Penilaian Nyeri: Sebagai Landasan untuk Mengoptimalkan Manajemen Nyeri

International Association for the Study og Pain (IASP) menyebutkan bahwa nyeri adalah perasaan atau pengalaman sensori, emosional serta kognitif yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan aktual maupun potensial yang dapat timbul tanpa adanya injuri. Yang disebabkan karena adanya kerusakan jaringan, peradangan, prosedur bedah dan atau penyakit. Nyeri akut terjadi sebagai bentuk peringatan bahwa ada sesuatu yang salah dalam tubuh kita.

Ada dua jenis nyeri berdasarkan waktu lamanya serangan, yang pertama nyeri akut dan yang kedua nyeri kronis. Nyeri akut biasanya berlangsung selama berjam-jam, hari atau minggu, nyeri kronis biasanya nyeri yang dirasakan lebih dari enam bulan. Pola nyeri ada yang timbul dengan periode yang diselingi interval bebas dari nyeri lalu nyeri timbul kembali. Adapun pola nyeri kronis yang terus menerus teras makin lama semakin meningkat intensitasnya walaupun telah diberikan pengobatan. Misalnya saja, nyeri pada penyakit kronis pada pederita diabetes, penderita akan mengalami nyeri, jika kondisi memburuk hal ini akan berlangsung lama dan bertahan berbulan-bulan, bertahun-tahun bahkan seumur hidup, akan diperparah jika penderita mengalami cidera.

Di Amerika Serikat, 23,3 juta setiap tahunnya melakukan prosedur bedah dan sebagian besar mengakibatkan adanya rasa nyeri. Nyeri pada penderita penderita kangker juga mengalami peningkatan signifikan, sebuah studi menunjukkan bahwa sebanyak 30% hingga 40% dari penderita kanker didiagnosis mengalami nyeri, sementara 70%-80% dari pasien kanker menjalani terapi seumur hidupnya karena rasa nyeri yang tiada henti.

Survei Mayday Fun mencatat bahwa rasa sakit adalah bagian dari kehidupan bagi banyak orang Amerika, 46% responden melaporkan adanya perasaan nyeri di beberapa waktu dan kehidupan mereka. Diperkirakan 9% dari Penduduk dewasa AS menderita nyeri/ rasa sakit bahkan parah/akut.

Meskipun telah banyak penelitian berbasis bukti, nyeri akut dan kronis tidak dapat ditangani oleh para profesional, disinyalir manajemen nyeri tidak optimal, bukan karena kurangnya penelitian ilmiah ataupun kurangnya informasi mengenai penilaian dan pengobatan. Sebuah literatur menyebutkan manajemen nyeri tidak optimal, disebabkan karena ketidakmampuan petugas profesional untuk menggunakan informasi. Sebuah studi lain menyebutkan dua dari hambatan utama mengapa para profesional tidak optimal dalam manajemen nyeri, hambatan pertama, petugas profesional tidak mampu melakukan penilaian nyeri akut dan kronis, dan yang kedua, petugas profesional kurang memahami atau kurang pengetahuan tentang rasa sakit/fisiologis yang dialami oleh penderita. Selain itu, dokter tidak mampu memahami rasa takut atau kecemasan mengenai operasi yang dapat meningkatkan persepsi individu terhadap intensitas nyeri.

Badan kesehatan kebijakan dan penelitian, Komisi Akreditasi Organisasi Kesehatan (JCAHO), American Pain Society, dan Onkologi Perawatan Masyarakat berupaya untuk melakukan melakukan penelitian untuk menilai kualitas pelayanan pada pasien dengan skala nyeri akut dan kronis dengan pemantauan hasil serta penialaian manajemen nyeri. Surveyor JCAHO secara rutin menanyakan tentang penilaian dan manajemen nyeri kualitas pelayanan pada fasilitas kesehatan rawat inap dan rawat jalan.

Hasil penilaian ditemukan bahwa penilaian pada pasien yang mengalami nyeri adalah hal penting agar manajemen nyeri dapat optimal, namun kualitas dan utilitas alat penilai tidaklah cukup jika para profesional/ dokter tidak didukung oleh kemampuan untuk benar-benar fokus pada pasien, kemampuan mendengarkan, empati, percaya dan melegitimasi nyeri pasien dan memahami keinginan penderita. JCAHO merekomendasikan kepada profesional kesehatan/dokter melakukan perawatan profesional empatik kepada pasiennya agar pasien secara pribadi sadar dan minat untuk mengembalikan kenyamanan secara pribadi. Keberhasilan manajemen nyeri tergantung upaya petugas profesional/ dokter yang secara sungguh-sungguh untuk memastikan bahwa pasien memiliki akses yang terbaik, yang depat dengan aman diberikan. Petugas kesehatan/ profesional yang paling sukses untuk melakukan tugas ini adalah, mereka yang memiliki pengetahuan, berpengalaman, empatik dan bersedia menanggapi paisen dengan cepat.

Selain itu JCHO merekomendasikan agar semua kegiatan yang dilakukan didokumentasikan agar semua yang terlibat dalam perawatan pasien memahami masalah nyeri menggunakan pendekatan WILDA. Pendekatan WILDA memastikan bahwa lima komponen kunci untuk penilaian nyeri dimasukkan dalam proses. Penilaian nyeri biasanya dimulai dengan penyelidikan terbuka: ” ceritakan tentang rasa sakit” hal ini memungkinkan pasien untuk memberitahu atau bercerita tentah keluh kesahnya, termasuk pengalaman nyeri yang paling bermasalah. Dalam tahap ini dokter/ klinisi harus mendengarkan, menyediakan waktu, memberi saran, menyembuhkan, memvalidasi dan menawarkan solusi. Misalnya pengalaman dari pasien yang menyatakan bahwa “saya memiliki rasa sakit” informasi ini tidak cukup deskriptif untuk menginformasikan kepada ahli kesehatan tentang jenis nyeri yang dialami oleh pasien. Namun dokter/ ahli kesehatan dapat meminta pasien untuk menggambarkan rasa sakit dengan menggunakan kata-kata akan memandu dokter untuk melakukan intervensi yang tepat untuk jenis nyeri tertentu. Pasien mungkin memiliki lebih dari satu jenis nyeri, dokter/ para ahli/ profesional harus dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan atau kata-kata yang dapat menggambarkan rasa sakit/nyeri.

Dokter/ para ahli profesional juga dituntut untuk mampu mengukur intensitas nyeri. Intensitas nyeri sangat penting ketika merawat pasien dengan nyeri akut dan kronis. Meskipun tidak ada skala yang cocok untuk semua pasien. Dalton dan McNaull menganjurkan agar mengadopsi skala universal yaitu skala 0-10 untuk penilaian klinis intensitas nyeri pada pasien dewasa. Skala 0 diberikan kepada pasien yang tidak mengalami rasa sakit/ nyeri, skala 10 diberikan kepada pasien yang mengalami nyeri hebat/ akut. Dengan adanya standarisasi ini diharapkan ada konsistensi peraturan pada fasilitas kesehatan baik rawat jalan, rawat inap dan perawatan dirumah.

Oleh : Armiatin, MPH.
Sumber : Fink, Regina. Pain Assessment: The Cornerstone To Optimal Pain Management. Baylor University Medical Center Proceedings, Volume 13, Number 3. 2000.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1317046/

{module [150]}

Pedoman Penilaian Nyeri

Pedoman ini disesuaikan untuk dipergunakan secara lintas profesional oleh penyedia pelayanan kesehatan primer di berbagai situasi di VIHA (Vancouver Island Health Authority) dan praktik klinis lainnya, dimana pengguna melihat kemungkinan dapat digunakannya pedoman ini. Pedoman ini memberikan rekomendasi untuk manajemen penilaian dan gejala bagi pasien dewasa (usia 19 tahun dan lebih tua) dengan sakit yang mengancam kehidupan dan sakit yang disertai nyeri.

Nyeri didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan aktual dan potensial. Konsep total ‘nyeri’ meliputi faktor multidimensi yang berkontribusi sehingga pasien mengalami nyeri yang dapat meliputi: nyeri intelektual, nyeri emosional, nyeri interpersonal, nyeri finansial, nyeri spiritual, nyeri birokrasi, dan nyeri fisik. Nyeri ada ketika pasien mengatakan bahwa hal tersebut memang ada. Standar perawatannya meliputi:

  • Penilaian
  • Klasifikasi
  • Penetapan Rencana
  • Edukasi

Rekomendasi 1: Penilaian Nyeri
Penilaian komprehensif yang sedang berlangsung adalah dasar dari manajemen nyeri yang efektif, seperti yang ditampilkan pada tabel berikut:

art-22des14

Tujuan dari penilaian nyeri:

  • Untuk menangkap ‘pengalaman’ nyeri pasien dengan cara yang terstandar
  • Untuk membantu menetukan tipe nyeri dan kemungkinan etiologinya
  • Untuk mengetahui pengaruh dan dampak pengalaman nyeri individu dan kemampuan fungsinya
  • Dasar untuk mengembangkan rencana perawatan untuk mengatasi rasa nyeri
  • Untuk membantu komunikasi antar anggota tim interdisipliner

Rekomendasi 2: Klasifikasi Nyeri
Nyeri diklasifikasikan berdasarkan cara asal dan transmisinya, untuk membantu dalam memilih rencana pengelolaan untuk menghilangkan nyeri.

  • Nyeri Nociceptive: disebabkan oleh stimulasi serabut saraf yang mengirimkan sinyal secara normal dari ujung saraf ke pusat-pusat otak
    • Nyeri Somatic
    • Nyeri Viceral
  • Nyeri Neuropathic: merupakan stimulasi berkelanjutan abnormal serabut saraf yang mengirimkan sinyal dari saraf berakhir ke pusat otak dan atau dari disfungsi dalam sistem saraf pusat.

Rekomendasi 3: Penetapan Rencana
Menggunakan penilaian nyeri untuk menetapkan rencana yang:

  • Menggunakan intervensi farmakologis dan non-farmakologis yang paling efektif untuk jenis nyeri yang telah diidentifikasi,
  • Meliputi intervensi fisik, psikologis, dan perilaku,
  • Meliputi perawatan dan pemilihan analgesia/adjuvant secara individu dan konsisten dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pasien,
  • Penerimaan kapasitas fungsional,
  • Kualitas hidup,
  • Kapasitas istirahat dan tidur yang cukup,
  • Efek samping pengobatan yang minimal atau setidaknya dapat ditoleransi

Rekomendasi 4: Edukasi
Edukasi yang dimaksud, meliputi antara lain; penjelasan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa adanya kemungkinan nyeri dapat menjadi lebih buruk seiring dengan perkembangan penyakit, namun dijelaskan pula opsi penghilang nyeri yang tersedia; mendiskusikan konsep pencegahan nyeri dengan pasien dan keluarga pasien; mengedukasi pasien dan keluarga pasien agar dapat melaporkan perubahan-perubahan nyeri yang dirasakan/terjadi; mengedukasi pasien bahwa pasien dan keluarga pasien dapat melaporkan/ menyampaikan rasa nyeri mereka karena ‘lingkungan’ atau provider dapat dipercaya dan memiliki kepedulian terhadap pasien; melibatkan pasien dan keluarga pasien dalam menentukan perencanaan perawatan untuk menghilangkan rasa nyeri.

Berikut adalah beberapa contoh instrumen penilaian nyeri yang dipaparkan oleh VIHA dalam artikel ini:

art-22des14-2

art-22des14-3

art-22des14-4

 

Disarikan Oleh : Lucia Evi I
Sumber : Principles Of Pain Assessment. VIHA EOL Symptom Guidelines. 2008.
http://www.viha.ca/NR/rdonlyres/FB1E3BDD-2D23-4C53-A4D3-0F9D2DCE1081/0/PrinciplesOfPainAssessment.pdf 

{module [150]}

Pengukuran Intensitas Nyeri dengan Pendekatan Pelaporan Sendiri Pada Anak-Anak dan Remaja

Nyeri didefinisikan oleh International Association for the Study of Pain (IASP) sebagai suatu pengalaman yang tidak menyenangkan secara sensorik dan emosional secara aktual dan potensial terkait dengan kerusakan jaringan atau hal yang dideskripsikan sebagai kerusakan. Nyeri merupakan hal yang tidak menyenangkan tetapi perlu, karena nyeri mempunyai nilai biologis dimana dapat menjadi tanda sesuatu yang ‘berbahaya’ sedang terjadi dalam tubuh.

Penilaian menyeluruh diperlukan dalam proses perawatan dan pengobatan, penilaian nyeri juga menjadi salah satu hal yang harus dilakukan dalam proses perawatan tersebut. Pada penilaian nyeri, parameter yang sering dipergunakan adalah penilaian intensitas nyeri itu sendiri. Nyeri akut dan kronis seringkali belum dikenali dengan baik dan tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menimbulkan konsekuensi negatif baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk itu penilaian nyeri yang akurat dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel menjadi dasar pengobatan atau perawatan yang efektif.

Nyeri akut dan kronis merupakan pengalaman yang juga umum dialami oleh anak-anak dan remaja. Contoh nyeri yang dapat terjadi antara lain pada saat proses; imunisasi, pengambilan sampel darah, tindakan operasi. Pada penilaian nyeri untuk pediatrik, beberapa dimensi yang dapat dinilai, antara lain; sensorik, afektif/kognitif, dampak nyeri terhadap berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Meskipun penting untuk menilai masing-masing dimensi tersebut namun parameter yang paling umum dilakukan baik dalam praktik klinis maupun penelitian adalah intensitas nyeri atau seberapa menyakitkan nyeri tersebut.

Analisa terkait penilaian nyeri pada pasien pediatrik banyak dilakukan, diantaranya adalah review yang dilakukan oleh Ped-IMMPACT group dan the Society of Pediatric Psychology (SPP). Pada review yang dilakukan, Ped-IMMPACT lebih menitikberatkan pada reliabilitas dan validitas penilaian intensitas nyeri, sedangkan SPP lebih fokus pada kegunaan klinis, yang mengacu pada diterapkannya penilaian dalam konteks klinis. Selain fokus penekanan yang berbeda, kedua kelompok reviewer tersebut menggunakan dua metodologi yang berbeda pula dalam proses pengkajiannya.

Penilaian intensitas nyeri pada anak memiliki tiga pendekatan utama, yakni; fisiologis, perilaku, dan pelaporan sendiri.

  • Penilaian Fisiologis
    Detak jantung dan pernafasan, tekanan darah, saturasi oksigen.
  • Penilaian Perilaku
    Suara, ekspresi wajah, pergerakan tubuh,
  • Pelaporan Sendiri (self-report)

Penilaian nyeri dengan pendekatan pelaporan sendiri oleh pasien digunakan untuk anak-anak yang sudah dapat berkomunikasi secara lisan. Terdapat beberapa keuntungan dengan mempergunakan penilaian pelaporan sendiri, karena nyeri bersifat subyektif dan penilaian dengan metode ini meminta individu yang bersangkutan untuk menyampaikan rasa nyeri yang dirasakan. Tetapi metode ini memiliki pula keterbatasan, yakni:

  • Metode ini tergantung pada kemampuan sosial, kognitif dan komunikasi anak
  • Laporan yang disampaikan anak dapat terpengaruh oleh konteks mereka, seperti; siapa yang menanyakan pertanyaan, situasi.
  • Dapat terjadinya bias data apabila pertanyaan yang disampaikan telah lampau (lama terjadi), dalam hitungan minggu hingga bulan

Menurut Stinson dkk terdapat 34 unidimensional penilaian intensitas nyeri dengan metode pelaporan sendiri untuk anak usia 3-18 tahun. Enam dari penilaian ini sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh Cohen dkk, dimana Cohen dkk melakukan review terhadap 8 penilaian yang biasa dipergunakan dalam menilai intensitas nyeri pada anak, yakni; 4 penilaian unidimensional dan 4 penilaian multidimensional. Lima instrumen penilaian diberi peringkat sebagai instrumen penilaian yang well-established. Kedua kelompok reviewer sepakat bahwa Pieces of Hurt Tool, the Faces Pain Scale-Revised, the Oucher – Photographic and Numeric Rating Scale, dan the Visual Analogue Scale adalah instrumen penilaian terbaik yang tersedia untuk praktik klinis dan penelitian.

Oleh : Lucia Evi I.
Sumber : Measurement of self-reported pain intensity in children and adolescents. Huguet et al. Journal of Psychosomatic Research 68 (2010) 329–336. 2009

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20307699 

 

Instrumen Untuk Penilaian Nyeri Pasien

Pada uji klinis maupun manajemen nyeri yang efektif diperlukan penilaian yang valid dan reliabel. Nyeri akut dapat dinilai baik pada saat pasien dalam kondisi sedang istirahat atau sedang bergerak dengan menggunakan alat satu dimensi seperti penilaian skala numerik (Numeric Rating Scale) atau skala analog visual (Visual Analog Scale). Kedua alat tersebut memiliki ‘kemampuan’ lebih untuk mendeteksi perubahan intensitas nyeri dibandingkan dengan skala penilaian kategori lisan (Verbal Categorial Rating Scale).

Penilaian nyeri merupakan hal yang penting dilakukan sehingga dapat diperoleh data yang bermanfaat dan kesimpulan yang benar pada proses perawatan yang diberikan kepada pasien. Oleh karena itu banyak dikembangkan instrumen untuk melakukan penilaian nyeri ini, seperti VAS,NRS, dan VRS. Dua diantara instrumen tersebut yakni penilaian skala numerik (NRS) dan skala analog visual (VAS), memiliki keunggulan yakni berfungsi ‘terbaik’ untuk pasien dengan perasaan subyektif terhadap rasa nyeri yang dirasakan saat sekarang. Pada sebuah penelitian yang menggunakan rekaman secara simultan intensitas nyeri pada VAS, NRS, dan VRS dengan melibatkan sejumlah pasien dalam skala besar menunjukkan bahwa VAS dan NRS lebih unggul dibandingkan VRS. Berdasarkan data penelitian yang dilakukan untuk membandingkan penggunaan instrumen penilaian nyeri VAS, NRS, dan VRS diperoleh hasil bahwa instrumen VAS dan NRS memberikan hasil yang hampir identik pada pasien yang sama, waktu yang bervariasi atau berbeda-beda setelah proses pembedahan.

art-17des14

ari 13des-2

Grafik Hasil Penelitian Perbandingan VAS, NRS, dan VRS
(sumber: Assessment Pain British Journal of Anaesthesia 101 (1): 17–24 (2008))

Penilaian nyeri pada pasien yang sedang beristirahat ataupun pasien yang sedang dalam pergerakan penting dilakukan, namun proses penilaian nyeri pada pasien yang sedang bergerak dinilai lebih penting dibandingkan pada saat pasien sedang dalam kondisi istirahat, salah satunya karena pergerakan pasien dapat memicu terjadinya nyeri.

Penilaian nyeri pada pasien dilakukan pada berbagai aspek dan situasi, antara lain:

  • Penilaian nyeri dasar yang dilakukan untuk mengetahui dan mendokumentasikan sensitivitas uji suatu obat. Misalnya pada uji obat analgesik berikut, dimana dilakukan uji sensitivitas dengan hasil: untuk pemberian codeine ditambah acetaminophen tidak berbeda dari pemberian acetaminophen saja pada pasien dengan nyeri awal hanya moderat (40-60 pada 0-100 VAS) , tapi jelas lebih unggul pada mereka dengan nyeri awal yang lebih parah (di atas 60 pada 0-100 VAS).
  • Penilaian nyeri akut pada komponen neuropathic setelah pembedahan
  • Penilaian nyeri kronis, dimana penilaian dan pengelolaan nyeri dilakukan untuk pasien dengan perawatan yang dapat menimbulkan nyeri yang cukup lama (long-lasting pain). Penilaian komprehensif diperlukan dalam setiap pengelolaan kondisi nyeri kronis yang kompleks, meliputi; sejarah sakit/ nyeri, pemeriksaan fisik, dan tes diagnostik tertentu. Beberapa instrumen yang dapat dipergunakan dalam penilaian nyeri kronis, seperti:
    • The Brief Inventory Pain (BIP)
    • The McGill Pain Questionnaire (MPQ) dan Short-Form McGill Pain Questionnaire (SMQ)
    • The Massachusetts General Hospital Pain Center’s Assessment Form
    • Neuropathic pain screening tools
    • The Initiative, Measurement, adan Pain Assessment in Clinical Trials
  • Penilaian nyeri untuk menilai kualitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien dengan penyakit kronis
  • Penilaian nyeri dengan instrumen yang diperuntukkan bagi penyakit tertentu dan generik untuk mengetahui dampak nyeri pada berbagai fungsi
  • Penilaian nyeri pada pasien sakit kanker dan pasien dengan perawatan paliatif Untuk pasien kanker dapat mempergunakan The Brief Inventory (BIP) sebagai instrumen penilaian nyeri. 
    Untuk pasien dengan perawatan paliatif dapat mempergunakan beberapa pilihan instrumen, seperti; Memorial Pain Assessment Card; Memorial Symptom Assessment Scale (MSAS) and a Short Form (MSAS-SF); M.D. Anderson Symptom Inventory (MDASI); the Rotterdam Symptom Checklist; and the Symptom Distress Scale
  • Penilaian nyeri pada pasien yang memiliki masalah komunikasi dan dementia, dapat mempergunakan instrumen penilaian nyeri, seperti; The COMFORT Pain Scale untuk bayi dan anak-anak kecil, Face–Legs–Activity–Cry–Consolability, The CRIES Pain Scale, The MOBID-2 Pain Scale

Berbagai referensi instrumen banyak tersedia dan dapat dipergunakan dalam proses penilaian nyeri pasien. Pemilihan instrumen yang tepat dapat memberikan data dan kesimpulan yang tepat dalam proses pemberian layanan kesehatan kepada pasien. Sehingga penentuan instrumen penilaian nyeri harus ditentukan dengan berbagai pertimbangan dan kondisi pasien.

Oleh : Lucia Evi I.
Sumber : Assessment of Pain, British Journal of Anaesthesia 101 (1): 17–24 (2008)
http://bja.oxfordjournals.org/content/101/1/17.abstract/  

 

Pendekatan Perkesmas Untuk Menurunkan Kematian Bayi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Penurunan angka kematian bayi penting karena Angka Kematian Bayi (AKB) dapat menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Indikator AKB terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial-ekonomi dan kesehatannya. Menanggapi permasalahan anak yang masih menjadi perhatian di Provinsi Nusa Tenggara Timur dimana kematian ibu sudah bisa diturunkan namun hal ini tidak terjadi pada penurunan kematian bayi. Maka, dibutuhkan upaya-upaya luar biasa dari instansi pelayanan kesehatan untuk memecahkan permasalahan ini.

Seperti pada data yang dipaparkan oleh tim Dinkes Provinsi NTT dalam pertemuan lokakarya evaluasi akhir yang dilakukan di Bali (4-5/12/2014) bahwa belum ada perubahan yang berarti dalam menurunkan angka kematian bayi.

art8des14

Sumber: Sumber Data: Laporan F1 – F8 Bulan dan Indikator Antara Revolusi KIA NTT 2013- 2014 Kab/Kota melalui Bid. Kesmas Dinkes NTT

Pemerintah melalui Dinas kesehatan sudah berupaya untuk menekan angka kematian bayi di NTT baik melalui gebrakan revolusi KIA dengan pesan seluruh persalinan di Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT, harus ditolong oleh tenaga kesehatan berkompeten dan dilakukan di fasilitas kesehatan yang memadai, sesuai dengan peraturan Peraturan Gubernur No. 42 Tahun 2009 tanggal 21 Agustus 2009. Upaya ini perlu didukung dengan pendekatan lainnya. Ada satu strategi yang dipaparkan oleh dr. Stefanus Bria Seran, MPH dalam upaya menurunkan angka kematian bayi yakni dengan menggunakan pendekatan PERKESMAS.

Seperti yang diketahui bahwa Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas) merupakan salah satu upaya puskesmas yang mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan memadukan ilmu/praktik keperawatan dengan kesehatan masyarakat melalui dukungan peran serta aktif masyarakat yang mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu. Hal ini ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal sehingga mandiri dalam upaya kesehatannya.

Petugas Perkesmas dalam hal ini adalah seluruh perawat fungsional yang bekerja di puskesmas dan mendukung adanya kolaborasi dengan petugas kesehatan lain (dokter, bidan, petugas gizi, petugas kesling, dan lain-lain) sesuai kebutuhan dan lingkup permasalahan yang dihadapi ketika melayani masyarakat. Kegiatan pelayanan Perkesmas dapat dilaksanakan di dalam dan di luar gedung puskesmas. Di dalam gedung, perawat melakukan asuhan keperawatan bagi individu yang datang ke puskesmas sedangkan kegiatan di luar gedung, perawat dapat melakukan asuhan keperawatan keluarga maupun asuhan keperawatan kelompok khusus/rawan kesehatan di daerah binaan Perkesmas. Berbagai masalah kesehatan yang memerlukan pelayanan Perkesmas termasuk pada kelompok balita. Jenis kegiatan yang dilakukan selama memberikan pelayanan Perkesmas seperti; deteksi dini, penyuluhan kesehatan, konseling, perawatan kesehatan dasar, dan rujukan ke pelayanan kesehatan terdekat.

Ide tersebut sesuai dengan latar belakang dalam penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat yakni Puskesmas yang merupakan ujung tombak penyelenggaraan UKM maupun UKP di strata pertama pelayanan kesehatan, dan merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan di Kabupaten/Kota. Upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas meliputi upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan dasar yang paling dekat dengan masyarakat sangat menentukan kinerja Kabupaten/Kota untuk mewujudkan masyarakat sehat di wilayahnya. Prinsip penyelenggaraan upaya kesehatan yang menyeluruh, terpadu, terjangkau dan bermutu merupakan prinsip yang seharusnya diterapkan di Puskesmas, sehingga kinerja Puskesmas lebih optimal.

Mengingat saat ini permasalahan kesehatan yang dihadapi cukup kompleks, upaya kesehatan belum dapat menjangkau seluruh masyarakat meskipun Puskesmas telah tersedia di setiap kecamatan yang rata-rata ditunjang oleh tiga Puskesmas Pembantu namun Dinkes provinsi NTT tetap optimis dengan mengaktifkan kembali kegiatan perkesmas akan dapat membawa dampak yang lebih baik dalam menurunkan angka kematian bayi.

Oleh: Andriani, MPH

Referensi:

{module [150]}

Menengok Faktor Sosial Budaya yang Mempengaruhi Kematian Ibu

Kematian ibu hingga kini masih menjadi indikator penilaian mutu pelayanan kesehatan masyarakat. Semakin tinggi kematian ibu di suatu wilayah, semakin buruk mutu layanan kesehatan di wilayah tersebut. Berbagai faktor penyebab kematian ibu digali untuk menentukan intervensi yang tepat. Salah satunya faktor sosial budaya.

Di Indonesia, dikenal “Tiga Terlambat” dan “Empat Terlalu” sebagai faktor penyebab kematian ibu. Terlambat pertama adalah terlambat dalam mencapai fasilitas pelayanan. Kedua, terlambat dalam mendapat pertolongan yang cepat dan tepat di fasilitas pelayanan. Ketiga, terlambat dalam mengenali tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan. Sedangkan “Empat Terlalu” terdiri dari terlalu tua, terlalu muda, terlalu sering, dan terlalu banyak.

Lalu, di mana peran faktor sosial budaya dalam “mendukung” terjadinya kematian ibu?

Terlambat pertama, yaitu terlambat dalam mencapai fasilitas pelayanan, secara teknis disebabkan oleh hambatan dalam proses transportasi. Ketiadaan alat transportasi maupun jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan membuat ibu terlambat mendapat pelayanan. Selain problem teknis, perkara sosial budaya juga cukup punya andil dalam tahap ini. Di Indonesia, ibu hamil tidak bisa serta merta dirujuk ke fasilitas kesehatan bila belum mendapat persetujuan tetua. Kadangkala yang terjadi ialah komplikasi yang dialami ibu hamil dianggap sebagai akibat dari dosa-dosa yang pernah diperbuat keluarga. Akibatnya, ibu hamil tersebut harus menjalani proses pembersihan dosa selama beberapa waktu sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan.

Contoh demikian ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Nigeria, keterlambatan atau keengganan ibu hamil pergi ke fasilitas kesehatan disebabkan kuatnya kepercayaan terhadap pengobatan tradisional dibanding pengobatan modern. Masyarakat juga meyakini bahwa komplikasi yang dialami ibu hamil, misalnya perdarahan, disebabkan oleh kutukan setan sehingga tidak mempan diatasi di fasilitas kesehatan. Di Gambia, ibu hamil disarankan menuju fasilitas kesehatan setelah waktu shalat dzuhur setempat. Selain itu, ibu hamil juga enggan menuju fasilitas kesehatan karena kerap diperlakukan kasar oleh perawat.

Terlambat kedua, yaitu terlambat mendapat pertolongan yang cepat dan tepat di fasilitas pelayanan, secara teknis terkait dengan terbatasnya tenaga medis. Faktor sosial budaya juga berpengaruh dalam aspek ini. Di Indonesia, pelayanan kesehatan yang lambat diakibatkan oleh rendahnya motivasi kerja tenaga kesehatan karena isu remunerasi. Kesehatan juga kadang belum menjadi prioritas Pemda, sehingga pengadaan alat dan obat untuk melayani ibu hamil sering kali tidak tersedia. Akibatnya pelayanan terhadap ibu hamil terhambat. Selain itu, campur tangan politik menyebabkan tenaga kesehatan terlatih di suatu wilayah dimutasi ke tempat lain.

Terlambat ketiga dan “Empat Terlalu”, dari sudut pandang sosial budaya juga terkait dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat. Terlambat mengenali tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan seringkali disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat. Terlalu tua menikah dan melahirkan terkait dengan keputusan perempuan modern untuk mendahulukan karier atau mengupayakan kemapanan hidup sebelum menikah dan memiliki anak. Terlalu muda melahirkan terkait dengan kepercayaan wanita di desa yang umumnya malu menikah dan melahirkan di usia terlalu tua. Terlalu sering dan terlalu banyak melahirkan umumnya terkait dengan kepercayaan bahwa banyak anak banyak rejeki.

Faktor-faktor sosial budaya yang muncul dalam masyarakat memang tidak secara langsung mempengaruhi kematian ibu. Namun, hal ini berpengaruh terhadap intervensi yang akan diberikan dalam upaya penyurunan kematian ibu. Maka, perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai dampak faktor sosial budaya dalam kematian ibu.

Oleh: drg. Puti Aulia Rahma, MPH

Referensi:

  • Cham M; Sundby J; and Vangen S; 2005; Maternal mortality in the rural Gambia, a qualitative study on access to emergency obstetric care; Reproductive Health; 2:3
  • Dr. dr. Atik Triratnawati, 2013, Laporan Hasil Monev Aspek Kualitatif Program Sister Hospital
  • Okolocha C, Chiwuzie J, Braimoh S, Unuigbe J, dan Olumeko P; 1998; Socio-cultural factors in maternal morbidity and mortality: a study of a semi-urban community in southern Nigeria; J Epidemiol Community Health; 52:293–297
  • Ronsmans, C, and Graham, WJ; 2006; Maternal mortality: who, when, where, and why; The Lancet; Volume 368: 9542; Pages 1189 – 1200
  • Spot Dokter, Mencegah Risiko Kehamilan dan Persalinan: 3 Terlambat, 4 Terlalu, http://home.spotdokter.com/389/mencegah-risiko-kehamilan-dan-persalinan-3-terlambat-4-terlalu/
  • V. De Brouwere, et. al., 2002, Reducing Maternal Mortality in Developing Country, Tropical Medicine & International Health, Volume 3:10.

{module [150]}

Peningkatan Keamanan High-Alert Medication

High-Alert Medication atau obat dengan kewaspadaan tinggi adalah obat-obat yang secara signifikan berisiko membahayakan pasien bila digunakan dengan salah atau pengelolaan yang kurang tepat. Di Indonesia, pada Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit mengharuskan rumah sakit untuk mengembangakan kebijakan pengelolan obat untuk meningkatkan keamanan khususnya obat yang perlu diwaspadai (high-alert medications). Obat ini sering menyababkan kesalahan serius (sentinel event) dan dapat menyababkan reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD). Berdasarkan study yang dilakukan oleh Institute for Safe Medication Practices (ISMP) di US, obat yang paling sering menyebabkan ROTD dan sentinel event adalah insulin, opium dan narkotik, injeksi potassium chloride (phospate) concentrate, intravenous anticoagulants (hepari) dan sodium chloride solution lebih besar dari 0,9%.

Berikut adalah ketagori dan spesifikasi obat yang termasuk ke dalam high alert medication .

List of High Alert Medication in Acute Care Setting

Kategori/ kelas obat-obatan

Spesifikasi Obat

adrenergic agonists, IV (e.g., EPINEPHrine, phenylephrine, norepinephrine)

EPINEPHrine, subcutaneous

adrenergic antagonists, IV (e.g., propranolol, metoprolol, labetalol)

epoprostenol (Flolan), IV

anesthetic agents, general, inhaled and IV (e.g., propofol, ketamine)

insulin U-500 (special emphasis) : *All forms of insulin, subcutaneous and IV, are considered a class of high-alert medications.

Insulin U-500 has been singled out for special emphasis to bring attention to the

need for distinct strategies to prevent the types of errors that occur with this concentrated

form of insulin

antiarrhythmics, IV (e.g., lidocaine, amiodarone)

magnesium sulfate injection

antithrombotic agents, including:

  • anticoagulants (e.g., warfarin, low molecular weight heparin, IV unfractionated heparin)
  • Factor Xa inhibitors (e.g., fondaparinux, apixaban, rivaroxaban)
  • direct thrombin inhibitors (e.g., argatroban, bivalirudin, dabigatran etexilate)
  • thrombolytics (e.g., alteplase, reteplase, tenecteplase)
  • glycoprotein IIb/IIIa inhibitors (e.g., eptifibatide)

methotrexate, oral, non-oncologic use

cardioplegic solutions

opium tincture

chemotherapeutic agents, parenteral and oral

oxytocin, IV

dextrose, hypertonic, 20% or greater

nitroprusside sodium for injection

dialysis solutions, peritoneal and hemodialysis

potassium chloride for injection concentrate

epidural or intrathecal medications

potassium phosphates injection

hypoglycemics, oral

promethazine, IV

inotropic medications, IV (e.g., digoxin, milrinone)

vasopressin, IV or intraosseous

insulin, subcutaneous and IV

 

liposomal forms of drugs (e.g., liposomal amphotericin B) and conventional counterparts

(e.g., amphotericin B desoxycholate)

 

moderate sedation agents, IV (e.g., dexmedetomidine, midazolam)

 

moderate sedation agents, oral, for children (e.g., chloral hydrate)

 

narcotics/opioids

  • IV
  • Transdermal
  • oral (including liquid concentrates, immediate and sustained-release formulations)

 

neuromuscular blocking agents (e.g., succinylcholine, rocuronium, vecuronium)

 

parenteral nutrition preparations

 

radiocontrast agents, IV

 

sterile water for injection, inhalation, and irrigation

(excluding pour bottles) in containers of 100 mL or more

 

sodium chloride for injection, hypertonic, greater than 0.9% concentration

 

List of High Alert Medications in Ambulatory Healtcare

Kategori/ kelas obat-obatan

Spesifikasi Obat

antiretroviral agents (e.g., efavirenz, lamiVUDine, raltegravir, ritonavir,

combination antiretroviral products)

carBAMazepine

chemotherapeutic agents, oral (excluding hormonal agents)

(e.g., cyclophosphamide, mercaptopurine, temozolomide)

chloral hydrate liquid, for sedation of children

 

hypoglycemic agents, oral

heparin, including unfractionated and low molecular weight heparin

immunosuppressant agents (e.g., azaTHIOprine, cycloSPORINE,

tacrolimus)

metFORMIN

insulin, all formulations

methotrexate, non-oncologic use

opioids, all formulations

midazolam liquid, for sedation of children

pediatric liquid medications that require measurement

propylthiouracil

pregnancy category X drugs (e.g., bosentan, ISOtretinoin)

warfarin

Dengan adanya daftar obat di atas, diharapkan bisa mengurangi kesalahan dalam pemberian high alert medications. Pemberian high-alert medications harus teliti. Hal-hal yang dilakukan untuk meningkatkan keamanan high alert medications adalah perawat harus melakukan pengecekan ganda (double check) terhadap semua high alert medications sebelum diberikan kepada pasien. Selain itu, persiapan dan penyimpanannya pun harus jelas. High alert medications harus disimpan di pos perawat di dalam troli atau kabinet yang terkunci dan diberi label yang jelas.

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH
Sumber:
_____(2011). List of High-Alert Medications in Community/Ambulatory Healthcare. ISMP
_____(2014). L is t o f High-Alert Medicationsin Acute Care Settings. ISMP

http://www.ismp.org/tools/highalertmedications.pdf 
http://www.ismp.org/communityRx/tools/ambulatoryhighalert.asp 

{module [150]}

Daftar Obat High Alert dan Strategi Pengurangan Risiko

Permasalahan yang kerap terjadi dalam proses pemberian obat salah satunya adalah terjadinya tipe kesalahan yang terus terulang. Contoh error medication yang dapat terjadi antara lain adalah dimana seorang pasien mendapatkan pengobatan overdosis sejumlah 5-fold insulin U-500 setelah perawat menuliskan dosis sejumlah U-100 syringe, dan cek ulang oleh perawat lainnya gagal dilakukan. Pada rumah sakit yang menggunakan obat high alert, banyak kasus yang terjadi dan terus terulang terkait pengelolaan penggunaan obat high alert tersebut. Hal tersebut terbukti dalam beberapa literatur dan laporan-laporan yang dikirimkan pada ISMP National Medication Errors Reporting Program (ISMP MERP).

The Joint Commision memiliki standar yang menyebutkan bahwa rumah sakit harus mengembangkan sendiri daftar obat high alert, memiliki proses pengelolaan obat high alert, dan melaksanakan proses tersebut. Namun daftar obat high alert yang dimiliki suatu rumah saki akan menjadi tidak bermanfaat apabila tidak di update, diketahui oleh staf klinisi, dan dilengkapi dengan strategi pengurangan risiko yang lebih efektif dan tidak sekedar sebagai ‘awareness‘, panduan double check, pendidikan staf, serta ‘seruan’ untuk berhati-hati. Rumah sakit perlu memikirkan dengan baik daftar obat high alert dan proses yang efektif berpengaruh mengurangi risiko kesalahan dengan obat tersebut.

Rekomendasi praktik keselamatan yang dapat dilakukan adalah agar rumah sakit mengkaji kembali daftar obat high alert yang telah dimiliki dan rencana yang diberlakukan untuk mengurangi risiko obat tersebut. Berikut adalah panduan yang dapat dipertimbangkan sebagai acuan:

  • Mengembangkan / Memperbaharui Daftar Spesifik di Rumah Sakit
    Rumah sakit memerlukan target daftar obat high alert yang cukup komprehensif untuk mengurangi risiko berbahaya yang dapat terjadi. Banyak rumah sakit menentukan daftar tersebut dengan mengacu pada Daftar Obat High Alert ISMP (www.ismp.org/Tools/institutionalhighAlert.asp) yang diupdate secara berkala berdasarkan berbagai data/ laporan yang diterima ISMP.

    Meskipun terdapat daftar obat high alert yang telah ditentukan namun pada beberapa kondisi tertentu dapat ditambahkan jenis-jenis obat tertentu ke dalam formularium obat high alert. Selain itu daftar obat high alert harus di perbarui sesuai kebutuhan dan hasil review setidaknya setiap 2 tahun.

  • Pelaksanaan Strategi Pengurangan Risiko
    Identifikasi obat high alert dilakukan dengan maksud untuk membangun perlindungan dan mengurangi risiko. Tujuan utama penerapan startegi pengurangan risiko adalah:
    • Mencegah kesalahan
    • Membuat kesalahan yang terjadi dapat diketahui/ terlihat
    • Mengurangi bahaya/ kerugian
      Agar dapat efektif maka semua komponen interdisipliner ini memerlukan:
    • Pemahaman penyebab error / kesalahan
      Strategi yang efektif harus dapat mengatasi penyebab kesalahan dari setiap tipe obat high alert atau obat kelas tertentu. Untuk mempelajari penyebab kesalahan dapat dilakukan internal review untuk data medication error dan hasil dari analisis akar masalahnya serta melakukan kajian dengan melihat sumber data atau literatur terkait. Tools lain dapat juga dipergunakan untuk membantu dalam identifikasi kesalahan yang dapat terjadi pada penggunaan obat high alert seperti FMEA dan self assessment. Langkah pertama ini tidak dapat diabaikan karena jika kita tidak dapat menjelaskan mengapa kesalahan penggunaan obat tersebut dapat terjadi maka strategi yang kita pergunakan mungkin tidak dapat mengurangi risiko sama sekali.
    • Memastikan tindakan yang komprehensif
      Strategi tunggal untuk mencegah kesalahan pengobatan cukup jarang dalam pencegahan kesalahan yang berbahaya. Berikut adalah kunci agar strategi berhasil dilakukan:
      • Beberapa strategi pengurangan risiko harus dilaksanakan bersamaan
      • Strategi pengurangan risiko yang dilakukan harus berdampak pada proses pengobatan yang dapat menjadi penyebab terjadinya kesalahan, seperti; pengadaan, penyimpanan, peresepan, transkrip, dan sebagainya.
      • Strategi pengurangan risiko rendah harus dilaksanakan menjadi satu dengan strategi pengurangan risiko tinggi

        art-4des

      • Untuk melengkapi informasi dalam proses perencanaan, dapat dilakukan dengan mencari literatur untuk mengidentifikasi strategi pengurangan risiko yang terbukti efektif, direkomendasikan oleh ahli, atau telah sukses diimplementasikan di tempat lain
      • Strategi dapat diterapkan di berbagai situasi/ setting
      • Pada saat penerapan strategi, harus ada keseimbangan bagaimana sumber daya akan dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi
      • Strategi harus sustainable
  • Penilaian Keefektifan Strategi
    Penilaian outcome dan proses harus dilakukan secara rutin untuk menilai keefektivitasan strategi pengurangan risiko obat high alert. Dan hasil penilaian yang dilakukan di informasikan kepada berbagai pihak terkait di rumah sakit.

Disarikan oleh : Lucia Evi I
Sumber : Your High-Alert Medication List-Relatively Useless Without Associated Risk-Reduction Strategies. April, 2013. Newsletter.
https://www.ismp.org/newsletters/acutecare/showarticle.aspx?id=45 

{module [150]}

Menegakkan Patient Safety dengan Penyimpanan dan Labeling Obat yang Tepat

Patient safety menjadi hal yang mutlak dan wajib dipenuhi oleh fasilitas layanan kesehatan yang bermutu. Dalam dunia medis keselamatan pasien merupakan hal yang sangat esensial, sedikit saja kesalahan maka pasien bisa cacat bahkan meninggal. Tidak hanya prosedur dan fasilitas yang perlu diperhatikan dalam menjamin keselamatan pasien, pengelolaan obat-obatan juga menjadi salah satu faktor penentu.

The Institute of Medicine dalam salah satu studinya menemukan bahwa dalam sehari setidaknya ada satu kesalahan dalam pemberian obat di rumah sakit. Studi lainnya mengemukakan bahwa dalam hal administrasi, 1 dari 5 pemberian obat kepada pasien terindikasi error. Kesalahan/error ini mencakup antara lain pemberian dosis yang keliru, obat yang salah, dan waktu pemberian obat yang tidak tepat. Faktor lain yang juga ikut berkontribusi dalam kesalahan/error tersebut adalah penyimpanan dan labeling obat.

Salah satu guideline yang bisa dijadikan pedoman untuk penataan penyimpanan dan labeling obat adalah yang dikembangkan oleh Calgary Health Region. Guideline ini sudah diaplikasikan di lebih dari 500 area di rumah sakit-rumah sakit di Kanada. Guideline ini lebih menekankan pada faktor manusia/SDM pengelolaan obat. Khusus untuk penyimpanan dan labeling, Calgary Health Region menemukan beberapa masalah yang sering terjadi diantaranya :

  1. Obat dengan dosis yang berbeda ditempatkan dalam satu tempat tanpa pemisah.
  2. Obat ditempatkan dalam wadah tanpa penutup dan tanpa label.
  3. Kelebihan kapasitas dari wadah penyimpan obat yang menyebabkan kemungkinan bercampurnya obat dengan wadah lain yang berdekatan.
  4. Ketidaksamaan penataan obat antara ruangan yang satu dengan yang lain sehingga apabila petugasnya berganti ruangan bias membingungkan.
  5. Penggunaan huruf dan tulisan tangan yang kurang jelas untuk labeling obat, penempatan label yang tidak sesuai (pada tempat yang melengkung dan terhalang oleh benda lain).

Dari permasalahan tersebu,t maka dibuatlah suatu guideline untuk mengefektifkan penataan dan pengelolaan obat. Dari aspek penyimpanan berikut adalah rekomendasi yang diberikan oleh Calgary Health Region, diantaranya :

  1. Standarisasi penyimpanan untuk semua area di rumah sakit, artinya semua bagian/area di rumah sakit harus mempunyai format penympanan yang sama, hal ini agar bidan/perawat tidak kebingungan dalam pengelolaan obat apabila bekerja di area yang berbeda.
  2. Menggunakan sistem clustering atau pemisahan misalnya pembagian kategori untuk injectable, obat oral, dan obat topikal. Hal ini untuk meminimalkan pilihan dan meningkatkan efektivitas dalam pencarian obat.
  3. Sistem clustering di atas juga bisa ditambah dengan penggunaan warna yang berbeda untuk tiap-tiap cluster agar lebih mudah dalam penyimpanan dan cepat dalam pemilihan obat.
  4. Menggunakan pemisah untuk penyimpanan obat-obatan yang berbeda dalam 1 wadah dengan label yang jelas termasuk nama obat, dosis, ketersediaan, dan lain sebagainya.
  5. Untuk penyimpanan obat berjenis narcotic agar diatur pada wadah atau lemari yang terpisah dengan label yang jelas.

Sedangkan untuk labeling, beberapa hal yang menjadi rekomendasi adalah :

  1. Perbanyak white space agar nama obat yang tertulis bisa lebih mudah dibaca.
  2. Gunakan generic name, hal ini untuk meminimalkan kebingungan apabila rumah sakit mengganti supplier obat atau supplier mengganti tampilan package dari beberapa obat tertentu.
  3. Penggunaan huruf yang direkomendasikan untuk labeling adalah jenis Arial dengan ukuran 16-20, sentence-style lettering, dan penggunaan TALLman lettering untuk membedakan obat dengan pengejaannya, misalnya dimenhyDRINATE atau diphenhydrAMINE
  4. Penempatan label harus di depan tempat penyimpanan jangan di permukaan yang melengkung. Selain itu, label harus memuat kuota obat yang tersedia untuk mempermudah proses pengajuan/ permintaan apabila habis, namun yang perlu diperhatikan untuk kuota label harus bias dibedakan dengan dosis bias menggunakan warna yang berbeda atau tulisan yang berbeda sehingga tidak bingung.

Penyimpanan dan labeling memang masih menjadi hal yang dianggap remeh untuk sebagian staf rumah sakit, namun untuk patient safety, hal ini sangat diperlukan selain untuk menjamin ketepatan pemberian obat, penyimpanan dan labeling yang baik juga mambantu dalam pengelolaan dan perencanaaan obat kedepannya sehingga bisa lebih terstruktur dengan baik.

Oleh : Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran

Sumber : Shultz, et all. 2012. Standardizing the Storage and Labelling of Medications : Part I and Part II. CJPH-Vol 60, No. 2 & No. 3, April and June 2007

www.ismp-canada.org/download/cjhp/cjhp0706.pdf 
www.ismp-canada.org/download/cjhp/cjhp0704.pdf 

{module [150]}

Meningkatkan Keselamatan Pasien dalam Komunikasi Lisan atau Telepon

Pesan atau komunikasi secara lisan lebih berpeluang untuk terjadi kesalahan dibanding dengan pesan yang tertulis atau dikirim secara elektronik. Berbagai permasalahan yang dapat terjadi dan ‘mengganggu’ proses komunikasi lisan antara lain; dialek, artikulasi, aksen bicara yang berbeda-beda, backsound, interupsi, nama obat yang tidak familiar, serta terminologi. Setelah pesan secara lisan diterima harus ditranskripsikan ke dalam pesan atau perintah tertulis yang dapat menambah kompleksitas dan risiko pada proses pemesanan. Satu-satunya ‘catatan’ nyata mengenai pesan lisan ini adalah ingatan pihak-pihak yang terlibat.

Pada saat penerima mencatat pesan lisan, penulis resep berasumsi bahwa penerima pesan mengerti dengan benar. Tidak ada seorangpun kecuali penulis resep yang dapat memverifikasi apakah yang didengar oleh penerima pesan adalah benar. Dan apabila kemudian perawat yang menerima pesan menelpon ke apotek terkait pesan atau perintah tersebut maka akan membuka peluang lebih tejadinya kesalahan. Apoteker bergantung pada keakuratan transkripsi pesan tertulis oleh perawat dan pengucapannya ketika dibacakan kepada apoteker. Nama obat yang terdengar mirip pengucapannya juga mempengaruhi akurasi pesan atau perintah lisan. Banyak laporan yang disampaikan kepada PA-PSRS (Patient Safety Advisory-Pennsylvania Safety Reporting System) terkait nama obat yang salah dengar (misheard) seperti; pengucapan erythromycin yang mirip dengan azithromycin, pengucapan klonopin dengan clonidine. Selain itu kesalahan dengar tidak hanya terbatas pada pengucapan nama obat tetapi dapat terjadi pada pengucapan dosis obat, seperti; pengucapan toradol 50mg padahal dosis yang dimaksud adalah 15mg, pasien biasanya mengkonsumsi 5 tablet phenobarbital 30mg dan dokter memberikan phenobarbital 530mg.

Penyampaian pesan pemberian obat secara bersamaan juga berpeluang menimbulkan kesalahan. Institute for Safe Medication Practices (ISMP) menerima laporan kasus bayi yang lahir prematur mengalami permasalahan pernafasan setelah lahir, bayi tersebut rencananya akan dibawa ke NICU di RS anak terdekat. Sambil menunggu proses transfer, dokter memberikan pesan atau perintah secara lisan untuk memberikan ampicilin 200mg, gentamicin 5mg, dan perawat salah dengar bahwa antibiotik kedua yang diperintahkan adalah gentacimin 500mg, dan karena apotek sudah tutup maka diberikan obat yang dinilai setara yang tersedia, namun ternyata telah terjadi medication error, dan hal tersebut diketahui ketika kru ambulans dari RS anak datang dan menemukan bahwa tingkat gentacimin pada bayi tersebut 590mcg/mL.

Medication error juga dapat terjadi akibat kesalahan dalam mengkomunikasikan hasil laboratorium. Laporan yang diterima PA-PSRS menyebutkan bahwa banyak terjadi kesalahan akibat salah tafsir kadar gula darah untuk pasien terapi insulin. Misalnya kasus dimana pasien diberi 10 unit insulin reguler berdasarkan informasi yang disampaikan secara lisan bahwa gula darah pasien menjadi 353, padahal gula darah pasien tersebut 85.

Masalah signifikan lainnya yang dapat muncul akibat penggunaan perintah lisan adalah gangguan komunikasi terkait informasi pasien yang relevan, seperti; daftar obat saat ini, diagnosis, kondisi co-morbid, dan alergi. Ketika pengobatan dipesan secara lisan dan sistem pengecekan apotek tidak berjalan, maka masalah lainnya akan timbul. Salah satu contoh kasus yang diterima PA-PSRS adalah kejadian dimana seorang perawat menerima pesan secara lisan dari dokter untuk zosyn, pada dokumen pasien disebutkan bahwa pasien alergi terhadap penicillin. Baik perawat dan dokter sama-sama tidak menyadari bahwa zoysin kontraindikasi untuk pasien tersebut.

Pentingnya mengelola pesan atau perintah secara lisan juga mendapat perhatian dari The Joint Commission Accreditation of Healthcare Organizations (JCAHO) dengan menambahkan sasaran patient safety nasional untuk mengatasi kecenderungan kesalahan prosedur perintah lisan. Tujuannya menyebutkan bahwa penerima pesan lisan atau telpon harus menuliskan pesan lengkap atau mengetiknya dalam komputer kemudian membacanya kembali dan menerima konfirmasi dari pemberi pesan atau hasil tes.

Fax, surat elektronik, dan penerimaan pesan secara komputerisasi dapat mengurangi kebutuhan perintah atau pesan secara lisan untuk situasi yang tidak gawat, namun sepertinya tidak mungkin untuk benar-benar menghilangkan komunikasi secara lisan tersebut. Untuk itu berbagi praktik yang aman atau safe practices dengan perawat, apoteker, dokter di unit kerja dapat menstimulasi diskusi. Meskipun mungkin tidak semua saran feasibel diterapkan di setiap organisasi tetapi dapat dipergunakan unttuk mengevaluasi praktik yang terjadi di organisasi tersebut. Safe practices tersebut antara lain meliputi:

  • Membatasi komunikasi lisan untuk peresepan atau perintah pengobatan pada situasi yang mendesak dimana tidak memungkinkan untuk dapat langsung menulis atau menggunakan komunikasi elektronik
  • Untuk pemberi resep mengucapkan perintah atau pesan secara jelas. Untuk penerima pesan menulis pesan atau mengetiknya dalam komputer, membaca kembali, menerima konfirmasi dari individu yang memberikan pesan
  • Untuk semua pesan terkait pengobatan termasuk tujuan dari obat tersebut dipastikan agar ‘masuk akal’ dalam konteks kondisi pasien
  • Termasuk dosis mg/ kg seiring dengan dosis spesifik untuk pasien untuk semua pesan atau perintah lisan pengobatan neonatal dan pediatrik
  • Untuk pemberi resep menanyakan informasi penting pasien seperti alergi obat, hasil lab, diagnosis atau kondisi co morbid yang mungkin akan berefek pada obat yang diberikan
  • Menyebutkan dosis obat dalam unit berat, misalnya: mg, gr, mEq, mMol
  • Apabila memungkinkan ada orang kedua yang mendengarkan pesan/ perintah lisan tersebut
  • Mencatat pesan/ perintah lisan secara langsung ke dalam lembar pesanan yang ada di tabel pasien
  • Penerima perintah/ pesan lisan dapat diminta menandatangani, menulis tanggal, waktu, dan catatan pesanan sesuai dengan prosedur peresepan yang ditentukan
  • Larangan perintah lisan untuk kemoterapi karena kompleksitasnya dan kesalahan fatal yang dapat terjadi
  • Larangan permintaan obat dari unit keperawatan ke apotek kecuali pesan lisan tersebut ditranskripsikan ke dalam form pesanan serta dilakukan sekaligus
  • Membatasi pesan/ perintah lisan untuk obat yang ada di dalam formularium
  • Membatasi jumlah tenaga yang kemungkinan akan menerima perintah/ pesan lisan untuk membantu memastikan ‘keterbiasaan’ dengan pedoman fasilitas dan kemampuan untuk mengenali penelpon, sehingga dapat mengurangi potensi perintah/ pesan palsu yang disampaikan melalui telpon
  • Apabila memungkinkan memiliki apoteker penerima perintah/ pesan lisan untuk pengobatan dan memastikan mekanisme bagi apoteker untuk menuliskan perintah lisan langsung ke dalam rekam medis
  • Meningkatan kesadaran permasalahan obat

Terdapat tiga hal yang dapat dilakukan petugas Patient Safety untuk meningkatkan proses keamanan obat terkait dengan perintah/ pesan secara lisan:

  • Menentukan apakah kebijakan dan prosedur di unit kerja sudah membahas mengenai perintah atau komunikasi secara lisan
  • Apabila sudah ada kebijakan dan prosedur yang relevan, dapat menggunakanelemen yang ada dalam tabel di bawah ini sebagai ceklis untuk mengidentifikasi potensi kesenjangan atau peluang untuk pengembangan

    tabel1
    tabel1

  • Apabila kebijakan dan prosedur sudah membahas semua elemen lingkungn yang aman terkait dengan perintah lisan, maka untuk mengetahui sejauh mana dokter mengikuti prinsip-prinsip tersebut dapat dipergunakan tabel berikut:

    table3

Disarikan Oleh: Lucia Evi I

Sumber : Improving the Safety of Telephone or Lisan Orders. The PA-PSRS Patient Safety Advisory—Vol. 3, No. 2 (June 2006)

http://patientsafetyauthority.org/ADVISORIES/AdvisoryLibrary/2006/Jun3(2)/Pages/01b.aspx 

{module [150]}