Empat Rumah Sakit di Jatim Ini Buruk Pelayanannya

suarasurabaya.net – Soekarwo peringatkan empat rumah sakit milik pemerintah provinsi untuk lebih memperbaiki layanan. Warning ini disampaikan Soekarwo di sela-sela melakukan pergantian bagi beberapa pejabat di lingkungan pemerintahannya, Selasa (26/8/2014).

Continue reading

BPJS Kesehatan: Dominan Peserta Menunggak Bayar Premi

Pekanbaru (Beritasatu.com) – Peserta kategori mandiri dan perusahaan banyak yang menunggak membayar premi kepesertaan mulai satu bulan hingga empat bulan sehingga selain peserta terkait dirugikan juga mengancam keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional melalui BPJS Kesehatan itu.

 

Continue reading

BPJS Watch: Kinerja Menkes Lambat

Jakarta, HanTer – Koordinator BPJS Watch, Indra Munaswar menyakini kenaikkan tarif INA-CBGs atau tarif berdasarkan kesepakatan BPJS Kesehatan dengan asosiasi Fasilitas Kesehatan (Faskes) tidak akan membuat BPJS Kesehatan defisit/bangkrut.

Continue reading

Reportase Sesi Keynote 1-3 IHQN X

Reportase Sesi Keynote 1-3 IHQN X

Reporter: Nusky Syaukani

Sesuai dengan tema seminar Forum Mutu X kali ini tentang Re-DesignSsistem Pelayanan Kesehatan Tingkat Primer dan Rujukan di Era Implementasi JKN, pada sesi Keynote dibahas tentang gambaran rancang bangun sistem pelayanan kesehatan primer, rancang bangun sistem pelayanan rujukan serta sistem renumerasi pelayanan kesehatan primer dan rujukan di era jaminan kesehatan nasional.

Sesi Keynote I berisi presentasi dari dr. Siti Wahyuningsih, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, M.Kes, yang membahas tentang upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Surakarta dalam menghadapi era JKN. Disampaikan bahwa Dinas kesehatan Kota Surakarta (DKK) memiliki peran ganda, baik sebagai regulator, maupun sebagai pelaku dalam pelayanan kesehatan di kota Surakarta. Wilayah yang harus ditangani Dinkes yaitu 44,4 km2 atau terpadat di Jawa tengah (±500 ribu penduduk). Sebagai regulator, Dinkes memiliki tanggung jawab untuk mengatur komponen pelayanan kesehatan, yang meliputi tenaga kesehatan dan sarana kesehatan baik pemerintah maupun swasta di kota Surakarta agar sejalan dengan ketentuan yang berlaku (antara lain: 14 RS, bidan praktek mandiri 178, izin dokter praktek kurang lebih ada 400). Sedangkan, peran Dinkes sebagai pelaku adalah mengupayakan agar seluruh Puskesmas (17 PKM) sebagai UPT Dinas Kesehatan dapat memberikan pelayanan yang aman dan bermutu kepada masyarakat kota Surakarta.

Upaya yang telah dilakukan dalam menyongsong JKN melalui beberapa tahapan, yaitu tahapan persiapan (tahun 2013) dan pelaksanaan (tahun (2014) dengan melakukan, a) Inventarisasi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang ada di kota Solo agar dapat digunakan untuk menghitung kapitasi dan sistem rujukan. b) Advokasi kepada pimpinan (eksekutif dan legislatif). agar terbentuk persepsi yang sama tentang arah pembangunan kesehatan di Kota Surakarta, c) Mempersiapkan puskesmas dengan posisi setara, yaitu melalui perbaikan sarana dan prasarana, pemetaan SDM termasuk mutasi fungsional agar dapat setara dan merata terutama dalam hal penerimaan kapitasi, peningkatan kualitas pelayanan (melalui sertifikasi ISO), serta persiapan agar Puskesmas siap untuk credentials dari BPJS. Diharapkan pada tahun 2015 Puskesmas dapat menjadi BLUD, melalui APBD Perubahan tahun 2014.

Pada Keynote II, berisi pemaparan tentang rancang bangun sistem pelayanan kesehatan rujukan di era implementasi jaminan kesehatan nasional” oleh Dr. Bambang Wibowo, Sp.OG (RS Karyadi, Semarang). Disampaikan bahwa dalam menjalankan sistem rujukan, terdapat dasar-dasar hukum yang harus diperhatikan antara lain PMK no. 001/2012, PMK 71/2013, UU Praktik Kedokteran, PMK No. 5/2014.
Sistem rujukan ini terkait dua sisi, yaitu pembiayaan dan mutu pelayanan. Kedua sisi ini seharusnya dapat seimbang, sehingga biaya tidak membengkak namun mutu pelayanan tetap dipertahankan. Sistem rujukan saat ini, menunjukkan adanya ketidakadilan khususnya untuk daerah yang memiliki keterbatasan SDM dan sebagai implikasinya masih ada mutu pelayanan yang beragam. Seharusnya di era JKN ini tidak ada lagi warga negara yang tidak mampu membayar biaya pelayanan kesehatan.

Jenis sistem rujukan sampai saat ini masih dengan cara konvensional, belum mempersiapkan sistem modern misalnya telemedicine (medical, surgical, radiology, laboratory). Saat ini, implementasi sistem rujukan bersifat berjenjang sesuai PMK No. 001/2012, PMK 71/2013. Persoalan yang masih menyertai sistem rujukan antara lain masalah: akses rujukan tertinggi yang hanya di satu tempat (Jakarta), kelas rumah sakit yang menjadi basis tarif RS, perbedaan kelas perawatan, hak peserta yang jauh dari yankes, standar kompetensi kelas RS yang sangat kontras dan beragam, belum ada integrasi sistem pelayanan agar ada efisiensi.serta belum dilakukannya sistem rujukan balik.

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka usulan yang ditawarkan untuk re-design sistem rujukan adalah: a) Mengembangkan RS rujukan nasional dan regional di berbagai daerah, b) Menyerahkan masing-masing RS untuk berkembang sesuai kemampuannya. Namun, harus ditentukan kompetensi umum untuk pengembangan tiap RS, c) Membangun RS tanpa kelas, berbasis pada kompetensi pelayanan. Tarifnya nantinya berbasis pada kompetensi pelayanan RS tersebut, d) Penyederhanaan kelas perawatan dalam RS dan pembayaran pelayanan kesehatan berbasis kompetensi pelayanan. Prasyarat yang harus dipenuhi antara lain: standar fasilitas, standar pelayanan, standar mutu dan patient safety, e) Penguatan dokter pelayanan primer. Kemudian, perlu ditentukan: standar kompetensi, sistem pendidikan, sistem pelayanan, sistem jasa pelayanan, sistem rujuk balik, f) Mengembangkan telemedicine.

Pada presentasi Keynote III tentang rancang bangun sistem remunerasi pelayanan kesehatan Primer dan rujukan di era jaminan kesehatan nasional oleh Dr. Andreasta Meliala, DPH, M.Kes, MAS (Fak. Kedokteran UGM). Disampaikan bahwa saat ini, eranya JKN tapi pelayanan kesehatan masih dikelola dengan cara yang lama. Dalam era JKN, mestinya financial problems bisa diminimalkan, kualitas pelayanannya ditingkatkan, efisiensi pelayanan, dan SDM terjamin. Era ini merupakan kesempatan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan, sistemnya, maupun masyarakatnya. Namun faktanya. justru yang diperbaiki justru masih di sisi masyarakat.

Asuransi sudah ikut memperbaiki di sisi demand (masyarakat). Namun di sisi supply, masih belum tersentuh, antara lain jumlah tenaga kesehatan, kompetensi tenaga kesehatan, pembiayaan/gaji tenaga kesehatan. Berdasarkan beberapa penelitian (contoh dari beberapa negara), penerapan universal health coverage (UHC) akan meningkatkan demand pada yankes dan akan terjadi gap antara demand dan kesiapan supply. Jepang menerapkan sistem kendali mutu berupa pengetatan syarat klaim (berefek pada kualitas input dan proses namun outcome-nya bagus). Hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman Jepang ialah meningkatkan income RS dan efisiensi.

Dampak JKN yang tampak saat ini antara lain: a) Adanya non-equity (ketidaksetaraan), di RS besar di kota besar cepat menghabiskan dana sedangkan RS di wilayah lain sangat sulit menyerap dana, b) Ada gap antara struktur biaya (cost-structure) dan pembiayaan: secara operasional, investasi tenaga kesehatan tidak diperhitungkan, maintenance alat dan sarana prasarana, re-investasi untuk SDM yang baru juga tidak diperhitungkan., c) Ada perbedaan sumber penghasilan (90% datang dari fee-for-service), d) Belum ada standar pendapatan bagi tenaga kesehatan padahal hal ini sangat dimungkinkan ketetapan dari organisasi profesi, f) Ada dual practice (praktek di beberapa tempat) tenaga kesehatan (terutama dokter), padahal BPJS cenderung pada dokter dengan loyalitas mono-practice.

Terkait dengan remunerasi disampaikan bahwa kepuasan kompensasi terhadap remunerasi, ditentukan dari dua hal, yaitu faktor organisasi dan faktor individu. Faktor organisasi antara lain pengenalan terhadap prestasi, keadilan internal, besaran kompensasi yang akan diterima, serta adanya transparansi dan kejelasan kebijakan. Sementara faktor individu antara lain persepsi SDM terhadap remunerasi sehingga bisa saja berapapun remunerasinya dirasa kurang, kompetensi, dan beban kerja (harus ada pembedaan, misalnya hi volume-hi risk). Porter-Lawler model menyebutkan suatu kompensasi akan dirasa cukup hanya tiga bulan saja.

Untuk ke depan ditawarkan tiga model remunerasi, yaitu: a) Fixed Salary, b) Fixed Salary + Incentive (Hybrid Performance-based), c) FFS a la JKN. Ketiga model tersebut dikaitkan dengan Performance Measurement yaitu di unit : individu dan tim, serta pada orientasi proses dan hasil: a) Compliance to CPG & Formulary, b) Surgical Site Infection, c) Readmission without planning, d) Patient’s complaints.

 

 

.

Sesi: Keynote Speak IV – VI Forum Mutu X

Sesi: Keynote Speak IV – VI Forum Mutu X

Reporter: drg. Puti Aulia Rahma, MPH

Pendahuluan

Layanan kesehatan Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dua diantaranya terkait mutu layanan kesehatan dan tindakan-tindakan fraud dalam layanan kesehatan. Forum Mutu hadir untuk membekali tenaga kesehatan dalam menghadapi tantangan ini.

Dalam era JKN, akses terhadap layanan kesehatan terbuka lebar. Jumlah pasien yang datang ke fasilitas kesehatan meningkat pesat . Beban kerja tenaga kesehatan menjadi bertambah. Namun, mutu layanan yang diberikan tetap harus terjamin.

Dana yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) juga terbilang besar dalam era JKN ini. Berbagai potensi fraud muncul. Bentuk-bentuk kecurangan ini dilakukan oleh banyak aktor. Tenaga kesehatan, BPJS, supplier alat-alat kesehatan maupun pasien dapat terlibat. Sebenarnya fraud dalam layanan kesehatan bukan hal baru. Namun mungkin belum banyak disadari. Untuk mencegah, perlu adanya edukasi bagi para aktor yang berpotensi melakukan fraud. Perlu juga adanya sebuah batasan-batasan yang jelas mengenai bentuk-bentuk fraud dalam layanan kesehatan. Aturan juga perlu dibuat untuk menindak para pelaku fraud.

Dalam menghadapi tantangan ini, Forum Mutu X hadir dengan membawa tema “Re-design Sistem Manajemen Pelayanan Kesehatan Tingkat Primer dan Rujukan di Era Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional. Masalah, best practice, dan inovasi yang dibahas dalam pertemuan ini menjadi masukan bagi pemerintahan baru agar dapat mewujudkan sistem manajemen pelayananan kesehatan nasional yang lebih baik.

Berikut reportase keynote IV – VI sebagai rangkaian sesi terkahir kegiatan Forum Mutu X. Sesi keynote ini memaparkan mengenai fraud dalam layanan kesehatan dan rencana Forum Mutu XI. Sesi berlangsung pada Kamis, 19 Agustus 2014 di The Sunan Hotel Solo, Surakarta.


KEYNOTE IV: Deteksi dan Pencegahan Fraud dalam Pelayanan Kesehatan
(Pembicara: dr. Hanevi Djasri, MARS – Ketua Indonesia Health Quality Network (IHQN))

Fraud dalam layanan kesehatan bukanlah hal yang baru. Tindakan ini muncul dari dorongan dasar manusia untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Aktivitas ini juga dapat berkembang luas karena tidak adanya sistem pengawasan yang baik. Fraud dalam layanan kesehatan berpotensi terjadi dapat terjadi dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini. Salah satu penyebabnya adalah adanya besaran tarif INA CBG’s yang dianggap rendah dan menurunkan pendapatan dokter dan rumah sakit.

dr. Hanevi Djasri, MARS mempresentasikan hasil penelitian mengenai deteksi dan pencegahan fraud dalam pelayanan kesehatan dalam sesi ini. Penelitian ini dilakukan bersama dengan drg. Puti Aulia Rahma, MPH dan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD. Penelitian dilakukan di tujuh rumah sakit umum di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk fraud layanan kesehatan yang umum dilakukan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya lima bentuk fraud yang paling sering dilakukan. Berturu-turut bentuk-bentuk fraud tersebut adalah upcoding, keystroke mistake, cancelled services, no medical value, dan standard of care. Upcoding berarti memasukkan kode klaim yang tidak akurat. Tujuannya untuk mendapat keuntungan. Keystroke mistake berarti kesalahan dalam memasukkan kode yang dapat meningkatkan atau menurunkan nilai tagihan. Cancelled services berarti penagihan terhadap obat, prosedur atau layanan yang sebelumnya sudah direncanakan namun kemudian dibatalkan. No medical value artinya penagihan untuk layanan pasien yang tidak terbukti ilmiah. Standard of care adalah penagihan untuk layanan pasien yang di bawah standar. Semua definisi ini berdasarkan lansiran National Health Care Anti-Fraud Association (NHCAA).

Bentuk terjarang fraud yang terjadi di rumah sakit adalah length of stay. Bentuk fraud ini berarti memanjangkan masa perawatan pasien untuk mendapat keuntungan lebih. Ini tidak umum dilakukan karena kebijakan tarif INA CBGs tidak memungkinkan hal tersebut. Bentuk fraud lainnya adalah menambah panjang waktu penggunaan ventilator, phantom visit, dan phantom procedure. Bentuk-bentuk ini tidak terjadi di luar negeri namun terjadi di Indonesia.

Penelitian ini merumuskan dua kesimpulan. Fraud dapat terjadi di era JKN ini. Fraud juga dapat menurunkan mutu namun melambungkan biaya layanan kesehatan. Perlu dibangun sebuah sistem deteksi dan pencegahan fraud. Sistem ini dapat berupa paket regulasi maupun program edukasi maupun penelitian.

Materi presentasi tersedia di sini


KEYNOTE V: Pedoman Pencegahan Fraud di Rumah Sakit
(Pembicara: dr. Andi Ardjuna Sakti, SH, MPH – Kasubag Hukum Hukornas Ditjen BUK Kemenkes RI)

Kementerian Kesehatan RI tidak bergeming menghadapi munculnya potensi fraud di era JKN. Kemenkes RI merespon situasi ini dengan menyusun buku pedoman pencegahan fraud di rumah sakit. Penyusunan pedoman ini bertujuan memberi pemahaman kepada rumah sakit mengenai fraud dalam layanan kesehatan. Pedoman ini juga diharapkan dapat memberi pemahaman kepada rumah sakit mengenai dampak fraud dalam era JKN. Pedoman ini juga akan memuat panduan mengenai batasa-batasan fraud di rumah sakit. Tujuan akhir dari penyusunan pedoman ini adalah untuk memandu rumah sakit dan regulator untuk mencegah fraud di rumah sakit.

Buku pedoman ini menyasar rumah sakit dipilih sebagai target penggunanya. Alasannya, saat ini belum ada aturan dan pengawasan yang jelas mengenai fraud di rumah sakit. Berbeda dengan BPJS yang mengelola dana besar. Berbagai pihak pengawas seperti KPK sudah otomatis menyorot tanpa diminta.

Pokok-pokok bahasan yang disusun dalam pedoman ini adalah bentuk-bentuk kegiatan yang disebut fraud dalam layanan kesehatan. dr. Andi Ardjuna Sakti, SH, MPH menyatakan bahwa saat ini di Indonesia belum ada daftar kegiatan yang disebut fraud. Namun, Kemenkes sedang berproses untuk menyusun daftar-daftar kegiatan ini. Sementara ini, daftar kegiatan yang disebut fraud masih menggunakan referensi dari NHCAA. Dalam pedoman ini juga akan dibahas mengenai pendelegasian wewenang untuk mengawasi tindakan fraud. Wewenang ini perlu dibagi antara Kemenkes, Dinkes Provinsi, Dinkes Kabupaten/ Kota, dan tim independen. Pembentukan unit investigasi khusus di setiap kantor regional BPJS dan peran pengawas eksternal dan internal rumah sakit juga akan dibahas dalam pedoman ini.

Pria yang akrab disapa Ardjuna ini menegaskan perlu adanya pembagian peran untuk pelaku pencegahan dan penindakan fraud. Pelaku pencegahan diharapkan dapat menghambat perkembangan terjadinya fraud. Pelaku penindakan diharapkan dapat menindak pelaku-pelaku fraud sebelum penegak hukum bertindak langsung.

Materi presentasi tersedia di sini


KEYNOTE VI: Lesson Learnt Forum Mutu 2014
(Pembicara: dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH – Kepala Balai Pelatihan Teknis Profesi Kesehatan Gombong)

Keynote keenam ini menjadi sesi penutup dalam rangkaian Forum Mutu X di Solo. Pada awal sesi, dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH mengungkapkan bahwa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini menjadi hot issue. Isu seputar JKN ini sama “panasnya” dengan kabar-kabar terkait kedatangan bintang K-Pop 4 Minute. Sama panas juga dengan berita seputar pemilihan presiden RI ketujuh.

Dalam rangakaian Forum Mutu ini, disimpulkan bahwa keberhasilan implementasi JKN bergantung pada empat faktor yaitu keuangan, mutu layanan, sumber daya manusia, dan kemanjuran. Adanya perubahan kebijakan dalam era JKN ini perlu diikuti dengan desain ulang berbagai sistem terkait layanan kesehatan.

Pada hari pertama kegiatan Forum Mutu peserta telah belajar mengenai tujuh skenario desain pelayanan rujukan. Peserta belajar juga mengenai tiga model sistem remunerasi di rumah sakit. Peserta juga mendapat pelajaran dari pengalaman implementasi layanan kesehatan di DKI. Dinkes Provinsi DKI Jakarta telah melakukan integrasi antara BPJS dan KJS. Mutu layanan kesehatan di Provinsi DKI Jakarta juga telah ditingkatkan melalui program ISO 9000.

Pada hari kedua, peserta mendapat wawasan mengenai rancang bangun sistem pengendalian biaya. Integrasi mutu dan keselamatan pasien dalam kurikulum pendidikan tenaga kesehatan juga dipaparkan dalam hari kedua ini. Peserta juga diberikan pengetahuan mengenai fraud dalam layanan kesehatan.

Selain memaparkan lesson learnt selama kegiatan Forum Mutu X, dr. Tjahjono juga mengungkapkan rencana kegiatan Forum Mutu XI. Dari hasil rekap kuesioner, dua lokasi terbanyak yang diusulkan peserta untuk kegiatan Forum Mutu XI adalah Denpasar atau Malang. Forum Mutu XI diharapkan juga dapat dilaksanakan pada kisaran bulan Agustus atau September 2015. Topik yang diusulkan untuk kegiatan Forum Mutu mendatang pun berragam. Namun, panitia mempunyai usulan topik utama: “Strive for Excellent Through Revolution of Value System, Safety&Quality Efforts, and Cost Containment in Health Care System in the 2nd Year of JKN Era”.

Anda tertarik? Sampai jumpa di Forum Mutu XI tahun depan!

Materi presentasi tersedia di sini

 

 

Seminar dan Workshop Pendekatan Keluarga dalam Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Seminar dan Workshop Pendekatan Keluarga
dalam Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Selasa, 19 Agustus 2014,
Gedung pascasarjana lantai 6 Universitas sebelas maret Surakarta

Pendahuluan

Untuk mewujudkan keadaan sehat banyak upaya yang harus dilaksanakan, salah satu diantaranya adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan, yang diharapkan dapat dilakukan oleh dokter keluarga,. Terlebih saat ini, kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau merupakan sesuatu yang esensial. Dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan model dokter keluarga diharapkan sebagai “ujung tombak” dalam pelayanan kedokteran tingkat pertama, yang dapat berkolaborasi dengan pelayanan kedokteran tingkat kedua dan yang bersinergi dengan sistem lain. Dokter keluarga dapat berperan secara aktif memberi pelayanan kesehatan primer terhadap kasus diabetes mellitus (DM) yang tanpa disertai dengan penyulit dan dapat dikelola dengan tuntas oleh dokter keluarga.

Seminar dan Workshop sehari dengan tema Pendekatan dokter Keluarga dalam Penatalaksanaan Diabetes Mellitus ini merupakan rangkaian dari kegiatan Forum Mutu X yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret Surakarta. Acara ini berlangsung meriah diikuti oleh para dokter berjumlah sekitar 150 orang. Kegiatan ini terbagi dua yaitu seminar dan workshop. Pada sesi seminar meznhadirkan 3 pembicara dan sesi workshop menghadirkan empat pembicara, dan di moderatori oleh dr. Andri Putranto, M. Kes.

SEMINAR

Update Prosedur Diagnosis dan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Oleh Dr. dr. Sugiyarto Sp. PD, FINASIM

Seminar ini diawali dengan presentasi Dr. dr. Sugiyarno Sp. PD, FINASIM, beliau menjelaskan bahwa Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa didalam darah. Penyakit ini dapat menyerang segala lapisan umur dan sosial ekonomi, meski begitu di Indonesia saat ini penyakit DM belum menempati skala prioritas utama pelayanan kesehatan walaupun sudah jelas dampak negatifnya, yaitu berupa penurunan kualitas SDM, terutama akibat penyulit menahun yang ditimbulkan.

Dalam pemaparannya dr. Sugiyarno menyebutkan DM terbagi 4 jenis, yang pertama DM tipe 1, yang kedua DM tipe 2, DM tipe lain dan yang keempat DM gestasional, DM tipe ini dapat dialami oleh wanita selama masa kehamilan. Ub bagian endokrinologi dan metabolik UNS ini menyampaikan ada berbagai faktor resiko pencetus DM diantaranya: riwayat keluarga diabetes, penyakit kardiovaskuler, overweight atau abese, suku bangsa, gangguan toleransi glukosa atau gangguan glukosa puasa dan hipertensi yang ditandai adanya gejala klinis seperti asymtomatik, poLyuria, polydipsia, polypagie, berat badan yang tidak jelas dan ditemukan hiperglikemia.

Terdapat berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah DM dengan adanya penatalaksanaan yang dilakukan bertujuan untuk mencegah predabetes jangan menjadi diabetes dengan menghambat perkembangan pre diabetes menjadi diabetes), pencegahan dan terapi komplikasi dnegan menghambat untuk menurunkan resiko komplikasi diabetes yang meliputi deteksi awal, pencegahan dan perawatan medik.


Pendekatan Secara Holistik Tentang Diabetes Mellitus Praktek Dokter Keluarga
Oleh Prof. Dr. Didik Tamtomo, dr, MM, M. Kes, PAK

Sesi ini menghadirkan Prof. Dr. Didik Tamtomo, dr MM, M. Kes, PAK dengan tema pendekatan secara holistik tentang diabetes melitus praktek keluarga, disampaikan oleh beliau bahwa didalam strategi pelayanan kesehatan bagi penderita DM, yang seyogyanya diintegrasikan kedalam pelayanan kesehatan primer, peran dokter keluarga adalah sangat penting, menurutnya kasus DM yang tanpa disertai dengan penyulit dapat dikelola dengan tuntas oleh dokter keluarga, apalagi kalau kemudian kadar glukosa darah ternyata dapat terkendali baik dengan pengelolaan ditingkat pelayanan kesehatan primer. Tentu saja harus ditekankan pentingnya tindak lanjut jangka panjang pada para pasien tersebut. Pasien yang potensial akan menderita penyulit DM perlu secara periodik dikonsultasikan kepada dokter ahli terkait ataupun kepada tim pengelola DM pada tingkat lebih tinggi di rumah sakit rujukan. Kemudian mereka dapat dikirim kembali kepada dokter yang biasa mengelolanya.

Demikian pula pasien DM yang sukar terkendali kadar glukosa darahnya, pasien DM dengan penyulit, apalagi penyulit yang potensial fatal, perlu dan harus ditangani oleh instansi yang lebih mampu dengan peralatan yang lebih lengkap, dalam hal ini Pusat DM di Fakultas Kedokteran/RumahSakit Pendidikan/RS Rujukan Utama. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang tepat guna dan berhasil guna bagi pasien DM dan untukmenekan angka penyulit, diperlukan suatu standar pelayanan minimal bagipenderita DM. Diabetes Melitus adalah penyakit menahun yang akandiderita seumur hidup, sehingga yang berperan dalam pengelolaannya tidakhanya dokter, perawat dan ahli gizi, tetapi lebih penting lagi keikutsertaan pasien sendiri dan keluarganya. Penyuluhan kepada pasien dan keluarganya akan sangat membantu meningkatkan keikutsertaan merekadalam usaha memperbaiki hasil pengelolaan DM.


Peran dokter Keluarga dalam Penatalaksanaan Penyakit Kronik pada Era JKN
Olej dr. Nurifansyah, MKM,AAK

Sesi ini mengundang narasumber dr. Nurifansyah, MKM,AAK dengan materi dokter keluarga dalam penatalaksanaan penyakit kronik pada era JKN. Tema ini sangat menarik perhatian peserta yang hadir karena membahas berbagai peran dokter dalam penatalaksanaan penyakit kronik, tentunya disadari oleh para dokter dimana dokter keluarga adalah dokter yang seharusnyan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, ia tidak hanya memandang penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang memusatkan pelayanan kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien juga tidak boleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu. llmu kedokteran keluarga adalah ilmu yang mencakup seluruh spektrum, ilmu kedokteran tingkat yang orientasinya adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada satu kesatuan individu, keluarga dan masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan,ekonomi dan sosial budaya.

WORKSHOP

Pemilihan OAD dan Pemilihan dan cara Penyuntikan Insulin
Oleh dr. Supriyanto Kartodarsono, Sp. PD., KEMD., FINASIM

Sesi selanjutnya adalah workshop yang diawali oleh pemaparan dr. Supriyanto mengenai pemilihan OAD dan pemilihan dan cara penyuntikan insulin pada penderita DM. Disampaikan bahwa tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Namun, kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan. Dilanjutkan beliau bahwa pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet sebenarnya seseorang yang obesitas dan menderita diabetes tipe 2 tidak memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur. Namun, hampir sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Beberapa hal tersebut memicu pemberian rutin terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per-oral. Ada berbagai pembagian terapi farmakologi untuk diabetes salah satu contohnya adalah metformin, obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya. Selain itu tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus. Jika obat per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.

Diabetes tipe 1 hanya bisa diobati dengan insulin tetapi tipe 2 dapat diobati dengan obat oral. Jika pengendalian berat badan dan berolahraga tidak berhasil maka dokter kemudian memberikan obat yang dapat diminum (oral = mulut) atau menggunakan insulin.
Pada sesi ini dr. supriyanto Kartodarsono mempraktekkan contoh penyuntikan insulin.


Pemilihan Diet Diabetes Mellitus
Oleh dr. Eva Nia Muzisilawati, Sp.PD., M. Kes

Sesi selanjutnya disampaikan oleh, dengan tema pemilihan diet diabetes mellitus. Sama seperti pemaparan dr. Supriyanto Kartodarsono bahwa pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet , pengaturan diet ini sangat penting, penderita tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur. Pasalnya, penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Sehingga cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan. Seluruh penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olah raga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi.


Pemilihan Senam untuk Diabetes Mellitus
Oleh dr. Arifin,Sp.PD 

Penderita DM sangat dianjurkan untuk berolah raga untuk menjaga metabolisme gula (glukosa) dalam tubuh . Salah satu contoh olahraga yang baik untuk penderita DM yaitu senam. Pemilihan senam untuk DM menurut dr. Arifin,Sp.PD mempunyai efek menaikkan aksi insulin di jaringan sehingga kebutuhan akan insulin menurun, selain itu memberikan manfaat baik bagi jantung, pembuluh darah, paru-paru, otot, tulang .
Senam mampu menurunkan kadar glukosa dalam darah dalam jangka panjang, lalu senam juga mampu memperbaiki profil lemak, menurunkan tekanan darah dan menanggulangi kegemukan. Demikian yang disampaikan oleh dr. Arifin, Sp. PD


Perawatan Kaki Diabetik
Oleh Dr. dr. Sugiyarto, Sp. PD., FINASIM

Sesi selanjutnya dibahas oleh Dr. dr. Sugiyarto, Sp. PD., FINASIM mengenai perawatan kaki diabetik bagi penderita DM. Menurutnya selain diet dan pola hidup sehat penderita DM juga harus memberikan perhatian khusus terhadap infeksi kaki, karenanya kuku harus dipotong secara teratur. Penting juga untuk memeriksakan matasupaya bisa diketahui perubahan yang terjadi pada pembuluh darah di mata

 

 

Rancang Bangun Sistem Informasi Rumah Sakit di Era Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional

Rancang Bangun Sistem Informasi Rumah Sakit
di Era Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional

Rabu, 20 Agustus 2014, The Sunan Hotel
Reporter: Armiatin, SE, MPH

Pendahuluan

Salah satu topik yang diangkat pada forum mutu X ini adalah rancang bangun sistem informasi rumah sakit di era implementasi jaminan kesehatan nasional di Indonesia. Topik ini dirasa sesuai karena bertepatan dengan adanya berbagai isu-isu pada pelaksanaan JKN dan upaya untuk mencegah adanya penyalahgunaan dalam pelaksanaannya.

Sesi ini menghadirkan tiga narasumber dari Dinas kesehatan Prov DKI, FK UGM dan RS Pelni. Tentunya sangat menarik melihat dari latar belakang pembicara dan topik yang diangkat mengundnag antusiasme dari peserta yang memenuhi rungan ball room hotel The Sunan Surakarta.

Paralel B: Pengembangan Layanan Kesehatan di DKI Jakarta
oleh dr. Dien Ernawati-Dinkes Prov. DKI Jakarta)

Dalam pemaparannya dr. Dien Ernawati menyampaikan bahwa ada berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta agar dapat membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang bermutu. Pada masa pemerintahan Joko Widodo dilakukan kerjasama dengan FKUI melalui penempatan dokter PPDS ke Puskesmas di DKI Jakarta, dengan maksud untuk efisiensi karena diagnosis tidak perlu dirujuk ke luar untuk diagnosis. Selain itu terjadi transfer knowledge dari peserta PPDS dengan dokter umum Puskesmas. Selain itu ada kerjasama dengan FK UGM untuk pengembangan sistem rujukan, pengembangan ini dilakukan secara online di puskesmas dan RS, saat ini sudah ada 12 PKM yang sudah menggunakan sistem online. Melalui kerja sama ini angka rujukan dapat menurun. Dilanjutkan oleh dr. dien bahwa tidak hanya itu Prov. DKI juga akan mengembangkan puskesmas menjadi rumah sakit tipe D (18 puskesmas), tujuannya untuk memudahkan aksesibilitas, mengurangi macet karena transportasi ke yankes, serta menurunkan biaya sampingan yang dikeluarkan keluarga pasien. Berdasarkan pengalaman selama ini RS yang kerja sama dengan BPJS dengan jumlah peserta BPJS, terdapat gap yang sangat besar. Diharapkan hal ini dapat ditanggulangi dengan pengembangan 18 PKM menjadi RS tipe D. Pada akhir presentasi, dr. Dien menyampaikan bahwa perlu sekali untuk melakukan kerja sama dengan institusi pendidikan tinggi untuk membuat perbaikan sistem pelayanan kesehatan.


Paralel B: Integrasi Sistem Informasi Klaim dan Mutu dalam Program JKN
Oleh Anis Fuad-FK UGM

Pelayanan kesehatan di era Jaminan kesehatan nasional di tingkat primer, peserta mendapatkan pelayanan kesehatan kemudian pulang, pola pembayaran dengan sistem kapitasi yang disertai bukti. Untuk layanan yang sifatnya fee for service disertai bukti. Sementara di tingkat rujukan, pasien membawa surat rujukan yang kemudian mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai algoritma yang berlaku berdasarkan INA-CBG.

Dari sistem informasi INA-CBG, dapat diketahui kurang lebih empat puluh variabel yang dapat dikelompokkan menjadi Provider: karakteristik, individu: demografis,individu: klinis, Provider: biaya, Pelayanan: efisiensi, Pelayanan: continuity of care. Dengan sistem informasi ini timbul pertanyaan apakah bisa dipakai untuk menilai mutu? Jika iya, bagaimana caranya? Mengambil contoh dari suatu badan riset dan pengembangan di USA yang berusaha menyusun indikator mutu berdasarkan database klaim. Lalu, bagaimana prosesnya jika kita ingin melangkah ke sana? Hal ini diuraikan oleh Anis Fuad bahwa dengan sistem informasi klaim dapat digunakan untuk menilai mutu hanya memiliki keuntungan dan kelemahan diantaranya:

Keuntungan:

  • Low-cost, karena tidak perlu ada penelitian terlebih dahulu.
  • Ada kode yang seragam di berbagai yankes di seluruh Indonesia.
  • Pengumpulan data secara reguler
  • Mudah diakses
  • Memuat data seluruh peserta BPJS

Kelemahannya:

  • Detil klinis yang terbatas
  • Akurasi data
  • Data di luar RS yang tidak terjangkau, misalnya tidak ada data faktor risiko yang ada dalam sistem data kepesertaan BPJS.

Lesson learnt dari pengalaman di atas adalah adanya kesempatan untuk memanfaatkan data-data yang ada di lingkungan RS atau suatu region untuk menghasilkan indikator-indikator tersebut tsb. Langkah awal yang sangat baik adalah integrasi sistem informasi INA-CBGs dengan sistem informasi RS sehingga dapat lebih efisien. Di samping itu, integrasi akan memudahkan kita karena tidak diperlukan entry ulang. Hal ini juga memudahkan RS untuk menambahkan data-data lainnya terutama terkait data klinis. Integrasi ini nantinya dapat melengkapi database dan perbaikan akurasi data yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk merumuskan indikator mutu pelayanan kesehatan. Berdasarkan penilaian HIMSS, hanya satu RS di Indonesia sampai pada stage 5 berdasarkan EMRAM (EMR Adoption Model).


Paralel B: Indikasi potensi Fraud melalui data klaim
Oleh Dr. dr. Fathema, Sp.B, Sp. BTKV-RS Pelni

Identifikasi ini dimaksudkan untuk pencegahan terjadinya fraud kata Dr. dr. Fathema, Sp.B, Sp. BTKV pada sesi paralel B dalam pemaparannya dengan tema potensi Fraud melalui data klaim, Fraud sendiri adalah perbuatan yang disengaja untuk mendapatkan keuntungan dari posisi kepercayaan atau kewenangan yang dimiliki atau menghilangkan bukti
Saat ini potensi fraud sudah mulai dikenali antara lain terkait:

  1. Kepesertaan (akurasi data, tumpang tindih data, proses migrasi peserta jamsostek)
  2. Sistem INA-CBG (koding, klaim)
  3. Kebijakan pengelolaan data kapitasi
  4. Konflik kepentingan BPJS – Faskes
  5. Audit layanan medis
  6. Ketidakadilan dalam distribusi manfaat

Selain fraud, dikenal juga abuse yang artinya praktek yang mengakibatkan klaim yang tidak perlu atas layanan kesehatan. Alur fraud dimulai dari error (salah koding) –> waste (servis yang tak perlu) –> abuse (billing yang dinaikkan dari nilai seharusnya) –> fraud (sengaja diklaim tapi tidak dilakukan).

Fraud dapat dilakukan oleh 3C (corporate (26%), clinicians (7%, misalnya phantom billing), coder (misal menambahkan risk factor untuk menaikkan nilai klaim), other (7%)).
Karakteristik fraud antara lain:

  • Misrepresentation –> janji yang menyesatkan
  • Intent atau kesengajaan
  • Trust atau kepercayaan yang rusak
  • Victim/korban
  • Injury/lost –> korban

Fraud di yankes misalnya dalam bentuk:

  • Janji palsu
  • Mengarahkan pada suatu layanan atau barang yang tidak diperlukan
  • Menagihkan layanan yang lebih mahal
  • Kick-back fee (fee setelah merujuk)
  • Mendapatkan fee dari RS di mana dokter juga berinfestasi
  • Adanya konspirasi beberapa dokter uuntuk kepentingan/keuntungan sendiri.

Identifikasi fraud:

  • internal verifikasi, eksternal verifikasi,
  • audit
  • pencegahan
  • investigasi

Sumber info:

  • Data mining (melalui neural network atau decision tree)
  • Follow up incident
  • Onsite investigation (melalui tools SOAP sebagai alat bantu mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif  10 langkah investigasi)
  • Pemanfaatan evidence dalam identifikasi fraud
  • whistleblower

Hasil penelitian identifikasi potensi fraud pada klaim INA-CBG: dengan menggunakan decision tree berdasarkan evidence based. Tercatat 549.137 klaim. Prov Jateng menunjukkan jumlah klaim kode I (penyakit jantung) yang cukup besar. Di samping itu, Jateng juga paling besar level rawat inapnya. Untuk regional II, yang tertinggi adalah Sumbar. Sedangkan untuk regional III, NAD yang cukup tinggi. Klaim rawat jalan tertinggi berdasar tipe RS, bersumber dari RS tipe B dan C. Demikian juga untuk klaim rawat inap, sumbangan terbesar dari RS tipe B dan C. Beberapa ‘red-flag’ muncul dari berbagai variasi diagnosis primer yang kemudian mendapatkan tindakan CABG, padahal dari diagnosis-diagnosis itu masih banyak yang ‘jauh’ dari diagnosis yang seharusnya mendapatkan tindakan CABG. Kesimpulannya ialah terdapat potensi fraud dalam implementasi JKN, tetapi masih dalam tahap error atau waste dalam pathway.

 

 

Reportase Sesi Paralel B

Menuju Pelayanan Kesehatan yang Aman Bermutu dan Efisien

21 Agustus 2014

Pendahuluan:

Pada sesi paralel B dibagi menjadi empat sesi yakni presentasi pertama membawa materi diskusi Analisa strategi efisiensi di RS Swasta kelas B dalam era JKN, presentasi kedua yakni Pegalaman dari projek outsuka, presentasi ketiga membawakan materi diskusi merencanakan layanan klinis yang inovatif dan yang terakhir yakni Implementasi penilaian kinerja SDM Puskesmas (Berdasarkan Kepmenkes 857/2009) sebagai acuan dasar untuk ‘Remunerasi’ di Puskesmas” yang mana kesemuanya ini akan di moderatori oleh dr.Trisasi Lestari. Keempat sesi tersebut berlangsung sangat baik, semua peserta sangat antusias dalam mengikuti diskusi.

SESI PARALEL B4:

Analisa strategi efisiensi di RS Swasta kelas B dalam era JKN
(dr.Astari Mayang Anggarani)

Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B4 yakni Dr.Trisasi Lestari dengan menghadirkan pembicara dr.Astari Mayang Anggarani dari RS Pelni Jakarta Barat. Penyaji menjelaskan bahwa sangat disadari oleh semua tim RS Pelni bahwa merupakan suatu konsekuensi bagi rumah sakit swasta yang melayani peserta JKN yakni menghadapi perubahan mendasar dalam sistem klaim menjadi paket pelayanan yang nilainya ditentukan di depan (prospective payment system). Untuk itu, praktisi rumah sakit swasta harus mengubah paradigma pelayanan melalui redesain proses bisnis. Hal ini bukan tanpa alasan melihat volume pasien yang semakin bertambah bagaikan menerima air terjun sehingga kata layanan yang terjangkau sengaja dimasukkan dalam memasuki jaminan kesehatan nasional untuk dapat tetap survive dalam bisnis kesehatan.

Dengan kepesertaan JKN, dibuka selebar-lebarnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini menimbulkan perubahan besar dalam penerimaan pasien. Tantangan dalam era JKN ini antara lain adanya perubahan fee-for-service dengan fixed payment maupun progressive payment. Selain itu adanya disparitas tarif pelayanan. Proses administrasi klaim INA-CBG’s di RS pun berubah, menuntut kesiapan dari RS itu sendiri. Kesiapan RS ini juga perlu dilakukan karena RS diawasi berbagai pihak termasuk OJK. Dari hasil evaluasi yang dilakukan pada rentan bulan Jan-Jul 2014 terbukti agar RS dapat layani peserta JKN dengan baik maka strategi efisiensi biaya dijadikan sebagai pondasi utama, bersamaan dengan peningkatan investasi dan pengendalian profil pasien terbukti memperlancar pelaksanaan strategi baik berupa ketepatan waktu 100% dan tingkat pencairan klaim 80%.


SESI B5

Pengembangan Sistem Kendali Mutu dan Biaya Penatalaksanaan TB di RS: Pengalaman Projek Otsuka
Oleh: Dr. Ari n. Probandari, MPH,PhD

Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B5 yakni dr.Trisasi Lestari dengan menghadirkan pembicara dr Ari Probandari. Selain menjadi panitia dalam kegatan forum mutu beliau juga berupaya menghadirkan materi yang sangat menarik yakni Pengembangan Sistem Kendali Mutu dan Biaya Penatalaksanaan TB di RS, Pengalaman dari Projek Otsuka. Menurut penyaji bahwa tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem kendali mutu dan biaya penatalaksanaan TB di rumah sakit melalui metode action researc, karena sebenarnya RS tidak pernah benar-benar bisa menghitung besaran biaya untuk pelayanan TB dikarenakan oleh pengetahuan dokter dan pasien tentang pelayanan TB, Continuity of care pasien TB serta biaya pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara akurat dan caranya bervariasi.

Hal ini sangat menarik jika dapat dihitung besaran biayanya maka akan dipergunakan sebagai dasar perhitungan biaya pentalaksanaan kasus lainnya. Sudah penah ada upaya-upaya yang pernah dibuat sebelumnya namun lebih menyentuh pada environmental saja. Hasil yang didapatkan yakni pada studi tahap pertama menunjukkan bahwa standar penatalaksanaan TB belum sepenuhnya diterapkan di rumah sakit. Pembiayaan pelayanan TB lebih banyak dilakukan oleh eksternal. Biaya pelayanan TB sulit diestimasi karena sistem akutansi yang ada tidak mampu menghitung biaya pelayanan per jenis kasus yang ditangani.

Studi tahap kedua masih dalam persiapan intervensi. Pada tahap tersebut dibutuhkan pendekatan pada rumah sakit untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya implementasi sistem kendali mutu serta biaya serta mendapatkan komitmen internal untuk melakukan perubahan. Pelajaran yang dapat diambil pada tahap kedua yakni antusiasme yang tidak berimbang antara peneliti dengan subjek atau hospital, Kebutuhan dialog agar RS dapat memahami intervensi yang mana bukan hanya kepentingan peneliti namun juga kepentingan RS kemudian di berbagai RS, sudah ada clinical pathway namun belum diimplementasikan dengan baik.


SESI B6

Merencanakan layanan klinis yang inovatif.
Oleh: dr.Bayu Chandra Cahyono

Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B6 yakni dr. Trisasi Lestari dengan menghadirkan pembicara dr.Bayu Chandra Cahyono yang berasal dari RSUD Kaliwates Jember. Sesi presentasi yang berlangsung selama 30 menit. Materi presentasi yang dibawakan sangat menarik sehingga mengundang rasa penasaran peserta bahwa bagaiman cara merencanakan layanan klinis yang inovatif ditengah persaingan usaha di kalangan perumah-sakitan (RS) yang sudah dapat dirasakan semakin nyata, baik antar RS Indonesia, regional maupun global.

Disampaikan oleh penyaji bahwa semula RS Kali Wates merupakan RS milik PTP Nusantara XII namun kini telah berpisah dan berdiri sendiri. Perlu disadari pula bahwa RS merupakan lembaga yang padat modal, padat karya, padat teknologi, dan padat masalah. RS hendaknya terus berinovasi agar memiliki daya saing yang tinggi sehingga perlu mengenali kurangnya fasilitas dan SDM, tanggap terhadap pasien, dan pelayanan yang aman bagi pasien. Daya saing yang baik tentunya sangat diperlukan di era globalisasi dan pasar bebas, terkait juga dengan penerapan JKN di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian disajikan bahwa ada beberapa strategi untuk menciptakan inovasi dalam dunia perumah-sakitan, yaitu strategi yang mencakup empat strategi Inovasi nilai, dan empat Kuadran Inovasi. Kemudian, yang dimaksud dengan 4 Strategi Inovasi nilai adalah menciptakan inovasi tiada henti. Sedangkan 4 kuadran Inovasi adalah strategi yang mempermudah para pelaku bisnis perumah-sakitan apakah inovasi layanan yang dilakukan sudah sesuai dengan kondisi pasar yang ada. Untuk menjawab persaingan yang semakin ketat setiap RS diharapkan mampu berinovasi terhadap layanan dan inovasi RS yang diharapkan adalah inovasi yang tidak berbiaya tinggi tetapi memiliki nilai jual yang tinggi.


SESI B7

Implementasi penilaian kinerja SDM Puskesmas (Berdasarkan Kepmenkes 857/2009) sebagai acuan dasar untuk ‘Remunerasi’ di Puskesmas”
Oleh:dr. Dr. Ismet Kosasih dan dr. Desi Efriani (Kota Samarinda)

Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B7 yakni Dr.Trisasi Lestari dengan menghadirkan 2 pembicara yakni dr. Dr. Ismet Kosasih dan dr. Desi Efriani yang berasal dari Kota Samarinda. Diawali dengan penjelasan mengenai implementasi penilaian kinerja SDM di Puskesmas yang disampaikan oleh pembicara utama kemudian dilanjutkan dengan pemaparan bagaimana cara perhitungan penilaian kinerja yang disampaikan oleh dr. Desi Efriani. Pelaksanaan diskusi berlangsung dengan lancar tanpa ada kendala yang berarti.

Dijelaskan di era JKN ini, Puskesmas menjadi ujung tombak pelayanan primer sehingga menjadi bagian terpenting keberhasilan pelayanan primer. Sehingga untuk menyediakan pelayanan yang bermutu perlu SDM berkualitas dan insentif yang pantas sebagai reward. Menurut pengalaman yang disampaikan oleh penyaji bahwa hampir seluruh PKM di Kota Samarinda telah menerapkan sistem penilaian produk Permenkesi untuk memberikan reward/jasa palyanan medik kepada petugas sejak 2012. Reward diberikan dari insentif yang berasal dari Jamkesda Samarinda. Tools ini salah satu tujuannya menilai kinerja SDMK yang ruang lingkupnya seluruh SDMK PMK baik PNS maupun non-PNS.

Penilaian kinerja di Samarinda ini sudah dilakukan di 24 Puskesmas di Kota Samarinda sejak 2012. Keunggulannya adalah menyeluruh (PNS maupun non-PNS), prestasi kerja terukur, fleksible-auditable-akuntabel, penilaian lengkap (mencakup tupoksi maupun keg tambahan), dapat disinkronisasi dengan SKP sesuai dengan ASN. Instrumen yang digunakan antara lain: 1) instrumen umum (Form A) berisi kelompok SDM, pendidikan, masa kerja, kehadiran, pengurang (teguran)/penambah (penghargaan); dan 2) instrumen khusus (Form B dan C) untuk produktivitas kerja. Untuk variabel produktivitas kerja menggunakan 3 pola, pola I ditentukan oleh maksimal jumlah pasien dalam suatu kurun waktu penilaian; Pola II digunakan bila suatu pekerjaan dilakukan lebih dari satu tenaga kesehatan sejenis sesuai porsinya; sedangkan Pola III digunakan bisa suatu pekerjaan dilakukan lebih dari satu jenis tenaga kesehatan.

Adapun manfaat seperti yang dijelaskan oleh penyaji bahwa penilaian kinerja dapat memberikan penghargaan secara finansial maupun penghargaan non-finansial berupa kesempatan seminar, studi lanjut, dan lain-lain

 

 

Reportase Paralel A

Rancang Bangun Implementasi Keselamatan Pasien dan
Manajemen Mutu Pelayanan di era Penerapan Jaminan Kesehatan Nasional

20 Agustus 2014

Pendahuluan

Pada sesi paralel A ini, kegiatan dibagi menjadi tiga sesi yang dimoderatori oleh Dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD. Sesi yang pertama yakni Implementasi keselamatan pasien & manajemen mutu pelayanan di RS Pendidikan: Pelajaran dari Penerapan JCI. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yakni Implementasi Keselamatan Pasien dan Manajemen Mutu Pelayanan RS swasta yang ikut dalam skema JKN kemudian disusul dengan sesi terakhir yakni patient safety implementation in ICU. Ketiga sesi tersebut berlangsung sangat baik, semua peserta sangat antusias dalam mengikuti diskusi tersebut hingga tidak terasa melewati batas waktu yang sudah disepakati. Namun demikian, tidak mengurangi semangat dari para peserta untuk terus menggali informasi dari para penyaji yang ada.

SESI PARALEL A1:

Implementasi keselamatan pasien dan manajemen mutu pelayanan di RS Pendidikan: Pelajaran dari penerapan JCI.
(drg. Basoeki Soetardjo diganti oleh Ibu Ida)

Moderator: dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD
Bertindak sebagai moderator dalam sesi panel A1 yakni dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD dengan menghadirkan pembicara drg. Basoeki Soetardjo dari RSUD Moewardi, namun karena beliau berhalangan hadir sehingga diwakilkan oleh Ibu Ida. Dalam sesi diskusi tersebut lebih jauh dijadikan sebagai ajang sharing oleh pihak RSUD Moewardi tentang bagaimana membangun sistem RS yang berbasis keselamatan pasien dan manajemen mutu. Dalam penjelasannya, RSUD Moewardi sangat concern dalam membangun sistem RS berstandar kelas dunia yakni melalui dua cara, melalui keselamatan pasien yang tertuang dalam UU NO 44 Tahun 2009 dan manajemen mutu. Disampaikan pula mengenai konsep dari tim RS dalam membangun sistem yakni dengan cara memperhatikan input, proses dan output dimana kesemuanya haruslah berbasis pada standard dan pedoman yang berlaku. Adapaun framework peningkatan mutu dan keselamat pasien yang dibangun di RSUD Moewardi dimulai dari komitment diseluruh civitas hospitalia, kemudian adanya kegiatan-kegiatan yang focus pada evaluasi kinerja dan ditambah dengan adanya suatu budaya organisasi dan dimana kesemuanya tersebut menuju pada peningkatan mutu dan keselamatn pasien.

Proses dalam peningkatan mutu di RSUD Moewardi juga menggunakan siklus PDCA dimana Semua permasalahan yang ada dianalisis dengan menggunakan fishbond analisis, dari permsalahan yang ada setiap indicator memiiki kamus indokator, SPO pencatatn dan pengupulan data dan akan dimonitor secara berkala, dan akan dilaporkan kepada dewan pengawas setiap tiga bulan. Ada beberapa alasan mengapa dilakukan peningkatan mutu pelayanan kesahatan yakni 1) Adanya pelayanan kesahatan dewaasa ini yang dirasa tidak aman dan ini bukan isapan jempol, yang mana sesuai dengan undang 44 Tahun 2009 tentang akreditasi yang sudah diamanahkan dan kewajiban dari RS untuk mengikuti akreditasi yang pada versi Tahun 2012 berfokus pada pelayaann kesehatan yang berfokus keselamatn pasien dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. 2) Adanya perubahan tata nilai mutu pelayanan kesehatan pasien dan hukum yang sekarang sudah merambah pada pelayanan kesehatan. 3) Misi JCI atau meningkatkan keselamatan dan kualitas perawatan pasien di seluruh dunia.

Disampaikna juga bahwa keselamatan pasien yang dilakukan di RS Moewardi terdiri dari survey budaya keselamatan pasien yakni selalu mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi dan implementasi dari standar akrediasi dan juga kegiatan tentang proses bagaimana penanganan masalah yang berhubungan dengan kesalamatan pasein dan apakah RS sudah memiliki tim yang sigap dan sangat proaktf melakukan sosialisasi), 7 Langkah keselamatan pasien, risk manajemen baik tingkat unit kerja maupun tingkat RS harus ada komite mutu dan keselamatan pasien RS baik pada kegiatan unit kerja maupun RS, sistem pencatatan dan pelaporan insiden yakni memberikan reward bagi yang aktif melaporkan apabila ada kejadian-kejadian keselamatan pasien, Root Canal Analysis (RCA) yang terkait dengan solusi dan problem solving yang terkait dengan risk manajemen, FMEA (Failure Mode Effect Analysis).


SESI  A2:

Implementasi Keselamatan Pasien dan Manajemen Mutu Pelayanan RS Swasta yang ikut Dalam Skema JKN.
Oleh: dr Dini Handayani, MARS

Moderator dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD
Bertindak sebagai moderator dalam sesi panel A2 yakni dr.Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD menghadirkan pembicara dari Group RS Swasta Awal Bros Tangerang yakni dr Dini Handayani. Dalam sesi diskusi beliau banyak memaparkan pengalaman-pengalam keikutsertaa RS Awal Bros dalam era JKN. Lebih lanjut, Tonang memaparkan bahwa dalam mengimplementasikan keselamaatan dan mutu manajemen itu tidak lepas dari keharusan RS dalam mengidentifikasi resiko/ risk-assessment. Keberhasilan RS Awal Bros dalam meraih akreditasi JCI 4 dari 8 RS Group dari Awal Bros tidak lepas dari keyakinan manajemen dan seluruh staf bahwa bisnis RS itu adalah bisnis kepercayaan dan RS akan berkembang dengan baik apabila ada kepercayaan dari semua lapisan masyarakat.

RS Awal Bross dalam menjadi RS yang terpercaya, tidak penah berhenti belajar dari pengalaman-pengalaman yang sudah dijalankan oleh RS lain maupun dari literatus yang ada bahwa memperbaiki komunikasi adalah pondasi yang sangat penting dan ini sangat disadari oleh semua pihak. Kesalahan komunikasi disinyalir sebagai penyebab mengapa pasien lari berobat ke luar negeri, padahal jika disadari sudah ada 7 RS yang sudah terakreditasi internasional di Indonesia. Dalam Memprebaiki mutu layananan sangat disadari oleh Puncak pimpinan bahwa pengeluaran terkait dengan mutu itu sangatlah besar sehingga yang terpenting adalah kendali mutu dan kendali biaya, Lebih lanjut dijelaskan oleh penyaji dalam keikutsertaan RS Awal Bros dalam Era JKN bukan tanpa kendala dan apabila dikatakan untung ataupun rugi jawabannya adalah iya rugi, namun disitulah pentingnya dalam mengatur operasionalnya.

Pada sesi tanya jawab yang dibuka oleh moderator disambut sangat antusias oleh para peserta sehingga jalannya diskusi berlangsung lancar dan terkendali. Pada akhir sesi presentasi penyaji memberikan kata-kata mutiara yakni “organisasi kesehatan yang paling sukses adalah organisasi yang mengenali sifat usaha mereka dan mengelolanya untuk memberikan seluruh dimensi kualitas”


SESI A3:

Patient Safety Implementation in ICU
Oleh dr. Rudyanto Sedono

Moderator: Dr.Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD,
Pemaparan yang menarik dengan gaya khas yang nyentrik berhasil menghipnotis para peserta dalam forum mutu pada sesi A3. Berada pada jam yang agak rentan dengan kondisi fokus peserta menurun namun penyaji berhasil membuat peserta menjadi sangat antusias dan membuat suasana menjadi menyenangkan dengan penyampaian pengalaman-pengalamannya selama bekerja sebagai kepala ICU RSCM. Dalam pemaparan yang disampaikan oleh penyaji dimulai dengan pertanyaan seberapa amankah health care? Ternyata health care itu sendri berada di posisi yang tidak memberi keamanan kepada si pengguna pelayanan itu sendiri, sehingga sangat dibutuhkan implemntasi patien safety yang meliputi Quality of treatment and unit management, Quality of monitoring, Quality of continous and same standard dan Quality in 24 hours.

Disampaikan juga oleh penyaji bahwa ada beberapa hal yang membuat masalah-masalah keselamatan itu muncul yakni peningkatan kompleksitas dalam sistem dan perubahan teknologi yang sangat cepat, dan sebagainya. Penerapan implementasi standar tidak bisa disamakan, harus melihat kondisi rumah sakit, sistem pelayanan kesehatan, sistem pemerintahan, dan juga nilai, hukum, sosial budaya, norma, etika, adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Yang sangat penting disebutkan oleh penyaji adalah kearifan lokal yang dijalankan oleh instansi tersebut sehingga dapa mengimplemnetasikan patient safety secara benar.