Pengelolaan Rekam Medis, Koding dan Audit Rekam Medis di Fasilitas Pelayanan Primer

BIMBINGAN TEKNIS

Pengelolaan Rekam Medis, Koding dan Audit Rekam Medis di Fasilitas Pelayanan Primer

Metode Daring, 19-20 Februari 2021

 

  Topik ini membahas Masalah apa?

Fasilitas Kesehatan Tingkat Primer (FKTP) diharuskan untuk mempunyai rekam medis, hal ini tertuang pada Bab VIII Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK). Standar 8.4 menyebutkan bahwa Kebutuhan data dan informasi asuhan bagi petugas kesehatan, pengelola sarana, dan pihak terkait di luar organisasi dapat dipenuhi melalui proses yang baku. Berdasarkan standar, FKTP harus mempunyai rekam medis.

Untuk mengetahui mutu rekam medis perlu dilakuka audit rekam medis dalam hal ini audit klinis, termasuk mengaudit 144 diagnosa penyakit yang harus tuntas ditangani di fasilitas pelayanan primer.

  Manfaat apa yang anda dapatkan?
  • Ilmu dan skill pengelolaan rekam medis
  • Ilmu dan skill Koding di fasilitas pelayanan primer yang tepat
  • Ilmu dan skill audit rekam medis
  Apa yang dibahas?
  • Konsep Rekam Medis dalam standar akreditasi FKTP
  • Isi dan form rekam medis
  • Isi dan susunan rekam medis
  • Simbol dan singkatan dalam rekam medis
  • Contoh-contoh form rekam medis
  • Assembling, Filing, Penomoran Dan Retensi Rekam Medis
  • Alur Dan Proses Kerja Unit Rekam Medis
  • Sistem Penomoran Dan Penjajaran Rekam Medis
  • Retensi Dan Pemusnahan Rekam Medis
  • Rekam Medis Elektronik di FKTP
  • Rekam Medis berbasis web (Sistem Informasi Klinik)
  • Koding
  • Audit rekam medis
  Sasaran Peserta

Jumlah peserta dibatasi 50 orang.

  1. Rekam Medis
  2. Komite medis dan keperawatan
  3. Tim mutu PKM
  4. Profesional Pemberi Asuhan (PPA)
  5. Peneliti
  6. Dosen
  7. Mahasiswa
  Fasilitator

Fasilitator berasal dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.

saumadr. Sauma Nurlina Amalia

  • Dokter umum Gadjah Mada Medical Center (GMC) UGM
  • Project Manager Sistem Informasi Klinik (Rekam medis elektronik) GMC UGM

 

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep.,MPH

  • Peneliti di Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajamen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM
  • Konsultan Manajemen Kesehatan di IKKESINDO
  • Founder Community of Practice (CoP) Manajemen Mutu Keperawatan

dr. Endang Suparniati, M.Kes

  • Konsultan PKMK FK-KMK UGM
  • Kepala Instalasi Penjaminan RSUP Dr. Sardjito
  • Tim anti fraud DIY

 

  Persiapan Peserta

Peserta diharapkan membawa dokumen:

  1. Perwakilan faskes membawa 1 laptop
  2. Membawa 5 berkas rekam medis dengan diagnosa yang sama, misal Appendisitis
  3. Membawa 1 Panduan Praktik Klinis/SOP sesuai dengan diagnosa rekam medis yang dibawa
  4. Menyiapkan 1 rekam medis kosong
  Biaya

Biaya pelatihan sebesar Rp. 1.250.000,00 per orang. Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui: Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM FKU PKMK Dana Kerjasama Penelitian Umum.

Bagi peserta yg menghendaki kwitansi asli bermaterai, biayanya untuk luar jawa 60.000, jawa 25.000 (berat maksima 1 kg).

  Narahubung & Koordinator Pelaksana

Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH
No. Telp  082324332525   
Email  eva.tbh@gmail.com

Optimalisasi Ketepatan Koding dan Penerapan Panduan Praktek Klinis untuk Atasi Klaim Pending

WORKSHOP

Optimalisasi Ketepatan Koding dan Penerapan Panduan Praktek Klinis untuk Atasi Klaim Pending

Oleh Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM

Daring, 28-29 Agustus 2024

 

  Latar Belakang

Pembiayaan kesehatan merupakan bagian yang penting dalam implementasi Jaminan Kesehatan Nasional. Metode pembayaran ada 2 yaitu retrospektif seperti fee for service dan prospektif seperti global budget, perdiem, kapitasi dan case based payment. Dua metode pembayaran ini sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.

Saat ini sistem pembayaran yang diterapkan di Indonesia yaitu prospektif menggunakan case based payment (casemix). Sistem casemix adalah pengelompokan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada ciri klinis yang mirip/sama dan penggunaan sumber daya/biaya perawatan yang mirip/sama. Kekurangan metode ini bagi penyedia layanan kesehatan berupa kurangnya kualitas koding yang akan menyebabkan ketidaksesuaian proses grouping (pengelompokan kasus), kelebihannya pembayaran lebih adil sesuai dengan kompleksitas pelayanan dan proses klaim lebih cepat.

Sistem casemix memiliki komponen yang berhubungan langsung dengan output pelayanan yaitu clinical pathway, koding dan teknologi informasi. Agar penyelenggaraan sistem casemix berjalan optimal maka tim casemix perlu mempunyai pemahaman yang baik tentang komponen clinical pathways, koding dan teknologi informasi. Pelatihan ini akan fokus pada peningkatkan pemahaman dan kompetensi peserta tentang koding dan rekam medis karena ketepatan pengisian dokumen ini akan megurangi klaim pending.

  Materi
  1. Audit Klinis penerapan Panduan Praktik Klinis melalui clinical pathways
  2. Diskusi dan Simulasi Audit Klinis penerapan Panduan Praktik Klinis melalui clinical pathways
  3. Praktek Audit Klinis penerapan Panduan Praktik Klinis melalui clinical pathways
  4. Tugas Mandiri
  5. Konsep Koding ICD 9
  6. Diskusi dan Simulasi Koding ICD 9
  7. Praketk Koding ICD 9
  8. Konsep Koding ICD 10
  9. Diskusi dan Simulasi Koding ICD 10
  10. Praktek Koding ICD 10
  Sasaran Peserta

Diperentukkan bagi tim casemix, dokter, perawat, klinisi lainnya, rekam medis, manajemen, dan dosen.

  Fasilitator

Fasilitator berasal dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.

endang2dr. Endang Suparniati, M.Kes

  • Konsultan PKMK FK-KMK UGM
  • Kepala Instalasi Penjaminan RSUP Dr. Sardjito
  • Tim anti fraud DIY

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep.,MPH

  • Peneliti di Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajamen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM
  • Konsultan Manajemen Kesehatan di IKKESINDO
  • Founder Community of Practice (CoP) Manajemen Mutu Keperawatan
 
  Biaya

Biaya per instansi 1.500.000 untuk 2 orang. Harga spesial untuk 100 instansi pendaftar pertama 1.000.000 untuk 2 orang.
Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui: Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM FKU PKMK Dana Kerjasama Penelitian Umum.

Fasilitas: Materi, sertifikat dan kwitansi dalam bentuk soft file.

FORM PENDAFTARAN

 

Agenda

Hari 1

Waktu Materi Narasumber
09.00-09.15 Pembukaan dan Pre test Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH, CPCC
09.15-10.00 Teori Audit Klinis dalam penerapan Panduan Praktik Klinis melalui clinical pathways Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH, CPCC
10.00-10.45 Diskusi dan Simulasi 1: Audit Klinis penerapan Panduan Praktik Klinis melalui clinical pathways Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH, CPCC
10.45-11.30 Diskusi dan Simulasi 2: Audit Klinis penerapan Panduan Praktik Klinis melalui clinical pathways Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH, CPCC
11.30-12.15 Diskusi dan Simulasi 3: Audit Klinis penerapan Panduan Praktik Klinis melalui clinical pathways Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH, CPCC
12.15-13.00 Praktek Audit Klinis penerapan Panduan Praktik Klinis melalui clinical pathways Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH, CPCC
13.15-16.00 Belajar Mandiri dan Diskusi Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH, CPCC

Hari 2

Waktu Materi Narasumber
09.00-09.15 Refleksi hari 1 Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH, CPCC
09.15-10.00 Teori Koding ICD 9 dr. Endang Suparniati M.Kes
10.00-10.45 Diskusi dan Simulasi Koding ICD 9 dr. Endang Suparniati M.Kes
10.45-11.30 Teori Koding ICD 10 dr. Endang Suparniati M.Kes
11.30-12.15 Diskusi dan Simulasi Koding ICD 10 dr. Endang Suparniati M.Kes
12.15-13.00 Praktek Koding dr. Endang Suparniati M.Kes
13.00-13.15 Post Test Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH, CPCC
13.15-16.00 Belajar Mandiri dan Diskusi dr. Endang Suparniati M.Kes

 

  Narahubung

dr. Opi Sritanjung
Telp. 0813-7929-6290

 

 

Strategi Koding, Resume Medis dan Klaim untuk Meningkatkan Mutu Pembayaran di Rumah Sakit

BIMBINGAN TEKNIS

Oleh Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM

Yogyakarta, 1 – 2 Juli 2022

 

  Topik ini membahas Masalah apa?

Permenkes nomor 16 tahun 2019 menyebutkan bahwa Pelaksanaan pencegahan, deteksi dan penyelesaian terhadap Kecurangan (fraud) termasuk mekanisme investigasi dan pelaporan pelaku Kecurangan (fraud), dapat dilakukan melalui Peningkatan kemampuan dokter serta petugas lain yang berkaitan dengan Klaim, berupa “Pemahaman dan penggunaan sistem koding yang berlaku, Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Pasien (DPJP) menulis dan memberikan resume medis secara jelas, lengkap dan tepat waktu” dan Meningkatkan kemampuan koder melalui “Pelatihan dan edukasi koding yang benar.

  Manfaat apa yang anda dapatkan?
  • Ilmu dan skill koding
  • Ilmu dan skill pengisian resume medis
  • Ilmu dan skill klaim
  Apa yang dibahas?
  • Konsep koding
  • Konsep resume medis
  • Konsep klaim
  • Teknis koding yang tepat
  • Teknis pengisian resume medis yang tepat
  • Teknis pengisian rekam medis
  • Teknis klaim yang tepat
  Sasaran Peserta
  1. Tim Casemix
  2. Tim anti fraud
  3. Dokter umum
  4. Dokter spesialis
  5. Koder
  6. Rekam medis
  7. Peneliti
  8. Dosen
  9. Mahasiswa
  Fasilitator

Fasilitator berasal dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.

endang2dr. Endang Suparniati, M.Kes

  • Konsultan PKMK FK-KMK UGM
  • Kepala Instalasi Penjaminan RSUP Dr. Sardjito
  • Tim anti fraud DIY

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep.,MPH

  • Peneliti di Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajamen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM
  • Konsultan Manajemen Kesehatan di IKKESINDO
  • Founder Community of Practice (CoP) Manajemen Mutu Keperawatan
  Persiapan Peserta

Peserta diharapkan membawa dokumen:

  1. Menyiapkan laptop
  2. Menyiapkan dokumen ICD 9 dan 10
  Biaya

Biaya pelatihan sebesar Rp. 3.000.000 per orang
Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui: Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM  FKU PKMK  Dana Kerjasama Penelitian Umum.

Agenda

Kegiatan akan berlangsung selama 2 hari, mulai jam 09.00-16.00 WIB.

WAKTU MATERI Keterangan
HARI 1
09.00-09.20 Pembukaan dan pre test PKMK FK-KMK UGM
09.20-10.25 Materi 1. Konsep Koding ICD 10 dr. Endang Suparniati, M.Kes
10.25-12.00 Praktikum 1 dan diskusi. Teknis koding ICD 10 dr. Endang Suparniati, M.Kes
12.00-13.00 ISTIRAHAT  
13.00-13.45 Materi 2. Konsep Koding ICD 9 dr. Endang Suparniati, M.Kes
13.45-14.30 Praktikum 2 dan diskusi. Teknis ICD 9 dr. Endang Suparniati, M.Kes
14.30-15.15 Materi 3. Konsep Rekam Medis rawat inap dr. Endang Suparniati, M.Kes
15.15-16.00 Praktikum 3 dan diskusi. Teknis pengisian rekam medis rawat inap dr. Endang Suparniati, M.Kes
HARI 2
09.00-09.20 Refleksi  
09.20-10.25 Materi 4. Konsep rekam medis rawat jalan dr. Endang Suparniati, M.Kes
10.25-11.00 Praktikum 4 dan diskusi. Teknis pengisian rekam medis rawat jalan dr. Endang Suparniati, M.Kes
11.00-12.00 Materi 5. Rekam medis IGD dr. Endang Suparniati, M.Kes
12.00-13.00 ISTIRAHAT  
13.00-13.45 Praktikum 5 dan diskusi. Teknis pengisian Rekam medis IGD dr. Endang Suparniati, M.Kes
13.45-14.30 Materi 6. Resume medis dr. Endang Suparniati, M.Kes
14.30-15.15 Praktikum 6 dan diskusi. Pengisian resume medis dr. Endang Suparniati, M.Kes
15.15-16.00 Materi 7. Klaim dan diskusi dr. Endang Suparniati, M.Kes
16.00-16.20 Post Test dan penutup PKMK FKKMK UGM

 

  Narahubung & Koordinator Pelaksana

Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH
No. Telp  082324332525   
Email  eva.tbh@gmail.com

 

 

Pertemuan Koordinasi UGM – Project HOPE – CDC dan PUSDATIN – P2P

Kerangka Acuan Kegiatan

Pertemuan Koordinasi UGM – Project HOPE – CDC dan PUSDATIN – P2P

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 Januari 2021

  PENDAHULUAN

Dalam Permenkes 45 tahun 2014 disebutkan bahwa rangka meningkatkan kemampuan pengelolaan data dan informasi kesehatan, diperlukan sistem surveilans kesehatan secara nasional agar tersedia data dan informasi secara teratur, berkesinambungan, serta valid. Surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit. Dalam pelaksanaannya terjadi kesenjangan dalam sistem surveilans, baik di pusat maupun di daerah.

Salah satu masalah yang terjadi di Indonesia adalah mengenai interoperabilitas data. Hal ini dikarenakan kesulitan dari aspek teknis, seperti perbedaan aplikasi yang digunakan di provinsi, kabupaten atau puskesmas. Aplikasi ini memiliki database atau penamaan yang berbeda, sehingga sulit untuk digabungkan. Banyak puskesmas juga masih belum memiliki tenaga khusus yang ditugaskan secara khusus untuk mengelola surveilans penyakit.

Oleh karena itu, program INSPIRASI (Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia) yang dilakukan oleh UGM – Project HOPE bersama CDC akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk membahas kesenjangan – kesenjangan yang terjadi dan mencari tindak lanjut untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan data dan informasi pada sistem surveilans di Indonesia.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Membahas detail dan capaian kegiatan yang telah dilakukan oleh UGM dan CDC, melaporkan hasil sementara kegiatan asesmen kesenjangan pelaksanaan kegiatan surveilans penyakit di Indonesia.
  2. Membahas detail dalam pelaksanaan kegiatan selanjutnya, berupa mapping system data interoperability, penjelasan tentang kegiatan data sharing agreement, dan rencana peningkatan interoperabilitas data surveilans Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

  PESERTA

  1. Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
    1. William Hawley, MPH, Ph.D (Country Director, Indonesia, Centers for Disease Control and Prevention)
    2. C. Yekti Praptiningsih MDDs, MEpid (Medical Epidemiologist, Centers for Disease Control and Prevention)
    3. Amalya Mangiri
  2. UGM
    1. Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
    2. dr. Hardhantyo MPH, Ph.D
    3. Anantasia Noviana
  3. Project HOPE
    1. drh. Yogi Mahendra
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (P2P dan Pusdatin)
    1. drh. Endang Burni Prasetyowati M.Kes
    2. drg. Rudy Kurniawan, M.Kes
    3. Ibu Eka
    4. Pak Edi
    5. Pak Abdurahman

  JADWAL KEGIATAN

Hari : Kamis, 14 Januari 2021
Waktu : 09.00 – 11.00
Lokasi : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Peserta : CDC, UGM, Project HOPE, Kemenkes RI

Materi Pembahasan :

  • Membahas area peningkatan dalam sistem surveilans di Indonesia yang dapat difollow up oleh tim UGM dan CDC
  • Pembahasan detail dan capaian kegiatan INSPIRASI saat ini
  • Membahas materi tentang
    • Rencana narasumber dalam Systems mapping and interoperability architecture development
    • Pembahasan tentang teknis pelaksanaan peningkatan sistem interoperabilitas data surveilans.
Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
09.00 – 09.15 Pembukaan Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
09.15 – 09.45 Laporan hasil kegiatan gaps asesmen pelaksanaan kegiatan surveilans di Indonesia dan rencana program INSPIRASI dr. Hardhantyo MPH, Ph.D
09.45 – 10.45 Diskusi dan penyusunan rencana tindak lanjut
10.45 – 11.00 Kesimpulan dan Penutup Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

Review hasil evaluasi kesenjangan

Kerangka Acuan Kegiatan

Results of assessment on surveillance and PHEOC gaps in Indonesia

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 Januari 2021

  PENDAHULUAN

………………………………….

 

 

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Diseminasi pelaksanaan kegiatan analisa kesenjangan pelaksanaan surveilans sistem di Indonesia dan kesiapan PHEOC di Provinsi guna pencegahan bencana public health di masa mendatang.
  2. Menentukan rencana tindak lanjut

  PESERTA

  1. Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. UGM
  3. Project HOPE
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  5. Dinas Kesehatan Provinsi
  6. Dinas Kesehatan Kabupaten
  7. Peneliti dalam pusat penelitian
  8. Mahasiswa Program FETP, KMPK

  JADWAL KEGIATAN

Hari : Sabtu, 20 Februari 2021
Waktu : 09.00 – 11.30
Lokasi : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Peserta : CDC, UGM, Project HOPE, Kemenkes RI

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
09.00 – 09.15 Pembukaan dr. Hardhantyo MPH, Ph.D
09.15 – 10.30 Laporan hasil kegiatan asesmen kesenjangan pelaksanaan kegiatan surveilans di Indonesia dan rencana program INSPIRASI

Paparan

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

Pembahas:

  • Dirjen P2P Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  • Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan
  • Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta
10.30 – 10.45 Diskusi dan penyusunan rencana tindak lanjut
10.45 – 11.00 Kesimpulan dan Penutup dr. Hardhantyo MPH, Ph.D

Wawancara Mendalam Pelaksanaan Surveilans Penyakit

Kerangka Acuan Kegiatan

Wawancara Mendalam Pelaksanaan Surveilans Penyakit

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 – 24 Desember 2020

  PENDAHULUAN

Berdasarkan permenkes nomor 45 tahun 2014, surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan kewaspadaan dini dari potensi kejadian luar biasa dan menyusun rencana pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien.

Sistem surveilans yang telah dilaksanakan saat ini menitikberatkan pada integrasi unit – unit penyelenggara surveilans dengan laboraturium, sumber sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah. Semakin banyak unit – unit yang terlibat dalam suatu sistem, permasalahan yang mungkin terjadi akan meningkat. Contoh permasalahan klasik surveilans antara lain adanya sumber daya manusia yang belum sesuai standar, dikarenakan belum semua petugas yang mendapatkan pelatihan sehingga dalam pelaporan dan interpretasi data belum maksimal. Selain itu dalam melakukan umpan balik dan diseminasi informasi juga belum terlaksanan rutin.

Program INSPIRASI (Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia) memiliki tujuan untuk membantu pelaksanaan kegiatan surveilans kementerian kesehatan, termasuk dinas kesehatan provinsi dan kabupaten dalam mendeteksi, mencegah, dan merespon potensi bencana kesehatan.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mengetahui proses pelaksanaan surveilans penyakit dari prosedur deteksi dini, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  2. Mengetahui kendala, saran dan harapan perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR)

  TIM KERJA

  1. Core team :
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
    • Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Supporting team
    • Andriani, SE, MPH
    • Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH
    • dr. Bernadeta Rachela
    • dr. I Wayan Cahyadi
  3. Project Partner
    • Project HOPE

  JADWAL KEGIATAN

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
08.00 – 08.05 Pendahuluan Program INSPIRASI 2020 ~ 2025 dr. Bernadeta Rachela
08.15 – 09.25 Wawancara pelaksanaan kegiatan surveilans, kendala serta usulan perbaikannya Andriani, SE, MPH dan dr. Bernadeta Rachela
09.25 – 09.30 Penutup dr. Bernadeta Rachela

 

MATERI WAWANCARA

Detail pertanyaan terdapat dalam guideline, adapun informasi umum terkait materi wawancara seperti yang tertera dalam komponen dibawah ini.

  1. Secara umum mohon Bapak/ Ibu dapat memberikan pandangan tentang apa saja program surveilans yang dikerjakan diwilayah Bapak / Ibu saat ini?
  2. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis kejadian mulai dari sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  3. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis indikator (SKDR) sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik.
  4. Mengetahui kendala dan saran perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR)
  5. Adakah kendala dalam pemakaian aplikasi / website pelaporan data surveilans, adakah integrasi data antara simpus dengan aplikasi / website
  6. Bagaimana pengalokasian anggaran dan SDM dalam surveilans.
  7. Komponen apa yang dapat kita perbaiki bersama dalam waktu dekat.
  8. Apakah harapan terhadap system yang ada saat ini

 

 

 

 

Indepth BNPB

Kerangka Acuan Kegiatan

Wawancara Mendalam Pelaksanaan Program Kesiapsiagaan
dan Manajemen Penanganan Bencana Public Health

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 – 24 Desember 2020

  PENDAHULUAN

Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan /atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sebagain besar wilayah Indonesia merupakan perairan yang terdiri dari 17.508 pulau, dengan lima pulau besar. Bencana hidrometerologi sangat berpotensi terjadi dengan topografi yang beragam dan kompleks, berbukit bukit, banyak aliran sungai disertai pengaruh perubahan iklim. Posisi geografis Indonesia juga terletak diantara 3 lempeng besar dunia, yakni lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, lempeng Indo Australia. Sehingga secara geografi Indonesia juga rawan mengalami gempa tektonik maupun vulkanik. Berbagai latar belakang tersebut menyebabkan Indonesia sangat rawan terjadi bencana alam. Bencana alam secara mudahnya dapat diartikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.

Bencana sosial merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas dan teror. Keanekaragaman suku, budaya, serta jumlah penduduk sebesar 255.182.144 jiwa dengan luas wilayah daratan 1.910.931km2 yang sebagian besar tinggal di pulau Jawa (57%) sebagiannya lagi menyebar dari Sabang-Merauke, menurut Badan Pusat Statistik (2015). Menjadi faktor resiko terjadinya bencana sosial.

Hubungan dengan masyarakat global, pariwisata, pengembangan pusat pusat industri dan beberapa daerah yang memiliki penyakit endemis juga menyebabkan Indonesia mengalami kerentanan dalam hal bencana non alam. Jika diartikan bencana non alam merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam antara lain berupa gagal teknologim gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit. Hal ini tentunya masih dapat kita rasakan sampai saat ini, sebagai salah satu contoh yakni pandemi Covid 19 yang terjadi hampir setahun.

Berbagai potensi tersebut seolah seperti pisau bermata dua, dapat menguntungkan sekaligus merugikan. Merugikan karena bencana alam, non alam dan sosial rawan terjadi di Indonesia. Bencana non alam dibidang kesehatan masyarakat seperti kejadian luar biasa, wabah dan Pandemi Covid 19 yang berlangsung hampir satu tahun memang berdampak langsung pada sistem kesehatan. Namun bencana lain baik alam maupun sosial juga dapat berdampak pada sistem kesehatan atau yang sering disebut dengan krisis kesehatan. Krisis kesehatan yang terjadi diantaranya korban mati, korban luka, sakit, pengungsi, lumpuhnya pelayana kesehatan, penyakit menular, sanitasi lingkungan, gangguan jiwa, dan masalah kesehatan lainnya.

Sebagai salah satu lembaga pemerintah non departemen yang diamanai oleh Undang Undang No 24 Tahun 2007, BNPB menjadi lembaga yang memiliki dua unsur yakni pengarah penanggulangan bencana dan pelaksana penanggulangan bencana. Lembaga ini menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam penanggulangan bencana baik dalam situasi tidak terjadi bencana (pra), tanggap darurat (saat bencana) maupun setelah bencana(pasca), hal tersebut yang melatarbelakangi kami untuk melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui kesiapan dan kendala yang dihadapi BNPB dan BPBD dalam menangani bencana alam, non alam dan sosial. Sehingga dapat membantu peningkatan kapasitas penanggulangan bencana yang mengacu pada sistem penanggulangan bencana nasional.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mengetahui mekanisme BNPB (Public Health Emergency Operation Center – PHEOC) dalam menangani bencana alam, sosial, dan terkhusus terkait bencana public health (krisis kesehatan, wabah penyakit, epidemi dan pandemi) beserta kesiapan pencegahannya di masa depan.
  2. Mengetahui kendala dan saran perbaikan dalam pelaksanaan PHEOC

  TIM KERJA

  1. Core team :
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
    • Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Supporting team
    • Andriani, SE, MPH
    • Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH
    • dr. Bernadeta Rachela
    • dr. I Wayan Cahyadi
  3. Project Partner
    • Project HOPE

  JADWAL KEGIATAN

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
08.00 – 08.05 Pendahuluan Program INSPIRASI 2020 ~ 2025 dr. Cahyadi Surya
08.15 – 09.25 Wawancara pelaksanaan kegiatan surveilans, kendala serta usulan perbaikannya Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH dan dr. Cahyadi Surya
09.25 – 09.30 Penutup dr. Cahyadi Surya

 

MATERI WAWANCARA

Detail pertanyaan terdapat dalam guideline, adapun informasi umum terkait materi wawancara seperti yang tertera dalam komponen dibawah ini.

  1. Secara umum mohon bapak/ibu dapat memberikan pandangan tentang managemen penanggulangan bencana alam dan non alam yang ada di Indonesia saat ini? Apakah sudah sesuai dengan undang-undang 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana
  2. bagaimana peran BNPB mulai pra bencana, adakah system yang disiapkan untuk kejadian bencana epidemi/pandemi? (Mengikuti siklus penanggulangan bencana : pencegahan, mitigasi, kesiapan, peringatan dini, tanggap darurat, pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi
  3. Mapping sumber daya yang dapat digunakan pada saat terjadi bencana.
  4. Prosedur koordinasi penanggulangan bencana public health bersama kementerian kesehatan, pembagian wilayah kerja
  5. Kegiatan drill emergency exercise persiapan pandemi / epidemi?
  6. Koordinasi lintas sektoral pada proses penanggulangan bencana.

 

 

 

 

FGD Dinkes

Kerangka Acuan Kegiatan

Focus Group Discussion Pelaksanaan Program Surveilans Penyakit Di 5 Provinsi
(Provinsi Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua)

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 – 24 Desember 2020

  PENDAHULUAN

Berdasarkan permenkes nomor 45 tahun 2014, surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan kewaspadaan dini dari potensi kejadian luar biasa dan menyusun rencana pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien. Dalam peraturan permenkes nomor 1479 tahun 2003 tersebut terdapat 29 penyakit menular yang harus dimonitor di rumah sakit dimana 25 diantaranya dapat dilakukan pendataan oleh pelayanan primer (Puskesmas).

Sistem surveilans yang dilaksanankan saat ini menitikberatkan pada integrasi unit – unit penyelenggara surveilans dengan laboraturium, sumber sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah. Data yang terkumpul di setiap unit akan diintegrasikan dan terhubung sampai ke pusat. Informasi yang cepat dan akurat dapat menjadi landasan yang kuat pengambilan kebijakan strategis di tingkat lokal maupun nasional.

Program INSPIRASI (Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia) memiliki tujuan untuk membantu pelaksanaan kegiatan surveilans kementerian kesehatan, termasuk dinas kesehatan provinsi dan kabupaten dalam mendeteksi, mencegah, dan merespon potensi bencana kesehatan.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mengetahui proses pelaksanaan surveilans penyakit dari prosedur deteksi dini, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  2. Mengetahui kendala, saran dan harapan perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR)

  TIM KERJA

  1. Core team :
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
    • Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Supporting team
    • Andriani, SE, MPH
    • Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH
    • dr. Bernadeta Rachela
    • dr. I Wayan Cahyadi
  3. Project Partner
    • Project HOPE

  JADWAL KEGIATAN

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
08.00 – 08.05 Pendahuluan Program INSPIRASI 2020 ~ 2025 dr. Hardhantyo, MPH, PhD
08.15 – 09.25 Wawancara pelaksanaan kegiatan surveilans, kendala serta usulan perbaikannya Moderator:
dr. Bernadeta Rachela
09.25 – 09.30 Penutup dr. Hardhantyo, MPH, PhD

 

 PESERTA

Dinas Kesehatan Provinsi :

  • Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
  • Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi
  • Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular

Dinas Kesehatan Kabupaten

  • Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
  • Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi
  • Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular

MATERI WAWANCARA

Detail pertanyaan terdapat dalam guideline, adapun informasi umum terkait materi wawancara seperti yang tertera dalam komponen dibawah ini.

  1. Secara umum mohon Bapak / Ibu dapat memberikan pandangan tentang apa saja program surveilans yang dikerjakan diwilayah Bapak / Ibu saat ini?
  2. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis kejadian mulai dari sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  3. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis indikator (SKDR) sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik.
  4. Mengetahui kendala dan saran perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR).5. Adakah kendala dalam pemakaian aplikasi / website pelaporan data surveilans, adakah integrasi data antara simpus dengan aplikasi / website
  5. Mohon memberikan input terkait program surveilans covid – 19 di wilayah Bapak / Ibu? Apa bagaimana proses pencatatannya, apa saja kendalanya, apakah terhubung dengan system informasi data milik pemerintah pusat secara langsung
  6. Bagaimana pengalokasian anggaran dan SDM dalam surveilans.
  7. Komponen apa yang dapat kita perbaiki bersama dalam waktu dekat. Apakah harapan terhadap system yang ada saat ini.

 

 

 

 

 

 

FGD BPBD

Kerangka Acuan Kegiatan

Focus Group Discussion Pelaksanaan Program Kesiapsiagaan dan Manajemen Penanganan Bencana Public Health di 5 Provinsi (Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua).

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 – 24 Desember 2020

  PENDAHULUAN

Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan /atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sebagain besar wilayah Indonesia merupakan perairan yang terdiri dari 17.508 pulau, dengan lima pulau besar. Bencana hidrometerologi sangat berpotensi terjadi dengan topografi yang beragam dan kompleks, berbukit bukit, banyak aliran sungai disertai pengaruh perubahan iklim. Posisi geografis Indonesia juga terletak diantara 3 lempeng besar dunia, yakni lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, lempeng Indo Australia. Sehingga secara geografi Indonesia juga rawan mengalami gempa tektonik maupun vulkanik. Berbagai latar belakang tersebut menyebabkan Indonesia sangat rawan terjadi bencana alam. Bencana alam secara mudahnya dapat diartikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.

Bencana sosial merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas dan teror. Keanekaragaman suku, budaya, serta jumlah penduduk sebesar 255.182.144 jiwa dengan luas wilayah daratan 1.910.931km2 yang sebagian besar tinggal di pulau Jawa (57%) sebagiannya lagi menyebar dari Sabang-Merauke, menurut Badan Pusat Statistik (2015). Menjadi faktor resiko terjadinya bencana sosial.

Hubungan dengan masyarakat global, pariwisata, pengembangan pusat pusat industri dan beberapa daerah yang memiliki penyakit endemis juga menyebabkan Indonesia mengalami kerentanan dalam hal bencana non alam. Jika diartikan bencana non alam merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam antara lain berupa gagal teknologim gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit. Hal ini tentunya masih dapat kita rasakan sampai saat ini, sebagai salah satu contoh yakni pandemi Covid 19 yang terjadi hampir setahun.

Berbagai potensi tersebut seolah seperti pisau bermata dua, dapat menguntungkan sekaligus merugikan. Merugikan karena bencana alam, non alam dan sosial rawan terjadi di Indonesia. Bencana non alam dibidang kesehatan masyarakat seperti kejadian luar biasa, wabah dan Pandemi Covid 19 yang berlangsung hampir satu tahun memang berdampak langsung pada sistem kesehatan. Namun bencana lain baik alam maupun sosial juga dapat berdampak pada sistem kesehatan atau yang sering disebut dengan krisis kesehatan. Krisis kesehatan yang terjadi diantaranya korban mati, korban luka, sakit, pengungsi, lumpuhnya pelayana kesehatan, penyakit menular, sanitasi lingkungan, gangguan jiwa, dan masalah kesehatan lainnya.

Sebagai salah satu lembaga bentukan pemerintah daerah yang diamanahi oleh Undang Undang No 24 Tahun 2007, BPBD menjadi lembaga yang memiliki dua unsur yakni pengarah penanggulangan bencana dan pelaksana penanggulangan bencana. Lembaga ini menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam penanggulangan bencana baik dalam situasi tidak terjadi bencana (pra), tanggap darurat (saat bencana) maupun setelah bencana(pasca), hal tersebut yang melatarbelakangi kami untuk melakukan focus group discussion untuk mengetahui kesiapan dan kendala yang dihadapi BPBD dalam menangani bencana alam, non alam dan sosial. Sehingga dapat membantu peningkatan kapasitas penanggulangan bencana yang mengacu pada sistem penanggulangan bencana nasional.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mengetahui mekanisme BPBD (Public Health Emergency Operation Center – PHEOC) dalam menangani bencana alam, sosial, dan terkhusus terkait bencana public health (krisis kesehatan, wabah penyakit, epidemi dan pandemi) dan kesiapan pencegahannya di masa mendatang.
  2. Mengetahui kendala dan saran perbaikan dalam pelaksanaan PHEOC

  TIM KERJA

  1. Core team :
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
    • Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Supporting team
    • Andriani, SE, MPH
    • Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH
    • dr. Bernadeta Rachela
    • dr. I Wayan Cahyadi
  3. Project Partner
    • Project HOPE

  JADWAL KEGIATAN

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
08.00 – 08.05 Pendahuluan Program INSPIRASI 2020 ~ 2025 dr. Hardhantyo, MPH, PhD
08.15 – 09.25 Wawancara pelaksanaan kegiatan surveilans, kendala serta usulan perbaikannya Eva Tirta Bayu, S.Kep, MPH, dan dr. I Wayan Cahyadi
09.25 – 09.30 Penutup dr. Hardhantyo, MPH, PhD

 

 PESERTA

  1. Tim BPBD Provinsi : Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua
  2. Tim BPBD Kabupaten Sulawesi Selatan

MATERI DISKUSI

  1. Secara umum mohon bapak/ibu dapat memberikan pandangan tentang managemen penanggulangan bencana alam dan non alam yang ada di Indonesia saat ini? Apakah sudah sesuai dengan undang-undang 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana
  2. bagaimana peran BPBD mulai pra bencana, adakah system yang disiapkan untuk kejadian bencana epidemi/pandemic? (Mengikuti siklus penanggulangan bencana : pencegahan, mitigasi, kesiapan, peringatan dini, tanggap darurat, pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi
  3. Mapping sumber daya yang dapat digunakan pada saat terjadi bencana.
  4. Prosedur koordinasi penanggulangan bencana public health bersama kementerian kesehatan, pembagian wilayah kerja
  5. Kegiatan drill emergency exercise persiapan pandemi / epidemi? 

 

 

 

 

 

 

 

Usage of current surveilans data for early outbreak

Kerangka Acuan Kegiatan

Workshop of current surveillance data for early outbreak detection
for Province Health Office and District Health Office (4 days)

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 Januari 2021

  PENDAHULUAN

………………………………….

 

 

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. ………………………………….

 

  PESERTA

  1. Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. UGM
  3. Project HOPE
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  5. Dinas Kesehatan Provinsi
  6. Dinas Kesehatan Kabupaten
  7. Peneliti dalam pusat penelitian
  8. Mahasiswa Program FETP, KMPK

  JADWAL KEGIATAN

Hari : Sabtu, 20 Februari 2021
Waktu : 09.00 – 11.30
Lokasi : 

 

Identifying and Investigating Outbreaks: The Basics

Learning about basic outbreaks. All the way through identifying the pathogens and figuring out what’s going on to reporting and responding to the outbreak. In doing so we’re going to learn several important epidemiological concepts.

What Is an Outbreak
Identify Cases
Describe the Outbreak by Person, Place, and Time
Identify and Characterize the Cause
Risk Factor Study in a Defined Population
Risk Factor Study in an Open Population
Intervene and Report
Practice : Case

Weighing Evidence and Identifying Causes

learning about how to ask precise epidemiologic questions and how to investigate these using important tools.
Introduction to Weighing Evidence and Identifying Causes
General Questions to Precise Hypotheses
Identifying Comparison Groups
Understanding Basic Statistical Tests
Practice : Case

Measure Epidemic Dynamic

Measures of Transmissibility: Attack Rates
Measures of Transmissibility: Reproductive Numbers
Natural History
Implications for Control
Summary of The Terrible Law: Basic Epidemic Dynamics
Practice : Case COVID 19