Medan, (Analisa). Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Sumatera Utara (Sumut) akan menggelar seminar Perumahsakitan Medan Hospital Expo 2013 di Hotel Santika Jalan Jalan Kapten Maulana Lubis Medan, 20-22 Februari 2013.
Medan, (Analisa). Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Sumatera Utara (Sumut) akan menggelar seminar Perumahsakitan Medan Hospital Expo 2013 di Hotel Santika Jalan Jalan Kapten Maulana Lubis Medan, 20-22 Februari 2013.
Medan, (Analisa). Salah satu program kita memberikan pelayanan kesehatan setinggi-setingginya kepada masyarakat. Pertama melakukan pemerataan dokter di semua Puskesmas, melengkapi sarana alat-alat medis, kesetersediaan obat, dan melakukan konsolidasi Puskesmas. Saat ini sudah ada kenaikan peringkat dari Puskesmas Pembantu menjadi Puskesmas.
Kompas.com – Beban kerja yang tinggi dan banyaknya pasien yang harus ditangani dokter bisa membahayakan pasien. Keterbatasan waktu juga membuat dokter tidak bisa leluasa berdiskusi dengan pasiennya.
Karanganyar (suaramerdeka.com) – Menteri Kesehatan Nafsiah Mboy mengatakan, banyak dokter belum mau mengakui keampuhan obat tradisional. Mereka belum mau memberikan resep obat tradisional.
Jakarta 24 Juni 2010
Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) kembali dengan sukses menyelenggarakan Forum Mutu Pelayanan Kesehatan di Hotel Menara Peninsula, Jakarta 23-24 Juni 2010. Bekerjasama dengan PMPK FK-UGM dan RSUP Persahabatan.
Forum Mutu ke-6 ini cukup berbeda dengan Forum Mutu sebelumnya, pada Forum Mutu ini telah dibahas mengenai konsekuensi dari telah diterbitkannya “Road Map” Reformasi Kesehatan Masyarakat Indonesia oleh Kementerian Kesehatan RI terhadap upaya peningkatan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan, “Road Map” ini kemudian “disandingkan” dengan “Road Map” dari PT. Garuda Indonesia sebagai bahan bagi para peserta untuk membandingkan kedua hal tersebut meski memang memiliki level yang berbeda, namun demikian sebuah “roadmap” tetaplah sebuah perencanaan yang harus secara spesifik menjelaskan apa yang akan dicapai, bagaimana cara mencapainya dan apa saja yang harus disiapkan.
Forum Mutu 2010 juga telah dilaksanakan dengan menitikberatkan pembahasan pada Outcome Pasien (Clinical Outcome, Quality Outcome maupun Quality of Life), para peserta telah terpapar akan pentingnya mengelola clinical outcome (salah satunya dengan adanya Outcome Manajer) baik dari sudut pandang keilmuan dan juga pengalaman para praktisi dilapangan. Berbagai saran untuk menindaklanjuti sesi ini telah diajukan, antaralain dengan menggagas program “The National Clinical Quality Database and the National Indicator Project” yang akan dikerjakan bersama antara Regulator, Praktisi dan Akademinsi, serta akan memberikan kesempatan besar bagi para peserta untuk terlibat aktif dalam kegiatan tindak lanjut post Forum melalui kegiatan “Breaktrough Initiative”
Forum Mutu juga telah membahas persiapan pelaksanaan “Breaktrough Initiative” yang merupakan program adopsi dari The Institute for Health Improvement (www.ihi.org), dua topik dipersiapkan sekaligus,yaitu breaktrough initiative untuk meningkatkan rasionalitas pengobatan penyakit paru di Puskesmas dan breaktrough initiative untuk meningkatkan keselamatan bedah di rumah-sakit. Klik proposal-breakthrough untuk melhat kerangka acuan detail dalam bentuk proposal yang telah diajukan kepada secara terbuka kepada seluruh direktur di Indonesia dan telah disetujui oleh 6 RS.
Forum Mutu juga telah mengadakan berbagai pelatihan dan kajibanding, antara lain: Pelatihan penggunaan Integrated Clinical Pathways Assessment Tools (ICPAT) untuk mengevaluasi penyusunan dan penggunaan clinical pathways di Rumah-sakit (klik pelatihan-icpat untuk detail kerangka acuan); Pelatihan mengelola klinik berhenti merokok oleh tim klinik berhenti merokok RSUP Persahabatan (klik pelatihan-klinik-berhenti-merokok untuk detail kerangka acuan); Kaji banding (benchmark) penerapan konsep green building dan green office di rumah sakit (klik benchmark-green-hospital untuk detail kerangka acuan)
Telah terbit CD-ROM dari WHO yang berisi pedoman dan tools yang dapat digunakan oleh Dinas Kesehatan, Rumah-sakit dan Puskesmas dalam menetapkan kebijakan dan penerapan keselamatan pasien di sarana pelayanan kesehatan.
CD-ROM dapat diperoleh dengan menghubungi sekretariat IHQN gratis untuk anggota IHQN hanya dengan mengganti biaya pengiriman
Daftar isi CD-ROM:

Pada bulan Oktober 2010, dr. Tjahjono Kuntjoro (PMPK FK-UGM), dr. Lia Partakusuma (RS Fatmawati) dan dr. Hanevi Djasri (PMPK) mewakili Indonesia sebagai pembicara dalam konfrensi internasional yang diselenggarakan oleh International Society for Quality in Healthcare (ISQua) di Paris, Perancis. Copy dari buku kumpulan abstrak dan berbagai poster tentang perkembangan mutu dan keselamatan pasien yang dibahas dalam konfrensi tersebut dapat diperoleh dengan menghubungi seketariat IHQN.

Institute for Healthcare Improvement (www.ihi.org) baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka telah mengembangkan alat bantu peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara on-line yang disebut sebagai “The IHI Improvement Map”. Tools ini menyediakan pedoman yang jelas untuk para pengelola sarana pelayanan kesehatan terutama manajer rumah-sakit untuk menetapkan agenda, memilih prioritas, mengorganisasi kegiatan dan mengelola sumber daya secara efisien dalam upaya peningkatan mutu.
IHI telah mengeluarkan versi percobaan pada bulan Juni 2009, namun demikian versi sebenarnya baru akan dikeluarkan pada bulan September 2009. Pada versi ini para fasilitator upaya peningkatan mutu akan mendapatkan akses interaktif, web-based, yang akan menyediakan informasi terbaik secara manajerial dan klinis untuk membantu rumah-sakit menyediakan pelayanan yang terbaik.
Halaman awal web ini akan ditampilkan pilihan tujuan peningkatan mutu sesuai prioritas yang ditetapkan oleh Institute of Medicine, yang dapat dipilih para pengguna, yaitu: Efektifitas; Efisiensi; Keadilan; Fokus kepada pasien; Keselamatan; dan Ketepatan waktu. Berdasarkan tujuan yang dipilih kemudian akan disajikan berbagai upaya peningkatan mutu yang pernah dilakukan berikut dengan hasil, waktu, biaya dan kesulitan serta level evidence-nya. Lebih lanjut setiap upaya tersebut juga dapat dibaca secara detail untuk mempelajari indikator keberhasilan yang digunakan, hubungannya dengan inisiatif nasional, instrumen dan referensi lain yang digunakan.
Informasi lebih lanjut pada:
http://www.ihi.org/IHI/Programs/ImprovementMap/ImprovementMapPreview.htm
Meski tools ini didesain terutama untuk digunakan oleh rumah-sakit di Amerika, tidak ada salahnya kita pelajari dengan baik untuk kemudian kita kembangkan tools serupa bagi rumah-sakit di Indonesia demi kemajuan bangsa. Dirgahayu Indonesia !
Medan (Analisadaily.com). Indonesia peringkat ketiga penderita Hepatitis B di dunia. Penyebabnya masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya kesehatan individu dan kurangnya sosialisasi tentang hepatitis B.
Demikian diungkapkan ahli penyakit dalam dr Ilhamd Sp.PD dihadapan Keluarga Besar Institut Teknologi Medan (ITM), belumlama di ruang rapat Kampus ITM.
Pada tanggal 7‐8 September 2011, Hospital Management Asia mengadakan konfrensi internasional ke 10 di Resorts Word Sentosa Convention Center, Singapore. Konfrensi yang diikuti 768 peserta dari 25 negara menyajikan berbagai pemikiran dan pengalaman para manajer RS dari seluruh dunia, termasuk juga dari beberapa industri terkait.

Paul vanOstenberg, dari Joint Commision International menegaskan bahwa upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di rumah‐sakit harus masuk kedalam Rencana Stratejik Bisnis (RSB) rumah sakit tidak hanya merupakan kegiatan yang dilakukan berdasarkan persyaratan pemerintah ataupun akreditasi. Menyusun RSB merupakan hal yang relatif mudah, namun tantangan terbesar justru untuk dapat menjalankan RSB tersebut. Claire Ching dari Banyan Tree Holding Limited (pemilik jejaring hotel di Asia) mengidentifikasi persamaan mendasar antara RS dan hotel, yaitu keduanya perlu memastikan bahwa patient (client) experience harus menjadi dasar dari kebijakan manajemen RS/Hotel. Low Guat Tin dari National Institute of Education menekankan pentingnya melayani pasien dengan sepenuh hati untuk menciptakan pengalam pasien yang “membekas di hati” (tentunya pengalaman positif.
Melibatkan staf RS dalam upaya mutu dan keselamatan pasien menjadi faktor kunci untuk menjalankan RSB, terutama staf klinis (terutama lagi adalah para dokter spesialis). Anupam Sibal dari Apollo Hospital Group (Group RS di India dengan lebih dari 50 RS) memiliki langkah‐langkah untuk dapat melibatkan para klinisi dalam kegiatan mutu dan keselamatan, yaitu dengan melakukan quality need assessment, menyusunan quality initiatife, menjalankan training dan sosialisasi, diikuti dengan mengukur outcome. Namun yang paling terpenting adalah memastikan adanya pengakuan (tidak hanya berupa insentif finasial) untuk setiap outcome yang baik, yang diberikan baik untuk klinisi hingga kepada komite medik dan jajaran direksi.
Lean hospital merupakan salah satu upaya mutu yang dipaparkan oleh Rene Domingo dari Asian Institute of Management, pendekatan yang dikembangkan oleh Toyata Motor ini telah berhasil diterapkan dibeberapa RS dengan berbagai contoh penerapan yang khas bagi RS, antara lain bagaimana mengidentifikasi “waste” atau pemborosan yang bisa terjadi di RS (tidak hanya berupa pemborosan kertas, listrik atau telefon tapi jauh lebih kompleks dari hal tesebut), mengidentifikasi botol neck dari sebuah proses, membagi beban kerja secara merata pada setiap waktu, termasuk konsep “Pokayoke” yaitu mencegah terjadinya kesalahan bukan hanya mengurangi kesalahan.
Berbagai materi tersebut dapat peroleh dalam bentuk CD di sekertariat IHQN