Jakarta (Kompas.com) — Perwakilan perawat yang menuntut RUU Keperawatan segera disahkan akhirnya bisa berdialog dengan Wakil Ketua DPR Pramono Anung dan Wakil Ketua Komisi IX DPR Nova Riyanti. Perwakilan perawat pun menyampaikan tuntutan mereka.
Tak ada standar pelayanan medis, RS jalan sendiri
Kontan.co.id – Tepat di peringatan hari Kebangkitan Nasional, puluhan dokter yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Bersatu (GIB) menggelar aksi damai di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, kemarin. Mereka menuntut kenaikan anggaran kesehatan dan menolak politisasi dalam Kartu Jakarta Sehat (KJS).
Belum Ada Regulasi Tenaga Strategis Dokter
Jakarta (Kompas.com) — Hingga saat ini profesi dokter belum ditunjang regulasi oleh pemerintahan pusat untuk menjadi tenaga strategis. Akibatnya, tidak ada pengaturan terkait distribusi tenaga dokter dan kejelasan peningkatan jenjang karier mereka.
Dokter Ujung Tombak Pelayanan BPJS Kesehatan
Hukumonline.com – Direktur utama PT Askes, Fachmi Idrismengatakan dokter sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan, tak terkecuali dalam pelaksanaan BPJS Kesehatan tahun depan. Namun, hal itu perlu dibarengi idealisme dokter yang dipatungi etika serta menjunjung tinggi disiplin profesi. Dengan begitu diharapkan ketika BPJS berjalan, optimalisasi kendali mutu dan biaya pelayanan kesehatan menjadi komitmen.
Harapan Hidup di Sulut Tertinggi Se-Indonesia
Manado (beritasatu.com) – Umur harapan hidup di Sulawesi Utara (Sulut) mencapai 72,33 tahun, dari target secara nasional 65 tahun.
Dokter Daerah, Minim Fasilitas Tapi Dikomersialisasi
Liputan6.com, Masalah kesehatan di Indonesia tak lepas dari ketersediaan dokter. Sejauh ini, sistem kesehatan nasional belum sepenuhnya fokus pada dokter terutama di daerah.
KJS Gunakan Sistem INA-CBG’s Rugikan Rumah Sakit
Jakarta (Okezone.com) – Pola pembayaran program Kartu Jakarta Sehat (KJS) oleh PT Askes dengan sistem Indonesia-Case Base Groups (INA-CBG’s) dianggap terlalu berat oleh beberapa rumah sakit swasta.
Ini Rahasia Rumah Sakit Singapura Bisa Menjadi Rujukan Internasional
Singapura (detik.com) Penduduknya hanya sekitar 5 juta jiwa, tapi Singapura memiliki banyak rumah sakit internasional yang menjadi rujukan dari berbagai negara, salah satunya Indonesia. Negara ini menjadi destinasi favorit untuk berobat dan berbelanja. Apa rahasianya?
Mengurangi Tingkat Surgical Site Infenctions Melalui Surgical Care Improvement Project
Oleh : Nasiatul Aisyah Salim SKM.,MPH
Infeksi luka operasi merupakan urutan ketiga terbesar yang menyebabkan infeksi nosokomial. Lebih dari 15 juta prosedur pembedahan yang diselenggarakan di AS setiap tahunnya, sekitar 750.000 di antaranya muncul SSI sehingga menjadi kerugian langsung dan tak langsung bagi pasien maupun sistem pelayanan kesehatan. Selain itu infeksi luka operasi memperpanjang masa perawatan di rumah sakit (7-10 hari pasca operasi) sehingga meningkatkan biaya perawatan antara 10-20 %.
|
Cause |
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Infeksi Luka Operasi |
|
Patient characteristic
|
|
|
Operative characteristic (Intra operative issue) |
|
|
Operative characteristic (Intra operative issue) |
|
|
Operative characteristic (Post operative issue) |
|
sumber Mangram et al (1999)
World Aliance for patient safety (2005) menyatakan bahwa waktu terjadinya infeksi luka operasi sebagian besar ditemukan setelah hari ke tujuh pada saat pasien kontrol ke poliklinik atau kunjungan kerumah pasien dan hari ke tiga saat pasien rawat inap. Dan penelitian Johnson et al. (2006) menjelaskan tipe infeksi luka operasi yang biasa terjadi adalah infeksi luka operasi superficial (ciri-ciri nyeri dan sakit pada daerah pembedahan, luka kemerahan dan bengkak) dan Infeksi luka operasi deep incisional (ciri-ciri kemerahan, sakit pada daerah pembedahan, jahitan terbuka dan adanya pus).
Tabel. Pencegahan Infeksi Luka Operasi
|
NICE |
SHEA/IDSA |
|
Preoperative phase
Intraoperative phase
Postoperative phase
|
Surgical Care Improvement Project
Infrastructure
Computer-assisted decision support and automated reminders Antimicrobial prophylaxis Measure and provide feedback on process measures,e.g. hair removal Accountability
Non-routine approaches Vancomycin not routine for antimicrobial prophylaxis
Unresolved issues Preoperative bathing with chlorhexidine
Procedures Maintaining normothermia after colorectal surgery |
Sumber : (Humphreys, 2009)
Surgical Safety Checklist (SSC) milik WHO telah memperlihatkan penurunan tingkat SSI, komplikasi dan mortalitas. Haynes et al (2009) menunjukkan bahwa penerapan checklist dengan 19 item dalam periode perioperatif telah meningkatkan pengaturan waktu yang tepat untuk infusi antibiotik dari 56% menjadi 83% dengan pengurangan SSI secara signifikan dari 6,2% ke 3,4%.
Centers for Medicare and Medicaid Services mengembangkan Surgical Care Improvement Project (SCIP) dengan tujuan untuk mengurangi tingkat SSI hingga 10 %. Penilaian ukuran SCIP menggunakan pendekatan yang melibatkan multibidang seperti pengaturan waktu yang tepat untuk infusi antibiotik (SCIP Inf1), antibiotic selection (SCIP Inf2), penghentian secara tepat untuk antibiotik prophylactic (SCIP Inf3), appropriate hair removal method (SCIP Inf6), dan maintenance of perioperative normothermia (SCIP Inf10) dan euglycemia (SCIP Inf4).
Tabel. SCIP Inf performance measures verbally addressed in the Scott and White Surgical Safety Checklist
|
SSC Section |
SCIP Inf performance measures |
Verbal verification by surgical team |
|
Check in |
Inf-10 perioperative temperature management |
Estimated time for procedure |
|
Sign in |
Inf-10 perioperative temperature managemen |
Risk of hypothermia (operation > 1 h) |
|
Time Out |
Inf-2 antibiotic selection |
Appropriate antibiotic ordered |
|
Time Out |
Inf-1 antibiotic timing |
Antibiotic given within 60 min of incision (except vancomycin 120 min) |
Matthew et al (2013) menemukan bahwa SSC dengan ukuran kinerja mutu SCIP Inf meningkatkan persepsi komunikasi dan tindakan tim bedah dalam hal menghasilkan penurunan jumlah pasien hipotermia pada saat tiba di PACU (Post-anesthesia Care Unit). Penurunan SSI yang signifikan terlihat pada kelompok subspesialis bedah kolorektal dibanding bedah yang lain (cardiac, general, gynecologic, thoracic, vascular, orthopedic).
Kesimpulannya, penelitian Matthew et al (2013) menyatakan bahwa menggabungkan strategi SSI tertentu dengan standar SSC efektif untuk meningkatkan kinerja mutu. Selain itu seiring dengan perkembangan pelayanan kesehatan menuju program-program (pay-for-performance, for-value type programs), checklist yang menggabungkan ukuran kinerja dengan mutu proses perawatan akan menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan reimbursement.
Referensi :
Merina, CH. (2011). Penggunaan Surgical Safety Checklist WHO pada Prosedur Penatalaksanaan Pembedahan di Kamar Operasi BLUD Meuraxa Kota Banda Aceh. Tesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
{module [150]}
Efek Surgical Safety Checklist, Meningkatkan Budaya Tim dan Hasil Klinis ?
Checklist menjadi tantangan tersendiri dalam praktik pembedahan. Sejumlah pertanyaan berulangkali diajukan oleh orang yang meragukannya atau bermasalah dalam menerapkan perubahan praktik dari WHO seperti :
- Bagaimana seharusnya memperkenalkan checklist di ruang operasi ?
- Bagaimana cara seorang dokter bedah melakukannya dengan jadwal yang padat?
- Bagaimana menghindari sikap “ketidaktaatan” pada checklist ?
- Apakah checklist menunjukkan hasil yang lebih baik daripada sebelumnya ?
- Apakah cheklist memiliki pengaruh terhadap kepuasan karyawan atau malah menambah beban karyawan?
Meskipun data penelitian menunjukkan adanya pengurangan komplikasi ketika checklist diterapkan, namun para dokter kadang enggan menggunakan tools ini. Mungkin karena penggunaanya dapat menunjukkan bahwa praktik yang mereka lakukan sebelumnya tidaklah sesuai. Ada banyak alasan mengapa checklist memberikan hasil positif :
- Banyak kesalahan tindakan berasal dari kegagalan komunikasi sehingga checklist menjadi suatu gagasan untuk berkomunikasi yang efisien dalam tim
- Dapat menyusun surgical safety checklist sesuai kondisi rumah sakit dengan modifikasi dari rancangan WHO agar sesuai dengan praktik dan kasus yang rumah sakit hadapi. Penerapan penggunaan surgical safety checklist WHO dapat dimodifikasikan dengan ketentuan:
- Fokus: checklist harus ringkas tetapi harus mencakup hal-hal yang dianggap penting.
- Singkat: pengambilan tindakan tidak lebih dari satu menit untuk menyelesaikan setiap permasalahan
- Tindak lanjut: setiap permasalahan harus ditindak lanjut dan dijelaskan secara spesifik.
- Verbal: kunci utama dari keberhasilan checklist adalah komunikasi, jika hanya sebagai instrumen tertulis maka tidak akan efektif.
- Kolaborasi: seluruh tim kamar bedah harus bekerja sama.
- Diuji: sebelum pemakaian checklist modifikasi, checklist harus diuji terlebih dahulu. Karena tindakan pembedahan memerlukan persamaan persepsi antara ahli bedah, anestesi dan perawat.
- Terpadu: checklist ini difokuskan terutama pada fungsi dan komunikasi anggota tim.
- Menghabiskan berjam-jam untuk melatih, mengingatkan dan membantu tim beda selama pengenalan checklist (tidak bersifat menghukum tetapi lebih kepada pendekatan kolaboratif untuk bekerja bersama dalam sebuah kegiatan)
- Semua anggota tim memiliki tanggungjwab sebagai bagian dari tim
Secara singkat, kesuksesan setiap perubahan praktik tergantung pada beberapa faktor. Penataan yang ideal untuk suatu perubahan mencakup pengenalan masalah secara jelas, keinginan untuk menyelesaikan masalah tersebut, tindakan mitigasi masalah, bukti bahwa tindakan tersebut efektif, tidak mahal, dapat dijalankan dan tidak mengganggu. Sebagai kunci menuju kesuksesan perubahan adalah bimbingan dari pemimpin yang penuh semangat dan pelaksanaan oleh staf yang taat. Dan surgical safety checklist telah memperlihatkan semua karakteristik tersebut dan efektif untuk mempromosikan pendekatan tim di ruang bedah. (nas)
{module [152]}