Konsep, Standar, dan Audit Penerapan Tata Kelola Klinis

Oleh: Hanevi Djasri

Tata kelola pelayanan klinis yang baik atau Good Clinical Governance kembali hangat dibicarakan di Indonesia pada era Jaminan Kesehatan Nasional, dimana fasilitas pelayanan kesehatan dituntut untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu namun tetap dapat menjaga biaya pelayanan tetap efisien (kendali mutu dan kendali biaya).

Sejak tahun 2006, penulis telah melakukan pendampingan penerapan tatakelola klinis diberbagai rumah sakit (RS) pemerintah dan swasta dan juga diberbagai Puskesmas. Meskipun detail penerapan tata kelola klinis di pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat sekunder-tersier
berbeda, namun secara umum konsep dasarnya tetap sama.

Konsep dasar yang perlu dipahami sebelum mulai menerapkan berbagai kegiatan terkait tata kelola klinis yang baik adalah pemahaman mengenai pilar/komponen yang membangun clinical governance serta standar yang dapat digunakan untuk menilai/mengaudit ketepatan penerapan good clinnical governace.

Berikut ini akan penulis paparkan mengenai ke 4 pilar dan 8 standar clinical governance serta cara melakuan audit/ penilaian dengan contoh aplikasi di RS namun juga dapat berlaku di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Pilar Good Clinical Governance

Banyak konsep tentang komponen kegiatan clinical governance akan tetapi secara garis besar terdiri atas empat pilar seperti yang dikembangkan di negara bagian Australia Barat (gambar 1)

gb1

Gambar 1. Clinical Governance for the Western Australian Public Health System

1. Fokus pada customer (customer value)

Pilar pertama adalah nilai konsumen, yang mendorong pelayanan kesehatan untuk melibatkan konsumen dan stakeholder dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja pelayanan dan dalam perencanaan untuk masa depan organisasi. Konsumen dalam hal ini bukan hanya pasien, akan tetapi juga meliputi pemerintah setempat dan organisasi non-pemerintah.

Dalam menerapkan pilar pertama ini selain melibatkan konsumen, rumah sakit juga harus memperhatikan nilai-nilai yang dianut oleh konsumen tersebut. Contoh nilai-nilai yang dianut oleh konsumen misalnya pasien meyakini bahwa suatu rumah sakit yang baik adalah rumah sakit yang dokternya mampu menjelaskan dengan baik mengenai penyakit yang dialami oleh pasien dan juga dokter dapat menjelaskan rencana tindakan medis yang akan dilakukan.

Keterlibatan konsumen yang efektif memerlukan kepemimpinan yang baik pula untuk memastikan bahwa keterlibatan tersebut bermanfaat, efektif dan memberikan hasil yang positif hasil bagi pelayanan kesehatan. 

Berikut adalah hal-hal penting dari customer value: a) Hubungan yang berkelanjutan, yaitu melibatkan konsumen yang menekankan komunikasi dua arah antara konsumen dan rumah sakit. Contohnya adalah termasuk informed consent, manajemen keluhan, survei kepuasan pasien dan memberikan informasi tentang layanan bagi pasien dan keluarganya. b) Partisipasi konsumen, yaitu melibatkan konsumen dalam perencanaan rumah sakit, kebijakan pembangunan dan pengambilan keputusan. Hal ini dilakukan untuk memastikan kepada konsumen bahwa rumah sakit benar-benar menyediakan pelayanan yang mudah diakses, adil dan responsif terhadap prioritas-prioritas setempat.

Outcome yang diharapkan adalah:

  • Peningkatan pemahaman karyawan terhadap pelayanan kesehatan dan lebih responsive terhadap kebutuhan pelanggan/pasien.
  • Peningkatan pengetahuan pelanggan/pasien dan juga peningkatan partisipasi pelanggan/pasien dalam pelayanan kesehatan dan manajemen.
  • Peningkatan kepercayaan pelanggan/pasien terhadap organisasi pelayanan kesehatan/rumah sakit.
  • Peningkatan outcome pelanggan/pasien.

Dengan menerapkan Clinical Governance diharapkan RS dapat

lebih memperhatikan konsumen dengan memperhatikan nilai-nilai yang dianut oleh konsumen tersebut.

2. Clinical performance and evaluation

Pilar yang kedua ini bertujuan untuk menjamin penggunaan serta monitoring dan evaluasi standar klinis yang berbasis bukti (evidence-based). Hasilnya adalah sebuah budaya, di mana evaluasi organisasi dan kinerja klinis, termasuk audit klinis merupakan hal yang umum dan diharapkan ada di setiap organisasi pelayanan klinis. Terdapat tiga buah alat yang dapat digunakan untuk membantu organisasi layanan kesehatan
untuk mencapai hasil ini, yaitu standar klinis, indikator klinik, dan audit klinik.

Hal ini sudah diwujudkan oleh RS dengan telah dimilikinya daftar indikator klinik yang digunakan untuk mengukur kinerja klinik. Tahap yang masih harus dilakukan RS adalah melakukan evaluasi terhadap hasil dari pengukuran kinerja klinik tersebut. Perlu ada kerjasama dari semua pihak di rumah sakit, antara lain komite medis, keperawatan, hingga marketing. Jika pengukuran kinerja klinik menunjukkan hasil yang baik, maka hal ini dapat digunakan sebagai alat untuk marketing rumah sakit, yaitu dengan menunjukkan kepada masyarakat bahwa RS mampu memberikan pelayanan klinik dengan baik yang ditunjukkan dengan bukti pengukuran kinerja klinik.

Outcome yang diharapkan adalah:

  • Pengembangan clinical pathway di dalam praktek klinis.
  • Peningkatan kepatuhan terhadap praktek klinis berbasis bukti dan berkurangnya variasi dalam praktek klinis.
  • Peningkatan outcome pelanggan/pasien.
  • Berkurangnya biaya perawatan kesehatan melalui pengurangan efek samping.

3. Clinical risk management

Segala kegiatan di rumah sakit memiliki risiko, baik untuk pasien maupun untuk petugas yang berada di dalam rumah sakit tersebut. Meskipun demikian perlu dilakukan penjaminan bahwa risiko yang muncul minimal. Pilar ketiga ini menitikberatkan untuk meminimalisir risiko klinis dan
meningkatkan keamanan kepada pasien dan petugas secara keseluruhan. Hal ini dicapai dengan melakukan identifikasi, mengurangi risiko, dan mengurangi kejadian yang tidak diinginkan.

Aspek-aspek yang tercakup dalam manajemen risiko klinis adalah: a) pelaporan, monitoring, dan analisis trend kejadian yang tidak diinginkan, b) pelaporan, monitoring, dan penyelidikan klinis kejadian yang jarang terjadi (sentinel event), c) analisis risiko, termasuk identifikasi, penyelidikan, evaluasi dan analisis risiko klinis.

Sebagai catatan komite atau subkomite keselamatan pasien bukanlah satu-satunya pihak yang berperan dalam menerapkan pilar ini, namun menjadi tanggung jawab dari seluruh staf dan seluruh pihak yang ada di rumah sakit.

Outcome yang diharapkan:

  • Peningkatan monitoring dan pelaporan kejadian yang tidak diharapkan.
  • Peningkatan pemantauan terhadap insiden klinik dan kejadian yang tidak diharapkan.
  • Peningkatan proses risk management.
  • Pengurangan jumlah kejadian yang tidak diharapkan.

4. Profesional development and management

Pilar keempat ini mendukung proses pemilihan dan perekrutan staf klinis. Dalam hal ini profesionalisme terus dikembangkan, dijaga, dimonitor, dan dikontrol. Proses ini menjamin staf yang ditunjuk dan diperkerjakan adalah orang yang terampil dan berhati-hati terhadap prosedur baru. Hal yang tercakup dalam pilar keempat ini adalah standar kompetensi dan pengembangan profesional berkelanjutan.

RS melakukan upaya agar semua staf dapat meningkatkan kompetensinya, baik dalam skala besar maupun skala kecil. Dalam skala besar misalnya adalah dengan menjalani pendidikan formal, mengikuti pelatihan-pelatihan. Sedangkan peningkatan kompetensi dalam skala kecil dicontohkan dengan belajar melalui pengalaman yang ada sehari-hari yang muncul dan dibahas di dalam kegiatan morning meeting, yaitu
masalah yang ada dipecahkan berumah sakitama dan diupayakan kegiatan tindak lanjutnya.

Termasuk dalam profesional development and management adalah pengelolaan kinerja para staf. RS telah memiliki Key Performance Indicators (KPI), bahkan KPI yang ada telah sampai pada level individu. Perlu juga dikembangkan KPI untuk para dokter, KPI untuk para perawat, dan KPI untuk para profesional.

Bagian SDM bukanlah satu-satunya bagian yang bertanggung jawab terhadap profesional development and management di rumah sakit, namun merupakan tanggung jawab dari seluruh staf yang ada di rumah sakit, dan tugas tim auditor internal adalah memastikan bahwa semua staf terlibat di dalamnya.

Outcome yang diharapkan adalah: Peningkatan kredensial dokter; Peningkatan pengembangan profesional dan pelatihan keterampilan untuk karyawan; Peningkatan kinerja manajemen; dan Peningkatan kepuasan kerja karyawan.

baca selengkapnya pada link berikut

klik disini

 

Mutu Pelayanan dan Pengaruh Pengobatan Antiretroviral Untuk Pasien HIV dari Perspektif Pasien

Kepuasan pasien masih merupakan salah satu faktor penting untuk menilai mutu pelayanan kesehatan dan memperkirakan outcome pelayanan yang positif. Pada artikel ini akan dipaparkan hasil studi pengaruh persepsi pasien HIV/AIDS terhadap mutu pelayanan kesehatan yang terkait dengan penggunaan antiretroviral sebagai pengobatan di Manaus Brazil.

Penelitian menggunakan non-randomized dan analisis cross sectional untuk mengeksplorasi hubungan antara kepuasan pasien dan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral sebagai perawatan pasien HIV/AIDS. Studi ini juga membandingkan antara kepuasan pasien di rumah sakit utama di kota dengan fasilitas kesehatan di daerah. Menggunakan data respon dari survei terhadap 812 pasien dan data kesehatan dari 713 pasien, analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan regresi untuk mengidentifikasi karakteristik fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan tingginya tingkat kepuasan pasien dan tingginya tingkat kepatuhan menggunaan obat antiretroviral.

Berikut adalah tabel distribusi responden dalam penelitian ini:

tb1

Responden penelitian merupakan pasien dengan HIV/AIDS berusia 18 tahun atau lebih, berjenis kelamin pria dan wanita, yang pernah setidaknya berkunjung satu kali di fasilitas kesehatan. Pasien baru tidak dijadikan responden dalam penelitian ini karena survei kepuasan yang dilakukan berdasarkan pada kepuasan terhadap konsultasi terakhir pasien pada saat berobat ke fasilitas kesehatan. Sedangkan demografi karakteristik responden secara detil adalah sebagai berikut:

tb2

Dua pertanyaan utama dalam penelitian ini mencakup:

  1. Apa yang paling relevan di fasilitas kesehatan terkait faktor yang berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien yang tinggi (Model spesifikasi yang dipergunakan: Kepuasan Pasien= F(karakteristik fasiitas kesehatan, karakteristik pasien)
  2. Apakah tingkat kepuasan pasien yang tinggi menyebabkan tingginya tingkat kepatuhan penggunaan obat antiretroviral (Model spesifikasi yang dipergunakan: Kepatuhan penggunaan obat antiretroviral= F(kepuasan pasien, karakteristtik pasien)

Hasil penelitian menyebutkan bahwa ditemukan hubungan yang jelas dan positif antara kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan kesehatan dan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral. Pasien yang memilik akses lebih baik terhadap fasilitas kesehatan dan pelayanannya (kenyamanan lokasi, kemudahan waktu perjalanan, dan waktu tunggu yang singkat) memiliki tingkat mutu pelayanan yang tinggi dan juga kepatuhan penggunaan obat antiretroviral. Studi ini juga menemukan bahwa tingkat kepuasan pasien lebih tinggi di fasilitas kesehatan daerah dibandingkan dengan pasien yang memperoleh pelayanan di rumah sakit utama.

Berikut adalah tabel kepuasan pasien secara umum dan indikator aksesbilitas yang dihasilkan pada penelitian ini:

Sedangkan faktor-faktor yang berhubngan dengan kepuasan pasien ditampilkan secara lengkap pada tabel berikut:

Penelitian ini juga membandingkan antara faktor-faktor terkait kepuasan pasien yang ada di rumah sakit pusat/utama dengan faktor-faktor terkait kepuasan pasien di fasilitas kesehatan daerah, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Selain membandingkan tingkat kepuasan pasien di dua fasilitas kesehatan tersebut. Penelitian ini juga mengkaji dampak kepuasan pasien terhadap tingkat kepatuhan penggunaan obat antiretroviral, yang secara lengkap ditampilkan pada tabel berikut:

Penelitian ini membuktikan bahwa pengalaman pasien pada saat memperoleh perawatan di fasilitas kesehatan dapat meningkatkan outcome kesehatan yang diharapkan. Banyak faktor lain berperan penting pada kepatuhan atau ketidakpatuhan pasien menggunakan obat antiretroviral yang berada di’luar’ kendali fasilitas kesehatan. Namun temuan yang perlu ditekankan adalah fasilitas kesehatan dapat berkontribusi untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral dengan meningkatkan pengalaman postif pasien saat mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan. Studi ini juga dapat menunjukkan adanya manfaat potensial dari pelayanan kesehatan daerah untuk meningkatkan kepuasan pasien dan kepatuhan penggunaan obat antiretroviral.

Dirangkum oleh : Lucia Evi Indriarini, MPH.
Sumber : Leon et al. (2019). HIV/AIDS health services in Manaus, Brazil: patient perception of quality and its influence on adherence to antiretroviral treatment. BMC Health Service Research. 19:344. https://doi.org/10.1186/s12913-019-4062-9. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6543648/pdf/12913_2019_Article_4062.pdf 

 

Menilai Mutu Pelayanan Pasien Osteoporosis

Pasien osteoporosis lebih berisiko mengalami fraktur apabila terjatuh atau mengalami trauma lainnya. Risiko fraktur ini dapat diminimalkan dengan melakukan tes diagnosa yang sesuai, terapi farmakologi, dan penggunaan standar penilaian perawatan yang telah tersedia.

Studi pada artikel ini bertujuan mengembangkan penilaian performa klinis untuk menilai kualitas klinisi dalam penatalaksanaan pasien osteoporosis dan menentukan standar performa kompetensi dan pelayanan prima. Responden pada studi dengan disain retrospective cohort study ini terdiri dari 381 dokter penyakit dalam dan sub spesialis bersertifikasi terbatas. Penilaian berdasarkan 8 dasar penilaian yang dipergunakan oleh American Board of Internal Medicine (ABIM) Osteoporosis Practice Improvement Module (PIM), berdasarkan web-based tool yang menggunakan kajian grafik medis untuk membantu klinisi menilai dan meningkatkan pelayanan pasien. Studi ini juga menggunakan Physician Practice Connections Readiness Survey (PPC-RS) untuk menilai validitas kesimpulan yang dibuat dari skor komposit.

Sedangkan metodologi studi ini mengadaptasi dari metode pengaturan Standar Angoff dan metode Dunn-Rankin yang dipatenkan dengan melibatkan panel ahli dalam membuat komposit pada perawatan osteoporosis dan menetapkan standar perawatan yang kompeten dan pelayanan prima.

Hasil studi menunjukkan bahwa skor rata-rata komposit adalah 67,54 dari nilai maksimum 100, dengan reliabilitas 0,92. Standar kompetensi yang diperoleh adalah 46,87 dan untuk pelayanan prima adalah 83,58. Kedua standar tersebut memiliki klasifikasi akurasi yang tinggi yakni 0,95. Sebanyak 16% dokter memiliki performa di bawah standar pelayanan yang kompeten, 22% memiliki standar pelayanan prima. Capaian performa dokter spesialis lebih tinggi dibanding dokter umum dan adanya hhbungan antara praktik infrastruktur yang baik dengan tingginya skor komposit menunjukkan adanya bukti yang valid.

Berikut adalah tabel Penilaian Standar Kompetensi dan Pelayanan Prima menggunakan ABIM Osteoporosis PIM:

140ktmutu

Sedangkan distribusi skor komposit untuk standar performa adalah sebagai berikut

140ktmutu1 

Pada studi ini, umpan balik performa dokter bergantung pada standar absolut pelayanan yang diberikan oleh dokter, dengan pendekatan ‘berarti’ untuk evaluasi diri dalam upaya meningkatkan pelayanan pasien. Umpan balik yang disampaikan dalam studi ini diharapkan dapat membantu dokter untuk mengidentifikasi area mana saja yang dapat ditingkatkan dalam pelayanan pasien osteoporosis, menurunkan angka kematian, ketergantungan, dan biaya pelayanan kesehatan.

Disarikan Oleh: Lucia Evi Indriarini, MPH.

Sumber: Weng, W., Hess, B.J., Lynn, L.A., and Lipner, R.S. (2015). Assessing the Quality of Osteoporosis Care in Practice. J Gen Intern Med 30(11):1681–7. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4617929/ 

 

Upaya Meningkatkan Pemberian ASI Eksklusif: Studi di Rumah Sakit Akademik-Cincinnati, Ohio

Telah diketahui bahwa pemberian Air Susu Ibu (ASI) bermanfaat bagi bayi dan ibu. Diantaranya adalah adanya pengurangan risiko kesehatan sebagai luaran yang diperoleh dengan pemberian ASI eksklusif (exclusive breastfeeding-EBF).

Air susu ibu merupakan sumber nutrisi optimal bagi bayi baru lahir dan memberikan banyak manfaat. Bayi yang disusui memiliki risiko kematian yang lebih rendah, dan risiko lebih rendah terkena penyakit anak-anak seperti; gangguan pernapasan, infeksi saluran cerna, otitis media, dan leukemia pada anak, diabetes, dan obesitas. Sedangkan manfaat bagi ibu, diantaranya berisiko rendah terjadi pendarahan postpartum, kanker payudara dan ovarium, serta risiko rendah terkena diabetes tipe 2.

Terlepas dari manfaat pemberian ASI eksklusif, tingkat pemberian ASI eksklusif berada dibawah standar yang ditetapkan oleh Healthy People 2020, dan Ohio exclusive breastfeeding (EBF) juga menunjukkan tingkat capaian yang rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh edukasi antenatal, dan dukungan rumah sakit untuk mewujudkan penerapan program pemberian ASI eksklusif yang secara signifikan dapat mendukung kesuksesan, keeksklusifan, dan durasi pemberian ASI eksklusif, selain juga faktor sosioekonomi, serta jumlah ibu yang berpengalaman memberikan ASI eksklusif.

Isu ini juga menjadi perhatian salah satu rumah sakit akademik di Cincinnati-Ohio karena rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif (EBF) juga terjadi di rumah sakit tersebut (University of Cincinnati Medical Center-UCMC). Untuk itu dilakukan suatu upaya untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif dengan penerapan Learning Collaborative Model dengan proyek Best Fed Beginning.

Upaya kolaborasi peningkatan kualitas fasilitas pelayanan ini memiliki sasaran populasi yang berisiko tinggi tidak memberikan ASI eksklusif. Program Best Fed Beginning (BFB) dikoordinatori oleh Natioal Institute for Children’s Health Quality dan bekerjasama dengan Centers for Disease Control and Baby-Friendly USA (BFUSA). Program BFB memberikan pelatihan, bantuan teknis, dan bimbingan menyusui, peningkatan kualitas, dan akses untuk berbagi pengetahuan.

Tujuan yang ingin dicapai oleh UCMC adalah bekerjasama dengan rumah sakit yang berupaya meningkatkan tingkat pemberian ASI eksklusif hingga 90% pada Agustus 2014 dan mencapai Baby Friendly pada September 2014.

Metode ilmiah yang dipergunakan dalam penerapan program ini termasuk diantaranya menggunakan pengembangan dari diagram utama siklus PDCA (Plan-Do-Study-Act Cycles), serta dilanjutkan dengan aktivitas penerapan Ten Steps to Successful Breastfeeding. Berikut adalah diagram penggerak utama yang dipergunakan:

h 1

Sedangkan 10 langkah menyusui dengan sukses mencakup:

Langkah 1: Memiliki kebijakan menyusui yang tertulis dan secara rutin dikomunikasikan kepada semua staf layanan kesehatan.
Langkah 2: Latih semua staf layanan kesehatan dengan keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan kebijakan ini.
Langkah 3: Beri tahu semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui.
Langkah 4: Bantu ibu memulai menyusui dalam waktu 1 jam setelah kelahiran.
Langkah 5: Tunjukkan pada ibu cara menyusui dan tetap berupaya menyusui, bahkan jika mereka terpisah dari bayinya.
Langkah 6: Tidak memberikan bayi makanan atau minuman selain ASI, kecuali ada indikasi medis.
Langkah 7: Penerapan rooming-in: memungkinkan ibu dan bayi tetap bersama 24 jam sehari.
Langkah 8: Dukung ibu untuk menyusui sesuai kebutuhan.
Langkah 9: Jangan berikan dot atau puting buatan untuk menyusui bayi.
Langkah 10: Membina pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada mereka saat keluar dari rumah sakit atau pusat kelahiran.

Populasi studi ini mencakup seluruh bayi yang di rawat di Unit Postpartum di UCMC selama Juli 2012-Desember 2014 (n 4181). Pada studi ini diidentifikasi 2 langkah proses: 1) rooming in adalah persentase bayi dipisahkan dari ibu mereka ≤1 jam per hari, 2) STS (skin to skin) adalah persentase bayi yang dengan proses STS dengan ibu mereka dalam 5 menit kelahiran, sampai menyusui pertama atau 1 jam awal kehidupan.

Pengumpulan data dilakukan pada periode Juli 2011-Juni 2012, dengan mengkaji 30 diagram per bulan untuk menyeimbangkan baseline tingkat EBF. Pada periode Juli 2012-Oktober 2012 dipilih rekam medis ke-empat dari laporan bulanan (n-50). Serta per November 2012, 30 diagram bayi dikaji, sebagai proyek pedoman BFB. Berikut adalah hasil dari studi:

h 1

Gambar 1: Persentase Jumlah Bayi yang Dilakukan Skin-to-Skin Pada Saat Kelahiran

h 1

Gambar 2. Persentase Jumlah Bayi dengan Penerapan Room-In

h 1

Gambar 3. Persentase Jumlah Bayi yang Memperoleh ASI Eksklusif

h 1

Gambar 4. Persentase Jumlah Pasien Menyusui di Center for Women Health (CWH) pada Kunjungan Pasien Rawat Jalan

Studi ini menunjukkan bahwa pendekatan multitier dapat meningkatkan kesehatan komunitas dan dapat mengatasi kesenjangan. Meskipun menantang, namun tujuan menjadikan rumah sakit sebagai destinasi Baby Friendly dapat tercapai, serta penerapan standar untuk mendukung pemberian ASI eksklusif-perawatan ibu bayi dapat dilaksanakan. Hal ini sangat penting mengngat rumah sakit pendidikan, ke depannya dapat menjadi pusat pembelajaran bagi provider kesehatan untuk mengadopsi praktik peningkatan layanan kesehatan bagi ibu dan anak.

Dirangkum Oleh: Lucia Evi Indriarini, MPH.
Sumber : Ward, LP., Williamson, S., Burke, S., Crawford-Hemphil, C., Thompson, AM. (2017). Improving Exclusive Breastfeeding in an Urban Academic Hospital. Pediatric Vol.139, Number 2. http://pediatrics.aappublications.org/content/139/2/e20160344 

Pelayanan Persalinan yang Berfokus pada Pasien: Perspektif Pasien

Pelayanan kesehatan terhadap ibu menjadi fokus utama pengembangan perawatan persalinan. Untuk melakukan penilaian peningkatan pelayanan yang berfokus pada pasien, biasanya perspektif dari provider perawatan persalinan dan regulator lebih dominan. Sehingga penting untuk mengetahui perspektif dari ibu yang memperoleh layanan persalinan tersebut.

Artikel ini memaparkan hasil penelitian yang bertujuan untuk menganalisa perspektif pasien perawatan persalinan dan untuk memperoleh rekomendasi upaya meningkatkan pelayanan yang berfokus pada pasien (client-centred care). Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian kualitatif, dengan membandingkan 6 grup diskusi terarah (Focus Group Disscussion). Responden yang berpartisipasi sejumlah 43 orang dengan 20 pertanyaan semi terstruktur. Sedangkan kriteria responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah pasien ibu yang telah menerima pelayanan persalinan kurang dari 1 tahun di wilayah North-West Netherlands.

Isu penelitian yang mengangkat mengenai pelayanan berfokus pada pasien sudah banyak mendapat perhatian di berbagai negara di dunia. Konsep pelayanan tersebut direkomendasikan untuk diterapkan, yang juga bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan persalinan bagi ibu. Pengembangan ini merupakan hasil dari adanya pengakuan yang menyatakan bahwa sistem pelayanan kesehatan seharusnya tidak hanya berfokus pada dokter, namun juga terintegrasi dengan perspektif pasien.

Sedangkan di Belanda, yang merupakan lokasi penelitian ini dilaksanakan, mengkategorikan sistem pelayanan persalinan menjadi:

  1. Community-based primary Care
  2. Hospital-based Secondary Care
  3. Specialized Academic Tertiary Care

Pada prinsipnya, perawatan primer yang dipimpin oleh bidan disediakan untuk wanita yang berisiko rendah komplikasi selama kehamilan atau persalinan. Wanita yang dianggap memiliki risiko komplikasi sedang atau tinggi menerima perawatan sekunder dan tersier yang dipimpin dokter kandungan. Selama perawatan mereka, dapat-dan sering kali-bergeser di antara level yang berbeda, tergantung pada status risikonya. Konsep perawatan terpadu ini dinilai dapat menjadi sarana untuk mengatasi berbagai pengalaman negatif yang dapat timbul pada proses rujukan.

Untuk memadukan layanan perawatan bersalin di Belanda, optimalisasi koordinasi dan kolaborasi antara kategori tiga divisi tersebut diperlukan. Selain itu, perusahaan asuransi kesehatan juga telah mengupayakan kerja sama mereka dengan penyedia layanan kesehatan.

Untuk benar-benar menempatkan perempuan di pusat layanan perawatan bersalin, preferensi mereka sendiri harus dipertimbangkan.

Tinjauan global sistematis tentang penelitian kualitatif tentang perspektif perempuan tentang persalinan yang dilakukan oleh Downe et al. (2018) mengungkapkan bahwa sebagian besar wanita terutama menghargai memiliki pengalaman positif yang memenuhi atau melampaui keyakinan dan harapan pribadi dan sosial budaya mereka.

Untuk menganalisis persepektif pasien ibu terhadap pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien, maka diintegrasikan model perawatan yang berpusat pada wanita yang ada (Leap, 2009; Pope et al., 2001; Carolan dan Hodnett, 2007; Berg et al., 2012; Hunter et al., 2017; Maputle dan Donavon, 2010, 2013) dan model perawatan yang berpusat pada pasien dari Maassen et al. (2017). Empat dimensi (pasien, profesional kesehatan, interaksi dan organisasi layanan kesehatan) dari model perawatan yang berpusat pada pasien Maassen et al. (2017) digunakan sebagai dasar untuk kerangka kerja.

Studi ini, yang dilakukan pada periode 2014-2016, adalah bagian dari studi monitoring dan evaluasi yang lebih besar dari jaringan perawatan bersalin dii wilayah North-West Netherlands

Peserta diskusi kelompok terarah direkrut melalui pengumuman dan selebaran yang disebarluaskan oleh para guru kursus kehamilan (seperti pernapasan saat lahir atau terapi latihan mensendieck). Metode pengambilan sampel purposive dipergunakan dalam penelitian ini, dengan kriteria responden berlatar belakang pendidikan tingkat rendah atau menengah. Kriteria tersebut ditetapkan karena pada wawancara/diskusi awal diperoleh hasil kelompok diskusi terarah dengan pasien berpendidikan tinggi memiliki representasi awal yang ‘berlebihan’. Responden pasien ibu tersebut direkrut dari sebuah rumah sakit dan 3 klinik anak yang memiliki dukungan terhadap perawatan bersalin bagi pasien berisiko. Pendekatan yang dipergunakan pada saat rekrutmen adalah dengan melakukan kontak tatap muka langsung dengan calon responden, misalnya dengan mendekati pasien ibu di ruang tunggu klinik anak, dan selanjutnya apabila calon responden berminat dapat dihubungi melalui email atau telpon untuk perencanaan wawancara.

Berikut adalah tabel karakteristik responden pada penelitian ini:

art 1m

art 2m

Wawancara dan diskusi kelompok terarah direkam dan ditrankrip. Kemudian transkrip tersebut dianalisis menggunakan program perangkat lunak MAXqda 2007. Pada proses transkrip diterapkan kombinasi kode terbuka dan tertutup. Transkrip kode tersebut dianalisis oleh para peneliti untuk meningkatkan validitas internal penelitian. Data penelitian dianalisis secara anonim dan selanjutnya seluruh responden memberikan persetujuan lisan untuk partisipasi mereka. Peserta kelompok diskusi terarah (Focus Group Disscussion) menerima ringkasan diskusi sebagai metode kroscek oleh anggota.

Peserta diskusi pada umumnya memiliki perspektif positif tentang perawatan bersalin yang mereka terima, tetapi masih terdapat pelayanan yang diterima yang tidak selalu ‘responsif’ terhadap keinginan dan kebutuhan mereka. Masalah-masalah yang diidentifikasi oleh pasien ibu tersebut mencakup keempat dimensi (klien, interaksi, profesional dan organisasi) dari kerangka kerja pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien.

art 3m

 

  1. Dimensi Klien
    Dimensi ini mencakup pada pengalaman responden terhadap lima elemen dimensi klien dari kerangka kerja pelayanan berfokus pada pasien: diperlakukan sebagai pribadi, mampu berpartisipasi, mandiri, dihormati, dan mendapat informasi dengan baik.
    • Diperlakukan sebagai pribadi.
      Berbagai responden menjawab perlunya layanan perawatan untuk fokus pada klien sebagai pribadi yang ‘utuh’. Aspek-aspek yang tidak terkait dengan kehamilan, seperti kesehatan mental atau situasi keluarga mereka, sangat penting selama proses merawat diri mereka sendiri dan bayi mereka (masa depan).
    • Mampu berpartisipasi
      Terkait partisipasi, responden umumnya menggambarkan perlunya profesional kesehatan untuk terlibat dengan mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan mereka.
    • Otonomi Klien
      Responden umumnya memiliki pendapat positif tentang kemungkinan untuk menjadi lebih mandiri melalui pengambilan keputusan bersama dan tersedianya informasi tentang manajemen diri.
    • Dihormati
      Responden merasa perlu untuk dihormati, Terutama responden dengan latar belakang pendidikan yang lebih rendah, menyebutkan perlunya untuk merasa dihargai.
    • Diberitahu dengan baik
      Hampir semua responden memiliki pendapat positif tentang informasi verbal dan tertulis yang diberikan selama seluruh proses perawatan.
  2. Dimensi interaksi
    Responden membahas unsur-unsur ‘interaksi’ berikut selama proses diskusi: keterlibatan keluarga dan teman-teman, komunikasi terbuka dan interaksi individual.
    • Keterlibatan keluarga dan teman-teman
      Menurut sejumlah besar responden, pasangan mereka, dan anak-anak mereka, hanya sedikit yang terlibat selama proses perawatan bersalin. Komunikasi provider kesehatan hampir semata-mata diarahkan pada ibu
    • Komunikasi terbuka
      Responden menyebutkan bahwa bidan perawatan primer pada umumnya transparan mengenai proses perawatan persalinan mereka. Komunikasi oleh staf rumah sakit dialami oleh sebagian besar responden dirasa kurang transparan. Responden, misalnya, tidak mendapat informasi tentang perkembangan dan kemungkinan pilihan selama persalinan dan waktu serta prosedur pemulangan. Selain itu, beberapa responden menyebutkan situasi di mana mereka menerima informasi yang berbeda dari profesional perawatan yang berbeda di rumah sakit. Responden berpendapat komunikasi yang ambigu muncul dari perbedaan dalam hirarki (penentangan keputusan ahli ginekologi yang dilatih) atau tanggung jawab (bidan tidak diizinkan untuk memberikan putusan). Kurangnya transparansi informasi menyebabkan ekspektasi buruk dan perasaan tidak aman bagi pasien.
    • Interaksi secara individual.
      Secara umum, responden memiliki pendapat positif mengenai preferensi individu mereka yang dipertimbangkan oleh provider pelayanan kesehatan. Mereka menghargai bahwa bidan perawatan primer menunjukkan minat dan menyampaikan tentang konten rencana kelahiran mereka (spesifikasi tertulis untuk manajemen persalinan, persalinan dan pemulihan). Namun disisi lain staf rumah sakit,, sering tidak mendapat informasi. Kurangnya kesadaran tentang rencana kelahiran staf rumah sakit menimbulkan kekecewaan bagi pasien.
  3. Dimensi Profesional Kesehatan
    Responden menyampaikan beberapa elemen berikut yang termasuk dalam dimensi ‘profesional kesehatan’: perspektif holistik, sikap peduli, fleksibilitas dan kompetensi.
    • Perspektif holistik
      Sehubungan dengan perawatan nifas, beberapa responden menyebutkan bahwa perhatian terutama difokuskan pada bayi baru lahir dan sedikit perhatian diberikan pada kesejahteraan responden sebagai pasien. Bagi beberapa responden. kurangnya dukungan mengenai masalah fisik atau psikologis mereka mengakibatkan perasaan tidak berdaya.
    • Sikap peduli
      Hampir responden, tetapi terutama mereka yang kurang berpendidikan, menghargai kontak yang hangat dengan profesional perawatan persalinan. Mengenai sikap peduli ini, terdapat perbedaan antara perawatan primer dan sekunder/tersier yang menjadi perhatian mereka. Menurut sebagian besar responden, bidan perawatan primer menunjukkan minat pada mereka, termasuk setelah melahirkan, dan penuh perhatian saat memberikan perawatan. Di rumah sakit, banyak responden merasa bahwa staf medis lebih fokus pada aspek medis perawatan persalinan, serta kurang memperhatikan kontak pribadi dan dukungan emosional.
    • Fleksibilitas Aturan.
      Sebagian besar responden menyatakan penghargaan mereka ketika profesional perawatan persalinan menunjukkan fleksibilitas terhadap prosedur (misalnya petugas kesehatan yang juga memperhatikan perasaan personal pasien dan tidak hanya terpaku pada prosedur/protokol)
    • Kompeten
      Menurut responden, para profesional perawatan persalinan pada umumnya digambarkan memiliki pengetahuan dan keterampilan. Komentar kritis utama yang disebutkan oleh beberapa responden adalah bahwa staf rumah sakit tidak memiliki pengetahuan khusus mengenai menyusui.
  4. Dimensi organisasi layanan kesehatan
    Organisasi layanan kesehatan memainkan peran utama dalam pengalaman responden sebagai pasien, dan membahas elemen-elemen yang berfokus pada pasien, meliputi: perawatan berkelanjutan, tim kohesif, dan perawatan yang dapat diakses.
    • Perawatan Berkelanjutan
      Responden menyebutkan kurangnya kontinuitas selama proses transfer (yang tidak direncanakan dan seringkali akut) ke dan di dalam rumah sakit. Beberapa responden pasien mengatakan bahwa petugas rumah sakit tidak mengetahui informasi dalam dokumen transfer.
    • Tim Kohesif
      Mayoritas responden pasien mengalami kurangnya kekompakan personil rumah sakit: responden pasien tidak tahu siapa dan apa fungsi atau tanggung jawab setiap orang. Selain itu, responden menyebutkan bahwa staf rumah sakit hanya memiliki kesadaran terbatas tentang situasi mereka setelah pergantian jadwal jaga bergilir dan bahwa mereka menerima informasi yang berbeda dari staf rumah sakit yang berbeda. Sebagai hasilnya, para responden pasien ini ragu-ragu tentang apa yang harus dilakukan.
    • Perawatan yang Dapat Diakses
      Responden sebagian besar positif tentang aksesibilitas bidan perawatan primer, terutama ketersediaan mereka selama 24/7. Sedangkan di rumah sakit, responden pasien sering menggambarkan teradapat waktu dimana profesional perawatan bersalin hampir tidak tersedia.

Studi ini menunjukkan bahwa untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien maka layanan perawatan persalinan harus responsif terhadap kebutuhan pasien ibu yang mengacu pada keempat dimensi (klien, interaksi, profesional dan organisasi). Untuk langkah selanjutnya harus mengadopsi pendekatan yang lebih holistik, meningkatkan penekanan pada model sosial dalam asuhan maternitas. Hal ini mensyaratkan pemberdayaan profesional perawatan persalinan untuk memiliki interaksi reflektif dengan pasien ibu (terutama dengan latar belakang kurang berpendidikan) melalui keterampilan konversi dan refleksif dalam sistem perawatan yang fleksibel, serta menyesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan spesifik pasien.

Dirangkum Oleh: Lucia Evi Indriarini
Sumber : Petit-Steeghs, V. , Lips, S.R. and Schuitmaker-Warnaar, T.J. et al. (2019). Client-Centred Maternity Care from Women’s Perspectives: Need for Responsiveness. Midwifery 74, 76-83.

{jcomments on}

 

Proporsi Upaya Pengendalian diabetes pada penduduk terdiagnosis

Diabetes melitus masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia. Penderita diabetes terus melonjak tiap tahun, menjadi beban kesehatan serius di seluruh dunia. WHO memperkirakan, bila tidak dilakukan upaya pencegahan dan peningkatan kualitas layanan pada pasien dengan penderita Diabetes Melitus (DM) maka di Dunia akan meningkat signifikan hingga 642 juta jiwa pada 2040 mendatang.

Fakta bahhwa diabetes adalah salah satu dari 4 prioritas penyakit tidak menular dan merupakan penyebab utama untuk kebutaan, serangan jantung, stroke, gagal ginjal dan amputasi kaki sedangkan 80% kejadian DM tipe 2 dapat dicegah dengan melakukan upaya pencegahan sejak dini dengan tata taksana pengobatan yang optimum. Jika menilik hasil riskesdas 2018 di Indonesia bahwa proporsi upaya pengendalian DM pada penduduk terdiagnosis oleh dokter yakni dilakukan dengan beberapa cara:

1. Pengaturan makan (sebanyak 80,2%)

Pola makan memegang peranan penting bagi penderita DM, seseorang yang tidak bisa mengatur pola makan dengan pengaturan 3J (jadwal, jenis dan jumlah) maka hal ini akan menyebabkan penderita mengalami peningkatan kadar gula darah. Penderita DM biasanya cenderung memiliki kandungan gula darah yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, penderita DM perlu menjaga pengaturan pola makan dalam rangka pengendalian kadar gula darah sehingga kadar gula darahnya tetap terkontrol. 3 J yang dimaksud yakni Jenis Makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi pasien diabetes jenisnya harus beragam. Hal tersebut bertujuan agar nutrisi lengkap bisa diserap tubuh dan tidak kekurangan nutrisi.

Untuk jenis makanan yang dianjurkan pasien diabetes itu setidaknya terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah dengan diet seimbang. Tentu saja, makanan dengan indeks glimekik rendah sangat disarankan bagi pasien diabetes. Jadwal makan pasien diabetes sudah seharusnya diatur sedemikian rupa dengan tenggang waktu sama setiap hari. Hal tersebut bertujuan agar asupan gula dalam darah tetap stabil dan tidak naik turun secara drastis. Jadwal makan tersebut harus dipatuhi pasien diabetes dan sebaiknya makan tepat waktu. Agar tidak terjadi hipoglikemia. Jumlah atau porsi makan juga harus diperhatikan pasien diabetes. Segera konsultasikan ke dokter untuk mengetahui berapa jumlah kalori yang dibutuhkan, karena setiap orang punya kebutuhan energi berbeda tergantung indeks massa tubuh. Jumlah kalori makanan yang dikonsumsi penting untuk dikontrol. Tidak kurang dan tidak lebih, karena berdampak dalam mengontrol gula darah.

2. Olah raga (sebanyak 48,1%)

Membiasakan olah raga merupakan kebiasaan yang baik dalam pencegahan Diabetes Melitus. Oleh karena itu, peran para pendidik baik formal maupun informal, edukator DM dan para kader sangat memegang peranan penting untuk menurunkan angka kesakitan DM. Kegiatan dapat dilakukan dengan menggiatkan program upaya kesehatan masyarakat di pusat layanan primer.

3. Alternatif herbal (35,7 %)

Pentingnya petugas kesehatan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang jenis obat tradisional yang tepat untuk pengobatan penyakit DM agar tidak salah langkah dalam mengobati DM dan mendukung masyarakat untuk menggunakan obat tradisional yang bermutu, serta memberitahukan cara penggunaan obat tradisional yang benar tanpa mengkesampingkan budaya dan memberikan informasi dengan testimoni dari orang-orang yang sebelumnya menggunakan obat medis dan tradisional.

 

Oleh: Andriani Yulianti, MPH.

Referensi:

 

{jcomments on}

Menjamin Mutu Collaborative Care Plan dengan Membangun Profesionalitas, Penghargaan, dan Kepercayaan

Dengan semakin berkembangnya pelayanan kesehatan diberbagai belahan dunia, ditambah meningkatnya kesadaran dari masyarakat dunia tentang pentingnya pengelolaan lingkungan dan upaya yang inovatif dibidang kesehatan masyarakat, banyak negara maju dan berkembang sudah mulai mengalihkan perhatiannya dari masalah penyakit menular ke penyakit tidak menular, seperti kanker, jantung koroner, dan diabetes melitus. Trend ini juga disebabkan oleh gaya hidup masyarakat dunia yang mulai berubah dengan konsumsi junk food yang serba instan, kebiasaan merokok, dan kurangnya aktivitas fisik. Oleh karenanya penangan penyakit tidak menular sudah menjadi perhatian tersendiri dan dikembangkan berbagai inovasi untuk mengatasinya, salah satu yang menjadi perhatian adalah diabetes melitus.

Di Australia misalnya, diabetes menjadi penyebab utama kematian, kesakitan, dan kecacatan selain sebagai salah satu faktor resiko penyebab beberapa penyakit kronik. Diabetes menempati urutan 2 penyakit kronik terbanyak yang ditangani oleh dokter di Australia dengan indikasi rujukan tertinggi. General Practice Guidelines for Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) memberikan perhatian khusus pada penanganan terkoordinasi untuk menangani diabetes yang melibatkan dokter, dokter spesialis, diabetes educator, penata diet, ahli mata dan podiatrist. Namun pada kenyataannya koordinasi terkait hal ini berlum berjalan dengan baik, rujukan ke diabetes educator dan penata diet masih rendah bahkan pada kasus-kasus overweight atau obesitas. Keadaan ini mengindikasikan kebutuhan untuk peningkatan colaborative care antar profesi maupun fasilitas pelayanan kesehatan.

Untuk menjamin collaborative care terutama untuk penyakit seperti diabetes melitus, maka faktor yang perlu diperhatikan adalah bagaimana masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan mengetahui batasannya sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dan kurang koordinasi antara dokter, dokter spesialis, diabetes educator, penata diet, ahli mata, dan podiatrist terutama dalam proses rujukan. Menurut Van de Ven dan Walker hubungan baik yang terbangun pada proses rujukan lebih bergantung pada pengetahuan personal dan kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Hubungan ini juga dipengaruhi oleh power autonomy yang dimiliki oleh fasilitas kesehatan yakni siapa yang mempunyai otoritas untuk mengambil keputusan dan siapa yang mempunyai kemampuan untuk memberikan ide.
Kepercayaan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam menjamin kualitas dari collaborative care. Kepercayaan mencakup pemberian kuasa kepada pihak lain untuk menangani pasien sesuai dengan standard yang sesuai. Kepercayaan yang dimaksud disini berhubungan dengan kompetensi, profesionalitas, dan respect.

Sebuah penelitian kualitatif oleh Mc Donald, dkk mungkin bisa membantu kita bagaimana mengelola sebuah collaborative care untuk penyakit kronis seperti diabetes dengan kolaborasi multidisipliner. Mc Donald, dkk menggali secara mendalam bagaimana penyakit diabetes ditangani secara collaborative oleh berbagai fasilitas layanan kesehatan di Australia mulai dari dokter umum sampai dengan podiatrist. Dokter umum sebagai gate-keeping mengambil peranan yang sangat penting, mereka mempunyai “kekuasaan” untuk melakukan rujukan, dimana fasilitas kesehatan atau profesional lain yang masuk sebagai collaborative team sangat bergantung dengan dokter. Disatu sisi dengan metode pembayaran fee-for-service dokter merasa mendapatkan pendapatan yang lebih sedikit apabila melakukan rujukan sehingga koordinasi yang terbangun dengan fasilitas kesehatan yang ada diatasnya menjadi berkurang. Dengan demikian beberapa klinik yang masuk dalam sampel peneltian tersebut menyediakan beberapa pelayanan yang seharusnya akan lebih baik diserahkan kepada profesional misalnya pelayanan monitoring rutin diabetes dan patient education yang merupakan wilayah dari diabetes educator. Hal ini tentu saja menimbulkan overlap dalam pelayanan, selain menambah beban pada klinik umum hal ini juga mengurangi kepercayaan pada klinik-klinik diabetes swasta atau fasilitas kesehatan yang berada diatasnya.

Kepercayaan dan respect adalah bagaimana menghubungkan profesionalitas dan personal faktor. Dalam arti sederhana bagaimana seorang dokter bisa menaruh kepercayaan pada spesialist atau fasilitas diatasnya dengan harapan bahwa pasien yang akan ia rujuk mendapat penanganan yang baik. Hal ini terkadang dinilai dari kualitas feedback rujukan, dokter biasanya akan melakukan rujukan kepada pihak yang mempunyai feedback yang baik dan memuaskan. Selain itu komunikasi langsung by phone akan lebih meningkatkan hubungan antara semua pihak yang terlibat. McDonald juga mewawancarai pasien yang ditangani baik secara collaborative maupun tidak, dan mereka menemukan bahwa pasien yang ditangani secara collaborative merasa puas dengan penangan yang diberikan oleh pihak-pihak yang terlibat.

Oleh karena itu dalam rangka menyediakan collaborative care yang bermutu demi menjamin keselamatan pasien maka 2 faktor penting yang perlu diberi perhatian adalah respect (penghargaan) dan kepercayaan. Dengan membangun penghargaan dan kepercayaan yang kuat dengan berbagai pihak terutama yang terlibat dalam collaborative care plan maka pelayanan kesehatan yang kita berikan akan terjamin kontinuitasnya dan bermuara pada kepuasan pasien.

Oleh : Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran UNDANA
Sumber : McDonald, Julie, et all. 2012. The Influence of Power Dynamics and Trust on Multidisciplinary Collaboration: A Qualitative Case Study of Type 2 Diabetes Mellitus. BMC : Health Services Research, 12-63

http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1472-6963-12-63.pdf

{jcomments on}

Indikator Kualitas Diabetes Care Dalam Review Medical Record

Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan yang mendapatkan perhatian di abad 21, lebih dari 150 orang menderita diabetes melitus dan diperkirakan akan meningkat 2 kali lipat 25 tahun kedepan. Peningkatan diabetes melitus secara dramatis terjadi di negara-negara berkembang dan diperkirakan meningkat 170% sedangkan di negara maju peningkatan hanya 42% sehingga pada tahun 2025 diperkirakan lebih dari 75% orang-orang dengan diabetes melitus akan berada di negara-negara berkembang. Selain itu diabetes melitus merupakan penyebab meroketnya morbiditas dan mortalitas dari beberapa penyakit kronis di negara maju, diabetes adalah penyebab utama kebutaan di negara-negara industri dan meyebabkan cacat visual pada orang yang berusia <60 tahun selain itu sekitar seperlima pasien diabetes melitus mengalami stadium akhir penyakit ginjal selama masa hidup. Komplikasi diabetes melitus sering terjadi pada kaki dan berujung pada amputasi.

Amputasi sering dilakukan 15 kali pada pasien dengan diabetes melitus daripada pasien dengan penyakit bawaan lainnya. Di USA, sekitar setengah dari 110.00 amputasi tungkai dilakukan pada pasien dengan diabetes melitus setiap tahun. Pasien dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko 2-4 kali lipat peningkatan penyakit kardiovaskuler (CVD) dibandingkan dengan pasien non diabetes dengan angka kematian CVD 1,5-4,5 kali lebih tinggi daripada pasien non diabetes, selain itu kejadian koroner lebih besar dan hasil klinis lebih buruk yang mengakibatkan kematian mendadak. Sekitar 50% pasien dengan diabetes melitus meninggal dalam waktu 1 tahun dan setengah dari kematian itu terjadi sebelum mereka ke rumah sakit (mendadak).

Selain mengurangi kualitas kehidupan dan lama hidup, diabetes melitus juga mengakibatkan peningkatan biaya perawatan kesehatan, namun beberapa perawatan dan praktik yang efektif dapat mengurangi pengeluaran biaya kesehatan untuk diabetes melitus. Banyak kemajuan telah dibuat, dikembangkan dan di uji coba untuk pengobatan diabetes melitus di USA dan beberapa negara eropa, peningkatan kualitas sistem kesehatan didukung oleh organisasi-organisasi pemerhati diabetes melitus serta bahu-membahu melawan diabetes melitus dan mencari metode preventif-kurative. Indikator kualitas metode ditinjau dari beberapa kriteria antara lain:

  • Bukti Kredibilitas yang berkaitan dengan proses dalam mencapai hasil dan modifikasi hasil dengan upaya dan intervensi sistem perawatan kesehatan
  • Kelayakan indikator yang bisa diukur secara akurat, handal dan masuk akal
  • Variabilitas yakni aturan keperawatan yang bisa diperbaiki

Tiga inidikator ini diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah yang komprehensif untuk peningkatan diabetes care.

Berikut ini indikator kualitas diabetes care oleh the National Diabetes Quality Improvement Alliance:

Ukuran proses

  • Persentase pasien dengan satu atau tes HbA1c lebih per tahun
  • Persentase pasien dengan tes kolesterol setidaknya satu LDL per tahun
  • Persentase pasien dengan setidaknya satu tes untuk mikroalbuminuria selama tahun pengukuran atau yang memiliki bukti perhatian medis untuk nefropati yang ada
  • Persentase pasien yang menerima pemeriksaan mata melebar atau evaluasi fotografi retina oleh dokter mata atau dokter mata selama tahun berjalan atau selama tahun sebelumnya jika pasien berisiko rendah retinopati
  • Persentase pasien yang menerima setidaknya satu pemeriksaan kaki per tahun
  • Persentase pasien diabetes melitus yang merokok dan didokumentasikan/dicatat setiap tahun

Ukuran hasil

  • Persentase pasien dengan tingkat HbA1c terakhir >9,0% (poor control)
  • Persentase pasien dengan kolesterol LDL terakhir <130 mg/d
  • Persentase pasien dengan tekanan darah terbaru <140/90 mmHg

Selain meningkatkan kualitas diabetes care, 9 langkah ini juga digunakan untuk perbandingan sistem kesehatan. Ada beberapa tantangan diantaranya perlu kesempatan untuk diimplementasikan dengan mengacu pada layanan klinis yang berbeda dan layanan ini didokumentasikan dengan baik dalam catatan seperti data penagihan 4 proses tindakan pertama (tes HbA1c, tes LDL, tes mikroalbuminuria dan pemeriksaan mata). Selain itu pemeriksaan kaki tidak dilakukan sebagai layanan wajib bagi pasien diabetes melitus, pencatatan status merokok juga tidak dilakukan dalam data administrasi sehingga kedua proses ini memerlukan pengumpulan data khusus seperti review catatan medis dan upaya pengumpulan data yang sebanding di berbagai negara. Pencatatan medis secara elektronik diharapkan dapat memperbaiki sistem dan upaya pengumpulan data yang akurat dan sistematis sehingga bisa digunakan di semua negara. Berkaitan dengan indikator hasil, Sebagian besar petugas kesehatan tidak mencatat hasil tes secara spesifik sehingga tidak bisa membuat langkah-langkah HbA1c dan kontrol LDL dari sumber data sehingga perlu standarisasi data laboratorium secara elektronik yang bisa digunakan oleh semua petugas kesehatan.

Kualitas karakter dibawah kontrol providers of medical care dan dikombinasikan dengan konsep yang lebih distal jangka panjang untuk pasien kronis, sistem kesehatan diwajibkan memihak pada tingkat amputasi, penyakit ginjal kronik, kematian dengan CVD pada usia tertentu.
Misalnya amputasi besar harus dipahami secara komprehensif dan persepsi yang sama sehingga bisa dicomparasi antar negara, sama halnya dengan amputasi kecil dan sedang guna perbaikan sistem kesehatan.

Oleh : Dedison asanab, SKM-Pusat penelitian kebijakan kesehatan dan kedokteran undana
Sumber : Nicolucci et al., Selecting indicators for the quality of diabetes care at the health systems level in OECD countries. International Journal for Quality in Health Care; September 2006.

http://intqhc.oxfordjournals.org/content/intqhc/18/suppl_1/26.full.pdf 

{jcomments on}

Mutu Hidup Penderita Kanker pada Anak

Mutu hidup penderita kanker pada anak perlu dinilai. Hal ini dilakukan untuk memantau kesinambungan hidup sehingga dapat menentukan intervensi. Penilaian dapat dilakukan melalui instrumen PedsQL 3.0 Cancer Module. Ada delapan sub skala penilaian dalam PedsQL 3.0 Cancer Module, yaitu nyeri dan sakit, mual, kecemasan prosedural, kecemasan pengobatan, khawatir, masalah kognitif, penampilan fisik yang dirasakan, serta komunikasi.

PedsQL 3.0 Cancer Module terbukti sebagai instrumen yang obyektif untuk menilai kualitas hidup anak penderita kanker dan keluarganya. Berikut beberapa hasil penelitian tentang penggunaan PedsQL 3.0 Cancer Module dalam menilai kualitas hidup penderita kanker pada anak:

  1. Sitaresmi (2008) bahwa anak-anak penderita kanker yang usianya lebih muda memiliki angka penilaian kualitas hidup yang lebih rendah dalam sub-skala kecemasan prosedural, kecemasan pengobatan, subskala komunikasi. Penelitian ini terbantahkan oleh Yaris (2001) bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna untuk usia pada pengukuran kualitas hidup anak penderita kanker.
  2. Ji et al (2011) bahwa anak mengalami ketakutan terhadap prosedural pengobatan yang dijalaninya sehingga mengakibatkan kualitas hidupnya menurun
  3. Sidabutar dkk (2012) bahwa anak kanker mengalami gangguan fungsi sekolah apabila dibandingkan dengan fungsi fisik, emosi, dan sosial. Anak tidak mampu berkonsentrasi sehingga tidak bisa mengerjakan tugas sekolah dan berakibat pada prestasi belajar menurun
  4. Sidabutar dkk (2012) bahwa setiap pasien kanker anak mengalami efek samping pengobatan berbeda. Bergantung pada kondisi tubuh mereka. Fungsi hidup mengalami gangguan pada fungsi fisik, emosi, sosial, psikologis, sekolah, dan kognitif. Anak memiliki keterbatasan untuk beraktivitas, bersosialisasi, mengontrol emosi, dan bersekolah.
  5. Nurhidayah I dkk (2016) bahwa anak kanker memiliki kualitas hidup buruk. Nilai terendah pada fungsi sekolah dan kekhawatiran anak dalam menghadapi pengobatan dan penyakit. Kualitas hidup yang buruk berpengaruh terhadap fungsi fisik, sosial, psikologis, emosi, sekolah, kognitif, dan tumbuh kembang.

Penyebab kanker pada anak belum diketahui secara pasti sehinggapencegahannyapun belum ada. Kemenkes telah melakukan pengendalian Kanker pada anak melalui program “pengendalian Kanker”. Ada buku pedoman penemuan dini kanker yang telah disusun bersama dengan profesi Kanker pada anak, dan telah disosialisasikan dibeberapa provinsi.

Ada enam Kanker yang diprioriaskan yaitu: leukemia, retinoblastoma, neuroblastoma, limfoma, osteosarkoma, dan karsinoma nasofaring. Penentuan prioritas ini berdasarkan atas dua kriteria, yaitu tingginya angka penyakit (prevalensi) dan kemudahan pengenalan gejala dan tanda serta diagnosis. Prioritas didasarkan pada prevalensi dan kemudahan pengenalan gejala, tanda, dan diagnosis. Pengendalian Kanker akan terus dikembangkan melalui peningkatan pengetahuan masyarkat dan kemampuan petugas kesehatan di Puskesmas dalam mengenali tanda Kanker. Harapannya, penemuan dini Kanker pada anak bisa dilaksanakan di Puskesmas

Ditulis Oleh Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH dari berbagai sumber
Referensi: Irnawati M. (2002). Penilaian Kualitas Hidup Anak Penderita Kanker. Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Universitas Airlangga
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Kendalikan Kanker pada Anak. Printed @ 30-01-2019 11:01.
Nurhidayah I. (2016). Kualitas Hidup pada Anak dengan Kanker. Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran. Volume 4 Nomor 1 April 2016.

{jcomments on}

Kualitas dalam Pelayanan Kanker: Eksplorasi dari Sisi Perspektif Pasien

Selama ini, mengukur kepuasan pasien merupakan hal yang lazim dilakukan manakala sarana pelayanan kesehatan ingin mendapatkan informasi dari pelayanan yang telah diberikan ke pasien. Perlu diketahui bahwa pandangan dari sisi pasien sama pentingnya dengan perawatan itu sendiri. Ekplorasi dari pengalaman pasien dapat mengungkapkan sisi mana yang menjadi kelemahan dari pelayanan yang kita diberikan. Tidak terkecuali untuk pelayanan pasien kanker, karena seorang pasien kanker tidak hanya menderita penyakitnya tetapi juga mengalami trauma mental, penderitaan, stres, ketidakpastian, dan kecemasan yang substansial.

Di era ini, ketika seseorang berbicara tentang inovasi dan kemajuan teknologi dalam ilmu kedokteran, dasar dari semua perkembangan yang memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan perawatan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasien. Sama pentingnya untuk menentukan apakah pasien puas atau tidak puas dengan perawatan yang diterimanya. Kepuasan pasien kanker merupakan pertimbangan penting karena sangat mempengaruhi kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental. Kepuasan pasien juga menunjukkan sejauh mana kebutuhan perawatan kesehatan klien terpenuhi dengan persyaratan pasien. Terlebih karena pasien membawa harapan tertentu sebelum kunjungan mereka ke rumah sakit sehingga kepuasan atau ketidakpuasan yang dihasilkan adalah hasil dari pengalaman mereka yang sebenarnya.

Mengenai perawatan kanker, berbeda dari perawatan penyakit lainnya. Lebih dari itu, karena, dalam beberapa kasus ada yang “perawatannya tidak dapat disembuhkan.” sehingga dalam memberikan layanan perawatan kesehatan kepuasan pasien tidak dapat diabaikan, seperti halnya kualitas perawatannya, bahkan penyembuhan penyakitnya. Terutama, ketika datang untuk melakukan perawatan kanker, kepuasan pasien harus diprioritaskan, karena pasien kanker tidak hanya berjuang dengan penyakitnya tetapi juga dengan penderitaan mental, trauma, kendala keuangan, ketidakpastian hidup, dan sejenisnya begitu banyak hal lainnya bahkan masalah kritis yang mempengaruhi kesejahteraan pasien kanker.

Sebuah penelitian mencoba mengeksplorasi kepuasan pasien kanker di rumah sakit khusus yang menyediakan layanan onkologi di Odisha-India, penelitian dilakukan dengan model transformasi triangulasi data cross-sectional dengan design mixed methode (Quant+Qual), data menunjukkan bahwa kepuasan umum pasien adalah 60%. Skor yang paling tinggi diperoleh untuk komunikasi dokter. Temuan kualitatif mengungkapkan bahwa perjalanan ke tempat yang jauh untuk penyakit ringan, masa tunggu, dan kurangnya layanan di fasilitas perawatan primer adalah alasan ketidakpuasan pasien.

Disadari atau tidak, bahwa ketrampilan komunikasi dokter ternyata berkontribusi pada tingkat kepuasan pasien, sehingga dapat memotivasi pasien untuk mematuhi prosedur perawatan. Masa tunggu terkait penjadwalan janji temu yang efisien dan manajemen yang baik dapat mengurangi waktu tunggu yang lebih lama. Penelitian ini menunjukkan Mayoritas responden melaporkan bahwa seorang dokter khusus ditunjuk, selama kunjungan tindak lanjut, dalam kasus ketidakhadiran dokter yang ditugaskan tidak dihadiri oleh dokter pengganti melainkan diminta untuk menunggu sampai dokter yang ditunjuk tersedia atau diminta untuk membuat janji lain. Sedangkan jarak dan lokasi sangat jauh.

Mengenai Jarak dan lokasi, menjadi faktor pendukung ketidakpuasan pasien karena mengalami kesulitan dalam perjalanan dari tempat tinggal menuju ke rumah sakit kanker. Bahkan ada yang mengalami kehilangan/pemotongan gaji di tempat kerja untuk menyelesaikan pemeriksaan lanjutan yang sudah disepakati dan biaya transportasi dan makanan yang tinggi. Kurangnya layanan di fasilitas perawatan primer juga merupakan alasan ketidakpuasan pasien, hal ini terlihat bahwa hampir semua pasien tidak mendapatkan layanan tindak lanjut di pusat perawatan primer karena dirujuk atau disarankan untuk mengunjungi rumah sakit kanker bahkan untuk penyakit ringan seperti batuk dan pilek.

Berdasarkan peneltian di atas bahwa penting untuk menilai kepuasan pasien agar dapat meningkatkan layanan kesehatan, serta dapat juga bertindak sebagai parameter untuk memahami apa yang berfungsi dan apa yang tidak. Sehingga kedepan berdasarkan hasil temuan yang ada dapat melakukan perubahan sehingga kualitas pelayanan kanker mengalami perubahan yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Penulis: Andriani Yulianti, MPH
Referensi: Toomey et al. (2015). The Development of a Pediatric Inpatient Experience of Care Measure: Child HCAHPS. PEDIATRICS 2015:136;360, number 2. DOI: 10.1542/peds.2015-0966. http://pediatrics.aappublications.org/content/136/2/360 
Mahapatra et al. (2016). Quality of Care in Cancer: An Exploration of Patient Perspectives. J Family Med Prim Care. 2016 Apr-Jun; 5(2): 338–342. doi: 10.4103/2249-4863.192349 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5084558/ 

{jcomments on}