Peran Hand Hygiene dalam Pencegahan Infeksi

Kebersihan tangan (hand hygiene) merupakan tolok ukur dalam upaya pencegahan penyebaran resistensi antimikroba dan mengurangi infeksi. Namun demikian kepatuhan tenaga kesehatan dalam penerapan praktik kebersihan tangan (hand hygiene) pada saat pelayanan kesehatan masih rendah pada beberapa situasi.

Artikel berikut akan memaparkan kajian terhadap faktor-faktor yang berpengaruh pada kepatuhan hand hygiene, dampak promosi hand hygiene pada pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan transmisi patogen, dan tingkat infeksi, serta isu-isu lain diantaranya terkait adopsi alkohol-bahan dasar hand rub sebagai perubahan sistem kritis untuk keberhasilan promosi.

Selama lebih beberapa tahun, bukti ilmiah membuktikan bahwa peran hand hygiene dalam peningkatan keselamatan pasien (patient safety) relatif meningkat, namun beberapa isu kunci masih menjadi tantangan pagi provider pelayanan kesehatan dan peneliti. Secara ringkas, tema kajian artikel ini akan membahas peran hand hygiene pada pencegahan infeksi terkait kesehatan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Praktik Cuci Tangan

Seperti telah diketahui bahwa telah cukup lama tenaga kesehatan mengalami kesulitan dalam upaya kepatuhan hand hygiene. Rendahnya tingkat kepatuhan cuci tangan tersebut terjadi baik di negera berkembang maupun negara sedang berkembang. Alasan mengapa hal tersebut terjadi bervariasi dan bergantung pada kondisi dan sumber daya yang tersedia. Namun faktor-faktor yang paling sering diobservasi terkait rendahnya tingkat kepatuhan cuci tangan antara lain:

  1. Terrmasuk kategori tenaga profesional tertentu (yaitu; dokter, asisten perawat, fisioterapis, teknisi)
  2. Bekerja di area perawatan khusus (yaitu; perawatan intensif, operasi, anestesiologi, obat darurat)
  3. Kekurangan staf dan kelebihan beban pekerjaan
  4. Penggunaan APD dan atau sarung tangan

Kebersihan tangan petugas kesehatan sangat penting karena dapat menjadi media perpindahan bakteri patogen ke pasien, namun praktik cuci tangan ini terindikasi berisiko tinggi tidak dipatuhi oleh tenaga kesehatan, seperti pada saat sebelum kontak dengan pasien atau prosedur antiseptik.

Banyak faktor yang berperan dalam ketidak patuhan cuci tangan, diantaranya; persepsi dan pengetahuan terhadap risiko transmisi dan dampak infeksi terkait kesehatan, tekanan sosial, keyakinan tenaga kesehatan terhadap self-efficacy mereka, evaluasi manfaat yang dirasakan dibandingkan dengan hambatan yang ada, dan niat untuk melakukan cuci tangan.

Perilaku kebersihan tangan sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis praktik, yakni:

  • Praktik inherent hand hygiene
    Praktik cuci tangan yang dilakukan ketika tangan terlihat kotor, lengket, atau berpasir
  • Praktik elective hand hygiene
    Praktik cuci tangan yang tidak termasuk dalam kategori inherent. Untuk tenaga kesehatan komponen perilaku cuci tangan ini mirip dengan interaksi sosial pada umumnya seperti berjabat tangan. Untuk pelayanan kesehatan , hal itu termasuk ‘menyentuh’ pasien (misal: melakukan pengecekan denyut nadi atau tekanan darah) atau ketika terjadi ‘kontak’ dengan benda mati disekitar pasien

Dampak Promosi Hand Hygiene pada Healthcare Associated Infection (HCAI)

Pada penelitian yang telah dilakukan ditemukan bukti meyakinkan bahwa peningkatan praktik cuci tangan atau upaya penerapan hand hygiene dapat menurunkan tingkat infeksi. Lebih dari 20 rumah sakit, menjadi dasar penelitian dampak praktik hand hygiene terhadap risiko Healthcare Associated Infection telah diterbitkan selama kurun waktu 1977-2008.

Terlepas dari keterbatasan penelitian, hampir semua laporan menunjukkan hubungan sementara antara peningkatan praktik hand hygiene dan penurunan infeksi dan tingkat transmisi silang. Sebagian besar investigasi dilaksanakan pada pasien dewasa dan neonatal di Intensive Care Units (ICUs) dan sebagian besar atau mayoritas memperkenalkan penggunaan hand rub berbahan dasar alkohol terkait dengan komponen promosi.

Di banyak negara, berbagai bukti dari penelitian memaparkan efektivitas praktik hand hygiene cukup meyakinkan pemerintah untuk menginvestasikan sumber daya pada praktik penerapan hand hygiene pada kampanye nasional maupun sub-nasional. Namun demikian sebagian besar bukti menyebutkan bahwa temuan tersebut merefleksikan intervensi pada penerapan di pelayanan kesehatan negara berkembang. Untuk itu penelitian lebih lanjut memerlukan evaluasi terkait efikasi setiap elemen kunci pada startegi multimodal, melakukan penilaian pada penerapan di situasi yang memiliki sumberdaya terbatas, dan untuk mengumpulkan informasi solusi yang berhasil dengan melakukan adaptasi.

Berdasar penelitian yang dilakukan pada artikel ini, peningkatan kepatuhan praktik hand hygiene tidak melebihi 81%. Salah satu penelitian yang diikuti atau dipantau selama 8 tahun menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan praktik hand hygiene maksimum berada di angka 66% dan berhasil secara paralel menjaga capaian pengurangan HCAI pada tingkat <10%. Sedangkan tujuan pencapaian tingkat kepatuhan di angka 100% tampaknya relatif sulit dicapai karena kompleksitas berbagai faktor berpengaruh pada perilaku tenaga kesehatan terkait performa praktik hand hygiene. Untuk itu perlu pertimbangan khusus dan berhati-hati dalam menentukan tingkat kepatuhan praktik hand hygiene untuk menghindari kegagalan dan kefrustasian.

Isu-isu terkait Penggunaan Hand Rubs Berbahan Dasar Alkohol

Penggunaan hand rub berbahan dasar alkohol dipertimbangkan sebagai standar ‘emas’ untuk praktik hand hygiene pada sebagian besar situasi klinis. Rekomendasi ini didukung oleh CDC dan WHO dan berbagai pedoman nasional hand hygiene.

Penekanan yang kuat di pedoman dan ketersediaan tools hand rub berbahan dasar alkohol sebagai faktor kunci peningkatan praktik hand hygiene, memunculkan isu pengadaan dan biaya produk, sehingga feasibilitas rekomendasi ini menjadi tantangan tersendiri khususnya di negara-negara berkembang.

Data pada pemasaran global produk komersial – hand rub berbahan dasar alkohol di tahun 2007 menunjukkan angka US $ 3 milyar, dengan peningkatan 16,3% dibandingkan pada tahun 2003, yang sebagian besar diobservasi di Eropa dan Amerika Utara.

Penerapan toolkit pada Pedoman WHO mengenai Hand Hygiene di Fasilitas Kesehatan meliputi pedoman produksi lokal untuk menghasilkan hand rub berbahan dasar alkohol di farmasi rumah sakit atau di fasilitas lainnya untuk penggunaan lokal. Dua formulasi yang disarankan: satu berdasarkan ethanol 80% v/v, satu berdasarkan isopropyl alcohol 75% v/v, keduanya termasuk hydrogen peroxide 0,125% v/v dan glycerol 1,45% v/v. Produksi lokal ini banyak dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan dan secara hati-hati di monitor dan dievaluasi oleh WHO di beberapa tempat.

23m 1

Kontroversi Isu-isu Terkait Penggunaan Hand Rub Berbahan Dasar Alkohol dan Penyebaran Clostridium Difficile

Meluasnya penggunaan hand rub berbahan dasar alkohol sebagai standar ‘emas’ pada penerapan hand hygiene di fasilitas kesehatan diikuti dengan perhatian terhadap kurangnya efikasi terhadap patogen pembentuk spora. Namun demikian, terlepas dari iodofor, meskipun pada tingkat konsentrasi yang lebih tinggi daripada penggunaan antiseptik, tidak ada agen hand hygiene (termasuk alkohol, chlorhexidine, hexachlorophene, chloroxynol, dan tricolsan) sporicidal andal melawan clostridium atau bacillus spp.

Beberapa penelitian dilakukan terkait isu tersebut. Dan baru-baru ini beberapa penelitian menunjukkan kurangnya hubungan antara penggunaan hand rub berbahan dasar alkohol dan kejadian isolat klinis dari C. difficile. Sehingga kesimpulan yang dapat ditarik kurangnya dukungan terhadap penggunaan hand rub berbahan dasar alkohol untuk perawatan pasien dibandingkan keterkaitan C. difficile dengan penyakit hanya akan membahayakan keselamatan pasien secara keseluruhan dalam jangka panjang.

Berdasarkan bukti-bukti yang tersedia dapat dirangkum bahwa intervensi multimodal menjadi strategi yang paling sesuai untuk menentukan perubahan perilaku peningkatan kepatuhan praktik hand hygiene dan mengurangi tingkat Healthcare Associated Infection (HCAI). Pengenalan penggunaan hand rub berbahan dasar alkohol dan program edukasi berkelanjutan menjadi kunci faktor untuk mengatasi kendala infrastruktur dan membangun peningkatan pengetahuan, yang didukung oleh administrator fasilitas kesehatan dan komitmen dari pemerintah nasional dan lokal.

Dirangkum Oleh : Lucia Evi Indriarini, MPH.
Referensi : B. Allegranzi , D. Pittet. 2009. Role of hand hygiene in healthcare-associated infection prevention. Journal of Hospital Infection (2009) 73, 305e315

 

Penerapan Bundle untuk Reduksi Infeksi Daerah Operasi Histerektomi

Yale New Haven Hospital, rumah sakit pendidikan utama bagi Fakultas Kedokteran Universitas Yale pada tahun 2012 menghadapi situasi angka infeksi daerah operasi histerektomi yang lebih tinggi daripada standar nasional. Penyimpangan yang menggelisahkan ini menimbulkan gerakan untuk secara sistematis mengurangi angka tersebut. Dibentuklah suatu komite dengan tujuan mengurangi infeksi daerah operasi (IDO) histerektomi.

Komite ini menghasilkan sebuah bundle yang elemennya meliputi preoperatif, intraoperatif, dan postoperatif yang disebut Surgical Site Infection Prevention Bundle. Secara bertahap diimplementasikan sejak 2012, bundle ini mencapai bentuk akhir pada 2014 dan sejak itu dievaluasi tahunan. Andiman et al. (2018) menerbitkan hasil analisis retrospektif penelitian peningkatan mutu dalam jurnal Obstetrics & Gynecology.

Penelitian ini melibatkan 2099 operasi histerektomi selama 33 bulan dengan 61 IDO (4,51%) sebelum implementasi bundle secara lengkap dan 14 IDO (1,87%) setelah implementasi bundle secara lengkap. Pasien yang menjalani operasi histerektomi setelah implementasi lengkap seluruh bundle lebih kecil risikonya mengalami IDO (OR 0,46, p=0,01). Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi bundle multidisiplin dapat secara signifikan menurunkan risiko IDO pada pasien yang menjalani operasi histerektomi.

Tabel 1 Surgical Site Infection Prevention Bundle: Gynecologic-Specific Bundle

Elemen Keterangan
Klorheksidin glukonat

Klorheksidin glukonat diusapkan saat visite preoperasi dan saat pasien berada di ruang persiapan

Pasien diberikan edukasi mengenai penggunaan klorheksidin glukonat

Penghangatan terkendali oleh pasien Keadaan normothemia dipertahankan dengan blower udara hangat
Preparasi aseptik kulit secara ginekologis

Preparasi kulit abdomen tunggal dengan klorheksidin glukonat 2% dan isopropil alkohol 70%

Preparasi vaginal tunggal dengan klorheksidin glukonat 4% dan isopropil alkohol 4%

Balutan steril

Minimal balutan steril dipertahankan 24 jam dan dibuka 48 jam pascaoperasi

Topical skin adhesive dibuka sesuai pilihan ahli bedah dan tidak termasuk balutan steril

Pasien yang dipulangkan sebelum 24 jam diminta membuka balutan sendiri di rumah setelah 48 jam

Menjaga kehangatan selama operasi Suhu selama pembedahan diawasi dokter anestesi, digunakan blower udara hangat, dan suhu inti dipertahankan di atas 360 C
Standarisasi dan pengulangan dosis antibiotik

Cefazolin 2 gram (3 gram bila berat badan > 120 kg) maksimal satu jam sebelum insisi

Klindamicin 900 miligram dan gentamisin 2 mg/kg berat badan untuk menggantikan cafazolin bagi pasien alergi sefalosporin

Ditambahkan 500 miligram metronidazole preoperatif untuk kasus dengan antisipasi keterlibatan usus atau diantisipasi untuk risiko infeksi lebih tinggi

Dosis diulang 3 jam waktu operasi atau pada kehilangan darah 1,5 liter atau lebih

Umpan balik yang tepat waktu dan terstruktur

Komite yang dibentuk bertemu setiap bulan untuk mengkaji ulang perkembangan, menjaga komplians terhadap suhu inti intraoperatif, ketaatan pada antibiotik profilaksi, pemberian ulangan dosis, dan persiapan pembedahan.

Ketika terjadi penyimpangan, tim perioperatif dihubungi oleh komite.

Pembicaraan dirancang sebagai pembicaraan antar ahli bedah, antara anestesiologis, dan antar perawat untuk memastikan kegagalan protokol, dan memastikan ulang kebutuhan intervensi.

Pembicaraan ini menekankan pada dukungan tim, pendidikan untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman terhadap bundle.

Setidaknya ada tiga hal penting yang dapat dipelajari dari publikasi ini. Pertama adalah bagaimana sebuah rumah sakit besar di negara maju merasa perlu untuk menciptakan protokol baru untuk meningkatkan mutu. Kedua, hasil penerapan bundle ini sendiri. Ketiga, adalah keunikan elemen ketujuh bundle.

Kesadaran bahwa terjadi penyimpangan dari standar nasional mendorong rumah sakit ini membuat terobosan dalam bentuk serangkaian prosedur operasi. Komite khusus dibuat untuk menangani protokol baru ini dipimpin oleh ahli ginekologi, anestesiologis, epidemiolog rumah sakit, pengendalian infeksi, dan perawat perioperatif. Protokol yang dibuat mempertimbangkan referensi-referensi yang berbasis bukti berkualitas tinggi dan menghindari harm bagi pasien.

Pengalaman ini sangat melegakan, karena dengan berbagai proses akreditasi dan peningkatan mutu dan keselamatan pasien, segenap pelayan kesehatan rumah sakit di Indonesia telah terbiasa untuk membaca standar, melaksanakan protokol, mengawasi mutu, dan mencari referensi berbasis bukti. Tidak perlu usaha yang ekstra untuk mendorong para staf di rumah sakit kita untuk melompat dari zona nyaman dan menyusun sendiri berbagai protokol di rumah sakit.

Penelitian ini sendiri membuktikan bahwa protokol tersendiri yang disesuaikan dengan kondisi rumah sakit, berbasis pada bukti terkini, dan mempertimbangkan harm bukanlah hal yang mustahil. Para pemimpin dan manajer di rumah sakit Indonesia harus berani mendorong stafnya untuk melakukan hal-hal serupa untuk peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Elemen-elemen dalam bundle ini sendiri juga disusun khas untuk rumah sakit tersebut dengan kemungkinan dibagikan ke rumah sakit lain sebagai pembelajaran dan telah terbukti dapat mengurangi insidens infeksi daerah operasi.
Penelitian ini membuktikan bahwa penyusunan protokol berdasarkan kondisi khas di rumah sakit ditambah dengan dasar publikasi berbasis bukti dapat mencapai tujuan peningkatan mutu di rumah sakit.

Terakhir adalah mengenai elemen terakhir bundle. Elemen berbeda dari keenam elemen lainnya dan oleh penulis dianggap krusial dalam perubahan layanan. Umpan balik langsung bersandar pada interaksi interpersonal. Ini penting karena pada pelayanan kesehatan sering ditemukan para pelayan kesehatan resisten terhadap perubahan terutama bila data dan tujuan perubahan tersebut tidak jelas. Elemen ini juga sangat menarik karena secara tegas menyebutkan strategi intervensi dengan mempertimbangkan profesi.

Di Indonesia, kerap dijumpai penyimpangan terhadap prosedur tidak secara terbuka dibicarakan, dan bila dibicarakan biasanya bukan oleh sesama profesi. Misalnya saat ahli bedah melakukan penyimpangan terhadap prosedur di kamar operasi. Koreksi atas penyimpangan cenderung dilakukan oleh kepala perawat kamar operasi misalnya. Pendekatan pada bundle ini mengatur sampai detil materi, tujuan, dan oleh siapa pembicaraan ini dilakukan. Seorang ahli bedah tentu akan lebih mendengarkan ahli bedah lain, demikian pula perawat kamar bedah pasti akan lebih mempertimbangkan masukan dari sejawatnya daripada oleh profesi lain.

Kesimpulannya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan dorongan bagi para manajer dan pemimpin di rumah sakit untuk serius mempertimbangkan pembuatan protokol tailor-made di rumah sakit masing-masing dengan dasar publikasi berbasis bukti untuk meningkatan mutu dan luaran pelayanan.

Penyusun
dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H., dokter alumni Universitas Gadjah Mada, saat ini sedang menempuh pendidikan dokter spesialis di Universitas Airlangga / RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Referensi
Andiman, S.E. et al., 2018. Decreased Surgical Site Infection Rate in Hysterectomy: Effect of a Gynecology-Specific Bundle. Obstetrics & Gynecology, 131(6), pp.991–999.

 {jcomments on}

Indikator Kinerja Berbasis Bukti Untuk Pelayanan Primer Penyakit Asma: Modikasi Metode RAND Appropriateness

Penyakit asma adalah penyakit pernapasan kronis yang sangat umum. Di Kanada, sekitar 80% dari penyakit distres respiratori merupakan penyakit asma dan mempengaruhi 8,4% populasi. Terdapat kesepakatan umum bahwa asma adalah sebuah ‘kondisi layanan rawat jalan yang sensitif’ (ambulatory care sensitive condition) dengan artian apabila manajemen rawat jalan pasien baik, maka akan menurunan angka rawat inap. Meskipun panduan manajemen sudah jelas, tetapi masih ada variasi mutu dalam pelayanan asma di tingkat primer sehingga muncul kebutuhan untuk mengidentifikasi strategi peningkatan mutu yang efektif untuk memastikan pelayanan yang diberikan bermutu tinggi dan aman. Di Kanada, sampai dengan penelitian yang dilakukan oleh To et al. (2010), belum ada indikator kinerja yang spesifik untuk manajemen penyakit pernapasan kronis. Indikator kinerja berbasis komunitas atau indikator mutu pelayanan dapat membantu mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dari pengembangan, diseminasi serta penggunaan pedoman klinis untuk manajemen asma. Tujuan dari penelitian To et al. (2010) adalah untuk mengembangkan indikator kinerja berbasis bukti yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas layanan komunitas dan layanan primer untuk penyakit asma, dengan mempertimbangkan karakteristik pasien.

Penelitian dilakukan di Kanada pada tahun 2008 menggunakan Metode RAND Appropriateness termodifikasi yang memiliki karakteristik teknik Delphi dan Nominal Group Techniques dan dideskripsikan sebagai satu-satunya metode sistematik yang mengkombinasikan antara opini para ahli dan bukti. Metode ini terdiri dari tinjauan literatur, penilaian awal indikator oleh panelis menggunakan survei yang dikirim melalui email, diikuti dengan pertemuan konsensus panel ahli secara langsung.

Lima ahli klinis melakukan tinjauan literatur sistematis dengan mengambil artikel peer-reviewed yang terbit pada tahun 19998-2008 pada Cochrane Database of Systematic Reviews, MEDLINE, EMBASE and CINAHL serta 5 pedoman manajemen asma nasional maupun global. Strategi pencarian artikel adalah dengan fokus pada pertanyaan “Apakah indikator kinerja asma yang saat ini diakui atau digunakan dalam pelayanan komunitas dan pelayanan primer?”. Terdapat lima domain kata kunci yang digunakan untuk mencerminkan mutu pelayanan primer penyakit asma yaitu akses terhadap pelayanan, efektivitas klinis, fokus kepada pasien, integrasi sistem dan koordinasi serta keselamatan pasien. Indikator kinerja spesifik untuk asma dikembangkan dan dibuat sebuah survei yang dikirimkan kepada 17 panel ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk meminta mereka menilai setiap indikator menggunakan 9 poin skala Likert. Distribusi persentase skor Likert dihasilkan dan diberikan kepada panelis sebelum pertemuan konsensus tatap muka. Pada pertemuan tersebut, mereka memberi peringkat terhadap semua indikator berdasarkan keandalan, validitas, ketersediaan, dan kelayakannya.

Dari hasil tinjauan literatur, terdapat 135 artikel teks lengkap dan lima pedoman yang memberikan bukti pendukung untuk indikator kinerja spesifik untuk asma dan digunakan untuk menghasilkan 45 indikator awal. Pada konferensi konsensus Delphi, berlangsung putaran kedua penetapan indikator oleh panel ahli. Hasil peringkat mengidentifikasi 15 indikator yang dipilih oleh setidaknya oleh 50% panelis. Berikut ini adalah 15 indikator yang terpilih sebagai indikator kinerja pelayanan primer penyakit asma:

tb2

Indikator-indikator diatas secara umum mengukur berbagai aspek pelayanan primer untuk asma yaitu pencegahan, promosi, chronic care, interaksi dengan pasien dan kolaborasi dengan berbagai sektor kesehatan. Terdapat dua kelebihan dalam studi ini yaitu: 1)Spesifik untuk asma dan dilakukannya analisis yang teliti terhadap literatur yang mendukung setiap indikator; dan 2)Panel ahli yang terdiri dari penyedia layanan kesehatan di berbagai setting yang melayani pasien dengan latar belakang sosiodemografi beragam. Meskipun beberapa indikator mutu asma telah diidentifikasi sebelumnya, hanya beberapa yang telah diuji kelayakannya pada situasi nyata. Para ahli dalam penelitian ini menyetujui bahwa banyak tantangan dalam implementasi indikator kinerja dalam layanan primer, terutama pada ketersediaan data dan kualitas data. Menangani masalah semacam itu tidak sederhana, karena kenyataannya bahwa di pelayanan primer seringkali sibuk, penuh sesak dengan pasien, dan dijalankan oleh staf yang prioritas bekerja untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis. Selain itu, ada tantangan potensi konfidensialitas dan biaya. Tetapi, lima belas indikator kunci yang direkomendasikan ini dapat digunakan menjadi dasar atau model metodologi untuk menentukan situasi terkini dari status kesehatan dan pelayanan asma saat ini. Indikator kinerja berfungsi dalam memberi informasi yang terstandar atas outcomes kesehatan penyakit asma dari waktu ke waktu dan untuk seluruh populasi. Indikator dapat dimasukkan ke dalam sistem surveilans longitudinal berbasis populasi untuk mendukung otoritas kesehatan regional dalam memonitor efektivitas dan dampak dari kebijakan dan program kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan pernapasan. Sebagai tambahan, indikator tersebut juga diharapkan berfungsi sebagai parameter standar dalam mengevaluasi program.

Di Indonesia sendiri belum ada indikator berbasis kinerja atau indikator mutu untuk pelayanan suatu penyakit spesifik yang diimplementasikan secara nasional walaupun sudah ada studi yang akan mengembangkan hal ini. Indikator mutu untuk pelayanan suatu penyakit, khususnya terhadap penyakit kronis, dapat menjadi salah satu alat untuk kendali mutu dan kendali biaya bagi penyedia layanan kesehatan khususnya di era JKN seperti saat ini. Selain itu, dengan adanya indikator mutu pelayanan yang spesifik terhadap suatu penyakit akan semakin meningkatkan outcome kesehatan bagi penderitanya.

Oleh : dr.Novika Handayani
Sumber : Teresa TO, et al. Evidence-based performance indicators of primary care for asthma: a modified RAND Appropriateness Method. International Journal for Quality in Health Care 2010; Volume 22, Number 6: pp. 476–485.

{jcomments on} 

Mengintegrasikan Layanan Edukasi Pasien dalam Meningkatkan Self-Management Untuk Penanganan Penyakit Asma

Dengan semakin bergesernya pola penyebaran penyakit dari penyakit menular ke penyakit kronis, penanganan penyakit kronis di Indonesia patut mendapatkan perhatian khusus. Apalagi di era JKN saat ini dimana kendali mutu kendali biaya di fasilitas kesehatan sangat gencar dipromosikan oleh Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan. Salah satu penyakit kronis yang sering disepelekan adalah asma dimana penanganan yang kurang tepat dapat meningkatkan tingkat keparahan dan penggunaan layanan kesehatan yang sebenarnya tidak perlu.

Salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Boulet et al. (2015) melalui riset yang dilakukan di Quebec, Kanada adalah dengan mengoptimalkan layanan self-management di pelayanan kesehatan primer melalui edukasi terhadap pasien. Boulet et al. (2015) membandingkan pengetahuan, utilisasi layanan astma, ketaatan pengobatan, dan penggunaan inhaler diantara 124 pasien di 6 Klinik Keluarga pada tahun 2013 sebelum dan sesudah intervensi.

Selama kurang lebih 8 bulan intervensi, Boulet et al. (2015) menemukan adanya penurunan utilisasi layanan asma dikarenakan pasien mampu untuk memanage keadaan penyakitnya sendiri. Penurunan utilisasi ini telihat lebih signifikan pada angka kunjungan yang tidak direncanakan. Penggunaan antibiotik juga menurun drastis setelah intervensi, lebih dari 50%. Disisi lain, dengan meningkatnya pengetahuan akan manajemen asma ketaatan mengkonsumsi obat juga ikut meningkat. Di akhir follow-up, lebih dari setengah responden memiliki action plan untuk penanganan penyakit mereka (Boulet et al., 2015).

Dalam studi mereka, Boulet et al. (2015) juga mengidentifikasi mengapa pengunaan layanan edukasi pasien tersebut jarang digunakan sebelumnya oleh dokter di layanan kesehatan primer. Salah satu penyebab utama adalah karena layanan edukasi yang disediakan tidak terintegrasi dengan layanan pelayanan kesehatan primer sehingga pasien harus pergi ke institusi lain dan membuat appointment. Penyebab lain adalah klinisi di layanan kesehatan primer jarang menyarankan pasien untuk mengakses layanan edukasi tersebut. Oleh karena itu menurut Boulet et al. (2015) diperlukan sinergitas yang kuat antara klinisi di layanan primer dan educator di layanan edukasi pasien. Masukan dari educator bisa menjadi pertimbangan klinisi dalam menentukan perawatan yang tepat dan efektif bagi pasien. Sebaliknya, masukan dari klinisi kepada pasien untuk memanfaatkan layanan edukasi pasien bisa lebih memotivasi pasien untuk meningkatkan self-management-nya dengan pengetahuan yang diperoleh dari layanan edukasi.

Beberapa penelitian lain juga sejalan dengan Boulet et al. (2015), self-management melalui pemanfaatan layanan edukasi pasien, untuk penyakit kronis seperti asma, dapat meningkatkan outcome perawatan sekaligus menekan biaya. Intervensi ini sejalan dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia, di era JKN ini, dengan kendali mutu kendali biaya yang menjadi prioritas utama dari layanan kesehatan. Self-management harusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan, dengan memanfaatkan keberadaan layanan edukasi pasien dan promosi kesehatan, di Puskesmas dan layanan primer lainnya.

Oleh: Stevie A. Nappoe-MPH Graduate from University of Alabama at Birmingham, 2016 Fulbright Scholar.

Sumber:

Boulet, L. P., Boulay, M. E., Gauthier, G., Battisti, L., Chabot, V., Beauchesne, M. F., . . . Cote, P. (2015). Benefits of An Asthma Education Program Provided at Primary Care Sites on Asthma Outcomes. Respir Med, 109(8), 991-1000. doi:10.1016/j.rmed.2015.05.004

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

 

Telemedicine Kurang Efektif untuk Peningkatan Kesehatan Ibu dan Bayi: Menurut Review Sistematis

Fasilitas kesehatan pada tingkat kabupaten merupakan tahap pertama dalam pelayanan kesehatan. Faskes pada tingkat ini idealnya tidak hanya menyediakan layanan kesehatan primer tetapi juga menyediakan layanan tingkat pertama rawat jalan dan rujukan untuk layanan spesialistik. Pelayanan kesehatan tingkat kabupaten juga berperan sebagai jaringan antara komunitas dan fasilitas tingkat kabupaten. Komponen inti dari input fasilitas kesehatan tingkat kabupaten mencakup training, supervisi, dan monitoring pekerja kesehatan dipusat kesehatan perifer serta mengelola sistem informasi kesehatan untuk perencanaan strategis dan monitoring sistem kesehatan kabupaten.

Secara luas, input ini dapat dibagi secara luas menjadi mekanisme pemerintahan dan akuntabilitas, kepemimpinan dan supervisi, pola finansial, dan sistem informasi. Review sistematis yang dilakukan oleh Salam (2014) memaparkan evaluasi efektivitas input di tingkat kabupaten untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Review sistematis ini dilakukan pada sebanyak 47 artikel review sistematis yang dipublikasi sebelum Mei 2013.

Bukti menyarankan bahwa supervisi secara positif berpengaruh pada paktek provider, pengetahuan, dan kepuasan klien/ provider. Keterlibatan pemimpin lokal untuk mempromosikan praktek berbasis bukti, meningkatkan kepatuhan pelayanan pasien. Mekanisme audit dan umpan balik dan telemedicine ditemukan terkait dengan peningkatan angka imunisasi dan pelaksanaan mammogram. Skema pembiayaan langsung seperti voucher maternal, pembebasan biaya dan asuransi kesehatan berbasis komunitas menunjukkan dampak signifikan pada pemanfaatan pelayanan kesehatan. Penggunaan skema voucher menunjukkan dampak paling signifikan pada seluruh keluaran pelayanan termasuk antenatal care, petugas persalinan terlatih, persalinan difasilitas, persalinan komplikasi dan postnatal care.

Penelitian ini tidak menemukan bukti yang mendukung atau mematahkan penggunaan sistem rekam medis elektronik dan teknologi telemedicine untuk meningkatkan keluaran kesehatan maternal dan neonatal spesifik. Secara umum penelitian ini menunjukkan kurangnya bukti bahwa aspek input ditingkat kabupaten dapat meningkatkan keluaran kesehatan meternal dan neonatal. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengevaluasi dampak pengawasan dan monitoring, maupun intervensi berupa rekam medis eletronik dan telemedicine di negara low-middle-income.

Dirangkum oleh: Puti Aulia Rahma, drg., MPH
Referensi: Salam et al., Evidence from district level inputs to improvequality of care for maternal and newborn health:interventions and findings, Reproductive Health 2014, 11(Suppl 2):S3, http://www.reproductive-health-journal.com/content/11/S2/S3 

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

{jcomments on}

 

Peran Masyarakat (Community Based Inputs) dalam Meningkatkan Mutu Perawatan Kesehatan pada Ibu dan Bayi Baru Lahir

Sekitar 40 juta ibu melahirkan di rumah tanpa ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih terjadi setiap tahun. Hal ini mengakibatkan tingginya angka kematian dan morbiditas pada maternal, perinatal dan neonatal. Angka kematian neonatal penyebabnya multi faktor mulai dari aspek sosial ekonomi, status kesehatan wanita, kurangnya otoritas ekonomi dan pengambilan keputusan, minimnya pengetahuan tentang perawatan antenatal dan obstetrik, tidak mendapat pertolongan dari tenaga kesehatan terlatih, system rujukan yang tidak memadai, kurangnya fasilitas transportasi, dan hubungan yang buruk antara fasilitas kesehatan dan masyarakat. Hal ini sebenarnya dapat dicegah dengan universal coverage, namun terkendala karena kurangnya sumber daya professional terlatih di FKTP.

Di tingkat komunitas, kunjungan rumah, mobilisasi masyarakat, kelompok dukungan wanita dan pelatihan Community Health Workers (CHW) dan Traditional Birth Attendants (TBA) telah menunjukkan dampak maksimum pada berbagai hasil maternal newborn health (MNH). Pelatihan TBA masih kontroversial dalam kaitannya dengan global ‘Safe Motherhood Initiative‘ karena tidak ada cukup data untuk menyediakan basis bukti yang diperlukan untuk membangun efektivitas pelatihan. Oleh karena itu evaluasi yang tepat secara metodologis dengan ukuran sampel yang memadai diperlukan untuk mengukur besarnya dampak pelatihan TBA pada kematian ibu dan bayi baru lahir.

Temuan-temuan dari ikhtisar ini memberi kesaksian bahwa peningkatan ketersediaan dan pelatihan pekerja kesehatan terampil termasuk TBA dan CHW untuk mengenali dan mengelola komplikasi obstetrik secara memadai dapat secara signifikan mengurangi morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi terutama di rangkaian terbatas sumber daya di Asia dan Afrika di mana beban kematian ibu tertinggi ada dengan sumber daya terbatas untuk dimobilisasi. Tantangannya adalah memberi insentif pada program-program ini dan menghubungkannya dengan sistem kesehatan formal untuk meningkatkan retensi. Tantangan lain yang ada adalah variasi prasyarat, rekrutmen, pelatihan, pengawasan dan beban kerja berbagai kader pekerja masyarakat termasuk CHW, TBA dan bidan.

Ini menyiratkan bahwa dalam input tingkat masyarakat, tiga intervensi memiliki signifikansi yang tak tertandingi: pertama, CHW yang memberikan perawatan kesehatan primer, dapat memobilisasi anggota masyarakat dan menanamkan pengetahuan; kedua, pelatihan dan keterkaitan dengan TBA dapat memberikan perawatan prenatal dan obstetrik dasar, serta rujukan di mana tenaga terlatih tidak hadir; ketiga, kelompok dukungan masyarakat, terutama kelompok wanita, dapat memberdayakan masyarakat dan membantu dalam pemecahan masalah dan perencanaan untuk meningkatkan peluang bagi kesehatan wanita, serta perawatan untuk ibu dan bayi yang baru lahir.

Community Based Inputs (CBI) atau penyampaian berbasis masyarakat telah diakui secara luas sebagai strategi penting untuk menyampaikan intervensi terkait keselamatan ibu dan anak. Dibuktikan dengan meningkatnya berbagai cakupan, antara lain: imunisasi, terapi rehidrasi oral untuk diare, pengobatan tuberkulosis dan inisiatif keluarga berencana. Intervensi yang disampaikan di tingkat komunitas tidak hanya diadvokasi untuk meningkatkan akses dan cakupan intervensi tetapi juga untuk mengurangi kesenjangan yang ada dan mencapai kesulitan untuk dijangkau.

Lassi et al. Reproductive Health (2014) telah meninjau efektivitas perawatan yang disampaikan melalui CBI untuk meningkatkan hasil kesehatan ibu yang baru lahir (MNH). Intervensi dikelompokkan ke dalam empat kategori:

  1. Layanan penjangkauan (termasuk kunjungan ke rumah dan rujukan)
    Kegiatan dilakukan untuk melengkapi perawatan berbasis fasilitas dan mempromosiakan akses universal. Fokus pada negara-negata berpenghasilan menengah (LMICS), mencakup layanan antenatal (ANC), kelahiran oleh tenaga terampil dan Postnatal Care (PNC) awal. Manfaat utama dari program ini adalah membawa layanan ke populasi terpencil di rumah mereka sendiri dan memungkinkan penyedia layanan untuk memberikan layanan perawatan kesehatan.
  2. Pengalihan tugas
    Petugas kesehatan terampil dan semi terampil memainkan peran utama dalam pemberian layanan MNH. Petugas kesehatan masyarakat (CHW) dan dukun bayi tradisional (TBA) dianggap pekerja semi-terampil, sementara pekerja kesehatan tingkat menengah atau mid-level health workers (MLHW) seperti perawat, bidan, asosiasi dokter, asisten medis dan perawat pembantu adalah pekerja terampil yang disertifikasi untuk pekerjaan mereka.

    Penyediaan layanan kesehatan melalui pekerja perawatan kesehatan terampil dan semi terampil telah dilakukan di kedua negara berpenghasilan tinggi atau High-Income Countries (HIC) dan LMIC di seluruh dunia selama beberapa dekade terakhir. Bukti menunjukkan bahwa mereka dapat berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kesehatan populasi. Baru-baru ini, karena krisis sumber daya manusia yang berkembang terutama di LMIC, pengalihan tugas telah muncul untuk memperluas layanan kepada kelompok-kelompok yang sulit dijangkau dengan menggantikan profesional kesehatan untuk berbagai tugas.

    Negara-negara di Asia Selatan dan Afrika telah melakukan upaya khusus dalam beberapa tahun terakhir untuk mengurangi angka kematian dan morbiditas ibu dan bayi melalui penyebaran CHW. Peran bidan dan TBA dalam memberikan layanan MNH juga telah mendapat perhatian yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan sejumlah publikasi telah menggambarkan peran mereka dan mendokumentasikan dampak dari program tersebut. Sekitar 90% dari semua kematian ibu dan 80% kelahiran bayi terjadi di negara-negara yang kekurangan tenaga kesehatan terlatih. Meskipun ketidakseimbangan antara keterampilan tetap ada, praktisi tingkat lanjut, bidan, perawat dan pembantu masih belum cukup digunakan di banyak tempat. Banyak LMIC semakin menghadapi kesulitan dalam memproduksi, merekrut dan mempertahankan profesional kesehatan karena mereka cenderung bermigrasi ke negara-negara kaya karena gaji rendah, kondisi kerja yang buruk, kurangnya pengawasan, moral rendah dan motivasi dan kurangnya infrastruktur. Untuk mengatasi kegagalan menyediakan perempuan melahirkan dengan kehadiran yang terampil, negara-negara miskin sekarang berinvestasi pada pelatihan MLHW untuk setidaknya memberi mereka semacam bantuan. Di negara-negara seperti Malawi, Bangladesh, Pakistan dan Guatemala, TBA telah dievaluasi untuk meningkatkan hasil MNH dan telah menunjukkan beberapa potensi dalam mengurangi praktik berbahaya selama persalinan dan persalinan dan meningkatkan hasil MNH .

  3. Latihan
    Kursus-kursus mencakup pendekatan singkat dan terstruktur untuk melengkapi pekerja awam dengan alat penyelamat seperti Dukungan Hidup Baru Lahir (NLS), Program Resusitasi Neonatal (NRP) dan Perawatan Bayi Baru Lahir Esensial (ENC) tetapi mungkin bervariasi dalam hal asal, lingkup dan target audiens. Selain pelatihan tambahan bagi pekerja outreach, pelatihan sumber daya manusia juga mencakup konferensi, ceramah, lokakarya, edukasi kelompok, seminar dan simposium.
  4. Pembentukan kelompok-kelompok pendukung untuk mobilisasi masyarakat.
    Setelah Deklarasi Alma-Ata, diakui bahwa partisipasi masyarakat penting untuk penyediaan layanan kesehatan lokal dan untuk memberikan intervensi di tingkat komunitas. Kelompok dukungan masyarakat dan kelompok wanita kini semakin menjadi komponen inti dari paket layanan masyarakat untuk promosi kesehatan. Tujuannya adalah untuk memungkinkan masyarakat memberikan dukungan kepada wanita hamil dan keluarga selama kehamilan dan persalinan. Masyarakat didorong untuk mengidentifikasi hambatan utama untuk perawatan dan memilih intervensi yang paling tepat untuk situasi mereka. Mobilisasi masyarakat juga membantu mendidik tentang layanan yang tersedia, identifikasi tanda-tanda bahaya selama kehamilan, dan pentingnya mencari perawatan dari petugas layanan kesehatan terampil selama obstetri dan darurat. Berbagai pesan promosi, perawatan berkualitas dan peningkatan cakupan untuk MNH dapat disampaikan melalui pekerja komunitas dan kelompok wanita.

Bukti saat ini menekankan bahwa strategi berbasis masyarakat efektif untuk memberikan berbagai intervensi preventif dan promotif dalam upaya meningkatkan kualitas perawatan pada MNH dan banyak dari intervensi ini memiliki potensi untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas ibu, perinatal dan neonatal. Sekarang ada kebutuhan untuk menerapkannya pada skala yang lebih besar di seluruh LMIC. Intervensi ini ada dalam sistem kesehatan saat ini di sebagian besar LMIC sehingga diperlukan kebijakan untuk mengintegrasikan dan mempertahankan berbagai pengalihan tugas dan intervensi pelatihan dengan program kesehatan ibu dalam sistem kesehatan. Semua pemangku kepentingan termasuk pemerintah, masyarakat dan donor perlu bekerja bersama untuk membentuk kebijakan ini dan mengembangkan model perawatan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan populasi mereka sendiri. Program-program ini tidak menggantikan sistem kesehatan formal, tetapi menyediakan saluran untuk menjangkau daerah-daerah yang jauh dengan pengetahuan, komoditas dan keterampilan, sehingga berusaha mengurangi ketimpangan yang ada dalam akses dan pemanfaatan layanan kesehatan.

Sumber : Lassi et al. Reproductive Health 2014, 11(Suppl 2):S2
http://www.reproductive-health-journal.com/content/11/S2/S2 
Penulis: Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH

 

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

{jcomments on}

Bukti dari Input di Tingkat Fasilitas dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir: Intervensi dan Temuan

Sebagian besar kematian ibu dan bayi baru lahir terjadi saat proses persalinan atau selama periode 24 jam setelah proses persalinan. Oleh karena itu, intervensi untuk menyelamatkan hidup ibu dan bayi baru lahir sangat penting dilakukan di fasilitas perawatan obstetrik darurat dasar atau komprehensif. Fasilitas kesehatan memberikan intervensi yang kompleks mencakup layanan gawat darurat, rujukan, perawatan paska pulang, manajemen jangka panjang pada kondisi kronis, dan disertai dengan pelatihan staf dan dukungan manajerial dan administratif. Kajian ini meninjau efektivitas input pada tingkat fasilitas dalam peningkatan outcome kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Dibawah ini adalah tabel yang menunjukkan fungsi layanan obstetri emergensi dasar dan komprehensif:

20apr1

Dengan pemberian intervensi esensial oleh layanan obstetri emergensi dasar dan komprehensif dengan cakupan lebih dari 90%, diperkirakan dapat menurunkan angka kematian neonatal sebanyak 70%. Dalam kajian ini, terdapat empat pembagian kategori intervensi yaitu: 1. Tenaga kerja yang berkinerja baik dan termotivasi (Well performing and motivated workforce), pelayanan interpersonal dan dukungan sosial (interpersonal care and social support), budaya keselamatan (safety culture), dan model kepegawaian (staffing models) yang terangkum dalam tabel dibawah ini:

20apr2

Studi ini mengidentifikasi 352 judul systematic review yang relevan, termasuk 32 review yang memenuhi syarat setelah evaluasi lebih lanjut. Terdapat dua belas review tentang tenaga kerja yang berkinerja baik dan termotivasi, lima review tentang dukungan sosial, sembilan review mengenai intervensi untuk promosi budaya keselamatan dan enam review pada model kepegawaian.

Pada tingkat fasilitas, temuan menunjukkan bahwa pelayanan dari tim kebidanan khusus dan dukungan sosial selama kehamilan dan persalinan telah menunjukkan manfaat yang signifikan dalam meningkatkan outcome kesehatan pada ibu yang baru melahirkan. Di antara intervensi yang ditujukan untuk petugas layanan kesehatan, ditemukan bahwa pelatihan manajemen stres, pertemuan multidisiplin dan sesi umpan balik dapat mengurangi stres terkait pekerjaan dan meningkatkan kinerja. Hasil yang dilaporkan sangat bervariasi karena intervensi yang terlibat cukup kompleks. Intervensi pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan outcome kesehatan secara umum, meningkatkan kinerja tenaga kesehatan dan memberi manfaat bagi layanan kesehatan ibu dan anak (KIA). Sebagian besar data dari kajian ini berasal dari negara dengan pendapatan tinggi, sehingga membatasi generalisasi dari hasil temuan ini. Meskipun kurangnya data dari negara berpendapatan menengah ke bawah, intervensi seperti dukungan selama kehamilan dan persalinan diharapkan bisa efektif pada semua kondisi. Kurangnya bukti dari negara pendapatan menengah ke bawah mungkin disebabkan oleh lemahnya infrastruktur sistem kesehatan yang ada.

Banyaknya intervensi termasuk dukungan selama kehamilan, peningkatan ketersediaan tenaga kerja, peningkatan kinerja tenaga kesehatan dan promosi budaya keselamatan diarahkan untuk peningkatan layanan Pelayanan Obstetri Neonatus Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri Neonatus Emergensi Dasar (PONEK). Intervensi terhadap peningkatan motivasi staf terbukti dapat menghasilkan dukungan dan peningkatan mutu pelayanan selama kehamilan dan persalinan, sehingga menghasilkan pengalaman persalinan yang lebih baik. Demikian juga dengan penerapan pedoman standar untuk pelayanan ibu dan bayi baru lahir yang dapat memfasilitasi pendekatan sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatkan layanan KIA. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya pengenalan audit klinis rutin. Hasil temuan pada intervensi untuk promosi budaya keselamatan di PONED dan PONEK adalah adanya pemenuhan kelengkapan seperti obat-obatan dan peralatan yang memadai untuk persalinan yang aman.

Dalam studi ini tidak ditemukan bukti yang memadai pada tingkat fasilitas dari negara-negara dengan pendapatan menengah ke bawah, dimana sebagian besar morbiditas dan kematian ibu dan bayi baru lahir terkonsentrasi. Pembuat kebijakan di negara dengan pendapatan menengah ke bawah harus menerapkan intervensi di tingkat fasilitas meliputi ketersediaan staf yang memadai dan terampil, beserta akses yang baik untuk peralatan dan obat-obatan di fasilitas PONED dan PONEK untuk memberi pelayanan ibu dan bayi baru lahir dengan tepat dan cepat. Hal ini dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Bukti lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi kombinasi strategi terbaik yang disesuaikan dengan kebutuhan implementasi.

Dirangkum oleh: dr. Novika Handayani
Referensi: Das et al. Evidence from facility level inputs to improve quality of care for maternal and newborn health: interventions and findingsReproductive Health 2014, 11(Suppl 2):S4
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4160922/ 

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

 {jcomments on}

Peningkatan Layanan Kesehatan Ibu dan Bayi: Upaya Peningkatan Mutu di Tingkat Fasilitas Kesehatan

Saat ini Kesehatan ibu dan Anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling mendesak di Indonesia. Angka kematian ibu yang masih tinggi pada 305/100.000 kelahiran dan angka kematian bayi 32 /1.000 pada tahun 2015 menjadikan Indonesia gagal mencapai target Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals /MDGs)4. Kesenjangan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak masih dapat dirasakan terutama untuk wilayah di luar pulau jawa, Padahal kedepan kita dihadapkan pada target SDG’s 2030 yang lebih ambisius.

Yang terpenting dalam kualitas perawatan rumah sakit yang diberikan kepada ibu dan bayi yang baru lahir dapat dicapai melalui proses penilaian yang berbasis aksi dan partisipatif dan pengkajian ulang berbasis standar. beberapa cara dilakukan termasuk penggunaan tools untuk Penilaian Kualitas Perawatan Rumah Sakit untuk Ibu dan Bayi yang baru lahir ditujukan untuk membantu manajer rumah sakit dan profesional kesehatan di tingkat fasilitas dan pembuat kebijakan di tingkat nasional untuk mengidentifikasi perawatan di bidang obstetri dan neonatal yang perlu ditingkatkan dan untuk mengembangkan rencana tindakan untuk menerapkan perubahan.

Tools yang digunakan untuk melakukan penilaian berdasarkan pada pedoman WHO dan pengalaman sebelumnya dilakukan secara global untuk perawatan anak. Semua aspek utama perawatan, termasuk infrastruktur, peralatan dan layanan pendukung, keamanan dan efektivitas manajemen kasus dan hak untuk informasi, privasi, dan perawatan holistik untuk ibu dan bayi digunakan. Berikut dibawah ini beberapa detail penilaian yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi:

No Fokus Area Pelayanan Aksi Peningkatan Layanan yang Dilakukan
1 Catatan statistik Secara periodik melakukan audit terhadap indikator pelayanan yang ada
Melakukan audit kematian ibu bekerja sama dengan kabupaten di rumah sakit
Peningkatan isi dan kelengkapan catatan medis
Pengenalan sistem informasi berbasis komputer
2 Persediaan obat Peningkatan ketersediaan obat-obatan esensial
3 Peralatan Peningkatan ketersediaan perlengkapan untuk pelayanan bayi
4 Laboratorium Peningkatan peralatan dan reagen laboratorium
5 Infarastruktur Peningkatan ketersediaan air panas, toilet, kamar mandi, ,meningkatan sistem pemanas
6 Bangsal Buruh Meningkatkan privasi, sumber pemanasan yang memadai untuk bayi yang baru lahir dan meningkatkan secara keseluruhan lay out dari tenaga kerja dan ruang bersalin
7 Bangsal neonatal Peningkatan peralatan di NICU (CPAP, inkubator)
8 Kelahiran normal

Peningkatan pilihan dalam persalinan ditawarkan, lebih sedikit penggunaan enema, Partogram digunakan untuk pengambilan keputusan, Manajemen aktif dari tahap 3 persalinan.

Perluasan peran Bidan selama bekerja dan persalinan, Peningkatan pemantauan janin Dan Pelatihan staf di EPC

9 Sectio secarean

Revisi indikasi yang tidak tepat,

Peningkatan penilaian Kehilangan darah

10 Komplikasi Obstetri

Peningkatan penggunaan oksitosin,

Mengurangi polifarmasi, protokol tentang penggunaan Magnesium sulfat yang benar

Revisi protokol untuk hipertensi, Revisi protokol untuk komplikasi kebidanan, Peningkatan pemantauan preeklamsia, Pelatihan ahli anestesi dalam manajemen kasu hipertensi berat

Pelayanan neonatal Peningkatan kontrol termal, Peningkatan penggunaan skor Apgar, Peningkatan promosi pemberian ASI, Peningkatan resusitasi neonatal, Ibu lebih terlibat dalam perawatan neonatal, Melatih lebih banyak staf dalam perawatan perinatal yang efektif
Komplikasi neonatal Memonitor grafik dari bayi yang baru lahir diterima di NICU diisi, Perhitungan kebutuhan makan, Ibu dilibatkan dalam perawatan untuk bayi yang baru lahir sakit
Pelayaan emergency kebidanan

Meningkatkan privasi ibu di ruang gawat darurat kebidanan.

Protokol dikembangkan untuk meningkatkan kerja tim dan Protokol untuk profilaksis tromboemboli

Kontrol infeksi Tidak ada pemeriksaan vagina pada membran ketuban pecah dini, Fasilitas untuk mencuci tangan ditingkatkan dan Revisi protokol antibiotik profilaksis
Monitoring Peningkatan pemantauan tanda-tanda vital untuk bayi yang baru lahir sakit dan Peningkatan pemantauan dan perekaman untuk ibu
Panduan Pengembangan protokol lokal berdasarkan standar WHO
Audit Audit kematian ibu diperkenalkan dan Audit nyaris meninggal dan kematian perinatal diperkenalkan
Akses dan rujukan Penilaian dilakukan di rumah sakit kabupaten di daerah tangkapan
Keramahan dalam layanan ibu dan anak Meningkatkan Informasi yang diberikan kepada ibu saat masuk, selama tinggal di rumah sakit dan saat pulang dan memberikan izin yang akan menemani pasien saat di ruang bersalin dan memberikan kesemapatn untuk menemani saat setelah operasi caesar

Demikian di atas merupakan proses partisipatif yang mampu membangun kesadaran untuk melihat kesenjangan yang ada dan yang paling penting adalah motivasi untuk melakukan perubahan di antara para manajer rumah sakit dan staf kunci. Proses penilaian, selain mempromosikan perubahan dalam fasilitas kesehatan, manajer rumah sakit diminta melakukan tindakan otoritas kesehatan baik secara lokal dan nasional untuk memastikan masalah sistemik, seperti kurangnya komoditas khusus dapat ditangani. Perbedaan antar rumah sakit dapat dikaitkan dengan berbagai tingkat komitmen dan kepemimpinan. Bahkan, kepemimpinan yang efektif merupakan otoritatif dukungan bagi mereka yang ingin mempromosikan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi.

Penulis : Andriani Yulianti, SE., MPH.
Referensi : Tamburlini et al. Improving the Quality of Maternal and Neonatal Care: the
Role of Standard Based Participatory Assessments. Plos One. October 2013 | Volume 8 | Issue 10 | e78282

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

{jcomments on}

Peningkatan Mutu Kesehatan Ibu dan Anak (Systematic Review)

Meskipun terdapat penurunan substansial dalam jumlah tahunan kematian ibu sejak tahun 1990, namun diperkirakan 273.500 wanita meninggal setiap tahun sebagai akibat dari penyebab maternal. Di antara ibu yang bertahan hidup melahirkan, sekitar 10 juta akan menderita komplikasi terkait kehamilan dan persalinan. Banyak dari kondisi atau kematian ini dapat dicegah melalui intervensi tepat waktu yang terbukti efektif dan terjangkau.

Sedangkan angka mortalitas pada anak-anak di bawah usia lima tahun juga telah berkurang secara substansial dan menurun lebih dari 47% sejak tahun 1990. Sayangnya, angka kematian neonatal di antara semua kematian balita telah meningkat dari sekitar 36% pada tahun 1990 menjadi sekitar 44% pada tahun 2012. Hasil perawatan neonatal tersebut terkait erat dengan kesehatan ibu dan oleh karena itu, kualitas perawatan yang ibu terima selama persalinan, persalinan dan dalam periode postpartum berlangsung, merupakan periode risiko tertinggi untuk ibu dan bayi.

Komplikasi dan kematian ibu secara signifikan berdampak pada kemampuan bayi yang baru lahir untuk bertahan dan berkembang. Sedangkan kematian neonatal terkonsentrasi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dimana angka kematian ibu juga tertinggi, utilisasi fasilitas terendah, dan kualitas perawatan yang tersedia paling buruk.

Merujuk pada data tersebut, dapat dilihat bahwa kematian ibu banyak ditemui di negara berpendapatan rendah, sektor termiskin dari populasi berpenghasilan menengah atau tinggi, dan rendahnya akses terhadap fasilitas dan pelayanan persalinan dan perawatan bayi baru lahir.

Berbagai bukti tersebut menunjukkan bahwa mutu pelayanan yang rendah terhadap ibu dan bayi baru lahir ini menjadi kontribusi utama meningkatnya morbiditas dan morbilitas. Untuk itu perlu pemahaman faktor-faktor yang mendasari dan mempengaruhi kualitas layanan berbasis fasilitas serta menilai efektivitas intervensi untuk meningkatkan kualitas perawatan tersebut. Hal ini penting dalam rangka peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Pada rangkaian artikel (article series) ini akan dipaparkan lima topik artikel sebagai suatu penilaian dan rangkuman informasi dari kajian systematic review tentang dampak berbagai pendekatan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir, yang memuat beberapa hal sebagai berikut:

  • Kerangka kerja konseptual dan metodologi penelitian
  • Bukti intervensi peningkatan kualitas perawatan ibu dan bayi baru lahir di masyarakat, distrik, dan fasilitas
  • Pembahasan temuan, identifikasi kesenjangan penelitian, dan pengajuan rekomendasi yang berimplikasi pada kualitas perawatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Pada artikel pertama ini akan dipaparkan mengenai definisi dan pngukuran peningkatan kualitas, konseptual framework, metodologi, kriteria inklusi, strategi pencarian, tipe outcomes, ekstraksi data dan analisis, serta kelebihan dan keterbatasan .

Mendefinisikan Kualitas dan Mengukur Peningkatan Kualitas

Terdapat berbagai definisi untuk mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak ini. Diantaranya menurut Hulton et al., yang mendefinisikannya sebagai sejauh mana layanan kesehatan ibu untuk individu dan populasi meningkatkan kemungkinan pengobatan yang tepat waktu dan tepat tujuan untuk mencapai hasil yang diinginkan yang konsisten dengan pengetahuan profesional saat ini dan menegakkan hak-hak reproduksi dasar.

Sedangkan pada rangkaian artikel ini, kualitas perawatan ibu dan bayi baru lahir, didefinisikan dengan menggunakan definisi dari Institute of Medicine (IOM), yaitu perawatan yang aman, efektif, berpusat pada pasien, tepat waktu, efisien dan adil. Definisi mutu perawatan oleh IOM bersifat komprehensif dan mencakup tiga komponen kunci kualitas: klinis (aman dan efektif), interpersonal (pasien-terpusat) dan kontekstual (tepat waktu, efisien dan adil).

Ketersediaan pelayanan kesehatan berkualitas sangat bervariasi antar negara dan lintas sistem kesehatan. Memahami basis bukti tentang intervensi yang memfasilitasi standar “kualitas emas”, perawatan interpersonal dan kontekstual adalah langkah penting dalam meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir.

Kerangka Konseptual

Pada tahun 1990-an dikembangkan suatu model dan kerangka yang digunakan dalam penilaian, dan pengukuran mutu pelayanan kesehatan. Sedangkan mutu pelayanan yang spesifik untuk kesehatan ibu dan anak dikembangkan baru-baru ini.

Terkait kesehatan ibu dan anak, suatu analisis komprehensif dari beberapa literatur oleh Raven et al, menemukan bahwa berbagai perspektif telah digunakan dalam pendekatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Model peningkatan mutu yang dipergunakan saat ini berdasarkan pada penilaian kualitas dari perspektif klien; pengalaman pengguna pelayanan dan mutu perawatan klinis; hak-hak pasien dan kebutuhan provider; serta intervensi yang sesuai selama pelayanan untuk mengatasi adanya penundaan, dan model keluaran input-output.

Kerangka yang dihasilkan tersebut menguraikan input yang saling berhubungan, dan diperlukan di berbagai tingkat sistem kesehatan yang mengarah pada pemberian pelayanan berkualitas dan menghasilkan luaran kesehatan yang positif. Hal ini seperti termuat dalam bagan berikut:

WhatsApp Image 2018 04 16 at 13.25.53

Mengacu pada model logika Donabedian, terdapat tiga komponen kunci yakni:

  • Struktur : mengacu pada konteks dimana pelayanan kesehatan disediakan, politik, legal, profesional, dan sumber organisasional yang diperlukan untuk memastikan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan di level komunitas, distrik, dan fasilitas pada sistem kesehatan
  • Proses : mengacu pada apakah praktis medis yang baik dan mutu pelayanan dilakukan sesuai yang ditentukan oleh IOM
  • Outcome : pada kerangka ini, outcome dapat dibagi dalam dua domain yakni; pengalaman pasien yang positif, peningkatan permintaan, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan tepat waktu

Metodologi

Metode yang digunakan adalah dengan mempertimbangan semua systematic review yang menggunakan pendekatan berbagai variasi level pada kerangka mutu pelayanan kesehatan (Quality of Care Framework) yang dapat diterapkan secara langsung bagi kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Selain itu juga dimasukkan review yang berfokus pada intervensi terhadap staf lini depan yang berdampak terhadap kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Prioritas yang digunakan adalah dengan memilih review yang sudah ada baik dari Cochrane atau Non-Chocrane dan merupakan randomized atau non-randomized controlled trial, yang sepenuhnya atau sebagian ditujukan pada intervensi untuk peningkatan domain kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Paparan yang disampaikan adalah dampak pada kesehatan secara umum seperti yang disampaikan oleh reviewer, meliputi; skrining dan penggunaan mammogram meskipun tidak secara langsung berkaitan dengan kesehatan ibu dan bayi baru lahir tetapi berkaitan dengan mutu pelayanan kesehatan.

Kriteria Inklusi

Systematic review menggunakan pendekatan pada dampak penerapan pengetahuan intervensi staf lini depan, yang meliputi domain berikut:

  • Input pada level komunitas; platform keuangan, peltihan tenaga kesehatan/ task shifting, partisipasi pengguna; keterlekatan komunitas/dukungan kelompok, outreach services/ kunjungan rumah/ rujukan
  • Input pada level distrik; pemerintah dan akuntabilitas, kepemimpinan dan supervisi, strategi keuangan, layanan infrastruktur, sistem informasi kesehatan, pelatihan tenaga kesehatan/task shifting, audit dan umpan balik
  • Input pada level fasilitas; kapasitas organisasi, keuangan yang sesuai, pelayanan infrastruktur-electronic health record/komunikasi elektronik, pelatihan tenaga kesehatan, performa dan motivasi yang baik dari tenaga kesehatan, layanan interpersonal dan dukungan sosial

Strategi Pencarian

Strategi yang digunakan adalah semua systematic review yang berdampak pada intervensi mutu pelayanan kesehatan yang dipublikasikan sejak Mei 2013 di review. Berikut adalah sumber informasi yang dipergunakan untuk mencari literature yang akan di review:

  • Semua referensi perpustakaan elektronik yang tersedia: jurnal medis dan kajian analisis yang terindeks
  • Referensi perpustakaan elektronik dari jurnal medis yang tidak terindeks
  • Jurnal yang tidak terindeks dan tidak tersedia diperpustakaan elektronik
  • Buku-buku terkait, monograf, tesis yang terindekasi melalui pencarian perpustakaan elektronik atau pencarian manual
  • Dokumen dan laporan proyek

Tipe Outcomes

Berikut adalah ilustrasi daftar outcome yang dihasilkan:

  • Outcome pelayanan kesehatan yang dinilai dari berbagai pengukuran. Meliputi; kematian, morbidity, pengukuran psikologi, partisipasi penilaian sendiri terhadap resolusi, kualitas hidup atau kepercayaan diri pasien.
  • Cakupan pelayanan
  • Perilaku kesehatan seperti; kepatuhan pasien terhadap pengobatan, atau suplemen diet
  • Bahaya atau efek samping
  • Utilisasi dari pelayanan
  • Biaya
  • Provider yang mengadopsi intervensi berbasis bukti dan pemenuhan terhadap pelaksanaannya
  • Aspek lain terkait dengan mutu pelayanan kesehatan

Ekstraksi Data dan Analisis

Tim proyek membuat proses triase dengan standar kriteria untuk mengevaluasi output dari strategi pencarian dan skrining primer. Berikut adalah proses strategi pencarian yang digunakan:

  • Abstrak (dan sumber lengkap apabila abstrak tidak tersedia) di skrining oleh dua abstraktor untuk mengidentifikasi studi sesuai dengan tujuan
  • Apabila terjadi ketidaksepakatan pada studi seleksi antara dua abstraktor utama maka akan di selesaikan oleh reviewer ketiga
  • Setelah dilakukan kajian dari file artikel lengkap/utuh oleh seluruh reviewer yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, setiap kajian dilakukan dua kali abstraksi ke dalam form data yang terstandarisasi
    Informasi-informasi tersebut diekstraksikan ke dalam kriteria berikut:
    • Karakteristik termasuk ulasan – deskripsi setiap ulasan termasuk deskripsi singkat tentang metode, peserta, intervensi, hasil dan catatan spesifik masalah (jika ada)
    • Ekstraksi penilaian terhadap dampak pelayanan
    • Determinan metodologi
    • Risiko alat yang bias
    • Penilaian mutu

Selanjutnya systematic review untuk mutu yang tersedia dinilai dengan menggunakan kriteria AMSTAR (Assessment of the Metodological Quality of Systematic Reviews), dan apabila ada ketidaksepakatan didiskusikan dan keputusan akhir ditentukan dengan metode konsensus dalam kelompok.

Berikut adalah tabel kriteria AMSTAR yang dipergunakan:

gb2

Kelebihan dan Keterbatasan

Penelitian ini berdasarkan review pada systematic review berbasis bukti dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan di level komunitas, distrik, dan fasilitas. Kajian systematic review memberikan beberapa keuntungan, seperti:

  • Disusun berdasarkan konklusi dari berbagai kajian studi intervensi mutu pada situasi yang berbeda-beda
  • Menghindari duplikasi penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain
  • Memungkinkan proses kajian yang lebih cepat

Namun metode ini memiliki beberapa keterbatasan:

  • Intervensi yang dilakukan yang tersedia data primer tetapi tidak dimasukkan dalam systematic review tidak akan ikut dikaji
  • Tergantung pada karakteristik tinjauan yang dilakukan oleh penulis dibandingkan pada penelitian itu sendiri dan memungkinkan terjadinya bias
  • Memungkinkan beberapa penelitian yang tidak diambil oleh reviewer sehingga tidak dapat ikut dilakukan proses kajian tersebut

Dirangkum Oleh : Lucia Evi Indriarini, SE., MPH.
Referensi : Austin A., et al. Approaches to improve the quality of maternal and newborn health care: an overview of the evidence. Reproductive Health 2014, 11(Suppl 2):S1

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

 

 

Penerapan Teknologi Informasi di RS Untuk Pelayanan Kesehatan Bermutu

Teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini telah menjangkau berbagai bidang kehidupan, diantaranya adalah bidang kesehatan. Teknologi informasi yang diterapkan dengan baik dapat mendukung proses pengelolaan manajemen menjadi efektif efisien.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan Itech menyelenggarakan penganugerahan TOP & TELCO 2017, dimana terdapat 4 penghargaan yang berhasil diraih oleh RSUD Koja (TOP IT Implementation on Local Government Hospital 2017), PT Rumah Sakit Pelni (TOP IT Implementation on BUMN Hospital 2017), PT Rumah Sakit Pelni (TOP Leader on IT Leadership 2017), RS Premier Bintaro (TOP IT Implementation on Digital Hospital 2017). Keempat fasilitas pelayanan kesehatan tersebut bersaing dengan finalis lainnya, dengan total finalis sebanyak 110 peserta.

Kriteria penilaian utama adalah perusahaan atau instansi pemerintahan yang berhasil dalam hal implementasi TI dan Telco di perusahaan serta dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kinerja, daya saing, dan layanannya. Selain juga ditetapkan kategori khusus yakni penerapan TI dengan aspek lingkungan atau Go Green serta penghargaan untuk TOP Leader in IT Leadership 2017.

Penilaian dilakukan dalam tiga tahap, yakni:

  • Proses penggalian informasi melalui penyebaran dan pengisian angket kuesioner ke perusahaan/ institusi yang bersangkutan
  • Penggalian informasi dan masukan dari masyarakat/ pelanggan
  • Proses penggalian dan pendalaman dalam sesi wawancara, diskusi, dan tanya jawab

Penggunaan teknologi informasi sendiri di bidang kesehatan, sebenarnya telah dimulai sejak lama. Pada 1969 di Amerika. Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) menjadi salah satu lembaga yang menginisiasi penggunaan teknologi informasi untuk penelitian di bidang kesehatan tersebut.

Pada 1998, upaya untuk menentukan strategi peningkatan mutu yang dilakukan di Amerika menemukan bahwa salah satu kunci dalam upaya tersebut adalah adanya peran teknologi informasi dan komunikasi (TI), yang menjadi bagian integral untuk meningkatkan mutu. Pada saat itu komite yang terlibat dalam kegiatan tersebut menggalang komitmen nasional untuk membangun infrastruktur informasi untuk mendukung pelayanan kesehatan, kesehatan konsumen/ pasien, penilaian dan peningkatan mutu, akuntabilitas publik, penelitian klinis dan pelayanan kesehatan, serta edukasi klinis.

Pada 1999, AHRQ melakukan suatu evaluasi penerapan informasi, sistem pendukung pengambilan keputusan, dan komputerisasi catatan medis pasien untuk meminimalkan medical error, peningkatan patient safety, dan upaya peningkatan mutu dalam berbagai situasi pasien yang beragam.

Sedangkan pada 2001, penggunaan teknologi informasi terus dikembangkan oleh AHRQ, diantaranya adalah terwujudnya suatu teknologi untuk menyediakan informasi klinis yang mendukung patient safety (CLIPS – RFA/ Clinical Informatics to Promote Patient Safety –Research Solicitations), yang fokus pada penggunaan teknologi informasi untuk meminimalkan medical error dan meningkatkan patient safety.

Penggunaan teknologi informasi juga diterapkan di berbagai belahan negara lain, seperti di Inggris. Pada salah satu studi yang dilakukan di Inggris ditemukan bahwa rumah sakit yang menggunakan sistem Electronic Health Record (EHR) dan Electronic Medical Record (EMR) memiliki tingkat angka mortalitas yang rendah dibandingkan  dengan rumah sakit yang tidak menggunakan sistem tersebut. EHR sendiri diyakini dapat membantu mengurangi kesalahan penginputan peresepan dan menyediakan akses untuk mendukung pengambilan keputusan klinis dalam alur kerja, serta memberikan kewaspadaan terhadap terjadinya medication error.

Salah satu komponen penting dalam penerapan EHR di Inggris adalah tersedianya fitur Clinical Decision Support (CDS) termasuk didalamnya safety screening otomatis dan notifikasi untuk mengingatkan klinisi terhadap kesalahan potensial ataupun kontrakdiksi sebelum mereka menuliskan perawatan dan pengobatan bagi pasien. Penggunaan CDS disampaikan dapat memberikan output:

  • Peningkatan patient safety dan kualitas pelayanan klinis
  • Meningkatnya kepatuhan petugas layanan kesehatan terhadap guideline
  • Mengurangi terjadinya medication error yang serius

Penerapan teknologi informasi yang tepat dan sesuai di bidang kesehatan jelas dapat memberikan benefit yang nyata bagi upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, tidak hanya di Indonesia namun juga di berbagai negara lain.

Oleh : Lucia Evi Indriarini, SE., MPH.

Referensi:

 

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}