Tingkatkan Cara Penggunaan Masker untuk Melindungimu

Diperbarui oleh CDC pada 13 Februari 2021

Penggunaan masker yang benar dan konsisten adalah langkah penting yang dapat dilakukan setiap orang untuk mencegah tertular dan menyebarkan COVID-19. Masker bekerja paling baik saat semua orang memakainya, tetapi tidak semua masker memberikan perlindungan yang sama. Saat memilih masker, lihat seberapa cocoknya, seberapa baik menyaring udara, dan berapa banyak lapisan yang dimilikinya.

Dua cara penting untuk memastikan masker Anda bekerja dengan baik:

  1. Pastikan masker Anda pas dengan wajah Anda. Celah dapat membuat udara dengan tetesan nafasmasuk dan keluar di sekitar tepi masker.
  2. Pilih masker dengan lapisan untuk menahan tetesan nafas Anda masuk dan keluar. Masker dengan lapisan akan menghentikan lebih banyak tetesan nafas yang masuk ke dalam masker atau keluar dari masker jika Anda sakit.

Lakukan beberapa hal di bawah ini:

  1. Pilih masker dengan Kawat Hidung

    • Kawat hidung adalah strip logam di sepanjang bagian atas masker
    • Kabel hidung mencegah udara bocor dari bagian atas masker.
    • Tekuk kawat hidung di atas hidung agar pas dengan wajah Anda.
  2. Gunakan Mask Fitter atau Brace

    • Gunakan pelindung atau penjepit masker di atas masker sekali pakai atau masker kain untuk mencegah udara bocor di sekitar tepi masker.
  3. Periksa apakah pas di hidung, mulut, dan dagu Anda

    • Periksa celah dengan menangkupkan tangan Anda di sekitar tepi luar masker.
    • Pastikan tidak ada udara yang mengalir dari area di dekat mata Anda atau dari sisi masker.
    • Jika masker sudah pas, Anda akan merasakan udara hangat masuk melalui bagian depan masker dan mungkin bisa melihat bahan masker masuk dan keluar dengan setiap tarikan napas.
  4. Tambahkan Lapisan material

    2 cara untuk melapisi

    • Gunakan masker kain yang memiliki banyak lapisan kain.
    • Kenakan satu masker sekali pakai di bawah masker kain.
      • masker kedua harus mendorong tepi masker bagian dalam ke wajah Anda.

        Pastikan Anda bisa melihat dan bernapas dengan mudah

  5. Simpul dan selipkan simpul telinga dari masker 3 lapis

    • Ikat simpul telinga dari masker wajah 3 lapis tempat dihubungkannya dengan tepi masker
    • Lipat dan selipkan bahan yang tidak dibutuhkan di bawah tepinya
    • Untuk instruksi video, lihat: https://youtu.be/UANi8Cc71A0ikon eksternal.

Jangan lakukan

1. Gabungkan dua masker sekali pakai (Masker sekali pakai tidak dirancang agar pas dan memakai lebih dari satu tidak akan meningkatkan kesesuaian)

2. Gabungkan masker KN95 dengan masker lainnya (Gunakan hanya satu masker KN95 dalam satu waktu)

 

 

Sumber: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/your-health/effective-masks.html 

 

 

Case Management untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker setelah pengobatan

Disarikan oleh: Andriani Yulianti, SE, MPH (Peneliti Divisi Mutu PKMK FKKMK UGM)

Case Management (CM) merupakan proses kolaboratif sejak pengkajian, perencanaan, fasilitas, koordinasi perawatan, evaluasi dan advokasi untuk opsi dan layanan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan komprehensif individu dan keluarga melalui komunikasi dan sumber daya yang tersedia untuk mempromosikan keselamatan pasien, kualitas perawatan, dan biaya yang efektif (CMSA, 2016). CM dapat mendorong keterlibatan klien dan komunikasi langsung antara manajer pelayanan, klien, keluarga klien atau pengasuh keluarga, dan petugas, untuk mengoptimalkan hasil kesehatan bagi semua yang berkepentingan.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa CM bermanfaat dalam fase skrining dan pengobatan kanker. Dalam pelayanan kanker, saat pengobatan selesai maka beberapa pasien mengalami kehilangan dukungan karena berkurangnya kontak dengan tenaga medis, sehingga diharapkan dengan adanya dukungan CM maka berpotensi memberikan pelayanan yang berkelanjutan dan kemudahan untuk kembali ke kehidupan normal.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Scherz et al., mengenai pengaruh CM pada peningkatan kualitas hidup pasien kanker yang dilakukan pada rentang waktu tahun 2010-2012, mengacak 95 pasien yang baru saja menyelesaikan pengobatan kanker di 11 pusat kanker di kanton Zurich, Swiss. Pasien dalam kelompok CM bertemu setidaknya tiga kali selama 12 bulan yakni pada bulan ke 3, 6, dan 12, dan hasilnya dilaporkan dengan menggunakan skala Functional Assessment of Cancer Therapy (FACT-G), Patient Assessment of Chronic Illness Care (PACIC) and skala Self-Efficacy.

Intervensi yang dilakukan yakni Lima orang CM yakni perawat yang khusus dalam pelayanan onkologi memiliki keterampilan dalam mendiskusikan masalah pasien secara empatik dan mampu menawarkan hal-hal yang dibutuhkan oleh pasien, serta mampu memberikan konseling motivasi pemberdayaan diri. Selama 3 bulan pertama, bertemu dengan pasien setidaknya untuk membangun hubungan, menilai kebutuhan, dan menghasilkan sebuah rencana aksi. Melalui alat elektronik terstruktur, beberapa item kemudian ditindaklanjuti yakni: menanyakan riwayat medis sebelumnya (dalam wawancara pertama), kondisi mental saat ini, tekanan dan tantangan, faktor yang mempengaruhi, sumber daya yang dimiliki, tujuan yang diharapkan dan penilaian.

Case manager sebagai pelaksana memberikan informasi tentang layanan dan terapi yang tersedia dan membantu mengatur janji. Kemudian, pada bulan-bulan berikutnya, melakukan telepon tindak lanjut sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien. CM juga tersedia sesuai permintaan pasien selama jam pelayanan kantor. Seluruh intervensi berlangsung hingga 12 bulan dengan wawancara sebagai penutup pertemuan.

Setelah pertemuan kemudian melakukan penilaian melalui Skor FACT yakni menilai kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan pasien yang dirawat karena kanker. Jumlah skor total mulai dari nol hingga 108 poin, skor yang lebih tinggi menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik.

Pengukuran berikutnya yakni Self-Efficacy dilakukan dengan menggunaan kuesioner Jerusalem & Schwarzer dengan hasilnya bisa berkisar antara 10 dan 40 dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan efikasi diri yang lebih (artinya memiliki keyakinan yang lebih kuat pada kompetensi seseorang untuk mengatasi berbagai macam tuntutan yang membuat stres atau menantang). Serta, Skor PACIC dapat berkisar antara satu dan lima, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan perawatan yang lebih baik dengan model perawatan kronis.

Hasil yang didapatkan bahwa terjadi perubahan FACT-G selama 12 bulan secara signifikan lebih besar pada kelompok CM dibandingkan di kelompok kontrol. Skor PACIC meningkat sebesar 0,20 di kelompok CM dan menurun sebesar 0,2 pada kelompok kontrol. Efikasi diri meningkat 3,1 poin pada kelompok CM dan 0,7 poin pada kelompok kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa CM berpotensi meningkatkan kualitas hidup, memudahkan pasien masuk kembali ke kehidupan normal dan dapat mengatasi kebutuhan untuk kesinambungan perawatan pada penderita kanker sejak dini.

Keterampilan seorang case manager dalam memahami masalah pasien secara empatik, mampu menawarkan hal-hal yang dibutuhkan oleh pasien, serta mampu memberikan konseling motivasi pemberdayaan diri merupakan dasar hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang case manager dalam membantu pasien sehingga mampu mengatasi kebutuhan kesinambungan pelayanan pasien.

Namun, dalam penelitian yang disampaikan oleh Avia I, dkk., yang dilakukan di Ruma Sakit di Jakarta bahwa masih terdapat masalah untuk mengoptimalkan case manager yaitu belum optimalnya fungsi perencanaan kompetensi case manager yang disebabkan belum ada perencanaan pengembangan kompetensi, panduan kompetensi, pengorganisasian bersifat desentralisasi, mayoritas diploma keperawatan dan belum ada pelatihan terkini, fungsi pengarahan belum berfokus pada CM, dan belum dilaksanakannya monitoring serta evaluasi. Sehingga diharapkan Rumah sakit perlu membuat perencanaan tentang kompetensi case manager dan proses kredensial case manager sesuai dengan kompetensi.

Sumber:

  • Avia, I., Handiyani, H., & Nurdiana (2019). Analisis Kompetensi Case Manager Pada Rumah Sakit di Jakarta: Studi Kasus. Jurnal Perawat Indonesia, 3(1), 16–27.
  • Scherz, N., Mettler, B,I., Chmiel, C., Senn, O., Boss, N., Bardheci, K., & Rosemann, T,. (2017) Case management to increase quality of life after cancer treatment: a randomized controlled trial. BMJ Cancer. 17:223. DOI 10.1186/s12885-017-3213-9

 

Dampak Pandemi Covid-19 Pada Penderita Kanker

Coronavirus 2019 (COVID-19) merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus korona jenis baru. Virus ditularkan dari orang ke orang melalui cairan dari saluran napas melaluibersin dan batuk, serta kontak dengan permukaan benda atau individu yang terkontaminasi.

Continue reading

Reportase Seminar Online Upaya Peningkatan Mutu Surveilans Penyakit di Masa Pandemi: Tantangan dan Harapan”

Reporter: Andriani Yulianti, SE, MPH (Peneliti Divisi Mutu PKMK FKKMK UGM)

PKMK-Yogyakarta, telah menyelenggarakan seminar online “Upaya Peningkatan Mutu Surveilans Penyakit di Masa Pandemi: Tantangan dan Harapan” yang telah diselenggarakan pada tanggal 4 Februari 2021, membahas upaya peningkatan mutu pelaksanaan surveilans dari tinjauan ideal dari perspektif akademik dan melihat kemungkinannya untuk dikembangkan di Indonesia serta memperkenalkan secara singkat program Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response In Indonesia (INSPIRASI) 2020–2025 agar mendapatkan gambaran input program dari para stakeholders di Provinsi/daerah.

Hadir sebagai narasumber dalam pertemuan tersebut yakni dr. Riris Andono Ahmad, MPH, PhD (Peneliti di Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM), dr. Guardian Yoki Sanjaya, MHlthInfo (Peneliti Sistem Informasi Kesehatan di FKKMK UGM), Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Peneliti di PKMK FKKMK UGM), drh. Endang Burni Prasetyowati, M.Kes (Kepala Subdirektorat Surveilans–Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes R.I) dr. H. Muhammad Ichsan Mustari, MHM (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan), dan drh. Berty Murtiningsih, M.Kes (Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi DI Yogyakarta). Bertindak sebagai moderator yakni tiga peneliti dari PKMK FK KMK UGM yaitu dr. Hardhantyo MPH, Ph.D., dr. Bernadeta Rachela., dr. I Wayan Cahyadi Surya.

Dr. Hanevi membuka kegiatan seminar dengan mengajak semua peserta agar dapat berpartisipasi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan INSPIRASI karena program yang dijalankan bukanlah program yang kaku tetapi sangat fleksible dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan bersama, baik di level Nasional, maupun di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Adapun tujuan kegiatan INSPIRASI diharapkan mampu memperkuat sistem surveilans di Indonesia dengan meningkatkan kapasitas Kemenkes Indonesia dalam mendeteksi, mencegah, menanggapi ancaman kesehatan masyarakat di 4 area teknis yakni real time surveilance, reporting dan respon pada area preparedness and emergency operational centers.

Selanjutnya, disampaikan oleh dr. Riris Andono Ahmad mengenai respon epidemiolog, yakni bagaimana sistem yang baik bisa digunakan untuk mengendalikan penyakit bahkan mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB) yang besar dan seharusnya ketika punya sistem yang baik maka dapat mencegah KLB masuk dalam populasi. Sehingga, dibutuhkan respon cepat dan terencana karena tanpa melakukan respon cepat terencana, akan susah menurunkan kasus.

Dr. Riris juga menyampaikan tantangan yang peru dipecahkan dalam sistem survailans di Indonesia yakni tentu saja tidak bisa menghindari platform pengambilan data yang berbeda, karena tiap platform terkadang meminta data yang sama dengan sistem rekaman yang sama-sama manualnya, sehingga petugas di lapangan melakukan hal yang sama dengan platform yang berbeda dengan detil yang sama besarnya juga. Apalagi kemudian ada survailans lain yang hampir menggunakan data yang sama, tentunya hal ini bisa disikapi apabila memiliki Interoperabilitas yang baik antara platform yang ada.

Pernyataan di atas diperkuat oleh pembicara selanjutnya yakni dr Guardian Sanjaya yang menekankan perlunya interoperabilitas dalam surveilans diantaranya; melibatkan berbagai stakeholders (fasilitas kesehatan, laboratorium, dinas kesehatan, kementrian kesehatan dan masyarakat); berbagai sistem informasi dikembangkan untuk pelayanan di faskes, kontak tracing penyakit di masyarakat, pelaporan di Dinas dan Kementerian, self-screening oleh masyarakat dan sebagainya; berbagai developer, vendor dan organisasi kesehatan mengembangkan sistem informasi untuk berbagai process tersebut; permasalahan duplikasi data, integrasi data, kelengkapan data, analisis data; serta bagaimana interoperabilitas dapat meningkatkan kualitas survaillans penyakit, terutama pada upaya keselamatan populasi.

drh. Endang Burni Prasetyowati, M.Kes selaku Kepala Subdirektorat Surveilans Kemkes sangat mendukung program INSPIRASI, seperti yang tertuang dalam tujuan pertama yakni memperkuat analisis data survailans yang ada dan tentunya sangat terkait erat dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada, karena ternyata yang memiliki latar belakang pendidikan SKM Epidemiologi hanya ada sekitar 11 ribuan orag saja, dan itu tersebar di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten dan Puskesmas, sehingga memerlukan peningkatan, baik secara kualitas dan kuantitasnya dari sisi tenaga yang siap pakai serta dapat melakukan advokasi ke pimpinan daerah berdasarkan evidance base. Dr Endang juga menyampaikan bahwa sistem informasi satu data menjadi cita-cita bersama, dan mendukung sekali adanya interoperablitas data sehingga dapat memiliki satu aplikasi untuk melihat semua permasalahan kesehatan di Indonesia.

Sebagai penutup, dr Hanevi menyampaikan bahwa selama diskusi berlangsung telah memberikan ide baru terutama berbagai macam masalah teknis surveilance dan cara menyelesaikannya, sehingga tidak hanya masalah namun juga solusi, dan akan didukung oleh program INSPIRASI yang cukup fleksible menetapkan kegiatan apa saja yang akan dikerjakan dan akan diseminasikan secara nasional. Setelah kegiatan ini, dr hanevi berharap agar tetap terjalin komunikasi dengan peserta yang sudah tergabung sebanyak kurang lebih 250 orang, dengan mengakses kegiatan di website: mutupelayanankesehatan.net dan akan dihubungi secara periodik untuk memberikan info kegiatan yang akan diselenggarakan dan berharap semua peserta tetap berpartisipasi secara aktif.

Materi dan video selengkapnya dapat di akses pada link berikut

klik disini

 

 

Analisis Sistem Transpor dan Bahan Metabolik Plasenta Serta Pengaruh Edukasi Model Nutrisi, Pada Pertumbuhan Janin Terhambat

Oleh: Dr. dr. Aria Wibawa, SpOG (K)

pregnant

Pertumbuhan janin terhambat (PJT) merupakan masalah global yang menyebabkan komplikasi jangka pendek dan jangka panjang neonatal. Penyebab PJT multifaktorial, di antaranya asupan nutrisi maternal tidak adekuat dan hambatan transfer plasenta. Penulis melakukan penelitian yang bertujuan mengetahui konsentrasi VEGF, GLUT1, sistem y+L, FATP1, glukosa, asam amino dan asam lemak plasenta di kelompok janin kecil masa kehamilan (JKMK) dan kelompok pertumbuhan janin terhambat (PJT). Data tersebut digunakan sebagai bahan penyusunan model edukasi nutrisi kehamilan. Penelitian ini juga bertujuan mengetahui pengaruh penerapan model edukasi nutrisi kehamilan terhadap asupan nutrisi, kadar feritin, seng, dan vitamin D serum ibu, dan laju pertumbuhan janin pada kasus PJT.

Penelitian menggunakan desain mixed method terdiri dari 3 tahap dilakukan di klinik Fetomaternal Gulardi Centre, RSUPN Cipto Mangunkusumo dan beberapa rumah sakit di Jakarta, selama periode Juli 2018–November 2020. Tahap-1 adalah studi potong lintang terhadap kelompok janin sesuai masa kehamilan (JSMK, n = 24), kelompok JKMK (n = 13), dan kelompok PJT (n = 20) pada kehamilan aterm. Pemeriksaan jaringan plasenta dilakukan dengan teknik sampel homogenat dan konsentrasi variabel yang diukur adalah VEGF, GLUT1, Sistem y+L, FATP1, glukosa asam amino, dan asam lemak. Tahap-2 adalah studi kualitatif untuk menyusun model edukasi nutrisi kehamilan dengan metode wawancara mendalam (n = 19), pendapat pakar (3 pakar), observasi perilaku, dan telaah pustaka. Tahap-3 adalah studi kuasi eksperimental Pretest-posttest design terhadap kelompok PJT (n = 15) yang mendapat perlakuan edukasi model nutrisi kehamilan dan suplementasi. Subjek dilakukan wawancara nutrisi, pemeriksan ferritin, vitamin D 25OH, seng serum maternal, dan penilaian laju pertumbuhan janin. Data dianalisis menggunakan program SPSS versi 20 dengan uji statistitik Kruskal-Wallis, Mann Whitney dan Wilcoxon-pair.

Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan bermakna konsentrasi VEGF, sistem y+L, FATP1, asam amino total, dan asam lemak total plasenta kelompok JKMK dan PJT dibandingkan JSMK (p < 0,05). Model nutrisi 5J merupakan model nutrisi tepat guna yang dapat diterapkan pada kehamilan. Terdapat peningkatan bermakna jumlah asupan nutrisi, konsentrasi feritin, vitamin D 25-OH, dan seng serum di ibu hamil dengan PJT setelah penerapan model nutrisi. Laju pertumbuhan janin meningkat di 10 subjek (67%), sedangkan laju pertumbuhan janin tidak meningkat di 5 subjek (33%).

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada JKMK dan PJT terdapat perubahan pada sistem transpor dan bahan metabolik plasenta terutama asam amino. Penerapan edukasi model nutrisi 5J pada ibu hamil dengan kasus PJT dapat memperbaiki laju pertumbuhan janin.

ringk des

5j h   5j h 

pamf   pamf

 

Link Terkait: