Portkesmas-Unicef inisiasi pelatihan untuk kampanye imunisasi HPV

Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas) yang didukung Unicef telah menginisiasi pelatihan kolaboratif yang dinamai Jaga Bersama sebagai upaya untuk mengampanyekan pentingnya imunisasi Human Papilloma Virus (HPV) untuk mencegah kanker serviks. Pelatihan ini berlangsung selama lima hari sejak 15-19 Juli 2024 untuk membekali tenaga kesehatan, guru, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan anak muda dengan keterampilan komunikasi untuk menyampaikan pentingnya imunisasi HPV dan perilaku hidup sehat lainnya.

Continue reading

Healthcare Leadership in a Post-Pandemic World

As healthcare organizations emerge from the pandemic, battered but persevering, there is an urgent need for highly effective leadership to help move healthcare into a “new normal.” There is no getting around the fact that healthcare has changed tremendously since the pandemic arrived. The entire healthcare system was thrown into chaos. People, including healthcare workers, were getting ill and dying at unprecedented levels.

Continue reading

Children and Women’s Health in South East Asia: Gap Analysis and Solutions

Universal health coverage (UHC) adalah komponen utama yang berkontribusi dalam pencapaian kesehatan terkait target Sustainable Development Goals (SDG) secara sinergis memberikan peran dalam maternal, newborn, and child health (MNCH) dan kesejahteraan.. Kelangsungan hidup, kesehatan, dan kesejahteraan perempuan, anak, dan remaja merupakan hal penting untuk mengakhiri kemiskinan ekstrim, mempromosikan perkembangan, dan ketangguhan, serta mencapai SDG. Salah satu investasi terbaik dalam mempercepat UHC adalah, kontribusi terhadap kesehatan anak dan perempuan.

Implementasi Global Strategy for Women’s, Children’s, and Adolescents’ Health (2016-20130) dengan meningkatkan dan mempertahankan pembiayaan akan membuahkan hasil yang besar di tahun 2030, seperti mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada ibu hamil, bayi baru lahir, anak, dan remaja serta bayi lahir mati. Studi menunjukkan adanya minimal 10 kali lipat perbaikan ketika investasi terhadap kesehatan dan nutrisi perempuan, anak dan remaja. Pemeliharaan di periode prenatal dan masa kanak-kanak awal dapat berkontribusi terhadap kapabilitas seorang manusia, dimana pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap pengasuh.

Negara di Asia Tenggara yang dipilih untuk masuk ke dalam penelitian ini harus memiliki 4 kriteria, yakni (1) Memiliki statistik MNCH terbaru dan dapat dibandingkan berdasarkan data rumah tangga nasional, (2) Memiliki latar belakang sosio kultural yang mirip, (3) Termasuk ke dalam negara dengan pendapatan rendah dan menengah atas, dan (4) Negara dengan UHC dengan tingkatan yang berbeda satu sama lain yang memungkinkan untuk dilakukan analisis irisan per negara dalam bagaimana UHS dapat meningkatkan akses ke layanan MNCH. negara-negara yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina, Thailand, Timor-Leste, danVietnam.

Perlindungan terhadap Anak dan Perempuan: Pencapaian dan Gap

a. Status Kesehatan: Mortalitas Anak, Bayi, dan Bayi Baru Lahir

f1jul

Negara-negara Asia Tenggara berkomitmen sesuai dengan SDG 3.2, dimana pada tahun 2030, mereka menargetkan untuk menghentikan kematian bayi baru lahir dan anak di bawah 5 tahun yang dapat dicegah, semua negara menargetkan untuk menurunkan neonatal

mortality (NMR) hingga 12 per 1000 bayi lahir hidup dan under-5 mortality (U5MR) hingga 25 per 1000 bayi lahir hidup. Di 8 negara, Laos, Myanmar, dan Timor-Leste memiliki U5MR lebih dari 40 dan NMR lebih dari 20, sehingga diperlukan percepatan dalam mencapai U5MR 25 per 1000 bayi lahir hidup di 2030. U5MR pada tahun 1990 dan 2016 pada masa Millenium Development Goals (MDGs), menunjukkan adanya peningkatan yang sangat besar dalam survival anak, khususnya pada negara Timor-Leste, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Pencapaian ini menunjukkan program survival pada anak lewat SDG dapat terjadi bila pemerintah mempertahankan dan berkomitmen dalam mempercepat proses UHC.

b. Cakupan Layanan Kesehatan Ibu, Bayi baru Lahir, dan Anak: Pencapaian Terbaru dan Tantangan

Status cakupan layanan MNCH di 8 negara dianalisis berdasarkan data dari masing-masing negara. Terdapat 9 dimensi intervensi MNCH: (a) perencanaan keluarga (metode modern); (b) 4 kualitas antenatal care (ANC); (c)Tingkat bidan terampil; (d) Inisiasi menyusui dini; (e) Cakupan imunisasi difteri-tetanus-pertusis (DTP3) 3 dosis; (Mencari layanan perawatan bagi anak dengan pneumonia; (g) penggunaan sumber air minum yang telah ditingkatkan; (h) penggunaan sanitasi yang telah ditingkatkan; dan cakupan pendaftaran persalinan.

Indonesia pada gambar 3c. telah menunjukkan hasil yang baik hampir di semua 9 dimensi, kecuali akses perencanaan keluarga dengan metode modern dan inisiasi menyusui dini. Studi menunjukkan sebanyak 20% perempuan Indonesia telah mendapat saran dan informasi terkait penggunaan produk breast milk substitutes (BMS), sebanyak 72% perempuan telah melihat promosi BMS, d15% menerima sampel dan 16% menerima hadiah. Selain itu, hampir seperempat tenaga kesehatan telah menerima kunjungan dari perusahaan BMS dan menerima hadiah dari perusahaan tersebut.Promosi yang tidak etis dilaporkan terjadi di Indonesia, contohnya yang telah membeli produk susu di suatu website dapat bergabung untuk undian mendapat hadiah berupa iPhone.

hampir semua negara membutuhkan peningkatan kualitas dari inisiasi menyusui dini. kamboja merupakan salah satu negara di Asia tenggara yang menjadi target marketing agresif dari promosi industri BMS. Meski pemerintah telah melarang promosi tanpa persetujuan pemerintah, perusahaan BMS tetap mempromosikan produknya lewat televisi atau at points of sale.

c. Analisis Inekuitas: The National Average Conceals the Inequity Gap

Analisis ketimpangan dapat memberikan keputusan bahwa investasi pemerintah di bidang kesehatan perlu mempertimbangkan apakah masyarakat miskin dapat mengakses layanan kesehatan secara memadai. Dengan kata lain, rancangan UHC yang berpihak pada masyarakat miskin merupakan aspek yang penting untuk memastikan bahwa penduduk pedesaan, kelompok minoritas, dan masyarakat yang hidup dalam kondisi rentan memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan.

Analisis ini menunjukkan kelompok terkaya di pedesaan mendapat cakupan layanan MNCH yang lebih baik dibandingkan kelompok yang termiskin di pedesaan. Demikian pula, masyarakat terkaya di perkotaan juga jauh lebih baik dibandingkan kelompok termiskin di perkotaan. Meski tidak ada hambatan dalam hal pasokan di daerah perkotaan, kelompok masyarakat terkaya memiliki akses keuangan yang jauh lebih besar terhadap layanan kesehatan dibandingkan kelompok masyarakat termiskin. Dan juga, terdapat keterbatasan dalam sisi pasokan di daerah pedesaan, kelompok masyarakat terkaya di pedesaan mempunyai kemampuan finansial dan kemampuan transportasi untuk melakukan perjalanan dan mencari perawatan di daerah perkotaan.

d. Status UHC

Penelitian menunjukkan bahwa pembayaran out-of-pocket dalam % dari pengeluaran kesehatan akan menurun ketika porsi belanja kesehatan pemerintah terhadap PPDB meningkat. Meski terdapat variasi antar negara yang cukup besar, belanja emerintah yang lebih tinggi untuk kesehatan masyarakat dapat meningkatkan perlindungan risiko keuangan dan mengurangi proporsi out-of-pocket yang dilakukan rumah tangga. Terdapat penurunan tajam dari pembayaran out-of-pocket ketika pemerintah membelanjakan 2-3% PDB-nya untuk kesehatan.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:

https://www.researchgate.net/

 

 

AI And Health Insurance Prior Authorization: Regulators Need To Step Up Oversight

Artificial intelligence (AI)—a machine or computer’s ability to perform cognitive functions—is quickly changing many facets of American life, including how we interact with health insurance. AI is increasingly being used by health insurers to automate a host of functions, including processing prior authorization (PA) requests, managing other plan utilization management techniques, and adjudicating claims.

Continue reading

Risk Communication and Community Engagement Readiness and Response Toolkit Dengue Fever

Dengue merupakan penyakit yang ditularkan lewat virus yang menjangkiti nyamuk secara cepat. Virus ditransmisikan lewat nyamuk betina, secara spesifik Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Dengue menyebar dengan luas di wilayah tropis yang dipengaruhi faktor curah hujan, suhu, dan urbanisasi yang cepat. Dalam kasus berat, dengue dapat berakibat fatal. Dengue dapat dicegah dengan menghindari gigitan nyamuk, terutama di pagi hingga sore hari. Waktu deteksi kasus, deteksi awal, dan akses ke fasilitas kesehatan yang memadai dapat menurunkan tingkat keparahan secara signifikan.

World Health Organization (WHO) merilis tool atau alat praktikal untuk mendukung negara-negara dalam melakukan komunikasi risiko dan keterlibatan komunitas (risk communication and community engagement [RCCE]), praktisi, dan pembuat kebijakan untuk merencanakan dan mengimplementasikan kesiapan serta respon dalam menghadapi wabah dengue. Respon dan kesiapan yang sukses dalam menghadapi wabah dan bencana dapat diraih dengan melibatkan, memperkuat, dan menginformasikan kelompok-kelompok. Tujuan utama dari RCCE adalah mitigasi dampak negatif yang berpotensi membahayakan kesehatan, sebelum, selama, dan sesudah peristiwa darurat terjadi. Dengan kata lain, RCCE menargetkan berkurangnya morbiditas dan mortalitas melalui penguatan komunitas agar mau terlibat dalam kepemimpinan, perencanaan, dan implementasi aktivitas dalam siklus respon bencana.

Dalam konteks wabah penyakit menular, RCCE yang efektif akan mempengaruhi komunitas dalam meningkatkan pengetahuan mereka untuk dapat melindungi dirinya sendiri dan orang lain terhadap penyakit, mencari pengobatan, melakukan tes kesehatan, mencegah, serta menghindari stigma dan diskriminasi penyakit. Kelompok berisiko perlu dilibatkan dan dikonsultasikan dalam mengembangkan strategi serta rencana dan implementasi kesiapan dan respon terhadap wabah.
Terdapat 10 prinsip dari RCCE, yakni:

  1. Membuat keputusan tentang rakyat, bersama dengan rakyat
    Tahap ini dapat dilakukan dengan menginisiasi diskusi dengan komunitas dengan mengidentifikasi intervensi keterlibatan komunitas yang aman, feasible. dan dapat diterima.
  2. Mempertahankan dan memperkuat kepercayaan melalui koneksi formal dan informal
    Tahap ini dilakukan dengan koordinasi tindakan melalui pemangku jabatan. Penguatan mekanisme koordinasi RCCE dan struktur respon dapat mendukung kesiapan sistem kesehatan di semua tingkatan.
  3. Lebih banyak mendengarkan, dan lebih sedikit bicara
    Dengan mencari dan merespon umpan balik dari komunitas secara rutin, dapat meningkatkan hubungan dan kepercayaan komunitas dan pemangku jabatan di bidang kesehatan masyarakat.
  4. Menggunakan data untuk membuat keputusan
    Data sosial memberikan perspektif penting untuk mengetahui celah dalam pengetahuan, persepsi, dan perilaku komunitas. Memahami perilaku penting untuk memahami mengapa masyarakat dapat mematuhi atau tidak mematuhi peraturan kesehatan masyarakat.
  5. Merencanakan dengan rakyat
    Partisipasi masyarakat dalam merencanakan dapat meningkatkan layanan dan memastikan layanan adil. Hal ini penting, terutama dalam memperkenalkan tools baru dan layanan seperti vaksin, pengobatan, atau tes baru.
  6. Membiarkan rakyat menilai kesuksesan program
    Partisipasi komunitas dalam monitor dan evaluasi proses akan meningkatkan kemungkinan keterlibatan komunitas yang lebih luas dalam intervensi selanjutnya.
  7. Mempekerjakan dan memberdayakan lebih banyak ahli RCCE
  8. Membangun kapasitas dan kemampuan
    Melatih tenaga kesehatan secara masif di berbagai tingkatan dapat membuat masalah yang terjadi secara lokal juga dapat teratasi dengan cepat tanpa melibatkan lingkup yang lebih besar.
  9. Mengelola infodemik
    Infomedik yang tidak dikelola dengan baik dapat mempersulit masyarakat dalam membuat keputusan terhadap kesehatannya. Pengelolaan infodemik dapat dilakukan dengan memastikan akses terhadap informasi terpercaya, mengatasi misinformasi dan rumor yang beredar, dan memperkuat sistem pemeriksa fakta.
  10. Memulai keterlibatan 2 arah
    Keterlibatan 2 arah dapat dimulai dengan menyediakan kanal kesehatan lokal terpercaya agar dapat menyediakan informasi terkini dan teraktual bagi komunitas.

Tools lain yang digunakan selama wabah dengue berlangsung yakni:

  1. Analisis situasional (PESTEL tool)
    PESTEL tool berbentuk kerangka untuk analisis situasional yang dapat membantu memahami faktor politik, ekonomi, sosiologis, teknologi, lingkungan dan legal yang dapat mempengaruhi usaha kesehatan masyarakat selama situasi darurat, seperti wabah. Data yang dikumpulkan akan dibagi menjadi 6 kategori; yakni pertimbangan politik, lingkungan, ekonomi, sosiologi, teknologi, dan legal.
  2. Behavioral Analysis
    Tool ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi perilaku yang relevan dengan wabah dengue dan dapat memberikan informasi, serta membentuk strategi, taktik, dan tool RCCE. Perilaku tidak statis dalam kondisi wabah atau kondisi darurat kesehatan. Perilaku berisiko tinggi dipengaruhi oleh hambatan dan pendukung yang dapat diidentifikasi melalui pengumpulan data perilaku dan sosial. Analisi ini dapat dimulai dengan identifikasi menggunakan Behavioural Insights (BI) checklists yang berisi langkah0langkah berupa define, diagnose, design, implement, dan evaluate.
  3. Mapping and Understanding Communities
    Tool ini digunakan untuk mengidentifikasi dan merekam informasi kunci tentang kelompok yang terdampak oleh demam dengue dan siapa yang harus dilibatkan dalam respon wabah. Informasi ini kana digunakan untuk membuat strategi RCCE dan menetapkan prioritas rencana intervensi yang kelompok berisiko terinfeksi demam dengue.
  4. Stakeholder Analysis
    Tool ini digunakan untuk mengidentifikasi beragam orang dan kelompok yang dianggap penting dalam kesiapan dan respon terhadap wabah dengue. Analisis ini bermanfaat untuk mengelompokkan peran potensial, kapasitas, dan antisipasi keterlibatannya untuk memberikan dukungan kolektif terhadap langkah preventif atau respon terhadap wabah demam dengue, termasuk kampanye imunisasi.
  5. Readiness and Response Checklist
    Tool ini didesain untuk membantu ahli RCCE untuk mendapat laporan terkini atau mengembangkan rencana kesiapan dan respon terhadap wabah demam dengue. Tool ini dapat menyediakan daftar komprehensif dari aktivitas yang dapat dipertimbangkan selama fase persiapan dan respon wabah.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/377740/9789240095274-eng.pdf?sequence=1 

 

 

AI Mulai Wujudkan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Indonesia

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI akan mencoba pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tiga rumah sakit ternama di Indonesia, yakni Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Rumah Sakit Kanker Dharmais, dan Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang. Pemanfaatan teknologi AI ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia secara efisien.

Continue reading

Reportase Forum Mutu IHQN ke 20

Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (PKMK FK – KMK UGM) menyelengggarakan Forum Mutu Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) ke-20 Tahun 2024 dengan tema “Aktif, Kolaboratif dan Inovatif untuk Mutu Pelayanan Kesehatan Terbaik di Indonesia” yang berlangsung pada 5 Juli 2024 melalui Zoom Meeting yang diikuti oleh 100 partisipan.

5jul 0Acara dibuka dengan sambutan dari dr. Sutoto, M.Kes selaku ketua IKA MMR UGM dan Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua selaku ketua IHQN. Selama 20 tahun, IHQN telah konsisten menyelenggarakan forum mutu yang bertujuan untuk menyediakan platform berjejaring, berbagi ide dan mendorong inovasi untuk meningkatkan dan mendukung layanan kesehatan yang bermutu di Indonesia.

Pada sesi pertama forum ini menghadirkan beberapa narasumber yaitu Prof. dr. Adi Utarini MSc, PhD (Guru Besar FKKMK UGM), drg. Mira Dyah Wahyuni, MARS (Direktur Utama PT Pertamina Bina Medika IHC), Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali) dan dimoderatori oleh dr. Novika Handayani (PKMK UGM).

Tata kelola dan kepemimpinan dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan: Studi Kasus Transformasi Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI

5jul 4Prof. Adi Utarini yang memaparkan analisa kepemimpinan nasional dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Secara garis besar, materi yang disampaikan mencakup pengantar terkait mutu pelayanan kesehatan, sistem kesehatan berkualitas tinggi, kualitas tata kelola sistem kesehatan, serta penilaian tata kelola dan kepemimpinan.

Dalam kesempatan ini, Adi mengajak para partisipan untuk mengkaji ulang tentang makna mutu pelayanan kesehatan, mutu tidak hanya berarti kualitas, namun mutu merupakan tujuan utama dalam pelayanan kesehatan. Dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan, terdapat tujuh dimensi mutu yang menjadi fokus utama, yaitu keselamatan (safety), efektivitas (effectiveness), efisiensi (efficiency), integrasi (integration), kesetaraan (equity), ketepatan waktu (timeliness), dan berpusat pada pasien (people-centeredness). Indonesia sendiri masih mengalami beberapa tantangan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatannya terutama berkaitan dengan terbatasnya jumlah tenaga kesehatan serta ketersediaan alat-alat kesehatan yang masih kurang.

Adi juga menekankan bahwa sistem kesehatan yang berkualitas tinggi adalah sistem yang mampu mengoptimalkan pelayanan kesehatan secara konsisten. Selain itu, tata kelola pemerintah merupakan ondasi dalam membentuk sistem kesehatan berkualitas. Pihaknya juga menggarisbawahi penilaian tata kelola dan kepemimpinan pada aspek komitmen dan budaya mutu, dimana mutu merupakan agenda prioritas yang harus dijadikan tujuan utama dalam pelayanan kesehatan, selain itu peningkatan mutu dapat dilakukan dengan cara memasukkan mutu ke dalam sistem pendidikan tenaga kesehatan, pemantauan pelaporan mutu yang berkualitas, menerapkan strategi dan kebijakan mutu nasional, meningkatkan kinerja kepemimpinan terkait mutu serta yang paling penting adalah mendengarkan langsung dari pasien atau masyarakat yang menjadi objek pelayananan kesehatan. Di akhir sesi ini, narasumber berpesan untuk meningkatkan tata kelola pelayanan kesehatan agar kita semua dapat menyelamatkan lebih banyak orang.

Terobosan Pimpinan RS dalam Perencanaan Mutu Pelayanan Kesehatan: Pengalaman Bali International Hospital

5jul 4Narasumber kedua adalah drg. Mira Dyah Wahyuni, MARS yang berbagi tentang pengelolaan pelayanan kesehatan di Bali International Hospital (BIH) sebagai rumah sakit yang megusung konsep medical tourism. Latar belakang dari pelayanan medical tourism di BIH adalah adanya 2 juta orang Indonesia yang mencari pengobatan ke luar negeri setiap tahunnya, dengan devisa keluar sekitar 100 Trilyun/Tahun. Mira memaparkan beberapa alasan warga Indonesia lebih memilih pengobatan di luar negeri, diantaranya adalah diagnosa yang dianggap lebih akurat, adanya teknologi yang lebih canggih, mendapatkan kualitas pelayanan yang baik dari dokter dan tenaga kesehatan seperti perawat, rumah sakit berkelas dunia, biaya pengobatan yang terjangkau, akomodasi yang nyaman, serta bisa melakukan liburan dan pengobatan secara bersamaan.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka Indonesia perlu untuk menyediakan fasilitas kesehatan berkelas dunia, untuk itu Indonesian Healthcare Corporation (IHC) mengembangkan Bali International Hospital dengan berkolaborasi dengan world international healthcare, bekerjasama dengan tenaga kesehatan luar negeri, menyediakan teknologi berstandar internasional serta memberikan pengalaman yang unik pada pelayanan kesehatan yang diterima pasien.

Pada kesempatan ini, Mira menekankan pentingnya pengalaman pengobatan yang unik bagi pasien, untuk itu BIH menciptakan ekosistem yang berbeda, dengan cara bekerja sama dengan hotel, retail outlet, flagship hospital, wellness facilities, commercial district serta botanical garden, melalui integrasi sistem tersebut maka diharapkan pasien akan merasakan kenyamanan sebelum mendapatkan pengobatan, ketika pengobatan serta pasca pengobatan. Dalam praktiknya, BIH fokus memberikan pelayanan kesehatan dengan mutu yang terbaik serta menjadikan kenyamanan pasien sebagai tujuan utama.

Membangun Peran Serta Stakeholders dalam Peningkatan Mutu: Penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Penguatan Layanan Kesehatan Rujukan Menuju Indonesia Maju di Provinsi Bali

5jul 4Pada materi ketiga ini, Kepala Dinas Kesehata Bali diwakili dr. Kadek Iwan Darmawan, MPH yang memaparkan pelaksanaan integrasi layanan primer (ILP) dan penguatan layanan kesehatan di provinsi Bali. Di provinsi Bali, peningkatan mutu pelayanan kesehatan dilakukan melalui kegiatan akreditasi dan pengukuran mutu pelayanan di fasyankes. Dimana 95% RS di Bali sudah terakreditasi paripurna. Pemantauan mutu pelayanan kesehatan dilakukan melalui validasi laporan dan supervisi secara langsung ke fasyankes.

Pada kesempatan ini, Iwan juga memaparkan terkait program integrasi pelayanan primer (ILP) di Bali, yang pada saat ini sudah kick off di 4 kabupaten. Program ILP sendiri berfokus pada siklus hidup sebagai fokus integrasi pelayanan kesehatan, fokus pada jejaring hingga tingkat desa dan dusun, serta memperkuat pemantauan wilayah setempat melalui digitalisasi dan pemantauan dashboard situasi kesehatan per desa dan kunjungan keluarga.

Dalam pelaksanaan ILP di provinsi Bali, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, beberapa diantaranya adalah fasilitas bangunan yang kurang mendukung dan adanya kekhawatiran untuk pengontrolan PPI jika posyandu balita, posyandu remaja dan posyandu lansia dilaksanakan secara bersamaan.

Untuk menghadapi tantangan yang ada, maka diperlukan kolaborasi pelayanan kesehatan dengan berbagai dinas di provinsi Bali. Pada saat ini dinkes provinsi telah bekerja sama dengan dinas kebudayaan, dinas pendidikan, dinas kominfo, dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, dinas ketahanan pangan, kelautan dan perikanan, dinas sosial, dinas pengendalian penduduk dan keluarga berencana, serta dinas PUPR. Selain itu peran masyarakat adat juga sangat diperlukan dalam hal penyuluhan dan penggerak kesehatan masyarakat, pemeliharaan budaya sehat serta memberikan dukungan kegiatan kader posyandu.

Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa optimalisasi pelaksanaan pelayanan kesehatan dapat dilakukan melalui integrasi program dengan dinas-dinas yang ada. Dengan bekerja sama dan berkolaborasi, maka peningkatan mutu pelayanan kesehatan juga akan lebih optimal.

Reporter:
Hamidah Mulyani (Divisi Manajemen Mutu PKMK UGM)

Pelatihan dan Pengembangan Profesional Berkelanjutan dalam Bidang Mutu Pelayanan Kesehatan: Dukungan Plataran Sehat, Platform Pembelajaran Digital

5jul 1Materi pertama pada sesi siang hari disampaikan oleh Febrina Dwi Permata, M.Psi, dari Direktorat Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan Kemenkes RI. Sesi ini menekankan pentingnya akreditasi dan pelatihan yang memadai bagi institusi kesehatan. Kemenkes berperan dalam melakukan penjaminan mutu institusi terhadap penyelenggaraan pelatihan dan pembelajaran dalam bidang kesehatan. Saat ini ada 191 institusi dari 30 provinsi yang telah terakreditasi Kementerian Kesehatan untuk menyelenggarakan pelatihan. Selain itu, sesi ini juga membahas pentingnya kurikulum pelatihan yang terstandar, khususnya untuk pelatihan yang berskala nasional.

Terdapat empat kunci dalam peningkatan mutu tenaga kesehatan yang terstandar, yaitu traning needs analysis (TNA) atau pengkajian kebutuhan pelatihan, akreditasi institusi dan kurikulum pelatihan, digitalisasi pelatihan, dan evaluasi serta sertifikasi pelatihan. Sesuai dengan arahan Menteri Kesehatan dalam penerapan digitalisasi dalam pelatihan, Kemenkes mengembangkan Plataran Sehat sebagai sistem pembelajaran bagi tenaga kesehatan yang komprehensif. Plataran Sehat hadir untuk mempercepat peningkatan kompetensi SDM kesehatan di Indonesia. Sampai saat ini, terdapat lebih dari tujuh ribu pembelajaran dan lebih dari 900 ribu peserta yang terregistrasi dalam Plataran Sehat.

Trik Jitu Menghadapi Pemberitaan di Media Sosial tentang Mutu Pelayanan Kesehatan di RS, Puskesmas, atau Klinik: Berbagai contoh Berita Viral dan Cara Mengatasinya

5jul 2Materi kedua pada sesi siang disampaikan oleh Anjari Umarjianto, S.Kom, SH, MARS dengan fokus pada “Teknik Public Relations: Tangani Postingan Viral.” Anjari mengingatkan bahwa pengalaman pasien pada setiap titik layanan akan berpengaruh pada reputasi rumah sakit, bahkan sejak sebelum pasien berada di rumah sakit. Terdapat tiga teknik public relations dalam menangani postingan viral yang kemudian menjadi krisis, yaitu (1) internal public relation, (2) stakeholder communications, dan (3) mass media relations.

Internalisasi isu menekankan pentingnya karyawan di level dan bagian manapun untuk mengetahui isu yang terjadi terkait institusi tempat mereka bekerja. Adanya Tim Komunikasi Krisis juga penting dalam memberikan rekomendasi komunikasi, aksi, dan regulasi. Terdapat dua komponen dalam stakeholders communications yaitu komunikasi dengan pasien atau pihak yang mengajukan komplain dan komunikasi dengan key player (selain pasien). Terakhir, komunikasi media massa diperlukan untuk mengamplifikasi pesan tanggapan dan membangun opini publik. Materi diakhiri dengan berbagai tips-tips dalam menghadapi media dan memilih juru bicara.

Pembelajaran dan Inovasi Mutu Pelayanan Kesehatan: Penerapan Digitalisasi Manajemen Risiko di RSUP Prof. Ngoerah

Narasumber terakhir pada sesi siang hari, dr. I Wayan Sudana, M.Kes, memaparkan tentang pengalaman manajemen risiko di RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar. Materi diawali dengan dasar penerapan manajemen risiko di rumah sakit. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 Tahun 2019 tentang Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi di Lingkungan Kementerian Kesehatan, Penerapan Manajemen Risiko termasuk pembentukan struktur, penerapan strategi dan penyelenggaraan proses manajemen risiko.

Di RSUP Prof. Ngoerah sendiri, terdapat Komite Manajemen Risiko yang berada di bawah naungan Komite Mutu Rumah Sakit. Salah satu peran Komite Mutu RS adalah identifikasi dan analisis risiko untuk menentukan tingkat risiko, serta membuat profil risiko dan rencana penanganan. RSUP Prof. Ngoerah saat ini menggunakan sistem data dan informasi terintegrasi dalam SIMRS untuk digitalisasi manajemen risiko di rumah sakit. Penting untuk melakukan internalisasi kepada seluruh karyawan rumah sakit untuk memastikan sustainabilitas program serta monitoring dan evaluasi secara periodik.

Reporter:
dr. Aulia Savira (Divisi Manajemen Mutu, PKMK UGM)

Infrastruktur untuk Menyediakan Telehealth yang lebih Aman, Berkualitas, dan Adil

Telehealth adalah alat yang dapat mendukung layanan kesehatan. Telemedicine bermanfaat untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit akut maupun kronis dari jarak jauh, menyediakan perawatan lebih lanjut bagi populasi secara luas, dan memberikan layanan kesehatan ketika terdapat hambatan, seperti transportasi. Pandemi memicu perluasan penggunaan telehealth di rumah sakit, perawatan intensif, rawat jalan, kesehatan perilaku, layanan kesehatan emergensi, perawatan darurat, dan departemen emergensi tanpa bukti dan panduan implementasi yang ketat. Infrastruktur telehealth penting bagi sistem kesehatan dan praktiknya dalam merancang program telehealth yang aman, adil, dan berkualitas tinggi yang dapat meluas dan dengan akses yang berkepanjangan.

Perencanaan Keberlanjutan Telehealth

Pesatnya perkembangan telehealth menyebabkan sedikit hingga tidak adanya waktu untuk perencanaan. Hal ini memiliki risiko terhadap keselamatan pasien, memperburuk kesenjangan kesehatan, dan mempengaruhi keberlanjutan praktik telehealth. Telehealth menunjukkan efektivitas, namun panduan implementasi tetap dibutuhkan untuk menilai pengaruh telehealth dalam instansi dan untuk menginformasikan keputusan kebijakan. Institusi layanan kesehatan belum memiliki infrastruktur untuk mendukung integrasi telehealth ke dalam sistem yang akan berpengaruh terhadap keselamatan pasien, terlebih di populasi rentan.

Standard of Care dan Telehealth

Meski tidak ada aturan universal untuk standard of care dalam telehealth, klinisi yang menggunakan telehealth diharuskan menggunakan standard of care yang sama dengan standar profesional sama dengan layanan tatap muka. Penyedia telehealth bertanggungjawab dalam memastikan prosedur secara langsung tetap sama dengan yang dilakukan secara virtual dalam mengevaluasi pasien. dari jarak jauh, mendapatkan persetujuan tindakan atau anamnesis, melakukan pemeriksaan pasien yang adekuat, mendokumentasikan pertemuan, memastikan peresepan sesuai dengan aturan yang berlaku, dan melakukan keberlanjutan perawatan.

Keselamatan Pasien dan Telehealth

Keamanan telehealth seharusnya sepadan dengan standar layanan kesehatan yang dilakukan secara langsung, namun hanya terdapat sedikit panduan dalam penilaian keamanan untuk telehealth. Telehealth mengubah komunikasi dokter-pasien dan mengakibatkan risiko keselamatan dalam diagnosis dan kesalahan medikasi. Sistem layanan kesehatan sebaiknya mencari lebih jauh mengenai strategi implementasi telehealth untuk mendukung hasil yang baik. Dari perspektif keamanan, pemimpin di bidang layanan kesehatan dapat menyampaikan keprihatinannya kepada institusi kesehatan yang menyediakan praktik layanan kesehatan terbaik untuk memastikan keamanan dan layanan berkualitas tinggi telah diberikan kepada setiap pasien.

Keadilan dalam Kesehatan dan Telehealth

Keadilan dalam Kesehatan atau health equity merupakan kesempatan bagi semua orang untuk memperoleh layanan kesehatan sesuai dengan yang dibutuhkan tanpa menghiraukan kondisi ekonomi dan sosial. Telehealth sendiri terbukti tidak dapat memberikan keadilan bagi seluruh populasi. Meski memiliki banyak manfaat, pergeseran layanan kesehatan tradisional, dari layanan secara langsung secara tatap muka menuju layanan kesehatan virtual mengakibatkan variasi penggunaan telehealth di seluruh spesialisasi layanan kesehatan, pada pasien dengan kondisi kronis, di berbagai lokasi geografis, beragam kelompok etnis, dan di antara peserta asuransi. Pandemi telah membuktikan adanya ketidakadilan dalam kesehatan pada kelompok ras dan etnis minoritas.

Kesetaraan dalam penggunaan telehealth merupakan tanggungjawab dari sistem layanan kesehatan. Penting bagi pemangku kebijakan dalam sektor kesehatan untuk mengakui bahwa popiulasi dengan sumberdaya kesehatan yang kurang memadai akan lebih rentan untuk memiliki jumlah pesakit dan tingkat mortalitas yang lebih tinggi, sulitnya akses ke layanan kesehatan,dan mendapat pembiayaan layanan kesehatan yang lebih tinggi. Memastikan akses telehealth yang setara harus mempertimbangkan sumberdaya yang dimiliki pasien, seperti akses internet atau perangkat canggih untuk mendukung telehealth, kemampuan menggunakan teknologi, hambatan bahasa, disabilitas, dan penyedia pendukung yang menawarkan layanan telehealth.

Mutu dan Telehealth

Mutu telehealth adalah komponen penting dalam program telehealth yang tidak dapat dieksklusikan dalam penliaian mutu. Hasil layanan telehealth harus dapat dibandingkan dengan hasil layanan kesehatan secara langsung untuk tetap menjadi modalitas layanan yang bermanfaat. The National Quality Forum (NQF) memberikan kerangka dalam penilaian mutu telehealth yang berfokus pada 5 domain, yakni (1) akses ke layanan dan teknologi; (2) biaya, model bisnis, dan logistik ; (3) pengalaman pasien; (4) efektivitas; dan (5) keadilan. Sayangnya, kerangka NQF ini masing belum memiliki strategi implementasi program telehealth bagi institusi layanan kesehatan. Kerangka telehealth yang mengedepankan struktur dan keberlanjutan dari telehealth masih dibutuhkan untuk membina institusi yang mengembangkan atar mereorganisasi program telehealth pandemi.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S155372502300020X