Skip to content

Webinar Mutu Corner 8 – Dari Reaktif ke Antisipatif: Cara Membangun Budaya Risiko di Fasilitas Kesehatan

Pelayanan kesehatan merupakan sistem yang kompleks dan memiliki berbagai potensi risiko yang dapat berdampak pada keselamatan pasien. Risiko dapat muncul dari berbagai aspek, seperti proses klinis, komunikasi, penggunaan obat, maupun sistem organisasi. Oleh karena itu, pengelolaan risiko menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan.

Dalam praktiknya, banyak fasilitas pelayanan kesehatan masih bersifat reaktif dalam menghadapi risiko. Risiko baru ditangani setelah terjadi insiden, sehingga upaya perbaikan cenderung bersifat responsif dan tidak mencegah kejadian serupa di masa depan. Pendekatan ini menyebabkan organisasi kehilangan peluang untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko secara proaktif sebelum berdampak pada pasien.

Pendekatan yang lebih efektif adalah membangun budaya risiko yang mendorong organisasi untuk secara aktif mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola potensi risiko sebelum insiden terjadi. Budaya risiko tidak hanya berkaitan dengan sistem dan prosedur, tetapi juga melibatkan cara berpikir, perilaku, serta komitmen seluruh individu dalam organisasi untuk mengutamakan keselamatan.

Namun demikian, membangun budaya risiko bukanlah hal yang mudah. Tantangan yang sering dihadapi antara lain kurangnya pemahaman mengenai manajemen risiko, keterbatasan dalam identifikasi risiko, serta belum terintegrasinya pengelolaan risiko dalam proses pelayanan sehari-hari. Selain itu, budaya organisasi yang masih reaktif dan belum terbuka terhadap pembelajaran juga menjadi hambatan dalam mengembangkan pendekatan yang lebih proaktif.

Untuk itu, diperlukan pemahaman yang lebih komprehensif dan aplikatif mengenai bagaimana membangun budaya risiko di fasilitas pelayanan kesehatan. Hal ini mencakup kemampuan dalam mengenali risiko, menggunakan alat bantu analisis risiko, serta mengintegrasikan manajemen risiko dalam sistem mutu dan keselamatan pasien.

Melalui seri kedelapan Mutu Corner ini, peserta diharapkan dapat memahami konsep budaya risiko, mengidentifikasi tantangan dalam implementasinya, serta mengembangkan langkah-langkah strategis untuk membangun sistem pelayanan yang lebih aman dan proaktif.

Tujuan

Meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya membangun budaya risiko sebagai bagian dari sistem mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan.

Tujuan Khusus

  1. Memahami konsep dan prinsip manajemen risiko dalam pelayanan kesehatan.
  2. Mengidentifikasi perbedaan pendekatan reaktif dan proaktif dalam pengelolaan risiko.
  3. Memahami tahapan dalam identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko.
  4. Mendorong peserta untuk mengembangkan langkah awal dalam membangun budaya risiko yang terintegrasi dalam sistem pelayanan.

Sasaran

  1. Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur/Manajer/Ketua Komite Mutu/Kepala Instansi/Kepala Unit RS, Kepala Puskesmas, Pimpinan Balai Kesehatan, serta pimpinan klinik dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.
  2. Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, organisasi profesi, lembaga asuransi/pembiayaan kesehatan (BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan swasta/perusahaan), lembaga akreditasi fasyankes, LSM bidang kesehatan, dan sebagainya.
  3. Klinisi: dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
  4. Mahasiswa: S1, S2, pendidikan dokter spesialis, S3.
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: perguruan tinggi, peneliti, konsultan, dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu pelayanan kesehatan.

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Jumat, 30 Oktober 2026
Waktu : 13.00-15.00 WIB

Narasumber:

  • dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP – Konsultan PKMK FK-KMK UGM
  • dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL – Ketua Komite Mutu, Keselamatan Pasien, dan Kinerja RS Akademik UGM 2024/2025
  • Moderator: Andriani Yulianti, MPH – Peneliti PKMK FK-KMK UGM

Agenda Kegiatan

Waktu

Agenda

Narasumber/Fasilitator

12.45 – 13.00

Registrasi peserta

Panitia

13.00 – 13.15

Pembukaan

Andriani Yulianti, MPH

13.15 – 13.45

Materi 1: Membangun Budaya Risiko di Fasilitas Kesehatan: Konsep, Kerangka, dan Pendekatan Antisipatif

Cakupan Materi:

  • Konsep dan prinsip budaya risiko dalam pelayanan kesehatan
  • Pergeseran pendekatan dari reaktif menuju proaktif dan antisipatif
  • Kerangka identifikasi, analisis, evaluasi, dan pengendalian risiko
  • Faktor organisasi yang memengaruhi budaya risiko, termasuk kepemimpinan, komunikasi, dan pembelajaran
  • Integrasi budaya risiko, mutu, dan keselamatan pasien

dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP

13.45 – 14.15

Materi 2: Dari Risiko ke Aksi: Pengalaman Membangun Budaya Risiko dalam Praktik Pelayanan Kesehatan

Cakupan Materi:

  • Penerapan manajemen risiko dalam praktik pelayanan kesehatan
  • Pengalaman identifikasi, analisis, dan prioritas risiko
  • Strategi mengubah hasil asesmen risiko menjadi mitigasi dan tindak lanjut
  • Tantangan dalam membangun keterlibatan staf dan kepemimpinan dalam pengelolaan risiko
  • Pembelajaran dan strategi agar manajemen risiko menjadi bagian dari praktik pelayanan sehari-hari

dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL

14.15 – 14.45

Sesi diskusi dan tanya-jawab

Andriani Yulianti, MPH

14.45 – 15.00

Penutup

Andriani Yulianti, MPH

 

  Reportase Kegiatan

PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar Mutu Corner seri kedelapan bertajuk “Dari Reaktif ke Antisipatif: Cara Membangun Budaya Risiko di Fasilitas Kesehatan” pada Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini dimoderatori oleh Andriani Yulianti, MPH, peneliti PKMK FK-KMK UGM, dan menghadirkan dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP, serta dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp.THTBKL sebagai narasumber. Webinar membahas pentingnya mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam praktik pelayanan sehari-hari untuk mendukung peningkatan mutu dan keselamatan pasien.

Dalam pemaparannya, dr. Tjahjono menekankan pentingnya perubahan pendekatan manajemen risiko dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif dan antisipatif. Fasilitas kesehatan tidak cukup hanya merespons insiden setelah terjadi, tetapi perlu mengenali potensi risiko sejak dini, menganalisis kemungkinan dan dampaknya, serta menentukan langkah pengendalian yang sesuai. Upaya tersebut perlu didukung komitmen pimpinan, keterbukaan terhadap pelaporan risiko dan insiden, pembagian tanggung jawab yang jelas, serta kompetensi staf dalam mengelola risiko. Risiko dan insiden juga perlu dipandang sebagai sumber pembelajaran untuk mencegah kejadian serupa dan memperbaiki sistem pelayanan.

Selanjutnya, dr. Mahatma Sotya Bawono membagikan pengalaman penerapan budaya risiko di RS Akademik UGM. Pembangunan budaya risiko memerlukan proses bertahap yang melibatkan staf di berbagai unit, antara lain melalui peran champion atau penanggung jawab mutu di unit, diskusi terarah, pendampingan langsung, dan evaluasi berkala. Salah satu langkah awal yang penting adalah menyusun dan menggunakan risk register untuk mengenali serta mendokumentasikan risiko, menganalisis kemungkinan dan dampaknya, serta menetapkan langkah pengendalian. Penanganan risiko juga perlu mempertimbangkan tingkat keparahan dan kewenangan pihak yang bertanggung jawab agar tindak lanjut dapat dilakukan secara tepat.

Pada sesi diskusi, sejumlah peserta mengajukan pertanyaan mengenai cara memperoleh dukungan nyata dari pimpinan rumah sakit serta mendorong setiap unit agar lebih aktif mengidentifikasi dan mencatat risiko. Diskusi menegaskan bahwa komitmen pimpinan perlu diwujudkan dalam dukungan terhadap proses pengelolaan risiko, sementara penanggung jawab risiko di tingkat operasional perlu dilibatkan secara aktif. Risk register dapat menjadi titik awal untuk membangun pengelolaan risiko yang lebih sistematis, tetapi fungsinya tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif. Risiko yang telah diidentifikasi perlu dianalisis, ditindaklanjuti, dan dievaluasi secara konsisten.

Melalui Webinar Mutu Corner seri kedelapan ini, peserta diajak memahami bahwa budaya risiko tidak terbentuk hanya melalui kebijakan dan prosedur, tetapi melalui perilaku sehari-hari yang didukung kepemimpinan, keterlibatan seluruh staf, keterbukaan dalam melaporkan risiko, dan tindak lanjut yang berkelanjutan. Dengan demikian, fasilitas kesehatan dapat bergerak dari pola kerja yang menunggu terjadinya insiden menuju pendekatan yang lebih antisipatif untuk mencegah risiko dan meningkatkan mutu serta keselamatan pasien.

Reporter:
Helen Anggraini Budiono