JAKARTA – Pemkot Jakarta Timur menggelar razia makanan mengandung bahan berbahaya di Pasar Regional Jatinegara atau Pasar Mester. Ini dilakukan guna mencegah beredarnya bahan makanan yang disinyalir mengandung bahan formalin, boraks dan zat kimia berbahaya lainnya.
NICE tackles variation in osteoarthritis care with new quality standard
A new quality standard on osteoarthritis has been designed to reduce variation in care.
Issued by NICE, quality standard QS87 sets out eight statements covering the diagnosis, assessment, management, ongoing review and referral for joint surgery of adults who have osteoarthritis.
Tingkatkan Kesehatan Masyarakat, Jabar Benahi RS Al-Ihsan
INILAH, Bandung – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggenjot pembenahan rumah sakit Al-Ihsan. Rumah Sakit milik Pemprov Jabar ini sudah mulai dilakukan groundbreaking pembangunan gedung utama.
NGO trains spotlight on issues affecting quality of patient care
It’s never time alone that heals the wound but what you do with the time that heals it.
Whenever June comes along, my thoughts invariably turn to my son Migi.
Migi was with us only for some four years. He went back to his real home 17 years ago on June 3, 1998. The passage of time does not diminish the love, but finding meaning in his early leaving has helped numb the pain of losing a child.
FK UGM Jadi Pengelola Beasiswa Pascasarjana WHO-TDR
YOGYAKARTA – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta terpilih menjadi pengelola program beasiswa internasional untuk mahasiswa S2 dan S3 pada program WHO-Tropical Disease Research (TDR).
A&E staff attitudes to patients in mental health crisis ‘often shocking’
Care Quality Commission says failings in NHS response can result in the most vulnerable people being abandoned
A&E staff are often unsympathetic to patients suffering a mental health crisis and judgmental about injuries they have inflicted on themselves, the NHS watchdog has said in a report published on Friday.
Dinkes Kukar Tangani 35 Penderita Gizi Buruk
Tenggarong – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara saat ini menangani 35 penderita gizi buruk yang tersebar di berbagai Kecamatan.
Kepala Dinkes Kukar Koentijo mengatakan penderita gizi buruk tersebut terjadi akibat pola asupan gizi yang salah dan adanya penyakit yang menyertai karena infeksi. Penanganan penderita gizi buruk ini kini kondisinya sudah mulai membaik.
Mental Health Services ‘Struggling To Cope’, Care Quality Commission Says
Public services need to “wake up” to “unacceptable” gaps in mental health crisis care, the UK’s biggest health regulator has warned.
Sekdaprov Jatim target RSUD dr Soetomo Surabaya raih sertifikasi JCI
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jawa Timur, Akhmad Sukardi mengaku bangga dengan mampunya RSU dr Soetomo Surabaya yang telah terakreditasi A nasional paripurna.
Workshop Finalisasi Sistem dan Pedoman Rujukan Pelayanan Kesehatan Terpadu di Kabupaten Mimika
|
[tabs style=”green”] [tab_item title=’laporan Kegiatan’]
Laporan Kegiatan Pertemuan Penyusunan Sistem Rujukan
Kabupaten Mimika
Narasumber : dr. Muhammad Hardhantyo PW, Nusky Syaukani SKM, MPH, Armiatin S.E, MPH
11 – 12 Juni 2015

Kementerian Kesehatan telah mengatur rujukan pasien dalam peraturan menteri kesehatan no 1 tahun 2012. Dimana rujukan diatur secara berjenjang mulai dari layanan primer, merujuk ke sekunder dan apabila tidak mampu maka layanan sekunder dapat merujuk kepada pelayanan tersier ditingkat provinsi atau lintas provinsi.
Selain itu pemerintah juga telah mengatur 155 kasus yang wajib mampu ditangani oleh seluruh puskesmas maupun layanan kesehatan primer, tetapi akan menjadi pengecualian apabila terdapat keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan sehingga puskesmas dapat merujuk kasus – kasus tersebut, namun perlu diingat bahwa rujukan tidak boleh berdasarkan indikasi sosial. Rujukan ulangan juga dapat diberikan apabila terapi dokter spesialis di rumah sakit belum selesai.
Pertemuan dua hari tanggal 11-12 yang lalu dihadiri oleh perwakilan dari dinas kesehatan, rumah sakit daerah dan swasta, puskesmas dan BPJS. Terdapat beberapa materi yang didiskusikan pada hari pertama yakni, kesepatan dalam beberapa poin panduan rujukan, antara lain
- Prosedur rujukan pasien puskesmas ke Rumah Sakit
- Prosedur menerima rujukan balik
- Prosedur pengelolaan pasien di ambulans
- Prosedur sistem informasi rujukan dari puskesmas ke RS
- Prosedur rujukan gawat darurat KIA
- Prosedur Rujukan pasien dengan kondisi sakit menetap
- Prosedur Rujukan Horizontal
- Prosedur Rujukan Spesimen
- Prosedur menerima Rujukan spesimen
- Prosedur rujukan balik ke puskesmas
- Prosedur rujukan lintas batas
Dari 11 prosedur tersebut telah terjadi kesepakatan di semua pihak namun masih terdapat beberapa hal yang perlu didetailkan pada beberapa bagian yakni
- Prosedur menerima rujukan balik
- Prosedur rujukan balik ke puskesmas
- Prosedur rujukan lintas batas
Ketiga hal diatas masih belum mendapatkan kata sepakat antar masing-masing pihak, dimana pada mekanisme rujukan balik, masyarakat yang seharusnya membawa surat rujukan balik saat kontrol tidak pernah melakukan hal tersebut karena alasan hilang, basah, tidak tahu, dll, sehingga berakibat pada dokter yang tidak tahu pasien telah dilakukan tindakan apa oleh RS dan puskesmas tidak bisa mendapatkan klaim biaya perjalanan oleh dinas. Hal ini menjadi masalah terutama pada puskesmas-puskesmas pedalaman dengan penduduk yang masih belum berpendidikan.
Rumah sakit sebagai pihak pembuat surat seringkali bingung, karena dalam diskusi ditemukan fakta bahwa masyarakat sulit dimintai bantuan untuk membawa surat tersebut saat kontrol maka puskesmas berinsiatif untuk mengumpulkan data tersebut di RS. Tetapi pihak RS sering keberatan karena sulit mengumpulkan berkas tersebut selama 1 tahun (puskesmas meminta data rekapitulasi tahunan).
Selain itu pada kasus rujukan lintas batas pada kasus yang membutuhkan layanan di Jayapura atau Jakarta sering menjadi kendala, karena belum ada panduan yang tepat mengenai bagaimana dan kriteria apa saja pasien yang layak untuk dirujuk, serta pembiayaannya darimana.
Pada hari kedua kegiatan berfokus pada penyusunan panduan rujukan pada 9 kasus yakni
- Pre eklamsia berat
- Demam Berdarah Dengue
- Diabetes Melitus Tipe 2
- Hipertensi Esensial
- Malaria
- HIV
- Perdarahan post partum
- Asma Bronkial
- Tuberkulosis Paru
Dalam diskusi yang dibagi menjadi 4 kelompok tersebut, masing-masing kelompok telah menyusun panduan rujukan yang disepakati bersama. (Terlampir pada TOR)
[/tab_item] [tab_item title=’TOR Kegiatan’]
Kerangka Acuan
Workshop Finalisasi Sistem dan Pedoman Rujukan Pelayanan Kesehatan Terpadu di Kabupaten Mimika
![]()
Pengantar
Pengembangan Sistem dan Pedoman Rujukan Pelayanan Terpadu di Kabupaten Mimika telah menghasilkan draf Sistem dan Pedoman Rujukan untuk 9 penyakit spesifik. Sistem rujukan yang dikembangkan ini diharapkan dapat menjadi payung dari berbagai komponen rujukan. Sedangkan pedoman rujukan yang dikembangkan ini diharapkan dapat menjadi petunjuk teknis pelaksanaan berbagai komponen rujukan pelayanan kesehatan dalam bentuk keputusan Kepala Dinas Kesehatan.
Untuk mendapatkan masukan perbaikan bagi sistem dan pedoman rujukan ini, maka diperlukan adanya sebuah pertemuan dalam bentuk workshop untuk dapat menghasilkan dokumen akhir (final) Sistem Rujukan Kesehatan terpadu dan pedoman rujukan bagi Kabupaten Mimika.
Tujuan
Tujuan Umum: Kegiatan ini bertujuan untuk menjelaskan isi dari Pengembangan Sistem Rujukan dan Pedoman 9 penyakit spesifik yang telah disusun bagi kabupaten Mimika. Secara khusus workshop ini bertujuan untuk
- Menjelaskan isi Pengembangan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan terpadu di Kabupaten Mimika
- Menjelaskan Pedoman Rujukan untuk 9 Penyakit spesifik
- Revisi Sistem dan Pedoman rujukan
- Finalisasi Sistem dan Pedoman rujukan
- Diskusi Rencana Tindak Lanjut, Penerapan dan Evaluasi Sistem dan Pedoman Rujukan
Peserta
Pertemuan ini diharapkan dapat diikuti oleh Kepala Puskesmas Timika, direktur RSUD, RSMM, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika dan pelaksana rujukan (perawat, bidan, dokter, dll) baik di Puskesmas, RSUD, RSMM maupun Dinkes.
Tim Fasilitator
Fasilitator akan berasal dari tim Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), yang terdiri dari:
- Dr. Hanevi Djasri, MARS
- Armiatin, SE, MPH
- dr. M. Hardhantyo Puspowardoyo
Waktu dan Tempat
Hari & tanggal : 11-13 Juni 2015
Jam : 09.00 – 16.00 WIB
Agenda Kegiatan
|
Waktu |
Kegiatan |
Fasilitator |
||
|
Hari I (11 Juni 2015) |
||||
|
08:30-09:00 |
Registrasi |
Panitia |
||
|
09:00-09:30 |
Pembukaan acara |
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika |
||
|
9.30-10:30 |
Armiatin, SE, MPH |
|||
|
10:30-12.00 |
Diskusi Kelompok Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan terhadap Sistem dan Pedoman Rujukan Peserta dibagi 4 kelompok yang terdiri dari Puskesmas, RS dan Dinkes (masing-masing kelompok membahas 1 bab draf sistem rujukan) |
dr. Muhammad . Hardantyo Puspowardoyo
4 Kelompok |
||
|
12.00-13.00 |
Lunch Break |
Panitia |
||
|
13.00-14.30 |
Diskusi Kelompok Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan terhadap Sistem Rujukan |
4 Kelompok |
||
|
14.30-16.00 |
Presentasi Hasil Kelompok |
4 Kelompok |
||
|
Hari II (12 Juni 2015) |
||||
|
09.00-09.30 |
Review Hari 1 |
|
||
|
09:30-11:00 |
dr. Muhammad . Hardantyo Puspowardoyo |
|||
|
11.00-12.00 |
Diskusi Kelompok Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan terhadap pedoman penyakit |
4 Kelompok |
||
|
12.00-13.00 |
Lunch Break |
|
||
|
13.00-14.00 |
Dibagi 4 kelompok Diskusi Kelompok Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan terhadap pedoman penyakit |
4 Kelompok |
||
|
14.00-15.20 |
Presentasi Hasil Kelompok (Masing-masing Kelompok, Presentasi selama 20 menit) KELOMPOK I KELOMPOK II KELOMPOK III
|
4 Kelompok |
||
|
15:20-16:00 |
Diskusi rencana Penerapan dan Evaluasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Primer
|
dr. Muhammad . Hardantyo Puspowardoyo |
||
|
Hari III (13 Juni 2015) Kunjungan lapangan ke Puskesmas Timika |
||||
catatan
Pera peserta diharapkan membawa Notebook
[/tab_item][/tabs]