Protokol Hand Hygiene Patient Untuk Mencegah Hospital-Acquired Infections

Hospital-Acquired Infections (HAIs) dahulu dikenal sebagai infeksi nosokomial. HAIs adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. HAIs dapat terjadi karena penggunaan alat atau prosedur invasif, yaitu catheter-associatedurinary tract infection (CAUTI) dan central line-associatedblood stream infection (CLABSI).

HAIs dapat kita temukan di Intensive Care Unit. ICU merupakan unit perawatan khusus yang dikelola untuk merawat pasien sakit berat dan kritis, cedera dengan penyulit yang mengancam serta melibatkan tenaga kesehatan terlatih, didukung dengan kelengkapan peralatan khusus (Departemen Kesehatan). Pasien yang masuk ICU karena medical diagnoses, cardiac diagnoses including open heart surgery and surgical diagnoses.

Kejadian HAIs berkaitan dengan kurang optimalnya kepatuhan cuci tangan petugas kesehatan. Hal ini terjadi karena sikap, kurangnya kesadaran akan pentingnya cuci tangan, tekanan sosial, tidak ada control, dan pengalaman hidup sebelumnya. Evidence based hubungan cuci tangan terhadap kejadian HAIs dapat dilihat pada hasil penelitian yang telah diterbitkan oleh American Journal of Critical Care tahun 2015 yang berjudul “Use of A Patient Hand Hygiene Protocol to Reduce Hospital Acquered Infections and Improve Nurses’ Hand Washing”.

Cherie Fox dan rekannya melakukan penelitian tentang dampak penggunaan Patient Hand Hygiene Protocol (PHHP) terhadap kepatuhan cuci tangan pemberi layanan kesehatan di ruang ICU Mission Hospital Mission Viejo, California. PHPP diimplementasikan pada pasien yang masuk ICU, kemudian dilakukan pengkajian tentang kontraindikasi penggunaan chlorhexidine. Jika pasien tidak alergi maka chlorhexidine 2% akan diberikan pada pasien tiga kali sehari setiap jam 8 pagi, jam 2 siang dan jam 8 malam. Namun jika ada alergi maka pemberian CHG 2% akan dihentikan.

phpp

Gambar 1. PHPP

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan PHPP menurunkan angka kejadian CLABSI dan CAUTI di IC. Rata-rata kejadian CLABSI per bulan menurun dari 1.1 menjadi 0.50 per 1000 catheter days. Rata-rata kejadian CAUTIper bulan menurun dari 9.1 menjadi 5.6 per 1000 catheter days.

cauti

Gambar 2. Angka CAUTI dan CLABSI

Hasil kepatuhan cuci tangan perawat sebelum masuk dan keluar ruang ICU menunjukkan peningkatan angka kepatuhan cuci tangan setelah penerapan PHHP. Selama implementasi PHHP kepatuhan cuci tangan setelah keluar ruangan lebih tinggi dibandingkan sebelum masuk ruangan.

phhp2

Gambar 3. Angka Kepatuhan Cuci Tangan Sebelum dan Setelah Penerapan PHHP

Evidence based ini dapat diaplikasikan di rumah sakit di Indonesia maupun dapat menjadi bahan penelitian lebih lanjut.

Penulis: Eva Tirtabayu Hasri (eva.tbh@gmail.com| 0823-2433-2525)

Sumber: Use of A Patient Hand Hygiene Protocol to Reduce Hospital Acquered Infections and Improve Nurses’ Hand Washing. American Journal of Critical Care. 2015;24:216-224. doi: http://dx.doi.org/10.4037/ajcc2015898

{jcomments on}

Hari Mencuci Tangan Sedunia

“Tangan yang Bersih – Resep Untuk Kesehatan” menjadi tema yang diusung pada peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia (Global Handwashing Day) tahun 2018. Peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia sendiri dilaksanakan setiap 15 Oktober, dimana kegiatan ini diawali oleh Public Private Partnership of Handwashing (PPPHW) pada 2008.

Praktik cuci tangan memang digaungkan di berbagai sektor termasuk sektor kesehatan. Penerapan cuci tangan dengan benar sesuai rekomendasi WHO dapat menjadi metode efektif untuk mencegah terjadinya infeksi pada saat pemberian layanan kesehatan dari provider kepada pasien.

Berbagai artikel dengan tema praktik cuci tangan (hand hygiene) di fasilitas kesehatan akan ditampilkan untuk menjadi ‘pengingat’ kembali pentingnya kepatuhan terhadap praktik cuci tangan (hand hygiene) ini pada berbagai aktivitas di fasilitas kesehatan. Semoga bermanfaat.

 

 

Hand Hygiene untuk Keselamatan Pasien dan Perawat

Ketidakpatuhan terhadap hand hygiene merupakan penyebab utama infeksi nosokomial. Kebersihan tangan yang baik memainkan peran utama dalam mengurangi dan menghilangkan penyebaran kuman dan infeksi dari pasien kepada pasien. Penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan terhadap kebersihan tangan berada di bawah 30%. Alasan yang diberikan oleh para tenaga medis terhadap kurangnya kepatuhan terhadap hand hygiene adalah:

  1. Kondisi kerja (kurangnya waktu)
  2. Infrastruktur (kurangnya peralatan)
  3. Pelatihan (tidak memadai)
  4. Lingkungan (atasan, kolega, pasien tidak disiplin)
  5. Kesehatan staf medis dan perawat (iritasi kulit yang disebabkan oleh sering membersihkan tangan).

Sangat penting untuk memastikan bahwa tenaga medis memprioritaskan cuci tangan. Kegiatan sederhana cuci tangan memiliki potensi untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada satu vaksin atau intervensi medis. Ini adalah salah satu cara paling efektif dan murah untuk mencegah diare dan radang paru- paru, yang menyebabkan lebih dari 3,5 juta kematian di seluruh dunia pada anak-anak di bawah usia 5 tahun setiap tahun. Meskipun orang-orang di seluruh dunia membersihkan tangan mereka dengan air, sangat sedikit yang menggunakan sabun untuk mencuci tangan mereka.

Kontak tangan ke tangan dapat menyebarkan kondisi ringan, seperti flu biasa, tetapi juga penyakit yang lebih parah atau mengancam jiwa. Penyakit infeksi berisiko untuk orang yang masih sangat muda, orang lanjut usia, orang – orang yang sudah memiliki penyakit sebelumnya, dan orang – orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu. Perawat mencuci tangan bukan hanya untuk mencegah mereka dari sakit, melainkan juga mengurangi risiko menginfeksi orang lain. Jika mereka tidak mencuci tangan mereka dengan benar sebelum bersentuhan dengan orang lain, mereka dapat menginfeksi pasien mereka dan juga anggota keluarga mereka. The Centers for Disease Control and Prevention secara jelas mengamanatkan agar semua tenaga medis mendesinfeksikan tangan mereka saat memasuki kamar pasien dan saat mereka meninggalkan ruangan. Berdasarkan hasil penelitian, hambatan yang dirasakan oleh tenaga medis dalam praktik mencuci tangan yang konsisten adalah:

  1. Wastafel atau dispenser (sabun / alcohol-based hand rub) yang sulit diakses
  2. Lupa
  3. Beban kerja yang berat
  4. Ketidaktahuan pedoman dan kurangnya pengetahuan ilmiah

Salah satu solusi dalam upaya mengingatkan tenaga medis untuk selalu mencuci tangan adalah menempatkan alcohol-based hand rub dispenser di samping setiap tempat tidur atau menampilkan poster besar yang menekankan pentingnya mencuci tangan.

Dirangkum oleh: dr. Novika Handayani
Sumber : Malliarou, M. Hand Hygiene of Nurses and Patient Safety. Int J Nurs Clin Pract 2017, 4: 217
 

{jcomments on}

Jadwal Bimbingan Teknis Tahun 2018

Agenda Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Penyelenggaraan rekam medis di FKTP berdasar standar akreditasi FKTP
Audit klinis untuk peningkatam mutu layanan klinis di RS
Ketepatan penulisan Koding ICD 10 & ICD 9
Deteksi & Investigasi Potensi Fraud di Rumah Sakit
Manajemen Mutu Pelayanan Geriatri
Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Clinical Pathway
Audit klinis untuk FKTP dan FKTRL
Membangun Sistem Anti Fraud di Rumah Sakit
Peningkatan mutu & keselamatan pasien (PMKP) untuk FKTP
Audit medis & utilization review untuk TKMKB di Rumah Sakit
Audit keperawatan untuk peningkatan mutu layanan keperawatan di RS
Penyusunan clinical pathway untuk peningkatan mutu di rumahsakit
Pelatihan kendali mutu kendali biaya program jaminan kesehatan nasional khusus tim KMKB
Optimalisasi Tim Pencegahan Kecurangan JKN di FKTP
Peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) untuk rumahsakit
Pengelolaan Resiko Kecurangan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) (Fraud Risk Management)
Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien Di FKTP
Workshop Manajemen Mutu & Analisis Biaya Hemodialisa
Audit Mutu Internal Dan Tinjauan Manajemen Puskesmas
Optimalisasi Peran Tim Pencegahan Kecurangan JKN di FKRTL
Penyusunan Program, Pelaksanaan & Evaluasi Peningkatan Mutu & Keselamatan Pasien di Rumahsakit
Bimbingan Teknis Persiapan Survei Ulang (Re Akreditasi) Puskesmas
Manajemen resiko untuk rumahsakit
Dasar – Dasar Manajemen Mutu Sarana Pelayanan Kesehatan Bimbingan Teknis Manajemen Kepala Ruang