Prudent Use Antibiotics: Penilaian Kualitas Pemeberian Antibiotik Seabgai Strategi Melawan Resistensi (Bagian 1)

Latar Belakang

Alexander Fleming menemukan antibiotik pertama, penicillin, pada 1927. Setelah digunakan pertama kali tahun 1940-an, antibiotik membawa perubahan besar pada pelayanan kesehatan dan penyembuhan infeksi bakterial.

Antibiotik didefinisikan sebagai substansi, yang diproduksi oleh mikroorganisme, yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Munculnya antibiotik sintetik mengubah definisi menjadi substansi yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau substansi serupa yang diproduksi keseluruhan maupun sebagian oleh sintesis kimia, pada konsentrasi minimal terukur menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain.

Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada manusia ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif yang tinggi. Artinya obat itu harus bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk manusia. Berdasarkan sifat ini, sifat antibiotika yang bersifat bakteriostatik dan bakterisid.

Berdasarkan penelitian, kualitas penggunaan antibiotik di berbagai bagian di rumah sakit ditemukan 30% sampai dengan 80% tidak didasarkan pada indikasi. Peresepan antibiotik yang tidak tepat menjadi penyebab timbulnya epidemik bakteri resisten yang hasilnya meningkatkan morbiditas dan mortalitas. WHO telah mengeluarkan pernyataan mengenai pentingnya mengkaji faktor-faktor yang terkait dengan masalah antibiotik, termasuk strategi untuk mengendalikan kejadian resistensi.

Resistensi Antibiotik

Resistensi sel mikroba ialah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antibiotik. Sifat ini bisa merupakan suatu mekanisme alamiah untuk tetap bertahan hidup. Timbulnya resistensi pada suatu strain mikroba terhadap suatu antibiotika terjadi berdasarkan salah satu atau lebih dari mekanisme berikut:

  1. Penghambatan secara enzimatik
  2. Perubahan membran sel bakteri
  3. Effluks antibiotik
  4. Perubahan sasaran di ribosom
  5. Perubahan target pada dinding sel
  6. Perubahan target pada enzim.

Agar suatu obat efektif untuk pengobatan, maka obat itu harus mencapai tempat aktivitasnya di dalam tubuh dengan kecepatan dan jumlah yang cukup untuk menghasilkan konsentrasi efektif.

Prinsip Pemberian Antibiotik di Klinik

1. Tepat Indikasi

Pemberian antibiotik di klinik bertujuan untuk menghentikan metabolisme kuman penyebab infeksi. Pemberian antibiotik ditentukan berdasarkan indikasi dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

  1. Gambaran klinik penyakit infeksi, yaitu efek yang ditimbulkan akibat adanya toksin yang dikeluarkan bakteri ke tubuh hospes.
  2. Efek terapi antibiotik pada penyakit infeksi hanya sebagai akibat kerja antibiotik terhadap biomekanisme bakteri dan tidak terhadap biomekanisme tubuh hospes.
  3. Antibiotik hanyalah menyingkatkan waktu yang diperlukan tubuh hospes untuk sembuh dari penyakit infeksi.

Untuk menentukan perlu atau tidaknya pemberian antibiotik pada suatu penyakit perlu diperhatikan gejala klinik dan patogenisitas bakteri serta kesanggupan mekanisme pertahanan tubuh hospes.

Gejala demam yang merupakan salah satu gejala sistemik penyakit infeksi paling umum, tidak merupakan indikator kuat pemberian antibiotik.
Pemberian antibiotik akibat demam tidak bijaksana karena:

  1. Pemberian antibiotik yang tidak pada tempatnya dapat merugikan pasien (berupa efek samping) dan masyarakat (berupa masalah resistensi).
  2. Demam dapat disebabkan oleh infeksi virus yang cukup tinggi angka kejadiannya dan tidak dapat dipercepat penyembuhannya dengan menggunakan antibiotik yang tidak rasional.
  3. Demam dapat juga terjadi pada penyakit noninfeksi, yang dengan sendirinya bukan indikasi pemberian antibiotik.

Indikasi pemberian antibiotik pada pasien harus dipertimbangkan dengan seksama, dan sangat tergantung pada pengalaman pengamatan klinik dokter yang mengobati pasien.9

2. Pemilihan Antibiotik yang Tepat

Setelah dokter menentukan perlu tidaknya pemberian antibiotik, langkah berikutnya adalah pemilihan antibiotik yang tepat serta penentuan dosis dan cara pemberiannya. Dalam memilih antibiotik yang tepat harus dipertimbangkan faktor sensitivitas bakteri terhadap antibiotik, keadaan tubuh hospes dan biaya pengobatan.

Untuk mengetahui kepekaan mikroba terhadap antibiotik, perlu dilakukan pembiakan kuman penyebab infeksi, yang diikuti dengan uji kepekaan. Bahan biologik dari hospes untuk pembiakan diambil sebelum pemberian antibiotik. Setelah pengambilan bahan tersebut terutama dalam keadaan penyakit infeksi yang berat, terapi dengan antibiotik dapat dimulai dengan memilih antibiotik yang tepat sesuai gejala klinis pasien.

Dalam praktek sehari-hari tidak mungkin melakukan pemeriksaan biakan pada setiap penyakit infeksi. Sehingga pemilihan antibiotik dilakukan dengan membuat perkiraan kuman penyebab infeksi dan pola kepekaannya.

Bila dari hasil kepekaan ternyata pilihan antibiotik semula tadi tepat serta gejala klinik jelas membaik maka terapi menggunakan antibiotik tersebut diteruskan. Namun jika hasil uji sensitivitas menunjukkan ada antibiotik yang lebih efektif, sedangkan dengan antibiotik semula gejala klinik penyakit tersebut menunjukkan perbaikan-perbaikan yang menyakinkan maka antibiotik semula dapat diteruskan. Tetapi apabila hasil perbaikan klinis kurang memuaskan, antibiotik yang diberikan semula dapat digantikan dengan antibiotik yang lebih efektif sesuai dengan hasil uji sensitivitas.

Bila pemberian antibiotik hanya bersifat bakteriostatik, pemusnahan bakteri hanya tergantung pada daya tahan tubuh hospes, tidak demikian halnya dengan antibiotik bakterisid. Antibiotik bakterisid dapat dipastikan menghasilkan efek terapi, apalagi bila diketahui bahwa daya tahan tubuh hospes telah menurun, seperti pada penyakit difisiensi imun, leukimia akut dan lain-lain. Pada keadaan ini lebih baik digunakan antibiotik bakterisid.

Keadaan tubuh hospes perlu dipertimbangkan untuk memilih antibiotik yang tepat. Untuk pasien penyakit infeksi yang juga menderita penyakit ginjal misalnya, jika diperlukan jenis tetrasiklin sebagai antibiotik, maka sebaiknya dipilih doksisiklin yang paling aman diantara tetrasiklin lainnya.10

3. Penentuan Dosis dan Lama Pemberian yang Tepat

Penentuan dosis dan lama pemberian terapi antibiotik, didasarkan pada sifat farmakodinamik dan farmakokinetik obat tersebut.
Untuk penentuan besar dosis tergantung pada jenis infeksi dan penetrasi obat ke tempat infeksi. Sedangkan untuk penentuan lama pemberian tergantung pada respon klinik, mikrobiologis maupun radiologis.

4. Farmakokinetik Antibiotika

Faktor-faktor yang penting dan berperan dalam farmakokinetika obat adalah absorpsi, distribusi, biotransformasi, eliminasi, faktor genetik dan interaksi obat. Antibiotika yang akan mengalami transportasi tergantung dengan daya ikatnya terhadap protein plasma. Bentuk yang tidak terikat dengan protein itulah yang secara farmakologis aktif, yaitu mempunyai kemampuan sebagai antimikroba.
Transport antibiotika ditentukan oleh proses difusinya, luas daerah transfer, kelarutan dalam lemak, berat molekul, derajat ionisasi, koefisien partisi dan perbedaan konsentrasi. meternofetal.1,2,11,12

Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Pemberian Antibiotik

Pemberian antibiotik adalah penentu utama dari berkembangnya resistensi. Banyak parameter yang telah dibuat untuk mengoptimalkan penilaian kualitas pemberian antibiotik. Peningkatan pemberian antibiotik secara bijak menjadi solusi sebagai upaya mengatasi resistensi. Pemilihan antibiotik yang bijak yaitu adalah yang tepat indikasi, dosis, rute serta waktu pemberian.

Jumlah antibiotik yang diberikan juga menentukan tepat tidaknya peresepan antibiotik tersebut. Pemberian antibiotik yang bijak meliputi kuantitas dan kualitas yang baik tergantung dari:

  1. Ketersediaan antibiotik
    Keterbatasan akses mendapatkan antibiotik yang efektif juga mempengaruhi pilihan dokter untuk meresepkan antibiotik yang tepat. Hal ini berkaitan dengan formularium antibiotik atau daftar antibiotik yang tersedia di sebuah rumah sakit. Untuk pelayanan obat dalam program Jamkesmas mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 1455/Menkes/SK/X/2010, tangggal 4 Oktober 2010 tentang Formularium Program Jaminan Kesehatan Masyarakat dan Peraturan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/Menkes/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Dalam keadaan tertentu, bila memungkinkan RS bisa menggunakan formularium RS.
  2. Kebijakan mengenai pemberian antibiotik
    Kebijakan untuk pemberian antibiotik secara bijak diperlukan sebagai pedoman bagi dokter dalam praktik sehari-hari. Rekomendasi nasional yang mendukung pemberian antibiotik sebaiknya terus dikembangkan sehingga pelaksanaan dan pengawasan pemberian antibiotik dapat secara ketat dilaksanakan. Sebaiknya pedoman pemberian antibiotik di rumah sakit diperbarui secara berkesinambungan.
  3. Pengetahuan dan sikap dokter
    Pemilihan antibiotik tergantung dari pengetahuan dokter tentang berbagai aspek yang berbeda mengenai penyakit infeksi. Dalam pemberian antibiotik harus dipertimbangkan dengan seksama mulai dari ketepatan diagnosis, tujuan pengobatan, pilihan obat yang tepat, pemberian obat kepada penderita, memberikan informasi yang adekuat dan memantau efek pemberian obat. Hal ini sangat tergantung pada sikap dan pengalaman pengamatan klinik dokter dalam mengobati pasien. Faktor yang mempengaruhi perubahan sikap individu maupun kelompok, salah satunya adalah faktor pendorong (reinforcing faktors) yaitu faktor yang memperkuat perubahan perilaku seseorang dikarenakan adanya sikap dan perilaku pihak lain misalnya institusi, atasan, teman kerja atau tokoh lain yang menjadi model. Faktor pengetahuan dan sikap dokter merupakan faktor penting, walaupun tidak diingkari pula terdapat peran dari pihak lain seperti institusi yang membawahi dokter dan farmasi.
  4. Promosi farmasi
    Industri faramasi ikut berperan dalam penyediaan dan promosi antibiotik. Terkadang pihak farmasi mengintervensi dokter karena menginginkan pemberian produk antibiotiknya meningkat, sehingga mempengaruhi dokter dalam peresepan. Sebaiknya dilakukan pengendalian dan pengawasan terhadap aktivitas promosi tersebut.10

Oleh: dr. Ridha Wahyutomo, Sp.MK (Mikrobiologi Klinik RS. Mardi Rahayu)

Referensi:

  1. Chambers, H.F., 2010, General Principles of Antimicrobial Therapy, In: Goodman and Gilman’s ThePharmacological Basis of Therapeutics, 12th Edition, McGraw-Hill Companies, New York, 316-317
  2. Russell AD. Types of antibiotics and synthetic antimicrobial agents. In: Denyer SP, Hodges NA, Gorman SP, editors. Hugo and Russell’s Pharmaceutical Microbiology. 8 ed. Massachusetts, USA: Blackwell Science Ltd; 2011. p. 152-4.
  3. Rezaei M, Komijani M, Javadirad SM. Bacteriostatic Agents. In: Bobbarala V, editor. A Search for Antibacterial Agents. Rijeka, Croatia: InTech; 2012. p. 219.
  4. Porco TC, Gao D, Scott JC, Shim E, Enanoria WT, Galvani AP, et al. When Does Overuse of Antibiotics Become a Tragedy of the Commons? PLoS ONE. 2012;7(12):1-3.
  5. Fonseca MJo, Santos CL, Costa Pc, Lencastre L, Tavares F. Increasing Awareness about Antibiotic Use and Resistance: A Hands-On Project for High School Students. PLoS ONE. 2012;7(9):1-2.
  6. World Health Organization. The Role of Education in the Rational use of medisines: New Delhi: WHO; 2008
  7. Opal SM, Mayer KH, Medeiros AA. Mechanisms of Bacterial Antibiotic Resistance. In: Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, editors. Principles and Practice of Infectious Diseases. 7 ed. USA: Churchill Livingstone; 2010. p. 236-48
  8. Enzler MJ, Berbari E, Osmon DR. Antimicrobial Prophylaxis in Adults. Mayo Clinic Proceedings. 2011;86(7):686-701.
  9. Hadi U, Duerink DO, Lestari ES, Nagelkerke NJ, Keuter M, Veld DHit, et al. Audit of antibiotic prescribing in two governmental teaching hospitals in Indonesia. Clinical Microbiology Infectious Disease. 2008;14:698–707.
  10. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Buku Panduan Implementasi PPRA di Rumah Sakit. 2012
  11. Jawetz, Melnick, Adelberg, 2011, Antimicrobial Chemotherapy, In : Jawetz, Melnick, and Adelberg’s Medisal Microbiology, 24th Edition, McGraw-Hill Companies, New York, 163-66
  12. DeMarco CE, Lerner SA. Mechanisms of Action of Antimicrobial Agents. In: Goldman E, Green LH, editors. Practical Handbook of Microbiology. USA: CRC Press; 2009. p. 132-40.
  13. Cunha BA. Antibiotik Essentials. Massachusetts: Physicians’ Press; 2010
  14. Depkes R.I.,. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta. 2008
  15. Gyssens . IC,. Audit For monitoring quality antimikrobial prescription, dalam : Gould I.M. Van Der Meer, penyunting Antibiotik Policies: Theory and practice, Kluwer Academic Publisher, New York, 2005, h.197-226
  16. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pelayanan ICU di Rumah Sakit. In: Kesehatan, editor. Jakarta: Kemenkes; 2011. p. 1-8.
  17. Baron EJ, Miller JM, Weinstein MP, Richter SS, Gilligan PH, Bourbeau P, et al. A Guide to Utilization of the Microbiology Laboratory for Diagnosis of Infectious Diseases: 2013 Recommendations by the Infectious Diseases Society of America (IDSA) and the American Society for Microbiology (ASM). Infectious Diseases Society of America. 2013:1-100.

 

Peran Regulasi dan Puskesmas dalam Upaya Peningkatan Keberhasilan ASI Ekslusif Melalui Kelompok Pendukung (KP) Ibu di Masyarakat

Kelompok Pendukung Ibu (KP Ibu) adalah kelompok berbasis masyarakat yang terdiri dari Ibu hamil dan Ibu yang berjumlah maksimal 10 orang yang menyusui anak usia 0 – 6 bulan dan mengadakan pertemuan rutin setiap bulan untuk berbagi pengalaman dan informasi seputar kehamilan, melahirkan dan menyusui. Kelompok Pendukung Ibu menyusui merupakan salah satu upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang mendapatkan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan.

Tujuan KP Ibu adalah agar ibu siap dalam menghadapi persalinan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan dapat memberikan ASI eksklusif secara lancar. Pertemuan ini difasilitasi oleh seorang motivator, yaitu ibu dengan usia yang sebaya dengan peserta lainnya yang akan berbagi pengalaman dan informasi seputar kehamilan, melahirkan dan menyusui. Motivator sudah dilatih terlebih dahulu dengan didampingi oleh petugas kesehatan sebagai pembina KP Ibu. Pembina KP Ibu adalah seseorang yang berkomitmen dan bertugas sehari-harinya sebagai orang yang banyak melakukan pendampingan ke masyarakat, seperti petugas kesehatan dari Puskesmas dan PKK.

Kegiatan KP Ibu di Indonesia yang diinisiasi oleh Mercy Corps Indonesia merupakan adaptasi dari program mother to mother support group yang dipublikasikan oleh program LINKAGES pada tahun 2004 tentang dukungan sebaya (peer support) untuk Ibu mengenai perawatan dan gizi ibu hamil serta persiapan ibu dalam melakukan IMD, pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI disertai Makanan Pendamping (MPASI) yang bergizi hingga anak berusia 2 tahun.

Berdasarkan upayanya dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan, KP Ibu melibatkan tiga level/konteks, yaitu; 1. Konteks lingkungan (dengan fasilitator berasal dari Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah). 2. Konteks organisasi (dengan fasilitator berasal dari Dinas Kesehatan setempat, Mercy Corps Indonesia dan puskesmas), 3.Konteks sistem mikro pelayanan kesehatan (dengan fasilitator berasal dari petugas kesehatan di puskesmas, PKK dan motivator sebagai kader kesehatan),

Dalam konteks lingkungan, Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan mengatur regulasi berkaitan dengan pemberian ASI serta KP Ibu. Program KP Ibu mendukung Pasal 128 dan 129 UU No. 36 Tahun 2009 (UU Kesehatan) dan Peraturan Pemerintah no.33 tahun 2012 yang mengatur tentang pemberian ASI ekslusif. Program KP Ibu juga merupakan salah satu dari “Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui” yang dicanangkan oleh mantan Menteri Kesehatan (Almh) dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH, dimana terdapat pernyataan pada langkah nomor sepuluh yaitu “Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI di masyarakat dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari Rumah Sakit/Rumah Bersalin/Sarana Pelayanan Kesehatan”.

Sampai saat ini, program KP Ibu sudah terlaksana di berbagai kota dan kecamatan di Indonesia. DIY sendiri merupakan salah satu provinsi yang aktif dalam program KP Ibu, contohnya saja di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul telah mencanangkan pembentukan KP Ibu di seluruh dusun/Posyandu di Kabupaten Bantul yang dibakukan dalam Surat Edaran Setda Bantul pada Februari 2010 kepada seluruh Kepala Desa se-Kabupaten Bantul agar memfasilitasi pembentukan,regenerasi dan pendampingan berkelanjutan KP Ibu di wilayahnya melalui Dana Alokasi Dana Desa (ADD).

Dalam konteks organisasi, Puskesmas memegang peranan penting dalam pelaksanaan KP ibu di wilayah cakupannya. Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas kegiatan ini tetapi secara teknis dilakukan oleh tim KP ibu di setiap puskesmas. Untuk menghasilkan Pembina KP Ibu yang berkualitas, Dinas Kesehatan yang bertugas mengadakan pembinaan serta melakukan mentoring dan evaluasi berkala terhadap petugas kesehatan yang dibina. Dalam kegiatan pembinaan, didatangkan narasumber yang kompeten seperti dokter dan konselor laktasi. Perwakilan Mercy Corps Indonesia juga turut hadir seperti pada kegiatan Bimtek petugas KP Ibu di Kantor Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur, pada September 2014.

Dalam sistem mikro pelayanan kesehatan, petugas kesehatan dari puskesmas yang menjadi Pembina KP Ibu akan melatih dan mendampingi ibu-ibu dari PKK atau ibu-ibu yang menjadi kader kesehatan di wilayahnya untuk menjadi motivator KP Ibu. Dengan dibekali pengetahuan dan keterampilan, motivator akan berbagi ilmu dan membantu ibu menyusui dalam menghadapi kesulitan selama pemberian ASI Ekslusif di setiap pertemuan rutinnya. Dari kegiatan ini, diharapkan para peserta KP Ibu bisa menyebarkan informasi kepada ibu hamil dan menyusui lainnya mengenai ASI ekslusif.

Adanya pencapaian tingkat mutu yang diharapkan telah dibuktikan oleh salah satu penelitian yang menilai adanya peningkatan perilaku ASI eksklusif di kelompok dusun dengan program KP Ibu sebesar 17% (39% pada sebelum program dan 56% pada sesudah program) dibandingkan kelompok dusun tanpa program KP Ibu sebesar 8.8% di Kelurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul DIY pada tahun 2010.

Penulis: dr. Novika Handayani

Artikel ini merupakan resensi dari artikel pada link dibawah ini:

  1. http://kpibu.blogspot.co.id/2014/09/latar-belakang-pembentukan-kp-ibu.html 
  2. http://kpibu.blogspot.co.id/2014/09/kegiatan-bimtek-petugas-pembina.html 
  3. https://www.mercycorps.org/articles/indonesia/mothers-supporting-mothers
  4. http://puskesmas.bantulkab.go.id/srandakan/2012/11/28/kelompok-pendukung-ibu-kp-ibu-bantul-di-desa-trimurti-srandakan/ 

Referensi:

  1. Morrow, A., Guerrero,m., Shults,J., Calva, J., Lutter, C., Bravo, J., Palacios, G., Morrow, R., Butterfoss, F. 1999. Efficacy of home-based peer counselling to promote exclusive breastfeeding: a randomised controlled trial. The Lancet.Vol 353.April 10, 1999
  2. Lakshmi, T. 2011. Hubungan Kelompok Pendukung Ibu Terhadap Perubahan Perilaku Menyusui di Kelurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul di Yogyakarta (Analisa Data Sekunder KPC Healthy Start Yogyakarta Survey 2009 – 2010). Tesis, Mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
  3. http://www.dinkes.kulonprogokab.go.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=105
  4. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/10-langkah-menuju-keberhasilan-menyusui
  5. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/breastfeeding-family
  6. https://www.mercycorps.org/articles/indonesia/promoting-early-and-exclusive-breastfeeding 
  7. http://www.tensteps.org/pdf/breastfeeding-faqs-mtms.pdf 

{module [150]}

Pencegahan Kanker Serviks pada Daerah dengan Sumber Daya Kesehatan yang Terbatas

Kanker serviks menempati ranking kedua sebagai penyakit kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di seluruh dunia, dan yang tidak kalah mengejutkan lebih dari 80% terjadi di negara berkembang. Hal ini sejalan dengan prediksi beberapa ahli diberbagai belahan dunia beberapa dekade belakangan bahwa tren penyakit tidak menular di negara berkembang akan semakin tinggi. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan pola penyakit dari yang dulunya penyakit menular ke penyakit tidak menular.

Situasi ini bisa disebabkan karena perubahan gaya hidup dengan semakin berkembangnya industrialisasi dan teknologi yang mana merupakan suatu hal yang baik bahwa masyarakat di negara berkembang boleh dikatakan semakin maju. Namun hal ini juga bisa berarti tantangan baru, banyak negara berkembang masih kesulitan dengan penyakit tidak menular dan sekarang muncul “pendatang baru” yang pastinya akan membuat mereka lebih kesulitan. Salah satunya adalah meningkatnya health care cost karena penyakit tidak menular membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk perawatannya. Untuk itu pencegahan dan pendekatan berbasis kesehatan masyarakat sangat penting untuk menekan bertambahnya penyakit tidak menular.

Dalam salah satu review artikelnya, Scarinci et al. (2010) memaparkan pendekatan yang menarik dan mungkin bisa dipertimbangkan untuk pencegahan kanker serviks terutama untuk daerah dengan sumber daya kesehatan yang terbatas. Dalam artikel tersebut, Scarinci et al. (2010) memaparkan fenomena kanker serviks di Amerika Serikat yang mana lebih dari 60% terjadi pada kelompok minoritas (populasi Afrika-Amerika dan masyarakat miskin). Kelompok ini tidak memiliki akses yang baik pada pelayanan kesehatan (vaksin dan screening), ditambah lagi sebagai kelompok minoritas wanita pada kelompok ini merasa malu apabila menerima vaksin atau melakukan screening karena takut dianggap tidak bisa menjaga kesehatannya.

Scarinci et al. (2010) merekomendasikan 2 tindakan pencegahan yang dinilai efektif untuk mengatasi masalah ini, yakni :

  1. Pencegahan tingkat pertama dengan menyediakan vaksin untuk wanita berusia kurang dari 18 tahun.
  2. Pencegahan tingkat kedua dengan screening/deteksi dini untuk mengidentifikasi kejadian kanker sedini mungkin dan menentukan perawatan yang tepat untuk wanita usia 30 tahun ke atas.

Scarinci et al. (2010) berpendapat bahwa kedua pendekatan ini harus berfokus pada kelompok umur yang tepat sehingga perawatan yang diberikan akan tepat sasaran. Selain itu Scarinci et al. (2010) juga menekankan pentingnya community-based intervention untuk mengurangi ketimpangan dalam pencegahan kanker serviks. Sebuah studi kualitatif di negara bagian South Carolina menemukan bahwa kelompok minoritas lebih aktif berpartisipasi pada edukasi kanker serviks yang dilakukan oleh gereja setempat dibanding oleh organisasi lain.

Hal ini membuktikan pentingnya melibatkan organisasi kemasyarakatan untuk hasil yang lebih maksimal dalam mengedukasi masyarakat. Studi lain di negara bagian Alabama dan Mississippi menemukan adanya peningkatan angka screening untuk kanker payudara dan kanker serviks pada populasi wanita Afrika-Amerika dengan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) dan Empowerment Model dimana memanfaatkan komunitas setempat sebagai relawan/Community Health Workers (CHW).

Sudahkan kita mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah penyakit tidak menular ini?

Oleh: Stevie Ardianto Nappoe,
SKM-Master Student, The University of Alabama at Birmingham, Fulbright Scholar 2016

Scarinci, I. C., Garcia, F. A., Kobetz, E., Partridge, E. E., Brandt, H. M., Bell, M. C., Castle, P. E. (2010). Cervical Cancer Prevention: New Tools And Old Barriers. Cancer, 116(11), 2531-2542. doi:10.1002/cncr.25065
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2876205/pdf/nihms179540.pdf

{jcomments on}

Menganalisis Indikator Mutu Rumah Sakit – Bagian 2

Pendahuluan

Pada kesempatan yang lalu, penulis pernah membagikan ide mengenai penyusunan indikator mutu rumah sakit dan penyajian indikator mutu rumah sakit . Walaupun keduanya sudah cukup untuk karya sehari-hari, tidak ada salahnya bila para manajer dan pemimpin sistem mikro di rumah sakit menambahkan analisis secara statistika terhadap pengukuran indikator mutu tersebut.

Analisis ini diharapkan menjadi insight apakah intervensi yang dilakukan untuk memperbaiki nilai indikator mutu sudah adekuat. Analisis ini juga akan merangsang para pemimpin sistem mikro di rumah sakit beserta tim untuk terbiasa melakukan penelitian. Tim yang terbiasa melakukan penelitian akan mudah mengembangkan diri karena senantiasa menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apakah usaha ini sudah cukup signifikan?”

Pada tulisan bagian kedua ini, penulis mengajak pembaca untuk menyimak salah satu contoh analisis data sebelum dan setelah intervensi pada indikator mutu rumah sakit dengan tipe data ordinal. Indikator yang dipakai dalam mengilustrasikan contoh analisis data ini adalah: kepuasan pasien instalasi gawat darurat.

Ilustrasi Kasus

Rumah Sakit “Puri Sejahtera” menetapkan salah satu indikator mutu instalasi gawat darurat (IGD) adalah “kepuasan pasien instalasi gawat darurat”. Rumah sakit ini membuat kuesioner singkat terkait tingkat kepuasan pasien IGD dengan skala 1-9. Skala satu artinya sangat tidak puas sementara angka 9 artinya sangat puas. Kuesioner ini diberikan pada akhir perawatan di IGD. Hasil pengukurannya disajikan dalam Tabel 1. asd

No. Sampel

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Tingkat Kepuasan
(1-9)

4

5

7

2

3

9

3

4

3

5

Tabel 1 Hasil Pengukuran Sebelum Intervensi

Tim instalasi gawat darurat mendiskusikanhasil pengukuran ini. Setelah menggunakan berbagai alat bantu untuk mengidentifikasi faktor-faktor kontributor dan faktor penyebab, tim menyimpulkan bahwa tingkat kepuasan yang belum mencapai target tersebut adalah karena para pasien di IGD tersebut menunggu terlalu lama untuk diperiksa dokter. Dengan hanya satu dokter yang melayani 12 tempat tidur, seorang pasien dapat menunggu lebih dari 30 menit sampai diperiksa oleh dokter.

Untuk itulah tim kemudian mendiskusikan dengan kepala bidang pelayanan untuk menambah jumlah dokter jaga IGD dan menerapkan sistem triase baru. Dengan kedua intervensi ini, diharapkan waktu tunggu pasien berkurang dan kepuasan pasien kembali meningkat. Hasil pengukuran satu bulan setelah intervensi disajikan dalam Tabel 2.

No. Sampel

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Tingkat Kepuasan (1-9)

8

6

9

7

8

8

6

5

9

3

Tabel 2 Hasil Pengukuran Satu Bulan setelah Intervensi

Analisis Statistik

Berbeda dengan statistik parametrik yang dibahas dalam tulisan bagian pertama mengenai analisis indikator, data indikator mutu ini memiliki tipe data ordinal. Data ordinal termasuk ke dalam tipe data kategorial, memiliki penjenjangan, namun jarak antara jenjang satu dan berikutnya tidak dapat diasumsikan sama. Artinya, seorang yang memilih tingkat kepuasan 8 belum tentu dua kali lebih puas daripada orang lain yang memilih tingkat kepuasaan 4.

Untuk menguji perbedaan antara kedua kelompok berdata ordinal ini digunakan uji statistik non parametrik. Nama uji yang sesuai adalah Mann-Whitney. Dalam statistik parametrik, uji ini setara dengan t-test yang kita pakai dalam ilustrasi pada tulisan bagian pertama yang lalu.

Sebelum melakukan uji beda, mari kita menetapkan hipotesis 0 (H0) dan hipotesis alternatif. Prinsipnya, uji normalitas membandingkan data yang akan diuji dengan data distribusi normal. Pada uji beda, kita akan membandingkan nilai p dengan nilai suatu konstanta. Pada tingkat kepercayaan 95%, kita akan membandingkan nilai p dengan angka 0,05. Apabila nilai p>0,05 maka hipotesis nol (H0) diterima. Sebaliknya, apabila nilai p<0,05 maka hipotesis nol (H0) ditolak dan otomatis hipotesis alternatif (Ha) yang diterima. Hipotesis ditetapkan seperti yang disajikan dalam Tabel 3

Hipotesis 0 (H0)

Tidak ada perbedaan antara data sebelum intervensi dan setelah intervensi.  

Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada perbedaan antara data sebelum intervensi dan setelah intervensi.  

Tabel 3 Hipotesis dalam uji beda.

Jalankan uji non parametrik 2 sampel independen. Setelah melengkapi kotak dialog, maka akan muncul hasil seperti yang disajikan dalam Tabel 4.

Test Statisticsb

Tingkat Kepuasan

Mann-Whitney U

20.000

Wilcoxon W

75.000

Z

-2.289

Asymp. Sig. (2-tailed)

.022

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

.023a

Tabel 4 Hasil uji Mann-Whitney.

Perhatikan angka yang dicetak tebal (0,022). Nilai p tersebut <0,05 sehingga hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Hal tersebut berarti ada beda secara signifikan pada kedua kelompok. Dengan kata lain, data setelah intervensi berbeda secara signifikan dengan data sebelum intervensi.

Interpretasi

Proses analisis yang dijelaskan di atas merupakan salah satu contoh penerapan statistika dalam pengelolaan rumah sakit. Meskipun demikian, karena pengelolaan rumah sakit bersandar pada sumber-sumber ilmiah tertentu, maka interpretasi atas apa yang telah diterapkan oleh statistika tidak boleh dilakukan secara serampangan. Sebelum melakukan interpretasi, perlu ditanyakan: apakah peningkatan kepuasan pasien IGD ini akibat intervensi yang dilakukan? Analisis statistik yang tadi dilakukan tidak sepenuhnya bisa menjelaskan walau secara logis bisa diterima.

Seperti juga dalam ilmu kedokteran, pengelola rumah sakit secara langsung maupun tidak langsung digiring untuk menggunakan bukti-bukti ilmiah yang sahih untuk mengelola rumah sakit, pun mutunya. Ilustrasi di atas cukup menarik karena di Indonesia, IGD disalahartikan oleh sebagian masyarakat sebagai pelayanan yang “ekspres” dibandingkan pelayanan rawat jalan. Instalasi rawat jalan (IRJ) di hampir semua rumah sakit selalu memiliki kursi tunggu jauh lebih banyak daripada di IGD. Hal ini membuat IRJ identik dengan menunggu.

Pada kenyataannya, pelayanan di IGD tidaklah selalu cepat karena digunakan suatu prioritisasi berbasis kebutuhan pasien yang disebut sebagai triase. Pasien yang lebih gawat dan/atau darurat akan didahulukan, sehingga pasien yang sebenarnya bisa berobat ke rawat jalan tetap harus menunggu. Di sinilah banyak sumber bukti mengenai implementasi triase yang dapat digunakan sebagai acuan tim mutu di IGD untuk memperbaiki mutu.

Kembali kepada ilustrasi kasus di atas, peningkatan kepuasan pasien sangat mungkin akibat intervensi. Akal sehat pasti mengatakan demikian. Namun bila menggunakan bukti-bukti ilmiah untuk menelaah masalah dan menyusun intervensi, bisa jadi kesimpulan akhir interpretasi tidak sepenuhnya demikian. Misalnya, intervensi memang meningkatkan kepuasan pasien, namun bukan akibat waktu tunggu yang semakin singkat namun akibat IGD yang lebih teratur pasca implementasi sistem triase baru.

Penutup

Analisis statistik seperti yang diuraikan dalam tulisan ini belum jamak diterapkan dalam pengelolaan mutu di rumah sakit. Bila diterapkan pun, seringkali didapatkan kekeliruan dalam pemilihan uji statistik sehingga hasilnya tidak sahih digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh manajemen rumah sakit. Diharapkan setelah membaca tulisan ini, tim pengelola mutu di rumah sakit dapat secara rutin menerapkan statistika lebih dalam untuk menganalisis indikator mutu rumah sakit.

Penulis

Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis: dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H.. Penulis adalah dokter, pernah memimpin instalasi gawat darurat rumah sakit swasta di Yogyakarta. Saat ini penulis merupakan peserta pendidikan dokter spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

{loadmodule mod_articles_latest,Artikel Lainnya}

{jcomments on}

Menganalisis Indikator Mutu Rumah Sakit – Bagian 1

Pendahuluan

Pada kesempatan yang lalu, penulis pernah membagikan ide mengenai penyusunan indikator mutu rumah sakit dan penyajian indikator mutu rumah sakit. Walaupun keduanya sudah cukup untuk karya sehari-hari, tidak ada salahnya bila para manajer dan pemimpin sistem mikro di rumah sakit menambahkan analisis secara statistika terhadap pengukuran indikator mutu tersebut.

Analisis ini diharapkan menjadi insight apakah intervensi yang dilakukan untuk memperbaiki nilai indikator mutu sudah adekuat. Analisis ini juga akan merangsang para pemimpin sistem mikro di rumah sakit beserta tim untuk terbiasa melakukan penelitian. Tim yang terbiasa melakukan penelitian akan mudah mengembangkan diri karena senantiasa menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apakah usaha ini sudah cukup signifikan?”

Pada tulisan bagian pertama ini, penulis mengajak pembaca untuk menyimak salah satu contoh analisis data sebelum dan setelah intervensi pada indikator mutu rumah sakit dengan tipe data kontinyu. Indikator yang digunakan dalam mengilustrasikan contoh analisis data ini adalah: waktu tunggu masuk ruang perawatan.

Ilustrasi Kasus

Rumah Sakit “Pantai Bahagia” menetapkan salah satu indikator mutu pelayanan ruang persiapan rawat inap adalah “waktu tunggu masuk ruang perawatan”. Rumah sakit ini mengukur waktu yang diperlukan sejak bagian admisi (tempat penerimaan pasien) menentukan ruang perawatan bagi pasien sampai dengan pasien diantar dari ruang persiapan rawat inap. Semakin besar angka yang diukur dalam menit ini, semakin lama pula pasien menunggu di ruang persiapan rawat inap dan meningkatkan potensi penuhnya ruang persiapan rawat inap.

Disepakati pula bahwa tidak semua kasus akan diukur, hanya sepuluh pasien pertama di ruang persiapan rawat inap setiap tanggal 1 bulan baru saja yang diukur. Waktu diukur dalam satuan menit dan dicatat untuk disajikan dan dianalisis. Hasil pengukuran bulan pertama disajikan dalam Tabel 1.

No. Sampel

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Rerata

Waktu tunggu
(menit)

75

67

45

46

52

36

92

88

73

65

63,9

Tabel 1 Hasil pengukuran waktu tunggu persiapan rawat inap.

Tim ruang persiapan rawat inap mendiskusikan hasil pengukuran ini. Hasilnya, beberapa proses administrasi bisa dipersingkat. Meski demikian, ada satu kendala yang tidak dapat diputuskan solusinya. Rumah sakit ini mengatur bahwa ruang persiapan rawat inap tidak dapat memobilisasi pasien, harus menunggu dijemput dari ruang perawatan yang dituju. Perawat penjemput ini sering datang lambat sehingga pasien menumpuk di ruang persiapan rawat inap.

Akhirnya kepala ruang persiapan rawat inap mengusulkan kepada direktur agar pasien dapat dimobilisasi dari ruang persiapan rawat inap oleh perawat persiapan rawat inap ditemani satu orang petugas transporter atau petugas keamanan. Direktur setuju, sehingga ruang persiapan rawat inap secara resmi mengerjakan dua macam perbaikan, yaitu proses administrasi yang dipersingkat dan perubahan mobilisasi pasien. Mereka menargetkan rerata waktu tunggu kurang dari 40 menit. Hasil pengukuran satu bulan setelah intervensi disajikan dalam Tabel 2.

No. Sampel

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Rerata

Waktu tunggu
(menit)

54

17

36

34

61

24

53

44

72

25

42

Tabel 2 Hasil pengukuran waktu tunggu persiapan rawat inap setelah intervensi.

Sekilas dari perhitungan rerata didapatkan bahwa intervensi tempo hari membuahkan hasil penurunan rerata waktu tunggu persiapan rawat inap namun belum mencapai target. Muncul pertanyaan apakah intervensi yang dilakukan sudah secara signifikan memperbaiki kondisi atau belum. Di sinilah peran analisis statistik.

Analisis Statistik

Analisis statistika dapat dilakukan dengan penghitungan manual atau dengan menggunakan perangkat lunak. Berbagai perangkat lunak tersedia baik yang berbayar maupun yang gratis, karena penulis ingin mendorong pengujian secara statistik ini dilakukan secara rutin, maka disarankan menggunakan program analisis statistik yang mudah dan umum digunakan seperti misalnya SPSS. Dalam tulisan ini tidak akan dijelaskan langkah demi langkah analisis dalam program analisis statistik. Penjelasan mengenai hal tersebut jamak ditemukan lewat mesin pencari daring (online). Data mentah yang ada dimasukkan ke dalam program analisis statistik tersebut.

Langkah pertama dalam analisis data indikator ini adalah menentukan tipe data. Penjelasan mengenai tipe data dapat dibaca kembali pada tulisan sebelumnya mengenai penyajian indikator mutu rumah sakit (https://mutupelayanankesehatan.net/index.php/19-headline/2048-menyajikan-indikator-mutu-rumah-sakit). Dari keterangan tersebut, kita mengetahui bahwa data kuantitatif indikator waktu tunggu persiapan rawat inap ini adalah data kontinyu. Umumnya, data kontinyu dianalisis menggunakan statistik parametrik apabila datanya terdistribusi normal.

Untuk mengetahui apakah data tersebut terdistribusi normal atau tidak, mari kita menetapkan hipotesis 0 (H0) dan hipotesis alternatif. Prinsipnya, uji normalitas membandingkan data yang akan diuji dengan data distribusi normal. Hipotesis dalam uji ini ditampilkan dalam Tabel 3.

Hipotesis 0 (H0)

Tidak ada perbedaan antara data yang akan diuji dengan data distribusi normal.

Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada perbedaan antara data yang akan diuji dengan data distribusi normal.

Tabel 3 Hipotesis dalam uji normalitas.

Dalam program SPSS, lakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov yang ada dalam menu analisis non parametrik. Hasil analisis yang dilakukan program analisis statistik ditampilkan dalam Tabel 4.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

 

Waktu Tunggu

N

20

Normal Parametersa,,b

Mean

52.9500

Std. Deviation

21.08997

Most Extreme Differences

Absolute

.089

Positive

.089

Negative

-.067

Kolmogorov-Smirnov Z

.399

Asymp. Sig. (2-tailed)

.997

Tabel 4 Hasil uji normalitas.

Dalam tabel hasil uji normalitas tersebut, perhatikan nilai yang dicetak tebal (0,399). Karena nilai tersebut >0,05, maka hipotesis 0 (H0) diterima sehingga tidak ada beda antara data yang diuji dengan data terdistribusi normal. Dengan kata lain, data indikator tersebut adalah data terdistribusi normal sehingga analisis statistik dapat dilanjutkan dengan statistik parametrik.

Langkah kedua dalam analisis statistik adalah menguji beda rerata antara kedua kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan pertama (sebelum intervensi) dan kelompok perlakuan kedua (setelah intervensi) dianalisis bedanya dengan independent sample t-test. Mengapa tidak dianalisis dengan paired sample t-test? Walaupun analisis ini akan menguji beda sebelum dan setelah intervensi, tidak ada subjek penelitian yang diukur dua kali. Subjek untuk data sebelum intervensi berbeda dengan subjek untuk data setelah intervensi.

Sebelum melakukan uji beda, mari kita menetapkan hipotesis 0 (H0) dan hipotesis alternatif. Prinsipnya, uji normalitas membandingkan data yang akan diuji dengan data distribusi normal. Hipotesis dalam uji ini ditampilkan dalam Tabel 5. Pada uji beda, kita akan membandingkan nilai p dengan nilai suatu konstanta. Pada tingkat kepercayaan 95%, kita akan membandingkan nilai p dengan angka 0,05. Apabila nilai p>0,05 maka hipotesis nol (H0) diterima. Sebaliknya, apabila nilai p<0,05 maka hipotesis nol (H0) ditolak dan otomatis hipotesis alternatif (Ha) yang diterima.

Hipotesis 0 (H0)

Tidak ada perbedaan antara data sebelum intervensi dan setelah intervensi.  

Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada perbedaan antara data sebelum intervensi dan setelah intervensi.  

Tabel 5 Hipotesis dalam uji beda.

Setelah menetapkan kedua hipotesis, kita dapat langsung melakukan uji beda dengan memerintahkan SPSS untuk melakukan uji independent sample t-test. Hasil uji beda tersebut akan nampak seperti pada Tabel 6.

art4jan

Tabel 6 Hasil uji independent sample t-test.

Perhatikan angka yang dicetak tebal (0,016). Nilai p tersebut <0,05 sehingga hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Hal tersebut berarti ada beda secara signifikan pada kedua kelompok. Dengan kata lain, data setelah intervensi berbeda secara signifikan dengan data sebelum intervensi.

Interpretasi

Proses analisis yang dijelaskan di atas merupakan salah satu contoh penerapan statistika dalam pengelolaan rumah sakit. Dalam hal ini, secara khusus adalah pengelolaan mutu pelayanan rumah sakit. Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Walau demikian, karena pengelolaan rumah sakit bersandar pada sumber-sumber ilmiah tertentu, maka interpretasi atas apa yang telah diterapkan oleh statistika tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Ketika melakukan analisis terhadap data sebelum intervensi, tim mutu di rumah sakit dibiasakan untuk memakai metode tertentu seperti metode tulang ikan atau 5-why’s. Diagram tulang ikan biasa mengungkap berbagai faktor kontributor terhadap suatu masalah. Dalam ilustrasi kasus di atas, dijelaskan ada dua faktor yang menyebabkan waktu tunggu persiapan rawat inap, yaitu panjangnya proses administrasi dan masalah pengantaran atau penjemputan pasien.

Ketika dua masalah tersebut dipecahkan secara konsisten, pengukuran pada bulan berikutnya menunjukkan penurunan waktu tunggu persiapan rawat inap yang yang signifikan secara statistik. Statistika menjelaskan sampai di sini. Apakah penurunan secara signifikan ini akibat intervensi yang dilakukan? Analisis statistik yang tadi dilakukan tidak sepenuhnya bisa menjelaskan. Secara akal sehat, penurunan tersebut sangat mungkin akibat intervensi yang kita lakukan. Mengapa demikian?

Dengan asumsi bahwa penelusuran penyebab lamanya waktu tunggu persiapan rawat inap dilakukan dengan teliti dan sah (benar), maka penyebab yang ditemukan (atau faktor kontributornya) pun juga sahih. Apabila faktor penyebab (atau kontributor) tersebut diatasi, maka secara logis waktu tunggu persiapan rawat inap akan berkurang. Inilah yang kemungkinan besar terjadi pada kasus ini. Dalam kerangka pengelolaan mutu di sistem mikro rumah sakit, interpretasi ini lebih sahih daripada klaim yang hanya berdasarkan naik atau turunnya grafik.

Interpretasi juga dapat dilakukan dengan mencari sumber bukti yang terpercaya mengenai suatu masalah. Misalnya penurunan kejadian infeksi daerah operasi setelah intervensi penggunaan desinfektan baru yang berbasis bukti (evidence-based). Apabila desinfektan yang disarankan suatu penelitian sahih diterapkan, maka penurunan angka infeksi daerah operasi yang mengikutinya merupakan dampak langsung dari penerapan tersebut.

Penutup

Analisis statistik seperti yang diuraikan dalam tulisan ini belum jamak diterapkan dalam pengelolaan mutu di rumah sakit. Bila akan diterapkan pun, seringkali diperoleh kekeliruan dalam pemilihan uji statistik sehingga hasilnya tidak sahih digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh manajemen rumah sakit. Diharapkan setelah membaca tulisan ini, tim pengelola mutu di rumah sakit dapat secara rutin menerapkan statistika lebih dalam untuk menganalisis indikator mutu rumah sakit.

Penulis

Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis yaitu dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H. Penulis adalah dokter, pernah memimpin instalasi gawat darurat rumah sakit swasta di Yogyakarta. Saat ini penulis merupakan peserta pendidikan dokter spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

 

{jcomments on}

Pahami Variasi Proses untuk Perbaikan Berkelanjutan

Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mengharuskan sektor pelayanan kesehatan untuk terus berbenah guna meningkatkan daya saing. Langkah awal perbaikan berkelanjutan adalah dengan memahami variasi proses dalam pelayanan kesehatan.

Penyedia layanan kesehatan kini dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan. Perbaikan yang dilakukan harus berbasis fakta lapangan yang diterjemahkan dalam bentuk data. Data terpercaya yang dikumpulkan dengan metode yang baik selanjutnya diterjemahkan menjadi informasi yang berguna untuk mengambil keputusan dan mengubah suatu proses pelayanan kesehatan menjadi lebih baik.

Suatu seri data biasanya akan menunjukkan peningkatan dan penurunan selama kurun waktu tertentu, misalnya jumlah pasien yang mengalami phlebitis di bangsal penyakit dalam setiap bulan selama kurun waktu satu tahun. Adanya peningkatan dan penurunan ini menunjukkan adanya variasi dalam proses pemberian layanan kesehatan.

Fisikawan, insinyur, sekaligus ahli statistik Walter Shewhart yang dikenal sebagai bapak quality control melalui teori yang dikemukakannya tahun 1931 mengungkapkan bahwa cara untuk memperbaiki suatu proses adalah dengan meminimalkan variasi, dan bila mungkin, mengarahkan keseluruhan proses ke tujuan yang ingin dicapai. Shewhart membedakan variasi menjadi dua jenis yaitu special cause variation dan common cause variation.

Common cause variation merupakan variasi random yang dapat terjadi karena berbagai faktor yang ada dalam suatu proses. Variasi yang terjadi merupakan ritme regular dari suatu proses dan menghasilkan suatu proses yang stabil atau ‘in control’. Seseorang dapat membuat prediksi yang sempit atau presisi dari proses yang hanya memiliki common cause variation.

Special cause variation disebabkan oleh suatu hal tidak biasa yang disebabkan karena adanya perubahan atau kejadian tertentu di luar sistem proses. Ketika suatu special cause terjadi, suatu proses akan berada di luar kendali atau ‘out of control’. Akan sangat sulit untuk melakukan prediksi outcome suatu proses akibat special cause variation.

Suatu proses yang baik memiliki variasi yang minimal. Namun, suatu proses produksi menggunakan mesin canggih sekali pun dapat saja memiliki variasi. Bisa kita bayangkan variasi yang dapat terjadi dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dilakukan oleh banyak orang.

Adanya variasi dalam suatu proses, baik itu common cause variation maupun special cause variation, tidak dapat dikatakan merupakan sesuatu yang baik maupun buruk. Special cause variation yang tidak direncanakan biasanya merupakan suatu hal yang tidak diinginkan. Namun, dalam upaya perbaikan proses, adanya suatu special cause variation merupakan suatu sinyal yang menandakan upaya perbaikan yang dilakukan berjalan dengan efektif.

Sebaliknya suatu proses bisa saja hanya memiliki common cause variation atau dikatakan stabil namun pada titik yang tidak dapat diterima. Sebagai contoh angka infeksi luka operasi (ILO) mencapai 40% ± 5% merupakan suatu sistem proses yang stabil tetapi tentu bukanlah angka yang diharapkan.

Identifikasi jenis variasi sangat penting karena perbaikan suatu proses membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk masing-masing tipe variasi. Pada suatu proses yang memiliki special cause variation, perbaikan dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengatasi special cause terlebih dahulu sebelum mengubah seluruh sistem. Untuk sistem proses dengan common cause variation perbaikan proses bertujuan untuk mempersempit variasi dan mengarahkan outcome menuju nilai yang diharapkan.

Banyak metode yang dapat digunakan untuk membedakan common cause variation dan special cause variation. Metode analisis seperti Shewhart (control) chart, cumulative summation charts, funnel plots dan run chart. Dari semuanya run chart merupakan metode sederhana namun dapat memberikan informasi penting terkait kinerja suatu proses. Sayangnya metode ini kurang banyak digunakan dalam dunia kesehatan.

Oleh : dr. Berli Kusuma

Sumber:

  1. Harrison S. Using run charts for healthcare improvement-an introduction. [internet]. September 2012 [cited: 19 October 2016].
  2. Perla RJ, Provost LP, Murray SK. The run chart: a simple analytical tool for learning from variation in healthcare processes. BMJ Qual Saf. 2011;20:46-51. doi:10.1136/bmjqs.2009.037895
  3. Berardinelli, Carl. A Guide to Control Charts. [internet]. January 2012 [cited: 19 October 2016]. 

 

{module [150]}

Hubungan Kontrol Asma dengan Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Dan Kesejahteraan

Asma adalah masalah kesehatan global yang serius dengan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan (Global Initiative for Asthma – GINA, 2012) karena dapat meningkatkan biaya pada saat perawatan kesehatan. Asma perlu mendapat perhatian karena penyakit asma dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan beban ekonomi. Pengetahuan tentang penyakit asma perlu diketahui masyarakat umum, sehingga ikut membantu dalam meminimalisasi faktor pencetus asma bagi penderitanya. Orang yang mengidap asma seringkali tidak bisa menjalani hidup normal dan produktif. Kemajuan terbaru dalam ilmu kesehatan memungkinkan seseorang untuk mengendalikan gejala-gejala yang dapat melumpuhkannya, karena hampir semua orang yang mengidap asma bisa menjalani hidup normal. Hal ini hanya dimungkinkan jika penderita mendapatkan perawatan yang teratur dan juga melakukan perawatan mandiri dalam mengatasi asma tersebut. Terapi pencegahan yang teratur adalah kunci untuk mengontrol asma.

Keberhasilan mengontrol penyakit asma butuh komitmen dari petugas kesehatan dan pasien itu sendiri untuk membuat rencana manajemen asma berkelanjutan yang meliputi diagnosa dan memilih obat yang tepat, mengidentifikasi dan menghindari pemicu serangan asma, mengedukasi pasien mengenai manajemen asma diri sendiri, serta memantau dan memodifikasi perawatan asma. Bila upaya yang dilakukan untuk menghindari faktor pencetus asma berhasil, maka gangguan asma pada penderita bisa dikendalikan. Kriteria klinis asma yang terkontrol, terlihat bila penderita bebas gejala asma, aktivitas sehari-harinya tidak terganggu asma, tidak lagi mengalami gangguan ketika tidur, tidak lagi menggunakan obat pelega lagi dan hasil pemeriksaan faal parunya normal.

Pengetahuan dan sikap penderita tentang perawatan asma rata-rata masih rendah. Hal ini ditandai dengan: penderita kurang memahami tentang penyakit asma, pengertian, faktor yang mempengaruhi timbulnya asma, hal-hal yang harus dilakukan untuk perawatan penyakit asma. Kurangnya kesadaran pada penderita untuk melakukan pola hidup sehat, olahraga, menjaga kebersihan lingkungan rumah sehingga banyak debu, tidak ada ventilasi dan kecenderungan untuk menutupi penyakitnya.

Dalam mengendalikan Asma sebagian besar pasien menggunakan obat pencegahan; yang mana mayoritas tidak terkontrol penggunaannya. Hanya sekitar 3,2% dari pasien melakukan pemantauan diri rutin di rumah pada aliran ekspirasi puncak dan 38% dari pasien melaporkan bahwa meskipun mereka memiliki peak flow meter, mereka tidak menggunakannya secara teratur. Untuk obat pencegahan sebanyak 55,7% dari pasien asma menggunakan inhaler dengan benar sedangkan 44,3% lainnya diperlukan pendidikan karena teknik inhalasi masih dirasa buruk.

Dalam sebuah penelitian yang ditemukan oleh Elena Gurkova et all (2015) dengan membedakan antara kontrol asma pada pasien dewasa yang dikontrol selama 6 bulan dan 12 bulan. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan yakni ada tingkat signifikan lebih tinggi dari kontrol asma pada pasien setelah 12 bulan dikontrol dibandingkan dengan orang-orang dalam 6 bulan masa tes. Beberapa studi telah meneliti hubungan antara kontrol asma dan kualitas hidup pada orang dewasa dengan asma, penelitian yang ada berfokus pada evaluasi pembangunan satu tahun kontrol asma dan dua pendekatan yang saling melengkapi untuk menilai kualitas hidup menggunakan health-related quality of life (HRQOL) dan subjective well-being (SWB). Kontrol asma hanya menyumbang 13% dari varians dalam SWB dan 64% di HRQOL, Hal ini menunjukkan bahwa dampak asma lebih besar pada komponen fungsi fisik HRQOL (gejala dan keterbatasan aktivitas) dari pada komponen mental atau emosional HRQOL (National Heart Lung dan Blood Institute, 2007) atau domain SWB. Dalam penetian yang ditemukan oleh Correira de Sousa et al. (2013) juga ditemukan bahwa ada hubungan yang kuat antara kontrol asma dan kualitas hidup dari pasien asma yang dirawat di praktek umum.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol asma, pada gilirannya mempengaruhi kualitas hidup yang terkait kesehatan. Faktor-faktor seperti harapan pasien yang rendah terhadap pengobatan, pentingnya gejala dan kurangnya kesadaran kontrol diidentifikasi sebagai penentu terkait pasien pada kontrol asma. Oleh karena itu, adanya kebutuhan untuk meningkatkan harapan pasien dengan meningkatkan kesadaran kualitas hidup yang dapat dicapai. Dari data yang ada dapat dilihat bahwa selama 12 bulan ada perubahan signifikan dalam domain fisik kualitas hidup (persepsi gejala dan tingkat aktivitas fisik). Perubahan dalam domain emosional kualitas hidup dan kepuasan hidup secara keseluruhan tidak signifikan. Temuan ini menekankan peran pemantauan rutin pada pasien yang dikontrol asma. Hal ini dapat menyebabkan partisipasi yang lebih aktif dari pasien dan meningkatkan harapan hidup mereka daripada hanya hasil terapi.

Oleh: Andriani Yulianti, MPH
Sumber: Gurkova E., et al. Relationship Between Asthma Control, Health-Related Quality Of Life And Subjective Well-Being In Czech Adults With Asthma. Cent Eur J Nurs Midw 2015;6(3):274–282 Doi: 10.15452/CEJNM.2015.06.0016
http://periodika.osu.cz/

{module [150]}

Mengukur Kaitan dan Dampak Antara Pemanfaatan Layanan / Fasilitas Kesehatan, Kondisi Lingkungan dengan Kualitas Hidup Penderita Asma

Penyakit Asma di Amerika Serikat masih dianggap sebagai persoalan serius. Hal itu tak lain karena masih tingginya jumlah penderita asma dan pengaruhnya yang signifikan terhadap kerentanan kualitas hidup 15-17 Juta penderita. Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi kondisi tersebut mencapai 12,7 miliar per tahun. Pada kelompok minoritas atau pada populasi yang mendiami daerah-daerah pinggiran yang marginal ditemukan banyak insiden, morbilitas hingga kematian yang disebabkan oleh Asma. East Harlem adalah salah satu contoh komunitas dengan angka rawat inap (hospitalization) tertinggi akibat Asma dengan angka kematian mencapai 10 kali di atas rata-rata nasional. Fakta tersebut membuat berbagai pihak melakukan upaya-upaya dengan pendekatan keilmuan untuk mengurangi jumlah penderita asma akut dan di sisi lain mengurangi penggunaan layanan kesehatan untuk menekan biaya.

Berdasarkan hasil studi sebelumnya, faktor risiko penyebab meningkatnya jumlah rawat inap penyakit asma meliputi faktor demografi, klinis, penggunaan obat-obatan yang tidak sesuai resep serta kondisi lingkungan sosial yang tidak mendukung. Diantara beberapa faktor risiko tersebut, yang paling konsisten dilaporkan dan muncul adalah faktor jenis kelamin, taraf sosial ekonomi yang rendah, dan konsumsi obat yang tidak sesuai resep. Di samping beberapa faktor utama tersebut, juga terdapat faktor lain seperti sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan dan kendala bahasa (komunikasi) dalam proses konsultasi, jika seluruh faktor tersebut dibiarkan dapat berpotensi tinggi pada penurunan kualitas kehidupan penderita asma. Singkatnya, dari berbagai pola kejadian yang berlangsung, dapat diamati bahwa terdapat korelasi antara faktor lingkungan, demografi, situasi pemanfaatan layanan kesehatan dan kualitas hidup penderita asma.

Dalam rangka memastikan hal tersebut dan menyajikannya dalam bentuk sebuah data ilmiah yang dapat dipertangunggjawabkan serta sebagai upaya menganalisis berbagai faktor utama yang dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup penderita asma. Maka, sebuah penelitian di Amerika dilakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data tentang pasien dari berbagai sudut pandang. Hal menarik dan sekaligus menjadi poin penting dalam penelitian ini tidak lain adalah fokusnya pada identifikasi berbagai faktor yang sekiranya dapat dimodifikasi dan pada akhirnya di intervensi untuk diubah melalui kebijakan atau cara-cara lain yang mungkin, guna mengurangi risiko penurunan kualitas hidup penderita asma. Mengingat situasi (faktor risiko) yang sama juga dapat dijumpai pada masyarakat Indonesia, tentu hal ini penting untuk diketahui yaitu bagaimana proses dan hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan untuk kasus penderita asma yang terdapat di Indonesia. Berikut uraian singkat tentang penelitian tersebut.

Substansi dari penelitian ini untuk menemukan faktor-faktor, hubungan antar faktor, serta kaitannya dengan resource utilization yang sekiranya dapat berpotensi pada penurunan kualitas hidup penderita asma. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan melakukan wawancara kepada 198 orang dewasa yang dirawat dengan diagnosa asma di beberapa rumah sakit di daerah pinggiran dalam periode satu tahun. Kegiatan wawancara dibagi menjadi beberapa tahapan, tahap pertama dalam wawancara dikumpulkan informasi detail mengenai kondisi sosiodemografi, sejarah asma penderita/responden (dapat berupa rekam medis), akses pada perawatan, jenis obat-obatan asma yang digunakan, dan aerolallergens. Tahap Kedua adalah mengumpulkan berbagai data yang tersedia pada resource utilization (unit emergensi rumah sakit dan unit admisi rumah sakit untuk asma), kemudian informasi tentang kaitan asma dan kualitas hidup penderita direkam selam 6 bulan sejak proses perawatan. Berbagai temuan data dalam beberapa tahapan wawancara tersebut diolah dengan pendekatan analisis univariat dan multivariat dalam statistik, untuk mengetahui/memprediksi pemanfaatan sumber daya (resource utilization), kondisi sosiodemografi dan kaitannya dengan kondisi kualitas hidup penderita asma.

Lokasi penelitian bertempat di Mount Sinai Hospital, total waktu penelitian yang dibutuhkan 1 (satu) tahun dengan kriteria responden berumur 18 tahun, dapat berbahasa Ingrris atau Spanyol, berkompeten memberikan persetujuan atau informasi tertentu, dan terdiagnosa mengidap asma sebagai alasan utama mendapatkan perawatan di Rumah Sakit bersangkutan. Sebelum seluruh proses collecting data dilakukan, seluruh staf peneliti dilatih teknik survei dan wawancara dalam bahasa Inggris atau Spanyol. Selama wawancara awal, pasien diminta menjawab serangkaian pertanyaan demografis yang meliputi jenis kelamin, usia, ras/etnis, tingkat pendidikan, status pekerjaan, bahasa utama yang digunakan, asuransi, dan pendapatan rumah tangga. Sementara untuk kondisi komorbiditas dilaporkan oleh pasien apakah ada atau tidak ada, seperti sinusitis kronis, penyakit gastroesophageal reflux, gagal jantung kongestif, bronkitis kronis, diabetes, depresi, dan kecemasan atau serangan panik.

Mengenai informasi tentang akses pada perawatan dievaluasi dengan pertanyaan tentang kesulitan mendapatkan seorang dokter atau perawat melalui telepon, membuat janji mendesak, atau mendapatkan obat untuk asma. Selain itu, pasien ditanya apakah mereka memiliki seorang dokter pribadi yang bertanggung jawab untuk mengelola asma mereka dan melaporkannya.

Dalam hal mendeteksi tingkat keparahan asma, penelitian ini menggunakan beberapa indikator, termasuk diantaranya penggunaan kronis kortikosteroid sistemik, frekuensi kunjungan rawat jalan atau rawat inap selama 12 bulan, dan riwayat intubasi endotrakeal. Penelitian tersebut juga mengumpulkan informasi mengenai regimen asma pasien, kualitas perawatan asma, kepatuhan yang dilaporkan, dan perilaku manajemen diri. Kemudian untuk mnegtahui salah satu bagian terpenting dalam penelitian, yakni pengaruh asma yang diderita dengan kualitas hidup, penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuisioner dengan nama Mini Asthma Quality of Life Questionnaire (AQLQ) yang dikembangkan oleh Juniper, dkk. Instrumen berupa kuisioner ini terdiri dari 15 pertanyaan yang terbagi menjadi 4 domain; keterbatasan aktivitas (activity limitations), gejala, kondisi/fungsi emosi, serta pengaruh lingkungan. Skor untuk setiap domain, serta skor komposit total, dapat berkisar dari 1 sampai 7, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik.

Seteleh diolah menggunakan aplikasi statistik, data-data yang dikumpulkan selama masa penelitian berlangsung berhasil membawa pada beberapa kesimpulan sesuai dengan pengelompokan domain analisis yang dibuat. Untuk kasus penelitian ini (yang diselenggarakan dari tahun 2001 hingga 2002), menghasilkan beberapa kesimpulan. Beberapa diantaranya, pada 6 bulan pertama penelitian, terdapat 49 % dari jumlah keseluruhan responden yang kembali mendapat perawatan di rumah sakit, baik rawat inap maupun rawat jalan. 49 % responden tersebut sebagian besar berasal dari golongan masyarakat dengan taraf ekonomi rendah. Kesimpulan ini relevan dengan fakta mengenai area epidemologi asma, yakni di daerah-daerah pinggiran, tempat dimana masyarakat berpendapatan rendah bermukim. Faktor pengaruh lain yang masuk dalam kesimpulan adalah bahwa sebagian besar dari 49 persen tersebut adalah tipikal pasien yang memiliki ketergantungan yang kuat pada obat-obat asma seperti oral steroid yang mereka gunakan dengan intensitas yang sangat tinggi.

Kecenderungan lain yang ditunjukkan dari hasil penelitian tersebut adalah bahwa jumlah penderita asma berjenis kelamin perempuan lebih sedikit jumlah kunjungan rawat inap maupun rawat jalannya. Perbandingan dengan pasien berjenis klamin laki-laki adalah 45% dan 63%). Sementara hasil penelitian yang berkaitan dengan jumlah penggunaaan pelayanan/fasilitas kesehatan (resorce utilization), menunjukkan bahwa perbedaan bahasa, ras, warna kulit dan jenis klamin tidak berkaitan dengan tinggi rendahnya jumlah penggunaan resource utilization. Kesimpulan penting lain yang dapat dicatat dari hasil penelitian tersebut yakni relasi antara tingkat keparahan dan jumlah kunjungan (baik rawat jalan maupun rawat inap) dengan kondisi alergi pasien. sebagain besar dari jumlah pasien dengan asma akut dan sering melakukan kunjangan perawatan adalah pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap hewan tertentu, terutama kecoak.

Beberapa kesimpulan tersebut menunjukan pada dua kecenderungan utama, yakni terdapat hubungan yang kuat antara tingginya jumlah pengidap asma akut dengan rendahnya taraf ekonomi dan buruknya kondisi lingkungan. Hasil penelitian ini menggambarkan kondisi umum maupun realitas yang melingkupi kasus asma yang terjadi di Amerika Serikat. Beberapa konisi dan kecendrungan dalam kesimpulan yang menjadi hasil penelitian dapat digolongkan sama dengan apa yang dapat kita jumpai di Indonesia, dan tentu terdapat pula perbedaan yang signifikan. Kecendrungan kesamaan kondisi yang dimaksud misalnya bahwa di Indonesia juga terdapat realitas masyarakat dengan taraf ekonomi dan kondisi lingkungan yang buruk. Tak hanya itu, kendala perbedaan bahasa dan komunikasi dalam interaksi antara tenaga medis dan pasien sering menjadi kendala sebuah proses diagnosa atau pengobatan yang optimal juga terjadi di Indonesia. Dalam serangkaian realitas dan konteks tersebutlah menjadi cukup relevan untuk meletakkan dan mengkaji proses hingga hasil penelitian tersebut diatas sebagai referensi yang memperkaya wawasan, sudut pandang dan wacana keilmuan dalam konteks penanggulangan penyakit asma.

Oleh : Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH
Sumber: Wisnivesky, et al. Predictors of asthma-related health care utilization and quality of life among inner-city patients with asthma. 2005. Allergy ClinImmunol Vol. 116, Number 3.

{module [150]}

Model Penelitian “Mixed Method Evaluation”

(Sebuah Alat Ukur Optimalisasi Pelaksanaan Audit Keselamatan Pasien dan Metode Evaluasi Sistem Audit)

Apa yang secara umum dan selama ini kita pahami sebagai faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan mutu pelayanan kesehatan serta tingkat keselamatan pasien hanya berkisar pada tata kelola/manajemen penyedia layanan kesehatan, kompetensi tenaga medis, fasilitas, peralatan medis dan kemutakhiran teknologi medis. Hal tersebut menjadi wajar jika terdapat faktor di luar pemahaman umum tersebut belum mendapat perhatian yang semestinya di lingkungan medis Indonesia. Adapun faktor yang dimaksud adalah audit keselamatan pasien.

Audit keselamatan pasien, terlepas dari urgensi fungsinya secara teoritik memang belum tergolong dalam jenis isu atau diskursus yang cukup populer serta belum ditanggapi secara memadai dalam dunia medis di Indonesia. Penyebab ketidakpopuleran tersebut adalah perhatian khalayak umum yang cenderung hanya tertuju pada isu-isu dan persoalan medis konvensional, juga disebabkan oleh karaguan dan pesimisme banyak pihak akan keseriusan pelaksanaannya serta potensi outcome yang dapat secara konkrit dihasilkan. Model pelaksanaan audit yang bersifat internal serta jangkauan publikasi hasil audit yang terbatas bagi kalangan sendiri (internal rumah sakit), berikut minimnya hasil-hasil nyata yang dapat dirasakan secara langsung dalam konteks perbaikan mutu pelayanan serta kemajuan sistem prevensi medical error, kerap mengundang kecurigaan tentang pelaksanaan audit yang hanya bersifat formalitas dan seadanya. Meskipun hal ini tentu saja tidak berlaku universal, namun dapat dikatakan bahwa sebagian besar rumah sakit di Indonesia memang belum mampu menunjukkan performa pelayanan yang prima.

Berbagai indikasi atau kecurigaan di atas tentu belum cukup dijadikan pijakan untuk menarik suatu kesimpulan apalagi menilai baik-buruknya pelaksanaan audit rumah sakit di Indonesia. Diperlukan setidaknya beberapa tahapan pengujian yang sistematis dan terukur serta dilandaskan pada metodologi berikut instrumen (alat uji) yang jelas. Dengan kata lain, diperlukan satu rangkaian penelitian yang mencakup keseluruhan aspek dalam pelaksanaan audit untuk menarik kesimpulan sekaligus memberikan masukan atau rekomendasi evaluasi sistem audit, dan terpenting dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Walaupun demikian, di samping penelitian pendekatan komparatif antara praktik pelaksanaan audit dengan apa yang secara teoritik ditetapkan sebagai model atau pola audit yang ideal dapat dilakukan sebagai bentuk tahapan awal untuk setidaknya mendapat gambaran berupa satu kesimpulan sementara (hipotesis).

Cara kerja pendekatan komparatif misalnya dapat dilakukan dengan menyusun daftar pertanyaan-pertanyaan perivikatif yang berkaitan dengan sifat dan prinsip-prinsip dasar pelaksanaan audit yang ideal secara teoritik. Cara ini bertujuan untuk mendeteksi tingkat kesesuaian antara pelaksanaan audit dengan ketetapan prinsip-prinsip teoritik sebuah audit yang ideal. Adapaun prinsip-prinsip dasar ideal yang perlu diketahui sebagai sifat sebuah pelaksanaan audit yang baik meliputi independensi, objektivitas, verifikasi ketersediaan sistem konsultasi mengenai resiko kerugian pasien, dan terpenting audit yang baik harus mampu mendorong kesinambungan peningkatan peluang keselamatan pasien. Sementara, list pertanyaan dapat mencakup objektivitas tim auditor, independensi tim auditor, sejauh mana hasil audit yang berupa outcomes ditindaklanjuti dan dikonversi menjadi kebijakan atau agenda evaluasi, hingga pada pertanyaan yang berkaitan dengan tindakan nyata yang dilakukan pihak manajemen/decission maker paska audit. Selanjutnya jawaban-jawaban yang diperoleh dari list pertanyaan yang diajukan tersebut dikomparasikan dengan standar ideal teoritik yang ditetapkan sebelumnya, untuk selanjutnya diolah sebagai bahan penarikan hipotesis. Cara ini cukup valid untuk sekedar melihat kecenderungan keseuaian das sein dan das sollen.

Sebelum lebih jauh masuk pada ulasan tentang pengujian audit yang berbasis pada penelitian. Beberapa hal yang penting untuk diketahui bersama guna menciptakan persepsi yang sebangun tentang audit internal adalah kriteria-kriteria apa saja yang harus dipenuhi sebagai pra syarat guna menciptakan suatu sistem audit internal yang baik. Kriteria pertama adalah persepsi yang tepat dalam memaknai istilah “internal” pada konteks audit keselamatan pasien. Merujuk pada jurnal yang dipublikasikan BMC Health Services Research (2013), istilah internal tidak serta merta dapat dimaknai sebagai pelaksanaan audit yang laik disangsikan tingkat objektivitas penilaiannya karena dilakukan oleh rekan sejawat pada satu departemen atau instansi yang sama. BMC Health Service Research juga menetapkan definisi istilah “internal” sebagai beberapa orang/staf yang berasal dari departemen atau istansi yang sama yang telah dibekali kompetensi/kecakapan di bidang audit dari pelatihan yang diselenggarakan oleh instansi bersangkutan, tetapi memiliki ruang kerja yang spesifik (kerja auditing) pada badan tersendiri yang bersifat independen sekaligus memiliki otoritas tertentu. Artinya sebuah proses audit internal dikatakan memenuhi salah satu syarat, apabila model pengaturan kelembagaan yang berkaitan dengan kerja audit menyerupai definisi sebagaimana diuraikan oleh BMC Health Service Research tersebut. Sementara pra-syarat lain yang harus dipenuhi terkait pelaksanaan audit internal adalah pelibatan healthcare professional pada tahap evaluasi paska audit. Sudahkah kriteria dan pra-syarat tersebut dipenuhi dalam pelaksanaan audit internal keselamatan pasien di Indonesia?

Lebih lanjut, melalui artikel ini penulis berinisiatif memperkenalkan satu model pendekatan penelitian yang di samping berfungsi sebagai alat uji dan sarana penilaian/penarikan kesimpualan, juga secara bersamaan dapat dimanfaatkan/difungsikan sebagai instrumen evaluasi suatu sistem audit. Inisiatif ini berangkat dari kondisi serta berbagai persoalan umum yang masih kerap terjadi dalam dunia kesehatan di Indonesia. Sebagaimana telah disinggung di awal artikel ini, audit internal dalam konteks keselamatan pasien kerap direspon dan ditanggapi secara apriori oleh banyak kalangan. Penyebabnya bisa sangat beragam, salah satu yang paling penting adalah berkaitan dengan sistem dan mekanisme pelaksanaan audit internal yang urung menimbulkan keyakinan publik terkait objektivitas dan urgensi hasilnya. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa ragam situasi dan persoalan-persoalan tersebut masih berada pada wilayah yang sangat kabur. Oleh karena itu, upaya penulis memperkenalkan suatu model penelitian dan instrumet evaluasi ini dapat dikatakan sebagai usaha untuk menarik persolan tersebut pada ruang diskursus akademik yang lebih terang.

Mixed Method Evaluation

Mixed method Evaluation dilakukan dengan menggabungkan instrumen pengukuran kualitatif dan kuantitatif untuk mengukur beberapa hasil audit pada tingkat yang berbeda, yakni: pengaruh pada tingkat keselamatan pasien, perubahan/peningkatan kinerja tenaga profesional/tenaga medis, dan pengaruh terhadap kelembagaan/organisasi. Peneliti menggunakan instrumen secara luas diterapkan dan diteliti secara mendalam untuk mengukur efek samping, pengalaman pasien, kerja tim, dan budaya keselamatan pasien di antara penyedia layanan kesehatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem audit untuk memantau dan meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit. Desain penelitian ini menentukan waktu untuk tahapan pengambilan data selama 18 bulan yang dibagi menjadi 2 tahapan waktu, tahapan pertama yakni proses pengumpulan data selama 3 bulan sebelum dilakukan audit hingga audit dimulai sedangkan tahapan kedua dilakukan proses pengumpulan data setelah proses audit selesai hingga 15 bulan berikutnya. Data primer yang dikumpulkan berupa efek samping dan komplikasi. Data sekunder berupa pengalaman pasien, rasio standar kematian, pasien rawat inap, budaya keselamatan pasien, dan iklim tim. Data-data lain yang dikumpulkan berupa ulasan rekam medis, kuesioner, data administrasi rumah sakit, dan pengamatan untuk menilai hasil.

Tujuan spesifik dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek dari audit pada hasil keselamatan pasien dan kinerja penyedia layanan kesehatan. Pertanyaan utama penelitian adalah :

  1. Apakah audit berpengaruh pada peningkatan keselamatan pasien dan peningkatan profesionalitas pelayanan rumah sakit?
  2. Apa saja yang mendasari proses dan mekanisme efek keselamatan pasien pada saat audit dilakukan?

Metode dan instrumen yang digunakan dalam sistem audit

sistem audit

metode

Instrumen

pengukuran

Mempelajari kebijakan dan kualitas indikator

Alat penilaian diri secara online berdasarkan standar praktek hukum, nasional, dan profesional

wawancara semi-terstruktur dari penyedia layanan kesehatan

Bentuk standar wawancara

pengamatan sistematis (diskusi misalnya dokter komplikasi dan handover pasien)

Bentuk standar observasi

Kuesioner tentang tim fungsi penyedia layanan kesehatan

Inventarisasi Iklim Kerja Tim

Umpan balik dari hasil audit oleh presentasi dan laporan

Ulasan catatan pasien untuk mengukur efek samping

Record Standarisasi bentuk review berdasarkan protokol awalnya dikembangkan oleh Harvard Praktik Kedokteran Studi

Penilaian kualitas catatan pasien medis dan keperawatan

Bentuk Standarisasi penilaian

Penilaian dari manajemen dokumen (misalnya protokol dan prosedur) dan ditetapkan dalam pedoman kepatuhan

Bentuk penilaian Standarisasi sebagian didasarkan pada instrumen SETUJU

Tindak lanjut: meninjau kembali 15 bulan setelah audit untuk memantau perbaikan

Penilaian dan penilaian kualitas konsultasi dan kolaborasi dengan mitra internal dan eksternal utama

Appraisal Standarisasi dan penilaian kuesioner

 Metode dan instrumen untuk mengukur efek dari audit

variabel hasil

Sumber data

Frekuensi (jenis) pengukuran dan ukuran sampel per pengukuran

Saat pengukuran

Unit analisis

hasil utama

Efek samping dan komplikasi

Retrospektif rekam pasien berdasarkan protokol awalnya dikembangkan oleh Harvard Praktik Kedokteran Studi

2 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 400

– 3 bulan; + 15 bulan

Sabar

hasil sekunder

pengalaman pasien

Berkualitas indeks konsumen kuesioner berdasarkan Penilaian konsumen dari Penyedia Kesehatan dan Sistem

3 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 800

– 3 bulan; + 9 bulan dan 15 bulan

Sabar

Angka kematian Standarisasi

Data administrasi rutin rumah sakit

Terus (time series) n = 233 *

Bulanan

Sabar

rumah sakit berkepanjangan tinggal

Rutin Data administrasi rumah sakit

Terus (time series) n = 3268 **

Bulanan

Sabar

iklim tim

Inventarisasi tim Iklim [ 18 ]

2 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 132 ***

– 3 bulan; + 15 bulan

Profesional atau tim

budaya keselamatan pasien

Survei rumah sakit pada Pasien Budaya Keselamatan

2 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 132 ***

– 3 bulan; + 15 bulan

Profesional

 

Keselamatan berjalan arounds

2 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 8

– 3 bulan; + 15 bulan

Departemen

* Jumlah pasien di delapan departemen yang meninggal pada tahun 2012.
** Jumlah penderita lama tinggal pada tahun 2012 di delapan departemen.
*** Rata jumlah penyedia layanan kesehatan klinis per departemen.

Oleh: Eva Tirta Bayu Hasri, S.Kep, MPH.
Sumber: Hanskamp-Sebregts et al. Effects of auditing patient safety in hospital care: design of a mixed-method evaluation . BMC Health Services Research 2013, 13:226

http://www.biomedcentral.com/1472-6963/13/226 

{module [150]}

Tumor, Mioma, dan Kista: Penjelasan dan Penanganannya

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kesalahan prosedur medis pada masyarakat khususnya perempuan, dr Aria Wibawa, ahli kebidanan dan kandungan dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta mencoba menjelaskan tentang: tumor, mioma, dan kista. Dimulai dengan istilah tumor yang arti sebenarnya adalah benjolan. Dalam tubuh, benjolan dibedakan dalam kategori:

  1. Benjolan normal (fisiologis) contohnya suatu kehamilan.
  2. Benjolan tidak normal.

Maka kata tumor secara umum (termasuk oleh dokter dan orang awam) diartikan sebagai: benjolan yang tidak normal. Tumor bisa berada di mana saja di organ/ jaringan tubuh. Tumor dapat dibedakan dari sifat jaringannya dalam kategori: padat, cair (yang ini sering juga disebut kista) serta campuran padat dan cair. Tumor juga dibedakan dari sifat dan kemampuannya merusak/menyebar dalam kategori antara lain jinak, 0 ganas (yang ini sering juga disebut kanker) dan borderline (antara jinak dan ganas).

Salah satu jenis tumor padat adalah mioma (di masyarakat dikenal dengan sebutan miom). Mioma adalah tumor padat yg berasal dari jaringan ikat. Nama lainnya adalah fibroid. Mioma atau fibroid paling sering lokasinya adalah di rahim (uterus), hanya sebagian kecil yang lokasinya di indung telur (ovarium). Mioma adalah tumor dengan kategori jinak (bukan kanker). Namun demikian, ada sebagian kecil dari mioma yang dapat berubah sifat menjadi tumor ganas (sangat sedikit: kurang dari 0.5%). Apabila seorang perempuan, mengidap mioma, maka tidak harus (selalu) dilakukan tindakan operatif atau pengangkatan. Pengangkatan tergantung dari beberapa hal seperti: ukuran, lokasi, jumlah dan apakah menimbulkan komplikasi (keluhan) atau tidak.

Kista artinya suatu benjolan yg berisi cairan yang bisa berada di mana saja di organ atau jaringan tubuh. Sementara yang dimaksud dan yang paling sering dibicarakan pada perempuan adalah kista yang lokasinya di ovarium (indung telur), maka disebut kista ovarium. Secara garis besar kista ovarium dibagi menjadi kategori normal dan tidak normal. Kista yang tidak normal dibagi menjadi kategori jinak, ganas dan borderline. adalah jaringan normal ovarium yang membentuk gambaran kista. Cirinya hilang timbul sesuai siklus haid Kista normal. Contohnya kista folikel, kista lutein atau kista rubrum. Tidak perlu dilakukan tindakan apapun untuk penanganan kista ini. Bahkan bisa dikatakan jika tidak ada malah tidak normal.

Kemudian, ada beberapa jenis, umumnya menetap dan dapat membesar. Bahkan, sebagian dapat menimbulkan kista abnormal jinak keluhan dan gangguan fungsi reproduksi. Contohnya kista endometriosis (kista coklat), kista dermoid dan sebagainya. Walaupun tidak mengancam jiwa, kista jenis ini terkadang memerlukan tindakan medis atau pengangkatan tergantung berbagai situasi klinis pasien. Sementara, kista abnormal ganas (kanker) adalah pertumbuhan jaringan yg tidak terkendali yang berpotensi invasi, merusak dan menyebar ke organ lain. Kista jenis ini mengancam jiwa, jadi harus sesegera mungkin dilakukan prosedur tindakan medis yg sesuai (biasanya tergantung stadium). Semakin dini stadiumnya, angka kesembuhan semakin baik. Jadi jika seorang perempuan dikatakan mengidap kista, jangan kuatir dulu apalagi langsung mengambil tindakan operatif, pastikan dulu jenisnya. Perempuan tidak perlu kuatir dengan Jenis kista normal namun HARUS kuatir terhadap tumor atau kista yang bersifat ganas (kanker) atau tumor jinak yang berpotensi mengganggu fungsi reproduksi.

Lalu, bagaimana caranya agar perempuan dapat menghindari atau mendeteksi (mengetahui) tumor ganas (kanker) organ reproduksi? Berikut beberapa tipsnya:

  1. Terapkan pola hidup yang sehat.
    Hindari pemakaian narkoba suntik serta pola kehidupan seksual yang abnormal karena sangat berisiko meningkatkan penyakit dan kanker organ reproduksi.
  2. Berhati-hati memilih pasangan hidup atau pasangan seksual.
    Sebagian kasus (cukup besar persentasenya) HIV, kerusakan fungsi reproduksi dan kanker organ reproduksi bukan disebabkan pasien yang bermasalah pola hidupnya, namun disebabkan pasangan seksualnya yang bermasalah karena mempunyai pola kehidupan seksual abnormal atau gaya hidup abnormal. Bahkan jika hal tersebut terjadi di masa lalu. Ironisnya, terkadang saat pasien sudah menderita penyakit, pasangannya (yang menyebabkan) tersebut sudah tidak dapat mendampingi lagi karena bercerai atau meninggal lebih dahulu.
  3. Secara rutin memeriksakan diri ke dokter yang kompeten, walaupun tidak ada keluhan. Pemeriksaan yang dianjurkan adalah paps smear dan ultrasonografi (USG) agar transvaginal bisa lebih detail setidaknya setahun sekali.
  4. Perhatikan pola siklus haid.
    Perubahan pola siklus haid, perdarahan di luar siklus haid dan keluarnya cairan abnormal dari kemaluan merupakan salah satu tanda kanker dari rahim.
  5. Perhatikan bentuk/ kontur badan terutama daerah sekitar perut. Kanker ovarium pada stadium dini sering kali tanpa gejala. Adanya benjolan abnormal atau perut yang membesar harus diwaspadai sebagai salah satu gejala kanker ovarium.
  6. Jika telah terdeteksi adanya suatu tumor atau kanker, carilah informasi sebanyak mungkin (second opinion) atau pengobatan pada sumber yang kompeten dan dapat dipercaya. Pengobatan alternatif yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya hanya akan membuang waktu, biaya dan dapat membuat kondisi lebih parah sehubungan dengan kemampuan sel kanker yang progresif invasi atau menyebar ke organ lain.

Semoga bermanfaat, senangnya berbagi…

Oleh: dr. Aria Wibawa

{module [150]}