TRIBUNPALOPO.COM, WARA – Komisi I DPRD Palopo memanggil management Rumah Sakit Umum Sawerigading
PELATIHAN Penyusunan Program, Pelaksanaan dan Evaluasi Peningkatan Mutu & Keselamatan Pasien
PKMK Goes to Makassar
Makassar, 22 – 23 April 2019 Pukul 08.30 – 16.00 WITA
![]()
Topik Ini Menjawab Masalah Apa?
Inti-sari dari berbagai macam upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) adalah untuk: Menggerakkan kepemimpinan menuju perubahan budaya organisasi; Proaktif mengidentifikasi dan menurunkan risiko dan penyimpangan; Fokus pada isu prioritas berdasarkan data; dan Mencari cara perbaikan yang bersifat langgeng. Untuk memastikan berbagai upaya ini dapat berjalan dengan baik diperlukan Tim Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien yang kompeten dan sistem pengoranisasian yang baik.
Apa Saja yang Dibahas?
Materi yang dibahas dalam Bimtek ini adalah:
- Menyusun Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien.
- Pengelolaan Kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien.
- Pemilihan, Pengumpulan, Analisis, dan Validasi Data Indikator Mutu.
- Pelaporan dan Analisis Insiden Keselamatan Pasien.
- Pencapaian dan Mempertahankan Perbaikan.
- Manajemen Risiko.
Manfaat Apa yang Anda Dapatkan?
Dalam bimtek ini Anda akan mendapatkan:
- Draft program PMKP.
- templete laporan PMKP.
- Draft struktur dan alur kerja organisasi Komite/ Tim PMKP.
- Sumber referensi terkini tentang PMKP.
- Draft daftar program pelatihan terkait PMKP.
- Draft daftar program PMKP prioritas.
- Draft clinical pathways.
- Draft daftar indikator mutu di tingkat unit kerja serta pelayanan oleh pihak ke tiga.
- Draft instrument evaluasi kinerja dokter, perawat, dan PPA lainnya.
- Keterampilan teknik melakukan pengumpulan data, validasi, dan analisis data.
- Keterampilan teknik melakukan RCA untuk sentinel, KTD, KNC, dan KTC.
- Keterampilan teknik melakukan pengukuran budaya keselamatan pasien menggunakan instrumen AHRQ.
- Draft laporan program PMKP dengan metode PDSA/ PDCA.
- Draft risk register.
- Keterampilan teknik melakukan FMEA.
Sasaran Peserta
Peserta yang dapat mengikuti kegiatan ini adalah Anda yang merupakan:
- Pimpinan, manajer dan staf RS.
- Tim Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien yang terkait dengan pengumpulan, validasi, pengolahan dan analisa data Program PMKP.
Narasumber
Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah:
Hanevi Djasri, dr., MARS, FISQua
Konsultan dan Peneliti di Pusat Kebijakan dan Manajemen FK-UGM, Dosen Magister Manajemen RS di UGM, Pengurus PERSI Pusat, Pengurus ARSADA Pusat, Pengurus PDMMI Pusat dan Koordinator Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) serta merupakan Fellow of The International Society for Quality in Healthcare (FISQua).
Fasilitas
Fasilitas yang akan Anda dapatkan dalam Bimtek ini adalah:
- Seminar kit.
- Materi pelatihan (modul dalam bentuk PPT & draft yang digunakan dalam praktikum) dalam bentuk soft file.
- Sertifikat kepesertaan dalam bentuk cetak.
Kami mendukung kehidupan bumi yang lebih hijau dan sehat. Maka, kami mengurangi pencetakan berbagai dokumen. Semua materi pelatihan akan kami kirim ke email Anda. Pastikan email Anda aktif dan storage email Anda cukup.
Biaya
Regular Rp. 3.000.000/ orang
Khusus* Rp. 2.500.000/ orang, untuk:
- Peserta yang melakukan pembayaran maksimal tanggal 12 Maret 2019, ATAU
- Peserta yang mendaftar berkelompok (minimal 3 orang) dari 1 institusi
*Syarat biaya khusus satu dan lainnya tidak dapat digabungkan.
Kontak
Silakan hubungi kami bila Anda membutuhkan informasi lebih lanjut
Informasi Konten
Puti Aulia Rahma, drg. MPH | 081329358583
Email mutuyankes@mutupelayanankesehatan.net
**Kegiatan akan dilaksanakan bila memenuhi kuota 15 peserta
Perilaku dan Risiko Penyakit HIV-AIDS di Masyarakat Papua Studi Pengembangan Model Lokal Kebijakan HIV-AIDS
Politeknik Kesehatan Papua, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UGM, Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, FK UGM dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cendrawasih Jayapura telah melakukan penelitian tentang “Perilaku dan Risiko Penyakit HIV-AIDS di Masyarakat Papua Studi Pengembangan Model Lokal Kebijakan HIV-AIDS”. Penelitian telah diterbitkan pada tahun 2010 oleh Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor perilaku masyarakat Papua seperti perilaku seks bebas, merosotnya nilai agama dan kebiasaan budaya negatif di Biak mempunyai risiko terhadap terjangkitnya penyakit HIV-AIDS.
Sejak tahun 1979 angka HIV-AIDS semakin meningkat di Papua, untuk mengantisipasi hal ini pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan nasional Abstinency, Be faithful, dan Condom (ABC). Pemerintah Amerika Serikat dan berbagai organisasi kesehatan menganjurkan pendekatan ABC untuk menurunkan risiko terkena HIV melalui hubungan seksual. Namun, di Indonesia program ini belum menunjukkan hasil yang bermakna, perlu usaha lain yaitu meneliti tentang model lokal penanggulangan HIV-AIDS di Papua.
Tercatat 38.874 orang HIV/AIDS di Papua, jumlah ini berdasarkan data per 30 September. Kabupaten Nabire menduduki posisi tertinggi dari 28 kabupaten dan 2 kota di Papua, sebesar 7.240 orang. Peringkat kedua Kota Jayapura, yaitu 6.189 orang, disusul Kabupaten Mimika dan Jayawijaya dan daerah lainnya. Peningkatan jumlah kasus yang diketahui karena ada program yang dilakukan pemerintah untuk mengajak masyarakat secara sukarela mengikuti tes.
Metode penelitian yang dikembangkan oleh tim peneliti adalah analitik case control, terdiri dari 50 orang HIV AIDS (ODHA) dan 50 non ODHA Biak Numfor. 200 orang yang mewakili 7 wialyah adat papua dan 10 tokoh agama mewakili 5 denominasi kristen di Papua. Data yang digunakan bersifat primer dan sekunder, diambil dengan cara wawancara, pencatatan dan observasi.
Penelitian ini mengeluarkan beberapa rekomendasi, yaitu:
- Pemerintah bersama lembaga masyarakat membuat aturan tentang lokasi praktek seks bebas, milo dan mili, narkoba, penerapan nilai agama dan budaya yang berisiko berjangkitnya penyakit AIDS di Papua.
- Pemerintah Papua hendaknya mencari alternatif pekerjaan lain bagi para pekerja seks
- Papua dapat menggunakan Model H (model perubahan perilaku AB/ kebijakan AB) karena efisien dan efektif untuk digunakan di Papua.
- Lembaga agama, lembaga adat dan masyarakat Papua secara keseluruhan sebagai lembaga kunci dalam pengembangan model H (model perubahan perilaku AB/kebijakan AB).
- Khusus bagi lembaga agama, perlu melakukan ministry penggembalaan, penguatan kepada pengidap dan keluarganya (fisik dan psikologi) dan sakramen bagi penderita. Kemudian, kepada segenap umatnya pemimpin harus memberi contoh dan meningkatkan pembimbingan dan pengawasan serta lebih bersifat transparan dalam pengajaran dan khotbah.
- Pemerintah daerah Papua dapat menggunakan Model H (model perubahan perilaku AB/kebijakan AB) untuk penanggulangan risiko terjangkit HIV-AIDS di Papua dengan pendekatan nilai-nilai masyarakat lokal yaitu a community planning process and efforts and directed.
Penulis, Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH (082324332525)
Sumber:
Zeth Arwam Hermanus Markus et al. 2010. Perilaku dan Risiko Penyakit HIV-AIDS di Masyarakat Papua Studi Pengembangan Model Lokal Kebijakan HIV-AIDS. Yogyakarta: Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Volume 13 No. 04 Desember
Kompas. 2018. https://regional.kompas.com/read/2018/12/01/21132341/penderita-hivaids-di-papua-tercatat-38874-orang
{jcomments on}
Puskesmas Lampa Kabupaten Pinrang Raih Akreditasi Paripurna dari Kementerian Kesehatan RI
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Lampa, Kecamatan Duampanua,
NIST releases Risk Management Framework 2.0 to combine privacy, security and supply chain into one
The National Institute of Standards and Technology posted the newest update to its Risk Management Framework.
Pengetahuan dan psikososial perawat dalam melakukan perawatan pada orang dengan HIV / AIDS (ODHA)
Melakukan perawatan dengan orang yang hidup dalam HIV merupakan sebuah tantangan, bukan hanya bagi pasien secara pribadi (yang pastinya bukan merupakan hal yang mudah). Melainkan juga dari sisi keperawatan/pelayanan juga merupakan hal tidak mudah untuk dilakukan, dilihat dari ilmu pengetahuan dalam melakukan perawatan yang profesional untuk orang dengan HIV. Disadari atau tidak, seringkali beberapa faktor turut menjadi pemicu kurangnya kepedulian terhadap perawatan orang dengan HIV. Dijelaskan dalam hasil penelitian yang disampaikan oleh Lufuno dan Makhado bahwa dukungan terkait Pendidikan keperawatan dan Peluang profesional, cara organisasi dalam mengatasi dampak masalah kesehatan dan sosial dari perawatan orang HIV hingga dukungan sosial dapat mempengaruhi pelayanan yang diberikan kepada orang dengan HIV.
Salah satu bentuk dukungan perawat yang merawat ODHA yakni memberikan pendidikan keperawatan terstruktur, hal ini penting bagi para manajer untuk memiliki kebijakan di tempat program pendidikan dan kursus yang seharusnya diikuti oleh perawat. Selain itu, program tersebut harus bersifat wajib atau perawat harus menerima kredit pada keterampilan dan pengetahuan yang didapat dari pekerjaan – konten dan implementasi, serta tindak lanjut yang dilakukan. Pendidikan keperawatan bisa direstrukturisasi untuk mengakomodasi perawat di tempat kerja, perawat baru yang bekerja dan siswa keperawatan. Ini bisa dicapai dengan menerapkan hal berikut: 1) Pengembangan Profesi Berkelanjutan sehingga dapat menyebarkan dan membagikan perkembangan terbaru dari HIV/Strategi intervensi AIDS; 2) Orientasi staf yang baru dipekerjakan; 3) Institusi pendidikan keperawatan harus mengintegrasikan HIV / AIDS manajemen ke dalam kurikulum yang ada.
Disebutkan juga dalam penelitian tersebut, bahwa dukungan organisasi juga diperlukan untuk mengatasi depresi dan kelelahan kerja, serta dukungan sosial. Pekerja harus diperkuat dan diberdayakan untuk dimobilisasi dalam hal pemberian informasi, pendidikan dan komunikasi, pelatihan tentang masalah HIV / AIDS. Program kesehatan karyawan juga dapat dirancang untuk membantu karyawan dalam bertransaksi dengan penyebab stres primer dan sekunder dan termasuk di dalamnya konseling dan layanan psikologis untuk para karyawan. Program kesehatan karyawan dapat dilakukan melalui beberapa langkah yakni Strategi koping pribadi internal harus didorong dalam penyediaan lingkungan praktik positif dapat mengurangi stres terkait kelelahan perawat. Oleh karena itu, penting untuk mempromosikan hal ini dengan baik di lingkungan kerja.
Langkah selanjutnya yakni pimpinan harus menemukan cara yang layak untuk mendukung perawat dalam menyediakan lingkungan di mana perawat bisa merasakan nyaman menyuarakan kekhawatiran dan kecemasan mereka dan harus mengakui serta memahami legitimasi kekhawatiran perawat. Kemudian, diikuti dengan memberikan pelatihan manajemen stres, kebijakan atau pedoman dapat digunakan oleh rumah sakit sebagai cara untuk mendapatkan karyawan dan mempertahankan tingkat stres di bawahnya yang mungkin mengarah ke contoh yang lebih tinggi dari kejenuhan. Di sisi lain, diperlukan juga dukungan sosial sebagai salah satu prediktor terbesar pengurangan kelelahan dan stres bagi perawat; karenanya seharusnya hal tersebut dipertimbangkan dalam menangani psikososial kesejahteraan perawat.
Andriani Yulianti.
{jcomments on}
ILUNI FKUI 88 Gelar Khitanan Massal Gratis untuk Dhuafa

Jakarta, 23 Desember 2018 – Sebanyak 110 anak yatim dan dhuafa se-Jabodetabek mengikuti acara khitanan massal gratis
Is the flu shot safe?
The flu is a respiratory illness caused by the influenza virus. Symptoms of the flu are typically more severe than those of a cold. However, a vaccine is available that can keep the effects and risks of the flu at bay.
Fakta-fakta Peringatan Hari Aids Sedunia, 1 Desember 2018 Mulai Sejarah hingga Lambang Aids
BANJARMASINPOST.CO.ID – Setiap 1 Desember, diperingati sebagai Hari Aids Sedunia. Nah, ada sejumlah fakta peringatan Hari Aids Sedunia yang tahun ini diperingati Sabtu 1 Desember 2018.
Bimbingan Teknis Manajemen Kepala Ruang
Bimbingan Teknis Manajemen Kepala Ruang
Yogyakarta, 28-29 Maret 2019 | Pukul 09.00-16.00 Wib
![]()
TOPIK INI MEMBAHAS MASALAH APA?
Pasal 29 Undang-Undang Keperawatan menyebutkan bahwa dalam menyelenggarakan Praktik Keperawatan, Perawat bertugas sebagai: pemberi Asuhan Keperawatan; penyuluh dan konselor bagi Klien; pengelola Pelayanan Keperawatan; peneliti Keperawatan; pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan wewenang; dan/atau pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu. Tugas-tugas ini mengharuskan rumah sakit memiliki kepala ruang sebagai leader yang akan mempersiapakan kebutuhan SDM, mengelola pelayanan, dan mengeavaluasi pelayanan agar tercipta pelayanan yang bermutu.
MANFAAT APA YANG ANDA DAPATKAN?
- Tools perencanaan kebutuhan Sumber Daya Manusia
- Cara melakukan komunikasi efektif
- Lembar catatan keperawatan
- Lembar kerja audit keperawatan
- Lembar kerja menyusun indikator asuhan keperawatan, analisa dan menyusun rencana tindak lanjut
- Pembiayaan asuhan keperawatan
- Lembar kerja lean management
- Tools manajemen risiko
APA SAJA YANG DIBAHAS?
- Teknis Perencanaan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM)
- Etika keperawatan & komunikasi efektif
- Teknis pengisian catatan keperawatan
- Teknis penyusunan standar asuhan keperawatan dan Audit Keperawatan
- Teknis menyusun indikator asuhan keperawatan, analisa dan menyusun rencana tindak lanjut
- Konsep pembiayaan asuhan keperawatan
- Teknis lean management di ruang rawat inap
- Teknis manajemen risiko ruang rawat inap
SASARAN PESERTA
- Kepala Bidang Keperawatan
- Case Manajer Keperawatan
- kepala ruang
- Komite keperawatan
- Perawat klinis / Pelaksana
NARASUMBER DAN FASILITATOR
- Sri Martuti SKP, MARS
- dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua
- Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH
BIAYA
Rp. 3.500.000/ orang. Rp. 3.500.000/orang.
Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui: Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM FKU PKMK Dana Kerjasama Penelitian Umum
KONTAK PERSON
Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH | 082324332525 | eva.tbh@gmail.com