Melawan Kolera Melalui Kekuatan Komunitas dan Sistem Kesehatan

Penyakit kolera diketahui masih menjadi ancaman besar secara global dengan adanya jutaan kasus dan ribuan kematian setiap tahun. Penyakit kolera banyak ditemukan di wilayah Sub-Sahara seperti Afrika. Umumnya, wilayah ini tidak memiliki sarana air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan yang memadai. Berdasarkan Global Task Force on Cholera Control (GTFCC) Roadmap 2030, target pengurangan kematian akibat kolera adalah minimal mencapai 90% sehingga diperlukan strategi yang komprehensif. Sebuah studi terbaru oleh Baličević et al. (2023) menekankan bahwa pemberdayaan komunitas dan penguatan sistem kesehatan merupakan dua kunci utama yang harus berjalan beriringan.

Penelitian ini meninjau pengendalian kolera di negara terdampak dan menemukan bahwa tata kelola yang baik dan kerja sama lintas sektor berperan meningkatkan keberhasilan pengendalian wabah. Kekuatan dukungan politik, koordinasi antar lembaga, dan kemitraan dengan organisasi lokal maupun internasional terbukti mempercepat respon wabah. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan. Keterlibatan tokoh masyarakat, ketepatan penggunaan bahasa, dan ketepatan strategi komunikasi dengan budaya setempat diketahui mampu membangun hubungan yang lebih baik. Selain itu, kohesi sosial juga muncul sebagai elemen penting. Aktivitas kolektif seperti musik, tari, atau pertemuan komunitas dapat memperkuat partisipasi masyarakat dalam kampanye kesehatan, menciptakan rasa kebersamaan, dan meningkatkan antusiasme dalam mendukung intervensi.

Sebaliknya, konflik, birokrasi yang rumit dan lemahnya kepemimpinan justru menjadi hambatan. Stigma dan marginalisasi melemahkan keterlibatan komunitas bahkan dapat membuat kelompok tertentu enggan mencari pertolongan atau melaporkan kasus. Pesan kesehatan yang bersifat menyalahkan atau menimbulkan stigma dalam suatu komunitas diketahui dapat menimbulkan dampak negatif dengan kemunculan penolakan dan kurangnya kepercayaan masyarakat.

Titik temu antara sistem kesehatan dan masyarakat yang disebut sebagai community health system interface menjadi arena paling krusial. Community health system interface berperan sebagai penentu keberhasilan atau kegagalan program pengendalian kolera. Faktor keamanan, kerja sama antara petugas dan warga, serta dinamika sosial-politik menjadi penentu apakah intervensi dapat diterima atau justru ditolak.

Temuan ini membuktikan bahwa membangun kepercayaan masyarakat lebih penting daripada hanya sekadar memberikan instruksi medis. Tenaga kesehatan perlu melibatkan tokoh masyarakat, memperhatikan kesesuaian bahasa, dan menghindari narasi negatif pada pasien atau kelompok tertentu. Konteks sosial-politik juga tidak boleh diabaikan karena intervensi yang tidak peka terhadap dinamika kekuasaan atau ketidaksetaraan justru dapat memperburuk stigma dan menimbulkan konflik. Selain itu, kolaborasi lintas sektor menjadi mutlak. Peran lintas sektor sangat dibutuhkan untuk perbaikan dalam bidang sanitasi, pendidikan, dan keamanan. Melalui penguatan sistem kesehatan sekaligus pemberdayaan masyarakat, target eliminasi kolera pada 2030 bukanlah mimpi kosong melainkan tujuan yang dapat dicapai jika kolaborasi dan komitmen terus diperkuat.

Dirangkum oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38084475/ 

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesediaan Orang Tua Anak yang Dirawat di Rumah Sakit untuk Terlibat dalam Keselamatan Pasien: Sebuah Studi Potong Lintang

Setiap tanggal 17 September diperingati sebagai Hari Keselamatan Pasien Sedunia atau World Patient Safety Day. Tahun ini, peringatan difokuskan pada upaya memastikan perawatan yang aman bagi bayi baru lahir dan anak-anak, kelompok yang paling rentan terhadap risiko kesehatan. Tema yang diangkat WHO pada 2025 adalah “Safe care for every newborn and every child” atau “Perawatan aman bagi setiap bayi baru lahir dan setiap anak”. Slogannya, “Patient safety from the start!”, menekankan pentingnya mencegah risiko sejak anak dilahirkan hingga usia 9 tahun.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kim dan Chang (2025) meneliti faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan orang tua anak yang pernah dirawat di rumah sakit untuk berpartisipasi dalam keselamatan pasien. Dengan studi cross-sectional di Korea, melibatkan 210 orang tua yang anaknya berusia 3-18 tahun dan dirawat di rumah sakit dalam satu tahun terakhir. Responden disurvei menggunakan kuesioner tertutup yang mengukur beberapa variabel: pengetahuan keselamatan pasien (patient safety knowledge), literasi keselamatan pasien (patient safety literacy), pengalaman rawat inap anak (children’s hospitalization experience), serta keinginan orang tua untuk ikut andil dalam keselamatan pasien. Analisis data mencakup statistik deskriptif, korelasi, hingga regresi hierarkis.

Hasil menunjukkan bahwa rata-rata skor keinginan untuk terlibat dalam keselamatan pasien adalah 62,96 dari skala 19-76, menandakan tingkat yang relatif moderat. Rata-rata skor pengetahuan keselamatan pasien adalah sekitar 34,89 dari 50 sedangkan literasi keselamatan pasien sekitar 3,01 dari 4. Variabel pengalaman rawat inap anak, khususnya komunikasi antara petugas dengan orang tua & anak, perhatian terhadap keselamatan dan kenyamanan selama rawat inap, dan lingkungan rumah sakit juga diukur.

Analisis korelasi memperlihatkan bahwa ada korelasi positif kuat antara keinginan orang tua untuk berpartisipasi dengan pengetahuan keselamatan pasien (r = 0,36, p < 0,001), literasi keselamatan pasien (r = 0,24, p < 0,001), komunikasi dengan orang tua (r = 0,27, p < 0,001), komunikasi dengan anak (r = 0,14, p = 0,035), serta perhatian terhadap keselamatan dan kenyamanan anak ketika dirawat (r = 0,25, p < 0,001). Namun korelasi tidak signifikan ditemukan antara keinginan partisipasi dan variabel seperti penilaian keseluruhan rumah sakit (global rating) serta lingkungan rumah sakit dalam beberapa aspek.

Dalam analisis regresi hierarkis, beberapa faktor muncul sebagai prediktor yang signifikan terhadap keinginan orang tua untuk ikut memastikan keselamatan pasien anaknya. Faktor-faktor tersebut antara lain: kelahiran anak yang dirawat (anak sulung lebih cenderung membuat orang tua berpartisipasi dibanding anak ketiga), pengetahuan keselamatan pasien yang lebih tinggi, komunikasi dengan anak selama rawat inap (uniknya, semakin besar komunikasi dengan anak justru berkorelasi negatif terhadap keinginan orang tua), dan perhatian terhadap keselamatan & kenyamanan selama rawat inap.

Penelitian juga menemukan bahwa beberapa karakteristik demografis seperti usia orang tua, jenis kelamin, dan usia anak secara keseluruhan kurang berpengaruh setelah variabel-variabel lain diperhitungkan, meskipun pada analisis awal terlihat bahwa orang tua yang berusia muda (19-39 tahun) dan laki-laki memiliki skor keinginan yang lebih tinggi dibanding kelompok lainnya. Tetapi setelah memasukkan faktor-pengetahuan dan pengalaman rawat inap, pengaruh usia dan jenis kelamin menjadi tidak signifikan.

Dalam diskusi, para penulis menyoroti bahwa keinginan partisipasi orang tua dalam keselamatan pasien anak tidak hanya dipengaruhi oleh atribut demografis, tetapi lebih oleh pengalaman konkret selama rawat inap dan pemahaman mereka terhadap keselamatan pasien. Mereka mencatat bahwa perhatian terhadap detail-detail seperti verifikasi identitas pasien, penanganan nyeri, kenyamanan, serta interaksi komunikasi yang baik antara staf medis dengan pasien anak dan orang tua dapat meningkatkan kesediaan orang tua untuk aktif.

Sebagai kesimpulan, penelitian ini menegaskan perlunya pengembangan program edukasi keselamatan pasien yang ditujukan kepada orang tua anak-anak yang dirawat di rumah sakit, dengan memperhatikan faktor-faktor seperti siapa anak yang dirawat (apakah anak sulung atau bukan), bagaimana rumah sakit memastikan kenyamanan & keamanan, serta bagaimana komunikasi dijalankan — termasuk komunikasi dengan anak. Institusi kesehatan dan pembuat kebijakan disarankan untuk merancang intervensi dan kampanye agar partisipasi orang tua dalam keselamatan pasien anak menjadi lebih aktif dan efektif.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39802345/ 

 

Hari Palang Merah Indonesia

Hari Palang Merah Indonesia (PMI) yang diperingati setiap 17 September merupakan peringatan untuk menghargai dedikasi para relawan dalam terbentuknya organisasi PMI. Palang Merah Indonesia (PMI) adalah organisasi kemanusiaan nasional yang berdiri pada 17 September 1945 di bawah kepemimpinan Drs. Mohammad Hatta. PMI bekerja dengan prinsip kemanusiaan, kesetaraan, netralitas, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, dan kesemestaan. PMI juga menjadi bagian dari Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Sejak awal berdiri, PMI memiliki peran aktif dalam memberikan bantuan bagi korban pasca perang di Indonesia. Saat ini, PMI terus hadir dalam layanan kemanusiaan mulai dari penanggulangan bencana, layanan kesehatan, dan transfusi darah. Melalui jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia, PMI juga mendorong partisipasi masyarakat melalui kegiatan donor darah dan pelatihan relawan kesehatan. Kegiatan ini tidak hanya berperan untuk menyelamatkan nyawa tetapi juga menumbuhkan solidaritas kemanusiaan.

Hari PMI sejatinya juga dapat menjadi pengingat bahwa setiap orang dapat berkontribusi dalam aksi kemanusiaan. Misalnya bagi tenaga kesehatan, Hari PMI dapat menjadi pengingat untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat donor darah serta membangun kepercayaan melalui pelayanan yang ramah dan profesional. Sementara itu bagi masyarakat umum, peringatan ini adalah ajakan untuk terus berpartisipasi aktif dalam aksi kemanusiaan sederhana yang berdampak besar bagi sesama. Mari, rayakan Hari PMI dengan ikut terlibat, mendukung, dan menyebarkan semangat kemanusiaan!

Selengkapnya: https://www.pmi.or.id/ 

 

Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional

Setiap tanggal 12 September, Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional diperingati untuk meningkatkan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Momentum ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran, membangun kebiasaan hidup sehat, dan mendukung program kesehatan gigi di masyarakat. Penting dipahami bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut tidak hanya berkaitan dengan penampilan tetapi juga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Masalah seperti gigi berlubang, radang gusi, dan penyakit periodontal (peradangan atau infeksi gusi dan tulang penyangga gigi) dapat memengaruhi kualitas hidup. Contoh pengaruh masalah gigi dan mulut terhadap kualitas hidup adalah timbulnya nyeri berulang yang dapat mengganggu tidur hingga konsentrasi terhadap aktivitas tertentu. Selain itu, penyakit periodontal yang parah dapat menimbulkan bekurangnya kekokohan gigi sehingga menjadi goyang kemudian tanggal. Kondisi ini menimbulkan kesulitan mengunyah sehingga memengaruhi asupan gizi serta kesehatan tubuh secara umum.

Masalah gigi dan mulut sejatinya dapat dihindari dengan memulai langkah sederhana seperti menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, mengurangi konsumsi gula, rutin memeriksakan gigi setiap enam bulan sekali, serta menjaga pola makan sehat dan kebutuhan cairan tubuh. Langkah ini cukup mudah dilakukan dan harus dipertahankan dengan konsisten. Oleh karena itu, mari kita senantiasa menjaga kesehatan gigi dan mulut untuk mewujudkan hidup sehat dan produktif!

Selengkapnya: https://ayosehat.kemkes.go.id/

 

Disparitas dalam Akses Layanan Kesehatan Hepatitis B di Populasi Miskin yang Termarginalisasi

Pekan Peduli Hepatitis B berlangsung mulai tanggal 4 hingga 12 September 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan Hepatitis B, yang menjadi salah satu penyakit menular serius di Indonesia. Tema tahun 2025 “Hepatitis: Let’s Break It Down” mengajak tindakan segera untuk menghilangkan hambatan finansial, sosial, dan sistemik guna memberantas hepatitis. Dalam praktiknya, masyarakat miskin dan marjinal menghadapi tantangan besar dalam mengakses layanan kesehatan hepatitis B, mulai dari skrining, vaksinasi, pengobatan hingga tindak lanjut klinis, yang menyebabkan kesenjangan sehat yang signifikan di banyak negara.

Penelitian yang dilakukan oleh LI et al. (2024) membahas kesenjangan akses layanan hepatitis B di kalangan masyarakat miskin dan marjinal, seperti migran tidak resmi, tunawisma, pekerja seks, serta kelompok dengan status sosial ekonomi rendah. Studi ini merupakan tinjauan sistematis metode campuran (mixed-method) dari 21 penelitian yang melibatkan lebih dari 13 ribu orang. Hasilnya menunjukkan cakupan vaksinasi hepatitis B minimal satu dosis hanya sekitar 37%, sedangkan angka skrining, pengobatan, dan keterhubungan dengan layanan perawatan (linkage-to-care) bahkan lebih rendah, yakni di bawah 30%. Hal ini menegaskan bahwa kelompok paling rentan justru masih jauh tertinggal dalam upaya pencegahan dan penanganan hepatitis B.

Analisis mendalam mengidentifikasi 51 faktor yang memengaruhi akses layanan, yang dikategorikan dalam beberapa domain: biologis, lingkungan fisik, perilaku, sosial-budaya, dan sistem layanan kesehatan. Faktor biologis mencakup riwayat penyakit menular lain seperti HIV atau sifilis yang mendorong individu untuk lebih waspada sehingga cenderung mencari vaksinasi atau pengobatan. Sementara itu, faktor lingkungan fisik antara lain mobilitas kerja musiman, kondisi tempat tinggal yang tidak menetap, serta keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah terpencil yang menghambat kesinambungan layanan.

Dalam domain perilaku, pengalaman pribadi dengan skrining penyakit menular sebelumnya serta keyakinan akan risiko terinfeksi terbukti meningkatkan motivasi untuk mengakses layanan hepatitis B. Sebaliknya, strategi koping negatif seperti sikap tidak percaya pada sistem kesehatan atau keyakinan bahwa kondisi tanpa gejala tidak memerlukan perawatan justru menghambat penyelesaian vaksinasi maupun pengobatan. Persepsi yang keliru, seperti anggapan penggunaan kondom sudah cukup melindungi, juga memperlemah partisipasi dalam layanan.

Faktor sosial-budaya memainkan peran besar dalam memperparah hambatan. Status imigrasi, riwayat pemenjaraan, stigma terhadap hepatitis B, diskriminasi, dan rendahnya tingkat pendidikan menjadi kendala utama. Populasi dengan status hukum tidak jelas sering takut mengakses layanan karena khawatir dilaporkan ke otoritas, sementara stigma dari masyarakat bahkan tenaga kesehatan membuat penderita enggan menjalani skrining atau terapi. Ketidaksetaraan gender pun berperan, misalnya perempuan pekerja seks dengan pengalaman kerja singkat cenderung menyelesaikan vaksinasi lebih rendah dibandingkan yang lebih lama bekerja.

Pada level sistem kesehatan, tantangan yang ditemukan antara lain rendahnya literasi tentang hepatitis B, biaya langsung maupun tidak langsung, kurangnya layanan yang ramah bagi kelompok marjinal, jadwal layanan yang kaku, serta minimnya rekomendasi aktif dari tenaga medis. Hambatan biaya seringkali membuat pasien tidak mampu melanjutkan pengobatan, sementara keterbatasan pengetahuan menyebabkan banyak orang tidak menyadari pentingnya vaksinasi atau lokasi layanan yang tersedia.

Sebagai kesimpulan, studi ini menekankan bahwa kesenjangan layanan hepatitis B bagi populasi miskin dan marjinal masih sangat besar, padahal mereka merupakan kelompok berisiko tinggi. Untuk menutup jurang ini, diperlukan intervensi terintegrasi seperti penyediaan layanan mobile di komunitas, penyuluhan yang sesuai konteks budaya, penghapusan hambatan biaya, serta kebijakan berbasis hak asasi agar status hukum maupun kondisi sosial tidak menjadi penghalang. Upaya semacam ini tidak hanya akan meningkatkan cakupan skrining dan vaksinasi, tetapi juga memperkuat retensi dalam pengobatan hepatitis B di kelompok yang paling membutuhkan.

sumber: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40709345/

 

Peluang dan Tantangan Chat GPT dalam Layanan Kesehatan

Kecerdasan buatan kini semakin dekat dan banyak digunakan dalam dunia medis. Penerapan kecerdasan buatan yang telah masif digunakan salah satunya melalui Chat GPT, sebuah platform dari OpenAI yang mampu menghasilkan jawaban menyerupai manusia. Studi terbaru oleh Javaid, Haleem, dan Singh (2023) menegaskan bahwa teknologi Chat GPT menawarkan peluang besar dalam perkembangan transformasi layanan kesehatan. Chat GPT dapat dimanfaatkan mulai dari edukasi pasien, pendukung keputusan klinis, dan otomatisasi administrasi yang selama ini menyita banyak waktu tenaga medis. Chat GPT juga dapat membantu pasien memahami penyakit, obat, atau prosedur medis melalui penjelasan sederhana. Apabila dilihat dari sisi keselamatan, sistem ChatGPT mampu menurunkan risiko kesalahan medis karena dapat menyediakan informasi berbasis bukti dengan cepat.

ChatGPT dapat berperan sebagai jembatan akses layanan dan sumber informasi medis awal sehingga berpotensi memperkecil kesenjangan pelayanan kesehatan. Dalam praktek praktisi kesehatan, dokter dapat menggunakan Chat GPT untuk membantu menyusun laporan medis, meringkas rekam medis, dan melakukan transkripsi dengan cepat dan akurat. Teknologi ini secara lebih lanjut dapat mendukung penelitian klinis dengan menganalisis data uji coba maupun literatur medis secara efisien. Chat GPT juga berpotensi menjadi asisten digital dokter untuk mengingatkan jadwal kontrol, menyusun rencana diet untuk pasien diabetes, atau memberikan rekomendasi awal berdasarkan riwayat medis. Selain manfaat tersebut, Chat GPT dapat mengurangi beban kerja administratif kesehatan. Melalui Chat GPT, beban kerja administratif dapat dikurangi sehingga tenaga medis memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan pasien.

Meskipun memiliki banyak manfaat dalam mempermudah akses dan sumber informasi kesehatan, penelitian ini menegaskan bahwa ChatGPT memiliki keterbatasan. Chat GPT dapat menghasilkan informasi yang keliru atau bias jika data medisnya tidak diperbarui. Isu privasi dan etika medis juga perlu diwaspadai karena data pasien sangat sensitif. Selain itu, Chat GPT tidak bisa menggantikan tenaga medis. Keputusan klinis tetap membutuhkan penilaian, empati, serta pertimbangan etis yang hanya bisa dilakukan oleh manusia.

Penting digarisbawahi bahwa implikasi Chat GPT bagi praktisi kesehatan adalah memanfaatkan penggunaannya sebagai alat bantu bukan pengganti. Penggunaannya perlu dilengkapi dengan regulasi, standar etik, dan pembaruan data medis yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan tepat, Chat GPT dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan mutu layanan, memperluas akses, serta mendorong inovasi di dunia kesehatan

Dirangkum oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772485923000224?via%3Dihub 

 

Hari Buta Warna Sedunia

Hari buta warna sedunia yang diperingati setiap 6 September merupakan upaya kampanye untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyandang buta warna. Tanggal 6 September dipilih menjadi hari buta warna sedunia sebagai penghormatan kepada John Dalton, ilmuwan yang meneliti dan menemukan kondisi buta warna pada dirinya sendiri. John Dalton adalah seorang ilmuwan yang lahir pada 6 September 1766. Dalton adalah orang pertama yang menyadari keberadaan buta warna. Sebagai seorang ilmuwan, ia menyadari bahwa baik ia maupun saudaranya tidak dapat melihat warna dengan cara yang sama seperti orang lain.

Kondisi buta warna atau colour vision deficiency (CVD) diketahui diderita oleh 1 dari 12 laki-laki (8%) dan 1 dari 200 oleh perempuan di seluruh dunia. Secara keseluruhan, sekitar 300 juta orang di seluruh dunia, diperkirakan menderita buta warna yang jumlahnya hampir sama dengan seluruh populasi di Amerika Serikat. Umumnya, buta warna ditandai dengan gejala tidak dapat membedakan warna merah atau hijau. Kondisi buta warna mayoritas bersifat genetik yang berasal dari gen ibu. Buta warna juga dapat disebabkan oleh akibat dari penyakit lain seperti diabetes dan multiple sclerosis atau karena penuaan dan konsumsi obat-obatan.

Tujuan utama peringatan ini adalah memberikan pemahaman lebih luas bahwa buta warna tidak hanya sekadar ketidakmampuan membedakan warna merah dan hijau tetapi juga kondisi yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari, pendidikan, hingga karier seseorang. Melalui peringatan ini, diharapkan masyarakat lebih peduli dan mendukung terciptanya lingkungan yang ramah bagi penyandang buta warna di seluruh dunia.

Selengkapnya: https://www.colourblindawareness.org/ 

 

Hari Leukemia Sedunia 2025

Setiap 4 September, kita memperingati Hari Leukemia Sedunia sebagai upaya kampanye global untuk meningkatkan kesadaran mengenai gejala, kondisi, dan pentingnya diagnosis leukemia. Saat ini, jumlah penderita yang terdiagnosis mencapai lebih dari 437.000 kasus baru setiap tahun. Leukemia sendiri merupakan kanker yang menyerang jaringan pembentuk darah, yaitu sumsum tulang yang ditandai dengan produksi sel darah putih abnormal secara berlebihan. Kondisi ini menyebabkan sumsum tulang dipenuhi sel-sel abnormal sehingga menghambat produksi sel darah normal yang sangat dibutuhkan tubuh.

Gejala leukemia seringkali tidak spesifik dan dapat menyerupai penyakit lain. Gejalanya meliputi kelelahan, nyeri sendi, infeksi berulang, demam, sesak nafas, memar, hingga perdarahan. Oleh karena itu, kepastian diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan jenis sel darah putih yang terlibat, leukemia dibedakan menjadi mieloid atau limfatik. Sementara itu, berdasarkan laju perkembangannya, leukemia dibedakan menjadi akut atau kronis. Penting dipahami bahwa istilah akut dan kronis tidak merujuk pada tingkat keparahan penyakit, melainkan pada kecepatan perkembangannya. Leukemia akut berkembang dengan cepat tetapi berpotensi disembuhkan dengan pengobatan standar atau transplantasi sumsum tulang. Sementara itu, leukemia kronis berkembang perlahan dalam jangka panjang dan umumnya lebih sulit disembuhkan.

Pada 2025, Hari Leukemia Sedunia mengangkat tema “What does Leukemia mean to you?” atau “Apa arti leukemia bagi Anda?”. Melalui tema ini, masyarakat diajak untuk berbagi cerita tentang bagaimana mereka memaknai leukemia, sekaligus menegaskan bahwa penyakit ini adalah kondisi serius yang penting untuk dikenali, dipahami, dan ditangani secara tepat.

Selengkapnya: https://www.worldleukemiaday.org/

 

Wearable Devices: Peluang Besar dan Tantangan Nyata dalam Kesehatan Digital

Perkembangan teknologi kesehatan saat ini semakin erat dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi yang telah akrab dengan kita salah satunya adalah wearable devices seperti gelang kesehatan, smartwatch, dan pakaian pintar. Awalnya, wearable devices hanya populer di kalangan masyarakat umum untuk menghitung langkah atau memantau detak jantung. Namun, penggunaannya kini sudah meluas dalam penelitian biomedis, pelayanan klinis, dan pencegahan penyakit. Review Canali, Schiaffonati, dan Aliverti (2022) menunjukkan bahwa wearables memiliki empat fungsi utama, yaitu memantau kondisi tubuh, melakukan skrining awal penyakit, mendeteksi kondisi medis secara dini, dan memprediksi risiko kesehatan di masa depan. Contohnya, smartwatch dapat membantu mendeteksi detak jantung tidak normal, memantau gejala COVID-19, dan memperkirakan risiko rawat inap pada pasien penyakit paru.

Meskipun memiliki potensi besar, penggunaan wearable devices tidak lepas dari berbagai tantangan. Isu pertama berkaitan dengan kualitas data. Perbedaan sensor dan metode pengumpulan informasi membuat hasil pengukuran tidak selalu konsisten. Padahal, data yang kurang akurat dapat berakibat serius jika dijadikan dasar keputusan medis. Isu kedua berkaitan dengan masalah akurasi estimasi. Wearable devices terkadang mengalami overestimation, misalnya peningkatan detak jantung akibat flu dapat terbaca sebagai gejala COVID-19. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan pasien bahkan menambah beban bagi sistem kesehatan. Tantangan ketiga menyangkut kesenjangan akses yang ditunjukkan dengan tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan teknologi ini. Kelompok dengan kemampuan finansial dan literasi digital yang lebih baik cenderung lebih mudah memperoleh manfaat sedangkan masyarakat dengan keterbatasan akses dapat semakin tertinggal. Isu terakhir adalah keadilan dan representasi data. Saat ini, data dari wearable devices lebih banyak terkumpul dari kelompok tertentu seperti orang dewasa muda pengguna smartwatch. Sementara itu, kelompok lain seperti lansia atau anak-anak masih kurang terwakili. Akibatnya, basis data yang terbentuk dapat bias dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi kesehatan populasi secara menyeluruh.

Temuan ini dapat menjadi pengingat bagi praktisi kesehatan bahwa wearable devices tidak hanya sekadar menjadi tren gaya hidup tetapi juga berfungsi sebagai alat medis potensial yang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Penting untuk memastikan kualitas data terjaga, mengedukasi pasien tentang keterbatasan interpretasi data, serta mendorong kebijakan yang menjamin akses merata. Selain itu, penggunaan data juga harus diperhatikan agar informasi dapat terintegrasi dengan rekam medis elektronik sehingga memberikan manfaat maksimal dalam praktik klinis maupun kesehatan masyarakat.

Wearable devices memang membuka peluang besar menuju pelayanan kesehatan yang lebih personal, digital, dan preventif. Namun, manfaat tersebut hanya bisa tercapai jika tantangan terkait kualitas data, akurasi, kesetaraan akses, dan keadilan benar-benar diperhatikan. Praktisi kesehatan memiliki peran penting untuk menjembatani kemajuan teknologi ini agar dapat memberikan dampak positif, tidak hanya bagi kelompok tertentu tetapi juga bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dirangkum oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Sumber:
https://journals.plos.org/digitalhealth/article?id=10.1371/journal.pdig.0000104 

 

Pendidikan Orang Tua: Kunci Menurunkan Angka Kematian Anak

Pendidikan tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga, tetapi juga berperan besar dalam menurunkan angka kematian anak. Sebuah penelitian besar yang dipublikasikan di The Lancet tahun 2021 menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, semakin rendah risiko anak meninggal sebelum usia lima tahun. Penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa pendidikan dapat dianggap sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif.

Studi ini merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis terbesar yang pernah dilakukan terkait topik ini. Para peneliti menganalisis lebih dari 300 penelitian di 92 negara, mencakup data sekitar 3,1 juta kelahiran hidup. Mereka menilai bagaimana pendidikan orang tua memengaruhi angka kematian pada berbagai tahap usia anak, mulai dari periode neonatal (0–27 hari), masa bayi (1–11 bulan), hingga anak usia dini (1–4 tahun). Dengan metode meta-regresi, penelitian ini mengontrol faktor-faktor seperti tingkat ekonomi, pendidikan pasangan, dan variasi budaya untuk menghasilkan gambaran yang komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ibu memiliki dampak yang sangat signifikan. Anak yang lahir dari ibu dengan pendidikan menengah (setara 12 tahun sekolah) memiliki risiko meninggal 31% lebih rendah dibanding anak dari ibu tanpa pendidikan. Bahkan, setiap tambahan satu tahun pendidikan ibu dikaitkan dengan penurunan risiko kematian anak sebesar 3,04%. Temuan ini menggambarkan betapa pentingnya akses pendidikan bagi perempuan, karena mereka sering memiliki peran utama dalam pengasuhan dan kesehatan anak sehari-hari.

Meski pengaruh pendidikan ayah tidak sebesar ibu, perannya tetap signifikan. Anak dengan ayah berpendidikan menengah memiliki risiko kematian 17,3% lebih rendah, dan setiap tambahan satu tahun pendidikan ayah menurunkan risiko kematian anak sebesar 1,57%. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya urusan perempuan, melainkan faktor bersama yang memengaruhi kualitas kesehatan generasi berikutnya.

Efek perlindungan dari pendidikan orang tua juga terlihat konsisten di semua rentang usia anak. Dampaknya paling kuat setelah melewati bulan pertama kehidupan, masa kritis yang penuh risiko bagi bayi. Namun manfaatnya tetap terasa hingga usia prasekolah, menegaskan bahwa pendidikan orang tua bukan hanya memberi keuntungan jangka pendek, tetapi juga perlindungan kesehatan jangka panjang bagi anak-anak mereka.

Temuan ini membawa pesan penting bagi kebijakan publik. Pendidikan universal yang berkualitas, terutama bagi perempuan, adalah investasi kesehatan yang tidak bisa ditawar. Dengan meningkatkan akses pendidikan, negara bukan hanya membangun sumber daya manusia yang lebih produktif, tetapi juga secara langsung menyelamatkan nyawa anak-anak. Upaya mencapai target pembangunan berkelanjutan—baik dalam pendidikan (SDG 4) maupun kesehatan anak (SDG 3.2)—dapat dipercepat dengan menjadikan pendidikan sebagai strategi utama untuk menurunkan angka kematian anak secara global.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/piis0140-6736%2821%2900534-1/fulltext?utm_source=chatgpt.com