Hari Leukemia Sedunia 2025

Setiap 4 September, kita memperingati Hari Leukemia Sedunia sebagai upaya kampanye global untuk meningkatkan kesadaran mengenai gejala, kondisi, dan pentingnya diagnosis leukemia. Saat ini, jumlah penderita yang terdiagnosis mencapai lebih dari 437.000 kasus baru setiap tahun. Leukemia sendiri merupakan kanker yang menyerang jaringan pembentuk darah, yaitu sumsum tulang yang ditandai dengan produksi sel darah putih abnormal secara berlebihan. Kondisi ini menyebabkan sumsum tulang dipenuhi sel-sel abnormal sehingga menghambat produksi sel darah normal yang sangat dibutuhkan tubuh.

Gejala leukemia seringkali tidak spesifik dan dapat menyerupai penyakit lain. Gejalanya meliputi kelelahan, nyeri sendi, infeksi berulang, demam, sesak nafas, memar, hingga perdarahan. Oleh karena itu, kepastian diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan jenis sel darah putih yang terlibat, leukemia dibedakan menjadi mieloid atau limfatik. Sementara itu, berdasarkan laju perkembangannya, leukemia dibedakan menjadi akut atau kronis. Penting dipahami bahwa istilah akut dan kronis tidak merujuk pada tingkat keparahan penyakit, melainkan pada kecepatan perkembangannya. Leukemia akut berkembang dengan cepat tetapi berpotensi disembuhkan dengan pengobatan standar atau transplantasi sumsum tulang. Sementara itu, leukemia kronis berkembang perlahan dalam jangka panjang dan umumnya lebih sulit disembuhkan.

Pada 2025, Hari Leukemia Sedunia mengangkat tema “What does Leukemia mean to you?” atau “Apa arti leukemia bagi Anda?”. Melalui tema ini, masyarakat diajak untuk berbagi cerita tentang bagaimana mereka memaknai leukemia, sekaligus menegaskan bahwa penyakit ini adalah kondisi serius yang penting untuk dikenali, dipahami, dan ditangani secara tepat.

Selengkapnya: https://www.worldleukemiaday.org/

 

Wearable Devices: Peluang Besar dan Tantangan Nyata dalam Kesehatan Digital

Perkembangan teknologi kesehatan saat ini semakin erat dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi yang telah akrab dengan kita salah satunya adalah wearable devices seperti gelang kesehatan, smartwatch, dan pakaian pintar. Awalnya, wearable devices hanya populer di kalangan masyarakat umum untuk menghitung langkah atau memantau detak jantung. Namun, penggunaannya kini sudah meluas dalam penelitian biomedis, pelayanan klinis, dan pencegahan penyakit. Review Canali, Schiaffonati, dan Aliverti (2022) menunjukkan bahwa wearables memiliki empat fungsi utama, yaitu memantau kondisi tubuh, melakukan skrining awal penyakit, mendeteksi kondisi medis secara dini, dan memprediksi risiko kesehatan di masa depan. Contohnya, smartwatch dapat membantu mendeteksi detak jantung tidak normal, memantau gejala COVID-19, dan memperkirakan risiko rawat inap pada pasien penyakit paru.

Meskipun memiliki potensi besar, penggunaan wearable devices tidak lepas dari berbagai tantangan. Isu pertama berkaitan dengan kualitas data. Perbedaan sensor dan metode pengumpulan informasi membuat hasil pengukuran tidak selalu konsisten. Padahal, data yang kurang akurat dapat berakibat serius jika dijadikan dasar keputusan medis. Isu kedua berkaitan dengan masalah akurasi estimasi. Wearable devices terkadang mengalami overestimation, misalnya peningkatan detak jantung akibat flu dapat terbaca sebagai gejala COVID-19. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan pasien bahkan menambah beban bagi sistem kesehatan. Tantangan ketiga menyangkut kesenjangan akses yang ditunjukkan dengan tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan teknologi ini. Kelompok dengan kemampuan finansial dan literasi digital yang lebih baik cenderung lebih mudah memperoleh manfaat sedangkan masyarakat dengan keterbatasan akses dapat semakin tertinggal. Isu terakhir adalah keadilan dan representasi data. Saat ini, data dari wearable devices lebih banyak terkumpul dari kelompok tertentu seperti orang dewasa muda pengguna smartwatch. Sementara itu, kelompok lain seperti lansia atau anak-anak masih kurang terwakili. Akibatnya, basis data yang terbentuk dapat bias dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi kesehatan populasi secara menyeluruh.

Temuan ini dapat menjadi pengingat bagi praktisi kesehatan bahwa wearable devices tidak hanya sekadar menjadi tren gaya hidup tetapi juga berfungsi sebagai alat medis potensial yang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Penting untuk memastikan kualitas data terjaga, mengedukasi pasien tentang keterbatasan interpretasi data, serta mendorong kebijakan yang menjamin akses merata. Selain itu, penggunaan data juga harus diperhatikan agar informasi dapat terintegrasi dengan rekam medis elektronik sehingga memberikan manfaat maksimal dalam praktik klinis maupun kesehatan masyarakat.

Wearable devices memang membuka peluang besar menuju pelayanan kesehatan yang lebih personal, digital, dan preventif. Namun, manfaat tersebut hanya bisa tercapai jika tantangan terkait kualitas data, akurasi, kesetaraan akses, dan keadilan benar-benar diperhatikan. Praktisi kesehatan memiliki peran penting untuk menjembatani kemajuan teknologi ini agar dapat memberikan dampak positif, tidak hanya bagi kelompok tertentu tetapi juga bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dirangkum oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Sumber:
https://journals.plos.org/digitalhealth/article?id=10.1371/journal.pdig.0000104 

 

Pendidikan Orang Tua: Kunci Menurunkan Angka Kematian Anak

Pendidikan tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga, tetapi juga berperan besar dalam menurunkan angka kematian anak. Sebuah penelitian besar yang dipublikasikan di The Lancet tahun 2021 menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, semakin rendah risiko anak meninggal sebelum usia lima tahun. Penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa pendidikan dapat dianggap sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif.

Studi ini merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis terbesar yang pernah dilakukan terkait topik ini. Para peneliti menganalisis lebih dari 300 penelitian di 92 negara, mencakup data sekitar 3,1 juta kelahiran hidup. Mereka menilai bagaimana pendidikan orang tua memengaruhi angka kematian pada berbagai tahap usia anak, mulai dari periode neonatal (0–27 hari), masa bayi (1–11 bulan), hingga anak usia dini (1–4 tahun). Dengan metode meta-regresi, penelitian ini mengontrol faktor-faktor seperti tingkat ekonomi, pendidikan pasangan, dan variasi budaya untuk menghasilkan gambaran yang komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ibu memiliki dampak yang sangat signifikan. Anak yang lahir dari ibu dengan pendidikan menengah (setara 12 tahun sekolah) memiliki risiko meninggal 31% lebih rendah dibanding anak dari ibu tanpa pendidikan. Bahkan, setiap tambahan satu tahun pendidikan ibu dikaitkan dengan penurunan risiko kematian anak sebesar 3,04%. Temuan ini menggambarkan betapa pentingnya akses pendidikan bagi perempuan, karena mereka sering memiliki peran utama dalam pengasuhan dan kesehatan anak sehari-hari.

Meski pengaruh pendidikan ayah tidak sebesar ibu, perannya tetap signifikan. Anak dengan ayah berpendidikan menengah memiliki risiko kematian 17,3% lebih rendah, dan setiap tambahan satu tahun pendidikan ayah menurunkan risiko kematian anak sebesar 1,57%. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya urusan perempuan, melainkan faktor bersama yang memengaruhi kualitas kesehatan generasi berikutnya.

Efek perlindungan dari pendidikan orang tua juga terlihat konsisten di semua rentang usia anak. Dampaknya paling kuat setelah melewati bulan pertama kehidupan, masa kritis yang penuh risiko bagi bayi. Namun manfaatnya tetap terasa hingga usia prasekolah, menegaskan bahwa pendidikan orang tua bukan hanya memberi keuntungan jangka pendek, tetapi juga perlindungan kesehatan jangka panjang bagi anak-anak mereka.

Temuan ini membawa pesan penting bagi kebijakan publik. Pendidikan universal yang berkualitas, terutama bagi perempuan, adalah investasi kesehatan yang tidak bisa ditawar. Dengan meningkatkan akses pendidikan, negara bukan hanya membangun sumber daya manusia yang lebih produktif, tetapi juga secara langsung menyelamatkan nyawa anak-anak. Upaya mencapai target pembangunan berkelanjutan—baik dalam pendidikan (SDG 4) maupun kesehatan anak (SDG 3.2)—dapat dipercepat dengan menjadikan pendidikan sebagai strategi utama untuk menurunkan angka kematian anak secara global.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/piis0140-6736%2821%2900534-1/fulltext?utm_source=chatgpt.com 

 

 

Membuka Peluang Riset dan Layanan Tepat Sasaran Melalui Terhubungnya Data Kesehatan

Dalam dunia kesehatan digital, data kesehatan adalah modal utama yang banyak digunakan sebagai pertimbangan pengambilan keputusan yang tepat. Namun, data kesehatan seringkali tersebar dalam berbagai sistem dan instansi sehingga sulit dimanfaatkan secara maksimal. Artikel terbaru oleh Mathason et al (2025) dalam jurnal Communications Medicine mengulas bagaimana data linkage—proses menghubungkan data dari berbagai sumber—dapat mengubah lanskap riset, kebijakan, dan layanan kesehatan. Rekam medis, klaim asuransi, hasil laboratorium, dan data genomik yang dapat terhubung secara aman dan lengkap dapat memudahkan peneliti memahami pola penyakit, membantu tenaga kesehatan membuat keputusan klinis yang lebih akurat, serta memungkinkan pemerintah merancang kebijakan kesehatan berbasis bukti.

Proses data linkage dilakukan dengan mengidentifikasi data yang merujuk pada orang yang sama dari berbagai sumber. Identifikasi data menggunakan beberapa metode seperti deterministic (ID unik), probabilistic (kemungkinan kecocokan), atau referential (data referensi tambahan). Data dapat berbentuk identified (dengan identitas asli) atau de-identified (dengan enkripsi untuk jaga privasi). Kunci keberhasilan data linkage terdapat pada kualitas dan standar data agar catatan bisa terhubung dengan akurat dan aman. Saat ini, data linkage salah satu contohnya telah dimanfaatkan dalam penelitian terkait virus Epstein-Barr dan risiko multiple sclerosis yang menghubungkan data medis jangka panjang dari jutaan individu.

Tantangan utama data linkage kesehatan adalah penjagaan kualitas data dan perlindungan privasi pasien. Upaya penjagaan kualitas data dan perlindungan privasi pasien dapat dilakukan dengan standarisasi format dan bantuan teknologi. Salah satu contoh standarisasi format, seperti yang dilakukan melalui inisiatif United States Core Data for Interoperability, menjadi kunci agar data dapat saling terhubung tanpa mengorbankan keamanan. Teknologi seperti Privacy Preserving Record Linkage (PPRL) memungkinkan penggabungan data tanpa membocorkan identitas pribadi sehingga riset tetap berjalan sambil menjaga kerahasiaan pasien.

Bagi praktisi kesehatan, implikasi data linkage tentunya sangat besar. Data linkage dapat membantu mengidentifikasi populasi dengan penyakit berisiko tinggi, memantau efektivitas terapi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan memperkecil kesenjangan akses layanan di komunitas terpencil. Dalam era precision medicine, integrasi data juga dapat memandu terapi yang dipersonalisasi sesuai profil genetik dan kondisi sosial-ekonomi pasien. Kolaborasi lintas sektor dan inovasi teknologi akan menjadi penentu keberhasilan pemanfaatan data linkage di masa depan. Tenaga kesehatan, peneliti, dan pembuat kebijakan perlu memaksimalkan kerja sama dan komunikasi yang baik untuk memastikan data terhubung dengan aman, akurat, dan bermanfaat bagi semua pihak. Hal ini dapat membuka jalan bagi layanan kesehatan yang lebih efisien, adil, dan berbasis bukti.

Dirangkum oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://www.nature.com/articles/s43856-025-00769-y 

 

 

Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Jiwa: Pentingnya Evaluasi Berbasis Indikator

Kesehatan jiwa merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kualitas hidup, kesejahteraan sosial, dan produktivitas ekonomi. Namun, tantangan untuk memberikan layanan kesehatan jiwa yang benar-benar berkualitas masih menjadi tantangan besar, termasuk di negara-negara dengan sistem kesehatan yang sudah maju.

Kajian dalam International Journal of Environmental Research and Public Health oleh Samartzis dan Talias (2020) menekankan bahwa peningkatan kualitas layanan tidak dapat tercapai tanpa melakukan evaluasi yang terukur terlebih dahulu. Prinsipnya sederhana: apa yang tidak diukur, tidak dapat diperbaiki. Oleh karena itu, evaluasi untuk memastikan layanan yang diberikan benar-benar efektif, aman, dan sesuai kebutuhan pasien harus dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif.

Kajian ini merumuskan 8 indikator yang dapat menjadi panduan dalam menilai kualitas layanan kesehatan jiwa mulai dari kesesuaian layanan, aksesibilitas, penerimaan pasien, kompetensi tenaga kesehatan, efektivitas terapi, kontinuitas perawatan, efisiensi penggunaan sumber daya, serta keamanan pasien dan tenaga kesehatan. Setiap dimensi memiliki indikator khusus berupa structure indicators (jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas), process indicators (alur pelayanan dan jalannya prosedur), dan outcome indicators (tingkat perbaikan pasien dan kepuasan). Contoh kesesuaian layanan dapat dilihat dari apakah pasien menerima ketepatan perawatan sesuai kebutuhan. Aksesibilitas diukur melalui waktu tunggu dan ketersediaan layanan. Penerimaan pasien dilihat dari pemenuhan hak dan kepuasan pasien. Kompetensi tenaga kesehatan dapat dievaluasi dari partisipasi pelatihan berkelanjutan. Kesesuaian layanan dapat dilihat dari kesinambungan kinerja layanan antara rawat inap dan rawat jalan. Indikator keamanan dapat dilihat dari adanya perlindungan risiko pasien dari kekerasan, pelanggaran data, atau bahaya lain.

Penerapan indikator kualitas pelayanan kesehatan jiwa sangat penting karena dapat membantu mengidentifikasi kelemahan dalam sistem dan menentukan prioritas perbaikan. Contohnya, keterlambatan akses dapat memperburuk kondisi pasien terutama pada kasus krisis seperti risiko bunuh diri. Tingkat kepuasan pasien juga mempengaruhi kepatuhan terhadap terapi jangka panjang. Kontinuitas perawatan dapat mencegah fenomena “revolving door” (pasien berulang kali keluar-masuk rumah sakit). Melalui pemantauan indikator secara konsisten, rumah sakit dan klinik dapat melihat tren peningkatan atau kemunduran layanan dari tahun ke tahun sekaligus menyesuaikan strategi yang diperlukan.

Bagi praktisi kesehatan, pemanfaatan indikator kualitas dapat membuka peluang untuk merancang perencanaan berbasis bukti, memperkuat program pelatihan tenaga medis, dan membangun transparansi yang meningkatkan kepercayaan publik. Layanan kesehatan jiwa yang baik tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah fasilitas atau tenaga medis tetapi juga memastikan bahwa setiap langkah dalam proses pelayanan benar-benar memberikan manfaat yang optimal bagi pasien. Melalui adopsi sistem evaluasi yang terstruktur, tenaga kesehatan dapat berkembang memberikan layanan yang lebih tepat, aman, efektif, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat fondasi kesehatan jiwa masyarakat secara keseluruhan.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK)

Selengkapnya: https://www.mdpi.com/1660-4601/17/1/249 

 

 

Dampak Trauma Masa Kecil Ibu terhadap Kesehatan Mental Anak

Pengalaman masa kecil seorang ibu ternyata tidak hanya berpengaruh bagi dirinya sendiri tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental anaknya. Penelitian studi terbaru oleh Jessica P., et al pada tahun 2023 menemukan bahwa kesulitan masa kecil yang dialami ibu dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental pada anak-anak bahkan sebelum sang anak mengalami kejadian negatif secara langsung. Penelitian telah melibatkan lebih dari 4.000 pasangan ibu-anak di Inggris dan Irlandia. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak dari ibu yang mengalami berbagai bentuk trauma masa kecil yang disebabkan oleh kekerasan fisik, pelecehan seksual, penelantaran, atau kekerasan dalam rumah tangga cenderung memiliki skor yang lebih tinggi pada gejala masalah mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku.

Penelitian ini menggunakan data dari dua studi longitudinal besar: Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC) di Inggris dan Growing Up in Ireland (GUI) di Irlandia. Hasil dalam kedua populasi tersebut konsisten, yakni kesulitan masa kecil ibu berkontribusi signifikan terhadap gangguan kesehatan mental pada anak. Faktor-faktor lain seperti status sosial ekonomi dan pengalaman masa kecil anak sendiri juga diketahui mempengaruhi dampak yang terjadi. Salah satu hal lain yang menarik dari studi ini adalah pendekatannya yang memisahkan dampak langsung (kesulitan yang dialami anak sendiri) dan dampak tidak langsung (kesulitan yang pernah dialami ibu). Dampak trauma ibu diketahui tetap terlihat meskipun anak-anak mereka belum mengalami kesulitan serupa secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa “warisan emosional” dari pengalaman traumatis dapat diturunkan melalui berbagai mekanisme, termasuk gaya pengasuhan, stres psikologis ibu, dan lingkungan keluarga secara keseluruhan.

Temuan penelitian ini menegaskan pendekatan intergenerasional sangat penting dalam penanganan kesehatan mental. Intervensi tidak cukup hanya ditujukan pada anak tetapi juga perlu mencakup orang tua khususnya ibu yang mungkin membawa beban trauma masa kecil. Praktisi disarankan untuk melakukan deteksi risiko sedini mungkin melalui skrining riwayat masa kecil ibu selama pemeriksaan rutin terutama pada masa kehamilan atau setelah melahirkan. Selain itu, layanan dukungan emosional dan konseling bagi ibu dengan riwayat trauma sangat dibutuhkan untuk membantu ibu membangun pola pengasuhan yang sehat. Dalam sisi kebijakan, integrasi layanan kesehatan mental ibu dan anak penting diimplementasikan dalam sistem kesehatan agar penanganan isu kesehatan mental dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://acamh.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/jcpp.13721 

Dampak Skrining Kesehatan Mental Rutin pada Populasi Perawatan Primer Pediatrik dengan Sumber Daya Terbatas

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan resmi memulai pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi peserta didik di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini terhadap berbagai masalah kesehatan fisik dan mental anak usia sekolah. Program ini menargetkan sekitar 53 juta anak sekolah di seluruh Indonesia pada tahun 2025. Pelaksanaannya berbeda dari kegiatan serupa sebelumnya, seperti saat peringatan Hari Ulang Tahun, yang cakupannya lebih beragam.

Skrining kesehatan, salah satunya kesehatan mental pada anak usia sekolah telah dibahas dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Clinical Pediatrics. Penelitian ini menyoroti dampak penerapan skrining rutin kesehatan mental pada anak-anak di pusat layanan primer dengan sumber daya terbatas. Studi ini meneliti lebih dari 400 anak berusia 5–12 tahun yang datang untuk kunjungan kesehatan rutin, dengan membandingkan data sebelum dan sesudah penerapan skrining. Tujuan utama penelitian ini adalah menilai apakah program tersebut dapat meningkatkan deteksi dini masalah kesehatan mental pada anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah skrining rutin diterapkan, semakin banyak orang tua yang melaporkan masalah kesehatan mental anak mereka kepada tenaga kesehatan. Peningkatan juga terlihat pada jumlah evaluasi medis yang dilakukan penyedia layanan. Dengan adanya skrining ini, masalah kesehatan mental yang sebelumnya mungkin tidak terungkap menjadi lebih mudah dikenali dalam interaksi sehari-hari di fasilitas kesehatan primer.

Menariknya, penelitian menemukan bahwa meskipun deteksi meningkat, jumlah rujukan ke layanan kesehatan mental khusus justru menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak masalah dapat ditangani langsung di layanan primer tanpa harus selalu dirujuk ke spesialis. Selain itu, penelitian juga mencatat tidak ada peningkatan waktu tunggu maupun jumlah kunjungan baru ke layanan rujukan, sehingga sistem pelayanan tidak terbebani.

Para peneliti menyimpulkan bahwa skrining rutin kesehatan mental terbukti efektif dalam meningkatkan pengenalan masalah kesehatan mental anak di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya. Program ini juga tidak memberikan beban tambahan signifikan pada sistem layanan kesehatan lanjutan. Temuan ini menunjukkan bahwa langkah sederhana seperti skrining rutin dapat memperkuat kualitas layanan primer tanpa menuntut tambahan besar dari fasilitas spesialis.

Implikasinya, penelitian ini mendorong agar skrining rutin kesehatan mental diintegrasikan lebih luas ke dalam praktik layanan primer, khususnya di negara berkembang atau wilayah dengan akses terbatas. Peneliti juga menekankan perlunya pelatihan tenaga kesehatan agar dapat menangani hasil skrining dengan tepat dan memberikan edukasi yang memadai kepada orang tua. Dengan demikian, skrining tidak hanya mendeteksi masalah lebih dini, tetapi juga memastikan anak-anak mendapatkan intervensi yang sesuai sejak tahap awal.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22157425/ 

 

Satu Abad Perjalanan Peningkatan Mutu Kesehatan

Perjalanan peningkatan mutu layanan kesehatan terus berkembang pesat hingga saat ini. Selama lebih dari satu abad, perkembangan mutu layanan kesehatan telah melalui perjalanan panjang. Paul Batalden dan Tina Foster dalam jurnal International Journal for Quality in Health Care mengungkap bagaimana pendekatan peningkatan mutu layanan kesehatan berevolusi pada tiga fase penting yang saling melengkapi. Pada awal abad ke-20, pendekatan peningkatan mutu dikenal sebagai fase Quality 1.0. Fokus utama fase Quality 1.0 adalah menetapkan ambang batas layanan yang dianggap “baik”. Melalui pendekatan Quality 1.0, aspek mutu lainnya mulai berkembang.

Contoh aspek mutu lainnya meliputi standar dasar, akreditasi rumah sakit, audit eksternal, panduan kualifikasi tenaga medis, kebersihan fasilitas, dan keselamatan layanan. Meskipun pendekatan Quality 1.0 sangat penting sebagai pondasi mutu layanan kesehatan, seiring waktu terdapat beberapa keterbatasan yang terlihat. Keterbatasan disebabkan oleh kecenderungan praktik yang lebih menekankan pada layanan pemenuhan prosedur administratif daripada dampak nyata bagi pasien.

Perkembangan selanjutnya, yakni fase Quality 2.0 berperan memperbaiki keterbatasan pada praktik fase sebelumnya. Perkembangan fase Quality 2.0 dipengaruhi oleh manajemen mutu di industri manufaktur. Fase Quality 2.0 menerapkan prinsip perbaikan berkelanjutan, pengurangan kesalahan, dan peningkatan efisiensi mulai diterapkan pada layanan kesehatan. Fokus fase Quality 2.0 tidak hanya menekankan pada standar formal tetapi juga pada proses layanan secara keseluruhan. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa mutu bukanlah tanggung jawab individu semata melainkan hasil kerja sama seluruh sistem yang mencakup kolaborasi dokter, perawat, dan staf pendukung. Melalui langkah ini, layanan kesehatan menjadi lebih terukur, terkoordinasi, dan berorientasi pada hasil yang lebih baik bagi pasien.

Saat ini, dunia kesehatan telah memasuki fase Quality 3.0 yang menekankan pendekatan bahwa pasien ditempatkan sebagai mitra yang setara dalam menciptakan pelayanan kesehatan. Konsep tersebut disebut coproduction yang berarti layanan tidak hanya “diberikan” oleh tenaga kesehatan tetapi juga “dibangun bersama” antara pasien dan profesional. Orientasi layanan kesehatan tidak lagi sekadar hanya menanyakan “apa yang salah?” tetapi “apa yang penting bagi pasien?”. Hubungan penuh empati, saling percaya, dan kolaboratif menjadi kunci keberhasilan pada fase ini. Pendekatan fase Quality 3.0 juga menekankan pentingnya keterhubungan yang berarti bahwa optimalnya sistem kesehatan tercipta dari kerja sama antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan komunitas.

Perjalanan perkembangan mutu layanan kesehatan memberikan pelajaran penting baik bagi praktisi maupun mahasiswa kesehatan. Layanan kesehatan diharapkan tidak hanya dilihat sebagai sistem yang saling terhubung tetapi juga harus membangun hubungan yang lebih manusiawi dengan pasien. Pada akhirnya, mutu layanan kesehatan tidak hanya soal prosedur yang benar tetapi juga tentang bagaimana layanan tersebut memberikan nilai yang nyata dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Para ahli memperkirakan Quality 4.0 akan hadir dalam perkembangan perjalanan peningkatan mutu layanan kesehatan dengan menggabungkan teknologi digital, pembelajaran sistem, dan nilai sosial komunitas. Meskipun terus berkambang, esensi mutu pelayanan kesehatan tidak akan berubah dengan prinsip: mutu layanan kesehatan yang terbaik selalu lahir dari kolaborasi yang tulus antara tenaga kesehatan dan pasien.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://academic.oup.com/intqhc/article/33/Supplement_2/ii10/6445911 

 

 

Perubahan iklim dan penyakit menular di Eropa: Dampak, proyeksi dan adaptasi

Perubahan iklim global bukan lagi isu lingkungan semata, tetapi kini menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat di Eropa. Penelitian terbaru mengungkap bahwa peningkatan suhu, perubahan pola hujan, dan musim panas yang lebih panjang telah menciptakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran penyakit infeksi yang sebelumnya hanya ditemukan di wilayah tropis dan subtropis. Tren ini mulai tampak nyata dalam satu dekade terakhir.

Nyamuk, lalat pasir, dan kutu yang menjadi vektor berbagai penyakit kini semakin banyak ditemukan di Eropa bagian selatan, bahkan merambah ke wilayah tengah dan utara. Kasus-kasus lokal chikungunya, dengue, dan virus West Nile telah terjadi di Italia, Prancis, dan Spanyol. Sementara itu, lalat pasir penyebar Leishmania dan kutu pembawa Lyme serta encephalitis menunjukkan perluasan ke wilayah pegunungan dan utara Eropa.

Suhu yang lebih hangat mempercepat siklus hidup vektor, memperluas masa aktif mereka, dan meningkatkan kemungkinan penularan antar manusia. Perubahan iklim juga menggeser habitat alami vektor dan memperpendek musim dingin, memungkinkan spesies tropis bertahan hidup lebih lama di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka.

Ancaman ini tidak merata. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah lebih mungkin terdampak. Mereka tinggal di lingkungan yang kurang layak, lebih sering terpapar faktor risiko, dan memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan serta sarana pencegahan seperti kelambu, insektisida, atau sistem pendingin ruangan.

Peneliti menekankan bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan medis. Diperlukan strategi lintas sektor, seperti pendekatan “One Health” yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Kolaborasi antara sektor kesehatan, pertanian, lingkungan hidup, dan perencanaan kota sangat penting untuk mencegah epidemi di masa depan.

Uni Eropa sendiri telah mulai menyesuaikan kebijakan dengan meninjau kembali regulasi seperti Ambient Air Quality Directive dan REACH. Namun, peneliti juga menyoroti bahwa masih banyak kesenjangan data dan penelitian, terutama terkait dampak gabungan dari polusi udara, paparan panas ekstrem, dan kontaminasi kimia terhadap imunitas manusia.

Selain itu, kurangnya pemahaman tentang penyebaran penyakit di dalam ruang tertutup juga menjadi perhatian. Banyak vektor seperti nyamuk dan lalat mampu berkembang di area dalam rumah yang lembap dan tidak berventilasi baik. Edukasi publik dan penataan hunian menjadi faktor penting dalam upaya mitigasi di tingkat individu dan komunitas.

Eropa tidak lagi kebal terhadap penyakit tropis. Jika tidak ada langkah konkret dan terintegrasi untuk adaptasi terhadap perubahan iklim, maka masyarakat Eropa akan menghadapi lonjakan kasus penyakit infeksi baru yang lebih sering, lebih luas, dan lebih mematikan. Perlindungan kesehatan publik di era perubahan iklim menuntut kecepatan, kolaborasi, dan kebijakan berbasis bukti.

Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://www.thelancet.com/journals/lanepe/article/PIIS2666-7762%2821%2900216-7/ 

 

 

Alat Skrining yang Digunakan di Layanan Kesehatan Primer untuk Mengidentifikasi Perilaku Kesehatan pada Anak (Usia 0–16 Tahun)

Tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) sebagai momentum penting untuk meningkatkan kepedulian terhadap hak-hak anak serta memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar anak-anak Indonesia secara optimal. “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” Tema ini menegaskan bahwa anak-anak hari ini adalah pondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, yakni visi Indonesia maju di usia ke-100 tahun kemerdekaannya. Perwujudan tagline tersebut bukan hanya dalam tulisan, namun juga dalam mempersiapkan anak agar menjadi anak yang sehat. Obesitas pada anak dan remaja telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin mengkhawatirkan dalam beberapa dekade terakhir.

Data tahun 2018 di negara Meksiko menunjukkan bahwa sekitar 8% anak usia 0–4 tahun, 35% anak usia 5–11 tahun, dan hampir 40% remaja usia 12–19 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Sayangnya, sebagian besar upaya pencegahan dan intervensi masih berfokus pada perilaku individu dan belum cukup mempertimbangkan faktor budaya yang turut membentuk pola makan, gaya hidup, serta persepsi masyarakat terhadap kesehatan dan tubuh.

Penelitian yang dilakukan oleh Dutch et. al (2024) mengidentifikasi faktor-faktor sosio-budaya yang memengaruhi obesitas pada anak dan remaja di wilayah Meksiko. Dengan menggunakan kerangka kerja Sunrise Enabler Model dari teori Cultural Care, peneliti melakukan tinjauan sistematis terhadap 24 studi kualitatif yang melibatkan berbagai kelompok responden, termasuk anak-anak, remaja, orang tua, guru, staf sekolah, pedagang makanan, dan pembuat kebijakan. Studi-studi ini dianalisis untuk menggali nilai, kepercayaan, norma sosial, dan praktik sehari-hari yang berkaitan dengan obesitas anak.

Hasil kajian menunjukkan bahwa obesitas anak di Meksiko sangat dipengaruhi oleh tiga dimensi budaya utama. Pertama, nilai dan kepercayaan sosial seperti persepsi bahwa tubuh gemuk menandakan anak sehat masih banyak dianut oleh keluarga. Kedua, kebiasaan makan keluarga—termasuk konsumsi makanan cepat saji, porsi besar, dan penggunaan makanan sebagai simbol kasih sayang—mendorong pola konsumsi berisiko. Ketiga, pengaruh sosial seperti tekanan teman sebaya, ekspektasi masyarakat, dan kebijakan sekolah memengaruhi keputusan makan dan aktivitas fisik anak.

Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan yang sensitif terhadap budaya dalam mengatasi obesitas anak dan remaja. Alih-alih hanya menyasar perubahan perilaku individu, strategi pencegahan perlu memperhatikan struktur sosial dan nilai budaya yang sudah mengakar. Misalnya, pelibatan keluarga dalam edukasi gizi, pelatihan pedagang makanan di sekitar sekolah, serta kampanye kesehatan yang tidak bertentangan dengan identitas budaya lokal akan lebih efektif dalam menciptakan perubahan berkelanjutan.

Sebagai kesimpulan, studi ini memberikan wawasan mendalam bahwa budaya bukan sekadar latar belakang, melainkan bagian integral dari masalah obesitas anak di Meksiko. Intervensi yang memperhitungkan konteks sosial dan budaya tidak hanya akan lebih diterima oleh masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak yang lebih besar dalam jangka panjang. Oleh karena itu, upaya pencegahan obesitas perlu dirancang secara holistik, dengan memadukan pendekatan medis, edukatif, dan budaya secara seimbang.

Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38192203/