Ketahanan Gizi sebagai Pilar Mutu Pelayanan Kesehatan

Ketahanan Gizi sebagai Pilar Mutu Pelayanan Kesehatan

Masih banyak yang belum mengetahui bahwa mutu pelayanan kesehatan sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh keterampilan tenaga kesehatan atau teknologi medis. Kemampuan sistem kesehatan untuk memastikan pasien mendapatkan akses makanan bergizi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan juga sangat penting untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. Artikel Blankenship dan Blancato (2022) menjelaskan bahwa ketahanan gizi atau nutrition security kini tengah menjadi isu utama dalam aspek health equity dan quality care. Konsep nutrition security berbeda dengan food security. Jika food security berfokus pada ketersediaan makanan, nutrition security menekankan pentingnya konsistensi terhadap akses makanan sehat yang mampu mendukung kesehatan dan mencegah penyakit secara optimal. 

Social Determinants of Health (SDOH) merupakan faktor yang sangat mempengaruhi ketidakmampuan akses nutrition security di lingkungan masyarakat. Faktor ini terdiri dari kemiskinan, akses pangan, transportasi, pendidikan, dan lingkungan tempat tinggal. Ketidakmampuan memperoleh akses makanan bergizi diketahui dapat meningkatkan risiko malnutrisi, penyakit kronis, hingga penurunan kualitas hidup. Kelompok yang paling rentan mengalami kondisi ini adalah lansia, ras minoritas, dan masyarakat berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, kebijakan kesehatan modern mulai bergeser dari sekadar memastikan kecukupan kalori menuju pendekatan yang lebih luas terhadap kualitas gizi. Sebagai contoh, peningkatan akses konsumsi makanan yang tidak sehat merupakan salah satu faktor terbesar penyebab penyakit kronis di Amerika Serikat. Dalam kasus lainnya, survei nasional di Amerika Serikat menunjukkan jutaan lansia dengan penyakit kronis masih mengalami kekurangan makanan setiap minggu. 

Blankenship dan Blancato (2022) juga menyoroti masalah besar yang sering luput di rumah sakit, yaitu rendahnya identifikasi malnutrisi pada pasien rawat inap. Penelitian menunjukkan sekitar 20–50% pasien di rumah sakit sebenarnya berisiko mengalami malnutrisi atau sudah mengalami malnutrisi saat masuk rumah sakit. Pasien yang berhasil didiagnosis secara resmi diketahui hanya sekitar 9%. Hal ini terjadi akibat keterbatasan sistem informasi rumah sakit, kurangnya dokumentasi gizi di rekam medis elektronik, dan minimnya pelatihan tenaga kesehatan terkait gizi klinis.

Dalam sisi pembiayaan kesehatan, malnutrisi diketahui memiliki dampak yang sangat besar. Pasien malnutrisi memiliki kemungkinan 54% lebih tinggi mengalami rawat inap dalam 30 hari setelah keluar dari rumah sakit dibandingkan pasien tanpa malnutrisi. Biaya rawat ulang tersebut dapat mencapai hampir 17.000 dolar AS per pasien sehingga diperkirakan menimbulkan peningkatan beban ekonomi setiap tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada intervensi nutrisi tidak hanya sekadar program promotif tetapi juga strategi efisiensi biaya pelayanan kesehatan.

Sebagai solusi dari masalah di atas, Centers for Medicare & Medicaid Services (CMS) di Amerika Serikat mulai mengadopsi Global Malnutrition Composite Score (GMCS) sebagai indikator mutu rumah sakit. Indikator ini menilai kualitas proses pelayanan gizi mulai dari skrining malnutrisi, asesmen gizi oleh ahli gizi, penyusunan rencana intervensi gizi, dan dokumentasi diagnosis malnutrisi. CMS menunjukkan bahwa pelayanan gizi kini dipandang sebagai bagian penting dari mutu pelayanan rumah sakit yang sejajar dengan keselamatan pasien dan efektivitas terapi medis lainnya.

Artikel ini memberikan pesan bahwa penguatan sistem nutrition security dan integrasi data nutrisi ke dalam indikator mutu rumah sakit sangat penting. Skrining gizi seharusnya menjadi bagian rutin dari pelayanan pasien lansia dan penyakit kronis. Dokter, perawat, dan ahli gizi perlu bekerja secara kolaboratif untuk memastikan status gizi pasien dinilai sejak awal perawatan hingga proses transisi pulang. Selain itu, edukasi terkait pola makan sehat dan akses pangan juga dapat dimasukkan ke dalam strategi dan pelayanan komunitas. Secara keseluruhan, nutrition security bukan hanya sekadar isu pangan melainkan juga bagian penting dari mutu pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.

 

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:

 

Peran Perspektif Tenaga Kesehatan dan Pasien dalam Mutu Pelayanan Kesehatan

Peran Perspektif Tenaga Kesehatan dan Pasien dalam Mutu Pelayanan Kesehatan

Selama ini, mutu pelayanan kesehatan seringkali hanya dinilai dari indikator umum seperti keselamatan pasien, efektivitas terapi, atau efisiensi layanan. Namun, studi kualitatif oleh Hannawa et al. (2022) menunjukkan bahwa pemahaman tentang mutu sebenarnya jauh lebih kompleks terutama jika dilihat dari perspektif tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan pasien. Studi Hannawa et al. (2022) telah mengumpulkan 97 pengalaman terkait pelayanan kesehatan dengan kategori “sangat baik” dan “sangat buruk” dari tiga kelompok di 8 rumah sakit. Kelompok tersebut kemudian dianalisis berdasarkan tiga dimensi utama, yaitu struktur, proses, dan luaran pelayanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek yang paling sering dianggap menentukan mutu bukanlah fasilitas atau jumlah tenaga kesehatan melainkan proses pelayanan itu sendiri. Sekitar 50% temuan berkaitan dengan bagaimana pelayanan diberikan terutama menyangkut komunikasi, motivasi tenaga kesehatan, dan kemampuan klinis. Temuan ini menegaskan bahwa mutu pelayanan tidak hanya ditentukan oleh “apa” yang diberikan tetapi juga “bagaimana” pelayanan tersebut disampaikan kepada pasien.

Komunikasi muncul sebagai elemen kunci yang konsisten di semua kelompok. Seluruh tenaga kesehatan baik dokter, perawat, maupun pasien sepakat bahwa komunikasi yang efektif, akurat, jelas, kontekstual, dan adaptif menjadi penentu utama mutu pelayanan. Sebaliknya, kegagalan komunikasi sering menjadi akar dari pelayanan yang buruk mulai dari kesalahan diagnosis, keterlambatan tindakan, dan ketidakpuasan pasien. Bagi pasien, aspek empati, perhatian, dan kemampuan tenaga kesehatan untuk menyesuaikan komunikasi dengan kebutuhan emosional mereka menjadi sangat penting.

Selain komunikasi, faktor motivasi tenaga kesehatan juga menjadi sorotan utama. Pelayanan berkualitas tinggi sering dikaitkan dengan tenaga kesehatan yang menunjukkan dedikasi, kepedulian, dan kemauan untuk “melampaui ekspektasi” dalam merawat pasien. Sebaliknya, sikap tidak profesional, terburu-buru, atau kurang peduli diasosiasikan dengan pelayanan yang buruk. Sementara itu, kesalahan berbasis pengetahuan seperti diagnosis yang keliru atau terapi yang tidak tepat juga menjadi indikator kuat rendahnya mutu pelayanan.

Secara keseluruhan, studi ini tidak hanya menyoroti hasil klinis seperti kesembuhan atau komplikasi tetapi juga aspek psikologis dan emosional pasien seperti rasa percaya, ketenangan, dan kepuasan. Selain itu, terdapat juga penemuan menarik terkait dua konsep baru: Hippocratic pride dan rapid reactivity. Hippocratic pride menggambarkan rasa bangga tenaga kesehatan atas keberhasilan pelayanan yang justru dianggap sebagai indikator mutu oleh semua pihak. Sementara itu, rapid reactivity merujuk pada kemampuan sistem atau tenaga kesehatan untuk merespons dengan cepat terhadap kesalahan atau kegagalan termasuk melakukan evaluasi dan perbaikan dini.

Implikasi temuan penelitian ini sangat relevan bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan upaya peningkatan mutu tidak cukup hanya berfokus pada indikator struktural atau luaran tetapi juga memperhatikan penataan ulang proses pelayanan khususnya dalam komunikasi interpersonal dan budaya kerja profesional. Dalam sisi rumah sakit, budaya mutu yang sehat perlu dibangun dengan tidak hanya menghargai keberhasilan tetapi juga responsif terhadap kesalahan tanpa budaya menyalahkan.

Pada akhirnya, mutu pelayanan kesehatan adalah refleksi dari pengalaman dari yang pemberi dan penerima layanan. Mengabaikan perspektif tenaga kesehatan dan pasien dapat menimbulkan risiko hilangnya esensi mutu itu sendiri. Pelayanan kesehatan yang benar-benar bermutu sejatinya adalah pelayanan yang tidak hanya menyembuhkan tetapi juga dipahami, dirasakan, dan dihargai oleh semua pihak yang terlibat.

 

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Sumber:

Webinar Series Mutu Corner: Belajar dari Expert, Bergerak untuk Perbaikan Mutu

Webinar Series Mutu Corner: Belajar dari Expert, Bergerak untuk Perbaikan Mutu

Upaya peningkatan mutu layanan kesehatan dan keselamatan pasien merupakan bagian integral dari transformasi sistem kesehatan Indonesia. Standar, indikator, dan praktik manajemen mutu telah dikembangkan, namun kemampuan tenaga kesehatan dalam memahami, menerapkan, dan mengembangkan perbaikan secara konsisten masih perlu diperkuat. Selain keterbatasan pelatihan tatap muka, pembelajaran di lapangan menunjukkan bahwa tenaga kesehatan membutuhkan wadah diskusi yang rutin, berbasis pengalaman nyata, menghadirkan expert, serta mendorong aksi langsung di fasilitas.

Menjawab kebutuhan tersebut, PKMK FK-KMK UGM menginisiasi kegiatan Mutu Corner, sebagai forum pembelajaran mutu secara Rutin yang menghubungkan teori dan praktik untuk mendorong perbaikan mutu layanan kesehatan di Puskesmas, Rumah Sakit, dan institusi kesehatan lainnya.

Tujuan Umum

Meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengelola dan memperbaiki mutu layanan kesehatan melalui pembelajaran serial berbasis teori dan berbagi best praktik.

Tujuan Khusus

  1. Memberikan wawasan dan keterampilan kepada peserta dalam konsep, metode, dan implementasi mutu layanan dan keselamatan pasien.
  2. Memfasilitasi tukar pengalaman antar fasilitas dan wilayah.
  3. Menghubungkan peserta dengan narasumber ahli dan praktisi lapangan.
  4. Mendorong peserta melakukan aksi perbaikan sederhana namun berkelanjutan.

Sasaran

  1. Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur/Manajer/Ketua Komite Mutu/Kepala Instansi/Kepala Unit RS, Kepala Puskesmas, Pimpinan Balai Kesehatan, serta pimpinan klinik dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.
  2. Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, organisasi profesi, lembaga asuransi/pembiayaan kesehatan (BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan swasta/perusahaan), lembaga akreditasi fasyankes, LSM bidang kesehatan, dan sebagainya.
  3. Klinisi: dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
  4. Mahasiswa: S1, S2, pendidikan dokter spesialis, S3.
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: perguruan tinggi, peneliti, konsultan, dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu pelayanan kesehatan.

 

Jadwal Seri Webinar

Topik: Apakah Mutu hanya sekedar konsep atau cara kerja?

   Kamis, 26 Februari 2026

   Narasumber:

    • dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP
    • Moderator: Andriani Yulianti, MPH

SELENGKAPNYA

 

Topik: PDCA sebagai Cara Kerja: Dari Identifikasi Masalah Menuju Perbaikan Berkelanjutan

  • PDCA (Plan, Do, Check, Action) sebagai cara kerja: dari identifikasi masalah menuju perbaikan berkelanjutan
  • Strategi menerjemahkan masalah mutu layanan kesehatan ke dalam PDCA (Plan, Do, Check, Action)

   Jumat, 24 April 2026

   Narasumber:

    • Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH, Ph.D.
    • dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL
    • Moderator: Andriani Yulianti, MPH

SELENGKAPNYA

 

Topik: Akreditasi Selesai, Apakah Keselamatan Pasien Tetap Terjaga? Mengungkap Realita Sasaran Keselamatan Pasien di Lapangan”

  • Sasaran Keselamatan Pasien: Kepatuhan atau Budaya?
  • Di Balik Akreditasi: Tantangan dan Strategi Menerapkan Keselamatan Pasien Sehari-hari

   Rabu, 20 Mei 2026

   Narasumber:

    • dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP
    • dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, FISQua, CRP
    • Moderator: Novika Handayani

 

 

Topik: Insiden Keselamatan Pasien: Ancaman atau Kesempatan Belajar?

  • Insiden Keselamatan Pasien: Ancaman atau Kesempatan Belajar?
  • Membangun Budaya Aman di Fasilitas Kesehatan

   Jumat, 26 Juni 2026

   Narasumber:

    • Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH, Ph.D.
    • dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL
    • Moderator:Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

       

 

 

Topik Belajar dari Insiden: Pendekatan Menuju Perbaikan Sistem Pelayanan

  • Belajar dari Insiden: Pendekatan Menuju Perbaikan Sistem Pelayanan
  • Dari Pelaporan hingga Perbaikan: Siklus Pembelajaran Insiden di Fasilitas Kesehatan

   Jumat, 24 Juli 2026

   Narasumber:

    • dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP
    • dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, FISQua, CRP
    • Moderator: Andriani Yulianti, MPH

 

 

Topik Audit Klinis: Mengungkap Kesenjangan antara Standar dan Praktik Pelayanan

  • Pendekatan Sistematis Kerangka Audit Klinis dalam Peningkatan Mutu Layanan Kesehatan
  • Pengalaman Implementasi Audit Klinis: Menjembatani SOP dan Praktik di Lapangan

   Jumat, 21 Agustus 2026

   Narasumber:

    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
    • dr. Novi Zain Alfajri, M.P.H.

 

 

Topik Data Berlimpah, Minim Perubahan: Mengubah Data Mutu Menjadi Keputusan Nyata**

  • Data melimpah, Minim Perubahan: Fenomena DRIP di Fasilitas Kesehatan
  • Dari Data ke Aksi: Bagaimana Data Digunakan untuk Mengubah Pelayanan”

   Jumat, 25 September 2026

   Narasumber:

    • dr. M. Hardhantyo, MPH., PhD

 

 

Topik Dari Reaktif ke Antisipatif: Cara Membangun Budaya Risiko di Fasilitas Kesehatan

   Jumat, 23 Oktober 2026

   Narasumber:

    • dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP
    • dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, FISQua, CRP

 

 

Topik Kepemimpinan Mutu dan Keselamatan Pasien: Dari Komitmen ke Perubahan Nyata di Fasilitas Kesehatan

   Jumat, 20 November 2026

   Narasumber:

    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
    • dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL

 

 

Narasumber / Fasilitator

Narasumber merupakan peneliti di Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM
atau praktisi berpengalaman dalam manajemen mutu.

Biaya dan Fasilitas

Biaya pendaftaran: Rp 50.000,00

Fasilitas yang akan didapatkan peserta:

  1. Sertifikat
  2. Materi dalam bentuk pdf
  3. Rekaman 

Narahubung

Qonita (0851-1744-8499)