International Forum on Quality & Safety in Healthcare: Strive for Excellence, Seek Value, Spark a Revolution

International Forum on Quality & Safety in Healthcare:
Strive for Excellence, Seek Value, Spark a Revolution

Paris, 8-11 April 2014

Reportase oleh: Hanevi Djasri

11apr-2

British Medical Journal (BMJ) dan Institute for Healthcare Improvement (IHI) kembali mengadakan forum internasional untuk membahas berbagai perkembangan upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan. Forum ini diselenggarakan di The Le Palais des Congres, Paris, Perancis. 

Pada hari pertama tercatat diikuti oleh 3.030 peserta dari 78 negara. Forum dibuka oleh Fiona Godlee, Editor in Chief, British Medical Journal dan juga oleh Jean Luc Harrouseau, Presiden, Haute Autorite de Sante (HAS) yang menjelaskan mengenai gambaran umum isi forum. Forum terdiri dari kegiatan pre-forum (1 hari) dan forum utama (3 hari) yang dibagi menjadi yaitu 6 topik utama: Improving clinical performance, Safe and reliable care, Patient and family centred care, Leading effective change, Improving population and community health dan Technology and innovation.

p3Penulis sebagai wakil di PKMK FK-UGM yang juga sebagai peserta satu-satunya dari Indonesia, memilih untuk mengikuti topik-topik yang terkait dengan Improving clinical Performance dan Leading Effective Change, hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa pada tahun 2014 ini kami di PKMK FK-UGM memiliki penelitian yang cukup penting mengenai “Pengembangan Model Pelayanan TB yang Efektif dan Efisien di RS” yang merupakan kerjasama dengan 3 RS dan Otsuka Foundation. Dalam skala yang lebih besar pilihan ini juga atas latar belakang mulainya Sistem Jaminan Kesehatan Nasinonal kita, yang menjanjikan adanya pelayanan kesehatan yang bermutu dan efisien.

Total disajikan sebanyak 85 sesi dalam waktu 3 hari baik sesi pleno maupun pararel. Penulis mengikuti 15 sesi terpilih yang diharapkan dapat memerikan masukan bagi penelitian tersebut diatas dan juga untuk JKN. Topik dengan Improving clinical Performance banyak memberikan contoh upaya peningkatan mutu, sedangkan topik Leading Effective Change banyak mengkaitkan antara mutu dengan biaya.

Setiap sesi saling terkait satu sama lain, sehingga laporan reportase ini tidak disusun berdasarkan urutan sesi/hari namun berdasarkan topik/isue yang disampaikan oleh berbagai pembicara dari berbagai sudut pandang yang penulis coba bagi menjadi 3 bagian sesuai motto dari forum ini: Strive for Excellence, Seek Value, Spark a Revolution. Reportase ini juga dilengkapi dengan beberapa catatan untuk konteks Indonesia menurut pandangan penulis serta beberapa catatan ringan terkait dengan keikutsertaan penulis dalam forum ini.

Selamat menikmati.

 

Strive For Excellence

Seek Value

Spark a Revolution

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RS Umum Pekerja Bisa Dipakai Seluruh Warga Jakarta

VIVAnews – Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emawati, mengatakan bahwa rumah sakit umum pekerja di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) tidak dikhususkan hanya untuk pekerja di PT KBN itu. Tetapi bisa juga dipakai oleh warga Jakarta termasuk yang mempunyai kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
 

RS Swasta Perlu Dibantu Dukung BPJS Kesehatan

Skalanews – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Kota Pekanbaru, Provinsi Riau meminta DPRD Provinsi Riau menganggarkan bantuan dalam APBD untuk membantu operasional rumah sakit swasta khususnya operasional Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Continue reading

JKN Menyediakan Obat-obatan Berkualitas

INILAHCOM, Jakarta – Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terbukti menyediakan obat-obatan berkualitas dalam melayani masyarakat Indonesia. Tak mengabaikan hal tersebut, JKN berarti tak merugikan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Continue reading

Indonesia Tertinggal dalam Siapkan Aturan

Kompas.com – Indonesia dinilai tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga dalam mempersiapkan tenaga perawat memasuki masyarakat ekonomi ASEAN. Pengesahan RUU Keperawatan menjadi titik krusial penataan perawat yang lebih profesional.

Continue reading

Menurunkan Ketidakadilan Kesehatan di Indonesia Melalui Pelatihan Komprehensif Tentang Social Determinant of Health Bagi Peneliti dan Pembuat Kebijakan

Dwidjo Susilo, dkk., melakukan penelitian mengenai ketidakadilan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya perbedaan yang besar, baik secara geografis, demografis, dan ekonomi di Indonesia. Pelaksanaan desentralisasi memiliki dampak yang luar biasa pada sistem kesehatan nasional. Desentralisasi memungkinkan pembangunan yang efektif dan pelaksanaan semua kebijakan tergantung pada kemampuan kepala daerah. Kondisi ini mempengaruhi kesehatan masyarakat sekaligus menyebabkan ketidakadilan kesehatan di Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis situasi di Indonesia, dengan fokus pada pelatihan tentang faktor sosial penentu kesehatan/ social determinants of health (SDH) di Indonesia serta untuk mengidentifikasi kesenjangan yang ada. Penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi tentang kurikulum SDH terkait di sekolah-sekolah kesehatan masyarakat melalui mesin pencari di internet. Peneliti juga juga mewawancarai 15 informan kunci di tingkat nasional dan lokal untuk mengembangkan wawasan yang lebih luas terkait masalah SDH di Indonesia. Informan ini dikategorikan dalam pengambil keputusan, donor, LSM, WHO, dan ahli SDH. Informan diwawancarai menggunakan pedoman wawancara ‘kategori – spesifik’ yang disusun oleh tim dari Universitas Umea .

Hasil penelitian menunjukan bahwa istilah SDH tidak banyak digunakan atau dipahami di Indonesia. SDH tidak diajarkan secara eksplisit kepada setiap lulusan sekolah kesehatan masyarakat di Indonesia. SDH hanya diajarkan sebagai sebuah komponen dalam program yang berbeda. Seminar-seminar dengan tema SDH juga jarang diselenggarakan di Indonesia. Pengetahuan tentang SDH di Indonesia sangat tidak memadai. Ini tidak hanya terbatas pada mereka yang bekerja di sektor kesehatan tetapi juga mereka yang bekerja di sektor lain. Selain itu, data dan peraturan tingkat nasional tidak cukup untuk secara efektif menunjukkan SDH sehingga dibutuhkan data dan intervensi yang diperlukan di tingkat kabupaten .

Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa saat ini belum ada kursus khusus terkait SDH yang tersedia walaupun topik SDH sudah dimasukkan ke dalam pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah kesehatan masyarakat. Pelatihan intensif dan lebih terstruktur terkait SDH diperlukan untuk memastikan pemahaman yang baik tentang SDH di Indonesia bagi para peneliti dan pemangku kebijakan di semua sektor dan di semua tingkatan.

Sumber: http://www.biomedcentral.com/1471-2458/14/S1/O2 

{module [150]}

Menggali Informasi Ketimpangan Sosial dalam Aspek Kesehatan: Social Determinants of Health Research

Dalam INTREC Course yang dilaksanakan sejak 1 April lalu di Hotel Santika Yogyakarta, Dr. Nicholas Henschke dari University of Heidelberg menyatakan bahwa kesehatan adalah hal yang berikatan erat dengan kehidupan manusia. Dalam keseharian, ada banyak faktor sosial yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Faktor-faktor tersebut dapat berkontribusi dalam terjadinya ketidakseimbangan kesehatan diantara kelompok sosial. Faktor-faktor tersebut juga dapat mempengaruhi kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Semua faktor ini saling terkait satu sama lain dan dapat berakumulasi sepanjang kehidupan manusia. Faktor-faktor sosial yang berpengaruh dalam kesehatan ini disebut dengan istilah social determinants of health (SDH).

Social determinants of health, menurut WHO, adalah kondisi sosial yang mempengaruhi kesempatan seseorang untuk memperoleh kesehatan. Faktor-faktor seperti kemiskinan, kekurangan pangan, ketimpangan sosial dan diskriminasi, kondisi masa kanak-kanak yang tidak sehat, serta rendahnya status pekerjaan merupakan penentu penting dari terjadinya penyakit, kematian, dan ketidakseimbangan kesehatan antar maupun di dalam sebuah negara.

Dalam SDH, ada dua hal berbeda yang dapat menggambarkan ketimpangan sosial terkait derajat kesehatan masyarakat yaitu inequality dan inequity. Inequality in health merupakan konsep normatif dan merujuk pada ketidakseimbangan yang dianggap tidak adil sebagai hasil dari berbagai proses sosial. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap health inequalities adalah: 1) faktor sosial ekonomi atau faktor materi seperti anggaran belanja pemerintah dan distribusi pendapatan serta sumber daya lain di masyarakat, 2) faktor psikologi seperti stres, keterasingan, hubungan sosial dan dukungan sosial, dan 3) faktor perilaku dan gaya hidup.

Inequity in health atau ketidakadilan dalam aspek kesehatan merupakan sebuah dugaan empiris dan merujuk pada perbedaan status kesehatan antar kelompok yang berbeda. Sedangkan, health equity berarti ketiadaan ketidakadilan dan pencegahan perbedaan status kesehatan diantara kelompok sosial. Health equity juga terkait dengan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan. Dalam health equity, kesehatan merupakan sumber daya yang penting dan bernilai untuk perkembangan manusia yang membantu manusia untuk meraih potensi mereka dan berkontribusi secara positif untuk masyarakat.

Dalam menggali adanya inequity dan inequality in health, diperlukan sebuah riset terkait SDH. Ada 3 pendekatan dan prinsip dalam riset SDH ini, yakni: 1) berfokus pada kelompok yang paling kurang beruntung. Ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dari kelompok yang paling kurang beruntung. Pendekatan ini juga dapat meningkatkan kesehatan bagi mereka yang kurang beruntung meskipun kesenjangan kesehatan antara yang kaya dan miskin tidak berubah; 2) mempersempit kesenjangan kesehatan. Ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mereka yang kurang beruntung dengan meningkatkan keluaran kesehatan mereka agar setara dengan kelompok yang beruntung. Ini memerlukan pengaturan target untuk mengurangi perbedaan dalam keluaran kesehatan; dan 3) mengurangi kesenjangan sosial. Ini termasuk menurunkan perbedaan dan membuat aspek kesehatan menjadi lebih adil disemua jenjang.

Untuk mengukur SDH dan inequalities in health, diperlukan data yang memadai untuk dapat membantu kita memahami inequalities in health dan untuk membantu kita mengidentifikasi target dan intervensi yang tepat untuk mengatasinya. Data yang dimaksud adalah: 1) data mengenai kematian, kesakitan, kesehatan dan penggunaan layanan kesehatan, dan 2) informasi mengenai bagaimana indikator pelayanan tersebut dipolakan diseluruh kelompok demografis dan sosioekonomi serta diseluruh area geografis yang berbeda.

Oleh: drg. Puti Aulia Rahma, MPH dan Andriani Yulianti, SE, MPH