Menganalisis Indikator Mutu Rumah Sakit – Bagian 1

Pendahuluan

Pada kesempatan yang lalu, penulis pernah membagikan ide mengenai penyusunan indikator mutu rumah sakit dan penyajian indikator mutu rumah sakit. Walaupun keduanya sudah cukup untuk karya sehari-hari, tidak ada salahnya bila para manajer dan pemimpin sistem mikro di rumah sakit menambahkan analisis secara statistika terhadap pengukuran indikator mutu tersebut.

Analisis ini diharapkan menjadi insight apakah intervensi yang dilakukan untuk memperbaiki nilai indikator mutu sudah adekuat. Analisis ini juga akan merangsang para pemimpin sistem mikro di rumah sakit beserta tim untuk terbiasa melakukan penelitian. Tim yang terbiasa melakukan penelitian akan mudah mengembangkan diri karena senantiasa menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apakah usaha ini sudah cukup signifikan?”

Pada tulisan bagian pertama ini, penulis mengajak pembaca untuk menyimak salah satu contoh analisis data sebelum dan setelah intervensi pada indikator mutu rumah sakit dengan tipe data kontinyu. Indikator yang digunakan dalam mengilustrasikan contoh analisis data ini adalah: waktu tunggu masuk ruang perawatan.

Ilustrasi Kasus

Rumah Sakit “Pantai Bahagia” menetapkan salah satu indikator mutu pelayanan ruang persiapan rawat inap adalah “waktu tunggu masuk ruang perawatan”. Rumah sakit ini mengukur waktu yang diperlukan sejak bagian admisi (tempat penerimaan pasien) menentukan ruang perawatan bagi pasien sampai dengan pasien diantar dari ruang persiapan rawat inap. Semakin besar angka yang diukur dalam menit ini, semakin lama pula pasien menunggu di ruang persiapan rawat inap dan meningkatkan potensi penuhnya ruang persiapan rawat inap.

Disepakati pula bahwa tidak semua kasus akan diukur, hanya sepuluh pasien pertama di ruang persiapan rawat inap setiap tanggal 1 bulan baru saja yang diukur. Waktu diukur dalam satuan menit dan dicatat untuk disajikan dan dianalisis. Hasil pengukuran bulan pertama disajikan dalam Tabel 1.

No. Sampel

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Rerata

Waktu tunggu
(menit)

75

67

45

46

52

36

92

88

73

65

63,9

Tabel 1 Hasil pengukuran waktu tunggu persiapan rawat inap.

Tim ruang persiapan rawat inap mendiskusikan hasil pengukuran ini. Hasilnya, beberapa proses administrasi bisa dipersingkat. Meski demikian, ada satu kendala yang tidak dapat diputuskan solusinya. Rumah sakit ini mengatur bahwa ruang persiapan rawat inap tidak dapat memobilisasi pasien, harus menunggu dijemput dari ruang perawatan yang dituju. Perawat penjemput ini sering datang lambat sehingga pasien menumpuk di ruang persiapan rawat inap.

Akhirnya kepala ruang persiapan rawat inap mengusulkan kepada direktur agar pasien dapat dimobilisasi dari ruang persiapan rawat inap oleh perawat persiapan rawat inap ditemani satu orang petugas transporter atau petugas keamanan. Direktur setuju, sehingga ruang persiapan rawat inap secara resmi mengerjakan dua macam perbaikan, yaitu proses administrasi yang dipersingkat dan perubahan mobilisasi pasien. Mereka menargetkan rerata waktu tunggu kurang dari 40 menit. Hasil pengukuran satu bulan setelah intervensi disajikan dalam Tabel 2.

No. Sampel

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Rerata

Waktu tunggu
(menit)

54

17

36

34

61

24

53

44

72

25

42

Tabel 2 Hasil pengukuran waktu tunggu persiapan rawat inap setelah intervensi.

Sekilas dari perhitungan rerata didapatkan bahwa intervensi tempo hari membuahkan hasil penurunan rerata waktu tunggu persiapan rawat inap namun belum mencapai target. Muncul pertanyaan apakah intervensi yang dilakukan sudah secara signifikan memperbaiki kondisi atau belum. Di sinilah peran analisis statistik.

Analisis Statistik

Analisis statistika dapat dilakukan dengan penghitungan manual atau dengan menggunakan perangkat lunak. Berbagai perangkat lunak tersedia baik yang berbayar maupun yang gratis, karena penulis ingin mendorong pengujian secara statistik ini dilakukan secara rutin, maka disarankan menggunakan program analisis statistik yang mudah dan umum digunakan seperti misalnya SPSS. Dalam tulisan ini tidak akan dijelaskan langkah demi langkah analisis dalam program analisis statistik. Penjelasan mengenai hal tersebut jamak ditemukan lewat mesin pencari daring (online). Data mentah yang ada dimasukkan ke dalam program analisis statistik tersebut.

Langkah pertama dalam analisis data indikator ini adalah menentukan tipe data. Penjelasan mengenai tipe data dapat dibaca kembali pada tulisan sebelumnya mengenai penyajian indikator mutu rumah sakit (https://mutupelayanankesehatan.net/index.php/19-headline/2048-menyajikan-indikator-mutu-rumah-sakit). Dari keterangan tersebut, kita mengetahui bahwa data kuantitatif indikator waktu tunggu persiapan rawat inap ini adalah data kontinyu. Umumnya, data kontinyu dianalisis menggunakan statistik parametrik apabila datanya terdistribusi normal.

Untuk mengetahui apakah data tersebut terdistribusi normal atau tidak, mari kita menetapkan hipotesis 0 (H0) dan hipotesis alternatif. Prinsipnya, uji normalitas membandingkan data yang akan diuji dengan data distribusi normal. Hipotesis dalam uji ini ditampilkan dalam Tabel 3.

Hipotesis 0 (H0)

Tidak ada perbedaan antara data yang akan diuji dengan data distribusi normal.

Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada perbedaan antara data yang akan diuji dengan data distribusi normal.

Tabel 3 Hipotesis dalam uji normalitas.

Dalam program SPSS, lakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov yang ada dalam menu analisis non parametrik. Hasil analisis yang dilakukan program analisis statistik ditampilkan dalam Tabel 4.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

 

Waktu Tunggu

N

20

Normal Parametersa,,b

Mean

52.9500

Std. Deviation

21.08997

Most Extreme Differences

Absolute

.089

Positive

.089

Negative

-.067

Kolmogorov-Smirnov Z

.399

Asymp. Sig. (2-tailed)

.997

Tabel 4 Hasil uji normalitas.

Dalam tabel hasil uji normalitas tersebut, perhatikan nilai yang dicetak tebal (0,399). Karena nilai tersebut >0,05, maka hipotesis 0 (H0) diterima sehingga tidak ada beda antara data yang diuji dengan data terdistribusi normal. Dengan kata lain, data indikator tersebut adalah data terdistribusi normal sehingga analisis statistik dapat dilanjutkan dengan statistik parametrik.

Langkah kedua dalam analisis statistik adalah menguji beda rerata antara kedua kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan pertama (sebelum intervensi) dan kelompok perlakuan kedua (setelah intervensi) dianalisis bedanya dengan independent sample t-test. Mengapa tidak dianalisis dengan paired sample t-test? Walaupun analisis ini akan menguji beda sebelum dan setelah intervensi, tidak ada subjek penelitian yang diukur dua kali. Subjek untuk data sebelum intervensi berbeda dengan subjek untuk data setelah intervensi.

Sebelum melakukan uji beda, mari kita menetapkan hipotesis 0 (H0) dan hipotesis alternatif. Prinsipnya, uji normalitas membandingkan data yang akan diuji dengan data distribusi normal. Hipotesis dalam uji ini ditampilkan dalam Tabel 5. Pada uji beda, kita akan membandingkan nilai p dengan nilai suatu konstanta. Pada tingkat kepercayaan 95%, kita akan membandingkan nilai p dengan angka 0,05. Apabila nilai p>0,05 maka hipotesis nol (H0) diterima. Sebaliknya, apabila nilai p<0,05 maka hipotesis nol (H0) ditolak dan otomatis hipotesis alternatif (Ha) yang diterima.

Hipotesis 0 (H0)

Tidak ada perbedaan antara data sebelum intervensi dan setelah intervensi.  

Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada perbedaan antara data sebelum intervensi dan setelah intervensi.  

Tabel 5 Hipotesis dalam uji beda.

Setelah menetapkan kedua hipotesis, kita dapat langsung melakukan uji beda dengan memerintahkan SPSS untuk melakukan uji independent sample t-test. Hasil uji beda tersebut akan nampak seperti pada Tabel 6.

art4jan

Tabel 6 Hasil uji independent sample t-test.

Perhatikan angka yang dicetak tebal (0,016). Nilai p tersebut <0,05 sehingga hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Hal tersebut berarti ada beda secara signifikan pada kedua kelompok. Dengan kata lain, data setelah intervensi berbeda secara signifikan dengan data sebelum intervensi.

Interpretasi

Proses analisis yang dijelaskan di atas merupakan salah satu contoh penerapan statistika dalam pengelolaan rumah sakit. Dalam hal ini, secara khusus adalah pengelolaan mutu pelayanan rumah sakit. Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Walau demikian, karena pengelolaan rumah sakit bersandar pada sumber-sumber ilmiah tertentu, maka interpretasi atas apa yang telah diterapkan oleh statistika tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Ketika melakukan analisis terhadap data sebelum intervensi, tim mutu di rumah sakit dibiasakan untuk memakai metode tertentu seperti metode tulang ikan atau 5-why’s. Diagram tulang ikan biasa mengungkap berbagai faktor kontributor terhadap suatu masalah. Dalam ilustrasi kasus di atas, dijelaskan ada dua faktor yang menyebabkan waktu tunggu persiapan rawat inap, yaitu panjangnya proses administrasi dan masalah pengantaran atau penjemputan pasien.

Ketika dua masalah tersebut dipecahkan secara konsisten, pengukuran pada bulan berikutnya menunjukkan penurunan waktu tunggu persiapan rawat inap yang yang signifikan secara statistik. Statistika menjelaskan sampai di sini. Apakah penurunan secara signifikan ini akibat intervensi yang dilakukan? Analisis statistik yang tadi dilakukan tidak sepenuhnya bisa menjelaskan. Secara akal sehat, penurunan tersebut sangat mungkin akibat intervensi yang kita lakukan. Mengapa demikian?

Dengan asumsi bahwa penelusuran penyebab lamanya waktu tunggu persiapan rawat inap dilakukan dengan teliti dan sah (benar), maka penyebab yang ditemukan (atau faktor kontributornya) pun juga sahih. Apabila faktor penyebab (atau kontributor) tersebut diatasi, maka secara logis waktu tunggu persiapan rawat inap akan berkurang. Inilah yang kemungkinan besar terjadi pada kasus ini. Dalam kerangka pengelolaan mutu di sistem mikro rumah sakit, interpretasi ini lebih sahih daripada klaim yang hanya berdasarkan naik atau turunnya grafik.

Interpretasi juga dapat dilakukan dengan mencari sumber bukti yang terpercaya mengenai suatu masalah. Misalnya penurunan kejadian infeksi daerah operasi setelah intervensi penggunaan desinfektan baru yang berbasis bukti (evidence-based). Apabila desinfektan yang disarankan suatu penelitian sahih diterapkan, maka penurunan angka infeksi daerah operasi yang mengikutinya merupakan dampak langsung dari penerapan tersebut.

Penutup

Analisis statistik seperti yang diuraikan dalam tulisan ini belum jamak diterapkan dalam pengelolaan mutu di rumah sakit. Bila akan diterapkan pun, seringkali diperoleh kekeliruan dalam pemilihan uji statistik sehingga hasilnya tidak sahih digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh manajemen rumah sakit. Diharapkan setelah membaca tulisan ini, tim pengelola mutu di rumah sakit dapat secara rutin menerapkan statistika lebih dalam untuk menganalisis indikator mutu rumah sakit.

Penulis

Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis yaitu dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H. Penulis adalah dokter, pernah memimpin instalasi gawat darurat rumah sakit swasta di Yogyakarta. Saat ini penulis merupakan peserta pendidikan dokter spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

 

{jcomments on}

Pahami Variasi Proses untuk Perbaikan Berkelanjutan

Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mengharuskan sektor pelayanan kesehatan untuk terus berbenah guna meningkatkan daya saing. Langkah awal perbaikan berkelanjutan adalah dengan memahami variasi proses dalam pelayanan kesehatan.

Penyedia layanan kesehatan kini dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan. Perbaikan yang dilakukan harus berbasis fakta lapangan yang diterjemahkan dalam bentuk data. Data terpercaya yang dikumpulkan dengan metode yang baik selanjutnya diterjemahkan menjadi informasi yang berguna untuk mengambil keputusan dan mengubah suatu proses pelayanan kesehatan menjadi lebih baik.

Suatu seri data biasanya akan menunjukkan peningkatan dan penurunan selama kurun waktu tertentu, misalnya jumlah pasien yang mengalami phlebitis di bangsal penyakit dalam setiap bulan selama kurun waktu satu tahun. Adanya peningkatan dan penurunan ini menunjukkan adanya variasi dalam proses pemberian layanan kesehatan.

Fisikawan, insinyur, sekaligus ahli statistik Walter Shewhart yang dikenal sebagai bapak quality control melalui teori yang dikemukakannya tahun 1931 mengungkapkan bahwa cara untuk memperbaiki suatu proses adalah dengan meminimalkan variasi, dan bila mungkin, mengarahkan keseluruhan proses ke tujuan yang ingin dicapai. Shewhart membedakan variasi menjadi dua jenis yaitu special cause variation dan common cause variation.

Common cause variation merupakan variasi random yang dapat terjadi karena berbagai faktor yang ada dalam suatu proses. Variasi yang terjadi merupakan ritme regular dari suatu proses dan menghasilkan suatu proses yang stabil atau ‘in control’. Seseorang dapat membuat prediksi yang sempit atau presisi dari proses yang hanya memiliki common cause variation.

Special cause variation disebabkan oleh suatu hal tidak biasa yang disebabkan karena adanya perubahan atau kejadian tertentu di luar sistem proses. Ketika suatu special cause terjadi, suatu proses akan berada di luar kendali atau ‘out of control’. Akan sangat sulit untuk melakukan prediksi outcome suatu proses akibat special cause variation.

Suatu proses yang baik memiliki variasi yang minimal. Namun, suatu proses produksi menggunakan mesin canggih sekali pun dapat saja memiliki variasi. Bisa kita bayangkan variasi yang dapat terjadi dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dilakukan oleh banyak orang.

Adanya variasi dalam suatu proses, baik itu common cause variation maupun special cause variation, tidak dapat dikatakan merupakan sesuatu yang baik maupun buruk. Special cause variation yang tidak direncanakan biasanya merupakan suatu hal yang tidak diinginkan. Namun, dalam upaya perbaikan proses, adanya suatu special cause variation merupakan suatu sinyal yang menandakan upaya perbaikan yang dilakukan berjalan dengan efektif.

Sebaliknya suatu proses bisa saja hanya memiliki common cause variation atau dikatakan stabil namun pada titik yang tidak dapat diterima. Sebagai contoh angka infeksi luka operasi (ILO) mencapai 40% ± 5% merupakan suatu sistem proses yang stabil tetapi tentu bukanlah angka yang diharapkan.

Identifikasi jenis variasi sangat penting karena perbaikan suatu proses membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk masing-masing tipe variasi. Pada suatu proses yang memiliki special cause variation, perbaikan dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengatasi special cause terlebih dahulu sebelum mengubah seluruh sistem. Untuk sistem proses dengan common cause variation perbaikan proses bertujuan untuk mempersempit variasi dan mengarahkan outcome menuju nilai yang diharapkan.

Banyak metode yang dapat digunakan untuk membedakan common cause variation dan special cause variation. Metode analisis seperti Shewhart (control) chart, cumulative summation charts, funnel plots dan run chart. Dari semuanya run chart merupakan metode sederhana namun dapat memberikan informasi penting terkait kinerja suatu proses. Sayangnya metode ini kurang banyak digunakan dalam dunia kesehatan.

Oleh : dr. Berli Kusuma

Sumber:

  1. Harrison S. Using run charts for healthcare improvement-an introduction. [internet]. September 2012 [cited: 19 October 2016].
  2. Perla RJ, Provost LP, Murray SK. The run chart: a simple analytical tool for learning from variation in healthcare processes. BMJ Qual Saf. 2011;20:46-51. doi:10.1136/bmjqs.2009.037895
  3. Berardinelli, Carl. A Guide to Control Charts. [internet]. January 2012 [cited: 19 October 2016]. 

 

{module [150]}

Hubungan Kontrol Asma dengan Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Dan Kesejahteraan

Asma adalah masalah kesehatan global yang serius dengan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan (Global Initiative for Asthma – GINA, 2012) karena dapat meningkatkan biaya pada saat perawatan kesehatan. Asma perlu mendapat perhatian karena penyakit asma dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan beban ekonomi. Pengetahuan tentang penyakit asma perlu diketahui masyarakat umum, sehingga ikut membantu dalam meminimalisasi faktor pencetus asma bagi penderitanya. Orang yang mengidap asma seringkali tidak bisa menjalani hidup normal dan produktif. Kemajuan terbaru dalam ilmu kesehatan memungkinkan seseorang untuk mengendalikan gejala-gejala yang dapat melumpuhkannya, karena hampir semua orang yang mengidap asma bisa menjalani hidup normal. Hal ini hanya dimungkinkan jika penderita mendapatkan perawatan yang teratur dan juga melakukan perawatan mandiri dalam mengatasi asma tersebut. Terapi pencegahan yang teratur adalah kunci untuk mengontrol asma.

Keberhasilan mengontrol penyakit asma butuh komitmen dari petugas kesehatan dan pasien itu sendiri untuk membuat rencana manajemen asma berkelanjutan yang meliputi diagnosa dan memilih obat yang tepat, mengidentifikasi dan menghindari pemicu serangan asma, mengedukasi pasien mengenai manajemen asma diri sendiri, serta memantau dan memodifikasi perawatan asma. Bila upaya yang dilakukan untuk menghindari faktor pencetus asma berhasil, maka gangguan asma pada penderita bisa dikendalikan. Kriteria klinis asma yang terkontrol, terlihat bila penderita bebas gejala asma, aktivitas sehari-harinya tidak terganggu asma, tidak lagi mengalami gangguan ketika tidur, tidak lagi menggunakan obat pelega lagi dan hasil pemeriksaan faal parunya normal.

Pengetahuan dan sikap penderita tentang perawatan asma rata-rata masih rendah. Hal ini ditandai dengan: penderita kurang memahami tentang penyakit asma, pengertian, faktor yang mempengaruhi timbulnya asma, hal-hal yang harus dilakukan untuk perawatan penyakit asma. Kurangnya kesadaran pada penderita untuk melakukan pola hidup sehat, olahraga, menjaga kebersihan lingkungan rumah sehingga banyak debu, tidak ada ventilasi dan kecenderungan untuk menutupi penyakitnya.

Dalam mengendalikan Asma sebagian besar pasien menggunakan obat pencegahan; yang mana mayoritas tidak terkontrol penggunaannya. Hanya sekitar 3,2% dari pasien melakukan pemantauan diri rutin di rumah pada aliran ekspirasi puncak dan 38% dari pasien melaporkan bahwa meskipun mereka memiliki peak flow meter, mereka tidak menggunakannya secara teratur. Untuk obat pencegahan sebanyak 55,7% dari pasien asma menggunakan inhaler dengan benar sedangkan 44,3% lainnya diperlukan pendidikan karena teknik inhalasi masih dirasa buruk.

Dalam sebuah penelitian yang ditemukan oleh Elena Gurkova et all (2015) dengan membedakan antara kontrol asma pada pasien dewasa yang dikontrol selama 6 bulan dan 12 bulan. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan yakni ada tingkat signifikan lebih tinggi dari kontrol asma pada pasien setelah 12 bulan dikontrol dibandingkan dengan orang-orang dalam 6 bulan masa tes. Beberapa studi telah meneliti hubungan antara kontrol asma dan kualitas hidup pada orang dewasa dengan asma, penelitian yang ada berfokus pada evaluasi pembangunan satu tahun kontrol asma dan dua pendekatan yang saling melengkapi untuk menilai kualitas hidup menggunakan health-related quality of life (HRQOL) dan subjective well-being (SWB). Kontrol asma hanya menyumbang 13% dari varians dalam SWB dan 64% di HRQOL, Hal ini menunjukkan bahwa dampak asma lebih besar pada komponen fungsi fisik HRQOL (gejala dan keterbatasan aktivitas) dari pada komponen mental atau emosional HRQOL (National Heart Lung dan Blood Institute, 2007) atau domain SWB. Dalam penetian yang ditemukan oleh Correira de Sousa et al. (2013) juga ditemukan bahwa ada hubungan yang kuat antara kontrol asma dan kualitas hidup dari pasien asma yang dirawat di praktek umum.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol asma, pada gilirannya mempengaruhi kualitas hidup yang terkait kesehatan. Faktor-faktor seperti harapan pasien yang rendah terhadap pengobatan, pentingnya gejala dan kurangnya kesadaran kontrol diidentifikasi sebagai penentu terkait pasien pada kontrol asma. Oleh karena itu, adanya kebutuhan untuk meningkatkan harapan pasien dengan meningkatkan kesadaran kualitas hidup yang dapat dicapai. Dari data yang ada dapat dilihat bahwa selama 12 bulan ada perubahan signifikan dalam domain fisik kualitas hidup (persepsi gejala dan tingkat aktivitas fisik). Perubahan dalam domain emosional kualitas hidup dan kepuasan hidup secara keseluruhan tidak signifikan. Temuan ini menekankan peran pemantauan rutin pada pasien yang dikontrol asma. Hal ini dapat menyebabkan partisipasi yang lebih aktif dari pasien dan meningkatkan harapan hidup mereka daripada hanya hasil terapi.

Oleh: Andriani Yulianti, MPH
Sumber: Gurkova E., et al. Relationship Between Asthma Control, Health-Related Quality Of Life And Subjective Well-Being In Czech Adults With Asthma. Cent Eur J Nurs Midw 2015;6(3):274–282 Doi: 10.15452/CEJNM.2015.06.0016
http://periodika.osu.cz/

{module [150]}

Mengukur Kaitan dan Dampak Antara Pemanfaatan Layanan / Fasilitas Kesehatan, Kondisi Lingkungan dengan Kualitas Hidup Penderita Asma

Penyakit Asma di Amerika Serikat masih dianggap sebagai persoalan serius. Hal itu tak lain karena masih tingginya jumlah penderita asma dan pengaruhnya yang signifikan terhadap kerentanan kualitas hidup 15-17 Juta penderita. Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi kondisi tersebut mencapai 12,7 miliar per tahun. Pada kelompok minoritas atau pada populasi yang mendiami daerah-daerah pinggiran yang marginal ditemukan banyak insiden, morbilitas hingga kematian yang disebabkan oleh Asma. East Harlem adalah salah satu contoh komunitas dengan angka rawat inap (hospitalization) tertinggi akibat Asma dengan angka kematian mencapai 10 kali di atas rata-rata nasional. Fakta tersebut membuat berbagai pihak melakukan upaya-upaya dengan pendekatan keilmuan untuk mengurangi jumlah penderita asma akut dan di sisi lain mengurangi penggunaan layanan kesehatan untuk menekan biaya.

Berdasarkan hasil studi sebelumnya, faktor risiko penyebab meningkatnya jumlah rawat inap penyakit asma meliputi faktor demografi, klinis, penggunaan obat-obatan yang tidak sesuai resep serta kondisi lingkungan sosial yang tidak mendukung. Diantara beberapa faktor risiko tersebut, yang paling konsisten dilaporkan dan muncul adalah faktor jenis kelamin, taraf sosial ekonomi yang rendah, dan konsumsi obat yang tidak sesuai resep. Di samping beberapa faktor utama tersebut, juga terdapat faktor lain seperti sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan dan kendala bahasa (komunikasi) dalam proses konsultasi, jika seluruh faktor tersebut dibiarkan dapat berpotensi tinggi pada penurunan kualitas kehidupan penderita asma. Singkatnya, dari berbagai pola kejadian yang berlangsung, dapat diamati bahwa terdapat korelasi antara faktor lingkungan, demografi, situasi pemanfaatan layanan kesehatan dan kualitas hidup penderita asma.

Dalam rangka memastikan hal tersebut dan menyajikannya dalam bentuk sebuah data ilmiah yang dapat dipertangunggjawabkan serta sebagai upaya menganalisis berbagai faktor utama yang dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup penderita asma. Maka, sebuah penelitian di Amerika dilakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data tentang pasien dari berbagai sudut pandang. Hal menarik dan sekaligus menjadi poin penting dalam penelitian ini tidak lain adalah fokusnya pada identifikasi berbagai faktor yang sekiranya dapat dimodifikasi dan pada akhirnya di intervensi untuk diubah melalui kebijakan atau cara-cara lain yang mungkin, guna mengurangi risiko penurunan kualitas hidup penderita asma. Mengingat situasi (faktor risiko) yang sama juga dapat dijumpai pada masyarakat Indonesia, tentu hal ini penting untuk diketahui yaitu bagaimana proses dan hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan untuk kasus penderita asma yang terdapat di Indonesia. Berikut uraian singkat tentang penelitian tersebut.

Substansi dari penelitian ini untuk menemukan faktor-faktor, hubungan antar faktor, serta kaitannya dengan resource utilization yang sekiranya dapat berpotensi pada penurunan kualitas hidup penderita asma. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan melakukan wawancara kepada 198 orang dewasa yang dirawat dengan diagnosa asma di beberapa rumah sakit di daerah pinggiran dalam periode satu tahun. Kegiatan wawancara dibagi menjadi beberapa tahapan, tahap pertama dalam wawancara dikumpulkan informasi detail mengenai kondisi sosiodemografi, sejarah asma penderita/responden (dapat berupa rekam medis), akses pada perawatan, jenis obat-obatan asma yang digunakan, dan aerolallergens. Tahap Kedua adalah mengumpulkan berbagai data yang tersedia pada resource utilization (unit emergensi rumah sakit dan unit admisi rumah sakit untuk asma), kemudian informasi tentang kaitan asma dan kualitas hidup penderita direkam selam 6 bulan sejak proses perawatan. Berbagai temuan data dalam beberapa tahapan wawancara tersebut diolah dengan pendekatan analisis univariat dan multivariat dalam statistik, untuk mengetahui/memprediksi pemanfaatan sumber daya (resource utilization), kondisi sosiodemografi dan kaitannya dengan kondisi kualitas hidup penderita asma.

Lokasi penelitian bertempat di Mount Sinai Hospital, total waktu penelitian yang dibutuhkan 1 (satu) tahun dengan kriteria responden berumur 18 tahun, dapat berbahasa Ingrris atau Spanyol, berkompeten memberikan persetujuan atau informasi tertentu, dan terdiagnosa mengidap asma sebagai alasan utama mendapatkan perawatan di Rumah Sakit bersangkutan. Sebelum seluruh proses collecting data dilakukan, seluruh staf peneliti dilatih teknik survei dan wawancara dalam bahasa Inggris atau Spanyol. Selama wawancara awal, pasien diminta menjawab serangkaian pertanyaan demografis yang meliputi jenis kelamin, usia, ras/etnis, tingkat pendidikan, status pekerjaan, bahasa utama yang digunakan, asuransi, dan pendapatan rumah tangga. Sementara untuk kondisi komorbiditas dilaporkan oleh pasien apakah ada atau tidak ada, seperti sinusitis kronis, penyakit gastroesophageal reflux, gagal jantung kongestif, bronkitis kronis, diabetes, depresi, dan kecemasan atau serangan panik.

Mengenai informasi tentang akses pada perawatan dievaluasi dengan pertanyaan tentang kesulitan mendapatkan seorang dokter atau perawat melalui telepon, membuat janji mendesak, atau mendapatkan obat untuk asma. Selain itu, pasien ditanya apakah mereka memiliki seorang dokter pribadi yang bertanggung jawab untuk mengelola asma mereka dan melaporkannya.

Dalam hal mendeteksi tingkat keparahan asma, penelitian ini menggunakan beberapa indikator, termasuk diantaranya penggunaan kronis kortikosteroid sistemik, frekuensi kunjungan rawat jalan atau rawat inap selama 12 bulan, dan riwayat intubasi endotrakeal. Penelitian tersebut juga mengumpulkan informasi mengenai regimen asma pasien, kualitas perawatan asma, kepatuhan yang dilaporkan, dan perilaku manajemen diri. Kemudian untuk mnegtahui salah satu bagian terpenting dalam penelitian, yakni pengaruh asma yang diderita dengan kualitas hidup, penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuisioner dengan nama Mini Asthma Quality of Life Questionnaire (AQLQ) yang dikembangkan oleh Juniper, dkk. Instrumen berupa kuisioner ini terdiri dari 15 pertanyaan yang terbagi menjadi 4 domain; keterbatasan aktivitas (activity limitations), gejala, kondisi/fungsi emosi, serta pengaruh lingkungan. Skor untuk setiap domain, serta skor komposit total, dapat berkisar dari 1 sampai 7, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik.

Seteleh diolah menggunakan aplikasi statistik, data-data yang dikumpulkan selama masa penelitian berlangsung berhasil membawa pada beberapa kesimpulan sesuai dengan pengelompokan domain analisis yang dibuat. Untuk kasus penelitian ini (yang diselenggarakan dari tahun 2001 hingga 2002), menghasilkan beberapa kesimpulan. Beberapa diantaranya, pada 6 bulan pertama penelitian, terdapat 49 % dari jumlah keseluruhan responden yang kembali mendapat perawatan di rumah sakit, baik rawat inap maupun rawat jalan. 49 % responden tersebut sebagian besar berasal dari golongan masyarakat dengan taraf ekonomi rendah. Kesimpulan ini relevan dengan fakta mengenai area epidemologi asma, yakni di daerah-daerah pinggiran, tempat dimana masyarakat berpendapatan rendah bermukim. Faktor pengaruh lain yang masuk dalam kesimpulan adalah bahwa sebagian besar dari 49 persen tersebut adalah tipikal pasien yang memiliki ketergantungan yang kuat pada obat-obat asma seperti oral steroid yang mereka gunakan dengan intensitas yang sangat tinggi.

Kecenderungan lain yang ditunjukkan dari hasil penelitian tersebut adalah bahwa jumlah penderita asma berjenis kelamin perempuan lebih sedikit jumlah kunjungan rawat inap maupun rawat jalannya. Perbandingan dengan pasien berjenis klamin laki-laki adalah 45% dan 63%). Sementara hasil penelitian yang berkaitan dengan jumlah penggunaaan pelayanan/fasilitas kesehatan (resorce utilization), menunjukkan bahwa perbedaan bahasa, ras, warna kulit dan jenis klamin tidak berkaitan dengan tinggi rendahnya jumlah penggunaan resource utilization. Kesimpulan penting lain yang dapat dicatat dari hasil penelitian tersebut yakni relasi antara tingkat keparahan dan jumlah kunjungan (baik rawat jalan maupun rawat inap) dengan kondisi alergi pasien. sebagain besar dari jumlah pasien dengan asma akut dan sering melakukan kunjangan perawatan adalah pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap hewan tertentu, terutama kecoak.

Beberapa kesimpulan tersebut menunjukan pada dua kecenderungan utama, yakni terdapat hubungan yang kuat antara tingginya jumlah pengidap asma akut dengan rendahnya taraf ekonomi dan buruknya kondisi lingkungan. Hasil penelitian ini menggambarkan kondisi umum maupun realitas yang melingkupi kasus asma yang terjadi di Amerika Serikat. Beberapa konisi dan kecendrungan dalam kesimpulan yang menjadi hasil penelitian dapat digolongkan sama dengan apa yang dapat kita jumpai di Indonesia, dan tentu terdapat pula perbedaan yang signifikan. Kecendrungan kesamaan kondisi yang dimaksud misalnya bahwa di Indonesia juga terdapat realitas masyarakat dengan taraf ekonomi dan kondisi lingkungan yang buruk. Tak hanya itu, kendala perbedaan bahasa dan komunikasi dalam interaksi antara tenaga medis dan pasien sering menjadi kendala sebuah proses diagnosa atau pengobatan yang optimal juga terjadi di Indonesia. Dalam serangkaian realitas dan konteks tersebutlah menjadi cukup relevan untuk meletakkan dan mengkaji proses hingga hasil penelitian tersebut diatas sebagai referensi yang memperkaya wawasan, sudut pandang dan wacana keilmuan dalam konteks penanggulangan penyakit asma.

Oleh : Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH
Sumber: Wisnivesky, et al. Predictors of asthma-related health care utilization and quality of life among inner-city patients with asthma. 2005. Allergy ClinImmunol Vol. 116, Number 3.

{module [150]}

Model Penelitian “Mixed Method Evaluation”

(Sebuah Alat Ukur Optimalisasi Pelaksanaan Audit Keselamatan Pasien dan Metode Evaluasi Sistem Audit)

Apa yang secara umum dan selama ini kita pahami sebagai faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan mutu pelayanan kesehatan serta tingkat keselamatan pasien hanya berkisar pada tata kelola/manajemen penyedia layanan kesehatan, kompetensi tenaga medis, fasilitas, peralatan medis dan kemutakhiran teknologi medis. Hal tersebut menjadi wajar jika terdapat faktor di luar pemahaman umum tersebut belum mendapat perhatian yang semestinya di lingkungan medis Indonesia. Adapun faktor yang dimaksud adalah audit keselamatan pasien.

Audit keselamatan pasien, terlepas dari urgensi fungsinya secara teoritik memang belum tergolong dalam jenis isu atau diskursus yang cukup populer serta belum ditanggapi secara memadai dalam dunia medis di Indonesia. Penyebab ketidakpopuleran tersebut adalah perhatian khalayak umum yang cenderung hanya tertuju pada isu-isu dan persoalan medis konvensional, juga disebabkan oleh karaguan dan pesimisme banyak pihak akan keseriusan pelaksanaannya serta potensi outcome yang dapat secara konkrit dihasilkan. Model pelaksanaan audit yang bersifat internal serta jangkauan publikasi hasil audit yang terbatas bagi kalangan sendiri (internal rumah sakit), berikut minimnya hasil-hasil nyata yang dapat dirasakan secara langsung dalam konteks perbaikan mutu pelayanan serta kemajuan sistem prevensi medical error, kerap mengundang kecurigaan tentang pelaksanaan audit yang hanya bersifat formalitas dan seadanya. Meskipun hal ini tentu saja tidak berlaku universal, namun dapat dikatakan bahwa sebagian besar rumah sakit di Indonesia memang belum mampu menunjukkan performa pelayanan yang prima.

Berbagai indikasi atau kecurigaan di atas tentu belum cukup dijadikan pijakan untuk menarik suatu kesimpulan apalagi menilai baik-buruknya pelaksanaan audit rumah sakit di Indonesia. Diperlukan setidaknya beberapa tahapan pengujian yang sistematis dan terukur serta dilandaskan pada metodologi berikut instrumen (alat uji) yang jelas. Dengan kata lain, diperlukan satu rangkaian penelitian yang mencakup keseluruhan aspek dalam pelaksanaan audit untuk menarik kesimpulan sekaligus memberikan masukan atau rekomendasi evaluasi sistem audit, dan terpenting dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Walaupun demikian, di samping penelitian pendekatan komparatif antara praktik pelaksanaan audit dengan apa yang secara teoritik ditetapkan sebagai model atau pola audit yang ideal dapat dilakukan sebagai bentuk tahapan awal untuk setidaknya mendapat gambaran berupa satu kesimpulan sementara (hipotesis).

Cara kerja pendekatan komparatif misalnya dapat dilakukan dengan menyusun daftar pertanyaan-pertanyaan perivikatif yang berkaitan dengan sifat dan prinsip-prinsip dasar pelaksanaan audit yang ideal secara teoritik. Cara ini bertujuan untuk mendeteksi tingkat kesesuaian antara pelaksanaan audit dengan ketetapan prinsip-prinsip teoritik sebuah audit yang ideal. Adapaun prinsip-prinsip dasar ideal yang perlu diketahui sebagai sifat sebuah pelaksanaan audit yang baik meliputi independensi, objektivitas, verifikasi ketersediaan sistem konsultasi mengenai resiko kerugian pasien, dan terpenting audit yang baik harus mampu mendorong kesinambungan peningkatan peluang keselamatan pasien. Sementara, list pertanyaan dapat mencakup objektivitas tim auditor, independensi tim auditor, sejauh mana hasil audit yang berupa outcomes ditindaklanjuti dan dikonversi menjadi kebijakan atau agenda evaluasi, hingga pada pertanyaan yang berkaitan dengan tindakan nyata yang dilakukan pihak manajemen/decission maker paska audit. Selanjutnya jawaban-jawaban yang diperoleh dari list pertanyaan yang diajukan tersebut dikomparasikan dengan standar ideal teoritik yang ditetapkan sebelumnya, untuk selanjutnya diolah sebagai bahan penarikan hipotesis. Cara ini cukup valid untuk sekedar melihat kecenderungan keseuaian das sein dan das sollen.

Sebelum lebih jauh masuk pada ulasan tentang pengujian audit yang berbasis pada penelitian. Beberapa hal yang penting untuk diketahui bersama guna menciptakan persepsi yang sebangun tentang audit internal adalah kriteria-kriteria apa saja yang harus dipenuhi sebagai pra syarat guna menciptakan suatu sistem audit internal yang baik. Kriteria pertama adalah persepsi yang tepat dalam memaknai istilah “internal” pada konteks audit keselamatan pasien. Merujuk pada jurnal yang dipublikasikan BMC Health Services Research (2013), istilah internal tidak serta merta dapat dimaknai sebagai pelaksanaan audit yang laik disangsikan tingkat objektivitas penilaiannya karena dilakukan oleh rekan sejawat pada satu departemen atau instansi yang sama. BMC Health Service Research juga menetapkan definisi istilah “internal” sebagai beberapa orang/staf yang berasal dari departemen atau istansi yang sama yang telah dibekali kompetensi/kecakapan di bidang audit dari pelatihan yang diselenggarakan oleh instansi bersangkutan, tetapi memiliki ruang kerja yang spesifik (kerja auditing) pada badan tersendiri yang bersifat independen sekaligus memiliki otoritas tertentu. Artinya sebuah proses audit internal dikatakan memenuhi salah satu syarat, apabila model pengaturan kelembagaan yang berkaitan dengan kerja audit menyerupai definisi sebagaimana diuraikan oleh BMC Health Service Research tersebut. Sementara pra-syarat lain yang harus dipenuhi terkait pelaksanaan audit internal adalah pelibatan healthcare professional pada tahap evaluasi paska audit. Sudahkah kriteria dan pra-syarat tersebut dipenuhi dalam pelaksanaan audit internal keselamatan pasien di Indonesia?

Lebih lanjut, melalui artikel ini penulis berinisiatif memperkenalkan satu model pendekatan penelitian yang di samping berfungsi sebagai alat uji dan sarana penilaian/penarikan kesimpualan, juga secara bersamaan dapat dimanfaatkan/difungsikan sebagai instrumen evaluasi suatu sistem audit. Inisiatif ini berangkat dari kondisi serta berbagai persoalan umum yang masih kerap terjadi dalam dunia kesehatan di Indonesia. Sebagaimana telah disinggung di awal artikel ini, audit internal dalam konteks keselamatan pasien kerap direspon dan ditanggapi secara apriori oleh banyak kalangan. Penyebabnya bisa sangat beragam, salah satu yang paling penting adalah berkaitan dengan sistem dan mekanisme pelaksanaan audit internal yang urung menimbulkan keyakinan publik terkait objektivitas dan urgensi hasilnya. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa ragam situasi dan persoalan-persoalan tersebut masih berada pada wilayah yang sangat kabur. Oleh karena itu, upaya penulis memperkenalkan suatu model penelitian dan instrumet evaluasi ini dapat dikatakan sebagai usaha untuk menarik persolan tersebut pada ruang diskursus akademik yang lebih terang.

Mixed Method Evaluation

Mixed method Evaluation dilakukan dengan menggabungkan instrumen pengukuran kualitatif dan kuantitatif untuk mengukur beberapa hasil audit pada tingkat yang berbeda, yakni: pengaruh pada tingkat keselamatan pasien, perubahan/peningkatan kinerja tenaga profesional/tenaga medis, dan pengaruh terhadap kelembagaan/organisasi. Peneliti menggunakan instrumen secara luas diterapkan dan diteliti secara mendalam untuk mengukur efek samping, pengalaman pasien, kerja tim, dan budaya keselamatan pasien di antara penyedia layanan kesehatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem audit untuk memantau dan meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit. Desain penelitian ini menentukan waktu untuk tahapan pengambilan data selama 18 bulan yang dibagi menjadi 2 tahapan waktu, tahapan pertama yakni proses pengumpulan data selama 3 bulan sebelum dilakukan audit hingga audit dimulai sedangkan tahapan kedua dilakukan proses pengumpulan data setelah proses audit selesai hingga 15 bulan berikutnya. Data primer yang dikumpulkan berupa efek samping dan komplikasi. Data sekunder berupa pengalaman pasien, rasio standar kematian, pasien rawat inap, budaya keselamatan pasien, dan iklim tim. Data-data lain yang dikumpulkan berupa ulasan rekam medis, kuesioner, data administrasi rumah sakit, dan pengamatan untuk menilai hasil.

Tujuan spesifik dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek dari audit pada hasil keselamatan pasien dan kinerja penyedia layanan kesehatan. Pertanyaan utama penelitian adalah :

  1. Apakah audit berpengaruh pada peningkatan keselamatan pasien dan peningkatan profesionalitas pelayanan rumah sakit?
  2. Apa saja yang mendasari proses dan mekanisme efek keselamatan pasien pada saat audit dilakukan?

Metode dan instrumen yang digunakan dalam sistem audit

sistem audit

metode

Instrumen

pengukuran

Mempelajari kebijakan dan kualitas indikator

Alat penilaian diri secara online berdasarkan standar praktek hukum, nasional, dan profesional

wawancara semi-terstruktur dari penyedia layanan kesehatan

Bentuk standar wawancara

pengamatan sistematis (diskusi misalnya dokter komplikasi dan handover pasien)

Bentuk standar observasi

Kuesioner tentang tim fungsi penyedia layanan kesehatan

Inventarisasi Iklim Kerja Tim

Umpan balik dari hasil audit oleh presentasi dan laporan

Ulasan catatan pasien untuk mengukur efek samping

Record Standarisasi bentuk review berdasarkan protokol awalnya dikembangkan oleh Harvard Praktik Kedokteran Studi

Penilaian kualitas catatan pasien medis dan keperawatan

Bentuk Standarisasi penilaian

Penilaian dari manajemen dokumen (misalnya protokol dan prosedur) dan ditetapkan dalam pedoman kepatuhan

Bentuk penilaian Standarisasi sebagian didasarkan pada instrumen SETUJU

Tindak lanjut: meninjau kembali 15 bulan setelah audit untuk memantau perbaikan

Penilaian dan penilaian kualitas konsultasi dan kolaborasi dengan mitra internal dan eksternal utama

Appraisal Standarisasi dan penilaian kuesioner

 Metode dan instrumen untuk mengukur efek dari audit

variabel hasil

Sumber data

Frekuensi (jenis) pengukuran dan ukuran sampel per pengukuran

Saat pengukuran

Unit analisis

hasil utama

Efek samping dan komplikasi

Retrospektif rekam pasien berdasarkan protokol awalnya dikembangkan oleh Harvard Praktik Kedokteran Studi

2 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 400

– 3 bulan; + 15 bulan

Sabar

hasil sekunder

pengalaman pasien

Berkualitas indeks konsumen kuesioner berdasarkan Penilaian konsumen dari Penyedia Kesehatan dan Sistem

3 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 800

– 3 bulan; + 9 bulan dan 15 bulan

Sabar

Angka kematian Standarisasi

Data administrasi rutin rumah sakit

Terus (time series) n = 233 *

Bulanan

Sabar

rumah sakit berkepanjangan tinggal

Rutin Data administrasi rumah sakit

Terus (time series) n = 3268 **

Bulanan

Sabar

iklim tim

Inventarisasi tim Iklim [ 18 ]

2 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 132 ***

– 3 bulan; + 15 bulan

Profesional atau tim

budaya keselamatan pasien

Survei rumah sakit pada Pasien Budaya Keselamatan

2 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 132 ***

– 3 bulan; + 15 bulan

Profesional

 

Keselamatan berjalan arounds

2 (sebelum dan sesudah pengukuran) n = 8

– 3 bulan; + 15 bulan

Departemen

* Jumlah pasien di delapan departemen yang meninggal pada tahun 2012.
** Jumlah penderita lama tinggal pada tahun 2012 di delapan departemen.
*** Rata jumlah penyedia layanan kesehatan klinis per departemen.

Oleh: Eva Tirta Bayu Hasri, S.Kep, MPH.
Sumber: Hanskamp-Sebregts et al. Effects of auditing patient safety in hospital care: design of a mixed-method evaluation . BMC Health Services Research 2013, 13:226

http://www.biomedcentral.com/1472-6963/13/226 

{module [150]}

Tumor, Mioma, dan Kista: Penjelasan dan Penanganannya

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kesalahan prosedur medis pada masyarakat khususnya perempuan, dr Aria Wibawa, ahli kebidanan dan kandungan dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta mencoba menjelaskan tentang: tumor, mioma, dan kista. Dimulai dengan istilah tumor yang arti sebenarnya adalah benjolan. Dalam tubuh, benjolan dibedakan dalam kategori:

  1. Benjolan normal (fisiologis) contohnya suatu kehamilan.
  2. Benjolan tidak normal.

Maka kata tumor secara umum (termasuk oleh dokter dan orang awam) diartikan sebagai: benjolan yang tidak normal. Tumor bisa berada di mana saja di organ/ jaringan tubuh. Tumor dapat dibedakan dari sifat jaringannya dalam kategori: padat, cair (yang ini sering juga disebut kista) serta campuran padat dan cair. Tumor juga dibedakan dari sifat dan kemampuannya merusak/menyebar dalam kategori antara lain jinak, 0 ganas (yang ini sering juga disebut kanker) dan borderline (antara jinak dan ganas).

Salah satu jenis tumor padat adalah mioma (di masyarakat dikenal dengan sebutan miom). Mioma adalah tumor padat yg berasal dari jaringan ikat. Nama lainnya adalah fibroid. Mioma atau fibroid paling sering lokasinya adalah di rahim (uterus), hanya sebagian kecil yang lokasinya di indung telur (ovarium). Mioma adalah tumor dengan kategori jinak (bukan kanker). Namun demikian, ada sebagian kecil dari mioma yang dapat berubah sifat menjadi tumor ganas (sangat sedikit: kurang dari 0.5%). Apabila seorang perempuan, mengidap mioma, maka tidak harus (selalu) dilakukan tindakan operatif atau pengangkatan. Pengangkatan tergantung dari beberapa hal seperti: ukuran, lokasi, jumlah dan apakah menimbulkan komplikasi (keluhan) atau tidak.

Kista artinya suatu benjolan yg berisi cairan yang bisa berada di mana saja di organ atau jaringan tubuh. Sementara yang dimaksud dan yang paling sering dibicarakan pada perempuan adalah kista yang lokasinya di ovarium (indung telur), maka disebut kista ovarium. Secara garis besar kista ovarium dibagi menjadi kategori normal dan tidak normal. Kista yang tidak normal dibagi menjadi kategori jinak, ganas dan borderline. adalah jaringan normal ovarium yang membentuk gambaran kista. Cirinya hilang timbul sesuai siklus haid Kista normal. Contohnya kista folikel, kista lutein atau kista rubrum. Tidak perlu dilakukan tindakan apapun untuk penanganan kista ini. Bahkan bisa dikatakan jika tidak ada malah tidak normal.

Kemudian, ada beberapa jenis, umumnya menetap dan dapat membesar. Bahkan, sebagian dapat menimbulkan kista abnormal jinak keluhan dan gangguan fungsi reproduksi. Contohnya kista endometriosis (kista coklat), kista dermoid dan sebagainya. Walaupun tidak mengancam jiwa, kista jenis ini terkadang memerlukan tindakan medis atau pengangkatan tergantung berbagai situasi klinis pasien. Sementara, kista abnormal ganas (kanker) adalah pertumbuhan jaringan yg tidak terkendali yang berpotensi invasi, merusak dan menyebar ke organ lain. Kista jenis ini mengancam jiwa, jadi harus sesegera mungkin dilakukan prosedur tindakan medis yg sesuai (biasanya tergantung stadium). Semakin dini stadiumnya, angka kesembuhan semakin baik. Jadi jika seorang perempuan dikatakan mengidap kista, jangan kuatir dulu apalagi langsung mengambil tindakan operatif, pastikan dulu jenisnya. Perempuan tidak perlu kuatir dengan Jenis kista normal namun HARUS kuatir terhadap tumor atau kista yang bersifat ganas (kanker) atau tumor jinak yang berpotensi mengganggu fungsi reproduksi.

Lalu, bagaimana caranya agar perempuan dapat menghindari atau mendeteksi (mengetahui) tumor ganas (kanker) organ reproduksi? Berikut beberapa tipsnya:

  1. Terapkan pola hidup yang sehat.
    Hindari pemakaian narkoba suntik serta pola kehidupan seksual yang abnormal karena sangat berisiko meningkatkan penyakit dan kanker organ reproduksi.
  2. Berhati-hati memilih pasangan hidup atau pasangan seksual.
    Sebagian kasus (cukup besar persentasenya) HIV, kerusakan fungsi reproduksi dan kanker organ reproduksi bukan disebabkan pasien yang bermasalah pola hidupnya, namun disebabkan pasangan seksualnya yang bermasalah karena mempunyai pola kehidupan seksual abnormal atau gaya hidup abnormal. Bahkan jika hal tersebut terjadi di masa lalu. Ironisnya, terkadang saat pasien sudah menderita penyakit, pasangannya (yang menyebabkan) tersebut sudah tidak dapat mendampingi lagi karena bercerai atau meninggal lebih dahulu.
  3. Secara rutin memeriksakan diri ke dokter yang kompeten, walaupun tidak ada keluhan. Pemeriksaan yang dianjurkan adalah paps smear dan ultrasonografi (USG) agar transvaginal bisa lebih detail setidaknya setahun sekali.
  4. Perhatikan pola siklus haid.
    Perubahan pola siklus haid, perdarahan di luar siklus haid dan keluarnya cairan abnormal dari kemaluan merupakan salah satu tanda kanker dari rahim.
  5. Perhatikan bentuk/ kontur badan terutama daerah sekitar perut. Kanker ovarium pada stadium dini sering kali tanpa gejala. Adanya benjolan abnormal atau perut yang membesar harus diwaspadai sebagai salah satu gejala kanker ovarium.
  6. Jika telah terdeteksi adanya suatu tumor atau kanker, carilah informasi sebanyak mungkin (second opinion) atau pengobatan pada sumber yang kompeten dan dapat dipercaya. Pengobatan alternatif yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya hanya akan membuang waktu, biaya dan dapat membuat kondisi lebih parah sehubungan dengan kemampuan sel kanker yang progresif invasi atau menyebar ke organ lain.

Semoga bermanfaat, senangnya berbagi…

Oleh: dr. Aria Wibawa

{module [150]}

Bagaimana Pasien dan Provider Memaknai “Mutu” dalam Terapi Kanker?

Layanan kesehatan bermutu sering didefinisikan sebagai layanan yang diberikan sesuai kebutuhan pasien, pada waktu dan dengan cara yang tepat. Institute of Medicine (IOM) mendefinisikan mutu layanan kesehatan dengan 6 atribut yaitu keselamatan, berpusat pada pasien, ketepatan waktu, efektif, efisien, dan seimbang. Aspek-aspek layanan bermutu ini diterjemahkan lebih detil oleh pasien dan provider yang menerima dan menyediakan layanan kemoterapi. Bagaimana mereka memaknai mutu dalam layanan kanker?

Bagi pasien dan provider, layanan kanker disebut bermutu bila mengandung komponen informasi yang dibutuhkan, dukungan psikososial, tanggungjawab layanan, dan koordinasi layanan. Provider juga menyebutkan pentingnya keseimbangan dalam layanan kanker dan pertimbangan upah. Informasi ini didapatkan dari studi literatur yang dilakukan Hess dan Pol terhadap 15 artikel antara Januari 2009-Mei 2013 yang memenuhi kriteria dan mewakili perspektif pelayanan kemoterapi dari total 4.934 pasien kanker, provider, pemberi layanan kesehatan, dan fasilitator pendidikan.

Studi dilatarbelakangi olehsemakin tingginya kebutuhan terapi kanker bermutu tinggi di Amerika Serikat. Data dari American Cancer Society menunjukkan lebih dari 1,6 juta orang baru terdiagnosis kanker pada 2013. Sumber yang sama juga memperkirakan terdapat 14 juta penderita kanker yang bertahan hidup pada 2012. Meski tingkat kematian akibat kanker menurun 20% sejak 1991, jumlah penduduk Amerika Serikat yang terdiagnosis kanker semakin meningkat. Seringkali mutu layanan kesehatan didefinisikan keliru. Keseragaman pemahaman mengenai komponen yang menyebabkan mutu juga masih minim.

Menurut pasien kanker, sebuah layanan kemoterapi dikatakan bermutu bila mengandung aspek informasi, komunikasi, koordinasi perawatan, perawatan yang tepat waktu, kejelasan penanggung jawab perawatan, perawatan yang sesuai kebutuhan individu, dan dukungan sistem psikososial. Bila perawatan kanker minim informasi, kurang komunikasi, kurang perhatian selama perawaan, dan perawatan terpecah-pecah tanpa koordinasi, pasien berpendapat pelayanan semacam ini kurang bermutu.

Keterangan komponen mutu terapi kanker menurut pasien dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1. Komponen dan Konteks Mutu Terapi Kanker Menurut Pasien

Komponen Mutu

Konteks

Informasi

Definisi: Membantu pasien dan keluarga untuk mencari website yang berreputasi baik; navigator untuk membantu pasien berpartisipasi dalam pembuatan keputusan; pengetahuan cara mengelola efek samping; tim perawatan membantu pasien memahami diagnosis; informasi tertulis tentang apa yang diharapkan selama perawatan, efek samping, dan apa yang harus dilakukan saat di rumah; mengetahui siapa yang dapat ditanyai bila ada pertanyaan.

Hambatan: Pasien dibanjiri dengan informasi yang kompleks dan saling bertentangan; edukasi pasien diberikan saat keputusan medis telah dibuat; kurang kesadaran mengenai apa yang akan terjadi, prosedur tidak dijelaskan; tidak memahami hasil tes; informasi yang kontradiksi; tidak mengetahui siapa yang harus dihubungi di luar jam kerja.

Komunikasi

Definisi: Tingkat komunikasi yang tinggi dihubungkan dengan tingginya tingkat mutu layanan.

Hambatan: Informasi yang tidak akurat/ kontradiksi dari interaksi dengan provider; kemampuan memahami instruksi/ informasi yang diberikan pada saat diagnosis dan pembuatan keputusan perawatan.

Koordinasi Perawatan

Definisi: Menemukan pendekatan “one stop shopping” untuk perawatan kanker; meningkatkan peran provider perawatan primer selama perawatan; semua provider bekerja sebagai tim.

Hambatan: Kurang kerja tim antar provider; disorganisasi antara provider; kurangnya sumber tunggal dalam memberi informasi riwayat perawatan, tes, dan tagihan; pelayanan primer tidak memahami kanker, hanya para sepsialis yang paham.

Ketepatan Waktu Perawatan

Definisi: Pasien mendapat diagnosis yang lebih cepat dan lebih puas terhadap pelayanan; ketepatan waktu dalam hal ini sangat tergantung preferensi pasien bukan semata waktu pelayanan yang lebih pendek.

Hambatan: Permasalahan dengan sistem perjanjia atau waktu tunggu memicu lewatnya masa perjajian; membutuhkan waktu lama untuk menjangkau provider bila ada kondisi gawat darurat; penundaan pada proses diagnosis meningkatkan stess pada pasien; waktu tunggu yang lama juga menambah stress pasien.

Tanggung Jawab Perawatan

Partisipasi dalam pembuatan keputusan berkaitan dengan tingginya kepuasan; membutuhkan kejelasan mengenai pihak yang bertanggungjawab untuk tiap bagian perawatan; pasien tidak ingin ditinggalkan dengan tanggung jawab untuk memastikan bahwa semuanya berjalan lancar.

Personalisasi Perawatan

Perasaan dirawat sebagai manusia dari pada hanya sebagai pasien; pendekatan perawatan “whole person”; provider dan staf yang mengenal nama pasien; tingginya tingkat perawatan oleh provider berkaitan dengan keinginan untuk merekomendasikan provider.

Dukungan Psikososial

Kebutuhan untuk didukung teman sebaya dan psikososial profesional; kebutuhan dukungan emosional dari provider layanan kesehatan; pelayanan diharapkan diperkenalkan lebih awal dalam rencana perawatan; dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman.

Kurang Perhatian terhadap Perawatan

Provider tidak memberi perhatian cukup kepada perawatan individu; pasien memiliki waktu yang sangat terbatas dengan provider; kurang perhatian selama masa rawat inap dan kurangnya rasa hormat berdampak pada pemulihan.

Berbeda pasien, menurut provider, mereka dapat memberi pelayanan yang bermutu bila terdapat komponen sebagai berikut akuntabilitas metriks, tim multidisiplin, hubungan dengan kolegium, penjadwalan ulang/ sistem medis elektronik, akses yang adil untuk populasi desa/ pendapatan rendah, program dukungan psikososial pasien, dan dukungan reimbursemen untuk perawatan yang berpusat pada pasien. Komponen yang dianggap provider menyulitkan pemberian pelayanan bermutu kepada pasien adalah kurang kejelasan penanggungjawab perawatan, kurang koordinasi perawatan, beban kerja provider, ketepatan waktu perawatan, edukasi pasien/ informasi yang dibutuhkan, akses pasien terhadap perawatan, kebijakan reimbursement, dan kurangnya dukungan psikososial untuk pasien.

Keterangan komponen mutu terapi kanker menurut provider dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 2. Komponen dan Konteks Mutu Terapi Kanker Menurut Provider

Komponen Mutu

Konteks

Akses terhadap Perawatan

Hambatan: Ras, etnik, sosial ekonomi, dan perbedaan demografis; kebutuhan anak-anak dan orang dewasa; pendapatan rendah dan tidak terjamin asuransi dalam mengakses pelayanan; asuransi tidak memadai.

Rekomendasi: Penggunaan telemedicine untuk perawatan daerah pedesaan; peningkatan kaitan antara pusat kanker dan jejaring keselamatan rumah sakit.

Kebijakan Reimbursemen

Hambatan: Tidak ada penghargaan untuk pelayanan yang memberikan informasi atau perawatan pendukung; reimbursemen mengecilkan perawatan yang berpusat pada pasien.

Rekomendasi: Insentif finansial dalam reimbursemen yang dapat mendorong pelayanan berpusat pasien.

Kurang Dukungan Layanan Psikososial untuk Pasien

Hambatan: Pasien mengalami ketakutan, kecemasan, depresi, dan tertekan; kurangnya penilaian sistematis atau perhatian terhadap isu psikososial.

Rekomendasi: Meningkatkan mutu layanan dengan merekrut lebih banyak pekerja sosial dalam bidang kanker dan mengedukasi mereka dalam perawatan kanker; penggunaan navigator pasien untuk menyediakan dukungan.

Akuntabilitas Perawatan/ Metriks Perawatan

Kurangnya kejelasan siapa yang akan memandu perawatan pasien sebelum dan setelah terapi kanker; perawatan kanker yang terintegrasi akan membantu mendukung akuntabilitas; mendorong adanya pengukuran kinerja.

Koordinasi Perawatan

Kurangnya koordinasi sebelum dan setelah periode perawatan; perawatan multidisiplin dilakukan terlambat yaitu setelah perawatan dimulai; tidak ada provider yang jelas pada saat kedatangan pasien di onkologi; kesulitan berkomunikasi dengan provider yang tidak berada di lokasi.

Beban Kerja Provider

Jumlah staf yang tidak memadai memicu perubahan, pengurangan, atau penundaan dalam perawatan pasien dan mempengaruhi keselamatan; penggantian tenaga dokter oleh perawat berdampak pada mutu perawatan pasien.

Ketepatan Waktu Perawatan

Ketidakjelasan akuntabilitas dan jumlah staf yang tidak memadai berkontribusi terhadap tertundanya waktu perawatan; manajer perawtan tidak bisa mengatasi hal ini.

Edukasi/ Informasi Pasien

Navigator pasien untuk membantu mereka mengakses informasi; pusat perawatan bervariasi dalam hal perhatian dan sumber daya yang bersedia untuk mengedukasi pasien; informasi kunci batu diberikan setelah keputusan utama dibuat; waktu provider dalam menjawab pertanyaan pasien dan detil yang dibutuhkan pasien memakan waktu yang provider dalam memberi perawatan kepada pasien.

Tim Multidisiplin

Tim multidisiplin dapat meningkatkan ketepatan waktu perawatan; hambatan terjadi ketika perawatan multidisiplin dimulai setelah inisiasi perawatan.

Hubungan Kolegium

Mutu perawatan dapat meningkat bila hubungan kolegium dan komunikasi yang baik tercipta antara perawat dan dokter.

Sistem Elektronik

Sistem elektornik dapat meningkatkan ketepatan waktu pelayanan; catatan medis elektronik dan portal pasien dapat menghubungkan pasien dengan informasi dan layanan; catatan medis elektronik dapat membantu mengkoordinasi perawatan, memfasilitasi komunikasi antar provider, mendukung rencana perawatan multidisiplin, dan meningkatkan keselamatan; membantu penjadwalan perjanjian

Temuan terkait komponen-komponen mutu dalam penelitian ini dapat menjadi poin awal untuk inisiatif lebih lanjut untuk meningkatkan mutu layanan kanker. Informasi ini juga membantu mengidentifikasi pengukuran mutu yang penting bagi pasien dan provider. Inisiatif yang berfokus pada peningkatan mutu pelayanan kanker sedapat mungkin mempertimbangkan keterbatasan dan hambatan yang disebutkan dalam penelitian ini, terutama terkait komunikasi pasien-provider, pembagian informasi, dan reimbursment untuk mendukung perawatan berpusat pada pasien. Untuk meningkatkan keberhasilan, inisiatif yang akan dilakukan harus mencakup strategi untuk mitigasi hambatan-hambatan yang ada.

Text: drg. Puti Aulia Rahma, MPH
Sumber: Hess LM dan Pohl G, Perspective of Quality Care in Cancer Treatment: A Review of the Literature, Am Health Drug Benefits, 2013; 6(6): 321 – 329.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ 

{module [150]}

Peningkatan Mutu Pelayanan Berbasis Kepuasan Pasien

Kepuasan pasien merupakan kunci penting meningkatkan quality care dalam pelayanan kesehatan, health care provider perlu menyadari bahwa keuntungan utama sistem pelayanan kesehatan adalah pasien. Pasien yang puas akan selalu nyaman di rumah sakit dalam waktu lama, selalu kembali dan merekomendasikan kepada orang lain. 3 hal ini merupakan bagian indikator pengukuran kepuasan pasien dalam penilaian health care provided, dengan meningkatnya pertumbuhan rumah sakit yang berbanding lurus dengan peningkatan pengetahuan pasien tentang apa yang seharusnya didapatkan, maka pasien membutuhkan rumah sakit yang menyediakan semua yang dibutuhkan.

Selain 3 indikator diatas, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi kepuasan pasien antara lain: prosedur administrasi, pelayanan diagnosis, perilaku staff, kebersihan, kepedulian perawat, makanan, komunikasi, kedekatan psikologi, housekeeping, pelayanan teknis, akses dan alat yang memadai. Jika semua ini berjalan baik maka akan meningkatkan jumlah pasien dan tentu meningkatkan pendapatan rumah sakit. Vera (1993) mengatakan bahwa peningkatan kualitas pelayanan kesehatan adalah kewajiban health care provider. Peningkatan kualitas pelayanan misalnya keamanan kontrasepsi dan efektif. Pelayanan yang buruk dapat mengakibatkan infeksi, luka bahkan kematian.

  • Perilaku staf
    Pengalaman pasien tentang bagaimana respect dokter, skill perawat, paramedical staff dan support staff, serta pertemuan dan interaksi secara intensif berdampak pada kepuasan pasien. Bitner (1990) menyatakan hubungan yang lama antara dokter dan pasien meningkatkan kepuasan pasien, selain itu skills perawat, paramedical staff dan support staff juga berperan penting dalam mempengaruhi kepuasan pasien.
  • Lingkungan rumah sakit
    Pasien biasanya judges rumah sakit berdasarkan apa yang dilihat, sebelum mendapatkan pelayanan pasien sudah memutuskan apakah harus kembali ke rumah sakit ini? Ada hubungan yang kuat antara lingkungan rumah sakit dan kepuasan pasien sehingga rumah sakit perlu menyediakan fasilitas yang memadai, lingkungan yang asri, dan ruang tunggu, ruang pasien, ruang administrasi yang nyaman. Zineldin (2004) mengemukakan bahwa peran management penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan pasien, berdampak pada lingkungan eksternal, performance rumah sakit, networking, interaksi dengan pasien dan kolaborasi dengan organisasi lain.
  • Pelayanan diagnosis
    Campbell J, 1999 mengemukakan bahwa kepuasan pasien umumnya dijelaskan sebagai gambaran pelayanan yang diterima dan hasil dari perlakuan itu. Membatalkan atau menunda pelayanan diagnosis menurunkan level kepuasan pasien, pelayanan ini mencakup pelayanan laboratorium dan radiologi.
  • Makanan
    Makanan yang layak juga mempengaruhi kepuasan pasien, sudah tersedia penyedia jasa makanan yang dapat bekerja sama dengan rumah sakit. Banyak pasien membenci makanan rumah sakit karna diet sehingga managemen perlu mempersiapkan counselor, pasien dikonseling tanpa merusak program diet.
  • Kebersihan
    Persepsi pasien tentang kebersihan rumah sakit berdampak positif pada kualitas rumah sakit, kebersihan yang dimaksud bukan hanya didalam ruangan namun diluar ruangan, hygiene, teknik mencuci tangan dan lain-lain. Pasien dan staff perlu menyadari akan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan rumah sakit, hal ini akan meningkatkan kepuasan pasien dan meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.

16feb-5

Tingginya pendapatan rumah sakit dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan pasien akan mempertimbangkan untuk terus memanfaatkan rumah sakit tersebut misalnya berdasarkan pengalaman memanfaatkan rumah sakit sebelumnya dan kesalahan pelayanan yang pernah dilakukan.

Sofaer dan Firminger, 2005 mengidentifikasi 7 kategori penting untuk pasien antara lain:
Patien centered care, akses, kesopanan, komunikasi dan informasi, skill, efisiensi dan fasilitas yang memadai. 7 kategori ini perlu ditingkatkan dan dibuat dalam perencanaan, implementasi dan evaluasi untuk mencapai kualitas pelayanan sesuai standar, selain itu perlu meningkatkan komunikasi secara efektif dengan pasien sehingga terbangun hubungan yang harmonis dan leluasa dalam mengidentifikasi masalah dan memperbaiki performance rumah sakit untuk mencapai kualitas pelayanan berbasis kepuasan pasien.

Oleh: Dedison Asanab, S.KM (Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran Undana)
Sumber: Ross Sharon D. et al. An Empirical study of the factors influencing quality of healthcare and its effects on patient satisfaction. International Journal of Innovative Research in Science, Engineering and Technology. Vol. 4, Issue 2, February 2015.

http://www.rroij.com/

{module [150]}

Pengaruh Penggunaan Media Sosial pada Hubungan Pasien dan Dokter

Pendahuluan

Dokter yang lulus pendidikan di millenium ketiga pasti pernah mendapatkan nasehat terkait penggunaan internet oleh pasien. Dalam nasehat tersebut, diungkapkan tantangan bahwa pasien yang semakin cerdas serta memiliki akses internet akan semakin kritis di depan dokter. Pencarian informasi kesehatan oleh pasien yang semakin mudah dilakukan menuntut dokter untuk selalu memperbarui pengetahuan dan mengembangkan komunikasi yang sehat untuk menjaga kualitas praktik tetap sesuai dengan standar tertinggi yang etis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

Salah satu contoh bagaimana peran media sosial dalam mengubah paradigma hidup sehat adalah gerakan antivaksin. Kampanye yang masif dari pada penggiat antivaksin di media sosial telah berhasil menggeser perilaku bahkan banyak kaum terpelajar untuk tidak memvaksin anak dan cucu mereka atas dasar berbagai pseudoscience dan sentimen yang bersifat fanatisme sempit. Di Nigeria, sebuat cuitan tentang konsumsi banyak air garam untuk memerangi ebola mengakibatkan dua kematian dan lebih dari 12 perawatan dilakukan di rumah sakit (Carter 2014). Melalui sebuah systematic review yang bersumber dari 22 penelitian, penulis mencoba menelaah bagaimana pasien menggunakan media sosial terkait hubungannya dengan para dokter (Smailhodzic et al. 2016).

Media Sosial

Media sosial dalam review ini dibatasi sebagai aplikasi berbasis internet yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user generated content. Melalui pembatasan ini, media sosial dapat berupa blog, komunitas, situs jejaring sosial, proyek kolaboratif, game virtual, dan dunia sosial virtual. Aplikasi-aplikasi ini memungkinkan para pengguna, dalam hal ini pasien, untuk bertukar informasi dengan alasan kesehatan atau kondisi kesehatan. Di Indonesia, terdapat beberapa aplikasi yang sangat sering dan intens digunakan secara luas untuk berbagi informasi kesehatan pasien pengguna sehat maupun pasien.

Saat ini, media sosial yang sering digunakan oleh orang Indonesia terutama adalah situs jejaring sosial seperti misalnya Twitter, Facebook, Path, Instagram, dan beberapa situs lain yang kurang populer. Orang Indonesia secara bebas saling bertukar informasi melalui media sosial ini, bahkan untuk berbagai kondisi kesehatan pribadi. Sepengetahuan penulis, belum banyak yang juga menggunakan situs jejaring sosial khusus untuk pasien seperti misalnya Diabetic Connect (www.diabeticconnect.com) atau Inspire (www.inspire.com). Situs jejaring sosial ini menyediakan informasi yang lebih mendalam dan penting bagi pasien. Diabetic Connect misalnya, menyediakan berbagai informasi mengenai diabetes sampai dengan pemilihan menu dan berbagai edukasi penanganan penderita. Di Inspire, pengguna dapat secara khusus berbagai dengan orang-orang yang menderita kondisi yang sama dan tidak umum.

Tujuan Penggunaan Media Sosial oleh Pasien

Penelitian ini mengungkapkan dua tujuan utama penggunaan media sosial oleh pasien, untuk mendapatkan dukungan sosial dan tujuan lain. Dukungan sosial adalah proses interaksi pada hubungan yang bertujuan meningkatkan coping, kepercayaan diri, rasa memiliki, dan kompetensi melalui pertukaran sumber daya psikososial secara aktual maupun dirasakan. Dukungan sosial yang dimaksud adalah dukungan emosional, kepercayaan diri, dukungan informasi, dan dukungan jejaring. Sedangkan tujuan penggunaan lainnya adalah ekspresi emosional dan perbandingan sosial.

Dukungan emosional memungkinkan para pasien untuk membagikan kesulitan-kesulitan emosional, berbagi emosi dengan pasien dengan kondisi yang mirip, dan meraih kenyamanan dari dukungan-dukungan emosional. Jelas bahwa tujuan penggunaan media sosial sebagai dukungan emosional ini adalah komunikasi untuk mencapai kebutuhan emosi atau afektif seseorang. Dukungan-dukungan ini pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan diri pasien.

Dukungan informasi memungkinkan para pasien untuk saling bertukar informasi mengenai kondisi yang diderita. Para pasien yang baru saja didiagnosis suatu kondisi tertentu dapat meminta informasi mengenai berbagai tipe terapi yang tersedia kepada mereka yang telah lebih dulu mengalami kondisi tersebut. Berbagai interaksi di sini dapat memungkinkan seorang pasien merasa diterima dalam satu bagian jejaring.

Komunitas daring memungkinkan pasien untuk terbuka dan mengurangi hambatan membagikan pengalaman secara langsung. Pasien, dengan demikian dapat menggunakan media sosial untuk ekspresi emosi secara bebas. Ada atau tidaknya tanggapan terhadap ekspresi tersebut bukanlah yang terpenting. Di sisi lain, salah satu tujuan lain penggunaan media sosial adalah membandingkan kondisi yang diderita dengan kondisi penderita yang lain.

Efek terhadap Pasien

Efek penggunaan media sosial terhadap para pasien secara umum dibagi menjadi dua, yaitu pemberdayaan pasien dan efek yang lain. Pemberdayaan pasien adalah penemuan dan pengembangan kapasitas inheren pasien untuk bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. Hal ini akan meningkatkan kondisi secara subjektif, psikologis, dan perbaikan manajemen dan pengendalian diri.

Walau demikian, terdapat empat efek lain penggunaan media sosial oleh pasien. Keempat efek itu adalah berkurangnya kondisi secara subjektif, hilangnya privasi, menjadi target promosi, dan kecanduan media sosial. Menurunnya kondisi secara subjektif adalah akibat perasaan khawatir dan cemas. Kecanduan media sosial juga terjadi, dengan keluhan bahwa pasien yang menggunakan media sosial kerap mengakibatkan terbengkalainya urusan yang lain akibat terlalu sering menggunakan media sosial.

Efek terhadap Hubungan dengan Dokter

Terdapat empat macam efek penggunaan media sosial oleh pasien terhadap hubungan antara pasien dan dokter profesional. Keempatnya adalah komunikasi yang makin sejajar, berpindah dokter, hubungan yang lebih harmonis, dan interaksi yang suboptimal.

Dengan penggunaan media sosial, pasien merasa lebih percaya diri ketika berdiskusi dengan para dokter. Hal ini karena pasien merasa telah mendapatkan tambahan informasi mengenai kondisi dan berbagai pilihan pengobatannya. Pasien juga merasa bahwa media sosial memungkinkan mereka lebih siap ketika bertemu dengan dokter sehingga tahu mana pertanyaan yang harus diajukan dalam diskusi. Penggunaan media sosial dapat meningkatkan kesempatan belajar dan meningkatkan komunikasi kesehatan.

Penggantian dokter, dengan demikian juga dimungkinkan sebagai akibat penggunaan media sosial oleh pasien. Diskusi mengenai bagaimana dokter tertentu menangani kondisi tertentu secara langsung akan berpengaruh pada pilihan pasien.

Hubungan yang lebih harmonis antara pasien dan dokter dapat menjadi salah satu efek penggunaan media sosial oleh pasien. Hal tersebut dapat tercapai karena media sosial dapat mendukung pasien untuk mengikuti rekomendasi dokter dan menjadi tempat pasien meluapkan emosi. Namun demikian, ketika pasien membawa hasil informasi dari media sosial ke meja konsultasi dengan dokter, terdapat tambahan proses memilah informasi, mengubahnya menjadi risiko potensial kepada dokter, dan menantang ekspertise para dokter. Hal ini dapat menyebabkan reaksi negatif para dokter terhadap apa yang dipelajari pasien dari media sosial dan secara umum menurunkan kondisi pasien.

Kesimpulan

Penelitian systematic review ini membawa peneliti kepada tiga proposisi penting, yaitu penggunaan media sosial oleh pasien untuk dukungan jaringan meningkatkan kondisi psikologis, membaca pengalaman negatif orang lain menurunkan kondisi subjektif pasien, dan pemberdayaan pasien karena penggunaan media sosial menyebabkan adanya keseimbangan kekuatan antara dokter dan pasien sehingga meningkatkan kualitas pengambilan keputusan klinis. Ketiganya menjadi penting karena penggunaan media sosial oleh pasien semakin meningkat terutama untuk mendapatkan dukungan sosial.

Peneliti mengharapkan berbagai penelitian berdasarkan ketiga proposisi di atas untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai penggunaan media sosial oleh pasien, terutama dalam hal perubahan hubungan dengan dokter. Para dokter perlu memahami fenomena ini agar tidak resisten ketika pasien yang berdiskusi mengajukan berbagai pertanyaan atau informasi yang didapatkannya dari media sosial.

Penulis

Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis: dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H.. Penulis adalah dokter peserta pendidikan dokter spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

Daftar Bacaan

Carter, M 2014, ‘Medicine and the Media: How Twitter may have helped Nigeria contain Ebola’, BMJ, vol 349, p. g6946.
Smailhodzic, E, Hooijsma, W, Boonstra, A & Langley, DJ 2016, ‘Social media use in healthcare: A systematic review of effects on patients and on their relationship with healthcare professionals’, BMC Health Services Research, vol 16, no. 442.

{jcomments on}

Peran Penting ‘Nutrisi’ Dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan

Era saat ini sedang berfokus pada penyediaan pelayanan kesehatan dengan kualitas tinggi, baik dari segi perawatan dan keterjangkauan biaya. Pelayanan kesehatan dengan kualitas tinggi salah satu faktor yang mendukung yaitu tenaga kesehatan yang profesional, mereka melakukan upaya pelayanan dari mulai pencegahan dan pengobatan. Pengobatan yang dilakukan selama di rumah sakit bukan hanya berfokus pada obat, melainkan juga terapi gizi juga berperan di dalamnya. Penanganan gizi kepada pasien di rumah sakit sebaiknya dilakukan secara kolaboratif antara ahli gizi, dokter, perawat dan apoteker. Untuk pelayanan gizi secara keseluruhan, melibatkan pula pihak manajemen, karena sebagian besar pengeluaran di rumah sakit adalah untuk kebutuhan makanan.

Pelayanan gizi yang optimal dapat meningkatkan kesembuhan pasien, mempercepat lama rawat inap dan mengurangi biaya perawatan. Skrining gizi pada pasien merupakan tindakan awal yang harus dilakukan, untuk mengidentifikasi apakah pasien tersebut mengalami malnutrisi atau tidak. Menurut Kelly dan pakar nutrisi lain dalam jurnal Critical Role of Nutrition in Improving Quality of Care, terdapat enam prinsip yang dapat diterapkan dalam model penanganan asuhan gizi secara kolaboratif, diantaranya :

  1. Mensosialisasikan asuhan penanganan gizi (Nutritional Care Proses) kepada semua tenaga kesehatan yang terlibat. Tidak hanya sebatas sosialisasi tetapi bisa menjadi sebuah aturan baku dalam menangani pasien, dimulai dari anamnesa tidak hanya bersifat medis, tetapi dari segi skrining nutrisi juga disertakan.
  2. Pembagian tugas antara tenaga medis yang terlibat dalam penanganan asuhan gizi. Dalam hal ini tim interdisipliner harus mendiskusikan hambatan dan solusi dalam menangani dan mengobati pasien yang beresiko atau pasien malnutrisi.
  3. Skrining dan diagnosa pasien dengan malnutrisi dan yang beresiko malnutrisi. Tingginya kasus kekurangan gizi di rumah sakit, sehingga setiap pasien harus menerima skrining gizi yang tepat. Menggunakan alat skrining yang sudah tervalidasi dan dilakukan oleh ahli gizi. Hasil skrining selanjutnya dikomunikasikan dengan tim interdisipliner untuk menentukan diagnosa dan intervensi yang komprehensif.
  4. Melakukan intervensi gizi secara komprehensif dan pengawasan yang berkelanjutan. Ketika seorang pasien diidentifikasi kekurangan gizi, intervensi gizi yang tepat harus segera dilakukan sepenuhnya dengan cepat. Intervensi gizi yang dilakukan mencakup modifikasi pemberian diet, perhitungan kebutuhan pasien serta pemesanan makanan.
  5. Merencanakan dan mendokumentasikan asuhan penanganan gizi pasien. Asuhan gizi yang dilakukan secara resmi harus direncanakan dan didokumentasikan, dimasukan dalam catatan medis agar bisa menjadi alat komunikasi tim interdisipliner. Dari mulai hasil skrining gizi, pengukuran antropometri, diagnosa gizi, interaksi obat dengan nutrisi, intervensi gizi, tujuan pemberian diet, presentase asupan makan pasien serta monitoring dan evaluasi penanganan asuhan gizi secara berkelanjutan.
  6. Penanganan asuhan gizi secara komprehensif. Pengelolaan status gizi dari mulai pasien masuk hingga pasien keluar dari rumah sakit dilakukan secara komprehensif oleh tim interdisipliner. Pemberian terapi gizi kepada pasien dilakukan sesuai tujuan. Selama proses perawatan melibatkan pula keluarga pasien, terutama untuk edukasi gizi.

Berikut ini adalah gambaran dari tahapan enam prinsip penanganan asuhan gizi di rumah sakit yang dilakukan secara kolaborasi oleh tim interdisipliner.

art-11jan

The Alliance’s Approach to Interdisciplinary Nutrition Care. AND¼Academy of Nutrition and Dietetics; A.S.P.E.N.¼ American Society for Parenteral and Enteral Nutrition; EHR¼electronic health record; ONS¼oral nutrition supplement; PCP¼primary care physician.

Dengan penanganan asuhan gizi yang dilakukan secara komprehensif oleh tim interdisipliner, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Oleh : Elisa Sulistyaningrum, MPH.
Sumber: Tappenden A. Kelly et al. Critical Role of Nutrition in Improving Quality of Care:
An Interdisciplinary Call to Action to Address Adult Hospital Malnutrition. Journal Of The Academy Of Nutrition And Dietetics. September 2013 Volume 113 Number 9.

{module [150]}