Learn, Connect, Growth | Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia

Reportase dari Konferensi Internasional ISQua di Seoul, Korea Selatan

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH
Delegasi dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM
dan Indonesian Health Care Quality Network (IHQN)

  Pengantar

The International Society for Quality in Health Care (ISQua) kembali mengadakan pertemuan internasional tentang mutu pelayanan kesehatan, kali ini merupakan konferensi ke-39. Bertempat di Gedung COEX Convention Centre, Korea Selatan, pada 27-30 September 2023.

Pertemuan tahun ini mengangkat tema "Technology, Culture, and Corproduction: Looking to The Horizon of Quality and Safety", tema yang relevan dengan kondisi mutu pelayanan kesehatan Indonesia dan global saat ini. Bauran kecepatan perkembangan teknologi, konsistensi budaya, dan kecepatan produksi pasar berlomba berkontribusi untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya mutu dan aman bagi setiap orang.

Reportase disusun selama tiga hari yaitu mulai hari Senin-Rabu. Reportase memuat ringkasan isi materi yang disajikan oleh para pembicara pada seluruh sesi pleno dan sebagian sesi paralel. Reportase juga memuat pendapat penulis terkait dengan konteks di Indonesia dan usulan tindak lanjut.

Para pembaca yang telah mengikuti konferensi ISQua diundang untuk melengkapi reportase ini secara online di website mutu pelayanan kesehatan pada link website www.mutupelayanankesehatan.net Kami juga berharap semua pemerhati mutu pelayanan kesehatan memberikan tanggapan usulan tindak lanjut dalam konteks Indonesia. Diharapkan dengan adanya reportase ini dapat memberikan ide-ide baru bagi para pengambil kebijakan, dosen, peneliti, tenaga kesehatan dan pemerhati peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.    

HARI PERTAMA

  Senin, 28 September 2023

Pembukaan dan Pleno

isq1

Pertemuan dibuka secara resmi oleh Jeffery Braithwaite sebagai presiden ISQua, WangJunLee sebagai presiden KoSQua, Jung-Gu Kang sebagai presiden HIRA, dan Cho KyooHong sebagai Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan.

Jeffery Braithwaite mengucapkan selamat datang pada seluruh peserta ISQua. Jeffery dengan semangat menyampaikan bahwa jumlah peserta berasal dari 77 negara, 1608 peserta, lebih dari 290 pembicara, lebih dari 200 presentasi oral dan lebih dari 400 poster. ISQua merupakan konferensi bergengsi yang banyak diminati oleh pemerhati mutu pelayanan kesehatan, mulai dari klinisi, akademisi, peneliti dan lembaga akreditasi di seluruh dunia. Jika tertarik dengan mutu pelayanan kesehatan, maka pilihan mengikuti ISQUa adalah pilihan tepat karena ISQua memiliki keuntungan. Jeffery memaparkan keuntungan mengikuti ISQua, yaitu dapat mengakses banyak materi dari expert, berdiskusi banyak hal tentang quality improvement dan patient safety, membangun jejaring (networking) dengan orang dari seluruh dunia, dan beraksi untuk mentransformasi kesehatan dan menciptakan keamanan di seluruh dunia. Jeffery juga mengingatkan kepada peserta bahwa ISQua memiliki visi untuk menjadi pemimpin transformasi pelayanan kesehatan di seluruh dunia, dengan misi untuk menginspirasi dan meningkatkan keamanan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Jeffery selaku presiden ISQua sangat bangga dan berterima kasih kepada semua peserta ISQua ke-39 di Korea Selatan.

Wang Jun Lee sebagai president of KoSQua dan chairman of myongji medical foundation menyambut peserta dengan kalimat semangat “ketika keadaan menjadi sulit, lihatlah orang-orang yang bekerja dengan anda, anda akan mendapatkan energi dari mereka”. WangJunLee merasa bahagia karena telah diberi kepercayaan untuk menjadi Co-Host oleh ISQua. Presiden KoSQua mengucapkan selamat datang sebagai tuan rumah dan juga mengajak kepada para peserta untuk menikmati keindahan Korea Selatan yang terkenal dengan K-POPnya. Jung-Gu Kang sebagai presiden HIRA dan Co-Host ISQua ke 39 mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta dari seluruh dunia. HIRA adalah salah satu lembaga yang berada dibawah Korea’s National Health Insurance (NHI). HIRA bertugas untuk membuat regulasi terkait harga, monitor harga dan tingkat kepuasan pasien, dan infrastruktur sistem digital NHI.

Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan membuka acara ISQua secara online melalui video, Cho KyooHong mengucapkan selamat atas diselenggarakannya ISQua ke-39 di Korea Selatan. ISQua merupakan komunitas internasional yang paling banyak diminati, fokus pada peningkatan mutu pelayanan dan keamanan pasien. Hari ini semua pakar berkumpul dari berbagai belahan dunia untuk berdiskusi tentang tindak lanjut peningkatan mutu. Dia mengatakan semoga acara ISQua berjalan dengan lancar.  

Climate Change and Healthcare

isq2Sesi pleno pertama dibawakan oleh H.E. Ban Ki-moon dari Korea Selatan, dia sebagai ketua yayasan Ban Ki Moon untuk masa depan yang lebih baik. Ban Ki membandingkan penanganan Covid-19 dan krisis Ebola, terjadi perbedaan yang mencolok karena para pemimpin global saling menyalahkan dibandingkan mengarahkan upaya untuk membatasi penyebaran virus. Akibatnya, wabah COVID-19 merenggut 7 juta jiwa dalam kurun waktu tiga tahun dan Ebola mengakibatkan korban jiwa sebanyak 11.000 orang.

Ban berharap para peserta yang berkumpul di konferensi bekerja sama memanfaatkan peran layanan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Ban memuji ISQua atas green papernya mengenai pelayanan kesehatan berkualitas tinggi dan ramah lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anggota ISQua tentang ancaman terhadap kesehatan akibat perubahan iklim, dan solusi yang sesuai untuk mengatasinya dari perspektif peningkatan kualitas dan keselamatan pasien. Makalah ini bertujuan untuk menetapkan peran ISQua dalam menanggapi perubahan iklim sambil mengadvokasi intervensi ramah lingkungan untuk mentransformasi sistem kesehatan.

Pada konteks Indonesia, climate change menjadi salah satu urusan kementerian kehutanan dan lingkungan hidup (KLHK). Indonesia telah bekerjasama dengan negara lain seperti Inggris melakukan berbagai program untuk penanggulangan perubahan iklim. Aksi yang dilakukan oleh KLHK dapat diangkat di forum-forum nasional tentang mutu pelayanan kesehatan selayaknya forum ISQua atau Forum Mutu Nasional yang rutin diselenggarakan oleh Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN).  

A QI Collaborative Enhancing Quality & Patient Safety in Resource-Challanged Obstetric Care Settings

isq3

Pembicara berasal dari Rumah Sakit Sree Renga India. Sesi membahas mengenai penerapan Safe Childbirth Checklist (SCC) yang diterbitkan oleh WHO. Pembicara menceritakan tentang peningkatan kualitas mutu pelayanan yang dilakukan melalui kolaborasi dengan RS lainnya di India.

Anurada Pichumani dan Pichumani Parthasarath mengawali pemaparan dengan hasil penelitian dari Lancet bahwa rendahnya mutu pelayanan kesehatan menjadi penyebab kematian terbanyak dibandingkan dengan kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan. 3-6 juta kematian disebabkan karena akses dan 5 juta kematian disebabkan oleh kualitas pelayanan yang buruk. Salah satu tools yang digunakan untuk memastikan pelayanan diberikan dengan mutu yang baik yaitu SCC. SCC diberikan mulai dari admisi, sebelum operasi sesar, 1 jam setelah melahirkan, dan sebelum ibu & bayi dipulangkan.

RS Sree Renga terdiri dari 47 tempat tidur dan berada di pedesaan atau area rural. Butuh kolaborasi dengan instansi lain untuk memberikan pelayanan yang bermutu, sehingga Sree Renga mengimplementasikan proyek kolaborasi. Kolaborasi adalah menyatukan kelompok-kelompok praktisi dari organisasi pelayanan kesehatan yang berbeda untuk bekerja secara terstruktur dan untuk meningkatkan kualitas. Kolaborasi dilakukan untuk menutup kesenjangan.

Pembicara menyampaikan rekomendasi peningkatan mutu  dan keamanan melalui kolaborasi agar dapat berjalan dengan baik, yaitu: 1) persiapan dan penetapan tujuan, hal yang perlu disiapkan antara lain menetapkan subjek dengan tepat, menentukan tujuan, menilai kapasitas, menentukan peran dari masing-masing tim, dan memastikan tim; 2) pelaksanaan kolaborasi, ditekankan pada pembelajaran timbal balik daripada mengajarkan, memotivasi dan memberdayakan tim, memastikan pengukuran dan pencapaian target, melengkapi dan mendukung tim dalam data dan mengubah tantangan; 3) setelah transisi kolaborasi, pelajari dan merencanakan kegiatan untuk mempertahankan perbaikan, libatkan pemimpin atau manajer, rencanakan untuk implementasi program kolaborasi pada program atau proyek lain.

Indonesia memiliki letak geografis yang berpulau dan masalah distribusi sumber daya. Manajemen proyek kolaborasi cocok diimplementasikan di Indonesia untuk memenuhi keterbatasan layanan fasilitas kesehatan. Kegiatan ini juga sudah dilakukan, salah satunya melalui proyek sister hospital pada masalah KIA. Untuk kedepannya, dapat dilakukan manajemen proyek kolaborasi dengan topik lainnya, seperti Jantung, nutrisi, dan sebagainya.

Improving The Quality and Safety of Health Care in Low and Middle-Income Countries. What Works!

Sesi sebelum lunch break ini menampilkan pembicara Salma Jaouni dari Health Care Accreditation Council (HCAC). Sesi ini membahas transformasi sistem kesehatan menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah dalam mengurangi angka kesakitan dan kematian. Peningkatan mutu dan keselamatan pasien telah dilakukan oleh HCAH melalui akreditasi. HCAC merupakan organisasi nirlaba sektor swasta di Yordania yang fokus pada peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Layanan HCAC berupa akreditasi rumah sakit, akreditasi primary healthcare, akreditasi laboratorium, layanan konsultasi manajemen mutu, dan program peningkatan kapasitas melalui pelatihan.

HCAC telah berhasil meningkatkan mutu dan keselamatan pasien di Yordania. Salma dalam presentasinya menyampaikan bahwa akreditasi saja tidak cukup untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, diperlukan regulasi yang kuat, pelatihan, keterlibatan pasien, biaya, tenaga kesehatan profesional dan lainnya. Diperlukan pengukuran mutu pelayanan kesehatan yang dikumpulkan melalui data pasien dan diukur melalui indikator. Target indikator perlu dibuat dari angka terendah sehingga setiap tahun selalu ada tantangan untuk mencapai indikator.

Yordania telah mencapai kemajuan besar dalam meningkatkan kesehatan penduduknya meskipun terdapat kendala yang berasal dari faktor ekonomi, sosial, dan sistem. Yordania memiliki jaringan layanan kesehatan yang sangat luas yang berfokus mengatasi tantangan kelengkapan layanan, ketersediaan sumber daya pelayanan kesehatan, dan pengukuran kualitas berkelanjutan dengan cakupan kesehatan universal.

Sesi ini penting bagi Indonesia yang baru memperbanyak lembaga akreditasi di tingkat pelayanan primer maupun rumah sakit. Lembaga akreditasi yang ada saat ini di Indonesia telah memberikan layanan seperti HCAC dalam bentuk pelatihan dan akreditasi, namun belum memberikan layanan konsultasi dan belum menjadikan pasien dalam mengukur mutu pelayanan kesehatan untuk menciptakan peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.

Failure Mode & Effects Analysis: What Is It, and How Can We Apply It in Healthcare To Manage Risk?

isq4Sesi disampaikan oleh Robyn Clay-Williams dari Australian Institute of Health Innovation dan Peter Hibbert dari Macquarie University dalam bentuk workshop. Peserta yang hadir sangat ramai sampai melebihi kapasitas ruangan. Sesi ini membahas salah satu tools yang digunakan untuk peningkatan mutu yaitu mengenai cara penggunaan FMEA. FMEA merupakan alat yang digunakan untuk menganalisis kegagalan. Pelaksanaan FMEA mahal karena membutuhkan waktu, sumber daya, tim multidisiplin yang memiliki pengetahuan tentang proses yang dianalisis, membutuhkan profesional keselamatan & kualitas untuk memimpin dan mengarahkan. Tantangan dalam melakukan FMEA yaitu penentuan nilai skor kemungkinan, nilai skor deteksi, dan nilai skor tingkat keparahan yang mungkin tidak jelas karena penentuan skor ditekankan pada konsensus di antara tim. FMEA di Indonesia telah lama menjadi dokumen wajib yang dibuat oleh fasilitas pelayanan kesehatan ketika melakukan manajemen risiko. Tantangan yang dihadapi tim penyusun FMEA sama dengan di tingkat global yaitu menentukan nilai skor. Upaya untuk menjawab tantangan adalah penguatan konsensus diantara tim.  

People not Patients

isq5Sesi ini merupakan sesi penutup untuk pertemuan hari I, menghadirkan dua pembicara. Helen Leonard memperkenalkan metode pengobatan realistis yang telah dilakukan pada Matthew putranya, dan Catherine Calderwood sebagai Professor of Innovation and Translational Research University of Strathclyde.

Catherine mengajak peserta ISQua untuk memahami “apa itu pasien”. Catherini dalam paparannya menyebutkan definisi pasien bahwa orang yang mampu menunggu dalam waktu lama atau menerima kesulitan tanpa rasa marah. Dalam pengertian tersebut disebutkan pasien adalah orang, sehingga kata yang cocok untuk menyebutkan pasien adalah orang. Tidak ada kata pasien bagi orang yang berkunjung ke fasilitas kesehatan.

Kondisi ini menggambarkan fenomena pelayanan kesehatan saat ini, mulai dari pasien menunggu memperoleh pelayanan kesehatan dalam waktu lama kemudian bertemu dengan dokter menyampaikan keluhannya dalam waktu singkat, dokter menjawab pertanyaan pasien juga secara singkat. Situasi ini cocok dengan hasil survei yang menyebutkan bahwa dokter menghabiskan waktu menjawab pertanyaan pasien 5%, dokter berbicara menghabiskan waktu 44% dan pasien berbicara menghabiskan waktu 24%.

Dalam konteks Indonesia, sesi ini dapat menjadi bahan diskusi yang menarik. Di Indonesia masih sering menggunakan istilah pasien BPJS Kesehatan dan pasien non BPJS Kesehatan saat melakukan registrasi secara online maupun offline. Mungkin istilah tersebut tidak bermakna mendalam bagi Anda, namun ternyata pembelajaran yang disampaikan oleh Helen Leonard dan Prof. Catherine dapat meningkatkan rasa percaya untuk sembuh karena nilai-nilai dasar sebagai manusia terakomodir. Saya teringat dengan cerita Prof. Adi Utarini MSC.,PhD saat beliau dirawat di salah satu rumah sakit, salah satu kegiatan harian beliau adalah menulis di buku diary, perawat dengan lembut dan telaten merawat Prof Uut, namun bukan hanya merawat fisiknya, perawat juga menanyakan hobi beliau. Saat itu, Prof. Uut merasa tidak dianggap sebagai pasien, namun dianggap sebagai orang.  Langkah ini kecil, namun berdampak pada proses penyembuhan. Konferensi hari I ditutup tepat pada pukul 16.45 waktu setempat.