Kemenkes Luncurkan RAN PPAKI

Jakarta (Menits.Com) – Kementerian Kesehatan meluncurkan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu (RAN PPAKI) 2013-2015, Rencana Aksi Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (RAN PPIA) 2013-2017, dan Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan.

Continue reading

International Symposium on Research, Policy & Action to Reduce the Burden of Non-Communicable Diseases

Total of 10 Credits (IDI Accreditation)

International Symposium on Research, Policy & Action
to Reduce the Burden of Non-Communicable Diseases

Faculty of Medicine, Gadjah Mada University,
Yogyakarta, 26-27 September 2013

The burden of non-communicable diseases (NCDs) in low-and middle-income countries (LMICs) is continuosly increasing. Of 52,8 million deaths in 2012, 34,5 million could be attributed to Non-Communicable Diseases (NCDs)—65%. (Lozano et al 2012). In the same year, 54% of disability-adjusted life years worldwide were caused by NCDs, compared with only 43% in 1990.It is anticipated that mortality and morbidity due to NCDs will only increase during the next five to 25 years; in some regions, such as Africa, the Middle East and the Asia-Pacific region (APR), the burden of NCDs will be higher than in others. In East Asia and the Pacific, it is projected that NCDs will account for up to 80 percent of all deaths and 40 per cent of all morbidity by 2030 (WHO 2011).

The need to address this rising burden of disease is increasingly being acknowledged internationally, as reflected by UN General Assembly’s 2011 political declaration on the prevention and control of NCDs. In 2012, the World Health Assembly endorsed as animportant new health goal: to reduce avoidablemortality from NCDs by25% by 2025 (the 25 by 25 goal). In 2012, the UN conference on sustainable development,Rio+20, also referred to non-communicable diseases(NCDs) as “one of the major challenges for sustainabledevelopment in the 21st century”, emphasising thefundamental link between health and development.

Despite global resolutions and rhetoric , chronic NCDs remain the least recognised group of conditions that threaten the future of human health and wellbeing (Horton 2013).Countries in Southeast Asia for instance have spent very little resources addressing the major health and development issue of chronic non-communicabledisease(Dans et al 2011).Many of these countries, including Indonesia, are still trying to cope with old infectious diseases as well as new and emerging infections. If neglected, however, chronic non-communicable diseases could threaten national development and ultimately jeopardize the capacity of nations to respond to health needs at large. Therefore, acomprehensive and coherent non-communicable disease programme cannot await control of communicable diseases. Both must take place at the same time.

A sustainable and effective national programme for prevention and control of NCDs needs to be championed by well informed leaders (Dans et al 2011). Leadership has to come not only from the health sector, but also from other sectors, including lawmakers and heads of local government. Civil societies should play a major role in holding governments accountable for delivering on non-communicable disease commitments. As epidemiological and scientific understanding of NCDs evolves, it is essential that theresearch community responsible for producing and publishing research findings, work hard to ensurethat their implications are understood and acted upon by policy makers and politicians alike.

Symposium Programme

Thursday, 26 September 2013

08.30-09.00

Registration

09.00-09.30

Opening Remarks

  1. Dance performance
  2. Chair of the Organizing Committee
  3. Vice Rector of Collaboration and Alumni, Universitas Gadjah Mada

09.30-10.45

Session 1 – NCDs, Health and Development agendas

Speakers:

Dr Yodi Mahendradhata,MSc,PhD (Center for Health Policy and Management, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University)

Dr. drg. Theresia Ronny Andayani, MPH
(BAPPENAS / National Planning Bureau)

Moderator:

Vice Dean for Research, Collaboration & Postgraduate Studies, FM GMU

10.45-11.00

Coffee breaks

11.00-12.30

Session 2 – Climate Change and Non-Communicable Diseases

Speakers:

Prof. Dr. Rainer Sauerborn (Institute of Public Health, University of Heidelberg, Germany)

Prof. Dr. Hari Kusnanto
(Center for Environmental Study, Gadjah Mada University)

Moderator

Dr Revati Phalkey (Institute of Public Health, University of Heidelberg, Germany)

12.30-13.30

Lunch Break

13.30-14.55

Session 3 – Health sector strategies to prevent and control NCDs

Speakers:

Dr. dr. Hernani Djarir, MPH
(WHO Country Representative)

dr. Prima Yosephine (Head of Directorate of Chronic and Degenerative Diseases Control, Ministry of Health, Republic of Indonesia)

Moderator:

Prof. Dr. Siswanto Agus Wilopo, MSc (Public Health Department, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University)

15.00-15.15

Coffee break

15.15-17.00

Session 4 –Improving health system’s responsiveness to Non-Communicable Diseases

Speakers

Dr Krishna Hort
(Nossal Instiute, Melbourne University, Australia)

Dr. Suwarta A Kosen (National Institute for Health Research and Development)

Moderator

Prof.Dr. Laksono Trisnantoro (Center for Health Policy and Management, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University)

 

Friday, 27 September 2013

08.00-08.15

Recap of Day I

Chair/Co-Chair of the Organizing Committee

08.15-10.30

Session 5 – Healthcare and community systems preparatio and Managing NCDs

Speakers:

dr. Lutfan Lazuardi, PhD (Center for Health Informatics, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University)

Dr. Maria Nillson (Umea Center for Global Health Research, Sweden)

dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, Ph.D (Center for Health Promotion and Behaviour, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University)

Moderator:

Dr Mubasysir Hasanbasri (Public Health Department, Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada)

10.30-10.45

Coffee breaks

10.45-12.00

Session 6 – Poster Session 1

Moderator

Dr. Yayi Suryo Prabandari (Public Health Department, Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada)

12.00-13.00

Lunch Break 

13.30-14.30

Session 7 – Poster Session 2

Moderator

Dr Retno Siwi Padmawati (Public Health Department, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University)

15.00-15.30

Synthesis and closing

  1. Dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D
  2. Vice Dean for Research, Collaboration and Postgraduate Studies, FM UGM

 

RSUD Bekasi Akan Jadi Rumah Sakit Warga Miskin

TEMPO.CO, Bekasi – Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi diarahkan menjadi rumah sakit warga miskin. Direktur RSUD Kota Bekasi Titi Masrifahati mengatakan kompoisi pelayanan diubah dengan memberikan porsi 70 persen untuk warga miskin dan 30 persen untuk kepentingan bisnis.

Continue reading

Universitas Airlangga Bangun Rumah Sakit Stem Cell

Surabaya (Tempo.co) – Universitas Airlangga melalui Lembaga Penyakit Tropis berencana membangun rumah sakit khusus riset dan pengobatan di bidang stem cell. Direktur LPT Unair, Nasronuddin, menuturkan rencana ini sudah matang dan diharapkan bisa dimulai tahun depan.

Continue reading

Kerangka Kompetensi Kepemimpinan Medis

Oleh: drg. Puti Aulia Rahma, MPH

Kepemimpinan medis bukan merupakan konsep baru dalam dunia layanan kesehatan. Ia bahkan merupakan sebuah kebutuhan untuk mengoptimalkan potensi seluruh profesi layanan kesehatan. Hal penting terkait kepemimpinan medis adalah tujuannya untuk memberi pelayanan kesehatan yang sempurna dan meningkatkan keluaran pasien. Saat ini kepemimpinan medis semakin digaungkan oleh klinisi, manajer dan politisi baik di Inggris mapun kancah internasional.

Kepemimpinan medis di pelayanan kesehatan terkait dengan memberikan pelayanan berkualitas tinggi kepada pasien dengan cara: menunjukkan kualitas personal, bekerja dengan orang lain, manajemen pelayanan, peningkatan layanan dan menentukan arah. Para dokter umumnya akan menunjukkan perilaku kepemimpinan dalam rentang 5 domain ini. Menjadi penting bagi para dokter untuk memiliki kompetensi dalam 5 domain inti kepemimpinan ini. Untuk memudahkan para dokter memahami dan mengaplikasikan Kerangka Kompetensi Kepemimpinan Medis, masing-masing domain dibagi menjadi 4 elemen. Masing-masing elemen ini kemudian dibagi menjadi 4 pernyataan deskriptif yang menggambarkan perilaku yang dilakukan oleh para dokter. Ke-lima domain kepemimpinan ini dapat digunakan selamanya oleh para dokter. Kerangka Kepemimpinan yang ini, merupakan kerangka yang bersifat progresif yang akan membantu dokter mengenali tahapan pengembangan kepemimpinan mereka diantara teman-teman mereka.

Bila Anda seorang dokter dan ingin menilai kompetensi kepemimpinan Anda di masing-masing domain, Anda dapat menggunakan Instrumen Penilaian Mandiri yang berbeda untuk masing-masing domain. Instrumen ini membantu Anda untuk mengatur pembelajaran dan memantau perkembangan dengan cara membiarkan Anda merefleksikan pada area mana dari kerangka kepemimpinan ini yang ingin Anda kembangkan lebih lanjut. Berikut uraian terkait serta instrumen untuk masing-masing domain kepemimpinan:

  1. Menunjukkan Kualitas Personal

    Kepemimpinan efektif mensyaratkan individu-individu untuk bertindak di atas nilai-nilai, kekuatan dan kemampuan untuk menyampaikan pelayanan dengan standar tinggi. Untuk dapat melakukan itu, mereka harus menunjukkan efektivitas dalam:

    1. Mengembangkan kesadaran diri, dengan menyadari nilai-nilai, prinsip dan asumsi pribadi dan mampu untuk belajar dari pengalaman
    2. Manajemen diri, dengan mengatur dan melakukan manajemen diri sendiri sambil memperhitungkan kebutuhan dan prioritas hal lain
    3. Pengembangan pribadi berkelanjutan, dengan belajar melalui partisipasi dalam pengembangan profesionalisme berkelanjutan dan dari pengalaman serta umpan balik
    4. Bertindak dengan integritas, dengan berperilaku dalam sikap terbuka, jujur dan beretika

  2. Bekerja dengan Orang Lain

    Kepemimpinan yang efektif membutuhkan individu-individu yang dapat bekerja sama dengan orang lain dalam konteks tim dan jejaring untuk memberikan dan meningkatkan pelayanan. Agar dapat melakukannya, mereka harus menunjukkan efektivitas dalam:

    1. Mengembangkan jejaring, dengan cara bekerja sama dengan pasien, perawat, pengguna layanan dan perwakilannya serta kolega di dalam dan diseluruh sistem
    2. Membangun dan mempertahankan hubungan, dengan saling mendengarkan, mendukung, mengumpulkan kepercayaan dan menunjukkan kesepahaman
    3. Mendorong kontribusi, dengan cara menciptakan lingkungan yang membuat semua orang terdorong untuk berkontribusi
    4. Bekerja dalam tim, untuk menyampaikan dan meningkatkan layanan

  3. Manajemen Pelayanan

    Kepemimpinan yang efektif menuntut individu-individu untuk fokus pada keberhasilan organisasi tempatnya bekerja. Untuk dapat melakukan itu, mereka harus efektif di dalam:

    1. Merencanakan, dengan secara aktif berkontribusi untuk melakukan perencanaan dalam upaya pencapaian tujuan
    2. Mengatur sumber daya, dengan mengetahui sumber daya yang tersedia dan menjamin bahwa sumber daya tersebut digunakan secara efisien, aman dan sesuai untuk berbagai macam kebutuhan
    3. Mengatur manusia, dengan menyediakan arahan, meninjau kinerja, memotivasi dan mempromosikan kesetaraan dan keberagaman
    4. Mengatur kinerja, dengan memastikan pola kerja yang dapat mengukur keluaran layanan

  4. Meningkatkan Pelayanan

    Kepemimpinan yang efektif mensyaratkan individu-individu untuk membuat perbedaan terhadap kesehatan seseorang dengan memberikan pelayanan kualitas tinggi dan melakukan mengembangkan perbaikan layanan. Untuk dapat melakukan hal ini, mereka harus dapat:

    1. Menjamin keselamatan pasien, dengan menilai dan mengelola resiko pada pasien yang terkait pengembangan layanan, menyeimbangkan pertimbangan ekonomi dengan kebutuhan keselamatan pasien
    2. Evaluasi kritis, dengan mampu berfikir secara analitik, konseptual dan mampu mengidentifikasi pada aspek mana sebuah layanan dapat ditingkatkan serta dapat bekerja secara individual sebagai bagian dari tim
    3. Mendorong perbaikan dan inovasi, dengan menciptakan iklim perbaikan layanan secara terus menerus
    4. Memfasilitasi transformasi, dengan berkontribusi secara aktif untuk mengubah proses-proses yang memicu perbaikan layanan.

  5. Menentukan Arah

    Kepemimpinan yang efektif mensyaratkan masing-masing individu untuk berkontribusi terhadap strategi dan aspirasi organisasi dan bertindak dengan perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Untuk dapat melakukan ini, masing-masing individu harus menunjukkan efektivitas dalam:

    1. Mengidentifikasi konteks untuk perubahan, dengan menyadari faktor-faktor yang perlu diperhitungkan
    2. Mengaplikasikan pengetahuan dan bukti ilmiah, dengan mengumpulkan informasi untuk menciptakan perubahan berbasis bukti pada sistem dan pada proses dalam upaya mengidentifikasi kesempatan untuk perbaikan layanan
    3. Membuat keputusan, dengan menggunakan nilai-nilai yang mereka pegang dan berbagai bukti ilmiah
    4. Mengevaluasi dampak, dengan melakukan pengukuran dan evaluasi keluaran, membuat tindakan korektif ketika dibutuhkan dan bertanggung jawab untuk memperhitungkan keputusan mereka

Sumber: NHS Leadership Academy

{module [150]}

BPJS Jangan Sampai Rugikan RS BUMN Maupun RS Swasta

Jakarta (okezone.com) – Peningkatan kesejahteraan masyarakat menuntut pelayanan kesehatan yang maksimal bagi masyarakat. Rencana pemerintah memberlakukan Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) diharapkan dapat meningkatkan standard pelayanan kesehatan masyarakat di sama mendatang.

Continue reading