Tindakan Kemenkes RI demi Cegah Bakteri Listeria

apelKementerian Kesehatan Republik Indonesia menanggapi cepat kasus listeriosis (Listeria) yang membuat publik kaget. Melalui Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dr. H. M. Subuh, MPPM menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada laporan kejadian luar biasa (KLB) berupa keracungan pangan akibat mengonsumsi buah apel impor yang dilaporkan dari daerah.

Continue reading

Laporan Kegiatan PELATIHAN AUDIT KLINIS

Laporan Kegiatan

PELATIHAN AUDIT KLINIS
Sebagai bagian dari kegiatan Sustainable Hospital Delivery Managing System
for TB and MDR-TB Care (HDMS TB/MDR-TB) Phase 2

kerjasama antara
RSUP Dr. Sardjito, RS Bethesda, RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan PKMK FK UGM

  Pendahuluan

Mutu pelayanan kesehatan masyarakat khususnya di rumah sakit perlu terus ditingkatkan demi meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. Salah satu upaya yang dinilai mempunyai peranan yang sangat penting adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang bermutu. Keberhasilan upaya tersebut dapat dinilai melalui peningkatan mutu pelayanan. Rumah sakit adalah lembaga yang terutama memberikan pelayanan klinik, sehingga mutu pelayanan klinik merupakan indikator penting bagi baik buruknya rumah sakit. Baik buruknya proses pelayanan klinik dipengaruhi oleh penampilan kinerja para dokter, perawat dan tenaga klinik lainnya.

Salah satu upaya menjamin mutu pelayanan kesehatan adalah dengan konsep clinical governance. Kegiatan untuk menerapkan konsep dasar clinical governance terdiri dari kegiatan audit klinik, menyediakan data klinik dengan mutu yang baik, pengukuran outcome, manajemen risiko klinik berdasarkan evidence, manajemen kinerja klinik yang buruk, dan mekanisme untuk memonitor outcome pelayanan.

Audit klinik meliputi audit medis dan audit keperawatan, dilaksanakannya audit medis dan keperawatan saat ini semakin dirasa penting tidak saja dari segi manfaat tetapi karena audit medis dan keperawatan juga menjadi salah satu instrumen akreditasi rumah sakit. Audit klinik dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan klinik secara kontinyu kepada pasien.

Audit Klinik juga menjadi salah satu bentuk intervensi peningkatan mutu dalam program Sustainable Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Care yang dikoordinasi oleh Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan bekerjasama dengan Otsuka Foundation. Kegiatan ini akan diselenggarakan di tiga rumah sakit yang terlibat, yaitu RSUP Dr. Sardjito, RS Bethesda, dan RSI Cempaka Putih.

  Tujuan kegiatan

  1. Meningkatkan ketrampilan staf dalam melaksanakan audit klinik
  2. Mengaudit pelayanan TB sebelum dilakukan intervensi SHDMS
  3. Mengaudit pelayanan TB setelah dilakukan intervensi SHDMS
  4. Memberikan saran-saran perbaikan pada RS terkait dengan pelayanan TB

Narasumber dan Pelaksana kegiatan

  1. dr. Hanevi Djasri, MARS
  2. dr. Trisasi Lestari, M.Med.Sc
  3. dr. Nandy Wilasto, MPH
  4. Hary Sanjoto, S.Sos, MPH

  Pelaksanaan

Hari 1 : Pelatihan Audit Klinik
Sesi 1 : Audit Klinik dalam Peningkatan Mutu di RS
Sesi 2 : Pemilihan topik dan pedoman klinis
Sesi 3 : Penyusunan instrumen audit klinik
Sesi 4 : Pengambilan data dan pelaporan hasil audit

Hari 2 : Ujicoba audit klinik
Sesi 1 : Pengenalan instrumen audit klinik
Sesi 2 : Pengambilan data
Sesi 3 : Pengambilan data
Sesi 4 : Analisa data dan pelaporan hasil

  Waktu dan Tempat Kegiatan

Waktu    : Senin dan Selasa, 26-27 Januari 2015
Jam       : 08.30 – 16.00
Tempat  : Lab. Leadership Gedung IKM Lama Lantai 3 
              Sayap Timur Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

 Peserta

Tim pelaksana audit klinis di RS atau tim peningkatan mutu pelayanan klinis di RS. Bisa terdiri dari dokter dan perawat.
Jumlah peserta dari setiap RS diharapkan 5 orang.

Bahan pelatihan

  1. Copy Rekam Medik
    Setiap RS diharapkan membawa fotocopy RM pasien TB yang terdaftar pada tahun 2014 di rawat inap dan rawat jalan sebanyak 25 Rekam Medik, sehingga setiap peserta dapat melakukan audit pada 5 Rekam Medik. Rekam Medik difotocopy utuh, apa adanya.
  2. Daftar Pasien TB Rawat Inap dan Rawat Jalan
    Setiap RS diminta untuk membawa daftar pasien baru TB (IC.X. 16.00 – 19.- – dan TB MDR, termasuk dgn komplikasi HIV dan lainnya) yang terdaftar selama tahun 2014 (Januari – Desember) untuk simulasi sampling audit klinik.
  3. Instrumen Audit Klinik
    Instrumen audit klinik akan disediakan oleh panitia penyelenggara, dalam bentuk file dan printout.

  Kegiatan Pelatihan Audit Klinis

Pelatihan Audit Klinis dilaksanakan pada tanggal 26 – 27 Januari 2015 di Ruang Leadership Gedung IKM (lama) Lantai 3 sayap timur. Kegiatan ini dimulai jam 09.00. Narasumber dalam pelatihan ini adalah dr. Hanevi Djasri, MARS. Pada pelatihan hari ini dihadiri wakil wakil dari RS Bethesda (5 orang)dan RSUP Dr. Sardjito (6 orang). Sedangkan RS Islam Jakarta Cempaka Putih pelaksanaannya ditunda, dikarenakan ada acara yang bersamaan. Untuk itu maka pelatihan audit ini akan dilakukan secara khusus pada tanggal lain. Wakil-wakil dari rumah sakit yang mengikuti pelatihan ini terdiri dari Perawat Poliklinik Paru, Unit Peningkatan Mutu, Bagian Rekam Medis, dan Perawat Rawat Inap khusus pasien TB dan TB MDR.

Judul materi pelatihan audik klinik ini adalah Pelaksanaan Audit Medik/Klinik di Rumah Sakit. Pada hari pertama ini dijelaskan tentang apa dan bagaimana audit klinis, dan bagaimana mengorganisasian data. Bagaimana audit klinis ini diawali dengan pengorganisasian audit klinis. Pengorganisasian audit klinis dapat dilakukan oleh Komite Medik atau biasa dikenal dengan Sub Komite Mutu Profesi, atau oleh Tim Ad Hoc Audit Medik (tim yang sengaja dibentuk dalam rangka audit medik), Dan yang terakhir dilakukan oleh Asisten Audit Medik. Pengorganisasian yang terakhir ini biasanya dilakukan oleh Bagian Rekam Medik.

29jan15-1Poin pertama dalam pelatihan audit klinis ini adalah pemilihan topik. Pemilihan topik ini berdasar data rutin rumah sakit, survey kepuasan pasien, observasi pemberian pelayanan, dan masukan dari direksi, asuransi, atau unit-unit lain di rumah sakit. Selain itu juga sangat perlu untuk dipertimbangkan dalam pemilihan topik yang akan diaudit adalah, bahwa topik yang akan diaudit dapat diperbaiki, high risk, high cost, high volume, dan high problem. Selain itu juga diperlukan adanya dukungan atau konsensus dari para klinisi, serta topik ini sudah ada clinical guidelines-nya. Dalam menentukan topik yang akan diaudit akan digunakan skoring dari 1 sampai 10.

Tujuan dari penentuan topik ini adalah memastikan adaanya memperbaiki mutu, artinya tidak hanya “menghitung jumlah” atau “memeriksa” tapi lebih pada usaha peningkatan mutu pelayanan. Sasaran dalam kegiatan ini untuk meyakinkan bahwa topik tersebut Appropriateness, Timeliness, dan juga Effectiveness. Sasaran lainnya adalah Acceptability, Accessibility, Efficiency, Equity.

Poin kedua, adalah penetapan kriteria. Maksud dari kriteria adalah bukti yang diperlukan dan yang harus ada, misalanya bahwa penderita telah diberikan pelayanan pada taraf yang seoptimal mungkin. Kriteria yang dapat dilakukan audit klinis adalah Proses diagnosis (bukan kriteria diagnosis), Proses terapi, misalnya tindakan, bedah, dsb, dan Output. Meski agak sulit karena akan terkait dengan faktor lain (penyakit penyerta), status keluar rumah sakit, LOS, kematian, komplikasi.

Dalam menentukan dan menuliskan kriteria menggunakan akronim SMART

  • Specific: bersih, tidak ambigu dan bebas bumbu-bumbu “politik”
  • Measureable: dapat diukur
  • Agreed: disetujui oleh semua pihak
  • Relevant: relevan
  • Theoretically sound: berdasarkan bukti klinis yang terbaik dan terbaru

Lebih lanjut dijelaskan oleh dr. HaneviDjasri, MARS, tentang poin ke 3, yaitu Pengumpulan Data. Dalam pengumpulan data ada beberapa hal yang perlu disiapkan yaitu,

  • Tentukan variabel yang mungkina akan mempengaruhi hasil
  • Tentukan cara pengambilan data
  • Tentukan jumlah sampel

29jan15-2Setelah dilakukannya penjelasan tentang audit klinis, mulai dari pemilihan topik hingga pengumpulan data, maka peserta diminta mempraktekkan. Praktek audit klinis ini berdasarkan CP-CP yang telah disusun oleh masing masing rumah sakit. RS Bethesda telah menyusun 5 CP yaitu kasus TB Dewasa di Rawat Jalan, TB Dewasa di Rawat Inap, TB Dewasa dengan Hepatitis Drugs Induce, TB Paru Dewasa dengan HIV, dan TB Paru pada Anak di Rawat Jalan. Sedangkan RSUP Dr. Sardjito 2 CP yaitu kasus TB Paru Dewasa dengan Multi Drug Resisten (TB MDR) dan TB Paru pada Anak Rawat Inap.

Pada hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan poin ke empat, yaitu Analisa Data.

Dalam analisa data ada beberapa catatan sebelum dilakukan analisa data, yaitu ;

  • Re-check: analisa penyimpangan
  • Memastikan apakah hasil audit menurut asisten audit sudah benar (yang disebut menyimpang benar-benar menyimpang)
  • Identifikasi karakteristik sampel audit, apakah dapat mewakili seluruh populasi
  • Menghitung tingkat kepatuhan secara umum
  • Mengidentifikasi pola penyimpangan
  • Mengidentifikasi penyebab penyimpangan

Dalam analisa data dapat menggunakan grafik histogram atau scatter diagram disesuaikan dengan kasus yang dilihat. Akan tetapi dalam analisa data permasalahan yang paling mudah dilakukan adalah denggan diagra ishikawa (Diagram Tulang Ikan) dengan 6 elemen yang dipertimbangkan yaitu method, management, material, machine, measurement, dan man.

Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah yaitu, a). Administrasi/ manajemen RS (fasilitas, peralatan, kebijakan), b). Staf/ Bagian Pelayanan Medik, c). Anggota SMF/ individual, d). Pelayanan medik khusus (Lab, X-ray, anestesi, dll), e). Unit/ Pelayanan Keperawatan, f). Perawat/ individual, g). Pelayanan terapi bukan oleh dokter, h). Kondisi atau ketidaktaatan pasien, i). Faktor masyarakat, j). Perlu penyelidikan lebih lanjut.

29jan15-3Poin kelima adalah Menetapkan Perubahan. dr. Hanevi Djasri, MARS, mengutip Baker et al. (1999) dalam melihat siklus audit klinis yaitu “Bagian terpenting dari siklus audit adalah membuat perubahan”. Dengan telah terjadinya perubahan untuk perbaikan maka audit klinis ini dapat dikatakan sukses.

Poin keenam yaitu tindak lanjut perubahan yang efektif. Ada beberapa catatan dalam tindak lanjut perubahan yaitu, ditujukan pada yang kompeten, ada batas waktu, tanggung jawab ditegaskan & dikomunikasikan, dibuat rencana tindakan secara detail (POA), dan permasalahan, rencana tindakan, pelaksana, batas waktu, persetujuan yang berwenang. Dalam sesi ini pelatihan ini dilanjutkan dengan latihan penyusunan POA oleh semua peserta.

Poin terakhir (ketujuh) dalam pelatihan audit klinis ini adalah Re-Audit, yaitu melakukan audit klinis ulang setelah selesai melakukan intervensi, meliputi:

  • Audit terhadap pasien yang datang setelah intervensi
  • Jumlah rekam medis yang hampir sama
  • Kriteria dan Perkecualian yang sama
  • Evaluasi apakah telah ada perbaikan, bila tidak maka perlu dirumuskan tindak lanjut yang baru

Pelatihan audit klinis diakhiri pada pukul 14.00 dengan mengenalkan website Sustainable Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Care (HDMS TB/MDR-TB) Phase 2 ke peserta yang dapat diakses dari website Divisi Manajemen Rumah Sakit PKMK FK UGM ( www.manajemenrumahsakit.net ) atau ke website Divisi Mutu Pelayanan Kesehatan PKMK FK UGM ( www.mutupelayanankesehatan.net ).

Demikian Laporan Kegiatan Pelatihan Audit Klinis kami laporkan.

 

 

 

Obama wants doctors’ pay linked to quality of care

The proposed system overhaul aims at improving patients’ care and cutting wasteful spending.

The Obama administration on Monday announced an ambitious goal to overhaul the way doctors are paid, tying their fees more closely to the quality of care rather than the quantity.

Continue reading

DPRD Jatim Siapkan Perda Pelayanan Tenaga Kesehatan

Untuk menyaring tenaga kesehatan yang akan masuk ke Jatim terutama dalam menghadapi MEA 2015, Komisi E DPRD Jatim menyiapkan Perda pelayanan tenaga kesehatan masyarakat.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Herry Sugihono mengatakan dengan adanya perda tersebut diharapkan bisa menjadi standarisasi bagi tenaga ahli kesehatan atau dokter yang akan buka praktek di Jatim.

Continue reading

Tanggapan Rumah Sakit Tentang Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

  Pengantar

Sistem JKN telah mengubah pola pembiayaan dan pelayanan kesehatan di rumah-rumah sakit di Indonesia. Perubahan ini memunculkan berbagai tantangan yang harus disikapi dengan bijak bagi pelaku sektor kesehatan. Penting untuk mengubah mindset agar siap melahirkan inovasi baru di rumah sakit. Beberapa rumah sakit di Indonesia telah menunjukkan sikap dan tanggapan terkait perubahan sistem kesehatan ini.

Tanggapan Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.BTKV Dirut RS PELNI – Jakarta

  1. Healthcare Transformation and Innovation Challenges
    Apa saja perubahan dalam sistem layanan kesehatan di era JKN ini dan bagaimana berinovasi untuk menjawab segala tantangan yang ada? Silakan simak video berikut:  

  2. Potensi Fraud di Rumah Sakit
    Salah satu tantangan yang muncul dalam era JKN ini adalah faud layanan kesehatan yang terjadi di rumah sakit. Apa saja bentuk-bentuk fraud yang mungkin terjadi di rumah sakit? Apa saja upaya yang dapat dilakukan di rumah sakit untuk mengidentifikasinya? Silakan simak video berikut:

Contoh Strategi Rumah Sakit untuk Mencegah dan Meminimalisir Fraud Layanan Kesehatan

  Pengantar

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa fraud layanan kesehatan sebagian besar dilaksanakan oleh klinisi, baik secara individu maupun berkelompok seperti di rumah sakit. Berbagai faktor menjadi penyebab munculnya fraud dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), salah satunya adalah persepsi bahwa tarif INA CBG’s yang terlalu rendah. Persepsi macam ini selain menimbulkan niat untuk melakukan kecurangan, juga menimbulkan niat untuk menurunkan mutu layanan kesehatan. Kondisi ini kadang diperparah dengan adanya “legalisasi” dari manajemen rumah sakit sebagai upaya “menyelamatkan” rumah sakit.

Sebenarnya rumah sakit juga memiliki peran mulai dari upaya pencegahan, deteksi hingga penindakan fraud secara internal. Peran ini diemban baik oleh manajemen dan klinisi. Manajemen berfokus kepada pendekatan-pendekatan yang untuk menunjang pelayanan yang efisien. Klinisi berfokus memberi pelayanan terbaik bagi peserta jaminan. Untuk mendukung perannya, manajemen butuh wawasan dan keterampilan yang baik. Pembelajaran dapat berasal dari mana saja, baik dari teori maupun dari pengalaman rumah sakit lain. Untuk membantu proses belajar, kami sajikan video pengalaman beberapa rumah sakit untuk mencegah dan meminimalisir fraud.

Pengalaman Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.BTKV Dirut RS PELNI – Jakarta

  Lean Management

Dalam video yang kami sajikan berikut, Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp. BTKV bercerita mengenai lean management sebagai upaya pencegahan fraud. Lean management adalah pendekatan manajemen untuk menghilangkan pemborosan dan menghargai pegawai. Filosofinya adalah memberi pelayanan terbaik dengan harga terrendah. Lean management merupakan sebuah budaya yang melibatkan organisasi.

Bagaimana Dr. Fathema menerapkan lean management sebagai upaya pencecagahan fraud di rumah sakitnya? Simak video berikut:

 

 

Online tool simplifies healthcare complexities

When trying to make educated decisions, it’s easy to get overwhelmed by the sheer volume of information available online.

But one digital resource in Greater Cincinnati is drilling down healthcare quality metrics and creating a one-stop shop for healthcare consumers, providers and insurance payers.

Continue reading

Pasien BPJS Diperbolehkan Cari Rumah Sakit Lain

Pasien yang sulit mendapatkan kamar rawat inap di satu rumah sakit tidak perlu menunggu berhari-hari.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah bekerja sama dengan banyak rumah sakit, sehingga pasien dapat mencari rumah sakit lain.Kecuali untuk penyakit tertentu. Misalnya bedah syaraf dan kanker yang saat ini hanya ada di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan.

Continue reading

Top Healthcare Quality Issues for 2015, Part 1

mediaSix quality issues warrant the attention of healthcare leaders: misdiagnoses, star ratings, socioeconomic adjustment for readmissions, the end of Partnership for Patients programs, Medicaid parity expiration, and Disproportionate Share Hospital cuts.

Healthcare has experienced fascinating changes during the last few years, and 2015 will be no exception.

Major programs stemming from the Patient Protection and Affordable Care Act are well under way, dozens of new quality measures and data galore are flowing into the public domain, and quality of care remains in the spotlight for providers at all levels.

Continue reading