Reportase Forum Mutu IHQN XXI “Strengthening Health Quality Management Systems for Better Patient Outcomes”

PKMK-Yogyakarta. Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) bekerja sama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan Forum Mutu IHQN ke-21. Tahun ini, Forum Mutu mengangkat tema besar “Strengthening Health Quality Management Systems For Better Patient Outcome”. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para praktisi dan pemangku kepentingan untuk mendiskusikan implementasi kebijakan mutu kesehatan terbaru di Indonesia dan menghasilkan perspektif untuk mendukung transformasi sistem kesehatan.

Acara yang diselenggarakan di Yogyakarta pada Rabu (10/12/2025) ini dihadiri oleh 30 peserta luring dan 120 peserta daring melalui Zoom Meeting, menunjukkan tingginya minat terhadap isu kualitas pelayanan kesehatan.

fm 1Dalam sambutan pembuka, Ketua PKMK FK-KMK UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., MAS, menekankan pergeseran fokus mutu menuju Patient Outcome. “Tujuan akhir dari peningkatan kualitas pelayanan adalah seberapa baik pasien merasakan peningkatan kualitas hidup setelah dilakukan perawatan, baik untuk penyakit akut maupun penanganan canggih seperti stem cell,” ujar Dr. Andreasta. Andre menegaskan perlunya sistem pelaporan mutu yang kuat dan akuntabel, sehingga dinas kesehatan dapat memastikan protokol daerah berjalan konsisten dan laporan mutu disampaikan secara berkala.

Senada dengan hal tersebut, Ketua IHQN, Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua, mengutip Donald Berwick bahwa tujuan akhir dari setiap microsystem organisasi adalah menciptakan outcome klinis dan experience yang baik. Ia juga menyinggung pentingnya peran generasi muda, berharap “Gen Z diharapkan menjadi pemimpin di RS dan fasyankes dengan mutu yang kuat.” Hanevi juga menyoroti peran sistem informasi dan pemanfaatan aspek klinis digital dalam mendukung mutu, seperti penggunaan digital tower untuk kasus stroke.

Sinergi Kebijakan Menuju Mutu Kesehatan

fm 2Sesi pertama menghadirkan Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, Ph.D, yang memaparkan materi “Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Bermutu melalui Sinergi Kebijakan dan Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2025”.

Prof. Adi menyoroti bahwa Indonesia sedang berada di tengah perubahan besar. Adi berharap Indonesia dapat segera membuat Annual Report Mutu bukan sekadar laporan burden penyakit atau cakupan program tetapi laporan yang menunjukkan perbaikan kualitas dari waktu ke waktu berdasarkan apa yang dirasakan pasien. Adi memaparkan Rencana Strategis (Renstra) Kemenkes 2025-2029 yang memiliki enam tujuan, dimana Tujuan ke-2 secara spesifik terkait dengan mutu. Namun, pihaknya mengakui adanya kelemahan implementasi yang berfokus di internal Kemenkes serta tantangan dalam kuantitas dan kualitas data. Diharapkan, Rencana Aksi Nasional (RAN) Mutu Pelayanan Kesehatan 2025 dapat mendukung Renstra ini, khususnya dalam aspek mutu klinis dan keselamatan pasien. Adi menjelaskan bahwa Rencana Strategi Nasional (Strategi) terdiri dari tiga poin besar memahami strategi itu sendiri, aksi implementasi (yang tercantum dalam Renstra Kemenkes), dan pendukung analisis ekonomi serta proses penyusunan strategi yang melibatkan banyak pihak.

Proses pengembangan strategi nasional (Strategy Developing National Program) melibatkan enam fase, termasuk monitoring, evaluasi, dan review. Poin penting lain yang disoroti adalah Contingency Measure, dimana bencana (seperti di Sumatera) atau pandemi global dapat menyebabkan kemunduran signifikan bahkan hingga lima tahun dari capaian yang sudah diraih.

Di akhir sesinya, pihaknya mengajak para calon pemimpin dan stakeholder dari tingkat dinas kabupaten, provinsi, hingga kementerian untuk bergerak bersama-sama mempelajari dan mengimplementasikan Renstra Kemenkes demi perbaikan mutu pelayanan kesehatan.

fm 3Sesi berikutnya menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, MPH, yang membahas aspek mutu dalam implementasi PMK Nomor 11 Tahun 2025 di Provinsi Yogyakarta. Anung menyebut dinamika regulasi beberapa tahun terakhir sebagai “badai regulasi” yang memaksa institusi pelayanan kesehatan melakukan penyesuaian secara cepat. Pihaknya menguraikan implikasi kebijakan baru, termasuk perubahan perizinan berusaha yang kini berlaku sepanjang institusi beroperasi, perubahan definisi rumah sakit menjadi berbasis kompetensi dengan minimal 50 tempat tidur, serta pelimpahan kewenangan perizinan kepada Bupati dan Wali Kota dengan batas waktu 28 hari.

Anung menyampaikan bahwa “badai regulasi” yang terjadi beberapa tahun terakhir menantang institusi pelayanan kesehatan untuk terus melakukan penyesuaian. Narasumber juga membahas PMK Nomor 11 Tahun 2025 dan kaitannya dengan PMK Nomor 5 Tahun 2025 yang salah satunya mengatur perizinan berusaha berbasis Online Single Submission (OSS).

Implikasi signifikan dari regulasi baru ini meliputi Perizinan berusaha berlaku sepanjang pelaku usaha menjalankan kegiatan, berbeda dengan lisensi 5 tahun sebelumnya. Rumah Sakit kini berbasis kompetensi dengan minimal 50 tempat tidur, bukan lagi berbasis kelas. Perizinan saat ini menjadi kewenangan Bupati dan Walikota, dengan batas waktu 28 hari sejak berkas masuk. Anung mengakui tantangan di lapangan, terutama terkait pemetaan monitoring Fasyankes dan permintaan panduan jelas mengenai sanksi administratif bagi Fasyankes yang gagal meningkatkan mutu. Pihaknya juga menegaskan bahwa, di DIY yang mencapai hampir 100% coverage JKN, Akreditasi tetap menjadi komponen penting sebagai standar kerjasama BPJS.

Reporter :

Salwa Nada Agfi Arofah
(Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Quality Improvement Strategies in Healthcare Facility

fm 4Becoming C-Suite Hospital Leader at Young Age: How to Overcome the Challenges?

Sesi inspiratif dibuka oleh dr. Mega Febrianora yang menekankan peran pemimpin muda dalam mempercepat perubahan manajemen rumah sakit. Mega menilai pemimpin masa depan perlu menguasai teknologi, memiliki kecerdasan emosional yang matang, serta mampu membangun budaya kerja kolaboratif. Pemahaman yang jelas tentang alasan strategis suatu inisiatif menjadi fondasi untuk perencanaan yang tepat dan pelaksanaan yang efektif. Jangan malu dan takut untuk berkata benar.

Narasumber juga mengangkat tantangan personal seperti keraguan diri dan imposter syndrome, dimana kita bisa tangani dengan mencari rekan sebaya maupun mentor untuk menjaga kepercayaan diri. Pesannya tegas bahwa usia tidak menjadi batas untuk memimpin, asalkan memiliki integritas, keberanian, dan visi jangka panjang.

fm 5Clinical Research Unit RS Persahabatan

Jika dilihat dari sisi teknis, Dr. dr. Heidy Agustin, Sp.P(K) dari RSUP Persahabatan memaparkan peran Clinical Research Unit (CRU) sebagai penggerak inovasi layanan melalui penelitian klinis. Heidy menyoroti tata kelola penelitian, kolaborasi dengan lembaga nasional dan internasional, serta pengembangan fasilitas riset seperti biobank dan laboratorium biomolekuler. Berbagai penelitian unggulan dipaparkan, mulai dari uji klinis vaksin hingga riset genomik BGSi. Ke depan, CRU akan menargetkan peningkatan mutu riset, digitalisasi proses penelitian, dan perluasan kolaborasi pada 2026

 

fm 6Qualified Risk Management Analyst (QRMA): Dalam Manajemen Risiko RS

Dalam sesi berikutnya, Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua, menekankan pentingnya manajemen risiko sebagai fondasi mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit. Beliau menjelaskan bahwa penerapan Qualified Risk Management Analyst (QRMA) dan integrasi Enterprise Risk Management (ERM) diperlukan agar rumah sakit memiliki budaya sadar risiko yang kuat dan konsisten. Hanevi juga menyoroti tantangan seperti rendahnya budaya pelaporan dan resistensi perubahan, sehingga dibutuhkan standar metodologi yang seragam serta komitmen seluruh unit. Sesi ditutup dengan ajakan memperkuat kapasitas SDM dan kerangka kerja manajemen risiko agar implementasinya efektif di seluruh lini pelayanan.

Secara keseluruhan, forum ini berperan sebagai ruang kolaboratif bagi para pemangku kepentingan untuk bertukar praktik baik dan memperkuat fondasi mutu layanan kesehatan di Indonesia. Perspektif yang dihadirkan memberi gambaran menyeluruh tentang peran kepemimpinan, manajemen risiko, ditunjang dengan penelitian klinis sebagai pilar penting transformasi mutu yang terukur, inovatif, dan berkelanjutan bagi sistem kesehatan Indonesia.

Reporter:

Indra Komala R.N., MPH
(PKMK, Divisi Mutu)

Transformasi Teknologi dalam Sektor Kesehatan untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan

fm 7Subtopik pertama, Streamlining Workflow with Connected Patient Care, disampaikan oleh Benedict Sulaiman, S.Kom., MM., MARS., MCSE., CFP selaku CTO Mandaya Hospital Group. Ia menekankan pentingnya konektivitas digital yang mengintegrasikan Rekam Me, perangkat medis, aplikasi pasien, call center, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, integrasi menyeluruh menjadi fondasi rumah sakit modern yang lebih efisien, mengurangi beban administratif, menekan biaya operasional, mengoptimalkan sumber daya, dan memperkuat kemampuan monitoring jarak jauh. Benedict menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital memerlukan integrasi sistem yang matang, infrastruktur jaringan yang kuat, tata kelola yang jelas, serta SDM yang siap berubah. Transformasi digital, ujarnya, harus diposisikan sebagai proses perubahan organisasi yang berkelanjutan.

Subtopik kedua, Stroke Digital Twin: Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan, disampaikan oleh Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D. yang menyoroti stroke sebagai beban kesehatan besar di Indonesia dari sisi kematian, disabilitas, dan pembiayaan JKN, dengan tantangan yang makin kompleks akibat pergeseran usia kejadian, ketimpangan wilayah, serta layanan yang masih reaktif dan seragam. Melalui pendekatan digital twin berbasis data real-time dan kecerdasan buatan, Lutfan mendorong pergeseran layanan stroke menuju model yang lebih prediktif, personal, dan berbasis data melalui riset bertahap serta kolaborasi lintas disiplin sebagai dasar penguatan layanan klinis dan kebijakan

Dalam sesi diskusi, Benedict menegaskan bahwa teknologi, termasuk AI, perlu dimanfaatkan secara tepat guna dengan tetap melalui verifikasi dokter agar dapat dipertanggungjawabkan, serta harus selaras dengan visi dan misi rumah sakit. Bagi rumah sakit yang belum memiliki direktur IT, Benedict menyarankan opsi outsourcing dengan strategi IT yang terintegrasi dalam rencana strategis. Lutfan menyampaikan bahwa pemanfaatan data stroke untuk evaluasi mutu masih tahap awal namun sangat potensial, dengan hasil percontohan yang baik di Vietnam, serta menekankan pentingnya kolaborasi lintas akademisi dan stakeholder dalam implementasi digital twin.

Sebagai penutup sesi pemaparan, Fadhilah menekankan bahwa transformasi teknologi tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus dibangun melalui kolaborasi lintas sektor agar benar-benar mampu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Reporter:

Sensa Gudya Sauma Syahra
(PKMK UGM)

Rekaman video dan materi dapat diakses melalui link berikut

FORUM MUTU IHQN xxi

 

 

Tracks Workforce, Policy, and Governance

{tab title=”Bagian 1″ class=”red” align=”justify”}

Can ‘Living’ Guidelines Be Made and If So Will They Be Used? An Evaluation of the Australian Living Stroke Guidelines

Presentasi ini oleh Prof. Peter Hibbert dan timnya dari Australian Institute of Health Innovation mengevaluasi Living Stroke Guidelines (LSGs) di Australia, yang berfokus pada penerapan panduan klinis yang diperbarui secara berkala untuk perawatan stroke. Presentasi ini menyimpulkan bahwa panduan ‘living’ seperti LSGs dapat meningkatkan kualitas perawatan dengan memastikan panduan yang selalu diperbarui dan relevan dengan perkembangan bukti terbaru.

Poin-poin utama:

  1. Panduan Praktik Klinis (CPGs):
    • CPGs adalah pernyataan yang mencakup rekomendasi untuk mengoptimalkan perawatan pasien, berdasarkan tinjauan sistematis bukti dan penilaian manfaat serta risiko pilihan perawatan.
    • Panduan ini telah menjadi bagian dari sistem kesehatan sejak 1990-an untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien. Namun, masalah seperti duplikasi, ukuran dokumen yang besar, dan keterlambatan pembaruan sering terjadi.
  2. Masalah dengan Panduan yang Usang:
    • Satu dari lima rekomendasi dalam panduan klinis menjadi usang dalam waktu tiga tahun. Hal ini menekankan pentingnya pembaruan yang lebih cepat.
  3. Panduan ‘Living’ (LSGs):
    • LSGs adalah pendekatan baru di mana panduan diperbarui secara berkala berdasarkan bukti terbaru, sehingga rekomendasi dapat diubah seiring dengan munculnya data baru. Panduan ini berbeda dari pendekatan tradisional yang merevisi seluruh dokumen sekaligus.
    • Stroke Foundation Australia, bekerja sama dengan Cochrane Australia, mulai menerapkan metode pengembangan panduan ‘living’ ini pada 2017, termasuk lebih dari 300 rekomendasi yang mencakup 80 topik klinis.
  4. Evaluasi LSGs:
    • Evaluasi dilakukan untuk memahami dampak LSGs terhadap beban kerja, efisiensi produksi panduan, dan penerimaan di antara pengguna akhir. Evaluasi menggunakan metode survei kuantitatif dan wawancara kualitatif, serta data Google Analytics untuk mengukur akses panduan selama lima tahun.
    • Hasil survei menunjukkan bahwa 69% pengguna memiliki kepercayaan yang lebih besar pada LSGs dibandingkan versi statis sebelumnya, dan 66% mengikuti rekomendasi panduan.
  5. Hambatan dan Fasilitator dalam Pengembangan LSGs:
    • Hambatan termasuk kurangnya integrasi antara platform perangkat lunak dan alat kolaboratif serta beban kerja yang tidak dapat diprediksi. Namun, kolaborasi antara pemangku kepentingan dan pengakuan kontribusi menjadi fasilitator utama.
    • Meskipun panduan ini meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas, ada kekhawatiran tentang kesinambungan dan pendanaan yang berkelanjutan.
  6. Kesimpulan:
    • LSGs dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dalam lembaga yang memiliki sumber daya yang baik. Panduan ini memungkinkan pembaruan rekomendasi yang terus menerus sesuai dengan bukti baru.
    • Ke depan, fokus harus diarahkan pada kondisi dengan beban penyakit yang tinggi dan perubahan bukti yang cepat, serta pentingnya komunikasi yang efektif dan penyediaan sumber daya untuk mendukung adopsi panduan yang terus berubah.

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{tab title=”Bagian 2″ class=”orange”}

WHO: From Policy to Practice: Application of Quality and Safety Service Delivery Framing

isq 8Sesi ini menampilkan banyak presentan, mereka memaparkan tentang cara menghubungkan kebijakan tingkat tinggi dengan praktik klinis sehari-hari. Salah satu kebijakan yang dibahas yaitu tentang global medication without harm. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan kampanye global Medication Without Harm pada tahun 2017. Kampanye ini bertujuan untuk mengurangi bahaya yang terkait dengan penggunaan obat dan meningkatkan keselamatan pasien di seluruh dunia.

Di seluruh dunia, diperkirakan biaya yang disebabkan oleh kesalahan pengobatan mencapai sekitar $42 miliar USD per tahun. Kesalahan ini dapat terjadi pada berbagai tahap dalam proses penggunaan obat. Faktor-faktor seperti sistem pengobatan yang lemah dan kondisi manusia, misalnya kelelahan, lingkungan yang tidak memadai, atau kekurangan tenaga medis, dapat memengaruhi praktik peresepan, transkripsi, pemberian, dan pemantauan obat, yang berpotensi menyebabkan bahaya serius, kecacatan, atau bahkan kematian.

Guna menghindari kesalahan pengobatan, WHO meluncurkan Global Patient Safety Action Plan 2021-2030. Kegiatan berfokus pada 7 strategi, yaitu:

Strategic objective 1. Policies to eliminate avoidable harm in health care
Strategic objective 2. High-reliability systems
Strategic objective 3. Safety of clinical processes
Strategic objective 4. Patient and family engagement
Strategic objective 5. Health worker education, skills and safety
Strategic objective 6. Information, research and risk management
Strategic objective 7. Synergy, partnership and solidarity

isq 9

Poin-poin utama:

  1. Kampanye Medication Without Harm yang diinisiasi oleh WHO merupakan langkah krusial untuk mengurangi kesalahan medis yang berkaitan dengan penggunaan obat serta meningkatkan keselamatan pasien secara global. Inisiatif ini penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih aman dan efisien, mengurangi dampak dari penyakit yang dapat dicegah, serta meningkatkan kualitas hidup pasien di seluruh dunia.
  2. Peningkatan sistem pelaporan terkait efek samping obat dan kesalahan pengobatan yang dapat digunakan untuk memperbaiki praktik pengelolaan obat baik di tingkat rumah sakit maupun dalam sistem kesehatan secara keseluruhan.
  3. Memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan mengenai praktik pengelolaan obat yang aman dan efisien, serta menyusun pedoman berbasis bukti untuk praktik terbaik dalam penggunaan obat.
  4. Mengoptimalkan penggunaan teknologi, seperti rekam medis elektronik dan sistem informasi kesehatan, untuk meningkatkan keamanan dalam penggunaan obat dan mencegah terjadinya kesalahan pengobatan.
  5. Mengajak berbagai sektor, termasuk industri farmasi, organisasi non-pemerintah, dan lembaga internasional, untuk bekerja sama dalam merancang kebijakan yang mendukung penggunaan obat yang lebih aman.
  6. Kesalahan Pemberian Obat: Kesalahan dalam pemberian obat sering kali disebabkan oleh ketidakcocokan informasi antara dokter, apoteker, dan perawat, serta kurangnya informasi yang lengkap mengenai alergi atau kondisi medis pasien.
  7. Polifarmasi pada Lansia: Banyak lansia yang mengonsumsi berbagai obat untuk mengelola kondisi medis yang berbeda, yang dapat meningkatkan risiko interaksi obat yang berbahaya.

Usulan berbagai tindak lanjut

  1. Kementerian Kesehatan, akademisi, dan lembaga akreditasi menyusun elemen penilaian patient centre care
  2. Menyusun pedoman implementasi dan pengukuran patient centre care untuk penyakit esensial
  3. Kementerian kesehatan perlu membuat sebuah kanal pengetahuan untuk membagikan praktik-praktik terbaik berbasis bukti di level Global/ international maupun praktik-praktik keselamatan pasien yang ada di Indonesia.
  4. Kementerian kesehatan perlu melakukan review kembali terkait langkah-langkah melakukan investigasi keselamatan pasien yang berkualitas
  5. Pelayanan kesehatan perlu membangun sistem pelaporan insiden yang aman dan berbasis IT dan konfidensial untuk mendorong tenaga kesehatan melaporkan kesalahan tanpa takut akan sanksi.

Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH

 

{/tabs}

 

  Ke halaman utama

Tracks Future of Healthcare: AI and Digital Transformation

{tab title=”Bagian 1″ class=”red” align=”justify”}

DISCO with Patients, Patient Advocates, and Healthcare Teams – A Healthcare Improvement Collaboration Platform

Presentasi ini oleh Keith Heng dari SingHealth, memperkenalkan platform kolaborasi DISCO (Design, Ideate, Sustain, Change for Organisation) yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas perawatan pasien dengan melibatkan pasien, advokat, dan tim kesehatan. Presentasi ini menyoroti bagaimana DISCO Café menjadi platform inovatif yang menggabungkan ide-ide dari berbagai pihak untuk meningkatkan perawatan kesehatan yang lebih berpusat pada pasien.

Poin-poin utama:

  1. Tentang SingHealth dan IPSQ:
    • SingHealth adalah kelompok institusi kesehatan terbesar di Singapura, mencakup 4 rumah sakit umum, 3 rumah sakit komunitas, 5 pusat spesialis nasional, dan 8 poliklinik.
    • Institut Keselamatan Pasien & Kualitas (IPSQ) di bawah SingHealth didirikan pada 2017 dan berperan dalam mengintegrasikan usaha keselamatan dan kualitas pasien di Singapura melalui program pendidikan berkelanjutan yang berfokus pada peningkatan kualitas perawatan dan inovasi.
  2. Masalah dalam Upaya Peningkatan Kesehatan Tradisional:
    • Sebelum adanya DISCO Café, upaya peningkatan kualitas kesehatan sering kali terhambat oleh adanya silo antar departemen, kurangnya visi bersama, dan komunikasi yang terbatas antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.
  3. DISCO Café:
    • Diluncurkan pada Maret 2023, DISCO Café adalah platform kolaboratif yang mempertemukan tim proyek, advokat pasien, dan ahli materi untuk bertukar ide melalui proses ideasi terstruktur.
    • Acara ini melibatkan sesi “table hopping” di mana berbagai ide dikembangkan dengan bimbingan ahli dari SingHealth dan jaringan institusi lainnya.
    • DISCO Café bertujuan untuk memperkuat ide proyek, memfasilitasi kolaborasi antar-disiplin, dan memperkuat fokus pada perawatan yang berpusat pada pasien.
  4. Co-creation dengan Pasien:
    • DISCO Café menekankan pentingnya co-creation, di mana pasien dan tim kesehatan bekerja bersama untuk menemukan solusi yang relevan dan efektif. Ini menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang perjalanan pasien dan menghasilkan solusi yang lebih berpusat pada pasien.
    • SingHealth Patient Advocacy Network (SPAN), yang terdiri dari pasien dan keluarga, berkolaborasi erat dengan tim kesehatan untuk memberikan perspektif berharga dan meningkatkan pengalaman perawatan.
  5. Hasil dan Umpan Balik:
    • Dari tiga sesi DISCO Café yang telah dilaksanakan, sebanyak 94% peserta menyatakan manfaat dari sesi tersebut, dan 88% merasa konten relevan dengan proyek mereka.
    • Umpan balik menunjukkan bahwa peserta dapat memperoleh perspektif yang beragam dan ide-ide baru yang bermanfaat bagi proyek mereka.
  6. Tema DISCO Café:
    • Sesi pertama pada Maret 2023 berfokus pada “Membangun Layanan Digital untuk Meningkatkan Pengalaman Pasien”.
    • Sesi kedua pada September 2023 mengangkat tema “Meningkatkan Keterlibatan dan Pemberdayaan Pasien & Pengasuh”.
    • Sesi ketiga yang direncanakan pada April 2024 akan membahas “Transportasi Aman Pasien di Fasilitas Kesehatan”.

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{tab title=”Bagian 2″ class=”orange”}

The Challenges of Digital Risks in the French Hospitals Accreditation

Presentasi ini, disampaikan oleh Sophie Ollivier dan Isabelle Dorleans, membahas tantangan digital dalam proses akreditasi rumah sakit di Prancis, dengan fokus pada penguatan persyaratan dan kriteria baru terkait risiko digital.

Poin-poin utama:

  1. Latar Belakang Akreditasi Rumah Sakit di Prancis:
    • Semua rumah sakit di Prancis, baik publik maupun swasta, diwajibkan untuk melalui proses akreditasi setiap 4 tahun.
    • Proses ini dikelola oleh French National Authority for Health (HAS) dengan fokus pada evaluasi kualitas perawatan dan keselamatan pasien.
    • Hasil evaluasi dipublikasikan secara terbuka melalui platform QualiScope.
  2. Tantangan Digital dalam Akreditasi:
    • Pengelolaan risiko keamanan digital menjadi tantangan utama. Rumah sakit harus memastikan kelangsungan operasionalnya untuk menjaga keselamatan perawatan, terutama menghadapi risiko serangan siber.
    • Program nasional seperti roadmap kesehatan digital 2023-2027 mendukung peningkatan persyaratan digital dalam akreditasi.
    • Penilaian digital ini bukan inspeksi teknis melainkan audit hasil yang fokus pada praktik terbaik yang diterapkan oleh tenaga profesional.
  3. Kriteria Penilaian Digital:
    • Ada tujuh kriteria penilaian digital utama, termasuk manajemen risiko keamanan digital, identifikasi profesional, akses ke catatan medis pasien, serta komunikasi yang aman dari informasi medis.
    • Penekanan pada kesadaran, pelatihan, dan promosi praktik terbaik terkait kebersihan IT dan penggunaan sistem informasi yang aman.
  4. Integrasi Keahlian Digital dalam Tim Surveyor:
    • Mulai Januari 2024, setiap tim surveyor harus memiliki keahlian digital khusus yang bertugas untuk mengevaluasi kriteria digital.
    • Digital surveyor ini akan direkrut, dilatih, dan dipandu dalam pelaksanaan kunjungan lapangan untuk memastikan pemahaman menyeluruh tentang risiko digital dan penerapan standar.
  5. Hasil Awal dan Prospek:
    • Sejak Januari 2024, telah dilakukan 368 survei yang mencakup kriteria digital. Hasilnya menunjukkan perlunya memperkuat budaya keamanan digital di rumah sakit.
    • Kolaborasi antara tim kesehatan dan tim IT meningkat, dan kesadaran para direktur rumah sakit terhadap isu keamanan siber semakin tinggi.
    • Ke depan, fokus akan ditingkatkan pada telehealth dan penggunaan perangkat medis digital yang terhubung dengan kecerdasan buatan (AI).

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

  

{tab title=”Bagian 3″ class=”green”}

Artificial Intelligence and Improving Care: CAIBILS (Center for AI and Biomedical Informatics for the Learning Healthcare System)

Presentasi ini oleh Dr. David W. Bates dari CAIBILS memaparkan peran kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan perawatan kesehatan, dengan fokus pada inisiatif CAIBILS untuk mengintegrasikan AI dan informatika biomedis dalam sistem perawatan kesehatan berbasis pembelajaran.

Poin-poin utama:

  1. Misi CAIBILS:
    • CAIBILS bertujuan untuk menyediakan sumber daya pendidikan, data, dan keahlian konsultatif dalam penelitian kesehatan dan operasi kualitas. Tujuannya adalah untuk mendukung inovasi AI dan informatika biomedis untuk meningkatkan perawatan pasien dalam sistem kesehatan berbasis pembelajaran.
    • Learning Health System adalah sistem di mana data internal dan pengalaman klinis diintegrasikan secara sistematis dengan bukti eksternal, dan pengetahuan yang diperoleh diterapkan dalam praktik.
  2. Peran Penting CAIBILS:
    • CAIBILS mengisi kebutuhan di Mass General Brigham (MGB) dengan mengembangkan penelitian AI/informatika biomedis yang terintegrasi untuk meningkatkan perawatan pasien, efisiensi, dan kepuasan kerja.
    • CAIBILS juga berperan dalam menghubungkan akademisi dengan industri serta mendukung kolaborasi dengan pemerintah untuk mengembangkan aplikasi penelitian mutakhir yang dapat diintegrasikan ke dalam strategi organisasi.
  3. Pengembangan Fakultas Ilmiah:
    • CAIBILS merekrut dan mempertahankan fakultas kelas dunia dalam informatika dasar, translasi, dan klinis. Mereka juga menyediakan pendidikan lanjutan dan pelatihan melalui seminar, kursus sertifikasi, dan kolaborasi dengan institusi akademik seperti MIT.
    • Salah satu fokus utama adalah mengembangkan informatika sebagai disiplin klinis yang relevan dengan pasien dan penyedia layanan kesehatan serta mengevaluasi dampak klinis dan ekonomi dari bidang ini.
  4. Contoh Proyek Penelitian dan Analisis Kualitas:
    • CAIBILS mengidentifikasi masalah dan peluang untuk meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas perawatan, seperti melalui dukungan keputusan klinis, analisis catatan kesehatan elektronik (EHR), dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan/machine learning (AI/ML).
    • Contoh proyek termasuk prediksi kejadian efek samping obat (ADE), respons terapeutik, dan deteksi dini kesalahan resep obat untuk mengurangi risiko dan meningkatkan hasil klinis.
  5. Penggunaan AI untuk Mengurangi Efek Samping Obat:
    • Proyek CAIBILS mencakup pengembangan algoritma AI untuk memprediksi pasien yang mungkin mengalami ADE, menentukan respons obat yang optimal, dan memilih perawatan yang paling aman dan efektif.
    • Proyek lain yang melibatkan AI meliputi pengembangan dukungan keputusan alergi obat dan studi genetik serta faktor risiko epidemiologis untuk reaksi kulit parah akibat obat.
  6. Kesimpulan:
    • CAIBILS sedang berkembang untuk menjadi pusat penelitian AI dan informatika yang terintegrasi. Meskipun AI menawarkan potensi transformasional, banyak tantangan yang harus diatasi, termasuk pemantauan dan implementasi aplikasi yang tepat.
    • Kolaborasi dengan industri sangat penting, dan CAIBILS bertujuan untuk menjadi penggerak utama dalam inovasi AI di sistem kesehatan berbasis pembelajaran.

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{/tabs}

 

  Ke halaman utama

 

 

Tracks Co-production – Creating a patient-centred healthcare service

{tab title=”Bagian 1″ class=”red” align=”justify”}

The Patient Engagement Puzzle

isq 6“Patient Engagement Puzzle” adalah sebuah konsep yang menggambarkan kompleksitas dalam melibatkan pasien dalam perawatan kesehatan sehingga kita dapat merancang kebutuhan pasien secara bersama dengan karakteristik atau kebutuhan yang berbeda, baik yang menghadapi berbagai jenis stigma atau yang mungkin menunjukkan kerentanan yang dinamis selama menjalani perawatan. Keterlibatan pasien melibatkan banyak aspek, mulai dari pemahaman pasien tentang kondisi mereka, komunikasi antara pasien dan penyedia layanan kesehatan, hingga dukungan sistem kesehatan yang memadai. Semua aspek ini saling terkait dan membentuk sebuah gambaran yang kompleks. Berikut ini terdapat 2 pemateri yang membahas secara detail mengenai Patient Engagement Puzzle yang dimoderatori oleh Anna Edwards seorang Associate Director Transformation and Change.

Nidhi Swarup adalah seorang Pendiri dan Presiden Crohn’s & Colitis Society of Singapore (CCSS) sejak 2012. Beliau telah memfasilitasi pembentukan Kelompok Dukungan Pasien IBD di Thailand, Malaysia, Filipina, dan India. Nidhi menyampaikan presentasi yang berjudul “Co- Design Healthcare Ecosystem Including Patient Experience”. dengan menggambarkan ketika seseorang mendapat diagnosis penyakit kronis seperti Crohn’s Disease, hal ini bisa menjadi pengalaman yang sangat mengejutkan dan menimbulkan banyak pertanyaan. Beberapa pertanyaan umum yang sering muncul adalah: 1) Apakah ini kesalahan saya? Banyak orang merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri atas kondisi kesehatan mereka. 2) Bisakah saya mencegahnya? Mungkin akan mencari tahu apakah ada sesuatu yang bisa mereka lakukan untuk mencegah penyakit ini. 3) Apakah penyakit ini diturunkan? Mereka mungkin khawatir tentang risiko penyakit ini pada keluarga mereka. 4) Apakah penyakit ini menular? Mereka mungkin khawatir akan menularkan penyakit ini kepada orang lain. 5) Apakah saya perlu operasi? Mereka mungkin khawatir tentang prosedur medis yang mungkin diperlukan untuk mengobati penyakit mereka.

Setiap orang akan mengalami emosi yang berbeda-beda dan dengan intensitas yang berbeda pula. Nidhi juga menyampaikan kompleksitas hidup dengan penyakit kronis. Tidak hanya dampak fisik yang langsung terlihat, tetapi juga dampak emosional, finansial, dan sosial yang seringkali tidak terduga dan dapat sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Penting untuk memahami kompleksitas penyakit kronis: Tidak hanya gejala fisik yang perlu diperhatikan, tetapi juga aspek emosional, finansial, dan social, dan Dukungan dari keluarga, teman, dan profesional kesehatan sangat penting: Dukungan ini dapat membantu pasien mengatasi tantangan yang mereka hadapi. Untuk melakukan analisis lebih dalam terkait Patient Engagement Puzzle, menurut Nidhi perlu melakukan SWOT Analisis untuk mengetahui Pendidikan, Pengalaman, Celah dalam pelayanan dan penyakit yang membutuhkan perhatian khusus. Analisis tersebut penting agar pasien dapat terlibat secara aktif dalam merencanakan, memberikan, dan mengevaluasi perawatan kesehatan mereka sendiri. Ini melibatkan kerja sama antara pasien, penyedia layanan kesehatan, dan pihak terkait lainnya untuk membuat keputusan yang berpusat pada pasien. Serta bagaimana setiap pemangku kepentingan dapat berperan dalam co-creating tersebut.

Menurut Nidhi ada empat poin utama yang diharapkan oleh pasien pelayanan kesehatan di masa depan, yakni dari sisi Pasien & Dokter Umum (GP) yakni Bimbingan personal menggunakan aplikasi yang dapat dikenakan (misalnya wearable apps) dan perangkat medis, Fokus pada pengelolaan kondisi kronis. Sisi Spesialis & Pasien yakni dengan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk diagnosis yang lebih awal dan akurat, Edukasi pasien yang terkurasi, Pengawasan melalui alat digital dan konsultasi jarak jauh (telekonsultasi), Ko-kreasi rencana perawatan yang dipersonalisasi, serta Kemitraan Spesialis-Pasien-Peneliti dengan meluangkan waktu untuk membangun hubungan saling percaya, Pengambilan keputusan bersama untuk perawatan holistic, Identifikasi kebutuhan pasien yang belum terpenuhi, Ko-kreasi penelitian dan pengembangan (R&D) serta uji klinis, dan Diskusi Tepat Waktu: Pedoman medis lanjutan, Pengambilan keputusan kritis dalam perawatan, Pembahasan tentang isu-isu update dan perawatan paliatif.

Arda Karapinar (alias Minas Panosian) adalah seorang aktivis pengobatan HIV global, penulis komunitas, dan pendiri Red Ribbon Istanbul Association, organisasi masyarakat sipil/penyedia informasi terkemuka di Turki yang berfokus pada HIV. Panosian memulai presentasinya dengan menyoroti bagaimana penyakit baru dapat membawa tantangan sekaligus peluang bagi pasien dan penyedia layanan kesehatan untuk melakukan perubahan positif. Dimulai dari awal dari perjalanan seseorang setelah didiagnosis dengan suatu penyakit baru, lalu muncul ketidakpastian atau kekurangan informasi mengenai penyakit tersebut, bahkan memanfaatkan kesempatan dalam menghadapi tantangan penyakit dengan cara-cara baru melalui pendekatan inovatif dalam perawatan atau pengobatan, dan sampai pada level menunjukkan bahwa ada peluang baru yang dapat diambil dari situasi yang dihadapi pasien, baik dalam hal perawatan kesehatan, teknologi, atau pendekatan hidup yang baru.

Panosian juga menekankan pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi dan holistik dalam pelayanan kesehatan, seperti yang dicontohkan pada pelayanan HIV. Tidak hanya fokus pada penyakit, perawatan kesehatan harus juga memperhatikan aspek-aspek lain dari kehidupan seseorang bahwa setiap individu memiliki pengalaman dan kebutuhan yang unik, sehingga perawatan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Diagnosis penyakit seringkali membawa dampak psikologis yang besar, seperti stigma dan isolasi sosial, dan penting untuk diketahui bahwa komunitas memiliki peran penting dalam memberikan dukungan emosional dan sosial bagi individu yang sedang menjalani pengobatan sehingga pasien harus menjadi pusat dari semua keputusan perawatan, tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab untuk memberikan perawatan yang komprehensif dan mendukung pasien secara holistic, serta komunitas harus terlibat dalam memberikan dukungan kepada individu yang sedang sakit.

Poin-poin utama:

  1. Pelayanan kesehatan harus dapat memberikan ekosistem perawatan yang lebih holistik, dengan pendekatan yang berpusat pada pasien.
  2. Pelayanan kesehatan sebaiknya memahami bahwa setiap pasien menghadapi pengalaman emosional yang berbeda-beda, yang memerlukan pendekatan individual dalam menangani kondisi mereka sehingga treatment dapat dilakukan sesuai dengan kondisi pasien.
  3. Penyakit baru tidak hanya membawa tantangan, tetapi juga peluang bagi pasien dan penyedia layanan kesehatan untuk melakukan perubahan positif.

Penulis: Penulis: Andriani Yulianti, SE MPH

 

{tab title=”Bagian 2″ class=”orange”} 

Making Coproduction a Reality: From Theory to Action

Presentasi ini menyoroti pentingnya “coproduction” dalam layanan kesehatan, yang berarti kerja sama antara pengguna (pasien dan keluarga) serta profesional kesehatan untuk menciptakan, mengembangkan, dan meningkatkan layanan kesehatan. Paul Batalden mengakhiri presentasinya dengan mendorong diskusi lebih lanjut dan refleksi tentang bagaimana coproduction dapat diterapkan secara lebih luas dalam layanan kesehatan.

Poin-poin utama:

  1. Definisi Coproduction: Coproduction didefinisikan sebagai kerja interaktif antara pengguna dan profesional dalam desain, penyampaian, evaluasi, dan peningkatan layanan kesehatan. Hal ini dilakukan dengan rasa hormat dan kemitraan yang mengundang kekuatan serta keahlian unik masing-masing peserta.
  2. Hubungan dan Tindakan dalam Layanan Kesehatan: Batalden menekankan bahwa setiap interaksi kesehatan terdiri dari hubungan dan tindakan. Hubungan antara pasien dan profesional kesehatan sering kali memiliki kekuatan penyembuhan yang lebih besar daripada tindakan medis itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya fokus pada tindakan medis tetapi juga pada hubungan yang mendasarinya.
  3. Peran Ilmu Pengetahuan dan Praktik yang Berbasis Sains: Layanan kesehatan harus diinformasikan oleh praktik berbasis sains, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial, antropologis, dan psikologis dari pengalaman sakit dan sehat. Dengan demikian, integrasi berbagai sistem pengetahuan sangat penting dalam coproduction.
  4. Sistem Layanan yang Efektif: Batalden menyarankan penggunaan studi kasus terstruktur sebagai cara untuk mempelajari bagaimana menerapkan coproduction di layanan kesehatan. Studi ini mencakup situasi nyata, navigasi sistem yang ada, serta pengetahuan profesional dan pasien tentang kondisi dan penyakit.
  5. Membuat Coproduction Menjadi Kebiasaan: Untuk membuat coproduction berhasil, diperlukan keterampilan, kebiasaan, dan kemampuan untuk berkolaborasi. Ini termasuk berbagi kekuatan, saling percaya, serta keberanian untuk rentan dalam kemitraan antara pasien dan profesional kesehatan.
  6. Perubahan Global dalam Coproduction: Presentasi ini juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama lintas budaya dan lintas negara untuk menerapkan coproduction secara efektif. Hal ini melibatkan pengembangan kepemimpinan dan kapasitas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs).

Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{/tabs}

 

  Ke halaman utama

 

 

Tracks Patient Safety & Quality Improvement

{tab title=”Bagian 1″ class=”red” align=”justify”}

Patient Safety: a Journey through Collaboration, Leadership and Partnership

isq 3

Mike Durkin merupakan seorang Penasihat Senior Kebijakan dan Kepemimpinan Keselamatan Pasien dari Institut of Global Health Innovation (Senior Advisor on Patient Safety Policy and Leadership Institute of Global Health Innovation). Beliau adalah Pakar yang ditunjuk oleh ISQua, dianugerahi Fellowship of the Royal College of Physicians of London atas jasanya dalam Keselamatan Pasien serta sebagai Dewan Penasihat penelitian, kebijakan, dan keselamatan pasien nasional dan internasional. Pada sesi Plenary tentang Patient Safety: a Journey through Collaboration, Leadership and Partnership Durkin memberikan materi dengan topic “Time to move to a cultural era in patient safety of values, ethics and leadership at every level“. Penyampaian materi dimoderatori oleh Dr. Ezequiel Garcia Elorrio yang merupakan presiden ISQUA 2024 dan menjadi salah satu pendiri dan anggota dewan Institute for Clinical Effectiveness and Health Policy (IECS) di Buenos Aires – Argentina.

Durkin memulai penyampaian materi dengan menggarisbawahi pentingnya evaluasi jangka panjang atas perawatan pasien di rumah sakit, dengan fokus pada analisis hasil pengobatan dan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan untuk menghindari kegagalan di masa depan serta menyoroti bahwa pemimpin yang efektif tidak hanya fokus pada mencari kesalahan, tetapi juga pada mengidentifikasi dan mengatasi akar masalah, agar staf dapat bekerja lebih efisien, serta menekankan pentingnya bukti ilmiah dan data dalam pengambilan keputusan.

Beberapa contoh dikemukakan bagaimana NHS (National Health Service) melakukan peninjauan dan menyelidiki kematian pasien agar tidak terulang di masa depan, menurut Durkin tentu saja ini menitikberatkan sebuah budaya yang dibangun untuk terus melakukan analisis dari kematian yang terjadi sehingga dapat meningkatkan kualitas perawatan kesehatan dan mencegah masalah serupa di masa depan. Durkin juga menekankan pentingnya mempertimbangkan nilai (value) dan nilai-nilai (values) dalam sistem kesehatan selain mutu. Bahwa kualitas tidak hanya tentang efisiensi dan keamanan, tetapi juga tentang memperhatikan apa yang benar-benar dihargai oleh pasien dan masyarakat. Namun saat ini kita dihadapkan pada hambatan terbesar dalam pencegahan kesalahan di industri pelayanan kesehatan yakni adanya budaya punishment. Budaya punishment di sistem kesehatan malah akan menjadi penghalang untuk pencegahan kesalahan. Dengan memberikan hukuman, para pelaku di industri kesehatan mungkin enggan untuk melaporkan kesalahan atau belajar dari kesalahan tersebut, sehingga memperlambat upaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kolaboratif.

Durkin juga menekankan pentingnya pemantauan kejadian yang tidak diinginkan dalam sistem kesehatan. Data yang diperoleh dari pemantauan yang dilakukan dapat digunakan untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Dan yang paling esensial dalam topik keselamatan pasien yang dilakukan oleh NHS bahwa kepemimpinan yang kuat diperlukan untuk mendorong dan mengimplementasikan inisiatif keselamatan pasien dalam setiap area yang telah diidentifikasi, serta pentingnya mengukur hasil dari upaya peningkatan keselamatan pasien. Dengan mengukur hasil, kita dapat mengetahui seberapa efektif upaya yang telah dilakukan dan mengidentifikasi area yang masih perlu ditingkatkan.

Dalam hasil survei yang disampaikan oleh Durkin menunjukkan bahwa masih ada celah dalam memberikan perawatan yang aman dan berkualitas bagi pasien yakni pentingnya perspektif pasien, hal ini menunjukkan betapa pentingnya mendengarkan pendapat pasien untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Perlunya penambahan staf bahwa Rumah sakit perlu merekrut lebih banyak perawat untuk memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan perawatan yang memadai. Pentingnya komunikasi antara petugas medis dan pasien, serta antara rumah sakit dan pasien setelah pasien pulang serta perlunya pasien mendapatkan dukungan yang lebih baik, baik selama di rumah sakit maupun setelah pulang, untuk membantu mereka pulih dan mengelola kondisi mereka.

Dalam presentasinya Durkin juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam meningkatkan keselamatan pasien. Dengan membandingkan praktik-praktik terbaik di berbagai negara, kita dapat belajar dan menerapkannya untuk meningkatkan kualitas perawatan kesehatan di seluruh dunia. Karena sebuah penelitian dapat membantu dalam mengembangkan standar global untuk keselamatan pasien. Pertukaran Pengetahuan dapat mendorong terjadinya pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar negara serta peningkatan kualitas perawatan dengan mengadopsi praktik terbaik, sehingga kita dapat mengurangi risiko terjadinya kesalahan medis dan meningkatkan kualitas perawatan pasien.

Menurut Durkin di masa depan, ada beberapa pertanyaan yang perlu di jawab di masa depan dan pentingnya melihat masalah keselamatan pasien secara lebih holistik dan melibatkan pasien secara aktif dalam proses peningkatan kualitas, diantaranya:

  1. Apakah data dapat menunjukkan tingkat keamanan perawatan saat ini dan di masa depan, bukan hanya di masa lalu? Hal ini terkait dengan memastikan apakah upaya peningkatan keselamatan pasien efektif.
  2. Apakah data dapat mencakup seluruh perjalanan pasien, tidak hanya saat mereka di rumah sakit? Terkait dengan pengalaman pasien sebelum, selama, dan setelah perawatan di rumah sakit.
  3. Apakah data dapat mencakup pengalaman pasien saat menunggu perawatan, bukan hanya saat mereka menerima perawatan? Terkait dengan waktu tunggu yang lama karena dapat meningkatkan kecemasan pasien dan berpotensi mempengaruhi hasil perawatan.
  4. Apakah data dapat mengukur persepsi pasien tentang keamanan pelayanan, bukan hanya aspek klinisnya? Hal ini terkait dengan kepuasan pasien dan kesediaan mereka untuk mencari perawatan medis.
  5. Apakah data dapat menunjukkan perbedaan pengalaman pasien berdasarkan latar belakang sosial ekonomi dan etnis?hal ini terkait karena seringkali kelompok minoritas dan masyarakat yang kurang beruntung/minim akses seringkali mengalami ketidaksetaraan dalam akses dan kualitas perawatan kesehatan.

Sebagai penutup, Durkin mengingatkan bahwa meskipun sistem dan teknologi sangat penting dalam pelayanan kesehatan, namun pada akhirnya kualitas pelayanan ditentukan oleh manusia yang menjalankannya. Dimensi etika merupakan faktor kunci yang tidak dapat diabaikan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta pentingnya melakukan evaluasi terhadap setiap pasien yang dirawat di rumah sakit karena evaluasi ini tidak hanya sebatas melihat apakah pengobatan berhasil atau tidak, tetapi juga menggali lebih dalam untuk mencari tahu mengapa suatu pengobatan gagal dan bagaimana mencegah kegagalan serupa di masa depan.

Poin-poin utama:

  1. Pentingnya gaya kepemimpinan yang berempati karena dapat meningkatkan motivasi staf, mendorong inovasi, dan menciptakan budaya kerja yang positif.
  2. Pimpinan sebaiknya dapat menciptakan keamanan psikologis yakni menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif. Dimana setiap orang di organisasi merasa aman untuk menjadi diri sendiri dan berbagi ide, merasa bebas untuk mencoba hal-hal baru dan mengembangkan solusi yang kreatif, lebih fokus pada pekerjaan karena tidak terbebani oleh rasa takut atau khawatir, dan Lebih bahagia yang akan membuat lebih puas dengan pekerjaan mereka dan memiliki hubungan yang lebih baik dengan rekan kerja.
  3. Meningkatkan kinerja tim karena kerjasama tim yang lebih baik akan meningkatkan kinerja keseluruhan organisasi.
  4. Perlunya komitmen bersama mulai dari level atas hingga bawah, harus memiliki komitmen yang kuat terhadap keselamatan. Berikan pemahaman bahwa setiap individu memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman.
  5. Organisasi perlu memiliki sistem yang efektif untuk mengidentifikasi potensi masalah atau bahaya sebelum terjadi insiden. Sistem ini dapat berupa laporan insiden, survei, atau mekanisme pelaporan lainnya.
  6. Tenaga Kesehatan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas mereka dengan aman. Ini dapat dicapai melalui pelatihan formal maupun pembelajaran informal.
  7. Pentingnya kerjasama yang baik antar untuk menciptakan budaya keselamatan. Setiap anggota tim harus saling mendukung dan menghormati.
  8. Organisasi harus secara aktif mendorong perilaku yang aman, etis, dan saling menghormati. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, penguatan positif, dan contoh yang baik dari pimpinan.
  9. Semua sistem dan proses dalam organisasi harus dirancang dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dengan standar yg jelas. Sistem-sistem ini harus secara berkala ditinjau dan ditingkatkan.
  10. Pentingnya komunikasi dalam konteks keselamatan pasien

Penulis: Andriani Yulianti, SE MPH

 

{tab title=”Bagian 2″ class=”orange”}

Demystifying Quality Improvement

isq 7

Peter Lachman M.D. MPH. M.B.B.Ch., FRCPCH, FCP (SA), FRCPI menceritakan tentang upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien yang telah ada sejak 25 tahun lalu. Begitu banyak teori, namun pelaksanaan tidak konsisten. Perbaikan mutu adalah perjalanan, sampai saat ini telah ada tahap upaya peningkatan mutu yaitu quality 01, quality 02, dan quality 03.

Quality 01 diperkenalkan oleh Ernest Amory Codman: awal pengenalan tentang mutu. Pada tahap ini, organisasi mulai mengadopsi standar, evaluasi, sertifikasi, pedoman.

Quality 02 (peningkatkan proses pelayanan Kesehatan) diperkenalkan oleh Shewhart, Deming, Juran, Ishekawa, Crosby, Berwick, dan lainnya: Tahap ini telah focus pada system dan keterampilan teknis seperti perfoma manajemen, mengelola variasi, mengendalikan proses. Organisasi memperlajari berbagai alat seperti PDCA, lean, six sigma, diagram Ishikawa. Tahap ini telah berhasil di beberapa tempat, namun sering kali gagal mencapai tingkat perbaikan yang tinggi karena hambatan seperti jargon, kurangnya bukti yang jelas, dan skeptisisme dari tenaga kesehatan.

Quality 03 (coproduction of health) diperkenalkan oleh Batalden, Neslon, Foster, Andersson: Tahap ini berfokus ke KoProduksi seperti kekerabatan, integrasi. Tahap ini menggabungkan pengetahuan dari tenaga kesehatan dan pasien untuk bekerja bersama dalam meningkatkan kesehatan, dengan mempertimbangkan hasil klinis dan faktor penentu kesehatan lain, seperti sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Poin-poin utama:

  1. Q3 berfokus pada Ko produksi melalui perbaikan layanan Kesehatan antara tenaga Kesehatan, pasien, dan keluarga pasien; ilmu implementasi melalui penelitian; menangani isu-isu penting seprti keadilan dalam pelayanan Kesehatan, iklim, pelayanan berkelanjutan
  2. Model Perbaikan Kualitas dari Peter Lachman (QI 1.0, 2.0, dan 3.0) menunjukkan bahwa perbaikan kualitas bukan hanya tentang alat teknis, tetapi juga tentang menciptakan budaya kualitas. Ia menekankan bahwa dengan menggunakan ketiga level tersebut secara bersamaan, kita bisa mencapai perbaikan yang lebih holistik dan berkelanjutan dalam layanan kesehatan.
  3. Alat peningkatan mutu harus praktis, dapat disesuaikan, dan relevan.
  4. Perbaikan kualitas adalah proses yang terus-menerus dan berkelanjutan
  5. Peningkatan mutu yang efektif harus melibatkan semua pemangku kepentingan, pemimpin, pasien, tenaga kesehatan, dan komunitas yang lebih luas. Kolaborasi sangat penting untuk keberhasilan.
  6. Tujuan utama peningkatan mutu adalah untuk meningkatkan outcome kesehatan dengan berfokus pada patient centre care.

Penulis : Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH

 

{tab title=”Bagian 3″ class=”green”}

Innovative systems-based and consumer-focused methods to investigate serious adverse events

isq 4Ribuan investigasi terhadap insiden pasien telah dilakukan di seluruh dunia setiap tahunnya. Tentunya kegiatan ini menghabiskan banyak waktu dan sumber daya. Namun, nilainya dipertanyakan karena insiden serius terus saja berulang dan sering kali tidak memenuhi kebutuhan pesien. Pada sesi ini 3 pemateri yakni Jeffrey Braithwaite selaku Foundation Director Australian Institute of Health Innovation, Siri Wiig selaku Professor of Quality and Safety in Health care Systems University of Stavanger, Norway dan Peter Hibbert yang merupakan Stream Lead in Appropriate Care and Patient Safety Macquarie University’s Australian Institute of Health Innovation (AIHI). Semua pemateri menyajikan berbagai pendekatan yang dilakukan secara nasional dalam melakukan investigasi, kemudian memaparkan model sistem yang inovatif dalam konteks investigasi terkait cara melibatkan konsumen atau masyarakat dalam proses investigasi.

Disampaikan bahwa sebagian besar studi mengandalkan metode RCA (Root Cause Analysis/RCA) dalam proses investigasi, yang jika di evaluasi efektifitasnya hasilnya tidak selalu menunjukkan peningkatan nyata dalam kualitas perawatan pasien. Yang terpenting bahwa hasil dari investigasi sangat tergantung pada banyak faktor sistemik, tidak hanya pada metode investigasi yang digunakan. Pelaksanaan RCA juga tidak lepas dari beberapa tantangan diantaranya pentingnya; memiliki kompetensi yang cukup dalam melakukan investigasi untuk memastikan hasil yang akurat dan relevan; kebutuhan untuk menjaga independensi dalam proses investigasi, agar hasilnya tidak bias atau dipengaruhi oleh pihak tertentu; melibatkan pasien dan pengguna layanan kesehatan dalam proses investigasi; serta memastikan investigasi yang komprehensif dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang terdampak; membangun dan menjaga kepercayaan dalam sistem investigasi, baik dari sisi profesional medis maupun pasien dan pemahaman terkait sistem yang sedang ditinjau diperlukan untuk memastikan hasil investigasi yang efektif dan berdampak nyata.

Terdapat 4 prinsip utama dalam melakukan investigasi yakni 1) Mandiri: Investigasi harus dilakukan secara independen, tidak menjadi bagian dari sistem yang sedang diinvestigasi, hal Ini memastikan objektivitas dan keadilan dalam investigasi. 2) Menyeluruh pada Sistem: Investigasi harus mencakup seluruh elemen dalam sistem agar semua aktor dalam sistem kesehatan perlu diperiksa, dan rekomendasi dapat diberikan kepada pihak yang relevan. 3) Berfokus pada Pembelajaran, tujuan utama dari investigasi adalah untuk meningkatkan keselamatan pasien, bukan mencari kesalahan atau menyalahkan individu. Sehingga fokusnya adalah pada pembelajaran untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. 4) Multidisiplin: Investigasi harus melibatkan berbagai disiplin ilmu, keterampilan, dan perspektif, hal Ini akan memperkaya proses investigasi dan memastikan analisis yang lebih komprehensif.

Berikut ini strategi yang perlu diketahui untuk melibatkan pasien dalam investigasi di antaranya:

  • Mengetahui Kebutuhan konsumen/pasien dari sebuah investigasi, penting memastikan beberapa hal yakni: a) Pastikan bahwa apakah pasien, keluarga, atau pengasuh telah berkontribusi dalam tinjauan ini karena seringkali pasien memiliki informasi penting yang dapat membantu mengungkap akar masalah. b) Apakah umpan balik dari mereka telah dimasukkan dalam tinjauan. Ini mamastikan bahwa suara pasien tidak hanya didengar, tetapi juga dipertimbangkan secara serius dalam proses analisis dan penarikan kesimpulan. c) Apakah umpan balik tersebut berkontribusi pada peristiwa, temuan, atau pelajaran yang dipetik Untuk memastikan bahwa perspektif pasien telah membantu mengidentifikasi aspek-aspek penting dari kejadian yang mungkin terlewatkan jika hanya dilihat dari sudut pandang tenaga kesehatan.
  • Bagaimana caranya agar pasien memberikan informasi yang berharga
  • Pentingnya menunjuk seorang kontak keluarga untuk menjadi penghubung antara keluarga pasien dengan tim investigasi, tujuannya adalah untuk memastikan bahwa keluarga pasien merasa didukung, diinformasikan, dan dilibatkan dalam proses tinjauan. Dengan kontak keluarga tersebut, diharapkan keluarga akan merasa lebih percaya pada sistem kesehatan dan lebih puas dengan penanganan yang mereka terima.
  • Melibatkan perwakilan pasien/konsumen dalam proses investigasi keselamatan pasien: keterlibatan langsung perwakilan konsumen dalam tim investigasi dapat membantu memastikan bahwa perspektif pasien terwakili dalam seluruh proses investigasi.

Poin-poin utama:

  • Organisasi perlu memahami kejadian yang tidak diharapkan dengan berfokus pada mengapa orang tidak mengikuti prosedur, dan mengasumsikan bahwa kejadian tersebut tidak akan terjadi jika prosedur diikuti.
  • Organisasi perlu memperhatikan apakah investigasi mungkin terlalu fokus pada penyebab langsung atau mengabaikan faktor yang lebih luas.
  • Memastikan yang di undang dalam investigasi adalah pihak terkait yang mungkin dilibatkan karena bisa mempengaruhi kualitas hasil. Serta pastikan peran institusi atau dalam memperbaiki sistem dan meningkatkan keselamatan.
  • Perlu mencurahkan waktu yang cukup untuk intervensi proaktif yang berbasis bukti, mengidentifikasi pola atau tema umum yang menyebabkan terjadinya insiden tersebut, serta memahami bagaimana berbagai komponen dalam sistem ini berinteraksi.
  • Pentingnya perwakilan konsumen untuk memastikan bahwa tinjauan terhadap KTD dilakukan secara menyeluruh dan objektif, serta mempertimbangkan perspektif pasien. Dengan melibatkan perwakilan konsumen
  • Untuk menghasilkan investigasi yang berkualitas maka perlu penilaian agar investigasi yang dilakukan berkualitas dengan cara melibatkan pasien/ orang yang terkena dampak insiden untuk ikut terlibat dalam investigasi dan hindari menyalahkan dan fokus pada perbaikan dengan mencari solusi untuk mencegah insiden serupa, dan buat laporan yang jelas yang mudah dipahami oleh semua pihak.

Reporter: Andriani Yulianti SE, MPH

 

{tab title=”Bagian 4″ class=”blue”} 

Patient Safety: a Journey through Collaboration, Leadership and Partnership

Presentasi ini menekankan pentingnya kolaborasi, kepemimpinan, dan kemitraan dalam perjalanan menuju keselamatan pasien. Mike Durkin, Ketua Patient Safety Movement Foundation, menyampaikan pandangannya tentang bagaimana nilai-nilai, etika, dan kepemimpinan perlu diterapkan di setiap level untuk mencapai perubahan budaya dalam keselamatan pasien. Presentasi ini mencakup berbagai upaya global yang melibatkan pemangku kepentingan utama dalam meningkatkan keselamatan pasien melalui penguatan kepemimpinan, penelitian, dan pengembangan kapasitas.

Poin-poin utama:

  1. Kepemimpinan dan Tanggung Jawab:
    • Menurut Durkin, keselamatan pasien harus berfokus pada pembelajaran dari setiap kasus, termasuk memeriksa penyebab kegagalan untuk mencegah pengulangan di masa depan. Ini memerlukan perubahan dari sekadar mencatat kesalahan menuju tindakan proaktif dalam pencegahan kesalahan.
    • Kepemimpinan yang efektif harus berupaya tidak hanya menemukan kesalahan, tetapi juga memberdayakan orang untuk bekerja lebih baik dengan usaha yang lebih sedikit, sesuai prinsip W. Edwards Deming.
  2. Nilai dan Kualitas dalam Keselamatan Pasien:
    • Selain aspek teknis, kesadaran dan cinta terhadap profesi, sebagaimana dinyatakan oleh Avedis Donabedian, adalah kunci sukses sistem kesehatan. Durkin juga menyebutkan bahwa mengintegrasikan nilai-nilai dalam kualitas pelayanan kesehatan sangat penting.
  3. Perubahan Global dan Kolaborasi Internasional:
    • Keselamatan pasien adalah masalah global yang membutuhkan kolaborasi lintas batas negara. WHO dan berbagai lembaga internasional telah menetapkan inisiatif untuk memperkuat keselamatan pasien, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs).
  4. Pelajaran dari Pandemi:
    • Pandemi COVID-19 meningkatkan tekanan pada tenaga kerja kesehatan yang telah ada sebelumnya, menyebabkan lebih banyak burnout dan stres. Hal ini berdampak langsung pada keselamatan pasien dan menunjukkan bahwa keamanan staf berhubungan erat dengan keamanan pasien.
  5. Inisiatif Keselamatan Pasien:
    • Perkembangan penting telah dicapai melalui kebijakan nasional, termasuk penurunan signifikan dalam infeksi terkait layanan kesehatan (HAIs) seperti C. difficile dan MRSA di Inggris. Namun, ini memerlukan kewaspadaan terus-menerus.
  6. Budaya Keselamatan:
    • Laporan insiden dan manajemen yang efektif adalah indikator kuat dari budaya keselamatan yang positif. Namun, kekhawatiran tetap ada, terutama dengan adanya persepsi bahwa staf seringkali tidak diperlakukan adil saat insiden terjadi.

 Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{tab title=”Bagian 5″ class=”grey”} 

Short Orals- Patient Safety and Quality Improvement

isq 5Sesi short orals- patient safety and quality improvement dimoderatori oleh Dr Ahmed Abdel Hamid Taha, yang saat ini menjabat sebagai Chairman of the Egyptian General Authority for Healthcare Accreditation and Regulation, GAHAR (Ketua Otoritas Umum Mesir untuk Akreditasi dan Regulasi Layanan Kesehatan, GAHAR). Sesi Short oral disampaikan oleh lima presenter yakni Anjuman Begum, Carol R. Horowitz, Gang Chen, Methodius Okouzi dan Nurshaim Tilenbaeva.

Anjuman Begum seorang Public Health Professional Management Sciences for Health membawakan hasil penelitiannya yang berjudul Improving the quality of antenatal care (ANC) and postnatal care (PNC) services by strengthening supportive supervision of service providers at private health facilities in urban slums of Bangladesh. Beliau pernah bekerja dengan proyek MaMoni MNCSP USAID di bawah Save the Children International selama 4 tahun untuk meningkatkan kualitas layanan ibu dan bayi baru lahir dengan memberikan dukungan teknis untuk implementasi program.

Disampaikan oleh Anjuman bahwa di Bangladesh, ibu hamil di daerah kumuh perkotaan memiliki akses dan pengetahuan terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu sehingga tercetus sebuah Proyek Healthy Women, Healthy Families (HWHF). HWHF bertujuan untuk meningkatkan akses ke pelayanan kesehatan ibu & bayi baru lahir dan keluarga berencana (MNH/FP) yang bermutu bagi pasangan muda yang baru pertama kali memiliki anak di daerah kumuh perkotaan Tongi. HWHF bagi penyedia layanan bertujuan untuk memperkuat kapasitas penyedia layanan, memberikan penyedia layanan supervisi suportif yang berkelanjutan yang merupakan strategi utama untuk memastikan kualitas layanan MNH/KB. Proyek HWHF mengadaptasi daftar periksa supervisi suportif dari pemerintah untuk mengidentifikasi kesenjangan dalam kompetensi MNCH/FP pada perawatan ibu, pemeriksaan fisik, pemberian resep dan mendokumentasikan suplemen yang diperlukan, dan pencatatan riwayat pasien, informasi kebidanan, dan tanda-tanda vital.

Data menunjukkan peningkatan berkelanjutan dari layanan ANC/PNC berkualitas dalam 11 bulan terakhir karena pemantauan rutin dan supervisi suportif. Juga diamati bahwa supervisi suportif meningkatkan kepercayaan diri penyedia layanan melalui dukungan yang terarah, bimbingan, dan tindak lanjut pada item tindakan. Potensi untuk meningkatkan perawatan di lingkungan serupa lainnya harus dieksplorasi. Di Indonesia, supervisi fasilitatif juga telah diterapkan dan merupakan alat yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak. Namun, penerapannya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan terutama dalam kaitannya dengan bagaimana Peran teknologi dalam supervisi fasilitatif, bagaimana kepemimpinan dalam mendukung supervisi fasilitatif, Studi kasus tentang keberhasilan penerapan supervisi fasilitatif di Indonesia serta peran masyarakat dalam mendukung pelaksanaan supervisi fasilitatif tersebut.

Carol R. Horowitz

Perubahan kebijakan di Amerika Serikat telah meningkatkan akses pasien ke catatan medis, dan catatan tidak lagi hanya untuk anggota tim perawatan pasien, tetapi kini tersedia bagi pasien. Perluasan akses ke catatan pasien dapat meningkatkan hubungan dan perawatan pasien/penyedia layanan. Penelitian tentang Promoting Factual, Affirming, Informative and Respectful (FAIR) Documentation in the EHR to Reduce Bias and Improve Patient Care: memulai dengan tinjauan pustaka tentang bahasa yang bias dan menstigmatisasi dalam rekam medis elektronik (EHR) dengan menggunakan teknik Delphi yang dimodifikasi, dengan masukan dari anggota tim klinis dan nonklinis serta pasien, untuk mengidentifikasi daftar awal 19 Never Words (kata-kata yang tidak ingin digunakan atau didokumentasikan dalam EHR). Kemudian peneliti menggunakan pendekatan bertahap untuk membangun model bahasa yang dapat mendeteksi bahasa yang bias secara andal.

Studi menunjukkan bahwa algoritma dapat dibangun dan dilatih untuk mendeteksi bahasa yang bias dalam catatan UGD, dan bahwa Kata yang Tidak Boleh Diucapkan yang teridentifikasi tidak umum digunakan dalam bagan UGD yang ditinjau. Peneliti juga menerapkan kampanye kesadaran dan edukasi, untuk memastikan bahwa tim perawatan kesehatan memahami pentingnya selalu mendokumentasikan dengan cara yang faktual, penuh tanggungjawab, informatif, dan mendukung. Peneliti juga menemukan bahwa tim klinis dan administratif yang beragam berkomitmen untuk mengupayakan dokumentasi yang mengurangi bias dan mendukung pemberian pelayanan yang aman dan berkualitas tinggi.

Permasalahan serupa dapat terjadi di Indonesia dimana dapat terjadi kesenjangan digital karena tidak semua fasilitas kesehatan di Indonesia memiliki akses yang sama terhadap teknologi informasi, dan ini akan menjadi kendala dalam implementasi EHR dan FAIR Documentation. Pentingnya standarisasi terminology medis yang jelas dan konsisten untuk menghindari penggunaan bahasa yang bias, serta yang saat ini banyak terjadi yakni tentang kerahasiaan data, dimana perlu ada mekanisme yang kuat untuk melindungi kerahasiaan data pasien dalam konteks akses yang lebih luas terhadap rekam medis.

Gang Chen adalah Health of Cancer Health Services Research Unit di Universitas Melbourne; ia juga seorang profesor di Pusat Ekonomi Kesehatan, di Universitas Monash. Gang Chen membawakan hasil penelitian yang berjudul “What matters the most for the quality of inpatient treatment and care experience?. Saat ini semakin penting untuk mendapatkan perspektif pasien tentang kualitas pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien. Sebuah tools dari Australian Hospital Patient Experience Question Set (AHPEQS) yang terdiri dari 12 item telah dikembangkan untuk menilai kualitas pengalaman pasien. Studi yang dilakukan oleh Gang Chen bertujuan untuk memahami apa yang paling penting untuk perawatan dan pengalaman perawatan rawat inap yang dirasakan oleh masyarakat Australia berdasarkan item yang termasuk dalam AHPEQS.

Data dari total 1036 responden dimasukkan dalam analisis. Sekitar setengah dari responden memiliki pengalaman rawat inap dalam lima tahun terakhir pada saat survei; di antara mereka, 86% menilai pengalaman rawat inap terbaru mereka sebagai Baik atau Sangat Baik. Disampaikan bahwa kesembilan atribut secara statistik dan signifikan mempengaruhi pelayanan dan pengobatan rawat inap, meskipun kepentingan relatifnya bervariasi. Studi ini memberikan wawasan penting mengenai persepsi masyarakat umum tentang pentingnya pengalaman perawatan dan pengobatan yang berbeda dan pengalaman pelayanan dan pengobatan rawat inap yang berbeda dan perspektif ini dapat digunakan untuk memfasilitasi evaluasi kinerja rumah sakit.

Kita ketahui bahwa studi mengenai perspektif pasien terhadap kualitas perawatan kesehatan merupakan langkah penting dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan karena dapat memberikan gambaran yang komprehensif tentang apa yang dirasakan dan diharapkan oleh pasien terhadap pelayanan kesehatan yang mereka terima. Dengan mengetahui perspektif pasien maka penyedia layanan kesehatan dapat menempatkan pasien sebagai pusat perhatian untuk perbaikan, sehingga dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dalam pelayanan kesehatan. Dapat menjadi peluang adanya umpan balik untuk perbaikan yang dapat dijadikan sebagai masukan bagi pihak-pihak terkait, seperti rumah sakit, puskesmas, dan pemerintah, untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan serta sebagai dasar untuk pengembangan kebijakan yang dapat digunakan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan kesehatan yang lebih baik dan berpusat pada pasien. 

Methodius Okouzi

Malaria merupakan momok kesehatan masyarakat di Nigeria. Methodius melakukan penelitian yang berjudul Strengthening Quality Assurance System for Malaria Microscopy to Improve the Quality of Parasitological Confirmation in Benue, Nasarawa, Plateau, and Zamfara states in Nigeria. Konfirmasi parasitologi dengan mikroskopi atau uji diagnostik cepat sangat dan penting untuk memberikan pelayanan yang tepat waktu dan tepat, serta untuk pengukuran beban penyakit yang akurat. Mikroskopi digunakan di fasilitas kesehatan tersier dan sekunder yang menyediakan perawatan rawat inap dengan laboratorium fungsional tempat mikroskopik malaria diawasi dan dilakukan oleh ahli mikroskopi terlatih. Proyek ini melakukan penilaian dasar pada tahun 2020 yang mengungkapkan kurangnya ahli mikroskopi terlatih, pasokan peralatan laboratorium dan bahan habis pakai yang tidak memadai, kurangnya kunjungan pengawasan, dan penggunaan alat pelindung diri yang sangat rendah.

Penelitian ini mendukung pelatihan 55 ilmuwan laboratorium medis bersertifikat pada tahun 2021 dan 2022, persediaan bahan habis pakai laboratorium selama dua tahun termasuk persiapan dan distribusi pewarnaan Giemsa yang terjamin kualitasnya, pengadaan dan distribusi 30 mikroskop binokuler (Cx-23 Olympus) dan satu mikroskop optik multikepala untuk masing-masing dari 31 fasilitas kesehatan yang tidak memiliki mikroskop yang berfungsi untuk mengisi kesenjangan. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan kapasitas ahli mikroskopik malaria melalui pengawasan rutin dan peningkatan pasokan dan ketersediaan peralatan laboratorium penting, bahan habis pakai, dan APD meningkatkan kapasitas petugas kesehatan untuk menghasilkan hasil uji malaria yang akurat menggunakan mikroskopi. Upaya ini meningkatkan deteksi malaria, dan mengurangi risiko kesalahan diagnosis.

Beberapa hal menarik dalam penelitian di Nigeria, yang dapat menjadi upaya pengendalian malaria di Indonesia untuk eliminasi malaria yakni penguatan kapasitas tenaga kesehatan dengan pelatihan berkelanjutan bagi tenaga laboratorium medis, terutama dalam melakukan pemeriksaan mikroskopik malaria. Sertifikasi kompetensi untuk tenaga mikroskopis yang dapat meningkatkan kualitas pemeriksaan, Penyediaan Peralatan dan Bahan Habis Pakai yakni aksesibilitas ketersediaan mikroskop, pewarnaan Giemsa, dan bahan habis pakai lainnya di semua fasilitas kesehatan, terutama di daerah endemis. pemeliharaan peralatan secara berkala harus menjadi prioritas, serta pengawasan berkala dengan melakukan kunjungan lapangan secara rutin untuk memantau kualitas pemeriksaan mikroskopik dan memberikan pembinaan kepada tenaga laboratorium.

Dr. Nurshaim Tilenbaeva merupakan seorang Pejabat Teknis di WHO Athens Office on Quality of Care and Patient Safety. Dr. Nurshaim Tilenbaeva memiliki banyak pengalaman bekerja di organisasi kemanusiaan dan pembangunan internasional yang besar seperti Komite Internasional Palang Merah, Yayasan Aga Khan, dan Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam mengelola program kesehatan masyarakat di bidang peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, pengendalian tuberkulosis, ketahanan pangan, dan gizi. Dalam kesempatan presentasi di Forum ISQUA beliau menyampaikan mengenai Culture of quality ‘traps’ for quality improvement for mothers and children in the Kyrgyz Republic.

Nurshaim menyampaikan bahwa selama beberapa dekade terakhir, Republik Kirgistan telah mencapai penurunan signifikan dalam kematian neonatal, anak, dan ibu. Meskipun ada kemajuan, angka kematian masih terlalu tinggi dibandingkan dengan rata-rata di Wilayah Eropa WHO. Pemerintah Kirgistan menganggap kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak sebagai prioritas dan berkomitmen untuk mengakhiri kematian yang dapat dicegah. Sejak tahun 2006, Republik Kirgistan telah mulai memperkenalkan pendekatan berbasis bukti untuk peninjauan kasus nyaris meninggal dan pemantauan kematian. Budaya mutu di negara ini didorong oleh perintah dari atas ke bawah, inspeksi eksternal, dan komite wajib di tingkat fasilitas, bukan sesuatu yang melekat dalam tanggung jawab tim klinis atau tertanam dalam pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan. Seringkali tuntutan untuk menghukum penyedia layanan kesehatan atas kesalahan yang ‘diduga’ muncul dari masyarakat umum sehingga mobilisasi penggunaan sosial aktif media sosial adalah salah satu pendekatan yang dapat digunakan.

Kita ketahui bahwa budaya menyalahkan menjadi bagian integral dari “lingkaran setan” yang tidak berfungsi ketika menerapkan pendekatan peningkatan kualitas berbasis bukti. Budaya menyalahkan dan tindakan hukuman menurunkan moral tenaga kesehatan. Budaya menyalahkan dan tindakan hukuman juga tidak efektif dalam mengidentifikasi dan memungkinkan pembelajaran untuk mencegah terulangnya kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Hal ini juga kontraproduktif karena dapat menyebabkan kerugian lebih lanjut bagi pasien karena penyedia layanan kesehatan yang terlibat akan cenderung menyembunyikan atau menutupi kesalahan untuk mengantisipasi tindakan hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka. Membangun lingkungan regulasi yang mendukung dan melindungi merupakan langkah kunci untuk membangun budaya mutu perawatan yang ‘bebas dari kesalahan. Situasi di Kirgistan memberikan gambaran menarik tentang bagaimana budaya menyalahkan dapat menghambat upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Meskipun konteksnya berbeda, banyak pelajaran yang dapat diambil dan dikaitkan dengan situasi di Indonesia.

Poin-poin utama:

  • Pentingnya Budaya Keselamatan Pasien karena menciptakan budaya dimana kesalahan dianggap sebagai peluang untuk belajar dan memperbaiki, bukan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan atau dihukum.
  • Membangun sistem pelaporan insiden yang aman dan berbasis IT dan konfidensial untuk mendorong tenaga kesehatan melaporkan kesalahan tanpa takut akan sanksi.
  • Memberikan pelatihan yang berkelanjutan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan mereka.
  • Pentingnya Peran Kepemimpinan yang mampu menciptakan visi yang jelas, memotivasi tim, dan membangun budaya yang positif.
  • Membangun komunikasi yang terbuka dan transparan dengan masyarakat untuk meningkatkan kepercayaan terhadap sistem kesehatan.
  • Melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan terkait pelayanan kesehatan.

Penulis: Andriani Yulianti, SE, MPH

 

{tab title=”Bagian 6″ class=”red”} 

Enhancing Cancer Prevention Through Quality in Primary Healthcare

Presentasi oleh Prof. Mutlu Hayran, Direktur Hacettepe University Cancer Institute, membahas peran layanan kesehatan primer (PHC) dalam pencegahan kanker dengan fokus pada peningkatan kualitas. Presentasi ini menekankan bahwa pencegahan kanker yang efektif memerlukan integrasi yang kuat antara PHC dan spesialis, peningkatan kualitas berkelanjutan, serta pemanfaatan teknologi untuk mengatasi kesenjangan dalam akses dan perawatan kesehatan.

Poin-poin utama:

  1. Kanker dapat dicegah dengan intervensi yang tepat, dimulai dari pencegahan primer di layanan kesehatan primer, seperti kampanye berhenti merokok dan deteksi dini.
  2. Deteksi dini Kanker melalui PHC sangat penting karena dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan mengurangi keterlambatan diagnosis. Program skrining kanker yang dipimpin oleh PHC menjadi prioritas, seperti pengingat otomatis dan edukasi pasien untuk meningkatkan partisipasi.
  3. Strategi Peningkatan Kualitas Kanker di PHC: Penggunaan audit dan umpan balik sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja PHC dalam mendeteksi dan mencegah kanker. Teknologi dan dukungan dari tenaga medis sangat membantu dalam meningkatkan angka skrining.
  4. Model Perawatan Terpadu: Kolaborasi antara penyedia layanan primer dan spesialis diperlukan untuk perawatan berkelanjutan pasien kanker, terutama untuk follow-up, yang terbukti menghasilkan tingkat kepuasan dan kualitas hidup yang lebih baik.
  5. Penggunaan Teknologi: Teknologi, seperti catatan kesehatan elektronik (EHR), telemedicine, dan analitik data, dapat membantu dalam melacak pasien berisiko dan meningkatkan strategi pencegahan.
  6. Mengatasi Kesenjangan Kesehatan: Faktor sosial seperti pendapatan, pendidikan, dan akses ke layanan kesehatan sangat memengaruhi risiko kanker. PHC berperan penting dalam memberikan intervensi yang sesuai bagi populasi yang kurang terlayani.
  7. Pendidikan dan Pelatihan: Pendidikan berkelanjutan bagi penyedia layanan primer sangat penting untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam pencegahan dan deteksi dini kanker.

 Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

{/tabs}

 

  Ke halaman utama

 

 

Laporan dari IHF-Rio 47th World Hospital Congress 2024

Laporan dari IHF-Rio 47th World Hospital Congress 2024

Rio de Janerio, Brazil, 10-12 September 2024

Disusun oleh: Hanevi Djasri
Kompartemen Mutu dan Tatakelola Klinis PP PERSI
Magister Manajemen Rumahsakit, HPM UGM


  Pengantar

Pada tanggal 10-12 September 2024, International Hospital Federation (IHF) menyelenggarakan World Hospital Congress (WHC) ke 47 di Rio de Janeiro, Brazil. Hanevi Djasri menjadi anggota IHF-Rio Scientific Committee perwakilan resmi dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan turut menghadiri konggres tersebut. WHC sendiri merupakan forum global yang menghubungkan para pemimpin dan pengambil keputusan di rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan lainnya, untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik, bertukar ide dan inovasi baru, serta membangun jaringan dengan para eksekutif senior dari seluruh komunitas pelayanan kesehatan internasional.

Berikut ini laporan baik sebagai scientific committee maupun peserta konggres.

  Scientific Committee

Scientific committee WHC 2024 terdiri dari 40 orang, yaitu:

Scientific Committee Co-chairs

  1. Dr. Graccho Alvim Neto: VP, Associação de Hospitais do Estado do Rio de Janeiro, Brazil
  2. Ms Gilvane Lolato: Operational Manager, Organização Nacional de Acreditação, Brazil

Scientific Committee Members

  1. Prof. Arnon Afek: Associate Director General and Acting Director of General Hospital, Sheba Medical Center, Israel
  2. Ms Zulaikha Al Hosani: Chief Nursing Officer, Sheikh Shakhbout Medical City, UAE
  3. Dr Noor Al Mheiri: Head of Medical Services Unit, Hospitals Department, Emirates Health Services, UAE
  4. Dr Hatem Alameri: Director, Healthcare Workforce Monitoring Division, Department of Health, UAE
  5. Dr Lama Aldakhil: Executive Director of Continuous Professional Development, Saudi Commission for Health Specialties, Saudi Arabia
  6. Dr Abdulateef Saad Alokifi: General Director for Organizational Excellence, Ministry of Health, Saudi Arabia
  7. Dr Ernesto Báscolo: Unit Chief of the Primary Health Care and Integrated Service Delivery, Pan American Health Organization under the World Health Organization, USA
  8. Ms Sylvia Basterrechea: Programme Lead, Geneva Sustainability Centre, Switzerland
  9. Ms Linda Clark: Director of Professional Development, International Hospital Federation, UAE
  10. Dr Hanevi Djasri: Quality Division Head of Indonesian Hospital Association (PERSI), and Consultant of Centre for Health Policy and Management (CHPM), Gadjah Mada University, Indonesia
  11. Mr Alan Dubovsky: VP and Chief Patient Experience Officer, Cedars-Sinai, USA
  12. Dr Amir ElTelwany: Executive Director and CEO, Egypt Healthcare Authority, Egypt
  13. Dr Emad Estemalik: Chair for International Business Development and Section Head for Headache Medicine, Cleveland Clinic, USA
  14. Prof. Dr Jaroslaw J. Fedorowski: President and CEO, Polish Hospital Federation, Poland
  15. Dr Juan Maria Ferrer: Director of Quality, Education and Research, Fundació Sanitària de Mollet, Mollet del Vallés, Spain
  16. Dr Mohamed Hablas: Regional Director, Egypt and North Africa, Saudi German Hospitals, Egypt
  17. Ms Michelle Hood: EVP and COO, American Hospital Association, USA
  18. Dr Sarah Jarmain: Chief of Staff and EVP for Medical and Academic Affairs, St. Joseph’s Healthcare Hamilton, Canada
  19. Ms Barbara Walczyk Joers: President and CEO, Gillette Children’s Specialty Healthcare, USA
  20. Ms Pritindira Kaur: Regional Quality Head, Apollo Hospitals Group, India
  21. Dr Suhail Javed Khan: Physician, Medical Adviser and Health Manager, MEDIKER Healthcare, Kazakhstan
  22. Dr Gladys Kwan: Chief Manager (Medical Grade), Cluster Services Division, Hospital Authority Head Office, Hong Kong
  23. Mr Ronald Lavater: CEO, International Hospital Federation, Switzerland
  24. Ms Kyung Eun Lee: Chairman and CEO, Keyo Medical Foundation, South Korea
  25. Dr Wui-Chiang Lee: Vice Superintendent, Taipei Veterans General Hospital, Taiwan
  26. Dr Adolfo Llinás: Chief Medical Officer, Fundación Santa Fe de Bogotá, Colombia
  27. Professor Alexandre Lourenço: CEO and Chairman, Coimbra’s Healthcare Integrated Delivery System, Portugal
  28. Ms Thaira Madi: Director of Accreditation Department, Health Care Accreditation Council, Jordan
  29. Prof. Dr Fadi Abdul Kader Ghazi Mirza: Medical Director and Director of Obstetrics Department, Latifa Women and Children Hospital; Chair of Obstetrics, Gynecology, and Women’s Health, Dubai Health, UAE
  30. Ms Aika Albert Felicia Mongi: Director of Nursing Services, Aga Khan Health Services, Tanzania
  31. Dr Simon Onsongo: Consultant Clinical Pathologist and Head of Department, Aga Khan Hospital Kisumu and Cluster, Kenya
  32. Ms Giulia Petrarulo: International Relations Coordinator and Communications Project Manager, Unicancer, France
  33. Dr Dana Gelb Safran: President and CEO, National Quality Forum; Chief Scientific Officer, The Joint Commission, USA
  34. Mr Richard Stubbs: CEO, Health Innovation Yorkshire and Humber; Chair, Health Innovation Network, UK
  35. Mr Artur Vaz: Administrator, Member of the Executive Board and Chief Risk Officer, Luz Saúde, Portugal
  36. Mr Walt Vernon: CEO, Mazzetti; Sextant Foundation, USA
  37. Mrs Vera Vertessen: Director of Patient Care, Universitair Ziekenhuis Brussel, Belgium
  38. Mr Daniel Yaross: President-Elect, International Association for Healthcare Security and Safety, USA

rio 1

Tugas scientific committee adalah turut mengembangkan program dan agenda WHC yang dimulai sejak awal Bulan Januari 2024. Diawali dengan menyebarluaskan call for abstract, melakukan penilaian abstract, memilih abstract yang masuk sebagai presentasi poster maupun sebagai presentasi oral dalam sesi pararel, serta menentukan narasumber yang perlu diundang untuk sesi pleno serta narasumber untuk melengkapi sesi pararel. Disamping itu committee juga bertugas untuk mengusulkan kandidat pemenang “IHF Awards” ataupun pemenang “i-to-i Innovation Hub” yang tahun ini disponsori oleh Standford Medicine.

Terdapat 5 tract dalam WHC 2024, yang dibahas baik dalam sesi pleno maupun sesi pararel (jadwal lengkap disini https://worldhospitalcongress.org), yaitu:

  • Contemporary leadership
  • Workforce
  • Clinical models enhancing quality
  • Innovation in care and hospital operations
  • Sustainability

Committee mengadakan pertemuan evaluasi saat konggres hari pertama, salah satunya untuk membahas mengenai pembagian tract, beberapa anggota mengusulkan pada konggres tahun depan dapat memperbanyak jumlah tract supaya lebih mendetail, namun beberapa anggota yang lain justru mengusulkan untuk lebih memastikan adanya keterkaitan antara satu tract dengan tract lainnya.

Tahun ini membanggakan Indonesia, dari IHF Award terdapat RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita yang mendapatkan “American College of Healthcare Executives Excellence Award for Leadership and Management”, dari Inovation Hub terdapat RSUD dr. Zainoel Abidin yang terpilih sebagai salah inovator IHF 2024 dengan inovasinya untuk “Non-Surgical Innovation for Diagnostic and Therapeutic of Thyroid Nodules (TAGTO), serta dari sesi presentasi oral terdapat RSUD Sekarwangi Sukabumi yang menyampaikan presentasinya dalam sesi “Integrating AI into everday decisions and processes”, dan dari sesi YEL (Young Executive Leaders) terdapat perwakilan dari Silaom Hospital Group.

  Kontingen Indonesia

Panjangnya perjalanan dari Indonesia ke Brazil (Jakarta – Amsterdam 13 jam + Amsterdam – Rio de Janeiro 11 jam) yang mungkin menyebabkan tidak banyaknya peserta dari Indonesia dibanding IHF tahun lalu di Portugal. IHF-Rio dihadiri 12 peserta dari Indonesia yaitu:

  1. dr. Rachmat Mulyana Memet, Sp.Rad: Wakil Ketua II PERSI
  2. dr. Tri Hesty Widyastoeti, SpM, MPH: Seketaris Umum PERSI
  3. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA: Ketua Kompartemen Mutu dan Tatakelola Klinis PERSI
  4. Dr. dr. Iwan Dakota SpJP(K), MARS, FIHA, FESC,FACC, FSCAI: Direktur Utama RS Jantung Harapan Kita
  5. dr. Muhadi, SpPD-KKV, M.Epid, FINASIM: Direktur Medik dan Keperawatan RS Jantung Harapan Kita
  6. Tri Hartono Rianto, SE, M.Bus, Ak: Direktur Keuangan dan BMN RS Jantung Harapan Kita
  7. Ghotama Airlangga, SKM, MKM, QRMA, CFrA, CPRM, CGRCP: Direktur Layanan Operasional RS Jantung Harapan Kita
  8. dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K), MARS: Direktur Medis dan Keperawatan RSAB Harapan Kita
  9. dr. Gatot Sugiharto, SpB: Direktur Utama RSUD Sekarwangi, Sukabumi
  10. drg. Iing Ichsan Hanafi, MARS, MH: Direktur Regional RS Hermina Grup
  11. dr. Hendra Zulfry, Sp.PD, K-EMD, FINASIM: SMF Penyakit Dalam, RSUD Zainal Abidin, Banda Aceh
  12. Benny Wijaya: Ancillary Product Management, Siloam Hospitals Group.

rio 2

Delegasi PERSI IHF-Rio 2025

  Reportase Singkat Beberapa Isu Menarik

Secara keseluruhan isu-isu yang diangkat sangat menarik, hampir semua sesi diawali dengan pemaparan konsep dasar dari berbagai perkembangan pengetahuan dan ide terkini serta didetailkan dengan berbagai contoh penerapan dan inovasi dilapangan. Dengan adanya mekanisme seleksi abstrak yang baik, maka seluruh paparan penerapan dan inovasi disajikan dengan menjelaskan latar belakang, tujuan, metode, hasil inovasi, dan pembahasan, serta kesimpulan. Persyaratan ini yang mungkin tidak terpenuhi, dan membuat hanya sedikit makalah inovasi RS di Indonesia yang tembus untuk disajikan dalam konggres IHF 2024.

Sesi pembukaan diberikan oleh Dr Muna A. Tahlak, Presiden IHF, dan Dr Adelvânio F. Morato, Presiden Federasi Rumah Sakit Brasil, serta oleh Dr Jarbas Barbosa da Silva Jr., Direktur Organisasi Kesehatan Pan Amerika, yang menyampaikan pidato secara virtual kepada para delegasi. Salah satu yang disampaikan adalah Sistem kesehatan di Brasil yang memiliki beberapa keunggulan dan juga tantangan yang perlu diperhatikan, dan dapat menjadi pembelajaran tingkat internasional. Beberapa keunggulan sistem kesehatan rumah sakit di Brasil adalah:

  1. UHC: Brasil memiliki sistem jaminan kesehatan yang disebut Sistema Único de Saúde (SUS). Sistem ini menjamin akses layanan kesehatan dasar bagi semua warga negara, tanpa memandang kemampuan membayar.
  2. Jaringan rumah sakit luas: Brasil memiliki lebih dari 8.000 RS, baik milik pemerintah maupun swasta. Hal ini memungkinkan masyarakat memiliki pilihan yang lebih banyak dalam mengakses layanan kesehatan.
  3. Penelitian medis yang maju: Brasil memiliki komunitas medis yang aktif dalam melakukan berbagai penelitian medis penting, terutama di bidang penyakit tropis dan kesehatan masyarakat.
  4. Program kesehatan masyarakat yang komprehensif: Brasil telah menjalankan berbagai program kesehatan masyarakat yang sukses, seperti imunisasi, pengendalian penyakit menular, dan promosi kesehatan reproduksi.

Brazil juga telah menjadi pusat rujukan ilmu dan teknologi terkait dengan: Penyakit Tropis seperti malaria, demam kuning, dan penyakit Chagas; Program transplantasi organ di Brasil telah berkembang pesat dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia; Kesehatan reproduksi yang komprehensif, termasuk akses ke kontrasepsi dan layanan kesehatan ibu dan anak.

Dari ke lima tract pada IHF-Rio, tract yang selalu dipadati para peserta adalah:

  1. Clinical models enhancing quality, terutama terkait dengan “Patient Experience”
  2. Innovation in care and hospital operations, terutama penggunaan “Artificial Intellegence”
  3. Hospital Sustainability, terutama tentang berbagai inovasi RS dalam memberikan pelayanan bermutu tinggi namun dengan dampak minimal ke lingkungan hidup

Berikut beberapa catatan dari beberapa sesi tersebut:

{tab title=”PATIENT EXPERIENCE” class=”green” align=”justify”}

PATIENT EXPERIENCE

  Barbara Walczyk Joers (Gillette Children’s Specialty Healthcare, AS), “Patient Experience pada Pasien Anak”

Barbara Walczyk Joers adalah Presiden dan Chief Executive Officer di Gillette Children’s Specialty Healthcare di Minnesota, AS sejak 2013. Gillette Children’s merupakan rumah sakit pertama di Amerika Serikat yang didanai publik dan didedikasikan untuk melayani anak-anak penyandang disabilitas, termasuk kini menjadi organisasi independen yang menyediakan perawatan subspesialisasi bagi anak-anak yang memiliki kondisi kompleks, langka, atau traumatis yang memengaruhi kinerja sistem muskuloskeletal dan neurologis.

Barbara menyampaikan bahwa Gillette Children’s Specialty Healthcare telah mengembangkan berbagai program dan inisiatif untuk memastikan bahwa setiap pasien dan keluarga mereka memiliki pengalaman yang positif dan mendukung selama perawatan. Berikut adalah beberapa hal yang dilakukan untuk meningkatkan pengalaman pasien:

Pendekatan yang Sentris pada Pasien dan Keluarga, terdiri dari: Kolaborasi antara dokter, perawat, terapis, dan keluarga pasien untuk memastikan bahwa rencana perawatan disesuaikan dengan kebutuhan individu setiap anak; Menyediakan sumber daya pendidikan yang komprehensif bagi keluarga, termasuk informasi tentang kondisi medis anak, pilihan perawatan, dan cara mengelola gejala; Dukungan emosional kepada pasien dan keluarga mereka melalui konseling, kelompok dukungan, dan program relaksasi.

Fasilitas yang Ramah Anak, terdiri dari: Desain yang menyenangkan untuk ruang tunggu, kamar pasien, dan area bermain yang dirancang dengan cermat untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan mengurangi kecemasan anak-anak; Penggunakan teknologi terbaru untuk diagnosis dan perawatan, namun tetap memastikan bahwa teknologi tersebut mudah digunakan dan tidak menakutkan bagi anak-anak.

Program Khusus, terdiri dari: Menyediakan rehabilitasi komprehensif untuk membantu anak-anak mencapai potensi penuh mereka, termasuk terapi fisik, okupasi, dan wicara; Menyediakan Pendidikan khusus bekerja sama dengan sekolah untuk memastikan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat terus belajar selama menjalani perawatan.

Kualitas Hidup, terdiri dari: Pengelolaan nyeri dengan menggunakan berbagai teknik untuk mengelola nyeri pada anak-anak, termasuk obat-obatan, terapi fisik, dan teknik relaksasi; Asuhan gizi bekerja sama dengan keluarga untuk memastikan bahwa anak-anak menerima nutrisi yang tepat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.

  Point-point penting:
  1. Tujuan utama Gillette Children’s Specialty Healthcare adalah untuk memberikan perawatan yang berkualitas tinggi dan pengalaman yang positif bagi setiap pasien dan keluarga mereka.
  2. Dengan fokus pada pendekatan yang sentris pada pasien, fasilitas yang ramah anak, dan program khusus, Gillette telah menjadi pemimpin dalam perawatan anak-anak dengan kondisi medis kompleks.

 

  Emmanuelle Hoche (Unicancer, Prancis), “Patient Experience pada Pasien Kanker”

Emmanuelle Hoche memiliki gelar Magister Bisnis Internasional dan juga Psikologi Klinis serta Psikopatologi. Sebelumnya dia adalah Pendiri dan Direktur dari sebuah firma konsultan sumber daya manusia selama 15 tahun, namun setelah menderita kanker payudara, Emmanuelle mengarahkan kariernya untuk meningkatkan pengalaman pasien dalam onkologi. Saat ini sebagai mantan pasien dan juga mantan pemberi pelayanan onkologi, dia bekerja sebagai Manajer Proyek Patient Experience di UNICANCER di Paris yang terdiri dari 18 pusat kanker komprehensif (CCC = Comprehensive Cancer Centers), yang semuanya didedikasikan untuk perawatan pasien, penelitian, dan pelatihan terkait onkologi. Kemitraan pasien merupakan aspek utama dari filosofi mereka, dengan fokus pada pengalaman dan keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan.

Strategi UNICANCER terdiri dari 3 prioritas:

  • Pasien sebagai “co-pilot” pelayanan kesehatan: memfokuskan kepada pengalaman pasien dan penilaian hasil oleh pasien; mempromosikan akses yang setara untuk pelayanan kesehatan; menyediakan dukungan jangka panjang dan cakupan wilayah yang lebih baik.
  • CCC sebagai garda terdepan dalam memerangi kanker: berupaya dalam aspek mutu, e-health, inovasi, dan kerjasama
  • Membangun jejaring kerjasama dengan fokus regional: memperbesar pelayanan, membangun jejaring “town-hospital”, dan berperan dalam inisiatif pencegahan.

Secara praktis UNICANCER mendorong dan mendukung semua CCC untuk: Memperkuat upaya patient partnership; Mengembangkan communities of practices; Menyusun pedoman tematik dan melakukan analisa keberhasian berbagai inisiatif; Mengembangkan peluang kerjasama antara CCC; Menyusun tools yang dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan dan struktur dari patient partenership; dan Mereplikasi upaya yang telah dicoba dan berhasil di CCC yang lain (misalnya patient-partnership dalam kemoterapi pathways); serta Meningkatkan respon sesuai kebutuhan keluarga pasien yang memberikan pelayanan kesehatan di rumah (family caregiver), seperti pedoman bantuan sosial dan finansial, dukungan psikologi, dan perawatan akhir hayat.

  Point penting:
  1. Kemitraan pasien di Prancis saat ini telah didasarkan pada kerangka legislatif dan peraturan yang telah terbit dari tahun 2002. Dimana Kemitraan dan pengalaman pasien didasarkan pada empat nilai: keunggulan, solidaritas, inovasi, dan manusia di atas segalanya.
  2. UNICANCER memiliki tiga misi bersama: Pelayanan, Penelitian, dan Pelatihan.
  3. UNICANCER memiliki strategi dengan tiga prioritas: Pasien sebagai pendamping perawatan; Mempromosikan akses yang sama ke layanan kesehatan; serta Dukungan jangka panjang dan cakupan teritorial yang lebih baik. Secara teknis mereka telah menyusun berbagai rekomendasi pedoman pelayanan, seperti pedoman bantuan sosial dan finansial, dukungan psikologis, rasa hormat, dan kepedulian bagi pasien kanker.
  4. UNICANCER juga bertujuan untuk menciptakan peluang kolaborasi baik di Prancis dan luar negeri, mengembangkan panduan perekrutan di pusat-pusat, dan berbagi model tindakan khusus yang diterapkan di pusat-pusat tersebut.

Sesi selanjutnya: ARTIFICIAL INTELLEGENCE

 

{tab title=”ARTIFICIAL INTELLEGENCE” class=”red”}

ARTIFICIAL INTELLEGENCE

  Prof. Aymeric Lim (CEO, National University Hospital, Singapura) “AI di Singapore”

Aymeric memimpin RS tersier terkemuka yang memadukan pendidikan, penelitian, dan inovasi untuk mengatasi tantangan perawatan kesehatan saat ini dan masa depan dengan 1.200 tempat tidur dan merupakan rumah sakit pendidikan utama dari School of Medicine dan Fakultas Kedokteran Gigi dari National University of Singapore. Aymeric juga seorang dokter bedah tangan yang masih praktek dengan sub-spesialisasi bedah saraf tepi.

Rumah sakit ini mengadopsi strategi digital first. Rumah sakit ini merupakan bagian dari klaster perawatan kesehatan publik pertama yang terintegrasi sepenuhnya pada NGEMR. Keberhasilannya dalam memadukan AI dalam perawatan pasien meliputi penggunaan kemampuan neuro imaging berbasis AI untuk mempercepat identifikasi pasien stroke; dan jaringan dasbor data yang menyediakan data medis pasien “langsung”, yang memungkinkan pelacakan waktu tunggu dan prediksi jumlah pasien yang datang setiap hari, sehingga memungkinkan keputusan yang lebih tepat tentang cara terbaik untuk mengalokasikan sumber daya. Alat lain memberi tanda hiperkalsemia kepada dokter secara langsung, yang mendorong tindakan lebih cepat bagi pasien. Rumah sakit telah menetapkan tujuan ambisius untuk menjadi organisasi yang melek AI dengan menanamkan inovasi sebagai cara kerja dan kehidupan untuk meningkatkan efisiensi, dan menjadi kreatif dalam pemberian layanan kesehatan.

Aymeric, membahas penerapan inisiatif AI dari perspektif RS secara lebih luas. Dengan latar belakang bahwa RS menghadapi tantangan seperti populasi yang menua, hambatan ekonomi, kekurangan tenaga kerja, kenaikan biaya, dan ekspektasi pasien, maka teknologi AI diharapkan dapat berperan mengatasi tantangan ini dengan mengurangi kekurangan tenaga kerja, meningkatkan alokasi sumber daya, dan meningkatkan akses melalui telemedicine dan basis data informasi. Contoh aplikasi AI yang diterapkan meliputi chatbot untuk dokter dan administrator, dasbor prediktif untuk IGD, model untuk memperkiraan LOS, sistem chatbot penyakit kronis, dan aplikasi NUHS untuk akses pasien. AI juga membantu mengurangi biaya pelayanan kesehatan melalui berbagai tools efisiensi administratif dan memperbaikin jalur perawatan pasien yang dioptimalkan. Dalam hal mutu, AI membantu dalam tatalaksana cancer.

Rumah sakit juga menyadari adanya risiko AI dalam pelayanan kesehatan, terutama untuk keselamatan klinis, dan telah menyusun prosedur tata kelola (catatan Hanevi: hal juga telah disampaikan oleh pembicara JCI yang terkait dengan akreditasi penggunaan AI dalam pelayanan kesehatan, silahkan pelajari standar akreditasi JCI tentang ini) Profesor Aymeric menekankan pentingnya infrastruktur data, komitmen dan kepercayaan organisasi, serta tata kelola proaktif dalam penerapan AI.

  Poin-poin penting
  1. AI mengatasi tantangan akses: mengurangi kekurangan tenaga kerja, mengalokasikan sumber daya, telemedicine, basis data informasi.
  2. Contoh penerapan AI di NUHS:
    • Russell GPT (catatan Hanevi: baca lebih detail https://nuhsplus.edu.sg/article/ai-healthcare-in-nuhs-receives-boost-from-supercomputer), untuk NLM para dokter (Large Language Model/LLM adalah model komputasi yang mampu menghasilkan bahasa atau tugas pemrosesan bahasa alami lainnya), aplikasi suara ke teks, dan rekam medis.
    • Dasbor prediktif unit gawat darurat, model estimasi lama rawat inap, model prediksi penerimaan kembali 30 hari, sistem chatbot penyakit kronis.
    • Aplikasi NUHS: aplikasi utama untuk pasien, mencakup keseluruhan akses pasien dan operasi rumah sakit.
  3. AI membantu mengurangi biaya pelayanan kesehatan: aplikasi NUHS, LLM administratif, aplikasi pengurangan pesanan duplikat, perencanaan rute perawatan komunitas.
  4. AI dalam peningkatan kualitas: bot papan tumor kanker, aplikasi pendidikan.
  5. Risiko AI dalam pelayanan kesehatan, terutama untuk keselamatan klinis.
  6. Pendekatan terstruktur NUHS untuk penerapan AI: gudang data, Discovery AI, Endeavor, prinsip tata kelola, langkah-langkah tata kelola proaktif.
  7. Tantangan dalam implementasi AI: masalah penerapan dan penggunaan.
  8. Pelajaran yang dipetik: fondasi infrastruktur data, kepercayaan organisasi, pengawasan manusia yang konstan.
  9. Masa depan AI dalam pelayanan kesehatan: potensi transformatif, adaptasi masyarakat, penerapan yang seimbang dengan tata kelola proaktif.

 

  Dr. Rohini Sridhar (Chief of Medical, Apollo Hospitals, India), “AI di Apollo Hopital”

Rumah Sakit Apollo, salah satu ekosistem layanan kesehatan terbesar di India, terdiri dari 73 rumah sakit dan sekitar 11.000 tempat tidur, menghadapi tantangan dalam menyediakan perawatan berkelanjutan bagi pasien yang menempuh jarak jauh untuk berobat. Untuk mengatasi hal ini, Apollo meluncurkan aplikasi Apollo 24/7 pada tahun 2020, yang menawarkan berbagai layanan seperti konsultasi daring, pengiriman obat, pengambilan sampel darah, dan akses ke catatan kesehatan.

Aplikasi tersebut memperoleh popularitas luar biasa, mengumpulkan 33 juta pengguna dan 0,7 juta transaksi harian dalam waktu lima tahun. Menyadari potensi aplikasi tersebut, Apollo berupaya memanfaatkan kemampuan digitalnya untuk meningkatkan hasil pasien. Salah satu inisiatif tersebut adalah program ProHealth, yang berfokus pada kesehatan preventif. Melalui diagnostik yang dipersonalisasi, analisis prediktif berbasis AI, dan jalur kesehatan terpandu. ProHealth bertujuan untuk memberdayakan individu masyarakat dalam mengendalikan kesehatan mereka. Dengan menganalisis 200.000 pemeriksaan ProHealth, Apollo mengidentifikasi 168.000 individu yang memerlukan tindak lanjut.

Lebih lanjut intervensi berbasis dorongan (push intervention), termasuk pesan teks, WhatsApp, dan panggilan telepon, digunakan untuk melibatkan pasien-pasien secara proaktif. Hasilnya, peningkatan signifikan dari berbagai parameter kesehatan seperti kadar HbA1c, penurunan berat badan, dan tekanan darah terkontrol. Meskipun ada tantangan dalam menjangkau semua pasien, dampak positif pada 16.000 orang menunjukkan potensi intervensi digital dalam meningkatkan perawatan pasien.

  Poin-poin penting
  1. Pasien menempuh jarak yang cukup jauh untuk mengakses perawatan Apollo yang telah terkenal karena reputasinya.
  2. Apollo memiliki jaringan besar yang terdiri dari 6.000 apotek, 500 klinik, dan 300 pusat diagnostik di luar rumah sakitnya.
  3. Tantangannya adalah menyatukan semua ini menjadi satu sistem yang menawarkan manfaat ekosistem Apollo secara menyeluruh kepada pasien.
  4. Aplikasi Apollo 24/7 diluncurkan pada tahun 2020 dan telah berkembang hingga mencapai 33 juta pengguna dengan 0,7 juta transaksi per hari.
  5. Aplikasi ini menyediakan konsultasi, pengiriman obat, pengambilan sampel darah, dan hasil tes dalam jangka waktu tertentu.

 

  Dr. Rafael Correia Barao (Portugal) “Glucoma and AI”

Salah satu penerapan AI dalam clinical care di presentasikan oleh dr. Rafael, seorang dokter mata. Diawali dengan informasi dari Rafael yang menyoroti dampak signifikan kebutaan di Eropa, yaitu 10 juta orang terkena dampak dan biaya tahunan sekitar 50 miliar euro. Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan pencegahan, khususnya untuk glaukoma dan retinopati diabetik, yang merupakan penyebab utama kebutaan ireversibel. Rafael membahas tantangan dalam mendiagnosis glaukoma, termasuk perlunya pengujian ekstensif dan tingginya prevalensi kasus yang tidak terdiagnosis.

Dr. Rafael mengusulkan penggunaan AI sebagai alat skrining untuk mengidentifikasi individu yang berisiko, memanfaatkan kemampuannya untuk menganalisis gambar yang diambil dengan kamera biasa. Dengan menerapkan skrining berbasis AI dalam pengaturan perawatan primer, Rafael memproyeksikan peningkatan tiga kali lipat dalam jumlah pasien yang diskrining, pengurangan 90% dalam kunjungan rumah sakit untuk glaukoma, dan penurunan substansial dalam biaya pelayanan kesehatan terkait glaukoma dalam waktu 15 tahun. Ia menyajikan hasil sementara dari studi percontohan yang dilakukan di Lisbon, yang menunjukkan tingkat respons dua pertiga dan identifikasi sejumlah besar pasien dengan glaukoma atau tersangka glaukoma. Rafael menyimpulkan bahwa model skrining berbasis AI memiliki presisi yang baik, dapat mendeteksi beberapa penyakit dalam satu pemindaian, dan berpotensi untuk ditingkatkan dan diintegrasikan ke dalam pengaturan perawatan primer, menawarkan manfaat yang signifikan dalam hal pemanfaatan sumber daya pelayanan kesehatan, efektivitas biaya, dan dampak sosial.

  Poin-poin penting:
  1. Glaukoma dan retinopati diabetik merupakan penyebab utama kebutaan ireversibel di seluruh dunia.
  2. Lebih dari separuh pasien glaukoma tidak terdiagnosis dan sepertiga dari mereka yang datang ke klinik sudah dalam tahap lanjut.
  3. Hambatan untuk skrining yang efektif meliputi waktu, biaya, dan kurangnya kesadaran.
  4. AI belum memiliki tempat dalam penerapan klinis saat ini di bidang oftalmologi, meskipun penelitiannya ekstensif.
  5. AI dapat digunakan untuk skrining glaukoma dan retinopati diabetik menggunakan kamera biasa.
  6. Algoritme AI dapat mendeteksi beberapa penyakit dalam satu pemindaian dan dapat diintegrasikan ke dalam pengaturan perawatan primer.
  7. Proyek dimana dr. Rafael terlibat bertujuan untuk menyaring tiga kali lebih banyak pasien, mengurangi kunjungan klinis hingga 90%, dan mengurangi biaya pelayanan kesehatan hingga 10 kali lipat dalam waktu 15 tahun.
  8. Analisis efektivitas biaya memproyeksikan BEP dalam waktu tiga hingga delapan tahun di sebagian besar negara maju.
  9. Deteksi dan perawatan dini dapat mengurangi risiko kebutaan akibat glaukoma hingga setengahnya dalam waktu 15 tahun.
  10. Proyek ini menargetkan 150 juta orang di Eropa yang berusia di atas 15 tahun dan diharapkan dapat mendiagnosis hampir 10.000 pasien dan mencegah 1.500 pasien menjadi buta.
  11. Hasil sementara dari studi percontohan menunjukkan tingkat respons dua pertiga, dengan 82 pasien diidentifikasi positif glaukoma atau diduga glaukoma.

Sesi selanjutnya: SUSTAINABILITY

 

{tab title=”SUSTAINABILITY” class=”blue”}

SUSTAINABILITY

  Dr. Penelope Dash (Ketua, NHS North West London, UK), “Efisiensi = Sustainability”

Penny adalah Ketua North West London Integrated Care System (ICS), yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan sekitar 2,5 juta orang, mengurangi kesenjangan dalam kesehatan, dan memastikan layanan berkualitas tinggi dan efisien dengan anggaran sekitar £6 miliar. ICS mencakup semua penyedia layanan kesehatan dan perawatan di area tersebut (layanan perawatan primer, layanan sosial, layanan kesehatan mental dan komunitas, rumah sakit akut) serta pemerintah daerah dan Universitas.

ICS memiliki empat tujuan utama: meningkatkan output kesehatan masyarakat, mengatasi ketidaksetaraan dalam akses pelayanan kesehatan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi dana (value money), dan mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur sosial yang lebih luas. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, ICS telah menerapkan berbagai strategi, termasuk melibatkan individu dalam mengambil tanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri, mempromosikan pencegahan dan pendidikan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi, dan mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur sosial yang lebih luas. Meskipun ada kemajuan yang telah dibuat, tantangan tetap ada, seperti menemukan cara untuk meningkatkan perawatan di luar rumah sakit, mengintegrasikan pelayanan kesehatan, dan meminta pertanggungjawaban orang untuk kesehatan diri mereka sendiri.

Presentasi diakhiri dengan kutipan dari George Griffiths dan Albert Einstein yang menekankan pentingnya perubahan dan kemampuan beradaptasi.

  Poin-poin penting
  1. NHS di London Barat Laut mengalami defisit 400 juta pound dan hasil kesehatan yang buruk tiga tahun lalu.
  2. Sejak itu, mereka secara sistematis memperbarui di mana dan bagaimana mereka membelanjakan uang, dengan berfokus pada nilai investasi dan melembagakan perubahan organisasi untuk meningkatkan kualitas, akses ke perawatan, dan mengatasi ketidakadilan kesehatan.
  3. Rumus sederhana untuk nilai adalah hasil di atas biaya, yang dapat dicapai dengan meningkatkan hasil atau mengurangi biaya.
  4. Pengeluaran pelayanan kesehatan meningkat lebih cepat daripada inflasi, didorong oleh faktor-faktor seperti peningkatan permintaan, pertumbuhan populasi, dan kemajuan teknologi.
  5. Pelayanan kesehatan tertinggal dari industri lain dalam mengadopsi teknologi baru, yang mengakibatkan produktivitas dan manfaat yang lebih rendah.
  6. Penolakan terhadap perubahan merupakan tantangan signifikan dalam pelayanan kesehatan, yang datang dari berbagai pemangku kepentingan seperti profesional, politisi, masyarakat, dan bisnis.
  7. Perubahan sistemik diperlukan untuk meningkatkan layanan kesehatan, termasuk melibatkan individu dalam kesehatan mereka sendiri, manajemen penyakit kronis yang lebih baik, mengalihkan perawatan ke tempat yang tepat, dan mengintegrasikan perawatan di luar rumah sakit.
  8. Sistem perawatan terpadu di London Barat Laut bertujuan untuk meningkatkan hasil kesehatan masyarakat, mengatasi kesenjangan, meningkatkan produktivitas dan nilai uang, serta mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur sosial yang lebih luas.
  9. Keberhasilan mencakup peningkatan produktivitas, identifikasi inefisiensi sistem, eksplorasi teknologi baru, dan penjangkauan yang ditargetkan ke masyarakat yang kurang terlayani.
  10. Tantangan tetap ada dalam menemukan perawatan, meningkatkan perawatan di luar rumah sakit, mengintegrasikan layanan, dan memastikan akuntabilitas.
  11. Faktor kunci untuk perubahan yang berhasil mencakup visi bersama, kepemimpinan yang kuat, akses ke informasi yang tepat, manajemen kinerja dan akuntabilitas, insentif yang tepat, dan model organisasi yang mendukung reformasi.

 

  Vital Ribeiro (Healthy Hospitals Project, Brasil), “Data untuk Hospital Sustainability”

Ribeiro adalah Presiden Dewan organisasi nonpemerintah Brasil yang disebut Projeto Hospitais Saudáveis atau Healthy Hospitals Project, yang menyatukan lebih dari 450 organisasi pelayanan kesehatan di Brasil dan merupakan pusat dari organisasi internasional “Health Care Without Harm” dan “Global Green and Healthy Hospitals Network”

Vital telah bekerja selama 35 tahun dalam pengelolaan limbah padat dan lingkungan serta selama 15 tahun terakhir dalam perubahan iklim, energi, dan pengadaan berkelanjutan di sektor kesehatan. Ia adalah seorang Arsitek dan Perencana Kota serta Administrator Rumah Sakit dan Sistem Kesehatan. Sejak 1987, bekerja di Departemen Kesehatan Lingkungan Sekretariat Kesehatan Negara Bagian São Paulo – mengoordinasikan Program Pengelolaan Limbah Layanan Kesehatan dan melaksanakan Kebijakan Perubahan Iklim Negara Bagian untuk sektor kesehatan.

Ribeiro menyampaikan tinjauan umum dari projectnya yang mempromosikan keberlanjutan lingkungan dalam pelayanan kesehatan, dengan meluncurkan kampanye global yang membahas perubahan iklim dan dampaknya pada sistem kesehatan. Pendekatan mereka melibatkan dukungan bagi para profesional pelayanan kesehatan, melibatkan masyarakat, dan membantu rumah sakit dalam menerapkan praktik berkelanjutan. Mereka memiliki lebih dari 1.800 anggota dan 350 rumah sakit yang melaporkan data tentang tantangan iklim, limbah, energi, dan pengadaan berkelanjutan. Riveiro menekankan pentingnya pengumpulan dan pengukuran data untuk manajemen lingkungan yang efektif dan menyoroti perlunya dekarbonisasi dan kolaborasi lintas sektor

  Poin-poin penting
  1. Data sangat penting untuk “inisiatif keberlanjutan dalam pelayanan kesehatan”
  2. Limbah, energi, dan pengadaan berkelanjutan juga merupakan aspek penting dari pengelolaan perubahan klim.
  3. Pengumpulan data di tingkat fasilitas kesehatan penting untuk memahami dampak lingkungan dari organisasi pelayanan kesehatan.
  4. Dekarbonisasi penting, meski di negara-negara berkembang secara bersama menghadapi isu kualitas, cakupan, dan akses pelayanan kesehatan.
  5. Pelayanan kesehatan rendah karbon dapat dicapai dengan meningkatkan kinerja dan efisiensi.
  6. Banyak rumah sakit telah menghentikan penggunaan nitrogen oksida dan telah mengurangi 20% dari total emisi rumah sakit.
  7. Mengorganisasikan proses dalam organisasi dan memiliki tim sangat penting untuk program “sustainbility RS”

 

  Dr. Zeenat Khan (Aga Khan Health Services, Afrika Timur, Kenya)

Dr Khan adalah Kepala Eksekutif Regional yang mengawasi Aga Khan Health Services, Afrika Timur yang terdiri dari 5 rumah sakit dan 50 fasyaneks primer, terlibat dalam Aga Khan Development Network (AKHN), termasuk dalam penerapan Hospital Sustainbility terkait perubahan iklim.

Meski awalnya skeptis, namun para pengelola RS di Afrika Timur mulai bersama-sama mengembangkan alat untuk mengukur dampak lingkungan dari RS, mereka dan menerapkan berbagai langkah untuk menghemat biaya seperti panel surya dan desain bangunan hemat energi, yang menghasilkan pengurangan biaya operasional. Dr. Khan menekankan pentingnya komitmen kepemimpinan, kolaborasi antar departemen yang berbeda, dan mengeksplorasi berbagai sumber pendanaan, termasuk anggaran internal, pinjaman, dan hibah. Mereka menyimpulkan bahwa inisiatif hijau tidak hanya baik untuk lingkungan tetapi juga masuk akal secara bisnis, serta mendesak rekan-rekan pengelola RS untuk ikut bertanggung jawab dan melibatkan semua orang dalam upaya tersebut.

Beberapa kontribusi spesifik AKHN dalam konteks tersebut antara lain: 1. Infrastruktur RS yang tangguh iklim dengan memastikan desain bangunan yang tahan bencana: AKDN memastikan bahwa rumah sakit yang dibangunnya didesain dengan mempertimbangkan risiko bencana seperti banjir, gempa bumi, dan badai. Hal ini meliputi penggunaan material yang kuat, sistem drainase yang efektif, dan tata letak bangunan yang aman; 2. Energi terbarukan: AKDN mengintegrasikan sumber energi terbarukan seperti panel surya dan turbin angin ke dalam infrastruktur rumah sakit. Hal ini tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca tetapi juga memastikan pasokan listrik yang stabil saat terjadi bencana; 3. Pengelolaan limbah medis yang aman: AKHN menerapkan praktik pengelolaan limbah medis yang aman dan berkelanjutan, mengurangi risiko kontaminasi lingkungan dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

  Poin-poin penting
  1. AKHN mengembangkan alat untuk mengukur kerentanan iklim di komunitas dan lembaga mereka.
  2. AKHN tersebut mengumpulkan data di setiap tingkatan untuk memahami dampak iklim mereka.
  3. Penekanan pada tanggung jawab administrator, CEO, dan badan pemerintahan untuk mengatasi perubahan iklim.
  4. “Aksi iklim” baik untuk bisnis dan menguntungkan klinik kecil dan rumah sakit besar.

 

  Carrie Owen Plietz (Kaiser Permanente, AS), “Efisiensi Energi = Hemat Biaya Operasional”

Owen adalah presiden Kaiser Permanente California Utara, yang mengawasi semua pelayanan kesehatan Kaiser Permanente di California Utara untuk lebih dari 4,6 juta anggota melalui 21 rumah sakit dan 264 klinik.

Kaiser Permanente memiliki misi untuk menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas tinggi serta meningkatkan kesehatan masyarakat. Mereka menekankan pentingnya menangani keberlanjutan lingkungan dan mencapai netralitas karbon, dengan berbagi perjalanan yang dimulai pada tahun 2016 dan menjadi sistem layanan kesehatan pertama di Amerika Serikat yang mencapai netralitas karbon pada tahun 2020. Pencapaian tersebut dilakukan dengan mengurangi emisi, memproduksi dan membeli energi terbarukan, dan mengompensasi kompensasi karbon. Mereka menekankan bahwa berinvestasi dalam sistem layanan kesehatan yang berkelanjutan tidak hanya sejalan dengan misi mereka dan memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan, tetapi juga mendatangkan keuntungan finansial, karena peningkatan efisiensi penggunaan energi hingga 7% menghasilkan penghematan biaya organisasi secara signifikan.

  Poin-poin penting
  1. Misi Kaiser Permanente: menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas tinggi serta meningkatkan kesehatan masyarakat.
  2. Masyarakat yang sehat memerlukan lingkungan yang sehat, termasuk faktor-faktor seperti kerawanan pangan, kualitas udara, dan air.
  3. Kaiser Permanente memiliki komitmen untuk terlibat dalam netralitas karbon pada tahun 2016 dan mencapainya pada tahun 2020, menjadi sistem layanan kesehatan pertama di AS yang melakukannya.
  4. Mencapai netralitas karbon melalui pengurangan emisi, produksi dan pembelian energi terbarukan, serta kompensasi karbon.

Sesi selanjutnya: PENUTUP

 

{tab title=”PENUTUP” class=”orange”}

PENUTUP

Tujuan utama pertemuan IHF-Rio adalah untuk mempromosikan kegiatan “Pembelajaran global, aksi lokal”. Terdapat berbagai usulan aksi yang dapat dilakukan di Indonesia, baik ditingkat RS maupun di tingkat Global, antara lain:

  1. Membangun budaya menulis makalah ilmiah berdasarkan berbagai inoviasi yang telah dikerjakan di RS. Hampir seluruh presentasi yang disajikan di IHF-Rio berdasarkan pengalaman nyata dalam penerapan inovasi di berbagai RS yang ditulis secara runtut sejak awal penyusunan proposal hingga evaluasi hasil. Membangun budaya menulis ini dapat didukung secara internal di RS antara lain dengan mengembangkan Clinical Research Unit (CRU) yang tidak saja melakukan penelitian teknis medis atau hingga biomolukuler, namun juga bisa ke penelitian manajemen klinis.
  2. Sejak Picker/Commonwealth Programme for Patient Centred Care menerbitkan buku “Through the Patient’s Eyes” pada tahun 1993, patient experience menjadi fokus perhatian para pengelola RS, berbagai RS interenasional sudah sangat dalam dan spesifik dalam mengembangan upaya meningkatkan pelayanan pasien seperti untuk pasien kanker dan pasien anak dengan kondisi medis kompleks. RS di Indonesia juga perlu melakukan hal tersebut, bukan hanya karena mengikuti “trend” internasional, tapi memang sudah menjadi kebutuhan dan tututan sebagian masyarakat yang kedepan akan semakin banyak. Perlu ada pedoman pelaksanaan “patient centered care/PCC” dan atau “patient experience”.
  3. Evolusi penggunaan komputer di RS mulai dari “electronic data procesing”, “digitalasi”, hingga “artificial intellegence” sangat cepat dan masif. RS Intenasional sudah mulai banyak menerapkan AI untuk pelayanan klinis, sementara banyak RS di Indonesia masih terjebak dalam sekedar digitalitasi rekam medis tanpa mengarah menjadi smart hospital, bahkan beberapa RS masih kesulitan mencari-cari “vendor” yang tepat. Pembelajaran dari tiga pembicaa utama dalam sesi AI di IHF-Rio, dimana ada integrasi dan keselarasan antara pengembangan di tingkat nasional, di tingkat RS, dan di tingkat unit pelayanan klinis, maka perlu adanya cetak biru pengembangan smart hopital ataupun penerapan AI di RS untuk Indonesia, sehingga baik pengembangan, pengguna, dan pengelola aplikasi dapat lebih efektif dan efisien dalam kerjasamana mengembangan ekosistem AI di RS.
  4. Sejak lebih dari 10 tahun lalu, gerakan “green hospital” telah dilakukan diberbagai RS di Indonesia, namun pada beberapa pertemuan RS internasional terakhir, semakin kuat dorongan agar RS lebih berperan serta dalam menjaga keberlanjutan (sustainablity), yang secara umum berarti turut berperan dalam menjaga sistem biologis dunia agar tetap mampu menghidupi keanekaragaman hayati dan produktivitas tanpa batas. Pengalaman internasional menunjukan bahwa RS Indonesia perlu mengembangkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang sangat membutuhkan kerjasama lintas batas: batas institusi, batas keilmuan, batas negara, hingga batas-batas pembiayaan. Hal itu semua dimulai dengan membangun kesadaran pentingnya kebersamaan dalam menjaga keberlanjutan.

Keempat usulan tersebut diatas merupakan “project besar” yang perlu peran serta bersama, perencanaan detail, serta pelaksanaan yang konsisten disertai dengan mekanisme efektif dalam monitoring dan evaluasi. Kementerian Kesehatan, PERSI, dan akademisi juga dapat memfasilitasi upaya ini.

 

{/tabs}

 

Penulis:

Hanevi Djasri
Schiphol, Amsterdam, 16 September 2024, 18:00

 

 

 

Pertemuan Diseminasi Studi Evaluasi SKDR melalui Audit Medik dan Studi PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku) di Provinsi DIY dan Maluku Utara

Kerangka Acuan Kegiatan

Pertemuan Diseminasi Studi Evaluasi SKDR
melalui Audit Medik dan Studi PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku)
di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara

Program INSPIRASI
(Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia)

Diselenggarakan oleh: PKMK FKKMK UGM Bekerjasama dengan Kemenkes RI dan CDC

  Pendahuluan

Wabah penyakit merupakan peristiwa kesehatan masyarakat yang dapat menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Peristiwa ini berdampak pada aspek ekonomi, sosial dan psikologis masyarakat dan dapat menyebar ke seluruh wilayah, provinsi bahkan internasional. Indonesia memiliki beberapa penyakit yang dapat menjadi epidemi, antara lain malaria, demam berdarah, leptospirosis, diare, kolera, difteri, antraks, rabies, campak, batuk rejan,dan penyakit baru. Tanpa pengawasan yang tepat, penyakit-penyakit tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi penduduk Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia dengan pendampingan dari WHO dan Center for Disease Control and Prevention US (CDC US) telah membangun Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) pada tahun 2009. Sistem ini berfungsi untuk mendeteksi potensi wabah penyakit menular melalui laporan mingguan, memicu peringatan atau sinyal peringatan dini jika jumlah kasus penyakit melampaui ambang batas yang ditetapkan. Selain data mingguan, SKDR Indonesia juga menggunakan sistem Surveilans Berbasis Kejadian (Event-Based Surveillance/EBS). EBS melibatkan pelaporan penyakit segera dalam waktu 24 jam setelah kejadian kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan keadaan darurat kesehatan masyarakat, dengan memanfaatkan sumber data dari media, masyarakat, dan laporan petugas kesehatan.

Terdapat 24 penyakit infeksi menular yang dilaporkan secara mingguan ke dalam aplikasi SKDR yang didasarkan kepada algoritma yang telah ditetapkan oleh Tim Kerja Surveilans, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan. Algoritma tersebut dapat dipahami oleh tenaga kesehatan yang memiliki latar belakang klinis, seperti dokter umum. Namun kenyataan di lapangan, petugas pelapor SKDR tidak memiliki latar belakang klinis. Beberapa puskesmas juga menggunakan data rekam medis sebagai acuan pelaporan SKDR, sehingga terdapat standar yang berbeda dalam pelaporan SKDR di lapangan yang akan berpengaruh pada kualitas data SKDR. Data yang berkualitas sangatlah penting dalam menentukan KLB di berbagai tingkatan dan dalam analisis surveilans untuk mencegah terjadinya KLB di masa depan.

PKMK FKKMK UGM bekerja sama dengan CDC Indonesia telah melakukan audit medis serta studi PSP untuk mengevaluasi pelaksanaan SKDR di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara. Sebagai langkah selanjutnya adalah perlu adanya diseminasi hasil evaluasi SKDR yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun rencana tindak lanjut dalam meningkatkan kualitas pelaporan dan data SKDR.

  Tujuan Pertemuan

  1. Memaparkan hasil evaluasi SKDR melalui audit medis dan studi PSP (Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan maluku Utara
  2. Mendiskusikan tindak lanjut pengembangan kurikulum SKDR

  Peserta Luring

  1. Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI
  2. CDC Country Office of Indonesia
  3. Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI)
  4. Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta
  5. Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara
  6. Balai Besar Pelatihan Kesehatan Ciloto
  7. South Asia Field Epidemiology and Technology Network (Safety Net)
  8. Japan International Cooperation Agency (JICA)
  9. WHO Representative of Indonesia
  10. PKMK FK-KMK UGM

 Peserta Daring

  1. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta
  2. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman
  3. Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul
  4. Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo
  5. Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul
  6. Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara
  7. Dinas Kesehatan Kota Ternate
  8. Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan
  9. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Utara
  10. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Tengah
  11. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Timur
  12. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan
  13. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Barat
  14. Dinas Kesehatan Kabupaten Morotai
  15. Dinas Kesehatan Kabupaten Sula
  16. Dinas Kesehatan Kabupaten Taliabu

  Jadwal Kegiatan

Hari, tanggal : Kamis, 29 Februari 2024
Waktu : 08.00 – 16.00 WIB
Tempat : JS Luwansa Hotel and Convention Center
Jl. H. R. Rasuna Said No.22 Kav. C, RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Zoom Meeting

Meeting ID: 899 4596 4690
Password: 123456

Waktu Agenda

Waktu Agenda Pemateri
08.00 – 09.00 WIB Registrasi Panitia
09.00 – 09.10 WIB Pembukaan dan sambutan
  1. PKMK FKKMK UGM
  2. SKK
09.10 – 09.40 WIB

Paparan Hasil Audit Medik dan studi PSP penerapan kode ICD-10 dalam kewaspadaan dini dan respon penyakit menular potensi wabah di Provinsi DI Yogyakarta dan Maluku Utara

materi

PKMK UGM
09.40 – 10.40 WIB Diskusi Peserta
10.40 – 12.00 WIB Rencana Tindak Lanjut PKMK UGM
12.00 – 13.00 WIB ISHOMA  
13.00 – 13.30 WIB Paparan draft Kurikulum Unit Pelapor PKMK UGM
13.30 – 13.45 WIB Diskusi Peserta
13.45 – 15.45 WIB Revisi Kurikulum Unit Pelapor Peserta
15.45 – 16.00 WIB Rencana Tindak Lanjut PKMK UGM
16.00 WIB Penutup PKMK UGM

 

 

 

Diseminasi Riset Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi

Diseminasi Riset
Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM
bekerja sama dengan CDC US

 

  Latar Belakang

Pada akhir tahun 2023, Indonesia mengalami kenaikan kasus COVID-19 yang signifikan. Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat adanya sebaran varian baru COVID-19, yang dikenal sebagai JN.1. Hingga 19 Desember 2023, varian ini terdeteksi dalam 41 kasus yang ditemukan melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap 77 sampel. Ini merupakan 43 persen dari 453 kasus konfirmasi COVID-19 yang tercatat sejak November hingga awal Desember 2023. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena penyebaran virus yang cepat dan beban yang ditimbulkannya pada sistem kesehatan Indonesia.

Masalah penting lainnya yang muncul bersamaan dengan pandemi adalah Long COVID. Ini adalah kondisi di mana pasien yang telah sembuh dari COVID-19 mengalami gejala yang berkepanjangan, termasuk kelelahan kronis, masalah pernafasan, dan gangguan fungsi otot. Meskipun gejala Long COVID telah terdokumentasi dengan baik di negara-negara lain, di Indonesia masih terdapat keterbatasan pengetahuan dan penelitian mengenai kondisi ini. Akibatnya, upaya pengobatan dan pencegahan Long COVID di Indonesia menjadi lebih sulit.

Pandemi juga menunjukkan bahwa kerja sama antar lembaga sangat penting dalam mengelola bencana kesehatan masyarakat. Tidak hanya Kementerian Kesehatan, tapi juga Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlu berkolaborasi dengan pendekatan One Health untuk mencegah dan menangani penyakit zoonosis. Kolaborasi ini penting untuk menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.

Penelitian dalam kerangka “Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi” memberikan informasi dan wawasan untuk mengatasi dampak kesehatan masyarakat setelah pandemi. Tujuan utamanya adalah menyebarkan hasil penelitian ini dan membahas masalah kesehatan yang akan muncul di masa depan.

  Tujuan Diseminasi

  1. Menyampaikan temuan, data dan analisis studi yang berkaitan dengan kebijakan dan rekomendasi dalam mengatasi tantangan kesehatan masyarakat pasca pandemi
  2. Mendapatkan umpan balik dari para stakeholder terkait temuan, data dan analisis studi untuk mendapatkan rekomendasi kebijakan bagi daerah
  3. Menyusun rencana tindak lanjut dalam penanganan long COVID-19 di Indonesia berdasarkan hasil temuan dan umpan balik

  Waktu dan Tempat

Hari : Rabu, 28 Februari 2023
Waktu : 07.30 – 16.00 Wib
Tempat : JS Luwansa Hotel and Convention Center,
Jl. H. R. Rasuna Said No.22 Kav. C, RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta

 

Waktu Agenda            PIC/Fasilitator/Narasumber
07.30-08.00 WIB Registrasi peserta PKMK FK-KMK UGM
08.00-08.05 WIB Pembukaan dan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya MC
08.05-08.30 WIB

Sambutan dan Pengantar

Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi

  1. PKMK FK-KMK UGM
  2. Dirjen P2P
  3. Rebecca Merril – CDC US
08.30-10.00 WIB

Sesi I: Paparan Tim Peneliti

Gambaran Pasca Covid di Indonesia: Studi Kasus Jawa Timur dan Sulawesi Tenggara
(Siti Nurfadilah H)

materi

Sesi II: Paparan Tim Peneliti

Gangguan Kognitif dan Gejala Lanjut Pasca Akut Covid-19 di Indonesia
dr. Amelia Nur Vidyanti, Sp. N, Sub.Sp NGD (K), Ph.D

materi

Sesi III: Paparan Tim

Pengembangan Modul Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Bagi Tenaga Kesehatan di RSUP. Nasional dr. Cipto Mangunkusumo – Dr. dr. Hervita Diatri, SpKJ(K)

materi

10.00-11.00 WIB Diskusi
  1. Tim Peneliti
  2. PKMK FK-KMK UGM
  3. CDC
11.00-12.00 WIB

Sesi IV: Paparan Tim Peneliti

Prevalensi Long Covid dan Faktor Berhubungan di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia – Hayani Anastasia

materi

Sesi V: Paparan Tim Peneliti

Gambaran Penyintas Covid dan Faktor Risiko Long Covid Pada Populasi dengan Riwayat Covid-19 Berat
Dr. drg. Theodola Baning Rahayujati, M.Kes

materi

12.00-13.00 WIB Diskusi
  1. Tim Peneliti
  2. PKMK FK-KMK UGM
  3. CDC
13.00-14.00 WIB ISHOMA  
14.00-15.30 WIB

Penyampaian Policy Brief dan rencana tindak lanjut

policy brief

  1. PKMK FK-KMK UGM
  2. CDC
15.30-16.00 WIB Penutup
  1. PKMK FK-KMK UGM
  2. CDC
  3. MC

 

 

 

 

Paket Konfrensi The International Society for Quality in Healthcare (ISQua) di Turki

  Deskripsi

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM bekerjasama dengan Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) mengundang pemerhati mutu Se-Indonesia untuk mengikuti ISQua Internasional Conference ke-40 di Istanbul Lutfi Kirdar International Convention & Exhibition Center dengan tema “Health for People and Planet: Building Bridges to a Sustainable Future”.

  Kegiatan

Workshop di Indonesia free dan merupakan rangkaian kegiatan di Turki.

  1. Workshop Persiapan “Menjadi Individu Pembelajar“: Para peserta akan saling berdiskusi untuk bersama-sama mempersiapkan diri mengikuti konfrensi, membagi rencana dan proses pembelajaran, serta penyusunan laporan/rencana tindak lanjut. Kegiatan online Zoom, tanggal 16 September Tahun 2024 (satu minggu sebelum berangkat)
  2. Konferensi ISQUA “Menangkap Ide dan Inovasi Terbaru”: Para peserta akan mengikuti konfrensi selama 3 hari yang akan terbagi dari banyak tema dan sesi dengan narasumber dan pakar dari berbagai negara. Kegiatan onsite di Turki, tanggal 25-27 September Tahun 2024. Berbagai ide dan inovasi terbaru akan dibahas bersama antar peserta pada pertemuan informal di hotel saat makan malam.
  3. Tour Turki “Turkaegean, The Coast of Happiness”: Para peserta akan bersama-sama mengikuti tour hari tanggal 24 dan 28 September* (akan diinformasikan lebih lanjut)
  4. Workshop Pembelajaran “Effective Action Plan”: Para peserta akan kembali bertemu untuk membahas berbagai usulan kegiatan dan kebijakan peningkatan mutu pelayanan kesehatan baik di tingkat Fasyankes (melalui penyusunan RTL) maupun di tingkat nasional. Indonesia (melalui penyusunan policy brief. Kegiatan online Zoom, tanggal 7 Oktober Tahun 2024 (1 minggu setelah kembali ke Indonesia)

   Jadwal Perjalanan

Tanggal 23 September Berangkat dan tanggal 29 September Kembali ke Indonesia

  Tim Fasilitator

  1. Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
  2. Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH

  Peserta Kegiatan

Direksi Rumah Sakit, Tim Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit dan Klinisi di Rumah Sakit.

Telah bergabung Direktur Medis RSUP dan RS Swasta, dan Tim Mutu RSUP

  Biaya 

No Rekening : 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM
Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281

  • Paket Rp. 50.000.000,- (2x Workshop di Indonesia, 2 hari konferensi ISQua, 2 hari tour)
  • Paket Rp. 59.000.000,- (2x Workshop di Indonesia, 3 hari konferensi ISQua, 2 hari tour)

*Harga berlaku sampai tanggal 30 Agustus 2024
Biaya sudah termasuk transportasi PP ke Turki, akomodasi, workshop dan konferensi.

Link pendaftaran

 

 

Narahubung

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH
No. Telp 0823-2433-2525
Email eva.tbh@gmail.com 

Anantasya Noviana (Teknis)
Tekp. 0821-1616-1620

 

 

Pertemuan Sosialisasi dan Pelatihan Enumerator Evaluasi Penerapan Kode ICD-10 dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Penyakit Menular dengan Potensi Wabah di Provinsi DIY

Kerangka Acuan Kegiatan

Pertemuan Sosialisasi dan Pelatihan Enumerator Evaluasi Penerapan Kode ICD-10 dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Penyakit Menular dengan Potensi Wabah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Program INSPIRASI
(Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia)

Diselenggarakan oleh: PKMK FKKMK UGM
Bekerjasama dengan: Kemenkes RI dan CDC

  Pendahuluan

International Health Regulation yang dimulai pada tahun 2005 merupakan sebuah kerangka hukum yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai reaksi terhadap bencana pandemi yang sebelumnya pernah melanda Eropa. Kerangka ini juga menentukan standar yang akan digunakan dalam menentukan apakah insiden tersebut memenuhi syarat sebagai “darurat kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian seluruh dunia” atau “public health emergency of international concern.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia dengan pendampingan dari WHO dan Center for Disease Control and Prevention US (CDC US) telah membangun Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon(SKDR) pada tahun 2009. Indonesia termasuk negara yang mengikuti IHR dalam menanggapi ancaman mumum seperti Influenza-A musiman serta penularan infeksi baru seperti Severa Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan penyakit yang baru muncul seperti COVID-19.

Terdapat 24 penyakit infeksi menular yang dilaporkan secara mingguan ke dalam aplikasi SKDR yang didasarkan kepada algoritma yang telah ditetapkan oleh Tim Kerja Surveilans, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan. Algoritma tersebut mudah dipahami oleh tenaga kesehatan dengan latar belakang klinis seperti dokter umum, namun seringkali tenaga unit pelapor ke dalam aplikasi SKDR merupakan seorang tenaga surveilans tanpa pengetahuan klinis 1. Beberapa puskesmas juga dilaporkan mulai menggunakan kode ICD-10 yang diinput oleh dokter umum ke dalam rekam medis sebagai acuan untuk melakukan pelaporan surveilans mingguan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat standar yang berbeda yang digunakan oleh puskesmas dalam menentukan kategori penyakit yang akan dilaporkan.

Pelaporan surveilans harus dipastikan terstandar dan seragam dari unit pelapor sehingga dapat memberikan data yang berkualitas. Data yang berkualitas sangatlah penting dalam menentukan KLB di berbagai tingkatan dan dalam analisis surveilans untuk mencegah terjadinya KLB di masa depan. Berbagai cara dapat dilakukan untuk memastikan pelaporan terstandar, salah satunya adalah menggunakan kode klasifikasi penyakit. Kode klasifikasi penyakit yang banyak digunakan saat ini adalah International Classification of Disease versi 10 atau ICD-10 yang juga digunakan oleh BPJS Kesehatan untuk klaim asuransi Jaminan Kesehatan Nasional.

PKMK FKKMK UGM bekerja sama dengan CDC Indonesia pada bulan September 2022 – Desember 2022 telah melakukan uji validasi kode ICD-10 dengan melibatkan dinas kesehatan kabupaten/kota dan puskesmas di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara. Untuk meningkatkan kualitas pelaporan dan data SKDR, maka diperlukan sosialisasi kepada dokter klinisi dan petugas surveilans di puskesmas sebagai unit pelapor.

Penggunaan kode ICD-10 untuk SKDR telah diimplementasi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sejak April 2023. Sosialisasi bagi dokter umum dan petugas surveilans di puskesmas-puskesmas di wilayah DIY telah dilaksanakan pada bulan Mei-Juli tahun 2023. Evaluasi penggunaan kode ICD-10 dalam algoritma sistem kewaspadaan dini dan respon di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta perlu dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan kualitas data laporan SKDR sebagai acuan dan bahan pertimbangan bagi provinsi lain.

  Tujuan Pertemuan
  1. Paparan rencana evaluasi penggunaan kode ICD-10 dalam sistem Kewaspadaan Dini dan Respon penyakit menular dengan potensi wabah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  2. Menentukan waktu kunjungan kegiatan evaluasi pada puskesmas terpilih
  3. Diskusi dengan dinas kesehatan dan puskesmas terkait tindak lanjut rencana evaluasi di puskesmas sasaran
  Peserta Kegiatan
No. Instansi / Jabatan Jumlah Orang
1. Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi DI.Yogyakarta 2
2. Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman 1
3. Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta 1
4. Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul 1
5. Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo 1
6. Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul 1
7. Kepala Puskesmas Kotagede 1 1
8. Kepala Puskesmas Umbulharjo 1 1
9. Kepala Puskesmas Godean 1 1
10. Kepala Puskesmas Mlati 2 1
11. Kepala Puskesmas Sedayu 1 1
12. Kepala Puskesmas Kasihan 1 1
13. Kepala Puskesmas Kokap 1 1
14. Kepala Puskesmas Girimulyo 1 1
15. Kepala Puskesmas Playen 1 1
16. Kepala Puskesmas Semin 1 1
17. PKMK FKKMK UGM 6
18. CDC Country Office Indonesia 2 -3
19. Enumerator Evaluasi 12

 

  Jadwal Kegiatan

Hari, tanggal : Kamis, 5 Oktober 2023
Waktu : 09.00 – 15.00 WIB
Tempat : H-Boutique Hotel Jogjakarta Jl. Prof. Herman Yohanes No.1, Terban,
Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55223

  Waktu Agenda
Waktu Agenda Pemateri
08.00 – 09.00 Registrasi  
09.00 – 09.10 Pembukaan dan sambutan
  1. PKMK FKKMK UGM
  2. Dinas Kesehatan Provinsi DIY
09.10 – 09.25

Paparan rencana evaluasi penerapan kode ICD-10 dalam kewaspadaan dini dan respon penyakit menular potensi wabah di Provinsi DI Yogyakarta

materi   lembar balik

PKMK UGM
09.25 – 09.40 Paparan Instrumen Evaluasi Penerapan Kode ICD-10: kuesioner survei dan rencana kunjungan untuk melihat rekam medis PKMK UGM
09.40 – 11.30 Diskusi  
11.30 – 11.45 Penutupan Sesi Sosialisasi  
11.45 – 12.45 Istirahat  
12.45 – 13.00 Registrasi Pelatihan Enumerator PKMK UGM
13.00 – 13.20 Paparan Rencana Evaluasi Penerapan Kode ICD-10 dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons Penyakit Menular Potensi Wabah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta PKMK UGM
13.20 – 14.00 Petunjuk Teknis Audit Rekam Medis sebagai Evaluasi Penerapan Kode ICD-10 PKMK UGM
14.00 – 14.50 Diskusi dan Tanya Jawab  
14.50 – 15.00 Penutupan