World Breastfeeding Week: Peran Fasiltas Pelayanan Kesehatan dalam Optimalisasi Program Pemberian ASI

Periode 1-7 Agustus merupakan Pekan Air Susu Ibu (ASI) Internasional atau World Breastfeeding Week (WBW). Pekan ASI Sedunia ditetapkan pada forum World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) yang digelar di markas United Nations Children’s Fund atau UNICEF, di New York, Amerika Serikat, pada 1991. Selanjutnya agenda ini diperingati secara serentak di berbagai belahan bumi.

Tujuan peringatan Pekan ASI Sedunia adalah memperjuangkan pemenuhan hak anak atau bayi akan kebutuhan air susu ibu hingga berusia 24 bulan atau lebih. Hal ini demi mengoptimalkan kesehatan gizi dan kesehatan ibu beserta anak.

Pentingnya manfaat pemberian ASI juga telah disadari oleh banyak pihak, diantaranya Fasilitas Pelayanan Kesehatan (RS, Puskesmas, Klinik). Untuk mendukung terlaksananya tujuan program pemberian ASI, berbagai upaya dilakukan juga oleh faskes-faskes tersebut. Secara lengkap selama Agustus 2019, website www.mutupelayanankesehatan.net menyajikan berbagai artikel, berita, dan hasil penelitian terkait peran provider pelayanan kesehatan dalam upaya mendukung optimalisasi pemberian ASI.

 

 

Bidan: Pembela Hak-hak Perempuan

Setiap tanggal 5 Mei merupakan peringatan Hari Bidan Internasional. Sejarah singkat peringatan Hari Bidan Internasional ini ditetapkan pertama kali pada 5 Mei 1991 dengan gagasan awal untuk mengenali dan menghormati bidan saat konferensi Konfederasi Bidan Internasional 1987 di Belanda. Untuk peringatan tahun 2019 ini WHO menetapkan tema “Bidan: Pembela Hak-hak Perempuan” (Midwives: Defenders of Women’s Right). Tema tersebut diharapkan dapat menginspirasi profesi kebidanan agar dapat memberikan dukungan strategi global untuk kesehatan wanita, anak-anak, dan remaja.

Profesi bidan sendiri memiliki peran penting dalam penyediaan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Tentu saja pelayanan atau perawatan yang diberikan haruslah perawatan yang bermutu, meliputi antara lain; pengalaman bersalin yang positif, pilihan pendamping persalinan, komunikasi, manajemen nyeri, mobilitas, pilihan posisi persalinan, dan lain sebagainya.

Untuk memberikan ‘penghargaan’ terhadap profesi bidan, website www.mutupelayanankesehatan.net selama Mei 2019 akan menyajikan berbagai artikel, berita, dan hasil penelitian terkait upaya pemberian pelayanan kesehatan ibu dan anak oleh bidan.

Hari Diabetes Nasional

Hari Diabetes Nasional diperingati setiap tahunnya pada tanggal 18 April. Setiap tahun, kita diajak untuk tetap ‘waspada’ sehingga dapat terhindar dari penyakit diabetes, dimana penderita dengan penyakit diabetes tidak dapat mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya secara otomatis. Selama bulan April 2019 ini, website mutu pelayanan kesehatan akan memaparkan berbagai berita, informasi, dan artikel terkait ‘pengelolaan’ penyakit diabetes, sehingga berbagai informasi dasar maupun penatalaksanaan yang berfokus pada mutu pelayanan pasien diabetes diharapkan dapat memperkaya wawasan seluruh pemerhati mutu pelayanan kesehatan, khususnya yang memiliki minat terhadap topik pengelolaan penyakit diabetes.

Gizi Optimal Pada Anak: Cegah Stunting Sejak Dini

Tahun ini diawali dengan sajian berbagai artikel, baik berita maupun artikel ilmiah terkait dengan topik gizi pada anak. Mengapa topik gizi pada anak menjadi topik pilihan bulan ini? Karena bulan ini adalah bulan gizi, tepatnya merupakan peringatan Hari Gizi Nasional yang ‘jatuh’ pada 25 Januari.

Tahun ini peringatan Hari Gizi Nasional merupakan peringatan yang ke-59. Fokus peringatan tahun ini masih selaras dengan RPJMN, dimana pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, salah satu prioritas pembangunan kesehatan Indonesia adalah perbaikan gizi khususnya stunting.

Stunting menjadi salah satu fokus upaya pembangunan kesehatan karena merupakan salah satu dampak gizi buruk yang diderita masyarakat (terutama anak-anak) selain dampak lainnya seperti pengaruh terhadap tingkat kecerdasan otak. Upaya optimalisasi gizi pada anak menjadi sangat penting, karena pada akhirnya, berbagai dampak gizi buruk tersebut akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia.

 

 

1 Desember: Peringatan Hari AIDS Sedunia

Teridentifikasi secara resmi pada tahun 1984, Hari AIDS Sedunia dilangsungkan untuk pertama kalinya pada 1 Desember 1988, 20 tahun silam. Didukung oleh UNAIDS, kampanye tersebut mengambil tema “Join the Worldwide Effort ”.

Ide penetapan Hari AIDS Sedunia yang diusulkan oleh Jim Bunn (WHO) tersebut bertujuan agar memperoleh perhatian dari berbagai pihak dan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya upaya pencegahan penyebaran HIV, selain juga untuk meningkatkan kesadaran akan berbahayanya virus tersebut. Untuk kembali meningkatkan awareness terhadap isu-isu seputar HIV/AIDS, berbagai artikel akan ditampilkan baik berupa berita terkini maupun artikel ilmiah yang dapat memperkaya pengetahuan mengenai isu tersebut.

Hari Mencuci Tangan Sedunia

“Tangan yang Bersih – Resep Untuk Kesehatan” menjadi tema yang diusung pada peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia (Global Handwashing Day) tahun 2018. Peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia sendiri dilaksanakan setiap 15 Oktober, dimana kegiatan ini diawali oleh Public Private Partnership of Handwashing (PPPHW) pada 2008.

Praktik cuci tangan memang digaungkan di berbagai sektor termasuk sektor kesehatan. Penerapan cuci tangan dengan benar sesuai rekomendasi WHO dapat menjadi metode efektif untuk mencegah terjadinya infeksi pada saat pemberian layanan kesehatan dari provider kepada pasien.

Berbagai artikel dengan tema praktik cuci tangan (hand hygiene) di fasilitas kesehatan akan ditampilkan untuk menjadi ‘pengingat’ kembali pentingnya kepatuhan terhadap praktik cuci tangan (hand hygiene) ini pada berbagai aktivitas di fasilitas kesehatan. Semoga bermanfaat.

 

 

Dimensi Mutu sebagai Dimensi Keempat dalam UHC (Universal Health Coverage)

WHO mendefinisikan UHC (Universal Health Coverage) ditahun 2005 bahwa semua orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan tanpa harus mengalami kesulitan keuangan ketika harus memperoleh pelayanan tersebut. Tetapi ditahun-tahun berikutnya timbul pertanyaan, apakah cukup dengan memberikan pelayanan kesehatan namun mutu pelayanan yang diberikan dibawah standar atau bahkan membahayakan.

Meskipun masyarakat dinegara dengan pendapatan rendah hingga menengah saat ini sudah dapat mengakses fasilitas pelayanan kesehatan namun akses terhadap pelayanan kesehatan itu sendiri tidak meningkatkan luaran yang dihasilkan.

Pada konsep UHC (Universal Health Coverage) yang disampaikan pada 2010 dideskripsikan bahwa hanya ada 3 dimensi UHC (Universal Health Coverage):

  • Siapa yang ditanggung
  • Pelayanan apa saja yang ditanggung
  • Proporsi biaya apa saja yang ditanggung

Namun saat ini dimensi mutu ditambahkan dalam deskripsi UHC (Universal Health Coverage). Cakupan kesehatan berarti bahwa semua orang dapat mengakses pelayanan kesehatan yang bermutu tanpa adanya kesulitan keuangan yang harus ditanggung.

WHO telah memperbaharui deskripsi dari UHC (Universal Health Coverage) menjadi: UHC (Universal Health Coverage) memungkinkan semua orang untuk mengakses pelayanan kesehatan yang dapat menjadi penyebab penting penyakit dan kematian, serta memastikan mutu pelayanan kesehatan tersebut cukup baik sehingga dapat meningkatkan kesehatan pasien yang menerima pelayanan kesehatan tersebut.

Saat ini WHO juga menjadikan mutu pelayanan kesehatan sebagai pedoman untuk meningkatkan program kesehatan. Hal ini juga membuka peluang besar untuk mendukung tujuan besar UHC yakni memastikan setiap orang untuk mengakses mutu pelayanan kesehatan tanpa adanya kesulitan keuangan.

Disarikan dari http://www.ihi.org/communities/blogs/_layouts/15/ihi/community/blog/itemview.aspx?List=7d1126ec-8f63-4a3b-9926-c44ea3036813&ID=340 

Upaya Peningkatan Mutu Layanan Kesehatan Ibu dan Anak

Upaya peningkatan mutu layanan secara umum memang dapat menjangkau berbagai aspek, tidak terkecuali untuk layanan kesehatan bagi ibu dan anak. Saat ini Kesehatan ibu dan Anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling mendesak di Indonesia dan memerlukan perhatian khusus, sehingga dapat tercapai target SDG’s 2030.

Tidak hanya di Indonesia, isu ini juga menjadi perhatian di berbagai belahan negara lain. Untuk memperkaya berbagai pengetahuan dan informasi terkait isu ini, website mutu pelayanan kesehatan akan menyajikan berbagai artikel yang akan mengupas berbagai isu upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak.

Bahasan artikel tidak hanya akan menyampaikan situasi yang terjadi di Indonesia namun juga akan memaparkan bagaimana metode kajian terhadap systematic review dapat menjadi input positif bagi upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, termasuk didalamnya paparan upaya yang dapat dilakukan di berbagai tingkat dengan menggunakan model pendekatan dari Donabedian. Semoga bermanfaat bagi pemerhati mutu pelayanan kesehatan.

{jcomments on}

‘Meningkatkan Efektivitas Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Melalui Surveior dan Pendamping Berkualitas’

“Meningkatkan Efektivitas Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Melalui Surveior dan Pendamping Berkualitas” menjadi topik dalam penyelenggaraan Seminar dan Lokakarya Nasional Akreditasi FKTP Tahun 2018 yang diselenggarakan pertama kali di Jakarta.

Akreditasi adalah salah satu bentuk upaya peningkatan mutu fasilitas pelayanan kesehatan termasuk untuk pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP). Di Indonesia upaya ini telah dilakukan sejak tahun 2012 dengan menyusun standar akreditasi dan membentuk Komisi Akreditasi Fasilitias Kesehatan (FKTP) sebagai penyelenggara akreditasi bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan.

Pada proses akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama diperlukan peran serta dari Surveior dan Pendamping Akreditasi FKTP. Untuk menjadi surveior dan pendamping akreditasi FKTP yang berkualitas diperlukan kompetensi yang sesertai dengan update keilmuan dan keterampilan secara berkala termasuk memahami berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terbaru serta peraturan dan kebijakan nasional yang berlaku. Upaya ini salah satunya dilakukan dengan menyelenggarakan Seminar dan Lokakarya Nasional.

Seminar dan Lokakarya Nasional pertama yang dilaksanakan pada 15-16 Februari 2018 buka oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia dan dihadiri oleh sekitar 600 peserta yang terdiri dari Surveior maupun Pendamping Akreditasi FKTP. Antusiasme peserta turut mendukung output akhir dari kegiatan ini yang berupa Rencana Tindak Lanjut serta Rekomendasi yang ditanda tangani bersama antara Komisi Akreditasi FKTP serta perwakilan dari peserta.

Bagi pemerhati mutu khususnya terkait Akreditasi FKTP dapat mengakses berbagai materi Seminar dan Lokarkaya Nasional Akreditasi FKTP Tahun 2018 tersebut di website www.mutupelayanankesehatan.net 

{jcomments on}

 

Penerapan Teknologi Informasi dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan

Era teknologi informasi saat ini telah menyentuh berbagai bidang dan aspek kehidupan, termasuk diantaranya bidang kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan salah satu bidang yang telah mempergunakan perkembangan teknologi tersebut, baik yang bersifat klinis maupun non klinis. Ataupun teknologi informasi yang ‘bersinggungan’ langsung dengan pasien (teknologi yang mendukung pengambilan keputusan klinis) maupun yang dipergunakan dalam sistem pengelolaan fasilitas pelayanan kesehatan (penerapan teknologi, seperti; EMRs, EHRs, dan PHRs).

Penerapan teknologi informasi di bidang kesehatan ini diyakini dapat memberikan berbagai manfaat bagi provider pelayanan kesehatan. Dengan dukungan teknologi tersebut, manfaat yang dapat diperoleh diantaranya adalah tersedianya informasi kesehatan pasien yang akurat dan komprehensif, sehingga provider dapat memberikan berbagai kemungkinan perawatan terbaik. Lebih lanjut dengan penerapan teknologi informasi yang lengkap dan akurat dapat membantu dalam proses diagnosa, meminimalkan medical error serta dapat menawarkan pelayanan kesehatan yang aman dengan biaya rendah.

Untuk memperkaya informasi dan pengetahuan terkait penggunaan teknologi informasi pada proses pelayanan kesehatan khususnya dalam upaya peningkatan mutunya, website mutu pelayanan kesehatan akan menyajikan berbagai artikel dan informasi terkait penggunaan teknologi tersebut di berbagai aspek pelayanan kesehatan oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Serta bagaimana perkembangan teknologi informasi dapat dipergunakan sebagai sarana dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

{jcomments on}