Perubahan iklim dan penyakit menular di Eropa: Dampak, proyeksi dan adaptasi

Perubahan iklim global bukan lagi isu lingkungan semata, tetapi kini menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat di Eropa. Penelitian terbaru mengungkap bahwa peningkatan suhu, perubahan pola hujan, dan musim panas yang lebih panjang telah menciptakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran penyakit infeksi yang sebelumnya hanya ditemukan di wilayah tropis dan subtropis. Tren ini mulai tampak nyata dalam satu dekade terakhir.

Nyamuk, lalat pasir, dan kutu yang menjadi vektor berbagai penyakit kini semakin banyak ditemukan di Eropa bagian selatan, bahkan merambah ke wilayah tengah dan utara. Kasus-kasus lokal chikungunya, dengue, dan virus West Nile telah terjadi di Italia, Prancis, dan Spanyol. Sementara itu, lalat pasir penyebar Leishmania dan kutu pembawa Lyme serta encephalitis menunjukkan perluasan ke wilayah pegunungan dan utara Eropa.

Suhu yang lebih hangat mempercepat siklus hidup vektor, memperluas masa aktif mereka, dan meningkatkan kemungkinan penularan antar manusia. Perubahan iklim juga menggeser habitat alami vektor dan memperpendek musim dingin, memungkinkan spesies tropis bertahan hidup lebih lama di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka.

Ancaman ini tidak merata. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah lebih mungkin terdampak. Mereka tinggal di lingkungan yang kurang layak, lebih sering terpapar faktor risiko, dan memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan serta sarana pencegahan seperti kelambu, insektisida, atau sistem pendingin ruangan.

Peneliti menekankan bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan medis. Diperlukan strategi lintas sektor, seperti pendekatan “One Health” yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Kolaborasi antara sektor kesehatan, pertanian, lingkungan hidup, dan perencanaan kota sangat penting untuk mencegah epidemi di masa depan.

Uni Eropa sendiri telah mulai menyesuaikan kebijakan dengan meninjau kembali regulasi seperti Ambient Air Quality Directive dan REACH. Namun, peneliti juga menyoroti bahwa masih banyak kesenjangan data dan penelitian, terutama terkait dampak gabungan dari polusi udara, paparan panas ekstrem, dan kontaminasi kimia terhadap imunitas manusia.

Selain itu, kurangnya pemahaman tentang penyebaran penyakit di dalam ruang tertutup juga menjadi perhatian. Banyak vektor seperti nyamuk dan lalat mampu berkembang di area dalam rumah yang lembap dan tidak berventilasi baik. Edukasi publik dan penataan hunian menjadi faktor penting dalam upaya mitigasi di tingkat individu dan komunitas.

Eropa tidak lagi kebal terhadap penyakit tropis. Jika tidak ada langkah konkret dan terintegrasi untuk adaptasi terhadap perubahan iklim, maka masyarakat Eropa akan menghadapi lonjakan kasus penyakit infeksi baru yang lebih sering, lebih luas, dan lebih mematikan. Perlindungan kesehatan publik di era perubahan iklim menuntut kecepatan, kolaborasi, dan kebijakan berbasis bukti.

Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://www.thelancet.com/journals/lanepe/article/PIIS2666-7762%2821%2900216-7/ 

 

 

Alat Skrining yang Digunakan di Layanan Kesehatan Primer untuk Mengidentifikasi Perilaku Kesehatan pada Anak (Usia 0–16 Tahun)

Tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) sebagai momentum penting untuk meningkatkan kepedulian terhadap hak-hak anak serta memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar anak-anak Indonesia secara optimal. “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” Tema ini menegaskan bahwa anak-anak hari ini adalah pondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, yakni visi Indonesia maju di usia ke-100 tahun kemerdekaannya. Perwujudan tagline tersebut bukan hanya dalam tulisan, namun juga dalam mempersiapkan anak agar menjadi anak yang sehat. Obesitas pada anak dan remaja telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin mengkhawatirkan dalam beberapa dekade terakhir.

Data tahun 2018 di negara Meksiko menunjukkan bahwa sekitar 8% anak usia 0–4 tahun, 35% anak usia 5–11 tahun, dan hampir 40% remaja usia 12–19 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Sayangnya, sebagian besar upaya pencegahan dan intervensi masih berfokus pada perilaku individu dan belum cukup mempertimbangkan faktor budaya yang turut membentuk pola makan, gaya hidup, serta persepsi masyarakat terhadap kesehatan dan tubuh.

Penelitian yang dilakukan oleh Dutch et. al (2024) mengidentifikasi faktor-faktor sosio-budaya yang memengaruhi obesitas pada anak dan remaja di wilayah Meksiko. Dengan menggunakan kerangka kerja Sunrise Enabler Model dari teori Cultural Care, peneliti melakukan tinjauan sistematis terhadap 24 studi kualitatif yang melibatkan berbagai kelompok responden, termasuk anak-anak, remaja, orang tua, guru, staf sekolah, pedagang makanan, dan pembuat kebijakan. Studi-studi ini dianalisis untuk menggali nilai, kepercayaan, norma sosial, dan praktik sehari-hari yang berkaitan dengan obesitas anak.

Hasil kajian menunjukkan bahwa obesitas anak di Meksiko sangat dipengaruhi oleh tiga dimensi budaya utama. Pertama, nilai dan kepercayaan sosial seperti persepsi bahwa tubuh gemuk menandakan anak sehat masih banyak dianut oleh keluarga. Kedua, kebiasaan makan keluarga—termasuk konsumsi makanan cepat saji, porsi besar, dan penggunaan makanan sebagai simbol kasih sayang—mendorong pola konsumsi berisiko. Ketiga, pengaruh sosial seperti tekanan teman sebaya, ekspektasi masyarakat, dan kebijakan sekolah memengaruhi keputusan makan dan aktivitas fisik anak.

Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan yang sensitif terhadap budaya dalam mengatasi obesitas anak dan remaja. Alih-alih hanya menyasar perubahan perilaku individu, strategi pencegahan perlu memperhatikan struktur sosial dan nilai budaya yang sudah mengakar. Misalnya, pelibatan keluarga dalam edukasi gizi, pelatihan pedagang makanan di sekitar sekolah, serta kampanye kesehatan yang tidak bertentangan dengan identitas budaya lokal akan lebih efektif dalam menciptakan perubahan berkelanjutan.

Sebagai kesimpulan, studi ini memberikan wawasan mendalam bahwa budaya bukan sekadar latar belakang, melainkan bagian integral dari masalah obesitas anak di Meksiko. Intervensi yang memperhitungkan konteks sosial dan budaya tidak hanya akan lebih diterima oleh masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak yang lebih besar dalam jangka panjang. Oleh karena itu, upaya pencegahan obesitas perlu dirancang secara holistik, dengan memadukan pendekatan medis, edukatif, dan budaya secara seimbang.

Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38192203/ 

 

Inovasi Layanan Kesehatan: Integrasi Perangkat Digital, AI, dan Data Lingkungan untuk Manajemen Penyakit Kronis

Pengelolaan penyakit kronis masih menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan. Kondisi beberapa penyakit seperti obesitas, gangguan panik, dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronik) sering kali memerlukan pemantauan jangka panjang. Namun, prakteknya banyak kasus yang menunjukkan bahwa kontrol rutin di rumah sakit tidak selalu mencerminkan kondisi nyata pasien dalam keseharian. Penelitian terbaru dari National Taiwan University menawarkan pendekatan inovatif melalui layanan kesehatan presisi yang mengintegrasikan perangkat digital, sensor kualitas udara, aplikasi smartphone, serta analisis berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk pemantauan pasien secara real-time. Sistem integrasi ini dirancang agar data gaya hidup pasien—mulai dari detak jantung, pola tidur, jumlah langkah, hingga konsumsi kalori—dapat dikumpulkan secara otomatis melalui perangkat digital seperti Fitbit, Garmin, atau Apple Watch. Sementara itu, sensor lingkungan dapat mendeteksi paparan polusi udara seperti PM2.5 dan karbon monoksida serta variabel suhu dan kelembaban yang juga berpengaruh pada kondisi kronis.

Semua data kesehatan yang telah dikumpulkan akan terhubung ke platform “NTU Medical Genie”. Data tersebut kemudian dianalisis oleh model prediksi berbasis machine learning dan deep learning untuk memproyeksikan risiko kejadian akut hingga 7 hari ke depan. Menariknya, hasil penelitian menunjukkan performa prediksi yang sangat baik. Model prediksi PPOK mencapai akurasi 91%, model serangan panik mencapai 83%, dan model obesitas mencapai 93%. Model ini lebih hemat sumber daya dan siap diterapkan dalam praktik klinik sehari-hari. Bagi praktisi kesehatan, manfaatnya penelitian ini sangat signifikan. Pemantauan pasien tidak lagi terbatas pada kunjungan tatap muka. Dokter dan tenaga kesehatan dapat melihat tren data pasien secara lengkap termasuk aktivitas fisik, kualitas tidur, serta paparan lingkungan yang relevan terhadap kondisi klinis. Jika terdapat tanda bahaya, sistem secara otomatis mengirimkan peringatan dini agar intervensi segera dilakukan. Pendekatan ini memungkinkan pergeseran layanan dari kuratif menjadi preventif dengan memanfaatkan data yang lebih komprehensif untuk pengambilan keputusan klinis.

Selain meningkatkan kualitas pemantauan, layanan kesehatan presisi juga dapat mengurangi beban sistem kesehatan. Pasien tidak perlu terlalu sering melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan rutin dan dokter tetap dapat memantau status pasien dengan akurat. Sistem ini juga mampu memberikan rekomendasi gaya hidup yang lebih personal. Contohnya dengan membatasi aktivitas luar ruangan pada hari dengan polusi tinggi atau meningkatkan aktivitas fisik untuk mencegah kenaikan BMI.

Penelitian ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut, termasuk penerapan digital twin—model virtual pasien untuk simulasi kondisi kesehatan—yang dapat memperkuat personalisasi layanan kesehatan. Inovasi teknologi ini tidak hanya relevan untuk manajemen penyakit kronis saat ini tetapi juga memiliki potensi besar sebagai fondasi e-health generasi berikutnya. Melalui integrasi data gaya hidup, lingkungan, dan faktor klinis yang dianalisis secara real-time, layanan kesehatan presisi dapat membantu praktisi kesehatan memberikan intervensi yang lebih tepat sasaran, efisien, dan berbasis kebutuhan individual pasien.

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36199984/

 

 

Kompetensi Kesehatan Digital di Kalangan Profesional Layanan Kesehatan: Tinjauan Sistematis

The World Health Organization (WHO) mendefinisikan dan mengkategorikan intervensi kesehatan digital dalam konteks layanan kesehatan sebagai “fungsi diskret dari teknologi digital untuk mencapai tujuan sektor kesehatan”. Kerangka kerja yang dikembangkan oleh WHO mencakup berbagai alat dan intervensi digital, seperti telemonitoring, penggunaan artificial intelligence, algoritma pengambilan keputusan, dan pengumpulan data kesehatan. Berdasarkan bukti yang tersedia, digitalisasi telah meningkatkan kualitas layanan, memengaruhi berbagai hasil di tingkat sistem (misalnya, keamanan dalam pemberian obat dan lama rawat inap di rumah sakit) dan di tingkat individu (misalnya, peningkatan kemampuan fungsional/kognitif dan kepuasan pasien).

Meskipun memiliki potensi efektivitas, digitalisasi belum sepenuhnya diterapkan dalam praktik klinis. Beberapa faktor telah diidentifikasi sebagai hambatan potensial, termasuk ketersediaan teknologi, sumber daya keuangan, dan keterampilan tenaga kesehatan dalam menggunakan teknologi digital. Untuk meningkatkan digitalisasi layanan kesehatan, tenaga kesehatan telah diakui sebagai faktor kunci dalam transformasi digital sektor kesehatan.

Berbagai istilah telah dikembangkan sejauh ini dalam literatur untuk merujuk pada kompetensi kesehatan digital. Istilah yang paling umum adalah eHealth literacy, yang telah didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan informasi yang diperoleh dari sumber elektronik untuk menyelesaikan masalah kesehatan. Kerangka konseptual yang menggambarkan konsep dan komponen eHealth literacy telah dikembangkan untuk warga dan pasien. Sebagai contoh, kerangka kerja Lily dari Norman dan Skinner mencakup 6 kompetensi literasi, yaitu literasi kesehatan, tradisional, informasi, ilmiah, komputer, dan media.

Sebuah tinjauan terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar intervensi yang bertujuan meningkatkan kompetensi kesehatan digital tenaga kesehatan fokus pada kemampuan, bukan motivasi, dalam menggunakan eHealth. Intervensi yang mempromosikan kompetensi kesehatan digital sebaiknya juga mempertimbangkan faktor sosial dan lingkungan, serta pendekatan partisipatif, untuk mendukung juga aspek emosional dan psikologis dalam penggunaan teknologi. Di sisi lain, terdapat ketimpangan dalam aspek pengajaran, pengembangan diri, dan kemampuan belajar. Kerangka kerja National Health Service (NHS) mengenai kapabilitas digital mencakup domain yang berkaitan dengan kemampuan, misalnya menggunakan teknologi digital untuk pembelajaran pribadi dan mengajar orang lain.

Sebagaimana disoroti oleh tinjauan sebelumnya, kami juga menemukan bahwa kompetensi yang diteliti masih sebagian besar berfokus pada perspektif tenaga kesehatan. Namun, perhatian yang lebih besar diperlukan dalam mempertimbangkan kompetensi untuk menilai kebutuhan pasien, sikap, hambatan, faktor pendukung, dan potensi manfaat dari dilatih oleh tenaga kesehatan dalam penggunaan teknologi dan informasi elektronik secara aman dan tepat untuk masalah kesehatan.

Pengembangan kurikulum dan pelatihan berbasis bukti untuk meningkatkan kompetensi digital tenaga kesehatan secara menyeluruh, termasuk aspek non-teknis seperti kesiapan mental dan edukasi pasien penting untuk menjadi fokus utama. Oleh karena itu, dari penilaian kompetensi berdasarkan persepsi diri yang sebagian besar menyangkut isu umum, upaya kini sebaiknya diarahkan pada pengembangan alat penilaian layanan kesehatan digital yang berpusat pada pasien dan mampu mendeteksi seluruh kompetensi spesifik yang terlibat dalam seluruh proses.

Selengkapnya dapat diakses melalui:

https://www.researchgate.net/publication/

Analisis Global tentang Faktor Penentu Kesehatan Ibu dan Transisi dalam Kematian Ibu

Menurunkan angka kematian ibu dan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan ibu merupakan tugas yang kompleks. AKI global merupakan masalah yang mendesak: diperkirakan 287.000 perempuan meninggal karena penyebab yang terkait dengan kehamilan, persalinan, dan masa nifas pada tahun 2020 saja. Kehilangan hampir 3 juta jiwa perempuan yang dapat dicegah antara tahun 2010 dan 2020 bukan hanya tragedi global, tetapi juga merupakan indikator ketimpangan kesehatan yang parah antara dan di dalam negara-negara dan pelanggaran hak asasi manusia yang mencolok. Meskipun banyak negara telah mengalami kemajuan besar dalam hal peningkatan pendidikan, pekerjaan, dan keinginan untuk memiliki anak, kemajuan ini belum bersifat universal. Sebagian besar kematian ibu masih dapat dicegah dan sebagian besar terjadi pada kelompok perempuan yang memiliki tingkat ekonomi menenga ke bawah.

Pendekatan paling umum untuk mengatasi kematian ibu oleh masyarakat global adalah mengarahkan investasi untuk mengatasi penyebab biomedis utama kematian ibu, khususnya selama periode perinatal. Dibandingkan dengan penyebab biomedis, perhatian yang diberikan pada determinan yang mendasari kehamilan dan persalinan yang buruk cenderung kurang diperhatikan dan sistem kesehatan perlu dikonfigurasi untuk menerapkan intervensi yang efektif dan mengurangi dampak buruk faktor sosial terhadap kesehatan ibu. Meskipun kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (misalnya, anemia kronis, hipertensi kronis, diabetes) menjadi perhatian tenaga medis, komplikasi obstetrik langsung (seperti perdarahan pascapersalinan, preeklamsia, dan infeksi) tetap menjadi penyebab biomedis utama kematian ibu.

Tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Souza et. al (2024) mengenai determinan kesehatan ibu dan faktor-faktor yang terkait dengan kematian ibu, dan meneliti hubungan antara determinan ini dan pergeseran bertahap dari waktu ke waktu dari pola kematian ibu yang tinggi ke pola kematian ibu yang rendah, sebuah fenomena yang digambarkan sebagai transisi obstetrik atau transisi kematian ibu. Penelitian ini mengidentifikasi 23 kerangka kerja yang menggambarkan kesehatan dan kesejahteraan ibu sebagai hasil dari proses multifaktorial. Determinan sosial kesehatan berasal dari superdeterminan ekonomi, politik, dan budaya, dan didefinisikan sebagai faktor non-biomedis yang memengaruhi risiko dan hasil kesehatan sepanjang hidup. Determinan sosial yang berperan pada kesehatan ibu adalah kondisi di mana perempuan dilahirkan, tumbuh, bekerja, dan hidup sebelum kehamilan, dan selama kehamilan, persalinan, dan periode pascapersalinan. Determinan sosial ini secara substansial memengaruhi hasil kesehatan ibu, dan secara tidak langsung bertanggung jawab atas disparitas yang diamati dalam tingkat kematian dan morbiditas ibu antara populasi yang berbeda.

Faktor-faktor tingkat individu atau karakteristik khusus untuk setiap wanita hamil (misalnya, usia, genetika, kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya) dan paparan agen eksternal (misalnya, bahaya fisik, kimia, dan biologis, infeksi, kecelakaan, dan kekerasan) merupakan penentu kesehatan ibu yang utama. Kehamilan remaja dan kehamilan pada wanita yang berusia lebih dari 35 tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa komplikasi, seperti preeklamsia. Wanita dengan kondisi yang sudah ada sebelumnya, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan obesitas, memiliki risiko lebih tinggi untuk meninggal selama kehamilan, persalinan, dan periode pascapersalinan dibandingkan mereka yang tidak memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya. Kelainan genetik, seperti hemoglobinopati (misalnya, anemia sel sabit, talasemia mayor), hemofilia, trombofilia herediter, dan kardiomiopati hipertrofik, dapat meningkatkan risiko komplikasi ibu dan berpotensi menyebabkan kematian. Paparan terhadap racun lingkungan dan bahan kimia industri (misalnya, timbal, merkuri, pestisida, polutan udara), obat-obatan dan narkoba, radiasi pengion, ancaman patogen (misalnya, virus Ebola, SARS-CoV-2), kekerasan oleh pasangan, dan kecelakaan yang mengakibatkan trauma dan cedera fisik memiliki berbagai tingkat efek merugikan pada kesehatan ibu.

Kekerasan terhadap perempuan layak mendapat perhatian khusus: meskipun kekerasan sering kali lebih terlihat di daerah yang dilanda konflik, dampaknya terhadap hasil kehamilan sama-sama menghancurkan bahkan di daerah yang tidak dilanda konflik, terutama bila dilakukan oleh pasangan intim. Sebagai akibat dari pengaruh superdeterminan kesehatan ibu—terutama sistem budaya, politik, dan ekonomi—faktor-faktor tingkat individu yang dibentuk oleh karakteristik keluarga dan masyarakat cenderung memunculkan pola gaya hidup, yang pada gilirannya mengurangi atau meningkatkan risiko kematian atau mengalami gangguan kesehatan terkait kehamilan. Contoh pola gaya hidup dengan dampak substansial terhadap kesehatan ibu meliputi pola makan (misalnya, asupan zat besi dan kalsium yang rendah meningkatkan risiko anemia defisiensi besi dan preeklamsia), aktivitas fisik, penggunaan zat dan merokok, dan perilaku seksual selama kehamilan (misalnya, praktik seksual yang berbahaya yang mengakibatkan serokonversi HIV).

Norma budaya seputar kehamilan dan persalinan membentuk perilaku kesehatan ibu dan praktik mencari perawatan kesehatan, dengan bertindak sebagai pengubah faktor tingkat individu, seperti usia untuk memulai sebuah keluarga, jumlah anak yang akan dimiliki, dan sejauh mana pasangan terlibat dalam perawatan wanita tersebut. Faktor budaya juga memengaruhi keputusan tentang gizi, praktik perawatan antenatal, dan praktik persalinan. Harapan masyarakat dan peran gender dapat memengaruhi otonomi wanita hamil, akses ke pendidikan, sumber daya, dan perawatan kesehatan, dan memengaruhi kekuatan pengambilan keputusan mereka dalam rumah tangga mereka, serta kemampuan mereka untuk membuat keputusan tentang kesehatan mereka sendiri, tempat mereka bekerja, dan apa yang mereka lakukan.

Pola gaya hidup yang timbul dari determinan sosial dapat memengaruhi faktor-faktor tingkat individu dengan memicu atau memperburuk kondisi yang sudah ada sebelumnya. Misalnya, status berpenghasilan rendah dapat mengakibatkan asupan gizi yang buruk atau praktik diet yang tidak sehat, dan akibatnya meningkatkan risiko anemia defisiensi pra-kehamilan atau obesitas ibu. Obesitas ibu dapat meningkatkan risiko diabetes gestasional; dan diet yang tidak sehat selama kehamilan dapat menyebabkan kenaikan berat badan ibu yang berlebihan, yang menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk diabetes gestasional.

Daftar yang tidak lengkap tentang faktor penentu, kontributor, dan penyebab kematian ibu (diperoleh dari tinjauan pustaka)

Determinan sosial

  • Dinamika gender yang mendukung seksisme dan ketidakadilan gender (ketidakadilan dan ketidaksetaraan)
  • Pendapatan rendah dan status sosial ekonomi rendah
  • Dinamika etnis dan ras yang mendukung rasisme dan diskriminasi
  • Pendidikan ibu yang rendah
  • Faktor sosial budaya yang mendukung bias gender dan sosial terhadap perempuan, termasuk tetapi tidak terbatas pada peran gender, dan agensi terbatas atas hak seksual dan reproduksi
  • Paparan terhadap sumber hiperinformasi dan disinformasi
  • Tinggal di daerah pedesaan
  • Kelaparan
  • Korupsi
  • Konflik bersenjata
  • Kekerasan (termasuk tetapi tidak terbatas pada kekerasan pasangan intim)

Faktor individu dan keluarga

  • Usia ibu yang ekstrem (<18 tahun dan >35 tahun)
  • Paritas tinggi
  • Status perkawinan (status perkawinan tunggal dan setara dikaitkan dengan peningkatan risiko)
  • Tidak adanya atau rendahnya keterlibatan pasangan dalam perawatan antenatal dan perawatan intrapartum
  • Status sosial ekonomi pasangan rendah
  • Gaya hidup, termasuk:
  • Pola makan yang buruk
  • Aktivitas fisik dan olahraga yang rendah
  • Penyalahgunaan dan penyalahgunaan zat (misalnya, alkohol, tembakau)
  • Aspek lain dari gaya hidup, termasuk paparan risiko
    Pelayanan kesehatan dan pendidikan kesehatan
  • Pengetahuan yang rendah tentang tanda bahaya yang berhubungan dengan komplikasi obstetrik (keterlambatan pertama)
  • Tidak adanya agensi dan otonomi untuk mencari layanan kesehatan (keterlambatan pertama)
  • Akses yang buruk ke layanan kesehatan (keterlambatan kedua; termasuk tidak adanya kunjungan perawatan antenatal dan jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan)
  • Perawatan di bawah standar (keterlambatan ketiga)

Penyebab kematian ibu

  • Penyebab biomedis:
    • Kondisi obstetrik: perdarahan, gangguan hipertensi, infeksi, komplikasi aborsi, persalinan macet, dll. (kondisi yang dikenal sebagai penyebab langsung kematian ibu)
    • Penyakit tidak menular dan kondisi yang sudah ada sebelumnya (kondisi yang biasanya termasuk dalam rangkaian kondisi yang dikenal sebagai penyebab tidak langsung kematian ibu)
    • Penyebab eksternal, termasuk kecelakaan dan pembunuhan
    • Bunuh diri
    • Femisida
    • Komplikasi intervensi kesehatan (termasuk komplikasi anestesi dan pembedahan, seperti perdarahan intraoperatif dan infeksi bedah)
    • Jalur akhir umum menuju kematian
    • Disfungsi multiorgan
    • Sepsis (yaitu, disfungsi organ terkait infeksi)

Sistem kesehatan memainkan peran penting dalam membentuk perwujudan kekuatan dan konteks yang saling terkait yang disajikan sebelumnya. Layanan dan komoditas kesehatan (misalnya, uterotonika yang terjamin kualitasnya untuk mengurangi kehilangan darah pascapersalinan pada wanita yang mengalami anemia saat melahirkan) dapat mengubah dampak kekuatan eko-sosial yang menyebabkan hasil kesehatan ibu yang merugikan. Oleh karena itu, sistem kesehatan dapat dianggap sebagai faktor perlindungan yang menentukan, yang mampu menetralkan atau meminimalkan dampak faktor risiko yang merugikan. Dengan demikian, dampak negatif dari beberapa faktor risiko, seperti usia ibu yang lanjut atau status berpenghasilan rendah, dapat dikurangi dengan layanan kesehatan yang berfungsi dengan baik, khususnya layanan dengan perawatan prakonsepsi, antenatal, intrapartum, dan pascapersalinan berkualitas tinggi.

Kesehatan ibu yang buruk dan disabilitas merupakan masalah sosial, dan kematian ibu merupakan tragedi sosial. Para pembuat kebijakan, khususnya di negara-negara dengan beban kematian ibu yang tinggi, harus menyadari bahwa penyebab biomedis utama (misalnya, perdarahan pascapersalinan, preeklamsia, infeksi, dan aborsi) dari kematian ibu yang dapat dicegah tidak terjadi secara terpisah. Tindakan multisektoral untuk mempromosikan pembangunan sosial dan kesetaraan gender diperlukan untuk menurunkan angka kematian ibu yang berkelanjutan. Meskipun implementasi strategi ini (misalnya, peningkatan infrastruktur sosial dan program transformasi sosial lainnya) sering kali lambat untuk direalisasikan, manfaat jangka panjangnya cukup pasti. Memperluas ekosistem sektor kesehatan dan jaringan perawatan untuk mengurangi efek merugikan dari determinan distal dan proksimal akan secara substantif meningkatkan kesehatan ibu. Peningkatan akses terhadap layanan dan komoditas kesehatan reproduksi berkualitas tinggi (misalnya, kontrasepsi modern, aborsi aman, dan perawatan antenatal, intrapartum, dan postpartum) diperlukan untuk pencegahan primer, identifikasi dini, dan penanganan komplikasi kehamilan yang memadai. Mencapai cakupan kesehatan universal dan memperkuat sistem kesehatan untuk menyediakan perawatan berkualitas sangat penting untuk mengurangi angka kematian ibu dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu.

Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://www.thelancet.com/journals/langlo/article/PIIS2214-109X(23)00468-0/fulltext 

 

 

Hambatan, Akses dan Pengelolaan Epilepsi Anak dengan Telehealth

Hari Epilepsi Sedunia adalah momen penting untuk meningkatkan kesadaran global tentang epilepsi. Tujuan utama peringatan ini yaitu untuk menghilangkan stigma dan kesalahpahaman yang seringkali menyertai kondisi neurologis ini. Peringatan ini juga berfungsi sebagai platform untuk mengedukasi masyarakat tentang gejala, penyebab, dan perawatan epilepsi, serta untuk mendukung individu yang hidup dengan epilepsi dan keluarga mereka. Melalui berbagai kegiatan dan kampanye, Hari Epilepsi Sedunia berusaha menciptakan dunia yang lebih inklusif dan penuh pemahaman bagi semua orang yang terkena dampak epilepsi.

Epilepsi, kondisi neurologis kronis umum yang ditandai dengan kejang berulang yang tidak diprovokasi, memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup anak-anak, beserta keluarga mereka. Efek negatif pada kognisi dan perkembangan fisik, serta stigmatisasi sosial dan kualitas hidup yang buruk, umumnya diamati pada anak-anak dan remaja penderita epilepsi. Lebih jauh lagi, anak-anak dan remaja penderita epilepsi berisiko lebih tinggi mengalami komorbiditas perkembangan, intelektual, dan kesehatan mental, termasuk gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD), autisme, ketidakmampuan belajar, depresi, dan kecemasan. Anak-anak kemudian dirujuk ke ahli saraf atau epileptologi untuk evaluasi lebih lanjut, pendidikan keluarga, dan pengembangan rencana penanganan. Sayangnya, pola perawatan dan rujukan untuk anak-anak dan remaja penderita epilepsi tidak seragam atau terstandarisasi di seluruh negeri. Sementara beberapa anak-anak dan remaja penderita epilepsi dirawat oleh ahli saraf pediatrik atau epileptologi, banyak anak-anak dan remaja penderita epilepsi, khususnya mereka yang tinggal di daerah pedesaan dan daerah yang kurang terlayani secara medis, tidak memiliki akses ke perawatan khusus dan terkoordinasi. Kekurangan ahli saraf pediatrik di tingkat nasional dan tenaga kerja perawatan primer yang tidak memiliki basis pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dapat memperburuk kesulitan dalam mendiagnosis dan menangani epilepsi secara efektif. Di wilayah yang tidak menyediakan perawatan neurologi pediatrik, keluarga harus menempuh perjalanan beberapa jam dari daerah pedesaan atau menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkan janji temu di klinik.

Studi diagnostik seperti elektroensefalogram dan studi neuroimaging, bersama dengan perawatan berkelanjutan, memerlukan perjalanan tambahan, yang merupakan beban tambahan bagi anak (tidak masuk sekolah) dan orang tua (tidak masuk kerja). Akses ke perawatan khusus dapat menjadi tantangan lebih lanjut di daerah pedesaan, dimana perjalanan sangat sulit dilakukan. Akses dini, diagnosis dan penanganan yang cepat telah terbukti dapat menurunkan frekuensi kejang, dan meningkatkan hasil klinis. Hambatan akses, seperti jumlah penyedia layanan kesehatan perawatan primer dan subspesialisasi terlatih yang tidak mencukupi, dapat menyebabkan hasil kesehatan yang merugikan karena waktu tunggu yang lama, dengan keterlambatan diagnosis dan intervensi, peningkatan stres dan kecemasan keluarga dan anak, serta ketergantungan pada layanan ruang gawat darurat.

Telehealth, didefinisikan sebagai penggunaan informasi elektronik dan teknologi telekomunikasi untuk mendukung dan mempromosikan perawatan kesehatan klinis jarak jauh, pendidikan terkait kesehatan pasien dan profesional, kesehatan masyarakat dan administrasi kesehatan adalah solusi digital dalam perawatan kesehatan yang dapat memberikan perawatan berkualitas, meningkatkan akses tepat waktu, meminimalkan jarak tempuh, dan mengurangi biaya. Penelitian yang dilakukan oleh Gali et al. (2020) menunjukkan adanya peningkatan signifikan terhadap kepuasan pasien dan dokter, penurunan dalam kehilangan waktu kerja dan sekolah, serta penurunan dalam jarak tempuh ke lokasi pemeriksaan dan pengeluaran biaya pribadi untuk pengobatan dengan menggunakan fasilitas telehealth. Meski terdapat banyak peningkatan dalam aspek kepuasan pasien dan kualitas layanan, terdapat tantangan dan hambatan yang masih dapat ditemukan, seperti dalam tabel berikut:

Tantangan Hambatan
Membangun dan mempertahankan kerjasama Sistem elektronik medis yang berbeda membuat semuanya sedikit sulit. Sehingga sistem tidak terintegrasi dan tidak praktis, misalnya bila ada pasien yang ingin dijadwalkan pemeriksaan, maka layanan primer harus menghubungi layanan sekunder terlebih dulu.
Kurangnya infrastruktur untuk menunjang kunjungan telehealth. Tidak ada fasilitas umum atau tempat di mana seseorang dapat datang untuk melakukan kunjungan telehealth secara langsung, sehingga hanya dapat diakses melalui perangkat elektronik berupa laptop masing-masing. Selain itu, terdapat kendala dari jaringan internet dan sinyal yang kadang-kadang mati.
Edukasi dan promosi dibutuhkan untuk mendukung staf pekerja dan meningkatkan minat terhadap kunjungan telehealth bagi keluarga dengan anak dan remaja dengan epilepsi. Promosi telehealth dan pengiklanan layanan tersebut.

Pembelajaran dari model telehealth epilepsi menggarisbawahi bahwa membangun infrastruktur telehealth memerlukan dukungan administratif, staf program, sumber daya keuangan, dan dukungan teknis. Bekerja sama dengan ahli saraf pediatrik di lokasi pusat medis dan penyedia perawatan primer lokal sangat penting untuk keberhasilan penerapan teknologi telehealth. Secara khusus, identifikasi awal hubungan penyedia, pengembangan infrastruktur dan pendidikan, serta promosi program dapat menjadi penting untuk mengembangkan strategi untuk elemen-elemen penting. Mensosialisasikan penyedia maupun pasien, dapat mempermudah penerapan telehealth. Sistem pembayaran, regulasi, dan perizinan dokter serta penyedia layanan kesehatan lainnya yang rumit untuk dinavigasi perlu ditangani lebih lanjut untuk mengikuti perubahan cepat dalam lanskap perawatan kesehatan.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8980450/ 

 

 

Tinjauan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pengalaman Kenyamanan Pasien di Rumah Sakit

Kenyamanan pasien mengacu pada rasa bahagia, rileks, dan puas yang dialami pasien selama menjalani perawatan medis. Hal ini sangat penting dalam perawatan kesehatan karena sangat mempengaruhi kesejahteraan pasien dan persepsi mereka terhadap keseluruhan proses, yang mengarah pada pemulihan yang lebih cepat dan hasil kesehatan yang lebih baik. Kualitas udara dalam ruangan (IAQ), aliran udara, dan sistem ventilasi merupakan faktor yang berdampak signifikan pada lingkungan fisik rumah sakit, sehingga memengaruhi kenyamanan pasien. Selain itu, lingkungan sosial dan humanistik rumah sakit sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perawatan dan pola makan, privasi, dan komunikasi. Dengan menciptakan lingkungan yang rileks dan menyenangkan, kekhawatiran dan kecemasan dapat dikurangi serta pengalaman yang positif dan nyaman dapat diberikan.

Menghormati privasi pasien dan memastikan ruang pribadi yang memadai sangat penting untuk kenyamanan mereka. Komunikasi yang jelas dan empatik dari profesional perawatan kesehatan, termasuk penjelasan yang transparan tentang prosedur medis, diagnosis, dan pilihan pengobatan, membantu pasien merasa lebih nyaman dan memegang kendali atas perjalanan perawatan kesehatan mereka. Mendorong interaksi sosial yang positif di antara pasien dan dengan staf perawatan kesehatan dapat menciptakan rasa kebersamaan dan mengurangi perasaan terisolasi. Selain itu, menyediakan perawatan berkualitas tinggi dapat memenuhi kebutuhan emosional dan psikologis pasien, yang perlu difokuskan pada pengalaman kenyamanan pasien dan mengambil tindakan untuk mengatasi masalah atau isu apa pun. Lebih jauh lagi, tempat duduk yang tepat, toilet yang bersih, dan makanan bergizi sangat penting untuk kenyamanan pasien. Memastikan kebutuhan mendasar ini membantu pasien merasa diperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan umum mereka. Dengan menganalisis literatur yang relevan, penelitian ini akan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berkontribusi atau menghambat kenyamanan pasien.

Memenuhi kebutuhan kenyamanan pasien dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres pasien, sehingga mempercepat pemulihan pasien. Selain itu, suasana yang santai di rumah sakit membantu pasien merasa tenang, mengurangi kecemasan dan stres, mencegah reaksi fisiologis, dan memenuhi persyaratan serta harapan keluarga pasien dan pengunjung rumah sakit, yang pada akhirnya meningkatkan kenyamanan pasien.

Studi yang dilakukan oleh Tian, Yu (2023), menganalisis 913 artikel dengan topik kenyamanan pasien dari tahun 1977 hingga 2023. Faktor yang mempengaruhi kenyamanan pasien di rumah sakit, yakni:

Faktor lingkungan fisik

  1. Kualitas udara ruangan
    Kualitas udara di bangsal rumah sakit dapat terpengaruh secara negatif oleh berbagai polutan umum. Penggunaan gas, penanganan peralatan, dan pemotongan jaringan selama operasi pembedahan dapat menghasilkan partikel. Selain itu, risiko infeksi pasien dapat dipengaruhi oleh produksi bioaerosol oleh personel bedah dan penempatan komponen yang tidak tepat dalam sistem ventilasi. Perlu dicatat bahwa bakteri atau virus yang menempel pada permukaan partikel dapat menurunkan kualitas udara, yang selanjutnya menyebabkan partikel tersebut menjadi infeksius.

    Keberadaan partikel di udara dapat mempengaruhi kesehatan pernapasan pasien secara signifikan. Angka kejadian dan kematian penyakit jantung meningkat saat orang terpapar partikel. Pasien yang mengalami asma atau gejala alergi pernapasan lebih terpengaruh oleh hubungan ini. Partikel di udara, seperti debu, serbuk sari, atau alergen lainnya, dapat mengiritasi saluran pernapasan, menyebabkan ketidaknyamanan, batuk, atau kesulitan bernapas. Penggunaan disinfektan yang berlebihan seperti alkohol, hidrogen peroksida, atau pemutih menunjukkan hubungan dengan kerusakan saluran pernapasan dan peningkatan risiko terkena dan mengobati asma.

    Kontaminasi biologis di bangsal rumah sakit mencakup berbagai mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, dan patogen lainnya, yang dapat hidup di udara. Risiko infeksi meningkat secara signifikan di bangsal rumah sakit tertentu tempat mikroorganisme ini tersebar luas, khususnya di bangsal hematologi/onkologi, bangsal ortopedi, bangsal bedah, unit perawatan intensif neonatal (NICU), dan unit perawatan intensif lainnya. Mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi rumah sakit, yang dapat bertahan hidup pada pasien, pengunjung, atau profesional perawatan kesehatan dan menimbulkan risiko infeksi yang tinggi pada pasien yang rentan. Selain itu, peralatan medis, bahan pembersih, dan sumber lainnya dapat melepaskan polutan kimia seperti patogen di udara atau bahan kimia beracun lainnya.

Faktor lingkungan sosial

  1. Perawatan dan diet
    Manajemen nyeri yang efektif dapat membantu meringankan ketidaknyamanan ini dan meningkatkan pengembangan diri serta pengalaman tidur pasien. Selain itu, kualitas perawatan yang diterima pasien di rumah sakit juga dapat memengaruhi pengalaman kenyamanan mereka. Dalam hal pola makan, rejimen pengobatan dan pantangan makanan memengaruhi kehidupan pasien, pola makan pasien memainkan peran penting dalam kenyamanan dan kepuasan mereka secara keseluruhan terkait makanan dan nutrisi.
  2. Privasi dan komunikasi
    Pasien mungkin merasa rentan secara internal selama dirawat di rumah sakit, jadi memastikan privasi dan kerahasiaan mereka dihormati sangatlah penting. Saleem dkk. melakukan wawancara terstruktur dengan 571 pasien di ruang gawat darurat. Studi tersebut menemukan bahwa 10% pasien akan menolak pemeriksaan fisik karena masalah privasi, terutama di lingkungan akut dengan tingkat kejadian dan kematian yang tinggi yang sangat penting untuk diperhatikan. Menutup tirai dan pintu selama pemeriksaan atau operasi dapat membuat pasien merasa lebih nyaman.

    Dalam aspek komunikasi, pasien dapat memperoleh dukungan emosional melalui layanan konsultasi atau metode komunikasi lainnya, yang dapat membantu mencapai pengalaman yang sangat nyaman. Dengan memanfaatkan umpan balik pasien dan memenuhi preferensi mereka sebagai strategi manajemen lingkungan, rumah sakit dapat menciptakan pengalaman yang nyaman bagi pasien.

Selengkapnya dapat diakses di:

https://jhpn.biomedcentral.com/articles/10.1186/s41043-023-00465-4#ref-CR54

 

 

Keamanan Pangan: Prioritas Kesehatan Masyarakat

Makanan yang aman dan bergizi dalam jumlah yang cukup sangat penting untuk mendukung kehidupan dan meningkatkan kesehatan. Namun, makanan juga bisa menjadi tempat berkembang biaknya mikroba, dan jika terkontaminasi, dapat menyebarkan bakteri, virus, parasit, serta prion yang menyebabkan keracunan makanan. Selain itu, makanan sering kali tercemar bahan kimia beracun yang ada secara alami atau terkontaminasi secara tidak sengaja atau sengaja, yang juga dapat membahayakan.

Makanan yang tidak aman yang mengandung mikroorganisme patogen dan bahan kimia beracun dapat menyebabkan lebih dari 200 jenis penyakit, mulai dari diare hingga kanker. Penyakit diare yang ditularkan melalui makanan dan air menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia, termasuk banyak anak-anak. Jika penyakit yang ditularkan melalui makanan bisa dikurangi sebesar 10%, diperkirakan 5 juta jiwa dapat diselamatkan. Hampir semua jenis makanan dapat menjadi sumber penyebaran penyakit. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat 1.565 wabah yang disebabkan oleh satu jenis komoditas makanan antara 2003 dan 2008.

Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap risiko kesehatan akibat makanan adalah mereka yang berada dalam kondisi miskin. Selain berdampak buruk pada kesehatan masyarakat, penyakit yang ditularkan melalui makanan juga memberikan dampak negatif pada ekonomi individu, keluarga, komunitas, dan negara.
Wabah penyakit yang disebabkan oleh makanan telah terjadi di seluruh dunia dalam dekade terakhir, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini dalam kesehatan masyarakat. Meskipun penyakit bawaan makanan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat luas, hanya sekitar 10%, atau bahkan kadang-kadang hanya 1%, dari kejadian penyakit bawaan makanan yang sebenarnya tercatat dan dilaporkan.Faktor-faktor yang memainkan peran penting dalam epidemiologi penyakit bawaan makanan yang muncul meliputi yang berikut ini:

  1. Perubahan patogen: Adaptasi mikroba melalui seleksi alam;
  2. Pengembangan: Pengenalan makanan baru melalui rantai makanan yang lebih panjang dan lebih kompleks, meningkatkan peluang kontaminasi;
  3. Kemiskinan dan polusi: Kurangnya fasilitas persiapan makanan yang aman;
  4. Kebiasaan makan: Praktik diet untuk makanan mentah atau berbahaya;
  5. Perjalanan dan migrasi: Pelancong dapat dengan cepat menyebarkan penyakit ke lingkungan yang baru dan jauh; Perdagangan makanan, pakan ternak, dan hewan: Pergerakan cepat makanan yang berasal dari tumbuhan dan hewan berkontribusi terhadap penyebaran penyakit bawaan makanan ke daerah-daerah baru;
  6. Kendaraan penularan makanan baru: Perhatian yang semakin meningkat difokuskan pada buah-buahan dan sayuran.

Deteksi organisme patogen membutuhkan fasilitas laboratorium dan tenaga ahli yang terlatih. Namun, banyak bahan kimia berbahaya yang sering ditemukan sebagai kontaminan dalam makanan dapat dideteksi menggunakan metode sederhana, bahkan dengan alat uji tertentu. Banyak zat kimia (pengotor) yang dilarang ditambahkan dalam makanan sengaja digunakan oleh pedagang yang tidak jujur untuk meraih keuntungan cepat, meskipun terkadang zat-zat ini juga bisa tercampur secara tidak sengaja. Makanan yang sering terkontaminasi meliputi susu dan produk olahannya, tepung, minyak nabati, sereal, bumbu, kacang, kopi, teh, permen, baking powder, minuman nonalkohol, cuka, tepung gram, kari, sayuran, dan ikan.

Namun, hal terpenting adalah memastikan makanan yang aman bagi konsumen. Untuk mencapai hal tersebut, perlu ada kolaborasi yang kuat antara sektor kesehatan masyarakat dengan sektor terkait lainnya, khususnya pertanian dan kesehatan hewan, guna memastikan kerjasama yang efektif. Berbagai langkah telah diambil untuk melindungi konsumen dari makanan yang tidak aman. Salah satunya adalah ISO 22000, standar yang dikembangkan oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) yang fokus pada keamanan pangan. Standar internasional ini menetapkan persyaratan untuk sistem manajemen keamanan pangan yang meliputi komunikasi interaktif, manajemen sistem, program prasyarat, dan prinsip-prinsip Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

Penggunaan bahan kimia pengotor dalam makanan tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan. Namun, bahan kimia ini seringkali sulit dideteksi hanya dengan inspeksi visual. Untuk mengatasi masalah ini dan meningkatkan kesadaran, Otoritas Keamanan dan Standar Pangan India telah mengembangkan manual berjudul “Uji Cepat untuk Beberapa Bahan Kimia Pengotor dalam Makanan” untuk melindungi rumah tangga, industri kecil, dan masyarakat umum dari pemalsuan makanan.

Namun, untuk memberikan dampak yang lebih besar, WHO pada tahun 2010 telah memulai rencana strategis untuk mengambil tindakan terhadap isu-isu prioritas di bidang keamanan pangan dan zoonosis bawaan makanan untuk periode 2013-2022. Cakupan rencana tersebut meliputi keamanan pangan dalam semua percabangannya, yang meliputi pendekatan pertanian-ke-meja dan penyakit zoonosis bawaan makanan. Rencana tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan para ahli keamanan pangan di tingkat global, regional, dan negara (WHO). Komponen utama dari rencana strategis tersebut adalah:

  1. Pengambilan keputusan berbasis sains yang menyediakan dasar ilmiah untuk langkah-langkah di sepanjang seluruh rantai pangan untuk mengurangi risiko kesehatan bawaan makanan,
  2. Kolaborasi lintas sektoral dengan tujuan untuk meningkatkan kolaborasi lintas sektoral internasional dan nasional serta peningkatan komunikasi dan advokasi, dan
  3. Kepemimpinan dan bantuan teknis untuk menyediakan kepemimpinan dan membantu dalam pengembangan dan penguatan sistem nasional terintegrasi berbasis risiko untuk keamanan pangan.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9850283/

 

 

Kecerdasan Buatan dalam Diagnosis dan Pengobatan Penyakit Langka

Hari Penyakit Langka Sedunia (World Rare Disease Day) diperingati pada tanggal 28 Februari 2025. Hari ini diperingati setiap tahun pada tanggal 28 Februari (atau 29 Februari pada tahun kabisat), yakni hari paling langka dalam setahun. Hari Penyakit Langka Sedunia adalah gerakan global untuk penyakit langka. Hari ini bertujuan mewujudkan kesetaraan dalam kesempatan sosial, perawatan kesehatan, serta akses terhadap diagnosis dan terapi bagi orang-orang yang hidup dengan penyakit langka.

Hari Penyakit Langka memberikan energi dan titik fokus yang memungkinkan kerja advokasi penyakit langka berkembang di tingkat lokal, nasional, dan internasional.Gerakan ini punya tujuan untuk mewujudkan kesetaraan dalam peluang sosial, layanan kesehatan, dan akses terhadap diagnosis dan terapi bagi orang yang hidup dengan penyakit langka. Selain itu, tujuan diperingati Hari Penyakit Langka Sedunia yakni meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit langka, serta mendorong para peneliti dan pembuat keputusan membahas tentang apa yang dibutuhkan orang-orang yang mengidap penyakit langka.

Layanan kesehatan adalah salah satu dari beberapa industri yang mengalami revolusi melalui teknologi yang berkembang pesat yang dikenal sebagai kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) dan pembelajaran mesin/machine learning (ML). AI adalah kapasitas mesin untuk melakukan operasi yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti pembelajaran, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Kemampuan mesin untuk belajar dari pengalaman dan meningkatkan kinerjanya tanpa diprogram secara eksplisit disediakan oleh ML, yang merupakan bagian dari AI. Kemajuan teknologi ini mampu menganalisis informasi dalam jumlah besar, mengidentifikasi tren, dan mengambil keputusan dengan kecepatan dan ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya dengan meniru kecerdasan manusia. AI dan ML saat ini digunakan dalam industri perawatan kesehatan untuk meningkatkan pemrosesan citra medis, prediksi dan pencegahan penyakit, serta operasional rumah sakit. Dengan memanfaatkan teknologi ini, penyedia layanan kesehatan dapat mendiagnosis dan merawat pasien dengan lebih akurat dan efisien.

Individu dengan penyakit langka menghadapi banyak tantangan, termasuk keterlambatan diagnosis dan kesalahan diagnosis, respons terhadap terapi yang tidak tepat atau tidak ada, dan kurangnya alat pemantauan yang akurat. Kesalahan diagnosis penyakit langka merupakan kendala besar yang dapat memperburuk gejala dan berkembangnya masalah kesehatan lainnya, yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya kesejahteraan pasien. Selain itu, pasien dengan penyakit langka sering kali dirawat di rumah sakit dan menderita komplikasi jangka panjang karena terapi yang diberikan tidak memberikan respons yang tepat atau hanya memiliki efek parsial yang berkurang seiring berjalannya waktu.

AI bekerja sebagai kaki tangan dalam mengintegrasikan dan memeriksa data yang terdiversifikasi. Sistem pendukung keputusan diagnostik secara efektif membantu praktisi medis dengan menyediakan daftar diagnosis banding yang relevan. Sistem ini sebelumnya telah digunakan secara efektif untuk berbagai kasus penggunaan yang terkenal. Baru-baru ini, teknologi ini telah dimanfaatkan untuk deteksi dini dan diagnosis penyakit virus corona 2019 (COVID-19) melalui pemantauan karakteristik demografi, klinis, dan epidemiologis pasien. Sistem ini juga berguna untuk implementasi penyakit langka/ rare disease (RD). Penyakit labgka dapat memperoleh manfaat dari diagnosis yang lebih cepat dan efisien. Algoritma telah dirancang dan sudah digunakan untuk mengumpulkan jaringan dan mencatat informasi melalui pasien mengenai penyakit langka untuk mengidentifikasi kasus baru.

Algoritma AI yang berbeda memiliki manfaat yang cukup besar dalam membantu diagnosis RD dan non-RD. ML membantu dalam diagnosis melalui tiga jenis algoritma:

  1. tanpa pengawasan yang bekerja dengan mengidentifikasi pola,
  2. diawasi yang mengklasifikasikan atau memperkirakan keputusan berdasarkan contoh-contoh sebelumnya, dan
  3. pembelajaran penguatan yang menggunakan proses penghargaan dan hukuman untuk membentuk cetak biru untuk beroperasi dalam hambatan tertentu.

Sehubungan dengan analisis fenotipik dan genetik, beberapa sistem AI telah menunjukkan efektivitasnya dalam menganalisis data untuk memberikan diagnosis yang akurat. Karena hampir 80% RD bersifat genetik, AI memiliki potensi besar di bidang ini.

Perbaikan alat terapeutik dan pemantauan di RD sangat penting. Perhitungan yang dilakukan AI dapat menyesuaikan rencana pengobatan terhadap perubahan kondisi pasien, penyakit lain yang terjadi bersamaan, obat-obatan, dan komponen lain yang berdampak pada kesejahteraan pasien dan/atau respons terhadap pengobatan. Sistem ini membantu pasien dalam tiga tingkatan: mengingatkan pasien mengenai dosis dan waktu pemberian serta menggabungkan terapi non-farmakologis, seperti fisioterapi.

AI juga dapat digunakan sebagai pengendalian sintetik, berdasarkan data perkiraan perkembangan penyakit, untuk mengatasi tantangan dengan jumlah pasien yang terdaftar mencukupi. Selain itu, biomarker yang andal membantu dalam mengidentifikasi proses patogenik dan penilaian respons terhadap terapi atau intervensi lain, yang keduanya penting untuk pengembangan terapi yang efektif. Penting untuk dicatat bahwa mendapatkan persetujuan peraturan untuk biomarker yang teridentifikasi seringkali merupakan proses yang rumit dan panjang yang juga harus ditangani. Secara keseluruhan, AI berpotensi berperan dalam pengembangan pengobatan RD, memungkinkan pendekatan yang berpusat pada pasien dan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap individu.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10651639/ 

 

 

Koordinasi Asuhan Keperawatan untuk Pasien dengan Kebutuhan Kompleks di Pelayanan Kesehatan Primer

Selama dua dekade terakhir, integrasi telah menjadi perhatian utama bagi banyak pemerintah dan sistem layanan kesehatan. Dengan sumber daya keuangan yang terbatas, populasi yang menua, dan penyakit penyerta kronis, banyak negara menyadari perlunya beralih dari layanan kesehatan yang terfragmentasi dan tidak dilanjutkan menuju sistem layanan kesehatan yang lebih terintegrasi. Studi menunjukkan potensi layanan terpadu untuk meningkatkan kesinambungan layanan, aksesibilitas, kualitas dan keamanan layanan, serta efektivitas biaya layanan. Koordinasi perawatan seputar kebutuhan pasien telah diakui sebagai dimensi inti integrasi yang memfasilitasi penyediaan layanan yang komprehensif dan lancar. Hal ini juga telah diakui sebagai tanggung jawab utama layanan kesehatan primer.

Seiring dengan meningkatnya kompleksitas, kebutuhan akan layanan kesehatan primer yang lebih kuat juga meningkat sehingga mampu memberikan lebih banyak layanan di masyarakat dan mengoordinasikan layanan di dalam layanan primer dan di seluruh tingkat layanan. Jutaan orang di seluruh dunia mempunyai kebutuhan kompleks yang melampaui apa yang biasanya disediakan oleh sistem layanan kesehatan. Fragmentasi layanan kesehatan dan layanan sosial menyebabkan pasien dengan kebutuhan yang kompleks harus memikul tanggung jawab besar untuk menentukan jalur mereka sendiri melalui layanan dan penyedia layanan, dan mereka menganggap sistem ini membingungkan dan membebani. Bagi pasien-pasien ini, koordinasi perawatan dan integrasi layanan kesehatan dan sosial menjadi lebih relevan.

Dalam layanan kesehatan primer, peran koordinator perawatan dapat dilakukan oleh para profesional yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk keperawatan, pekerjaan sosial, fisioterapi, dan terapi okupasi, selama mereka dibekali dan dilatih mengenai keterampilan yang diperlukan. Pilihan koordinator perawatan yang ditunjuk sering kali bergantung pada faktor kontekstual, populasi yang menjadi sasaran, dan tujuan program. Memang benar, elemen dasar dari koordinasi perawatan adalah perspektif perawatan holistik yang mencakup penanganan faktor klinis/medis serta faktor penentu kesehatan yang lebih luas. Perspektif inilah yang memberikan posisi sah bagi perawat dan pekerja sosial dalam mengatur dan mengelola perawatan untuk populasi yang kompleks. Namun, yang satu mungkin lebih siap dibandingkan yang lain tergantung pada kondisi pasien dan keahlian disipliner yang dibutuhkan oleh kondisi ini.

Misalnya, keahlian perawatan sosial sangat penting bagi pasien dalam fase rehabilitasi dan pemulihan serta pasien yang mengalami penurunan fungsi, sedangkan keahlian klinis keperawatan mungkin lebih relevan untuk pasien yang menderita penyakit serius seperti kanker. Apa pun kasusnya, para profesional di bidang kesehatan dan layanan sosial masih harus bekerja secara kolaboratif dan menggunakan keterampilan unik serta keahlian disiplin mereka sesuai kebutuhan. Praktik perawatan primer yang memiliki kapasitas (misalnya struktur, sumber daya) telah menerapkan model koordinasi perawatan berbasis tim di mana pekerja sosial dan perawat terdaftar melakukan penilaian pasien bersama. Model koordinasi perawatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan komunikasi antara layanan kesehatan dan sosial dan dalam meningkatkan perawatan bagi pasien yang kompleks seperti konsumen layanan kesehatan lanjut usia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Karam et. al. (2021) aktivitas koordinasi perawatan yang dapat dilakukan yakni:

  1. Kegiatan koordinasi perawatan yang menyasar pasien, keluarga, dan perawat
    • Identifikasi pasien yang akan mendapatkan manfaat paling besar dari intervensi: bekerja sama erat dengan dokter umum, perawat koordinator perawatan berkontribusi dalam mengidentifikasi pasien dengan kebutuhan perawatan kesehatan dan sosial yang kompleks dan/atau pengeluaran layanan kesehatan yang tinggi dan mengundang mereka untuk menerima intervensi.
    • Kaji kebutuhan dan tujuan pasien dan keluarga secara komprehensif, termasuk beban perawat.
    • Kembangkan rencana perawatan yang dibuat khusus dengan pasien dan sesuaikan agar selaras dengan keadaan unik masing-masing pasien. Rencana ini memberikan ringkasan status dan rencana pasien kepada setiap profesional kesehatan dan perawatan sosial yang terlibat. Itu ditinjau dan diperbarui sesuai kebutuhan. Dalam beberapa kasus, ini ditulis dalam bahasa awam dan dipajang secara mencolok di rumah pasien. Terakhir, sebagai bagian dari perencanaan perawatan ini, perawat mendidik pasien tentang upaya koordinasi perawatan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas perawatan dan apa tanggung jawab pasien.
    • Memberikan perawatan secara langsung: perawat mengikuti pedoman dan protokol yang jelas untuk pengurangan risiko penyakit, dan melakukan pemantauan status kesehatan dan fisiologis (yaitu tekanan darah dan glukosa darah). Tugas keperawatan lainnya termasuk melakukan skrining dasar (yaitu skrining kanker) dan mengelola gejala serta penyakit episodik dan penyakit kronis yang terjadi bersamaan.
    • Memantau, menindaklanjuti, dan merespons perubahan: pemantauan mencakup gejala, hasil klinis, pengobatan saat ini, kesalahan atau kelalaian, efek samping, dan kepatuhan terhadap rencana terapi; tetapi juga, kunjungan ke unit gawat darurat, rawat inap di rumah sakit, atau pertemuan lainnya yang dapat mengubah status risiko dan memicu intervensi.
    • Ciptakan kesinambungan perawatan yang relasional dengan membangun hubungan saling percaya yang berkelanjutan, pribadi dan bermakna dengan pasien dari waktu ke waktu, memberikan advokasi untuk mereka, dan menjadi titik kontak utama dan orang yang “dituju” setiap saat.
    • Merencanakan perawatan di akhir kehidupan: perawat mengidentifikasi adanya arahan awal, memberi tahu pasien mengenai hak mereka untuk menyatakan pilihan perawatan di akhir kehidupan, dan membantu pasien dan keluarga dalam merencanakan pilihan akhir kehidupan. Mereka juga memberikan dukungan emosional berkelanjutan kepada pasien dan keluarga.
    • Mendukung aktivasi, keterlibatan, dan pemberdayaan pasien memerlukan hubungan kolaboratif antara perawat dan pasien serta keluarga mereka, keterlibatan seluruh tim perawatan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut perawatan pasien, serta merencanakan serangkaian metode dukungan yang koheren dan berkelanjutan. Kegiatan-kegiatan ini termasuk memungkinkan pasien untuk terlibat dalam pengobatan dan pilihan diagnostik, berkolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan, dan menavigasi sistem layanan kesehatan dan sumber daya masyarakat.
  2. Kegiatan koordinasi perawatan yang menargetkan profesional dan layanan perawatan kesehatan dan sosial
    • Memperjelas peran, menegosiasikan tanggung jawab dan membangun akuntabilitas bersama: perawat koordinator perawatan menjelaskan peran mereka kepada profesional lain dan, melalui pengembangan rencana perawatan, mendiskusikan dan menentukan semua tindakan yang diharapkan dari setiap peserta dan disiplin. Mereka memastikan akuntabilitas dengan meninjau dan mendiskusikan kasus secara sistematis dengan dokter umum dan anggota tim lainnya, dan bersama-sama memutuskan tindakan yang tepat untuk diambil.
    • Latihan kepemimpinan: perawat membangun hubungan dan kredibilitas pribadi dengan profesional lainnya. Mereka memberikan pengetahuan lokal dan titik kontak serta wajah yang familiar bagi penyedia layanan kesehatan dan sosial. Mereka berfungsi sebagai sumber daya bagi tim dan memfasilitasi penerapan pendekatan perawatan interdisipliner dengan keterampilan organisasi dan komunikasi serta kapasitas empati.
  3. Kegiatan koordinasi perawatan yang menghubungkan pasien dan keluarga dengan profesional dan layanan perawatan kesehatan dan sosial
    • Menghubungkan dan bermitra dengan sumber daya masyarakat (di luar sistem layanan kesehatan): perawat mengoordinasikan, mengatur dan memantau akses terhadap sumber daya masyarakat dan layanan sosial yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pasien (yaitu perumahan umum, layanan makanan, layanan bantuan keuangan, berhenti merokok, kursus dukungan manajemen mandiri yang dipimpin oleh orang awam yang terlatih, dll.). Mereka juga menyediakan buku panduan dengan layanan sosial dan kesejahteraan yang tersedia.
    • Terhubung dan bermitra dalam dan antar tim layanan kesehatan multidisiplin. Ini termasuk:
      • mengoordinasikan perawatan pasien dengan dokter umum dan profesional kesehatan lainnya;
      • mengatur sesi tinjauan kasus dan pertemuan tim untuk mendiskusikan situasi khusus pasien dan inovasi dalam perawatan, mengkomunikasikan perubahan dalam rencana perawatan, mendiskusikan manajemen pengobatan, atau mendiskusikan pertanyaan yang dimiliki pasien tetapi tidak nyaman untuk ditanyakan kepada dokter umum mereka;
      • menyelenggarakan pertemuan dokter umum-pasien-keluarga-perawat untuk memfasilitasi komunikasi;
      • menghubungkan pasien dengan dokter umum dan spesialis;
      • membantu pasien dalam mempersiapkan janji temu dengan dokter umum;
      • mengatur rujukan ke layanan khusus bila diperlukan;
      • Dan melatih pasien tentang cara mengidentifikasi dan menavigasi sistem perawatan kesehatan.
    • Memfasilitasi transisi perawatan terdiri dari memperlancar jalur pasien antara semua layanan dan penyedia layanan dengan fokus pada transisi melalui rumah sakit. Perawat koordinator perawatan berkoordinasi dengan namun tidak menggantikan para profesional perencanaan pulang dari rumah sakit dan memberi mereka informasi tentang lingkungan dan keselamatan rumah serta masalah apa pun yang mungkin mempengaruhi perencanaan pulang dari rumah sakit. Perawat melakukan tugas pemantauan dan penilaian selama masa transisi, menyesuaikan rencana perawatan pasien untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan terus memberi informasi kepada dokter umum tentang status pasien saat ini.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7977020/