Lanjut Usia dan Memori

Dalam suatu penyuluhan kesehatan di masyarakat, seorang ibu menyampaikan masalah tentang suaminya. Usia suaminya tersebut 65 tahun, seorang pensiunan. Masalah utama adalah beberapa waktu belakangan sang suami sering menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Walau sudah dijawab, tidak begitu lama akan ditanyakan lagi hal yang sama. Keadaan ini membuat anggota keluarga yang lain sering jengkel terhadap sang suami. Dipihak lain sang suami tidak merasa terganggu dengan keadaan ini karena tidak mengingat sudah menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Kalau anggota keluarga yang lain menunjukkan amarah karena situasi ini maka sang suami akan menanyakan, kenapa marah kepada dirinya karena dirinya hanya menanyakan sesuatu?. Sejauh ini sang suami masih dapat beraktivitas sehari-hari seperti biasa.

Keadaan seperti ilustrasi diatas sering kita dengar atau bahkan mungkin ada salah satu keluarga kita mengalami keadaan yang sama. Seseorang yang semakin sering lupa selalu dihubungkan dengan bertambahnya usia orang tersebut. Semakin lanjut usia seseorang, lingkungan sekitar semakin dapat memaklumi jika orang tersebut sering lupa. Padahal tidak selalu gangguan memori itu hanya akibat bertambahnya usia, gangguan memori juga dapat didasari adanya penyakit.

Usia menunjukkan seberapa lama seseorang menjalani kehidupan yang diukur dalam satuan waktu, biasanya dalam satuan waktu tahun. Dari berbagai literatur ada beberapa pembagian kategori keadaan manusia sesuai kelompok usianya. Pembagian kategori tersebut meliputi: fase menanjak, fase stabil, selanjutnya diikuti fase menurun. Secara alamiah memang ada perubahan kondisi pada setiap fase kehidupan setiap orang. Perubahan kondisi yang dimaksudkan, meliputi tiga aspek yaitu: biologi, psikologi dan sosial. Pada kategoti ini lanjut usia masuk pada fase menurun dibandingkan usia yang lebih muda.

Dalam menjalani waktu kehidupannya, untuk dapat bertahan hidup, setiap orang harus senantiasa belajar guna mendapat pengetahuan agar mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan lingkungannya. Memori merupakan salah satu hal penting untuk seseorang mampu belajar. Dengan belajar, seseorang dapat mengetahui bagaimana memberi respon yang sesuai pada saat yang tepat. Kemampuan memberi respon ini sangat erat kaitannya dengan keadaan memori, karena didalam memori tersimpan pengetahuan yang dipelajari dimasa lalu, bagaimana cara merespon setiap kejadian dalam kehidupan dan dapat dipanggil kembali sesuai kebutuhan. Keadaan memori berperan penting menentukan dan menjaga kualitas hidup seseorang.

Pemahaman tentang memori secara lengkap, sampai saat ini, belum sepenuhnya dipahami. Terdapat beberapa tahapan terjadinya memori yang banyak dianut, yaitu pembentukan, penyimpanan dan pemanggilan memori. Pembentukan diawali dari stimulus-stimulus dari dalam diri maupun dari luar. Stimulus dari dalam diri, berguna untuk mempertahankan kehidupan dasar. Misal, mengingat tanda-tanda haus dan lapar atau yang lain. Stimulus dari luar dapat berupa kejadian sehari-hari, disebut juga sebagai memori sensorium. Memori sensorium cepat hilang kecuali diberi perhatian terhadap stimulus tertentu.

Perhatian merupakan kemampuan seseorang untuk mendapatkan, memilih dan merespon informasi yang dibutuhkan. Jadi walaupun banyak stimulus yang diterima sepanjang hari, tidak semuanya akan diingat kecuali yang diberi perhatian. Informasi yang mendapat perhatian diteruskan ke memori kerja. Pada tahapan ini informasi ditampung sementara sewaktu dan informasi baru tersebut masih diolah secara sadar. Kapasitas memori kerja ini terbatas. Keterbatasan kapasitas tidak hanya masalah banyaknya unit informasi baru yang diterima (misal harus mengingat tujuh angka), tetapi juga oleh terlibatnya fungsi kognitif lain secara bersamaan, termasuk pengintegrasian pengolahan informasi baru dengan pengetahuan untuk pengolahan. Misalnya, sebuah soal rumit seperti diminta menghitung diluar kepala (51:17) X (78-34).

Tentu soal ini memerlukan banyak keterlibatan fungsi kognitif yang lain secara bersamaan, dibandingkan jika menyelesaikannya dibantu prosedur yang lebih mudah dan sudah dikenal misal menghitung dengan alat bantu berupa tabel daftar perkalian. Jadi, kapasitas memori kerja dipengaruhi seberapa banyak fungsi kognitif yang diperlukan dan seberapa kuat aktivitas mental yang dibutuhkan. Memori kerja ini juga berbeda satu dengan yang lain, ada yang bagus dalam kemampuan bahasa sementara yang lain berhitung. Jadi jika stimulus yang datang rumit karena memerlukan keterkaitan banyak faktor kognitif dan stimulus itu berbeda dengan kemampuan yang ada (bahasa atau berhitung), maka sitmulus tersebut akan sangat membutuhkan usaha yang sangat kuat untuk dapat disimpan.

Setelah memori kerja, tahapan selanjutnya adalah penyimpanan informasi di memori deklaratif dan juga memori prosedural. Jika suatu waktu diperlukan maka informasi yang sudah disimpan dapat dipanggil kembali ke memori kerja untuk digunakan.

Memori prosedural merupakan memori prosedur-prosedur dan keterampilan yang telah dipelajari. Keterampilan tertentu awalnya dipelajari secara sadar tetapi makin lama menjadi otomatis dan tidak sadar. Keterampilan meliputi: motoris, kognitif, persepsi dan perilaku. Memori sensori juga dapat langsung menyimpan informasi ke memori prosedural ini.

Memori deklaratif adalah pengetahuan eksplisit seseorang mengenai fakta-fakta yang disimpan di daya ingat dan dipanggil secara sadar. Memori ini ada yang membaginya kedalam memori semantik dan episodik. Memori semantik menunjuk mengenai konsep dan pengetahuan mengenai dunia, meliputi: kosakata; visual dan ruang; visual dan guna serta penggunaan.
Memori episodik merekam kejadian-kejadian dalam hidup seseorang secara berurut, semacam otobiografi.

lans

Proses pembentukan memori pada semua lapisan usia hampir sama. Perubahan proses memori terjadi secara alamiah sebagai bagian dari bertambahnya usia. Jadi, kapan disebut gangguan memori? Gangguan memori disebut, jika setelah terjadinya gangguan memori tersebut diikuti menurunnya kemampuan aktivitas sehari-hari dibandingkan sebelum seseorang mengalami gangguan memori itu terjadi. Gangguan memori dapat terjadi di setiap tahapan proses pembentukan memori seperti diatas. Jadi ada bermacam-macam gangguan memori. Ada gangguan memori pada pembentukan, penyimpanan dan pemanggilan. Gangguan memori pada salahsatu tahapan dapat merupakan sebagai gejala penyakit tertentu.

Disisi lain, seiring dengan bertambahnya usia maka akan selalu diikuti berubahnya banyak sistem di dalam diri seseorang termasuk biologis, psikologis, sosial. Perubahan yang terjadi pada lansia biasanya ke arah kemunduran, baik secara kuantitas dan kualitas. Hal ini akan mempengaruhi kapasitas pembentukan, penyimpanan dan pemanggilan memori. Keadaan inilah yang membuat banyak proses memori lebih lambat pada lansia. Jadi hal yang membedakan memori pada lansia yang sehat, dibanding usia muda adalah pada lansia membutuhkan waktu lebih lama untuk proses pembentukan, peyimpanan dan pemanggilan kembalinya, memori. Namun berbeda dengan lansia yang memiliki riwayat berbagai penyakit, terutama yang tidak diobati optimal, seperti panyakit vaskuler, sindrom metabolik, penyakit degeneratif lainnya dan gangguan psikiatri, akan mengalami gangguan memori yang lebih berat, karena penyakit-penyakit tersebut mempengaruhi banyak metabolisme otak. 

Dari pemahaman di atas, secara umum dapat dilihat secara garis besar faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses memori yaitu ada faktor yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Faktor yang dapat dikendalikan misalnya: pemilihan makanan yang sesuai usia dan menjaga kesehatan. Faktor yang tidak dapat dikendalikan misal adalah usia dan perubahan lingkungan. Terhadap faktor yang tidak dikendalikan ini, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah membentuk pikiran realita, misal:semasih tetap hidup, usia pasti bertambah dan pasti diikuti perubahan biologis, psikologis dan sosial, itu adalah realita dan harusnya mensyukuri masih memiliki tambahan usia. Perubahan lingkungan juga pasti terjadi, itu juga adalah realita. Terhadap perubahan lingkungan ini terutama dengan banyaknya sumber informasi yang beredar maka hal yang paling utama dilakukan pengendalian perhatian terhadap informasi-informasi yang beredar. Karena peredaran informasi di lingkungan hidup ini, tidak dapat diatur sesuai keinginan pribadi, maka lansia rentan terpapar dengan informasi-informasi yang tidak bertanggung jawab. Disisi lain, kurang bijaksana juga jika karena banyaknya informasi-informasi yang tidak bertanggung jawab beredar, maka lansia memilih mengisolasi diri supaya tidak terpapar dengan informasi-informasi yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu dibentuk pikiran realita bahwa informasi-informasi memang bebas beredar akan tetapi fokus perhatian dapat diupayakan kepada informasi yang berguna dan dapat dipertanggung jawabkan.

Terkait ilustrasi kasus di atas dapat disimpulkan bahwa ada kelemahan dalam pembentukan memori sehingga tidak ada yang disimpan untuk kemudian dapat dipanggil jika diperlukan. Hal ini dapat terkait dengan kemungkinan adanya gangguan perhatian atau gangguan psikiatri lainnya. Catatan pada kasus ini adalah walaupun penderit mengalami gangguan memori, masih dapat beraktivitas sehari-hari, masih dapat mandiri, sehingga tidak jadi beban bagi keluarga. Disarankan, kasus seperti ini untuk datang ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut dan nanti dapat direncanakan tindak lanjut yang sesuai. Kalau keadaan seperti ini dianggap hanya karena faktor bertambahnya usia maka akan berpotensi menjadi gangguan memori yang lebih berat.

Beberapa faktor yang dapat mendukung kesehatan otak yang menua, antara lain: makanan yang sehat, istirahat yang cukup, olahraga yang sesuai, aktif, tetap bersosialisasi, mengisi waktu luang, menuntaskan semua masalah kesehatan, melakukan kegiatan-kegiatan yang menstimulasi otak, meningkatkan kegiatan spiritual dan melidungi kepala dari trauma. Melihat faktor-faktor yang mendukung kesehatan otak tersebut sebenarnya banyak hal-hal sederhana saja, hampir semua orang dapat melakukannya. Tetapi kebanyakan orang cenderung lebih menginginkan melakukan hal-hal yang lebih rumit dan mengabaikan hal-hal yang kelihatan sederhana. Seakan-akan dengan melakukan hal-hal yang rumit akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan hal-hal yang sederhana. Sehingga melakukan hal-hal sederhana dianggap kurang bermanfaat.

Untuk renungan di hari lansia ini, seandainya kasus diatas adalah salah satu keluarga kita atau kita sendiri mengalaminya, akankah kita mau datang ke dokter untuk konsultasi atau menerimanya saja, itu karena usia? Selamat hari lansia dan menjadi lansia berkualitas.

Referensi:

  1. Peters r. Ageing and the brain.Postgrad Med J. 2006 Feb; 82(964): 84–88. doi: 10.1136/pgmj.2005.036665
  2. Spar J E, La Rue A. Clinical manual of geriatric psychiatric. American Psychiatric Publishing, Inc: 2006.
  3. Sweat J D. Mecanismsof memory. 2nd edition. Elsevier: 2010.
  4. Dharmaperwira-Prins R I I. Gangguan-gangguan komunikasi pada disfungsi hemisfer kanan dam pemeriksaan komunikasi hemisfer kanan (pkhk). Jakarta: Djambatan; 2004.
  5. Duzel E, van Praag H, Sendtner M. Can physical exercise in old age improve
    memory and hippocampal function?. BRAIN 2016: 139; 662–673 | 662 doi:10.1093/brain/awv407

Penulis: dr. Sabar Parluhutan Siregar, Sp. KJ

 

Reportase Webinar Silaturahmi Aman Dimasa Pandemi COVID 19

PKMK-Yogyakarta, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DPPPAP2) DIY bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM telah menyelenggarakan webinar dan livestreaming dengan topik silaturahmi aman dimasa pandemi COVID 19. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut yakni GKBRAA Paku Alam selaku wakil ketua 1 TP PKK DIY, Ir. Agustina Erni, Msc selaku Deputi Kesetaraan Gender Kementerian PPPA serta dr. Bella Donna, M.Kes selaku Kepala Divisi. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM. Bertindak sebagai moderator yakni Desintha Dwi Asriani, MA, Ph.D yang merupakan dosen departemen sosiologi FISIPOL UGM.

Kesempatan pertama diberikan kepada GKBRAA Paku Alam dengan menyampaikan materi mengenai peran perempuan dalam pencegahan penyebaran COVID 19. Gusti Putri sebagaimana beliau biasa dipanggil menyampaikan bahwa dalam masa krisis saat ini seorang perempuan memiliki peran yang sangat penting baik dalam keluarga yakni sebagai pendidik pertama dalam mengajarkan PHBS (cuci tangan dengan sabun, memakai masker, physical distancing, makan bergizi, istirahat cukup, olah raga dan berjemur sinar matahari), mendampingi anak-anak saat belajar dari rumah, berkegiatan bersama di rumah (berkebun, memasak, menonton TV) untuk mengurangi kebosanan, mengedukasi keluarga tentang bahaya COVID 19, memenuhi kebutuhan psikis supaya tidak cemas, mengajarkan spiritualitas hingga sebagai penopang ekonomi keluarga.

Gusti Putri juga menyampaikan bahwa saat ini, selain peran perempuan dalam keluarga, terdapat juga peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, sebagaimana diketahui bahwa petugas yang berada di garda terdepan dalam penanganan COVID 19 sekitar 80% diantaranya merupakan perawat perempuan serta 50% adalah dokter perempuan, perempuan juga mampu mengawasi dan membantu memenuhi kebutuhan tetangga yang ODP dan melakukan isolasi mandiri, sebagai relawan di dapur umum maupun penggalangan dana, membuat dan mendistribusikan masker, hand sanitizer, dan mampu melakukan pendataan masyarakat terdampak, dapat memantau BLT dan bantuan lain agar tepat sasaran serta dapat mengedukasi masyarakat tentang pencegahan penyebaran COVID 19. Secara tegas disampaikan oleh Gusti Putri Pakualam bahwa model silaturahmi yang akan disampaikan oleh PKK kepada seluruh lapisan masyarakat adalah tetap di rumah (stay at home) untuk meminimalisir penyebaran virus.

Selanjutnya, pemaparan disampaikan oleh Ir. Agustina Erni, Msc mengenai strategi kementerian PPPA dalam memberdayakan perempuan sebagai agen perubahan, bahwa untuk meningkatkan peran perempuan maka kementerian PPPA berkolaborasi dengan kementerian lainnya yakni Kemensos, Kementerian KUKM, BKKBN, Kemendes dan Kementerian Dalam Negeri, Pemberian bantuan spesifik perempuan dan anak melalui dana dekon, serta kolaborasi dengan dunia usaha dan organisasi masyarakat, memberikan pelatihan online untuk perempuan pelaku ekonomi, memberikan edukasi tentang gizi keluarga khususnya bagi bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia bekerjasama dengan PERSAGI, Pelayanan bagi korban kekerasan melalui sinergi Program Sejiwa (Sehat Jiwa) serta pendidikan masyarakat untuk membangun komunikasi dengan pasangan (berbagi pengalaman perempuan dan laki-laki).

Disampaikan pula bahwa Isu-isu perempuan dan anak sifatnya selalu lintas sektoral, sehingga intervensi yang tepat sasaran dan efektif hanya dapat dilakukan dengan kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha, media, perguruan tinggi maupun masyarakat. Ditekankan pula oleh Ibu Erni bahwa untuk perempuan pelaku ekonomi dampaknya sangat luar biasa sehingga KPPPA meningkatkan peran perempuan dalam mengakses pelatihan online. Untuk dapat mengakses pelatihan online maka terlebih dahulu membutuhkan data siapa yang berminat dan jenis pelatihan macam apa yang dibutuhkan di wilayah masing-masing, biasanya bersifat lokal spesifik, nantinya berkoordinasi dengan KPPPA dan akan dikoordinir oleh dinas pemberdayaan perempuan setempat.

Berikutnya dr. Bella Donna, M.Kes menyampaikan materi mengenai waspada penyebaran COVID 19 di hari idul fitri, pemaparan dimulai dengan kembali mengedukasi mengenai apa itu virus korona hingga protokol kesehatan yang harus diterapkan. dr Bella memberi singkatan protokol kesehatan dengan CITA KERJA (cuci tangan dengan sabun, cuci tangan dengan sanitizer, pakai masker dan jaga jarak 1-2m). Kemudian disampaikan pula bahwa untuk menekan penyebaran COVID-19 dapat dilakukan dengan meminimalkan resiko dengan meningkatkan kapasitas melalui individual (knowledge behavior), family support, community (organisasi, gotong royong), hospital (incident management system) maupun pemerintah (regulator, koordinasi). Jika kapasitasnya kuat yang dimulai dari keluarga maka resiko juga akan menjadi rendah hingga pada level di masyarakat.

Bella Donna juga tidak lupa memberikan cara aman di hari raya idul fitri baik di masa new normal. Ditegaskan bahwa saat ini kita sudah mulai berjalan pada masa new normal atau normal yang baru, dimana vaksin belum ditemukan dan selama vaksin belum ditemukan maka kita semua belum bisa dikatakan aman sehingga penting untuk tetap menerapkan protokol kesehatan CITA KERJA baik pada saat pemberian zakat yakni dengan tetap hindari keramaian, dapat dilakukan dengan belanja zakat lewat online, atur pemberian zakat dengan penjadualan, layanan jemput zakat, menyediakan layanan transfer zakat. Pelaksanaan sholat ied dengan tetap menghindari kerumunan dan diatur jarak jika tetap dilaksanakan, bisa diatur per RT. Selanjutnya, saling kunjung dapat dilakukan dengan membuat jadwal kunjung misalnya untuk 1-10 orang dengan diberi jarak dan menggunakan masker namun apakah ini bisa berjalan disiplin?

Diakhir sesi, moderator membuka sesi diskusi yang ditanggapi dengan antusias oleh semua peserta yang hadir secara online, semua narasumber menyampaikan pandangannya terhadap pertanyaan yang disampaikan oleh peserta dari sudut pandang masing-masing. Di akhir diskusi Bella juga menuturkan diluar dari upaya-upaya yang dapat dilakukan, akan lebih baik jika semua lapisan masyarakat untuk tetap di rumah (stay at home) dan manfaatkan silaturahmi daring, hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Gusti Putri untuk tetap di rumah dimasa pandemi COVID-19 dengan taati pemerintah, ikuti protokol kesehatan, sayangi keluarga dengan jangan jadikan OTG/Carier, sabar melewati situasi dengan disiplin serta berdoa bersama keluarga dan hadapi new normal menuju ke situasi sehari-hari dengan keadaan yang berbeda serta membuat inovasi dan kreatifitas dalam menyongsong kehidupan baru.

materi silhakan klik disini

Reporter
Andriani Yulianti, MPH (Divisi Manajemen Mutu, PKMK FKKMK UGM)

 

Waspada Potensi Fraud Dalam Masa Pandemi COVID-19

Text: drg. Puti Aulia Rahma, MPH, CFE

Virus corona yang mulai mewabah sejak Desember 2019 lalu, kini membawa cerita baru. Sambil berdampak pada meningkatkan angka kesakitan dan kematian di seluruh dunia, virus ini membuka potensi terjadinya fraud, atau COVID-19 related fraud. Dilansir dari situs FBI, nilai potensi kasus fraud terkait COVID-19 ini mencapai USD 5juta atau setara Rp. 79,4M. Biaya sebesar ini dapat digunakan untuk memberi makan sehari 3 kali bagi 1,7juta lebih masyarakat terdampak pandemi.

Istilah fraud – menurut koalisi Association of Certified Fraud Examiner (ACFE), American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), dan The Institute of Internal Auditors (IIA) – merujuk pada perbuatan yang disengaja untuk melanggar aturan sehingga menyebabkan pihak lain menderita atau pelaku mendapat keuntungan. Perbuatan seperti menimbun sembako, menimbun alat medis esensial untuk penanganan pasien, maupun mengirimkan informasi palsu terkait penyakit akibat corona untuk mencuri data pribadi masyarakat, masuk dalam kategori perbuatan berpotensi fraud. Untuk membuktikan perbuatan ini benar fraud atau tidak, perlu dilakukan investigasi.

Di Indonesia perbuatan berpotensi fraud yang mulai muncul ke permukaan adalah terkait kelangkaan masker dan hand sanitizer yang sangat penting dalam pelayanan pasien corona. Setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak berwenang, kejadian kelangkaan alat medis ini terjadi karena ada pihak yang menimbun dan berniat menjualnya kembali dengan harga tak wajar. Polisi sudah menetapkan 33 tersangka dalam kasus ini (CNN Indonesia).

Potensi fraud lain yang mungkin akan berkembang adalah terkait pengelolaan anggaran untuk penanganan pandemi COVID 19 di Indonesia. Presiden Jokowidodo mengucurkan dana sebesar 405,1 T dengan alokasi: dana kesehatan sebesar 75T, jaring pengaman sosial sebesar 110T, pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional sebesar 150T, dan insentif perpajakan dan stimulus KUR sebesar 70,1T. Potensi fraud dapat terjadi karena belum diketahui mekanisme pasti pemanfaatan dana ini selama dan setelah pandemi. Belum adanya mekanisme pengawasan untuk memastikan bahwa penggunaan dana ini sesuai peruntukannya, juga dapat membuat anggara rentan dicurangi.

Lalu bagaimana caranya mencegah COVID-19 related fraud ini terjadi di Indonesia?

Pertama, perlu ada sosialisasi massal mengenai bentuk-bentuk potensi fraud yang mungkin berkembang selama pandemi COVID-19 di Indonesia. Fraud risk awareness ini perlu dibangun untuk mencegah berbagai pihak terjerumus melakukan fraud atas dasar ketidaktahuan. Edukasi anti fraud ini secara luas melalui berbagai media ini juga dapat menjadi bentuk “teguran halus” kepada pihak-pihak yang mulai berusaha berbuat curang, bahwa modus aksi mereka mulai ketahuan.

Kedua, pembuat kebijakan perlu bersegera menetapkan mekanisme pemanfaatan anggaran yang mudah dipahami pelaksana. Saat ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah menyosialisasikan berbagai rambu-rambu pemanfaatan anggaran dan pengadaan barang dan jasa melalui media massa. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP) pun menerbitkan panduan pengadaan barang jasa sesuai SE Kepala LKPP tanggal 23 Maret 2020 Nomor 3 Tahun 2020. Mekanisme pemanfaatan anggaran serta pengadaan barang jasa ini perlu juga disosialisasikan dengan baik sehingga mudah dipahami pelaksana.

Ketiga, perlu dibuat sarana pengaduan terpadu untuk melaporkan dugaan kecurangan yang terjadi. Menurut pemberitaan media massa, saat ini dugaan kecurangan dapat dilaporkan ke polsek dan polres terdekat. Pelaporan juga dapat disampaikan melalui website KPPU yang dapat diakses di www.kppu.go.id/id/hubungi-kami /. Saran pengaduan sebaiknya dibuat terpadu dalam satu rumah untuk memudahkan koordinasi pihak pengelola dan menetapkan rencana tindak lanjutnya. Menurut ACFE, sistem pelaporan yang baik dapat membantu mengetahui dugaan fraud hingga 50% lebih cepat dibanding pelaksanaan audit.

Mari waspada dengan potensi fraud selama dan sesudah masa pandemi. Segera laporkan bila menemukan aksi-aksi kecurangan yang muncul. Jangan biarkan virus fraud merajalela dan jadi penumpang gelap dalam pandemi COVID-19.

 

 

Konsep, Standar, dan Audit Penerapan Tata Kelola Klinis

Oleh: Hanevi Djasri

Tata kelola pelayanan klinis yang baik atau Good Clinical Governance kembali hangat dibicarakan di Indonesia pada era Jaminan Kesehatan Nasional, dimana fasilitas pelayanan kesehatan dituntut untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu namun tetap dapat menjaga biaya pelayanan tetap efisien (kendali mutu dan kendali biaya).

Sejak tahun 2006, penulis telah melakukan pendampingan penerapan tatakelola klinis diberbagai rumah sakit (RS) pemerintah dan swasta dan juga diberbagai Puskesmas. Meskipun detail penerapan tata kelola klinis di pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat sekunder-tersier
berbeda, namun secara umum konsep dasarnya tetap sama.

Konsep dasar yang perlu dipahami sebelum mulai menerapkan berbagai kegiatan terkait tata kelola klinis yang baik adalah pemahaman mengenai pilar/komponen yang membangun clinical governance serta standar yang dapat digunakan untuk menilai/mengaudit ketepatan penerapan good clinnical governace.

Berikut ini akan penulis paparkan mengenai ke 4 pilar dan 8 standar clinical governance serta cara melakuan audit/ penilaian dengan contoh aplikasi di RS namun juga dapat berlaku di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Pilar Good Clinical Governance

Banyak konsep tentang komponen kegiatan clinical governance akan tetapi secara garis besar terdiri atas empat pilar seperti yang dikembangkan di negara bagian Australia Barat (gambar 1)

gb1

Gambar 1. Clinical Governance for the Western Australian Public Health System

1. Fokus pada customer (customer value)

Pilar pertama adalah nilai konsumen, yang mendorong pelayanan kesehatan untuk melibatkan konsumen dan stakeholder dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja pelayanan dan dalam perencanaan untuk masa depan organisasi. Konsumen dalam hal ini bukan hanya pasien, akan tetapi juga meliputi pemerintah setempat dan organisasi non-pemerintah.

Dalam menerapkan pilar pertama ini selain melibatkan konsumen, rumah sakit juga harus memperhatikan nilai-nilai yang dianut oleh konsumen tersebut. Contoh nilai-nilai yang dianut oleh konsumen misalnya pasien meyakini bahwa suatu rumah sakit yang baik adalah rumah sakit yang dokternya mampu menjelaskan dengan baik mengenai penyakit yang dialami oleh pasien dan juga dokter dapat menjelaskan rencana tindakan medis yang akan dilakukan.

Keterlibatan konsumen yang efektif memerlukan kepemimpinan yang baik pula untuk memastikan bahwa keterlibatan tersebut bermanfaat, efektif dan memberikan hasil yang positif hasil bagi pelayanan kesehatan. 

Berikut adalah hal-hal penting dari customer value: a) Hubungan yang berkelanjutan, yaitu melibatkan konsumen yang menekankan komunikasi dua arah antara konsumen dan rumah sakit. Contohnya adalah termasuk informed consent, manajemen keluhan, survei kepuasan pasien dan memberikan informasi tentang layanan bagi pasien dan keluarganya. b) Partisipasi konsumen, yaitu melibatkan konsumen dalam perencanaan rumah sakit, kebijakan pembangunan dan pengambilan keputusan. Hal ini dilakukan untuk memastikan kepada konsumen bahwa rumah sakit benar-benar menyediakan pelayanan yang mudah diakses, adil dan responsif terhadap prioritas-prioritas setempat.

Outcome yang diharapkan adalah:

  • Peningkatan pemahaman karyawan terhadap pelayanan kesehatan dan lebih responsive terhadap kebutuhan pelanggan/pasien.
  • Peningkatan pengetahuan pelanggan/pasien dan juga peningkatan partisipasi pelanggan/pasien dalam pelayanan kesehatan dan manajemen.
  • Peningkatan kepercayaan pelanggan/pasien terhadap organisasi pelayanan kesehatan/rumah sakit.
  • Peningkatan outcome pelanggan/pasien.

Dengan menerapkan Clinical Governance diharapkan RS dapat

lebih memperhatikan konsumen dengan memperhatikan nilai-nilai yang dianut oleh konsumen tersebut.

2. Clinical performance and evaluation

Pilar yang kedua ini bertujuan untuk menjamin penggunaan serta monitoring dan evaluasi standar klinis yang berbasis bukti (evidence-based). Hasilnya adalah sebuah budaya, di mana evaluasi organisasi dan kinerja klinis, termasuk audit klinis merupakan hal yang umum dan diharapkan ada di setiap organisasi pelayanan klinis. Terdapat tiga buah alat yang dapat digunakan untuk membantu organisasi layanan kesehatan
untuk mencapai hasil ini, yaitu standar klinis, indikator klinik, dan audit klinik.

Hal ini sudah diwujudkan oleh RS dengan telah dimilikinya daftar indikator klinik yang digunakan untuk mengukur kinerja klinik. Tahap yang masih harus dilakukan RS adalah melakukan evaluasi terhadap hasil dari pengukuran kinerja klinik tersebut. Perlu ada kerjasama dari semua pihak di rumah sakit, antara lain komite medis, keperawatan, hingga marketing. Jika pengukuran kinerja klinik menunjukkan hasil yang baik, maka hal ini dapat digunakan sebagai alat untuk marketing rumah sakit, yaitu dengan menunjukkan kepada masyarakat bahwa RS mampu memberikan pelayanan klinik dengan baik yang ditunjukkan dengan bukti pengukuran kinerja klinik.

Outcome yang diharapkan adalah:

  • Pengembangan clinical pathway di dalam praktek klinis.
  • Peningkatan kepatuhan terhadap praktek klinis berbasis bukti dan berkurangnya variasi dalam praktek klinis.
  • Peningkatan outcome pelanggan/pasien.
  • Berkurangnya biaya perawatan kesehatan melalui pengurangan efek samping.

3. Clinical risk management

Segala kegiatan di rumah sakit memiliki risiko, baik untuk pasien maupun untuk petugas yang berada di dalam rumah sakit tersebut. Meskipun demikian perlu dilakukan penjaminan bahwa risiko yang muncul minimal. Pilar ketiga ini menitikberatkan untuk meminimalisir risiko klinis dan
meningkatkan keamanan kepada pasien dan petugas secara keseluruhan. Hal ini dicapai dengan melakukan identifikasi, mengurangi risiko, dan mengurangi kejadian yang tidak diinginkan.

Aspek-aspek yang tercakup dalam manajemen risiko klinis adalah: a) pelaporan, monitoring, dan analisis trend kejadian yang tidak diinginkan, b) pelaporan, monitoring, dan penyelidikan klinis kejadian yang jarang terjadi (sentinel event), c) analisis risiko, termasuk identifikasi, penyelidikan, evaluasi dan analisis risiko klinis.

Sebagai catatan komite atau subkomite keselamatan pasien bukanlah satu-satunya pihak yang berperan dalam menerapkan pilar ini, namun menjadi tanggung jawab dari seluruh staf dan seluruh pihak yang ada di rumah sakit.

Outcome yang diharapkan:

  • Peningkatan monitoring dan pelaporan kejadian yang tidak diharapkan.
  • Peningkatan pemantauan terhadap insiden klinik dan kejadian yang tidak diharapkan.
  • Peningkatan proses risk management.
  • Pengurangan jumlah kejadian yang tidak diharapkan.

4. Profesional development and management

Pilar keempat ini mendukung proses pemilihan dan perekrutan staf klinis. Dalam hal ini profesionalisme terus dikembangkan, dijaga, dimonitor, dan dikontrol. Proses ini menjamin staf yang ditunjuk dan diperkerjakan adalah orang yang terampil dan berhati-hati terhadap prosedur baru. Hal yang tercakup dalam pilar keempat ini adalah standar kompetensi dan pengembangan profesional berkelanjutan.

RS melakukan upaya agar semua staf dapat meningkatkan kompetensinya, baik dalam skala besar maupun skala kecil. Dalam skala besar misalnya adalah dengan menjalani pendidikan formal, mengikuti pelatihan-pelatihan. Sedangkan peningkatan kompetensi dalam skala kecil dicontohkan dengan belajar melalui pengalaman yang ada sehari-hari yang muncul dan dibahas di dalam kegiatan morning meeting, yaitu
masalah yang ada dipecahkan berumah sakitama dan diupayakan kegiatan tindak lanjutnya.

Termasuk dalam profesional development and management adalah pengelolaan kinerja para staf. RS telah memiliki Key Performance Indicators (KPI), bahkan KPI yang ada telah sampai pada level individu. Perlu juga dikembangkan KPI untuk para dokter, KPI untuk para perawat, dan KPI untuk para profesional.

Bagian SDM bukanlah satu-satunya bagian yang bertanggung jawab terhadap profesional development and management di rumah sakit, namun merupakan tanggung jawab dari seluruh staf yang ada di rumah sakit, dan tugas tim auditor internal adalah memastikan bahwa semua staf terlibat di dalamnya.

Outcome yang diharapkan adalah: Peningkatan kredensial dokter; Peningkatan pengembangan profesional dan pelatihan keterampilan untuk karyawan; Peningkatan kinerja manajemen; dan Peningkatan kepuasan kerja karyawan.

baca selengkapnya pada link berikut

klik disini

 

Mutu Pelayanan dan Pengaruh Pengobatan Antiretroviral Untuk Pasien HIV dari Perspektif Pasien

Kepuasan pasien masih merupakan salah satu faktor penting untuk menilai mutu pelayanan kesehatan dan memperkirakan outcome pelayanan yang positif. Pada artikel ini akan dipaparkan hasil studi pengaruh persepsi pasien HIV/AIDS terhadap mutu pelayanan kesehatan yang terkait dengan penggunaan antiretroviral sebagai pengobatan di Manaus Brazil.

Penelitian menggunakan non-randomized dan analisis cross sectional untuk mengeksplorasi hubungan antara kepuasan pasien dan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral sebagai perawatan pasien HIV/AIDS. Studi ini juga membandingkan antara kepuasan pasien di rumah sakit utama di kota dengan fasilitas kesehatan di daerah. Menggunakan data respon dari survei terhadap 812 pasien dan data kesehatan dari 713 pasien, analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan regresi untuk mengidentifikasi karakteristik fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan tingginya tingkat kepuasan pasien dan tingginya tingkat kepatuhan menggunaan obat antiretroviral.

Berikut adalah tabel distribusi responden dalam penelitian ini:

tb1

Responden penelitian merupakan pasien dengan HIV/AIDS berusia 18 tahun atau lebih, berjenis kelamin pria dan wanita, yang pernah setidaknya berkunjung satu kali di fasilitas kesehatan. Pasien baru tidak dijadikan responden dalam penelitian ini karena survei kepuasan yang dilakukan berdasarkan pada kepuasan terhadap konsultasi terakhir pasien pada saat berobat ke fasilitas kesehatan. Sedangkan demografi karakteristik responden secara detil adalah sebagai berikut:

tb2

Dua pertanyaan utama dalam penelitian ini mencakup:

  1. Apa yang paling relevan di fasilitas kesehatan terkait faktor yang berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien yang tinggi (Model spesifikasi yang dipergunakan: Kepuasan Pasien= F(karakteristik fasiitas kesehatan, karakteristik pasien)
  2. Apakah tingkat kepuasan pasien yang tinggi menyebabkan tingginya tingkat kepatuhan penggunaan obat antiretroviral (Model spesifikasi yang dipergunakan: Kepatuhan penggunaan obat antiretroviral= F(kepuasan pasien, karakteristtik pasien)

Hasil penelitian menyebutkan bahwa ditemukan hubungan yang jelas dan positif antara kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan kesehatan dan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral. Pasien yang memilik akses lebih baik terhadap fasilitas kesehatan dan pelayanannya (kenyamanan lokasi, kemudahan waktu perjalanan, dan waktu tunggu yang singkat) memiliki tingkat mutu pelayanan yang tinggi dan juga kepatuhan penggunaan obat antiretroviral. Studi ini juga menemukan bahwa tingkat kepuasan pasien lebih tinggi di fasilitas kesehatan daerah dibandingkan dengan pasien yang memperoleh pelayanan di rumah sakit utama.

Berikut adalah tabel kepuasan pasien secara umum dan indikator aksesbilitas yang dihasilkan pada penelitian ini:

Sedangkan faktor-faktor yang berhubngan dengan kepuasan pasien ditampilkan secara lengkap pada tabel berikut:

Penelitian ini juga membandingkan antara faktor-faktor terkait kepuasan pasien yang ada di rumah sakit pusat/utama dengan faktor-faktor terkait kepuasan pasien di fasilitas kesehatan daerah, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Selain membandingkan tingkat kepuasan pasien di dua fasilitas kesehatan tersebut. Penelitian ini juga mengkaji dampak kepuasan pasien terhadap tingkat kepatuhan penggunaan obat antiretroviral, yang secara lengkap ditampilkan pada tabel berikut:

Penelitian ini membuktikan bahwa pengalaman pasien pada saat memperoleh perawatan di fasilitas kesehatan dapat meningkatkan outcome kesehatan yang diharapkan. Banyak faktor lain berperan penting pada kepatuhan atau ketidakpatuhan pasien menggunakan obat antiretroviral yang berada di’luar’ kendali fasilitas kesehatan. Namun temuan yang perlu ditekankan adalah fasilitas kesehatan dapat berkontribusi untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral dengan meningkatkan pengalaman postif pasien saat mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan. Studi ini juga dapat menunjukkan adanya manfaat potensial dari pelayanan kesehatan daerah untuk meningkatkan kepuasan pasien dan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral.

Dirangkum oleh : Lucia Evi Indriarini, MPH.
Sumber : Leon et al. (2019). HIV/AIDS health services in Manaus, Brazil: patient perception of quality and its influence on adherence to antiretroviral treatment. BMC Health Service Research. 19:344. https://doi.org/10.1186/s12913-019-4062-9. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6543648/pdf/12913_2019_Article_4062.pdf 

 

Menilai Mutu Pelayanan Pasien Osteoporosis

Pasien osteoporosis lebih berisiko mengalami fraktur apabila terjatuh atau mengalami trauma lainnya. Risiko fraktur ini dapat diminimalkan dengan melakukan tes diagnosa yang sesuai, terapi farmakologi, dan penggunaan standar penilaian perawatan yang telah tersedia.

Studi pada artikel ini bertujuan mengembangkan penilaian performa klinis untuk menilai kualitas klinisi dalam penatalaksanaan pasien osteoporosis dan menentukan standar performa kompetensi dan pelayanan prima. Responden pada studi dengan disain retrospective cohort study ini terdiri dari 381 dokter penyakit dalam dan sub spesialis bersertifikasi terbatas. Penilaian berdasarkan 8 dasar penilaian yang dipergunakan oleh American Board of Internal Medicine (ABIM) Osteoporosis Practice Improvement Module (PIM), berdasarkan web-based tool yang menggunakan kajian grafik medis untuk membantu klinisi menilai dan meningkatkan pelayanan pasien. Studi ini juga menggunakan Physician Practice Connections Readiness Survey (PPC-RS) untuk menilai validitas kesimpulan yang dibuat dari skor komposit.

Sedangkan metodologi studi ini mengadaptasi dari metode pengaturan Standar Angoff dan metode Dunn-Rankin yang dipatenkan dengan melibatkan panel ahli dalam membuat komposit pada perawatan osteoporosis dan menetapkan standar perawatan yang kompeten dan pelayanan prima.

Hasil studi menunjukkan bahwa skor rata-rata komposit adalah 67,54 dari nilai maksimum 100, dengan reliabilitas 0,92. Standar kompetensi yang diperoleh adalah 46,87 dan untuk pelayanan prima adalah 83,58. Kedua standar tersebut memiliki klasifikasi akurasi yang tinggi yakni 0,95. Sebanyak 16% dokter memiliki performa di bawah standar pelayanan yang kompeten, 22% memiliki standar pelayanan prima. Capaian performa dokter spesialis lebih tinggi dibanding dokter umum dan adanya hhbungan antara praktik infrastruktur yang baik dengan tingginya skor komposit menunjukkan adanya bukti yang valid.

Berikut adalah tabel Penilaian Standar Kompetensi dan Pelayanan Prima menggunakan ABIM Osteoporosis PIM:

140ktmutu

Sedangkan distribusi skor komposit untuk standar performa adalah sebagai berikut

140ktmutu1 

Pada studi ini, umpan balik performa dokter bergantung pada standar absolut pelayanan yang diberikan oleh dokter, dengan pendekatan ‘berarti’ untuk evaluasi diri dalam upaya meningkatkan pelayanan pasien. Umpan balik yang disampaikan dalam studi ini diharapkan dapat membantu dokter untuk mengidentifikasi area mana saja yang dapat ditingkatkan dalam pelayanan pasien osteoporosis, menurunkan angka kematian, ketergantungan, dan biaya pelayanan kesehatan.

Disarikan Oleh: Lucia Evi Indriarini, MPH.

Sumber: Weng, W., Hess, B.J., Lynn, L.A., and Lipner, R.S. (2015). Assessing the Quality of Osteoporosis Care in Practice. J Gen Intern Med 30(11):1681–7. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4617929/ 

 

Upaya Meningkatkan Pemberian ASI Eksklusif: Studi di Rumah Sakit Akademik-Cincinnati, Ohio

Telah diketahui bahwa pemberian Air Susu Ibu (ASI) bermanfaat bagi bayi dan ibu. Diantaranya adalah adanya pengurangan risiko kesehatan sebagai luaran yang diperoleh dengan pemberian ASI eksklusif (exclusive breastfeeding-EBF).

Air susu ibu merupakan sumber nutrisi optimal bagi bayi baru lahir dan memberikan banyak manfaat. Bayi yang disusui memiliki risiko kematian yang lebih rendah, dan risiko lebih rendah terkena penyakit anak-anak seperti; gangguan pernapasan, infeksi saluran cerna, otitis media, dan leukemia pada anak, diabetes, dan obesitas. Sedangkan manfaat bagi ibu, diantaranya berisiko rendah terjadi pendarahan postpartum, kanker payudara dan ovarium, serta risiko rendah terkena diabetes tipe 2.

Terlepas dari manfaat pemberian ASI eksklusif, tingkat pemberian ASI eksklusif berada dibawah standar yang ditetapkan oleh Healthy People 2020, dan Ohio exclusive breastfeeding (EBF) juga menunjukkan tingkat capaian yang rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh edukasi antenatal, dan dukungan rumah sakit untuk mewujudkan penerapan program pemberian ASI eksklusif yang secara signifikan dapat mendukung kesuksesan, keeksklusifan, dan durasi pemberian ASI eksklusif, selain juga faktor sosioekonomi, serta jumlah ibu yang berpengalaman memberikan ASI eksklusif.

Isu ini juga menjadi perhatian salah satu rumah sakit akademik di Cincinnati-Ohio karena rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif (EBF) juga terjadi di rumah sakit tersebut (University of Cincinnati Medical Center-UCMC). Untuk itu dilakukan suatu upaya untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif dengan penerapan Learning Collaborative Model dengan proyek Best Fed Beginning.

Upaya kolaborasi peningkatan kualitas fasilitas pelayanan ini memiliki sasaran populasi yang berisiko tinggi tidak memberikan ASI eksklusif. Program Best Fed Beginning (BFB) dikoordinatori oleh Natioal Institute for Children’s Health Quality dan bekerjasama dengan Centers for Disease Control and Baby-Friendly USA (BFUSA). Program BFB memberikan pelatihan, bantuan teknis, dan bimbingan menyusui, peningkatan kualitas, dan akses untuk berbagi pengetahuan.

Tujuan yang ingin dicapai oleh UCMC adalah bekerjasama dengan rumah sakit yang berupaya meningkatkan tingkat pemberian ASI eksklusif hingga 90% pada Agustus 2014 dan mencapai Baby Friendly pada September 2014.

Metode ilmiah yang dipergunakan dalam penerapan program ini termasuk diantaranya menggunakan pengembangan dari diagram utama siklus PDCA (Plan-Do-Study-Act Cycles), serta dilanjutkan dengan aktivitas penerapan Ten Steps to Successful Breastfeeding. Berikut adalah diagram penggerak utama yang dipergunakan:

h 1

Sedangkan 10 langkah menyusui dengan sukses mencakup:

Langkah 1: Memiliki kebijakan menyusui yang tertulis dan secara rutin dikomunikasikan kepada semua staf layanan kesehatan.
Langkah 2: Latih semua staf layanan kesehatan dengan keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan kebijakan ini.
Langkah 3: Beri tahu semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui.
Langkah 4: Bantu ibu memulai menyusui dalam waktu 1 jam setelah kelahiran.
Langkah 5: Tunjukkan pada ibu cara menyusui dan tetap berupaya menyusui, bahkan jika mereka terpisah dari bayinya.
Langkah 6: Tidak memberikan bayi makanan atau minuman selain ASI, kecuali ada indikasi medis.
Langkah 7: Penerapan rooming-in: memungkinkan ibu dan bayi tetap bersama 24 jam sehari.
Langkah 8: Dukung ibu untuk menyusui sesuai kebutuhan.
Langkah 9: Jangan berikan dot atau puting buatan untuk menyusui bayi.
Langkah 10: Membina pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada mereka saat keluar dari rumah sakit atau pusat kelahiran.

Populasi studi ini mencakup seluruh bayi yang di rawat di Unit Postpartum di UCMC selama Juli 2012-Desember 2014 (n 4181). Pada studi ini diidentifikasi 2 langkah proses: 1) rooming in adalah persentase bayi dipisahkan dari ibu mereka ≤1 jam per hari, 2) STS (skin to skin) adalah persentase bayi yang dengan proses STS dengan ibu mereka dalam 5 menit kelahiran, sampai menyusui pertama atau 1 jam awal kehidupan.

Pengumpulan data dilakukan pada periode Juli 2011-Juni 2012, dengan mengkaji 30 diagram per bulan untuk menyeimbangkan baseline tingkat EBF. Pada periode Juli 2012-Oktober 2012 dipilih rekam medis ke-empat dari laporan bulanan (n-50). Serta per November 2012, 30 diagram bayi dikaji, sebagai proyek pedoman BFB. Berikut adalah hasil dari studi:

h 1

Gambar 1: Persentase Jumlah Bayi yang Dilakukan Skin-to-Skin Pada Saat Kelahiran

h 1

Gambar 2. Persentase Jumlah Bayi dengan Penerapan Room-In

h 1

Gambar 3. Persentase Jumlah Bayi yang Memperoleh ASI Eksklusif

h 1

Gambar 4. Persentase Jumlah Pasien Menyusui di Center for Women Health (CWH) pada Kunjungan Pasien Rawat Jalan

Studi ini menunjukkan bahwa pendekatan multitier dapat meningkatkan kesehatan komunitas dan dapat mengatasi kesenjangan. Meskipun menantang, namun tujuan menjadikan rumah sakit sebagai destinasi Baby Friendly dapat tercapai, serta penerapan standar untuk mendukung pemberian ASI eksklusif-perawatan ibu bayi dapat dilaksanakan. Hal ini sangat penting mengngat rumah sakit pendidikan, ke depannya dapat menjadi pusat pembelajaran bagi provider kesehatan untuk mengadopsi praktik peningkatan layanan kesehatan bagi ibu dan anak.

Dirangkum Oleh: Lucia Evi Indriarini, MPH.
Sumber : Ward, LP., Williamson, S., Burke, S., Crawford-Hemphil, C., Thompson, AM. (2017). Improving Exclusive Breastfeeding in an Urban Academic Hospital. Pediatric Vol.139, Number 2. http://pediatrics.aappublications.org/content/139/2/e20160344 

Pelayanan Persalinan yang Berfokus pada Pasien: Perspektif Pasien

Pelayanan kesehatan terhadap ibu menjadi fokus utama pengembangan perawatan persalinan. Untuk melakukan penilaian peningkatan pelayanan yang berfokus pada pasien, biasanya perspektif dari provider perawatan persalinan dan regulator lebih dominan. Sehingga penting untuk mengetahui perspektif dari ibu yang memperoleh layanan persalinan tersebut.

Artikel ini memaparkan hasil penelitian yang bertujuan untuk menganalisa perspektif pasien perawatan persalinan dan untuk memperoleh rekomendasi upaya meningkatkan pelayanan yang berfokus pada pasien (client-centred care). Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian kualitatif, dengan membandingkan 6 grup diskusi terarah (Focus Group Disscussion). Responden yang berpartisipasi sejumlah 43 orang dengan 20 pertanyaan semi terstruktur. Sedangkan kriteria responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah pasien ibu yang telah menerima pelayanan persalinan kurang dari 1 tahun di wilayah North-West Netherlands.

Isu penelitian yang mengangkat mengenai pelayanan berfokus pada pasien sudah banyak mendapat perhatian di berbagai negara di dunia. Konsep pelayanan tersebut direkomendasikan untuk diterapkan, yang juga bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan persalinan bagi ibu. Pengembangan ini merupakan hasil dari adanya pengakuan yang menyatakan bahwa sistem pelayanan kesehatan seharusnya tidak hanya berfokus pada dokter, namun juga terintegrasi dengan perspektif pasien.

Sedangkan di Belanda, yang merupakan lokasi penelitian ini dilaksanakan, mengkategorikan sistem pelayanan persalinan menjadi:

  1. Community-based primary Care
  2. Hospital-based Secondary Care
  3. Specialized Academic Tertiary Care

Pada prinsipnya, perawatan primer yang dipimpin oleh bidan disediakan untuk wanita yang berisiko rendah komplikasi selama kehamilan atau persalinan. Wanita yang dianggap memiliki risiko komplikasi sedang atau tinggi menerima perawatan sekunder dan tersier yang dipimpin dokter kandungan. Selama perawatan mereka, dapat-dan sering kali-bergeser di antara level yang berbeda, tergantung pada status risikonya. Konsep perawatan terpadu ini dinilai dapat menjadi sarana untuk mengatasi berbagai pengalaman negatif yang dapat timbul pada proses rujukan.

Untuk memadukan layanan perawatan bersalin di Belanda, optimalisasi koordinasi dan kolaborasi antara kategori tiga divisi tersebut diperlukan. Selain itu, perusahaan asuransi kesehatan juga telah mengupayakan kerja sama mereka dengan penyedia layanan kesehatan.

Untuk benar-benar menempatkan perempuan di pusat layanan perawatan bersalin, preferensi mereka sendiri harus dipertimbangkan.

Tinjauan global sistematis tentang penelitian kualitatif tentang perspektif perempuan tentang persalinan yang dilakukan oleh Downe et al. (2018) mengungkapkan bahwa sebagian besar wanita terutama menghargai memiliki pengalaman positif yang memenuhi atau melampaui keyakinan dan harapan pribadi dan sosial budaya mereka.

Untuk menganalisis persepektif pasien ibu terhadap pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien, maka diintegrasikan model perawatan yang berpusat pada wanita yang ada (Leap, 2009; Pope et al., 2001; Carolan dan Hodnett, 2007; Berg et al., 2012; Hunter et al., 2017; Maputle dan Donavon, 2010, 2013) dan model perawatan yang berpusat pada pasien dari Maassen et al. (2017). Empat dimensi (pasien, profesional kesehatan, interaksi dan organisasi layanan kesehatan) dari model perawatan yang berpusat pada pasien Maassen et al. (2017) digunakan sebagai dasar untuk kerangka kerja.

Studi ini, yang dilakukan pada periode 2014-2016, adalah bagian dari studi monitoring dan evaluasi yang lebih besar dari jaringan perawatan bersalin dii wilayah North-West Netherlands

Peserta diskusi kelompok terarah direkrut melalui pengumuman dan selebaran yang disebarluaskan oleh para guru kursus kehamilan (seperti pernapasan saat lahir atau terapi latihan mensendieck). Metode pengambilan sampel purposive dipergunakan dalam penelitian ini, dengan kriteria responden berlatar belakang pendidikan tingkat rendah atau menengah. Kriteria tersebut ditetapkan karena pada wawancara/diskusi awal diperoleh hasil kelompok diskusi terarah dengan pasien berpendidikan tinggi memiliki representasi awal yang ‘berlebihan’. Responden pasien ibu tersebut direkrut dari sebuah rumah sakit dan 3 klinik anak yang memiliki dukungan terhadap perawatan bersalin bagi pasien berisiko. Pendekatan yang dipergunakan pada saat rekrutmen adalah dengan melakukan kontak tatap muka langsung dengan calon responden, misalnya dengan mendekati pasien ibu di ruang tunggu klinik anak, dan selanjutnya apabila calon responden berminat dapat dihubungi melalui email atau telpon untuk perencanaan wawancara.

Berikut adalah tabel karakteristik responden pada penelitian ini:

art 1m

art 2m

Wawancara dan diskusi kelompok terarah direkam dan ditrankrip. Kemudian transkrip tersebut dianalisis menggunakan program perangkat lunak MAXqda 2007. Pada proses transkrip diterapkan kombinasi kode terbuka dan tertutup. Transkrip kode tersebut dianalisis oleh para peneliti untuk meningkatkan validitas internal penelitian. Data penelitian dianalisis secara anonim dan selanjutnya seluruh responden memberikan persetujuan lisan untuk partisipasi mereka. Peserta kelompok diskusi terarah (Focus Group Disscussion) menerima ringkasan diskusi sebagai metode kroscek oleh anggota.

Peserta diskusi pada umumnya memiliki perspektif positif tentang perawatan bersalin yang mereka terima, tetapi masih terdapat pelayanan yang diterima yang tidak selalu ‘responsif’ terhadap keinginan dan kebutuhan mereka. Masalah-masalah yang diidentifikasi oleh pasien ibu tersebut mencakup keempat dimensi (klien, interaksi, profesional dan organisasi) dari kerangka kerja pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien.

art 3m

 

  1. Dimensi Klien
    Dimensi ini mencakup pada pengalaman responden terhadap lima elemen dimensi klien dari kerangka kerja pelayanan berfokus pada pasien: diperlakukan sebagai pribadi, mampu berpartisipasi, mandiri, dihormati, dan mendapat informasi dengan baik.
    • Diperlakukan sebagai pribadi.
      Berbagai responden menjawab perlunya layanan perawatan untuk fokus pada klien sebagai pribadi yang ‘utuh’. Aspek-aspek yang tidak terkait dengan kehamilan, seperti kesehatan mental atau situasi keluarga mereka, sangat penting selama proses merawat diri mereka sendiri dan bayi mereka (masa depan).
    • Mampu berpartisipasi
      Terkait partisipasi, responden umumnya menggambarkan perlunya profesional kesehatan untuk terlibat dengan mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan mereka.
    • Otonomi Klien
      Responden umumnya memiliki pendapat positif tentang kemungkinan untuk menjadi lebih mandiri melalui pengambilan keputusan bersama dan tersedianya informasi tentang manajemen diri.
    • Dihormati
      Responden merasa perlu untuk dihormati, Terutama responden dengan latar belakang pendidikan yang lebih rendah, menyebutkan perlunya untuk merasa dihargai.
    • Diberitahu dengan baik
      Hampir semua responden memiliki pendapat positif tentang informasi verbal dan tertulis yang diberikan selama seluruh proses perawatan.
  2. Dimensi interaksi
    Responden membahas unsur-unsur ‘interaksi’ berikut selama proses diskusi: keterlibatan keluarga dan teman-teman, komunikasi terbuka dan interaksi individual.
    • Keterlibatan keluarga dan teman-teman
      Menurut sejumlah besar responden, pasangan mereka, dan anak-anak mereka, hanya sedikit yang terlibat selama proses perawatan bersalin. Komunikasi provider kesehatan hampir semata-mata diarahkan pada ibu
    • Komunikasi terbuka
      Responden menyebutkan bahwa bidan perawatan primer pada umumnya transparan mengenai proses perawatan persalinan mereka. Komunikasi oleh staf rumah sakit dialami oleh sebagian besar responden dirasa kurang transparan. Responden, misalnya, tidak mendapat informasi tentang perkembangan dan kemungkinan pilihan selama persalinan dan waktu serta prosedur pemulangan. Selain itu, beberapa responden menyebutkan situasi di mana mereka menerima informasi yang berbeda dari profesional perawatan yang berbeda di rumah sakit. Responden berpendapat komunikasi yang ambigu muncul dari perbedaan dalam hirarki (penentangan keputusan ahli ginekologi yang dilatih) atau tanggung jawab (bidan tidak diizinkan untuk memberikan putusan). Kurangnya transparansi informasi menyebabkan ekspektasi buruk dan perasaan tidak aman bagi pasien.
    • Interaksi secara individual.
      Secara umum, responden memiliki pendapat positif mengenai preferensi individu mereka yang dipertimbangkan oleh provider pelayanan kesehatan. Mereka menghargai bahwa bidan perawatan primer menunjukkan minat dan menyampaikan tentang konten rencana kelahiran mereka (spesifikasi tertulis untuk manajemen persalinan, persalinan dan pemulihan). Namun disisi lain staf rumah sakit,, sering tidak mendapat informasi. Kurangnya kesadaran tentang rencana kelahiran staf rumah sakit menimbulkan kekecewaan bagi pasien.
  3. Dimensi Profesional Kesehatan
    Responden menyampaikan beberapa elemen berikut yang termasuk dalam dimensi ‘profesional kesehatan’: perspektif holistik, sikap peduli, fleksibilitas dan kompetensi.
    • Perspektif holistik
      Sehubungan dengan perawatan nifas, beberapa responden menyebutkan bahwa perhatian terutama difokuskan pada bayi baru lahir dan sedikit perhatian diberikan pada kesejahteraan responden sebagai pasien. Bagi beberapa responden. kurangnya dukungan mengenai masalah fisik atau psikologis mereka mengakibatkan perasaan tidak berdaya.
    • Sikap peduli
      Hampir responden, tetapi terutama mereka yang kurang berpendidikan, menghargai kontak yang hangat dengan profesional perawatan persalinan. Mengenai sikap peduli ini, terdapat perbedaan antara perawatan primer dan sekunder/tersier yang menjadi perhatian mereka. Menurut sebagian besar responden, bidan perawatan primer menunjukkan minat pada mereka, termasuk setelah melahirkan, dan penuh perhatian saat memberikan perawatan. Di rumah sakit, banyak responden merasa bahwa staf medis lebih fokus pada aspek medis perawatan persalinan, serta kurang memperhatikan kontak pribadi dan dukungan emosional.
    • Fleksibilitas Aturan.
      Sebagian besar responden menyatakan penghargaan mereka ketika profesional perawatan persalinan menunjukkan fleksibilitas terhadap prosedur (misalnya petugas kesehatan yang juga memperhatikan perasaan personal pasien dan tidak hanya terpaku pada prosedur/protokol)
    • Kompeten
      Menurut responden, para profesional perawatan persalinan pada umumnya digambarkan memiliki pengetahuan dan keterampilan. Komentar kritis utama yang disebutkan oleh beberapa responden adalah bahwa staf rumah sakit tidak memiliki pengetahuan khusus mengenai menyusui.
  4. Dimensi organisasi layanan kesehatan
    Organisasi layanan kesehatan memainkan peran utama dalam pengalaman responden sebagai pasien, dan membahas elemen-elemen yang berfokus pada pasien, meliputi: perawatan berkelanjutan, tim kohesif, dan perawatan yang dapat diakses.
    • Perawatan Berkelanjutan
      Responden menyebutkan kurangnya kontinuitas selama proses transfer (yang tidak direncanakan dan seringkali akut) ke dan di dalam rumah sakit. Beberapa responden pasien mengatakan bahwa petugas rumah sakit tidak mengetahui informasi dalam dokumen transfer.
    • Tim Kohesif
      Mayoritas responden pasien mengalami kurangnya kekompakan personil rumah sakit: responden pasien tidak tahu siapa dan apa fungsi atau tanggung jawab setiap orang. Selain itu, responden menyebutkan bahwa staf rumah sakit hanya memiliki kesadaran terbatas tentang situasi mereka setelah pergantian jadwal jaga bergilir dan bahwa mereka menerima informasi yang berbeda dari staf rumah sakit yang berbeda. Sebagai hasilnya, para responden pasien ini ragu-ragu tentang apa yang harus dilakukan.
    • Perawatan yang Dapat Diakses
      Responden sebagian besar positif tentang aksesibilitas bidan perawatan primer, terutama ketersediaan mereka selama 24/7. Sedangkan di rumah sakit, responden pasien sering menggambarkan teradapat waktu dimana profesional perawatan bersalin hampir tidak tersedia.

Studi ini menunjukkan bahwa untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien maka layanan perawatan persalinan harus responsif terhadap kebutuhan pasien ibu yang mengacu pada keempat dimensi (klien, interaksi, profesional dan organisasi). Untuk langkah selanjutnya harus mengadopsi pendekatan yang lebih holistik, meningkatkan penekanan pada model sosial dalam asuhan maternitas. Hal ini mensyaratkan pemberdayaan profesional perawatan persalinan untuk memiliki interaksi reflektif dengan pasien ibu (terutama dengan latar belakang kurang berpendidikan) melalui keterampilan konversi dan refleksif dalam sistem perawatan yang fleksibel, serta menyesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan spesifik pasien.

Dirangkum Oleh: Lucia Evi Indriarini
Sumber : Petit-Steeghs, V. , Lips, S.R. and Schuitmaker-Warnaar, T.J. et al. (2019). Client-Centred Maternity Care from Women’s Perspectives: Need for Responsiveness. Midwifery 74, 76-83.

{jcomments on}

 

Proporsi Upaya Pengendalian diabetes pada penduduk terdiagnosis

Diabetes melitus masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia. Penderita diabetes terus melonjak tiap tahun, menjadi beban kesehatan serius di seluruh dunia. WHO memperkirakan, bila tidak dilakukan upaya pencegahan dan peningkatan kualitas layanan pada pasien dengan penderita Diabetes Melitus (DM) maka di Dunia akan meningkat signifikan hingga 642 juta jiwa pada 2040 mendatang.

Fakta bahhwa diabetes adalah salah satu dari 4 prioritas penyakit tidak menular dan merupakan penyebab utama untuk kebutaan, serangan jantung, stroke, gagal ginjal dan amputasi kaki sedangkan 80% kejadian DM tipe 2 dapat dicegah dengan melakukan upaya pencegahan sejak dini dengan tata taksana pengobatan yang optimum. Jika menilik hasil riskesdas 2018 di Indonesia bahwa proporsi upaya pengendalian DM pada penduduk terdiagnosis oleh dokter yakni dilakukan dengan beberapa cara:

1. Pengaturan makan (sebanyak 80,2%)

Pola makan memegang peranan penting bagi penderita DM, seseorang yang tidak bisa mengatur pola makan dengan pengaturan 3J (jadwal, jenis dan jumlah) maka hal ini akan menyebabkan penderita mengalami peningkatan kadar gula darah. Penderita DM biasanya cenderung memiliki kandungan gula darah yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, penderita DM perlu menjaga pengaturan pola makan dalam rangka pengendalian kadar gula darah sehingga kadar gula darahnya tetap terkontrol. 3 J yang dimaksud yakni Jenis Makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi pasien diabetes jenisnya harus beragam. Hal tersebut bertujuan agar nutrisi lengkap bisa diserap tubuh dan tidak kekurangan nutrisi.

Untuk jenis makanan yang dianjurkan pasien diabetes itu setidaknya terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah dengan diet seimbang. Tentu saja, makanan dengan indeks glimekik rendah sangat disarankan bagi pasien diabetes. Jadwal makan pasien diabetes sudah seharusnya diatur sedemikian rupa dengan tenggang waktu sama setiap hari. Hal tersebut bertujuan agar asupan gula dalam darah tetap stabil dan tidak naik turun secara drastis. Jadwal makan tersebut harus dipatuhi pasien diabetes dan sebaiknya makan tepat waktu. Agar tidak terjadi hipoglikemia. Jumlah atau porsi makan juga harus diperhatikan pasien diabetes. Segera konsultasikan ke dokter untuk mengetahui berapa jumlah kalori yang dibutuhkan, karena setiap orang punya kebutuhan energi berbeda tergantung indeks massa tubuh. Jumlah kalori makanan yang dikonsumsi penting untuk dikontrol. Tidak kurang dan tidak lebih, karena berdampak dalam mengontrol gula darah.

2. Olah raga (sebanyak 48,1%)

Membiasakan olah raga merupakan kebiasaan yang baik dalam pencegahan Diabetes Melitus. Oleh karena itu, peran para pendidik baik formal maupun informal, edukator DM dan para kader sangat memegang peranan penting untuk menurunkan angka kesakitan DM. Kegiatan dapat dilakukan dengan menggiatkan program upaya kesehatan masyarakat di pusat layanan primer.

3. Alternatif herbal (35,7 %)

Pentingnya petugas kesehatan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang jenis obat tradisional yang tepat untuk pengobatan penyakit DM agar tidak salah langkah dalam mengobati DM dan mendukung masyarakat untuk menggunakan obat tradisional yang bermutu, serta memberitahukan cara penggunaan obat tradisional yang benar tanpa mengkesampingkan budaya dan memberikan informasi dengan testimoni dari orang-orang yang sebelumnya menggunakan obat medis dan tradisional.

 

Oleh: Andriani Yulianti, MPH.

Referensi:

 

{jcomments on}

Menjamin Mutu Collaborative Care Plan dengan Membangun Profesionalitas, Penghargaan, dan Kepercayaan

Dengan semakin berkembangnya pelayanan kesehatan diberbagai belahan dunia, ditambah meningkatnya kesadaran dari masyarakat dunia tentang pentingnya pengelolaan lingkungan dan upaya yang inovatif dibidang kesehatan masyarakat, banyak negara maju dan berkembang sudah mulai mengalihkan perhatiannya dari masalah penyakit menular ke penyakit tidak menular, seperti kanker, jantung koroner, dan diabetes melitus. Trend ini juga disebabkan oleh gaya hidup masyarakat dunia yang mulai berubah dengan konsumsi junk food yang serba instan, kebiasaan merokok, dan kurangnya aktivitas fisik. Oleh karenanya penangan penyakit tidak menular sudah menjadi perhatian tersendiri dan dikembangkan berbagai inovasi untuk mengatasinya, salah satu yang menjadi perhatian adalah diabetes melitus.

Di Australia misalnya, diabetes menjadi penyebab utama kematian, kesakitan, dan kecacatan selain sebagai salah satu faktor resiko penyebab beberapa penyakit kronik. Diabetes menempati urutan 2 penyakit kronik terbanyak yang ditangani oleh dokter di Australia dengan indikasi rujukan tertinggi. General Practice Guidelines for Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) memberikan perhatian khusus pada penanganan terkoordinasi untuk menangani diabetes yang melibatkan dokter, dokter spesialis, diabetes educator, penata diet, ahli mata dan podiatrist. Namun pada kenyataannya koordinasi terkait hal ini berlum berjalan dengan baik, rujukan ke diabetes educator dan penata diet masih rendah bahkan pada kasus-kasus overweight atau obesitas. Keadaan ini mengindikasikan kebutuhan untuk peningkatan colaborative care antar profesi maupun fasilitas pelayanan kesehatan.

Untuk menjamin collaborative care terutama untuk penyakit seperti diabetes melitus, maka faktor yang perlu diperhatikan adalah bagaimana masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan mengetahui batasannya sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dan kurang koordinasi antara dokter, dokter spesialis, diabetes educator, penata diet, ahli mata, dan podiatrist terutama dalam proses rujukan. Menurut Van de Ven dan Walker hubungan baik yang terbangun pada proses rujukan lebih bergantung pada pengetahuan personal dan kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Hubungan ini juga dipengaruhi oleh power autonomy yang dimiliki oleh fasilitas kesehatan yakni siapa yang mempunyai otoritas untuk mengambil keputusan dan siapa yang mempunyai kemampuan untuk memberikan ide.
Kepercayaan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam menjamin kualitas dari collaborative care. Kepercayaan mencakup pemberian kuasa kepada pihak lain untuk menangani pasien sesuai dengan standard yang sesuai. Kepercayaan yang dimaksud disini berhubungan dengan kompetensi, profesionalitas, dan respect.

Sebuah penelitian kualitatif oleh Mc Donald, dkk mungkin bisa membantu kita bagaimana mengelola sebuah collaborative care untuk penyakit kronis seperti diabetes dengan kolaborasi multidisipliner. Mc Donald, dkk menggali secara mendalam bagaimana penyakit diabetes ditangani secara collaborative oleh berbagai fasilitas layanan kesehatan di Australia mulai dari dokter umum sampai dengan podiatrist. Dokter umum sebagai gate-keeping mengambil peranan yang sangat penting, mereka mempunyai “kekuasaan” untuk melakukan rujukan, dimana fasilitas kesehatan atau profesional lain yang masuk sebagai collaborative team sangat bergantung dengan dokter. Disatu sisi dengan metode pembayaran fee-for-service dokter merasa mendapatkan pendapatan yang lebih sedikit apabila melakukan rujukan sehingga koordinasi yang terbangun dengan fasilitas kesehatan yang ada diatasnya menjadi berkurang. Dengan demikian beberapa klinik yang masuk dalam sampel peneltian tersebut menyediakan beberapa pelayanan yang seharusnya akan lebih baik diserahkan kepada profesional misalnya pelayanan monitoring rutin diabetes dan patient education yang merupakan wilayah dari diabetes educator. Hal ini tentu saja menimbulkan overlap dalam pelayanan, selain menambah beban pada klinik umum hal ini juga mengurangi kepercayaan pada klinik-klinik diabetes swasta atau fasilitas kesehatan yang berada diatasnya.

Kepercayaan dan respect adalah bagaimana menghubungkan profesionalitas dan personal faktor. Dalam arti sederhana bagaimana seorang dokter bisa menaruh kepercayaan pada spesialist atau fasilitas diatasnya dengan harapan bahwa pasien yang akan ia rujuk mendapat penanganan yang baik. Hal ini terkadang dinilai dari kualitas feedback rujukan, dokter biasanya akan melakukan rujukan kepada pihak yang mempunyai feedback yang baik dan memuaskan. Selain itu komunikasi langsung by phone akan lebih meningkatkan hubungan antara semua pihak yang terlibat. McDonald juga mewawancarai pasien yang ditangani baik secara collaborative maupun tidak, dan mereka menemukan bahwa pasien yang ditangani secara collaborative merasa puas dengan penangan yang diberikan oleh pihak-pihak yang terlibat.

Oleh karena itu dalam rangka menyediakan collaborative care yang bermutu demi menjamin keselamatan pasien maka 2 faktor penting yang perlu diberi perhatian adalah respect (penghargaan) dan kepercayaan. Dengan membangun penghargaan dan kepercayaan yang kuat dengan berbagai pihak terutama yang terlibat dalam collaborative care plan maka pelayanan kesehatan yang kita berikan akan terjamin kontinuitasnya dan bermuara pada kepuasan pasien.

Oleh : Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran UNDANA
Sumber : McDonald, Julie, et all. 2012. The Influence of Power Dynamics and Trust on Multidisciplinary Collaboration: A Qualitative Case Study of Type 2 Diabetes Mellitus. BMC : Health Services Research, 12-63

http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1472-6963-12-63.pdf

{jcomments on}