Rumah Sakit di Depok Wajib Punya Ini

Okezone.com – Kemajuan teknologi di bidang kesehatan dapat menunjang pelayanan sebuah rumah sakit. Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Depok mewajibkan seluruh rumah sakit, termasuk rumah sakit ibu dan anak memiliki NICU, PICU, ICU, HCU, dan ICVCU.

Continue reading

IDI Usulkan Seleksi Pasien Dirawat RS

Hukumonline.com – Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zaenal Abidin mengatakan, perlu seleksi pasien yang dirawat. Tujuannya untuk mencegah terjadinya penolakan oleh rumah sakit akibat tidak ada kamar yang tersedia.


Continue reading

Audit Kematian Perinatal Berbasis Unit Perinatal

Oleh : Nasiatul Aisyah Salim SKM.,MPH

art-10mar-3Audit perinatal merupakan analisis sistematis mutu pelayanan klinis yang meliputi prosedur diagnosis dan perawatan, penggunaan sumber daya, hasil yang muncul serta kualitas hidup ibu dan anak. Audit kematian perinatal dapat dianggap sebagai suatu cara untuk meningkatkan proses-proses perawatan bagi semua wanita hamil dan bayi. Selain itu, audit kematian perinatal memberikan kesempatan untuk bisa mempelajari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dalam proses perawatan melalui identifikasi, analisis dan pengambilan langkah-langkah untuk mencegah agar tidak terjadi lagi.

Audit perinatal dapat dilakukan dengan bermacam metodologi misalnya audit eksternal yang mana proses perawatan dievaluasi oleh auditor eksternal independen dan audit berbasis unit atau yang biasa dikenal sebagai audit internal yaitu petugas kesehatan mengevaluasi pelayanannya sendiri, melakukan pengukuran secara langsung dan cepat dengan tujuan untuk meningkatkan perawatan. Namun, audit internal memiliki kelemahan yang menyangkut hubungan antar personal dan persaingan sehingga akan dapat mempengaruhi analisis. Walaupun begitu, audit internal yang dilakukan sendiri akan menghasilkan pemecahan yang lebih detail yang mana harapannya akan membawa lebih banyak peningkatan efisiensi di tingkat internal pelayanan kesehatan dan menjadi tanggung jawab kelompok audit.

Pelaksanaan audit perlu diketahui faktor-faktor sub-standard (sub-standard factors/SSF) yaitu masalah manajemen perawatan yang menyangkut perawatan menyimpang dari batas-batas aman praktek yang telah ditentukan dalam panduan, standard, protokol-protokol atau praktek normal, dan yang memiliki potensi untuk menyebabkan hasil merugikan bagi pasien, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk mengetahuinya bisa menggunakan instrumen audit yang berdasarkan pada analisis akar penyebab. Penelitian Vincent (2003) dan Young (2000) membuat instrumen untuk kelompok-kelompok audit perinatal berbasis unit yaitu “6 What Questions”. Dengan menjawab keenam pertanyaan ini maka SSF dapat dianalisis, asal-muasal SSF dapat dikenali, mengetahui keterlibatan kelompok petugas kesehatan, penarikan kesimpulan, dan merumuskan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencegah SSF muncul kembali.

Diem, M dkk (2012) menjelaskan bahwa keberhasilan audit kematian perinatal bisa dilakukan dengan strategi meliputi perencanaan informasi, perencanaan pelatihan dan perencanaan organisasi. Kriteria tim audit harus cukup besar yang meliputi perwakilan ahli bidang kebidanan dan perawatan neonatal di semua tingkat (bidan, perinatologis, dokter umum, bidan praktik swasta dan bidan rumah sakit, perawat bagian kandungan dan anak, dokter anak, ahli neonatalogi, ahli patologi dan ahli genetika). Tim audit mengajukan seorang wakil independen untuk mengikuti setiap pertemuan audit. Sebagai anggota tim, koordinator audit membantu kelompok inti dalam mengorganisir dan mempersiapkan pertemuan-pertemuan audit.

No

Pertanyaan dan sub-pertanyaan

1.

Apa yang Terjadi ?

Siapa saja petugas kesehatan yang terlibat?

2.

Kondisi apa saja yang terdapat SSF ?

contohnya kejadian-kejadian klinis yang mencolok, kerangka waktu, akhir pekan atau hari-hari kerja, kondisi fisik dan mental pasien, situasi lokal, beban kerja petugas kesehatan, dll)

3.

Apa Sebab yang menimbulkan SSF ? (analisis kasus yang muncul)

–      Menyangkut pasien

(misalnya: tekanan, tingkat keseriusan keadaan)

–      Menyangkut tugas

(contoh: ketersediaan protokol dan fasilitas-fasilitas laboratorium)

–      Menyangkut petugas kesehatan

(misal: motivasi, sikap, kecakapan)

–      Menyangkut tim

(komunikasi antara petugas kesehatan, keberadaan supervisi/pengawasan)

–      Lingkungan pekerjaan

(contohnya: pembauran pegawai, ketersediaan staf pendukung)

–      Menyangkut pengelolaan/manajemen

(kultur keselamatan, sumber-sumber keuangan)

Menentukan apakah penyebab-penyebab yang muncul hanya relevan dengan kasus yang dianalisis atau merupakan persoalan struktural dalam organisasi

4.

Apa hubungan antara SSF dan Kematian? (penggolongan keterkaitan)

–       Tidak ada: tidak ada kaitan antara SSF yang teridentifikasi dengan hasil yang muncul

–       Tidak mungkin: nampaknya tidak mungkin bahwa manajemen lain akan menimbulkan hasil yang berbeda

–       Mungkin: manajemen lain mungkin saja dapat membuat perbedaan dalam hasil

–       Bisa jadi: manajemen lain akan dapat diharapkan secara masuk akal untuk memberikan hasil yang berbeda

–       Sangat mungkin: faktor yang jelas dapat dihindari sehingga hasil yang berlawanan dapat dicegah.

5.

Apa kesimpulannya (analisis jawaban 1-4)

Memberikan daftar penyebab satu per satu yang menyebabkan timbulnya SSF

(misalnya supervisi yang tidak memenuhi, kegagalan pemantauan peralatan)

6.

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah SSF tidak muncul lagi? (tindakan)

Memberikan daftar tindakan secara berurutan untuk peningkatan perawatan (sebagai contoh membuat program kecakapan dan pelatihan (termasuk membuat daftar nama) untuk semua personel terkait)

Menurut Diem, M dkk (2012) menjelaskan bahwa faktor penghambat dalam pelaksanaan audit perinatal adalah keterbatasan dana. Mengorganisir dan mempersiapkan pertemuan-pertemuan audit serta menyelenggarakan pertemuan-pertemuan tersebut memakan waktu dan oleh karenanya menjadi mahal. Akibatnya, keberlangsungan audit perinatal sangat tergantung pada motivasi para petugas kesehatan dalam menyampaikan perawatan. Selain itu pendidikan dan kerjasama yang baik antara kelompok petugas kesehatan dan penyedia layanan individu adalah prasyarat untuk menyediakan perawatan secara optimal. Walaupun kerjasama maupun pendidikan dianggap mempunyai manfaat tak langsung terhadap kualitas perawatan perinatal.

Daftar Pustaka :

Diem, Mariet et al. (2012). The Implementation of Unit Based Perinatal Mortality Audit in Perinatal Cooperation Units in The Northern Region of The Netherlands. BMC Services Research, 12:195

 

{module [150]}

Audit Maternal dan Neonatal (AMP): Tidak Efektif?

edi-10Telaah kasus kematian yang tidak diharapkan (unexpected atau preventable deaths) dapat menyediakan berbagai informasi dan pemahaman bagaimana sistem kesehatan kita bekerja. Berbagi pengalaman hasil telaah kasus kematian juga merupakan suatu hal yang sangat penting bahkan sama pentingnya seperti telaah kasus kematian itu sendiri.

Salah satu artikel tentang telaah kematian dari Austraia, “From Death We Learn” (2008) telah menyediakan materi pembelajaran penting dalam membangun upaya peningkatan mutu dan juga telah menyediakan berbagai rekomendasi dalam aspek kesehatan masyarakat secara umum dan juga dalam aspek klinis secara khusus, sehingga rekomendasi dari artikel tersebut diterima dengan baik oleh para klinisi.

Dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) kita telah mengenal mekanisme audit maternal dan perinatal (AMP) sebagai alat untuk melakukan telah kasus kematian. Diperkenalkan sejak 20 tahun lalu, AMP telah menghasilkan banyak rekomendasi dan tindak lanjut namun hasilnya masih belum memperlihatkan daya ungkit yang berarti dalam mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Berbagai masukan tentang sulitnya melakukan AMP dan juga validitas rekomendasi yang dihasilkan sering menjadi alasan. Disamping itu hasil berbagai AMP baik pada skala sarana pelayanan kesehatan (seperti rumah-sakit) dan skala daerah (kab/kota, provinsi, dan nasional) juga sulit (atau tidak ada) didapat oleh para praktisi untuk dipelajari.

Paling tidak terdapat tiga faktor yang dapat membuat sebuah telaah kematian dapat secara efektif memperbaiki mutu pelayanan kesehatan, yaitu:

  1. Kepemimpinan:
    Tekad untuk menurunkan jumlah kematian yang seharusnya tidak tejadi harus menjadi komitmen kuat dari para pemimpin baik di RS maupun Dinas Kesehatan, para klinisi senior, dokter spesialis, perawat dan dengan dukungan dari seluruh staf. Dukungan yang kuat ini diperlukan untuk melakukan perbaikan yang serasi antara sistem rumah sakit dengan pelayanan klinis melalui proses pembelajaran dari kasus kematian yang terjadi.
  2. Analisa konteks:
    Penurunan jumlah kematian yang seharusnya tidak terjadi memerlukan data-data yang akurat agar dapat mengidentifikasi kesenjangan yang ada. Hal ini membutuhkan keterampilan dalam pengumpulan dan analisa data.
  3. Komunikasi dan umpan balik:
    Data kematian perlu disajikan dalam format yang sederhana dan mudah dipahami serta mendorong upaya perbaikan. Data kematian tersebut juga harus mendorong penilaian objektif mengenai penyebab adanya variasi (yang seharusnya tidak terjadi) yang terjadi dalam pelayanan namun tidak mengarah ke sifat menghakimi dan menghukum.

Dalam pelaksanaan AMP di Indonesia, analisa konteks telah dibantu dengan formulilr AMP yang demikian lengkap, sehingga apabila dilakukan dengan baik dapat memberikan informasi yang akurat. Namun masih diperlukan peningkatan faktor kepemimpinan dalam menjalankan telaah kasus kematian dan responnya serta tidak kalah pentingnya sosialiasi hasil AMP kepada masyarakat kesehatan Indonesia, bahkan diperlukan adanya laporan pelaksanaan dan hasil AMP tingkat Nasional yang dapat difasilitasi oleh Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI. (hd)

 

{module [152]}

Puskesmas Harus Fokus Pada Layanan Primer

Jakarta (Harianterbit.com) — Masyarakat mulai saat ini harus mengubah perilakunya ketika sakit. Tidak lagi langsung berobat ke rumah sakit melainkan ke pusat pelayanan primer atau Puskesmas. Karena ternyata, tidak semua penyakit harus ditangani di rumah sakit.

Continue reading

Dahlan akan buat pengelolaan kamar rumah sakit

(Merdeka.com) – Menteri BUMN Dahlan Iskan kembali mengeluarkan ide untuk menata rumah sakit. Setelah sebelumnya dia menggagas sistem periksa ke Puskesmas terlebih dahulu baru ke rumah sakit melalui jaringan online, kini dia mengusulkan untuk membuat lembaga pengelola kamar rumah sakit.

Continue reading

Dokter Muda Wajib Mengabdi ke Daerah Terpencil

Jakarta (Kompas.com) – Selama ini, keberadaan dokter di daerah perkotaan cukup banyak. Namun untuk daerah terluar dan terpencil, kebutuhan dokter masih sangat banyak khususnya untuk dokter spesialis. Akibat kekurangan dokter di daerah terpencil ini, banyak masyarakat yang akhirnya meninggal tanpa sempat ditangani.

Continue reading