Medical Error: Perspektif Pasien

Medical error merupakan salah satu topik yang masih banyak dibahas dalam berbagai kesempatan di bidang pelayanan kesehatan. Medical error sendiri merupakan suatu adverse event yang dapat dicegah dengan adanya pengetahuan medis saat ini (Institute of Medicine, 1999). Medical error dapat terjadi pada berbagai aspek pemberian layanan kesehatan seperti; pemberian obat, operasi, diagnosa, peralatan, dan hasil laboratorium sekalipun dapat berpeluang terjadinya suatu kesalahan medis. Banyak kajian yang dilakukan terkait dengan terjadinya medical error ini, namun demikian informasi yang terkait dengan perspektif pasien terhadap medical error ini dirasakan masih terbatas.

Penelitian yang terkait dengan pemahaman pasien terhadap medical error dinilai terbatas, rata-rata penelitian lebih berfokus pada bagaimana pasien menginginkan kejadian medical error diungkapkan kepada mereka. Beberapa penelitian juga mengungkapkan bagaimana pasien menginginkan dukungan emosi atas terjadinya kesalahan medis tersebut, termasuk di dalamnya permintaan maaf.

Pada salah satu penelitian kualitatif deskriptif yang dilakukan dengan melibatkan 38 pasien sebagai responden, diungkapkan bahwa pasien lebih fokus pada aspek akses pelayanan kesehatan, gangguan komunikasi antara pasien dan provider dibandingkan aspek teknis terkait terjadinya medical error itu sendiri (Kuzel et al., 2004). Hal ini mendasari ketertarikan dilakukannya suatu penelitian untuk menggali lebih jauh perspektif pasien terhadap medical error yang terjadi, karena perspektif penerima layanan adalah salah satu alat yang dapat mendukung peningkatan proses pemberian pelayanan kesehatan. Pada artikel ini, penelitian dilakukan dengan melibatkan 30 anggota komunitas yang merupakan sampel yang diambil secara acak dari suatu komunitas yang besar. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan metode wawancara melalui telepon. Sejumlah 29 responden bersedia berpartisipasi dan satu responden tidak bersedia berpartisipasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis konten kualitatif. Hasil dari penelitian yang dilakukan secara ringkas adalah sebagai berikut:

  • Arti Medical Error
    Pada penelitian ini definisi medical error bagi responden disamakan dengan buruknya komunikasi. Medical Error dirasakan oleh responden sebagai adanya gap komunikasi, missed communication, kemampuan dan gaya komunikasi interpersonal dokter ataupun provider pelayanan kesehatan lain yang kurang baik.
  • Kurangnya Rasa Hormat
    Medical error dirasakan oleh responden dari berbagai hal seperti; kurangnya rasa respek yang dirasakan oleh responden terkait penampilan fisik responden, adanya gap pemahaman terkait dengan budaya, serta perasaan inferior yang dirasakan responden terkait komunikasi yang dilakukan oleh provider.
  • Menyalahkan
    Responden merasa ‘disalahkan’ dan juga ‘dihakimi’ oleh provider terkait gaya hidup dan kebiasaan yang mereka pilih sehingga menyebabkan keadaan yang terjadi saat ini.
  • Stigma
    Responden merasa di’labeli’ memiliki gangguan mental, emosional yang tidak seimbang, potensi ancaman keamanan. Terdapat responden yang berpendapat bahwa telah terjadi perilaku yang tidak profesional dalam proses komunikasi antara provider dan pasien. Salah satu contohnya adalah provider yang mengungkapkan masalah personal pasien dan tekanan harian yang dialami pasien di ruang gawat darurat atau psikiatri yang membahas keinginan bunuh diri dengan pasien gangguan mental dan keluarganya. Beberapa contoh tersebut dilihat sebagai suatu error.
  • Cara Untuk Meningkatkan Komunikasi Antara Pasien-Provider Pelayanan Kesehatan
    Medical error dirasakan sebagai error dalam komunikasi, penelitian yang dilakukan dengan 30 responden mengarah pada bagaimana meningkatkan komunikasi antara provider dengan pasien. Responden meyakini bahwa dengan meningkatkan komunikasi antara provider dan pasien maka akan dapat mengurangi terjadinya berbagai jenis error. Kemampuan ‘mendengarkan’ pasien menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan serta pengakuan provider pelayanan kesehatan terhadap adanya gap pengetahuan.

Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa medical error dapat terjadi pada setiap aspek dalam proses pemberian pelayanan kesehatan termasuk didalamnya pada saat pemberian obat kepada pasien (medication error). Hal ini juga menjadi salah satu topik yang terus menerus dibahas karena masih banyaknya kasus medication error yang terjadi, dimana terjadinya kesalahan obat tersebut dapat diakibatkan oleh sistem pengelolaan obat yang diterapkan oleh saranan pelayanan kesehatan maupun diakibatkan oleh kelalaian dari petugas. Mengacu hasil penelitian pada artikel ini dapat ditarik suatu benang merah bahwa pada upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, provider juga harus memperhatikan masukan dari pasien sebagai penerima pelayanan kesehatan. Perspektif pasien menjadi penting karena ternyata dapat menggali lebih jauh, apa yang sebenarnya menjadi pendapat dan pandangan pasien terkait medical error ini.

Pencegahan terhadap medical error dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya seperti yang disampaikan oleh Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ), US Department of Health & Human Services, dimana cara terbaik untuk membantu mencegah terjadinya medical error adalah menjadi pasien yang terlibat aktif dengan anggota tim pelayanan kesehatan dengan memperhatikan berbagai aspek dalam pelayanan kesehatan seperti; pengobatan, waktu tinggal di rumah sakit, operasi, serta beberapa langkah lainnya terkait pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien. Secara lengkap AHRQ merilis 20 tips yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya medical error tersebut (link terlampir).

Oleh : Lucia Evi I.

Sumber :

{module [150]}

Pemilihan Instrumen Skrining Akurat untuk Perawatan Nutrisi Terbaik

Malnutrisi protein-energi pada pasien rawat inap usia lanjut semakin sulit dikenali dan termasuk rendah tingkat perawatannya meskipun termasuk kategori prevalensi tinggi. Untuk mengenali kejadian malnutrisi, perlu dilakukan skrining malnutrisi. Skrining malnutrisi memungkinkan identifikasi dan perawatan malnutrisi dini yang bermanfaat sebagai tahap awal perawatan nutrisi. Skrining membutuhkan instrumen yang bersifat cepat-sederhana-dan akurat untuk mengidentifikasi pasien dengan kemungkinan malnutrisi.

Idealnya, instrumen skrining dapat mengidentifikasi semua pasien malnutrisi yang dinilai (tinggi sensitivitas) dengan skirining positif mengidentifikasi bahwa tidak ada pasien yang bernutrisi baik (tinggi nilai positif prediktif). Banyak instrumen skrining tervalidasi yang direkomendasikan digunakan baik untuk pasien usia lanjut maupun untuk populasi rumah sakit (tabel 1). Malnutrition Screening Tool (MST) adalah instrumen skrining yang yang paling banyak digunakan di rumah sakit di Australia. Sedangkan, Nutrition Risk Screening (NRS 2002) adalah instrumen yang sukses digunakan di seluruh Eropa. Mini-Nutritional Assessment Short Form (MNA-SF) telah direkomendasikan untuk skrining penduduk lanjut usia. Simplified Nutritional Appetite Questionnaire (SNAQ) dan Rapid Screen dikembangkan di populasi komunitas penduduk namun belum divalidasi untuk setting rumah sakit. Walaupun sudah banyak instrumen yang divalidasi, keterbatasan utama dalam proses validasi ini adalah ketiadaan “gold standard” untuk mendiagnosis malnutrisi. Terdapat kesamaan yang jelas antar instrumen-instrumen ini. Pada umumnya, seluruh instrumen ini mengandung perubahan berat badan, asupan makanan, perhitungan indeks massa tubuh, dan penyakit akut.

art-11feb15

Perlu dicatat bahwa skrining nutrisi berbeda dari penilaian nutrisi. Instrumen penilaian nutrisi seperti Subjective Global Assessment (SGA) dan Mini-Nutritional Assessment (MNA) umum digunakan sebagai instrumen penilaian nutrisi tervalidasi. Keduanya menggunakan parameter-parameter untuk membuat diagnosisi nutrisi dan perawatan awal. Instrumen-instrumen ini telah direkomendasikan sebagai keluaran dalam uji klinik dan memprediksi keluaran kesehatan pada pasien rawat inap usia lanjut.

Terdapat perbedaan kunci antara instrumen penilaian nutrisi dan skrining nutrisi. SGA dan MNA adalah penilaian komprehensif yang digunakan oleh profesional (seperti ahli gizi, dokter, perawat terlatih, atau asisten peneliti) untuk mendiagnosis malnutrisi dan menginisiasi intervensi nutrisi. Sebaliknya, instrumen skrining nutrisi (pada tabel 1) dimaksudkan sebagai metode cepat dan mudah untuk mengidentifikasi kemungkinan malnutrisi dan mentriase pasien untuk penilaian dan intervensi nutrisi komprehensif. Walaupun SGA dan MNA telah direkomendasikan untuk mendiagnosis malnutrisi pada orang tua, terdapat perbedaan substansial antara parameter-parameter penilaian ini. Perbedaan parameter ini memungkinkan adanya perbedaan pada identifikasi grup “beresiko”.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa status nutrisi menurun selama proses perawatan karena asupan nutrisi yang kurang optimal. Pada pasien rawat inap usia lanjut, jelas sekali bahwa malnutrisi saat rawat inap tidak serta merta memprediksi rendahnya asupan nutrisi saat perawatan. Faktanya, beberapa pasien bernutrisi baik ternyata makan dengan buruk, menunjukkan grup pasien kedua yang seharusnya diidentifikasi segera pada masa awal masuk ke rumah sakit untuk mecegah malnutrisi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya skrining dan re-skrining pasien usia lanjut untuk mengidentifikasi tidak hanya pasien yang telah mengalami malnutrisi tetapi juga pasien yang berresiko mengalami rendah asupan gizi selama masa rawat inap. Walaupun skrining malnutrisi umum digunakan untuk mengidentifikasi malnutrisi yang telah ada, belum ada instrumen skrining yang secara proaktif mengidentifikasi pasien yang berresiko rendah asupan nutrisi selama rawat inap. Kenyataan ini melatari penelitian yang dilakukan Young et al.

Penelitian yang dilakukan Young et al ini bertujuan untuk membandingkan instrumen-instrumen skrining terhadap instrumen penilaian nutrisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MNA dapat mengidentifikasi pasien rawat inap usia lanjut yang termasuk resiko malnutrisi dan yang sudah mengalami malnutrisi. Sebaliknya SGA hanya dapat mengidentifikasi kasus malnutrisi saja. Ini berarti MNA dapat menjadi instrumen yang cocok ketika pelayanan yang diberikan bertujuan untuk mencegah malnutrisi atau bila disebuah rumah sakit terdapat tenaga ahli gizi yang memadai. Sedangkan, SGA akan lebih cocok pada seting akut untuk mengidentifikasi malnutrisi yang sudah ada untuk memprioritaskan perawatan dalam rentang waktu pendek selama masa rawat inap.

Secara ringkas, semua instrumen skrining nutrisi, selain Rapid Screen, akurat dalam mengidentifikasi malnutrisi menggunakan SGA sehingga direkomendasikan untuk digunakan pada pasien rawat inap usia lanjut. Walaupun MNA-SF juga akurat, sebaiknya hanya digunakan ketika rumah sakit memiliki sumber daya yang memadai untuk melakukan penilaian nutrisi dan melakukan intervensi bagi semua pasien berresiko. Ketika menentukan instrumen skrining yang akan digunakan dalam praktek, klinisi harus mempertimbangkan kesederhanaan dan kemudahan implementasi instrumen dan sumber daya yang tersedia untuk menyediakan perawatan nutrisi untuk merawat semua pasien berresiko. Instrumen yang masuk dalam kategori akurat dan mudah digunakan diantaranya adalah MST. Dalam proses perawatan nutrisi juga harus diperhatikan bahwa perlu ada re-skrining dan monitoring asupan nutrisi untuk memungkinkan identifikasi awal dan mencegah penurunan nutrisi. Alasannya, tidak ada satupun instrumen yang dapat memprediksi rendahnya asupan nutrisi selama masa rawat inap.

Sumber: Young AM et al., 2013, Malnutrition screening tools: Comparison against two validated nutrition assessment methods in older medical inpatients, Nutrition: 29 (2013) 101–106.

http://www.nutritionjrnl.com/article/S0899-9007(12)00174-8/pdf 

Text: drg. Puti Aulia Rahma, MPH

{module [150]}

Penilaian Status Gizi Pasien Rawat Inap

Di zaman modern ini, gemuk dan kurus menjadi hal yang paling dihindari oleh semua orang, khususnya wanita. Hampir setiap hari wanita menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan untuk mendapatkan ukuran proporsional. Perilaku hidup sehatpun acapkali dijalani. Wanita rela tidak makan makanan favorit. Bagaimana ketika mereka sakit? Apakah berat badan dan tinggi badan rutin diukur?

Unit layanan kesehatan universitas Aberdeen mengeluarkan hasil yang menggemparkan penduduk Skotlandia. Universitas Aberdeen melakukan survei pada dua belas kasus untuk melihat seberapa sering berat badan dan tinggi badan diukur selama pasien di rawat inap. Informasi berat dan tinggi badan diperoleh dari catatan medis dan catatan perawat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 kasus yang diteliti yaitu general medicine, heart failure, general surgery, stroke, cholecystectomy, colorectal surgery, obstetrics and gynaecology, pelvic floor repair, hysterectomy, orthopaedics, knee replacement, hip replacement, dan overall menunjukkan stroke paling jarang dilakukan pengukuran berat badan yaitu 37 % sedangkan yang paling sering dilakukan pengukuran berat badan adalah hystrectomy yaitu 87%. Kasus yang paling sering dilakukan pengukuran berat dan tinggi badan yakni Hip replacement 69%. Universitas Aberdeen juga menampilkan kasus pasien yang mengalami gizi buruk selama di rawat inap yaitu stroke dengan IBM kurang dari 18,5.

Kurang gizi menyebabkan apatis mental, kekuatan otot berkurang, gangguan fungsi jantung dan gangguan kekebalan terhadap infeksi. Defisit ini akan meningkatkan kecenderungan untuk mengembangkan komplikasi dan menghambat pemulihan. Survei besar orang dari segala usia dirawat di rumah sakit di Inggris telah menunjukkan bahwa lebih dari 20% yang kurang gizi dan bahwa kebanyakan orang kekurangan gizi memiliki asupan makanan yang kurang ketika di rumah sakit.

Pengukuran berat badan dan tinggi badan digunakan untuk mendeteksi kebutuhan tubuh. Kekurangan gizi menyebabkan komplikasi dan menghambat pemulihan pasien sehingga length of stay lama. Prevalensi gizi buruk di rumah sakit seharusnya tidak terjadi. Bagaimana manajemen gizi pasien rawat inap di Indonesia?

Sumber: Campbell et all. 2011. Assessment of nutritional status in hospital in-patients. Q J Med 2002; 95:83–87
http://qjmed.oxfordjournals.org/content/qjmed/95/2/83.full.pdf 

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH

{module [150]}

Kurus, Kurang Gizi atau Malnutrisi? Hati-hati, Pasien Akan Dirawat Lebih Lama

Sektor gizi seringkali masih menjadi sektor yang terpinggirkan di rumah sakit, fungsinya hanya sebatas memenuhi kebutuhan asupan makan bagi petugas maupun pasien. Namun bila ditelusur lebih mendalam, ternyata sektor gizi memegang salah satu peranan penting sebagai penentu lamanya rawat inap pasien di rumah sakit selain dari ketepatan diagnosis dan pengobatan dokter. Diketahui bahwa pada pasien malnutrisi (gizi buruk), rerata waktu rawat inap di rumah sakit adalah tujuh hari, dan pada pasien gizi baik dengan kondisi sama hanya diperlukan lima hari. Pasien gizi buruk juga memiliki risiko dua kali lebih besar bila dibandingkan dengan gizi baik untuk kembali dirawat dalam waktu dua minggu pasca kepulangan. Biaya rumah sakit juga mengalami peningkatan yang signifikan pada pasien dengan gizi buruk (Lim, Benjamin, Chan, Loke, Ferguson, & Daniels, 2011).

Pada era Jaminan Kesehatan Nasional saat ini, lamanya hari rawat tentu akan berdampak buruk pada kondisi keuangan rumah sakit karena klaim pembayaran menggunakan sistem paket yang mematok tarif pengobatan, tanpa memandang jumlah hari rawat. Untuk itulah diperlukan kerjasama berbagai sektor untuk mencapai efisiensi. Dokter UGD harus dapat mengidentifikasi dan membedakan pasien-pasien yang datang dengan kondisi gizi buruk. Agar penanganan gizi dapat dilakukan seketika mungkin sebelum pasien tiba di bangsal, dokter harus dapat menentukan status gizi meskipun pasien tidak sadarkan diri. Anamnesis lengkap kepada keluarga tentu akan sangat membantu.

Pada kondisi sakit berat, pasien akan mengalami reaksi katabolisme dimana struktur kompleks akan dipecah menjadi sebuah struktur sederhana dan menghasilkan energi untuk kelangsungan hidup sel tubuh yang vital, seperti otak dan jantung (Prins, 2010). Tanpa asupan yang baik, reaksi katabolisme berlebih berakibat pada hilangnya energi. Pasien dengan risiko gizi buruk tinggi dan memerlukan perhatian khusus ditunjukkan pada tabel 1 (Robert H, Demling MD, Leslie DeSanti RN. , 2003).

Tabel 1. Pasien Dengan Risiko Tinggi Gizi Buruk

Berat Badan pasien < 80% Berat Ideal

Berat Badan Pasien > 120% Berat Ideal

Kehilangan Berat > 10% dalam 3 bulan

Pemakai zat terlarang / peminum alkohol

Pasien dengan kondisi kehilangan nutrisi

  • Malabsorbsi
  • Short Bowel Syndrome
  • Fistula usus
  • Abses
  • Dialisis

Pasien dengan peningkatan kebutuhan cairan

  • Trauma
  • Luka Bakar
  • Infeksi Berat

Apabila pasien memiliki salah satu risiko di atas, maka ia harus diawasi agar tidak terjatuh pada kondisi gizi buruk. Screening awal oleh dokter akan dilanjutkan screening mendalam oleh dietician rumah sakit menggunakan berbagai instrumen yang tersedia seperti Mini Nutritional Assesment (MNA) atau Nutritian Risk Index (NRI). Sedangkan gejala pasien dengan gizi buruk adalah sebagai berikut:

Tabel 2 kriteria diagnosis pasien gizi buruk

Apabila Pasien memiliki 1 atau lebih gejala ini

Apabila Pasien memiliki 2 atau lebih gejala ini

  • BMI < 16
  • BMI < 18,5
  • Kehilangan berat badan yang tidak wajar > 15% dalam 3-6 bulan
  • Kehilangan berat badan yang tidak wajar > 10% dalam 3-6 bulan
  • Intake makanan yang rendah > 10 hari
  • Intake makanan yang rendah > 5 hari
  • Kadar K, PO dan Mg yang rendah
  • Riwayat penggunaan obat yang tidak baik, termasuk insulin, kemoterapi atau diuretik yang berlebih

Pasien dengan kondisi gizi buruk HARUS mendapatkan penanganan yang berbeda dibandingkan pasien gizi baik, yang terjadi saat ini adalah pengelompokan diet hanya berdasarkan kondisi umum pasien seperti diet diabetes melitus, diet ginjal atau diet jantung. Padahal kebutuhan kalori dan kondisi pasien sangatlah beragam meskipun pada penyakit yang sama terlebih bila pasien tersebut berada di unit perawatan intensif. Asesmen rutin dari dietician di dalam penentuan menu makanan harian sangatlah yang dibutuhkan. Gagal untuk merencanakan diet bisa menjadi bumerang, dimana cost yang dikeluarkan rumah sakit akan semakin besar dengan pemberian nutrisi yang tidak perlu dan hari rawat yang memanjang.

Oleh : dr. M. Hardhantyo Puspowardoyo

Bibliography
Lim, S. L., Benjamin, K. C., Chan, Y. H., Loke, W. C., Ferguson, M., & Daniels, L. (2011). Malnutrition and its impact on cost of hospitalization, length of stay, readmission and 3-year mortality. Clinical Nutrition , 345 – 350. http://eprints.qut.edu.au/50643/2/c50643.pdf 
Prins, A. (2010). Nutritional assessment of the critically ill patient. Clinical Nutrition , 11 – 18. www.ajol.info/index.php/sajcn/article/download/52741/41346 
Robert H, Demling MD, Leslie DeSanti RN. . (2003). Protein-Energy Malnutrition, and the non healing cutaneous wound. Medscape CME . http://www.medscape.org/viewarticle/418377 

{module [150]}

Program Peningkatan Nutrisi di Rumah Sakit

Pelayanan pendukung medis seperti instalasi gizi di suatu rumah sakit merupakan suatu kegiatan yang membantu dalam upaya penyembuhan dan pemulihan pasien, yang kegiatannya dapat dari usaha dapur sampai pengolahan diet bagi penderita. Bagian ini harus diatur dengan mempertimbangkan kebutuhan klinis, kebutuhan masyarakat, keamanan, kebersihan, serta manajemen yang tepat guna dalam memperbaiki pelayanan gizi di Rumah Sakit. Proses penyembuhan pasien yang berlangsung dibantu dengan adanya makanan yang memenuhi syarat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Ada beberapa prinsip-prinsip utama yang dilakukan dalam rangka mendukung peningkatan program gizi pelayanan kesehatan di rumah sakit menurut NHS Scotlandia, dimana program ini mencerminkan pendekatan peningkatan pelayanan kesehatan yang memberikan saran dan bimbingan serta dukungan yang kuat secara berkelanjutan baik implementasi perbaikan serta link untuk feedback. Adapun hal yang perlu diperhatikan yakni memusatkan perhatian pada stakeholder karena merupakan kunci dengan membangun budaya perbaikan untuk mencapai perbaikan yang terukur, menjaga dan membangun prestasi yanga ada, memperluas fokus dari pelayanan perawatan primer/masyarakat, membangun multidisiplin kerja antara pengaturan perawatan yang berbeda, membangun pemahaman mengenai perbaikan antara perawatan staf di rumah sakit dan manajer serta melakukan integrasi dengan program nasional mengenai gizi.

Ada lima kunci dalam program perbaikan gizi di rumah sakit yang dapat dilakukan yakni:

  1. Nutrisi yang cukup merupakan bagian yang penting dari pelayanan yang berpusat ke orang, keamanan dan pelayanan yang efektif. Sehingga perlu ditekankan bahwa penting untuk membuat pengalaman yang positif bagi pasien dengan memberikan perawatan gizi yang baik.
  2. Dukungan dari manajer senior
  3. Perlunya kejuaraan gizi seperti yang dilakukan di NHS Scotlandia agar dapat meningkatkan gizi di RS.
  4. Perubahan harus di uji coba di wilayah yang kecil sebelum diluncurkan.
  5. Memproduksi makanan kemasan yang dapat membantu meningkatkan pengalaman waktu makan pasien.

Ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan penyediaan layanan gizi yang baik, diantaranya perlu untuk melakukan kajian yang sistematis berdasarkan bukti pada layanan gizi untuk mengidentifikasi sejauh mana kita perlu melakukan program perbaikan kualitas pelayanan. Dalam penelitian NHS Healthcare Skotlandia juga mempriortaskan program perbaikan pada:

  1. Meningkatkan proses waktu makan;
  2. Memfasilitasi manajemen diri untuk layanan gizi sebagai kebutuhan jangka panjang
  3. Meningkatkan perpindahan antara rumah sakit dan perawatan rumah.

Program ini menarik untuk peningkatan mutu dan program keselamatan pasien karena tim didorong untuk mengembangkan laporan kemajuan, studi kasus dan cerita untuk mendukung proses perbaikan dan menunjukkan kemajuan mereka sendiri. Tim juga menggunakan telekonferensi yang dilakukan antara sesi belajar untuk mempertahankan dukungan dan memberikan kesempatan pada tim untuk belajar lebih lanjut untuk berbagi pengalaman dan belajar dari satu sama lain. Tujuan umumnya adalah untuk memberikan perbaikan dalam bidang-bidang prioritas perawatan gizi yang disepakati. Serta mendukung aktivitas spesifik di lokasi uji dan sesi pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang peningkatan gizi.

Berbagai pendekatan untuk menyebarkan perbaikan ini telah diadopsi dan telah membantu meningkatkan kesadaran di kalangan praktisi tentang potensi untuk meningkatkan pelayanan gizi. Adanya umpan balik dari pasien, perawat dan staf merupakan kunci untuk melakukan perbaikan. Umpan balik dari pasien, perawat dan staf kunci untuk menginformasikan perbaikan ini. Berikut adalah beberapa panduan untuk membuat suatu pertemuan untuk meningkatkan program perbaikan gizi d RS:

  1. Sesi pelatihan dalam bentuk cerita digital
  2. Pedoman yang digunakan untuk mengamati pengalaman pasien, termasuk alat-alat observasi dan teknik;
  3. Alat untuk mengamati interaksi pada waktu makan;
  4. Bimbingan dan materi pelatihan untuk mendukung alat observasi;
  5. Kartu komentar untuk menangkap pengalaman dari pemantauan waktu makan.

Program dengan panduan di atas telah memberikan kontribusi terhadap NHS dalam mempertimbangkan perawatan gizi dari perspektif yang lebih strategis, dan telah membantu untuk menempatkan perawatan gizi di garis depan kebijakan lokal dan nasional. Dukungan NHS dalam meningkatkan pelayanan gizi melalui pendidikan dan menjalankan praktek inovatif, juga telah membantu membangun kerja kolaboratif antara staf di beberapa daerah, dengan perawat berbasis lingkungan, ahli gizi dan staf katering yang mengakui bahwa ada peningkatan pemahaman peran satu sama lainnya.

Memberikan perawatan gizi yang baik adalah kunci untuk pengalaman pasien kesehatan dan elemen inti dari perawatan orang berpusat. Umpan balik yang diterima dari staf kesehatan, pasien dan perawat selama program ini jelas mencerminkan ini perawatan gizi harus tetap menjadi prioritas nasional, lokal dan individu.

Oleh : Andriani, MPH
Sumber : A hospital nutrition improvement programme. Nursing Times 02.10.13 / Vol 109 No 39 /
http://www.nursingtimes.net/Journals/2013/09/27/a/p/r/021013-A-hospital-nutrition-improvement-programme.pdf

{module [150]}

Nutritional Risk Screening, Sebagai Langkah Awal Penanganan Malnutrisi pada Pasien

Dengan semakin meningkatnya penyakit degeneratif, pengelolaan gizi di unit pelayanan rumah sakit menjadi semakin penting untuk menjamin mutu pelayanan yang diberikan. Hal ini ditambah dengan semakin luasnya clinical services yang ditawarkan dan perkembangan ekonomi, perhatian akan kejadian malnutrisi pada pasien di rumah sakit wajib mendapatkan penanganan yang serius. Beberapa studi menunjukan bahwa prevalensi malnutrisi pada pasien di rumah sakit meningkat antara 20-50%, walaupun demikian banyak kejadian tersebut tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan perawatan karena kurangnya perhatian dan rendahnya pengetahuan dari staf rumah sakit. Oleh karena itu , Nutrition Day Audit Team di Eropa menyarankan agar nutritional risk screening dijadikan sebagai titik awal yang sangat penting untuk meningkatkan perawatan gizi di rumah sakit di Eropa.

Screening merupakan langkah pertama yang sangat esensial dalam proses perawatan gizi di rumah sakit seperti yang disarankan oleh The Committee of Minister of the Council of Europe. Banyak screening tools yang digunakan untuk menentukan resiko malnutrisi pada pasien di rumah sakit salah satunya adalah Nutritional Risk Screening tools 2002 (NRS 2002) yang direkomendasikan oleh European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN). Salah satu studi yang dilakukan oleh Pavic, dkk di rumah sakit di Kroasia, mereka melakukan screening menggunakan tools tersebut pada 1.696 pasien dimana 329 diantaranya terindikasi mengalami resiko malnutrisi. Mereka juga menemukan bahwa pasien dengan risiko malnutrisi tersebut memiliki jumlah hari perawatan yang lebih lama dibandingkan pasien yang tidak berisiko. Selain itu; Pavic, dkk juga menemukan bahwa angka risiko malnutrisi lebih besar pada kelompok lansia (lebih dari 65 tahun) yakni 22.2% dibandingkan dengan kelompok umur kurang dari 65 tahun.

Studi lain yang dilakukan oleh Holst, dkk menambahkan bahwa malnutrisi juga berkaitan dengan kejadian komplikasi dan bahkan kematian setelah perawatan serta menyebabkan gejala depresi dan kemunduran kualitas hidup. Holst, dkk sangat merekomendasikan perawatan gizi yang intensif terutama untuk pasien lansia (65 tahun ke atas) mengingat kelompok umur ini mempunyai aktivitas fisik yang terbatas, kurang nafsu makan, dan sering mengalami penyakit kronik yang erat hubungannya dengan malnutrisi. Holst, dkk berpendapat bahwa nutritional screening harus fokus pada evaluasi fungsional dan psikologi seperti kemampuan mengunyah, gangguan mengecap rasa, dan sebagainya. Lebih jauh lagi Holst, dkk berharap kalau bisa screening juga mencakup penilaian depresi dimana depresi juga merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan risiko malnutrisi.

Hal ini semakin memperkuat bahwa pengelolaan gizi di rumah sakit sangat dibutuhkan terutama untuk pasien umur 65 tahun ke atas, mengingat semakin meningkatnya penyakit kronik (jantung, diabetes, stroke, dan sebagainya) yang mana sebagian besar penderitanya adalah kelompok umur tersebut. Selain menyarankan untuk menggunakan NSR 2002 atau screening tools lain yang relevan secara rutin; Pavic, dkk juga menekankan pentingnya membangkitkan awareness dari petugas kesehatan dalam perawatan gizi. Sebagai orang yang paling tahu kondisi pasien tentunya mereka perlu mendapatkan pelatihan untuk lebih aware terhadap kondisi pasien terutama pasien dengan risiko malnutrisi pada saat perawatan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah koordinasi yang baik antar unit kerja di rumah sakit dengan instalasi perawatan gizi sehingga intervensi atau perawatan yang diberikan bisa meningkatkan mutu layanan kepada pasien. Semuanya ini akan menjadi lebih baik lagi apabila memperoleh dukungan dari pihak manajemen rumah sakit dengan menetapkan standar pelayanan gizi yang berkualitas.

Oleh : Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran UNDANA
Sumber : Pavic, et all. 2012. Nutritional Screening Model in Tertiary Medical Unit in Croatia. Annals of Nutrition & Metabolism; 61:65-69.

http://www.researchgate.net/publication/230567452_Nutritional_screening_model_in_tertiary_medical_unit_in_Croatia 

Holst, et all. 2012. Empirical Studies : Nutritional Screening and Risk Factors in Elderly Hospitalized Patients: Association to Clinical Outcome?. Scandinavian Journal of Garing Sciences.
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/scs.12010/pdf 

{module [150]}

Guidelines Nutrition Screening: Gizi Baik Pasien Untuk Pelayanan yang Bermutu

Sebesar 30% pasien kurang gizi ketika dirawat di rumah sakit, hal ini merupakan hasil penelitian J. Kondrup et all (2002) di Denmark. Maka, diperlukan perhatian extra terkait perawatan dan pemulihan gizi, selain itu pasien gizi kurang dengan komplikasi penyakit kronis perlu discreening rutin. Sehingga masalah gizi yang mengakibatkan risiko klinis lebih besar dapat diidentifikasi dini. Berikut pedoman risiko gizi buruk sebagai standar umum dan mudah dilakukan oleh pasien.

Tujuan screening

Memprediksi kemungkinan hasil terbaik atau terburuk dan pemberian pengobatan yang tepat. Hasil pengobatan ditaksir dengan cara:

  • Memperbaiki atau mencegah sakit mental dan fungsi fisik
  • Mengurangi komplikasi penyakit dan dampak pengobatan
  • Mempercepat penyembuhan dan pemulihan setelah sakit
  • Mengurangi konsumsi medis misalnya lama tinggal di rumah sakit, lama pengobatan dan perawatan.

Gizi kurang dapat diidentifikasi dengan screening dan sebaiknya tujuan relevan dengan cara taksir dan sesuai keadaan pasien. Gizi kurang dengan atau tanpa penyakit kronis menjadi faktor utama penentu mental atau fungsi fisik seseorang. Penyakit perlu diperhitungkan dalam memberikan takaran gizi sehingga berdampak baik pada kesembuhan pasien.

Pertimbangan metodologi

Screening tools dapat dievaluasi dengan metode. Mengidentifikasi risiko dengan metode medapatkan manfaat intervensi tepat dan memperbaiki hasil screening dengan baik. Selain itu, screening tools biasanya high degree mencakup semua komponen pemecahan masalah. Screening tools digunakan secara reliabel, cepat sederhana, objektif dan intuitif dan tidak diinterpretasikan secara berlebihan. Penggunaan screening tools sebaiknya diatur tata penggunaannya dari rujukan pasien kurang gizi, diperiksa awal oleh dokter ahli, di-screening dan rencana perawatan.

Screening nutrition care

Pasien risiko kurang gizi diidentifikasi awal dengan tata cara yang benar, dan melakukan tindakan perawatan pemulihan gizi dan mengurangi komplikasi dengan tepat. Hal ini dilakukan dengan memperkirakan syarat energi dan protein dengan berat badan dan tinggi badan, memberikan takaran makanan bergizi, oral supplements dan tube feeding sesuai kebutuhan. Berikut tips yang dapat dilakukan:

  • Screening
    Mudah dan prosesnya cepat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Seluruh pasien sebaiknya di-screening untuk mendapatkan cakupan gizi yang tepat.
    • Pasien tidak berisiko, di-screening ulang dengan rutin pada saat dirawat misalnya seminggu,
    • Pasien risiko, direncanakan perawatannya dengan baik oleh tenaga kesehatan dan memberikan cakupan gizi dengan tepat,
    • Pasien risiko dengan masalah metabolisme dan fungsi klinis, direncanakan perawatannya dengan baik, memberikan cakupan gizi yang tepat dan memberikan intervensi klinis dengan tepat. Paling penting para ahli memberikan penilaian awal.
  • Assessment
    Penilaian metabolisme, nutrisi dan fungsi gizi lainnya dilakukan oleh dokter ahli, ahli nutrisi dan ahli gizi perawat sehingga memberikan diagnosis, pemeriksaan laboratorium dengan benar guna memberikan perawatan, mempertimbangkan efek samping dan pada anak memberikan teknik menyusui yang tepat. Dalam assessment, termasuk mengevaluasi, mengukur risiko konsekuensi dari kurang gizi seperti kelemahan otot, kelelahan dan depresi dengan mempertimbangkan obat yang pernah dikonsumsi dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan asupan makanan. Seluruh upaya ini berguna saat pemberian obat dan gejala yang akan ditimbulkan.
  • Monitoring dan outcome
    Care plan perlu dimonitoring dengan mengukur dan mengobservasi seperti pencatatan asupan makanan, berat badan fungsi organ dan mendeteksi kemungkinan ada efek samping.
  • Audit
    Jika proses berjalan baik dengan cara sistematis, maka hasil audit memberikan informasi dalam membuat keputusan.

Komponen nutritional screening

Screening tools dibuat untuk mendeteksi kekurangan protein dan energi, selain itu mengetahui apakah gizi pasien akan membaik atau memburuk dalam proses perawatan. Empat prinsip screening tools sebagai berikut:

  • Bagaimana kondisi sekarang?
    Tinggi dan berat badan menurut indeks masa tubuh (IMB) normal range 20-25, obesitas >30, batasan kurus 18,5-20, Gizi kurang <18,5. Dalam kasus tertentu misalnya pasien sakit parah yang tidak dimungkinkan untuk mengukur berat badan dan tinggi badan, dapat dilakukan dengan mengukur lengan dengan pita. Pita diikat di lengan atas atau pertengahan lingkar lengan.
  • Apakah kondisi stabil?
    Penurunan berat badan dapat dilihat dari patient’s history atau dari pengukuran sebelumnya.
  • Apakah kondisi akan menjadi buruk?
    Berguna mengetahui asupan makanan menurun sampai saat screening, berapa lama dan berapa banyak, pengukuran dilakukan dengan mengukur asupan makanan pasien dan buku harian makanan.
  • Apakah penyakit mempercepat kekurangan gizi?
    Selain mengurangi nafsu makan, penyakit-penyakit tertentu dapat meningkatkan nafsu makan karena metabolisme stres yang berhubungan dengan penyakit misalnya operasi, sepsis dan multitrauma, menyebabkan status gizi berkurang lebih cepat.

Screening tools direkomendasikan ESPEN

  • Masyarakat: Pemberlakuan MUST sistem
    Tujuan dari sistem MUST mendeteksi gizi berdasarkan gangguan fungsi gizi dan fungsi organ lainnya.
    Validasi prediksi MUST di masyarakat berdasarkan penelitian sebelumnya tentang efek kelaparan pada mental dan fungsi fisik, telah didokumentasikan dan memiliki kehandalan yang tinggi. MUST telah melibatkan multidisiplin ilmu dan didokumentasikan dalam berbagai studi di kalangan masyarakat inggris.
  • Rumah sakit: NRS-2002
    Mendeteksi kurang gizi dan risiko yang ditimbulkan serta mengembangkan keberadaan rumah sakit peduli gizi. Metode ini juga mencakup metode MUST. Seorang pasien dengan diagnosis tertentu tidak selalu mendapat skor yang sama dengan kategori yang sama misalnya pasien dengan perawatan intensif mendapatkan skor yang berbeda.
  • Dewasa: MNA
    Mendeteksi keberadaan kekurangan gizi dan risiko pengembangan gizi kalangan orangtua dalam program perawatan di rumah merupakan tujuan dari metode MNA. Dalam keadaan ini prevalensi gizi dikalangan orangtua mencapai 15-60%, metode screening ini mendeteksi gizi usia lanjut, memberikan intervensi tepat yang mencakup perbaikan aspek fisik dan mental lansia.
  • Anak-anak
    Alat screening yang diterima secara universal belum tersedia untuk anak-anak. Tinggi badan, berat badan serta usia mempengaruhi gizi anak selain itu masa pubertas juga dapat mempengaruhi gizi anak.
  • Sistem screening lainnya
    Penelitian yang dilakukan Kondrup et all (2002) mengemukakan perlu ada kombinasi parameter klinis dan biokimia untuk menilai adanya kurang gizi. Disarankan menggunakan metode subjective global assessment (SGA) dengan melihat kembali riwayat pasien dan kondisi klinis namun metode ini kurang fokus pada tujuan screening.

Oleh: Dedison Asanab, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran Undana
Sumber: J. Kondrup, et all. 2002. ESPEN Guidelines for Nutrition screening 2002

http://www.clinicalnutritionjournal.com/article/S0261-5614(03)00098-0/pdf

 

Mutu Pelayanan Gizi di Rumah Sakit: Indikasi Kepuasan Pasien

Kepuasan adalah memahami kebutuhan pasien dan keinginan konsumen dalam mempengaruhi kepuasan pasien yang merupakan aset yang sangat berharga, karena jika pasien puas mereka akan terus melakukan pemakaian terhadap jasa pilihannya. Namun, jika pasien merasa tidak puas mereka akan enggan kembali untuk memakai jasa tersebut. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan rumah sakit kehilangan kepercayaan sehingga pasien beranggapan bahwa rumah sakit tidak akan menyediakan pelayanan yang dapat memuaskan pasien.

Sistem pelayanan makanan di rumah sakit merupakan bagian primer dalam pelayanan kesehatan yang merupakan bagian dari terapi medis. Selama ini pelayanan makanan di rumah sakit seolah berdiri sendiri, padahal dalam sistem operasinya sistem pelayanan makanan harus bekerja beriringan dengan pelayanan medis dan sistem pelayanan lainnya yang beroperasi di rumah sakit guna memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien. Dalam hal ini makanan sebagai salah satu bagian dari terapi kesembuhan pasien, apabila asupan makan pasien baik maka akan berdampak pada kesembuhan pasien, lama rawat inap dan biaya yang dikeluarkan.

Dalam sistem pelayanan makanan di rumah sakit, ahli gizi sangat berperan penting. Mulai dari sistem perencanaan menu diet, pembiayaan hingga interaksi langsung kepada pasien. Setiap tahap pelayanan makanan ahli gizi berkolaborasi dengan tenaga medis atau non-medis. Selama pasien dirawat di rumah sakit ahli gizi berkolaborsi dengan perawat, dokter serta apoteker.

Untuk mengetahui pelayanan di rumah sakit terutama dalam bagian pelayanan makanan diperlukan komunikasi evaluasi kepada pasien dan tenaga medis lainnya. Kepuasan pasien dalam pelayanan makanan sangat perlu dilakukan agar ada perbaikan yang secara berkesinambungan dalam pelayanan makanan di rumah sakit. Beberapa negara bagian di Eropa telah melakukan penelitian mengenai kepuasan pelayanan makanan di rumah sakit. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di salah satu rumah sakit di UK National Health Service, dimana dilakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan dokter, perawat, petugas bangsal, pasien beserta pengunjung pasien, serta wawancara dengan manajer pelayanan makanan, manajer fasilitas, kepala dietisien, dietisien bangsal ortopedic, dan kepala farmasi untuk mengeksplorasi hal-hal yang terkait dengan kepuasan dan pengalaman pasien dalam pelayanan gizi makanan, termasuk didalamnya mengeksplorasi unsur pelayanannya. Hasil dari evaluasi tersebut adalah pasien merasa kurang puas dengan suhu dan tekstur makanan yang diterima. Ketika makanan sampai kepada pasien seringkali suhu makanan sudah turun atau sudah tidak hangat lagi dan tekstur makanan kurang sesuai dengan standar. Faktor yang berpengaruh salah satunya adalah kendala jarak pengiriman dari dapur ke pasien dan jumlah tenaga kerja pramusaji yang tersedia di rumah sakit. Solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan penggunaan troli pengiriman makanan yang sesuai standar agar dapat mempertahankan suhu makanan.

Berikut adalah teori model pengalaman dan kepuasan pasien terhadap pelayanan gizi di rumah sakit oleh UK National Health Service :

art19jan

Feedback dari pasien mengenai kepuasan makanan sangat diperlukan dalam pengembangan sistem pelayanan makanan di rumah sakit, sehingga harus dilakukan secara berkala. Dengan penyampaian informasi secara individual serta pelayanan makanan yang lebih baik di rumah sakit, maka kejadian gizi buruk dapat menurun, pengalaman pasien akan meningkat baik secara berkesinambungan serta lama rawat inap di rumah sakit dapat dikurangi.

Oleh : Elisa Sulistyaningrum

Sumber : Hartwell et al., Food Service in Hospital: an Indicative Model for Patient Satisfaction.
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1745-4506.2006.00040.x/pdf 

{module [150]}

Kaleidoskop Manajemen Mutu PKMK FK UGM Tahun 2014

Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-UGM pada tahun 2014 terlibat dalam berbagai peristiwa yang terkait dengan berbagai pengembangan regulasi dan sistem manajemen mutu pelayanan kesehatan baik di Indonesia maupun di dunia, berikut adalah berberapa peristiwa tersebut:

  Januari: Diskusi Bulanan Evaluasi Kematian Ibu dan Anak di Provinsi DIY

Pada bulan ini, PKMK FK UGM bekerjasama dengan Dinkes Provinisi DIY mengadakan diskusi untuk mengevaluasi terjadinya peningkatan jumlah kematian ibu dan anak di Provinsi DIY pada tahun 2013.

Pertemuan ini dihadiri juga oleh perwakilan dari Dinkes Yogyakarta, Dinkes Kulon Progo, Dinkes Gunung Kidul, Dinkes Sleman dan Dinkes Bantul. Pada pertemuan ini dibahas penyebab kematian ibu terutama penyebab kematian yang seharusnya dapat dicegah menurut ilmu medis. Selain itu, dibahas juga mengenai rantai efek peningkatan mutu dan prinsip PDCA dalam upaya penurunan jumlah kematian ibu serta pengembangan regulasi pelayanan KIA di level provinsi serta penigkatan keterlibatan gubernur dan walikota/bupati dalam upaya ini.

Februari: Terbitnya Permenkes Nomor 10 tahun 2014 tentang Dewan Pengawas Rumah Sakit

Dewan pengawas merupakan bagian penting dari sebuah rumah sakit, karena memiliki fungsi sebagai governing body dalam melakukan pembinaan dan pengawasan secara internal nonteknis perumahsakitan. Dalam melaksanakan fungsinya, pada bulan ini telah diterbitkan Permenkes No. 10 Tahun 2014 tentang Dewan Pengawas RS.

Dewan pengawas merupakan unit nonstruktural yang bersifat independen, dibentuk dan bertanggung jawab kepada pemilik Rumah Sakit. Salah satu tugasnya, menyetujui dan mengawasi pelaksanaan rencana strategis.

Dalam menjalankan fungsinya, selain bertugas menyetujui dan mengawasi pelaksanaan rencana strategis, dewan pengawas RS juga bertugas menentukan arah kebijakan RS, menilai dan menyetujui pelaksanaan rencana anggaran, mengawasi pelaksanaan kendali mutu dan kendali biaya, mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien, mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban RS, dan mengawasi kepatuhan penerapan etika RS, etika profesi, dan peraturan perundang-undangan. Permenkes tersebut dapat dibaca pada link berikut

Klik disini

Blended Learning Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud  dalam Jaminan Kesehatan Nasional

Bermula pada Februari 2014 dalam rangka Annual Scientific Meeting (ASM) FK UGM, Prof Laksono menggagas pertemuan untuk membahas mengenai potensi fraud dalam JKN. Pertemuan ini kemudian dilanjutkan dengan pertemuan dengan FEB UGM, OJK dan BPJS untuk membahas rencana tindak lanjut kegiatan anti-fraud. Lalu, tindak lanjutnya dengan membuat pelatihan untuk melakukan sosialisasi besarnya potensi fraud serta meningkatkan pemahaman mengenai berbagai upaya pencegahan, deteksi dan penindakan fraud.

Menimbang beragamnya peserta yang menjadi target peserta pelatihan, maka PKMK FK UGM menggunakan pendekatan blended learning sebagai metode penyampaian materi pelatihan. Blended learning merupakan pelatihan dengan menggunakan pertemuan tatap muka (baik secara langsung maupun dengan teknologi webinar atau teleconference) dengan pembelajaran secara online.

Peserta pelatihan juga dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

  1. BL anti fraud I untuk para dosen dan peneliti, diselenggarakan pada Maret-Mei 2014, diikuti oleh 44 peserta. Laporan detail kegiatan dapat dibaca di web www.mutupelayanankesehatan.net 
  2. BL anti fraud II untuk para klinisi dan direktur RS, diselenggarakan pada Juni-Agustus 2014, diikuti oleh 70 peserta yang berasal dari 7 RS: RSUP Cipto, RSUP Kariadi, RSUP Sardjito, RSUP Wahidin, RSUP Sanglah, RSUP Soeradji dan RSUD Moewardi. Laporan detail kegiatan dapat dibaca di www.mutupelayanankesehatan.net 
  3. BL anti fraud III untuk para pimpinan dan staf BPJS, diselenggarakan pada Oktober-Desember 2014, diikuti oleh 143 peserta dari seluruh kantor cabang BPJS dan kantor Divisi Regional serta kantor pusat. Laporan detail kegiatan dapat dibaca di web www.mutupelayanankesehatan.net 

Maret: Pelatihan Perencanaan KIA Berbasis Bukti untuk Konsultan Obgin Sosial

Kesehatan ibu dan anak di Indonesia merupakan agenda penting yang perlu diprioritaskan. Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kematian ibu dan anak tertinggi di Asia, dan masih memiliki tantangan dalam memperbaiki status kesehatan ibu dan anak. Salah satu tantangan tersebut adalah dalam meningkatkan cakupan intervensi utama yang efektif dalam mengatasi penyebab-penyebab utama kematian ibu dan anak.

Intervensi berbasis bukti selaiknya menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan sektor kesehatan agar dapat meningkatkan cakupan layanan yang memang efektif dapat mengatasi penyebab kematian dan kesakitan. Dalam rangka menunjang perencanaan kesehatan ini, PKMK FK UGM (Divisi Manajemen Mutu dan Divisi Public Health) bekerjasama dengan Program Pendidikan Spesialis Obginsos Universitas Brawijaya mengadakan pelatihan Perencanaan Berbasis Bukti untuk mendukung percepatan pencapaian target MDG 4 dan 5.

Perencanaan Berbasis Bukti ini dapat digunakan sebagai pendekatan membantu perencanaan kesehatan menjadi lebih sistematis, melalui identifikasi intervensi yang relevan untuk penyebab kematian ibu dan anak yang spesifik di masing-masing daerah, identifikasi sumbatan sistem kesehatan, serta translasi perencanaan ke dalam bentuk penganggaran kesehatan daerah. Materi Perencanaan Berbasis Bukti dapat dibaca di web www.kesehatan-ibuanak.net 

April: International Forum on Quality & Safety in Healthcare: Strive for Excellence, Seek Value, Spark a Revolution

British Medical Journal (BMJ) dan Institute for Healthcare Improvement (IHI) pada tanggal 8-11 April mengadakan forum internasional untuk membahas berbagai perkembangan upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan. Forum ini diselenggarakan di The Le Palais des Congres, Paris, Perancis. PKMK FK UGM diwakili dr. Hanevi Djasri, MARS sebagai salah satu peserta.

Forum diikuti lebih dari 3 ribu peserta dari 78 negara. Forum dibuka oleh Fiona Godlee, Editor in Chief, British Medical Journal, UK dan juga oleh Jean Luc Harrouseau, Presiden, Haute Autorite de Sante (HAS), France yang menjelaskan mengenai gambaran umum dari pelaksanaan Forum. Forum terdiri dari kegiatan pre-forum (1 hari) dan forum utama (3 hari) yang dibagi menjadi yaitu 6 topik utama: Improving clinical performance, Safe and reliable care, Patient and family centred care, Leading effective change, Improving population and community health dan Technology and innovation.

Total disajikan sebanyak 85 sesi dalam waktu 3 hari baik sesi pleno maupun pararel. dr. Hanevi mengikuti 15 sesi terpilih yang diharapkan dapat memerikan masukan bagi pengembangan kegiatan PKMK dalam topik-topik tersebut diatas terutama untuk topik Improving Clinical Performance yang banyak memberikan contoh upaya peningkatan mutu dan topik Leading Effective Change yang banyak mengkaitkan antara mutu dengan biaya.

Reportase disusun berdasarkan topik/issue yang disampaikan oleh berbagai pembicara dari berbagai sudut pandang yang terbagi menjadi tiga bagian sesuai motto dari forum ini: Strive for Excellence, Seek Value, Spark a Revolution. Reportase ini dapat dibaca di web www.mutupelayanankesehatan.net 

  Mei: Penyusunan Pedoman Pencegahan, Deteksi, dan Penindakan Fraud

Pada bulan Mei, BUK Kemenkes RI dan PKMK FK UGM memulai kerja sama untuk menyusun sebuah pedoman sebagai panduan dalam upaya pencegahan, deteksi, dan penindakan fraud di rumah sakit, dengan tujuan untuk: 1. Memberikan pemahaman kepada RS dampak yang tidak diinginkan dalam JKN yang terkait dengan kendali mutu dan biaya; 2. Memberikan pemahaman kepada RS mengenai fraud dalam layanan kesehatan; 3. Menyediakan panduan mengenai apa yang disebut sebagai fraud di RS; dan 4. Menyediakan panduan bagi RS dan regulator untuk mencegah dan mengurangi fraud yang terjadi di RS.

Pada pertengahan bulan November draft pedoman sudah selesai disusun dan mulai disosialisasikan kepada BPJS, PERSI dan ARSADA untuk mendapatkan masukan guna penyusunan Permenkes. Draft pedoman pencegahan, deteksi dan penindakan fraud di rumah sakit dapat diakses di web www.mutupelayanankesehatan.net 

Juni: Terbitnya Permenkes nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional

Pada bulan ini terbit Permenkes tersebut dimana salah satu ketentuan umum mengatur bahwa pelayanan kesehatan dalam program JKN diberikan secara berjenjang, efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip kendali mutu dan kendali biaya. Permenkes ini seperti menegaskan upaya kendali mutu dan kendali biaya BPJS yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 tahun 2013 tentang pelayanan kesehatan pada jaminan kesehatan nasional. Peraturan tersebut menjelaskan bahwa kendali mutu dan kendali biaya di tingkat fasilitas kesehatan akan dilakukan oleh fasilitas kesehatan dan BPJS Kesehatan. Untuk kendali mutu dan biaya oleh BPJS Kesehatan dilakukan melalui (1) Pemenuhan standar mutu fasilitas kesehatan, (2) Pemenuhan standar proses pelayanan kesehatan, dan (3) Pemantauan terhadap luaran kesehatan peserta. Dalam penyelenggaraannya, BPJS Kesehatan membentuk tim kendali mutu dan biaya yang terdiri dari unsur organisasi profesi, akademisi dan pakar klinis. Tim kendali mutu dan biaya dari BPJS Kesehatan akan melakukan (1) sosialisasi kewenangan tenaga kesehatan dalam menjalankan praktik profesi sesuai kompetensi, (2) utilization review dan audit medis, (3) pembinaan etika dan disiplin profesi kepada tenaga kesehatan. Pemenkes tersebut dapat dibaca pada link berikut

Klik disini

Audit Mutu Rujukan Layanan Kesehatan Primer di DKI Jakarta

Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) telah menandatangani kerjasama untuk mengembangkan sistem rujukkan pelayanan primer terpadu di Puskesmas Propinsi DKI Jakarta. Kerjasama tersebut meliputi kegiatan audit mutu rujukan, pengembangan sistem dan pedoman rujukan layanan primer, peningkatan kompetensi dokter umum, uji coba sistem dan pedoman rujukan dan re-audit mutu rujukan.

Audit mutu rujukan akan dilakukan dengan membandingkan antara standar mutu layanan rujukan dengan kenyataan yang ada. Hasil audit akan memberikan gambaran seberapa baik mutu layanan rujukan serta upaya perbaikan/pengembangan yang dapat dilakukan, termasuk pengembangan sistem dan pedoman rujukan serta peningkatan kompetensi dokter umum di Puskesmas.

Pada bulan ini dilakukan workshop persiapan untuk pelaksanaan audit mutu rujukan layanan primer di Puskesmas yang akan dilakukan oleh staf Puskesmas dengan fasilitasi dari tim Fasilitator. Secara khusus workshop ini bertujuan untuk: 1. Menyusun kriteria audit layanan rujukan berdasarkan standar layanan rujukan. Kriteria audit akan digunakan untuk menyusuan instrumen audit penilaian mutu layanan rujukan; 2. Membentuk tim audit mutu layanan rujukan di setiap Puskesmas peserta program; dan 3. Menyusun jadwal uji coba instrumen audit serta pelaksanaan audit.

Hasil audit dan tindak lanjut perbaikan dapat dibaca di web www.mutupelayanankesehatan.net 

  Juli: Investigasi Potensi Fraud dalam Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Fraud dalam bidang kesehatan sangat banyak bentuknya. Setidaknya ada 15 cara penagihan yang paling sering diajukan oleh pelaku (NHCAA, 2012). Dalam laporan Transparancy International Bulgaria (2005), aktor-aktor yang dapat terlibat dalam terjadinya fraud adalah: (a) regulator (kementerian kesehatan, parlemen, maupun komisi pengawas); (b) pihak pembayar (organisasi jaminan sosial, dan asuransi kesehatan); (c) provider layanan kesehatan (rumah sakit, dokter, perawat, dan farmasi); (d) pasien; dan (e) supplier (produsen peralatan medis, atau perusahaan farmasi).

Untuk mengetahui terjadinya fraud dalam layanan kesehatan di rumah sakit, diperlukan sebuah upaya deteksi dan investigasi. Data yang dapat digunakan untuk melakukan identifikasi fraud adalah data klaim asuransi, data yang dimiliki oleh dokter dan data aktivitas klinik (Liu dan Vasarhelyi, 2013). Data aktivitas klinis adalah data yang menggambarkan rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh provider dalam merawat pasien.

Pada bulan ini PKMK FK UGM dan salah satu RS besar milik pemerintah mulai melakukan uji-coba kegiatan identifikasi potensi fraud dengan melakukan audit medik, data mining dan FGD. Tujuan kegiatan deteksi dan investigasi potensi fraud pelayanan kesehatan ini adalah untuk: 1. Mengidentifikasi berbagai potensi-potensi fraud yang mungkin terdapat dalam pelayanan kesehatan di RS; 2. Memberikan umpan balik kepada manajemen RS untuk melakukan upaya-upaya pencegahan fraud; dan Memberikan usulan-usulan perbaikan untuk mengurangi fraud (bila terbukti)

  Agustus: Forum Mutu IHQN X

Forum Mutu IHQN ke-10 mengambil tema re-design sistem manajeman pelayanan kesehatan tingkat primer dan rujukan di era implementasi jaminan kesehatan nasional. Masalah, best practice, dan inovasi yang dibahas dalam pertemuan ini menjadi masukan bagi pemerintahan baru agar dapat mewujudkan sistem manajemen pelayanan kesehatan nasional yang lebih baik.

Forum terdiri dari kegiatan pre-forum: pelatihan audit keperawatan, pelatihan penyusunan clinical pathways, pelatihan dokterk keluarga untuk tatalaksana diabetes melitus; pelatihan perencanaan dan pengendalian biaya sarana pelayanan kesehatan, disamping kegiatan forum sendiri yang terdiri dari enam keynote speaker, 15 presentasi, dan pameran poster ilmiah.

Forum ini terselenggara berkat kerja sama antara Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran UNS, dan RSUD Dr. Moewardi. Reportase kegiatan ini dapat dibaca di web mutupelayanankesehatan.net

  September: Pengembangan Model TB Care

Pada bulan ini, Divisi Manajemen Mutu PKMK FK UGM bersama Divisi Manajemen Rumah Sakit dan Divisi Public Health, melakukan workshop penyusunan clinical pathways bagi RSUP dr. Sardjito, RS Bethesda dan RS Islam Cempaka Putih sebagai bagian dari program “Sustainable Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Care (HDMS-TB): Meningkatkan Mutu dan Efisensi Pelayanan Klinis di RS”.

Clinical Pathway adalah suatu alur proses kegiatan pelayanan pasien yang spesifik untuk suatu penyakit atau tindakan tertentu mulai dari pasien masuk sampai pasien pulang yang merupakan integrasi dari pelayanan medis, pelayanan keperawatan, pelayanan farmasi dan pelayanan kesehatan lainnya. Clinical Pathway bukan merupakan Clinical Guidelines atau Protocol karena setiap kasus dalam Clinical Pathway dibuat berdasarkan standar prosedur dari setiap profesi yang mengacu pada standar pelayanan dari profesi masing-masing, disesuaikan dengan strata sarana pelayanan rumah sakit.

Dengan penyusunan Clinical Pathway maka Manajemen Rumah Sakit dapat memanfaatkannya sebagai dasar untuk menetapkan biaya yang dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan (cost of care) dan efisiensi pelayanan kesehatan di rumah sakit, sehingga masyarakat dapat segera mendapatkan kepastian biaya yang harus dibayarkan dan menghindari tindakan yang akan berdampak pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Dari hasil kegiatan ini tersusun total sebanyak 10 Clinical Pathways untuk tatalaksana berbagai jenis TB, yaitu 5 CP di RS Bethesda, 3 CP di RSI Cempaka Putih, dan 2 CP di RSUP Sardjito. Hasil lengkap dapat dibaca di web www.mutupelayanankesehatan.net 

  Oktober: Terbitnya Permenkes tentang Puskesmas

Pada bulan ini diterbitkan Permenkes nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat dimana salah satu pasalnya mengatur mengenai akrediasi Puskesmas. Pasal 39 Permenkes tersebut menjelaskan bawah dalam upaya peningkatan mutu pelayanan, Puskesmas wajib diakreditasi secara berkala paling sedikit 3 (tiga) tahun sekali. Akreditasi tersebut dilakukan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri. Lembaga independen penyelenggara akreditasi bersifat mandiri dalam proses pelaksanaan, pengambilan keputusan dan penerbitan sertifikat status akreditasi. Bila lembaga Akreditasi tersebut belum terbentuk, pelaksanaan akreditasi Puskesmas dilaksanakan oleh komisi akreditasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama yang ditetapkan oleh Menteri. Permenkes ini dapat dibaca pada link berikut

Klik disini

Workshop Persiapan Monev Program SH dan PML Provinsi NTT

Program Sister Hospital (SH) dan Performance Management Leadership (PML) yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2010 berjalan dengan sangat dinamis. Cukup banyak target program yang tercapai selama pelaksanaan program SH dan PML ini. Pada Bulan Oktober 2014 dilakukan WS untuk melakukan persiapan Monev ke XI, yaitu Monev terakhir sebelum program SH dan PML akan berakhir pada Desember 2014.

Fokus-fokus kegiatan Monev XI adalah: implementasi rencana Quality Improvement, kepatuhan AMP dan tindak lanjut rekomendasi AMP, pencapaian Standar PONEK, evaluasi penyebab pergesaran Kematian Ibu dan Bayi, perkembangan Exit Strategy (penganggaran dana oleh APBD atau lembaga donor), pemanfaatan V-Sat, serta advokasi ke Pemda terkait tindak lanjut rekomendasi hasil Monev. Sedangkan, untuk program PML, fokus kegiatan yang dipantau adalah: melihat progress kegiatan wajib dan non wajib serta billing system. Reportase kegiatan Monev dan hasilnya dapat dibaca di web www.mutukia-ntt.net  

November: National Health Care Anti-fraud Association (NHCAA) Annual Training Conference

National Health Care Anti-Fraud Association (NHCAA) Annual Training Conference (ATC) adalah forum anti fraud layanan kesehatan skala nasional yang diselenggarakan tahunan. Pada tahun 2014 ACT NHCAA diselenggarakan di Hyatt Regency Hotel, Dallas, Texas, Amerika Serikat dan PKMK FK UGM mengirimkan drg. Puti Aulia Rahma, MPH sebagai salah satu peserta.

Konferensi dan pelatihan ini terbagi dalam empat acara besar yaitu pre-conference, concurrent workshop, networking events, dan anti-fraud expo. Terdapat lebih dari 70 topik yang dikelompokkan dalam 8 track, yaitu:

  1. Clinical Issues for the Health Care Fraud Investigator
  2. Detecting and Investigating Dental Fraud
  3. Fraud Schemes and Investigative Skills
  4. Fraud in the Medicaid Program
  5. Pharmacy & Part D Fraud
  6. Legal, Management & Compliance
  7. Life, Disability & Workers’ Compensation
  8. Anti-Fraud Technology Solutions

Pada konferensi ini drg. Puti mengikuti 18 sesi dan juga mengikuti networking events dan anti-fraud expo. Acara networking events bermanfaat untuk membangun jejaring dengan lembaga-lembaga anti-fraud layanan kesehatan, serta melihat terobosan-terobosan terbaru dalam strategi pemberantasan fraud layanan kesehatan.

Reportase lengkap kegiatan ini dapat dibaca di web www.mutupelayanankesehatan.net 

Desember: Pengembangan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Terpadu di Puskesmas Kota Timika

Pada bulan ini dimulai kegiatan pengembangan sistem rujukan pelayanan kesehatan terpadu di Puskesmas Kota Timika. Pengembangan ini didorong dari pengalaman Propinsi DKI dengan Program Kartu Jakarta Sehat (KJS) menunjukkan pentingnya memperbaiki sistem dan pelaksanaan rujukan pelayanan primer dari Puskesmas ke rumah sakit. Membludaknya pasien KJS yang minta diobati di rumah sakit (RS) telah dinilai oleh Pemda DKI sebagai sesuatu yang perlu segera dibenahi. Penumpukan pasien di RS ini tentunya tidak perlu terjadi apabila sistem rujukan kesehatan berjenjang berjalan dengan baik. RS seyogyanya hanya untuk melayani penyakit rujukan dengan tenaga dokter spesialis. Sedangkan pasien dengan penyakit ringan cukup diobati di sarana kesehatan primer, seperti puskesmas.

Masalah tersebut tidak saja terjadi di DKI Jakarta, namun juga terjadi di banyak (atau bahkan di semua) wilayah di Indonesia termasuk di Kota Timika. Dengan diberlakkanunya Jaminan Kesehatan Nasional pada 1 Januari 2014 seharusnya pengalaman penerapan KJS harus menjadi pendorong untuk membangun sistem rujukan yang efektif, sebuah sistem yang mempunyai implikasi penting dari aspek mutu pelayanan dan efektivitas pembiayaannya.

Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan sistem rujukan antara dokter yang memberikan layanan primer di Puskesmas dengan layanan tingkat lanjut (rumah sakit) dan meningkatkan kompetensi pengelolaan manajemen Puskesmas. Tujuan khusus kegiatan ini adalah untuk: 1. Melakukan audit untuk menilai kesesuaian (appropriateness) rujukan di Kota Timika sebagai data awal; 2. Mengembangkan manual rujukan antara dokter yang memberikan layanan primer di Puskesmas dangan rumah sakit; 3. Meningkatkan kemampuan Puskesmas dalam meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan standar sistem manajemen mutu ISO 9000:2008; 4. Menerapkan manual rujukan (point 2) dan sistem manajemen mutu puskesmas; dan 5. Melakukan re-audit untuk menilai perbaikan sistem rujukan yang dihasilkan dari penerapan manual rujukan.

 

Kaleidoskop Manajemen Mutu PKMK FK UGM Tahun 2014

Selama tahun 2014, Divisi Manajemen Mutu PKMK FK UGM telah terlibat dalam berbagai peristiwa yang terkait dengan berbagai pengembangan regulasi dan sistem manajemen mutu pelayanan kesehatan baik dalam skala nasional maupun internasional. Beragam rangkuman kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Divisi Manajemen Mutu terangkum dalam Kaleidoskop Manajemen Mutu PKMK FK UGM Tahun 2014 yang tersaji minggu ini.

Berbagai kegiatan skala nasional seperti; Diskusi Bulanan Evaluasi Kematian Ibu dan Anak di Provinsi DIY; terbitnya Permenkes nomor 10 tahun 2014 tentang Dewan Pengawas Rumah Sakit; Blended Learning Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud Dalam Jaminan Kesehatan Nasional; pelatihan Perencanaan KIA Berbasis Bukti untuk Konsultan Obsgin Sosial; Penyusunan Pedoman Pencegahan, Deteksi, dan Penindakan Fraud; Terbitnya Permenkes nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional; Audit Mutu Rujukan Layanan Kesehatan Primer di DKI Jakarta; Investigasi Potensi Fraud dalam Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit; Forum Mutu IHQN X; Pengembangan Model TB Care; terbitnya Permenkes tentang Puskesmas; Workshop Persiapan Monev Program SH dan PML Provinsi NTT; pengembangan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Terpadu di Puskesmas Kota Timika. Serta kegiatan skala internasional seperti; International Forum on Quality & Safety in Healthcare: Strive for Excellence, Seek Value, Spark a Revolution dan  National Health Care Anti-fraud Association (NHCAA) Annual Training Conference, merupakan berbagai kegiatan dimana Divisi Manajemen Mutu telah terlibat, sebagai upaya untuk terus mengembangkan regulasi maupun sistem manajemen mutu pelayanan kesehatan.

Selain penyajian berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sepanjang tahun 2014, Divisi Manajemen Mutu juga memprediksi berbagai perkembangan atau isu untuk tahun 2015. Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang terkait dengan berbagai aspek seperti Sistem JKN, mutu pelayanan KIA, hingga sistem kesehatan secara keseluruhan, diprediksi masih menjadi isu penting untuk tahun 2015. Bebagai perkembangan yang diprediksi untuk tahun 2015 tersebut secara lengkap disampaikan dalam Outlook Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan Tahun 2015. Dengan mengacu pada berbagai kegiatan yang telah terlaksana pada tahun 2014 dan prediksi perkembangan atau isu untuk tahun 2015, Divisi Manajemen Mutu tetap dengan semangat dan komitmen tinggi akan terus terlibat dalam berbagai upaya peningkatan mutu. “Selamat Tahun Baru 2015” (lei)