Pelayanan Kesehatan Balita Pada Masa Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 tentu dapat menimbulkan gangguan kelangsungan pelayanan kesehatan, termasuk pada balita, yang berpotensi meningkatkan kesakitan hingga kematian. Sehingga perlu diambil langkah-langkah untuk menyeimbangkan kebutuhan penanganan COVID-19 dan tetap memastikan kelangsungan pelayanan kesehatan esensial pada balita tetap berjalan.

Pemerintah dalam Peraturan Menteri Kesehatan tentang Upaya Kesehatan Anak, Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pelayanan kesehatan anak. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, sehingga perlu dilakukan upaya kesehatan anak secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan anak diupayakan melalui pemantauan pertumbuhan, perkembangan, pemberian imunisasi dasar dan lanjutan, kapsul vitamin A dan tata laksana balita sakit jika diperlukan, serta program pencegahan penyakit, seperti pemberian massal obat kecacingan, triple eliminasi dan lain-lain.

Menyambut hari anak nasional, kami akan menyajikan artikel dan berita terkait dengan kesehatan anak, seperti apa panduan layanan kesehatan balita di masa pandemi COVID-19 yang ditujukan kepada seluruh pengelola program kesehatan terkait sasaran anak di Puskesmas, FKTP dan Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Provinsi?

 

Kelangsungan usaha RS menuju New Normal

Perlambatan perekonomian di masa pendemi telah membuat beberapa bisnis terancam gulung tikar, demikian halnya dengan rumah sakit, tidak luput terkena dampak ancaman kolaps jika tidak dikelola dengan baik. Manajemen Rumah Sakit perlu segera beradaptasi untuk berpikir secara kritis untuk mendapatkan langkah strategis agar dapat bertahan dalam jangka panjang dan mengembalikann keadaan dengan cepat, mengatasi kesulitan keuangan serta mengatasi situasi tertekan.

Organisasi pembelajaran (learning organization) merupakan konsep yang perlu diterapkan dalam kondisi saat ini, dimana sebuah organisasi memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk terus meningkatkan kemampuannya untuk mencapai kinerja yang diharapkan. Pimpinan lembaga harus memahami konsep learning organization yang dapat menginisiasi pembelajar dari staf atau individu yang ada di organisasinya agar lembaga/organisasinya memiliki pengetahuan yang baik sehingga tidak gagap dalam memberikan respon terhadap kondisi wabah COVID1-19 yang sedang berlangsung serta mampu beradaptasi. Minggu ini akan kami sajikan artikel dan berita terkait dengan kelangsungan usaha RS menuju New Normal. Bagaimana RS perlu menerapkan prinsip dari learning organization dan beradaptasi dengan memperkuat Business Continuity maupun mengubah rencana strategi bisnis menyesuaikan COVID-19 menuju the New Normal.

Beraktivitas dengan aman dan bermutu pada era New Normal

Sejak kemunculan diakhir tahun 2019 yang lalu, hingga kini Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang dikategorikan sebagai Penyakit Menular yang disebabkan oleh virus bernama severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 [SARS-CoV-2] masih menyebar. Saat ini (4/06/2020), terdapat lebih dari 6 juta orang terinfeksi dan lebih dari 300 ribu orang meninggal dunia. Di Indonesia sendiri, ada lebih dari 27 ribu kasus ditemukan dan lebih dari 1000 orang telah meninggal dunia. Meskipun demikian, saat ini pemerintah indonesia sudah mempersiapkan langkah-langkah untuk menghadapi new normal sebagai upaya mengembalikan aktifitas kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan pemerintah pada kondisi sebelum terjadinya COVID-19 menuju masyarakat produktif dan aman COVID-19 karena menganggap tidak selamanya indonesia akan ada pada masa karantina.

Minggu ini, akan kami tampilkan artikel dan berita terkait dengan new normal. Apa saja yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi new normal serta indikator apa saja yang diperlukan untuk menilai kemampuan pemerintah daerah dalam pengendalian COVID-19 menuju new normal yang tertuang dalam Pedoman Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman COVID-2019 Bagi Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah.

Lanjut Usia dan Gangguan Memori

Selama kurun waktu hampir lima dekade (1971-2019), persentase penduduk lanjut usia (lansia) Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat. Pada tahun 2019, persentase lansia mencapai 9,60% atau sekitar 25,64 juta orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang bertransisi menuju ke arah penuaan penduduk karena persentase penduduk berusia di atas 60 tahun mencapai di atas 7 persen dari keseluruhan penduduk dan akan menjadi negara dengan struktur penduduk tua (ageing population) jika sudah berada lebih dari 10 persen (Data BPS, 2019). Fenomena ini merupakan tantangan yang harus disikapi secara positif agar tercipta kelompok lansia yang bisa mandiri, berkualitas, dan tidak menjadi beban masyarakat.

Salah satu yang menjadi permasalahan lansia yakni adanya gangguan memori, yang merupakan salah satu hal penting untuk seseorang mampu belajar. Dengan belajar, seseorang dapat mengetahui bagaimana memberi respon yang sesuai pada saat yang tepat. Kemampuan memberi respon ini sangat erat kaitannya dengan keadaan memori, karena didalam memori tersimpan pengetahuan yang dipelajari dimasa lalu, bagaimana cara merespon setiap kejadian dalam kehidupan dan dapat dipanggil kembali sesuai kebutuhan. Keadaan memori berperan penting menentukan dan menjaga kualitas hidup seseorang. Minggu ini akan kami tampilkan artikel dan berita terkait dengan lanjut usia dan gangguan memori. Akan membahas mengenai tahapan dan macam-macam gangguan memori pada lansia dan faktor apa saja yang dapat mempengaruhi gangguan memori serta upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia di masa pandemi COVID-19.

 

 

Silaturahmi Aman Dimasa Pandemi COVID-19

Silaturahmi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Menjalin interaksi dengan orang lain dapat menimbulkan rasa aman dan bahagia. Namun, saat wabah COVID-19, setiap orang diwajibkan untuk menjalankan protokol kesehatan yakni salah satunya dengan menjaga jarak atau physical distancing untuk mengurangi penyebaran virus. Menekan penyebaran COVID-19 dapat dilakukan dengan meminimalkan resiko dengan meningkatkan kapasitas melalui individual (knowledge behavior), family support, community (organisasi, gotong royong), hospital (incident management system) maupun pemerintah (regulator, koordinasi). Jika kapasitas seseorang kuat yang dimulai dari level keluarga maka resiko juga akan menjadi rendah hingga pada level di masyarakat, bangsa dan negara.

Minggu ini akan kami tampilkan artikel dan berita terkait dengan silaturahmi aman dimasa pandemi COVID-19. Hal-hal apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh keluarga yang merupakan unit terkecil dalam komponen masyarakat dan merupakan tempat paling utama bagi proses pendidikan dalam pencegahan penyebaran COVID-19, terlebih melihat peran perempuan sebagai benteng utama dalam keluarga.

MDR TB versus Virus Corona: Peringatan Hari Tuberculosis Sedunia

Wabah corona virus (covid-19) saat ini menjadi perhatian seluruh dunia karena dampak yang ditimbulkan dan berpengaruhnya segala bidang karena penyebaran virus tersebut. Namun terdapat hal yang harus kita ingat kembali, bahwa masih terdapat ‘bahaya’ penyakit lain yang tidak kalah luarbiasa akibatnya apabila tidak kita tangani dengan baik. Penyebaran virus corona memang sangat menakutkan bagi berbagai pihak, namun sebenarnya yang tak kalah mengkhawatirkan bagi kita semua adalah apabila juga terjadi MDR TB (Multi Drugs Resistance Tuberculosis) di tengah-tengah kita. Untuk itu pada peringatan World TB Day di tanggal 24 Maret 2020 ini, kembali kita diajak untuk waspada terhadap penyebaran penyakit tuberculosis ini, terlebih apabila sampai terjadi MDR TB, karena menurut WHO, TBC masih menjadi salah satu dari 12 penyakit paling mematikan di dunia.

Upaya ‘memerangi’ penyakit TBC ini menjadi tugas bersama, khususnya bagi Indonesia, karena berdasarkan data WHO per 2018, Indonesia merupakan negara dengan beban TBC terbesar ketiga di dunia (https://www.who.int/news-room/facts-in-pictures/detail/tuberculosis). Diharapkan seiring waktu, angka tersebut dapat menurun dan upaya ‘memerangi’ penyebaran penyakit TBC ini dapat berhasil signifikan. Bertepatan dengan peringatan Hari Tuberculosis Sedunia setiap tanggal 24 Maret, selain membahas berbagai isu penting, diantaranya wabah virus corona ini, website www.mutupelayanankesehatan.net akan menampilkan berbagai artikel, berita, dan perkembangan terkini terkait tata kelola penyakit tuberculosis (TBC).

Pelayanan Bermutu Untuk Penderita HIV

James W. Bunn dan Thomas Netter yang bekerja di bagian informasi Global Programme World Health Organization (WHO) merupakan dua tokoh penting penggagas Hari AIDS sedunia yang diperingati setiap 1 Desember. Peringatan ini dimaksudkan untuk menambah kesadaran penting dalam berjuang melawan virus penyebab AIDS, yakni HIV, sekaligus memberikan support pada pengidap AIDS dan mengenang para korban penyakit tersebut. Hari AIDS Sedunia pun diikuti oleh negara-negara anggota PBB yang secara resmi mengakui Hari AIDS pada 27 Oktober 1988, termasuk Indonesia.

Pada 1996, Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) mulai bekerja dan mengambil alih perencanaan, serta promosi Hari AIDS Sedunia. UNAIDS juga menciptakan Kampanye AIDS Sedunia pada 1997 untuk melakukan komunikasi, pencegahan dan pendidikan sepanjang tahun.

Berdasarkan data UNAIDS hingga akhir 2018, sebanyak 1.7 juta orang baru terinfeksi HIV. Meskipun saat ini sudah ada obat Antiretroviral (ARV) yang mampu menekan virus HIV/AIDS dalam tubuh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Namun kesadaran untuk menekan pertumbuhan angka penderita HIV harus selalu dipupuk, salah satunya dengan peringatan Hari AIDS Sedunia setiap tahun. Untuk memperingati Hari AIDS Sedunia, laman www.mutupelayanankesehatan.net akan menampilkan berbagai artikel, berita, dan penelitian terupdate terkait upaya pelayanan yang bermutu untuk pasien dengan HIV. Semoga bermanfaat.

Generasi Sehat, Indonesia Unggul: HKN Ke-55

Tema Hari Kesehatan Nasional Ke-55 yang jatuh pada tanggal 12 November tahun ini memilih tema “Generasi Sehat, Indonesia Unggul”. Sebuah tema yang sarat makna dan pesan bagi kita semua rakyat Indonesia. Seperti dikutip pada laman promkes.kemkes.go.id bahwa ‘Momentum Hari Kesehatan Nasional ke-55 ini sebagai pengingat publik bahwa derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya akan terwujud, apabila semua komponen bangsa, masyarakat, organisasi kemasyarakatan, swasta berperan serta dalam upaya kesehatan, dengan lebih memprioritaskan promotif-preventif dan semakin menggalakkan serta melembagakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), tanpa mengabaikan kuratif-rehabilitatif’.

Selama November 2019, website mutupelayanankesehatan.net akan menampilkan berbagai artikel, berita, dan informasi terkait penerapan upaya promotif-preventif dan kuratif-rehabilitatif dalam pelayanan kesehatan yang bermutu bagi masyarakat, dengan memfokuskan pada pelayanan kesehatan pasien diabetes. Penentuan spesifikasi pelayanan kesehatan pasien diabetes dilatarbelakangi bahwa pada bulan November ini juga diperingati Hari Diabetes Internasional (14 November 2019). Diharapkan berbagai informasi seputar topik tersebut dapat memberikan manfaat bagi seluruh pemerhati mutu.

“Selamat Hari Kesehatan Nasional Ke-55”

Penatalaksanaan Tepat dan Bermutu Untuk Pasien Osteoporosis

Peringatan Hari Osteoporosis Sedunia diperingati setiap tanggal 20 Oktober. Peringatan ini, pertama kali dilaksanakan tahun 1996 oleh United Kingdom’s National Osteoporosis Society dan selanjutnya diselenggarakan oleh International Osteoporosis Foundation. Tujuan Peringatan Hari Osteoporosis Sedunia adalah untuk menyadarkan masyarakat global tentang pencegahan dan pengobatan penyakit Osteoporosis tersebut.

Osteoporosis merupakan suatu kondisi yang disebabkan karena menurunnya kepadatan tulang seiring pertambahan usia. Secara detil, osteoporosis dapat didefinisikan sebagai suatu penyakit tulang sistemik yang kronik dan progresif dengan karakteristik menurunnya massa tulang, kerusakan mikroarsitektur, kerapuhan tulang yang selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya fraktur .

Osteoporosis dapat terjadi pada semua orang, namun beberapa orang lebih berisiko. Diantaranya adalah kelompok lansia (lanjut usia), dimana semakin tua, kepadatan tulang kelompok usia ini menjadi semakin berkurang. Sama halnya dengan pasien penyakit lainnya, pasien osteoporosis juga memerlukan perawatan khusus agar tidak berdampak semakin parah. Penatalaksanaan osteoporosis yang tepat diperlukan untuk mencegah kehilangan tulang lebih lanjut dan mencegah terjadinya fraktur patologis. Tentu saja penatalaksanaan yang tepat dan bermutu akan dapat membantu pasien menjaga agar kondisinya tidak memburuk, bahkan dapat membaik dari waktu ke waktu.

Untuk memperkaya ilmu dan wawasan terkait osteoporosis dan penatalaksanaan pasien osteoporosis yang tepat dan bermutu, selama Oktober 2019, website mutu akan menyajikan berbagai berita, informasi, dan artikel terkait isu tersebut. Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan melengkapi ilmu pemerhati mutu di seluruh Indonesia.

World Heart Day: 29 September

Setiap tanggal 29 September diperingati Hari Jantung Sedunia atau World Heart Day (WHD) yang dicanangkan oleh World Heart Federation (WHF) pada 29 September 2000. Upaya peringatan Hari Jantung Sedunia merupakan bentuk kepedulian dalam melawan penyakit jantung dan pembuluh darah dan usaha untuk menurunkan jumlah penderita penyakit jantung. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015 menyebutkan lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.

Di Indonesia, penyakit ini masih menjadi salah satu penyebab kematian memerlukan peran masyarakat dalam upaya mencegah tingginya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tersebut. Selama September 2019, website mutupelayanankesehatan.net akan menyajikan berbagai artikel dan berita terkait tata kelola penyakit jantung, sehingga diharapkan dapat berkontribusi memberikan pengetahuan, ilmu, dan wawasan terkait isu tersebut.