Pelatihan Optimalisasi Clinical Pathways: Strategi Penyusunan, Implementasi, dan Evaluasi untuk Meningkatkan Mutu dan Efisiensi Pelayanan Rumah Sakit

Pelatihan Optimalisasi Clinical Pathways: Strategi Penyusunan, Implementasi, dan Evaluasi untuk Meningkatkan Mutu dan Efisiensi Pelayanan Rumah Sakit

Clinical Pathways (CP) merupakan salah satu instrumen yang digunakan rumah sakit untuk mengintegrasikan pelayanan klinis berdasarkan bukti ilmiah, mengurangi variasi praktik yang tidak diperlukan, meningkatkan koordinasi antarprofesi, serta mendukung peningkatan mutu dan efisiensi pelayanan. Melalui penerapan CP, proses pelayanan diharapkan menjadi lebih terstandar, terkoordinasi, berorientasi pada pasien, dan sesuai dengan sumber daya yang tersedia.

Namun, tersedianya dokumen CP belum menjamin bahwa CP akan diterapkan secara efektif dalam praktik. Keberhasilan implementasinya dipengaruhi oleh berbagai faktor pada tingkat individu, tim pelayanan, maupun organisasi, seperti pemahaman dan penerimaan tenaga kesehatan, koordinasi antarprofesi, ketersediaan sumber daya, dukungan manajemen, serta efektivitas mekanisme monitoring dan evaluasi.

Dalam praktik pelayanan di rumah sakit, tantangan tersebut dapat terlihat dari rendahnya kepatuhan terhadap CP, ketidaksesuaian antara CP dan praktik pelayanan, masih adanya variasi dalam pelaksanaan pelayanan, serta belum optimalnya pemanfaatan hasil audit sebagai dasar perbaikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa CP perlu dipandang bukan sekadar sebagai dokumen administratif, tetapi sebagai instrumen untuk mengelola proses pelayanan klinis dan mendorong perbaikan mutu secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan pengelola pelayanan rumah sakit untuk tidak hanya menyusun CP yang relevan, tetapi juga mengimplementasikan, memonitor, dan mengevaluasi penerapannya secara sistematis. Pelatihan ini dirancang untuk mengintegrasikan pemahaman konseptual dengan keterampilan praktis agar peserta mampu mengembangkan dan mengoptimalkan CP sesuai kebutuhan pelayanan di rumah sakit masing-masing.

Tujuan

Meningkatkan kompetensi peserta dalam menyusun, mengimplementasikan, memonitor, dan mengevaluasi Clinical Pathways sebagai instrumen peningkatan mutu, keselamatan pasien, dan efisiensi pelayanan rumah sakit.

Kompetensi

  1. Menjelaskan konsep, prinsip, dan tujuan CP.
  2. Mengidentifikasi kasus atau diagnosis yang menjadi prioritas untuk dikembangkan menjadi CP.
  3. Menyusun CP berdasarkan evidence-based practice dan standar pelayanan.
  4. Mengintegrasikan CP dalam proses pelayanan multidisiplin.
  5. Mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan dalam implementasi CP.
  6. Menetapkan indikator untuk monitoring dan evaluasi CP.
  7. Melakukan audit dan analisis kepatuhan terhadap CP.
  8. Mengidentifikasi dan menganalisis variasi atau kesenjangan dalam pelaksanaan pelayanan.
  9. Mengevaluasi dampak penerapan CP terhadap mutu dan efisiensi pelayanan.
  10. Menyusun rekomendasi dan rencana perbaikan berdasarkan hasil evaluasi CP.

Sasaran

  1. Manajemen/direksi dan pengelola pelayanan rumah sakit, termasuk direktur/manajer, kepala bidang/bagian pelayanan, serta kepala instalasi/unit pelayanan yang berperan dalam pengelolaan dan penguatan implementasi CP.
  2. Tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan klinis, termasuk DPJP, dokter, perawat, bidan, apoteker, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya yang berkolaborasi dalam penyusunan dan penerapan CP.
  3. Pengelola mutu dan tim yang terlibat dalam pengembangan serta evaluasi Clinical Pathway, termasuk Komite/Tim Mutu, Komite Medik, Komite Keperawatan, Tim PMKP, Tim Clinical Pathway, serta tim kendali mutu dan kendali biaya.
  4. Tim Casemix/klaim, perekam medis, dan tenaga lain yang terkait dengan pengelolaan pelayanan klinis, dokumentasi, monitoring, audit, dan evaluasi penerapan CP.

Output

  1. Rancangan Clinical Pathway, berupa penyusunan CP berdasarkan kasus prioritas, evidence-based practice, dan standar pelayanan.
  2. Hasil Evaluasi Kepatuhan Implementasi Clinical Pathway, berupa pengukuran kepatuhan terhadap CP berdasarkan indikator yang ditetapkan serta identifikasi kesenjangan antara CP dan pelaksanaan pelayanan.
  3. Identifikasi Permasalahan Implementasi Clinical Pathway, berupa temuan ketidaksesuaian dalam penerapan CP dan faktor yang berpotensi memengaruhi kepatuhan implementasinya.

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Kamis, 05 November 2026
Waktu :  09.00-13.00 WIB

Narasumber / Moderator

  • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua – Konsultan PKMK & Dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM
  • dr. Novi Zain Alfajri, MPH – Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Akademik UGM
  • Fasilitator: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS – Peneliti PKMK FK-KMK UGM

Rundown Kegiatan

Waktu

Agenda

Narasumber/Fasilitator

08.45 – 09.00

Registrasi peserta

Panitia

09.00 – 09.10

Pembukaan

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

09.10 – 09.40

Materi 1: Clinical Pathways: Konsep, Penyusunan, Implementasi, dan Evaluasi

  • Konsep CP
  • Cara menyusun, implementasi, dan evaluasi CP

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

09.40 – 09.50

Sesi diskusi dan tanya-jawab

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

09.50 – 10.20

Materi 2: Clinical Pathways dalam Praktik: Pembelajaran dari Penyusunan, Implementasi, dan Evaluasi di Rumah Sakit

  • Bagaimana CP disusun
  • Bagaimana CP diterapkan
  • Kendala yang dihadapi
  • Bagaimana monitoring dan evaluasi dilakukan
  • Variasi/kesenjangan yang ditemukan
  • Pembelajaran serta perbaikan yang dilakukan.

dr. Novi Zain Alfajri, MPH

10.20 – 10.30

Sesi diskusi dan tanya-jawab

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

10.30 – 10.40

Praktikum: Penyusunan dan evaluasi kepatuhan implementasi Clinical Pathways

Peserta melakukan praktikum menyusun dan mengevaluasi kepatuhan implementasi Clinical Pathways menggunakan template yang dikembangkan oleh Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua dan telah disahkan oleh Kementerian Kesehatan.

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

*Untuk praktikum, peserta wajib menyiapkan satu topik Clinical Pathways dan PPK yang akan digunakan sebagai bahan praktik.

Biaya dan Fasilitas

  • Individu : Rp 400.000,-
  • Kelompok (3 orang) : Rp 1.000.000,-

Link pendaftaran peserta: bit.ly/RegCP26

Fasilitas yang akan didapatkan peserta:

  1. Sertifikat
  2. Materi dalam bentuk pdf
  3. Rekaman

Narahubung

Nadine (085117448499)
 Eva (082324332525)

 

 

Webinar Mutu Corner 8 – Dari Reaktif ke Antisipatif: Cara Membangun Budaya Risiko di Fasilitas Kesehatan

Webinar Mutu Corner 8 – Dari Reaktif ke Antisipatif: Cara Membangun Budaya Risiko di Fasilitas Kesehatan

Pelayanan kesehatan merupakan sistem yang kompleks dan memiliki berbagai potensi risiko yang dapat berdampak pada keselamatan pasien. Risiko dapat muncul dari berbagai aspek, seperti proses klinis, komunikasi, penggunaan obat, maupun sistem organisasi. Oleh karena itu, pengelolaan risiko menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan.

Dalam praktiknya, banyak fasilitas pelayanan kesehatan masih bersifat reaktif dalam menghadapi risiko. Risiko baru ditangani setelah terjadi insiden, sehingga upaya perbaikan cenderung bersifat responsif dan tidak mencegah kejadian serupa di masa depan. Pendekatan ini menyebabkan organisasi kehilangan peluang untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko secara proaktif sebelum berdampak pada pasien.

Pendekatan yang lebih efektif adalah membangun budaya risiko yang mendorong organisasi untuk secara aktif mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola potensi risiko sebelum insiden terjadi. Budaya risiko tidak hanya berkaitan dengan sistem dan prosedur, tetapi juga melibatkan cara berpikir, perilaku, serta komitmen seluruh individu dalam organisasi untuk mengutamakan keselamatan.

Namun demikian, membangun budaya risiko bukanlah hal yang mudah. Tantangan yang sering dihadapi antara lain kurangnya pemahaman mengenai manajemen risiko, keterbatasan dalam identifikasi risiko, serta belum terintegrasinya pengelolaan risiko dalam proses pelayanan sehari-hari. Selain itu, budaya organisasi yang masih reaktif dan belum terbuka terhadap pembelajaran juga menjadi hambatan dalam mengembangkan pendekatan yang lebih proaktif.

Untuk itu, diperlukan pemahaman yang lebih komprehensif dan aplikatif mengenai bagaimana membangun budaya risiko di fasilitas pelayanan kesehatan. Hal ini mencakup kemampuan dalam mengenali risiko, menggunakan alat bantu analisis risiko, serta mengintegrasikan manajemen risiko dalam sistem mutu dan keselamatan pasien.

Melalui seri kedelapan Mutu Corner ini, peserta diharapkan dapat memahami konsep budaya risiko, mengidentifikasi tantangan dalam implementasinya, serta mengembangkan langkah-langkah strategis untuk membangun sistem pelayanan yang lebih aman dan proaktif.

Tujuan

Meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya membangun budaya risiko sebagai bagian dari sistem mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan.

Tujuan Khusus

  1. Memahami konsep dan prinsip manajemen risiko dalam pelayanan kesehatan.
  2. Mengidentifikasi perbedaan pendekatan reaktif dan proaktif dalam pengelolaan risiko.
  3. Memahami tahapan dalam identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko.
  4. Mendorong peserta untuk mengembangkan langkah awal dalam membangun budaya risiko yang terintegrasi dalam sistem pelayanan.

Sasaran

  1. Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur/Manajer/Ketua Komite Mutu/Kepala Instansi/Kepala Unit RS, Kepala Puskesmas, Pimpinan Balai Kesehatan, serta pimpinan klinik dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.
  2. Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, organisasi profesi, lembaga asuransi/pembiayaan kesehatan (BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan swasta/perusahaan), lembaga akreditasi fasyankes, LSM bidang kesehatan, dan sebagainya.
  3. Klinisi: dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
  4. Mahasiswa: S1, S2, pendidikan dokter spesialis, S3.
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: perguruan tinggi, peneliti, konsultan, dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu pelayanan kesehatan.

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Jumat, 30 Oktober 2026
Waktu : 13.00-15.00 WIB

Narasumber:

  • dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP – Konsultan PKMK FK-KMK UGM
  • dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL – Ketua Komite Mutu, Keselamatan Pasien, dan Kinerja RS Akademik UGM 2024/2025
  • Moderator: Andriani Yulianti, MPH – Peneliti PKMK FK-KMK UGM

Agenda Kegiatan

Waktu

Agenda

Narasumber/Fasilitator

12.45 – 13.00

Registrasi peserta

Panitia

13.00 – 13.15

Pembukaan

Andriani Yulianti, MPH

13.15 – 13.45

Materi 1: Membangun Budaya Risiko di Fasilitas Kesehatan: Konsep, Kerangka, dan Pendekatan Antisipatif

Cakupan Materi:

  • Konsep dan prinsip budaya risiko dalam pelayanan kesehatan
  • Pergeseran pendekatan dari reaktif menuju proaktif dan antisipatif
  • Kerangka identifikasi, analisis, evaluasi, dan pengendalian risiko
  • Faktor organisasi yang memengaruhi budaya risiko, termasuk kepemimpinan, komunikasi, dan pembelajaran
  • Integrasi budaya risiko, mutu, dan keselamatan pasien

dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP

13.45 – 14.15

Materi 2: Dari Risiko ke Aksi: Pengalaman Membangun Budaya Risiko dalam Praktik Pelayanan Kesehatan

Cakupan Materi:

  • Penerapan manajemen risiko dalam praktik pelayanan kesehatan
  • Pengalaman identifikasi, analisis, dan prioritas risiko
  • Strategi mengubah hasil asesmen risiko menjadi mitigasi dan tindak lanjut
  • Tantangan dalam membangun keterlibatan staf dan kepemimpinan dalam pengelolaan risiko
  • Pembelajaran dan strategi agar manajemen risiko menjadi bagian dari praktik pelayanan sehari-hari

dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL

14.15 – 14.45

Sesi diskusi dan tanya-jawab

Andriani Yulianti, MPH

14.45 – 15.00

Penutup

Andriani Yulianti, MPH

 

Biaya dan Fasilitas

Biaya pendaftaran: Rp 50.000,00.
Link pendaftaran peserta: bit.ly/RegMutuCorner8 

Fasilitas yang akan didapatkan peserta:

  1. Sertifikat
  2. Materi dalam bentuk pdf
  3. Rekaman 

Narahubung

Nadine (085117448499).