Dinkes Kukar Tangani 35 Penderita Gizi Buruk

kukar dinkesTenggarong – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara saat ini menangani 35 penderita gizi buruk yang tersebar di berbagai Kecamatan.

Kepala Dinkes Kukar Koentijo mengatakan penderita gizi buruk tersebut terjadi akibat pola asupan gizi yang salah dan adanya penyakit yang menyertai karena infeksi. Penanganan penderita gizi buruk ini kini kondisinya sudah mulai membaik.

Continue reading

Workshop Finalisasi Sistem dan Pedoman Rujukan Pelayanan Kesehatan Terpadu di Kabupaten Mimika

 

  Draf Final Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Kabupaten Mimika

[tabs style=”green”] [tab_item title=’laporan Kegiatan’]

Laporan Kegiatan Pertemuan Penyusunan Sistem Rujukan
Kabupaten Mimika

Narasumber : dr. Muhammad Hardhantyo PW, Nusky Syaukani SKM, MPH, Armiatin S.E, MPH

11 – 12 Juni 2015

15jun

Kementerian Kesehatan telah mengatur rujukan pasien dalam peraturan menteri kesehatan no 1 tahun 2012. Dimana rujukan diatur secara berjenjang mulai dari layanan primer, merujuk ke sekunder dan apabila tidak mampu maka layanan sekunder dapat merujuk kepada pelayanan tersier ditingkat provinsi atau lintas provinsi.

Selain itu pemerintah juga telah mengatur 155 kasus yang wajib mampu ditangani oleh seluruh puskesmas maupun layanan kesehatan primer, tetapi akan menjadi pengecualian apabila terdapat keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan sehingga puskesmas dapat merujuk kasus – kasus tersebut, namun perlu diingat bahwa rujukan tidak boleh berdasarkan indikasi sosial. Rujukan ulangan juga dapat diberikan apabila terapi dokter spesialis di rumah sakit belum selesai.

Pertemuan dua hari tanggal 11-12 yang lalu dihadiri oleh perwakilan dari dinas kesehatan, rumah sakit daerah dan swasta, puskesmas dan BPJS. Terdapat beberapa materi yang didiskusikan pada hari pertama yakni, kesepatan dalam beberapa poin panduan rujukan, antara lain

  1. Prosedur rujukan pasien puskesmas ke Rumah Sakit
  2. Prosedur menerima rujukan balik
  3. Prosedur pengelolaan pasien di ambulans
  4. Prosedur sistem informasi rujukan dari puskesmas ke RS
  5. Prosedur rujukan gawat darurat KIA
  6. Prosedur Rujukan pasien dengan kondisi sakit menetap
  7. Prosedur Rujukan Horizontal
  8. Prosedur Rujukan Spesimen
  9. Prosedur menerima Rujukan spesimen
  10. Prosedur rujukan balik ke puskesmas
  11. Prosedur rujukan lintas batas

Dari 11 prosedur tersebut telah terjadi kesepakatan di semua pihak namun masih terdapat beberapa hal yang perlu didetailkan pada beberapa bagian yakni

  1. Prosedur menerima rujukan balik
  2. Prosedur rujukan balik ke puskesmas
  3. Prosedur rujukan lintas batas

Ketiga hal diatas masih belum mendapatkan kata sepakat antar masing-masing pihak, dimana pada mekanisme rujukan balik, masyarakat yang seharusnya membawa surat rujukan balik saat kontrol tidak pernah melakukan hal tersebut karena alasan hilang, basah, tidak tahu, dll, sehingga berakibat pada dokter yang tidak tahu pasien telah dilakukan tindakan apa oleh RS dan puskesmas tidak bisa mendapatkan klaim biaya perjalanan oleh dinas. Hal ini menjadi masalah terutama pada puskesmas-puskesmas pedalaman dengan penduduk yang masih belum berpendidikan.

Rumah sakit sebagai pihak pembuat surat seringkali bingung, karena dalam diskusi ditemukan fakta bahwa masyarakat sulit dimintai bantuan untuk membawa surat tersebut saat kontrol maka puskesmas berinsiatif untuk mengumpulkan data tersebut di RS. Tetapi pihak RS sering keberatan karena sulit mengumpulkan berkas tersebut selama 1 tahun (puskesmas meminta data rekapitulasi tahunan).

Selain itu pada kasus rujukan lintas batas pada kasus yang membutuhkan layanan di Jayapura atau Jakarta sering menjadi kendala, karena belum ada panduan yang tepat mengenai bagaimana dan kriteria apa saja pasien yang layak untuk dirujuk, serta pembiayaannya darimana.

Pada hari kedua kegiatan berfokus pada penyusunan panduan rujukan pada 9 kasus yakni

  1. Pre eklamsia berat
  2. Demam Berdarah Dengue
  3. Diabetes Melitus Tipe 2
  4. Hipertensi Esensial
  5. Malaria
  6. HIV
  7. Perdarahan post partum
  8. Asma Bronkial
  9. Tuberkulosis Paru

Dalam diskusi yang dibagi menjadi 4 kelompok tersebut, masing-masing kelompok telah menyusun panduan rujukan yang disepakati bersama. (Terlampir pada TOR)

 

 

 

[/tab_item] [tab_item title=’TOR Kegiatan’]

Kerangka Acuan

Workshop Finalisasi Sistem dan Pedoman Rujukan Pelayanan Kesehatan Terpadu di Kabupaten Mimika

 

  Pengantar

Pengembangan Sistem dan Pedoman Rujukan Pelayanan Terpadu di Kabupaten Mimika telah menghasilkan draf Sistem dan Pedoman Rujukan untuk 9 penyakit spesifik. Sistem rujukan yang dikembangkan ini diharapkan dapat menjadi payung dari berbagai komponen rujukan. Sedangkan pedoman rujukan yang dikembangkan ini diharapkan dapat menjadi petunjuk teknis pelaksanaan berbagai komponen rujukan pelayanan kesehatan dalam bentuk keputusan Kepala Dinas Kesehatan.

Untuk mendapatkan masukan perbaikan bagi sistem dan pedoman rujukan ini, maka diperlukan adanya sebuah pertemuan dalam bentuk workshop untuk dapat menghasilkan dokumen akhir (final) Sistem Rujukan Kesehatan terpadu dan pedoman rujukan bagi Kabupaten Mimika.


  Tujuan

Tujuan Umum: Kegiatan ini bertujuan untuk menjelaskan isi dari Pengembangan Sistem Rujukan dan Pedoman 9 penyakit spesifik yang telah disusun bagi kabupaten Mimika. Secara khusus workshop ini bertujuan untuk

  1. Menjelaskan isi Pengembangan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan terpadu di Kabupaten Mimika
  2. Menjelaskan Pedoman Rujukan untuk 9 Penyakit spesifik
  3. Revisi Sistem dan Pedoman rujukan
  4. Finalisasi Sistem dan Pedoman rujukan
  5. Diskusi Rencana Tindak Lanjut, Penerapan dan Evaluasi Sistem dan Pedoman Rujukan

Peserta

Pertemuan ini diharapkan dapat diikuti oleh Kepala Puskesmas Timika, direktur RSUD, RSMM, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika dan pelaksana rujukan (perawat, bidan, dokter, dll) baik di Puskesmas, RSUD, RSMM maupun Dinkes.

Tim Fasilitator

Fasilitator akan berasal dari tim Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), yang terdiri dari:

  1. Dr. Hanevi Djasri, MARS
  2. Armiatin, SE, MPH
  3. dr. M. Hardhantyo Puspowardoyo

Waktu dan Tempat

Hari & tanggal : 11-13 Juni 2015
Jam : 09.00 – 16.00 WIB

  Agenda Kegiatan

Waktu

Kegiatan

Fasilitator

Hari I (11 Juni 2015)

08:30-09:00

Registrasi

Panitia

09:00-09:30

Pembukaan acara

Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika

9.30-10:30

Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Terpadu

Armiatin, SE, MPH

10:30-12.00

Diskusi Kelompok Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan  terhadap Sistem dan Pedoman Rujukan

Peserta dibagi 4 kelompok yang terdiri dari Puskesmas, RS dan Dinkes (masing-masing kelompok membahas  1 bab draf  sistem rujukan)

dr. Muhammad . Hardantyo Puspowardoyo

 

4 Kelompok

12.00-13.00

Lunch Break

Panitia

13.00-14.30

Diskusi Kelompok  Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan  terhadap Sistem Rujukan

4  Kelompok

14.30-16.00

Presentasi Hasil Kelompok

  Kelompok I

  Kelompok II

  Kelompok III

  Kelompok IV

4 Kelompok

Hari II (12 Juni 2015)

09.00-09.30

Review Hari  1

 

09:30-11:00

Pedoman Rujukan Layanan Primer untuk  9 Penyakit

dr. Muhammad . Hardantyo Puspowardoyo

11.00-12.00

Diskusi Kelompok Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan  terhadap pedoman penyakit

4 Kelompok

12.00-13.00

Lunch Break

 

13.00-14.00

Dibagi 4 kelompok

Diskusi Kelompok Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan  terhadap pedoman penyakit

4 Kelompok

14.00-15.20

Presentasi Hasil Kelompok

(Masing-masing Kelompok, Presentasi selama 20 menit)

KELOMPOK I

KELOMPOK II

KELOMPOK III

 

4 Kelompok

15:20-16:00

Diskusi rencana Penerapan dan Evaluasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Primer

  Materi presentasi

 

dr. Muhammad . Hardantyo Puspowardoyo

Hari III  (13 Juni 2015) Kunjungan lapangan ke Puskesmas Timika

catatan

Pera peserta diharapkan membawa Notebook

[/tab_item][/tabs]

 

 

How to Provide Patient-Centered Care? Ask the Patient! Massachusetts Health Quality Partners

pharmiwebIf there is one health policy issue that unites medical professionals consumers employers health plans and policymakers it is the need to include patients and families in healthcare decision-making. The growing momentum behind patient-centered care is undeniable both at the individual level (What care do I need where should I get it and what will it cost?) and at the health system level (What care and payment models will improve quality and lower cost?).

Continue reading

Why the new care certificate is so important for the healthcare workforce

core skillsThe care certificate provides the first step on the learning pathway, supporting professionals and providing assurance to those who receive care

Earlier this year, the care certificate was introduced for all new healthcare assistants and social care support workers. It sets out the introductory skills, knowledge and behaviours required to provide patients with safe, effective and compassionate care.

Continue reading