Tim Pelayanan Untuk Pasien Diabetes : Dokter Perawatan Primer, Praktek Perawat Lanjutan Dan Apoteker Klinis

Diabetes melitus kini menjadi ancaman yang serius bagi manusia dan telah menjadi penyebab kematian urutan ketujuh di dunia. Diabetes melitus atau kencing manis adalah penyakit yang ditandai tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini timbul perlahan-lahan dan biasanya tidak disadari oleh si penderita. Indonesia sendiri kini berada di urutan ke empat setelah Amerika, China dan India. Di Amerika bahkan diprediksikan akan mengalami peningkatan dari 23 Juta kasus menjadi 48,3 Juta kasus pada tahun 2050 mendatang. Hal yang sama juga diprediksikan di Indonesia, apabila tidak ditangani dengan serius, maka tidak menutup kemungkinan urutan Indonesia akan mengalami peningkatan 2-3 kali lipat dari kasus yang ada saat ini.

Berbagai intervensi peningkatan mutu pelayanan pasien diabetes dilakukan untuk mengatasi prediksi peningkatan kasus dengan upaya kolaborasi dalam berbagai disiplin ilmu, karena sebagian besar pasien diabetes dikelola oleh perawatan dokter primer, tetapi kelemahan klinis adalah keterbatasan waktu yang menghambat upaya untuk memenuhi tujuan pengobatan pasien. Keberhasilan pelayanan mutu manajemen penyakit diabetes membutuhkan strategi baru. Ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mencapai perbaikan dalam proses klinis dan hasil dengan biaya yang terjangkau.
Beberapa program di bawah ini cocok untuk diterapkan pada praktek perawatan dasar diantaranya strategi peningkatan kualitas pada intervensi:

  1. Manajemen Kasus:
    Koordinasi, pemantauan, dan dukungan dari kebutuhan medis pasien, sering dilakukan oleh perawat atau apoteker (yaitu, perawat ditugaskan untuk memantau pasien diabetes berisiko tinggi serta mengkoordinasikan perawatan spesialis dan membantu pasien dengan diet dan manajemen obat-obatan)
  2. Manajemen Terapi Obat
    Resep dan penyesuaian obat oleh perawat praktek yang lebih maju atau apoteker klinis, biasanya menggunakan algoritma; dilakukan melalui telepon dan secara pribadi serta bekerja sama dengan dokter perawatan atau independen.
  3. Pendidikan kedokteran
    Pendidikan kedokteran lebih diarahkan pada dokter tentang pedoman obat-obatan, dan teknik pengobatan terbaru.
  4. Telemedicine
    Sebuah sistem untuk memfasilitasi konsultasi dan kolaborasi dokter di daerah terpencil.
  5. Audit dan feedback
    Ringkasan penyedia atau kelompok kinerja pada indikator klinis atau proses yang dikirim ke dokter untuk meningkatkan kesadaran kinerja (yaitu, laporan bulanan dikirim ke penyedia tentang persentase pasien diabetes, dimana sudah mereka selesaikan)
  6. Sistem pengingat pasien.
    Pesan untuk pasien seperti panggilan telepon, surat, atau email untuk memberikan pengingat tentang janji atau aspek penting tentang penilaian diri pasien.
  7. Pendaftaran elektronik pasien
    Catatan medis elektronik yang memungkinkan pelacakan tindakan klinis penyedia atau populasi diabetes klinik; memfasilitasi manajemen agar lebih proaktif bagi pasien yang belum mencapai hasil.
  8. Peningkatan kualitas yang berkelanjutan
    Teknik untuk memeriksa dan mengukur proses klinis, merancang intervensi, menguji dampaknya, dan kemudian menilai kebutuhan untuk perbaikan lebih lanjut (yaitu, mengidentifikasi hambatan vaksinasi pneumonia efektif pada pasien diabetes klinik dan menerapkan solusi sementara menilai perubahan frekuensi vaksinasi).
  9. Pendidikan pasien
    Intervensi untuk mempromosikan pemahaman pasien tentang penyakit, pengobatan, manajemen diri, atau strategi pencegahan; sering disampaikan melalui sesi kelompok atau kunjungan satu-satu dengan pendidik diabetes atau dengan bahan cetak.
  10. Perubahan tim
    Restrukturisasi tim penyedia untuk memaksimalkan efektivitas peran setiap orang dalam memberikan perawatan pasien (yaitu, praktisi perawat lebih rutin tindak lanjut dalam melihat pasien diabetes dibanding dokter)
  11. Pengingat dokter
    Pesan diarahkan pada praktisi selama praktek klinis bahwa tindakan yang cepat berdasarkan kebutuhan pasien atau parameter fisiologis (yaitu, pesan rekam medis elektronik mengingatkan dokter untuk memesan profil lipid tahunan ketika mereka jatuh tempo).
  12. Promosi manajemen diri
    Strategi yang meningkatkan kemampuan pasien untuk mengelola kondisi mereka; ini termasuk perangkat untuk pemantauan diri (yaitu, tekanan darah di rumah cuff), penyediaan hasil untuk pasien (yaitu, mengirimkan hasil lab pasien) atau tindak lanjut panggilan telepon dari penyedia dengan rekomendasi.
  13. Insentif keuangan, regulasi, dan kebijakan
    Strategi yang memperkuat perilaku tertentu seperti insentif keuangan untuk penyedia atau pasien atau perubahan peraturan, kebijakan, lisensi, atau akreditasi.

Selain strategi program di atas ada juga contoh tim dan proses struktur yang dapat mendukung kemitraan perawat atau apoteker dalam perawatan dasar. Untuk berhasil mengelola diabetes, pasien perlu lebih banyak kontak dengan tim dokter. Ada kunjungan tambahan dan koordinasi perawatan dengan penyedia lainnya adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan.

Bagian berikut menyoroti dua model yang sukses yang telah dilaksanakan dan dievaluasi secara mendalam.

  1. Sebuah program manajemen penyakit yang dipimpin apoteker
    Membentuk tim apoteker klinis dalam klinik perawatan dasar yang menyediakan pendidikan pasien, manajemen kasus, dan manajemen obat untuk pasien diabetes. Apoteker memiliki kontak dengan pasien setiap 2-4 minggu melalui telepon atau secara pribadi. Konseling individual dan pendidikan dan pengobatan. Selain itu, koordinator perawatan menghubungi pasien secara teratur untuk mengingatkan mereka tentang janji, mengidentifikasi hambatan, dan alamat penyedia layanan pengobatan. Pasien bisa memilih apakah mereka ingin menerima rekomendasi dengan penyesuaian obat dari apoteker atau diberitahu setelah perubahan telah dibuat. Manajemen lebih proaktif dengan me-review rutin database elektronik pasien. Dengan dilakukan program ini menurut penelitian yang dialkukan oleh David Willens dapat dilihat bahwa biaya yang terkait dengan program ini lebih dapt menekan biaya dibandingkan dengan sebagian besar intervensi medis modern karena penghematan biaya dapat dilakukan dari penurunan potensial pasien gawat darurat atau pemanfaatan rumah sakit. Manajemen penyakit yang dipimpin oleh apoteker meningkatkan peluang untuk pendidikan pasien, manajemen kasus, dan manajemen efisien obat dapat meningkatkan hasil diabetes dengan biaya yang wajar.
  2. Praktek perawat lanjutan dan model tim dokter
    Dengan menciptakan proses terstruktur perawatan, dokter perawatan dasar dan praktisi perawat dapat bekerja dalam tim dan dapat meningkatkan baik perawatan pasien diabetes maupun hasil klinis. Hal ini terlihat pada kelompok intervensi, dimana praktisi perawat dijadikan sebagai kontak lini pertama untuk perawatan dan diikuti algoritma berbasis bukti untuk memandu keputusan manajemen independen. Mereka terlibat dalam manajemen penyakit melalui kontak telepon dengan pasien dan kesepakatan janji tindak lanjut. Jika masalah muncul yang tidak dibahas dalam algoritma maka perawat membahasnya dengan dokter perawatan dasar pasien dan segera membuat rencana perawatan. Para perawat ditujukan untuk memberikan pendidikan pada pasien dan terutama apabila terjadi hambatan psikososial untuk kepatuhan pengobatan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh David Willens dkk bahwa kolaborasi selama 12 bulan tim berhasil meningkatkan pemberian perawatan preventif, pendidikan pada pasien diabetes.

Sejumlah penelitian saat ini menunjukkan bahwa meningkatkan kontrol diabetes dapat mengurangi komplikasi dan kemungkinan mengurangi biaya dan pengurangan risiko komplikasi dapat menurunkan sistem perawatan kesehatan atau beban masyarakat terkait dengan diabetes sehingga pasien dengan riwayat diabetes dapat segera melakukan pemeriksaan dengan biaya rendah.

Oleh : Andriani Yulianti, SE., MPH.
Sumber : Interdisciplinary Team Care for Diabetic Patients by Primary Care Physicians, Advanced Practice Nurses, and Clinical Pharmacists. Willens et al. Clinical Diabetes Journal. Volume 29, Number 2, 2011.
http://clinical.diabetesjournals.org/content/29/2/60.full.pdf+html 

{module [150]}

ACA incentives driving healthcare transition improvements in hospitals

newsRegardless of one’s views on the Affordable Care Act, it has succeeded in placing long-overdue attention on improving management of patient transitions from one care setting to another, according to a leading health care policy analyst speaking today at the National Quality Summit, sponsored by the National Association for Healthcare Quality (NAHQ, www.nahq.org).

Continue reading

Jokowi Akan Paksa Semua Rumah Sakit Swasta Terima Pasien BPJS

presiden jokowiPresiden Joko Widodo akan memaksa semua rumah sakit swasta untuk menerima pasien yang dijamin oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS). Menurut Jokowi, tidak boleh ada lagi cerita pasien ditolak oleh rumah sakit, khususnya untuk keadaan genting.

“Kalau pakai BPJS enggak bisa, saya akan gunakan kewenangan saya untuk memaksa,” kata Jokowi saat akan membagikan KIS di Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (28/4/2015).

Continue reading

Workshop Audit Medik/Audit Klinis untuk Rumah Sakit sebagai Upaya Peningkatan Mutu RS

22apr

(Kerjasama Badan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan PKMK FK-UGM)

PKMK FK UGM- Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) bekerjasama dengan Badan Mutu Yogyakarta menyelenggarakan BIMTEK audit medis di Hotel Santika, 13-14 April lalu. Badan Mutu mempercayakan dr. Hanevi Djasri MARS sebagai pembicara yang didampingi oleh drg. Puti Aulia Rahma MPH dan Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH

BIMTEK diikuti oleh 13 peserta yang berasal dari RSPAU dr Hardjolukito, RS UGM , RSUD Panembahan Senopati Bantul, RST dr.Soejono Magelang, RSU Nur Hidayah Bantul, RS Pura Raharja, RS Elizabeth, RS Rajawali Citra, RSI Cawas Klaten dan Dinkes Bontang. pelatihan ini diikuti oleh semua dokter. Audit medis sebaiknya diikuti oleh klinisi dalam hal ini adalah dokter dan perawat, bagian manajemen dan rekam medik ungkap dr. Hanevi ketika ada peserta yang bertanya tentang siapa peserta yang sebaiknya mengikuti BIMTEK. drg. Betha Candrasari (Direktur Badan Mutu) menuturkan dengan BIMTEK ini diharapkan peserta mampu menyusun instrumen dan menerapkan Audit Medis di RS, sehingga keterlibatan manajemen sangat penting dalam menindaklanjuti hasil audit medis.

Continue reading

Quality of Care, Patient Safety Improving, but Disparities Remain

ajmcImprovements in quality of care and patient safety in hospitals have saved $12 billion from 2011-2013, according to a new report from the Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ). Most data included in the report preceded the implementation of a majority of the health insurance expansions included in the Affordable Care Act.

Continue reading

TOR Pengambilan Data Pengembangan Sistem Manajemen Mutu dan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Kota Timika

KERANGKA ACUAN KEGIATAN

PENGAMBILAN DATA PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN MUTU
DAN SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN KOTA TIMIKA

  LATAR BELAKANG

Sistem rujukan pelayanan kesehatan merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang lebih terjamin, efektif dan efisien, dan dapat memberikan dampak pada penurunan angka kematian ibu dan bayi akibat keterlambatan dalam penanganan kegawatdarutaran.
Pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia telah diatur dengan bentuk bertingkat atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua dan ketiga, dimana dalam pelaksanaannya terdiri sendiri-sendiri namun berada disuatu sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan diatasnya, demikian seterusnya. Apabila seluruh faktor pendukung (pemerintah, teknologi, transportasi) terpenuhi maka proses ini akan berjalan dengan baik dan masyarakat awam akan segera tertangani dengan cepat.

Untuk mendukung upaya kesehatan dalam peningkatan mutu pelayanan yang lebih terjamin, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LMPAK) bekerjasama dengan PKMK FK UGM akan melakukan Pengembangan Sistem Manajemen Mutu dan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Kota Timika.

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM yang di tunjuk untuk mendampingi dalam proses ini merasa perlu melakukan pengambilan data untuk mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan sistem rujukannya. Sebelum tim melakukan pengambilan data di Dinas Kesehatan Kota Timika, di dua RSUD yaitu RSUD Timika, RS Mitra Bersama dan Puskesmas Kota Timika. Diharapkan tim PKMK FK UGM dapat melakukan sosialisasi kegiatan kepada pihak-pihak yang terkait di Kota Timika.

  TUJUAN

Kegiatan pengambilan data ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai proses dan implementasi /pelaksanaan kegiatan pengembangan sistem manajemen mutu Puskesmas Kota Timika serta pengembangan sistem rujukan pelayanan kesehatan di Kota Timika.

PESERTA : 14 orang

  1. PKMK FK UGM: 2 orang
  2. Lintas program terdiri dari Dinas Kesehatan Kota Timika, RSUD, Puskesmas dan pihak lain yang terkait sebanyak 12 orang

  PELAKSANAAN KEGIATAN:

Kegiatan ini akan berlangsung selama 6 Hari, dimulai pada tanggal 14-19 Maret 2015 di Dinkes Kabupaten, RSUD Kota Timika, RS Mitra Masyarakat dan Puskesmas Kota Timika

WAKTU

MATERI

Penanggung jawab

Sabtu, 14 Maret 2015
Jam: 08.00 WIT- Selesai

Pengambilan data di Puskesmas Timika

Tim PKMK UGM

 

 

 

 

 

Minggu, 15 Maret 2015

Olah data hasil temuan di Puskesmas Timika

Senin, 16 Maret 2015
Jam: 08.00 WIT- Selesai

Pengambilan data di Puskesmas Timika

Selasa, 17 Maret 2015
Jam: 08.00 Wit-selesai

Konfirmasi/kroscek  data di RS Mitra Masyarakat dan RSUD kota Timika

*jika diperlukan

Rabu, 18  Maret  2015
Jam: 08.00 WIT-Selesai

Pengambilan data di Dinkes Kesehatan Kota Timika

Kamis, 19 Maret 2015
Jam: 08.00 WIT-Selesai

Cadangan waktu untuk melengkapi data dari Dinas Kesehatan , RSUD dan Puskesmas Kota Timika