder (deteksi awal + intervensi cepat) dengan kombinasi komponen risk reduction dan resilience building. Dalam penelitian ini disebut bahwa intervensi paling efektif adalah yang menggabungkan kedua pendekatan: mengurangi faktor risiko sekaligus memperkuat proteksi (resilience) bagi anak/keluarga yang sudah berada di lingkungan dengan banyak stres atau sudah menunjukkan gejala awal.

Interventions to prevent mental health problems in young people are more likely to be effective if they combine both risk reduction and resilience enhancing approaches to targeting younger children and young people who have experience adversity and/or those with subclinical externalising and internalising difficulties. Interventions may include both individual and family level interventions components.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11271346/ 

 

Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan

Perubahan iklim diketahui telah menjadi isu darurat kesehatan global. Studi terbaru oleh Carlson et. al (2025) menunjukkan bahwa pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah memberikan dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Penelitian ini mengungkap bahwa perubahan iklim berkontribusi langsung terhadap meluasnya penyebaran penyakit menular serta peningkatan angka kematian dan penyakit. Perubahan iklim yang umumnya terjadi adalah peningkatan suhu ekstrem.

Melalui pendekatan end-to-end attribution, para peneliti menelusuri hubungan antara perubahan iklim akibat aktivitas manusia dengan dampak kesehatan yang terjadi. Hasil analisis menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Pada periode 1991 hingga 2018, para peneliti menemukan terdapat lebih dari 270.000 kematian akibat panas ekstrem pada 43 negara yang mengalami perubahan iklim. Polusi udara dari kebakaran hutan juga diperkirakan menyebabkan lebih dari 125.000 kematian global setiap tahunnya. Selain itu, kematian bayi baru lahir akibat suhu tinggi di negara berpenghasilan rendah dan menengah ditemukan mencapai sekitar 175.000 kasus per tahun. Dampak tersebut diperparah dengan meningkatnya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan gangguan perkembangan kognitif anak yang berkaitan dengan suhu ekstrem.

Penelitian Carlson et. al (2025) juga menyoroti ketimpangan global dan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Ketimpangan yang terjadi adalah sebagian besar studi dilakukan di negara maju. Namun, populasi di negara berkembang justru paling terdampak oleh krisis iklim. Negara-negara di kawasan selatan masih menghadapi kekurangan data, keterbatasan sumber daya, dan sistem kesehatan yang belum siap menghadapi lonjakan penyakit akibat perubahan lingkungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim juga merupakan krisis keadilan. Faktanya negara yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi justru menanggung beban kesehatan paling besar.

Temuan ini memberikan pesan penting bagi para praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit. Fasilitas pelayanan kesehatan harus mulai mempersiapkan diri menghadapi peningkatan kasus-kasus perubahan iklim, seperti serangan panas, gangguan pernapasan akibat polusi udara, dan peningkatan penyakit menular seperti demam berdarah dan malaria. Rumah sakit perlu memperkuat kapasitas adaptasi baik melalui penyediaan ruang pendingin darurat dan sistem ventilasi maupun penyediaan energi alternatif yang ramah lingkungan untuk menghadapi kondisi ekstrem. Selain itu, sistem pemantauan risiko kesehatan berbasis iklim perlu dikembangkan agar tenaga medis dapat memberikan respons cepat terhadap perubahan suhu dan cuaca ekstrem terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan pasien penyakit kronis. Edukasi tenaga kesehatan juga menjadi kunci penting. Para tenaga medis perlu memahami hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan agar dapat memberikan penanganan yang tepat. Upaya seperti pengelolaan limbah medis yang ramah lingkungan, pengurangan emisi karbon rumah sakit, dan penggunaan sumber energi bersih juga dapat menjadi langkah solusi nyata.

Studi ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukanlah ancaman masa depan, melainkan penyebab nyata dampak kesehatan yang terjadi. Dalam dunia kesehatan, tantangannya adalah bagaimana mengubah bukti ilmiah ini menjadi tindakan konkret. Melalui penguatan sistem kesehatan, riset, dan kolaborasi lintas sektor, masyarakat global memiliki peluang untuk mengubah krisis iklim menjadi momentum perubahan. Peluang tersebut tentunya harus dilengkapi dengan kesiapan, inovasi, dan komitmen untuk menjaga kesehatan dan bumi secara berkelanjutan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://www.nature.com/articles/s41558-025-02399-7 

 

 

 

Ancaman Tersembunyi Alat Medis: Ketika Biofilm dan Resistensi Antibiotik Menjadi Musuh Rumah Sakit

Infeksi akibat bakteri yang menempel alat medis seperti kateter, ventilator, atau selang drainase merupakan tantangan serius di rumah sakit. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar di lingkungan rumah sakit karena bakteri tersebut faktanya dapat bertahan lama pada permukaan alat medis sehingga menimbulkan infeksi berulang, mempersulit proses sterilisasi dan terapi antibiotik, hingga meningkatkan risiko komplikasi penyakit. Penelitian yang dilakukan oleh Veronica Folliero et al (2021) menyoroti hubungan antara pembentukan biofilm dan resistensi antibiotik pada infeksi dari alat medis yang disebut dengan Device-Related Infections (DRIs). Hasil penelitian menegaskan bahwa biofilm (lapisan pelindung yang dihasilkan oleh koloni bakteri di permukaan alat medis) mampu melindungi mikroba dari paparan antibiotik dan memfasilitasi pertukaran gen resistensi antar bakteri.

Penelitian melibatkan 76 alat medis yang dikumpulkan dari rumah sakit universitas di Italia selama periode Oktober 2019 hingga September 2020, meliputi kateter vena sentral, kateter urin, dan selang drainase. Berdasarkan pengamatan, ditemukan 94 isolat mikroorganisme yang terdiri dari 42,7% bakteri Gram positif, 40,3% Gram negatif, dan 17% jamur Candida. Bakteri yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan Escherichia coli. Semua bakteri tersebut dikenal mampu membentuk biofilm kuat. Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa 56,4% dari semua isolat bakteri mampu membentuk biofilm yang sebagian besar tergolong multidrug resistant (MDR) atau kebal terhadap antibiotik. Selain itu, penelitian ini juga menemukan hubungan yang sangat kuat antara kemampuan membentuk biofilm dan resistensi antibiotik. Beberapa jenis bakteri seperti Acinetobacter baumannii, Proteus mirabilis, dan Klebsiella pneumoniae menunjukkan kapasitas pembentukan biofilm paling tinggi.

Temuan ini memberikan pesan penting bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit. Biofilm tidak hanya menjadi masalah mikrobiologis tetapi juga persoalan manajemen klinis yang berdampak langsung pada keselamatan pasien. Dalam mengatasi masalah tersebut, rumah sakit disarankan perlu memperkuat penerapan kontrol infeksi, mengganti alat medis secara berkala, dan melakukan uji mikrobiologi rutin untuk mengenali pola resistansi yang berkembang di fasilitas masing-masing. Selain itu, penerapan program penggunaan antibiotik rasional (antibiotic stewardship) dan pengembangan inovasi pelapisan antimikroba pada alat medis perlu menjadi prioritas. Secara lebih lanjut, pengambilan kebijakan dalam meningkatkan kualitas layanan dan keselamatan pasien di rumah sakit terkait kontrol infeksi dan kebersihan alat medis dapat dipertimbangkan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH (Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1155/2021/9033278 

 

 

Peran Perubahan Iklim terhadap Munculnya Penyakit Menular Baru dan Kembalinya Penyakit Menular Lama

Perubahan iklim global kini tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga tantangan serius bagi kesehatan masyarakat. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, serta meningkatnya frekuensi bencana alam telah menciptakan kondisi yang ideal bagi penyebaran berbagai penyakit menular. Fenomena ini berkontribusi terhadap kemunculan penyakit baru (emerging infectious diseases) dan kembalinya penyakit lama (re-emerging infectious diseases) di banyak wilayah. Dampak tersebut terlihat dari meluasnya distribusi vektor penyakit seperti nyamuk dan kutu, meningkatnya risiko penularan zoonosis, serta pergeseran pola epidemiologi penyakit tropis.

Penelitian yang dilakukan oleh Filho, et al. (2025) menerangkan bahwa perubahan iklim kini diakui secara luas sebagai salah satu penyebab utama munculnya dan kembalinya penyakit menular, terutama yang berasal dari hewan ke manusia (zoonosis). Kondisi iklim yang berubah, termasuk kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan dan intensitas cuaca ekstrem, membuat lingkungan semakin kondusif bagi vektor penyakit seperti nyamuk, kutu, dan tikus.

Dengan menggunakan pendekatan campuran, yakni analisis bibliometrik untuk memetakan literatur dan studi-kasus terpilih yang memperkuat bukti empiris, para peneliti mengidentifikasi empat klaster utama riset: aktivitas manusia & urbanisasi; faktor non-manusia seperti vektor dan reservoir; faktor lingkungan yang mempengaruhi habitat dan siklus hidup patogen; serta surveilans/integrasi pengendalian penyakit.

Salah satu insight penting yaitu urbanisasi dan perubahan penggunaan lahan semakin sering menempatkan manusia dalam kontak lebih dekat dengan satwa liar atau habitat alami yang terganggu, yakni kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya spillover, dimana terjadi perpindahan patogen dari hewan ke manusia. Hal ini diperparah oleh iklim yang memudahkan vektor penyakit menyebab lebih luas.

Contohnya, perubahan suhu memungkinkan nyamuk‐penyebab penyakit seperti demam berdarah dan malaria bertahan hidup atau berkembang biak di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin. Begitu pula, banjir dan kekeringan yang intens bisa memicu peningkatan penyakit yang disebabkan air atau tikus seperti leptospirosis. Penelitian ini juga menyoroti bahwa populasi yang rentan, khususnya di negara berpenghasilan rendah atau sistem kesehatannya lemah, akan menghadapi risiko yang jauh lebih besar. Kekurangan akses ke air bersih, sanitasi dan layanan kesehatan, maka dampak perubahan iklim atas zoonosis menjadi lebih nyata dan mengancam.

Kebijakan kesehatan dan perubahan iklim yang terintegrasi, seperti memperkuat sistem surveilans penyakit, investasi riset untuk memahami nexus iklim‐penyakit, serta menanamkan pendekatan One Health, yang melihat keterkaitan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem, direkomendasikan untuk mencegah dan mengontrol penyakit menular masa depan. 

sumber: https://onehealthoutlook.biomedcentral.com/articles/10.1186/s42522-024-00127-3