Skip to content

Pelatihan “Kupas Tuntas Peran Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit: Dari Pengalaman ke Pembelajaran”

Berbagai regulasi dan standar akreditasi rumah sakit menempatkan Komite Mutu dan Keselamatan Pasien sebagai salah satu elemen penting dalam tata kelola rumah sakit. Namun dalam praktiknya, implementasi fungsi komite mutu di banyak rumah sakit masih menghadapi berbagai tantangan. Peran komite sering kali belum berjalan optimal, pelaporan insiden keselamatan pasien masih rendah, serta pemanfaatan indikator mutu belum sepenuhnya digunakan sebagai dasar perbaikan sistem pelayanan.

Selain itu, budaya organisasi yang masih berorientasi pada menyalahkan individu (blaming culture) sering menjadi hambatan dalam pengelolaan insiden keselamatan pasien. Padahal, dalam pendekatan keselamatan pasien modern. Di sisi lain, rumah sakit secara rutin mengumpulkan berbagai indikator mutu pelayanan, namun tidak jarang indikator tersebut hanya berhenti pada pelaporan angka tanpa analisis mendalam dan tindak lanjut perbaikan yang sistematis.

Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran strategis Komite Mutu dan Keselamatan Pasien, pengelolaan insiden keselamatan pasien sebagai sumber pembelajaran organisasi, serta pemanfaatan data indikator mutu sebagai dasar pengambilan keputusan dalam peningkatan kualitas pelayanan.

Tujuan

Meningkatkan pemahaman dan kapasitas peserta mengenai peran strategis Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit dalam mendukung implementasi sistem mutu dan keselamatan pasien secara berkelanjutan.

Tujuan Khusus
  1. Memahami peran Komite Mutu dan Keselamatan Pasien berdasarkan regulasi dan standar akreditasi rumah sakit.
  2. Mengidentifikasi tantangan implementasi program mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit.
  3. Memahami pendekatan pengelolaan insiden keselamatan pasien yang berorientasi pada pembelajaran sistem.
  4. Memanfaatkan indikator mutu rumah sakit sebagai dasar perbaikan pelayanan kesehatan.
  5. Mengembangkan strategi penguatan peran Komite Mutu dalam meningkatkan mutu dan keselamatan pasien.
  Sasaran Peserta
  1. Direktur rumah sakit
  2. Wakil direktur pelayanan / manajemen mutu
  3. Ketua dan anggota Komite Mutu dan Keselamatan Pasien
  4. Manajer Pelayanan Pasien (MPP)
  5. Kepala instalasi / kepala unit pelayanan
  6. Tim akreditasi rumah sakit
  7. Semua tenaga medis dan kesehatan
  Narasumber
  1. Narasumber: dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL
    (Ketua Komite Mutu, Keselamatan Pasien, dan Kinerja RS Akademik UGM 2024/2025)
  2. Fasilitator: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS
    (Peneliti di PKMK FK-KMK UGM)
Tempat dan Waktu

Hari, tanggal : Jumat, 5 Juni 2026
Pukul : 13.00 – 16.30 WIB

Agenda
Waktu Agenda Narasumber/Fasilitator
13.00 – 13.15 Pembukaan Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS
13.15 – 13.55

Materi 1:
Peran Komite Mutu dan keselamatan pasien RS: Antara regulasi dan realita lapangan

dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL
13.55 – 14.35

Materi 2:
Pengelolaan insiden keselamatan pasien: Dari budaya menyalahkan menjadi perbaikan

dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL
14.35 – 14.50 Sesi diskusi dan tanya jawab Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS
14.50 – 15.30

Materi 3:
Indikator Mutu Rumah Sakit: Dari sekedar angka menjadi Perbaikan pelayanan

dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL
15.30 – 16.10

Materi 4:
Strategi Menguatkan Komite Mutu Rumah Sakit

dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THTBKL
16.10 – 16.25 Sesi diskusi dan tanya jawab Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS
16.25 – 16.30 Penutup Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS
 

 

   Reportase Kegiatan

PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan pelatihan daring bertajuk “Kupas Tuntas Peran Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit: Dari Pengalaman ke Pembelajaran” pada 5 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp.THTBKL dengan fasilitator Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH, CQIPS. Pelatihan diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai peran strategis Komite Mutu dan Keselamatan Pasien dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit.

Pada sesi pengantar, Eva menekankan bahwa peningkatan mutu merupakan investasi penting bagi rumah sakit. Mengutip pandangan Michael Porter dari Universitas Harvard, peningkatan mutu merupakan salah satu cara terbaik untuk menekan biaya pelayanan sekaligus meningkatkan kualitas layanan. Pelayanan kesehatan yang bermutu harus efektif, aman, berfokus pada pasien, tepat waktu, adil, terintegrasi, dan efisien. Namun demikian, upaya peningkatan mutu masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perbedaan tingkat pengetahuan dan komitmen tenaga kesehatan, silo data, kompleksitas pelayanan, hingga keterbatasan sumber daya. Di sisi lain, keselamatan pasien juga dipengaruhi oleh komunikasi yang belum efektif, budaya menyalahkan, rendahnya pelaporan insiden, serta tingginya beban kerja tenaga kesehatan.

Dalam pemaparannya, dr. Mahatma menjelaskan bahwa peran Komite Mutu bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan regulasi dan akreditasi, melainkan juga memastikan budaya mutu tumbuh di seluruh unit pelayanan. Narasumber menekankan bahwa peningkatan mutu harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh tenaga kesehatan dan tidak boleh berhenti pada aktivitas administratif semata. Penguatan peran unit pelayanan sebagai pemilik proses mutu menjadi salah satu strategi penting agar program mutu dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pembahasan kemudian berlanjut pada pengelolaan keselamatan pasien dan insiden keselamatan pasien. Narasumber menjelaskan pentingnya membangun sistem pelaporan yang mendorong pembelajaran organisasi. Peserta memperoleh pemahaman mengenai jenis-jenis insiden keselamatan pasien, mekanisme pelaporan, proses investigasi sederhana maupun root cause analysis (RCA), hingga prinsip investigasi yang berfokus pada pencarian akar masalah dan solusi, bukan mencari pihak yang disalahkan. Pendekatan no blaming culture menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan untuk memperkuat budaya keselamatan pasien di rumah sakit.

Pada sesi berikutnya, peserta diajak memahami pemanfaatan indikator mutu sebagai alat pengambilan keputusan. Mahatma menjelaskan hubungan antara indikator mutu nasional, indikator prioritas rumah sakit, hingga indikator prioritas unit sebagai dasar pemantauan kinerja dan perbaikan pelayanan. Selain itu, peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai manajemen risiko, mulai dari identifikasi risiko, analisis, evaluasi, hingga penyusunan register risiko sebagai bagian dari upaya pencegahan kejadian yang tidak diinginkan.

Pelatihan berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Pada sesi diskusi dan tanya jawab, muncul berbagai pertanyaan terkait penyusunan rencana strategis mutu, pengelolaan keterbatasan sumber daya manusia, pelaksanaan investigasi insiden, pelaporan keselamatan pasien, hingga strategi menjaga keberlanjutan program mutu di tengah berbagai tantangan operasional rumah sakit. Narasumber menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan berbagi pengalaman praktis dari implementasi program mutu dan keselamatan pasien di Rumah Sakit Akademik UGM, sehingga peserta memperoleh gambaran nyata mengenai penerapan konsep mutu di lapangan.

Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran Komite Mutu dan Keselamatan Pasien, pengelolaan insiden yang berorientasi pada pembelajaran sistem, pemanfaatan indikator mutu, serta strategi penguatan budaya mutu dan keselamatan pasien. Diharapkan berbagai pengalaman dan praktik baik yang dibagikan selama pelatihan dapat menjadi inspirasi bagi rumah sakit dalam mewujudkan pelayanan yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan.

 

Reporter:  Helen Anggraini Budiono