Keselamatan Pasien di Rumah Sakit yang Perlu Diperhatikan

Sekitar 1 dari setiap 10 pasien dirugikan dalam layanan kesehatan dan lebih dari 3 juta kematian terjadi setiap tahunnya karena layanan yang tidak aman. Di negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah, sebanyak 4 dari 100 orang meninggal karena perawatan yang tidak aman. Beberapa sumber umum yang menyebabakan adanya tindakan yang merugikan pasien menurut WHO yakni:

  1. Kesalahan pengobatan. Kerugian terkait pengobatan berdampak pada 1 dari setiap 30 pasien yang mendapat layanan kesehatan, dan lebih dari seperempat dari kerugian ini dianggap parah atau mengancam nyawa. Setengah dari bahaya dapat dihindari dalam layanan kesehatan berhubungan dengan obat-obatan.
  2. Kesalahan bedah. Lebih dari 300 juta prosedur bedah dilakukan setiap tahun di seluruh dunia. Meskipun ada kesadaran akan efek buruknya, tingkat kesalahan bedah terus terjadi; 10% dari cedera pasien yang dapat dicegah dalam layanan kesehatan dilaporkan terjadi di lingkungan bedah , dengan sebagian besar efek samping yang terjadi terjadi sebelum dan sesudah operasi.
  3. Infeksi terkait layanan kesehatan. Dengan tingkat global sebesar 0,14% (meningkat sebesar 0,06% setiap tahun), infeksi terkait layanan kesehatan mengakibatkan lamanya masa rawat inap di rumah sakit, kecacatan jangka panjang, peningkatan resistensi antimikroba, beban keuangan tambahan pada pasien, keluarga, dan sistem kesehatan, dan kematian yang dapat dihindari.
  4. Sepsis. Sepsis adalah kondisi serius yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi ekstrem terhadap suatu infeksi. Reaksi tubuh menyebabkan kerusakan pada jaringan dan organnya sendiri. Dari semua kasus sepsis yang ditangani di rumah sakit, 23,6% diantaranya berhubungan dengan layanan kesehatan, dan sekitar 24,4% pasien yang terkena dampak tersebut kehilangan nyawa sebagai akibatnya.
  5. Kesalahan diagnostik. Hal ini terjadi pada 5-20% pertemuan dokter-pasien. Menurut tinjauan dokter, kesalahan diagnostik yang berbahaya ditemukan pada minimal 0,7% pasien dewasa. Kebanyakan orang akan mengalami kesalahan diagnostik seumur hidup mereka.
  6. Pasien terjatuh. Pasien jatuh adalah kejadian buruk yang paling sering terjadi di rumah sakit. Tingkat kejadiannya berkisar antara 3 hingga 5 per 1000 hari, dan lebih dari sepertiga insiden ini mengakibatkan cedera, sehingga mengurangi hasil klinis dan meningkatkan beban keuangan pada sistem.
  7. Tromboemboli vena. Lebih dikenal sebagai pembekuan darah, tromboemboli vena merupakan penyebab kerugian pasien yang sangat memberatkan dan dapat dicegah, yang berkontribusi terhadap sepertiga komplikasi akibat rawat inap.
  8. Ulkus dekubitus. Ulkus dekubitus adalah luka pada kulit atau jaringan lunak. Berkembang dari tekanan ke bagian tubuh tertentu dalam jangka waktu lama. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi yang fatal. Ulkus dekubitus mempengaruhi lebih dari 1 dari 10 pasien dewasa yang dirawat di rumah sakitdan, meskipun sangat dapat dicegah, penyakit ini mempunyai dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental dan fisik individu, serta kualitas hidup pasien.
  9. Praktik transfusi yang tidak aman. Transfusi yang tidak perlu dan praktik transfusi yang tidak aman membuat pasien menghadapi risiko reaksi transfusi yang merugikan dan infeksi menular transfusi yang serius. Data mengenai reaksi merugikan transfusi dari 62 negara menunjukkan rata-rata kejadian 12,2 reaksi serius per 100.000 komponen darah yang didistribusikan.
  10. kesalahan identifikasi pasien. Kegagalan dalam mengidentifikasi pasien dengan benar dapat menjadi akar penyebab berbagai masalah dan berdampak serius pada penyediaan layanan kesehatan. Hal ini dapat menyebabkan efek samping yang sangat buruk, seperti pembedahan yang salah lokasi. Laporan Komisi Gabungan yang diterbitkan pada tahun 2018 mengidentifikasi 409 kejadian sentinel identifikasi pasien dari 3326 insiden (12,3%) antara tahun 2014 dan 2017.
  11. Praktik penyuntikan yang tidak aman. Setiap tahun, 16 miliar suntikan dilakukan di seluruh dunia, dan praktik suntikan yang tidak aman menempatkan pasien, petugas kesehatan, dan layanan kesehatan pada risiko terjadinya efek samping menular dan tidak menular. Dengan menggunakan model matematika, sebuah penelitian memperkirakan bahwa, dalam jangka waktu 10 tahun (2000-2010), terdapat 1,67 juta infeksi virus hepatitis B, antara 157.592 dan 315.120 infeksi virus hepatitis C, dan antara 16.939 dan 33.877 infeksi HIV. dengan suntikan yang tidak aman.

Berikut ini beberapa rekomendasi yang perlu dilakukan di rumah sakit untuk mencegah terjadinya tindakkan yang membahayakan pasien menurut (JCI, 2023)

  1. Identifikasi pasien dengan benar: Gunakan setidaknya dua cara untuk mengidentifikasi pasien. Misalnya, gunakan nama pasien dan tanggal lahir. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap pasien mendapatkan obat dan pengobatan yang tepat.
  2. Gunakan obat dengan aman: Sebelum prosedur, beri label pada obat yang tidak diberi label. Misalnya obat-obatan dalam jarum suntik, gelas, dan baskom. Lakukan ini di area tempat obat-obatan dan perbekalan yang disiapkan. Berhati-hatilah dengan pasien yang mengonsumsi obat untuk mengencerkan darahnya. Catat dan sampaikan informasi yang benar tentang obat-obatan pasien. Cari tahu obat apa yang diminum pasien. Bandingkan obat-obatan tersebut dengan obat baru yang diberikan kepada pasien. Berikan pasien informasi tertulis tentang obat-obatan yang perlu mereka minum. Beritahu pasien bahwa penting untuk membawa daftar obat terkini setiap kali mereka mengunjungi dokter.
  3. Tingkatkan komunikasi staf: Dapatkan hasil tes penting dari staf dengan tepat waktu.
  4. Gunakan alarm dengan aman: Lakukan perbaikan untuk memastikan alarm pada peralatan medis terdengar dan ditanggapi tepat waktu.
  5. Mencegah infeksi: Gunakan pedoman pembersihan tangan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Tetapkan tujuan untuk meningkatkan kebersihan tangan. Gunakan tujuan tersebut untuk meningkatkan pembersihan tangan.
  6. Identifikasi risiko keselamatan pasien: Kurangi risiko bunuh diri.
  7. Mencegah kesalahan dalam pembedahan: Pastikan pembedahan yang benar dilakukan pada pasien yang benar dan pada tempat yang benar pada tubuh pasien. Tandai tempat yang benar pada tubuh pasien di mana operasi akan dilakukan. Berhentilah sejenak sebelum operasi untuk memastikan tidak terjadi kesalahan.

Sumber:

 

 

Reportase dari Konferensi Internasional ISQua di Seoul, Korea Selatan

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH
Delegasi dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM
dan Indonesian Health Care Quality Network (IHQN)

  Pengantar

The International Society for Quality in Health Care (ISQua) kembali mengadakan pertemuan internasional tentang mutu pelayanan kesehatan, kali ini merupakan konferensi ke-39. Bertempat di Gedung COEX Convention Centre, Korea Selatan, pada 27-30 September 2023.

Pertemuan tahun ini mengangkat tema Technology, Culture, and Corproduction: Looking to The Horizon of Quality and Safety, tema yang relevan dengan kondisi mutu pelayanan kesehatan Indonesia dan global saat ini. Bauran kecepatan perkembangan teknologi, konsistensi budaya, dan kecepatan produksi pasar berlomba berkontribusi untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya mutu dan aman bagi setiap orang.

Reportase disusun selama tiga hari yaitu mulai hari Senin-Rabu. Reportase memuat ringkasan isi materi yang disajikan oleh para pembicara pada seluruh sesi pleno dan sebagian sesi paralel. Reportase juga memuat pendapat penulis terkait dengan konteks di Indonesia dan usulan tindak lanjut.

Para pembaca yang telah mengikuti konferensi ISQua diundang untuk melengkapi reportase ini secara online di website mutu pelayanan kesehatan pada link website www.mutupelayanankesehatan.net Kami juga berharap semua pemerhati mutu pelayanan kesehatan memberikan tanggapan usulan tindak lanjut dalam konteks Indonesia. Diharapkan dengan adanya reportase ini dapat memberikan ide-ide baru bagi para pengambil kebijakan, dosen, peneliti, tenaga kesehatan dan pemerhati peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.    

{tab title=”HARI PERTAMA” class=”red solid” align=”justify”}

  Senin, 28 September 2023

Pembukaan dan Pleno

isq1

Pertemuan dibuka secara resmi oleh Jeffery Braithwaite sebagai presiden ISQua, WangJunLee sebagai presiden KoSQua, Jung-Gu Kang sebagai presiden HIRA, dan Cho KyooHong sebagai Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan.

Jeffery Braithwaite mengucapkan selamat datang pada seluruh peserta ISQua. Jeffery dengan semangat menyampaikan bahwa jumlah peserta berasal dari 77 negara, 1608 peserta, lebih dari 290 pembicara, lebih dari 200 presentasi oral dan lebih dari 400 poster. ISQua merupakan konferensi bergengsi yang banyak diminati oleh pemerhati mutu pelayanan kesehatan, mulai dari klinisi, akademisi, peneliti dan lembaga akreditasi di seluruh dunia. Jika tertarik dengan mutu pelayanan kesehatan, maka pilihan mengikuti ISQUa adalah pilihan tepat karena ISQua memiliki keuntungan. Jeffery memaparkan keuntungan mengikuti ISQua, yaitu dapat mengakses banyak materi dari expert, berdiskusi banyak hal tentang quality improvement dan patient safety, membangun jejaring (networking) dengan orang dari seluruh dunia, dan beraksi untuk mentransformasi kesehatan dan menciptakan keamanan di seluruh dunia. Jeffery juga mengingatkan kepada peserta bahwa ISQua memiliki visi untuk menjadi pemimpin transformasi pelayanan kesehatan di seluruh dunia, dengan misi untuk menginspirasi dan meningkatkan keamanan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Jeffery selaku presiden ISQua sangat bangga dan berterima kasih kepada semua peserta ISQua ke-39 di Korea Selatan.

Wang Jun Lee sebagai president of KoSQua dan chairman of myongji medical foundation menyambut peserta dengan kalimat semangat “ketika keadaan menjadi sulit, lihatlah orang-orang yang bekerja dengan anda, anda akan mendapatkan energi dari mereka”. WangJunLee merasa bahagia karena telah diberi kepercayaan untuk menjadi Co-Host oleh ISQua. Presiden KoSQua mengucapkan selamat datang sebagai tuan rumah dan juga mengajak kepada para peserta untuk menikmati keindahan Korea Selatan yang terkenal dengan K-POPnya. Jung-Gu Kang sebagai presiden HIRA dan Co-Host ISQua ke 39 mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta dari seluruh dunia. HIRA adalah salah satu lembaga yang berada dibawah Korea’s National Health Insurance (NHI). HIRA bertugas untuk membuat regulasi terkait harga, monitor harga dan tingkat kepuasan pasien, dan infrastruktur sistem digital NHI.

Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan membuka acara ISQua secara online melalui video, Cho KyooHong mengucapkan selamat atas diselenggarakannya ISQua ke-39 di Korea Selatan. ISQua merupakan komunitas internasional yang paling banyak diminati, fokus pada peningkatan mutu pelayanan dan keamanan pasien. Hari ini semua pakar berkumpul dari berbagai belahan dunia untuk berdiskusi tentang tindak lanjut peningkatan mutu. Dia mengatakan semoga acara ISQua berjalan dengan lancar.  

Climate Change and Healthcare

isq2Sesi pleno pertama dibawakan oleh H.E. Ban Ki-moon dari Korea Selatan, dia sebagai ketua yayasan Ban Ki Moon untuk masa depan yang lebih baik. Ban Ki membandingkan penanganan Covid-19 dan krisis Ebola, terjadi perbedaan yang mencolok karena para pemimpin global saling menyalahkan dibandingkan mengarahkan upaya untuk membatasi penyebaran virus. Akibatnya, wabah COVID-19 merenggut 7 juta jiwa dalam kurun waktu tiga tahun dan Ebola mengakibatkan korban jiwa sebanyak 11.000 orang.

Ban berharap para peserta yang berkumpul di konferensi bekerja sama memanfaatkan peran layanan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Ban memuji ISQua atas green papernya mengenai pelayanan kesehatan berkualitas tinggi dan ramah lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anggota ISQua tentang ancaman terhadap kesehatan akibat perubahan iklim, dan solusi yang sesuai untuk mengatasinya dari perspektif peningkatan kualitas dan keselamatan pasien. Makalah ini bertujuan untuk menetapkan peran ISQua dalam menanggapi perubahan iklim sambil mengadvokasi intervensi ramah lingkungan untuk mentransformasi sistem kesehatan.

Pada konteks Indonesia, climate change menjadi salah satu urusan kementerian kehutanan dan lingkungan hidup (KLHK). Indonesia telah bekerjasama dengan negara lain seperti Inggris melakukan berbagai program untuk penanggulangan perubahan iklim. Aksi yang dilakukan oleh KLHK dapat diangkat di forum-forum nasional tentang mutu pelayanan kesehatan selayaknya forum ISQua atau Forum Mutu Nasional yang rutin diselenggarakan oleh Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN).  

A QI Collaborative Enhancing Quality & Patient Safety in Resource-Challanged Obstetric Care Settings

isq3

Pembicara berasal dari Rumah Sakit Sree Renga India. Sesi membahas mengenai penerapan Safe Childbirth Checklist (SCC) yang diterbitkan oleh WHO. Pembicara menceritakan tentang peningkatan kualitas mutu pelayanan yang dilakukan melalui kolaborasi dengan RS lainnya di India.

Anurada Pichumani dan Pichumani Parthasarath mengawali pemaparan dengan hasil penelitian dari Lancet bahwa rendahnya mutu pelayanan kesehatan menjadi penyebab kematian terbanyak dibandingkan dengan kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan. 3-6 juta kematian disebabkan karena akses dan 5 juta kematian disebabkan oleh kualitas pelayanan yang buruk. Salah satu tools yang digunakan untuk memastikan pelayanan diberikan dengan mutu yang baik yaitu SCC. SCC diberikan mulai dari admisi, sebelum operasi sesar, 1 jam setelah melahirkan, dan sebelum ibu & bayi dipulangkan.

RS Sree Renga terdiri dari 47 tempat tidur dan berada di pedesaan atau area rural. Butuh kolaborasi dengan instansi lain untuk memberikan pelayanan yang bermutu, sehingga Sree Renga mengimplementasikan proyek kolaborasi. Kolaborasi adalah menyatukan kelompok-kelompok praktisi dari organisasi pelayanan kesehatan yang berbeda untuk bekerja secara terstruktur dan untuk meningkatkan kualitas. Kolaborasi dilakukan untuk menutup kesenjangan.

Pembicara menyampaikan rekomendasi peningkatan mutu  dan keamanan melalui kolaborasi agar dapat berjalan dengan baik, yaitu: 1) persiapan dan penetapan tujuan, hal yang perlu disiapkan antara lain menetapkan subjek dengan tepat, menentukan tujuan, menilai kapasitas, menentukan peran dari masing-masing tim, dan memastikan tim; 2) pelaksanaan kolaborasi, ditekankan pada pembelajaran timbal balik daripada mengajarkan, memotivasi dan memberdayakan tim, memastikan pengukuran dan pencapaian target, melengkapi dan mendukung tim dalam data dan mengubah tantangan; 3) setelah transisi kolaborasi, pelajari dan merencanakan kegiatan untuk mempertahankan perbaikan, libatkan pemimpin atau manajer, rencanakan untuk implementasi program kolaborasi pada program atau proyek lain.

Indonesia memiliki letak geografis yang berpulau dan masalah distribusi sumber daya. Manajemen proyek kolaborasi cocok diimplementasikan di Indonesia untuk memenuhi keterbatasan layanan fasilitas kesehatan. Kegiatan ini juga sudah dilakukan, salah satunya melalui proyek sister hospital pada masalah KIA. Untuk kedepannya, dapat dilakukan manajemen proyek kolaborasi dengan topik lainnya, seperti Jantung, nutrisi, dan sebagainya.

Improving The Quality and Safety of Health Care in Low and Middle-Income Countries. What Works!

Sesi sebelum lunch break ini menampilkan pembicara Salma Jaouni dari Health Care Accreditation Council (HCAC). Sesi ini membahas transformasi sistem kesehatan menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah dalam mengurangi angka kesakitan dan kematian. Peningkatan mutu dan keselamatan pasien telah dilakukan oleh HCAH melalui akreditasi. HCAC merupakan organisasi nirlaba sektor swasta di Yordania yang fokus pada peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Layanan HCAC berupa akreditasi rumah sakit, akreditasi primary healthcare, akreditasi laboratorium, layanan konsultasi manajemen mutu, dan program peningkatan kapasitas melalui pelatihan.

HCAC telah berhasil meningkatkan mutu dan keselamatan pasien di Yordania. Salma dalam presentasinya menyampaikan bahwa akreditasi saja tidak cukup untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, diperlukan regulasi yang kuat, pelatihan, keterlibatan pasien, biaya, tenaga kesehatan profesional dan lainnya. Diperlukan pengukuran mutu pelayanan kesehatan yang dikumpulkan melalui data pasien dan diukur melalui indikator. Target indikator perlu dibuat dari angka terendah sehingga setiap tahun selalu ada tantangan untuk mencapai indikator.

Yordania telah mencapai kemajuan besar dalam meningkatkan kesehatan penduduknya meskipun terdapat kendala yang berasal dari faktor ekonomi, sosial, dan sistem. Yordania memiliki jaringan layanan kesehatan yang sangat luas yang berfokus mengatasi tantangan kelengkapan layanan, ketersediaan sumber daya pelayanan kesehatan, dan pengukuran kualitas berkelanjutan dengan cakupan kesehatan universal.

Sesi ini penting bagi Indonesia yang baru memperbanyak lembaga akreditasi di tingkat pelayanan primer maupun rumah sakit. Lembaga akreditasi yang ada saat ini di Indonesia telah memberikan layanan seperti HCAC dalam bentuk pelatihan dan akreditasi, namun belum memberikan layanan konsultasi dan belum menjadikan pasien dalam mengukur mutu pelayanan kesehatan untuk menciptakan peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.

Failure Mode & Effects Analysis: What Is It, and How Can We Apply It in Healthcare To Manage Risk?

isq4Sesi disampaikan oleh Robyn Clay-Williams dari Australian Institute of Health Innovation dan Peter Hibbert dari Macquarie University dalam bentuk workshop. Peserta yang hadir sangat ramai sampai melebihi kapasitas ruangan. Sesi ini membahas salah satu tools yang digunakan untuk peningkatan mutu yaitu mengenai cara penggunaan FMEA. FMEA merupakan alat yang digunakan untuk menganalisis kegagalan. Pelaksanaan FMEA mahal karena membutuhkan waktu, sumber daya, tim multidisiplin yang memiliki pengetahuan tentang proses yang dianalisis, membutuhkan profesional keselamatan & kualitas untuk memimpin dan mengarahkan. Tantangan dalam melakukan FMEA yaitu penentuan nilai skor kemungkinan, nilai skor deteksi, dan nilai skor tingkat keparahan yang mungkin tidak jelas karena penentuan skor ditekankan pada konsensus di antara tim. FMEA di Indonesia telah lama menjadi dokumen wajib yang dibuat oleh fasilitas pelayanan kesehatan ketika melakukan manajemen risiko. Tantangan yang dihadapi tim penyusun FMEA sama dengan di tingkat global yaitu menentukan nilai skor. Upaya untuk menjawab tantangan adalah penguatan konsensus diantara tim.  

People not Patients

isq5Sesi ini merupakan sesi penutup untuk pertemuan hari I, menghadirkan dua pembicara. Helen Leonard memperkenalkan metode pengobatan realistis yang telah dilakukan pada Matthew putranya, dan Catherine Calderwood sebagai Professor of Innovation and Translational Research University of Strathclyde.

Catherine mengajak peserta ISQua untuk memahami “apa itu pasien”. Catherini dalam paparannya menyebutkan definisi pasien bahwa orang yang mampu menunggu dalam waktu lama atau menerima kesulitan tanpa rasa marah. Dalam pengertian tersebut disebutkan pasien adalah orang, sehingga kata yang cocok untuk menyebutkan pasien adalah orang. Tidak ada kata pasien bagi orang yang berkunjung ke fasilitas kesehatan.

Kondisi ini menggambarkan fenomena pelayanan kesehatan saat ini, mulai dari pasien menunggu memperoleh pelayanan kesehatan dalam waktu lama kemudian bertemu dengan dokter menyampaikan keluhannya dalam waktu singkat, dokter menjawab pertanyaan pasien juga secara singkat. Situasi ini cocok dengan hasil survei yang menyebutkan bahwa dokter menghabiskan waktu menjawab pertanyaan pasien 5%, dokter berbicara menghabiskan waktu 44% dan pasien berbicara menghabiskan waktu 24%.

Dalam konteks Indonesia, sesi ini dapat menjadi bahan diskusi yang menarik. Di Indonesia masih sering menggunakan istilah pasien BPJS Kesehatan dan pasien non BPJS Kesehatan saat melakukan registrasi secara online maupun offline. Mungkin istilah tersebut tidak bermakna mendalam bagi Anda, namun ternyata pembelajaran yang disampaikan oleh Helen Leonard dan Prof. Catherine dapat meningkatkan rasa percaya untuk sembuh karena nilai-nilai dasar sebagai manusia terakomodir. Saya teringat dengan cerita Prof. Adi Utarini MSC.,PhD saat beliau dirawat di salah satu rumah sakit, salah satu kegiatan harian beliau adalah menulis di buku diary, perawat dengan lembut dan telaten merawat Prof Uut, namun bukan hanya merawat fisiknya, perawat juga menanyakan hobi beliau. Saat itu, Prof. Uut merasa tidak dianggap sebagai pasien, namun dianggap sebagai orang.  Langkah ini kecil, namun berdampak pada proses penyembuhan. Konferensi hari I ditutup tepat pada pukul 16.45 waktu setempat.    

 

{tab title=”HARI KEDUA” class=”orange solid”}

  Selasa 29 September 2023

Measurement at the health system level sharing the story of NCQA

isq6

Sesi pembukaan pleno hari II dibawakan oleh Eric Schneider dari National Committee for Quality Assurance. Sesi ini membahas perjalanan mutu pelayanan kesehatan di Amerika Serikat, strategi AS meningkatkan pelayanan kesehatan, dan inisiatif yang dilakukan oleh NCQA dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di AS Tahun 1990an, NCQA mempelopori pendekatan akreditasi dan pengukuran mutu yang banyak digunakan dalam program mutu dan pembayaran di AS dan secara global.

Upaya yang dilakukan NCQA dalam mencapai misinya “meningkatkan mutu pelayanan kesehatan” dengan cara melakukan inovasi-inovasi untuk membangun program akuntabilitas yang berkualitas. NCQA mengembangkan lembaga dengan inisiatif dan prinsip. Tiga inisiatif yang dilakukan oleh NCQA selaku lembaga akreditasi yang yang mempunyai misi meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, yaitu 1) pengukuran hasil yang berpusat pada orang; 2) akuntabilitas dan pengukuran yang berfokus pada ekuitas; dan 3) pengukuran kualitas melalui digitalisasi. Prinsip NCQA, yaitu: 1) menyelaraskan program sesuai dengan pelayanan saat ini; 2) melakukan pengukuran dan menghindari pelaporan yang bersifat retrospektif; dan 3) memanfaatkan data elektronik.

NCQA melakukan pendekatan pengukuran hasil berpusat pada pasien (person centered outcomes approach) dengan cara mengidentifikasi apa yang penting, mendokumentasikan dan mengukur tujuan capaian pelayanan, menyusun rencana untuk mencapai tujuan capaian pelayanan, menilai kembali tujuan capaian pelayanan sehingga menghasilkan progres dokumen capaian hasil pelayanan. Dokumentasi dan pengukuran di NCQA dilakukan melalui Patient Reported Outcome Measure (PROMs) dan Goal Attainment Scaling (GAS).

Tahun 2021, NCQA telah mengeluarkan standar akreditasi equity, hal ini dilakukan untuk menjawab masalah ketidakadilan pelayanan kesehatan yang parah di AS. Ada lima kategori standar NCQA: 1) program to Improve Social Risks and Address Social Needs, 2) collection and Analysis of Community and Individual Data, 3) Cross-Sector Partnerships and Engagement, 4) Data Management and Interoperability, dan 5) Referrals, Outcomes and Impact. Pengukuran equity di NCQA dilakukan melalui HEDIS. HEDIS memberikan transparansi pelayanan kesehatan, mempromosikan pendekatan inklusif, mengatasi potensi timbulnya risiko sosial, dan insentif melalui benchmarking dan performa. Informasi tentang profil NCQA dapat diakses pada link https://www.ncqa.org/about-ncqa/. Di Indonesia belum ada standar akreditasi kategori equity. Pembelajaran dari NCQA dapat dijadikan rujukan oleh kementerian kesehatan untuk merevisi regulasi standar akreditasi.

Translating Theory to Practice-How to Make Care Safer

isq7Sesi ini disampaikan oleh Peter Lachman dari Ireland, Lead Faculty Quality Improvement and Technical Advisor Royal College of Physicians of Ireland. Dia juga penulis buku tentang keselamatan pasien. Dia menyampaikan sesi ini dalam bentuk workshop. Pada awal sesi, Peter meminta peserta untuk mengisi survey tantangan mengimplementasikan keselamatan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Hasil jawaban peserta bahwa implementasi keselamatan merupakan tantangan terbesar dan industri tantangan terkecil.

 

 

isq8Peter menyampaikan bahwa keselamatan merupakan situation awareness for everyone. Peter menyampaikan pendapat Erik Hollnagel bahwa keselamatan adalah kemampuan suatu sistem untuk mempertahankan kebutuhan dalam kondisi yang diharapkan dan tidak terduga, dan keselamatan merupakan semua hal yang kami lakukan setiap hari. Untuk menyampaikan keselamatan, tentunya harus ada pondasi, berupa data epidemiologi dan pengukuran, nilai dan budaya kepemimpinan, teori dan metode keselamatan pasien, dan ilmu implementasi dan peningkatan mutu. Keselamatan pasien harus dibudayakan, mulai dari yang awalnya kita lalai, kemudian reaktif, kalkulasi, proaktif melakukan mencegah dan antisipasi sampai dengan menjadi keselamatan sebagai budaya. Vincent mengusulkan kerangka kerja yang dapat memandu tim klinis dan organisasi pelayanan kesehatan dalam pengukuran dan pemantauan keselamatan. Materi lebih lanjut dapat diakses https://www.patientsafetyoxford.org.

 

 

isq9Beberapa rumah sakit di Indonesia melakukan pengukuran dan monitoring keselamatan melalui instrumen survei keselamatan pasien dan indikator. Model kerangka kerja vincent dapat direplikasi di Indonesia. Namun kelemahan dari implementasi kerangka kerja ini yaitu susahnya mendapatkan data harm karena masih ada budaya menyalahkan.

 

 

 

 

Translating Resilience into Practise – Tools, Strategies and Experiences

isq10Sesi ini disampaikan oleh empat narasumber, semua berasal dari perguruan tinggi. Louise ELLIS dari Macquarie University dan Cecilie Haraldseid-Driftland, Siri Wiig, HildaBø Lyng dari University of stavanger.

Sesi membahas tentang kapasitas yang dimiliki untuk mempertahankan ketahanan dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Ketahanan dalam pelayanan kesehatan merupakan kemampuan beradaptasi terhadap tantangan dan perubahan praktik sehari-hari pada tingkat sistem yang berbeda-beda dalam mempertahankan pelayanan yang bermutu tinggi. Ketahanan memerlukan pemahaman bagaimana sistem pelayanan kesehatan dapat beradaptasi terhadap tantangan dan perubahan di berbagai tingkat sistem untuk mempertahankan layanan berkualitas tinggi.

10 kapasitas yang harus dimiliki untuk ketahanan dalam fasilitas pelayanan kesehatan yaitu struktur, pembelajaran, keselarasan, koordinasi, kepemimpinan, kesadaran akan risiko, keterlibatan, kompetensi, fasilitator dan komunikasi. Semua kapasitas ketahanan saling bergantung satu sama lain, sehingga upaya ketahanan tidak boleh diarahkan untuk mencapai keberhasilan berdasarkan peningkatan satu kapasitas saja.

Defining Quality Standards for Teleconsultations in Primary Care

isq13Pembicara ada dua orang, Joel Lehmann dari Switzerland dan Shalmali Radha Karnad dari Kenya. Sesi ini membahas tentang standar kualitas dan keamanan pelayanan telekonsultasi di layanan kesehatan primer, tantangan dan risiko telekonsultasi di pelayanan kesehatan primer.

Shalmali Radha Karnad merupakan Chief Medical Officer di HealthX Africa (HA), saat ini Kenya sedang mengembangkan standar nasional telemedicine. Pengembangan standar telah dimulai sejak Juni tahun 2022. Progres sampai saat ini, ada 8 bab dan 7 dimensi. Ada dimensi governance, service providers, patients, infrastructure, communication & technology, data security, ethics and confidentiality, dan implementation & M&E. Shalmali membagikan pengamalan mengembangkan standar telemedisin yang dapat dijadikan pembelajaran bagi penyedia layanan kesehatan dan lembaga akreditasi di tingkat primer antara lain kemampuan adaptasi terhadap kebutuhan dan trend saat ini seperti Artificial Intelligence (AI), standar telemedisin dari negara lain, kesinambungan antara regulasi, standar dan pedoman yang ada, menyelaraskan kebutuhan pemerintah dan donor, keterlibatan pemangku kepentingan, kejelasan dan konsistensi terhadap waktu dan tujuan.

HA menyediakan layanan telemedisin yaitu Integrated mobile application. Aplikasi ini menggunakan kekuatan teknologi digital untuk menjangkau setiap pengguna yang membutuhkan pelayanan kesehatan di tingkat primer, dapat diakses pengguna 24 jam tanpa batas waktu dan jarak. Integrated mobile application merupakan suatu aplikasi konsultasi yang menyediakan pelayanan promotif, preventif, dan kuratif, menyediakan layanan panggilan video, panggilan suara, atau obrolan langsung, melacak tanda-tanda vital, peringatan pengobatan, perjanjian bertemu tenaga kesehatan, dan lainnya.

Kehadiran telemedisin di Indonesia cocok digunakan untuk mengatasi maldistribusi tenaga kesehatan, kurangnya tenaga kesehatan, keterbatasan sarana prasarana, dan letak geografis. Pekerjaan rumah kita bersama yaitu menyusun regulasi dan standar mutu telemedisin di tingkat primer dan rumah sakit.

isq11Joel Lehmann dari Switzerland, pembicara kedua dari EQUAM. EQUAM merupakan organisasi penyedia layanan kesehatan non profit yang mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan di pelayanan kesehatan tingkat primer melalui akreditasi, survei pasien, dan inovasi. Sebelumnya di  Switzerland tidak ada pedoman nasional penggunaan telemedisin, sehingga EQUAM melakukan literatur review, mereview informasi di URAC AS tentang standar akreditasi call centre dan telehealth, interview kualitatif, workshop dengan tenaga ahli, dan pilot study tahun 2021. EQUAM menghasilkan sembilan dimensi, yaitu aksesibilitas, kompetensi utama staf, manajemen pasien, keamanan pasien, kontinuitas, pelatihan manajemen sumber daya manusia, peningkatan kualitas yang berkelanjutan, keamanan dan privasi data. Akhir parapan, kedua narasumber meminta tanggapan kepada peserta ISQua ke-39 tentang standar mutu telemedisin dan mengajak peserta untuk bergabung di community of practice.  

 

 

Person-Centered Care: An Imperative Across the Continuum of Care

isq12 

Pembicara berasal dari Thailand, Somporn Kumphong fokus mendalami mutu pelayanan kesehatan dan akreditasi. Pembicara menceritakan tentang akreditasi pelayanan PCC yang diterbitkan oleh PLANETREE (planetree certification).

Definisi PCC terus berkembang berdasarkan kekhawatiran pasien dan literasi kesehatan. Tahun 2021 pengertian PCC fokus pada menghormati dan responsif terhadap kebutuhan dan nilai pasien dan memastikan nilai pasien terpenuhi (Institute of Medicine). Tahun 2017 pengertian PCC berkembang menjadi memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan melibatkan pasien dan keluarga, pelayanan direncanakan, diberikan, dikelola dan terus ditingkatkan oleh penyedia layanan kesehatan melalui kolaborasi dengan pasien dan keluarga untuk memastikan tujuan, layanan kesehatan dan nilai-nilai pasien terpenuhi (National Academy of Medicine).

PLANETREE mengembangkan akreditasi PCC berdasarkan Framework Patient And Family Engaged-Care Dari National Academy Of Medicine. PLANETREE mengkoneksikan evidence based ke organisasi, mereka menyebutnya “certification drivers of excellence”. Ada 5 drivers yaitu: 1) Create organizational structures that promote engagement; 2) Connect values, strategies and action; 3) Implement practices that promote partnership; 4) Know what matters; 5) Use evidence to drive improvement. Drivers ini digunakan  untuk meningkatkan mutu, loyalitas pasien, dan engagement dengan staf melalui pembelajaran yang berkelanjutan dari pasien. Baca lebih lanjut tentang framework pada link https://nam.edu. Lembaga akreditasi primer di Indonesia belum memiliki standar tentang sertifikasi pelayanan PCC. Pengalaman dari PLANETREE dapat dijadikan pembelajaran.

 

{tab title=”HARI KETIGA” class=”green solid”}     

  Rabu 30 September 2023

isq14

konferensi dibuka dengan sesi pleno topik mengenai teknologi dan pelayanan kesehatan. Ada 2 pembicara, Prof Farah Magrabi dari universitas Macquarie (Professor of Biomedical and Health Informatics) dan Eyal Zimlichman dari Israel (Chief Innovation Officer and Chief Transformation Officer, Sheba Medical Centre). Kedua pembicara menceritakan tentang manfaat kecerdasan buatan atau yang dikenal Artificial Intelligence (AI) dalam meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan kesehatan.

Prof Farah Magrabi menceritakan tentang manfaat AI untuk meningkatkan mutu dan keselamatan dalam pelayanan kesehatan. Beberapa manfaat AI, yaitu memberikan informasi kepada tenaga kesehatan, membantu SDM membuat keputusan, menggantikan keahlian manusia. Contoh implementasi AI dalam dunia kesehatan berupa identifikasi ritme jantung, menghitung volume paru-paru, melihat adanya lesi pada paru, melihat lobus paru.

Eyal Zimlichman mengawali paparannya dengan memaparkan tentang jumlah kejadian adverse events di rawat inap tahun 1991 sebanyak 3,7% (Harvard Medical Practice Study) sedangkan tahun 2023 sebanyak 23,6% (NEJM). Apa yang harus kita lakukan dengan tantangan ini? Eyal menjawab tantangan ini melalui penggunaan AI. Secara umum AI dapat meningkatkan mutu dan keselamatan pasien, meningkatkan outcome klinis, efisiensi, equity, dan pengalaman manusia.

Ada lebih dari 75 abstrak tentang bukti keberhasilan penggunaan AI dalam clinical evidence. AI berhasil menurunkan length of stay pada pasien rawat inap, rawat jalan, dan ICU, meningkatkan mutu. Manfaat AI lebih lanjut dapat membaca artikel the impact on clinical outcomes after 1 year of implementation of an artificial intelligence solution for detection in intracranial hemorrhage.

Secara umum risiko dan tantangan menggunakan AI yaitu kualitas dan ketersediaan data karena data yang salah berpotensi menimbulkan bias dan kesalahan pada saat membuat prediksi, integrasi dengan sistem yang telah ada, AI adalah bidang yang kompleks dan memerlukan keterampilan dan keahlian khusus, biaya mahal, serta pertimbangan etik dan hukum. Tantangan seperti kekurangan tenaga kesehatan dan kurangnya sumber daya dapat diatasi dengan AI.

isq15Delegasi PKMK selanjutnya mengikuti sesi integrated care. Delegasi mendengar paparan implementasi integrated care pathways (ICP) dari klinik Armenian. Klinik Armenian terletak di Abovyan, melayani 7000 orang, memberikan pelayanan pada pasien swasta dan pemerintah (ditanggung negara). Pelayanan yang diberikan berupa kardiologi, endokrinologi, pemeriksaan laboratorium, USG, EKG, dan pemeriksaan lainnya.

ICP sebelumnya tidak pernah diterapkan di Abovyan, Pedro. J Saturno dari dari National Institute of Public Health, Mexico dan kawan-kawan berinisiatif mengimplementasikan ICP. Proyek ini dikerjakan sejak Bulan Februari tahun 2021 sampai Bulan Juli tahun 2023. Dia menceritakan 12 tahapan menerapkan ICP stroke iskemik di Klinik Armenian.
Pedro membagikan daftar pertanyaan yang dapat digunakan untuk membantu penyusunan ICP berupa:

1. Apa yang harus dilakukan
2. Bagaimana melakukannya
3. Siapa yang akan melakukannya
4. Kapan sebaiknya dilakukan
5. Dimana sebaiknya dilakukan
6. Apa potensi perbaikan

12okt

Secara konsep, penyusunan ICP tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Namun, perbedaannya terletak pada lama waktu. Penyusunan sampai tata laksana ICP di Indonesia tidak menghabiskan waktu sekitar 2 tahun lebih, mungkin butuh waktu sekitar 3 bulan. Seringkali penyusunan ICP di Indonesia tidak dilengkapi dengan uji coba.

Tepat tahun 2023, telah keluar Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor Hk.02.02/D/9737/2023 Tentang Penyelenggaraan Alur Klinis (Clinical Pathway) Di Rumah Sakit. ICP disebut juga di Indonesia dengan nama alur klinis/clinical pathway. Regulasi disusun atas kerjasama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM dengan Kemenkes. Tim PKMK yaitu Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua dan Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH. Pelaksanaan regulasi ini perlu dilengkapi pelatihan teknis.

Pengalaman Pedro dapat Klinik Armenian dapat digunakan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan primer di Indonesia karena ICP memiliki banyak manfaat, mulai dari efisiensi, efektifitas pelayanan, meningkatkan mutu, hingga meningkatkan kepuasan pasien.

Konferensi ditutup oleh Presiden ISQua

Sampai bertemu tahun depan di Turki.
Persiapkan hasil penelitian anda untuk dapat dipublikasikan pada pertemuan ini.

Berdasarkan sesi yang telah diikuti oleh delegasi PKMK,  diusulkan rencana tindak lanjut untuk Indonesia, berupa:

  1. Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan akademisi, dan lembaga penyelenggara akreditasi di tingkat rumah sakit dan primer bersama-sama menyusun standar pelayanan equity.
  2. Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan akademisi, dan lembaga penyelenggara akreditasi di tingkat rumah sakit dan primer bersama-sama menyusun standar pelayanan Patient Centre Care (PCC).
  3. Lembaga penyelenggara akreditasi diharapkan selektif dan mampu menyediakan surveyor yang mempunyai kualitas yang sama
  4. Lembaga akreditasi secara inovatif dan berkelanjutan melakukan upaya peningkatan mutu standar akreditasi melalui survei ke masyarakat, review standar akreditasi dari negara lain, pengukuran dan monitor capaian standar akreditasi yang dicapai oleh fasilitas kesehatan, peka terhadap trend saat ini.
  5. Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan akademisi bekerja sama menyusun pedoman pelaksanaan telemedisin.
  6. Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan akademisi menyusun pedoman peningkatan mutu di Indonesia, berisi tools yang digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
  7. Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan akademisi menyusun pedoman peningkatan keselamatan pasien di Indonesia, berisi tools yang digunakan untuk meningkatkan keselamatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
  8. Fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif memanfaatkan data dalam penggunaan artificial intelligence dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan peningkatan efisiensi pelayanan di Indonesia.
  9. Fasilitas kesehatan aktif menggunakan pedoman dalam bentuk integrated care pathways (ICP)
  10. Fasilitas kesehatan aktif  melakukan uji coba dan evaluasi penggunaan integrated care pathways (ICP)

Peluang kerjasama dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Eva Tirtabayu Hasri selaku penulis
No. HP 0823-2433-2525

 

{/tabs}

 

Pesan – Pesan Penting World Patient Safety Day

Ibu hamil dan yang mendekati waktu persalinan

  1. Hadiri semua jadwal konsultasi dokter selama masa kehamilan dan setelah melahirkan, demi Anda dan bayi Anda.
  2. Terlibat secara aktif dalam perawatan kesehatan Anda dan bayi Anda.
  3. Berkomunikasi dengan tim tenaga kesehatan yang merawat Anda dan bertanya maupun utarakan kekhawatiran, jika ada, mengenai kesehatan Anda atau bayi Anda.
  4. Dapatkan dukungan dari pendamping kelahiran yang Anda pilih untuk persalinan, jika diinginkan.
  5. Persiapkan diri secara fisik dan kejiwaan untuk persalinan dan beberapa hari setelah melahirkan.

Suami atau pendamping, keluarga, dan komunitas

  1. Dukung istri atau pasangan Anda selama masa kehamilan dan mendekati waktu persalinan.
  2. Suarakan hak orang-orang tercinta akan pentingnya perawatan yang aman dan bermartabat selama masa kehamilan dan setelah persalinan.
  3. Ikuti tindakan-tindakan pencegahan terhadap COVID-19 dan masalah kesehatan masyarakat lainnya di komunitas Anda dan ketika mengunjungi fasilitas kesehatan.
  4. Terlibatlah dalam berbagai program inisiatif di komunitas Anda untuk mendukung ibu, bayi baru lahir, dan tenaga kesehatan.
  5. Berperan aktif dan bekerja sama dengan pembuat kebijakan untuk menetapkan pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir yang lebih aman.

Tenaga kesehatan

  1. Berupaya untuk menjadikan persalinan sebagai sebuah pengalaman yang positif bagi semua ibu dan bayi baru lahir dengan cara memberikan perawatan yang aman dan berkualitas.
  2. Bangun kepercayaan, dan libatkan serta berdayakan ibu dalam pengambilan keputusan selama persalinan.
  3. Terapkan upaya-upaya keselamatan selama kehamilan, saat persalinan, dan setelah melahirkan, seperti dalam hal pengobatan, operasi, transfusi darah, radiasi, peralatan kesehatan, sanitasi, dan pencegahan infeksi yang aman.
  4. Bicarakan dengan atasan atau kolega Anda jika Anda memiliki kekhawatiran mengenai keselamatan persalinan atau jika ibu atau bayi tidak diperlakukan dengan baik.
  5. Bekerja bersama dengan anggota tim Anda: tim yang tangguh dapat mewujudkan persalinan yang aman.

Pemimpin perawatan kesehatan dan manajer fasilitas kesehatan

  1. Berinvestasilah dalam keselamatan, kesejahteraan, dan kapasitas tenaga kesehatan, maupun pengawasan yang suportif sebagai prioritas untuk mewujudkan keselamatan dalam perawatan kesehatan.
  2. Ciptakan budaya yang mengutamakan keselamatan, di mana tenaga kesehatan tidak takut untuk mengutarakan kekhawatiran akan keselamatan sebagai dasar untuk meningkatkan pelayanan.
  3. Promosikan lingkungan yang menunjang persalinan dengan melibatkan ibu dalam pengambilan keputusan; menjaga harga diri, privasi dan kerahasiaan; dan mencegah perlakuan yang tidak menyenangkan.
  4. Pastikan semua persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih dan sarankan kehadiran pendamping persalinan yang dipilih oleh ibu.
  5. Bangun infrastruktur yang memadai, termasuk air dan listrik, dan sediakan persediaan yang cukup untuk sanitasi dan pencegahan dan pengendalian infeksi.

Pembuat kebijakan dan manajer program

  1. Berinvestasi dalam sistem kesehatan: alokasikan sumber daya yang cukup untuk kesetaraan akses pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir yang aman dan berkualitas.
  2. Wujudkan tenaga kerja di bidang kesehatan yang kompeten dan memadai, yang didukung oleh lingkungan kerja yang aman dan menunjang.
  3. Tetapkan mekanisme untuk melibatkan ibu, keluarga, komunitas, asosiasi tenaga kesehatan profesional, dan masyarakat sipil dalam mewujudkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang lebih aman.
  4. Kembangkan dan implementasikan pedoman terkini terkait persalinan yang aman dan bermartabat.
  5. Tetapkan sistem pelaporan dan pembelajaran untuk memandu perbaikan dalam hal perawatan ibu dan bayi baru lahir.

Sumber: https://www.who.int/indonesia/news/campaign/world-patient-safety-day/ 

 

 

 

Kebutuhan Akreditasi Fasyankes

Setelah vakum dua tahun karena dilanda pandemi Covid-19, pelaksanaan akreditasi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Indonesia dilaksanakan kembali tahun ini (medio Mei 2023). Kemenkes telah menetapkan sistem dan standar akreditasi terbaru yang harus dipenuhi dan diimplementasikan fasyankes khususnya tingkat pertama. Standar tersebut meliputi standar tata kelola, standar peningkatan mutu dan keselamatan pasien, serta standar tata kelola pelayanan dan penunjang.

Continue reading

Implementasi Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Budaya keselamatan pasien mengacu pada sikap dan nilai dari manajemen dan petugas yang berhubungan dengan manajemen risiko yang juga berkaitan dengan sistem keselamatan pasien yang bertujuan untuk mengutamakan keselamatan dan mencegah adanya risiko atau bahaya. Penerapan budaya keselamatan di rumah sakit (RS) mencakup praktik-praktik dan kebijakan yang dirancang untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengurangi risiko potensial yang dapat mengancam pasien atau staf, dimana dalam implementasinya diperlukan komitmen yang kuat dari manajemen RS, pelatihan yang berkelanjutan, komunikasi yang terbuka, dan budaya pembelajaran yang mendukung.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Armi A, dkk 2023 mengeksplorasi penerapan budaya keselamatan pasien di salah satu Rumah Sakit Umum di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologis, pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam terhadap partisipan di ruang rawat inap dan rawat jalan. Metode Collaizi digunakan untuk menganalisis data dan menghasilkan tiga tema, yaitu: (1) kondisi yang diperlukan untuk meningkatkan fungsi pengarahan, (2) respon dan kepedulian pimpinan, dan (3) dukungan dan koordinasi tim dalam penerapan keselamatan pasien.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan penerapan budaya keselamatan pasien perlu diperhatikan oleh manajemen rumah sakit untuk meningkatkan keselamatan pasien. Disarankan kepada pimpinan pelayanan di rumah sakit untuk meningkatkan fungsi pengarahan guna meningkatkan penerapan budaya keselamatan pasien dan mutu pelayanan rumah sakit.

Baca selengkapnya: https://medicopublication.com/index.php/ijone/article/view/18968

 

 

 

 

 

Patient safety alert issued over risk of death related to medical beds

A national patient safety alert has been issued over the risk of death from entrapment or falls relating to medical beds, with a call for all relevant staff to have appropriate training within the next 12 months. In an alert issued on Wednesday, the Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) said it continues to receive reports of death and serious injuries relating to medical beds and trolleys.

Continue reading

How digital tools can support patient safety

Digital solutions can improve information sharing and reduce the errors that cost lives. But they should be implemented carefully to avoid creating risks, writes Maureen Baker from the Professional Record Standards Body

With demand at an all-time high, and workforce shortages mounting, the focus on patient safety has never been more critical.

Continue reading

Digitalisasi Sistem Layanan Kesehatan Tingkatkan Standar Mutu

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin optimistis digitalisasi sistem kesehatan akan meningkatkan standar mutu serta layanan kesehatan di Tanah Air. Menkes mensyaratkan aplikasi dan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti RS vertikal, RS pemerintah, RS swasta, Puskesmas, Posyandu, laboratorium, klinik hingga apotek, harus mengikuti standar di platform SATUSEHAT.

Continue reading

Functional Exercise Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (Public Health Emergency/ PHE)

Term of Reference

Functional Exercise Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (Public Health Emergency/ PHE)

 di Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros

Selasa – Jumat, 22-25 Agustus 2023

  Pengantar

Public Health Emergencies of International Concern (PHEIC) didefinisikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai kejadian luar biasa yang ditetapkan karena memiliki risiko kesehatan masyarakat ke negara lain melalui penyebaran penyakit secara internasional dan berpotensi memerlukan tanggapan internasional yang terkoordinasi. Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia menghadapi tantangan yang cukup berat dalam mempersiapkan dan menyikapi penyelenggaraan PHEIC. Latihan demi latihan untuk mendapatkan masukan untuk kesiapsiagaan dan respons terbaik bagi Indonesia sangat dibutuhkan. Latihan fungsional dalam kesiapsiagaan dan respons PHEIC juga memiliki implikasi internasional, mengingat lokasi dan konektivitas yang strategis di Indonesia, kesiapannya untuk PHEIC tidak hanya memengaruhi keamanan kesehatan nasional tetapi juga regional dan global.

Latihan fungsional atau juga dikenal sebagai CPX (command post exercise) atau gladi posko memainkan peran yang sangat diperlukan dalam kesiapsiagaan dan respons terhadap PHEIC. Latihan fungsional dirancang untuk mengevaluasi kemampuan, menilai rencana dan prosedur, meningkatkan koordinasi, mengidentifikasi kesenjangan, dan menguji sistem dalam lingkungan stres tinggi yang realistis tetapi tetap disimulasikan. CPX mencerminkan keadaan darurat dan memberikan kesempatan terstruktur bagi peserta untuk mempraktikkan pemecahan masalah dan menilai kerja sama antarlembaga dan berbagi informasi lainnya.

Dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dan memiliki kerentanan yang tinggi baik terhadap bencana alam maupun wabah penyakit, seperti pandemi COVID-19, flu burung, dan lainnya, maka latihan fungsional menjadi sangat penting. Latihan fungsional memungkinkan para peserta yang berasal dari stakeholder dan berasal dari lintas sektor mempraktikkan fungsi koordinasi untuk perawatan kesehatan dan darurat, serta pembuat keputusan, untuk memahami tantangan logistik, operasional, dan pengambilan keputusan yang dimungkinkan muncul karena situasi kedaruratan kesehatan masyarakat selama latihan berlangsung.

Meski demikian, latihan fungsional belum sepenuhnya diimplementasikan ke dalam kerangka kesiapsiagaan darurat kesehatan di daerah di Indonesia. Keterbatasan sumber daya, kurangnya tenaga terlatih, dan kesenjangan dalam koordinasi antar lintas sektor dan tingkatan pemerintahan merupakan beberapa tantangan yang harus diatasi. Oleh karena itu, merupakan kelanjutan dari peningkatan kapasitas daerah dalam penanganan dan operasionalisasi PHEOC di Provinsi Sulawesi Selatan yang difasilitasi oleh PKMK FK-KMK UGM bekerjasama dengan CDC, maka kegiatan latihan fungsional PHE ini akan direkam dan didokumentasikan untuk menjadi contoh bagi Dinas Kesehatan daerah untuk melakukan latihan rutin kedepannya, serta perbaikan dokumen PHEOC ataupun SOP-SOP terkait bencana dan penanganan PHE disektor kesehatan.

  Tujuan Kegiatan

Functional exercise ini bertujuan untuk menguji dan mengevaluasi SOP Dinkes disaster plan di Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros dan Kota Makassar untuk menghadapi bencana dengan pendekatan all-hazard.

Secara khusus, kegiatan ini bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan koordinasi dan kolaborasi untuk mengelola krisis kesehatan dan potensi eskalasi menjadi bencana di Provinsi Sulawesi Selatan: salah satunya melalui simulasi skenario PHEIC secara real-time, latihan ini mendorong koordinasi dan komunikasi yang lebih baik di antara berbagai pemangku kepentingan
  2. Identifikasi kebutuhan pelatihan dan kesenjangan sumber daya dengan melakukan latihan fungsional, pemangku kepentingan dapat menentukan kesenjangan baik di dalam sumber daya, infrastruktur, dan pelatihan personel yang dapat menghambat respons efektif terhadap potensi terjadinya krisis kesehatan
  3. Sebagai best practice untuk daerah lain : kegiatan akan didokumentasikan, TOR akan diupload sebagai referensi dan menjadi contoh bagi daerah lain untuk melaksanakan pelatihan.

Gambaran kegiatan

  1. Selasa, 22 Agustus 2023
    Tim PKMK FK-KMK UGM bersama dengan panitia dari masing-masing Dinas Kesehatan akan melakukan persiapan kebutuhan dan koordinasi terkait teknis pelaksanaan Functional Exercise.
  2. Rabu, 24 Agustus 2023
    Pelaksanaan functional exercise sesi akademik dan pengenalan teknis dan tata tertib (ground rules) pelaksanaan Functional Exercise.
  3. Kamis, 24 Agustus 2023
    Pelaksanaan functional exercise.
  4. Jumat, 25 Agustus 2023
    Pemain terpilih, evaluator dan tim penyusun dokumen dinkes disaster plan masing-masing dinas kesehatan melakuan evaluasi hasil pelaksanaan functional exercise hari ketiga dan kemudian melakukan revisi dokumen dinkes disaster plan di tempat didampingi tim PKMK FK-KMK UGM

   Waktu dan Tempat

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/Tanggal : Selasa s/d Jumat / 22-25 Agustus 2023
Pukul : 08.00 – 16.30 WITA
Tempat : Hotel Four Point Makassar

 Peserta

Keterangan Lembaga/Nama

Panitia Lokal
Mengikuti kegiatan tanggal 22 s/d 25 Agustus

  1. A.Akhirulla,  Amd.Kom
  2. Andi Alpian, S.Si., Apt., M.Kes.
  3. Nur Syamsul, SKM., M.Kes
  4. Hj. Rusmawatiah, SKM, M.Kes.
  5. Vensiana K Lebang, SKM., M.Kes
  6. Kurniaty Idris, SKM
  7. Muhajirah Nursin, SKM, M.Kes.
  8. Fajar Qadri, S.Kep.,Ns

Evaluator
Mengikuti kegiatan tanggal 23 s/d 25 Agustus

  1. Hasan Rahim, S.Kep.,Ns.,MARS.
  2. Zakiah Darajat, SKM., M.Kes., MH
  3. Dinkes Provinsi
  4. BPBD
  5. PKK Kemenkes

Observer
Mengikuti kegiatan tanggal 23 dan 24 Agustus

  1. Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia
  2. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
  3. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
  4. Ikatan Dokter Indonesia
  5. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Prov. Sulawesi Selatan
  6. Persatuan Perawat Nasional Indonesia Prov. Sulawesi Selatan
  7. Persatuan Ahli Epidemiologi Indonesia Prov. Sulawesi Selatan
  8. Center for Disease Control and Prevention (CDC)

Pemain
Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan

Mengikuti kegiatan tanggal 23 dan 24 Agustus

  1. Kepala Dinas Kesehatan
  2. Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan : 2 orang
  3. Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan : 2 orang
  4. Sub Bagian Umum Kepegawaian dan Hukum Dinas Kesehatan : 2 orang
  5. Bidang Sumber Daya Kesehatan : 2 orang
  6. Sub Bagian Program dan Perencanaan Dinas Kesehatan : 1 orang
  7. Seksi Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja Dinas Kesehatan : 1 orang
  8. Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan : 1 orang
  9. Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan JKN Dinas Kesehatan : 1 orang
  10. Tim Gerak Cepat (TGC) : 2 orang

Pemain
Dinkes Kab. Maros

Mengikuti kegiatan tanggal 23 dan 24 Agustus

  1. Kepala Dinas Kesehatan
  2. Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan : 2 orang
  3. Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan : 2 orang
  4. Sub Bagian Umum Dinas Kesehatan : 1 orang
  5. Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan : 1 orang
  6. Sub Bagian Perencanaan Dinas Kesehatan : 1 orang
  7. Sub Koordinator Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja : 1 orang
  8. Sub Koordinator Promosi Kesehatan : 1 orang

Pemain
Dinkes Kota Makassar

Mengikuti kegiatan tanggal 23 dan 24 Agustus

  1. Kepala Dinas Kesehatan
  2. Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan : 2 orang
  3. Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan : 2 orang
  4. Bidang Bagian Umum Dinas Kesehatan: 1 orang
  5. Bagian Pengembangan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan : 1 orang
  6. Bagian Perencanaan Dinas Kesehatan : 1 orang
  7. Bagian Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja Dinas Kesehatan : 1 orang
  8. Bidang Kesehatan Masyarakat Bagian Promosi Kesehatan : 1 orang

Pemain
Lintas Sektor

Mengikuti kegiatan tanggal 23 dan 24 Agustus

  1. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Maros : 2 orang
  2. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Makassar : 2 orang
  3. Puskesmas Mandai terdiri dari :
    • Petugas Laboratorium : 1 orang
    • Tim Gerak Cepat (TGC) : 2 orang
  4. Puskesmas Tabaringan terdiri dari :
    • Petugas Laboratorium : 1 orang
    • Tim Gerak Cepat (TGC) : 2 orang
  5. Pusat Krisis Regional Sulawesi Selatan : 2 orang
  6. Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) EMT Pusat Krisis Kesehatan Sulawesi Selatan : 6 orang
  7. RS AU Doddy Sarjoto : 2 orang
  8. RS Jalla Amari : 1 orang
  9. RSUD Kota Makassar : 1 orang
  10. BPBD Provinsi Sulawesi Selatan : 1 orang
  11. Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan : 1 orang
  12. Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar : 1 orang
  13. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) : 1 orang
  14. BPBD Kota Makassar : 1 orang
  15. BPBD Kab. Maros : 1 orang

 

Agenda

Waktu Kegiatan/Materi Keterangan
Hari I : Persiapan   |  Selasa, 22 Agustus 2023
08.00 – 09.00 Registrasi  
09.00 – 10.00 Pengembangan Skenario Functional Exercise PKMK FK-KMK UGM dan Panitia Lokal
11.00 – 12.00 Final Check Peserta PKMK FK-KMK UGM dan Panitia Lokal
12.00 – 13.00 ISHOMA  
13.00 – 16.00 Final Check Logistik dan Perlengkapan PKMK FK-KMK UGM dan Panitia Lokal
16.00 Pengarahan untuk pertemuan hari-2  

Hari II : Academic Session dan Pengenalan Peran
Rabu, 23 Agustus 2023

08.00 – 08.30 Registrasi  
08.30 – 09.00 Pembukaan dan Pengantar Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan dan PKMK FK-KMK UGM
09.00 – 10.00 Penyampaian materi refreshment terkait peran PHEOC saat pra-bencana, bencana dan pasca-bencana PKMK FK-KMK UGM
10.00 – 10.15 Coffee Break  
10.15 – 11.00 Pengenalan Functional Exercise: Tujuan, Gambaran Kegiatan dan Manfaat PKMK FK-KMK UGM
11.00 – 12.00 Review Dokumen Dinkes Disaster Plan khususnya SOP yang akan diuji PKMK FK-KMK UGM
12.00 – 13.00 ISHOMA  
13.00 – 14.30

Kelompok 1:

Peran evaluator dan observer selama Functional Exercise

Kelompok 2:

Gladi bersih kegiatan functional exercise

PKMK FK-KMK UGM dan Panitia Lokal dan Peserta
14.30 – 15.00 Coffee Break  
15.00 – 16.00

Kelompok 1:

Peran evaluator dan observer selama Functional Exercise

Kelompok 2:

Gladi bersih kegiatan functional exercise

PKMK FK-KMK UGM dan Panitia Lokal dan Peserta
16.00 Pengarahan hari-3  

Hari III : Functional Exercise
Kamis, 24 Agustus 2023

08.00 – 09.30 Briefing dan Persiapan Final

PKMK FK-KMK UGM
Panitia Lokal dan Peserta

09.30 – 09.45 Coffee Break  
09.45 – 12.00 Sesi pertama Functional Exercise Peserta
12.00 – 13.00 ISHOMA  
13.00 – 14.30 Sesi kedua Functional Exercise Peserta
14.30 – 14.45 Coffee Break  
14.45 – 16.15 Sesi ketiga Functional Exercise Peserta
16.15 Pesan dan Kesan dan Rencana Tindak Lanjut Peserta

Hari IV : Debriefing, Evaluasi dan Penutupan
Jumat, 25 Agustus 2024

08.00 – 09.30 Debriefing dan Feedback dan Kegiatan Functinal Exercise Peserta
09.30 – 09.45 Coffee Break  
09.45 – 11.00 Diskusi Kelompok: Refleksi, Pembelajaran dan Future Direction Peserta
11.00 – 12.00 Presentasi hasil diskusi kelompok Peserta
12.00 – 13.00 ISHOMA  
13.00 – 15.00 Revisi SOP (masing-masing Dinkes)  
15.00 – 15.15 Coffee Break  
15.15 – 16.00 Rencana Tindak lanjut Kesiapsiagaan bencana melibatkan PHEOC local ke depannya  
16.00 Penutupan