Di Indonesia telah banyak kebijakan, metode dan proyek-proyek yang dapat meningkatkan sistem mutu baik ditingkat nasional, provinsi dan daerah. Sebut saja seperti akreditasi, lisensi dan sertifikasi, proyek pengembangan Clinical Performance Development and Management Systems, penerapan standar ISO 9000 di rumah sakit, pelaksanaan audit klinis, proyek HPEQ (Mutu Pendidikan Profesional Kesehatan) yang didanai oleh World Bank, pedoman klinis yang dirumuskan oleh organisasi profesi dan pengenalan universal health coverage yang ditujukan untuk peningkatan mutu kesehatan.
Meskipun kebijakan mengenai peningkatan mutu, metode dan proyek telah ada, namun belum terintegrasi dalam strategi mutu nasional. Oleh karena itu, strategi mutu nasional harus dikembangkan berdasarkan pemetaan sistem mutu yang ada. Harapannya dengan adanya mapping quality dapat
- Mempromosikan jaringan, pertukaran dan pembelajaran untuk sektoral dan profesional
- Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mutu dan keselamatan dalam sistem kesehatan
- Memperjelas kontribusi dan tanggungjawab untuk perbaikan di Kementerian kesehatan dan pemerintah
- Menyediakan kerangka kerja untuk rencana nasional yang terintegrasi untuk perbaikan dan untuk penargetan bantuan internasional
Untuk itu, IHQN (Indonesian Healthcare Quality Network) mencoba melakukan mapping quality dengan menggunakan pendekatan rantai efek peningkatan mutu dari Donald Berwick (2000) meliputi :
- Konteks Pasien & Masyarakat
- Konteks sistem mikro pelayanan kesehatan (dengan fasilitator utama berasal dari para dokter, perawat dan klinisi lain serta staf lini terdepan)
- Konteks organisasi (dengan fasilitator utama berasal dari Manajer sarana pelayanan kesehatan, Direktur RS, Kepala Puskesmas serta Manajer sarana pelayanan kesehatan lain)
- Konteks lingkungan (dengan fasilitator utama berasal dari Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan, Lembaga asuransi kesehatan, Organisasi Profesi, dan Lembaga asosiasi)
{jcomments on}