Membuka Peluang Riset dan Layanan Tepat Sasaran Melalui Terhubungnya Data Kesehatan

Dalam dunia kesehatan digital, data kesehatan adalah modal utama yang banyak digunakan sebagai pertimbangan pengambilan keputusan yang tepat. Namun, data kesehatan seringkali tersebar dalam berbagai sistem dan instansi sehingga sulit dimanfaatkan secara maksimal. Artikel terbaru oleh Mathason et al (2025) dalam jurnal Communications Medicine mengulas bagaimana data linkage—proses menghubungkan data dari berbagai sumber—dapat mengubah lanskap riset, kebijakan, dan layanan kesehatan. Rekam medis, klaim asuransi, hasil laboratorium, dan data genomik yang dapat terhubung secara aman dan lengkap dapat memudahkan peneliti memahami pola penyakit, membantu tenaga kesehatan membuat keputusan klinis yang lebih akurat, serta memungkinkan pemerintah merancang kebijakan kesehatan berbasis bukti.

Proses data linkage dilakukan dengan mengidentifikasi data yang merujuk pada orang yang sama dari berbagai sumber. Identifikasi data menggunakan beberapa metode seperti deterministic (ID unik), probabilistic (kemungkinan kecocokan), atau referential (data referensi tambahan). Data dapat berbentuk identified (dengan identitas asli) atau de-identified (dengan enkripsi untuk jaga privasi). Kunci keberhasilan data linkage terdapat pada kualitas dan standar data agar catatan bisa terhubung dengan akurat dan aman. Saat ini, data linkage salah satu contohnya telah dimanfaatkan dalam penelitian terkait virus Epstein-Barr dan risiko multiple sclerosis yang menghubungkan data medis jangka panjang dari jutaan individu.

Tantangan utama data linkage kesehatan adalah penjagaan kualitas data dan perlindungan privasi pasien. Upaya penjagaan kualitas data dan perlindungan privasi pasien dapat dilakukan dengan standarisasi format dan bantuan teknologi. Salah satu contoh standarisasi format, seperti yang dilakukan melalui inisiatif United States Core Data for Interoperability, menjadi kunci agar data dapat saling terhubung tanpa mengorbankan keamanan. Teknologi seperti Privacy Preserving Record Linkage (PPRL) memungkinkan penggabungan data tanpa membocorkan identitas pribadi sehingga riset tetap berjalan sambil menjaga kerahasiaan pasien.

Bagi praktisi kesehatan, implikasi data linkage tentunya sangat besar. Data linkage dapat membantu mengidentifikasi populasi dengan penyakit berisiko tinggi, memantau efektivitas terapi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan memperkecil kesenjangan akses layanan di komunitas terpencil. Dalam era precision medicine, integrasi data juga dapat memandu terapi yang dipersonalisasi sesuai profil genetik dan kondisi sosial-ekonomi pasien. Kolaborasi lintas sektor dan inovasi teknologi akan menjadi penentu keberhasilan pemanfaatan data linkage di masa depan. Tenaga kesehatan, peneliti, dan pembuat kebijakan perlu memaksimalkan kerja sama dan komunikasi yang baik untuk memastikan data terhubung dengan aman, akurat, dan bermanfaat bagi semua pihak. Hal ini dapat membuka jalan bagi layanan kesehatan yang lebih efisien, adil, dan berbasis bukti.

Dirangkum oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://www.nature.com/articles/s43856-025-00769-y 

 

 

Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Jiwa: Pentingnya Evaluasi Berbasis Indikator

Kesehatan jiwa merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kualitas hidup, kesejahteraan sosial, dan produktivitas ekonomi. Namun, tantangan untuk memberikan layanan kesehatan jiwa yang benar-benar berkualitas masih menjadi tantangan besar, termasuk di negara-negara dengan sistem kesehatan yang sudah maju.

Kajian dalam International Journal of Environmental Research and Public Health oleh Samartzis dan Talias (2020) menekankan bahwa peningkatan kualitas layanan tidak dapat tercapai tanpa melakukan evaluasi yang terukur terlebih dahulu. Prinsipnya sederhana: apa yang tidak diukur, tidak dapat diperbaiki. Oleh karena itu, evaluasi untuk memastikan layanan yang diberikan benar-benar efektif, aman, dan sesuai kebutuhan pasien harus dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif.

Kajian ini merumuskan 8 indikator yang dapat menjadi panduan dalam menilai kualitas layanan kesehatan jiwa mulai dari kesesuaian layanan, aksesibilitas, penerimaan pasien, kompetensi tenaga kesehatan, efektivitas terapi, kontinuitas perawatan, efisiensi penggunaan sumber daya, serta keamanan pasien dan tenaga kesehatan. Setiap dimensi memiliki indikator khusus berupa structure indicators (jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas), process indicators (alur pelayanan dan jalannya prosedur), dan outcome indicators (tingkat perbaikan pasien dan kepuasan). Contoh kesesuaian layanan dapat dilihat dari apakah pasien menerima ketepatan perawatan sesuai kebutuhan. Aksesibilitas diukur melalui waktu tunggu dan ketersediaan layanan. Penerimaan pasien dilihat dari pemenuhan hak dan kepuasan pasien. Kompetensi tenaga kesehatan dapat dievaluasi dari partisipasi pelatihan berkelanjutan. Kesesuaian layanan dapat dilihat dari kesinambungan kinerja layanan antara rawat inap dan rawat jalan. Indikator keamanan dapat dilihat dari adanya perlindungan risiko pasien dari kekerasan, pelanggaran data, atau bahaya lain.

Penerapan indikator kualitas pelayanan kesehatan jiwa sangat penting karena dapat membantu mengidentifikasi kelemahan dalam sistem dan menentukan prioritas perbaikan. Contohnya, keterlambatan akses dapat memperburuk kondisi pasien terutama pada kasus krisis seperti risiko bunuh diri. Tingkat kepuasan pasien juga mempengaruhi kepatuhan terhadap terapi jangka panjang. Kontinuitas perawatan dapat mencegah fenomena “revolving door” (pasien berulang kali keluar-masuk rumah sakit). Melalui pemantauan indikator secara konsisten, rumah sakit dan klinik dapat melihat tren peningkatan atau kemunduran layanan dari tahun ke tahun sekaligus menyesuaikan strategi yang diperlukan.

Bagi praktisi kesehatan, pemanfaatan indikator kualitas dapat membuka peluang untuk merancang perencanaan berbasis bukti, memperkuat program pelatihan tenaga medis, dan membangun transparansi yang meningkatkan kepercayaan publik. Layanan kesehatan jiwa yang baik tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah fasilitas atau tenaga medis tetapi juga memastikan bahwa setiap langkah dalam proses pelayanan benar-benar memberikan manfaat yang optimal bagi pasien. Melalui adopsi sistem evaluasi yang terstruktur, tenaga kesehatan dapat berkembang memberikan layanan yang lebih tepat, aman, efektif, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat fondasi kesehatan jiwa masyarakat secara keseluruhan.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK)

Selengkapnya: https://www.mdpi.com/1660-4601/17/1/249 

 

 

Dampak Trauma Masa Kecil Ibu terhadap Kesehatan Mental Anak

Pengalaman masa kecil seorang ibu ternyata tidak hanya berpengaruh bagi dirinya sendiri tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental anaknya. Penelitian studi terbaru oleh Jessica P., et al pada tahun 2023 menemukan bahwa kesulitan masa kecil yang dialami ibu dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental pada anak-anak bahkan sebelum sang anak mengalami kejadian negatif secara langsung. Penelitian telah melibatkan lebih dari 4.000 pasangan ibu-anak di Inggris dan Irlandia. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak dari ibu yang mengalami berbagai bentuk trauma masa kecil yang disebabkan oleh kekerasan fisik, pelecehan seksual, penelantaran, atau kekerasan dalam rumah tangga cenderung memiliki skor yang lebih tinggi pada gejala masalah mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku.

Penelitian ini menggunakan data dari dua studi longitudinal besar: Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC) di Inggris dan Growing Up in Ireland (GUI) di Irlandia. Hasil dalam kedua populasi tersebut konsisten, yakni kesulitan masa kecil ibu berkontribusi signifikan terhadap gangguan kesehatan mental pada anak. Faktor-faktor lain seperti status sosial ekonomi dan pengalaman masa kecil anak sendiri juga diketahui mempengaruhi dampak yang terjadi. Salah satu hal lain yang menarik dari studi ini adalah pendekatannya yang memisahkan dampak langsung (kesulitan yang dialami anak sendiri) dan dampak tidak langsung (kesulitan yang pernah dialami ibu). Dampak trauma ibu diketahui tetap terlihat meskipun anak-anak mereka belum mengalami kesulitan serupa secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa “warisan emosional” dari pengalaman traumatis dapat diturunkan melalui berbagai mekanisme, termasuk gaya pengasuhan, stres psikologis ibu, dan lingkungan keluarga secara keseluruhan.

Temuan penelitian ini menegaskan pendekatan intergenerasional sangat penting dalam penanganan kesehatan mental. Intervensi tidak cukup hanya ditujukan pada anak tetapi juga perlu mencakup orang tua khususnya ibu yang mungkin membawa beban trauma masa kecil. Praktisi disarankan untuk melakukan deteksi risiko sedini mungkin melalui skrining riwayat masa kecil ibu selama pemeriksaan rutin terutama pada masa kehamilan atau setelah melahirkan. Selain itu, layanan dukungan emosional dan konseling bagi ibu dengan riwayat trauma sangat dibutuhkan untuk membantu ibu membangun pola pengasuhan yang sehat. Dalam sisi kebijakan, integrasi layanan kesehatan mental ibu dan anak penting diimplementasikan dalam sistem kesehatan agar penanganan isu kesehatan mental dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://acamh.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/jcpp.13721 

Dampak Skrining Kesehatan Mental Rutin pada Populasi Perawatan Primer Pediatrik dengan Sumber Daya Terbatas

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan resmi memulai pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi peserta didik di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini terhadap berbagai masalah kesehatan fisik dan mental anak usia sekolah. Program ini menargetkan sekitar 53 juta anak sekolah di seluruh Indonesia pada tahun 2025. Pelaksanaannya berbeda dari kegiatan serupa sebelumnya, seperti saat peringatan Hari Ulang Tahun, yang cakupannya lebih beragam.

Skrining kesehatan, salah satunya kesehatan mental pada anak usia sekolah telah dibahas dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Clinical Pediatrics. Penelitian ini menyoroti dampak penerapan skrining rutin kesehatan mental pada anak-anak di pusat layanan primer dengan sumber daya terbatas. Studi ini meneliti lebih dari 400 anak berusia 5–12 tahun yang datang untuk kunjungan kesehatan rutin, dengan membandingkan data sebelum dan sesudah penerapan skrining. Tujuan utama penelitian ini adalah menilai apakah program tersebut dapat meningkatkan deteksi dini masalah kesehatan mental pada anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah skrining rutin diterapkan, semakin banyak orang tua yang melaporkan masalah kesehatan mental anak mereka kepada tenaga kesehatan. Peningkatan juga terlihat pada jumlah evaluasi medis yang dilakukan penyedia layanan. Dengan adanya skrining ini, masalah kesehatan mental yang sebelumnya mungkin tidak terungkap menjadi lebih mudah dikenali dalam interaksi sehari-hari di fasilitas kesehatan primer.

Menariknya, penelitian menemukan bahwa meskipun deteksi meningkat, jumlah rujukan ke layanan kesehatan mental khusus justru menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak masalah dapat ditangani langsung di layanan primer tanpa harus selalu dirujuk ke spesialis. Selain itu, penelitian juga mencatat tidak ada peningkatan waktu tunggu maupun jumlah kunjungan baru ke layanan rujukan, sehingga sistem pelayanan tidak terbebani.

Para peneliti menyimpulkan bahwa skrining rutin kesehatan mental terbukti efektif dalam meningkatkan pengenalan masalah kesehatan mental anak di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya. Program ini juga tidak memberikan beban tambahan signifikan pada sistem layanan kesehatan lanjutan. Temuan ini menunjukkan bahwa langkah sederhana seperti skrining rutin dapat memperkuat kualitas layanan primer tanpa menuntut tambahan besar dari fasilitas spesialis.

Implikasinya, penelitian ini mendorong agar skrining rutin kesehatan mental diintegrasikan lebih luas ke dalam praktik layanan primer, khususnya di negara berkembang atau wilayah dengan akses terbatas. Peneliti juga menekankan perlunya pelatihan tenaga kesehatan agar dapat menangani hasil skrining dengan tepat dan memberikan edukasi yang memadai kepada orang tua. Dengan demikian, skrining tidak hanya mendeteksi masalah lebih dini, tetapi juga memastikan anak-anak mendapatkan intervensi yang sesuai sejak tahap awal.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22157425/ 

 

Satu Abad Perjalanan Peningkatan Mutu Kesehatan

Perjalanan peningkatan mutu layanan kesehatan terus berkembang pesat hingga saat ini. Selama lebih dari satu abad, perkembangan mutu layanan kesehatan telah melalui perjalanan panjang. Paul Batalden dan Tina Foster dalam jurnal International Journal for Quality in Health Care mengungkap bagaimana pendekatan peningkatan mutu layanan kesehatan berevolusi pada tiga fase penting yang saling melengkapi. Pada awal abad ke-20, pendekatan peningkatan mutu dikenal sebagai fase Quality 1.0. Fokus utama fase Quality 1.0 adalah menetapkan ambang batas layanan yang dianggap “baik”. Melalui pendekatan Quality 1.0, aspek mutu lainnya mulai berkembang.

Contoh aspek mutu lainnya meliputi standar dasar, akreditasi rumah sakit, audit eksternal, panduan kualifikasi tenaga medis, kebersihan fasilitas, dan keselamatan layanan. Meskipun pendekatan Quality 1.0 sangat penting sebagai pondasi mutu layanan kesehatan, seiring waktu terdapat beberapa keterbatasan yang terlihat. Keterbatasan disebabkan oleh kecenderungan praktik yang lebih menekankan pada layanan pemenuhan prosedur administratif daripada dampak nyata bagi pasien.

Perkembangan selanjutnya, yakni fase Quality 2.0 berperan memperbaiki keterbatasan pada praktik fase sebelumnya. Perkembangan fase Quality 2.0 dipengaruhi oleh manajemen mutu di industri manufaktur. Fase Quality 2.0 menerapkan prinsip perbaikan berkelanjutan, pengurangan kesalahan, dan peningkatan efisiensi mulai diterapkan pada layanan kesehatan. Fokus fase Quality 2.0 tidak hanya menekankan pada standar formal tetapi juga pada proses layanan secara keseluruhan. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa mutu bukanlah tanggung jawab individu semata melainkan hasil kerja sama seluruh sistem yang mencakup kolaborasi dokter, perawat, dan staf pendukung. Melalui langkah ini, layanan kesehatan menjadi lebih terukur, terkoordinasi, dan berorientasi pada hasil yang lebih baik bagi pasien.

Saat ini, dunia kesehatan telah memasuki fase Quality 3.0 yang menekankan pendekatan bahwa pasien ditempatkan sebagai mitra yang setara dalam menciptakan pelayanan kesehatan. Konsep tersebut disebut coproduction yang berarti layanan tidak hanya “diberikan” oleh tenaga kesehatan tetapi juga “dibangun bersama” antara pasien dan profesional. Orientasi layanan kesehatan tidak lagi sekadar hanya menanyakan “apa yang salah?” tetapi “apa yang penting bagi pasien?”. Hubungan penuh empati, saling percaya, dan kolaboratif menjadi kunci keberhasilan pada fase ini. Pendekatan fase Quality 3.0 juga menekankan pentingnya keterhubungan yang berarti bahwa optimalnya sistem kesehatan tercipta dari kerja sama antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan komunitas.

Perjalanan perkembangan mutu layanan kesehatan memberikan pelajaran penting baik bagi praktisi maupun mahasiswa kesehatan. Layanan kesehatan diharapkan tidak hanya dilihat sebagai sistem yang saling terhubung tetapi juga harus membangun hubungan yang lebih manusiawi dengan pasien. Pada akhirnya, mutu layanan kesehatan tidak hanya soal prosedur yang benar tetapi juga tentang bagaimana layanan tersebut memberikan nilai yang nyata dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Para ahli memperkirakan Quality 4.0 akan hadir dalam perkembangan perjalanan peningkatan mutu layanan kesehatan dengan menggabungkan teknologi digital, pembelajaran sistem, dan nilai sosial komunitas. Meskipun terus berkambang, esensi mutu pelayanan kesehatan tidak akan berubah dengan prinsip: mutu layanan kesehatan yang terbaik selalu lahir dari kolaborasi yang tulus antara tenaga kesehatan dan pasien.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://academic.oup.com/intqhc/article/33/Supplement_2/ii10/6445911 

 

 

Perubahan iklim dan penyakit menular di Eropa: Dampak, proyeksi dan adaptasi

Perubahan iklim global bukan lagi isu lingkungan semata, tetapi kini menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat di Eropa. Penelitian terbaru mengungkap bahwa peningkatan suhu, perubahan pola hujan, dan musim panas yang lebih panjang telah menciptakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran penyakit infeksi yang sebelumnya hanya ditemukan di wilayah tropis dan subtropis. Tren ini mulai tampak nyata dalam satu dekade terakhir.

Nyamuk, lalat pasir, dan kutu yang menjadi vektor berbagai penyakit kini semakin banyak ditemukan di Eropa bagian selatan, bahkan merambah ke wilayah tengah dan utara. Kasus-kasus lokal chikungunya, dengue, dan virus West Nile telah terjadi di Italia, Prancis, dan Spanyol. Sementara itu, lalat pasir penyebar Leishmania dan kutu pembawa Lyme serta encephalitis menunjukkan perluasan ke wilayah pegunungan dan utara Eropa.

Suhu yang lebih hangat mempercepat siklus hidup vektor, memperluas masa aktif mereka, dan meningkatkan kemungkinan penularan antar manusia. Perubahan iklim juga menggeser habitat alami vektor dan memperpendek musim dingin, memungkinkan spesies tropis bertahan hidup lebih lama di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka.

Ancaman ini tidak merata. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah lebih mungkin terdampak. Mereka tinggal di lingkungan yang kurang layak, lebih sering terpapar faktor risiko, dan memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan serta sarana pencegahan seperti kelambu, insektisida, atau sistem pendingin ruangan.

Peneliti menekankan bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan medis. Diperlukan strategi lintas sektor, seperti pendekatan “One Health” yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Kolaborasi antara sektor kesehatan, pertanian, lingkungan hidup, dan perencanaan kota sangat penting untuk mencegah epidemi di masa depan.

Uni Eropa sendiri telah mulai menyesuaikan kebijakan dengan meninjau kembali regulasi seperti Ambient Air Quality Directive dan REACH. Namun, peneliti juga menyoroti bahwa masih banyak kesenjangan data dan penelitian, terutama terkait dampak gabungan dari polusi udara, paparan panas ekstrem, dan kontaminasi kimia terhadap imunitas manusia.

Selain itu, kurangnya pemahaman tentang penyebaran penyakit di dalam ruang tertutup juga menjadi perhatian. Banyak vektor seperti nyamuk dan lalat mampu berkembang di area dalam rumah yang lembap dan tidak berventilasi baik. Edukasi publik dan penataan hunian menjadi faktor penting dalam upaya mitigasi di tingkat individu dan komunitas.

Eropa tidak lagi kebal terhadap penyakit tropis. Jika tidak ada langkah konkret dan terintegrasi untuk adaptasi terhadap perubahan iklim, maka masyarakat Eropa akan menghadapi lonjakan kasus penyakit infeksi baru yang lebih sering, lebih luas, dan lebih mematikan. Perlindungan kesehatan publik di era perubahan iklim menuntut kecepatan, kolaborasi, dan kebijakan berbasis bukti.

Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://www.thelancet.com/journals/lanepe/article/PIIS2666-7762%2821%2900216-7/ 

 

 

Alat Skrining yang Digunakan di Layanan Kesehatan Primer untuk Mengidentifikasi Perilaku Kesehatan pada Anak (Usia 0–16 Tahun)

Tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) sebagai momentum penting untuk meningkatkan kepedulian terhadap hak-hak anak serta memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar anak-anak Indonesia secara optimal. “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” Tema ini menegaskan bahwa anak-anak hari ini adalah pondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, yakni visi Indonesia maju di usia ke-100 tahun kemerdekaannya. Perwujudan tagline tersebut bukan hanya dalam tulisan, namun juga dalam mempersiapkan anak agar menjadi anak yang sehat. Obesitas pada anak dan remaja telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin mengkhawatirkan dalam beberapa dekade terakhir.

Data tahun 2018 di negara Meksiko menunjukkan bahwa sekitar 8% anak usia 0–4 tahun, 35% anak usia 5–11 tahun, dan hampir 40% remaja usia 12–19 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Sayangnya, sebagian besar upaya pencegahan dan intervensi masih berfokus pada perilaku individu dan belum cukup mempertimbangkan faktor budaya yang turut membentuk pola makan, gaya hidup, serta persepsi masyarakat terhadap kesehatan dan tubuh.

Penelitian yang dilakukan oleh Dutch et. al (2024) mengidentifikasi faktor-faktor sosio-budaya yang memengaruhi obesitas pada anak dan remaja di wilayah Meksiko. Dengan menggunakan kerangka kerja Sunrise Enabler Model dari teori Cultural Care, peneliti melakukan tinjauan sistematis terhadap 24 studi kualitatif yang melibatkan berbagai kelompok responden, termasuk anak-anak, remaja, orang tua, guru, staf sekolah, pedagang makanan, dan pembuat kebijakan. Studi-studi ini dianalisis untuk menggali nilai, kepercayaan, norma sosial, dan praktik sehari-hari yang berkaitan dengan obesitas anak.

Hasil kajian menunjukkan bahwa obesitas anak di Meksiko sangat dipengaruhi oleh tiga dimensi budaya utama. Pertama, nilai dan kepercayaan sosial seperti persepsi bahwa tubuh gemuk menandakan anak sehat masih banyak dianut oleh keluarga. Kedua, kebiasaan makan keluarga—termasuk konsumsi makanan cepat saji, porsi besar, dan penggunaan makanan sebagai simbol kasih sayang—mendorong pola konsumsi berisiko. Ketiga, pengaruh sosial seperti tekanan teman sebaya, ekspektasi masyarakat, dan kebijakan sekolah memengaruhi keputusan makan dan aktivitas fisik anak.

Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan yang sensitif terhadap budaya dalam mengatasi obesitas anak dan remaja. Alih-alih hanya menyasar perubahan perilaku individu, strategi pencegahan perlu memperhatikan struktur sosial dan nilai budaya yang sudah mengakar. Misalnya, pelibatan keluarga dalam edukasi gizi, pelatihan pedagang makanan di sekitar sekolah, serta kampanye kesehatan yang tidak bertentangan dengan identitas budaya lokal akan lebih efektif dalam menciptakan perubahan berkelanjutan.

Sebagai kesimpulan, studi ini memberikan wawasan mendalam bahwa budaya bukan sekadar latar belakang, melainkan bagian integral dari masalah obesitas anak di Meksiko. Intervensi yang memperhitungkan konteks sosial dan budaya tidak hanya akan lebih diterima oleh masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak yang lebih besar dalam jangka panjang. Oleh karena itu, upaya pencegahan obesitas perlu dirancang secara holistik, dengan memadukan pendekatan medis, edukatif, dan budaya secara seimbang.

Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38192203/ 

 

Inovasi Layanan Kesehatan: Integrasi Perangkat Digital, AI, dan Data Lingkungan untuk Manajemen Penyakit Kronis

Pengelolaan penyakit kronis masih menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan. Kondisi beberapa penyakit seperti obesitas, gangguan panik, dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronik) sering kali memerlukan pemantauan jangka panjang. Namun, prakteknya banyak kasus yang menunjukkan bahwa kontrol rutin di rumah sakit tidak selalu mencerminkan kondisi nyata pasien dalam keseharian. Penelitian terbaru dari National Taiwan University menawarkan pendekatan inovatif melalui layanan kesehatan presisi yang mengintegrasikan perangkat digital, sensor kualitas udara, aplikasi smartphone, serta analisis berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk pemantauan pasien secara real-time. Sistem integrasi ini dirancang agar data gaya hidup pasien—mulai dari detak jantung, pola tidur, jumlah langkah, hingga konsumsi kalori—dapat dikumpulkan secara otomatis melalui perangkat digital seperti Fitbit, Garmin, atau Apple Watch. Sementara itu, sensor lingkungan dapat mendeteksi paparan polusi udara seperti PM2.5 dan karbon monoksida serta variabel suhu dan kelembaban yang juga berpengaruh pada kondisi kronis.

Semua data kesehatan yang telah dikumpulkan akan terhubung ke platform “NTU Medical Genie”. Data tersebut kemudian dianalisis oleh model prediksi berbasis machine learning dan deep learning untuk memproyeksikan risiko kejadian akut hingga 7 hari ke depan. Menariknya, hasil penelitian menunjukkan performa prediksi yang sangat baik. Model prediksi PPOK mencapai akurasi 91%, model serangan panik mencapai 83%, dan model obesitas mencapai 93%. Model ini lebih hemat sumber daya dan siap diterapkan dalam praktik klinik sehari-hari. Bagi praktisi kesehatan, manfaatnya penelitian ini sangat signifikan. Pemantauan pasien tidak lagi terbatas pada kunjungan tatap muka. Dokter dan tenaga kesehatan dapat melihat tren data pasien secara lengkap termasuk aktivitas fisik, kualitas tidur, serta paparan lingkungan yang relevan terhadap kondisi klinis. Jika terdapat tanda bahaya, sistem secara otomatis mengirimkan peringatan dini agar intervensi segera dilakukan. Pendekatan ini memungkinkan pergeseran layanan dari kuratif menjadi preventif dengan memanfaatkan data yang lebih komprehensif untuk pengambilan keputusan klinis.

Selain meningkatkan kualitas pemantauan, layanan kesehatan presisi juga dapat mengurangi beban sistem kesehatan. Pasien tidak perlu terlalu sering melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan rutin dan dokter tetap dapat memantau status pasien dengan akurat. Sistem ini juga mampu memberikan rekomendasi gaya hidup yang lebih personal. Contohnya dengan membatasi aktivitas luar ruangan pada hari dengan polusi tinggi atau meningkatkan aktivitas fisik untuk mencegah kenaikan BMI.

Penelitian ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut, termasuk penerapan digital twin—model virtual pasien untuk simulasi kondisi kesehatan—yang dapat memperkuat personalisasi layanan kesehatan. Inovasi teknologi ini tidak hanya relevan untuk manajemen penyakit kronis saat ini tetapi juga memiliki potensi besar sebagai fondasi e-health generasi berikutnya. Melalui integrasi data gaya hidup, lingkungan, dan faktor klinis yang dianalisis secara real-time, layanan kesehatan presisi dapat membantu praktisi kesehatan memberikan intervensi yang lebih tepat sasaran, efisien, dan berbasis kebutuhan individual pasien.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36199984/

 

 

Kompetensi Kesehatan Digital di Kalangan Profesional Layanan Kesehatan: Tinjauan Sistematis

The World Health Organization (WHO) mendefinisikan dan mengkategorikan intervensi kesehatan digital dalam konteks layanan kesehatan sebagai “fungsi diskret dari teknologi digital untuk mencapai tujuan sektor kesehatan”. Kerangka kerja yang dikembangkan oleh WHO mencakup berbagai alat dan intervensi digital, seperti telemonitoring, penggunaan artificial intelligence, algoritma pengambilan keputusan, dan pengumpulan data kesehatan. Berdasarkan bukti yang tersedia, digitalisasi telah meningkatkan kualitas layanan, memengaruhi berbagai hasil di tingkat sistem (misalnya, keamanan dalam pemberian obat dan lama rawat inap di rumah sakit) dan di tingkat individu (misalnya, peningkatan kemampuan fungsional/kognitif dan kepuasan pasien).

Meskipun memiliki potensi efektivitas, digitalisasi belum sepenuhnya diterapkan dalam praktik klinis. Beberapa faktor telah diidentifikasi sebagai hambatan potensial, termasuk ketersediaan teknologi, sumber daya keuangan, dan keterampilan tenaga kesehatan dalam menggunakan teknologi digital. Untuk meningkatkan digitalisasi layanan kesehatan, tenaga kesehatan telah diakui sebagai faktor kunci dalam transformasi digital sektor kesehatan.

Berbagai istilah telah dikembangkan sejauh ini dalam literatur untuk merujuk pada kompetensi kesehatan digital. Istilah yang paling umum adalah eHealth literacy, yang telah didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan informasi yang diperoleh dari sumber elektronik untuk menyelesaikan masalah kesehatan. Kerangka konseptual yang menggambarkan konsep dan komponen eHealth literacy telah dikembangkan untuk warga dan pasien. Sebagai contoh, kerangka kerja Lily dari Norman dan Skinner mencakup 6 kompetensi literasi, yaitu literasi kesehatan, tradisional, informasi, ilmiah, komputer, dan media.

Sebuah tinjauan terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar intervensi yang bertujuan meningkatkan kompetensi kesehatan digital tenaga kesehatan fokus pada kemampuan, bukan motivasi, dalam menggunakan eHealth. Intervensi yang mempromosikan kompetensi kesehatan digital sebaiknya juga mempertimbangkan faktor sosial dan lingkungan, serta pendekatan partisipatif, untuk mendukung juga aspek emosional dan psikologis dalam penggunaan teknologi. Di sisi lain, terdapat ketimpangan dalam aspek pengajaran, pengembangan diri, dan kemampuan belajar. Kerangka kerja National Health Service (NHS) mengenai kapabilitas digital mencakup domain yang berkaitan dengan kemampuan, misalnya menggunakan teknologi digital untuk pembelajaran pribadi dan mengajar orang lain.

Sebagaimana disoroti oleh tinjauan sebelumnya, kami juga menemukan bahwa kompetensi yang diteliti masih sebagian besar berfokus pada perspektif tenaga kesehatan. Namun, perhatian yang lebih besar diperlukan dalam mempertimbangkan kompetensi untuk menilai kebutuhan pasien, sikap, hambatan, faktor pendukung, dan potensi manfaat dari dilatih oleh tenaga kesehatan dalam penggunaan teknologi dan informasi elektronik secara aman dan tepat untuk masalah kesehatan.

Pengembangan kurikulum dan pelatihan berbasis bukti untuk meningkatkan kompetensi digital tenaga kesehatan secara menyeluruh, termasuk aspek non-teknis seperti kesiapan mental dan edukasi pasien penting untuk menjadi fokus utama. Oleh karena itu, dari penilaian kompetensi berdasarkan persepsi diri yang sebagian besar menyangkut isu umum, upaya kini sebaiknya diarahkan pada pengembangan alat penilaian layanan kesehatan digital yang berpusat pada pasien dan mampu mendeteksi seluruh kompetensi spesifik yang terlibat dalam seluruh proses.

Selengkapnya dapat diakses melalui:

https://www.researchgate.net/publication/

Analisis Global tentang Faktor Penentu Kesehatan Ibu dan Transisi dalam Kematian Ibu

Menurunkan angka kematian ibu dan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan ibu merupakan tugas yang kompleks. AKI global merupakan masalah yang mendesak: diperkirakan 287.000 perempuan meninggal karena penyebab yang terkait dengan kehamilan, persalinan, dan masa nifas pada tahun 2020 saja. Kehilangan hampir 3 juta jiwa perempuan yang dapat dicegah antara tahun 2010 dan 2020 bukan hanya tragedi global, tetapi juga merupakan indikator ketimpangan kesehatan yang parah antara dan di dalam negara-negara dan pelanggaran hak asasi manusia yang mencolok. Meskipun banyak negara telah mengalami kemajuan besar dalam hal peningkatan pendidikan, pekerjaan, dan keinginan untuk memiliki anak, kemajuan ini belum bersifat universal. Sebagian besar kematian ibu masih dapat dicegah dan sebagian besar terjadi pada kelompok perempuan yang memiliki tingkat ekonomi menenga ke bawah.

Pendekatan paling umum untuk mengatasi kematian ibu oleh masyarakat global adalah mengarahkan investasi untuk mengatasi penyebab biomedis utama kematian ibu, khususnya selama periode perinatal. Dibandingkan dengan penyebab biomedis, perhatian yang diberikan pada determinan yang mendasari kehamilan dan persalinan yang buruk cenderung kurang diperhatikan dan sistem kesehatan perlu dikonfigurasi untuk menerapkan intervensi yang efektif dan mengurangi dampak buruk faktor sosial terhadap kesehatan ibu. Meskipun kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (misalnya, anemia kronis, hipertensi kronis, diabetes) menjadi perhatian tenaga medis, komplikasi obstetrik langsung (seperti perdarahan pascapersalinan, preeklamsia, dan infeksi) tetap menjadi penyebab biomedis utama kematian ibu.

Tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Souza et. al (2024) mengenai determinan kesehatan ibu dan faktor-faktor yang terkait dengan kematian ibu, dan meneliti hubungan antara determinan ini dan pergeseran bertahap dari waktu ke waktu dari pola kematian ibu yang tinggi ke pola kematian ibu yang rendah, sebuah fenomena yang digambarkan sebagai transisi obstetrik atau transisi kematian ibu. Penelitian ini mengidentifikasi 23 kerangka kerja yang menggambarkan kesehatan dan kesejahteraan ibu sebagai hasil dari proses multifaktorial. Determinan sosial kesehatan berasal dari superdeterminan ekonomi, politik, dan budaya, dan didefinisikan sebagai faktor non-biomedis yang memengaruhi risiko dan hasil kesehatan sepanjang hidup. Determinan sosial yang berperan pada kesehatan ibu adalah kondisi di mana perempuan dilahirkan, tumbuh, bekerja, dan hidup sebelum kehamilan, dan selama kehamilan, persalinan, dan periode pascapersalinan. Determinan sosial ini secara substansial memengaruhi hasil kesehatan ibu, dan secara tidak langsung bertanggung jawab atas disparitas yang diamati dalam tingkat kematian dan morbiditas ibu antara populasi yang berbeda.

Faktor-faktor tingkat individu atau karakteristik khusus untuk setiap wanita hamil (misalnya, usia, genetika, kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya) dan paparan agen eksternal (misalnya, bahaya fisik, kimia, dan biologis, infeksi, kecelakaan, dan kekerasan) merupakan penentu kesehatan ibu yang utama. Kehamilan remaja dan kehamilan pada wanita yang berusia lebih dari 35 tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa komplikasi, seperti preeklamsia. Wanita dengan kondisi yang sudah ada sebelumnya, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan obesitas, memiliki risiko lebih tinggi untuk meninggal selama kehamilan, persalinan, dan periode pascapersalinan dibandingkan mereka yang tidak memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya. Kelainan genetik, seperti hemoglobinopati (misalnya, anemia sel sabit, talasemia mayor), hemofilia, trombofilia herediter, dan kardiomiopati hipertrofik, dapat meningkatkan risiko komplikasi ibu dan berpotensi menyebabkan kematian. Paparan terhadap racun lingkungan dan bahan kimia industri (misalnya, timbal, merkuri, pestisida, polutan udara), obat-obatan dan narkoba, radiasi pengion, ancaman patogen (misalnya, virus Ebola, SARS-CoV-2), kekerasan oleh pasangan, dan kecelakaan yang mengakibatkan trauma dan cedera fisik memiliki berbagai tingkat efek merugikan pada kesehatan ibu.

Kekerasan terhadap perempuan layak mendapat perhatian khusus: meskipun kekerasan sering kali lebih terlihat di daerah yang dilanda konflik, dampaknya terhadap hasil kehamilan sama-sama menghancurkan bahkan di daerah yang tidak dilanda konflik, terutama bila dilakukan oleh pasangan intim. Sebagai akibat dari pengaruh superdeterminan kesehatan ibu—terutama sistem budaya, politik, dan ekonomi—faktor-faktor tingkat individu yang dibentuk oleh karakteristik keluarga dan masyarakat cenderung memunculkan pola gaya hidup, yang pada gilirannya mengurangi atau meningkatkan risiko kematian atau mengalami gangguan kesehatan terkait kehamilan. Contoh pola gaya hidup dengan dampak substansial terhadap kesehatan ibu meliputi pola makan (misalnya, asupan zat besi dan kalsium yang rendah meningkatkan risiko anemia defisiensi besi dan preeklamsia), aktivitas fisik, penggunaan zat dan merokok, dan perilaku seksual selama kehamilan (misalnya, praktik seksual yang berbahaya yang mengakibatkan serokonversi HIV).

Norma budaya seputar kehamilan dan persalinan membentuk perilaku kesehatan ibu dan praktik mencari perawatan kesehatan, dengan bertindak sebagai pengubah faktor tingkat individu, seperti usia untuk memulai sebuah keluarga, jumlah anak yang akan dimiliki, dan sejauh mana pasangan terlibat dalam perawatan wanita tersebut. Faktor budaya juga memengaruhi keputusan tentang gizi, praktik perawatan antenatal, dan praktik persalinan. Harapan masyarakat dan peran gender dapat memengaruhi otonomi wanita hamil, akses ke pendidikan, sumber daya, dan perawatan kesehatan, dan memengaruhi kekuatan pengambilan keputusan mereka dalam rumah tangga mereka, serta kemampuan mereka untuk membuat keputusan tentang kesehatan mereka sendiri, tempat mereka bekerja, dan apa yang mereka lakukan.

Pola gaya hidup yang timbul dari determinan sosial dapat memengaruhi faktor-faktor tingkat individu dengan memicu atau memperburuk kondisi yang sudah ada sebelumnya. Misalnya, status berpenghasilan rendah dapat mengakibatkan asupan gizi yang buruk atau praktik diet yang tidak sehat, dan akibatnya meningkatkan risiko anemia defisiensi pra-kehamilan atau obesitas ibu. Obesitas ibu dapat meningkatkan risiko diabetes gestasional; dan diet yang tidak sehat selama kehamilan dapat menyebabkan kenaikan berat badan ibu yang berlebihan, yang menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk diabetes gestasional.

Daftar yang tidak lengkap tentang faktor penentu, kontributor, dan penyebab kematian ibu (diperoleh dari tinjauan pustaka)

Determinan sosial

  • Dinamika gender yang mendukung seksisme dan ketidakadilan gender (ketidakadilan dan ketidaksetaraan)
  • Pendapatan rendah dan status sosial ekonomi rendah
  • Dinamika etnis dan ras yang mendukung rasisme dan diskriminasi
  • Pendidikan ibu yang rendah
  • Faktor sosial budaya yang mendukung bias gender dan sosial terhadap perempuan, termasuk tetapi tidak terbatas pada peran gender, dan agensi terbatas atas hak seksual dan reproduksi
  • Paparan terhadap sumber hiperinformasi dan disinformasi
  • Tinggal di daerah pedesaan
  • Kelaparan
  • Korupsi
  • Konflik bersenjata
  • Kekerasan (termasuk tetapi tidak terbatas pada kekerasan pasangan intim)

Faktor individu dan keluarga

  • Usia ibu yang ekstrem (<18 tahun dan >35 tahun)
  • Paritas tinggi
  • Status perkawinan (status perkawinan tunggal dan setara dikaitkan dengan peningkatan risiko)
  • Tidak adanya atau rendahnya keterlibatan pasangan dalam perawatan antenatal dan perawatan intrapartum
  • Status sosial ekonomi pasangan rendah
  • Gaya hidup, termasuk:
  • Pola makan yang buruk
  • Aktivitas fisik dan olahraga yang rendah
  • Penyalahgunaan dan penyalahgunaan zat (misalnya, alkohol, tembakau)
  • Aspek lain dari gaya hidup, termasuk paparan risiko
    Pelayanan kesehatan dan pendidikan kesehatan
  • Pengetahuan yang rendah tentang tanda bahaya yang berhubungan dengan komplikasi obstetrik (keterlambatan pertama)
  • Tidak adanya agensi dan otonomi untuk mencari layanan kesehatan (keterlambatan pertama)
  • Akses yang buruk ke layanan kesehatan (keterlambatan kedua; termasuk tidak adanya kunjungan perawatan antenatal dan jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan)
  • Perawatan di bawah standar (keterlambatan ketiga)

Penyebab kematian ibu

  • Penyebab biomedis:
    • Kondisi obstetrik: perdarahan, gangguan hipertensi, infeksi, komplikasi aborsi, persalinan macet, dll. (kondisi yang dikenal sebagai penyebab langsung kematian ibu)
    • Penyakit tidak menular dan kondisi yang sudah ada sebelumnya (kondisi yang biasanya termasuk dalam rangkaian kondisi yang dikenal sebagai penyebab tidak langsung kematian ibu)
    • Penyebab eksternal, termasuk kecelakaan dan pembunuhan
    • Bunuh diri
    • Femisida
    • Komplikasi intervensi kesehatan (termasuk komplikasi anestesi dan pembedahan, seperti perdarahan intraoperatif dan infeksi bedah)
    • Jalur akhir umum menuju kematian
    • Disfungsi multiorgan
    • Sepsis (yaitu, disfungsi organ terkait infeksi)

Sistem kesehatan memainkan peran penting dalam membentuk perwujudan kekuatan dan konteks yang saling terkait yang disajikan sebelumnya. Layanan dan komoditas kesehatan (misalnya, uterotonika yang terjamin kualitasnya untuk mengurangi kehilangan darah pascapersalinan pada wanita yang mengalami anemia saat melahirkan) dapat mengubah dampak kekuatan eko-sosial yang menyebabkan hasil kesehatan ibu yang merugikan. Oleh karena itu, sistem kesehatan dapat dianggap sebagai faktor perlindungan yang menentukan, yang mampu menetralkan atau meminimalkan dampak faktor risiko yang merugikan. Dengan demikian, dampak negatif dari beberapa faktor risiko, seperti usia ibu yang lanjut atau status berpenghasilan rendah, dapat dikurangi dengan layanan kesehatan yang berfungsi dengan baik, khususnya layanan dengan perawatan prakonsepsi, antenatal, intrapartum, dan pascapersalinan berkualitas tinggi.

Kesehatan ibu yang buruk dan disabilitas merupakan masalah sosial, dan kematian ibu merupakan tragedi sosial. Para pembuat kebijakan, khususnya di negara-negara dengan beban kematian ibu yang tinggi, harus menyadari bahwa penyebab biomedis utama (misalnya, perdarahan pascapersalinan, preeklamsia, infeksi, dan aborsi) dari kematian ibu yang dapat dicegah tidak terjadi secara terpisah. Tindakan multisektoral untuk mempromosikan pembangunan sosial dan kesetaraan gender diperlukan untuk menurunkan angka kematian ibu yang berkelanjutan. Meskipun implementasi strategi ini (misalnya, peningkatan infrastruktur sosial dan program transformasi sosial lainnya) sering kali lambat untuk direalisasikan, manfaat jangka panjangnya cukup pasti. Memperluas ekosistem sektor kesehatan dan jaringan perawatan untuk mengurangi efek merugikan dari determinan distal dan proksimal akan secara substantif meningkatkan kesehatan ibu. Peningkatan akses terhadap layanan dan komoditas kesehatan reproduksi berkualitas tinggi (misalnya, kontrasepsi modern, aborsi aman, dan perawatan antenatal, intrapartum, dan postpartum) diperlukan untuk pencegahan primer, identifikasi dini, dan penanganan komplikasi kehamilan yang memadai. Mencapai cakupan kesehatan universal dan memperkuat sistem kesehatan untuk menyediakan perawatan berkualitas sangat penting untuk mengurangi angka kematian ibu dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu.

Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://www.thelancet.com/journals/langlo/article/PIIS2214-109X(23)00468-0/fulltext