Safety Precautions for Seniors During the COVID-19 Pandemic

With the COVID-19 pandemic, there is a lot of uncertainty going on in the world, especially regarding what precautions seniors should take to keep them safe, such as a healthy planned lifestyle. Although anyone can get COVID-19, seniors are more susceptible to receiving the more serious end of the disease.

Continue reading

Lanjut Usia dan Gangguan Memori

Selama kurun waktu hampir lima dekade (1971-2019), persentase penduduk lanjut usia (lansia) Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat. Pada tahun 2019, persentase lansia mencapai 9,60% atau sekitar 25,64 juta orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang bertransisi menuju ke arah penuaan penduduk karena persentase penduduk berusia di atas 60 tahun mencapai di atas 7 persen dari keseluruhan penduduk dan akan menjadi negara dengan struktur penduduk tua (ageing population) jika sudah berada lebih dari 10 persen (Data BPS, 2019). Fenomena ini merupakan tantangan yang harus disikapi secara positif agar tercipta kelompok lansia yang bisa mandiri, berkualitas, dan tidak menjadi beban masyarakat.

Salah satu yang menjadi permasalahan lansia yakni adanya gangguan memori, yang merupakan salah satu hal penting untuk seseorang mampu belajar. Dengan belajar, seseorang dapat mengetahui bagaimana memberi respon yang sesuai pada saat yang tepat. Kemampuan memberi respon ini sangat erat kaitannya dengan keadaan memori, karena didalam memori tersimpan pengetahuan yang dipelajari dimasa lalu, bagaimana cara merespon setiap kejadian dalam kehidupan dan dapat dipanggil kembali sesuai kebutuhan. Keadaan memori berperan penting menentukan dan menjaga kualitas hidup seseorang. Minggu ini akan kami tampilkan artikel dan berita terkait dengan lanjut usia dan gangguan memori. Akan membahas mengenai tahapan dan macam-macam gangguan memori pada lansia dan faktor apa saja yang dapat mempengaruhi gangguan memori serta upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia di masa pandemi COVID-19.

 

 

Reportase Webinar Silaturahmi Aman Dimasa Pandemi COVID 19

PKMK-Yogyakarta, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DPPPAP2) DIY bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM telah menyelenggarakan webinar dan livestreaming dengan topik silaturahmi aman dimasa pandemi COVID 19. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut yakni GKBRAA Paku Alam selaku wakil ketua 1 TP PKK DIY, Ir. Agustina Erni, Msc selaku Deputi Kesetaraan Gender Kementerian PPPA serta dr. Bella Donna, M.Kes selaku Kepala Divisi. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM. Bertindak sebagai moderator yakni Desintha Dwi Asriani, MA, Ph.D yang merupakan dosen departemen sosiologi FISIPOL UGM.

Kesempatan pertama diberikan kepada GKBRAA Paku Alam dengan menyampaikan materi mengenai peran perempuan dalam pencegahan penyebaran COVID 19. Gusti Putri sebagaimana beliau biasa dipanggil menyampaikan bahwa dalam masa krisis saat ini seorang perempuan memiliki peran yang sangat penting baik dalam keluarga yakni sebagai pendidik pertama dalam mengajarkan PHBS (cuci tangan dengan sabun, memakai masker, physical distancing, makan bergizi, istirahat cukup, olah raga dan berjemur sinar matahari), mendampingi anak-anak saat belajar dari rumah, berkegiatan bersama di rumah (berkebun, memasak, menonton TV) untuk mengurangi kebosanan, mengedukasi keluarga tentang bahaya COVID 19, memenuhi kebutuhan psikis supaya tidak cemas, mengajarkan spiritualitas hingga sebagai penopang ekonomi keluarga.

Gusti Putri juga menyampaikan bahwa saat ini, selain peran perempuan dalam keluarga, terdapat juga peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, sebagaimana diketahui bahwa petugas yang berada di garda terdepan dalam penanganan COVID 19 sekitar 80% diantaranya merupakan perawat perempuan serta 50% adalah dokter perempuan, perempuan juga mampu mengawasi dan membantu memenuhi kebutuhan tetangga yang ODP dan melakukan isolasi mandiri, sebagai relawan di dapur umum maupun penggalangan dana, membuat dan mendistribusikan masker, hand sanitizer, dan mampu melakukan pendataan masyarakat terdampak, dapat memantau BLT dan bantuan lain agar tepat sasaran serta dapat mengedukasi masyarakat tentang pencegahan penyebaran COVID 19. Secara tegas disampaikan oleh Gusti Putri Pakualam bahwa model silaturahmi yang akan disampaikan oleh PKK kepada seluruh lapisan masyarakat adalah tetap di rumah (stay at home) untuk meminimalisir penyebaran virus.

Selanjutnya, pemaparan disampaikan oleh Ir. Agustina Erni, Msc mengenai strategi kementerian PPPA dalam memberdayakan perempuan sebagai agen perubahan, bahwa untuk meningkatkan peran perempuan maka kementerian PPPA berkolaborasi dengan kementerian lainnya yakni Kemensos, Kementerian KUKM, BKKBN, Kemendes dan Kementerian Dalam Negeri, Pemberian bantuan spesifik perempuan dan anak melalui dana dekon, serta kolaborasi dengan dunia usaha dan organisasi masyarakat, memberikan pelatihan online untuk perempuan pelaku ekonomi, memberikan edukasi tentang gizi keluarga khususnya bagi bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia bekerjasama dengan PERSAGI, Pelayanan bagi korban kekerasan melalui sinergi Program Sejiwa (Sehat Jiwa) serta pendidikan masyarakat untuk membangun komunikasi dengan pasangan (berbagi pengalaman perempuan dan laki-laki).

Disampaikan pula bahwa Isu-isu perempuan dan anak sifatnya selalu lintas sektoral, sehingga intervensi yang tepat sasaran dan efektif hanya dapat dilakukan dengan kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha, media, perguruan tinggi maupun masyarakat. Ditekankan pula oleh Ibu Erni bahwa untuk perempuan pelaku ekonomi dampaknya sangat luar biasa sehingga KPPPA meningkatkan peran perempuan dalam mengakses pelatihan online. Untuk dapat mengakses pelatihan online maka terlebih dahulu membutuhkan data siapa yang berminat dan jenis pelatihan macam apa yang dibutuhkan di wilayah masing-masing, biasanya bersifat lokal spesifik, nantinya berkoordinasi dengan KPPPA dan akan dikoordinir oleh dinas pemberdayaan perempuan setempat.

Berikutnya dr. Bella Donna, M.Kes menyampaikan materi mengenai waspada penyebaran COVID 19 di hari idul fitri, pemaparan dimulai dengan kembali mengedukasi mengenai apa itu virus korona hingga protokol kesehatan yang harus diterapkan. dr Bella memberi singkatan protokol kesehatan dengan CITA KERJA (cuci tangan dengan sabun, cuci tangan dengan sanitizer, pakai masker dan jaga jarak 1-2m). Kemudian disampaikan pula bahwa untuk menekan penyebaran COVID-19 dapat dilakukan dengan meminimalkan resiko dengan meningkatkan kapasitas melalui individual (knowledge behavior), family support, community (organisasi, gotong royong), hospital (incident management system) maupun pemerintah (regulator, koordinasi). Jika kapasitasnya kuat yang dimulai dari keluarga maka resiko juga akan menjadi rendah hingga pada level di masyarakat.

Bella Donna juga tidak lupa memberikan cara aman di hari raya idul fitri baik di masa new normal. Ditegaskan bahwa saat ini kita sudah mulai berjalan pada masa new normal atau normal yang baru, dimana vaksin belum ditemukan dan selama vaksin belum ditemukan maka kita semua belum bisa dikatakan aman sehingga penting untuk tetap menerapkan protokol kesehatan CITA KERJA baik pada saat pemberian zakat yakni dengan tetap hindari keramaian, dapat dilakukan dengan belanja zakat lewat online, atur pemberian zakat dengan penjadualan, layanan jemput zakat, menyediakan layanan transfer zakat. Pelaksanaan sholat ied dengan tetap menghindari kerumunan dan diatur jarak jika tetap dilaksanakan, bisa diatur per RT. Selanjutnya, saling kunjung dapat dilakukan dengan membuat jadwal kunjung misalnya untuk 1-10 orang dengan diberi jarak dan menggunakan masker namun apakah ini bisa berjalan disiplin?

Diakhir sesi, moderator membuka sesi diskusi yang ditanggapi dengan antusias oleh semua peserta yang hadir secara online, semua narasumber menyampaikan pandangannya terhadap pertanyaan yang disampaikan oleh peserta dari sudut pandang masing-masing. Di akhir diskusi Bella juga menuturkan diluar dari upaya-upaya yang dapat dilakukan, akan lebih baik jika semua lapisan masyarakat untuk tetap di rumah (stay at home) dan manfaatkan silaturahmi daring, hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Gusti Putri untuk tetap di rumah dimasa pandemi COVID-19 dengan taati pemerintah, ikuti protokol kesehatan, sayangi keluarga dengan jangan jadikan OTG/Carier, sabar melewati situasi dengan disiplin serta berdoa bersama keluarga dan hadapi new normal menuju ke situasi sehari-hari dengan keadaan yang berbeda serta membuat inovasi dan kreatifitas dalam menyongsong kehidupan baru.

materi silhakan klik disini

Reporter
Andriani Yulianti, MPH (Divisi Manajemen Mutu, PKMK FKKMK UGM)

 

Epidemiolog Ingatkan Lonjakan Pandemi Corona Saat Lebaran

CNN Indonesia — Epidemiolog dan Biostatistik Universitas Indonesia, Pandu Riono mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk mewaspadai lonjakan penyebaran virus corona (Covid-19) saat Hari Raya Idulfitri atau Lebaran. “Yang perlu kita perhatikan adalah kewaspadaan pada hari raya Idulfitri karena penduduk melakukan silaturahmi keluar rumah,” ujarnya dalam video conference, Rabu (20/5).

Continue reading

Silaturahmi Aman Dimasa Pandemi COVID-19

Silaturahmi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Menjalin interaksi dengan orang lain dapat menimbulkan rasa aman dan bahagia. Namun, saat wabah COVID-19, setiap orang diwajibkan untuk menjalankan protokol kesehatan yakni salah satunya dengan menjaga jarak atau physical distancing untuk mengurangi penyebaran virus. Menekan penyebaran COVID-19 dapat dilakukan dengan meminimalkan resiko dengan meningkatkan kapasitas melalui individual (knowledge behavior), family support, community (organisasi, gotong royong), hospital (incident management system) maupun pemerintah (regulator, koordinasi). Jika kapasitas seseorang kuat yang dimulai dari level keluarga maka resiko juga akan menjadi rendah hingga pada level di masyarakat, bangsa dan negara.

Minggu ini akan kami tampilkan artikel dan berita terkait dengan silaturahmi aman dimasa pandemi COVID-19. Hal-hal apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh keluarga yang merupakan unit terkecil dalam komponen masyarakat dan merupakan tempat paling utama bagi proses pendidikan dalam pencegahan penyebaran COVID-19, terlebih melihat peran perempuan sebagai benteng utama dalam keluarga.

Strategi Untuk Mengalokasikan Persediaan Ventilator ke Fasilitas Kesehatan


(iStockphoto/ugurhan)

Selama keadaan darurat kesehatan masyarakat berskala besar yang melibatkan penyakit pernapasan seperti COVID-19, di negara bagian, persediaan ventilator lokal harus dikerahkan dengan cara yang mengoptimalkan efektivitas, efisiensi, dan kesetaraan sumber daya yang langka ini. Keputusan tentang alokasi ventilator yang disediakan untuk fasilitas harus didasarkan pada beberapa faktor, termasuk: 

  • Penilaian kebutuhan
  • Penentuan kemampuan fasilitas untuk menyerap ventilator tambahan
  • Pertimbangan etis untuk menginformasikan bagaimana sumber daya yang langka ini disediakan untuk fasilitas untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa
  • Masukan dari pimpinan negara bagian dan lokal, pakar hukum dan etika, dan pemangku kepentingan yang terinformasi.

Perencana negara bagian dan lokal dapat menggunakan strategi dalam panduan ini untuk membantu mereka ketika mengalokasikan ventilator dari stok kesehatan masyarakat ke rumah sakit dan fasilitas lainnya selama pandemi.

Penilaian kebutuhan:

  • Gunakan data pengawasan yang tersedia untuk memprediksi jumlah ventilator yang dibutuhkan 2
    • Pertumbuhan jumlah kasus harian (meningkat, stabil, menurun)
    • Jumlah rawat inap
    • Persentase rawat inap dengan penyakit kritis yang membutuhkan perawatan kritis
    • Persentase pasien sakit kritis yang membutuhkan dukungan ventilasi
  • Nilai jumlah ventilator yang tersedia saat ini untuk digunakan oleh setiap fasilitas
    • Ventilator saat ini tidak digunakan atau dalam penyimpanan
    • Ventilator diharapkan tersedia dari kontrak lonjakan atau kesepakatan bersama
    • Ventilator digunakan yang mungkin tersedia untuk digunakan di masa depan

Kemampuan fasilitas untuk menyerap ventilator tambahan:

  • Identifikasi fasilitas yang mungkin memiliki kapasitas untuk merawat pasien yang sakit kritis yang membutuhkan ventilasi mekanik (dari penilaian sebelumnya atau saat ini).
  • Hitung jumlah ventilator tambahan yang dapat diserap setiap fasilitas secara realistis.
    • Mendasarkan perkiraan ini pada staf yang cukup terlatih dan berkualitas, ruang, dan peralatan yang diperlukan yang diperlukan untuk merawat pasien tambahan pada ventilasi mekanis. 3
  • Tentukan ukuran populasi yang setiap rumah sakit layani dan nilai kapasitas setiap fasilitas untuk melayani populasi yang rentan dan berisiko tinggi di area ini.
  • Pertimbangkan apakah setiap rumah sakit berfungsi sebagai rumah sakit rujukan / rumah sakit regional atau melayani daerah dengan kepadatan populasi tinggi, daerah pedesaan, atau populasi yang kurang terlayani.

Pertimbangan etis untuk menginformasikan alokasi ventilator: 

  • Gunakan prinsip etis untuk memandu pengembangan dan implementasi rencana alokasi ventilator.
    • Apakah rencana alokasi akan menggunakan sumber daya yang langka dengan cara yang akan menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa? 5
    • Apakah rencana alokasi menerapkan kriteria secara konsisten di semua rumah sakit / fasilitas di yurisdiksi?
    • Jika ventilator tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang akan mendapat manfaat dari mereka, apa rencana untuk menyediakan perawatan bagi pasien yang tidak dapat mengaksesnya?
    • Apakah rencana tersebut mencakup cara-cara yang secara jelas dan transparan mengomunikasikan kerangka kerja untuk keputusan alokasi kepada pimpinan fasilitas, pemangku kepentingan, dan kepada masyarakat umum?

Kembangkan rencana untuk masalah logistik untuk distribusi:

  • Buat rencana distribusi dengan asumsi bahwa begitu ventilator telah dialokasikan ke fasilitas, mereka tidak mungkin dialokasikan kembali.
  • Pastikan ventilator yang disediakan secara lokal siap untuk dioperasikan.

References:

  1. Koonin LM, Pillai S, Kahn EB, Moulia D, Patel A. Strategies to inform allocation of stockpiled ventilators to healthcare facilities during a pandemic. Health Secur. 2020;18(2).
  2. Ajao A, Nystrom SV, Koonin LM, Patel A, Howell DR, Baccam P, et al. Assessing the capacity of the US health care system to use additional mechanical ventilators during a large-scale public health emergency. Disaster Med Public Health Prep. 2015;9(6):634-41.
  3. Zaza S, Koonin LM, Ajao A, Nystrom SV, Branson R, Patel A, et al. A conceptual framework for allocation of federally stockpiled ventilators during large-scale public health emergencies. Health Secur.2016;14(1):1-6.
  4. Centers for Disease Control and Prevention; Ventilator Document Workgroup, Ethics Subcommittee of the Advisory Committee to the Director. Ethical considerations for decision making regarding allocation of mechanical ventilators during a severe influenza pandemic or other public health emergency, 2011. Atlanta, GA; 2011.
  5. Institute of Medicine Committee on Guidance for Establishing Standards of Care for Use in Disaster Situations. Guidance for establishing crisis standards of care for use in disaster situations: a letter report. Washington DC: National Academies Press (US); 2009.
  6. krisis untuk digunakan dalam situasi bencana: laporan surat. Washington DC: National Academies Press (AS); 2009

Sumber: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/ppe-strategy/ventilators.html 

 

 

Reportase Bimbingan Teknis Online Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Clinical Pathway

fotobimtekcp

Pandemi bukan menjadi masa berhenti belajar. Semangat inilah yang diusung oleh Divisi Manajemen Mutu – PKMK FK KMK UGM untuk tetap menyelenggarakan pelatihan terkait peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Pelatihan diselenggarakan dalam bentuk online melalui aplikasi webex. Salah satu pelatihan online yang diselenggarakan adalah Bimbingan Teknis Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Clinical Pathway. Bimbingan teknis (Bimtek) ini dilaksanakan pada 4 – 8 Mei 2020, pukul 09.00 – 12.00 WIB setiap hari. Narasumber utama dalam Bimtek ini adalah Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua dengan fasilitator drg. Puti Aulia Rahma, MPH, CFE.

Continue reading

MDR TB versus Virus Corona: Peringatan Hari Tuberculosis Sedunia

Wabah corona virus (covid-19) saat ini menjadi perhatian seluruh dunia karena dampak yang ditimbulkan dan berpengaruhnya segala bidang karena penyebaran virus tersebut. Namun terdapat hal yang harus kita ingat kembali, bahwa masih terdapat ‘bahaya’ penyakit lain yang tidak kalah luarbiasa akibatnya apabila tidak kita tangani dengan baik. Penyebaran virus corona memang sangat menakutkan bagi berbagai pihak, namun sebenarnya yang tak kalah mengkhawatirkan bagi kita semua adalah apabila juga terjadi MDR TB (Multi Drugs Resistance Tuberculosis) di tengah-tengah kita. Untuk itu pada peringatan World TB Day di tanggal 24 Maret 2020 ini, kembali kita diajak untuk waspada terhadap penyebaran penyakit tuberculosis ini, terlebih apabila sampai terjadi MDR TB, karena menurut WHO, TBC masih menjadi salah satu dari 12 penyakit paling mematikan di dunia.

Upaya ‘memerangi’ penyakit TBC ini menjadi tugas bersama, khususnya bagi Indonesia, karena berdasarkan data WHO per 2018, Indonesia merupakan negara dengan beban TBC terbesar ketiga di dunia (https://www.who.int/news-room/facts-in-pictures/detail/tuberculosis). Diharapkan seiring waktu, angka tersebut dapat menurun dan upaya ‘memerangi’ penyebaran penyakit TBC ini dapat berhasil signifikan. Bertepatan dengan peringatan Hari Tuberculosis Sedunia setiap tanggal 24 Maret, selain membahas berbagai isu penting, diantaranya wabah virus corona ini, website www.mutupelayanankesehatan.net akan menampilkan berbagai artikel, berita, dan perkembangan terkini terkait tata kelola penyakit tuberculosis (TBC).

Merindukan Kehangatan Suasana Rumah Sakit

Selamat Hari Kartini untuk seluruh perawat perempuan di Indonesia. Semoga tulisan ini menyemangati.

Yth seluruh keluarga besar ruang isolasi Melati M5, RSUP Dr. Sardjito

Assalamu’alaikum wr wb,

Saya Uut (Adi Utarini), yang dirawat 19 hari di kamar B2, Melati M5. Saya dirawat mulai tanggal 28 Maret-15 April 2020. Saya mulai menjalani isolasi disana 3 hari setelah suami saya meninggal karena Covid (Iwan Dwiprahasto).

Alhamdulillah selama dirawat disana, banyak sekali pengalaman yang saya peroleh, baik fisik, mental, maupun yang terpenting adalah pembelajaran spiritual. Saya banyak diberi kemudahan oleh Allah SWT. Saya banyak dimudahkan melalui dr. Ika, para dokter spesialis, dokter jaga, residen penyakit dalam-THT, dan terutama seluruh perawat yang tulus memperhatikan kesehatan saya dalam kesehariannya.

Kalau mengingat masa isolasi kemarin, ada hal-hal yang saya rindukan juga ketika saya kembali ke rumah. Ada hal-hal rutin yang memberikan kebahagiaan bagi saya disana. Momen yang membahagiakan itu terutama adalah ketika mbak-mbak perawat masuk ke ruangan saya (maafkan saya yang tidak menyebutkan nama). Bukan hanya karena apa yg mereka lakukan untuk kesehatan saya, tetapi lebih dari itu. Saya merindukan sapaan mereka yang selalu ceria. Saya selalu menantikan obrolan singkat setiap pagi, siang dan sore. Sekalipun singkat, tapi itu sungguh-sungguh berarti untuk saya.

“Selamat pagi… ada keluhan apa prof…”. Nadanya sangat riang, menyemangati. Air panas untuk mandi yang mereka sediakan, sungguh menghangatkan hati saya. Begitu pula petugas cleaning service yang membuat kamar mandi saya wangi setiap hari dan lantai kamar saya licin, dibersihkan 2x sehari. Tanpa mereka, saya tidak akan dapat bertahan sesabar ini di M5.

Dibalik itu saya sering merenung, betapa besar pengorbanan mereka untuk orang-orang seperti saya. Mereka mempertaruhkan nyawanya (dan juga keluarganya yang berinteraksi dengan mereka) demi orang-orang yang tidak mereka kenal, yang tidak pernah berbuat apapun untuk hidup mereka. Mereka pasti orang-orang yang diberi kelebihan dan kekuatan oleh Allah SWT. Subhanallah.. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari mara bahaya yang setiap hari mengintai. Berilah mereka kekuatan iman, kesehatan, keikhlasan, ketenangan agar mereka tidak merasa takut, tidak merasa sedih/khawatir, agar mereka senantiasa sehat, bersemangat untuk melakukan pengabdiannya. Lindungi pula keluarga mereka Ya Allah.

Kerinduan yang lain adalah suara ghoib berupa adzan yang terus menerus berkumandang di setiap malam. Adzan itulah yang menenangkan saya, menemani saya melewati malam hingga pagi. Jam berapapun saya terbangun, selalu ada suara adzan itu. Pasti Allah mengirimkannya untuk menguatkan saya. Saya merindukannya.

Begitu pula dokter jaga dan residen penyakit dalam, THT, dr Agus Surono, dr Lusi yang pernah mampir/berkomunikasi ke ruangan saya. Sekalipun singkat interaksinya, tapi sangat bernilai untuk saya yang “sendiri” menjalani masa isolasi ini. Khusus Dr Agnes, trimakasih sudah berkenalan di Instagram dan kemudian bertemu beberapa jam sebelum saya pulang. Maafkan perilaku dan perkataan saya yang tidak berkenan selama menjadi pasien. Ada masa-masa berat dan masa-masa yang lebih stabil selama saya disana. Semoga semuanya tetap sehat, ikhlas, bersemangat menjalani hari-hari di Sardjito sampai dengan lulus pendidikan spesialis (bagi residen). Yakinlah bahwa kita semua ini sedang diberikan kelebihan dengan menjalani proses seperti ini di masa-masa yang tidak mudah ini. Dibalik musibah, selalu ada banyak rencana baik yang akan Tuhan berikan. Insya allah. Amin.

Untuk dr Ika, dokter spesialis Paru, dokter yang merawat saya, yang baik hati, cantik dan ceria. Saya sering rindu dengan Dr ika setelah kembali ke rumah. Saya tidak akan pernah lupa kiriman telur rebus, telur ceplok, dan popcornnya. Itu telur ceplok paling enak sedunia hahaha. Popcorn sengaja saya simpan, supaya bisa dinikmati berdua dengan Putri, anak saya. Sekarang sudah ludes bu.. ? Kastengelsnya dr Ida crispy banget, terus saya pakai untuk melatih disiplin diri sendiri. Setiap hari hanya boleh makan dua ?.

Saya juga ingin berterimakasih ke tim Gizi rumah sakit. Saya sering pamer makanan rumah sakit yang saya habiskan, ludes des. Bahkan sampai di rumah, saya masih disangoni 1 kotak, yang juga saya habiskan di rumah. Setiap hari makanan saya bukan hanya bergizi, tetapi mewah, dengan nasi yang dibentuk seperti bunga mawar, 3 macam lauk, sayur dan sup. Belum lagi susu dan snack, 2x sehari. Saya kadang merasa seperti saya sedang indekos di tempat yang mewah. Masya allah.. Dan luar biasanya, sampai di rumah berat badan saya tidak bertambah ?.

Yang saya hormati Pak dr Rukmono, Dirut Sardjito. Di hari pak Rukmono dilantik, saya mengirimkan WA (WhatsApp) gurauan. Isinya kurang lebih, kalau sudah dilantik, mbok ya saya dipulangkan. Alhamdulillah Allah mendengarnya. Saya betul-betul boleh pulang keesokan harinya. Terimakasih kiriman kue bakpia, air putih dan roti untuk saya. Semoga pak rukmono selalu dimudahkan dalam menjalankan amanah di Sardjito bersama seluruh tim manajemen.

Hari-hari terberat sudah saya lalui. Saya ditemani dr Kalkarina, dr Juvan, dr Gani, dr Gunawan, seluruh residen anestesi dan tim perawat di ICU, tim Forensik, dan seluruh tim manajemen Sardjito sampai dengan pemakaman mas Iwan. Saya tidak mampu menyebutkannya satu persatu. Terimakasih yang setulusnya. Allah Maha Tahu yang terbaik untuk mas Iwan. Ini sudah suratan takdirnya.

Doa saya untuk seluruh tim di ICU, Melati M5, perawat di Ayodya, tim Forensik dan tim manajemen rumah sakit dan semua pihak yang tidak mampu saya sebutkan. Allah Maha Tahu dan mencatat apa yang dikerjakan hambanya setiap harinya dan Allah akan membalasnya dengan menjaga bapak ibu semua dengan rahmat dan berkahnya.

Tetap bersemangat ya.. ?
Saya juga akan berusaha bersemangat menjalani hari-hari saya ke depan. Insya allah kita semua dimudahkanNya.

Wassalaamu’alaikum wr wb
Salam hangat, Uut.

Diambil dari Diary saya, 2020