Management of health care quality and costs has become a prominent topic of debate and research in the last decade in the United States. A new study from The University of Texas at Dallas examines the relationship between health care service quality, health information technology usage and Medicare reimbursements for congestive heart failure cases.
Puskesmas di Kutim mulai dinilai tim akreditasi Kemenkes RI
“Ini merupakan awal survei akreditasi puskesmas selanjutnya akan dilanjutkan ke seluruh puskesmas se-Kutim,” kata Bahrani.
Merdeka.com, Kutai Timur – Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kutim mulai dilakukan penilaian untuk diakreditasi.
Health Care Safety and Quality Improvement the Focus of DMC QuESST Competition
Yesterday, the Detroit Medical Center (DMC) recognized the winners of its sixth annual Quality Education and Safe Systems Training (QuESST) Graduate Medical Education Research Day competition.
IDI Usulkan Penyakit Katastropik Tak Masuk Skema Pembiayaan JKN
Pengurus organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengusulkan kepada pemerintah agar penyakit katastropik dikeluarkan dari skema pembiayaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Upaya itu dapat menekan defisit anggaran hingga 30 persen.
Myths about musculoskeletal pain and Aboriginal Australians prevent high quality care
Musculoskeletal pain (such as low back pain, osteoarthritis, neck, knee and shoulder pain) is the number one cause of disability in Australia and affects 28% of Australians. It is one of nine national priorities in health.
BPJS Sulbar Komitmen Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Sulawesi Barat bertekad melakukan peningkatan mutu pelayanan peserta JKN-KIS.
Gelar BTCLS, Dinkes Kota Tangerang : Sasar Peningkatan SDM dan Pelayanan
Dinas Kesehatan(Dinkes) Kota Tangerang menggelar Pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS), agenda tersebut dilaksanakan sebagai penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang maksimal.
Quality child care provides numerous benefits — there should be better legislation
Searching for an issue that can garner agreement from all sides may sound like a daunting task. However, several groups are hoping that caring for and protecting our nation’s youngest citizens may unite lawmakers. They probably have good reason — it has happened before.
Blended Learning Optimalisasi Peran Tim Pencegahan Kecurangan JKN di Rumah Sakit
LATAR BELAKANG
Tim Pencegahan Kecurangan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan ujung tombak dalam pembangunan dan implementasi sistem pencegahan kecurangan JKN di rumah sakit. Permenkes No. 36/ 2015 mengamanatkan tim ini setidaknya terdiri dari unsur satuan pemeriksaan internal, komite medik, perekam medis, koder, dan unsur lain yang terkait. Tugas yang harus dilakukan oleh tim ini diantaranya melakukan deteksi dini kecurangan JKN berdasar data klaim, menyosialisasikan kebijakan yang berorientasi kendali mutu dan biaya, hingga mampu mendorong pelaksanaan tata kelola organisasi dan klinik yang baik. Untuk lebih optimal melaksanakan perannya, Tim Pencegahan Kecurangan JKN perlu mendapat peningkatan kompetensi.
Rumah sakit perlu bersegera membangun dan menjalankan upaya-upaya pencegahan karena isu kecurangan JKN sudah menjadi perhatian penegak hukum, seperti KPK. KPK menyatakan dalam satu semester pada tahun 2015, ada sekitar 175 ribu klaim dari pelayanan kesehatan ke BPJS dengan nilai Rp 400 miliar yang terdeteksi ada kecurangan. Hingga saat ini sudah ada 1 juta klaim yang terdeteksi. Menindaklanjuti temuan ini, KPK merencanakan penindakan terhadap kecurangan-kecurangan yang terbukti sebagai fraud per 2018. Kemenkes juga menindaklanjuti temuan ini dengan membentuk satuan tugas (satgas) pencegahan fraud dalam era JKN. Satgas ini terdiri atas personel dari Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, dan KPK.
Rumah sakit menjadi sorotan dalam penindakan fraud layanan kesehatan karena berbagai penelitian seluruh dunia, menunjukkan bahwa 60% pelaku fraud layanan kesehatan adalah provider. Untuk membantu rumah sakit dalam membangun sistem pencegahan kecurangan JKN, KPK telah menerbitkan instrumen Kepatuhan Pemenuhan Amanat Permenkes No. 36/ 2015. Instrumen ini dapat digunakan oleh Tim Pencegahan Kecurangan JKN sebagai panduan dalam menyusun dan mengimplementasikan program pencegahan kecurangan JKN di RS.
Untuk memantapkan keterampilan Tim Pencegahan Kecurangan JKN, PKMK FK UGM bekerjasama dengan PERSI menyelenggarakan “Blended Learning Optimalisasi Peran Tim Pencegahan Kecurangan JKN di Rumah Sakit”. PKMK FK UGM telah mengembangkan modul-modul pelatihan, dan juga menjadi narasumber pelatihan, topik fraud layanan kesehatan berdasar referensi dari NHCAA di Amerika Serikat, KPK, dan ACFE Indonesia Chapter. Modul juga dikembangkan dari kajian-kajian yang telah dilakukan oleh PKMK FK UGM. PERSI, dalam hal ini sebagai mitra penyelenggaraan pelatihan, merupakan wadah yang menaungi dan bertugas mendorong rumah sakit untuk menerapkan upaya pencegahan kecurangan berdasar amanat Permenkes No. 36/ 2015. Kedua lembaga ini bekerjasama dalam penyelenggaraan pelatihan dan menerbitkan sertifikat untuk Tim Pencegahan Kecurangan JKN di Rumah Sakit untuk memantapkan peran tim anti fraud di rumah sakit. Sertifikat akan diberikan kepada tim yang telah lengkap menyelesaikan semua materi pelatihan dan mengerjakan penugasan.
TUJUAN
Secara umum pelatihan ini bertujuan membantu rumah sakit dalam membangun sistem pencegahan kecurangan JKN internal melalui implementasi peran Tim Pencegahan Kecurangan JKN di RS. Secara khusus pelatihan ini bertujuan untuk:
- Meningkatkan pemahaman peserta mengenai fenomena fraud layanan kesehatan yang ada di Indonesia.
- Membantu peserta dalam pemantapan pembentukan tim pencegahan kecurangan JKN di RS.
- Meningkatkan wawasan peserta mengenai bentuk-bentuk program pencegahan kecurangan JKN di RS.
- Meningkatkan keterampilan peserta dalam deteksi potensi kecurangan JKN di RS.
- Meningkatkan keterampilan peserta dalam investigasi kecurangan JKN di RS.
- Meningkatkan keterampilan peserta dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta pelaporan pelaksanaan program pencegahan kecurangan JKN di RS.
KRITERIA PESERTA
Peserta yang dapat mengikuti pelatihan ini adalah pimpinan dan anggota tim pencegahan kecurangan JKN di RS. Diutamakan tim telah terbentuk dengan SK direktur. Peserta juga dapat berasal dari jajaran direksi dan manajemen RS (komite medik RS, perekam medik RS, klinisi (dokter dan perawat), dan SPI).
NARASUMBER DAN FASILITATOR
Tim narasumber dalam pelatihan ini adalah:
- PERSI
- Prof. dr. Budi Sampurna, SH, DFM, Sp.F(K), Sp.KP
- dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes
- Sundoyo, SH, MH, MKN
- dr. Daniel Budi Wibowo, M.Kes
- Dr. dr. Hananto, Sp.JP(K), MARS, FICA
- Dr. Adib Abdullah Yahya, MARS, MHKes
- BPJS Kesehatan
- dr. Andi Afdal, MBA, AAK
- BPKP
- Ernadhi Sudarmanto, Ak, MM, MAk, CFE, CFrA, CA
- Agustina Arumsari, Ak, MH, CFE, CFrA, CA
- PKMK FK UGM
- Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD
- dr. Hanevi Djasri, MARS
- drg. Puti Aulia Rahma, MPH
- Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH
Tim pelatih berasal dari PERSI dan PKMK FK UGM. PERSI merupakan organisasi yang menaungi rumah-rumah sakit seluruh Indonesia dan berpengalaman mendampingi RS menerapakan berbagai regulasi terkait RS termasuk regulasi pencegahan kecurangan JKN. Sedangkan PKMK FK UGM merupakan lembaga penelitian yang mengawali pembentukan sistem anti kecurangan JKN di Indonesia. PKMK FK UGM juga berpengalaman dalam penelitian, konsultasi, pendampingan, maupun pelatihan terkait pencegahan fraud layanan kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, KPK, Dinas Kesehatan, BPJS Kesehatan, serta ACFE Indonesia Chapter dalam menyelenggarakan pelatihan serupa untuk kategori peserta yang lebih luas.
METODE PELATIHAN
Pelatihan dilakukan dengan metode blended learning (BL) yang merupakan kombinasi pembelajaran mandiri peserta dan tatap muka dengan narasumber. Dalam pembelajaran mandiri, peserta akan mempelajari seluruh modul pelatihan (total ada 6 modul) dalam bentuk video tutorial yang sudah diupload diwebsite. Akses modul akan diberikan secara bertahap tiap minggu untuk membantu peserta mempelajari modul secara bertahap dan fokus dalam memahami materi modul. Dalam tiap modul, peserta akan diminta untuk mengerjakan penugasan untuk memantapkan pemahaman.
Tatap muka dengan narasumber via Webinar dilaksanakan tiap dua minggu sekali (total ada 3 kali pertemuan tatap muka) untuk memperdalam materi dan membahas permasalahan yang timbul dalam proses belajar dan pengerjaan tugas. Peserta juga dapat mengakses “Forum Diskusi ” setiap saat, mulai saat proses awal belajar.
Setelah pelatihan selesai, peserta masih dapat berdiskusi melalui forum diskusi tersebut untuk membahas penerapan materi pembelajaran hingga 3 bulan kedepan.
Keuntungan pelatihan dengan metode BL yang diselenggarakan PKMK FK UGM adalah:
- Pelatihan dapat diikuti perorangan. BL akan tetap berjalan walaupun hanya ada 1 peserta dalam 1 periode pelatihan.
- Peserta dapat mengikuti pelatihan tanpa harus meninggalkan tempat kerja dan kenyamanan tempat tinggal masing-masing.
- Peserta tidak perlu mengeluarkan biaya transport dan akomodasi.
- Materi dilengkapi dengan contoh-contoh, template dokumen (untuk membantu menyusun dokumen-dokumen yang harus ada sesuai amanat Permenkes No. 36/ 2015), serta kertas kerja sebagai media praktikum untuk meningkatkan pemahaman peserta.
- Peserta dapat mengunduh dan mempelajari materi di mana saja dan kapan saja (dapat juga dipelajari berkali-kali).
- Peserta mendapat akses ke “Forum Diskusi ” hingga 3 bulan setelah pelatihan untuk mendiskusikan masalah yang dijumpai dalam implementasi materi pembelajaran di RS.
WAKTU KEGIATAN
Pelatihan Gelombang kedua dilaksanakan pada 12 Februari – 28 April 2017 (total 6 Minggu)
MATERI
Materi pembalajaran merupakan pendetilan dari amanat Permenkes No. 36/ 2015 bagi Tim Pencegahan Kecurangan JKN. Berikut materi-materi* yang akan didapat peserta pelatihan:
| Amanat Permenkes No. 36/ 2015 | Materi |
| Pemahaman umum mengenai fenomena fraud layanan kesehatan | Modul I – Kecurangan JKN di RS dalam Era JKN
|
| Pembentukan tim pencegahan kecurangan JKN di FKRTL sesuai Permenkes No. 36/ 2015 pasal 18 | Modul II – Pembentukan Tim Pencegahan Kecurangan JKN di RS
|
| Tupoksi Tim Pencegahan Kecurangan JKN di FKRTL sesuai Permenkes No. 36/ 2015 pasal 18 ayat 2, poin b; c; dan d. | Modul III – Program Pencegahan Kecurangan JKN di RS
|
| Tupoksi Tim Pencegahan Kecurangan JKN di FKRTL sesuai Permenkes No. 36/ 2015 pasal 18 ayat 2, poin a dan e. | Modul IV – Teknis Deteksi Potensi Kecurangan JKN di RS
|
| Tupoksi Tim Pencegahan Kecurangan JKN di FKRTL sesuai Permenkes No. 36/ 2015 pasal 18 ayat 2, poin e (terkait persiapan penindakan). | Modul V – Teknis Investigasi Kecurangan JKN di RS
|
| Tupoksi Tim Pencegahan Kecurangan JKN di FKRTL sesuai Permenkes No. 36/ 2015 pasal 18 ayat 2, poin f dan g. | Modul VI – Monitoring dan Evaluasi serta Pelaporan Pelaksanaan Program Pencegahan Kecurangan JKN di RS
|
*Seluruh materi dapat diakses secara bertahap tiap minggu.
KRITERIA KELULUSAN
Peserta akan mendapat sertifikat kelulusan dari PKMK FK UGM dan PERSI bila memenuhi syarat berikut:
- Memenuhi syarat presensi (90%)
- Mengerjakan penugasan tiap modul (100%)
Untuk mengakses seluruh topik diskusi yang sudah dibahas, silakan klik menu Forum Diskusi di atas. Pastikan Anda telah mempelajari aturan penggunaan forum untuk memperlancar proses diskusi.
Bila Anda mengalami kesulitan dalam menggunakan Forum Diskusi, Anda dapat menghubungi kami di email: blfraudpkmkugm@gmail.com
Optimalkan Peran TKMKB dalam Pelaksanaan Utilization Review dan Audit Medis
Program JKN mengamanatkan upaya kendali mutu kendali biaya dalam bentuk plekasanaan Utilization Review (UR) dan Audit Medis (AM). Dua kegiatan ini menjadi tugas wajib Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya (TKMKB). Namun, penelitian bersama BPJS Kesehatan dan PKMK FK UGM menunjukkan bahwa pelaksanaan UR oleh TKMKB kurang optimal dilaksanakan. Rekomendasi hasil UR seringkali kurang tepat guna sehingga upaya kendali mutu dan biaya belum dapat berjalan. Alasan inilah yang melatari PKMK FK UGM menyelenggarakan Bimtek Pelaksanaan UR dan Audit Medis bagi TKMKB. Acara ini diselenggarakan di h-Boutique Hotel – Yogyakarta pada 17 – 18 April 2017.
“Data merupakan hal paling penting dalam proses UR. Semakin detil data yang kita olah, UR yang kita hasilkan akan semakin sensitif,” tutur Yulita Hendrartini, pemateri hari pertama dari PKMK FK UGM. TKMKB juga perlu memiliki keterampilan khusus untuk analisis data UR. Alternatifnya, TKMKB perlu dibantu oleh analis khusus untuk mengolah data UR ini. Analisa data yang tajam memudahkan TKMKB menyusun rekomendasi tepat guna untuk kendali mutu dan biaya.
Permasalahan dalam UR yang perlu ditelusuri lebih lanjut, dibahas dalam proses audit medis. “Audit medis bukan untuk mencari kesalahan, tapi untuk menggali potensi perbaikan,” tutur Hanevi Djasri pembicara hari kedua dari PKMK FK UGM. Sama dengan UR, proses paling penting dalam AM adalah menetapkan dan melaksanakan perbaikan. Pada tahap ini TKMKB diharapkan mampu menelusuri permasalahan hingga ke akarnya dan menetapkan perbaikan yang sesuai sasaran.
Bimtek dihadiri oleh TKMKB dari BPJS Kesehatan pusat dan dari Divisi Manajemen Mutu PKMK FK UGM. Materi disampaikan dengan metode workshop dengan banyak sesi praktikum. Fasilitator dalam bimtek ini adalah Puti Aulia Rahma. Metode ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan keterampilan peserta melaksanakan UR dan audit medis. Acara ditutup dengan sharing pesan kesan oleh peserta dan foto bersama.
Text: drg. Puti Aulia Rahma, MPH