Pentingnya Sistem Respon Darurat untuk Penanganan Krisis Kesehatan

Tantangan krisis kesehatan seperti pandemi, bencana alam, hingga serangan biologis yang dihadapi oleh pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat diketahui semakin kompleks. Seiring perkembangan, tantangan krisis kesehatan memerlukan solusi yang efektif, optimal, dan tepat sasaran. Narrative review oleh Ongesa et al. (2025) membahas pentingnya pendekatan project management yang dapat diintegrasikan dengan sistem kesehatan masyarakat untuk mempercepat dan mengoptimalkan respon darurat di wilayah perkotaan. Pendekatan ini menekankan pentingnya perencanaan strategis, kolaborasi lintas sektor, penggunaan teknologi, dan pengambilan keputusan yang didasari dengan etik.

Ongesa et al. (2025) mengemukakan bahwa penerapan kerangka kerja Project Management Body of Knowledge (PMBOK) dapat meningkatkan koordinasi lintas lembaga, mempercepat distribusi sumber daya, dan memastikan komunikasi publik yang lebih efektif selama krisis. PMBOK adalah kerangka standar internasional yang memberikan panduan sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi proyek secara efisien. Dalam konteks kesehatan, PMBOK membantu mengoptimalkan koordinasi, alokasi sumber daya, dan pengambilan keputusan selama situasi darurat. Contohnya dalam penanganan COVID-19 di New York, Tokyo, dan Singapura, penggunaan prinsip manajemen proyek memungkinkan pemerintah untuk mengatur sumber daya secara lebih sistematis. Kerangka kerja ini juga memungkinkan pihak fasilitas kesehatan untuk memantau kebutuhan rumah sakit secara real-time dan menyesuaikan strategi berdasarkan data lapangan. Hasilnya, waktu tanggap menjadi lebih cepat dan kepercayaan publik dapat terjaga.

Aspek penting lainnya adalah integrasi teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Big Data, dan Internet of Things (IoT). Ketiganya digunakan untuk memprediksi pola penyebaran penyakit, memantau rantai pasokan medis, serta mengoptimalkan distribusi vaksin dan alat pelindung diri (APD). Dalam kasus Singapura, penggunaan aplikasi TraceTogether menjadi contoh sukses penerapan teknologi untuk pelacakan kontak secara efisien tanpa mengorbankan transparansi informasi kepada masyarakat. Penulis juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam kesiapsiagaan kesehatan. Keterlibatan aktif warga dan tokoh lokal dalam penyebaran informasi, pelatihan tanggap darurat, dan pengawasan komunitas terbukti memperkuat ketahanan sosial. Selain itu, isu etika menjadi kunci terutama dalam hal alokasi sumber daya yang terbatas. Pendekatan utilitarian (memaksimalkan manfaat bagi banyak orang) dan egalitarian (menjamin keadilan bagi semua) perlu dipadukan agar keputusan tetap efisien sekaligus adil.

Bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit, artikel ini memberikan pelajaran penting bahwa kesiapsiagaan tidak hanya menekankan pada aspek logistik tetapi juga kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi. Penerapan prinsip manajemen proyek dapat membantu rumah sakit dalam merancang sistem respons yang tangguh. Sistem respon contohnya dapat dimulai dari simulasi krisis, pelatihan tenaga medis, hingga penerapan sistem pemantauan berbasis data. Melalui pendekatan yang terstruktur, inovatif, dan berorientasi etika, fasilitas kesehatan dapat lebih siap menghadapi ancaman kesehatan dengan cepat, terkoordinasi, dan berkeadilan secara berkelanjutan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://journals.lww.com/md-journal/fulltext/2025/01170/optimizing_emergency_response_systems_in_urban.17.aspx 

 

 

Efektivitas Intervensi Preventif dalam Menurunkan Masalah Kesehatan mental pada Anak dan Remaja Berisiko

Hari Kesehatan Nasional pada tanggal 6 November 2025 bertema “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat” memiliki makna pentingnya menjaga kesehatan dimulai dari individu dimulai dari lingkup yang paling kecil. Dengan menjaga diri, baik secara fisik, mental, maupun sosial, setiap warga negara berkontribusi memperkuat ketahanan dan kemajuan Indonesia, mewujudkan Indonesia Hebat.

Kesehatan masyarakat menjadi dasar dari kuatnya kemajuan sudatu negara. Hal ini tidak terlepas dari peran pemangku kebijakan untuk mendukung program kesehatan. Salah satu kelompok yang memerlukan dukungan penuh agar dapat meningkatkan kesehatannya secara optimal adalah anak dan remaja. Anak dan remaja yang sehat akan menghadilkan orang dewasa yang juga sehat, bukan hanya secara fisik, namun juga mental.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh McGovern, et al. (2022), menunjukkan sekitar separuh dari seluruh gangguan kesehatan mental pada orang dewasa sebenarnya mulai muncul sebelum usia 14 tahun, dan tiga perempatnya muncul sebelum usia 24 tahun. Anak-anak yang mengalami masalah kesehatan mental sejak dini juga cenderung memiliki berbagai dampak negatif, seperti meningkatnya risiko penyalahgunaan zat, keterlibatan dalam perilaku melanggar hukum, kesulitan dalam hubungan sosial dengan keluarga maupun teman, menurunnya peluang pendidikan, serta risiko kehamilan dan menjadi orang tua di usia muda. Selain itu, anak-anak dengan gangguan mental berisiko besar mengalami masalah serupa secara berkelanjutan hingga dewasa, yang kemudian berdampak pada kesulitan ekonomi di masa depan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus gangguan kesehatan mental pada remaja terus meningkat, ditambah lagi dengan melonjaknya angka depresi dan kecemasan setelah pandemi COVID-19. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius dari perspektif kesehatan masyarakat. Walaupun jumlah intervensi berbasis bukti ilmiah untuk menangani masalah kesehatan mental pada anak dan remaja terus bertambah, akses terhadap layanan ini masih terbatas. Banyak remaja yang membutuhkan bantuan justru menghadapi waktu tunggu yang panjang sebelum mendapatkan penanganan.

Bukti ilmiah yang kuat menunjukkan bahwa pencegahan primer memiliki peran penting dalam mengurangi risiko gangguan kesehatan mental. Intervensi jenis ini biasanya diterapkan secara universal kepada seluruh anak dan remaja, dengan tujuan memperkuat kesehatan mental positif serta mencegah timbulnya gangguan psikologis. Namun, anak-anak yang memiliki risiko lebih tinggi tampaknya memerlukan pendekatan yang lebih spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Sejumlah tinjauan sistematis juga telah meneliti efektivitas berbagai bentuk intervensi pencegahan sekunder untuk kesehatan mental anak dan remaja, guna menekan risiko berkembangnya gangguan yang lebih berat di kemudian hari.

Intervensi preventif yang dinilai efektif menurut penelitian McGovern, et al. (2022), yakni:

  • Program berbasis sekolah atau komunitas untuk meningkatkan resilience (ketahanan psikososial) dan mengurangi faktor risiko seperti bully, konflik keluarga, dan stres.
  • Intervensi keluarga/sistem keluarga (family-based) termasuk konseling, dukungan parental, pelatihan keterampilan parenting sehingga mengurangi dampak adversitas.
  • Program untuk individu yang sudah menunjukkan tanda-tanda awal (misalnya gejala internalising atau externalising) agar tidak berkembang menjadi gangguan penuh.
  • Strategi kombinasi antara pengurangan faktor risiko (risk reduction) dan peningkatan faktor protektif (resilience/enhancement) dianggap paling efektif.

Dalam pelaksanaannya, intervensi di atas dilakukan berdasarkan 3 kategori, yakni

  1. Intervensi Selektif
    Intervensi yang ditargetkan kepada kelompok/individu yang berisiko tinggi tapi belum
    menunjukkan gangguan penuh. Contoh: anak remaja yang memiliki riwayat kekerasan rumah tangga, atau tinggal di lingkungan sosial dengan banyak faktor stres. Dalam penelitian ini, program berbasis komunitas atau sekolah untuk kelompok seperti itu termasuk dalam kategori selektif.
  2. Interevensi yang Diindikasikan
    Intervensi yang ditujukan kepada individu yang sudah menunjukkan gejala ringan/awal dari gangguan psikologis (misalnya gejala depresi ringan, kecemasan, perilaku eksternalising) tapi belum memenuhi kriteria penuh penyakit. Contoh dari penelitian ini: program individu atau keluarga yang menangani anak dengan gejala internalising/externalising untuk mencegah progres ke gangguan penuh.
  3. Intervensi Sekunder Kombinasi
    Intervensi yang mencakup elemen pencegahan sekunder (deteksi awal + intervensi cepat) dengan kombinasi komponen risk reduction dan resilience building. Dalam penelitian ini disebut bahwa intervensi paling efektif adalah yang menggabungkan kedua pendekatan: mengurangi faktor risiko sekaligus memperkuat proteksi (resilience) bagi anak/keluarga yang sudah berada di lingkungan dengan banyak stres atau sudah menunjukkan gejala awal.

Interventions to prevent mental health problems in young people are more likely to be effective if they combine both risk reduction and resilience enhancing approaches to targeting younger children and young people who have experience adversity and/or those with subclinical externalising and internalising difficulties. Interventions may include both individual and family level interventions components.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11271346/ 

 

Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan

Perubahan iklim diketahui telah menjadi isu darurat kesehatan global. Studi terbaru oleh Carlson et. al (2025) menunjukkan bahwa pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah memberikan dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Penelitian ini mengungkap bahwa perubahan iklim berkontribusi langsung terhadap meluasnya penyebaran penyakit menular serta peningkatan angka kematian dan penyakit. Perubahan iklim yang umumnya terjadi adalah peningkatan suhu ekstrem.

Melalui pendekatan end-to-end attribution, para peneliti menelusuri hubungan antara perubahan iklim akibat aktivitas manusia dengan dampak kesehatan yang terjadi. Hasil analisis menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Pada periode 1991 hingga 2018, para peneliti menemukan terdapat lebih dari 270.000 kematian akibat panas ekstrem pada 43 negara yang mengalami perubahan iklim. Polusi udara dari kebakaran hutan juga diperkirakan menyebabkan lebih dari 125.000 kematian global setiap tahunnya. Selain itu, kematian bayi baru lahir akibat suhu tinggi di negara berpenghasilan rendah dan menengah ditemukan mencapai sekitar 175.000 kasus per tahun. Dampak tersebut diperparah dengan meningkatnya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan gangguan perkembangan kognitif anak yang berkaitan dengan suhu ekstrem.

Penelitian Carlson et. al (2025) juga menyoroti ketimpangan global dan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Ketimpangan yang terjadi adalah sebagian besar studi dilakukan di negara maju. Namun, populasi di negara berkembang justru paling terdampak oleh krisis iklim. Negara-negara di kawasan selatan masih menghadapi kekurangan data, keterbatasan sumber daya, dan sistem kesehatan yang belum siap menghadapi lonjakan penyakit akibat perubahan lingkungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim juga merupakan krisis keadilan. Faktanya negara yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi justru menanggung beban kesehatan paling besar.

Temuan ini memberikan pesan penting bagi para praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit. Fasilitas pelayanan kesehatan harus mulai mempersiapkan diri menghadapi peningkatan kasus-kasus perubahan iklim, seperti serangan panas, gangguan pernapasan akibat polusi udara, dan peningkatan penyakit menular seperti demam berdarah dan malaria. Rumah sakit perlu memperkuat kapasitas adaptasi baik melalui penyediaan ruang pendingin darurat dan sistem ventilasi maupun penyediaan energi alternatif yang ramah lingkungan untuk menghadapi kondisi ekstrem. Selain itu, sistem pemantauan risiko kesehatan berbasis iklim perlu dikembangkan agar tenaga medis dapat memberikan respons cepat terhadap perubahan suhu dan cuaca ekstrem terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan pasien penyakit kronis. Edukasi tenaga kesehatan juga menjadi kunci penting. Para tenaga medis perlu memahami hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan agar dapat memberikan penanganan yang tepat. Upaya seperti pengelolaan limbah medis yang ramah lingkungan, pengurangan emisi karbon rumah sakit, dan penggunaan sumber energi bersih juga dapat menjadi langkah solusi nyata.

Studi ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukanlah ancaman masa depan, melainkan penyebab nyata dampak kesehatan yang terjadi. Dalam dunia kesehatan, tantangannya adalah bagaimana mengubah bukti ilmiah ini menjadi tindakan konkret. Melalui penguatan sistem kesehatan, riset, dan kolaborasi lintas sektor, masyarakat global memiliki peluang untuk mengubah krisis iklim menjadi momentum perubahan. Peluang tersebut tentunya harus dilengkapi dengan kesiapan, inovasi, dan komitmen untuk menjaga kesehatan dan bumi secara berkelanjutan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://www.nature.com/articles/s41558-025-02399-7 

 

 

 

Ancaman Tersembunyi Alat Medis: Ketika Biofilm dan Resistensi Antibiotik Menjadi Musuh Rumah Sakit

Infeksi akibat bakteri yang menempel alat medis seperti kateter, ventilator, atau selang drainase merupakan tantangan serius di rumah sakit. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar di lingkungan rumah sakit karena bakteri tersebut faktanya dapat bertahan lama pada permukaan alat medis sehingga menimbulkan infeksi berulang, mempersulit proses sterilisasi dan terapi antibiotik, hingga meningkatkan risiko komplikasi penyakit. Penelitian yang dilakukan oleh Veronica Folliero et al (2021) menyoroti hubungan antara pembentukan biofilm dan resistensi antibiotik pada infeksi dari alat medis yang disebut dengan Device-Related Infections (DRIs). Hasil penelitian menegaskan bahwa biofilm (lapisan pelindung yang dihasilkan oleh koloni bakteri di permukaan alat medis) mampu melindungi mikroba dari paparan antibiotik dan memfasilitasi pertukaran gen resistensi antar bakteri.

Penelitian melibatkan 76 alat medis yang dikumpulkan dari rumah sakit universitas di Italia selama periode Oktober 2019 hingga September 2020, meliputi kateter vena sentral, kateter urin, dan selang drainase. Berdasarkan pengamatan, ditemukan 94 isolat mikroorganisme yang terdiri dari 42,7% bakteri Gram positif, 40,3% Gram negatif, dan 17% jamur Candida. Bakteri yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan Escherichia coli. Semua bakteri tersebut dikenal mampu membentuk biofilm kuat. Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa 56,4% dari semua isolat bakteri mampu membentuk biofilm yang sebagian besar tergolong multidrug resistant (MDR) atau kebal terhadap antibiotik. Selain itu, penelitian ini juga menemukan hubungan yang sangat kuat antara kemampuan membentuk biofilm dan resistensi antibiotik. Beberapa jenis bakteri seperti Acinetobacter baumannii, Proteus mirabilis, dan Klebsiella pneumoniae menunjukkan kapasitas pembentukan biofilm paling tinggi.

Temuan ini memberikan pesan penting bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit. Biofilm tidak hanya menjadi masalah mikrobiologis tetapi juga persoalan manajemen klinis yang berdampak langsung pada keselamatan pasien. Dalam mengatasi masalah tersebut, rumah sakit disarankan perlu memperkuat penerapan kontrol infeksi, mengganti alat medis secara berkala, dan melakukan uji mikrobiologi rutin untuk mengenali pola resistansi yang berkembang di fasilitas masing-masing. Selain itu, penerapan program penggunaan antibiotik rasional (antibiotic stewardship) dan pengembangan inovasi pelapisan antimikroba pada alat medis perlu menjadi prioritas. Secara lebih lanjut, pengambilan kebijakan dalam meningkatkan kualitas layanan dan keselamatan pasien di rumah sakit terkait kontrol infeksi dan kebersihan alat medis dapat dipertimbangkan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH (Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1155/2021/9033278 

 

 

Peran Perubahan Iklim terhadap Munculnya Penyakit Menular Baru dan Kembalinya Penyakit Menular Lama

Perubahan iklim global kini tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga tantangan serius bagi kesehatan masyarakat. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, serta meningkatnya frekuensi bencana alam telah menciptakan kondisi yang ideal bagi penyebaran berbagai penyakit menular. Fenomena ini berkontribusi terhadap kemunculan penyakit baru (emerging infectious diseases) dan kembalinya penyakit lama (re-emerging infectious diseases) di banyak wilayah. Dampak tersebut terlihat dari meluasnya distribusi vektor penyakit seperti nyamuk dan kutu, meningkatnya risiko penularan zoonosis, serta pergeseran pola epidemiologi penyakit tropis.

Penelitian yang dilakukan oleh Filho, et al. (2025) menerangkan bahwa perubahan iklim kini diakui secara luas sebagai salah satu penyebab utama munculnya dan kembalinya penyakit menular, terutama yang berasal dari hewan ke manusia (zoonosis). Kondisi iklim yang berubah, termasuk kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan dan intensitas cuaca ekstrem, membuat lingkungan semakin kondusif bagi vektor penyakit seperti nyamuk, kutu, dan tikus.

Dengan menggunakan pendekatan campuran, yakni analisis bibliometrik untuk memetakan literatur dan studi-kasus terpilih yang memperkuat bukti empiris, para peneliti mengidentifikasi empat klaster utama riset: aktivitas manusia & urbanisasi; faktor non-manusia seperti vektor dan reservoir; faktor lingkungan yang mempengaruhi habitat dan siklus hidup patogen; serta surveilans/integrasi pengendalian penyakit.

Salah satu insight penting yaitu urbanisasi dan perubahan penggunaan lahan semakin sering menempatkan manusia dalam kontak lebih dekat dengan satwa liar atau habitat alami yang terganggu, yakni kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya spillover, dimana terjadi perpindahan patogen dari hewan ke manusia. Hal ini diperparah oleh iklim yang memudahkan vektor penyakit menyebab lebih luas.

Contohnya, perubahan suhu memungkinkan nyamuk‐penyebab penyakit seperti demam berdarah dan malaria bertahan hidup atau berkembang biak di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin. Begitu pula, banjir dan kekeringan yang intens bisa memicu peningkatan penyakit yang disebabkan air atau tikus seperti leptospirosis. Penelitian ini juga menyoroti bahwa populasi yang rentan, khususnya di negara berpenghasilan rendah atau sistem kesehatannya lemah, akan menghadapi risiko yang jauh lebih besar. Kekurangan akses ke air bersih, sanitasi dan layanan kesehatan, maka dampak perubahan iklim atas zoonosis menjadi lebih nyata dan mengancam.

Kebijakan kesehatan dan perubahan iklim yang terintegrasi, seperti memperkuat sistem surveilans penyakit, investasi riset untuk memahami nexus iklim‐penyakit, serta menanamkan pendekatan One Health, yang melihat keterkaitan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem, direkomendasikan untuk mencegah dan mengontrol penyakit menular masa depan. 

sumber: https://onehealthoutlook.biomedcentral.com/articles/10.1186/s42522-024-00127-3

 

Hari Pangan Sedunia 2025

Setiap 16 Oktober, diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia yang merupakan bentuk komitmen global untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan dan gizi. Tahun 2025, peringatan hari pangan bertepatan dengan ulang tahun ke-80 Food and Agriculture Organization (FAO) dengan tema “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future”. Tema ini menyerukan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan dan inklusif. Melalui tema yang diangkat, FAO menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, masyarakat sipil, dan individu untuk menciptakan sistem pangan yang lebih baik. Sistem pangan yang lebih baik diharapkan dapat mewujudkan akses pangan sehat dan bergizi serta praktik pertanian ramah lingkungan. Secara lebih lanjut, sistem pangan juga diharapkan dapat menjadi inklusif dan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat, pengurangan pemborosan pangan, dan peningkatan efisiensi rantai pasokan.

Berdasarkan laman website FAO, peringatan Hari Pangan Sedunia 2025 akan diisi dengan berbagai kegiatan. Contohnya seperti peresmian Museum Pangan dan Pertanian FAO di Roma yang bertujuan mendidik masyarakat tentang pentingnya sistem pangan berkelanjutan. Selain itu, diselenggarakan ceramah dan diskusi panel bertema “FoodS FutureS: Conversations for a Better World” untuk membahas masa depan pangan dan pertanian melalui perspektif empat pilar utama FAO. Kegiatan lokal seperti pameran, konser, lomba lari, dan aksi pengumpulan pangan juga dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan global di lebih dari 150 negara.

Meskipun bidang pangan pada praktiknya telah menghasilkan banyak banyak kemajuan, masih terdapat tantangan besar dalam mencapai ketahanan pangan termasuk perubahan iklim, konflik, dan ketimpangan ekonomi. Oleh karena itu, Hari Pangan Sedunia 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan sistem pangan yang lebih baik bagi masa depan. Peringatan ini mengingatkan kita akan pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan sistem pangan yang berkelanjutan, inklusif, dan adil.

Selengkapnya: https://www.fao.org/world-food-day/en 

 

Peran Tobacco Treatment Specialist (TTS) dalam Mewujudkan Upaya Berhenti Merokok pada Pelayanan Kesehatan Primer

Upaya berhenti merokok menjadi salah satu cara pencegahan keparahan penyakit dan kematian yang efektif bagi perokok. Namun, fakta menunjukkan bahwa hal ini sangat sulit dilakukan. Faktor ketergantungan nikotin, stres, dan kurangnya dukungan menyebabkan upaya berhenti merokok sering gagal. Studi Meyer, Cervenka, Lammers, dan Furst (2022) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kehadiran Tobacco Treatment Specialist (TTS) atau spesialis terapi tembakau di layanan kesehatan primer dapat memberikan dampak besar terhadap keberhasilan pasien dalam berhenti merokok. TTS merupakan tenaga profesional yang memiliki keahlian dan pelatihan khusus untuk membantu individu berhenti merokok melalui pendekatan berbasis bukti ilmiah. TTS tidak hanya memberikan obat-obatan untuk membantu mengatasi ketergantungan nikotin tetapi juga melakukan konseling, menyusun rencana terapi, memberikan edukasi, dan membantu mencegah kekambuhan. Melalui latar belakang pelatihan yang ketat dan sertifikasi nasional, TTS mampu memberikan pendampingan menyeluruh bagi pasien sekaligus menjadi sumber rujukan bagi tenaga medis lain yang ingin memberikan layanan berhenti merokok yang lebih efektif.

Penelitian yang dilakukan oleh Meyer dan rekan-rekannya melibatkan berbagai tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan asisten medis di fasilitas layanan primer. Hasilnya menunjukkan bahwa 85% staf mengetahui keberadaan TTS dan lebih dari setengahnya (55%) telah memanfaatkan perannya dalam praktik klinik. Sebagian besar staf menggunakan layanan TTS untuk rujukan kunjungan lanjutan berhenti merokok (54%) diikuti oleh konsultasi cepat (21%) dan pengelolaan obat (21%). Hampir semua responden menyatakan bahwa keberadaan TTS memberikan manfaat yang signifikan bagi pelayanan terutama karena memungkinkan pasien mendapatkan bimbingan yang lebih fokus dan berkelanjutan tanpa harus dirujuk ke tempat lain. Studi ini juga menemukan bahwa kehadiran TTS dapat membantu meningkatkan indikator kualitas kesehatan terutama pada pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes.

Bagi pasien, kemudahan mendapatkan layanan berhenti merokok di tempat yang sudah dikenal seperti klinik keluarga menjadi nilai tambah tersendiri. Mereka merasa lebih nyaman karena sudah terbiasa dengan staf dan lingkungan klinik. Faktor kedekatan dengan tenaga medis, kemudahan penjadwalan, serta rasa percaya terhadap rekomendasi dokter keluarga membuat mereka lebih termotivasi untuk berhenti merokok. Beberapa pasien bahkan menyebutkan bahwa kehadiran TTS di fasilitas layanan primer membuat proses berhenti merokok terasa lebih mudah karena dukungan yang mereka terima terasa lebih personal dan berkelanjutan. Selain itu, keberadaan TTS bagi tenaga kesehatan juga memberikan manfaat besar. Konsultasi antar profesional yang dapat dilakukan dengan cepat memudahkan pengambilan keputusan terkait terapi dan pengelolaan obat. TTS juga membantu mengurangi beban kerja dokter dan perawat dalam memberikan konseling sekaligus memastikan bahwa pasien menerima intervensi sesuai pedoman berbasis bukti.

Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa integrasi TTS ke dalam layanan kesehatan primer membawa manfaat nyata bagi pasien, tenaga kesehatan, dan sistem pelayanan kesehatan. Kolaborasi multidisiplin yang terbentuk membuat layanan berhenti merokok menjadi lebih efektif, efisien, dan manusiawi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa langkah kecil seperti menghadirkan seorang spesialis dalam lini pertama pelayanan dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan masyarakat dan menjadi contoh yang patut diterapkan di berbagai negara termasuk di Indonesia.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://www.cambridge.org/

Tinjauan Sistematis Kesenjangan Kesehatan dalam Pelayanan Kritis Jantung: Memahami Ketidaksetaraan, Hambatan, dan Jalur Menuju Akses yang Adil serta Hasil yang Lebih Baik

Setiap tanggal 29 September, dunia memperingati Hari Jantung Sedunia (World Heart Day). Peringatan ini menjadi momentum global untuk mengingatkan akan pentingnya menjaga kesehatan jantung. Penyakit jantung dan pembuluh darah atau penyakit kardiovaskular (CVD) masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Menurut data WHO, penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian pada tahun 2022, atau sekitar 32% dari seluruh kematian global. Dari angka tersebut, 85% di antaranya disebabkan oleh serangan jantung (Ischemic Heart Disease) dan stroke. Yang lebih mengkhawatirkan, lebih dari 75% kematian akibat CVD terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah, termasuk Indonesia.

Penelitian telaah literatur yang dilakukan oleh Abouzid et al. (2024) menyoroti bahwa kesenjangan dalam pelayanan jantung kritis tetap menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan global. Dalam literatur ini, penulis mengumpulkan bukti dari studi antara Januari 2000 hingga Mei 2023 untuk mengidentifikasi disparitas akses dan hasil dari intervensi jantung kritis di berbagai populasi. Mereka menemukan bahwa faktor sosial ekonomi, asuransi, akses geografis, ras dan etnis, hambatan bahasa dan budaya, serta kesenjangan literasi kesehatan berkontribusi signifikan terhadap ketidaksetaraan tersebut.

Salah satu hambatan utama yang diungkap adalah aspek pembiayaan kesehatan: populasi tanpa asuransi atau dengan cakupan asuransi terbatas sering mengalami penundaan diagnosis maupun keterbatasan akses ke tindakan lanjutan. Tercatat bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah atau tinggal di daerah terpencil cenderung sulit menjangkau fasilitas kardiologi khusus atau pusat jantung. Hambatan geografis, termasuk jarak, transportasi, dan infrastruktur yang buruk, juga menjadi penghambat akses terhadap layanan kritis jantung.

Penelitian menunjukkan bahwa variabel ras dan etnis mempengaruhi akses dan hasil perawatan jantung kritis. Beberapa populasi etnis atau ras minoritas dilaporkan memiliki angka mortalitas lebih tinggi atau komplikasi lebih besar dibanding kelompok mayoritas, yang disinyalir karena kombinasi hambatan sistemik dan determinan sosial. Di samping itu, hambatan budaya dan bahasa memperparah situasi ketika pasien atau keluarga tidak memahami bahasa medis atau tidak merasa nyaman berkomunikasi dengan petugas kesehatan.

Disparitas dalam hasil klinis juga menemukan bahwa pasien dari kelompok rentan ini lebih mungkin mengalami hasil yang kurang baik, seperti komplikasi pasca operasi, durasi rawat inap lebih lama, atau kematian yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya akses yang timpang, tapi kualitas dan keberlanjutan layanan juga berbeda menurut latar belakang sosial dan kondisi pasien.

Untuk mengatasi ketidaksetaraan tersebut, para peneliti merekomendasikan intervensi lintas sektor yang mencakup perluasan akses layanan, pengurangan hambatan finansial, dan perluasan cakupan asuransi kesehatan. Pendekatan pelayanan yang berfokus pada pasien (patient-centered) juga dianggap vital, termasuk mendengarkan kebutuhan dan preferensi pasien, serta memperkuat sistem komunikasi antara pasien dan penyedia layanan.

Teknologi juga dianggap sebagai bagian dari solusi, seperti telemedicine dan teknologi jarak jauh, bisa menjembatani kesenjangan akses, terutama bagi pasien yang tinggal jauh dari pusat layanan. Namun, penggunaan teknologi ini harus disesuaikan dengan kondisi lokal dan mempertimbangkan tantangan seperti akses internet, kemampuan menggunakan perangkat, dan kesiapan sistem kesehatan setempat.

Penulis juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut, khususnya studi longitudinal dan riset implementasi, untuk mengevaluasi strategi intervensi yang sudah diterapkan serta dampaknya dalam jangka panjang. Selain itu, keterlibatan pasien dan advokasi kebijakan menjadi penting agar suara kelompok rentan bisa terwakili dalam perumusan strategi pelayanan jantung.

Secara keseluruhan, penelitian ini memperingatkan bahwa meskipun kemajuan teknologi dan medis telah membuka banyak kemungkinan dalam pelayanan jantung kritis, tanpa tindakan proaktif untuk mengatasi hambatan sosial dan sistemik, kemajuan tersebut bisa memperlebar jurang ketidaksetaraan dalam kesehatan jantung di masyarakat global.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39119413/ 

 

Pentingnya Menjaga Kualitas Layanan Kesehatan Anak pada Kondisi Kasus Gawat Darurat Kesehatan Mental

Kondisi kesehatan mental anak dan remaja kini telah menjadi perhatian besar di banyak negara. Sayangnya, pengetahuan tentang kualitas layanan kesehatan mental dan pengalaman keluarga dalam perawatan selama periode perawatan masih terbatas. Peningkatan kasus krisis kesehatan mental anak faktanya tidak selalu sejalan dengan ketersediaan tempat perawatan di rumah sakit jiwa. Akibatnya, banyak anak dan remaja yang harus menunggu di unit gawat darurat atau ruang rawat inap rumah sakit umum. Kondisi kekosongan menunggu di unit gawat darurat tersebut disebut mental health boarding. Sebuah penelitian kualitatif oleh McCarty et al. (2022) menyoroti pengalaman orang tua dan tenaga kesehatan dalam menghadapi situasi ini.

Penelitian ini menemukan bahwa masa “boarding” sering kali tidak memberi lingkungan yang benar-benar mendukung pemulihan anak. Seluruh informan baik orang tua maupun dokter memiliki pendapat bahwa pengalaman ini mirip seperti berada di ruang tahanan. Persepsi ini muncul karena informan mengungkapkan bahwa kondisi boarding hanya diisi dengan aktivitas yang terbatas sehingga justru memperburuk kecemasan maupun depresi anak. Penelitian ini juga mengidentifikasi tiga aspek penting yang mempengaruhi kualitas layanan: (1) infrastruktur pelayanan seperti pelatihan tenaga kesehatan, komposisi tim, dan kondisi fisik ruang rawat; (2) proses pelayanan mencakup komunikasi, pembagian peran, serta prosedur yang jelas; dan (3) luaran yang terukur, seperti keselamatan pasien, pengalaman keluarga, status kesehatan mental, kecepatan penanganan, dan beban emosional tenaga kesehatan.

Bagi praktisi kesehatan, temuan ini menjadi pengingat penting untuk menyeimbangkan aspek keselamatan dalam kondisi gawat darurat secara komprehensif. Implikasinya, rumah sakit perlu berinovasi dalam menciptakan lingkungan boarding yang lebih ramah dan terapeutik. Contohnya dapat dilakukan dengan menyediakan ruang aktivitas fisik sederhana yang nyaman serta memperkuat koordinasi antar profesi. Selain itu, komunikasi yang jelas dan konsisten antara tenaga kesehatan dengan keluarga pasien penting dipertimbangkan. Dukungan kebijakan publik dan peningkatan sumber daya di komunitas juga penting agar anak-anak tidak berlarut-larut menunggu perawatan. Penelitian ini memberi pesan jelas: boarding bukan sekadar waktu tunggu melainkan periode kritis yang harus dikelola dengan bijak agar tidak memperburuk kondisi mental anak. Melalui perbaikan kualitas layanan pada masa tunggu, generasi muda dapat terlindungi dari dampak jangka panjang krisis kesehatan mental.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH (Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://shmpublications.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/jhm.12906 

 

Hari Kesehatan Mental Sedunia

Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober merupakan momen untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan jiwa, perlawanan stigma, dan mendorong terciptanya akses layanan kesehatan mental yang merata. Tema yang diangkat pada 2025 adalah “Access to Services – Mental Health in Catastrophes and Emergencies” atau “Akses Layanan Kesehatan Mental dalam Bencana dan Keadaan Darurat”. Tema ini menegaskan bahwa kesehatan mental harus diprioritaskan pada kondisi krisis seperti bencana alam, konflik, pandemi, maupun situasi darurat lainnya. Dalam beberapa kasus pada kondisi tersebut, kesehatan mental diketahui masih sering diabaikan.

Kondisi bencana dan krisis terbukti memberikan dampak besar terhadap kondisi psikologis individu maupun komunitas. Rasa takut, cemas, trauma, dan depresi sering muncul sebagai konsekuensi dari situasi darurat. Kelompok yang sebelumnya sudah memiliki kerentanan kesehatan mental bahkan dapat mengalami tekanan yang lebih berat ketika akses layanan terganggu. Pada saat yang sama, ketidaksetaraan dalam distribusi tenaga profesional kesehatan jiwa juga membuat dukungan psikososial tidak merata terutama di wilayah terpencil atau daerah terdampak.

Melalui peringatan tahun ini, pemerintah, organisasi kesehatan, dan masyarakat disarankan dan didorong untuk lebih siap dengan sistem tanggap darurat. Sistem tanggap darurat khususnya berfokus pada aspek fisik dan psikososial. Meskipun dalam kondisi sulit, layanan konseling krisis dan pertolongan pertama psikologis perlu dipastikan tetap berjalan secara berkelanjutan. Hal ini penting agar masyarakat selamat secara fisik dan mampu pulih secara mental setelah melewati masa krisis. Partisipasi masyarakat juga sangat dibutuhkan dalam mendukung kampanye ini. Contoh kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya adalah seminar, diskusi publik, kampanye perlawanan stigma kondisi mental di media sosial, dan advokasi kebijakan. Selain itu, komunitas lokal dapat berperan untuk saling mendukung, berbagi cerita, dan membangun ketahanan bersama.

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah hak dasar manusia terutama dalam kondisi bencana atau keadaan darurat. Kesehatan mental yang komprehensif dapat diwujudkan dengan penguatan akses layanan kesehatan mental, peningkatan kesadaran publik, dan kebijakan yang berpihak pada kesehatan mental. Melalui kesehatan mental yang komprehensif masyarakat yang lebih tangguh dan berdaya dapat terwujud.

Selengkapnya:
https://www.mentalhealth.org.uk/our-work/public-engagement/world-mental-health-day