Improving Patient Safety in Hospitals as They Reopen Post-COVID-19

To say that the coronavirus pandemic will change the world is an understatement. It can never be stressed enough as to how much it has and will continue to impact our lives. After lockdowns were implemented for months to reduce the cases of infections, states are opening up slowly with precautions still in place. The US healthcare system is no exception – some providers are planning to open up while shuttered hospitals are planning to reopen due to the coronavirus.

Continue reading

Forum Diskusi Mutu Pelayanan Kesehatan On-line

Kerangka Acuan

Forum Diskusi
Mutu Pelayanan Kesehatan

Rabu 24 Juni 2020  |  Pukul 13.00 – 15.00 Wib

 

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM

bekerjasama dengan

Direktorat Mutu dan Akreditasi Kementerian Kesehatan RI, dan

Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN)

Menyelenggarakan Forum Diskusi Mutu Pelayanan Kesehatan Seri I dengan topik:

Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan dalam Pandemi COVID-19

  Latar Belakang

Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2019 mengeluarkan konsep untuk mewujudkan layanan kesehatan yang efektif, aman, berfokus pada individu, tepat waktu, efisien, adil, dan terintegrasi bagi individu dan populasi sesuai standar, perkembangan ilmu pengetahuan terkini, serta memperhatikan hak dan keterlibatan pasien – masyarakat yang dapat meningkatkan luaran kesehatan yang optimal. WHO merekomendasikan setiap negara untuk National Quality Policy and Strategy (NQPS).

Berdasarkan pedoman tersebut, saat ini Indonesia sudah selesai menyusun Kebijakan dan Strategi Nasional Mutu (KSNM) Pelayanan Kesehatan Indonesia sebagai kerangka penerapan berbagai upaya perbaikan mutu di tingkat pusat dan daerah. Penerapan kerangka ini membutuhkan peran kuat dari pemerintah pusat dan daerah yang sudah dikelompokkan dalam 7 strategi yang terbagi dalam 4 strategi umum dan 3 strategi fungsional.

Bertepatan dengan akan diterbitkannya kebijakan dan strategi tersebut, Indonesia dan seluruh negara di dunia menghadapi Pandemi Covid-19, sehingga diperlukan pembahasan tambahan apakah KSNM/NQPS yang telah disusun secara kontekstual juga sesuai dalam kondisi menghadapi pandemi sebuah penyakit.

  Tujuan

Forum Diskusi Mutu Pelayanan Kesehatan on-line seri I ini bertujuan untuk membahas berbagai aspek mutu pelayanan kesehatan terkait dengan pelayanan kesehatan dalam Pandemi Covid-19

  Tempat & Waktu

Kegiatan akan dilakukan secara online, manggunakan aplikasi Zoom Meeting

Hari, tanggal : Rabu, 24 Juni 2020
Waktu           : 13.00 – 15.00 WIB 

  Narasumber & Pembahas

Narasumber: drg. Farichah Hanum, M.Kes: Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Pembahas: Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua, Konsultan Manajemen Mutu PKMK UGM, Ketua IHQN

  Kontak

Maria Lelyana
Mobile 081329760006
lelyana.pkmk@gmail.com

  

Kegiatan akan dilakukan secara online, manggunakan aplikasi Zoom Meeting

Hari, tanggal: Rabu, 24 Juni 2020

Waktu: 13.00 – 15.00 WIB

Zoom Meeting ID: 814 2701 2832, Password: 449184

Investigasi Kasus dan Penelusuran Kontak: Bagian dari Pendekatan Multiguna untuk Memerangi Pandemi COVID-19

Berikut ini menyoroti prinsip-prinsip dasar penyelidikan kasus dan pelacakan kontak untuk menghentikan transmisi COVID-19.

Investigasi kasus dan penelusuran kontak, merupakan tindakan yang penting dalam pengendalian penyakit yang dapat dilakukan oleh personel pelayanan/departemen kesehatan setempat, dan merupakan strategi yang penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut COVID-19. Diperlukan tindakan segera. Masyarakat harus meningkatkan kemampuan yang besar dan bekerjasama dengan lintas lembaga publik dan swasta untuk menghentikan transmisi COVID-19.

Prinsip-prinsip utama dari investigasi kasus dan penelusuran kontak yang harus selalu dipatuhi:

  • Investigasi kasus adalah bagian dari proses yang mendukung pasien dengan yang dicurigai atau dikonfirmasi terinfeksi
  • Dalam investigasi kasus, staf kesehatan masyarakat bekerja dengan seorang pasien untuk membantu mereka mengingat kembali semua orang yang pernah berhubungan dekat dengan mereka selama jangka waktu sementara dan mereka mungkin telah menular.
  • Staf kesehatan publik kemudian mulai melacak kontak dengan memperingatkan orang-orang yang terpapar ini (kontak) dari potensi paparan mereka secepat dan sesensitif mungkin.
  • Untuk melindungi privasi pasien, kontak hanya diberitahu bahwa mereka mungkin telah terpapar pasien dengan infeksi. Mereka tidak diberi tahu identitas pasien yang mungkin telah mengungkapnya.
  • Kontak disediakan dengan pendidikan, informasi, dan dukungan untuk memahami risiko mereka, apa yang harus mereka lakukan untuk memisahkan diri dari orang lain yang tidak terpapar, memantau diri mereka sendiri terhadap penyakit, dan kemungkinan bahwa mereka dapat menyebarkan infeksi kepada orang lain walaupun mereka sendiri tidak merasa sakit.
  • Kontak didorong untuk tinggal di rumah dan menjaga jarak sosial dari orang lain (setidaknya 6 kaki) sampai 14 hari setelah paparan terakhir mereka, jika mereka juga menjadi sakit. Mereka harus memantau diri mereka sendiri dengan memeriksa suhunya dua kali sehari dan memperhatikan batuk atau sesak napas. Sedapat mungkin, staf kesehatan masyarakat harus memeriksa kontak untuk memastikan mereka melakukan pemantauan sendiri dan belum mengalami gejala. Kontak yang mengalami gejala harus segera mengisolasi diri mereka dan memberi tahu staf kesehatan masyarakat. Mereka harus segera dievaluasi untuk infeksi maupun untuk kebutuhan perawatan medis.

Investigasi kasus dan penelusuran kontak adalah keterampilan khusus. Agar dapat dilakukan secara efektif, diperlukan orang dengan pelatihan, pengawasan, dan akses ke dukungan sosial dan medis baik untuk pasien maupun yang pernah kontak.

Berikut ini termasuk pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk penyelidik kasus dan pelacak kontak, tetapi tidak terbatas pada:

  • Pemahaman tentang kerahasiaan pasien, termasuk kemampuan untuk melakukan wawancara tanpa melanggar kerahasiaan (misalnya, bagi mereka yang mungkin mendengar percakapan mereka)
  • Memahami istilah medis dan prinsip paparan, infeksi, masa infeksi, interaksi yang berpotensi menular, gejala penyakit, infeksi pra-gejala dan infeksi tanpa gejala
  • Keterampilan interpersonal, kepekaan budaya, dan wawancara yang unggul dan peka sehingga mereka dapat membangun dan memelihara kepercayaan dengan pasien dan kontak
  • Diperlukan keterampilan dasar dari konseling krisis, dan kemampuan untuk merujuk pasien dan kontak dengan percaya diri untuk perawatan lebih lanjut.
  • Keahlian dalam menemukan pasien dan kontak yang mungkin sulit dijangkau atau enggan terlibat dalam percakapan
  • Memahami situasi kapan harus merujuk individu ke pengobatan, sosial, ataupun kapan harus kontrol
  • Memiliki kompetensi budaya sesuai dengan budaya masyarakat setempat

Investigasi kasus dan pelacakan kontak adalah bagian dari proses mendukung pasien dan memperingatkan kontak kontak untuk menghentikan rantai penularan.

Mengingat besarnya kasus COVID-19 dan rencana untuk melonggarkan upaya mitigasi seperti tinggal di rumah dan menjaga jarak sosial, masyarakat membutuhkan sejumlah besar penyelidik kasus terlatih dan pelacak kontak. Penyelidik kasus perlu mencari dan berbicara dengan pasien dengan cepat, membantu mengatur agar pasien mengisolasi diri mereka sendiri, dan bekerja dengan pasien untuk mengidentifikasi orang-orang yang kontaknya dekat dengan pasien sehingga pelacak kontak dapat menemukan mereka. Jumlah aktual staf yang dibutuhkan cukup besar dan bervariasi tergantung pada sejumlah faktor termasuk beberapa hal di bawah ini, tetapi tidak terbatas pada:

  • Jumlah kasus harian
  • Jumlah kontak yang diidentifikasi
  • Seberapa cepat pasien diisolasi, dan kontak diberitahu dan disarankan untuk tinggal di rumah, memonitor diri, dan menjaga jarak sosial dari orang lain

Sekarang waktunya untuk mulai membangun tenaga kerja terlatih.

Waktu adalah esensi.

Mengidentifikasi kontak dan memastikan mereka tidak berinteraksi dengan orang lain sangat penting untuk melindungi komunitas dari penyebaran lebih lanjut. Jika komunitas tidak dapat mengisolasi pasien secara efektif dan memastikan kontak dapat memisahkan diri dari yang lain, penyebaran COVID-19 yang cepat di masyarakat cenderung meningkat ke titik di mana diperlukan strategi mitigasi yang ketat untuk mengendalikan virus.

Investigator kasus dan pelacak kontak perlu beberapa hal di bawah ini:

  • Segera mengidentifikasi dan mewawancarai orang-orang dengan infeksi SARS CoV-2 dan COVID-19
  • Mendukung isolasi mereka yang terinfeksi
  • Memperingatkan kontak dari paparan mereka, menilai gejala dan risiko mereka, dan memberikan instruksi untuk langkah selanjutnya
  • Hubungkan mereka yang memiliki gejala dengan tes dan pelayanan

Berdasarkan pengetahuan kami saat ini, kontak dekat adalah seseorang yang berada dalam jarak 6 kaki dari orang yang terinfeksi selama setidaknya 15 menit mulai dari 48 jam sebelum timbulnya penyakit sampai waktu pasien diisolasi. Mereka harus tinggal di rumah, menjaga jarak sosial, dan memantau diri sendiri hingga 14 hari sejak tanggal paparan terakhir.

Investigasi kasus dan pelacakan kontak di fasilitas pelayanan, dan lainnya terkait pengaturan tempat tinggal dan rumah tangga dengan banyak orang yang tinggal dan berkumpul di satu rumah adalah prioritas.

Investigasi kasus dan pelacakan kontak dengan COVID-19 berpotensi terpapar di tempat kerja dan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan, tempat tinggal atau perumahan sangat komplek dengan banyak didalamnya. Direkomendasikan keterlibatan yang tepat dengan pengendalian infeksi dan program kesehatan kerja. Pengaturan prioritas termasuk;

  • Fasilitas pelayanan kesehatan termasuk fasilitas pelayanan jangka panjang
  • Papapn / kelompok rumah
  • Tempat penampungan tunawisma
  • Fasilitas fasilitas pemasyarakatan
  • Perumahan padat multigenerasi

Selain pekerja pelayanan kesehatan, penting untuk menilai interaksi antara penduduk dan semua staf, termasuk tetapi tidak terbatas pada koordinator kegiatan, staf layanan makanan, dan manajemen sanitasi. Rencana manajemen kasus transisi harus dibuat untuk pasien dalam isolasi dan kontak yang terpisah untuk pemantauan. Rencana manajemen juga harus dibuat untuk transisi dari satu pengaturan ke pengaturan lain, seperti transisi dari rumah sakit ke fasilitas pelayanan akut atau jangka panjang atau isolasi rumah, atau dari penjara dan penjara ke pembebasan bersyarat dan masa percobaan.

Layanan sosial dan keadaan rumah akan diperlukan untuk kontak yang tidak dapat memisahkan diri dari orang lain dalam situasi kehidupan mereka saat ini.

Memisahkan kontak dari orang yang tidak terpapar sangat penting untuk keberhasilan upaya pelacakan kontak dan memerlukan dukungan sosial untuk kepatuhan individu dan pemantauan medis. Yang pertama dan terpenting adalah penilaian kemampuan individu untuk tinggal di rumah dan menjaga jarak sosial dari orang lain, lingkungan yang aman yang menyediakan dukungan yang diperlukan (kamar dan kamar mandi pribadi, makanan dan air yang memadai, dan akses ke obat-obatan) dan kemampuan untuk berlatih secara memadai terkait pengendalian infeksi. Untuk sebagian dari populasi AS ini akan menjadi tantangan, terutama untuk beberapa populasi yang paling rentan .

Layanan pendukung perlu dipertimbangkan termasuk rumah, makanan, obat-obatan, dan dukungan ekonomi. Untuk kontak tanpa penyedia layanan primer, hubungan dengan pelayanan klinis mungkin diperlukan. Dukungan untuk pemantauan medis termasuk paket perawatan pasien (misalnya, termometer, pembersih, masker, sarung tangan) dan dukungan teknologi untuk pemantauan medis (misalnya, aplikasi ponsel). Jika memungkinkan, kontak harus diminta untuk secara sukarela tinggal di rumah, memantau diri mereka sendiri, dan menjaga jarak sosial dari orang lain. Namun, departemen kesehatan memiliki wewenang untuk mengeluarkan perintah hukum karantina, jika situasinya menjamin hal itu.

Komunikasi dengan publik sangat penting.

Keterlibatan publik dengan penyelidik kasus dan pelacak kontak harus diterima secara luas untuk melindungi teman, keluarga, dan anggota masyarakat dari kemungkinan infeksi di masa mendatang. Pejabat publik dan tokoh masyarakat perlu dilibatkan dan mendukung penyelidikan kasus dan upaya pelacakan kontak. Pertimbangkan untuk menghubungi pemimpin masyarakat sebagai bagian dari investigasi kasusdi tingkat lingkungan dan tim penelusuran kontak. Untuk menjadi sukses, suatu komunitas akan membutuhkan kesadaran publik, dan pemahaman dan penerimaan investigasi kasus dan pelacakan kontak dan kebutuhan untuk kontak dapat memisahkan diri dari orang lain yang tidak terpapar. Anggota masyarakat perlu bertanggung jawab untuk mengikuti panduan dari badan kesehatan masyarakat.

Diperlukan manajemen data dan teknologi

Investigasi kasus, pelacakan kontak, dan tindak lanjut kontak serta pemantauan perlu dihubungkan dengan pengujian tepat waktu, layanan klinis, dan sistem manajemen data yang gesit untuk memfasilitasi transmisi elektronik real-time dari laboratorium dan data kasus untuk tindakan kesehatan masyarakat. Mitra teknologi adalah kunci dalam memodifikasi pengembangan sistem yang ada untuk pengguna baru data yang mudah digunakan untuk mengelola beberapa aliran data dengan interoperabilitas yang mulus. Perangkat manajemen kasus dapat membantu mengotomatiskan bagian-bagian penting dari penyelidikan kasus dan proses pelacakan kontak, menjadikan proses keseluruhan lebih efisien. Idealnya, sistem data juga akan mencakup laporan otomatis untuk membantu memantau kemajuan dan hasil investigasi kasus dan pelacakan kontak. Perjanjian berbagi data antara lokal dan nasional,dan yurisdiksi federal perlu dibentuk atau ditambah untuk memastikan pengumpulan dan pembagian data yang tepat waktu dan akurat.

Adopsi teknologi yang muncul yang dapat membantu praktisi kesehatan swasta dan publik dengan komunikasi klien, pemantauan medis, dan strategi untuk memperkuat penyelidikan kasus dan pelacakan kontak dapat sangat membantu meningkatkan kegiatan ini sesuai kebutuhan.

Diperlukan pemantauan yang berkelanjutan dan penilaian investigasi kasus dan upaya penelusuran kontak

Lembaga kesehatan masyarakat dan mitra perlu memantau beberapa komponen utama program mereka untuk meningkatkan kinerja sesuai kebutuhan. Metrik potensial yang ditinjau secara rutin dapat mencakup proses dan ukuran hasil berikut:

  • Wawancara kasus: Waktu untuk wawancara sejak mulai gejala dan dari diagnosis; proporsi yang diwawancarai; jumlah rata-rata kontak yang ditimbulkan; proporsi tanpa kontak yang ditimbulkan.
  • Pemberitahuan kontak: Proporsi kontak yang diberitahukan; waktu dari potensi paparan pertama hingga pemberitahuan.
  • Kontak tindak lanjut: Proporsi harian dari kontak yang statusnya dievaluasi; proporsi kontak dengan gejala yang dievaluasi dalam 24 jam setelah timbulnya gejala; proporsi kontak yang menyelesaikan periode pemantauan mandiri penuh
  • Keberhasilan pelacakan kontak: Persentase kasus COVID-19 baru yang muncul di antara kontak selama periode pemantauan mandiri.

Sumber: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/php/principles-contact-tracing.html

 

 

Rekomendasi WHO: Menjaga Persediaan Darah yang Aman dan Memadai Selama Pandemi COVID-19

 

Disarikan oleh Andriani Yulianti, Divisi Manajemen Mutu PKMK FK KMK UGM

Pelayanan transfusi darah merupakan salah satu upaya kesehatan dalam rangka penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan sangat membutuhkan ketersediaan darah atau komponen darah yang cukup, aman, mudah diakses dan terjangkau oleh masyarakat sehingga Pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayanan transfusi darah yang aman, bermanfaat, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Melihat pentingnya fungsi darah dalam hal kesehatan, tentu penanganan donor darah tidak boleh sembarangan, terutama di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini. Di berbagai media marak diberitakan beberapa wilayah mengalami kesulitan untuk mengumpulkan darah karena adanya pembatasan sosial maupun dikarenakan sebagian besar pendonor yang memilih untuk tidak mendonorkan darahnya selama pandemi karena adanya himbauan untuk tidak mengunjungi pelayanan kesehatan jika tidak ada keperluan mendesak maupun adanya ketakutan akan tertular COVID-19.

Merespon hal tersebut, saat ini WHO telah mengeluarkan panduan sementara terkait bagaimana menjaga persediaan darah yang aman dan memadai selama pandemi penyakit coronavirus. Disampaikan bahwa risiko penularan COVID-19 melalui transfusi darah dan komponen darah masih bersifat teoretis dan kemungkinannnya masih berskala minimal. Namun, berdasarkan pengalaman di wabah-wabah coronavirus lainnya, persediaan darah diperkirakan akan terdampak secara signifikan dengan menurunnya jumlah darah yang didonorkan. Unit transfusi darah harus siap bergerak cepat dalam merespons perubahan-perubahan yang terjadi, di mana kecukupan persediaan darah paling mungkin terdampak.

Lebih dari itu, menurut WHO bahwa pendekatan subnasional atau lokal harus segera diambil melalui pendekatan nasional agar respons dapat terkoordinasi dan menyeluruh untuk memastikan masyarakat yakin akan keamanan dan ketersediaan darah. Unit transfusi darah harus dimasukkan ke dalam respons wabah nasional, melalui pakar-pakar yang dilibatkan dalam tim respons kedaruratan nasional serta unit transfusi darah harus mengaktifkan rencana tanggapan kedaruratannya dan jaringan kerja sama unit transfusi darah di wilayah yang dapat membantu menjaga ketersediaan darah dan komponen darah.

Berikut di bawah ini rekomendasi WHO berdasarkan panduan sementara maintaining a safe and adequate bld suplay during the pandemik outbreak of coronavirus disease, diperuntukkan bagi unit transfusi darah (UTD), Kementerian Kesehatan, dan pihak-pihak lain yang bertanggung jawab atas penyediaan darah dan komponen darah dan atas integrasi sistem darah ke dalam sistem kesehatan masyarakat.

Beberapa upaya dapat dilakukan untuk menjamin ketersediaan darah, meliputi;

1. Memitigasi potensi risiko penularan melalui transfusi darah dan komponen darah.

Meliputi edukasi bagi donor darah, penundaan oleh donor, penundaan terhadap donor yang berisiko, karantina komponen darah, pengambilan produk darah yang belum kadaluarsa (in-date) berdasarkan laporan penyakit pascadonor atas diri pendonor, skrining donasi menggunakan uji laboratorium, dan pengurangan patogen. Berikut ini langkah-langkahnya:

  1. Calon pendonor harus diberi edukasi tentang pentingnya menunda donor berdasarkan faktor-faktor risiko COVID-19 atau jika merasa tidak sehat. Langkah-langkah skrining oleh dokter yang menolak orang yang menunjukkan gejala dan merasa kurang sehat atau yang menunjukkan tanda dan gejala demam dan penyakit pernapasan (seperti batuk atau sesak napas) harus dipatuhi. Pendonor harus segera menyampaikan kepada pusat donor darah jika mengalami penyakit saluran pernapasan dalam waktu 28 hari sejak melakukan donor darah.
  2. Orang yang sudah sembuh total dari COVID-19, orang yang kemungkinan terpapar COVID-19 langsung pasien konfirmasi, dan orang yang melakukan perjalanan ke area di mana penularan masyarakat terjadi tidak dapat melakukan donor darah selama sekurang-kurangnya 28 hari, melalui penundaan sendiri atau penundaan wajib. Dalam hal terjadi penularan yang meluas, pembatasan pendonor berdasarkan definisi risiko paparan dan lama masa penundaan dapat diturunkan sesuai situasi setempat sehingga tidak berdampak pada ketersediaan darah untuk terapi transfusi kritis.
  3. Karantina komponen darah di mana pengeluarannya ditunda hingga dipastikan tidak ada laporan penyakit yang dialami pendonor setelah melakukan donor darah dapat dilakukan jika terjadi penularan meluas dan berkelanjutan. Namun, opsi ini sulit dilakukan dan mengganggu proses-proses serta alur kerja yang sudah ada, sehingga kemungkinan kesalahan terjadi makin besar. Pengeluaran darah ke persediaan darah menjadi tertunda. Karantina trombosit lebih sulit lagi karena umur simpannya yang pendek.
  4. Harus ada sistem bagi pendonor untuk melaporkan penyakit mirip COVID-19 atau kontak dengan kasus COVID-19 konfirmasi pascadonor. Sebagai langkah kewaspadaan, darah dan komponen darah yang diambil dalam waktu 14 hingga 28 hari sejak mulai timbulnya gejala (onset) dapat ditarik kembali. Meskipun risiko penularan melalui transfusi masih bersifat teoretis, dapat dipertimbangkan juga apakah tenaga klinis perlu diberi tahu mengenai konfirmasi infeksi pada pendonor jika darah atau komponen darah sudah ditransfusikan.
  5. Pengujian persediaan darah akan bersifat prematur jika belum terjadi penularan melalui transfusi atau terbukti sifat menular virus COVID-19 dalam darah yang diambil dari orang-orang tanpa gejala.
  6. Teknologi pengurangan patogen (PRT) terbukti efektif terhadap SARS-CoV dan MERS-CoV di dalam plasma dan trombosit. Namun, PRT memerlukan investasi logistik dan keuangan yang besar. PRT untuk darah lengkap belum banyak tersedia dan penelitian tentang inaktivasi coronavirus dalam darah lengkap masih kurang. Penggunaan PRT untuk virus COVID-19 tidak akan efektif, biaya maupun proporsional dan tidak direkomendasikan.
  7. Proses pembuatan derivat plasma saat ini dapat membuat inaktif serta membersihkan virus-virus yang berhubungan dengan COVID-19. Sebagai virus berselubung, virus COVID-19 rentan terhadap langkah-langkah dalam persiapan agen-agen terapeutik dari plasma terfraksionasi; karena itu, tidak ada dugaan tentang adanya risiko penularan melalui produk-produk darah.
  8. Sistem haemovigilance harus disusun sehingga setiap kemungkinan kasus transmisi melalui darah dan komponen darah dapat tercatat. Hemovigilance sangat berguna untuk membantu memahami risiko yang timbul dari darah dan komponen darah serta efektivitas keseluruhan langkah-langkah pelayanan darah.

Keputusan tentang implementasi langkah-langkah kewaspadaan serta dampaknya pada kecukupan persediaan darah dan sumber daya operasional harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Langkah-langkah yang dimulai pada fase awal wabah bisa menjadi tidak lagi praktis atau sesuai di fase lain. Misalnya, negara di mana tidak terjadi kasus akibat penularan lokal dapat memilih langkah kewaspadaan menunda pendonor yang baru kembali dari area-area terdampak. Hal ini mungkin dilakukan jika jumlah calon donor sedikit dan dapat dikelola dengan mudah tanpa mempengaruhi ketersediaan. Namun, setelah semakin banyak negara terdampak dan lebih lagi jika kasus akibat penularan lokal mulai muncul, risiko meningkat dan identifikasi terhadap pendonor berisiko semakin sulit dilakukan. Dalam situasi tersebut, penundaan tidak lagi praktis maupun dapat diteruskan.

2. Mengurangi risiko paparan staf dan donor terhadap virus COVID-19,

Penularan yang terjadi dari pendonor lebih mungkin terjadi melalui rute saluran pernapasan dibandingkan rute-rute parenteral (termasuk flebotomi selama donor darah). Pendonor yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala, gejalanya belum muncul, atau gejalanya sangat ringan mungkin menulari pendonor lain dan staf. Strategi-strategi yang dilakukan untuk memitigasi risiko ini harus proporsional dan berdasarkan bukti dan harus mengikuti langkah-langkah kesehatan masyarakat yang dilakukan di negara itu. Pusat donor dan tempat pembuatan darah bukan fasilitas pelayanan kesehatan penyakit akut. Karena itu, langkah-langkah kesehatan masyarakat yang harus dilakukan adalah langkah-langkah yang sesuai untuk masyarakat umum, bukan untuk klinik dan rumah sakit.

Pendonor dan calon pendonor harus mendapat informasi tentang pentingnya penundaan donor diri jika merasa tidak sehat, dan pentingnya segera melaporkan kepada unit transfusi darah penyakit terkait COVID-19 dalam waktu 28 hari setelah donor. Jika COVID-19 dikonfirmasi terjadi pada pendonor darah atau staf, tatalaksana kontak harus dijalankan sesuai panduan kesehatan masyarakat nasional.

Proses donor harus dipastikan aman dengan langkah-langkah perlindungan yang sesuai yang dijalankan oleh staf. Prosedur donor dapat dipertimbangkan untuk diatur guna meminimalisasi penularan antar pendonor, termasuk penjagaan jarak fisik jika mungkin dilakukan, sambil memastikan alur kerja tetap sesuai. Kewaspadaan di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan bagi pasien tidak harus diterapkan di pusat-pusat donor kecuali pusat.

donor tersebut terletak di dalam rumah sakit atau efektivitas kewaspadaan tersebut terbukti di lingkungan masyarakat. Praktik-praktik keamanan biologis laboratorium standar yang didasarkan pada panduan nasional dan internasional harus diikuti dalam semua keadaan. Jika laboratorium unit transfusi darah melakukan investigasi pratransfusi, sampel dari pasien dalam pemantauan atau terkonfirmasi COVID-19 harus ditanganni sesuai dengan panduan COVID-19.
Staf harus diedukasi tentang COVID-19 dan disarankan tidak masuk kerja jika sakit atau terpapar. Langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi harus diperkuat.Selama penularan masyarakat luas terjadi, jumlah staf dapat berkurang akibat penyakit; pusat-pusat darah harus mempertimbangkan langkah-langkah mitigasi dampak pada kegiatan-kegiatan utama.

3. Memitigasi dampak penurunan jumlah pendonor darah yang tersedia

Penurunan jumlah pendonor sebelum, selama, dan setelah wabah COVID-19 adalah risiko yang berarti bagi unit transfusi darah. Unit transfusi darah harus mempertimbangkan risiko ketersediaan sejak dini untuk memungkinkan kesiapan dan respons. Jumlah donor darah harus dipantai sehingga dapat dengan cepat diambil langkah untuk menangkis penurunan kehadiran pendonor atau untuk mempertimbangkan impor darah dan komponen darah. Tindakan ini semakin penting dalam kaitannya dengan komponen darah, yang umur penyimpanannya pendek, seperti trombosit. Dalam hal ini, diperlukan adanya pasokan secara konstan bagi pasien yang bergantung pada transfusi trombosit.

Diperlukan strategi komunikasi yang proaktif untuk menjawab kekhawatiran pendonor, yang seringkali berasal dari kurangnya pengertian, misinformasi, atau rasa takut terinfeksi saat melakukan donor darah. Penyuluhan publik yang efektif mengenai pentingnya menjaga ketersediaan darah nasional, kebutuhan akan pendonor darah, dan keamanan proses donor harus terus didiseminasi.

Strategi penanggulangan dapat membuat donor tidak mampu mengikuti donor darah dan dapat mencegah tim pengambil darah mengunjungi area-area yang dikaitkan dengan klaster infeksi atau jika pembatasan kesehatan masyarakat diberlakukan. Strategi-strategi untuk mengatasi hal ini dapat mencakup segera mengubah tempat pengambilan darah jika mungkin, menyediakan transportasi bagi pendonor, meningkatkan intensitas upaya penjadwalan donor, atau menyesuaikan jam kerja. Pengambilan darah mungkin perlu dilakukan secara lebih tepat sasaran melalui undangan kembali bagi orang-orang sehat yang pernah mendonorkan darah sebelumnya. Praktik-praktik rutin untuk tatalaksana pendonor dan pengujian penyakit menular tidak disarankan diubah. Namun, jika terjadi kekurangan darah yang parah, pengurangan interval waktu donor darah untuk pendonor dengan tingkat hemoglobin yang baik, yang dapat melakukan donor darah lebih sering, dapat menjadi pertimbangan.

Harus ada sistem yang memungkinkan pendonor yang pernah terinfeksi untuk terdaftar kembali. Sebagian besar pendonor seperti ini dapat mendonorkan darahnya lagi 28 hari setelah pulih total. Hal ini juga dapat mendukung pengambilan plasma yang telah pulih untuk pengobatan pasien COVID-19.

Pengimporan darah dan komponen darah dari wilayah-wilayah tidak terdampak di dalam negeri atau dari negara lain yang tidak terdampak (jika mendapat izin dari instansi setempat) dapat menjadi solusi jika terjadi kekurangan persediaan setempat, meskipun jika penularan terjadi secara meluas, hal ini sulit dilakukan. Ada juga masalah logistik.

4. Mengelola kebutuhan darah dan produk darah,

Unit transfusi darah harus terus menghitung persediaan darah dengan teliti untuk mengantisipasi ketidakpastian kegiatan pengambilan darah. Selama penularan meluas, kebutuhan akan darah dan komponen darah mungkin menurun seiring bergesernya sistem pelayanan kesehatan untuk mengobati jumlah pasien COVID-19 yang terus meningkat dan ditundanya bedah-bedah elektif dan intervensi-intervensi klinis. Namun transfusi darah masih akan diperlukan untuk situasi kedaruratan seperti trauma, perdarahan pascasalin, anemia berat pada anak, diskrasia darah, dan bedah yang mendesak yang membutuhkan persediaan darah.

Persediaan mungkin juga perlu ditingkatkan untuk mendukung pasien COVID-19 yang mengalami sepsis berat atau memerlukan dukungan pengoksigenan membran ekstrakorporeal. Tatalaksana darah pasien yang baik akan membantu menjaga persediaan darah. Unit transfusi darah harus mengadakan komunikasi yang jelas dengan tenaga pelayanan kesehatan yang bertanggung jawab atas kegiatan transfusi guna memastikan bahwa darah dan komponen darah hanya digunakan jika sesuai secara klinis.

5. Pastikan pasokan bahan dan perlengkapan terpenting tidak terganggu,

Pembatasan transportasi dan perdagangan, karantina, langkah perlindungan perbatasan, dan gangguan produksi dapat menurunkan rantai pasokan global bahan-bahan dan perlengkapan terpenting dalam pengambilan darah dan komponen darah, pengujian laboratorium (termasuk reagen immunohematologi dan penetapan skrining penyakit menular). Unit transfusi darah harus mengambil langkah untuk memastikan keberlangsungan pasokan.

6. Komunikasi

Kepercayaan masyarakat dan pemangku kepentingan pada sistem unit transfusi darah adalah sesuatu yang penting. Sistem pelayanan darah harus memberikan komunikasi yang jelas guna memastikan bahwa tim tanggap kedaruratan nasional, pendonor dan penerima, serta masyarakat menerima informasi serta memahami dengan baik tindakan-tindakan yang direncanakan. Pesan dan tindakan harus proporsional, berdasarkan bukti, dan konsisten dengan pesan tanggap kedaruratan nasional secara keseluruhan.

7. Pengambilan plasma konvalesen

Berdasarkan pengalaman, penggunaan empiris plasma konvalesen (PK) dapat berguna sebagai pengobatan untuk COVID-19. Penilaian risiko yang terperinci diperlukan guna memastikan bahwa pengambilan, pemrosesan, dan penyimpanan komponen-komponen darah ini dapat dilakukan dengan aman dengan cara yang terjamin mutu.

Sumber:

 

Tanya Jawab Tentang Audit Klinis

Narasumber: Dr. dr. Hanevi Djasri MARS.,FISQua
Ditulis Oleh: Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH

Q: Apakah audit kematian termasuk audit klinis?
A: ya

Q: Di RS bila kita minta justifikasi atau dasar EBM dari Dr DPJP, kalau marah/tersinggung,
     bagaimana caranya ya?
A: Harus memahami konsep good cinical governance. Good clinical governance berisi
     audit klinis, EBM dan lainnya.

Q: Saat ini kematian ibu yang disebabkan oleh preeklampsia terbanyak tapi audit klinis
     jarang atau tidak disempatkan oleh pihak RS/Komed/Bidang pelayanan. Bagaimana
     pendapat dan saran?
A: Harus dilakukan karena Pre eklampsia masuk dalam kategori topik yang dilakukan
    audit klinis yaitu jumlah kasusnya banyak, menimbulkan risiko.

Q: Pada masa pandemi ini untuk beberapa RS swasta saat ini menerapkan sistem
     screening PCR/ rapid untuk tindakan elektif dan rawat inap. Bagaimana menurut
     dokter? karena ini infonya menjadi SOP sendiri dari RS tersebut?
A: Harus cari guideline.

Q: Salah satu audit ini adalah sebagai pembelajaran ? dan tidak dibenarkan ada sanksi
     jika ada temuan? mohon penjelasan lebih lanjut?
A: Ya betul, audit untuk pembelajaran, bukan mencari kesalahan orang lain. Jika ada
     temuan maka pihak manajemen dapat memberikan teguran kepada pihak yang
     memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar.

Q: Kata bapak tadi, bila orangnya tidak mau di audit ya gak usah, tapi bila itu yang
     menyebabkan high risk dan cost, bagaimana?
A: Harus memahami konsep good clinical governance.

Q: Untuk audit, pilih Topik nya apa? pemilihan topik hanya 1 saja atau lebih dari 1?
A: Topik boleh lebih dari 1. Ada topik diagnosa dan topik tindakan.

Q: Mohon penjelasannya pak, untuk audit klinis berdasar high risk, high cost dan high
     volume, bisa dapat data dari RM atau IT RS, bagaimana untuk high problem?
     Bagaimana menjaring datanya?
A: Semua tersebut dapat diperoleh dari RM, selain itu bisa juga dari catatan keluhan
    pasien.

Q: Bila guideline yang kita miliki dengan yang mereka miliki berbeda, bagaimana jalan
     keluarnya?
A: Harus mencari guidline terbaru.

Q: Boleh contoh team audit klinik dari FKTP 1 karena contoh lebih ke RS , mengingat SDM
     terbatas dan poliklinik lebih ke preventif dan terapi kompentensi dokter umum?
A: Tim audit disebut tim adhoc, misal audit hipertensi berarti auditornya dokter umum
     dan perawat di poli klinis (3 org tim adhoc). Misal dari yankes telkom misal diregional
     ada 20 FKTP primer, maka 20 dokter di regional diangkat sbg tim adhoc. Mereka
     konsensus dulu topik dan kriteria audit. Bagaimana kalau DPP, maka dokternya
     sendiri yang malakukan semua tugas tersebut (top manajemen, tim adhoc, dan
     asisten AM)

Q: Apakah sample ibu hamil bisa diambil dari kohort?
A: bisa

Q: Apabila contoh, tentang penatalaksanaan HT di Klinik, mesti populasi diambil dari
     seluruh Populasi Px HT, bukan semua populasi?
A: Jika ingin mengukur mutu makan yang jadi populasi hanya yang datang.

Q: Apakah hasil dari analisa data bisa dipublikasikan sebagai bahan marketing klinik?
    dan bila memungkinkan hasil analisa data yang bisa dipulblikasikan (apakah harus
    hasil yang baik?)
A: Bisa, tidak harus yang baik. Ada artikel yang berisi tentang hasil audit klinis yang
    telah dipublikasikan. Mereka publis mulai dari hasil yang tidak baik dan hasil yang baik.

Q: Untuk melakukan audit klinis, biasanya berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai
     bisa menemukan penyebab penyimpangan? dan berapa lama waktu yang dibutuhkan
     untuk evaluasi perbaikan?
A: Menemukan penyimpangan saat dilakukan analisa data. Evaluasi perbaikan dilakukan
    tergantung rencana tindak lanjut yang dilakukan.

Q: Untuk kasus Stroke dengan Diabetes Mellitus dan Hipertensi bagaimana kriterianya,
     apakah diambil salah satu penyakit atau bagaimana?
A: Buat kriteria per penyakit.

Q: Laporan audit boleh dikonsulkan ke PMPK? untuk pemantauan tugas perbaikan
    apakah diserahkan kepada ka dept atau tim audit klinis dok?
A: Pemantaun dilakukan oleh tim audit, tim audit mengusulkan ke atasan, atasan
     memerintahkan yang mempunyai kerjaan ke departemen terkait kemudian tim audit
     melakukan pemantauan

Q: Dok untuk analisa akar masalah apa wajib semua poin di ishikawa kita pakai dok?
A: Wajib dibahas satu per satu komponen proses yang ada di ishikawa tapi tidak harus
    diada-adakan masalahnya di semua komponen proses.

Q: Dokter hanevi, jika sudah dievaluasi implementasi perbaikannya apakah ada patokan
     harus ada kenaikan persentase hasil audit sekian persen? sehingga dapat diputuskan
     perlu re-audit atau tidak? tolak ukurnya yang dapat digunakan seperti apa?
A: Hasil audit sudah mencapat target 80% maka sikluas auditnya boleh selesai.

Q: Dok, untuk analisis akar masalah, apakah tim adhoc, bisa mewawancarai pihak-pihak
    yang terkait dengan audit klinis? selain dari medical record
A: betul, mencari akar masalah tidak hanya dengan digaram tulang ikan, tapi dengan
     petugas di lapangan juga boleh.

Q: Re-audit nya bisa dilakukan sampai berapa kali Dok?
A: 3x biasanya sudah ada peningkatan mutu.

Q: Kriteria audit nya apakah bisa diubah atau ditambahkah Dok?
A: Menggunakan kriteria yang sama karena kita akan membandingkan dengan kriteria,
    kalau ditambahkan bisa.

Q: Dok, untuk tim adhoc ini biasanya secara struktur apakah di bawah direktur/komite
     mutu/komite medis atau yang lain? atau bagian dari PMKP.
A: Tim adhoc tidak bersifat struktural, selesai melakukan tugas akan dibubarkan. Tidak
     masuk struktur organisasi di RS maupun FKTP. Dalam melakukan tugasnya, mereka
     menunggu dari komite medis/komite keperawatan.

Q: Izin bertanya dokter bila di klinik baru apakah audit klinis tetap bisa dilakukan ?
     bila sampelnya masih kecil apakah ada alternatif metode terima kasih?
A: Kalau masihh 1 minggu tidak perlu dilakukan audit klinis.

Q: Bila tim komite sudah buatkan topik , lalu tim adhoc sudah menganalisa data,
     ternyata dari 6 kriteria yang di tetapkan, hanya 1 kriteria yang nilainya dibawah 80%,
     apakah audit ini perlu di lanjutkan atau tidak?
A: Kriteria yang persentasenya dibawah 80% dilakukan penyusunan rencana tindak lanjut.

Q: Bagaimana cara meyakinkan atasan untuk berjalannya audit klinik agar tidak terkesan
     membongkar kekurangan klinik ke publik atau pihak eksternal?
A: Audit klinis merupakan kegiatan peningkatan mutu, laporkan audit sampai selesai.

 

 

Produktif Melakukan Audit Klinis dalam era “New Normal”

r1

Penulis: Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH

Covid-19 menyebabkan klinisi masuk pada era new normal. Dulu, produktifitas klinisi diupdate melalui pelatihan konvensional atau tatap muka namun sekarang ada keterbatasan. Saatnya sekarang memanfaatkan era 4.0, update ilmu dan skills secara online.

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM telah menyelenggarakan pelatihan online audit klinis pada tanggal 8-10 Juni lalu. Ada 44 peserta berasal dari Yayasan Telkom Indonesia, FK-UNIKA, RS Respira Paru Bantul Yogyakarta, RS M. Djamil Padang, USAID Jalin Jawa Tengah dan RSIA Grand Family.

Continue reading