Integration of Oral Health into Primary Healthcare: A Systematic Review

Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional atau Hari Kesehatan Gigi Nasional pada tanggal 12 September 2024 merupakan waktu yang tepat untuk kesadaran akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut yang perlu dimulai sejak dini. Kesehatan gigi dan mulut yang baik dapat mencegah berbagai penyakit sistemik di kemudian hari. Berbagai penelitian telah melihat hubungan antara kebersihan mulut yang buruk dan peningkatan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes, penyakit hati, dan kanker. Pentingnya kesehatan gigi dan mulut membutuhkan dukungan lebih dari berbagai pihak, sehingga sistem layanan gigi yang bermutu harus diterapkan sejak di Fasilitas Kesehatan Layanan Primer (FKTP).

Definisi layanan kesehatan primer menurut World Health Organization (WHO) adalah layanan dasar esensial yang praktikal, saintifik, menggunakan metode yang dapat diterima secara sosial, dan aksesibel secara universal bagi individu dan keluarga di kelompok masyarakat lewat partisipasi penuh, serta biaya yang terjangkau bagi masyarakat dan negara. Fasilitas kesehatan tingkat pertama mencakup kontak pertama dengan individu, keluarga, dan kelompok masyarakat dengan sistem kesehatan nasional yang mendekatkan layanan kesehatan sedekat mungkin dengan lokasi tempat tinggal dan kerja seseorang dan merupakan elemen pertama dari proses melanjutkan proses pelayanan kesehatan (health care process [HCP]).

Konferensi global dari WHO tahun 2007 mengadvokasikan integrasi layanan kesehatan gigi ke dalam layanan kesehatan primer sebagai bentuk kolaborasi susunan kelanjutan proses pelayanan kesehatan.Strategi integratif ini bertumpu pada premis faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti pola makan dan merokok yang dapat berkontribusi pada penyakit mulut dan penyakit tidak menular secara bersamaan. Hampir di setiap negara, terdapat banyak orang yang tidak memiliki akses permanen terhadap layanan kesehatan gigi pada di banyak tingkatan. Pendekatan layanan kesehatan mulut primer dapat memperkuat promosi kesehatan dan pencegahan penyakit mulut. Maka dari itu diperlukan berbagai domain, seperti asesmen risiko, evaluasi kesehatan mulut, intervensi preventif, komunikasi, dan edukasi, serta praktik kolaborasi interprofesional.

Cara Integrasi Kesehatan Mulut ke dalam Layanan Kesehatan Primer

WHO “ Stewardship” dan Ahli Kesehatan Gigi
Kesempatan diciptakan lewat penatalayanan dari WHO untuk ekspansi pencegahan penyakit mulut dan promosi kesehatan, serta praktik di masyarakat lewat program masyarakat dan di layanan kesehatan. Hal ini termasuk implementasi program demonstrasi perawatan kesehatan mulut berbasis komunitas.

Menggabungkan Tenaga Kerja untuk Layanan Kesehatan Mulut
Direkomendasikan untuk menggabung tenaga kerja dalam formasi dokter gigi, dokter gigi spesialis, terapis gigi, ahli kesehatan gigi, asisten, ahli teknologi gigi, dan koordinator kesehatan gigi komunitas.

Model Layanan Inovatif
Spektrum program berupa membawa layanan gigi ke dalam setting medis dan komunitas dengan cara:

  1. Koordinasi dengan meningkatkan layanan oleh tenaga medis dalam hal layanan pencegahan kesehatan mulut dasar dengan kunjungan medis yang terkoordinasi dengan rujukan ke layanan gigi
  2. Lokasi bersama layanan kesehatan gigi di tempat praktik medis
  3. Integrasi pelayanan kesehatan gigi dengan tim layanan kesehatan melalui koordinasi kasus untuk kebutuhan restorasi gigi
  4. Telehealth yang didukung layanan kesehatan gigi

Kerangka Integrasi (Rainbow Model)

Rainbow model dikemukakan oleh Harnagea et al. (2018), dimana dimensi layanan terintegrasi terstruktur dalam 3 level dimana integrasi dapat diterapkan: level makro (sistem), level meso (organisasi), dan level mikro (klinis).

Level makro (integrasi sistem): Menggabungkan integrasi vertikal dan horizontal dapat meningkatkan penyediaan layanan yang berkesinambungan, komprehensif, dan terkoordinasi di seluruh rangkaian perawatan. Integrasi vertikal terkait dengan perawatan penyakit di level spesialisasi (berdasarkan penyakit) yang berbeda secara vertikal. Hal ini melibatkan integrasi perawatan antar sektor, seperti integrasi layanan kesehatan primer dengan layanan sekunder serta tersier. Sebaliknya, integrasi horizontal dilakukan dengan meningkatkan kesehatan individu dan populasi secara keseluruhan (holistik) oleh kolaborasi rekan dan antar sektor.

Level meso (integrasi organisasi): Integrasi organisasi merujuk pada layanan yang diproduksi dan diberikan dengan cara saling terkait. Hubungan interorganisasi dapat meningkatkan mutu, pangsa pasar, dan efisiensi. Contohnya dengan menggabungkan keterampilan dan keahlian dari organisasi yang berbeda.

Level meso (integrasi profesional): Integritas profesional merujuk pada kemitraan antara profesional, baik dalam (intra) dan antara (inter) organisasi. Kemitraan ini dapat dicirikan sebagai bentuk integrasi vertikal dan/atau horizontal.

Level mikro (integrasi klinis): Koordinasi layanan yang berfokus pada individu di sebuah proses tunggal lintas waktu, tempat, dan disiplin.

Integrasi fungsional: Menghubungkan level mikro-, meso-, dan makro. Integrasi fungsional termasuk koordinasi fungsi pendukung utama, seperti sumber daya manusia manajemen keuangan, perencanaan strategis, manajemen informasi, dan peningkatan mutu.

Integrasi normatif: Menghubungkan level mikro-, meso-, dan makro. Mengembangkan dan mempertahankan kerangka acuan umum antara organisasi, kelompok profesional, dan individu sehubungan dengan misi, visi, nilai-nilai, dan budaya bersama.

Selengkapnya dapat diakses melalui:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6618181/ 

 

 

Considerations for National Public Health Leadership in Advancing Sexual Health

Tantangan bidang kesehatan masyarakat terkait perilaku seksual, termasuk HIV/AIDS, penyakit menular seksual (PMS) lainnya, hepatitis virus, kehamilan tidak diinginkan, dan kekerasan seksual, merupakan masalah kesehatan dunia dan memengaruhi 3 dari 8 Millennium Development Goals seperti mengurangi mortalitas anak, meningkatkan kesehatan mental, dan melawan HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya. Tantangan ini umumnya lebih tinggi derajat keparahannya di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Di Inggris, terdapat hampir 400.000 diagnosis PMS baru yang muncul setiap tahunnya. Angka tersebut merupakan kenakan sejumlah 30% dari angka sejak tahun 2000. pada negara uni Eropa , lebih dari 27.00 infeksi HIV baru muncul setiap tahunnya, dan sekitar 44% dari seluruh kehamilan di Eropa merupakan kehamilan tidak diinginkan. Pada negara Australia, diperkirakan 170.000 orang hidup dengan infeksi hepatitis B dan 34% wanita melaporkan telah mengalami kekerasan seksual dalam 12 bulan terakhir. DI negara Amerika serikat, diperkirakan 19 juta PMS dan hampir 50.000 infeksi HIV baru muncul tiap tahunnya; 1,2 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, dan 800.000 hingga 1,4 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis; lebih dari 1,8 juta wanita mengalami kehamilan tidak diinginkan, dan 1,3 juta wanita dirudapaksa. Kelahiran pada remaja di Amerika Serikat terhitung lebih tinggi dibandingkan negara Barat lainnya. Penderita kanker di alat reproduksi, dan kanker lainnya terkait PMS seperti human papilloma virus (HPV) dan virus hepatitis B, dan isu fungsi seksual (seperti disfungsi ereksi, nyeri dalam hubungan seksual, dan libido rendah) juga merupakan kekhawatiran dalam kesehatan seksual, terutama orang dewasa di dunia.

Luaran kesehatan reproduksi dan seksual menunjukkan ketidakadilan dalam kesehatan yang sangat timpang. Beberapa kelompok terus-menerus mengalami tantangan besar dalam melindungi kesehatan seksual mereka karena keterbatasan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang meningkatkan risiko mereka untuk mengalami luaran dampak kesehatan yang buruk. Wanita sebagai kelompok yang mengalami dampak buruk lebih banyak akibat dari kehamilan tidak diinginkan dan kekerasan seksual dibandingkan pria. hal ini juga berdampak pada kelompok usia remaja; minoritas ras dan etnis; lesbi, gay, biseksual, dan transgender; lelaki seks lelaki (LSL); dan yang memiliki disabilitas. Populasi ini banyak mengalami sindemik, dua atau lebih masalah kesehatan yang berkaitan secara sinergis, yang menimbulkan beban penyakit berlebih.

Kesehatan seksual menurut Centers for Disease Control and Prevention/Health Resources and Services Administration Advisory Committee on HIV, Viral Hepatitis, and STD Prevention and Treatment (CDC/HRSA CHACHSPT) merupakan kondisi kesejahteraan yang berhubungan dengan seksualitas sepanjang hidupnya yang melibatkan dimensi fisik, emosional, mental sosial, dan spiritual. Kesehatan seksual merupakan elemen intrinsik dari kesehatan manusia berdasarkan pendekatan seksualitas, hubungan, dan reproduksi yang positif, adil, dan terhormat yang bebas dari paksaan , ketakutan, diskriminasi stigma, rasa malu, dan kekerasan. Hal tersebut, termasuk kemampuan untuk memahami manfaat, risiko, dan tanggung jawab dari perilaku seksual; pencegahan dan perawatan penyakit dan dampak buruk luaran lainnya; dan kemungkinan untuk memenuhi hubungan seksual. Secara umum, kesehatan seksual dipengaruhi oleh konteks sosio ekonomi dan budaya, termasuk peraturan, praktik, dan layanan, yang mendukung luaran kesehatan bagi individu, keluarga, dan komunitas.

Promosi kesehatan sebagai layanan kesehatan masyarakat esensial

Pemimpin dalam kesehatan masyarakat sangat memahami peran penting dari promosi kesehatan dan pembuatan keputusan yang sehat dapat mencegah penyakit infeksi dan kronis, serta cedera. Dalam beberapa dekade, pendekatan dengan promosi kesehatan telah menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang terkait seksualitas dan perilaku seksual yang mengilhami kesehatan seksual sebagai aspek penting dalam kesehatan secara menyeluruh dan kesejahteraan individu, keluarga , komunitas, dan negara. Beban kesehatan yang besar, pengeluaran untuk dampak buruk yang terkait perilaku seksual, dan peningkatan minat dalam menggunakan pendekatan promosi kesehatan untuk mengatasinya, sektor kesehatan masyarakat sebaiknya mempertimbangkan untuk mengatasi kesehatan seksual karena beberapa alasan.

  1. Pendekatan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan seksual secara tradisional bergantung pada intervensi, termasuk edukasi, skrining, terapi, notifikasi pasangan, imunisasi, dan layanan pencegahan lainnya, yang utamanya berfokus pada luaran negatif, seperti penyakit dan dampak buruk lainnya terkait perilaku seksual. Cara ini sering berfungsi terkategori dalam kolaborasi yang terbatas antar program dan belum memberikan hasil optimal.
  2. Semua negara menghadapi tantangan dalam menurunkan pembiayaan layanan kesehatan, sehingga membutuhkan pendekatan yang hemat biaya untuk layanan kesehatan dan kesehatan masyarakat. Anggaran yang terbatas meningkatkan efisiensi dalam pemberian layanan kesehatan dan praktik kesehatan masyarakat. Investasi pada layanan kesehatan reproduksi dan seksual dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Menyediakan kesehatan seksual yang lebih luas dapat membantu individu untuk membuat pilihan kesehatan seksual yang sehat dan meningkatkan pencegahan HIV, PMS lainnya, kehamilan tidak diinginkan, dan kekerasan seksual, serta dengan potensi menurunkan pembiayaan pelayanan kesehatan.
  3. Fokus kesehatan seksual konsisten dengan prioritas kesehatan nasional
  4. Misi intrinsik kesehatan masyarakat untuk menilai dan memformulasikan respon terhadap masalah kesehatan.

Kerangka promosi kesehatan seksual

shp

Dari dampak yang substansial dan biaya dampak buruk dari luaran terkait perilaku seksual, entitas kesehatan masyarakat dapat membentuk pendekatan kesehatan masyarakat yang lebih terkoordinasi untuk memajukan kesehatan seksual. Pendekatan ini dapat melengkapi dan mempersatukan kerangka kesehatan seksual untuk menekankan pentingnya promosi kesehatan dalam mendukung dan meningkatkan kontrol penyakit dan aktivitas pencegahan dalam lingkup kesehatan masyarakat. Kerangka ini meliputi 5 prinsip kunci, yakni:

  1. Mengkontektualisasikan isu. Dalam kerangka kesehatan seksual, kontrol dan pencegahan penyakit tetap merupakan fokus utama kesehatan masyarakat. Usaha dapat diperkuat dengan mendorong perspektif yang lebih kuat yang mempertimbangkan faktor kompleks pada tahap individu, relasi, komunitas, dan luaran kesehatan seksual nasional.
  2. Menekankan kesejahteraan. Kesehatan seksual membutuhkan pendekatan holistik yang dapat menggabungkan aspek fisik, emosional, mental, sosial, dan spiritual dari seksualitas. Dalam kerangka kesehatan seksual, fokus inti melakukan pendekatan holistik pada kesehatan manusia dari luaran penyakit, yang tergabung ke dalam agenda pencegahan dan kesejahteraan baru, juga dapat membantu melawan stigma yang umumnya muncul beriringan dengan kesehatan seksual.
  3. Fokus pada hubungan yang positif dan saling menghargai. Pentingnya hubungan yang penuh hormat bagi kesehatan seksual dapat menyediakan titik temu bagi tindakan dalam mencegah dan meningkatkan kesehatan. Hubungan yang positif dan saling menghargai dalam berbagai jenis (seperti orangtua-anak. pasangan, dan sebaya) menunjukkan faktor protektif bagi berbagai isu kesehatan. sehingga dapat membuat hubungan esensial yang sehat bagi perkembangan manusia.
  4. Memahami dampak seksualitas bagi kesehatan. Memahami dan mengartikulasikan komponen kesehatan seksual merupakan aspek esensial untuk penguatan pencegahan penyakit, kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan, dan komponen lain menjadi kerangka kesejahteraan yang lebih luas.
  5. Mengambil pendekatan sindemik untuk pencegahan. Pendekatan inklusif berpotensi memperkuat kolaborasi dan komunikasi antar staff yang menyediakan layanan yang berbeda dalam program yang beragam. Hal ini membantu merincikan divisi untuk mengatasi, masalah kesehatan seksual.

Potential benefits of a sexual health framework

Adoption of a sexual health framework as part of a multisectoral approach for public health action35 has several potential benefits. First, it has the potential to engage new and diverse partners linked by mutual goals, a commitment to addressing common determinants, and a desire to seek and enhance synergistic impacts. Second, the sexual health framework can normalize open, honest, and respectful conversations around sexuality and sexual responsibility and their contributions to overall health and well-being. Third, because STIs and other adverse health outcomes are highly stigmatized conditions, use of a broader, health-focused framework has the potential to reduce stigma, fear, and discrimination associated with these conditions. Fourth, the sexual health framework provides opportunities to enhance the efficiency and effectiveness of prevention messages and services by packaging an array of often disparately presented messages and services within a comprehensive structure

Strategi potensial untuk memajukan kesehatan seksual

Usaha untuk mengatasi masalah kesehatan menggunakan kerangka kesehatan seksual dapat menstimulasi upaya kesehatan masyarakat yang baru dan kreatif di level nasional. Strategi tersebut adalah:

  1. Memberikan kepemimpinan nasional. Pekerjaan kesehatan masyarakat yang memungkinkan kerjasama dengan partner multisektor di tingkat nasional, provinsi, dan lokal untuk mengimplementasikan pendekatan tersebut.
  2. Meningkatkan kemitraan strategis. Kemitraan yang dinamis dapat membentuk dan mendukung upaya kesehatan masyarakat. Kelompok dari berbagai sektor (seperti bisnis, layanan kesehatan, dan akademia) juga politik, agama, dan sosial penting untuk mencapai persetujuan dalam isu sulit yang membutuhkan dukungan luas dan meningkatkan upaya kesehatan seksual yang efektif.
  3. Memperkuat dasar sains: surveilans, monitoring dan evaluasi, serta penelitian. Untuk mengoptimalkan upaya kesehatan seksual nasional, kegiatan dalam domain saintifik penting, seperti meningkatkan surveilans untuk meningkatkan aktivitas monitor dan luaran terkait kesehatan seksual (seperti pengetahuan, komunikasi, sikap, akses layanan dan kelengkapan, perilaku seksual, hubungan, dan dampak buruk); monitoring evaluasi untuk menilai implementasi kegiatan kesehatan seksual; dan penelitian untuk membentuk dan menilai pendekatan pencegahan baru yang mengatasi celah dalam menggunakan kerangka kesehatan seksual secara efektif.
  4. Mendorong tindakan kebijakan yang efektif. Pembangunan dan implementasi kebijakan yang sesuai dapat mendukung akses yang lebih baik ke pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual yang aman, lingkungan yang mendukung (bebas tekanan, diskriminasi, dan kekerasan) yang dapat berdampak pada perilaku seksual. Pemangku kebijakan dapat mengidentifikasi dan mendukung kebijakan berdasarkan bukti terkait kesehatan seksual.
  5. Memperkuat infrastruktur dan memberikan pelatihan penyediaan layanan kesehatan seksual yang layak
  6. Mendukung kesadaran dan meningkatkan pengetahuan lewat komunikasi dan edukasi

Komunikasi dapat diperkuat untuk membuat upaya yang sinergis dalam mengupayakan kesehatan seksual. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan secara umum mengenai kesehatan seksual penting untuk dilakukan bagi masyarakat, komunitas, organisasi, dan pemangku kebijakan lainnya.

Selengkapnya dapat mengakses: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3562752/

 

 

 

 

Peningkatan Kapasitas di Rumah Sakit: Efektivitas Strategi Respons dan Mitigasi

Departemen emergensi rumah sakit diharuskan untuk menstabilkan dan merawat pasien dengan cedera atau sakit yang membahayakan nyawa, tanpa memperdulikan dampaknya pada kinerja rumah sakit. Ketika kebutuhan dari insiden dengan penyebab multipel atau kejadian emergensi lain melebihi kapasitas, rumah sakit akan meningkatkan suplai layanan kesehatan dengan cepat, hal inilah yang disebut sebagai surge capacity. Kejadian seperti ini dapat terjadi setiap minggu, bahkan setiap hari , dimana departemen emergensi beroperasi mendekati atau melebihi kapasitas di waktu puncak dan ketika kejadian dengan penyebab multipel terjadi lebih sering. Rumah sakit akan memberikan surge capacity ketika utilisasi sumberdaya sedang dibutuhkan, dimana hal ini terjadi ketika ada kejadian disruptif atau ketika pasien datang dalam jumlah yang banyak.

Menurut pemerintah Amerika Serikat, surge capacity merupakan kunci dari kinerja rumah sakit dan pembuat kebijakan mensyaratkan rumah sakit untuk memiliki program persiapan yang mengikutsertakan surge capacity yang adekuat. Keputusan operasional yang terlibat dalam manajemen surge capacity dapat dilihat dalam kerangka konseptual yang lebih besar dari manajemen emergensi, yang meliputi 4 fase, yakni persiapan (preparation), response (response), pemulihan (recovery), dan mitigasi (mitigation). Dalam fase persiapan, rumah sakit akan membangun kapasitas dan mengidentifikasi sumberdaya yang dapat digunakan saat emergensi. Dalam fase respons, rumah sakit akan merespon emergensi dan mengontrol efek negatifnya. Pada fase pemulihan, rumah sakit akan melanjutkan operasional secara normal. Terakhir, di fase mitigasi, rumah sakit akan mengambil langkah untuk mengurangi keparahan dan dampak dari emergensi terhadap operasinya.

Dalam studi yang dilakukan dalam penelitian ini, terdapat beberapa rumah sakit yang diwawancarai mengenai fase respon dan fase mitigasi yang menjelaskan bagaimana cara membuat keputusan tentang surge capacity. Dua strategi yang dipelajari untuk meningkatkan surge capacity dalam fase repson dan fase mitigasi, yakni: (1) koordinasi keputusan pemulangan antara departemen emergensi dan unit rawat inap selama fase respon dan (2) manajemen kebutuhan eletif di unit rawat inap lewat penghalusan beban kerja selama fase mitigasi. Dalam model yang dibentuk dan disimulasikan untuk menghitung dampak dari kedua strategi surge capacity, didapatkan bahwa kedua strategi dapat meningkatkan surge capacity.

Surge Capacity dan Respon terhadap Insiden

Peninjauan literatur terhadap berbagai studi kualitatif dan kuantitatif menghasilkan beberapa kesimpulan yang direkomendasikan, seperti memberikan patokan surge capacity sebesar 20%-30% dari kapasitas normal rumah sakit, melakukan 5 tahap rencana pemulangan untuk pasien yang tersedia berdasarkan risiko konsekuensial kejadian medis, dan proporsi rawat inap substansial dapat dipulangkan ke fasilitas keperawatan untuk meningkatkan surge capacity.

Keputusan Pemulangan dan Mekanisme Koordinasi Alur pasien

Keputusan pemulangan memberikan dampak bagi rumah sakit untuk menerima pasien dari departemen emergensi. Bukti dari studi yang dilakukan oleh Shi et. al (2015) dan KC dan Terwiesh (2017) mendemonstrasikan bahwa rumah sakit yang memberlakukan aturan pemulangan secara aktif mampu menerima pasien lebih banyak. Kurangnya koordinasi dari unit rawat ini merupakan penyebab penuhnya departemen emergensi dan lamanya rawat inap di departemen emergensi dikaitkan dengan lamanya pasien dirawat inapkan, sehingga koordinasi pemulangan pasien antara departemen emergensi dan unit rawat inap dapat meningkatkan surge capacity. Mekanisme seperti mempekerjakan manajer penempatan bed dan kontrol bed tersentralisasi, hingga sistem informasi real-time dan memperkirakan permintaan dapat digunakan.

Ketersediaan Bed Rawat Inap dan Mekanisme Penghalusan Beban Kerja

Usaha untuk memperhalus beban kerja rawat inap memerlukan 2 strategi, yakni admisi elektif dan optimisasi jadwal blok. Admisi elektif merupakan metode efektif untuk menurunkan variabilitas beban kerja rawat inap tanpa mengurangi volume keseluruhan. Ketika admisi yang terencana terlalu banyak, otomatis operasi yang direncanakan akan dijadwalkan ulang ke hari lain yang jumlah admisi terencana lebih rendah dibandingkan dengan biasanya. Implementasi admisi elektif terbukti dapat menurunkan luaran mutu yang tidak diharapkan, seperti diversi intensive care unit (ICU). Optimisasi jadwal blok pembedahan melibatkan 2 tahap yaitu memperkirakan penggunaan sumberdaya rawat inap post bedah dan informasi real time dan real space terkait ketersediaan kapasitas ruangan operasi. Prosedur penjadwalan blok terstandarisasi dapat mengurangi variasi kebutuhan bed rawat inap. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan Levine dan Dunn (2015) yang mengatur ulang 21% blok pembedahan dapat mengurangi okupansi puncak sebanyak 3% meski terdapat peningkatan 9% dari volume total.

Selengkapnya dapat diakses di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8759806/

 

 

Workplace bullying and its impact on the quality of healthcare and patient safety

Perundungan di tempat kerja (Workplace Bullying/WPB) merupakan perilaku mengganggu yang mungkin terjadi dalam profesionalisme industri kesehatan. Menurut, World Health Organization (WHO), WPB merupakan insiden di mana individu menghadapi penganiayaan yang berulang dan membahayakan kesehatan. Hal ini sering ditandai dengan persistensi dan durasi jangka panjang , serta disebabkan oleh faktor psikososial, budaya, dan/atau individu. WPB mencakup serangan langsung seperti memukul, mengumpat, mengejek, atau serangan tidak langsung seperti menyebarkan rumor. Salah satu jenis utama perundungan adalah perundungan sosial, yaitu, “perilaku yang menyinggung,” yang melibatkan lelucon yang tidak dapat diterima terkait dengan gender, penghinaan di depan umum, lelucon praktis, fitnah, dan eksploitasi. Sebuah studi yang diterbitkan oleh WHO menyatakan bahwa persentase praktisi kesehatan di negara seperti Brazil 39,5%, Bulgaria 32,2%, Afrika Selatan 52%, Thailand 47,7%, Portugal 27,4%, Lebanon 40,9%, dan Australia hingga 67%, telah mengalami pelecehan verbal dalam kurun 1 tahun.

Meskipun WPB merupakan hal umum di dunia, implikasi dan tolerabilitasnya bervariasi menurut budaya, moral, dan nilai praktisi kesehatan yang tertanam dalam komunitas, juga tercermin dalam lingkungan layanan kesehatan. Pada individu, WPB di antara pekerja layanan kesehatan telah dikaitkan dengan peningkatan penyakit. Dalam studi retrospektif, disebutkan praktisi layanan kesehatan sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi kerja mereka yang penuh tekanan. Demikian pula, konsekuensi organisasi dari WPB dapat terwujud dalam lingkungan kerja yang toksik atau tidak bersahabat, yang sangat terkait dengan mutu layanan dan keselamatan pasien yang terganggu. Hal ini menghambat kerja tim, menghalangi komunikasi, mengganggu perilaku, dan meningkatkan kesalahan medis dengan memengaruhi mutu organisasi layanan kesehatan.

Pembullyan di tempat kerja menyebabkan kekhawatiran. Rasa khawatir menandakan bahwa praktisi tersebut telah terpapar WPB, atau menyaksikan insiden yang dialami oleh seorang kolega. Tujuan lainnya adalah bahwa kekhawatiran terus-menerus tentang WPB menciptakan lingkungan berisiko tinggi bagi karyawan. Hal ini juga memengaruhi produktivitas dan tingkat konsentrasi, yang dapat meningkatkan kemungkinan kesalahan serta membahayakan mutu layanan dan keselamatan pasien. Terakhir, praktisi yang khawatir akan WPB dapat dikuasai rasa takut karena kurangnya pengetahuan mereka tentang pencegahan, penanganan, dan pelaporan insiden WPB.

Studi ini mengadopsi studi cross-sectional, survei diisi sendiri oleh praktisi kesehatan (dokter, perawat, farmasi, pegawai administrasi, dan teknisi)dan didistribusikan di antara praktisi layanan kesehatan di empat rumah sakit di berbagai wilayah geografis Arab Saudi. Kuesioner survei terdiri dari sosiodemografi dan karakteristik profesional peserta, termasuk jenis kelamin, usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, kebangsaan, durasi kerja, posisi pekerjaan, dan pelatihan atau paparan sebelumnya terhadap WPB. WHO mendefinisikan WPB sebagai bentuk penganiayaan multifaset, yang ditandai dengan paparan berulang terhadap satu orang terhadap agresi fisik dan/atau emosional. Para peserta diinstruksikan untuk mengisi berbagai bentuk bullying: fisik, verbal, seksual, atau sosial. Bullying fisik menyebabkan cedera pada tubuh atau properti seseorang dengan memukul, menendang, meludah, mencubit, mendorong, dan menggunakan bahasa tubuh yang kasar. Bullying verbal melibatkan penggunaan kata-kata yang menyinggung melalui ejekan, penghinaan nama, dan/atau komentar seksual yang tidak dapat diterima. Bullying relasional atau sosial menunjukkan adanya kerusakan reputasi atau hubungan seseorang dengan menyebarkan rumor, secara terang-terangan mengabaikan keberadaannya, atau mempermalukan seseorang di depan umum.

Kekhawatiran (worry) didefinisikan sebagai ide, gambaran, emosi, atau tindakan negatif yang tidak dapat dikendalikan oleh seseorang dan dialami secara berulang-ulang. Orang yang khawatir melakukan analisis risiko kognitif proaktif terhadap suatu objek, orang, peristiwa, atau situasi dalam upaya menghindari, memecahkan, atau mengantisipasi potensi ancaman. Beberapa orang percaya bahwa kekhawatiran bisa jadi merupakan respons terhadap tantangan yang netral, ringan, atau sedang, atau bahkan terhadap tantangan yang tidak ada. Dari perspektif psikologis, orang yang khawatir adalah individu yang cemas tentang masalah nyata atau imajiner, seperti kesehatan, keuangan, lingkungan, dan teknologi.

Dampak WPB terhadap kinerja kerja dan keselamatan pasien

Peserta penelitian memiliki rasa khawatir tentang WPB yang meningkatkan tingkat stres mereka. Mereka menyatakan bahwa WPB berdampak negatif pada kinerja kerja mereka dan menyebabkan masalah komunikasi antar anggota staf. Skor median keseluruhan untuk kekhawatiran adalah 81,7. Sebagian besar responden ( n = 885, 82,4%) dapat diklasifikasikan mengalami rasa khawatir.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kekhawatiran tentang WPB

Analisis data menunjukkan bahwa perempuan (83,3%) dan praktisi yang lebih muda (90,0%) secara signifikan melaporkan skor yang lebih tinggi. Praktisi lajang (86,7%) dan praktisi yang lebih terdidik (90,0%) juga secara signifikan memiliki skor yang lebih tinggi. Praktisi dengan pengalaman kerja yang lebih sedikit juga lebih khawatir tentang WPB. Mereka yang mengaku pernah terpapar WPB sebelumnya, secara signifikan memiliki rasa khawatir lebih banyak. Hubungan negatif yang signifikan ditemukan antara penilaian diri praktisi terhadap mutu layanan dan keselamatan pasien di rumah sakit serta tingkat kekhawatiran dengan WPB. Praktisi yang lebih terdidik memiliki kemungkinan 1,7 kali lebih besar untuk merasa khawatir tentang WPB dibandingkan dengan kelompok yang kurang terdidik. Responden dengan pengalaman yang lebih sedikit memiliki kemungkinan 1,6 kali lebih besar untuk merasa khawatir tentang WPB. Mereka yang belum pernah menerima pelatihan sebelumnya tentang WPB dan mereka yang pernah terpapar WPB, keduanya lebih mungkin merasa khawatir dibandingkan dengan kelompok yang tidak .

Praktisi perempuan dan lajang di fasilitas kesehatan multi-regional ini menunjukkan tingkat kekhawatiran tertinggi tentang WPB. Keterlibatan perempuan dalam angkatan kerja telah meningkat drastis di Arab Saudi, dan dibandingkan dengan pekerja laki-laki, perempuan lebih rentan terhadap WPB. Bagi beberapa praktisi, kebutuhan mereka akan pekerjaan lebih besar daripada akibat WPB, namun setiap administrator rumah sakit harus berusaha untuk menjamin keselamatan dan kepuasan mereka. Para penulis juga percaya bahwa karyawan muda dan lajang mungkin tidak memiliki beberapa keterampilan yang membantu menghindari, menangani, dan menghadapi pelaku WPB. Anehnya, praktisi yang lebih berpendidikan memiliki tingkat kekhawatiran tertinggi tentang WPB. Salah satu kemungkinan alasan adalah bahwa kategori praktisi ini bisa lebih diirikan oleh rekan-rekan mereka dengan tingkat karier yang sama atau oleh manajemen mereka (iri hati ke bawah atau ke atas). Iri hati adalah prediktor permusuhan, persaingan, atau perilaku agresif yang ditunjukkan dalam WPB, dan juga terkait dengan perilaku kerja yang kontraproduktif.

WPB pada praktisi dan kelanjutan layanan pasien dapat berbahaya, tidak hanya dalam hal kesalahan atau layanan di bawah standar, tetapi juga pada tingkat pergantian yang tinggi untuk personel yang berpengalaman dan tidak berpengalaman. Sekelompok praktisi di fasilitas kesehatan multi-regional ini telah mengakui bahwa mereka, sampai tingkat tertentu, terpapar pada WPB. Kelompok ini dengan jelas menyatakan tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi tentang WPB yang menjadi pengaruh negatif pada berbagai aspek seperti layanan pasien, keselamatan, interaksi dengan praktisi lain, dan kinerja kerja. Meskipun insiden yang dilaporkan sendiri ini terjadi pada titik waktu tertentu, residu emosionalnya tetap ada. Para penulis berspekulasi bahwa seorang yang selamat dari WPB mungkin mengembangkan lebih banyak pengalaman dalam menangani insiden di masa depan. Namun, pengalaman pribadi tidak cukup untuk menjamin lingkungan kerja yang aman terutama jika layanan pasien dilemahkan oleh WPB. Di fasilitas ini, peserta memiliki riwayat WPB yang positif, namun skor kekhawatiran mereka tetap tinggi.

Masalah apapun yang terkait dengan mutu dan keselamatan layanan pasien tidak boleh diabaikan karena dapat memiliki yang signifikan dengan WPB; karenanya, tanggungjawab administrator rumah sakit perlu diperkuat. Dari sudut pandang praktisi, WPB meningkatkan stres, mengganggu kinerja, memengaruhi komunikasi, dan mengubah pemikiran, yang semuanya akan membahayakan mutu layanan kesehatan dan pemberiannya. Literatur sebelumnya telah membuktikan bahwa kedua aspek tersebut terkait secara signifikan, karena WPB memengaruhi kerja tim dan retensi staf yang mengakibatkan praktisi tertekan dan frekuensi kesalahan medis yang lebih tinggi. Oleh karena itu, petugas keselamatan pasien dan badan akreditasi disarankan untuk waspada dengan tingkat kekhawatiran atas WPB di antara praktisi kesehatan dan untuk mengintegrasikannya dalam alat penilaian mereka.

Implikasi terhadap kebijakan, praktik, dan penelitian

Literatur telah memberikan bukti untuk banyak pendekatan yang terbukti dan efektif termasuk teknik penulisan skenario untuk meredakan temuan perundungan seperti DESC (describe, express, suggests, consequences) atau simulasi permainan peran untuk berlatih menghadapi perundung dengan cara yang tegas. Penelitian di masa mendatang harus mencakup pengujian koherensi teoritis model, dan pengujian intervensi perundungan untuk menentukan dampak perundungan pada lingkungan tempat kerja dan hasil yang terkait dengan pasien.

Rekomendasi

Administrator rumah sakit didorong untuk terlibat dalam percakapan rutin dengan praktisi mana pun yang melaporkan kekhawatiran tentang WPB. Komunikasi pribadi yang terbuka dan transparan dapat membantu mengisolasi kasus-kasus yang tidak menguntungkan tersebut, mengungkap pelaku, dan melindungi karyawan lainnya. Perjuangan melawan WPB memerlukan upaya kolaboratif antara administrator rumah sakit dan peneliti untuk menyelidiki lebih lanjut faktor-faktor predisposisi WPB lainnya yang biasanya kurang dilaporkan di rumah sakit. Ini termasuk menilai masa kanak-kanak awal pelaku perundungan, kesejahteraan psikososial mereka, pemicu stres finansial, penyalahgunaan alkohol/zat, integritas emosional, dan riwayat trauma.

 

Selengkapnya dapat diakses pada:
https://human-resources-health.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12960-019-0433-x

 

 

 

 

Meningkatkan Luaran Pasien dengan Administrasi Rumah Sakit yang Efektif

Administrasi rumah sakit merupakan pivot dari ekosistem layanan kesehatan yang menjadi landasan rumah sakit dunia. Manajemen rumah sakit adalah komponen penting untuk memastikan layanan kesehatan dapat tersampaikan secara efektif . Administrator rumah sakit mengawal berbagai aspek dalam operasi rumah sakit, dari manajemen keuangan hingga alokasi sumberdaya untuk peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Sistem administrasi rumah sakit telah berubah secara signifikan dalam hitungan tahun untuk ikut beradaptasi dalam dinamika industri layanan kesehatan. Cakupan sistem rumah sakit telah merambah tanggung jawab yang lebih luas, termasuk dalam perawatan yang berpusat pada pasien, pengambilan keputusan berdasarkan data, dan perencanaan strategi.

Tujuan dari setiap sistem layanan kesehatan adalah menyesal. Layanan bermutu tinggi yang dapat menghasilkan luaran pasien yang baik. Luaran pasien menjadi tolak ukur dalam menilai efektivitas dan kesuksesan intervensi, serta layanan kesehatan. Luaran ini mencakup banyak faktor, seperti kesehatan pasien secara keseluruhan, kepuasan terhadap layanan, pemulihan, dan tentu pencegahan efek samping spesifik yang dapat muncul pada terapi atau kondisi mereka.
Rumah sakit dan layanan kesehatan terus-menerus bekerja untuk meningkatkan luaran pasien, karena mereka memahami bahwa sistem internal terkoneksi dengan reputasi dan keberhasilan institusi.

Komponen kunci dari efektivitas administrasi rumah sakit, yakni:

Kepemimpinan dan Tata Kelola

Pentingnya struktur tata kelola di administrasi rumah sakit penting dalam manajemen risiko yang efektif. Tata kelola meliputi kebijakan prosedur dan proses penentuan keputusan yang menjadi panduan institusi titik dalam konteks ini, manajemen risiko efektif berarti mengidentifikasi, menilai, dan memitigasi risiko potensial yang dapat mempengaruhi kinerja Rumah Sakit, pasien, dan keseluruhan reputasi. Tata kelola satu arah mempengaruhi aspek ini lewat Tanggung jawab dan otoritas yang jelas. Sebagai contoh, rumah sakit dengan struktur tata kelola yang jelas akan memastikan komite atau individu bertanggung jawab dalam monitoring dan mengatasi berbagai risiko. Hal ini termasuk dalam risiko klinis yang terkait dengan keselamatan pasien, risiko finansial, atau risiko kepatuhan dengan standar regulasi. Dengan tata kelola yang baik resiko ini dapat diidentifikasi dan dikelola dengan lebih efektif.

Pertimbangan etik merupakan dasar dari dunia administrasi rumah sakit, yang mempengaruhi pembuatan keputusan dan praktik yang memiliki efek langsung kepada berbagai aspek yang sudah disebutkan sebelumnya. Dapat bermanifestasi dalam berbagai aspek pelayanan kesehatan termasuk keamanan identitas pasien proses inform konsen keputusan keperawatan di tahap akhir kehidupan, dan alokasi yang seimbang dari sumber daya yang terbatas administrator rumah sakit dapat menavigasi tantangan-tantangan yang rumit sembari tetap menjunjung prinsip benefience (promosi kesejahteraan), non-maleficence (pencegahan perilaku menyakiti), menghargai otonomi pasien (menghargai pilihan pasien), dan mengejar keadilan dalam alokasi sumber daya.

Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan memegang peran penting dalam administrasi Rumah Sakit, sebagai dasar dari penyampaian mutu pelayanan dan keberlanjutan jangka panjang dari layanan kesehatan titik dalam lanskap yang dinamis ini, administrasi Rumah Sakit ditegaskan untuk mengalokasikan sumber daya secara efektif menjunjung penghematan biaya, dan memaksimalkan menghasilkan pendapatan yang secara langsung akan mempengaruhi luaran dari pasien. Untuk mencapai tujuan ini administrator harus memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan anggaran, memprioritaskan investasi dalam teknologi dan personal layanan kesehatan dan mengadopsi strategi keuangan yang inovatif. Mereka harus dapat memastikan bahwa setiap keputusan finansial memberikan dampak yang positif terhadap layanan pasien dengan cara meningkatkan mutu dari layanan yang diberikan dan mempertahankan aksesibilitas, serta keterjangkauan bagi pasien. Selain itu, manajemen keuangan yang efektif penting dalam mempertahankan kemitraan mendorong penelitian dan pengembangan serta memperkuat keseluruhan kinerja dari institusi kesehatan.

Mengalokasikan anggaran dan sumber daya merupakan pondasi dari manajemen keuangan yang efektif di rumah sakit. Administrator memainkan peran penting dalam membangun dan mengelola anggaran yang sejalan dengan tujuan strategis dari rumah sakit titik penganggaran yang strategis memerlukan alokasi sumber daya di area dengan dengan dampak paling signifikan terhadap keluaran pasien. Hal ini termasuk dalam keputusan yang terkait dengan tingkatan staf, memperoleh dan mempertahankan peralatan yang esensial, dan investasi terhadap keselamatan pasien titik dengan memprioritaskan alokasi sumber daya berdasarkan kebutuhan pasien Rumah Sakit dapat memastikan bahwa mereka telah dilengkapi agar dapat memberikan mutu pelayanan yang berkualitas sembari mengatur sumber daya finansial mereka.

Penghematan biaya dan keberlanjutan finansial merupakan pertimbangan yang penting dalam manajemen keuangan pelayanan kesehatan. Rumah Sakit menghadapi berbagai tantangan berkelanjutan untuk mencapai keseimbangan yang rumit antara mengatur biaya dan menjunjung tinggi mutu pelayanan pasien. Administrator pelayanan kesehatan dipercaya untuk mengimplementasikan strategi pengendalian biaya untuk menjaga keselamatan pasien dan mempertahankan standar perawatan yang tinggi titik untuk menguraikan gagasan ini, Dalam mencapai tujuan ini dapat melibatkan berbagai strategi utama dengan fokus pada optimalisasi manajemen lantai sumber daya, menegosiasikan kontrak vendor yang menguntungkan dan memperkenalkan perbaikan proses untuk meminimalkan pemborosan. Rumah Sakit dapat mengadopsi sistem pengendalian inventaris yang efisien untuk mengoptimalkan manajemen rantai sumber daya, meningkatkan perkiraan permintaan, dan menyederhanakan proses pengadaan titik Rumah Sakit dapat mengurangi biaya penyimpanan yang tidak penting dan meminimalisir risiko keterbatasan yang dapat terjadi dalam perawatan pasien dengan memastikan bahwa semua supaya dan peralatan yang penting sudah tersedia ketika dibutuhkan. Manajemen rantai pasokan yang efektif juga dapat termasuk dalam menegosiasikan persetujuan vendor yang diinginkan untuk mengamankan harga yang kompetitif dan jaminan kualitas dan dapat menurunkan kebutuhan biaya.

Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen sumber daya manusia dalam layanan kesehatan penting dalam membentuk luaran pasien yang positif. Sangat penting bagi administrator rumah sakit untuk mengelola tenaga kerja mereka secara strategis untuk memastikan bahwa para profesional layanan kesehatan tidak hanya memiliki perlengkapan yang baik, namun juga termotivasi dan terlibat dalam memberikan perawatan pasien yang berkualitas tinggi titik dalam konteks ini, kunci utama manajemen sumber daya manusia yang efektif terletak pada perencanaan kepegawaian dan tenaga kerja. Administrator rumah sakit pertanggungjawab untuk memastikan Rumah Sakit mempertahankan kombinasi optimal, antara tenaga kerja profesional, termasuk dokter, perawat, profesional kesehatan terkait, dan staf pendukung. Mencapai perpaduan optimal dan pencocokan keterampilan sangat penting untuk perawatan pasien yang tepat waktu dan efektif. Perencanaan tenaga kerja strategis mencakup perkiraan kebutuhan staf rumah sakit, yang dipengaruhi oleh volume pasien, ketajaman, dan kebutuhan spesialisasi. Dengan menyelaraskan tingkat staf dengan permintaan pasien, administrator dapat secara proaktif mengatasi masalah seperti kekurangan atau kelebihan staf, sehingga mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan pada akhirnya meningkatkan luaran pasien.

Pelatihan dan pengembangan merupakan komponen penting dari manajemen sumber daya manusia yang berkontribusi Terhadap Peningkatan keluaran pasien. Pelatihan berkelanjutan dan program pengembangan profesional diperlukan agar staf pelayanan kesehatan selalu mengetahui kemajuan medis terbaru, evidence -based practice, pendekatan perawatan yang berpusat pada pasien administrator Rumah Sakit harus berinvestasi dalam pelatihan berkelanjutan yang meningkatkan keterampilan klinis kemampuan komunikasi, dan teknik keterlibatan pasien titik dengan membekali para profesional kesehatan dengan pengetahuan dan alat yang mereka perlukan untuk Unggul dalam peran mereka Rumah Sakit dapat meningkatkan kualitas layanan pasien, yang pada akhirnya mengarah pada peningkatan luaran pasien.

Kepuasan dan retensi karyawan terkait erat dengan kepuasan pasien dan luaran pasien. Administrator Rumah Sakit harus memprioritaskan penciptaan lingkungan kerja yang mendukung dalam menumbuhkan rasa memiliki dan tujuan di antara staf layanan kesehatan. Hal ini termasuk menawarkan kompensasi yang kompetitif mengakui dan merayakan kontribusi staf, dan memberikan peluang untuk pertumbuhan profesional dan kemajuan karir. Tingkat kepuasan karyawan yang tinggi dapat menyebabkan tingkat turnover yang lebih rendah yang penting untuk menjaga kesinambungan layanan dan membangun tim layanan kesehatan yang berkomitmen serta berdedikasi terhadap kesejahteraan pasien titik tenaga kerja yang puas dan terlibat akan menyukai feedback ekstra untuk memastikan perawatan pasien tetap terjaga dengan baik.

Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien

Peringatan mutu dan keselamatan pasien adalah komponen integral dari administrasi rumah sakit, dan Dalam mencapai tujuan ini penting untuk mengimplementasikan penilaian yang spesifik penilaian ini krusial dalam meningkatkan luaran pasien dan memastikan layanan kesehatan diberikan dengan aman, efektif, dan berkualitas. Administrator Rumah Sakit penting dalam mengusahakan komponen ini.

Metrik dan penilaian kualitas sangat penting dalam mengevaluasi dan meningkatkan luaran pasien. Administrator Rumah Sakit harus menetapkan sistem penilaian kinerja yang komprehensif untuk memantau berbagai metrik kualitas. Metrik ini mencakup hasil klinis, kepatuhan terhadap praktik terbaik kepuasan pasien, dan inisiatif lainnya indikator-indikator ini merupakan alat yang sangat diperlukan untuk mengukur efektivitas layanan kesehatan dan menentukan bidang-bidang yang memerlukan peningkatan titik dengan mengumpulkan dan menganalisis data secara konsisten mengenai pelayanan pasien, administrator dapat memperoleh wawasan mengenai kinerja rumah sakit dan pada akhirnya akan mendorong upaya peningkatan kualitas yang berkelanjutan. Upaya ini mencakup serangkaian inisiatif yang mungkin melibatkan penurunan efek samping, menyempurnakan proses klinis, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya untuk meningkatkan luaran pasien.

Protokol dan inisiatif keselamatan pasien merupakan aspek mendasar dari administrasi rumah sakit. Administrator Rumah Sakit harus menetapkan dan memelihara protokol keselamatan yang kuat yang menangani berbagai aspek perawatan pasien. Hal ini mencakup inisiatif seperti rekonsiliasi pengobatan, tindakan mengendarai infeksi, program pencegahan jatuh, dan penerapan pedoman klinis berbasis bukti titik dengan memprioritaskan keselamatan pasien, administrator dapat secara signifikan mengurangi kejadian buruk kesalahan pasien, dan kerugian pasien. Upaya-upaya ini tidak hanya meningkatkan keluaran pasien tetapi juga berkontribusi dalam membangun kepercayaan dan keyakinan di antara pasien dan keluarganya.

Metodologi peningkatan kualitas berkelanjutan seperti Lean Six Sigma atau siklus Plan-Do-Study-Act (PDSA) memberikan pendekatan terstruktur untuk mengidentifikasi area yang membutuhkan peningkatan dan implementasi praktik berbasis bukti titik administrator Rumah Sakit memainkan peran penting dalam membangun kultur peningkatan mutu berkelanjutan lewat organisasi. Mereka dapat memimpin peningkatan mutu mendorong inisiatif staff dalam meningkatkan mutu, dan menyediakan sumber daya dan dukungan yang dibutuhkan. Administrator harus memastikan penentuan keputusan berbasis data tertanam dalam kultur rumah sakit sehingga dapat memberikan tim layanan kesehatan data yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah dengan cepat, membuat penyesuaian berbasis bukti pada proses perawatan, dan memperoleh luaran mesin yang lebih baik.

Teknologi Informasi dan Sistem Layanan Kesehatan

Electronic medical record (ERM) dan sistem informasi kesehatan diawasi oleh administrator rumah sakit dalam penerapan dan optimalisasinya. ERM memfasilitasi digitalisasi catatan medis pasien, yang memungkinkan dokumentasi klinis yang lebih efisien meningkatkan koordinasi perawatan di antara penyedia layanan kesehatan, dan memberikan akses cepat kepada dokter ke informasi penting pasien. Dengan memastikan pemanfaatan ERM yang efektif administrator dapat mendukung alur kerja yang efisien mengurangi kesalahan medis dan meningkatkan kualitas serta keamanan perawatan pasien secara keseluruhan.

Trend teknologi telemedis dan layanan kesehatan yang sedang berkembang mengubah landscape layanan kesehatan. Administrator Rumah Sakit harus mengikuti trend ini dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses terhadap pelayanan khususnya di daerah terpencil atau yang kurang terlayani. Antara medis memungkinkan konsultasi virtual, pemantauan jarak jauh dan layanan tele health yang meningkatkan akses pasien terhadap pelayanan kesehatan sekaligus meningkatkan kenyamanan. Administrator dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keterlibatan pasien, memfasilitasi komunikasi antara pasien dan penyedia layanan, dan mempromosikan pemantauan kesehatan jarak jauh. Merangkum trend teknologi layanan kesehatan akan meningkatkan layanan pasien dan posisikan organisasi layanan kesehatan untuk pertumbuhan dan adaptasi di masa depan.

Analisis data dan sistem pendukung keputusan memberdayakan administrator rumah sakit untuk membuat keputusan Berdasarkan informasi dan data titik alat-alat ini memungkinkan identifikasi trend dan analisa prediktif untuk mengantisipasi kebutuhan pasien dan mengoptimalkan alokasi sumber daya. Administrator harus berinvestasi dalam analisis data dan mendukung penentuan keputusan berdasarkan data dalam organisasi. Wawasan berbasis data dapat membantu meningkatkan hasil klinis mengoptimalkan efisiensi operasional, dan menginformasikan perencanaan strategis. Administrator Rumah Sakit harus berkolaborasi dengan analisis data dan dokter untuk mendapatkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti dari layanan kesehatan, yang pada akhirnya menghasilkan luaran pasien yang lebih baik dan memberikan layanan kesehatan yang lebih efisien.

Selengkapnya dapat diakses di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10676194/ 

 

 

Fortifying the Foundations: A Comprehensive Approach to Enhancing Mental Health Support in Educational Policies Amidst Crises

Kesehatan mental telah menjadi perhatian sejak akhir 1990, perubahan iklim, COVID-19 perang, krisis energi, hingga tekanan sosioekonomi dapat mengeksaserbasi situasi ini. Agar dapat mencapai target preventif dan intervensi, identifikasi dan mendefinisikan setiap faktor-faktor yang dapat berpengaruh , seperti perubahan iklim, perang, dan pandemi penting untuk dilakukan untuk memahami pengaruh masing-masing faktor terhadap kesehatan mental individu maupun komunitas.

Sekolah memiliki peran krusial dalam memberikan keamanan dan asesmen kesehatan mental, serta intervensi untuk anak, khususnya dalam kondisi bencana atau krisis, yang membuatnya menjadi tempat yang penting dalam memberikan layanan kesehatan mental. Intervensi berbasis sekolah telah terbukti efektif dalam menyediakan dukungan edukasi dan psikososial bagi anak muda yang terpengaruh konflik, sehingga kegiatan akademik dan kesehatan mentalnya terganggu.

Pendekatan holistik terhadap kesehatan mental di sekolah perlu mempertimbangkan perkembangan kognitif, hingga perkembangan emosi, sosial , dan kesejahteraan psikologis. Penting untuk membangun infrastruktur edukasi yang baik dalam mendukung kesuksesan akademik lewat intervensi dini, pengembangan individu, inklusivitas, resiliensi, destigmatisasi, kesejahteraan staf, dan penguatan komunitas. Lingkungan belajar inklusif yang dapat mengakui dan mengakomodasi kebutuhan yang beragam akan bermanfaat untuk menciptakan lingkungan yang terbuka dan dapat menyambut setiap orang, termasuk orang dengan masalah kesehatan mentah, agar mereka dapat merasa diterima dan didukung untuk sukses. Pendekatan seperti ini akan mempersiapkan anak dan remaja dengan kemampuan untuk mengatasi stres, beradaptasi terhadap perubahan, dan bangkit dari keterpurukan, yang merupakan keterampilan hidup penting yang akan berkontribusi untuk sukses dalam jangka panjang.

Kesehatan mental yang baik adalah pondasi kesuksesan dalam pendidikan dan akademik. Menyuarakan isu kesehatan mental secara proaktif dapat membantu mengidentifikasi dan mengetahui masalah potensial sebelum menjadi besar. Intervensi dini dapat mencegah masalah kesehatan mental yang lebih berat, dan meningkatkan capaian seseorang, hingga mengurangi beban sistem pendidikan. Dengan mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan, pendekatan yang holistik dan proaktif akan membantu siswa untuk membentuk resiliensi.

Sikap proaktif dalam menyuarakan kesehatan mental di lingkungan pendidikan akan mengurangi stigma terkait kesehatan mental. Hal ini akan membentuk kultur yang terbuka dan suportif untuk mendorong siswa mencari bantuan ketika memang memerlukan. Fokus kesehatan mental juga perlu melibatkan pengajar dan staf pendukung. Dengan membentuk lingkungan dengan kesejahteraan mental yang baik, infrastruktur pendidikan akan menjadi lebih kuat dan lebih siap untuk mendukung siswa-siswinya secara efektif.

Ketika sekolah memprioritaskan kesehatan mental, mereka telah berkontribusi untuk membuat masyarakat yang lebih sehat. Sekolah merupakan lingkungan primer untuk interaksi sosial dan pembentukan hubungan antar sebaya. Sekolah memiliki peran penting dalam membentuk keterampilan sosial yang sehat, empati, dan kecerdasan emosional, yang akan mendukung terbentuknya kesejahteraan mental. Siswa siswi dan pengajar yang sehat secara mental akan lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan yang positif, berpartisipasi dalam aktivitas komunitas, dan berkontribusi dalam kesejahteraan sosial.

Integrasi Pendidikan Kesehatan Mental dalam Kurikulum

Integrasi pendidikan kesehatan mental ke dalam kurikulum sekolah dapat meningkatkan literasi kesehatan mental bagi pengajar dan siswa siswi. Literasi kesehatan mental akan mempersiapkan anak dan remaja dengan kemampuan mengatasi stress, membentuk kecerdasan emosional, dan mendukung kesejahteraan mereka secara menyeluruh, hingga mendukung masa depan yang lebih sehat dan lebih sukses.

Alasan mengapa integrasi pendidikan kesehatan mental dengan kurikulum sekolah menjadi penting, yakni:

  • Mengurangi stigma dan membantu normalisasi percakapan mengenai kesehatan mental dan mendorong dialog terbuka antar murid, pengajar, dan orangtua.
  • Membantu siswa siswi untuk memahami emosi, pikiran, dan perilakunya. Kesadaran diri penting untuk mengetahui dan mengelola kebutuhan kesehatan mental.
  • Kurikulum dapat mendukung pembentukan kemampuan mengatasi stres lewat strategi untuk mengelola stres dan kecemasan hingga emosi lainnya. Keterampilan ini penting untuk membentuk hubungan yang sehat dalam situasi sosial.
  • Pendidikan kesehatan mental dini dapat mencegah atau memitigasi masalah kesehatan mental dengan cara mengajari murid untuk mengenali tanda bahaya dan mencari bantuan ketika dibutuhkan,

Beberapa langkah yang direkomendasikan untuk dapat mengintegrasikan pendidikan kesehatan mental yakni:

  • Membentuk kurikulum sesuai usia anak
  • Melatih pengajar agar mampu memberikan pendidikan kesehatan mental dan menyediakan dukungan atau rujukan ketika perlu
  • Membentuk lingkungan yang suportif dalam mendorong dialog terbuka mengenai kesehatan mental, menawarkan bantuan, dan mendukung siswa siswi terkait kesehatan mentalnya masing-masing
  • Mendorong keterlibatan orangtua dengan menyediakan workshop atau berkomunikasi mengenai keadaan anak-anak mereka
  • Fokus pada pembelajaran sosial-emosional untuk membantu siswa-siswi membentuk kesadaran diri, mengelola diri, kesadaran sosial, keterampilan hubungan, dan bertanggungjawab terhadap pilihannya.
  • Evaluasi dan memperbarui kurikulum secara berkala agar tetap relevan dan responsif terhadap kebutuhan siswa-siswi

Intervensi yang disesuaikan dengan usia bagi anak akan bermanfaat dalam membangun literasi emosional, membangun kesadaran diri, dan strategi mengatasi stres dari dasar. Sedangkan bagi remaja, intervensi akan lebih berfokus pada manajemen stres, memahami emosi yang kompleks, dan mengendalikan tekanan sosial serta akademik. Intervensi yang diberikan harus dapat memberikan ruang untuk bertumbuh dan mengembangkan kapasitas kognitif dan emosional mereka.

Jenis stressor yang dihadapi siswa siswi juga dapat mempengaruhi desain intervensi yang akan diberikan. Sebagai contoh, anak dan remaja yang menghadapi stres akun, seperti krisis keluarga atau peristiwa traumatis, mungkin akan membutuhkan dukungan yang lebih personal dan intensif, hingga melibatkan intervensi terapi. Sebaliknya, bagi anak dan remaja yang menghadapi stres kronis seperti tekanan akademik atau kecemasan akibat media sosial akan lebih mendapat manfaat dari program berbasis kelompok yang melatih strategi mengatasi stres dan keterampilan resiliensi.

Dalam konteks geografis, intervensi akan dibentuk tergantung dari kondisi geografis. Sekolah di perkotaan akan membutuhkan intervensi berdasarkan isu yang sesuai dengan daerahnya, seperti kekerasan atau penyalahgunaan obat. Sedangkan daerah pedesaan akan berfokus pada isolasi sosial atau bencana alam yang membutuhkan penanganan trauma dan kolaborasi dengan komunitas lokal hingga pembuat kebijakan agar dapat memberikan dukungan yang komprehensif.

Selengkapnya dapat dibaca di link berikut:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10217808/

 

 

 

Breastfeeding: crucially important, but increasingly challenged in a market-driven world

Pekan ASI Sedunia pada tanggal 1 hingga 7 Agustus 2024 bertema “Close the Gap: Breastfeeding Support for All ” yang ditetapkan World Health Organization merupakan salah satu bentuk kampanye dalam menyuarakan pentingnya air susu ibu (ASI) bagi tumbuh kembang bayi. Harapannya, bayi mendapatkan haknya atas nutrisi yang terpenuhi dengan baik hingga usia 24 bulan atau lebih. Momen ini juga merupakan pengakuan yang diberikan kepada ibu menyusui di seluruh dunia untuk memastikan bahwa mereka diperhatikan, didengar, dan dapat berbagi pengalamannya dalam menyusui.

ASI eksklusif bermanfaat dalam memberikan nutrisi bagi bayi agar perkembangan otak dapat berlangsung dengan sehat, mencegah malnutrisi, penyakit infeksi, dan mortalitas, mengurangi risiko obesitas dan penyakit kronis di kemudian hari pada anak, memberikan jarak pada kehamilan karena dapat mengeluarkan hormon yang mencegah ovulasi, mencegah penyakit kronis pada ibu, seperti kanker payudara dan ovarium, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Dengan kata lain, menyusui dapat memberikan efek positif di awal kehidupan, bagi bayi, ibu, keluarga, dan masyarakat dalam jangka panjang. Manfaat nutrisional, mikrobial, dan komponen bioaktif yang didapatkan oleh ibu dan bayi melalui proses menyusui tidak dapat digantikan oleh pemberian susu formula.

Menurut United Nations Children’s Fund (UNICEF) tahun 2021, terdapat kurang dari separuh bayi di Indonesia (48,6 persen) disusui dalam satu jam pertama kehidupan, angka ini turun dari 58,2 persen pada tahun 2018. Hanya 52,5 persen yang disusui secara eksklusif dalam enam bulan pertama, yang merupakan penurunan tajam dari 64,5 persen pada 2018. Sedangkan, menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sebanyak 73,97% anak usia 0-5 bulan Indonesia mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif pada 2023. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak diberikan dari ibu yang tak bekerja dengan proporsi 75,92%. Sementara anak yang mendapat ASI eksklusif dari ibu bekerja lebih rendah, yakni 69,48%.

Jumlah pemberian ASI eksklusif dan menyusui yang belum maksimal dapat disebabkan oleh berbagai hambatan. Hambatan dalam proses menyusui didukung oleh beberapa hal, termasuk ketidaksetaraan gender, norma sosiokultural, pertumbuhan pendapatan dan urbanisasi, praktik pemasaran perusahaan, aktivitas politik yang melemahkan proteksi aturan menyusui, sistem kerja yang tidak mengakomodasi hak reproduksi wanita, serta perawatan kesehatan yang buruk khususnya dalam kelahiran dan perawatan bayi. Dukungan sistem yang tidak memadai menurunkan kemungkinan pemberian ASI.

Kebijakan perlindungan maternitas yang tidak ada atau tidak memadai juga melemahkan pemberian ASI bagi perempuan pekerja melalui buruknya akses terhadap cuti melahirkan dan cuti ayah yang dibayar, penjadwalan yang mengakomodasi pemberian ASI, atau istirahat dan mendapat fasilitas yang sesuai untuk menyusui atau memerah ASI. Kondisi ini seringkali dimanfaatkan produsen susu formula komersial untuk dapat memasarkan dan mendistribusikan sampel produknya yang tidak sesuai dengan kode etik.

Menurut tinjauan sistematik oleh Vilar-Compte et al (2022), perilaku bayi yang tidak menentu di awal kehidupan, khususnya menangis persisten, menjadi alasan bagi orangtua bahwa pemberian susu formula diperlukan. Bayi menangis dapat disebabkan karena berbagai hal, termasuk lapar, perubahan suhu, dan ketidaknyamanan lain. Respon orangtua dapat menyebabkan berkurangnya tangisan, seperti melakukan tindakan segera dalam mengganti popok, menenangkan bayi, juga memberi makan, yakni dengan menyusui. Namun, kurangnya keahlian dan dukungan tanpa dasar pengetahuan, menjadikan orangtua mengganti menyusui eksklusif dengan susu formula yang banyak mengklaim dapat mengurangi alergi, membantu kolik pencernaan, dan membuat tidur lebih baik. Pesan pemasaran susu formula memanfaatkan kekhawatiran ibu terhadap ASi-nya sendiri dan kemampuannya untuk dapat memberikan nutrisi yang adekuat untuk bayinya dengan membuat narasi bahwa perilaku bayi termasuk patologis dan susu formula yang menjadi solusinya. Maka dari itu, tidaklah sulit untuk menemukan ASI yang tidak cukup sebagai alasan untuk memberikan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan dan memberhentikan pemberian ASI.

Rekomendasi yang dapat dilakukan untuk membentuk program dan kebijakan yang dapat mendukung pemberian ASI yakni:

  1. Investasi dalam edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar pembuat kebijakan dapat memahami bahwa sistem pemberian nutrisi dapat bermanfaat bagi ibu dan bayi dalam kesejahteraan dan kesehatan keduanya. Miskonsepsi susu formula yang dianggap sepadan dengan ASi harus dikoreksi melalui program kesehatan.
  2. Konseling dan dukungan harus disediakan di masa prenatal dan post-partum bagi setiap ibu untuk mencegah laporan kurangnya ASI berdasarkan klaim mandiri, dan menghindari pemberian makan prelaktasi atau susu formula sejak dini, karena hal tersebut merupakan faktor risiko utama dari terminasi prematur ASI eksklusif dan proses menyusui lainnya.
  3. Tenaga kesehatan, ibu, keluarga, dan masyarakat harus diberikan dukungan edukasi dan pengembangan kemampuan yang lebih baik, dibebaskan dari pengaruh iklan, dan memahami bahwa perilaku bayi yang tidak tenang merupakan fase dari perkembangan manusia. Tenaga kesehatan dapat memberikan pemahaman selama kehamilan hingga periode post-natal cara memberikan respon terhadap perilaku bayi yang tidak tenang dan industri susu formula yang salah dalam menafsirkan perilaku ini serta pelanggaran kode etik yang ditentukan WHO.
  4. Kebijakan lintas sektoral (seperti kesehatan, sosial, pendidikan, ketenagakerjaan, dan pembuat kebijakan) harus dapat mengatasi hambatan menyusui agar ibu dapat memberikan nutrisi yang optimal. Kebijakan ini harus berdasarkan prinsip keadilan, hak asasi manusia, dan kesehatan masyarakat yang membutuhkan komitmen politik dan masyarakat.

Selengkapnya dapat diakses melalui: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(22)01932-8/fulltext

 

 

Care for Infants and Young Children: Implementation Review and Planning Guide

Hari Anak Nasional ke-40 pada tanggal 23 Juli 2024 bertema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”menjadi momentum yang mengingatkan kita terhadap pentingnya anak-anak yang sehat dan cerdas untuk memajukan suatu negara. Anak merupakan merupakan cerminan masa depan suatu negara, sehingga memastikan kesehatan, kesejahteraan, dan terpenuhinya hak mereka sebagai seorang anak dan warga negara merupakan suatu kewajiban yang harus diamalkan. Dalam ranah pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, tentu bukan hanya negara yang ikut andil di dalamnya, namun seluruh lapisan masyarakat juga berperan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan seorang anak.

Menurut Kemenkes tahun 2024, Kemenkes selaku leading sektor kesehatan akan berusaha untuk mewujudkan dua upaya strategis, yakni memastikan setiap anak tumbuh berkembang melalui intervensi pencegahan stunting yang telah berlangsung dan memberikan perlindungan dari penyakit berbahaya, salah satunya polio. Menurut World Health Organization (2019), tercatat sebanyak 5,2 juta anak berusia kurang dari 5 tahun meninggal. Penyebab terbanyak dari kematian anak yakni infeksi saluran nafas, diare, campak, malaria, malnutrisi, dan penyakit bawaan lahir. Terdapat banyak penyakit anak yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin, perawatan di rumah yang adekuat, layanan kesehatan, hingga peningkatan konsumsi ASI, dan perbaikan nutrisi.

Strategi yang dapat dilakukan untuk memperkuat dan mengidentifikasi intervensi yang dapat dilakukan pada bayi dan anak di fasilitas kesehatan primer. Fokus dari intervensi ini adalah bayi baru lahir hingga usia 3 tahun yang memiliki risiko morbiditas dan mortalitas paling tinggi. Intervensi yang dapat dilakukan yakni:

  1. Asupan bayi dan anak
    • Menyusui eksklusif 6 bulan
    • MPASI mulai 6 bulan
    • Melanjutkan ASI hingga minimal 2 tahun
  2. Nutrisi
    • Memantau pertumbuhan
    • Manajemen malnutrisi akut derajat sedang dan berat tanpa komplikasi
    • Manajemen defisiensi mikronutrien
    • Suplementasi vitamin A pada populasi defisiensi vitamin A
    • Mengobati cacingan dan suplementasi besi untuk mencegah dan mengobati anemia anak
    • Prevensi dan manajemen berat badan rendah dan stunting
    • Prevensi dan manajemen berat badan berlebih dan obesitas
  3. Vaksinasi
    • Imunisasi rutin termasuk Haemophilus influenza tipe b, meningococcal, pneumococcal, dan rotavirus
  4. Pencegahan dan manajemen penyakit pada anak-anak
    • Menggunakan kelambu anti serangga
    • Manajemen malaria dan demam
    • Manajemen pneumonia tanpa komplikasi dan wheezing
    • Manajemen diare dan disentri
    • Mengenali memberikan, perawatan awal, dan merujuk kasus berat atau kasus komplikasi
    • Skrining riwayat keluarga
  5. HIV dan tuberkulosis
    • Skrining anak dengan atau yang terpapar HIV atau tuberkulosis atau anak dengan malnutrisi akut berat
    • Memberikan perawatan yang sesuai dan rujukan
    • Konseling, rawat jalan, serta memberikan dukungan nutrisi dan psikososial
  6. Cedera
    • Manajemen dan merujuk cedera akut yang umum (jatuh, fraktur, tenggelam, cedera kepala)
    • Memberikan saran untuk mencegah cedera
  7. Perkembangan di masa anak-anak
    • Screening, manajemen dan merujuk keterlambatan perkembangan, disabilitas, dan tanda-tanda kekerasan
    • Mempromosikan aktivitas rumah untuk mendukung pembelajaran kesiapan sekolah, dan edukasi di masa anak-anak awal

Selain hal-hal tersebut yang dapat kita lakukan bagi bayi baru lahir hingga anak, kapasitas kesehatan primer dapat meningkatkan mutu pelayanan bagi kesehatan anak. Strategi peningkatan mutu di tingkat layanan primer bagi anak adalah:

A. Monitoring Berkelanjutan

Tim staf fasilitas akan dilatih oleh fasilitator eksternal untuk memulai review dan perencanaan terhadap kesehatan anak. Tim akan dilatih berdasarkan metodologi. Tim bersama dengan fasilitator akan membentuk asesmen, mendukung, serta membentuk rencana peningkatan mutu per 3 bulan. Proses ini kemudian akan diulang oleh staf internal sebagai asesmen mandiri untuk memantau proses peningkatan mutunya.

B. Evaluasi Eksternal secara Periodik untuk Mendukung Perencanaan di Tingkat Distrik, Provinsi, dan Nasional

Tim evaluator fasilitas akan dilatih di pusat pelatihan. Setelah itu, tim akan mengunjungi fasilitas kesehatan primer sebagai percontohan dan menggunakan tool/checklists yang akan dilakukan kepada pengasuh anak mengenai tanda bahaya, vaksinasi dan vitamin A, diare, batuk dan kesulitan bernafas, demam, HIV, cedera, kekerasan, dan penelantaran, perkembangan anak, kepada anak dalam bentuk skrining kesehatan, kebersihan lingkungan, ketersediaan obat-obatan, kebijakan, tatalaksana dan standar pelayanan kesehatan, validasi data anak-anak sakit, serta jumlah pelatihan tenaga kesehatan dalam 5 tahun terakhir untuk memantau kesiapan fasilitas kesehatan dalam memberikan manajemen kesehatan anak. Ketika data dari fasilitas kesehatan primer telah siap, selanjutnya tim akan kembali ke pusat pelatihan dan me-review data yang diperoleh.

Saat kedua tahapan tersebut telah dilaksanakan, setiap checklist perlu diidentifikasi kekuatan dan letak area yang perlu dikembangkan. Setelah didiskusikan lebih lanjut, maka dapat ditentukan area prioritas yang akan menjadi target peningkatan mutu selanjutnya. Diskusi checklist perlu memetakan alasan dasar terjadinya masalah, waktu dan penanggung jawab saat masalah tersebut muncul, dan identifikasi langkah yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/376464/9789290620426-eng.pdf?sequence=1

 

 

Children and Women’s Health in South East Asia: Gap Analysis and Solutions

Universal health coverage (UHC) adalah komponen utama yang berkontribusi dalam pencapaian kesehatan terkait target Sustainable Development Goals (SDG) secara sinergis memberikan peran dalam maternal, newborn, and child health (MNCH) dan kesejahteraan.. Kelangsungan hidup, kesehatan, dan kesejahteraan perempuan, anak, dan remaja merupakan hal penting untuk mengakhiri kemiskinan ekstrim, mempromosikan perkembangan, dan ketangguhan, serta mencapai SDG. Salah satu investasi terbaik dalam mempercepat UHC adalah, kontribusi terhadap kesehatan anak dan perempuan.

Implementasi Global Strategy for Women’s, Children’s, and Adolescents’ Health (2016-20130) dengan meningkatkan dan mempertahankan pembiayaan akan membuahkan hasil yang besar di tahun 2030, seperti mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada ibu hamil, bayi baru lahir, anak, dan remaja serta bayi lahir mati. Studi menunjukkan adanya minimal 10 kali lipat perbaikan ketika investasi terhadap kesehatan dan nutrisi perempuan, anak dan remaja. Pemeliharaan di periode prenatal dan masa kanak-kanak awal dapat berkontribusi terhadap kapabilitas seorang manusia, dimana pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap pengasuh.

Negara di Asia Tenggara yang dipilih untuk masuk ke dalam penelitian ini harus memiliki 4 kriteria, yakni (1) Memiliki statistik MNCH terbaru dan dapat dibandingkan berdasarkan data rumah tangga nasional, (2) Memiliki latar belakang sosio kultural yang mirip, (3) Termasuk ke dalam negara dengan pendapatan rendah dan menengah atas, dan (4) Negara dengan UHC dengan tingkatan yang berbeda satu sama lain yang memungkinkan untuk dilakukan analisis irisan per negara dalam bagaimana UHS dapat meningkatkan akses ke layanan MNCH. negara-negara yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina, Thailand, Timor-Leste, danVietnam.

Perlindungan terhadap Anak dan Perempuan: Pencapaian dan Gap

a. Status Kesehatan: Mortalitas Anak, Bayi, dan Bayi Baru Lahir

f1jul

Negara-negara Asia Tenggara berkomitmen sesuai dengan SDG 3.2, dimana pada tahun 2030, mereka menargetkan untuk menghentikan kematian bayi baru lahir dan anak di bawah 5 tahun yang dapat dicegah, semua negara menargetkan untuk menurunkan neonatal

mortality (NMR) hingga 12 per 1000 bayi lahir hidup dan under-5 mortality (U5MR) hingga 25 per 1000 bayi lahir hidup. Di 8 negara, Laos, Myanmar, dan Timor-Leste memiliki U5MR lebih dari 40 dan NMR lebih dari 20, sehingga diperlukan percepatan dalam mencapai U5MR 25 per 1000 bayi lahir hidup di 2030. U5MR pada tahun 1990 dan 2016 pada masa Millenium Development Goals (MDGs), menunjukkan adanya peningkatan yang sangat besar dalam survival anak, khususnya pada negara Timor-Leste, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Pencapaian ini menunjukkan program survival pada anak lewat SDG dapat terjadi bila pemerintah mempertahankan dan berkomitmen dalam mempercepat proses UHC.

b. Cakupan Layanan Kesehatan Ibu, Bayi baru Lahir, dan Anak: Pencapaian Terbaru dan Tantangan

Status cakupan layanan MNCH di 8 negara dianalisis berdasarkan data dari masing-masing negara. Terdapat 9 dimensi intervensi MNCH: (a) perencanaan keluarga (metode modern); (b) 4 kualitas antenatal care (ANC); (c)Tingkat bidan terampil; (d) Inisiasi menyusui dini; (e) Cakupan imunisasi difteri-tetanus-pertusis (DTP3) 3 dosis; (Mencari layanan perawatan bagi anak dengan pneumonia; (g) penggunaan sumber air minum yang telah ditingkatkan; (h) penggunaan sanitasi yang telah ditingkatkan; dan cakupan pendaftaran persalinan.

Indonesia pada gambar 3c. telah menunjukkan hasil yang baik hampir di semua 9 dimensi, kecuali akses perencanaan keluarga dengan metode modern dan inisiasi menyusui dini. Studi menunjukkan sebanyak 20% perempuan Indonesia telah mendapat saran dan informasi terkait penggunaan produk breast milk substitutes (BMS), sebanyak 72% perempuan telah melihat promosi BMS, d15% menerima sampel dan 16% menerima hadiah. Selain itu, hampir seperempat tenaga kesehatan telah menerima kunjungan dari perusahaan BMS dan menerima hadiah dari perusahaan tersebut.Promosi yang tidak etis dilaporkan terjadi di Indonesia, contohnya yang telah membeli produk susu di suatu website dapat bergabung untuk undian mendapat hadiah berupa iPhone.

hampir semua negara membutuhkan peningkatan kualitas dari inisiasi menyusui dini. kamboja merupakan salah satu negara di Asia tenggara yang menjadi target marketing agresif dari promosi industri BMS. Meski pemerintah telah melarang promosi tanpa persetujuan pemerintah, perusahaan BMS tetap mempromosikan produknya lewat televisi atau at points of sale.

c. Analisis Inekuitas: The National Average Conceals the Inequity Gap

Analisis ketimpangan dapat memberikan keputusan bahwa investasi pemerintah di bidang kesehatan perlu mempertimbangkan apakah masyarakat miskin dapat mengakses layanan kesehatan secara memadai. Dengan kata lain, rancangan UHC yang berpihak pada masyarakat miskin merupakan aspek yang penting untuk memastikan bahwa penduduk pedesaan, kelompok minoritas, dan masyarakat yang hidup dalam kondisi rentan memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan.

Analisis ini menunjukkan kelompok terkaya di pedesaan mendapat cakupan layanan MNCH yang lebih baik dibandingkan kelompok yang termiskin di pedesaan. Demikian pula, masyarakat terkaya di perkotaan juga jauh lebih baik dibandingkan kelompok termiskin di perkotaan. Meski tidak ada hambatan dalam hal pasokan di daerah perkotaan, kelompok masyarakat terkaya memiliki akses keuangan yang jauh lebih besar terhadap layanan kesehatan dibandingkan kelompok masyarakat termiskin. Dan juga, terdapat keterbatasan dalam sisi pasokan di daerah pedesaan, kelompok masyarakat terkaya di pedesaan mempunyai kemampuan finansial dan kemampuan transportasi untuk melakukan perjalanan dan mencari perawatan di daerah perkotaan.

d. Status UHC

Penelitian menunjukkan bahwa pembayaran out-of-pocket dalam % dari pengeluaran kesehatan akan menurun ketika porsi belanja kesehatan pemerintah terhadap PPDB meningkat. Meski terdapat variasi antar negara yang cukup besar, belanja emerintah yang lebih tinggi untuk kesehatan masyarakat dapat meningkatkan perlindungan risiko keuangan dan mengurangi proporsi out-of-pocket yang dilakukan rumah tangga. Terdapat penurunan tajam dari pembayaran out-of-pocket ketika pemerintah membelanjakan 2-3% PDB-nya untuk kesehatan.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:

https://www.researchgate.net/

 

 

Risk Communication and Community Engagement Readiness and Response Toolkit Dengue Fever

Dengue merupakan penyakit yang ditularkan lewat virus yang menjangkiti nyamuk secara cepat. Virus ditransmisikan lewat nyamuk betina, secara spesifik Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Dengue menyebar dengan luas di wilayah tropis yang dipengaruhi faktor curah hujan, suhu, dan urbanisasi yang cepat. Dalam kasus berat, dengue dapat berakibat fatal. Dengue dapat dicegah dengan menghindari gigitan nyamuk, terutama di pagi hingga sore hari. Waktu deteksi kasus, deteksi awal, dan akses ke fasilitas kesehatan yang memadai dapat menurunkan tingkat keparahan secara signifikan.

World Health Organization (WHO) merilis tool atau alat praktikal untuk mendukung negara-negara dalam melakukan komunikasi risiko dan keterlibatan komunitas (risk communication and community engagement [RCCE]), praktisi, dan pembuat kebijakan untuk merencanakan dan mengimplementasikan kesiapan serta respon dalam menghadapi wabah dengue. Respon dan kesiapan yang sukses dalam menghadapi wabah dan bencana dapat diraih dengan melibatkan, memperkuat, dan menginformasikan kelompok-kelompok. Tujuan utama dari RCCE adalah mitigasi dampak negatif yang berpotensi membahayakan kesehatan, sebelum, selama, dan sesudah peristiwa darurat terjadi. Dengan kata lain, RCCE menargetkan berkurangnya morbiditas dan mortalitas melalui penguatan komunitas agar mau terlibat dalam kepemimpinan, perencanaan, dan implementasi aktivitas dalam siklus respon bencana.

Dalam konteks wabah penyakit menular, RCCE yang efektif akan mempengaruhi komunitas dalam meningkatkan pengetahuan mereka untuk dapat melindungi dirinya sendiri dan orang lain terhadap penyakit, mencari pengobatan, melakukan tes kesehatan, mencegah, serta menghindari stigma dan diskriminasi penyakit. Kelompok berisiko perlu dilibatkan dan dikonsultasikan dalam mengembangkan strategi serta rencana dan implementasi kesiapan dan respon terhadap wabah.
Terdapat 10 prinsip dari RCCE, yakni:

  1. Membuat keputusan tentang rakyat, bersama dengan rakyat
    Tahap ini dapat dilakukan dengan menginisiasi diskusi dengan komunitas dengan mengidentifikasi intervensi keterlibatan komunitas yang aman, feasible. dan dapat diterima.
  2. Mempertahankan dan memperkuat kepercayaan melalui koneksi formal dan informal
    Tahap ini dilakukan dengan koordinasi tindakan melalui pemangku jabatan. Penguatan mekanisme koordinasi RCCE dan struktur respon dapat mendukung kesiapan sistem kesehatan di semua tingkatan.
  3. Lebih banyak mendengarkan, dan lebih sedikit bicara
    Dengan mencari dan merespon umpan balik dari komunitas secara rutin, dapat meningkatkan hubungan dan kepercayaan komunitas dan pemangku jabatan di bidang kesehatan masyarakat.
  4. Menggunakan data untuk membuat keputusan
    Data sosial memberikan perspektif penting untuk mengetahui celah dalam pengetahuan, persepsi, dan perilaku komunitas. Memahami perilaku penting untuk memahami mengapa masyarakat dapat mematuhi atau tidak mematuhi peraturan kesehatan masyarakat.
  5. Merencanakan dengan rakyat
    Partisipasi masyarakat dalam merencanakan dapat meningkatkan layanan dan memastikan layanan adil. Hal ini penting, terutama dalam memperkenalkan tools baru dan layanan seperti vaksin, pengobatan, atau tes baru.
  6. Membiarkan rakyat menilai kesuksesan program
    Partisipasi komunitas dalam monitor dan evaluasi proses akan meningkatkan kemungkinan keterlibatan komunitas yang lebih luas dalam intervensi selanjutnya.
  7. Mempekerjakan dan memberdayakan lebih banyak ahli RCCE
  8. Membangun kapasitas dan kemampuan
    Melatih tenaga kesehatan secara masif di berbagai tingkatan dapat membuat masalah yang terjadi secara lokal juga dapat teratasi dengan cepat tanpa melibatkan lingkup yang lebih besar.
  9. Mengelola infodemik
    Infomedik yang tidak dikelola dengan baik dapat mempersulit masyarakat dalam membuat keputusan terhadap kesehatannya. Pengelolaan infodemik dapat dilakukan dengan memastikan akses terhadap informasi terpercaya, mengatasi misinformasi dan rumor yang beredar, dan memperkuat sistem pemeriksa fakta.
  10. Memulai keterlibatan 2 arah
    Keterlibatan 2 arah dapat dimulai dengan menyediakan kanal kesehatan lokal terpercaya agar dapat menyediakan informasi terkini dan teraktual bagi komunitas.

Tools lain yang digunakan selama wabah dengue berlangsung yakni:

  1. Analisis situasional (PESTEL tool)
    PESTEL tool berbentuk kerangka untuk analisis situasional yang dapat membantu memahami faktor politik, ekonomi, sosiologis, teknologi, lingkungan dan legal yang dapat mempengaruhi usaha kesehatan masyarakat selama situasi darurat, seperti wabah. Data yang dikumpulkan akan dibagi menjadi 6 kategori; yakni pertimbangan politik, lingkungan, ekonomi, sosiologi, teknologi, dan legal.
  2. Behavioral Analysis
    Tool ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi perilaku yang relevan dengan wabah dengue dan dapat memberikan informasi, serta membentuk strategi, taktik, dan tool RCCE. Perilaku tidak statis dalam kondisi wabah atau kondisi darurat kesehatan. Perilaku berisiko tinggi dipengaruhi oleh hambatan dan pendukung yang dapat diidentifikasi melalui pengumpulan data perilaku dan sosial. Analisi ini dapat dimulai dengan identifikasi menggunakan Behavioural Insights (BI) checklists yang berisi langkah0langkah berupa define, diagnose, design, implement, dan evaluate.
  3. Mapping and Understanding Communities
    Tool ini digunakan untuk mengidentifikasi dan merekam informasi kunci tentang kelompok yang terdampak oleh demam dengue dan siapa yang harus dilibatkan dalam respon wabah. Informasi ini kana digunakan untuk membuat strategi RCCE dan menetapkan prioritas rencana intervensi yang kelompok berisiko terinfeksi demam dengue.
  4. Stakeholder Analysis
    Tool ini digunakan untuk mengidentifikasi beragam orang dan kelompok yang dianggap penting dalam kesiapan dan respon terhadap wabah dengue. Analisis ini bermanfaat untuk mengelompokkan peran potensial, kapasitas, dan antisipasi keterlibatannya untuk memberikan dukungan kolektif terhadap langkah preventif atau respon terhadap wabah demam dengue, termasuk kampanye imunisasi.
  5. Readiness and Response Checklist
    Tool ini didesain untuk membantu ahli RCCE untuk mendapat laporan terkini atau mengembangkan rencana kesiapan dan respon terhadap wabah demam dengue. Tool ini dapat menyediakan daftar komprehensif dari aktivitas yang dapat dipertimbangkan selama fase persiapan dan respon wabah.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/377740/9789240095274-eng.pdf?sequence=1