Roper: Time for a new approach to healthcare reform

by Rob Roper In a study released in the fall of 2020, State Auditor Doug Hoffer reported that Vermont’s healthcare costs had increased by 167% between 2000 and 2018. Keep in mind that those years saw a number of “reforms” that promised to reduce costs while increasing access and quality, including Catamount Health, Green Mountain Care (the failed attempt at single payer), and the latest debacle that is OneCare Vermont.

Continue reading

Sosialisasi Konsep IQ-Care dan Rencana Uji Coba di Tingkat Kabupaten/Kota

Kerangka Acuan Kegiatan

Sosialisasi Konsep IQ-Care dan Rencana Uji Coba
di Tingkat Kabupaten/Kota

Diselenggarakan oleh:
Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan RI
dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM
Didukung oleh: WHO Indonesia

Kamis- Jumat, 8-9 Juli 2021

PENDAHULUAN

Indonesia telah memulai perjalanannya menuju Universal Health Coverage (UHC) sejak 2014 melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sejak diterapkan, program JKN telah berkontribusi pada peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan pada masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Namun, ketimpangan masih menjadi tantangan besar di masa mendatang. Faktor-faktor seperti ketidakmerataan distribusi tenaga kesehatan, lambatnya pembangunan infrastruktur kesehatan, dan lemahnya rantai suplai medis menjadi isu utama di banyak daerah di Indonesia.

Penguatan FKTP dapat menjadi pintu masuk pelayanan kesehatan diharapkan dapat menjadi jawaban dari permasalahan di atas. Melalui Undang-Undang No. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), peran FKTP sebagai komponen penting untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada seluruh rakyat Indonesia semakin diperkuat termasuk dalam strategi pencapaian SDGs 2030 serta Standar Pelayanan Minimal (SPM). Puskesmas diharapkan mampu berperan aktif sebagai koordinator wilayah yang menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan kepada organisasi pelayanan kesehatan yang ada di wilayahnya (Permenkes 43/2019 tentang Puskesmas).

Perlu upaya mengintegrasi pelayanan kesehatan diantara FKTP yang terdiri dari berbagai organisasi pelayanan kesehatan (Puskesmas, klinik swasta, dan dokter praktek mandiri), interprofesional (dokter, perawat, bidan, sanitarian, tenaga gizi, laboratorium, apoteker, kader, relawan, dsb), program kesehatan (UKP, UKM, program kesehatan prioritas, pencegahan dan pengendalian penyakit/wabah, dsb), serta lintas sektor (sosial, pendidikan, perumahan rakyat, dsb).

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (PKMK FK-KMK) UGM berkolaborasi dengan Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer dan WHO telah melakukan penyusunan Pedoman Pelayanan Terintegrasi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Untuk Meningkatkan Mutu Layanan Primer di Indonesia yang akan menjadi acuan semua pihak dalam melakukan upaya integrasi pelayanan di FKTP, sehingga saat ini perlu dilakukan sosialisasi konsep IQ Care dan protokol uji coba serta brainstorming mengenai situasi integrasi pelayanan kesehatan di masing-masing di tingkat Kabupaten/Kota.

TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mensosialisasikan Pedoman Konsep dan Penerapan Pelayanan Terintegrasi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Untuk Meningkatkan Mutu Layanan Primer di Indonesia di Kabupaten Badung (Provinsi Bali) dan Kota Cimahi (Provinsi Jawa Barat)
  2. Mendiskusikan situasi integrasi pelayanan kesehatan di masing-masing Kabupaten Badung (Provinsi Bali) dan Kota Cimahi (Provinsi Jawa Barat)

PESERTA

  1. Direktur Pelayanan Kesehatan Primer
  2. Tim IQ-Care Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer
  3. Prof. Dr. dr Akmal Taher, Sp.U (K)
  4. Dinkes Provinsi Jawa Barat
  5. Dinkes Provinsi Bali
  6. Dinkes Kota Cimahi
  7. Dinkes Kabupaten Badung
  8. Semua FKTP dari Kecamatan terpilih
  9. Tim PKMK – UGM
  10. WHO Perwakilan Indonesia

FASILITATOR

Tim Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer:

  1. drg. Saraswati, MPH
  2. dr. Upik Rukmini, MKM

Tim PKMK FK-KMK UGM:

  1. Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
  2. Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep. MPH
  3. Andriani Yulianti, MPH
  4. Stevie Ardianto Nappoe, SKM, MPH

JADWAL DAN AGENDA KEGIATAN

Hari : Kamis-Jumat, 8-9 Juli 2021
Waktu : 12.30-15.30 WIB
Metode : Zoom

AGENDA KEGIATAN

           Waktu Kegiatan Narasumber Moderator
Hari ke – 1, Kamis, 8 Juli 2021
12.30 WIB – 12.45 WIB Pembukaan Panitia
Doa Panitia
Indonesia Raya Panitia
Laporan Kegiatan Koordinator PP
Sambutan dan Arahan Direktur PKP
Kebijakan Pelayanan Kesehatan Primer Direktur PKP

Koordinator PP

12.45 WIB -13.00 WIB Pentingnya Integrasi dan Kolaborasi antar FKTP dalam meningkatkan akses dan kualitas Pelayanan Kesehatan Prof. Dr. dr Akmal Taher, Sp U (K)
13.00 WIB – 13.30 WIB Diskusi Panitia
13.30 WIB – 13.45 WIB

Overview Konsep IQ care

materi

Dr.dr Hanevi Djasri.
13.45 WIB – 14.00 WIB

Overview Rencana Uji Coba Konsep IQ Care

materi

Stevie Ardianto Nappoe
14.00 WIB – 14.30 WIB Diskusi
14.30 WIB – 15.00 WIB Gambaran situasi Pelayanan Kesehatan Primer Kab/Kota (Secara Umum)

  • Aksesibilitas
  • Mutu
  • Tantangan

Dinas Kesehatan Badung

Dinas Kesehatan Cimahi

PKMK UGM

15.00 WIB – 15.20 WIB Diskusi
15.20 WIB – 15.30 WIB Rangkuman dan Penutupan Hari I Eva Tirtabayu Hasri Panitia dan PKMK-UGM
Hari ke – 2, Jumat, 9 Juli 2021
12.30 WIB – 12.40 WIB Pembukaan dan Review Hari Pertama Panitia
12.40 WIB – 13.50 WIB Pengantar Diskusi Gambaran Situasi integrasi Pelayanan Kesehatan masing-masing Kabupaten/Kota (Sebelum masuk ke break out room)

  

Stevie Ardianto Nappoe

Panitia dan PKMK-UGM

15.30 WIB – 15.20 WIB (Breakout Room berdasarkan Kabupaten ) Brainstrorming gambaran situasi integrasi Pelayanan Kesehatan di masing-masing Kabupaten/Kota

  • Dinkes Kabupaten Badung
  • Dinkes Kota Cimahi

Fasilitator

Panitia dan PKMK-UGM

   15.20 WIB – 15.30 Rangkupan dan Penutup Andriani Y

 

Panduan Pertanyaan

Panduan pertanyaan ini akan didiskusikan pada pertemuan awal pengenalan konsep IQ Care di tingkat Kabupaten/Kota dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran situasi integrasi pelayanan kesehatan yang sudah dilakukan sebelum masuk pada kegiatan uji coba.

  1. Apakah organisasi bapak/ibu bekerjasama dengan penyedia layanan kesehatan lainnya (provider) dalam memberikan pelayanan kesehatan terutama pelayanan yang tidak tersedia di organisasi bapak/ibu? Bagaimana Kerjasama ini dilaksanakan? Bagaimana koordinasi dengan provider tersebut?
  2. Apakah bapak/ibu memiliki mitra dengan stakeholder lain diluar kesehatan untuk layanan non-kesehatan yang dapat diberikan sebagai tindak lanjut kepada pasien? Bagaimana koordinasi bapak/ibu dengan stakeholder tersebut?
  3. Apakah organisasi bapak/ibu memiliki sistem informasi yang bisa di akses oleh semua pemberi layanan termasuk provider lain yang menjadi mitra bapak/ibu? Bagaimana proses berbagi informasi ini berjalan?
  4. Apakah bapak/ibu mengalami kendala dalam menjalankan sistem rujukan ke pelayanan sekunder termasuk rujukan balik? Bagaimana koordinasi bapak/ibu dengan faskes rujukan tersebut? Apakah ada supervisi dari faskes rujukan untuk meningkatkan kualitas rujukan?
  5. Apakah organisasi bapak/ibu sudah mempunyai tim pemberi pelayanan yang terdiri dari berbagai disiplin untuk menangani penyakit/program kesehatan tertentu? Bagaimana sistem koordinasi dari team tersebut?
  6. Apakah dalam memberikan pelayanan kesehatan pasien dan keluarga sudah dilibatkan dalam pengambilan keputusan? Jika belum, mengapa? 

 

 

 

Perencanaan dan Evaluasi Program Keluarga Berencana Pada Masa Pandemi COVID-19

Penurunan akses terhadap layanan fasilitas kesehatan selama pandemi mengakibatkan penurunan jumlah kepesertaan program KB dan jumlah pengguna kontrasepsi yang dapat menyebabkan terjadinya unwanted dan mistimed pregnancy (kehamilan tidak dikehendaki). Hal ini meningkatkan risiko terjadinya peningkatan angka kehamilan yang tidak direncanakan dan ledakan penduduk yang berdampak pada Angka Kematian Ibu (AKI) yang semakin tinggi, serta menggagalkan upaya dalam membangun masa depan Indonesia dengan sumber daya yang berkualitas di era bonus demografi.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pembajeng dkk (2020) mengenai Perencanaan dan Evaluasi Program KB Pada Masa Pandemi Covid-19 dengan metode kajian literatur (literature review) dengan data sekunder. Hasil penelitian menyebutkan bahwa program KB yang dijalankan pada masa pandemi telah mengimplementasikan perencanaan berdasarkan prioritas masalah yang ada dengan refocusing dana, dikeluarkannya panduan pelayanan program KB di masa pandemi, dan maksimalisasi peranan penyuluh KB untuk membantu pelayanan. Pemantauan dan pengawasan juga telah dilakukan langsung secara berkala.

Disampaikan juga dalam penelitian tersebut, bahwa perlu adanya dukungan dalam memfasilitasi pelayanan KB dengan penyediaan alat kontrasepsi dan APD protokol kesehatan yang lengkap secara merata, peningkatan keterlibatan kader dan tokoh masyarakat bagi daerah yang belum memiliki kemudahan akses pelayanan melalui alat elektronik, serta belum ditemukan vaksin yang mutlak aman digunakan bagi ibu hamil dan menyusui. 

Readmore

Reportase Sosialisasi dan Diseminasi Konsep Pelayanan Kesehatan Terintegrasi di FKTP

2jul

29-30 Juni 2021

Reporter: Andriani Yulianti (Peneliti PKMK FK KMK UGM)

Jakarta, Sosialisasi dan diseminasi konsep pelayanan kesehatan terintegrasi di FKTP telah dilaksanakan dengan metode gabungan antara daring dan luring pada tanggal 29-30 Juni 2021, menghadirkan peserta yang berasal Lingkup Kementerian Kesehatan yakni dari (Pelayanan Kesehatan Primer, Pelayanan Kesehatan Rujukan, Pelayanan Kesehatan Tradisional, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan, Kesehatan Keluarga, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Pencegahan dan Pengendalian Penyakil Menular Langsung, Pusat Analisis Determinan Kesehatan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber daya dan Pelayanan Kesehatan), dan Ketua Umum Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia, Ketua Asosiasi Klinik Indonesia, Pengurus Besar IDI, Perhimpunan dokter Umum Indonesia, WHO Perwakilan Indonesia, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kesehatan Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Kabupaten Badung Provinsi Bali, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara.

Pertemuan ini merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggrakan atas kerjasama Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer (PKP) Kementerian Kesehatan dan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK FK KMK UGM) yang didukung oleh WHO Indonesia. Sejak Maret s/d Juni 2021, tim PKMK FK KMK, PKP dan WHO Indonesia telah rutin menyelenggarakan pertemuan membahas dokumen konsep dan rencana penerapan pelayanan terintegrasi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk meningkatkan mutu layanan primer di Indonesia, sesuai dengan konsep integrasi pelayanan kesehatan yang diperkenalkan oleh WHO, yakni pelayanan kesehatan dikatakan terintegrasi bila pelayanan kesehatan dapat merespon kebutuhan individu dan populasi melalui inovasi program kesehatan berkualitas dan komprehensif (mencakup promosi kesehatan, pencegahan penyakit, diagnosis, pengobatan, penatalaksanaan penyakit, rehabilitasi, dan perawatan paliatif) oleh tim multidisiplin yang bekerja bersama-sama dalam sebuah sistem yang saling mendukung.

Bersama dengan Dr. dr Hanevi Djasri, MARS, FISQua dan tim PKMK FKKMK UGM, serta konsultan dari Kementerian Kesehatan yakni Prof. Dr. dr. Akmal Taher, serta tim PKP telah berupaya menuangkan konsep integrasi pelayanan kesehatan yakni sebuah konsep pelayanan kesehatan terintegrasi yang diberi nama Integrated Quality Care (IQ Care). IQ Care nantinya tidak hanya menjadi acuan untuk penerapan layanan kesehatan terintegrasi, namun lebih jauh lagi diharapkan dapat menjadi pedoman transformasi layanan di FKTP untuk mendukung UHC di Indonesia, Konsep IQ Care dapat dilihat pada diagram dibawah ini:

2jul 1

Konsep ini dapat dijalankan dengan ada penguatan komitmen dan pengembangan sistem untuk menciptakan enabling environment demi terciptanya integrasi Pelayanan kesehatan dimulai dari regulasi, pembiayaan, tata kelola, sumber data hingga sistem informasi kesehatan mencakup penggunaan teknologi, berbagi data dan informasi, dan pengambilan keputusan.

Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan jejaring fungsional di tingkat FKTP, dimana Jejaring fungsional ini diharapkan dapat mempromosikan kolaborasi diantara FKTP yang terdiri dari berbagai organisasi pelayanan kesehatan baik publik dan private/swasta (Puskesmas, klinik swasta, dokter praktek mandiri, bidan praktek, dan praktek tenaga profesional kesehatan lainnya) dengan program kesehatan yang komprehensif (Usaha Kesehatan Perorangan (UKP), Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM), program kesehatan prioritas, pencegahan dan pengendalian penyakit/wabah, dsb) serta lintas sektor (Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dsb).

Kolaborasi di atas diharapkan mampu menyediakan layanan yang komprehensif dimana semua pihak yang terlibat bertanggung jawab secara bersama-sama untuk pelayanan yang lebih baik di wilayahnya. Kolaborasi bisa dilakukan dengan berbagai cara baik melalui MOU, perjanjian kerjasama, penandatanganan komitmen pelayanan, dsb.

Untuk mendukung hal tersebut, rerdapat Kolaborasi tenaga profesional dan non-profesional kesehatan, dengan menyediakan layanan kesehatan berbasis tim multidisiplin yang terdiri dari berbagai profesi profesional kesehatan termasuk dokter, perawat, bidan, sanitarian, tenaga gizi, laboratorium, apoteker dan non-profesional kesehatan termasuk kader, relawan, pekerja sosial dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas. Serta, Integrasi pelayanan klinis dengan konsep care pathway yang merupakan detail intervensi pelayanan kesehatan mulai dari preventif, promotif, kuratif, rehabilitatif, sampai dengan paliatif untuk masalah kesehatan tertentu yang mencakup interaksi antara pasien/populasi dengan profesional kesehatan tertentu sesuai dengan spesialisasinya dalam jenis layanan yang diberikan.

Ketika komponen di atas dilakukan dengan baik maka akan tersedia pelayanan kesehatan dengan konsep person-centered care yang berfokus kepada pasien dan keluarga dengan lebih banyak melibatkan mereka dalam perencanaan, edukasi dan promosi, dan pengambilan keputusan untuk intervensi layanan kesehatan yang mereka terima. Paradigma ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dari keluarga, dan komunitas untuk memberikan dukungan perawatan yang dibutuhkan oleh pasien dan mempromosikan self-care untuk masalah kesehatan kronis yang membutuhkan intervensi jangka panjang.

dr.Upik Rukmini, MKM dalam paparannya menegaskan bahwa tahun 2021 ini merupakan masa untuk menguji coba konsep yang sudah dikembangkan, sehingga kegiatan uji coba IQ-Care yang dilaksanakan sebatas memanage kolaborasi dan integrasi dengan mengeluarkan pedoman yang bisa menjadi acuan semua pihak. Kondisi saat ini tentu banyak yang belum mendukung terjadinya integrasi dan kolabirasi baik dari sisi regulasi, sistem infomasi dll, namun tantangan yang ada akan menjadi rekomendasi yang baik untuk dapat menyempurnakan konsep yang ada sehingga dapat di implementasikan dengan baik pada tahun- tahun mendatang (Roadmap 2024 dapat diimplementasikan secara nasional).

Prof. Dr. dr. Akmal Taher juga menekankan bahwa yang di integrasikan bukanlah integrasi secara struktur, struktur fasyankes saat ini tetap, namun yang di integrasikan adalah fungsinya yakni integrasi fungsional, artinya baik fasyankes pemerintah dan swasta maupun berbasis komunitas coba diintegrasikan fungsi-fungsi layanannya sehingga terjadi kolaborasi yang mampu menyediakan layanan yang komprehensif, dimana semua pihak yang terlibat bertanggung jawab secara bersama-sama untuk pelayanan yang lebih baik di wilayahnya.

Di akhir acara, tim PKMK UGM memaparkan tahapa uji coba yang akan dilaksanakan selama 3 bulan ke depan, yakni periode Juli s/d September 2021 yakni:

  1. Sosialisasi konsep IQ Care dan rencana uji coba di tingkat Kabupaten/Kota
  2. Pembentukan jaringan fungsional di tingkat FKTP
  3. Pengumpulan data kuantitatif yang terkait dengan layanan integrasi TB, DM, dan kehamilan
  4. Prioritisasi masalah (bagaimana pelayanan TB, DM, dan kehamilan di masing-masing FKTP serta tantangannya)
  5. Pengembangan care pathway
  6. Pembentukan muldisciplinary team (kolaborasi interprofesional)
  7. Pengembangan rencana monitoring bersama Dinkes Kabupaten/Kota
  8. Evaluasi implementasi uji coba

Kegiatan selama 2 hari ditutup dengan adanya komitmen dari 2 kabupaten yang akan menjadi wilayah uji coba yakni Kabupaten Badung di Provinsi Bali dan Kota Cimahi di Provinsi Jawa Barat, kedua wilayah tersebut telah memetakan kecamatan dan fasilitas layanan Kesehatan yang akan menjadi wilayah uji coba.

 

 

Pelatihan Penerapan Klasifikasi Robson

 KERANGKA ACUAN KEGIATAN

Pelatihan Penerapan Klasifikasi Robson

Diselenggarakan oleh:
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM
Bekerjasama dengan: Kementerian Kesehatan RI

Selasa- Rabu, 22-24 Juni 2021

A. PENDAHULUAN

Keselamatan pasien merupakan hal yang penting dan menjadi prioritas dalam suatu layanan kesehatan. Badan akreditasi nasional, Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS, 2019), dan badan akreditasi internasional, the Joint Commission International (JCI, 2015), menempatkan keselamatan pasien pada salah satu penilaian akreditasi; termasuk di dalamnya, memastikan lokasi, prosedur dan pembedahan pasien yang benar. RS yang memiliki rerata tindakan SC yang tinggi, akan mengalami peningkatan penggunaan sumber daya, karena tindakan SC dengan risiko yang lebih tinggi membuat RS untuk memperhatikan keselamatan ibu, sejak hamil, saat operasi dan masa nifas. Oleh karenanya tindakan SC baik terencana maupun emergensi yang dilakukan sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi, harus mempunyai indikasi yang kuat.

Tingginya kejadian SC di Indonesia, yang menimbulkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi serta tidak sejalan dengan upaya mengejar penurunan angka kematian ibu dan bayi sesuai RPJMN 2024. Dari data SDKI 2017 diketahui tren SC di Indonesia meningkat dari tahun 1997 – 2017 dari 4,3% menjadi 17%. Peningkatan angka SC ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi perdebatan oleh karena selain adanya ketimpangan akses dan masalah biaya, juga dapat berdampak pada kemungkinan peningkatan risiko ibu maupun bayi (WHO, 2017).

Oleh karena itu, PKMK FK-KMK bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan R.I bermaksud akan menyelenggarakan pelatihan penerapan klasifikasi Robson dalam meningkatkan patient safety, yang merupakan Sistem Klasifikasi Sepuluh Kelompok (The Ten Group Classification System-TGCS), juga dikenal sebagai Klasifikasi Robson, dapat digunakan di tingkat rumah sakit sebagai acuan dalam menentukan apakah tindakan SC sesuai dengan indikasi yang dibutuhkan (WHO 2017).

B. TUJUAN PERTEMUAN

  1. Meningkatkan kemampuan RS dalam menerapkan Klasifikasi Robson
  2. Meningkatkan kemampuan RS dalam melaksanakan audit kasus SC dengan Klasifikasi Robson.

C. PESERTA

  • Terdiri dari 8-10 orang tim dari RS Pandan Arang
  • Terdiri dari 8-10 orang tim dari RSUD Bagas Waras

Komposisi tim berasal dari:

  • Dokter SPOG
  • Dokter Umum
  • Bidan
  • Perawat
  • Petugas Rekam Medis

D. JADWAL DAN AGENDA KEGIATAN

Hari : Selasa-Rabu, tanggal 22-24 Juni 2021
Selasa : Pukul 08.00-12.00
Rabu : pukul 08.00-12.00
Kamis : Pukul 08.00 – 12.00
Lokasi : Online melalui Zoom

AGENDA KEGIATAN

Hari 1

Waktu

Kegiatan

Fasilitator

08.00-08.15

Pembukaan acara

materi

  • Sambutan dari Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan:
    Erna Mulati, M.Sc,CMFM
  • Pembukaan acara oleh Dekan FKKMK UGM: Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D.
  • Sambutan Ketua Tim Robson: dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, Ph.D, Sp.OG(K)

08.15-08.25

Pre test

MC

08.25-08.50

Perkenalan peserta dan fasilitator

MC

08.50- 09.00

Penyampaian General Rules dan pembagian kelompok

MC

09.00-09.30

Modul 1: Overview Klasifikasi Robson

materi

dr. Irwan Taufiqurrahman, Sp.OG (K)

09.30-10.10

Sesi praktik dan diskusi modul 1

Fasilitator

10.10-10.25

Coffee Break

MC

10.25-10.55

Modul 2: Penggunaan Klasifikasi Robson dan Pengumpulan Data 

materi

dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, Ph.D, Sp.OG(K)

10.55-11.40

Sesi praktik dan studi kasus

Peserta dan Tim Fasilitator PKMK FK KMK UGM

11.40- 11.50

Rangkuman Modul 2

Fasilitator PKMK FKKMK UGM

11.50-11.55

Rangkuman kegiatan hari I

MC

11.55-12.00

Evaluasi Modul 1-2

MC

12.00 – 12.05

Penutup MC

Hari 2

08.00-08.05 Pembukaan MC
08.05- 08.15 Refleksi Kegiatan Hari 1 Peserta
08.15-08.45

Modul 3 dan 4: Analisis Data dan Audit rate SC

materi

  • dr. Diannisa Ikarumi Enisar Sangun, Sp.OG(K).
  • Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D.
08.45- 10.35 Sesi Praktik: analisis data Fasilitator PKMK FKKMK UGM
10.35- 10.45 Ice Breaking Fasilitator PKMK FKKMK UGM

10.45-11.15

Modul 5: Rekomendasi dan Tindak Lanjut

materi

dr. Irwan Taufiqurrachman, Sp.OG(K)
11.15-12.15 Sesi praktik Modul 5 Peserta dan Tim Fasilitator PKMK FK KMK UGM
12.15-12.25 Evaluasi Modul 3-5   MC
12.25-12.30 Rangkuman kegiatan MC
12.30 – selesai Penutup MC

Hari 3

08.00-08.05 Pembukaan MC
08.05- 08.15 Refleksi Kegiatan Hari 2 MC
08.15-08.20

Briefing praktik komprehensif

MC

08.20- 11.00 praktik komprehensif Fasilitator PKMK FKKMK UGM
11.00- 11.10 Energizer MC dan Enumerator

11.10-11.30

Rencana Tindak Lanjut Pelatihan dan Sosialisasi Case Report Form

PKMK FKKMK UGM
11.30-11.40 Post Test MC
11.40-11.50 Evaluasi Materi dan Pelaksanaan Pelatihan   MC
11.50-12.00 Penutupan PKMK FKKMK UGM