Bukti dari Input di Tingkat Fasilitas dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir: Intervensi dan Temuan

Sebagian besar kematian ibu dan bayi baru lahir terjadi saat proses persalinan atau selama periode 24 jam setelah proses persalinan. Oleh karena itu, intervensi untuk menyelamatkan hidup ibu dan bayi baru lahir sangat penting dilakukan di fasilitas perawatan obstetrik darurat dasar atau komprehensif. Fasilitas kesehatan memberikan intervensi yang kompleks mencakup layanan gawat darurat, rujukan, perawatan paska pulang, manajemen jangka panjang pada kondisi kronis, dan disertai dengan pelatihan staf dan dukungan manajerial dan administratif. Kajian ini meninjau efektivitas input pada tingkat fasilitas dalam peningkatan outcome kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Dibawah ini adalah tabel yang menunjukkan fungsi layanan obstetri emergensi dasar dan komprehensif:

20apr1

Dengan pemberian intervensi esensial oleh layanan obstetri emergensi dasar dan komprehensif dengan cakupan lebih dari 90%, diperkirakan dapat menurunkan angka kematian neonatal sebanyak 70%. Dalam kajian ini, terdapat empat pembagian kategori intervensi yaitu: 1. Tenaga kerja yang berkinerja baik dan termotivasi (Well performing and motivated workforce), pelayanan interpersonal dan dukungan sosial (interpersonal care and social support), budaya keselamatan (safety culture), dan model kepegawaian (staffing models) yang terangkum dalam tabel dibawah ini:

20apr2

Studi ini mengidentifikasi 352 judul systematic review yang relevan, termasuk 32 review yang memenuhi syarat setelah evaluasi lebih lanjut. Terdapat dua belas review tentang tenaga kerja yang berkinerja baik dan termotivasi, lima review tentang dukungan sosial, sembilan review mengenai intervensi untuk promosi budaya keselamatan dan enam review pada model kepegawaian.

Pada tingkat fasilitas, temuan menunjukkan bahwa pelayanan dari tim kebidanan khusus dan dukungan sosial selama kehamilan dan persalinan telah menunjukkan manfaat yang signifikan dalam meningkatkan outcome kesehatan pada ibu yang baru melahirkan. Di antara intervensi yang ditujukan untuk petugas layanan kesehatan, ditemukan bahwa pelatihan manajemen stres, pertemuan multidisiplin dan sesi umpan balik dapat mengurangi stres terkait pekerjaan dan meningkatkan kinerja. Hasil yang dilaporkan sangat bervariasi karena intervensi yang terlibat cukup kompleks. Intervensi pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan outcome kesehatan secara umum, meningkatkan kinerja tenaga kesehatan dan memberi manfaat bagi layanan kesehatan ibu dan anak (KIA). Sebagian besar data dari kajian ini berasal dari negara dengan pendapatan tinggi, sehingga membatasi generalisasi dari hasil temuan ini. Meskipun kurangnya data dari negara berpendapatan menengah ke bawah, intervensi seperti dukungan selama kehamilan dan persalinan diharapkan bisa efektif pada semua kondisi. Kurangnya bukti dari negara pendapatan menengah ke bawah mungkin disebabkan oleh lemahnya infrastruktur sistem kesehatan yang ada.

Banyaknya intervensi termasuk dukungan selama kehamilan, peningkatan ketersediaan tenaga kerja, peningkatan kinerja tenaga kesehatan dan promosi budaya keselamatan diarahkan untuk peningkatan layanan Pelayanan Obstetri Neonatus Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri Neonatus Emergensi Dasar (PONEK). Intervensi terhadap peningkatan motivasi staf terbukti dapat menghasilkan dukungan dan peningkatan mutu pelayanan selama kehamilan dan persalinan, sehingga menghasilkan pengalaman persalinan yang lebih baik. Demikian juga dengan penerapan pedoman standar untuk pelayanan ibu dan bayi baru lahir yang dapat memfasilitasi pendekatan sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatkan layanan KIA. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya pengenalan audit klinis rutin. Hasil temuan pada intervensi untuk promosi budaya keselamatan di PONED dan PONEK adalah adanya pemenuhan kelengkapan seperti obat-obatan dan peralatan yang memadai untuk persalinan yang aman.

Dalam studi ini tidak ditemukan bukti yang memadai pada tingkat fasilitas dari negara-negara dengan pendapatan menengah ke bawah, dimana sebagian besar morbiditas dan kematian ibu dan bayi baru lahir terkonsentrasi. Pembuat kebijakan di negara dengan pendapatan menengah ke bawah harus menerapkan intervensi di tingkat fasilitas meliputi ketersediaan staf yang memadai dan terampil, beserta akses yang baik untuk peralatan dan obat-obatan di fasilitas PONED dan PONEK untuk memberi pelayanan ibu dan bayi baru lahir dengan tepat dan cepat. Hal ini dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Bukti lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi kombinasi strategi terbaik yang disesuaikan dengan kebutuhan implementasi.

Dirangkum oleh: dr. Novika Handayani
Referensi: Das et al. Evidence from facility level inputs to improve quality of care for maternal and newborn health: interventions and findingsReproductive Health 2014, 11(Suppl 2):S4
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4160922/ 

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

 {jcomments on}

Peningkatan Layanan Kesehatan Ibu dan Bayi: Upaya Peningkatan Mutu di Tingkat Fasilitas Kesehatan

Saat ini Kesehatan ibu dan Anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling mendesak di Indonesia. Angka kematian ibu yang masih tinggi pada 305/100.000 kelahiran dan angka kematian bayi 32 /1.000 pada tahun 2015 menjadikan Indonesia gagal mencapai target Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals /MDGs)4. Kesenjangan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak masih dapat dirasakan terutama untuk wilayah di luar pulau jawa, Padahal kedepan kita dihadapkan pada target SDG’s 2030 yang lebih ambisius.

Yang terpenting dalam kualitas perawatan rumah sakit yang diberikan kepada ibu dan bayi yang baru lahir dapat dicapai melalui proses penilaian yang berbasis aksi dan partisipatif dan pengkajian ulang berbasis standar. beberapa cara dilakukan termasuk penggunaan tools untuk Penilaian Kualitas Perawatan Rumah Sakit untuk Ibu dan Bayi yang baru lahir ditujukan untuk membantu manajer rumah sakit dan profesional kesehatan di tingkat fasilitas dan pembuat kebijakan di tingkat nasional untuk mengidentifikasi perawatan di bidang obstetri dan neonatal yang perlu ditingkatkan dan untuk mengembangkan rencana tindakan untuk menerapkan perubahan.

Tools yang digunakan untuk melakukan penilaian berdasarkan pada pedoman WHO dan pengalaman sebelumnya dilakukan secara global untuk perawatan anak. Semua aspek utama perawatan, termasuk infrastruktur, peralatan dan layanan pendukung, keamanan dan efektivitas manajemen kasus dan hak untuk informasi, privasi, dan perawatan holistik untuk ibu dan bayi digunakan. Berikut dibawah ini beberapa detail penilaian yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi:

No Fokus Area Pelayanan Aksi Peningkatan Layanan yang Dilakukan
1 Catatan statistik Secara periodik melakukan audit terhadap indikator pelayanan yang ada
Melakukan audit kematian ibu bekerja sama dengan kabupaten di rumah sakit
Peningkatan isi dan kelengkapan catatan medis
Pengenalan sistem informasi berbasis komputer
2 Persediaan obat Peningkatan ketersediaan obat-obatan esensial
3 Peralatan Peningkatan ketersediaan perlengkapan untuk pelayanan bayi
4 Laboratorium Peningkatan peralatan dan reagen laboratorium
5 Infarastruktur Peningkatan ketersediaan air panas, toilet, kamar mandi, ,meningkatan sistem pemanas
6 Bangsal Buruh Meningkatkan privasi, sumber pemanasan yang memadai untuk bayi yang baru lahir dan meningkatkan secara keseluruhan lay out dari tenaga kerja dan ruang bersalin
7 Bangsal neonatal Peningkatan peralatan di NICU (CPAP, inkubator)
8 Kelahiran normal

Peningkatan pilihan dalam persalinan ditawarkan, lebih sedikit penggunaan enema, Partogram digunakan untuk pengambilan keputusan, Manajemen aktif dari tahap 3 persalinan.

Perluasan peran Bidan selama bekerja dan persalinan, Peningkatan pemantauan janin Dan Pelatihan staf di EPC

9 Sectio secarean

Revisi indikasi yang tidak tepat,

Peningkatan penilaian Kehilangan darah

10 Komplikasi Obstetri

Peningkatan penggunaan oksitosin,

Mengurangi polifarmasi, protokol tentang penggunaan Magnesium sulfat yang benar

Revisi protokol untuk hipertensi, Revisi protokol untuk komplikasi kebidanan, Peningkatan pemantauan preeklamsia, Pelatihan ahli anestesi dalam manajemen kasu hipertensi berat

Pelayanan neonatal Peningkatan kontrol termal, Peningkatan penggunaan skor Apgar, Peningkatan promosi pemberian ASI, Peningkatan resusitasi neonatal, Ibu lebih terlibat dalam perawatan neonatal, Melatih lebih banyak staf dalam perawatan perinatal yang efektif
Komplikasi neonatal Memonitor grafik dari bayi yang baru lahir diterima di NICU diisi, Perhitungan kebutuhan makan, Ibu dilibatkan dalam perawatan untuk bayi yang baru lahir sakit
Pelayaan emergency kebidanan

Meningkatkan privasi ibu di ruang gawat darurat kebidanan.

Protokol dikembangkan untuk meningkatkan kerja tim dan Protokol untuk profilaksis tromboemboli

Kontrol infeksi Tidak ada pemeriksaan vagina pada membran ketuban pecah dini, Fasilitas untuk mencuci tangan ditingkatkan dan Revisi protokol antibiotik profilaksis
Monitoring Peningkatan pemantauan tanda-tanda vital untuk bayi yang baru lahir sakit dan Peningkatan pemantauan dan perekaman untuk ibu
Panduan Pengembangan protokol lokal berdasarkan standar WHO
Audit Audit kematian ibu diperkenalkan dan Audit nyaris meninggal dan kematian perinatal diperkenalkan
Akses dan rujukan Penilaian dilakukan di rumah sakit kabupaten di daerah tangkapan
Keramahan dalam layanan ibu dan anak Meningkatkan Informasi yang diberikan kepada ibu saat masuk, selama tinggal di rumah sakit dan saat pulang dan memberikan izin yang akan menemani pasien saat di ruang bersalin dan memberikan kesemapatn untuk menemani saat setelah operasi caesar

Demikian di atas merupakan proses partisipatif yang mampu membangun kesadaran untuk melihat kesenjangan yang ada dan yang paling penting adalah motivasi untuk melakukan perubahan di antara para manajer rumah sakit dan staf kunci. Proses penilaian, selain mempromosikan perubahan dalam fasilitas kesehatan, manajer rumah sakit diminta melakukan tindakan otoritas kesehatan baik secara lokal dan nasional untuk memastikan masalah sistemik, seperti kurangnya komoditas khusus dapat ditangani. Perbedaan antar rumah sakit dapat dikaitkan dengan berbagai tingkat komitmen dan kepemimpinan. Bahkan, kepemimpinan yang efektif merupakan otoritatif dukungan bagi mereka yang ingin mempromosikan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi.

Penulis : Andriani Yulianti, SE., MPH.
Referensi : Tamburlini et al. Improving the Quality of Maternal and Neonatal Care: the
Role of Standard Based Participatory Assessments. Plos One. October 2013 | Volume 8 | Issue 10 | e78282

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

{jcomments on}

Peningkatan Mutu Kesehatan Ibu dan Anak (Systematic Review)

Meskipun terdapat penurunan substansial dalam jumlah tahunan kematian ibu sejak tahun 1990, namun diperkirakan 273.500 wanita meninggal setiap tahun sebagai akibat dari penyebab maternal. Di antara ibu yang bertahan hidup melahirkan, sekitar 10 juta akan menderita komplikasi terkait kehamilan dan persalinan. Banyak dari kondisi atau kematian ini dapat dicegah melalui intervensi tepat waktu yang terbukti efektif dan terjangkau.

Sedangkan angka mortalitas pada anak-anak di bawah usia lima tahun juga telah berkurang secara substansial dan menurun lebih dari 47% sejak tahun 1990. Sayangnya, angka kematian neonatal di antara semua kematian balita telah meningkat dari sekitar 36% pada tahun 1990 menjadi sekitar 44% pada tahun 2012. Hasil perawatan neonatal tersebut terkait erat dengan kesehatan ibu dan oleh karena itu, kualitas perawatan yang ibu terima selama persalinan, persalinan dan dalam periode postpartum berlangsung, merupakan periode risiko tertinggi untuk ibu dan bayi.

Komplikasi dan kematian ibu secara signifikan berdampak pada kemampuan bayi yang baru lahir untuk bertahan dan berkembang. Sedangkan kematian neonatal terkonsentrasi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dimana angka kematian ibu juga tertinggi, utilisasi fasilitas terendah, dan kualitas perawatan yang tersedia paling buruk.

Merujuk pada data tersebut, dapat dilihat bahwa kematian ibu banyak ditemui di negara berpendapatan rendah, sektor termiskin dari populasi berpenghasilan menengah atau tinggi, dan rendahnya akses terhadap fasilitas dan pelayanan persalinan dan perawatan bayi baru lahir.

Berbagai bukti tersebut menunjukkan bahwa mutu pelayanan yang rendah terhadap ibu dan bayi baru lahir ini menjadi kontribusi utama meningkatnya morbiditas dan morbilitas. Untuk itu perlu pemahaman faktor-faktor yang mendasari dan mempengaruhi kualitas layanan berbasis fasilitas serta menilai efektivitas intervensi untuk meningkatkan kualitas perawatan tersebut. Hal ini penting dalam rangka peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Pada rangkaian artikel (article series) ini akan dipaparkan lima topik artikel sebagai suatu penilaian dan rangkuman informasi dari kajian systematic review tentang dampak berbagai pendekatan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir, yang memuat beberapa hal sebagai berikut:

  • Kerangka kerja konseptual dan metodologi penelitian
  • Bukti intervensi peningkatan kualitas perawatan ibu dan bayi baru lahir di masyarakat, distrik, dan fasilitas
  • Pembahasan temuan, identifikasi kesenjangan penelitian, dan pengajuan rekomendasi yang berimplikasi pada kualitas perawatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Pada artikel pertama ini akan dipaparkan mengenai definisi dan pngukuran peningkatan kualitas, konseptual framework, metodologi, kriteria inklusi, strategi pencarian, tipe outcomes, ekstraksi data dan analisis, serta kelebihan dan keterbatasan .

Mendefinisikan Kualitas dan Mengukur Peningkatan Kualitas

Terdapat berbagai definisi untuk mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak ini. Diantaranya menurut Hulton et al., yang mendefinisikannya sebagai sejauh mana layanan kesehatan ibu untuk individu dan populasi meningkatkan kemungkinan pengobatan yang tepat waktu dan tepat tujuan untuk mencapai hasil yang diinginkan yang konsisten dengan pengetahuan profesional saat ini dan menegakkan hak-hak reproduksi dasar.

Sedangkan pada rangkaian artikel ini, kualitas perawatan ibu dan bayi baru lahir, didefinisikan dengan menggunakan definisi dari Institute of Medicine (IOM), yaitu perawatan yang aman, efektif, berpusat pada pasien, tepat waktu, efisien dan adil. Definisi mutu perawatan oleh IOM bersifat komprehensif dan mencakup tiga komponen kunci kualitas: klinis (aman dan efektif), interpersonal (pasien-terpusat) dan kontekstual (tepat waktu, efisien dan adil).

Ketersediaan pelayanan kesehatan berkualitas sangat bervariasi antar negara dan lintas sistem kesehatan. Memahami basis bukti tentang intervensi yang memfasilitasi standar “kualitas emas”, perawatan interpersonal dan kontekstual adalah langkah penting dalam meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir.

Kerangka Konseptual

Pada tahun 1990-an dikembangkan suatu model dan kerangka yang digunakan dalam penilaian, dan pengukuran mutu pelayanan kesehatan. Sedangkan mutu pelayanan yang spesifik untuk kesehatan ibu dan anak dikembangkan baru-baru ini.

Terkait kesehatan ibu dan anak, suatu analisis komprehensif dari beberapa literatur oleh Raven et al, menemukan bahwa berbagai perspektif telah digunakan dalam pendekatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Model peningkatan mutu yang dipergunakan saat ini berdasarkan pada penilaian kualitas dari perspektif klien; pengalaman pengguna pelayanan dan mutu perawatan klinis; hak-hak pasien dan kebutuhan provider; serta intervensi yang sesuai selama pelayanan untuk mengatasi adanya penundaan, dan model keluaran input-output.

Kerangka yang dihasilkan tersebut menguraikan input yang saling berhubungan, dan diperlukan di berbagai tingkat sistem kesehatan yang mengarah pada pemberian pelayanan berkualitas dan menghasilkan luaran kesehatan yang positif. Hal ini seperti termuat dalam bagan berikut:

WhatsApp Image 2018 04 16 at 13.25.53

Mengacu pada model logika Donabedian, terdapat tiga komponen kunci yakni:

  • Struktur : mengacu pada konteks dimana pelayanan kesehatan disediakan, politik, legal, profesional, dan sumber organisasional yang diperlukan untuk memastikan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan di level komunitas, distrik, dan fasilitas pada sistem kesehatan
  • Proses : mengacu pada apakah praktis medis yang baik dan mutu pelayanan dilakukan sesuai yang ditentukan oleh IOM
  • Outcome : pada kerangka ini, outcome dapat dibagi dalam dua domain yakni; pengalaman pasien yang positif, peningkatan permintaan, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan tepat waktu

Metodologi

Metode yang digunakan adalah dengan mempertimbangan semua systematic review yang menggunakan pendekatan berbagai variasi level pada kerangka mutu pelayanan kesehatan (Quality of Care Framework) yang dapat diterapkan secara langsung bagi kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Selain itu juga dimasukkan review yang berfokus pada intervensi terhadap staf lini depan yang berdampak terhadap kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Prioritas yang digunakan adalah dengan memilih review yang sudah ada baik dari Cochrane atau Non-Chocrane dan merupakan randomized atau non-randomized controlled trial, yang sepenuhnya atau sebagian ditujukan pada intervensi untuk peningkatan domain kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Paparan yang disampaikan adalah dampak pada kesehatan secara umum seperti yang disampaikan oleh reviewer, meliputi; skrining dan penggunaan mammogram meskipun tidak secara langsung berkaitan dengan kesehatan ibu dan bayi baru lahir tetapi berkaitan dengan mutu pelayanan kesehatan.

Kriteria Inklusi

Systematic review menggunakan pendekatan pada dampak penerapan pengetahuan intervensi staf lini depan, yang meliputi domain berikut:

  • Input pada level komunitas; platform keuangan, peltihan tenaga kesehatan/ task shifting, partisipasi pengguna; keterlekatan komunitas/dukungan kelompok, outreach services/ kunjungan rumah/ rujukan
  • Input pada level distrik; pemerintah dan akuntabilitas, kepemimpinan dan supervisi, strategi keuangan, layanan infrastruktur, sistem informasi kesehatan, pelatihan tenaga kesehatan/task shifting, audit dan umpan balik
  • Input pada level fasilitas; kapasitas organisasi, keuangan yang sesuai, pelayanan infrastruktur-electronic health record/komunikasi elektronik, pelatihan tenaga kesehatan, performa dan motivasi yang baik dari tenaga kesehatan, layanan interpersonal dan dukungan sosial

Strategi Pencarian

Strategi yang digunakan adalah semua systematic review yang berdampak pada intervensi mutu pelayanan kesehatan yang dipublikasikan sejak Mei 2013 di review. Berikut adalah sumber informasi yang dipergunakan untuk mencari literature yang akan di review:

  • Semua referensi perpustakaan elektronik yang tersedia: jurnal medis dan kajian analisis yang terindeks
  • Referensi perpustakaan elektronik dari jurnal medis yang tidak terindeks
  • Jurnal yang tidak terindeks dan tidak tersedia diperpustakaan elektronik
  • Buku-buku terkait, monograf, tesis yang terindekasi melalui pencarian perpustakaan elektronik atau pencarian manual
  • Dokumen dan laporan proyek

Tipe Outcomes

Berikut adalah ilustrasi daftar outcome yang dihasilkan:

  • Outcome pelayanan kesehatan yang dinilai dari berbagai pengukuran. Meliputi; kematian, morbidity, pengukuran psikologi, partisipasi penilaian sendiri terhadap resolusi, kualitas hidup atau kepercayaan diri pasien.
  • Cakupan pelayanan
  • Perilaku kesehatan seperti; kepatuhan pasien terhadap pengobatan, atau suplemen diet
  • Bahaya atau efek samping
  • Utilisasi dari pelayanan
  • Biaya
  • Provider yang mengadopsi intervensi berbasis bukti dan pemenuhan terhadap pelaksanaannya
  • Aspek lain terkait dengan mutu pelayanan kesehatan

Ekstraksi Data dan Analisis

Tim proyek membuat proses triase dengan standar kriteria untuk mengevaluasi output dari strategi pencarian dan skrining primer. Berikut adalah proses strategi pencarian yang digunakan:

  • Abstrak (dan sumber lengkap apabila abstrak tidak tersedia) di skrining oleh dua abstraktor untuk mengidentifikasi studi sesuai dengan tujuan
  • Apabila terjadi ketidaksepakatan pada studi seleksi antara dua abstraktor utama maka akan di selesaikan oleh reviewer ketiga
  • Setelah dilakukan kajian dari file artikel lengkap/utuh oleh seluruh reviewer yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, setiap kajian dilakukan dua kali abstraksi ke dalam form data yang terstandarisasi
    Informasi-informasi tersebut diekstraksikan ke dalam kriteria berikut:
    • Karakteristik termasuk ulasan – deskripsi setiap ulasan termasuk deskripsi singkat tentang metode, peserta, intervensi, hasil dan catatan spesifik masalah (jika ada)
    • Ekstraksi penilaian terhadap dampak pelayanan
    • Determinan metodologi
    • Risiko alat yang bias
    • Penilaian mutu

Selanjutnya systematic review untuk mutu yang tersedia dinilai dengan menggunakan kriteria AMSTAR (Assessment of the Metodological Quality of Systematic Reviews), dan apabila ada ketidaksepakatan didiskusikan dan keputusan akhir ditentukan dengan metode konsensus dalam kelompok.

Berikut adalah tabel kriteria AMSTAR yang dipergunakan:

gb2

Kelebihan dan Keterbatasan

Penelitian ini berdasarkan review pada systematic review berbasis bukti dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan di level komunitas, distrik, dan fasilitas. Kajian systematic review memberikan beberapa keuntungan, seperti:

  • Disusun berdasarkan konklusi dari berbagai kajian studi intervensi mutu pada situasi yang berbeda-beda
  • Menghindari duplikasi penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain
  • Memungkinkan proses kajian yang lebih cepat

Namun metode ini memiliki beberapa keterbatasan:

  • Intervensi yang dilakukan yang tersedia data primer tetapi tidak dimasukkan dalam systematic review tidak akan ikut dikaji
  • Tergantung pada karakteristik tinjauan yang dilakukan oleh penulis dibandingkan pada penelitian itu sendiri dan memungkinkan terjadinya bias
  • Memungkinkan beberapa penelitian yang tidak diambil oleh reviewer sehingga tidak dapat ikut dilakukan proses kajian tersebut

Dirangkum Oleh : Lucia Evi Indriarini, SE., MPH.
Referensi : Austin A., et al. Approaches to improve the quality of maternal and newborn health care: an overview of the evidence. Reproductive Health 2014, 11(Suppl 2):S1

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

 

 

Penerapan Teknologi Informasi di RS Untuk Pelayanan Kesehatan Bermutu

Teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini telah menjangkau berbagai bidang kehidupan, diantaranya adalah bidang kesehatan. Teknologi informasi yang diterapkan dengan baik dapat mendukung proses pengelolaan manajemen menjadi efektif efisien.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan Itech menyelenggarakan penganugerahan TOP & TELCO 2017, dimana terdapat 4 penghargaan yang berhasil diraih oleh RSUD Koja (TOP IT Implementation on Local Government Hospital 2017), PT Rumah Sakit Pelni (TOP IT Implementation on BUMN Hospital 2017), PT Rumah Sakit Pelni (TOP Leader on IT Leadership 2017), RS Premier Bintaro (TOP IT Implementation on Digital Hospital 2017). Keempat fasilitas pelayanan kesehatan tersebut bersaing dengan finalis lainnya, dengan total finalis sebanyak 110 peserta.

Kriteria penilaian utama adalah perusahaan atau instansi pemerintahan yang berhasil dalam hal implementasi TI dan Telco di perusahaan serta dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kinerja, daya saing, dan layanannya. Selain juga ditetapkan kategori khusus yakni penerapan TI dengan aspek lingkungan atau Go Green serta penghargaan untuk TOP Leader in IT Leadership 2017.

Penilaian dilakukan dalam tiga tahap, yakni:

  • Proses penggalian informasi melalui penyebaran dan pengisian angket kuesioner ke perusahaan/ institusi yang bersangkutan
  • Penggalian informasi dan masukan dari masyarakat/ pelanggan
  • Proses penggalian dan pendalaman dalam sesi wawancara, diskusi, dan tanya jawab

Penggunaan teknologi informasi sendiri di bidang kesehatan, sebenarnya telah dimulai sejak lama. Pada 1969 di Amerika. Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) menjadi salah satu lembaga yang menginisiasi penggunaan teknologi informasi untuk penelitian di bidang kesehatan tersebut.

Pada 1998, upaya untuk menentukan strategi peningkatan mutu yang dilakukan di Amerika menemukan bahwa salah satu kunci dalam upaya tersebut adalah adanya peran teknologi informasi dan komunikasi (TI), yang menjadi bagian integral untuk meningkatkan mutu. Pada saat itu komite yang terlibat dalam kegiatan tersebut menggalang komitmen nasional untuk membangun infrastruktur informasi untuk mendukung pelayanan kesehatan, kesehatan konsumen/ pasien, penilaian dan peningkatan mutu, akuntabilitas publik, penelitian klinis dan pelayanan kesehatan, serta edukasi klinis.

Pada 1999, AHRQ melakukan suatu evaluasi penerapan informasi, sistem pendukung pengambilan keputusan, dan komputerisasi catatan medis pasien untuk meminimalkan medical error, peningkatan patient safety, dan upaya peningkatan mutu dalam berbagai situasi pasien yang beragam.

Sedangkan pada 2001, penggunaan teknologi informasi terus dikembangkan oleh AHRQ, diantaranya adalah terwujudnya suatu teknologi untuk menyediakan informasi klinis yang mendukung patient safety (CLIPS – RFA/ Clinical Informatics to Promote Patient Safety –Research Solicitations), yang fokus pada penggunaan teknologi informasi untuk meminimalkan medical error dan meningkatkan patient safety.

Penggunaan teknologi informasi juga diterapkan di berbagai belahan negara lain, seperti di Inggris. Pada salah satu studi yang dilakukan di Inggris ditemukan bahwa rumah sakit yang menggunakan sistem Electronic Health Record (EHR) dan Electronic Medical Record (EMR) memiliki tingkat angka mortalitas yang rendah dibandingkan  dengan rumah sakit yang tidak menggunakan sistem tersebut. EHR sendiri diyakini dapat membantu mengurangi kesalahan penginputan peresepan dan menyediakan akses untuk mendukung pengambilan keputusan klinis dalam alur kerja, serta memberikan kewaspadaan terhadap terjadinya medication error.

Salah satu komponen penting dalam penerapan EHR di Inggris adalah tersedianya fitur Clinical Decision Support (CDS) termasuk didalamnya safety screening otomatis dan notifikasi untuk mengingatkan klinisi terhadap kesalahan potensial ataupun kontrakdiksi sebelum mereka menuliskan perawatan dan pengobatan bagi pasien. Penggunaan CDS disampaikan dapat memberikan output:

  • Peningkatan patient safety dan kualitas pelayanan klinis
  • Meningkatnya kepatuhan petugas layanan kesehatan terhadap guideline
  • Mengurangi terjadinya medication error yang serius

Penerapan teknologi informasi yang tepat dan sesuai di bidang kesehatan jelas dapat memberikan benefit yang nyata bagi upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, tidak hanya di Indonesia namun juga di berbagai negara lain.

Oleh : Lucia Evi Indriarini, SE., MPH.

Referensi:

 

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

 

 

Peningkatan Mutu untuk Perawatan Penyakit Kardiovaskular pada Negara Berpendapatan Rendah dan Menengah

Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian secara global Penyakit ini masih menjadi hal yang menakutkan bagi banyak orang. Beberapa tantangan dalam mengatasi permasalahan kardiovaskular ini seperti permasalahan anggaran dan infrastruktur dalam perawatan serta terbatasnya tenaga profesional atau langkanya sumber daya yang tersedia dalam perawatan ikut menjadi penyababnya sulitnya menekan kematian akibat kardiovasuler sedangkan jumlahnya kematiannya tidak berubah secara signifikan di negara-negara berpenghasilan tinggi sejak tahun 1990, bahkan jumlah kematian telah meningkat sekitar 66% pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs).

Secara berlahan, kasus kardiovasuler pada ibu hamil juga sudah mulai merangkak naik, hal ini terlihat dari Riskesdas Tahun 2013 bahwa penyebab kematian ibu secara tidak langsung ditempati oleh penyakit tidak langsung yakni hipertensi sebesar 27,1%. Hal ini menuntut Negara berpengahasilan rendah dan menengah harus memperbaiki kualitas persalinan dan kualitas pelayanan Kardiovaskuler. Studi sistematik review yang disampaikan oleh Lee Edward dkk dalam meningkatkan kualitas pencegahan dan pengelolaan cardiovaskuler berbasis klinik di Negara LMICs dengan melakukan peninjauan naratif terhadap uji coba klinis komparatif yang dipublikasikan dan mengevaluasi keampuhannya atau efektivitas pengembangan pencegahan dan peningkatan kualitas cardiovaskuler berbasis klinik intervensi di LMICs.

Dari 847 artikel yang diidentifikasi dalam pencarian elektronik, 49 memenuhi kriteria inklusi penuh dan dipilih untuk ditinjau Penelitian terpilih dilakukan di 19 LMIC yang berbeda. Ada 10 studi tentang intervensi peningkatan kualitas tingkat sistem, 38 penelitian pasien/ penyedia intervensi, dan satu studi yang sesuai dengan kedua kriteria tersebut. Pada tingkat pasien / penyedia, terlepas dari Intervensi spesifik, diintensifkan, perawatan berbasis tim umumnya menyebabkan pengobatan yang lebih baik pada kepatuhan dan kontrol hipertensi.

Metode yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan penyakit Kardiovaskular dengan membuat matrix berikut:

Fhase akut Fhase kronis

Level

sistem kesehatan

Contoh sistem pada level akut:

 

  1. Strategi dari lokal hospital dalam mengurangi keterlambatan penanganan
  2. Meningkatkan keterampilan dalam penanagan pelayanan persalinan. Meningkatkan upah tambahan bagi pelayanan kesehatan.
  3. Meningkatkan akses untuk pelayanan revaskularisasi.
  4. Menignkatkan transportasi menuju pelayanan kesehatan
  5. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang jegala akut dan mengetahui akses pelayanan akut.
  6. Memformulasikan dan mendesiminasikan standar dan panduan praktek klinis

Contoh sistem pada level kronis:

 

  1. Memformulasikan dan mendesiminasikan standar dan panduan praktek klinis.
  2. Menignkatkan akses pelayanan kesehatan dan obat.
  3. Memberikan pelatihan pada provider pelayanan kesehatan.
  4. Dukungan pendanaan untuk peningkatan kualitas pelayanan.
  5. Peningkatan infrastruktur: fasilitas pelayanan kesehatan: elektronik dan komunikasi telepon.

Level

pasien –pemberi

pelayanan kesehatan

Contoh sistem pada level pasien akut:

  1. Melaksanakan panduan praktek klinis:  menggunakan clinical pathway
  2. Meningkatkan perencanaan pulang dari rumah sakit dan transisi untuk pelayanan kronis.

Contoh sistem pada level pasien kronis:

  1. Pendidikan pada pasien dan pemberi layanan kesehatan.
  2. Mengimplementasikan panduan praktek klinik
  3. Meningktakna monitoring pada faktor risiko
  4. Meningkatkan ketaatan dalam pengobatan.

 

Beberapa intervensi dari beberapa negara digunakan untuk menilai kualitas pelayanan CVD antara lain:

  1. Meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien melalui pil kombinasi
  2. Meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien melalui intervensi kesehatan bergerak. Dua belas studi menyelidiki peran kesehatan bergerak dalam pencegahan dan pengelolaan CHF, diabetes, hipertensi, dan penyakit arteri koroner di LMICs.
  3. Penerapan panduan dan pendidikan penyedia layanan yang mengarah pada hasil pasien yang lebih baik. Pendidikan dan pedoman praktek layanan kesehatan dapat berpotensi membakukan, memperbaiki, dan mempertahankan kualitas perawatan untuk kondisi vaskular dan kondisi lainnya di LMIC.
  4. Mendidik pasien untuk meningkatkan kesehatan. Kajian tersebut menemukan delapan penelitian untuk mengevaluasi pendidikan manajemen penyakit di antara pasien dengan hipertensi, diabetes, dan CHF.

Penting untuk ditekankan bahwa kesadaran, keterjangkauan, dan ketersediaan adalah hambatan umum yang dapat menunda penanganan kejadian akut pada penyakit kardiovaskular. Pendidikan masyarakat dan sistem infrastruktur, logistik, dan perencanaan sumber daya manusia yang dapat mengatasi hambatan perawatan tepat waktu dan tepat untuk CVD akut. Serta perlu juga melibatkan Integrasi sektor swasta untuk perusahaan ambulans, rumah sakit, dan penyedia layanan yang merupakan bagian penting untuk mencapai peningkatan kualitas perawatan CVD akut di LMICs, dimana sektor swasta menyediakan sebagian besar perawatan kesehatan dan berada dalam posisi secara efisien dapat mengisi kesenjangan dalam sistem perawatan kesehatan masyarakat

Mengadopsi panduan praktik klinis dari negara berpenghasilan tinggi ke LMICs merupakan kesempatan baik untuk menerapkan standar peningkatan kualitas dan benchmarking perbaikan praktik dan hasil yang signifikan. Keuntungan menggunakan panduan praktik klini dapat mendorong klinisi untuk menilai kembali kelayakan intervensi yang sudah diberikan; meningkatkan perencanaan multidisiplin dan pemecahan masalah; memelihara kepedulian semua anggota tim terhadap perkembangan pasien dan status kesehatan pasien setiap saat; menjamin bahwa intervensi dapat dilakukan tepat waktu dalam perencanaan pelayanan yang komplek; peningkatan mutu berkelanjutan; menyediakan instrumen untuk mengidentifikasi masalah sistem yang mengganggu pelayanan; instrumen pendidikan yang berharga; meningkatkan kewenangan pasien; meningkatkan komunikasi dan kepuasan staf. Studi yang diidentifikasi menunjukkan beberapa perbaikan ukuran proses klinis, untuk wilayah berpenghasilan tinggi, namun secara kualitas tidak secara konsisten memperbaiki semua hasil yang telah ditentukan sebelumnya serta Kepatuhan terhadap obat-obatan dapat menyelematkan kehidupan dan merubah gaya hidup.

Pada Tingkat penyedia layanan intensif, perawatan berbasis tim pada umumnya menyebabkan kepatuhan terhadap pengobatan yang lebih baik dan kontrol hipertensi. Pada tingkat sistem, penelitian memberikan bukti bahwa pengenalan cakupan asuransi kesehatan universal memperbaiki hipertensi dan pengendalian hasil. Yang dibutuhkan sekarang adalah lebih banyak bukti bahwa peningkatan kualitas dapat dipertahankan di jangka panjang

Secara umum 49 penelitian menunjukkan bukti bahwa program peningkatan kualitas memiliki potensi memperbaiki perawatan Kardiovaskular di LMIC, baik untuk mengobati kejadian akut atau dalam jangka panjang pencegahan dan penanganan penyakit pada level kronis.

Oleh: Andriani Yulianti, MPH.
Referensi: Lee ES, Vedanthan R, Jeemon P, Kamano JH, Kudesia P, Rajan V, et al. (2016) Quality Improvement for Cardiovascular Disease Care in Low- and Middle-Income Countries: A Systematic Review. PLoS ONE 11(6): e0157036. doi:10.1371/ journal.pone.0157036.

{jcomments on}

Mengenal Metode Prevensi Sekunder Kardiovaskular Berbasis Nurse-Coordinated Prevention Programmes

Di Belanda, resiko peningkatan pasien kardiovaskular berangsur berkurang sejak diterapkannya sistem pencegahan berbasis Nurse Coordinated Prevention Programmes (NCPPs). Kemajuan ini mendorong European Society of Cardiology (ESC) pada 2012, merekomendasikan agar NCPPs diintegrasikan ke dalam praktik klinis pada sistem perawatan kesehatan di negara-negara Eropa. Meskipun tentu saja harus diakui bahwa, sebagai salah satu bentuk pendekatan pencegahan tersistem, NCPPs bukanlah sebuah program sederhana yang dapat diduplikasi dengan mudah. Faktanya Untuk membuat NCPPs berjalan dengan baik diperlukan rangkaian persiapan matang yang meliputi penyiapan sumber daya manusia yang memadai dari segi kompetensi, keahlian dan wawasan penunjang tambahan. Oleh karenanya ESC menekankan pula perlunya riset guna mengetahui jenis kompetensi dan keahlian apa saja yang harus dimiliki serta tahapan pendidikan tambahan apa saja yang diperlukan untuk menjamin kesiapan kualitas sumber daya manusia agar NCPPs sebagai kegiatan pencegahan kardiovaskular tersistem dapat berjalan secara efektif.

Adapun gambaran umum NCPPs sendiri secara singkat merupakan serangkaian kegiatan prevensi resiko kardiovaskular yang terdiri dari konseling, motivasi, konsultasi, pemeriksaan fisik berkala, intervensi terhadap pola dan gaya hidup, wawancara tentang tingkat kepatuhan konsumsi obat sesuai resep dan jadwal, hingga rekomendasi rujuk jika diperlukan. Dalam implementasinya NCPPs dijalankan oleh perawat yang direkrut melalui proses seleksi tertentu serta diwajibkan menyelsaikan beberapa tahapan pelatihan dan kursus yang diselenggarakan oleh Departemen Psikologi Medis dan Academic Medical Center Universitas Amsterdam, Belanda.

Dalam NCPPs berbagai rangkaian kegiatan prevensi di lapangan dilakukan oleh perawat dengan merujuk pada panduan nasional dan pedoman tekhnis yang telah ditetapkan. Panduan nasional berfokus pada (1) gaya hidup sehat, (2) faktor resiko biometrik dan (3) kepatuhan konsumsi obat. Sementara pedoman teknis dirumuskan untuk memenuhi target tertentu seperti gaya hidup bebas rokok, pemilihan makanan sehat, olahraga teratur, pengendalian indeks massa tubuh 25Kg/m² atau kurang, kontrol diabetes, kontrol hipertensi dan dislipidaemia serta kepatuhan terhadap rangkaian proses pengobatan. Berikut contoh daftar singkat intervensi tekhnis yang dilakukan perawat pada program NCPPs;

art okt1

Adopsi dan Integrasi NCPPs dengan Program Perkeskom dan Promkes di Puskesmas

Data Riset Kesehatan Dasar 2013 oleh Badan Litbangkes Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan jumlah pasien dengan gejala kardiovaskular berdasarkan diagnosa dokter mencapai angka 2.650.340 jiwa, dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Fakta ini tentu bisa saja mengindikasikan banyak hal, mulai dari rendahnya kualitas pola dan gaya hidup dari segi kesehatan hingga belum efektifnya program dan kegiatan pencegahan peningkatan resiko kardiovaskular oleh berbagai lembaga, intansi dan penyedia layanan kesehatan. Sebuah kondisi yang tentunya laik dikhawatirkan mengingat hingga saat ini kardiovaskular/penyakit jantung koroner termasuk dalam daftar penyumbang angka kematian tertinggi di dunia.

Sejauh ini berbagai kalangan sepakat bahwa cara paling efektif dalam mencegah dan meminimalisir resiko kematian akibat kardiovaskular adalah melalui pola dan gaya hidup sehat. Namun sayangnya kesadaran dan pemahaman sebagaian besar masyarakat terutama kalangan menengah kebawah, masih sangat terbatas terkait pola dan gaya hidup sehat. Pada akhirnya pilihan paling rasional dalam menyikapi situasi semacam ini adalah dengan memaksimalkan kegiatan pencegahan melalui berbagai kegiatan promosi dan edukasi kesehatan secara langsung dan berkesinambungan kepada masyarakat.

Di Indonesia berbagai program yang terfokus dan berorientasi pada promosi dan edukasi kesehatan telah ada dan telah terselenggara cukup lama, hanya saja belum kunjung menunjukkan hasil yang signifikan terutama dalam kaitannya dengan upaya menekan angka penderita kardiovaskular. Di tingkat fasilitas kesehatan primer Sumber: Diolah berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar2013, Badan Litbangkes Kementerian (PUSKESMAS) misalnya, kita dapat menjumpai banyak program yang berkutat pada promosi kesehatan lingkungan, keluarga dan komunitas, dua diantaranya yakni Program Perawat Kesehatan Komunitas (PERKESKOM) dan Program Promosi Kesehatan (PROMKES) akan di bahas secara singkat dalam ulasan ini.

Dua program tersebut yakni PERKESKOM dan PROMKES sebenarnya memiliki potensi untuk dapat dimaksimalkan dan diandalkan dalam menekan angka resiko peningkatan kardiovaskular. Dikatakan demikian karena dua program tersebut memiliki beberapa syarat utama yang membuatnya mungkin menjadi instrument prevensi (pencegahan) yang efektif. Misalnya bahwa dua program tersebut memuat sejumlah aktivitas kongkrit seputar promosi dan edukasi kesehatan disamping memiliki intensitas pertemuan yang tinggi secara langsung dengan masyarakat, merupakan dua modal utama yang sangat mungkin dimaksimalkan.

Sementara beberapa faktor yang membuat dua program tersebut (PERKESKOM dan PROMKES) atau program lain yang sejenis belum mampu menunjukkan signifikansi pengaruhnya pada penurunan angka radiovaskular adalah karena tugas dan fungsinya yang terlampau umum dan luas. Dengan kata lain, tidak seperti program NCPPs di belanda yang memang sejak awal di desain untuk tujuan dan tugas yang sangat spesifik dibidang pencegahan dan penanganan kardiovaskular.

Kembali pada upaya memaksimalkan program PERKESKOM dan PROMKES, penulis melihat terdapat peluang dua program tersebut dapat mengadopsi dan mengintegrasikan pola dan strategi yang diterapkan di NCPPs. Meskipun adopsi/duplikasi ini bukanlah susatu yang sederhana dan mudah mengingat terbatasnya sumber daya medis yang kita memiliki, namun bukan berarti proses adopsi dan integrasi konsep program tersebut tidak mungkin dilakukan. Kita bisa misalnya memulai dengan proses adopsi dan integrasi bertahap. Sebagai contoh, PERKESKOM dan PROMKES yang sebelumnya memiliki tugas dan sasaran yang bersifat sangat umum dalam keseluruhan aktivitas dan kerjanya, perlahan dapat diarahkan untuk menyediakan sebagian ruang dan waktu khusus dalam rangkaian aktivitasnya guna menempatkan kegiatan promosi dan edukasi yang berkaitan dengan prevensi kardiovaskular sebagai salah satu agenda prioritas.

Selanjutnya proses adopsi dan integrasi NCPPs ke dalam PERKESKOM dan PROMKES tentu membutuhkan proses pra-kondisi yang cukup. Misalnya dengan mempersiapkan tenaga petugas lapangan melalui proses literasi dan studi banding terhadap NCPPs serta berbagai bentuk persiapan dan adaptasi lain yang diperlukan. Dengan demikian ke depan PREKESKOM dan PROMKES bukan tidak mungkin dapat diandalkan serta memberikan kontribusi signifikan dalam kaitannya dengan prevensi atau pencegahan kardiovaskular.

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH.

{jcomments on}

Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Melalui Pengembangan Self-Care Interventions Program Pada Pasien dengan Penyakit Kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Setelah usia 40 tahun, risiko sepanjang hidup terhadap penyakit kardiovaskular untuk laki-laki adalah 49% dan untuk wanita adalah 32%. Di Amerika Serikat, penyakit kardiovaskular menghabiskan biaya lebih dari 108 Milyar Dollar setiap tahunnya meliputi biaya pelayanan kesehatan, obat, dan hilangnya produktivitas.

Pada 2009, American Heart Association (AHA) menerbitkan penyataan ilmiah tentang self care sebagai bagian dari manajemen gagal jantung. Dalam literatur kardiovaskular, self care mengacu pada kepatuhan pasien terhadap rekomendasi pengobatan, respon sistem dan adopsi gaya hidup sehat seperti berhenti merokok dan manajemen berat badan. Menurut rencana strategi the National Institute of Nursing Research (NINR) yang juga menekankan self care terhadap penyakit kronis, tujuan utama dari program ini untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis. Self care interventions berjalan melalui: antar pasien dan penyedia layanan kesehatan; dalam suatu program edukasi grup penyakit tertentu; di fasilitas kesehatan ataupun di rumah; disampaikan oleh pemimpin grup sebaya (peer leaders) ataupun layanan kesehatan; dan melalui teknologi interaktif.

Dalam review penelitian oleh Dickson et al (2013) yang mengambil sampel studi nurse led self care interventions, dimana perawat yang merupakan penanggung jawab dalam program ini, intervensi dimulai saat pasien di rumah sakit dilanjutkan dengan follow up saat pasien di rumah. Pasien, dalam hal ini penderita gagal jantung, diberikan edukasi serta dukungan perilaku self care misalnya kepatuhan minum obat dan pengecekan tekanan darah secara mandiri. Studi oleh Suh et al (2010) yang memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memonitor kesehatan pasien jantung di rumah adalah Weight and Activity with Blood Pressure Monitoring System (WANDA B System). WANDA B dikembangkan oleh para peneliti dari UCLA Wireless Health Institute dan UCLA School of Nursing. WANDA B menyediakan aplikasi pemantauan berbasis website, aplikasi di iphone serta SMS Reminder dan alert system bagi pasien. Hal ini memungkinkan dokter atau perawat memantau kondisi pasien yaitu denyut jantung, tekanan darah sistolik dan diastolik serta berat badan pasien kapanpun dan dimanapun secara berkesinambungan. Sistem ini juga dapat mencegah situasi bahaya pada pasien karena dokter atau perawat bisa segera menilai kondisi pasien yang emergensi dari data yang real time. Hasil dari pemantauan ketat berat badan pasien menghasilkan penurunan angka rawat inap, meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi beban dari penyakit kardiovaskular dalam sistem pelayanan kesehatan (Suh et al., 2010).

Ditinjau dari sistem mikro pada rantai mutu rumah sakit menurut konsep Berwick, solusi pemantauan pasien jarak jauh ini melibatkan peranan penting dari tenaga medis diantaranya dokter (baik dokter spesialis atau umum) dan perawat. Hasil data yang real time ini membutuhkan kecekatan oleh tenaga medis dalam membuat keputusan untuk penanganan terbaik bagi pasien yang masuk ke dalam kondisi emergensi. Tenaga medis yang terlibat harus mengerti tentang sistem yang diterapkan di tempat mereka bekerja, misalnya penggunaan website, aplikasi, SMS ataupun metode yang lainnya. Kunci dari program ini adalah edukasi oleh tenaga medis kepada pasien sehingga manajemen pengobatan terintegrasi berjalan baik dan pasien berperan aktif. Dilihat dari konteks organisasi yakni manajer atau kepala sarana layanan kesehatan, program ini sangat membutuhkan kesiapan dan komitmen manajemen RS ataupun puskesmas baik dari segi dana, SDM, dan hal-hal teknis lainnya yang mendukung. Ide self care atau self management untuk penyakit kardiovaskular sudah banyak dikembangkan oleh berbagai negara termasuk di Indonesia. Manfaat dari self management tentu saja dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien kardiovaskular. Bukan saja pasien yang mendapat dampak positif, tetapi klaim biaya pengobatan di sarana layanan kesehatan bisa ditekan sehingga, keberhasilan program ini terutama di Indonesia, perlu ditinjau lebih jauh lagi dan diterapkan dengan baik pada era JKN saat ini.

Oleh : dr. Novika Handayani

Referensi

DICKSON, V. V., NOCELLA, J., YOON, H. W., HAMMER, M., MELKUS, G. D. & CHYUN, D. 2013. Cardiovascular disease self-care interventions. Nurs Res Pract, 2013, 407608.

SUH, M.-K., EVANGELISTA, L. S., CHEN, V., HONG, W.-S., MACBETH, J., NAHAPETIAN, A., FIGUERAS, F.-J. & SARRAFZADEH, M. 2010. WANDA B.: Weight and activity with blood pressure monitoring system for heart failure patients. 1-6.

 

Mengapa Keselamatan Pasien Sangat Sulit Diterapkan di Indonesia?

Keselamatan pasien merupakan salah satu topik yang paling sering mendapat perhatian di rumah sakit maupun puskesmas. Kerap kali pelatihan, seminar, dan workshop tentang keselamatan pasien selalu menjadi agenda tahunan tetap di rumah sakit dan puskesmas.

Namun sangat disayangkan, nampaknya keselamatan pasien sangat sulit dicapai, banyak kasus kematian maupun komplikasi yang terjadi akibat dari medical error oleh tenaga medis, minimnya peralatan, penanganan yang terlambat, dan sebagainya. Di era JKN ini, pencapaian pelayanan yang bermutu tinggi dengan mengedepankan keselamatan pasien menjadi prioritas utama demi menegakkan kendali mutu kendali biaya di pelayanan kesehatan.

Sebuah studi kualitatif oleh Aveling, Kayonga, Nega, and Dixon-Woods (2015) pada 57 tenaga medis di 2 rumah sakit di Afrika Timur mungkin bisa dijadikan pedoman dalam menemukan intervensi yang tepat untuk masalah ini. Aveling et al. (2015) menemukan ada 3 faktor yang mempengaruhi sulitnya menegakan keselamatan pasien pada 2 rumah sakit tersebut yakni material yang mencakup lingkungan fisik, peralatan dan medical supply; sumber daya manusia; dan hubungan internal yang mencakup kerjasama tim dan struktur organisasi.

Berdasarkan analisis kualitatif terhadap jawaban responden beberapa masalah yang ditemukan menyangkut material merupakan masalah klasik yang sering kita temui di rumah sakit pada umumnya di negara-negara berkembang seperti kondisi bangunan yang buruk, pintu dan jendela yang tidak berfungsi dengan baik, listrik dan air yang tidak lancar dan sebagainya. Minimnya peralatan kesehatan juga menjadi salah satu masalah yang sering dikemukakan oleh responden, masalah ini erat kaitannya dengan keterbatasan dana. Terlepas dari itu, responden juga mengeluhkan manajemen pemeliharaan yang buruk untuk peralatan yang ada yang menyebabkan peralatan tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik walaupun tergolong peralatan baru. Hal lain yang menjadi hambatan adalah proses pengadaan dan distribusi peralatan oleh pemerintah setempat yang masih lemah sehingga menyebabkan keterlambatan, alat rusak karena penyimpanan yang tidak sesuai, dan sebagainya.

Masalah sumber daya manusia juga menjadi perhatian dari responden, kurangnya pelatihan terkait keselamatan pasien seperti pencegahan infeksi pada perawat dan bidan. Selain itu seringnya rotasi juga memberikan dampak yang negatif, staf baru dengan minim pelatihan terkait keselamatan pasien sering kali menjadi sumber medical error dalam memberikan perawatan kepada pasien. Masih berkaitan dengan sumber daya manusia, hubungan internal antar staf dan struktur organisasi juga menjadi keluhan dari responden. Seringnya konflik antar staf dan lemahnya kerja sama tim merupakan faktor utama dalam menegakan keselamatan pasien.

Adanya gap antara dokter dan perawat merupakan salah satu yang dikeluhkan responden, dalam banyak kasus dokter tidak mempertimbangkan masukan dari perawat yang mana berdampak pada kondisi pasien seperti meningkatkan resiko infeksi dan gagal dalam menerapkan SOP. Selain itu minimnya supervisi dan evaluasi juga menyebabkan banyak SOP yang dilanggar dalam proses perawatan pasien.

Aveling et al. (2015) menemukan bahwa masalah keselamatan pasien di negara maju dan berkembang sesungguhnya hampir sama dan dipengaruhi oleh faktor manusia, sumber daya, budaya kerja dan perilaku tenaga medis.

Oleh karena itu, dalam menegakan keselamatan pasien investasi pada sumber daya manusia dan peralatan saja tidak akan cukup tanpa reformasi sistem dan perubahan budaya kerja. Investasi merupakan hal yang esensial, namun menurut Aveling et al. (2015), untuk memastikan investasi tersebut memberikan kontribusi yang signifikan proses pengadaan, distribusi, dan pemeliharaan harus mendapakan perhatian lebih. Sama halnya dengan sumber daya manusia, staf yang ada perlu medapat dukungan baik dari segi insentif maupun lingkungan kerja untuk memotivasi mereka dalam mempraktekkan keselamatan pasien dalam pekerjaan mereka.

Pendekatan bottom-up merupakan hal yang perlu dipertimbangkan, suara dan saran dari front liner staf sangat diperlukan guna menemukan masalah yang paling mendasar dalam menegakan keselamatan pasien.

Oleh: Stevie A. Nappoe, Master Student-The University of Alabama at Birmingham, Fulbright Scholar 2016

Referensi: Aveling, E.-L., Kayonga, Y., Nega, A., & Dixon-Woods, M. (2015). Why is Patient Safety so Hard in Low-Income Countries? A Qualitative Study of Healthcare Workers’ Views in Two African Hospitals. Globalization and health, 11(1), 6.

{jcomments on}

Mengukur dan Memastikan ANC Berkualitas di Tingkat Rumah Sakit

Antenatal Care (ANC) merupakan 1 dari 4 esensial elemen dalam menegakan persalinan yang aman dan berkualitas sesuai dengan standar WHO. Oleh karena itu, ANC merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius selain memastikan kondisi kesehatan ibu dan janin ANC juga merupakan salah satu indikator mutu kesehatan ibu dan anak yang penting. Dalam era JKN saat ini, ANC mengambil bagian dalam kendali mutu dan kendali biaya demi menjamin seluruh ibu hamil mendapatkan pelayanan yang bermutu sejak hari pertama kehamilan sampai dengan melahirkan. ANC yang berkualitas akan membantu tenaga kesehatan untuk mempersiapkan kelahiran yang aman bagi ibu dan bayi. Melalui ANC berkualitas kondisi ibu dan bayi dimonitor secara ketat, apakah ibu termasuk dalam resiko tinggi, apakah pada saat melahirkan nanti akan terjadi komplikasi, dan lain-lain. ANC berkualitas juga memasukkan elemen promosi kesehatan, memberikan pertimbangan kepada ibu dalam memilih persalinan, inisiasi menyusui dini, gizi, kontrasepsi dan keluarga berencana.

Walaupun sebagian besar ANC di Indonesia dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama namun tidak ada salahnya apabila kita menengok sedikit sebuah penelitian oleh Turan, Bulut, Nalbant, Ortayli, and Akalin (2006) dalam mengukur kualitas pelayanan ANC di 2 RS pemerintah dan 1 RS swasta di Turki. Turan et al. (2006) menggunakan framework yang dikembangkan oleh Bruce (1990) dengan mengkombinasikan data kuantitatif dan kualitatif dari responden pada ketiga rumah sakit tersebut, responden yang diwawancarai antara lain pasien, petugas bagian administrasi, rekam medik, serta dokter, perawat dan bidan yang melakukan ANC. Framework ini dapat juga digunakan untuk mengukur kualitas ANC di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Framework dari Bruce (1990) ini terdiri dari 6 elemen yang saling mendukung satu sama lain. Elemen-elemen ini tidak hanya mengukur mutu dari sisi provider tapi juga dari sisi pasien. Berikut adalah hasil pengukuran mutu ANC di 3 RS di Turki dengan menggunakan framework ini:

  1. Kompetensi teknis: masih ada disparitas dalam pelayanan ANC antar rumah sakit dimana masih ada rumah sakit yang minim peralatan dan tenaga sehingga ANC yang dilakukan kurang maksimal. Di sisi lain, penggunaan peralatan yang berlebihan seperti USG membuat antrian untuk menggunakan peralatan USG menjadi sangat panjang dan membuat pasien mencari pelayanan USG di klinik swasta atau praktik dokter di luar rumah sakit dengan membayar biaya tambahan. Hal lain yang menjadi sorotan Turan et al. (2006) adalah masalah personal hygiene dari petugas rumah sakit yang masih rendah seperti kebiasan mencuci tangan dan merokok di lingkungan rumah sakit.
  2. Mekanisme follow-up dan continuity of care: lemahnya manajemen data dan pengaturan jadwal praktek dokter membuat pasien yang melakukan ANC di rumah sakit pemerintah harus melakukan beberapa tes secara berulang-ulang. Hal ini disebabkan karena mereka ditangani oleh dokter yang berbeda dan dokumentasi riwayat ANC mereka terkadang kurang jelas. Selain itu, proses rujukan yang tidak menyertakan rekam medik pasien ditambah dengan tidak adanya tenaga kesehatan pendamping membuat penerima rujukan mengalami kesulitan dalam mengikuti proses perawatan dari pasien yang bersangkutan.
  3. Ketepatan paket pelayanan: beberapa rumah sakit yang memiliki tenaga dan fasilitas yang terbatas terpaksa memilah pelayanan ANC mereka sehingga menjadi terfragmentasi atau terpisah-pisah. Hal ini membuat pasien harus melalui proses administrasi yang lebih panjang dan terkadang pasien harus mengeluarkan biaya ekstra untuk beberapa tes laboratorium yang tidak tersedia di rumah sakit tersebut.
  4. Konseling dan penyampaian informasi: sebagian responden menyatakan bahwa mereka lebih banyak menerima informasi tentang perkembangan kehamilan dan bayi mereka pada saat ANC, sedangkan informasi mengenai komplikasi, pengenalan tanda-tanda bahaya, persiapan kelahiran, dan konseling mengenai kontrasepsi setelah melahirkan jarang disampaikan. Sementara hasil wawancara dengan tenaga kesehatan menyatakan bahwa mereka kesulitan untuk menjelaskan hal-hal tersebut karena tingkat pendidikan pasien yang rendah dan beban kerja mereka yang terlampau banyak.
  5. Pengambilan keputusan terkait persalinan/pasca persalinan: sebagian besar responden merasa lebih nyaman mendiskusikan opsi persalinan mereka dengan dokter berjenis kelamin perempuan namun secara umum dalam ANC jarang dibahas mengenai alternatif persalinan mereka termasuk perawatan bayi pasca-persalinan dan opsi penggunaan alat kontrasepsi setelah bersalin.
  6. Relasi interpersonal: konflik interpersonal baik antar tenaga kesehatan maupun tenaga kesehatan dengan pasien kerap terjadi di rumah sakit pemerintah dibandingkan rumah sakit swasta. Hal ini disebabkan karena tingginya beban kerja, kurangnya fasilitas, job description yang kurang jelas, dan insentif/kompensasi yang rendah.

Secara keseluruhan responden yang mendapatkan pelayanan ANC di rumah sakit swasta merasa lebih puas dibandingkan responden di rumah sakit pemerintah. Beberapa rekomendasi yang disarankan oleh Turan et al. (2006) untuk meningkatkan mutu ANC di rumah sakit di Turki antara lain merevisi standar mutu yang digunakan dengan diikuti oleh pelatihan yang rutin kepada bidan, perawat, dan dokter agar mereka dapat mengikuti standar yang ada. Implementasi electronical record system yang terhubung antara satu provider dengan provider lainnya untuk memastikan continuity of care.

Untuk mengurangi beban kerja tenaga kesehatan di rumah sakit Turan et al. (2006) menyarankan untuk memindahkan pelayanan ANC ke tingkat primary care dengan memanfaatkan kunjungan bidan namun tetap diawasi dengan ketat dan didukung dengan sumber daya yang memadai untuk memastikannya tetap berkualitas. Promosi kesehatan untuk ibu hamil juga perlu ditingkatkan minimal agar ibu hamil dapat mengetahui tanda-tanda bahaya selama kehamilan, inisiasi menyusui dini, dan pengambilan keputusan saat melahirkan. Untuk itu kemampuan komunikasi dari tenaga kesehatan harus terus ditingkatkan untuk bisa menyampaikan informasi tersebut kepada pasien dengan tepat.

Oleh: Stevie A. Nappoe-Master Student, The University of Alabama at Birmingham, Fulbright Scholar 2016

Referensi :
Bruce, J. (1990). Fundamental elements of the quality of care: a simple framework. Studies in Family Planning, 21(2), 61-91.
Turan, J. M., Bulut, A., Nalbant, H., Ortayli, N., & Akalin, A. A. K. (2006). The Quality of Hospital-based Antenatal Care in Istanbul. Studies in Family Planning, 37(1), 49-60. doi:10.1111/j.1728-4465.2006.00083.x

{jcomments on}

Pengukuran Kualitas Antibiotik: (Prudent Use Antibiotics: Penilaian Kualitas Pemberian Antibiotik Sebagai Strategi Melawan Resistensi) – Bagian 2

Pengukuran Kualitas Antibiotik

Antibiotik hanya bekerja untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik tidak bermanfaat mengobati penyakit yang diakibatkan oleh virus atau nonbakteri lainnya. Pemberian antibiotik secara rasional diartikan sebagai pemberian antibiotik yang tepat indikasi, tepat penderita, tepat obat, tepat dosis dan waspada terhadap efek samping obat yang dalam arti konkritnya adalah:

  1. Pemberian resep yang tepat atau sesuai indikasi
  2. Pemberian dosis yang tepat
  3. Lama pemberian obat yang tepat
  4. Interval pemberian obat yang tepat
  5. Aman pada pemberiannya
  6. Terjangkau oleh penderita.13

Untuk meningkatkan pemberian antibiotik yang rasional, pemberian antibiotik pada unit pelayanan kesehatan selain harus disesuaikan dengan pedoman pengobatan juga sangat dipengaruh oleh pengelolaan obat.14 Pemberian antibiotik juga disesuaikan dengan Formularium Rumah Sakit yaitu daftar obat yang disepakati beserta informasinya yang harus ditetapkan di rumah sakit. Formularium Rumah Sakit disusun oleh tim khusus dan disempurnakan dengan mempertimbangkan obat lain yang terbukti secara ilmiah dibutuhkan di rumah sakit tersebut.

Penilaian mengenai rasionalitas pemberian antibiotik memuat dua aspek penting untuk dievaluasi yaitu jumlah antibiotik yang digunakan yang disebut dengan kuantitas dan ketepatan dalam pemilihan jenis antibiotik, dosis serta lama pemberian yang disebut kualitas.

Kualitas pemberian antibiotik dapat dinilai dengan melihat catatan medis. Hal-hal yang harus dinilai antara lain ada tidaknya indikasi, dosis, lama pemberian, pilihan jenis dan sebagainya.

Gyssens, dkk membagi kategori kualitas pemberian antibiotik sebagai berikut:

  1. Kategori I: pemberian dengan indikasi yang tepat
  2. Kategori II: pemberian antibiotik yang tidak tepat:
    1. Dosis
    2. Interval
    3. Rute
  3. Kategori III: pemberian antibiotik atas indikasi yang tepat dosis/interval/rute yang tepat tapi tidak tepat dalam lama pemberian (terlalu lama atau terlalu sebentar)
  4. Kategori IV: pemberian antibiotik yang tepat indikasi, dosis/interval/rute serta lama pemberian tetapi tidak tepat jenisnya
    1. Ada pilihan antibiotik lain yang lebih efektif
    2. Ada pilihan antibiotik lain yang kurang toksik
    3. Ada pilihan antibiotik lain yang lebih murah
    4. Ada pilihan antibiotik lain yang lebih sempit spektrumnya.
  5. Kategori V: pemberian antibiotik yang tanpa indikasi
  6. Kategori VI: rekam medis tidak lengkap untuk dievaluasi.

Penilaian kualitas pemberian antibiotik pada penelitian ini menggunakan alur Gyssens.

gbr20

Waktu pemberian antibiotik merupakan hal penting. Tempat dimana timing memiliki pengaruh yang besar yaitu pada pemberian antibiotik profilaksis dalam kasus bedah. Durasi pemberian antibiotik seharusnya cukup lama untuk membunuh bakteri kausatif, namun cukup singkat untuk mikroflora endogen pada pasien, dan cukup singkat untuk mikroflora di lingkungan. Penelitian ini menggunakan kriteria Gyssens.

Kualitas pemberian antibiotik dinilai dengan melihat langsung catatan medis kemudian oleh reviewer independen dengan menggunakan bagan alur Gyssens untuk menilai peresepan antibiotik. Setiap antibiotik yang diresepkan oleh dokter dapat digolongkan dalam tiga tipe, yaitu terapi, profilaksis, dan unknown atau tidak diketahui tujuannya. Pemberian antibiotik tanpa adanya gejala klinis infeksi yang diberikan setengah sampai satu jam sebelum tindakan bedah disebut profilaksis. Peresepan untuk profilaksis diberi label Antimicrobial Drug Prophylaxis (ADP). Pemberian antibiotik tipe terapi dapat dibedakan menjadi Antimicrobial Drug Empiric therapy (ADE), Antimicrobial Drug Extended Empiric therapy (ADET) dan Antimicrobial Drug Documented (ADD) therapy. ADE merupakan terapi empirik yang digunakan pada 72 jam pertama perawatan dan belum terdapat hasil kultur. ADET adalah terapi empirik luas tanpa diagnosis definitif yang merupakan kelanjutan dari ADE. ADD merupakan terapi yang diberikan setelah diagnosis definitif tegak/ setelah hasil pemeriksaan mikrobiologi keluar. Sedangkan untuk tipe terapi unknown diberi label Antimicrobial Drug Unknown (ADU) therapy, yaitu apabila antibiotik diberikan tanpa ada indikasi pemberian antibiotik.

Penutup

Kualitas antibiotik yang ternilai dengan baik mencerminkan penerapan pemakaian antibiotik yang bijaksana (prudent use of antibiotics). Pemberian tersebut selain secara empiris, juga secara definitif berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi yaitu tes sensitivitas antibiotik yang harus disertai usulan pemilihan jenis antibiotik dengan mempertimbangkan keadaan klinis pasien.

Mikrobiologi klinik dalam hal ini memegang peranan. Mikrobiologi klinik merupakan cabang Ilmu Kedokteran Medik yang memanfaatkan kompentensi di bidang Kedokteran Umum dan Mikrobiologi Kedokteran untuk bersama-sama klinisi terkait melaksanakan tindakan surveilans, pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi serta secara aktif melaksanakan tindakan pengendalian infeksi di lingkungan rumah sakit, fasilitas pelayananan kesehatan lain maupun masyarakat.

Pada pelayanan/asuhan medis dalam menghadapi masalah medis yang berhubungan dengan infeksi, diagnosis rasional dan bijak apabila analisis data dan informasi hasil pengkajian menggunakan landasan teori dan konsep mikrobiologi kedokteran, terutama kepentingannya dalam merancang alternatif tindakan dan terapi antibiotik pilihan (educated-guess).

Pemerintah Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan mengeluarkan keputusan HK. 02.04/1966/I/1966/11 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pelayanan Intensiv Care Unit (ICU) yang di dalamnya menyebutkan bahwa tim di ICU salah satunya adalah dokter spesialis mikrobiologi klinik dengan tugas mengawal pemakaian antibiotik yang bijak.

Hal ini selaras dengan panduan yang diacu internasional yaitu panduan dari Infectious Diseases Society of America (IDSA) dan American Society for Microbiology (ASM) melalui dokumen yang dipublikasikan 10 Juli 2013 mengenai peranan spesialis mikrobiologi klinik yang tak hanya di tingkat laboratorium dengan menyediakan hasil yang akurat namun juga di tingkat klinik dengan melakukan konfirmasi hasil laboratorium mikrobiologi dengan kondisi klinis penderita.

Oleh: dr. Ridha Wahyutomo, Sp.MK (Mikrobiologi Klinik RS. Mardi Rahayu)

Referensi:

  1. Chambers, H.F., 2010, General Principles of Antimicrobial Therapy, In: Goodman and Gilman’s ThePharmacological Basis of Therapeutics, 12th Edition, McGraw-Hill Companies, New York, 316-317
  2. Russell AD. Types of antibiotics and synthetic antimicrobial agents. In: Denyer SP, Hodges NA, Gorman SP, editors. Hugo and Russell’s Pharmaceutical Microbiology. 8 ed. Massachusetts, USA: Blackwell Science Ltd; 2011. p. 152-4.
  3. Rezaei M, Komijani M, Javadirad SM. Bacteriostatic Agents. In: Bobbarala V, editor. A Search for Antibacterial Agents. Rijeka, Croatia: InTech; 2012. p. 219.
  4. Porco TC, Gao D, Scott JC, Shim E, Enanoria WT, Galvani AP, et al. When Does Overuse of Antibiotics Become a Tragedy of the Commons? PLoS ONE. 2012;7(12):1-3.
  5. Fonseca MJo, Santos CL, Costa Pc, Lencastre L, Tavares F. Increasing Awareness about Antibiotic Use and Resistance: A Hands-On Project for High School Students. PLoS ONE. 2012;7(9):1-2.
  6. World Health Organization. The Role of Education in the Rational use of medisines: New Delhi: WHO; 2008
  7. Opal SM, Mayer KH, Medeiros AA. Mechanisms of Bacterial Antibiotic Resistance. In: Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, editors. Principles and Practice of Infectious Diseases. 7 ed. USA: Churchill Livingstone; 2010. p. 236-48
  8. Enzler MJ, Berbari E, Osmon DR. Antimicrobial Prophylaxis in Adults. Mayo Clinic Proceedings. 2011;86(7):686-701.
  9. Hadi U, Duerink DO, Lestari ES, Nagelkerke NJ, Keuter M, Veld DHit, et al. Audit of antibiotic prescribing in two governmental teaching hospitals in Indonesia. Clinical Microbiology Infectious Disease. 2008;14:698–707.
  10. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Buku Panduan Implementasi PPRA di Rumah Sakit. 2012
  11. Jawetz, Melnick, Adelberg, 2011, Antimicrobial Chemotherapy, In : Jawetz, Melnick, and Adelberg’s Medisal Microbiology, 24th Edition, McGraw-Hill Companies, New York, 163-66
  12. DeMarco CE, Lerner SA. Mechanisms of Action of Antimicrobial Agents. In: Goldman E, Green LH, editors. Practical Handbook of Microbiology. USA: CRC Press; 2009. p. 132-40.
  13. Cunha BA. Antibiotik Essentials. Massachusetts: Physicians’ Press; 2010
  14. Depkes R.I.,. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta. 2008
  15. Gyssens . IC,. Audit For monitoring quality antimikrobial prescription, dalam : Gould I.M. Van Der Meer, penyunting Antibiotik Policies: Theory and practice, Kluwer Academic Publisher, New York, 2005, h.197-226
  16. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pelayanan ICU di Rumah Sakit. In: Kesehatan, editor. Jakarta: Kemenkes; 2011. p. 1-8.
  17. Baron EJ, Miller JM, Weinstein MP, Richter SS, Gilligan PH, Bourbeau P, et al. A Guide to Utilization of the Microbiology Laboratory for Diagnosis of Infectious Diseases: 2013 Recommendations by the Infectious Diseases Society of America (IDSA) and the American Society for Microbiology (ASM). Infectious Diseases Society of America. 2013:1-100.