Penerapan kebersihan tangan di fasilitas layanan kesehatan

Hari Cuci Tangan Sedunia pada tanggal 15 Oktober 2024 bertema “Why are clean hands still important?”. menjadi pengingat akan pentingnya cuci tangan sebagai langkah awal pencegahan transmisi penyakit untuk memutus rantai penularan penyakit yang menjadi pemicu munculnya wabah dan pandemi. Cuci tangan dinilai lebih efektif bila dilakukan dengan baik dan benar, terlebih jika dilakukan secara rutin di setiap kegiatan yang akan dimulai maupun setelah selesai dilakukan baik di rumah sakit atau di tempat umum lainnya.

Health-care-associated infections (HAIs) mempengaruhi kualitas layanan kesehatan, membahayakan keselamatan pasien, dan meningkatkan biaya layanan kesehatan. Sebanyak 2,6 juta HAI yang terjadi setiap tahun di Uni Eropa mengakibatkan lebih dari 91.000 kematian. Demikian halnya dengan, di Amerika Serikat, 1,7 juta HAIs (sekitar 520 per 100.000 penduduk) dilaporkan terjadi setiap tahunnya, mengakibatkan sekitar 99.000 kematian. Wilayah negara berpendapatan rendah dan menengah yang lebih banyak, memiliki lebih sedikit data, namun terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kejadian HAI lebih tinggi, dengan tingkat kesehatan dan konsekuensi ekonomi yang lebih buruk.

Peningkatan kepatuhan kebersihan tangan telah disorot sebagai langkah paling efektif untuk mengurangi penularan mikroorganisme patogen di layanan kesehatan dan menurunkan kejadian HAI di fasilitas layanan kesehatan. Oleh karena itu, kepatuhan kebersihan tangan telah menjadi salah satu indikator kinerja utama keselamatan pasien, dan kualitas layanan kesehatan di dunia. Sayangnya, secara keseluruhan, kepatuhan kebersihan tangan masih belum memadai, dan tingkat kepatuhan layanan kesehatan dilaporkan hanya sebesar 9% di fasilitas kesehatan dari negara-negara berpendapatan rendah. Meskipun tingkat di negara-negara berpendapatan tinggi umumnya lebih tinggi, angka tersebut jarang melebihi 70%.

Menyikapi hal ini, WHO sangat menekankan peningkatan praktik kebersihan tangan secara global. Pada tahun 2009, WHO meluncurkan Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy (MMIS) bersama dengan Implementation Toolkit, yang mencakup Hand Hygiene Self-Assessment Framework (HHSAF) untuk mengevaluasi tingkat implementasi program kebersihan tangan dan menilai perbaikannya. waktu. Penelitian sebelumnya menunjukkan validitas alat HHSAF dan efektivitas penerapan MMIS dan evaluasi HHSAF untuk meningkatkan kepatuhan kebersihan tangan di fasilitas layanan kesehatan di berbagai tempat. Selain itu, dua survei global menggunakan HHSAF, pada tahun 2011 dan 2015 , menunjukkan adanya variabilitas yang besar dalam penerapan kebersihan tangan antar fasilitas layanan kesehatan. Sayangnya, survei ini tidak dapat mengidentifikasi penyebab utama, dan keterwakilannya terbatas, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah.

Sebanyak 3982 tanggapan survei HHSAF dari 109 negara dalam penelitian ini memiliki proporsi negara yang berpartisipasi paling tinggi pada kategori berpendapatan menengah ke atas (31 [57%] dari 54) dan kategori berpendapatan tinggi (34 [55%] dari 62). Partisipasi negara adalah delapan (28%) dari 29 negara untuk kategori berpendapatan rendah dan 17 (35%) dari 49 untuk kategori berpendapatan menengah ke bawah. Analisis regresi multivariat menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara total skor HHSAF dan tingkat pendapatan negara, dengan perbedaan sebesar −137·9 poin (95% CI −79·9 hingga −195·9) antara fasilitas layanan kesehatan dari negara dengan tingkat pendapatan rendah terhadap negara berpendapatan tinggi. Untuk fasilitas layanan kesehatan dari negara-negara berpendapatan menengah ke bawah, perbedaan ini lebih kecil (−75·7 poin [–134·6 hingga −16·7]), dan tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara fasilitas layanan kesehatan dari negara-negara berpendapatan menengah ke atas dengan negara-negara berpendapatan menengah atau berpendapatan tinggi. Fasilitas layanan kesehatan swasta juga mendapat skor yang jauh lebih tinggi dibandingkan fasilitas layanan kesehatan pemerintah (79·6 poin [44·0–115·1];).

Survei ini memberikan gambaran tingkat penerapan kebersihan tangan di 3206 fasilitas layanan kesehatan di 90 negara. Menurut survei, lebih dari separuh fasilitas layanan kesehatan telah mencapai tingkat kebersihan tangan sedang (median 350 poin [IQR 248–430]), meskipun angka ini sangat bervariasi tergantung pada tingkat pendapatan negara dan struktur pendanaan fasilitas layanan kesehatan (swasta). vs publik). Sekitar seperempat fasilitas layanan kesehatan, terutama di negara-negara berpendapatan rendah, melaporkan tingkat penerapan kebersihan tangan yang masih dasar atau tidak memadai. Elemen HHSAF dengan skor terendah adalah Institutional Safety Climate, yang mana ditemukan kurangnya keterlibatan pasien dan tidak adanya pemimpin kebersihan tangan. Untuk negara-negara berpendapatan rendah, Evaluasi dan Umpan Balik memiliki skor terendah karena jarangnya umpan balik langsung dan sistematis mengenai kinerja kebersihan tangan, dan tingkat konsumsi alcohol-based hand rub (ABHR) yang rendah atau tidak diketahui.

Berdasarkan survei, tingkat penerapan kebersihan tangan tampaknya sangat bergantung pada sumber daya yang tersedia. Terdapat skor yang lebih rendah di semua elemen diamati untuk fasilitas layanan kesehatan dari negara-negara berpendapatan rendah versus negara-negara berpendapatan tinggi, namun juga dari fasilitas layanan kesehatan pemerintah versus swasta. Hal ini mencakup skor untuk indikator yang dapat mewakili ketersediaan sumber daya, seperti anggaran khusus untuk ABHR, atau ketersediaan perlengkapan kebersihan tangan yang berkelanjutan. Kurangnya anggaran khusus Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di fasilitas layanan kesehatan meningkatkan risiko HAI. Data dari program pengawasan International Nosocomial Control Consortium (INICC) juga menunjukkan bahwa tingkat infeksi terkait perangkat sangat terkait dengan tingkat sosial ekonomi negara-negara yang berpartisipasi. Pada saat yang sama, pencegahan HAI sebenarnya dapat menghemat biaya karena hal ini berhubungan dengan lama rawat inap di rumah sakit, pengobatan antimikroba yang lebih mahal, dan meningkatnya angka resistensi. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan yang jelas untuk investasi pada PPI, terutama di rangkaian yang paling terbatas sumber dayanya. Kebutuhan ini semakin ditegaskan oleh hasil survei global water, sanitation, and hygiene (WASH) tahun 2020, yang melaporkan bahwa, secara global, satu dari tiga fasilitas layanan kesehatan tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan kebersihan tangan di tempat pelayanan, dan setengah dari fasilitas layanan kesehatan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah tidak memiliki layanan kebersihan dasar.

Peningkatan dana saja tidak akan cukup untuk meningkatkan penerapan kebersihan tangan. Elemen HHSAF dengan skor keseluruhan terendah adalah Institutional Safety Climate, dimana indikator-indikator seperti pemimpin kebersihan tangan dan panutan, serta keterlibatan pasien sering kali tidak terpenuhi, terutama di negara-negara berpendapatan rendah. Bagi negara-negara ini, umpan balik sistematis terhadap kepemimpinan, dalam elemen Evaluasi dan Umpan Balik, juga mendapat nilai rendah. Meskipun sebagian temuan ini mungkin terkait dengan sumber daya, temuan ini juga menunjukkan bahwa keterlibatan kepemimpinan dan dukungan organisasi merupakan elemen penting yang dapat lebih meningkatkan penerapan kebersihan tangan. INICC mengidentifikasi adanya hubungan antara pendapatan rendah dan kurangnya peraturan PPI yang dapat ditegakkan secara hukum dan tidak adanya akreditasi rumah sakit. Sejalan dengan temuan kami, lembaga-lembaga swasta, misalnya, memiliki sistem akreditasi yang lebih kuat, termasuk pendanaan untuk program-program PPI. Collignon et al. juga mengamati adanya hubungan positif antara korupsi, kurangnya supremasi hukum dan resistensi antimikroba, yang merupakan kualitas lain dari indeks perawatan, menekankan pentingnya kepemimpinan yang dapat diandalkan untuk pemberian layanan kesehatan yang memadai. Temuan-temuan ini menggarisbawahi pentingnya memperluas dan mengintensifkan inisiatif untuk meningkatkan kesadaran di kalangan pembuat kebijakan dan pimpinan fasilitas mengenai pentingnya kebersihan tangan dan peran mereka dalam implementasi yang memadai dan berkelanjutan. Selain itu, pembangunan ekonomi yang lebih luas di wilayah yang miskin sumber daya juga dapat mempunyai dampak penting terhadap penerapan PPI.

Elemen Evaluasi dan Umpan Balik untuk fasilitas layanan kesehatan dari negara-negara berpendapatan rendah memiliki skor spesifik elemen dan strata terendah. Demikian pula, laporan lain menunjukkan rendahnya tingkat pengawasan dan pemantauan indikator terkait PPI di negara-negara berpenghasilan rendah, termasuk kepatuhan kebersihan tangan dan konsumsi ABHR. Kurangnya keahlian teknis (pengamat kebersihan tangan yang tervalidasi) untuk sistem dan proses pemantauan, serta kurangnya akses terhadap perlengkapan kebersihan tangan yang berkelanjutan dapat menjadi pemicu potensial, sehingga perlunya lebih banyak pelatihan, sumber daya layanan kesehatan, dan infrastruktur. Pemantauan kebersihan tangan dengan umpan balik direkomendasikan sebagai indikator kinerja utama, dan merupakan bagian dari komponen inti enam pedoman WHO untuk program PPI yang efektif. Temuan kami menyoroti perlunya dukungan yang lebih baik bagi fasilitas layanan kesehatan dengan sumberdaya terbatas agar dapat melaksanakan program PPI.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://www.thelancet.com/journals/laninf/article/PIIS1473-3099(21)00618-6/fulltext 

 

 

Menilai dan Meningkatkan Mutu Layanan Kesehatan Jiwa

Hari Kesehatan Mental Sedunia pada tanggal 10 Oktober 2024 dengan tema kesehatan mental di tempat kerja menyoroti pentingnya menangani kesehatan mental dan kesejahteraan di tempat kerja, demi kepentingan individu, organisasi, dan masyarakat. Lingkungan kerja yang sehat dan suportif dapat mendukung terbentuknya mental yang sehat. Kemajuan kinerja individu juga tidak lepas dari regulasi jiwa yang baik.

Beban penyakit akibat gangguan kesehatan mental sejauh ini merupakan yang tertinggi dari semua masalah kesehatan di seluruh dunia, yaitu sebesar 13% dari total beban penyakit dari seluruh penyakit. Lebih khusus lagi, penyakit mental menyumbang 32,4% years lost due to mental illness or disability (YLDs) dan 13% dari disability-adjusted life years (DALYs), yang merupakan ukuran pasti dari beban penyakit. DALY yang sesuai dengan beban penyakit mental adalah jumlah YLD bersama dengan years lost akibat kematian dini akibat penyakit mental (YLL). Di tingkat Negara Anggota Uni Eropa, kerugian akibat gangguan mental diperkirakan mencapai 3–4% PDB, terutama disebabkan oleh hilangnya produktivitas. Memberikan perawatan psikiatri berkualitas tinggi kepada pasien gangguan jiwa, khususnya dalam konteks Uni Eropa, merupakan kewajiban negara kesejahteraan, kewajiban profesional kesehatan mental, dan hak pasien.

Kebutuhan yang belum terpenuhi akan layanan kesehatan mental yang berkualitas dan mampu menjawab kebutuhan pasien dan menghormati hak warga negara atas kesehatan mental dapat dicapai seiring berjalannya waktu melalui perencanaan strategis, evaluasi tahunan, dan peningkatan kualitas layanan kesehatan mental yang ditargetkan. Selain itu, diperlukan evaluasi kualitatif dan kuantitatif dengan indikator kualitas layanan kesehatan jiwa, guna mengidentifikasi dan mengungkapkan kebutuhan kelompok sosial yang kurang beruntung, untuk memfasilitasi intervensi negara secara politik untuk menjamin akses layanan yang universal dan setara bagi masyarakat.

Studi yang mengevaluasi kualitas intervensi menunjukkan bahwa praktik klinis sehari-hari selalu berada di bawah tingkat yang ditetapkan oleh pedoman nasional dan internasional. Oleh karena itu, perbedaan dalam kepatuhan terhadap pedoman dijelaskan serta indikator kualitasnya. Berfokus pada evaluasi dan peningkatan kualitas dapat mengurangi heterogenitas keputusan klinis dan mengoptimalkan hasil dari kasus yang ditangani, sampai batas tertentu, tanpa mengabaikan fakta bahwa kedokteran klinis bukan hanya sebuah ilmu tetapi juga seni, seperti yang dijelaskan dalam Sumpah Hipokrates.

Untuk penilaian kualitas dalam sistem kesehatan, ada beberapa alat generik tertimbang yang berguna yang pada awalnya dapat membantu, seperti WHO Assessment Instrument for Mental Health Systems (WHO-AIMS) dan WHO – Quality Rights, meskipun ini tidak tersedia dalam bahasa Yunani atau bahasa lainnya. Keduanya dapat memberikan penilaian deskriptif umum terhadap kualitas sektor kesehatan mental dalam sistem kesehatan.

Dimensi atau kriteria penilaian kesehatan mental yakni:

  1. Kesesuaian layanan yang diberikan
  2. Aksesibilitas pasien terhadap layanan yang diberikan
  3. Penerimaan layanan dari pasien
  4. Kompetensi penyedia layanan kesehatan mental
  5. Efektivitas profesional kesehatan mental
  6. Kesinambungan terapeutik dalam sistem kesehatan mental
  7. Efisiensi tenaga kesehatan
  8. Keselamatan pasien dan penyedia layanan kesehatan.

Indikator masing-masing dimensi dapat dicirikan sebagai indikator struktur, indikator proses, dan indikator hasil, seperti yang dikemukakan oleh peneliti lain dalam evaluasi kualitas layanan kesehatan jiwa.

Kriteria Kesesuaian, atau Dimensi Kesesuaian. Indikator Kesesuaian Pelayanan Kesehatan Jiwa

1. Jumlah Pasien Kronis yang Rawat Inap di Rumah Sakit Jiwa Daripada Rehabilitasi Rawat Jalan

Poin ini merupakan indikator struktural sistem kesehatan mental, yang menunjukkan kecukupan atau kekurangan struktur psikiatri rawat jalan yang dibuat bersamaan dengan deinstitusionalisasi. Selama periode deinstitusionalisasi yang panjang, sebagian besar pasien dengan gangguan mental kronis dipulangkan dari rumah sakit jiwa yang telah dirawat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan dirujuk untuk mendapatkan perawatan psikiatri ke unit kesehatan mental masyarakat sebagai pasien rawat jalan. Definisi penyakit kronis adalah penyakit yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih, menurut definisi United States National Center for Health Statistics. Seorang pasien harus dirawat di rumah sakit setidaknya selama tiga bulan agar dapat dipertimbangkan untuk rawat inap kronis.

Target kinerjanya adalah mengurangi secara bertahap, dari tahun ke tahun, pasien yang dirawat di rumah sakit secara permanen saat dipindahkan ke layanan masyarakat. Oleh karena itu, indikator ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kemajuan suatu rumah sakit dari tahun ke tahun, asalkan indikator tersebut dihitung secara tahunan.

2. Jumlah Kasus yang Dapat Menghindari Masuk Rumah Sakit dengan Intervensi Eksternal yang Tepat

Poin ini merupakan indikator struktural yang berfokus pada penilaian kecukupan struktur kesehatan mental rawat jalan yang sesuai. Dalam sistem kesehatan jiwa, terdapat sejumlah pasien yang dirawat di rumah sakit (≥ 1) per tahun karena kurangnya ketersediaan layanan rawat jalan yang sesuai. Pendaftaran dan rawat inap yang tidak diperlukan di rumah sakit merugikan sistem dan belum tentu bermanfaat bagi pasien karena pasien tidak menerima perawatan yang tepat.

Target kinerjanya adalah persentase menjadi semakin kecil setiap tahunnya. Semakin besar fraksinya, semakin besar pula ketidakcukupan struktur rawat jalan (misalnya, psikiatri komunitas, keperawatan komunitas). Pada tingkat sistem, indikator ini dapat digunakan untuk membandingkan kecukupan layanan kesehatan mental rawat jalan di antara Negara-negara Anggota UE.

3. Jumlah Kasus yang Ditangani Tanpa Indikasi

Poin ini merupakan indikator yang menilai struktur Layanan Kesehatan Jiwa dan merupakan indikasi ketersediaan struktur tertentu. Secara khusus, penilaian ini menilai apakah pasien dirawat di lingkungan yang sesuai (rawat inap atau rawat jalan), yaitu apakah pasien menerima perawatan yang sesuai dan sesuai kebutuhan. Dalam psikiatri, sangat penting bahwa pengobatan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan bio-psikososial individu setiap pasien. Oleh karena itu, konteks psikososial selalu diperhitungkan. Perawatan yang tidak tepat dapat disebabkan oleh kurangnya struktur (misalnya, kurangnya bagian tentang gangguan makan) atau kelengkapan struktur (misalnya, pasien dirawat di rumah sakit jiwa karena penuhnya bangsal psikiatri di rumah sakit umum. ) atau karena kurangnya spesialisasi serta peran yang tidak jelas antar departemen (misalnya, pasien dengan depresi dan ketergantungan alkohol mungkin dirawat di rumah sakit (1) di klinik rehabilitasi dan ketergantungan alkohol khusus, atau (2) klinik psikiatri rumah sakit umum, atau (3 ) di rumah sakit jiwa, atau (4) di bangsal penyakit dalam rumah sakit umum).

Tujuan kinerjanya adalah agar semua pasien mendapat pengobatan yang tepat. Indikator tersebut harus dihitung setiap tahun untuk menunjukkan kemajuan sistem kesehatan dari waktu ke waktu, misalnya dengan membandingkan skor tahun ini dengan skor tahun lalu. Hal ini juga dapat digunakan pada tingkat klinik individual, yang menunjukkan sejauh mana klinik tersebut menangani kasus-kasus yang bukan merupakan spesialisasinya (misalnya, pasien non-psikotik yang secara sukarela dirawat di rumah sakit jiwa karena kekurangan tempat tidur. di klinik psikiatri rumah sakit umum atau klinik psikiatri). Indikator ini juga dapat digunakan untuk membandingkan sistem kesehatan di antara negara-negara tersebut, misalnya antara negara-negara anggota Uni Eropa.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6982221/ 

 

 

‘Nurses’ Adherence to Patient Safety Principles

World Health Organization (WHO) mendefinisikan keselamatan pasien sebagai tidak adanya bahaya yang dapat dicegah terhadap pasien dan pencegahan bahaya yang tidak perlu oleh tenaga kesehatan profesional. Perawatan yang tidak aman menyebabkan hilangnya 64 juta tahun disability-adjusted life years setiap tahunnya di dunia. Kerugian yang dialami pasien selama pemberian layanan kesehatan diakui sebagai salah satu dari 10 penyebab kecacatan dan kematian di dunia. Analisis retrospektif kerugian rawat inap berdasarkan data yang dikumpulkan dari 24 rumah sakit di Amerika Serikat menunjukkan bahwa strategi harm-reduction dapat mengurangi total biaya layanan kesehatan sebesar $108 juta dan menghasilkan penghematan sebesar 60.000 hari perawatan rawat inap. Selain itu, hilangnya pendapatan dan produktivitas karena biaya lainnya yang merugikan pasien diperkirakan mencapai triliunan dolar setiap tahunnya. Beban kesalahan praktik pada pasien, anggota keluarga mereka, dan sistem layanan kesehatan dapat dikurangi melalui penerapan prinsip keselamatan pasien berdasarkan strategi pencegahan dan peningkatan mutu. Prinsip keselamatan pasien adalah metode untuk mencapai sistem layanan kesehatan yang andal yang meminimalkan tingkat kejadian dan dampak kejadian buruk serta memaksimalkan pemulihan dari kejadian tersebut. Prinsip-prinsip ini dapat dikategorikan sebagai manajemen risiko, pengendalian infeksi, manajemen obat-obatan, lingkungan dan peralatan yang aman, pendidikan pasien dan partisipasi dalam perawatan sendiri, pencegahan luka tekan, peningkatan nutrisi, kepemimpinan, kerja sama tim, pengembangan pengetahuan melalui penelitian, perasaan tanggung jawab dan akuntabilitas, dan melaporkan kesalahan praktik.

Perawat berperan dalam menjaga keselamatan pasien dan mencegah bahaya selama pemberian perawatan, baik dalam rangkaian perawatan jangka pendek, maupun jangka panjang. Perawat diharapkan dapat mematuhi strategi institusi untuk mengidentifikasi bahaya dan risiko melalui penilaian pasien, perencanaan perawatan, kegiatan pemantauan dan pengawasan, pemeriksaan ulang, menawarkan bantuan, dan berkomunikasi dengan penyedia layanan kesehatan lainnya. Selain kebijakan yang jelas, kepemimpinan, inisiatif keselamatan yang didorong oleh penelitian, pelatihan staf layanan kesehatan, dan partisipasi pasien, kepatuhan perawat terhadap prinsip-prinsip keselamatan pasien, diperlukan untuk keberhasilan intervensi yang menargetkan pencegahan kesalahan praktik dan untuk mencapai sistem layanan kesehatan yang berkelanjutan dan lebih aman.

Faktor sistemik institusional yang mempengaruhi kepatuhan dan kepatuhan perawat terhadap prinsip-prinsip keselamatan pasien adalah budaya keselamatan pasien di institusi, beban kerja, tekanan waktu, dorongan dari pimpinan dan rekan kerja, tingkat kinerja, pemberian pendidikan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan, prosedur atau protokol kelembagaan, dan juga komunikasi antara staf layanan kesehatan dan pasien. Selain itu, motivasi pribadi, penolakan terhadap perubahan, perasaan otonomi, sikap terhadap inovasi, dan pemberdayaan merupakan faktor pribadi yang berdampak pada kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien.

Kerangka teoritis untuk menganalisis risiko dan keselamatan dalam praktik layanan kesehatan telah dirancang oleh Vincent et al. (1998), berdasarkan model organizational accidents Reason. Pendekatan ini menggabungkan pendekatan ‘person centered‘, yang berfokus pada tanggung jawab individu untuk menjaga keselamatan pasien dan mencegah bahaya yang menimpa mereka, dan pendekatan ‘system centered’, yang mempertimbangkan faktor organisasi sebagai pemicu yang membahayakan keselamatan pasien. Menurut kerangka teoritis ini, inisiatif yang bertujuan untuk meningkat.

Pada tinjauan sistematik yang dilakukan oleh Mojtaba et al. (2020) pada 382 abstrak dengan menggunakan domain kerangka Vincent untuk menganalisis risiko dan keamanan dalam praktik klinis menggunakan kata kunci ‘pasien’, ‘penyedia layanan kesehatan’, ‘tugas’, ‘lingkungan kerja’, serta ‘organisasi dan manajemen’ sebagai dasar pencarian terkait prinsip keselamatan pasien.

8okt

Pasien

Kategori ini membahas tentang peran pasien dan bagaimana peran tersebut dapat berdampak pada kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien. Penyimpangan yang mempunyai kemungkinan besar membahayakan keselamatan pasien terjadi ketika orang tua pasien atau pendampingnya tidak diawasi dan diawasi oleh perawat dalam pemberian obat kepada pasien. Pemberian tanpa pengawasan atau tanpa pengawasan bertentangan dengan prinsip pengelolaan obat yang memerlukan pengawasan langsung perawat; pertimbangan penting untuk pencegahan penyalahgunaan dan penghindaran pasien dalam meminum obat sesuai resep. Penyimpangan ini dapat menghambat keterlibatan aktif pasien dalam perawatan mereka yang aman. Selain itu, satu-satunya jalur komunikasi antara pasien dan perawat adalah bel panggilan, dan perawat jarang menanyakan pasien tentang rasa sakit atau kenyamanan mereka.

Penyedia Layanan Kesehatan

Kategori ini menggambarkan bagaimana pengetahuan dan sikap perawat dikaitkan dengan kepatuhan mereka terhadap prinsip keselamatan pasien. Variasi dalam kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien dapat disebabkan oleh beragamnya tingkat pengetahuan dan sikap mereka. Contohnya termasuk ketidakpatuhan perawat terhadap prinsip-prinsip pengendalian infeksi, yang mencakup pemeriksaan harian pada lokasi kateter vena perifer, menggosok tangan saat operasi, disinfeksi tangan, dan penggunaan sarung tangan dan celemek sekali pakai saat terkena ekskresi pasien. Contoh lain terkait dengan prinsip pengelolaan obat: kecepatan bolus intravena yang tidak tepat, penyiapan obat yang salah, pemberian obat pada waktu yang salah, pelabelan jarum suntik yang bermasalah, pemberian antibiotik intravena tanpa pembilasan, pasien tidak menerima dosis lengkap obat, dan pencampuran obat dengan pengencer yang salah. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan mengenai standar pemantauan dan surveilans jantung juga terlihat jelas, dengan penempatan elektroda jantung dan/atau persiapan kulit yang salah sebelum prosedur menyebabkan pemantauan tidak konsisten, yang dapat membahayakan keselamatan pasien.

Tugas

Dalam kategori ini, hubungan antara identitas dan jenis tugas keperawatan, serta kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien dipertimbangkan. Tingkat kepatuhan terendah terlihat pada tugas pengelolaan obat ‘independen’ seperti penghitungan dosis, kecepatan pemberian obat bolus intravena, dan pelabelan alat suntik. Di sisi lain, tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dilaporkan untuk tugas-tugas ‘kooperatif’ dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, seperti pengecekan ulang obat untuk pemberian obat yang sebenarnya kepada pasien. Demikian pula, semakin banyak perawat yang bekerja dan berkolaborasi di bangsal dikaitkan dengan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi terhadap tindakan pencegahan pengendalian infeksi, termasuk memasukkan benda tajam ke dalam kotak yang sesuai, menutup mulut dan hidung, dan melakukan desinfeksi tangan setelah melepas sarung tangan.

Lingkungan Kerja

Ketersediaan peralatan dan sumber daya elektronik serta digitalisasi meningkatkan kemungkinan kepatuhan terhadap prinsip keselamatan pasien terkait dengan manajemen obat, perawatan kateter vena perifer, serta pemantauan dan pengawasan jantung. Sumber daya elektronik dan digitalisasi membantu mengingatkan pemeriksaan harian dan berbagi informasi antar perawat mengenai lokasi pemasangan kateter vena perifer. Keberadaan ruang lingkungan untuk penyiapan obat tanpa interupsi membantu perawat lebih mematuhi instruksi penyiapan dan pemberian obat pada akhir pekan, dibandingkan dengan hari kerja.

Organisasi dan Manajemen

Kategori ini berfokus pada kolaborasi antara perawat dan peran kepemimpinan dalam memotivasi kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien. Sebagai contoh, kepatuhan terhadap prinsip menggosok tangan saat bedah, termasuk mengeringkan tangan dengan benar setelah menggosok tangan dengan alkohol dan mencuci dengan air dan sabun, dan menggosok tangan dengan alkohol hingga siku, ditingkatkan setelah pemberian umpan balik oleh pimpinan perawat. Proses umpan balik praktis yang teratur, peluang interaksi dan observasi rekan kerja dan kolega senior, dan kepemimpinan memotivasi kepatuhan perawat untuk melakukan inspeksi harian pada lokasi pemasangan kateter vena perifer dan penggunaan sarung tangan sekali pakai saat menangani lokasi pemasangan kateter vena perifer. Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip keselamatan pasien oleh perawat jantung ditingkatkan melalui pemberian umpan balik dan memberi informasi kepada perawat di ICU tentang jenis intervensi keperawatan yang dilakukan dalam kasus disritmia serius dan hasilnya. Selain itu, standarisasi proses hand-over membantu kelangsungan rencana perawatan dengan memformalkan diskusi antar perawat dan membantu menghilangkan segala ambiguitas, sehingga meningkatkan kesadaran akan risiko terhadap keselamatan pasien.

Selengkapnya dapat diakses di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7142993/ 

 

 

Memperingati Hari Lanjut: Usia Pola Tidur pada Lanjut Usia

image: https://www.mattressclarity.com/wp-content/uploads/2018/11/elderly_man_sleeping.jpg 

Seorang bapak lanjut usia, minta kepada keluarganya mengantarkan dirinya untuk bertemu dokter di Poliklinik. Bapak tersebut menyampaikan kepada keluarganya, pola tidurnya menjadi berubah dibandingkan sebelumnya. Akhir-akhir ini ia tidak dapat tidur seperti dulu. Dahulu saat sudah tertidur, ia dapat tidur hingga bangun di pagi hari, tanpa terputus (utuh). Belakangan ini, terjadi perubahan pola tidur, dimana tidurnya pasti ada periode terbangun di malam hari, terputus-putus, kemudian terkadang masih dapat melanjutkan tidur dan lain waktu tidak dapat lagi melanjutkan tidur.

Tidur sangat berhubungan dengan kondisi fisik dan psikis sehingga tidur merupakan salah satu indikator yang sering dievaluasi berbagai praktisi kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang apakah terdapat penyakit tertentu atau sudah ada perbaikan dalam proses pemulihannya. Banyak gangguan kesehatan justru terdeteksi dari munculnya gangguan tidur yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, hasil evaluasi tidurnya yang sudah mulai teratur mengindikasikan keadaan kesehatan seseorang yang dalam proses pemulihan telah mengalami kemajuan.

Sampai saat ini belum ada literatur yang menjelaskan secara komprehensif mengenai pemahaman manusia tentang tidur. Padahal semua manusia membutuhkan tidur. Walaupun demikian, penelitian demi penelitian tentang tidur terus dilanjutkan dari waktu ke waktu, guna memahaminya secara mendalam. Para ahli mempunyai kesepakatan umum bahwa tidur sangat berhubungan erat dengan proses fisiologis dan psikologis. Selain itu, para ahli juga memiliki pendapat yang relatif sama tentang kemungkinan-kemungkinan fungsi dari tidur, yaitu: tidur berperan saat perbaikan dan pemulihan fisik dan psikis, konsolidasi memori, konservasi energi, dan juga ikut berperan dalam pertumbuhan dan perbaikan sel-sel saraf dan mengatur ulang keadaan emosi. Hal ini menggambarkan betapa manusia membutuhkan tidur dikarenakan tidur terkait erat dengan kualitas hidup seseorang. Tidur yang terganggu dapat hampir mempengaruhi semua aspek pada diri seseorang.

Studi dari berbagai literatur menunjukkan proses tidur yang sama pada semua golongan usia. Keadaan tidur yang normal terbagi menjadi dua, yaitu rapid eye movement (REM) dan non-rapid eye movement (Non-REM). Tidur Non-REM terdiri dari 4 tahap.

  • Tahap 1, sebanyak 5% dari jumlah total tidur, merupakan tahapan tidur paling ringan dengan karakteristik tampak sangat tenang, nafas dan denyut nadi melambat, tekanan darah menurun dan kadang masih ada episode pergerakan badan.
  • Tahap 2, merupakan persentase paling besar dari jumlah total tidur dengan kondisi tidur masih mirip dengan tahap satu.
  • Tahap 3 dan 4, 25% dari jumlah total tidur, pada tahap ini terjadi tidur yang paling dalam dan rileks. Gangguan tidur seperti mimpi buruk, berjalan sambil tidur dan mengompol terjadi pada tahap ini. Tahap 3 dan 4, persentasenya akan menurun seiring bertambahnya usia. Tidur REM ditandai dengan tidak adanya lagi gerakan tubuh, meningkatnya denyut nadi, pernapasan juga tekanan darah, mimpi, ereksi alat kelamin. Tidur REM yang mengisi 25% dari total proses tidur, juga akan menurun persentasenya seiring bertambahnya usia.

Siklus transisi tidur Non-REM dan REM dalam satu malam terdiri dari empat sampai lima kali. Jam tidur total normal pada orang dewasa adalah lima sampai sembilan jam. Dari beberapa catatan di atas terlihat dalam proses tidurnya sama, terdapat beberapa tahapan dari proses tidur normal yang terlihat penurunan persentasenya seiring bertambahnya usia. Hal ini mengakibatkan berkurangnya masing-masing siklus tidurnya. Siklus yang berkurang ini menyebabkan satu siklus ke siklus berikutnya tidak berkesinambungan lagi secara utuh, sehingga seseorang yang mengalami pengurangan siklus akan sering terbangun malam hari, dengan kata lain siklus tidurnya terfragmentasi. Kondisi tidur yang terfragmentasi ini tentu akan mengurangi jumlah total tidur pada lanjut usia. Literatur menyatakan kondisi penurunan jumlah total tidur ini berhubungan dengan lanjut usia, dengan perkiraan jumlah waktu satu sampai dua jam. Fenomena ini menyebabkan efisiensi tidur akan berkurang walaupun seseorang lebih lama berada di tempat tidur dalam kondisi waktu siklus tidurnya berkurang.

Bagaimana dengan skenario kasus lanjut usia pada awal tulisan ini? Apakah kondisi tersebut merupakan kondisi alami yang ada di lanjut usia? Dalam kasus tersebut, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satu aspek yang harus ditelusuri di saat lanjut usia adalah nyeri. Nyeri adalah keluhan paling umum yang ditemukan dan sangat berhubungan dengan kualitas tidur. Sering buang air kecil juga salah satu yang umum terjadi yang mengakibatkan sering terbangun di malam hari. Keadaan psikologis juga dapat mempengaruhi tidur dan gangguan tidur dapat mempengaruhi kondisi psikologis.

Langkah-langkah yang dapat dipertimbangkan jika mengalami gangguan tidur pada lanjut usia.

  1. Menerima bahwa pola tidur memang sudah berubah saat lanjut usia dan perubahan yang terjadi dipastikan bukan karena adanya gangguan psikologis dan kelainan fisik.
  2. Menghindari makan berlebihan, terutama makanan yang meningkatkan dorongan buang air kecil seperti kopi dan teh, menjelang tidur.
  3. Membuat jadwal waktu tidur dan bangun yang teratur, walaupun sulit masuk tidur, tetap harus diusahakan bangun dan berangkat tidur pada jam sama setiap harinya.
  4. Jika sudah di tempat tidur selama 20 menit dan tidak dapat tidur, sebaiknya bangkit dari tempat tidur dan melakukan kegiatan fisik sesuai kemampuan serta kembali ke tempat tidur ketika sudah mengantuk.
  5. Kamar tidur sebaiknya hanya untuk tidur. Kegiatan lain seperti membaca, menonton televisi dan menggunakan alat elektronik lainnya disarankan dilakukan di luar kamar tidur.
  6. Menghindari waktu tidur siang yang lama dan tidak olahraga yang berlebihan di malam hari.
  7. Tidur dalam kondisi gelap. Suasana kamar yang gelap akan merangsang keluarnya hormon melatonin yang mengatur sistem sirkadian untuk mengatur jam tidur.
  8. Lingkungan kamar tidur diusahakan tenang dan nyaman.
  9. Menggunakan teknik relaksasi.
  10. Sangat tidak dianjurkan menggunakan obat apapun terkait masalah tidur tanpa pengawasan dokter.

Perubahan pola tidur memang terjadi pada lanjut usia. Sehingga pada lanjut usia ketika terjadi perubahan pola tidur, harus dicoba observasi terlebih dahulu, untuk membedakan apakah ini sebagai proses alamiah karena semakin bertambahnya usia atau gangguan tidur lainnya yang perlu berkonsultasi dengan profesi kesehatan.

Penulis:

Sabar P Siregar,
Praktisi Psikiater Dokdiknis
RS Soerojo Magelang

 

 

Inovasi Kesehatan Digital untuk Meningkatkan Layanan Penyakit Kardiovaskular

Tanggal 29 September 2024 yang diperingati sebagai Hari Jantung Sedunia, merupakan peringatan untuk meningkatkan kesadaran dan mengedukasi masyarakat secara lebih lanjut mengenai penyakit kardiovaskular. Peringatan Hari Jantung Sedunia kali ini mengusung tema internasional “Use Heart for Action”, sedangkan tema nasional yang dibawakan yakni Ayo Bergerak untuk Sehatkan Jantungmu. Sebagai penyakit yang menyumbang kematian paling tinggi di tingkat global dengan prevalensi berkisar di angka 470 juta pada 2016, dengan peningkatan persentase kematian akibat penyakit kardiovaskular sebanyak 15% dari tahun 2006 hingga 2016, penyakit kardiovaskular patut menjadi perhatian utama dalam sasaran peningkatan mutu layanan. Penyakit kardiovaskular mencakup penyakit jantung iskemik, penyakit serebrovaskular, penyakit jantung hipertensi, penyakit vaskular perifer, penyakit jantung rematik, kardiomiopati, hingga aritmia. Teknologi kesehatan digital dapat digunakan untuk transformasi layanan kesehatan dengan menyediakan layanan pencegahan penyakit, juga diagnosis dan manajemen, yang dapat memperkuat pasien dan tenaga kesehatan profesional untuk memperoleh luaran kesehatan yang lebih baik.

Kesehatan Digital didefinisikan sebagai penggunaan teknologi digital, mobile, dan nirkabel untuk mendukung pencapaian tujuan kesehatan. Sekarang kesehatan digital digunakan untuk mendeskripsikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk kesehatan, meliputi intervensi kesehatan, seperti yang terdapat di bidang baru, yakni analisis big data, kecerdasan buatan, dan machine learning.

Kesehatan digital merupakan bidang yang dinamis dan selalu berkembang yang membutuhkan pendekatan baru untuk meninjau efikasi dan efektivitas teknologi terbarunya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, World Health Organization (WHO) mengeluarkan pedoman untuk memonitor dan mengevaluasi teknologi kesehatan digital. Pada pedoman ini, terdapat beberapa rekomendasi, seperti cara memilih desain studi dan indikator untuk mengevaluasi intervensi kesehatan digital, komponen kunci dan tools untuk memonitor kesehatan digital, pendekatan yang berbeda pada asesmen kualitas data, dan pedoman untuk melaporkan temuan, contohnya dengan menggunakan daftar mHealth Evidence Reporting and Assessment (mERA).

Meski kesehatan digital memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan layanan dan pencegahan penyakit kardiovaskular, terdapat beberapa bukti ilmiah yang terbatas untuk mendukung penggunaan teknologi kesehatan digital. Intervensi kesehatan digital yang akan dibahas yakni: (i) program pesan singkat, (ii) aplikasi ponsel, (iii) perangkat yang digunakan.

Program Pesan Singkat

Kepatuhan pengobatan merupakan landasan dari manajemen penyakit kardiovaskular, seperti perilaku hidup sehat, beberapa studi mengevaluasi program pengiriman pesan singkat dalam meningkatkan kepatuhan. Peninjauan sistematik Cochrane (2017) menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan sebagai efek positif dari program pengiriman pesan singkat pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. Yang perlu digaris bawahi dari intervensi ini adalah hampir seluruh program pengiriman pesan singkat hanya mengevaluasi dampaknya terhadap satu perilaku kesehatan. Meski meningkatkan perilaku kesehatan secara spesifik dapat bermanfaat bagi orang dengan penyakit kardiovaskular, peningkatan pada beberapa perilaku secara simultan dapat lebih berdampak signifikan pada kesehatan secara signifikan.

Aplikasi Ponsel

Intervensi lewat ponsel pintar dan tablet dalam aplikasi dapat mengedukasi pasien lewat informasi tertulis dan visual, serta monitor dan manajemen kondisi kesehatan melalui harian dan pengingat otomatis. Meski ada potensi besar dari aplikasi kesehatan, terdapat satu aspek yang harus dipertimbangkan, yakni pengembang dari aplikasi kesehatan dengan latar belakang tenaga kesehatan profesional yang sedikit hingga tidak sama sekali dan pengembangannya tidak berdasarkan bukti ilmiah. Penting untuk membangun aplikasi yang berfokus pada perilaku individu. Studi yang dilakukan oleh Santo et. al pada 2019 dengan randomized control trial terhadap aplikasi pengingat pengobatan dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan, menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan pengobatan yang dilaporkan pengguna (self-report) yang tidak diikuti oleh peningkatan signifikan dari luaran klinis pengguna aplikasi jika dibandingkan dengan layanan manual tanpa aplikasi. Evaluasi ini juga menemukan mayoritas pasien yang menerima intervensi aplikasi menemukan kegunaan aplikasi dalam pencatatan nama dan dosis obat yang dikonsumsi sehingga pengingat pengobatan dapat meminum obat dengan benar.

Perangkat yang Digunakan

Perangkat yang dapat digunakan merupakan alat elektronik yang dapat digunakan dan memiliki kemampuan untuk menangkap informasi, memproses data, dan menyediakan luaran informasi yang relevan lewat koneksi dengan perangkat lain, seperti aplikasi ponsel pintar. Dalam konteks layanan dan manajemen penyakit kardiovaskular, faktor gaya hidup menjadi target utama dari perangkat pintar adalah aktivitas fisik. Pencatat aktivitas menyediakan informasi langkah harian, jarak jalan, energi yang dihabiskan , dan detak jantung. Tinjauan sistematik yang dipublikasikan pada 2019 mengenai investigasi dampak intervensi yang menggunakan pencatat aktivitas berbasis pengguna perangkat dibandingkan dengan pengguna yang tidak memakai perangkat pencatat aktivitas dan perilaku sedenter dengan 3646 partisipan, menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah langkah harian dengan peningkatan mencapai 627 langkah per hari. Studi meta analisis secara spesifik pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dengan total pada 4528 pasien, menunjukkan peningkatan signifikan dengan rerata 2592.33 langkah per hari dengan penggunaan perangkat pintar. Sedangkan, bagi perangkat pintar terbaru, seperti smartwatch, dapat digunakan sebagai tool untuk monitor ritme jantung dan mendeteksi aritmia.

Selengkapnya dapat diakses di:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7532121/

 

 

Integration of Oral Health into Primary Healthcare: A Systematic Review

Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional atau Hari Kesehatan Gigi Nasional pada tanggal 12 September 2024 merupakan waktu yang tepat untuk kesadaran akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut yang perlu dimulai sejak dini. Kesehatan gigi dan mulut yang baik dapat mencegah berbagai penyakit sistemik di kemudian hari. Berbagai penelitian telah melihat hubungan antara kebersihan mulut yang buruk dan peningkatan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes, penyakit hati, dan kanker. Pentingnya kesehatan gigi dan mulut membutuhkan dukungan lebih dari berbagai pihak, sehingga sistem layanan gigi yang bermutu harus diterapkan sejak di Fasilitas Kesehatan Layanan Primer (FKTP).

Definisi layanan kesehatan primer menurut World Health Organization (WHO) adalah layanan dasar esensial yang praktikal, saintifik, menggunakan metode yang dapat diterima secara sosial, dan aksesibel secara universal bagi individu dan keluarga di kelompok masyarakat lewat partisipasi penuh, serta biaya yang terjangkau bagi masyarakat dan negara. Fasilitas kesehatan tingkat pertama mencakup kontak pertama dengan individu, keluarga, dan kelompok masyarakat dengan sistem kesehatan nasional yang mendekatkan layanan kesehatan sedekat mungkin dengan lokasi tempat tinggal dan kerja seseorang dan merupakan elemen pertama dari proses melanjutkan proses pelayanan kesehatan (health care process [HCP]).

Konferensi global dari WHO tahun 2007 mengadvokasikan integrasi layanan kesehatan gigi ke dalam layanan kesehatan primer sebagai bentuk kolaborasi susunan kelanjutan proses pelayanan kesehatan.Strategi integratif ini bertumpu pada premis faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti pola makan dan merokok yang dapat berkontribusi pada penyakit mulut dan penyakit tidak menular secara bersamaan. Hampir di setiap negara, terdapat banyak orang yang tidak memiliki akses permanen terhadap layanan kesehatan gigi pada di banyak tingkatan. Pendekatan layanan kesehatan mulut primer dapat memperkuat promosi kesehatan dan pencegahan penyakit mulut. Maka dari itu diperlukan berbagai domain, seperti asesmen risiko, evaluasi kesehatan mulut, intervensi preventif, komunikasi, dan edukasi, serta praktik kolaborasi interprofesional.

Cara Integrasi Kesehatan Mulut ke dalam Layanan Kesehatan Primer

WHO “ Stewardship” dan Ahli Kesehatan Gigi
Kesempatan diciptakan lewat penatalayanan dari WHO untuk ekspansi pencegahan penyakit mulut dan promosi kesehatan, serta praktik di masyarakat lewat program masyarakat dan di layanan kesehatan. Hal ini termasuk implementasi program demonstrasi perawatan kesehatan mulut berbasis komunitas.

Menggabungkan Tenaga Kerja untuk Layanan Kesehatan Mulut
Direkomendasikan untuk menggabung tenaga kerja dalam formasi dokter gigi, dokter gigi spesialis, terapis gigi, ahli kesehatan gigi, asisten, ahli teknologi gigi, dan koordinator kesehatan gigi komunitas.

Model Layanan Inovatif
Spektrum program berupa membawa layanan gigi ke dalam setting medis dan komunitas dengan cara:

  1. Koordinasi dengan meningkatkan layanan oleh tenaga medis dalam hal layanan pencegahan kesehatan mulut dasar dengan kunjungan medis yang terkoordinasi dengan rujukan ke layanan gigi
  2. Lokasi bersama layanan kesehatan gigi di tempat praktik medis
  3. Integrasi pelayanan kesehatan gigi dengan tim layanan kesehatan melalui koordinasi kasus untuk kebutuhan restorasi gigi
  4. Telehealth yang didukung layanan kesehatan gigi

Kerangka Integrasi (Rainbow Model)

Rainbow model dikemukakan oleh Harnagea et al. (2018), dimana dimensi layanan terintegrasi terstruktur dalam 3 level dimana integrasi dapat diterapkan: level makro (sistem), level meso (organisasi), dan level mikro (klinis).

Level makro (integrasi sistem): Menggabungkan integrasi vertikal dan horizontal dapat meningkatkan penyediaan layanan yang berkesinambungan, komprehensif, dan terkoordinasi di seluruh rangkaian perawatan. Integrasi vertikal terkait dengan perawatan penyakit di level spesialisasi (berdasarkan penyakit) yang berbeda secara vertikal. Hal ini melibatkan integrasi perawatan antar sektor, seperti integrasi layanan kesehatan primer dengan layanan sekunder serta tersier. Sebaliknya, integrasi horizontal dilakukan dengan meningkatkan kesehatan individu dan populasi secara keseluruhan (holistik) oleh kolaborasi rekan dan antar sektor.

Level meso (integrasi organisasi): Integrasi organisasi merujuk pada layanan yang diproduksi dan diberikan dengan cara saling terkait. Hubungan interorganisasi dapat meningkatkan mutu, pangsa pasar, dan efisiensi. Contohnya dengan menggabungkan keterampilan dan keahlian dari organisasi yang berbeda.

Level meso (integrasi profesional): Integritas profesional merujuk pada kemitraan antara profesional, baik dalam (intra) dan antara (inter) organisasi. Kemitraan ini dapat dicirikan sebagai bentuk integrasi vertikal dan/atau horizontal.

Level mikro (integrasi klinis): Koordinasi layanan yang berfokus pada individu di sebuah proses tunggal lintas waktu, tempat, dan disiplin.

Integrasi fungsional: Menghubungkan level mikro-, meso-, dan makro. Integrasi fungsional termasuk koordinasi fungsi pendukung utama, seperti sumber daya manusia manajemen keuangan, perencanaan strategis, manajemen informasi, dan peningkatan mutu.

Integrasi normatif: Menghubungkan level mikro-, meso-, dan makro. Mengembangkan dan mempertahankan kerangka acuan umum antara organisasi, kelompok profesional, dan individu sehubungan dengan misi, visi, nilai-nilai, dan budaya bersama.

Selengkapnya dapat diakses melalui:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6618181/ 

 

 

Considerations for National Public Health Leadership in Advancing Sexual Health

Tantangan bidang kesehatan masyarakat terkait perilaku seksual, termasuk HIV/AIDS, penyakit menular seksual (PMS) lainnya, hepatitis virus, kehamilan tidak diinginkan, dan kekerasan seksual, merupakan masalah kesehatan dunia dan memengaruhi 3 dari 8 Millennium Development Goals seperti mengurangi mortalitas anak, meningkatkan kesehatan mental, dan melawan HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya. Tantangan ini umumnya lebih tinggi derajat keparahannya di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Di Inggris, terdapat hampir 400.000 diagnosis PMS baru yang muncul setiap tahunnya. Angka tersebut merupakan kenakan sejumlah 30% dari angka sejak tahun 2000. pada negara uni Eropa , lebih dari 27.00 infeksi HIV baru muncul setiap tahunnya, dan sekitar 44% dari seluruh kehamilan di Eropa merupakan kehamilan tidak diinginkan. Pada negara Australia, diperkirakan 170.000 orang hidup dengan infeksi hepatitis B dan 34% wanita melaporkan telah mengalami kekerasan seksual dalam 12 bulan terakhir. DI negara Amerika serikat, diperkirakan 19 juta PMS dan hampir 50.000 infeksi HIV baru muncul tiap tahunnya; 1,2 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, dan 800.000 hingga 1,4 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis; lebih dari 1,8 juta wanita mengalami kehamilan tidak diinginkan, dan 1,3 juta wanita dirudapaksa. Kelahiran pada remaja di Amerika Serikat terhitung lebih tinggi dibandingkan negara Barat lainnya. Penderita kanker di alat reproduksi, dan kanker lainnya terkait PMS seperti human papilloma virus (HPV) dan virus hepatitis B, dan isu fungsi seksual (seperti disfungsi ereksi, nyeri dalam hubungan seksual, dan libido rendah) juga merupakan kekhawatiran dalam kesehatan seksual, terutama orang dewasa di dunia.

Luaran kesehatan reproduksi dan seksual menunjukkan ketidakadilan dalam kesehatan yang sangat timpang. Beberapa kelompok terus-menerus mengalami tantangan besar dalam melindungi kesehatan seksual mereka karena keterbatasan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang meningkatkan risiko mereka untuk mengalami luaran dampak kesehatan yang buruk. Wanita sebagai kelompok yang mengalami dampak buruk lebih banyak akibat dari kehamilan tidak diinginkan dan kekerasan seksual dibandingkan pria. hal ini juga berdampak pada kelompok usia remaja; minoritas ras dan etnis; lesbi, gay, biseksual, dan transgender; lelaki seks lelaki (LSL); dan yang memiliki disabilitas. Populasi ini banyak mengalami sindemik, dua atau lebih masalah kesehatan yang berkaitan secara sinergis, yang menimbulkan beban penyakit berlebih.

Kesehatan seksual menurut Centers for Disease Control and Prevention/Health Resources and Services Administration Advisory Committee on HIV, Viral Hepatitis, and STD Prevention and Treatment (CDC/HRSA CHACHSPT) merupakan kondisi kesejahteraan yang berhubungan dengan seksualitas sepanjang hidupnya yang melibatkan dimensi fisik, emosional, mental sosial, dan spiritual. Kesehatan seksual merupakan elemen intrinsik dari kesehatan manusia berdasarkan pendekatan seksualitas, hubungan, dan reproduksi yang positif, adil, dan terhormat yang bebas dari paksaan , ketakutan, diskriminasi stigma, rasa malu, dan kekerasan. Hal tersebut, termasuk kemampuan untuk memahami manfaat, risiko, dan tanggung jawab dari perilaku seksual; pencegahan dan perawatan penyakit dan dampak buruk luaran lainnya; dan kemungkinan untuk memenuhi hubungan seksual. Secara umum, kesehatan seksual dipengaruhi oleh konteks sosio ekonomi dan budaya, termasuk peraturan, praktik, dan layanan, yang mendukung luaran kesehatan bagi individu, keluarga, dan komunitas.

Promosi kesehatan sebagai layanan kesehatan masyarakat esensial

Pemimpin dalam kesehatan masyarakat sangat memahami peran penting dari promosi kesehatan dan pembuatan keputusan yang sehat dapat mencegah penyakit infeksi dan kronis, serta cedera. Dalam beberapa dekade, pendekatan dengan promosi kesehatan telah menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang terkait seksualitas dan perilaku seksual yang mengilhami kesehatan seksual sebagai aspek penting dalam kesehatan secara menyeluruh dan kesejahteraan individu, keluarga , komunitas, dan negara. Beban kesehatan yang besar, pengeluaran untuk dampak buruk yang terkait perilaku seksual, dan peningkatan minat dalam menggunakan pendekatan promosi kesehatan untuk mengatasinya, sektor kesehatan masyarakat sebaiknya mempertimbangkan untuk mengatasi kesehatan seksual karena beberapa alasan.

  1. Pendekatan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan seksual secara tradisional bergantung pada intervensi, termasuk edukasi, skrining, terapi, notifikasi pasangan, imunisasi, dan layanan pencegahan lainnya, yang utamanya berfokus pada luaran negatif, seperti penyakit dan dampak buruk lainnya terkait perilaku seksual. Cara ini sering berfungsi terkategori dalam kolaborasi yang terbatas antar program dan belum memberikan hasil optimal.
  2. Semua negara menghadapi tantangan dalam menurunkan pembiayaan layanan kesehatan, sehingga membutuhkan pendekatan yang hemat biaya untuk layanan kesehatan dan kesehatan masyarakat. Anggaran yang terbatas meningkatkan efisiensi dalam pemberian layanan kesehatan dan praktik kesehatan masyarakat. Investasi pada layanan kesehatan reproduksi dan seksual dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Menyediakan kesehatan seksual yang lebih luas dapat membantu individu untuk membuat pilihan kesehatan seksual yang sehat dan meningkatkan pencegahan HIV, PMS lainnya, kehamilan tidak diinginkan, dan kekerasan seksual, serta dengan potensi menurunkan pembiayaan pelayanan kesehatan.
  3. Fokus kesehatan seksual konsisten dengan prioritas kesehatan nasional
  4. Misi intrinsik kesehatan masyarakat untuk menilai dan memformulasikan respon terhadap masalah kesehatan.

Kerangka promosi kesehatan seksual

shp

Dari dampak yang substansial dan biaya dampak buruk dari luaran terkait perilaku seksual, entitas kesehatan masyarakat dapat membentuk pendekatan kesehatan masyarakat yang lebih terkoordinasi untuk memajukan kesehatan seksual. Pendekatan ini dapat melengkapi dan mempersatukan kerangka kesehatan seksual untuk menekankan pentingnya promosi kesehatan dalam mendukung dan meningkatkan kontrol penyakit dan aktivitas pencegahan dalam lingkup kesehatan masyarakat. Kerangka ini meliputi 5 prinsip kunci, yakni:

  1. Mengkontektualisasikan isu. Dalam kerangka kesehatan seksual, kontrol dan pencegahan penyakit tetap merupakan fokus utama kesehatan masyarakat. Usaha dapat diperkuat dengan mendorong perspektif yang lebih kuat yang mempertimbangkan faktor kompleks pada tahap individu, relasi, komunitas, dan luaran kesehatan seksual nasional.
  2. Menekankan kesejahteraan. Kesehatan seksual membutuhkan pendekatan holistik yang dapat menggabungkan aspek fisik, emosional, mental, sosial, dan spiritual dari seksualitas. Dalam kerangka kesehatan seksual, fokus inti melakukan pendekatan holistik pada kesehatan manusia dari luaran penyakit, yang tergabung ke dalam agenda pencegahan dan kesejahteraan baru, juga dapat membantu melawan stigma yang umumnya muncul beriringan dengan kesehatan seksual.
  3. Fokus pada hubungan yang positif dan saling menghargai. Pentingnya hubungan yang penuh hormat bagi kesehatan seksual dapat menyediakan titik temu bagi tindakan dalam mencegah dan meningkatkan kesehatan. Hubungan yang positif dan saling menghargai dalam berbagai jenis (seperti orangtua-anak. pasangan, dan sebaya) menunjukkan faktor protektif bagi berbagai isu kesehatan. sehingga dapat membuat hubungan esensial yang sehat bagi perkembangan manusia.
  4. Memahami dampak seksualitas bagi kesehatan. Memahami dan mengartikulasikan komponen kesehatan seksual merupakan aspek esensial untuk penguatan pencegahan penyakit, kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan, dan komponen lain menjadi kerangka kesejahteraan yang lebih luas.
  5. Mengambil pendekatan sindemik untuk pencegahan. Pendekatan inklusif berpotensi memperkuat kolaborasi dan komunikasi antar staff yang menyediakan layanan yang berbeda dalam program yang beragam. Hal ini membantu merincikan divisi untuk mengatasi, masalah kesehatan seksual.

Potential benefits of a sexual health framework

Adoption of a sexual health framework as part of a multisectoral approach for public health action35 has several potential benefits. First, it has the potential to engage new and diverse partners linked by mutual goals, a commitment to addressing common determinants, and a desire to seek and enhance synergistic impacts. Second, the sexual health framework can normalize open, honest, and respectful conversations around sexuality and sexual responsibility and their contributions to overall health and well-being. Third, because STIs and other adverse health outcomes are highly stigmatized conditions, use of a broader, health-focused framework has the potential to reduce stigma, fear, and discrimination associated with these conditions. Fourth, the sexual health framework provides opportunities to enhance the efficiency and effectiveness of prevention messages and services by packaging an array of often disparately presented messages and services within a comprehensive structure

Strategi potensial untuk memajukan kesehatan seksual

Usaha untuk mengatasi masalah kesehatan menggunakan kerangka kesehatan seksual dapat menstimulasi upaya kesehatan masyarakat yang baru dan kreatif di level nasional. Strategi tersebut adalah:

  1. Memberikan kepemimpinan nasional. Pekerjaan kesehatan masyarakat yang memungkinkan kerjasama dengan partner multisektor di tingkat nasional, provinsi, dan lokal untuk mengimplementasikan pendekatan tersebut.
  2. Meningkatkan kemitraan strategis. Kemitraan yang dinamis dapat membentuk dan mendukung upaya kesehatan masyarakat. Kelompok dari berbagai sektor (seperti bisnis, layanan kesehatan, dan akademia) juga politik, agama, dan sosial penting untuk mencapai persetujuan dalam isu sulit yang membutuhkan dukungan luas dan meningkatkan upaya kesehatan seksual yang efektif.
  3. Memperkuat dasar sains: surveilans, monitoring dan evaluasi, serta penelitian. Untuk mengoptimalkan upaya kesehatan seksual nasional, kegiatan dalam domain saintifik penting, seperti meningkatkan surveilans untuk meningkatkan aktivitas monitor dan luaran terkait kesehatan seksual (seperti pengetahuan, komunikasi, sikap, akses layanan dan kelengkapan, perilaku seksual, hubungan, dan dampak buruk); monitoring evaluasi untuk menilai implementasi kegiatan kesehatan seksual; dan penelitian untuk membentuk dan menilai pendekatan pencegahan baru yang mengatasi celah dalam menggunakan kerangka kesehatan seksual secara efektif.
  4. Mendorong tindakan kebijakan yang efektif. Pembangunan dan implementasi kebijakan yang sesuai dapat mendukung akses yang lebih baik ke pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual yang aman, lingkungan yang mendukung (bebas tekanan, diskriminasi, dan kekerasan) yang dapat berdampak pada perilaku seksual. Pemangku kebijakan dapat mengidentifikasi dan mendukung kebijakan berdasarkan bukti terkait kesehatan seksual.
  5. Memperkuat infrastruktur dan memberikan pelatihan penyediaan layanan kesehatan seksual yang layak
  6. Mendukung kesadaran dan meningkatkan pengetahuan lewat komunikasi dan edukasi

Komunikasi dapat diperkuat untuk membuat upaya yang sinergis dalam mengupayakan kesehatan seksual. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan secara umum mengenai kesehatan seksual penting untuk dilakukan bagi masyarakat, komunitas, organisasi, dan pemangku kebijakan lainnya.

Selengkapnya dapat mengakses: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3562752/

 

 

 

 

Peningkatan Kapasitas di Rumah Sakit: Efektivitas Strategi Respons dan Mitigasi

Departemen emergensi rumah sakit diharuskan untuk menstabilkan dan merawat pasien dengan cedera atau sakit yang membahayakan nyawa, tanpa memperdulikan dampaknya pada kinerja rumah sakit. Ketika kebutuhan dari insiden dengan penyebab multipel atau kejadian emergensi lain melebihi kapasitas, rumah sakit akan meningkatkan suplai layanan kesehatan dengan cepat, hal inilah yang disebut sebagai surge capacity. Kejadian seperti ini dapat terjadi setiap minggu, bahkan setiap hari , dimana departemen emergensi beroperasi mendekati atau melebihi kapasitas di waktu puncak dan ketika kejadian dengan penyebab multipel terjadi lebih sering. Rumah sakit akan memberikan surge capacity ketika utilisasi sumberdaya sedang dibutuhkan, dimana hal ini terjadi ketika ada kejadian disruptif atau ketika pasien datang dalam jumlah yang banyak.

Menurut pemerintah Amerika Serikat, surge capacity merupakan kunci dari kinerja rumah sakit dan pembuat kebijakan mensyaratkan rumah sakit untuk memiliki program persiapan yang mengikutsertakan surge capacity yang adekuat. Keputusan operasional yang terlibat dalam manajemen surge capacity dapat dilihat dalam kerangka konseptual yang lebih besar dari manajemen emergensi, yang meliputi 4 fase, yakni persiapan (preparation), response (response), pemulihan (recovery), dan mitigasi (mitigation). Dalam fase persiapan, rumah sakit akan membangun kapasitas dan mengidentifikasi sumberdaya yang dapat digunakan saat emergensi. Dalam fase respons, rumah sakit akan merespon emergensi dan mengontrol efek negatifnya. Pada fase pemulihan, rumah sakit akan melanjutkan operasional secara normal. Terakhir, di fase mitigasi, rumah sakit akan mengambil langkah untuk mengurangi keparahan dan dampak dari emergensi terhadap operasinya.

Dalam studi yang dilakukan dalam penelitian ini, terdapat beberapa rumah sakit yang diwawancarai mengenai fase respon dan fase mitigasi yang menjelaskan bagaimana cara membuat keputusan tentang surge capacity. Dua strategi yang dipelajari untuk meningkatkan surge capacity dalam fase repson dan fase mitigasi, yakni: (1) koordinasi keputusan pemulangan antara departemen emergensi dan unit rawat inap selama fase respon dan (2) manajemen kebutuhan eletif di unit rawat inap lewat penghalusan beban kerja selama fase mitigasi. Dalam model yang dibentuk dan disimulasikan untuk menghitung dampak dari kedua strategi surge capacity, didapatkan bahwa kedua strategi dapat meningkatkan surge capacity.

Surge Capacity dan Respon terhadap Insiden

Peninjauan literatur terhadap berbagai studi kualitatif dan kuantitatif menghasilkan beberapa kesimpulan yang direkomendasikan, seperti memberikan patokan surge capacity sebesar 20%-30% dari kapasitas normal rumah sakit, melakukan 5 tahap rencana pemulangan untuk pasien yang tersedia berdasarkan risiko konsekuensial kejadian medis, dan proporsi rawat inap substansial dapat dipulangkan ke fasilitas keperawatan untuk meningkatkan surge capacity.

Keputusan Pemulangan dan Mekanisme Koordinasi Alur pasien

Keputusan pemulangan memberikan dampak bagi rumah sakit untuk menerima pasien dari departemen emergensi. Bukti dari studi yang dilakukan oleh Shi et. al (2015) dan KC dan Terwiesh (2017) mendemonstrasikan bahwa rumah sakit yang memberlakukan aturan pemulangan secara aktif mampu menerima pasien lebih banyak. Kurangnya koordinasi dari unit rawat ini merupakan penyebab penuhnya departemen emergensi dan lamanya rawat inap di departemen emergensi dikaitkan dengan lamanya pasien dirawat inapkan, sehingga koordinasi pemulangan pasien antara departemen emergensi dan unit rawat inap dapat meningkatkan surge capacity. Mekanisme seperti mempekerjakan manajer penempatan bed dan kontrol bed tersentralisasi, hingga sistem informasi real-time dan memperkirakan permintaan dapat digunakan.

Ketersediaan Bed Rawat Inap dan Mekanisme Penghalusan Beban Kerja

Usaha untuk memperhalus beban kerja rawat inap memerlukan 2 strategi, yakni admisi elektif dan optimisasi jadwal blok. Admisi elektif merupakan metode efektif untuk menurunkan variabilitas beban kerja rawat inap tanpa mengurangi volume keseluruhan. Ketika admisi yang terencana terlalu banyak, otomatis operasi yang direncanakan akan dijadwalkan ulang ke hari lain yang jumlah admisi terencana lebih rendah dibandingkan dengan biasanya. Implementasi admisi elektif terbukti dapat menurunkan luaran mutu yang tidak diharapkan, seperti diversi intensive care unit (ICU). Optimisasi jadwal blok pembedahan melibatkan 2 tahap yaitu memperkirakan penggunaan sumberdaya rawat inap post bedah dan informasi real time dan real space terkait ketersediaan kapasitas ruangan operasi. Prosedur penjadwalan blok terstandarisasi dapat mengurangi variasi kebutuhan bed rawat inap. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan Levine dan Dunn (2015) yang mengatur ulang 21% blok pembedahan dapat mengurangi okupansi puncak sebanyak 3% meski terdapat peningkatan 9% dari volume total.

Selengkapnya dapat diakses di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8759806/

 

 

Workplace bullying and its impact on the quality of healthcare and patient safety

Perundungan di tempat kerja (Workplace Bullying/WPB) merupakan perilaku mengganggu yang mungkin terjadi dalam profesionalisme industri kesehatan. Menurut, World Health Organization (WHO), WPB merupakan insiden di mana individu menghadapi penganiayaan yang berulang dan membahayakan kesehatan. Hal ini sering ditandai dengan persistensi dan durasi jangka panjang , serta disebabkan oleh faktor psikososial, budaya, dan/atau individu. WPB mencakup serangan langsung seperti memukul, mengumpat, mengejek, atau serangan tidak langsung seperti menyebarkan rumor. Salah satu jenis utama perundungan adalah perundungan sosial, yaitu, “perilaku yang menyinggung,” yang melibatkan lelucon yang tidak dapat diterima terkait dengan gender, penghinaan di depan umum, lelucon praktis, fitnah, dan eksploitasi. Sebuah studi yang diterbitkan oleh WHO menyatakan bahwa persentase praktisi kesehatan di negara seperti Brazil 39,5%, Bulgaria 32,2%, Afrika Selatan 52%, Thailand 47,7%, Portugal 27,4%, Lebanon 40,9%, dan Australia hingga 67%, telah mengalami pelecehan verbal dalam kurun 1 tahun.

Meskipun WPB merupakan hal umum di dunia, implikasi dan tolerabilitasnya bervariasi menurut budaya, moral, dan nilai praktisi kesehatan yang tertanam dalam komunitas, juga tercermin dalam lingkungan layanan kesehatan. Pada individu, WPB di antara pekerja layanan kesehatan telah dikaitkan dengan peningkatan penyakit. Dalam studi retrospektif, disebutkan praktisi layanan kesehatan sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi kerja mereka yang penuh tekanan. Demikian pula, konsekuensi organisasi dari WPB dapat terwujud dalam lingkungan kerja yang toksik atau tidak bersahabat, yang sangat terkait dengan mutu layanan dan keselamatan pasien yang terganggu. Hal ini menghambat kerja tim, menghalangi komunikasi, mengganggu perilaku, dan meningkatkan kesalahan medis dengan memengaruhi mutu organisasi layanan kesehatan.

Pembullyan di tempat kerja menyebabkan kekhawatiran. Rasa khawatir menandakan bahwa praktisi tersebut telah terpapar WPB, atau menyaksikan insiden yang dialami oleh seorang kolega. Tujuan lainnya adalah bahwa kekhawatiran terus-menerus tentang WPB menciptakan lingkungan berisiko tinggi bagi karyawan. Hal ini juga memengaruhi produktivitas dan tingkat konsentrasi, yang dapat meningkatkan kemungkinan kesalahan serta membahayakan mutu layanan dan keselamatan pasien. Terakhir, praktisi yang khawatir akan WPB dapat dikuasai rasa takut karena kurangnya pengetahuan mereka tentang pencegahan, penanganan, dan pelaporan insiden WPB.

Studi ini mengadopsi studi cross-sectional, survei diisi sendiri oleh praktisi kesehatan (dokter, perawat, farmasi, pegawai administrasi, dan teknisi)dan didistribusikan di antara praktisi layanan kesehatan di empat rumah sakit di berbagai wilayah geografis Arab Saudi. Kuesioner survei terdiri dari sosiodemografi dan karakteristik profesional peserta, termasuk jenis kelamin, usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, kebangsaan, durasi kerja, posisi pekerjaan, dan pelatihan atau paparan sebelumnya terhadap WPB. WHO mendefinisikan WPB sebagai bentuk penganiayaan multifaset, yang ditandai dengan paparan berulang terhadap satu orang terhadap agresi fisik dan/atau emosional. Para peserta diinstruksikan untuk mengisi berbagai bentuk bullying: fisik, verbal, seksual, atau sosial. Bullying fisik menyebabkan cedera pada tubuh atau properti seseorang dengan memukul, menendang, meludah, mencubit, mendorong, dan menggunakan bahasa tubuh yang kasar. Bullying verbal melibatkan penggunaan kata-kata yang menyinggung melalui ejekan, penghinaan nama, dan/atau komentar seksual yang tidak dapat diterima. Bullying relasional atau sosial menunjukkan adanya kerusakan reputasi atau hubungan seseorang dengan menyebarkan rumor, secara terang-terangan mengabaikan keberadaannya, atau mempermalukan seseorang di depan umum.

Kekhawatiran (worry) didefinisikan sebagai ide, gambaran, emosi, atau tindakan negatif yang tidak dapat dikendalikan oleh seseorang dan dialami secara berulang-ulang. Orang yang khawatir melakukan analisis risiko kognitif proaktif terhadap suatu objek, orang, peristiwa, atau situasi dalam upaya menghindari, memecahkan, atau mengantisipasi potensi ancaman. Beberapa orang percaya bahwa kekhawatiran bisa jadi merupakan respons terhadap tantangan yang netral, ringan, atau sedang, atau bahkan terhadap tantangan yang tidak ada. Dari perspektif psikologis, orang yang khawatir adalah individu yang cemas tentang masalah nyata atau imajiner, seperti kesehatan, keuangan, lingkungan, dan teknologi.

Dampak WPB terhadap kinerja kerja dan keselamatan pasien

Peserta penelitian memiliki rasa khawatir tentang WPB yang meningkatkan tingkat stres mereka. Mereka menyatakan bahwa WPB berdampak negatif pada kinerja kerja mereka dan menyebabkan masalah komunikasi antar anggota staf. Skor median keseluruhan untuk kekhawatiran adalah 81,7. Sebagian besar responden ( n = 885, 82,4%) dapat diklasifikasikan mengalami rasa khawatir.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kekhawatiran tentang WPB

Analisis data menunjukkan bahwa perempuan (83,3%) dan praktisi yang lebih muda (90,0%) secara signifikan melaporkan skor yang lebih tinggi. Praktisi lajang (86,7%) dan praktisi yang lebih terdidik (90,0%) juga secara signifikan memiliki skor yang lebih tinggi. Praktisi dengan pengalaman kerja yang lebih sedikit juga lebih khawatir tentang WPB. Mereka yang mengaku pernah terpapar WPB sebelumnya, secara signifikan memiliki rasa khawatir lebih banyak. Hubungan negatif yang signifikan ditemukan antara penilaian diri praktisi terhadap mutu layanan dan keselamatan pasien di rumah sakit serta tingkat kekhawatiran dengan WPB. Praktisi yang lebih terdidik memiliki kemungkinan 1,7 kali lebih besar untuk merasa khawatir tentang WPB dibandingkan dengan kelompok yang kurang terdidik. Responden dengan pengalaman yang lebih sedikit memiliki kemungkinan 1,6 kali lebih besar untuk merasa khawatir tentang WPB. Mereka yang belum pernah menerima pelatihan sebelumnya tentang WPB dan mereka yang pernah terpapar WPB, keduanya lebih mungkin merasa khawatir dibandingkan dengan kelompok yang tidak .

Praktisi perempuan dan lajang di fasilitas kesehatan multi-regional ini menunjukkan tingkat kekhawatiran tertinggi tentang WPB. Keterlibatan perempuan dalam angkatan kerja telah meningkat drastis di Arab Saudi, dan dibandingkan dengan pekerja laki-laki, perempuan lebih rentan terhadap WPB. Bagi beberapa praktisi, kebutuhan mereka akan pekerjaan lebih besar daripada akibat WPB, namun setiap administrator rumah sakit harus berusaha untuk menjamin keselamatan dan kepuasan mereka. Para penulis juga percaya bahwa karyawan muda dan lajang mungkin tidak memiliki beberapa keterampilan yang membantu menghindari, menangani, dan menghadapi pelaku WPB. Anehnya, praktisi yang lebih berpendidikan memiliki tingkat kekhawatiran tertinggi tentang WPB. Salah satu kemungkinan alasan adalah bahwa kategori praktisi ini bisa lebih diirikan oleh rekan-rekan mereka dengan tingkat karier yang sama atau oleh manajemen mereka (iri hati ke bawah atau ke atas). Iri hati adalah prediktor permusuhan, persaingan, atau perilaku agresif yang ditunjukkan dalam WPB, dan juga terkait dengan perilaku kerja yang kontraproduktif.

WPB pada praktisi dan kelanjutan layanan pasien dapat berbahaya, tidak hanya dalam hal kesalahan atau layanan di bawah standar, tetapi juga pada tingkat pergantian yang tinggi untuk personel yang berpengalaman dan tidak berpengalaman. Sekelompok praktisi di fasilitas kesehatan multi-regional ini telah mengakui bahwa mereka, sampai tingkat tertentu, terpapar pada WPB. Kelompok ini dengan jelas menyatakan tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi tentang WPB yang menjadi pengaruh negatif pada berbagai aspek seperti layanan pasien, keselamatan, interaksi dengan praktisi lain, dan kinerja kerja. Meskipun insiden yang dilaporkan sendiri ini terjadi pada titik waktu tertentu, residu emosionalnya tetap ada. Para penulis berspekulasi bahwa seorang yang selamat dari WPB mungkin mengembangkan lebih banyak pengalaman dalam menangani insiden di masa depan. Namun, pengalaman pribadi tidak cukup untuk menjamin lingkungan kerja yang aman terutama jika layanan pasien dilemahkan oleh WPB. Di fasilitas ini, peserta memiliki riwayat WPB yang positif, namun skor kekhawatiran mereka tetap tinggi.

Masalah apapun yang terkait dengan mutu dan keselamatan layanan pasien tidak boleh diabaikan karena dapat memiliki yang signifikan dengan WPB; karenanya, tanggungjawab administrator rumah sakit perlu diperkuat. Dari sudut pandang praktisi, WPB meningkatkan stres, mengganggu kinerja, memengaruhi komunikasi, dan mengubah pemikiran, yang semuanya akan membahayakan mutu layanan kesehatan dan pemberiannya. Literatur sebelumnya telah membuktikan bahwa kedua aspek tersebut terkait secara signifikan, karena WPB memengaruhi kerja tim dan retensi staf yang mengakibatkan praktisi tertekan dan frekuensi kesalahan medis yang lebih tinggi. Oleh karena itu, petugas keselamatan pasien dan badan akreditasi disarankan untuk waspada dengan tingkat kekhawatiran atas WPB di antara praktisi kesehatan dan untuk mengintegrasikannya dalam alat penilaian mereka.

Implikasi terhadap kebijakan, praktik, dan penelitian

Literatur telah memberikan bukti untuk banyak pendekatan yang terbukti dan efektif termasuk teknik penulisan skenario untuk meredakan temuan perundungan seperti DESC (describe, express, suggests, consequences) atau simulasi permainan peran untuk berlatih menghadapi perundung dengan cara yang tegas. Penelitian di masa mendatang harus mencakup pengujian koherensi teoritis model, dan pengujian intervensi perundungan untuk menentukan dampak perundungan pada lingkungan tempat kerja dan hasil yang terkait dengan pasien.

Rekomendasi

Administrator rumah sakit didorong untuk terlibat dalam percakapan rutin dengan praktisi mana pun yang melaporkan kekhawatiran tentang WPB. Komunikasi pribadi yang terbuka dan transparan dapat membantu mengisolasi kasus-kasus yang tidak menguntungkan tersebut, mengungkap pelaku, dan melindungi karyawan lainnya. Perjuangan melawan WPB memerlukan upaya kolaboratif antara administrator rumah sakit dan peneliti untuk menyelidiki lebih lanjut faktor-faktor predisposisi WPB lainnya yang biasanya kurang dilaporkan di rumah sakit. Ini termasuk menilai masa kanak-kanak awal pelaku perundungan, kesejahteraan psikososial mereka, pemicu stres finansial, penyalahgunaan alkohol/zat, integritas emosional, dan riwayat trauma.

 

Selengkapnya dapat diakses pada:
https://human-resources-health.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12960-019-0433-x

 

 

 

 

Meningkatkan Luaran Pasien dengan Administrasi Rumah Sakit yang Efektif

Administrasi rumah sakit merupakan pivot dari ekosistem layanan kesehatan yang menjadi landasan rumah sakit dunia. Manajemen rumah sakit adalah komponen penting untuk memastikan layanan kesehatan dapat tersampaikan secara efektif . Administrator rumah sakit mengawal berbagai aspek dalam operasi rumah sakit, dari manajemen keuangan hingga alokasi sumberdaya untuk peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Sistem administrasi rumah sakit telah berubah secara signifikan dalam hitungan tahun untuk ikut beradaptasi dalam dinamika industri layanan kesehatan. Cakupan sistem rumah sakit telah merambah tanggung jawab yang lebih luas, termasuk dalam perawatan yang berpusat pada pasien, pengambilan keputusan berdasarkan data, dan perencanaan strategi.

Tujuan dari setiap sistem layanan kesehatan adalah menyesal. Layanan bermutu tinggi yang dapat menghasilkan luaran pasien yang baik. Luaran pasien menjadi tolak ukur dalam menilai efektivitas dan kesuksesan intervensi, serta layanan kesehatan. Luaran ini mencakup banyak faktor, seperti kesehatan pasien secara keseluruhan, kepuasan terhadap layanan, pemulihan, dan tentu pencegahan efek samping spesifik yang dapat muncul pada terapi atau kondisi mereka.
Rumah sakit dan layanan kesehatan terus-menerus bekerja untuk meningkatkan luaran pasien, karena mereka memahami bahwa sistem internal terkoneksi dengan reputasi dan keberhasilan institusi.

Komponen kunci dari efektivitas administrasi rumah sakit, yakni:

Kepemimpinan dan Tata Kelola

Pentingnya struktur tata kelola di administrasi rumah sakit penting dalam manajemen risiko yang efektif. Tata kelola meliputi kebijakan prosedur dan proses penentuan keputusan yang menjadi panduan institusi titik dalam konteks ini, manajemen risiko efektif berarti mengidentifikasi, menilai, dan memitigasi risiko potensial yang dapat mempengaruhi kinerja Rumah Sakit, pasien, dan keseluruhan reputasi. Tata kelola satu arah mempengaruhi aspek ini lewat Tanggung jawab dan otoritas yang jelas. Sebagai contoh, rumah sakit dengan struktur tata kelola yang jelas akan memastikan komite atau individu bertanggung jawab dalam monitoring dan mengatasi berbagai risiko. Hal ini termasuk dalam risiko klinis yang terkait dengan keselamatan pasien, risiko finansial, atau risiko kepatuhan dengan standar regulasi. Dengan tata kelola yang baik resiko ini dapat diidentifikasi dan dikelola dengan lebih efektif.

Pertimbangan etik merupakan dasar dari dunia administrasi rumah sakit, yang mempengaruhi pembuatan keputusan dan praktik yang memiliki efek langsung kepada berbagai aspek yang sudah disebutkan sebelumnya. Dapat bermanifestasi dalam berbagai aspek pelayanan kesehatan termasuk keamanan identitas pasien proses inform konsen keputusan keperawatan di tahap akhir kehidupan, dan alokasi yang seimbang dari sumber daya yang terbatas administrator rumah sakit dapat menavigasi tantangan-tantangan yang rumit sembari tetap menjunjung prinsip benefience (promosi kesejahteraan), non-maleficence (pencegahan perilaku menyakiti), menghargai otonomi pasien (menghargai pilihan pasien), dan mengejar keadilan dalam alokasi sumber daya.

Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan memegang peran penting dalam administrasi Rumah Sakit, sebagai dasar dari penyampaian mutu pelayanan dan keberlanjutan jangka panjang dari layanan kesehatan titik dalam lanskap yang dinamis ini, administrasi Rumah Sakit ditegaskan untuk mengalokasikan sumber daya secara efektif menjunjung penghematan biaya, dan memaksimalkan menghasilkan pendapatan yang secara langsung akan mempengaruhi luaran dari pasien. Untuk mencapai tujuan ini administrator harus memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan anggaran, memprioritaskan investasi dalam teknologi dan personal layanan kesehatan dan mengadopsi strategi keuangan yang inovatif. Mereka harus dapat memastikan bahwa setiap keputusan finansial memberikan dampak yang positif terhadap layanan pasien dengan cara meningkatkan mutu dari layanan yang diberikan dan mempertahankan aksesibilitas, serta keterjangkauan bagi pasien. Selain itu, manajemen keuangan yang efektif penting dalam mempertahankan kemitraan mendorong penelitian dan pengembangan serta memperkuat keseluruhan kinerja dari institusi kesehatan.

Mengalokasikan anggaran dan sumber daya merupakan pondasi dari manajemen keuangan yang efektif di rumah sakit. Administrator memainkan peran penting dalam membangun dan mengelola anggaran yang sejalan dengan tujuan strategis dari rumah sakit titik penganggaran yang strategis memerlukan alokasi sumber daya di area dengan dengan dampak paling signifikan terhadap keluaran pasien. Hal ini termasuk dalam keputusan yang terkait dengan tingkatan staf, memperoleh dan mempertahankan peralatan yang esensial, dan investasi terhadap keselamatan pasien titik dengan memprioritaskan alokasi sumber daya berdasarkan kebutuhan pasien Rumah Sakit dapat memastikan bahwa mereka telah dilengkapi agar dapat memberikan mutu pelayanan yang berkualitas sembari mengatur sumber daya finansial mereka.

Penghematan biaya dan keberlanjutan finansial merupakan pertimbangan yang penting dalam manajemen keuangan pelayanan kesehatan. Rumah Sakit menghadapi berbagai tantangan berkelanjutan untuk mencapai keseimbangan yang rumit antara mengatur biaya dan menjunjung tinggi mutu pelayanan pasien. Administrator pelayanan kesehatan dipercaya untuk mengimplementasikan strategi pengendalian biaya untuk menjaga keselamatan pasien dan mempertahankan standar perawatan yang tinggi titik untuk menguraikan gagasan ini, Dalam mencapai tujuan ini dapat melibatkan berbagai strategi utama dengan fokus pada optimalisasi manajemen lantai sumber daya, menegosiasikan kontrak vendor yang menguntungkan dan memperkenalkan perbaikan proses untuk meminimalkan pemborosan. Rumah Sakit dapat mengadopsi sistem pengendalian inventaris yang efisien untuk mengoptimalkan manajemen rantai sumber daya, meningkatkan perkiraan permintaan, dan menyederhanakan proses pengadaan titik Rumah Sakit dapat mengurangi biaya penyimpanan yang tidak penting dan meminimalisir risiko keterbatasan yang dapat terjadi dalam perawatan pasien dengan memastikan bahwa semua supaya dan peralatan yang penting sudah tersedia ketika dibutuhkan. Manajemen rantai pasokan yang efektif juga dapat termasuk dalam menegosiasikan persetujuan vendor yang diinginkan untuk mengamankan harga yang kompetitif dan jaminan kualitas dan dapat menurunkan kebutuhan biaya.

Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen sumber daya manusia dalam layanan kesehatan penting dalam membentuk luaran pasien yang positif. Sangat penting bagi administrator rumah sakit untuk mengelola tenaga kerja mereka secara strategis untuk memastikan bahwa para profesional layanan kesehatan tidak hanya memiliki perlengkapan yang baik, namun juga termotivasi dan terlibat dalam memberikan perawatan pasien yang berkualitas tinggi titik dalam konteks ini, kunci utama manajemen sumber daya manusia yang efektif terletak pada perencanaan kepegawaian dan tenaga kerja. Administrator rumah sakit pertanggungjawab untuk memastikan Rumah Sakit mempertahankan kombinasi optimal, antara tenaga kerja profesional, termasuk dokter, perawat, profesional kesehatan terkait, dan staf pendukung. Mencapai perpaduan optimal dan pencocokan keterampilan sangat penting untuk perawatan pasien yang tepat waktu dan efektif. Perencanaan tenaga kerja strategis mencakup perkiraan kebutuhan staf rumah sakit, yang dipengaruhi oleh volume pasien, ketajaman, dan kebutuhan spesialisasi. Dengan menyelaraskan tingkat staf dengan permintaan pasien, administrator dapat secara proaktif mengatasi masalah seperti kekurangan atau kelebihan staf, sehingga mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan pada akhirnya meningkatkan luaran pasien.

Pelatihan dan pengembangan merupakan komponen penting dari manajemen sumber daya manusia yang berkontribusi Terhadap Peningkatan keluaran pasien. Pelatihan berkelanjutan dan program pengembangan profesional diperlukan agar staf pelayanan kesehatan selalu mengetahui kemajuan medis terbaru, evidence -based practice, pendekatan perawatan yang berpusat pada pasien administrator Rumah Sakit harus berinvestasi dalam pelatihan berkelanjutan yang meningkatkan keterampilan klinis kemampuan komunikasi, dan teknik keterlibatan pasien titik dengan membekali para profesional kesehatan dengan pengetahuan dan alat yang mereka perlukan untuk Unggul dalam peran mereka Rumah Sakit dapat meningkatkan kualitas layanan pasien, yang pada akhirnya mengarah pada peningkatan luaran pasien.

Kepuasan dan retensi karyawan terkait erat dengan kepuasan pasien dan luaran pasien. Administrator Rumah Sakit harus memprioritaskan penciptaan lingkungan kerja yang mendukung dalam menumbuhkan rasa memiliki dan tujuan di antara staf layanan kesehatan. Hal ini termasuk menawarkan kompensasi yang kompetitif mengakui dan merayakan kontribusi staf, dan memberikan peluang untuk pertumbuhan profesional dan kemajuan karir. Tingkat kepuasan karyawan yang tinggi dapat menyebabkan tingkat turnover yang lebih rendah yang penting untuk menjaga kesinambungan layanan dan membangun tim layanan kesehatan yang berkomitmen serta berdedikasi terhadap kesejahteraan pasien titik tenaga kerja yang puas dan terlibat akan menyukai feedback ekstra untuk memastikan perawatan pasien tetap terjaga dengan baik.

Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien

Peringatan mutu dan keselamatan pasien adalah komponen integral dari administrasi rumah sakit, dan Dalam mencapai tujuan ini penting untuk mengimplementasikan penilaian yang spesifik penilaian ini krusial dalam meningkatkan luaran pasien dan memastikan layanan kesehatan diberikan dengan aman, efektif, dan berkualitas. Administrator Rumah Sakit penting dalam mengusahakan komponen ini.

Metrik dan penilaian kualitas sangat penting dalam mengevaluasi dan meningkatkan luaran pasien. Administrator Rumah Sakit harus menetapkan sistem penilaian kinerja yang komprehensif untuk memantau berbagai metrik kualitas. Metrik ini mencakup hasil klinis, kepatuhan terhadap praktik terbaik kepuasan pasien, dan inisiatif lainnya indikator-indikator ini merupakan alat yang sangat diperlukan untuk mengukur efektivitas layanan kesehatan dan menentukan bidang-bidang yang memerlukan peningkatan titik dengan mengumpulkan dan menganalisis data secara konsisten mengenai pelayanan pasien, administrator dapat memperoleh wawasan mengenai kinerja rumah sakit dan pada akhirnya akan mendorong upaya peningkatan kualitas yang berkelanjutan. Upaya ini mencakup serangkaian inisiatif yang mungkin melibatkan penurunan efek samping, menyempurnakan proses klinis, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya untuk meningkatkan luaran pasien.

Protokol dan inisiatif keselamatan pasien merupakan aspek mendasar dari administrasi rumah sakit. Administrator Rumah Sakit harus menetapkan dan memelihara protokol keselamatan yang kuat yang menangani berbagai aspek perawatan pasien. Hal ini mencakup inisiatif seperti rekonsiliasi pengobatan, tindakan mengendarai infeksi, program pencegahan jatuh, dan penerapan pedoman klinis berbasis bukti titik dengan memprioritaskan keselamatan pasien, administrator dapat secara signifikan mengurangi kejadian buruk kesalahan pasien, dan kerugian pasien. Upaya-upaya ini tidak hanya meningkatkan keluaran pasien tetapi juga berkontribusi dalam membangun kepercayaan dan keyakinan di antara pasien dan keluarganya.

Metodologi peningkatan kualitas berkelanjutan seperti Lean Six Sigma atau siklus Plan-Do-Study-Act (PDSA) memberikan pendekatan terstruktur untuk mengidentifikasi area yang membutuhkan peningkatan dan implementasi praktik berbasis bukti titik administrator Rumah Sakit memainkan peran penting dalam membangun kultur peningkatan mutu berkelanjutan lewat organisasi. Mereka dapat memimpin peningkatan mutu mendorong inisiatif staff dalam meningkatkan mutu, dan menyediakan sumber daya dan dukungan yang dibutuhkan. Administrator harus memastikan penentuan keputusan berbasis data tertanam dalam kultur rumah sakit sehingga dapat memberikan tim layanan kesehatan data yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah dengan cepat, membuat penyesuaian berbasis bukti pada proses perawatan, dan memperoleh luaran mesin yang lebih baik.

Teknologi Informasi dan Sistem Layanan Kesehatan

Electronic medical record (ERM) dan sistem informasi kesehatan diawasi oleh administrator rumah sakit dalam penerapan dan optimalisasinya. ERM memfasilitasi digitalisasi catatan medis pasien, yang memungkinkan dokumentasi klinis yang lebih efisien meningkatkan koordinasi perawatan di antara penyedia layanan kesehatan, dan memberikan akses cepat kepada dokter ke informasi penting pasien. Dengan memastikan pemanfaatan ERM yang efektif administrator dapat mendukung alur kerja yang efisien mengurangi kesalahan medis dan meningkatkan kualitas serta keamanan perawatan pasien secara keseluruhan.

Trend teknologi telemedis dan layanan kesehatan yang sedang berkembang mengubah landscape layanan kesehatan. Administrator Rumah Sakit harus mengikuti trend ini dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses terhadap pelayanan khususnya di daerah terpencil atau yang kurang terlayani. Antara medis memungkinkan konsultasi virtual, pemantauan jarak jauh dan layanan tele health yang meningkatkan akses pasien terhadap pelayanan kesehatan sekaligus meningkatkan kenyamanan. Administrator dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keterlibatan pasien, memfasilitasi komunikasi antara pasien dan penyedia layanan, dan mempromosikan pemantauan kesehatan jarak jauh. Merangkum trend teknologi layanan kesehatan akan meningkatkan layanan pasien dan posisikan organisasi layanan kesehatan untuk pertumbuhan dan adaptasi di masa depan.

Analisis data dan sistem pendukung keputusan memberdayakan administrator rumah sakit untuk membuat keputusan Berdasarkan informasi dan data titik alat-alat ini memungkinkan identifikasi trend dan analisa prediktif untuk mengantisipasi kebutuhan pasien dan mengoptimalkan alokasi sumber daya. Administrator harus berinvestasi dalam analisis data dan mendukung penentuan keputusan berdasarkan data dalam organisasi. Wawasan berbasis data dapat membantu meningkatkan hasil klinis mengoptimalkan efisiensi operasional, dan menginformasikan perencanaan strategis. Administrator Rumah Sakit harus berkolaborasi dengan analisis data dan dokter untuk mendapatkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti dari layanan kesehatan, yang pada akhirnya menghasilkan luaran pasien yang lebih baik dan memberikan layanan kesehatan yang lebih efisien.

Selengkapnya dapat diakses di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10676194/