Menuju Fasyankes Yang Bermutu: Perlunya Sistem Monitoring Efektifitas Kawasan Tanpa Rokok (KTR) 100% di Fasilitas Kesehatan

Merokok bagi sebagian dari kita menjadi kegiatan yang sudah dianggap sangat biasa. Bahkan kita juga biasa melihat orang merokok dilakukan sambil menggendong balita/bayi, merokok sambil menyetir kendaraan, saat bersiap ke rumah ibadah, menarik becak maupun saat rapat super penting di kantor-kantor pemerintah. Pendeknya merokok selain menjadi kegiatan sambilan juga kadangkala bisa menjadi kegiatan utama bagi semua kalangan di hampir semua tempat. Hampir tidak ada area publik seperti di taman, di angkutan umum maupun di berbagai kantor pemerintahan yang bebas rokok. Sangat wajar untuk sebuah negara yang belum meratifikasi mengaksesi kerangka kerja internasional dari badan kesehatan dunia (WHO) untuk mencegah meluasnya epidemi merokok itu. Mengutip tulisan Prof. dr. Hasbullah Thabrany dkk, seorang ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia maka negara kita menjadi surga bagi para perokok dan industrinya seperti dalam bukunya yang berjudul : Indonesia, the heaven for cigarette companies and the hell for the people.

Walaupun dalam berbagai aturan sudah jelas tercantum seperti UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dan berbagai aturan di bawahnya tetapi eksistensi rokok sebagai bahan adiktif yang merajai  semua kalangan (golongan) dan semua kawasan tidak terbantahkan. Produksi, distribusi, periklanan sampai pada perilaku masyarakat dalam merokok menjadi pekerjaan rumah (PR) yang masih menggantung. Bahkan Indonesia tercatat menjadi satu-satunya di negara Asia Pasifik yang belum meratifikasi Framework Convention of Tobacco Control (FCTC).

Burke Fishburn menegaskan menciptakan lingkungan bebas asap rokok adalah satu satunya strategi yang memberikan perlindungan dari bahaya asap rokok lain. Di sisi lain, merokok seperti diketahui menjadi salah satu faktor risiko untuk berkembang mejadi penyakit tidak menular (PTM) seperti kanker, kencing manis dan darah tinggi. Sehingga sangatlah wajar bila sekarang angka kesakitan PTM juga mengalami kenaikan yang sangat berarti bahkan menduduki beberapa urutan dalam 10 besar penyakit.

Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

Dari hal-hal tersebut, muncullah kepentingan untuk menciptakan Kawasan Terbatas Merokok dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Dalam pembahasan ini maka penulis akan lebih fokus pada KTR sebagai sebuah istilah yang mengacu bahwa di dalam area/kawasan tersebut tidak boleh ada ‘sesuatu’ yang berhubungan dengan rokok. Seperti iklan rokok dalam bentuk banner, leaflet, toko/warung penjual rokok, ruang khusus merokok maupun asbak untuk membuang puntung rokok.

Istilah Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTR) muncul karena dianggap tidak ada batas aman asap rokok terhadap orang lain. Penerapan KTR 100% berarti tidak menyediakan ruang untuk merokok dalam bentuk apapun baik yang berventilasi maupun yang menggunakan penyaring udara, karena dianggap tidak dapat secara penuh melindungi paparan dari asap rokok.

Sementara indikator kepatuhan KTR terdiri atas 8 komponen yaitu 1) tidak ada orang merokok;2) tidak terdapat ruangan khusus merokok; 3) terdapat tanda larangan merokok; 4) tidak tercium asap rokok; 5) tidak terdapat asbak/ korek/pemantik ; 6) tidak ditemukan puntung rokok; 7) tidak ditemukan adanya indikasi merek atau sponsor, promosi dna iklan rokok di area KTR serta 8) tidak ditemukan penjualan rokok pada sarana kesehatan, sarana belajar/sekolah, sarana terkait dengan anak, sarana ibadah, tempat kerja serta tempat umum dan sarana olahraga kecuali di pasar modern/mall, hotel, restaurant, tempat hiburan dan pasar tradisional.

Sampai saat ini, penerapan KTR di beberapa tempat seperti di fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan /sekolah sudah dicanangkan. Tetapi diakui bahwa kegiatan penerapan KTR masih belum ideal sesuai dengan tujuannya. KTR total di berbagai tempat yang seharusnya steril dari hal-hal yang berbau rokok kadang masih sulit diterapkan. Kegiatan yang terkait merokok masih ditemukan di sana-sini. Di tempat-tempat tersebut masih sering dijumpai petugas maupun pengunjung yang merokok.

Pengunjung yang melanggar peringatan KTR beralasan karena ketidaktahuan karena tanda-tanda peringatan KTR hanya dipasang di wilayah tertentu. Sementara bagi para ‘penghuni’ dan ‘orang dalam’ institusi tersebut yang melanggar peringatan KTR itu biasanya karena adanya kesengajaan. Khusus untuk para perokok berat aturan KTR menjadi sebuah siksaan tersendiri dan biasanya karena sudah tidak bisa menahan untuk tidak mengisap rokok sebagai sebuah alasan dan pembenaran saat melanggar peringatan KTR.

Tentu saja para pengunjung dan penghuni yang sudah tahu aturan KTR akan sembunyi-sembunyi dalam mengisap rokoknya. Tempat favorit yang tersembunyi biasanya seperti dekat pojok belakang dan tempat-tempat yang nyaman untuk kumpul bersama seperti kantin/ garasi /parkir/ tempat olahraga di institusi tersebut.

Puntung rokok juga kerapkali ditaruh dalam sela-sela bunga dalam pot atau dibuang sembarangan. Dalam hal ‘kesengajaan’ biasanya puntung rokok cenderung akan “disembunyikan”. Walaupun tidak ada asbak yang ‘resmi’ dipajang tetapi ternyata apapun bisa menjadi asbak seperti kaleng bekas minuman, botol air kemasan kosong dan bahkan gelas/cangkir tempat air minum sehari-hari.

Luru Utis Sebagai Sistem Monitoring Efektivitas KTR

Banyaknya pihak yang merasa terancam dengan penerapan KTR memunculkan banyaknya pelanggaran penerapan KTR. Bila tanpa sistem monitoring yang baik maka efektivitas KTR seringkali dipertanyakan. KTR dianggap masih sebatas papan nama yang dipasang di wilayah tertentu tanpa tahu apakah cukup efektivitas atau tidak. Sehingga disinilah diperlukan sebuah monitoring untuk melihat efektivitas KTR dari waktu ke waktu.

Menurut hemat penulis kegiatan luru utis – sebuah istilah dari bahasa Jawa yang berarti mencari puntung rokok- dimana pada beberapa waktu lalu punting rokok mempunyai nilai ekonomi tersendiri- dapat menjadi sebuah aktivitas yang dapat dipakai untuk memantau efektivitas penerapan KTR di lingkungan tertentu. Dalam praktiknya, luru utis tidak hanya mencari dan menghitung puntung rokok saja. Tetapi juga bisa diperluas pada perangkat pendukung kegiatan merokok seperti asbak, korek api/pemantik api, serta bungkus rokok. Dalam beberapa kasus kegiatan luru utis juga dapat menemukan perokok yang sedang menghisap rokok di kawasan KTR. Maka tidak berlebihan bila luru utis selain alat untuk monitoring KTR juga punya manfaat untuk melihat salah satu indikator kepatuhan petugas dan pengunjung serta untuk lebih meningkatkan promosi untuk keberadaan KTR itu sendiri.

Pelaksanaan luru utis secara teknis dapat dilakukan setiap hari Jumat saat laskar KTR (relawan luru utis) sekitar 1 jam akan mengumpulkan semua puntung rokok yang ditemukan di dalam areal pagar institusi KTR. Bukan hanya puntung rokok yang dicari tetapi juga sekaligus mencari bungkus rokok, korek api maupun asbak Pengumpulan bisa dimulai sekitar jam 07.30-08.30 Wib. Program ini bisa berjalan tanpa biaya. Program ini juga bisa dilakukan sambil kegiatan Jumat bersih ataupun kegiatan olahraga di hari Jumat.

Dalam setiap minggunya hasil pencarian dan pengumpulan puntung rokok akan dihitung jumlahnya. Data yang masuk dianalisa untuk melihat perkembangannya. Disadari juga masih banyak puntung rokok yang ‘lolos’ yang tidak ikut terhitung karena sudah masuk ke tempat sampah dan dibuang oleh petugas kebersihan.

Dari evaluasi tim luru utis maka seringkali didapatkan hasil yang cenderung menurun pada awal kegiatan, tetapi di beberapa waktu berikutnya masih terdapat kenaikan jumlah puntung rokok yang ditemukan (fluktuatif). Begitu pula jumlah petugas dan relawan luru utis yang terlibat bisa jadi masih belum terlalu banyak dan fluktuatif. Seringkali bahkan berkurang karena tergantung kesibukan masing-masing personel.

Supaya hasil monitoring terdokumentasi maka disarankan untuk menayangkan dalam sebuah pengumuman secara berkala. Bila hasil belum menunjukkan trend penurunan maka relawan luru utis tidak perlu berkecil hati karena dapat diartikan sebagai ‘cambuk’ untuk lebih mensosialisasikan KTR sebagai sebuah kebijakan yang harus diperjuangkan. Implikasi dari praktik luru utis adalah makin menguatnya isu KTR di institusi tersebut. Dalam jangka panjang yang diharapkan adalah munculnya kesadaran komunal bahwa merokok adalah sebuah kegiatan yang akan menghamburkan sumber daya yang sudah sangat terbatas : uang, waktu dan kesehatan.

Maka, selamat melakukan luru utis…

Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi*
*Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Dinas Kesehatan Kota Tarakan

{module [150]}

Instalasi Gawat Darurat dan Etalase Rumah Sakit

Pendahuluan

Di berbagai tempat banyak disebutkan bahwa instalasi gawat darurat (IGD) adalah etalase pelayanan rumah sakit. Disebut demikian karena IGD dianggap sebagai paparan pertama pasien akut yang datang ke rumah sakit. Mereka yang percaya bahwa IGD adalah etalase rumah sakit mengatakan bahwa mutu rumah sakit dan bagaimana pelayanannya akan tergambar jelas dari bagaimana pasien di IGD diperlakukan. Sebagai etalase, IGD dianggap mewakili mutu rumah sakit. Dalam kerangka perbaikan mutu IGD, hal ini dapat diterima karena meningkatkan motivasi peningkatan kinerja staf IGD.

Sistem Mikro, Rantai Nilai, dan Regulasi

Meskipun demikian, dengan cara pandang bahwa IGD adalah salah satu sistem mikro di rumah sakit (Berwick 2002), sebutan ini perlu dievaluasi. Sistem mikro adalah sekumpulan orang yang secara teratur bekerja sama melayani suatu subpopulasi tertentu (Nelson et al. 2002). Sistem mikro biasanya merupakan bagian dalam suatu sistem makro tertentu dan saling terhubung dengan sistem-sistem mikro yang lain secara longgar maupun ketat. Secara umum, IGD sebagai sistem mikro merupakan bagian dari sistem makro yang disebut rumah sakit.

Di rumah sakit, sistem mikro tidak hanya IGD. Dengan batasan definisi longgar yang berubah dari waktu ke waktu, sistem mikro di rumah sakit bisa sangat bervariasi dalam hal jumlah dan bentuk. Konsep ini akan lebih menarik bila dilihat dari perspektif mutu. Faktanya, mutu rumah sakit tidak dapat melampaui mutu kumpulan sistem mikro yang ada di dalamnya. Mutu IGD, dengan demikian tidak otomatis menggambarkan mutu rumah sakit. Sebagai salah satu sistem mikro, IGD hanyalah salah satu bahan bangunan dalam mutu rumah sakit.

Pendekatan lain yang dapat dipakai mengevaluasi anggapan bahwa IGD adalah etalase rumah sakit adalah pendekatan rantai nilai dari Michael Porter. Dalam konsep rantai nilai ini, keseluruhan proses asupan sampai luaran pasien yang dilayani di IGD didukung oleh sistem pendukung yang berupa infrastruktur, kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, dan teknologi informasi (Acharyulu & Shekhar 2012).

Dalam konsep rantai nilai ini, keempat sistem pendukung tersebut menyangga aktivitas mulai dari asupan pasien sampai luaran pasien. Aktivitas tersebut dilakukan tidak hanya oleh IGD. Dengan demikian, paling tidak ada dua implikasi yang timbul. Implikasi pertama adalah kinerja yang tampak di IGD bukan hasil kerja staf IGD saja namun juga kinerja sistem pendukung. Kedua, kinerja sistem pendukung mempengaruhi semua pelayanan di rumah sakit. Dengan penjelasan kedua implikasi ini, semakin jelas bahwa pelayanan rumah sakit tidak dapat dilihat dari kinerja IGD saja.

Dari sisi regulasi di Indonesia, evaluasi juga dapat dilakukan terhadap anggapan bahwa IGD merupakan etalase rumah sakit. Undang-undang No. 44 Tahun 2009 dengan jelas menyatakan bahwa rumah sakit memiliki tiga macam layanan utama yaitu rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Konsep ini sejalan dengan akreditasi rumah sakit yang saat ini memiliki paradigma berpusat pada pasien, mutu, dan keselamatan pasien.

Lebih lanjut, pelayanan IGD diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 856 Tahun 2009. Dalam peraturan menteri tersebut, diatur berbagai standar mengenai IGD dalam empat tingkat pelayanan sesuai kelas rumah sakit. Ada beberapa kekhususan dalam pelayanan IGD menurut peraturan menteri ini, salah satunya mengenai indikator mutu pelayanan. Walaupun secara eksplisit tidak diatur dalam peraturan ini, salah satu tolok ukur pelayanan IGD yang baik adalah kecepatan pelayanan. Ketentuan ini berbeda dari pelayanan-pelayanan lain di rumah sakit yang lebih condong disebut sebagai pada waktu tertentu atau pada waktu yang tepat.

Dalam standar pelayanan minimal rumah sakit yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 129 tahun 2008 diatur bahwa IGD harus mampu memberikan pelayanan medis dalam waktu lima menit sejak pasien datang. Kecepatan dan keselamatan yang harus menjadi nafas pelayanan IGD tentu membawa konsekuensi khusus dalam pengelolaan kinerja IGD. Kekhususan ini menjadikan keterwakilan pelayanan rumah sakit tidak mungkin terjadi di IGD.

Ketiga pemikiran di atas semakin menguatkan prinsip bahwa IGD bukanlah etalase pelayanan rumah sakit. Namun demikian, sebuah penelitian pernah membandingkan data pelayanan IGD rumah sakit di Australia dan Cina. Data pasien IGD, cara masuknya, dan jenis kegawatan yang dilayani dapat membantu bagaimana rumah sakit dibandingkan satu dengan yang lainnya (Hou & Chu 2010). Beban yang diterima rumah sakit juga dapat dianalisis dari data-data tersebut. Dalam hal ini, IGD dapat menjadi tempat pengukuran yang baik bagi penilaian beban rumah sakit terhadap kasus-kasus penyakit trauma dan akut.

Penutup

Uraian di atas dapat memberikan gambaran mengapa IGD sebenarnya tidak tepat disebut sebagai etalase pelayanan rumah sakit. Dengan ketiga alasan di atas, nampak bahwa pelayanan IGD tidak mewakili pelayanan rumah sakit karena IGD menangani subpopulasi yang khusus dari populasi yang dilayani rumah sakit. Walau demikian, IGD sebagai salah satu pintu masuk rumah sakit memang perlu didukung karena penilaian customer rumah sakit dapat dimulai sejak di IGD.

Penulis

Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis: dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H.. Penulis adalah dokter, sedang melanjutkan pendidikan dokter spesialis, dan pernah memimpin instalasi gawat darurat rumah sakit tipe B.

Daftar Bacaan:

{module [150]}

Tantangan Kecurangan dalam Layanan Kesehatan. Kewaspadaan Konsumen: Dampak Kecurangan Pelayanan Kesehatan Terhadap Pasien

Dengan kemajuan perkembangan asuransi kesehatan di Indonesia yang saat ini telah mencapai 42 % dari total penduduk memliki asuransi kesehatan sehingga dibutuhkan kewaspadaan terhadap kemungkinan kasus-kasus fraud dan abuse. Peningkatan biaya pelayanan kesehatan yang terjadi hanya karena akibat terjadinya fraud harus dihindarkan. Oleh sebab itu peran serta sebagai konsumen sangat dibutuhkan untuk melakukan pencegahan dan mengurangi kemungkinan terjadinya fraud tersebut. Kewaspadaan ini bukan tidak berdasar melihat data dari Nasional Asosiasi Perawatan Kesehatan Anti-Fraud (NHCAA) yang memperkirakan bahwa kerugian keuangan akibat penipuan dalam pelayanan kesehatan mencapai puluhan miliar dolar setiap tahun. Kita jangan terbuai dengan pikiran bahwa kecurangan dalam layanan kesehatan tidak memiliki korban padahal diketahui bahwa kecurangan miliki pengaruh yang sangat buruk.

Bila melihat dari banyaknya kecurangan yang terjadi dalam layanan kesehatan, ternyata mayoritas kecurangan pelayanan kesehatan dilakukan oleh sebagian kecil orang yang tidak jujur dari penyedia layanan kesehatan tersebut. Sehingga akhirnya dapat menodai reputasi anggota yang paling terpercaya dan dihormati. Dengan adanya kesempatan itu sehingga sebagian kecil orang yang tidak jujur tersebut dapat berkembang menjadi semakin ahli, sehingga memiliki akses ke berbagai macam bentuk kecurangan. Sehingga seluruh kondisi medis perawatan potensial menjadi dasar klaim palsu dan menyebarkan tagihan palsu di banyak perusahaan asuransi yang di klaim secara bersamaan juga perlu diwaspadai:

Sebagai pasien perlu mewaspadai beberapa tindakan kecurangan dalam layanan kesehatan yang dilakukan oleh penyedia yang tidak jujur, meliputi:

  1. Penagihan untuk layanan yang tidak pernah diberikan baik dengan menggunakan informasi pasien asli, kadang-kadang diperoleh melalui pencurian identitas, untuk membuat seluruh klaim atau klaim palsu dengan biaya atas layanan yang tidak pernah dilakukan.
  2. Penagihan untuk layanan lebih mahal dari prosedur yang sebenarnya disediakan atau dilakukan, umumnya dikenal sebagai “upcoding” -yaitu, penagihan palsu untuk pengobatan harga yang lebih tinggi dari sebenarnya.
  3. Melakukan pelayanan medis yang tidak perlu hanya yang bertujuan menghasilkan pembayaran asuransi terlihat sering.
  4. Kekeliruan Perawatan, dimana secara medis bertujuan memperoleh sebanyak-banyaknya pembayaran asuransi.
  5. Memalsukan diagnosis pasien untuk membenarkan tes, operasi atau prosedur lain yang secara medis tidak diperlukan, misalnya kasus bedah kosmetik diklaimkan sebagai kasus kecelakaan.
  6. Unbundling – penagihan setiap langkah dari prosedur seolah-olah prosedur terpisah.
    Contoh: USG dada dan perut ditagihkan berbeda, padaha dilakukan sekaligus, tindakan operasi appendectomy dan hysterectomy ditagihkan sendiri dan seterusnya.
  7. Billing pasien lebih dari jumlah co-membayar untuk layanan yang prabayar atau dibayar penuh oleh program imbalan bawah persyaratan kontrak managed care.
  8. Menerima suap untuk merujuk pasien, padahal sebenanya rujukan tersebut tidak dibutuhkan oleh pasien

Sebagai pasien ada beberapa hal yang perlu diwaspadai untuk meminimalkan resiko kecurangan pelayanan kesehatan.

  1. Diagnosis, Pengobatan dan catatan medis palsu.
    Sejumlah nama pasien yang diklaim oleh pihak untuk bulan yang bersangkutan, hanya sebagian yang benar-benar berkunjung, sisanya hanya menggunakan kartu identitas tanpa pasien tersebut benar-benar berobat. Beberapa nama pasien diajukan dengan kunjungan lebih dari 1x, yang sebenarnya pasien hanya berobat  x. Ini berarti bahwa ketika seorang pasien yang bersangkutan benar-benar membutuhkan manfaat asuransi maka besar kemungkinan jatah pengobatannya hanya sedikit saja bahkan sudah habis karena sudah disalahgunakan.
  2. Pencurian Identitas Medis
    Sebagai konsumen, harus mewaspadai pencurian identitas karena ternyata terdapat 250.000 sampai 500.000 orang telah menjadi korban kejahatan ini. Ketika nama seseorang atau informasi identitas lainnya digunakan tanpa sepengetahuan atau persetujuan untuk mendapatkan layanan medis, atau untuk mengajukan klaim asuransi palsu untuk pembayaran pasien, itu merupakan pencurian identitas medis. Pencurian identitas medis sering menyebabkan informasi yang salah yang ditambahkan ke rekam medis seseorang, atau bahkan menjadikan catatan medis seluruhnya menjadi fiktif atas nama korban. Korban pencurian identitas medis bisa saja dapat menerima perawatan medis yang salah. Efek dari kejahatan ini dapat mengganggu Status medis dan keuangan korban selama bertahun-tahun yang akan datang.
  3. Risiko fisik untuk pasien
    Hal ini juga perlu diwaspadai karena permasalahan ini merupakan kasus di mana pasien telah mengalami prosedur medis yang tidak perlu atau berbahaya hanya karena keserakahan si penyedia layanan kesehatan. Pada bulan Juni 2002, misalnya, seorang ahli jantung di Chicago dihukum 12,5 tahun di penjara federal dan diperintahkan untuk membayar $ 16,5 juta denda dan ganti rugi setelah mengaku bersalah melakukan 750 catheterizations jantung medis yang tidak perlu, bersama dengan angioplasti tidak perlu dan tes lainnya selama 10 tahun. Tiga dokter lain dan administrator rumah sakit juga mengaku bersalah dan menerima hukuman penjara karena terlibat dalam skema kecurangan ini, yang mengakibatkan kematian sedikitnya dua pasien.
  4. Kecurangan pelayanan kesehatan dan kelompok kriminal organisasi.
    Penipuan perawatan kesehatan tidak hanya dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan tidak jujur. Di Florida Selatan, program pemerintah dan perusahaan asuransi swasta telah kehilangan ratusan juta dolar dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa dari mereka yang berbasis di Amerika Tengah dan Selatan – yang membuat klaim dari klinik yang tidak ada, menggunakan asuransi dan penyedia pasienyang sebenarnya.
    Banyak negara juga telah menanggapi dengan penuh semangat sejak awal 1990-an, tidak hanya dengan memperkuat hukum penipuan asuransi mereka dan hukuman, tetapi juga dengan mewajibkan asuransi kesehatan untuk memenuhi standar tertentu untulk deteksi penipuan. NHCAA mengejar misinya dengan meningkatkan kerjasama swasta-publik terhadap penipuan pelayanan kesehatan baik di tingkat kasus dan kebijakan, dengan memfasilitasi berbagi informasi investigasi antara perusahaan asuransi kesehatan dan lembaga penegak hukum dan dengan memberikan informasi tentang penipuan perawatan kesehatan untuk semua pihak yang berkepentingan.

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindari penipuan dalam layanan kesehatan:

  1. Lindungi kartu ID asuransi kesehatan Anda seperti kartu kredit. Apabila ada di tangan yang salah, maka kartu asuransi kesehatan adalah lisensi akan dicuri. Jangan memberikan nomor ke sales, pengacara atau melalui Internet. Hati-hati apabila mengungkapkan informasi tentang asuransi Anda dan jika Anda kehilangan kartu ID asuransi Anda, laporkan kepada perusahaan asuransi segera.
  2. Laporkan segala bentuk penipuan. Hubungi perusahaan asuransi Anda segera jika Anda mencurigai kemungkinan Anda menjadi korban penipuan asuransi kesehatan. Banyak perusahaan asuransi sekarang menawarkan kesempatan untuk melaporkan dugaan penipuan online melalui situs web mereka.
  3. Informatif
    Kita diminta untuk seinformatif mungkin memberitahu tentang pelayanan kesehatan yang kita terima, menyimpan catatan yang baik dari perawatan medis, dan cermati semua tagihan medis yang kita terima.
  4. Perlu membaca kebijakan dan pernyataan manfaat.
    Membaca kebijakan Anda, Penjelasan Manfaat Laporan (EOB) dan setiap dokumen yang Anda terima dari perusahaan asuransi Anda. Pastikan Anda benar-benar menerima perawatan asuransi yang Anda dikenakan biaya, dan mempertanyakan biaya apabila ada yang mencurigakan. Apakah tanggal layanan didokumentasikan pada formulir yang benar? Apakah layanan diidentifikasi dan ditagih untuk layanan yang benar-benar dilakukan?
  5. Waspadalah terhadap “bebas” menawarkan. Penawaran gratis jasa kesehatan, tes atau perawatan sering menggunakan skema penipuan yang dirancang untuk menagih Anda dan perusahaan asuransi. Penipuan dalam pelayanan kesehatan adalah kejahatan serius yang mempengaruhi semua orang dan harus menjadi perhatian pejabat pemerintah dan pembayar pajak, asuransi dan premium-pembayar, penyedia layanan kesehatan dan pasien dan berharap tidak satupun dari kita yang mengabaikan potensi-potensi penipuan yang ada.

Oleh: Andriani Yulianti, SE., MPH.
Sumber: National Healthcare Anti Fraud Association (NHCAA). The Challenge of Healthcare Fraud.

{module [150]}

Masyarakat Indonesia Menjadi Pelaku dan Obyek Fraud JKN

Belum selesai carut marut BPJS Kesehatan dengan penyedia layanan kesehatan. Masyarakat Indonesia diguncangkan kembali dengan masalah kecurangan JKN, yang sering disebut fraud dalam bahasa asing.

Ketika penulis menulis kata “fraud”, penulis agak ragu. Pertanyaannya “Apakah masyarakat luas mengenal “fraud”?. Apalagi disandingkan dengan BPJS kesehatan. Terlepas dari semua itu, penulis mencoba berbagi informasi tentang fraud dalam JKN yang dilakukan oleh pasien atau peserta.

Hasil penelitian oleh Jing Li dkk menyebutkan 31% kemungkinan peserta melakukan fraud. Fraud atau kecurangan dalam JKN harus mengandung unsur Misrepresentation of material fact (adanya janji/ petunjuk yang palsu/menyesatkan mengenai suatu fakta penting), Intent (adanya kesengajaan), Trust (dilanggarnya kepercayaan), Victim (adanya pihak yang dikorbankan), dan Damage (berakibat kerusakan/ kerugian).

art-9nov

Bercermin dari berbagai diskusi dengan petugas BPJS Kesehatan dan penyedia layanan kesehatan. Ditemukan potensi fraud yang dilakukan oleh peserta BPJS Kesehatan di Indonesia. Namun, tidak ada angka yang menunjukkan prosentase potensial fraud yang dilakukan oleh peserta. Permenkes No. 36 Tahun 2015 tentang Kecurangan dalam JKN menyebutkan berbagai potensi fraud yang kemungkinan terjadi di Indonesia:

  1. Membuat pernyataan yang tidak benar dalam hal eligibilitas (memalsukan status kepesertaan) untuk memperoleh pelayanan kesehatan,
  2. Memanfaatkan haknya untuk pelayanan yang tidak perlu (unneccesary services) dengan cara memalsukan kondisi kesehatan,
  3. Memberikan gratifikasi kepada pemberi pelayanan agar bersedia memberi pelayanan yang tidak sesuai atau tidak ditanggung,
  4. Memanipulasi penghasilan agar tidak perlu membayar iuran terlalu besar,
  5. Melakukan kerjasama dengan pemberi pelayanan untuk mengajukan klaim palsu,
  6. Memperoleh obat dan/atau alat kesehatan yang diresepkan untuk dijual kembali.

Fraud yang dilakukan oleh peserta BPJS Kesehatan menimbulkan kerugian secara finansial dan berdampak pada kualitas layanan kesehatan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan. Pasien secara tidak sadar menjadi obyek fraud yang dapat dilakukan oleh rumah sakit. Pemahaman pasien yang awam akan standar pelayanan klinis memudahkan dokter memberikan pelayanan atau tindakan yang tidak semestinya.

Di Chicago ada dokter spesialis yang melakukan 750 katerisasi jantung yang tidak diperlukan. Selain itu, ada seorang dermatologis dari Michigan yang beberapa kali membedah wajah pasien dengan alasan untuk mengangkat tumor yang sebenarnya tidak ada.

Institute of Medicine of the National Academies memperkirakan fraud dalam pelayanan kesehatan mencapai $75 billion dalam satu tahun (2013), dan FBI memperkirakan kerugian antara $78 milyar dan $260 milyar (2012). Ini artinya bahwa negara memang sangat dirugikan oleh fraud.

Motif fraud bersifat universal. Untuk itu sektor kesehatan harus memiliki integritas tinggi memerangi fraud. Penelitian bertahun-tahun menunjukkan bahwa minoritas tidak jujur tidak dapat dibasmi tetapi dengan mengembangkan budaya anti fraud yang kuat dapat memaksimalkan jumlah mayoritas yang jujur. Inilah pentingnya pemahaman tentang fraud oleh masyarakat. Pemahaman fraud harus diberikan kepada masyarakat agar tidak menjadi pelaku dan obyek fraud dalam layanan kesehatan.

Oleh: Eva Tirta Bayu Hasri, S.Kep., MPH.
Sumber: Jing Li & Kuei-Ying Huang & Jionghua Jin & Jianjun Shi. A survey on statistical methods for health care fraud detection: Springer Science Business Media. 2007.

{module [150]}

Transparansi Informasi Dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan: Review Indikator Kualitas General Practice Di Inggris

Pengembangan informasi tentang kualitas pelayanan kesehatan dapat membantu memperbaiki asuhan pelayanan, dimana harus ada information publicly available (transparan) yang kaya akan informasi dengan pengolahan dan analisis data informasi yang cermat serta bagaimana data digunakan dan dikembangkan untuk mutu pelayanan yang lebih baik.

Pemerintah Inggris menggunakan 2 short independent reviews untuk mengukur kuantitas dari kualititas health care antara lain review tertutup dilakukan oleh general practices dan review kualitas asuhan pelayanan yang berfokuskan pada hasil pelayanan. Oleh karena itu, pemerintah Inggris mengambil beberapa langkah penting untuk menumbuhkan general practice workface, memperbaiki infrakstruktur, meningkatkan akses, memperbaiki birokrasi untuk meningkatkan kualitas. Langkah-langkah tersebut antara lain:

  • Improved untuk meningkatkan asuhan pelayanan
  • Options and sound untuk memungkinkan pasien dan pengguna pelayanan memilih dan memberi masukan dalam perbaikan pelayanan
  • Accountability and performance management untuk menyediakan data yang responsible dan dapat diakses oleh public
  • Research dilakukan oleh pihak ketiga yang independen

Beberapa website sudah berisi asuhan pelayan general practice dengan peringkat yang dikeluarkan oleh the care quality commission’s (cqc) serta pemantauan kualitas general practice. Informasi yang tersedia antara lain kesehatan masyarakat Inggris, general practices profile, health and social care information, misalnya The Primary Care Web Tool developed oleh National Health System (NHS) berisi indikator setiap asuhan pelayan.

Banyak indikator serupa namun tidak identik, digunakan dan memberikan hasil yang berbeda hal ini disesuaikan dengan pengguna dengan profesi berbeda atau untuk umum dan apa tujuan penggunaanya. Mengingat angka penggunaan website tinggi maka survey tentang penggunaan penggunaan dan tujuan penggunaan valid dan reliable serta mencari cara menginformasikan asuhan pelayanan kesehatan yang berkualitas secara online.

Bagi tenaga kesehatan di general practice merasakan data di fasilitas kesehatan lebih berguna daripada data yang tersedia secara nasional namun secara keseluruhan data nasional digunakan oleh banyak fasilitas kesehatan karena update data tepat waktu dan cepat secara komputerisasi dari berbagai sumber data. Indikator gabungan peningkatan asuhan pelayanan dalam website dapat membantu public menemukan kualitas dari setiap general practice dan membantu mengidentifikasi prioritas yang digunakan untuk perbaikan, selain itu membantu bukan hanya memprioritaskan pada banyak pasien tapi pada kualitas pelayanan individu “see the wood from trees”. Indikator gabungan biasa digunakan untuk mengukur pelayanan kepada 5 kelompok antara lain usia +75, usia <75 dengan kondisi sakit, ibu bersalin, anak-anak dan health mental  namun hal ini tidak sewenang-wenang digunakan karena tidak bisa memastikan preferensi yang jelas, selain itu ada tumpang tindih antar kelima kelompok tersebut dan kesenjangan yang siginifikan, ada data yang tersedia tidak cukup kuat untuk mengembangkan credible composite score dalam lima kelompok yang diidentifikasi.

Dalam menggunakan indikator gabungan perlu mempertimbangkan scope memperbaiki proses dalam pengembangan indikator general practices di level nasional misalnya memastikan stakeholder dalam penggunaan data website secara komprehensif dan mengidentifikasi prioritas dengan melibatkan banyak kepentingan untuk mengembangkan indikator yang kredibel. Pengembangan indikator dilakukan oleh organisasi independen guna peningkatan kualitas pelayanan general practice. Pengembangan indikator perlu dianalisis biaya dan dampaknya dalam menemukan model baru asuhan pelayanan terpadu yang berkualitas serta menggunakan data dengan menyelaraskan data lokal dan data nasional. Setelah pengembangan indikator maka perlu ada publishing indikator, publishing indikator adalah salah satu elemen dan diperlukan untuk mendukung penggunaan secara terpadu oleh public, tentu sudah menginterpretasi sumber daya, tujuan penggunaan dan yang paling pentig adalah transparansi.

Oleh : Dedison Asanab, S.KM (Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran Undana)
Sumber : Jennifer Dixon, Emma Spencelayh, Anna Howels, Abraham Mandel, Felix Gille. 2005. Indicators of quality of care in general practices in England. The Health Foundation.

{module [150]}

Implementasi Quality Improvement dalam Mendukung Peningkatan Angka Indikator Mutu Rumah Sakit

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan harus dilakukan secara continue dan melibatkan semua unsur pelayanan yang ada di fasilitas kesehatan. Salah satu cara yang paling ampuh dengan menerapkan Quality Improvement (QI). Data menunjukan bahwa banyak pelayanan yang selama ini diberikan masih jauh dari bermutu, penelitian dari Brook, dkk menemukan bahwa sepertiga dari pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit justru tidak meningkatkan kesehatan pasien, peresepan obat yang tidak sesuai, hasil laboratorium yang tidak di-follow-up, dan sebagainya.

Banyak ahli berpendapat bahwa QI merupakan salah solusi strategi yang menjanjikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. QI menitikberatkan pada pendekatan sistem dan implementasi secara berkelanjutan isu-isu atau masalah-masalah terkait pelayanan yang mana masalah tersebut akan diberikan skala prioritas oleh provider, mana yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Perencanaan dan implementasi QI nantinya akan dilakukan oleh tim yang berasal dari berbagai department atau bagian terkait dalam organisasi pelayanan kesehatan termasuk klinisi. Tujuan dari tim QI ini adalah menghasilkan keputusan yang inovatif terkait masalah yang ditentukan sebelumnya berdasarkan data statistikal dan problem solving tools. Walaupun QI merupakan solusi yang menjanjikan namun banyak rumah sakit yang telah melaksanakan QI masih mengalami kebingungan dalam implementasinya, terutama dalam mengadopsi ide-ide atau inovasi baru yang dihasilkan. Oleh karena itu, berhasil atau tidaknya QI bergantung pada individual dan organisasi tersebut serta membutuhkan leadership yang kuat, pelatihan dan support yang luas, pengukuran dan sistem pencatatan data yang relevan, dukungan insentif dan SDM, serta budaya kerja yang kuat untuk melakukan perubahan.

Hal lain yang menyebabkan QI gagal diimplementasikan adalah banyak rumah sakit yang melihat QI sebagai penghakiman atas kesalahan dari klinisi atau staf yang terlibat dalam pelayanan, padahal fokus dari QI adalah persamaan persepsi, kontrol dan peningkatan pelayanan. Oleh karena itu, QI memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan nilai indikator mutu rumah sakit. Misalnya dalam mendesain sistem pembayaran berbasis kinerja bisa menggunakan informasi yang diperoleh dari QI seperti kedisiplinan staf, kecepatan penanganan pasien, dan kepuasan pasien.

Salah satu studi yang membahas tentang kontribusi QI dalam peningkatan indikator mutu rumah sakit  dilakukan oleh Weiner, dkk pada 1.784 Community College Hospital di US yang melaksanakan program QI. Dari hasil analisis, Weiner, dkk menemukan ada hubungan yang signifikan antara implementasi QI dan angka indikator mutu rumah sakit. Rumah sakit yang melibatkan banyak staf dan senior manager dalam QI cenderung mempunyia angka indikator mutu rumah sakit yang tinggi. Salah satu yang menarik, Weiner, dkk menemukan bahwa keterlibatan dari unit-unit yang berbeda dalam QI justru menurunkan angka indikator mutu rumah sakit. Hal ini diduga terjadi karena dengan keterlibatan dari banyak unit membuat senior manager dan staf rumah sakit sulit untuk membagi perhatian pada beberapa program QI yang ada di tiap unit. Selain itu, dengan banyaknya unit yang terlibat mau tidak mau alokasi dana pun harus dibagi-bagi sehingga yang diterima oleh unit-unit tersebut bisa jadi tidak mencukupi untuk implementasi QI. Sementara di dalam implementasinya QI sangat membutuhkan keterlibatan dan keahlian dari para anggota tim serta dukungan finansial. Bisa jadi program QI yang kurang berhasil disebabkan karena kurangnya dukungan teknis dan finansial, serta lemahnya koordinasi dan penetapan skala prioritas.

Hal lain yang menarik dalam penelitian yang dilakukan oleh Weiner, dkk adalah mereka menemukan bahwa ternyata keterlibatan klinisi justru tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap angka indikator rumah sakit. Hal ini diduga terkait dengan peran dari klinisi dalam QI. Banyak ahli percaya bahwa keterlibatan klinisi yang rendah bisa menjadi salah satu hambatan dalam QI. Klinis mempunyai peran penting dalam perencanaan dan alokasi sumber daya khususnya sumber daya medis. Keterlibatan yang rendah dari klinisi tidak selamanya disebabkan oleh manajemen, bisa jadi merupakan sikap dari klinisi tersebut, biasanya karena ketidakpercayaan, kurangnya waktu karena sibuk dengan pelayanan, dan takut apabila perubahan yang disarankan tidak memenuhi kebutuhan pasien.

Beberapa penelitian terkait menyatakan bahwa keterlibatan masal dari klinisi dalm QI tidaklah terlalu penting, yang lebih penting adalah keterlibatan penuh dari staf manajemen dan senior manager. Namun begitu, bebrapa klinisi dengan ide-ide dan inovasi yang baik harus tetap dilibatkan dan rumah sakit harus menampung saran atau ide yang diberikan dari klinisi sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan penelitian terbut bisa disimpulkan bahwa QI bisa menjadi pendorong dalam peningkatan angka indikator mutu rumah sakit. Namun implementasi dari QI sendiri harus fokus dan memperoleh dukungan dari semua pihak, baik dukungan teknis maupun finansial. Selain itu, keterlibatan semua pihak mulai dari manajemen sampai dengan klinisi sangat mempengaruhi keberhasilan dari QI.

Oleh : Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran-UNDANA

Sumber : Weiner J. Bryan, et all. 2006. Quality Improvement Implementation and Hospital Performance on Quality Indicators. HSR : Healt Service Research, 41:2.

{module [150]}

Keynote: Inspire – Global Lessons for Better Healthcare Quality

(Hari Ketiga, 30 September 2015)

Haichao Lei, PhD
Deputy DG, Beijing Health and Family Planning Commission
Improving Healthcare Quality and Safety in China
Policies, Practices and Progresses

5okt2

Seiring meningkatnya populasi di negara Cina, kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang memadai pun turut bertambah. Menyiasati hal ini, pemerintah Cina telah melakukan identifikasi tantangan dan menetapkan strategi jangka panjang untuk menjawab tantangan tersebut. Strategi ini dituangkan dalam bentuk perbaikan sistem, penerbitan kebijakan, dan peningkatan sumberdaya. Semuanya dilakukan dengan satu tujuan yaitu menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien dengan mengedepankan kualitas dan keamanan.

Melihat kompleksnya layanan kesehatan dan banyaknya perbedaan standar layanan pada institusi-institusi kesehatan yang ada, pemerintah Cina menetapkan rumah sakit-rumah sakit tertentu sebagai pusat layanan dan rujukan kesehatan. Pada sistem ini, rumah sakit tersebut berafiliasi dengan lembaga kesehatan lainnya agar melancarkan proses rujukan dan transfer pengetahuan. Beberapa contoh adalah penetapan Peking Union Medical College Hospital sebagai pusat layanan gawat darurat, anastesi, dan peawatan intensif, lalu penetapan Beijing Tiantan Hospital dan Beijing Ditan Hospital sebagai pusat layanan neurologi dan penyakit infeksi. Tentunya penetapan menjadi pusat layanan kesehatan disesuaikan dengan keunggulan dan fasilitas masing-masing rumah sakit.

Hal lain yang dilakukan adalah penetapan clinical pathway dan guidelines. Sejak tahun 2009, pemerintah Cina telah menyusun 331 kategori penyakit melalui beberapa pilot projects, saat ini pathway dan guidelines tersebut telah digunakan di 3467 rumah sakit dan 25503 departemen. Ditargetkan pada tahun 2017, seluruh rumah sakit tersier dan 80% rumah sakit tingkat dua telah menggunakan clinical pathway dan guidelines yang sama.

Demi meningkatkan jumlah dan kualitas tenaga kesehatan, pemerintah Cina mengeluarkan kebijakan yang memungkinkan terjadinya regenerasi tenaga-tenaga kesehatan, baik dokter, perawat ataupun tenaga medis pendukung lainnya. Perawat-perawat diposisikan untuk menjadi rekan dan pendamping para dokter dalam meberikan layanan kesehatan. Calon dokter dan dokter muda dilatih dalam sistem yang memungkinkan mereka untuk didampingi oleh para ahli dengan rasio yang lebih sedikit. Para dokter pun dimotivasi untuk mengambil pendidikan berkelanjutan di pusat-pusat pendidikan medis di Cina.

Penjaminan standar layanan kesehatan pun diberikan oleh pemerintah Cina dalam bentuk akreditasi yang dilakukan secara berkala baik terjadwal maupun tidak terjadwal. Jenis penilaian yang dilakukan meliputi kualitas, keamanan, layanan, manajemen, kepuasan pasien dan performa institusi. Standar-standar kegiatan dan program pun ditetapkan seperti pengadaan checklist, diskusi kasus kematian, alur kamar operasi, diskusi pra operasi dan manajemen rekam medis pasien.

Terkait rekam medis, pemerintah Cina menciptakan sistem rekam medis nasional khusus untuk kualitas layanan kesehatan. Sistem ini memungkinkan pemerintah untuk memonitor dan mengevaluasi layanan kesehatan yang diberikan, seperti volume adverse events ataupun kualitas layanan per diagnosis. Pelaporan kejadian secara online juga dapat dilakukan dengan ketentuan kejadian umum harus dilaporkan dalam 15 hari, kejadian besar dalam 12 jam, dan kejadian berat dalam 2 jam.

Seluruh usaha ini tidak hanya membuahkan hasil namun juga tantangan lain untuk ke depannya. Hasil yang dapat dilihat saat ini adalah telah terbentuknya sistem untuk perbaikan kualitas dan keamanan kesehatan, meningkatnya kesadaran untuk memberikan layanan berkualitas, inisiasi partisipasi masyarakat, meningkatnya investasi di bidang kesehatan, kualitas layanan dan kepuasan masyarakat. Sedangkan tantangan ke depannya adalah kemampuan pengawasan dan evaluasi harus diperkuat, kekurangan sumberdaya, dan meningkatnya pasar layanan kesehatan swasta.

Prof. Sir Bruce Keogh
National Medical Director
NHS England

Di manakah titik awal layanan kesehatan yang berkualitas?

Prof. Bruce Keogh, National Medical Director – NHS England, menjelaskan bahwa layanan kesehatan berkualitas akan berawal dari kualitas perawatan medis pasien. Hal ini penting untuk disadari karena pengalaman pasien akan menentukan apakah suatu institusi kesehatan telah memberikan layanan kesehatan berkualitas atau tidak.

Kualitas layanan ditentukan oleh tiga hal, efektifitas, keamanan dan kenyamanan pasien. Untuk menjamin kualitas tercapai, kita tidak hanya membutuhkan kebijakan atau program, namun juga sistem evaluasi dan umpan balik.

Saat ini kita berhadapan dengan masa yang penuh tantangan, kebutuhan akan layanan berkualitas terus meningkat, biaya kesehatan juga turut meningkat, ditambah pasien memiliki harapan lebih atas layanan yang diterimanya. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa untuk mencapai layanan berkualitas terdapat tujuh langkah yang harus dilewati, yaitu mendefinisikan kualitas, menentukan kerangka penilaian kualitas, mempublikasikan informasi tersebut, memberikan apresiasi kepada orang dengan performa terbaik, menempatkan clinical leadership dengan tepat, memotivasi perbaikan dan kemajuan dalam layanan media, serta terakhir adalah memastikan program ini berkelanjutan dan dapat beroperasi secara mandiri.

Pada masa kini dan mendatang, sangatlah penting untuk institusi atau organisasi terus melakukan inovasi, karena inovasi inilah yang akan menjembatani antara pencapaian kualitas dan produktivitas yang diharapkan. Dunia kesehatan dipengaruhi oleh banyak hal, namun ada 4 hal terpenting yang patut dicermati, yaitu aspek ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, serta perkembangan demografi.

Dalam beberapa tahun ke depan, ilmu genetika akan memainkan peranan penting dalam perubahan pada penanganan medis pasien. Perkembangan gaya hidup modern yang ditunjang oleh teknologi dan transparansi informasi akan turut mengubah lapangan industri kesehatan. Populasi lanjut usia yang semakin banyak dan jumlah penderita penyakit kronis yang meningkat akan menyusun ulang prioritas kita dalam menghadapi isu kesehatan.

Seluruh hal ini tentunya akan menjadikan proses transisi sebagai suatu proses yang super kompleks dan berlapis-lapis. Oleh karena itu perlu diingat, seperti apapun dinamika yang terjadi, satu hal yang tidak boleh berubah adalah rasa kemanusiaan kita dalam menangani sesama, ini adalah prinsip dalam memberikan layanan berkualitas, begitulah Prof. Bruce Keogh mengakhiri penjabarannya yang inspiratif.

Achieving the Aspiration for Universal Health Care Coverage
(30 September 2015)

Dr. San Guay Huang
Director General, NHI Taiwan

Taiwan telah merintis sistem jaminan kesehatan nasional sejak tahun 1950. Berawal dari asuransi bagi para pekerja hingga saat ini menjadi sebuah jaminan kesehatan bagi seluruh masyarakat.

Dalam dua dekade ini banyak perubahan, inovasi dan perbaikan yang telah dilakukan. Semuanya telah berbuah sebagai pencapaian seperti biaya kesehatan yang terjangkau, layanan kesehatan yang mudah diakses, peningkatan kualitas layanan kesehatan, penanganan kesehatan bagi pasien dengan kecacatan atau kekurangan, kepuasan pasien yang tinggi, dan jaminan kesehatan bagi semua.

Dengan dibangunnya sistem rekam medis nasional, struktur layanan kesehatan menjadi semakin kuat dan siap untuk dikembangkan sesuai tantangan ke depannya. Pemerintah menargetkan bahwa sistem “My Health Bank” menjadi sistem yang dapat dengan mudah diakses oleh pasien untuk mendapatkan riwayat medisnya. Selain itu sistem ini juga sejalan dengan rencana pemerintah untuk membuat pondasi bagi inovasi struktur kesehantan di masa depan. Beberapa hal yang menjadi prioritas adalah sistem perawatan jangka panjang, inovasi perangkat lunak seperti Health Apps yang dapat diakses melalui smartphone, inovasi perangkat keras seperti pembuatan wearable devices untuk memonitor kondis kesehatan pasien secara real time dan mandiri, penunjang bagi pengembangan industri farmasi seperti pemantauan uji klinis dan obat baru, asuransi jiwa untuk menyusun rencana medis sesuai kebutuhan individu, dan penunjang akuntabilitas serta transparansi industri kesehatan.

Seluruh usaha ini adalah untuk menjadikan sistem kesehatan Taiwan sebagi sistem yang dapat mendampingi masyarakat sejak lahir hingga wafat. Diharapkan seluruh rencana penanganan medis dapat lebih terstruktur dan terintegrasi serta menghasikan medical outcome yang lebih berkualitas.

Dr. Vivian Lin
Director, Health Systems, WHO Western Pacific Regional Office

WHO percaya bahwa Universal Health Care Coverage adalah salah satu langkah terpenting dalam memajukan kualitas kesehatan suatu negara. Negara yang kuat membutuhkan penduduk yang sehat agar dapat terus membangun dan mencapai kemakmuran.

Saat ini, masyarakat di Asia belum memiliki kepercayaan yang penuh akan layanan kesehatan primer di negaranya. Hal inilah yang menyebabkan sebagian besar dari mereka memadati rumah sakit untuk mendapatkan layanan kesehatannya. Oleh karena itu demi membangun sistem jaminan kesehatan yang kuat, perbaikan perlu dimulai dari tingkat layanan kesehatan primer.

Beberapa fokus perbaikan ini adalah keselamatan pasien atau patient safety, kualitas layanan serta medical outcome, dan memotivasi pelaksanaan layanan serta program kesehatan preventif. Demi menjamin hal ini terjadi WHO selalu berusaha untuk menjalin hubungan dengan para pemangku jabatan tertinggi dan pembuat keputusan. WHO ingin para pemimpin menyadari bahwa tugas mereka bukan hanya menyelenggarakan layanan kesehatan tapi juga menentukan arah dan alur dari layanan kesehatan itu sendiri. Dengan usaha ini diharapkan hubungan antara rumah sakit dan layanan kesehatan tingkat primer akan harmonis dan tidak berjarak seperti saat ini.

Diagnostics for Safety – Half Day Course
Azhar Ali, MD – Executive Director IHI
Frank Frederico, RPh – Executive Director IHI
(30 September 2015)

Dalam proses layanan kesehatan sehari-hari kita merekam banyak data. Sebagian besar dari kita memproses data ini untuk mendapatkan gambaran kondisi di lapangan dan melakukan evaluasi serta perbaikan bila diperlukan.

Sekian banyak metode untuk mengumpulkan dan menganalisa data, maka menjadi sangat penting untuk menggunakan metode tertentu sesuai kebutuhan dari organisasi. Secara umum data digunakan untuk 3 hal, yaitu riset dan penelitian, menilai akuntabilitas, dan proses perbaikan serta pengembangan.

Jumlah responden yang diperlukan pun berbeda-beda tergantung dari kebutuhan. Apabila kita ingin melakukan proyek perbaikan, maka sampel yang kecil akan cukup untuk menyusun sebuah rencana. Namun sebaliknya bila untuk keperluan riset dan penelitian, maka data yang dibutuhkan akan sangat banyak demi menjustifikasi hasil penelitian nantinya.

Pada website Institute of Healthcare Improvement (IHI), kita dapat menggali berbagai metode dan modul yang bisa digunakan untuk pengolahan data sesuai kebutuhan organisasi. Seperti pada mortality review direkomendasikan menggunakan matriks 2×2. Lalu metode observasi, yang biasa digunakan untuk mendapatkan data lapangan yang objektif atas alur atau kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya.

IHI juga menyediakan beberapa tools lain seperti IHI Global Trigger Tool, yang menggarisbawahi pentingnya mengidentifikasi kejadian yang menyebabkan harm dan bukan semata-mata mencari kejadian error. Kejadian error yang biasanya bersandar pada laporan sukarela para tenaga kesehatan, biasanya tidak menggambarkan kejadian utuh karena ada kemungkinan informasi yang tidak disertakan. Dengan menggunakan global trigger tool yang mencari trigger dari kejadian harm, kita dapat mengevaluasi kejadian yang sebenarnya terjadi di rumah sakit. Secara garis besar mekanisme Global Trigger Tool ini adalah sisihkan waktu sekitar 20 menit, lakukan review dari coding summary, lakukan review dari discharge summary, review hasil laboratorium, radiologi dan laporan prosedur, apabila masih ada waktu lebih, dapat dilakukan review atas catatan keperawatan.

Tool lain yang dapat digunakan adalah Waste Identification Tool. Ini dipakai untuk mengevaluasi tempat tidur yang terpakai untuk perawatan, infeksi yang terkait layanan kesehatan, adverse event yang disebabkan pengobatan, komplikasi tindakan, rawat inap yang tidak diperlukan, alur layanan yang tertunda serta pengobatan atau tindakan yang tertunda.

Perlu digarisbawahi agar tool ini dan hasilnya dapat menghasilkan hasil yang maksimal, maka proses survei sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan terkait dan bukan oleh manajemen. Fungsi manajemen adalah untuk menentukan arah, membangun sistem pendukung dan melakukan review atas hasil-hasil survei ini demi penciptaan kebijakan dan pengembangan sistem yang lebih baik. Oleh karena itu tool ini dapat menjadi media untuk membangun hubungan antara tenaga kesehatan operasional dengan manajemen.

Kunci organisasi kesehatan yang baik adalah ketika setiap yang terlibat di dalamnya mempunyai rasa hormat satu sama lain dan terutama mempunyai rasa hormat terhadap pasien. Rasa hormat ini dapat tumbuh apabila setiap proses survei, pengolahan data, dan penerbitan hasil dilakukan dengan mengedepankan kolaborasi dan transparan. Memulai budaya ini dapat diawali dengan melakukan beberapa proyek kecil yang melibatkan tenaga kesehatan dan akan lebih baik bila dipimpin langsung oleh dokter rumah sakit.

Tujuan akhir dari pengolahan data ini adalah untuk mendapatkan hasil yang relevan, yang berguna untuk pengembangan yang lebih baik. Dan tentunya dapat berkontribusi dalam pembangunan sistem yang memperluas kesempatan bagi tenaga kesehatan melakukan yang benar dengan cara terbaik.

Closing

Improve, Innovate, Inspire: The Leadership We Need for Health Care Reform
Donald M. Berwick, MD
President Emeritus and Senior Fellow – IHI
(30 September 2015)

“It is important to get knowledge, but it’s also important to let go.”

Pelajaran ini diperoleh oleh Mr. Donald M. Berwick dari pengalaman selama hidupnya sebagai dokter anak, pimpinan rumah sakit, pimpinan organisasi IHI, dan penasihat utama pemerintah AS dalam program Medicare/Medicaid.

Beliau dibesarkan dalam sistem kesehatan yang menjadikan Dokter sebagai unit tersendiri, yang memiliki pengetahuan sendiri, mengambil keputusan sendiri, dan menentukan segala sesuatu sendiri. Hal ini mungkin masih relevan pada masa itu, di mana tenaga kesehatan masih sedikit, ilmu pengetahuan sedang berkembang, akses informasi dan komunikasi terbatas, serta sistem kesehatan yang masih sederhana.

Namun saat ini, dengan pengetahuan yang berkembang pesat, akses informasi yang tak terbatas, harapan pasien yang semakin tinggi, serta sistem kesehatan yang kompleks, tentunya mentalitas tersebut akan membawa lebih banyak dampak negatif dibanding positif.

Dinamika dunia kesehatan saat ini membutuhkan kolaborasi, integrasi dan transparansi agar bisa maju bersama. Sudah bukan saatnya lagi berpikir untuk menjadi yang terbaik sendiri karena pasti pencapaian akan terbatas, tapi dengan maju bersama maka pencapaian manusia di dunia kesehatan akan lebih jauh lagi.

Kesehatan bukan hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan, terdapat banyak hal lagi yang berkontribusi pada kesehatan masyarakat. Dengan berkembangnya isu kesehatan saat ini seperti pasien lanjut usia, penyakit kronis, meningkatnya biaya kesehatan, transparansi, teknologi, dan pelayanan berfokus pasien, saatnya kita menumbuhkan kerjasama multi sektor, multi dimensi, dan antar negara. Pelajaran dan pencapaian di satu negara dapat menjadi solusi atau peringatan bagi pengembangan kesehatan di negara lain.

Inovasi penting dan harus terus dilakukan. Oleh karena itu IHI telah memperbarui pandanganya atas redesain pengembangan kesehatan saat ini menjadi change the balance of power, standardize what makes sense, customize to the individual, promote wellbeing, create joy in work, make it easy, move knowledge – not people, collaborate/cooperate, assume abundance, dan return the money.

Sebagai penutup presentasi dan forum kali ini, Mr. Donald M. Berwick mengajukan satu permohonan, “Health and well being are intimately related to social justice, equality, compassion in public and private institutions, and stewardship of limited resources. Professionals ought to be vocal, passionate, and unified in their insistence on these moral commitments.”

Sampai bertemu di International Forum selanjutnya di Gothenburg pada April 2016 dan Singapura pada September 2016.

Oleh: dr. Mochamad Muska Nataliansyah
Reportase International Forum on Quality and Safety in Healthcare: Asia
Hong Kong Convention and Exhibition Centre
28 – 30 September 2015

{module [150]}

The Opening Ceremony

(Hari Kedua, 29 September 2015)

day1-1Kegiatan hari kedua dimulai dengan pembukaan oleh kedua kepala komite International Forum on Quality and Safety in Healthcare: Asia, Dr. Lui Siu Fai dan Goran Henriks. Acara berlangsung meriah dengan kehadiran tari barongsai yang menandakan dimulainya forum internasional di Hong Kong.

Turut memberikan sambutan adalah Dr. Fiona Goodlee, Editor in Chief BMJ dan Dr. Margaret Chan, General Director of WHO, yang memberikan pidatonya melalui jaringan video. Fiona menyambut baik kehadiran acara ini di Asia karena akan mendukung dinamika perkembangan kualitas dan keselamatan dunia kesehatan, terutama pada masa jaminan kesehatan nasional ini.

Rangkaian program pembukaan ditutup dengan pidato dari Mr. CY. Leung, Chief Executive Hong Kong Special Administrative Region. Leung mengapresiasi pemilihan Hong Kong sebagai lokasi forum internasional ini, harapannya adalah forum ini dapat menginspirasi para partisipan untuk bersama-sama memajukan dunia kesehatan di Asia.

Keynote Presentation
Improve Connections: New Ways To Think About Triple Aims
Maureen Bisognano, President & Chief Executive Officer of The Institute for Healthcare Improvement (IHI)

day1-1Saat ini dunia kesehatan sedang menghadapi beberapa tantangan yang akan mempengaruhi bagaimana pelayanan kesehatan diberikan selama beberapa waktu ke depan. Tantangan tersebut adalah populasi lanjut usia yang semakin besar dan volume masyarakat dengan penyakit kronis.

Menjawab tantangan tersebut, IHI menyadari pentingnya kolaborasi semua pihak terkait. Demi menyatukan visi ke depan, IHI menjabarkan tiga target penting dalam dunia kesehatan, yaitu memperbaiki pengalaman pasien dalam pelayanan kesehatan (termasuk kualitas dan kepuasan), memperbaiki kesehatan populasi, dan mengurangi biaya pelayanan kesehatan per kapita.

Perubahan terjadi dengan sangat cepat, sehingga dibutuhkan respon tanggap dan tepat. Tanggung jawab ini tidak dapat dibawa oleh satu orang atau satu bagian, namun harus menjadi tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap pihak yang tekait untuk menjalin hubungan keluar secara baik, demi bertukar pengetahuan, mendapatkan teknologi serta inspirasi baru.

Fokus layanan pun harus berubah menuju pelayanan kesehatan berfokus pada pasien. Pasien harus diberdayakan dan terlibat dalam proses layanan kesehatan. Identifikasi kebutuhan pasien pun menjadi sangat penting, tidak hanya terkait penyakitnya namun juga terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Pada masyarakat yang sehat hal ini pun berlaku, kegiatan-kegiatan yang bersifat preventif dan membudayakan hidup sehat perlu diidentifikasi, demi memastikan status kesehatan yang lebih baik dan biaya penanganan yang lebih efisien.

Para partisipan perlu terus mengasah keingintahuannya agar selalu terjadi perbaikan dalam sistem yang akan mengarah kepada kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien yang lebih baik. Salah satu hal yang penting adalah memastikan tempat kita bekerja memberikan nilai dan kebahagiaan bagi yang menjalaninya, ini akan mendukung kinerja dan kualitas yang diberikan dalam melayani pasien.

Beberapa konsep perubahan yang perlu dilakukan adalah change the balance of power, standardize what makes sense, customize to the individual, promote wellbeing, create joy in work, make it easy, move knowledge not people, collaborate/cooperate, assume abundance, return the money. Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran baru dalam menjalankan tiga targer penting dalam dunia kesehatan.

Lessons from Leadership of Large Healthcare System

  1. Quality Care and Risk Management
    Dr. Pak Yin Leung, Chief Executive, Hospital Authority, Hong Kong SAR

day1-1Dari pengalamannya menangani isu kesehatan di Hong Kong, Dr. Pak menggarisbawahi bahwa resiko dalam dunia kesehatan adalah multi dimensi, sehingga penanganan secara individu merupakan strategi yang tidak dapat digunakan lagi. Penanganan yang dilakukan dengan kolaborasi dan didukung sistem informasi terintegrasi terbukti dapat memberikan hasil yang lebih baik.

Hal ini dilakukan oleh departemennya melalui sistem informasi teknologi yang memungkinkan terjalinnya komunikasi yang lebih lancar dan antisipasi tantangan yang lebih tepat, seperti kekurangan tenaga medis atau fasilitas ynag perlu diperbaikii. Sistem manajemen resiko ini juga dapat membantu mereka menentukan skala prioritas dalam menangani isu kesehatan di Hong Kong, sehingga penanganan yang diberikan dapat lebih tepat guna dan perkembangan dapat diarahkan sesuai kebutuhan pasien.

  1. Sweden – The Journey to Patient Centered Organisation
    Goran Henriks, Chief Executive of Learning & Innovation, Jonkoping County Council, Sweden

day1-8Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Swedia adalah masih kurangnya partisipasi atau keterlibatan pasien dalam penanganan kesehatannya. Selain itu biaya kesehatan yang tinggi juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk menjawab tantangan ini, Jonkoping County menerapkan program-program yang berfokus pada pasien, yang memungkinkan pasien untuk melakukan penanganan kesehatan mandiri. Mereka juga mengembangkan pelayanan kesehatan di rumah sehingga mengurangi angka kunjungan rumah sakit yang tidak diperlukan.

Awal dari kesuksesan program-program ini adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan. Hal ini dimulai dengan membangun layanan kesehatan primer yang kuat dapat diandalkan, sehingga angka kunjungan RS dapat berkurang dan jumlah tempat tidur rawat inap pun berkurang. Satu hal yang menarik adalah karena fungsi layanan kesehatan primer yang kuat, kebijakan kesehatan yang dibuat pun lebih banyak dipengaruhi oleh dokter-dokter keluarga dibandingkan spesialis.

Buah dari usaha ini menjadikan Jonkoping, Swedia menjadi salah satu kota paling sehat berdasarkan daftar 10 kota tersehat versi CNN. Institusi kesehatan mereka juga merupakan satu-satunya institusi kesehatan yang memperoleh Malcolm Baldrige Award sebanyak empat kali, sebagai tanda apresiasi atas kualitas layanan kesehatan yang diberikan oleh Jonkoping, Swedia.

  1. Cambodia – Quality Improvement at National Level
    Prof. Thir Kruy, Secretary of State, Ministry of Health, Cambodia

day1-8Kamboja merupakan negara dengan tingkat GDP yang rendah namun telah memiliki rencana kesehatan berkelanjutan untuk beberapa masa ke depan. Tantangan yang dihadapi beragam namun tujuannya hampir sama dengan tujuan kesehatan negara lain, yaitu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.

Benang merah dari usaha-usaha untuk melakukan perbaikan kesehatan ini adalah pentingnya komunikasi antara pihak-pihak terkait, budaya keterlibatan penuh dari pekerja kesehatan, hal ini dapat dimotivasi dengan bentuk-bentuk insentif. Pelatihan yang intensif dan berkelanjutan perlu dilakukan bagi semua yang terlibat, lalu mendefinisikan tujuan dan program secara jelas akan menjadi kunci dari kesuksesan program itu sendiri.

Human Factors – Half Day Mini Course

Frank Frederico, Executive Director, Institute for Healthcare Improvement
Azhar Ali, Executive Director, Institute for Healthcare Improvement

day1-8Sesi ini dimulai dengan pernyataan bahwa error adalah hal umum yang dapat terjadi. Sebenarnya bukan “no blame culture” yang mesti dihindari namun bagaimana caranya menciptakan lingkungan kerja yang adil dan seimbang.

Dalam mengidentifikasi error, biasanya akan ditemukan berlapis sebab yang mengarah terjadinya suatu error. Salah satu hal yang menjadi penyebab error adalah faktor kondisi manusia. Seringkali manusia melakukan “overestimate abilities, underestimate limitations” yang kemudian dapat menyebabkan error. Pada kenyataannya kita tidak dapat melakukan multi tasking karena otak manusia didesain dalam bentuk kompartemen-kompartemen.

Dari seluruh hal yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang, dua hal yang biasa menyebabkan error adalah kelelahan dan stres. Kedua hal ini dapat mempengaruhi kita dalam mengamati sesuatu, berkomunikasi dan mengambil keputusan. Sistem atau kebijakan yang baik akan meminimalisasi kemungkinan ini terjadi, baik dalam bentuk desain atau definisi yang mudah dimengerti.

Standarisasi juga penting sehingga menciptakan keseragaman dan kerutinan dalam melakukan suatu pekerjaan, namun tentunya standar ini harus relevan dan terus dikaji secara berkala. Standarisasi yang baik akan memberikan arahan yang tepat juga ketika sesuatu yang di luar kebiasaan terjadi. Inilah yang menjadikan sistem alarm penting, agar menjadi penanda atau pengingat ketika terjadi sesuatu yang abnormal, sehingga langkah-langkah preventif dapat diambil lebih awal.

Kemajuan teknologi saat ini dapat membantu kita mengurangi terjadinya error. Sistem pemrograman dan alarm dapat diintegrasikan dengan alur kegiatan sehari-hari. Akan sangat baik apabila pengembangan sistem dan kebijakan kerja melibatkan secara penuh tenaga kesehatan yang terlibat untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan kedisiplinan yang lebih tinggi. Kita tidak dapat merubah karakter dasar seseorang, tapi kita dapat mengubah sistem dan lingkungan tempat orang itu bekerja.

Keynote Presentation

Innovate – The Future of Healthcare Innovation

  1. Marc Andrew Koska
    OBE Inventor of the K1 Auto Disable Syringe & Founder of Safe Point

day1-8Sesi keynote pada sore hari diisi oleh tiga pembicara yang memiliki pengalaman dalam industri kreatif. Diharapkan sesi ini dapat memberikan inspirasi bagi pelaku industri kesehatan untuk berkreasi dan melakukan inovasi dalam pelayanan kesehatan.

Pembicara pertama membawakan presentasi mengenai produk alat suntik sekali pakai yang akan patah setelah digunakan. Produk ini dinamakan Syringe Lifesaver.

Inspirasi awal dari produk ini adalah sebuah keprihatinan atas kejadian sehari-sehari di layanan kesehatan primer negara berkembang, di mana sebuah alat suntik sekali pakai dapat dipakai berkali-kali baik pada pasien dewasa atau anak. Hal ini dapat menimbulkan kejadian infeksi menular serius pada populasi yang besar. Keprihatinan ini tumbuh menjadi sebuah aksi untuk mendesain alat suntik sekali pakai yang akan patah setelah pemakaian.

Dengan latar belakang pendidikan desain, dirancang sebuah produk alat suntik unik yang menggunakan mesin yang sama, harga yang sama dan penggunaan yang sama dengan alat suntik sekali pakai yang umum dipakai. Tujuan dari prinsip ini adalah untuk memastikan produk baru ini dapat dengan mudah digunakan tanpa penambahan biaya namun dengan penggunaan yang lebih aman.

WHO turut memberikan dukungan atas usaha ini, namun untuk kesuksesan program ini ke depannya, dibutuhkan dukungan dan kerjasama dari pembuat kebijakan, penyedia dana, pabrik, kementerian kesehatan, tenaga kesehatan, dan pasien.

  1. Angelo Umali, Co Founder & CEO
    Simple Wearables

Studi ekonomi menyatakan bahwa Internet of Things dan Wearable Devices akan menjadi trend besar dunia dalam beberapa tahun mendatang. Bukti atas hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya sambungan internet dan penggunaan mobile devices saat ini. Diproyeksikan pada 2020, Internet of Things akan mencapai puncaknya.

Trend ini juga ditunjang dengan mudahnya setiap orang menciptakan prototipe alat-alat yang dapat terhubung dengan jaringan/internet, atau yang disebut internet of things. Bisnis saat ini pun mendapatkan banyak keuntungan dari perkembangan internet of things ini.

Masyarakat sudah dapat melihat perkembangan internet of things dengan wearable devices yang mereka gunakan sehari-hari, seperti Apple Watch dan Fitbit. Namun selain untuk merekam jumlah aktivitas yang mereka lakukan, masyarakat juga berharap agar wearable devices yang mereka gunakan dapat merekam informasi medis. Hal ini mulai dikembangkan dalam bentuk “medical sensors to go” dan “invisible sensors“.

Dari pengalaman pribadinya, Mr. Angelo Umali mendesain suatu wearable devices yang responsif, prediktif, kolaboratif, memiliki fungsi GPS dan konektivitas baik dengan jaringan telepon atau jaringan internet. Desain ini dimulai dengan kejadian jatuh di rumah pada nenek Mr. Umali yang menyebabkan beliau wafat karena penanganan medis yang terlambat. Diharapkan dengan alat ini pelayanan kesehatan dapat menjalin hubungan yang lebih dekat dengan pasiennya. Lebih daripada itu alat ini juga dapat membantu layanan gawat darurat, jaminan asuransi, telekomunikasi, dan analisa data kesehatan pasien.

  1. Tom Mehrmann
    Chief Executive, Ocean Park Corporation

Ocean Park merupakan salah satu taman bermain terbesar di Hong Kong dan Cina. Kepemilikan sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah dan merupakan organisasi nirlaba. Tujuan yang membedakan dengan taman bermain lainnya adalah aspirasi untuk menghubungkan pengunjung dengan alam.

Pada awal kepemimpinan Mr. Tom Mehrmann, Ocean Park hanya memiliki modal terbatas, namun dengan komitmen, disiplin, rencana kerja yang terstruktur, beliau dapat memimpin perusahaan ini hingga menjadi taman bermain yang paling banyak dikunjung di Cina dan nomor empat dengan pengunjung terbanyak di dunia.

Sifat kepemimpinan yang dijalankan dan ditanamkan kepada seluruh staf adalah rasa ingin tahu yang tidak terbatas, memiliki rasa tanggung jawab, memiliki selera humor yang baik, passion, memiliki keberanian, mempunyai inisiatif, kreatif dan inovatif, memiliki sense of urgency, persistensi dan kepercayaan diri.

Beberapa prinsip organisasi yang dijalankan sejak awal adalah menumbuhkan rasa kepemilikan dari seluruh staf, pimpinan harus selalu terhubung dengan staf di lapangan, terus berinovasi dan berubah untuk perbaikan, dan selalu memberi kembali kepada masyarakat dan lingkungan.

 

m-muskhaOleh: dr. Mochamad Muska Nataliansyah
Reportase International Forum on Quality and Safety in Healthcare: Asia
Hong Kong Convention and Exhibition Centre
28 – 30 September 2015

{module [150]}

Improvement Capability, Full Day Mini Course

(Hari Pertama, 28 September 2015)

Sebelum pembukaan forum secara resmi pada tanggal 29 September 2015. Sehari sebelumnya dilaksanakan kegiatan-kegiatan khusus berupa studi banding dan pelatihan sehari penuh. Peserta bisa memilih tujuan studi banding antara kunjungan ke Ocean Park atau Princess Margaret Hospital dan Prince Wales Hospital. Sementara untuk program pelatihan, peserta dapat mengikuti kelas mengenai kemampuan untuk melakukan perbaikan atau kelas mengenai perangkat yang dapat digunakan untuk melakukan perbaikan kualitas.

Pada kesempatan ini, penulis memilih untuk mengikuti kelas mengenai kemampuan untuk melakukan perbaikan. Kelas ini dipilih dengan alasan tujuan awal dari keikutsertaan ini adalah agar mendapatkan teknik dan informasi terbaru yang dapat diterapkan secara praktis ketika kembali ke Indonesia.

day1-aKelas ini dipandu oleh David M. Williams, PhD dan Azhar Ali, MD, keduanya adalah executive director di Institute of Healthcare Improvement (IHI). David memiliki latar belakang sebagai paramedis dan memulai sesi dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah yang Anda harapkan setelah selesai mengikuti kelas ini?”. Jawaban peserta cukup beragam namun satu benang merah, yaitu ingin melakukan perbaikan di negara asal dengan mengintegrasikan segenap sumber daya yang ada.

Presentasi dan teori disampaikan secara lugas dan terstruktur. Garis besar deskripsi dari perbaikan dan proses yang terjadi di dalamnya diberikan lewat beberapa slide awal. Fokus pada kelas ini dititik beratkan pada proses perbaikan kualitas, bukan pada proses rencana atau pengawasan dan evaluasi.

Demi mendapatkan pemahaman yang mendalam akan sistem atau hal yang ingin diperbaiki, kita perlu mencermati empat aspek yang membentuk piramida pemahaman, yaitu penghargaan atas sistem, pengetahuan teoritikal, psikologi, dan variasi. Keempat aspek ini selalu terkait dalam memahami dan menjalankan proses perubahan. Kita tidak perlu menjadi ahli yang menguasai keempat hal ini, namun piramida ini dapat menjadi suatu bentuk daftar yang harus dipenuhi ketika melakukan perubahan.

David M. Williams juga menyampaikan pentingnya memadukan antara pengetahuan teoritikal dengan kenyataan di lapangan. Perbaikan akan terjadi ketika kita dapat menerjemahkan pengetahuan teoritikal menjadi solusi bagi tantangan yang dihadapi di lapangan.

Setelah pemahaman didapatkan maka dibutuhkan kerangka untuk menentukan kapasitas dari perbaikan. Menjawab hal tersebut, para pengisi sesi menjabarkan suatu struktur yang menggambarkan seberapa besar informasi yang perlu disampaikan kepada semua orang dan informasi mana yang hanya perlu diketahui oleh sebagian kecil. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi informasi berlebih pada individu yang terlibat pada perbaikan ini.

Ketika menjalankan proses perbaikan, kita perlu menanyakan 3 hal secara bertingkat; Tujuan apa yang ingin kita capai? Bagaimana kita mengetahui bahwa perubahan yang terjadi nantinya merupakan perbaikan? Perbaikan seperti apa yang dapat kita lakukan agar terjadi perbaikan? Setelah kita menjawab tiga pertanyaan ini dan memadukannya dengan sistem PDSA (Plan, Do, Study, Act) maka kita dapat menyusun sebuah model untuk perbaikan.

Dalam menentukan perbaikan yang perlu dilakukan, kita perlu memiliki daftar prioritas. Langkah pertama adalah melakukan proyek-proyek kecil pada populasi tertentu, hal ini dapat dilakukan selama 3-9 bulan, lalu dilakukan evaluasi, apabila berhasil maka perbaikan dapat diterapkan pada populasi yang lebih besar.

day1-aHal-hal yang dapat mendukung proses perbaikan adalah ketersediaan data awal dan proyeksi yang diharapkan, dukungan dari bagian terkait, kemampuan komunikasi dan memadukan pengetahuan teori dan perbaikan yang diharapkan, serta menciptakan standar pencapaian dan evaluasi berkala, untuk memastikan perbaikan terjadi secara perlahan-lahan namun konsisten.

Sebagai penutup, ditampilkan sebuah video (www.youtube.com/watch?v=iWYIWE7SKcM) mengenai proses perbaikan yang dilakukan sekelompok anak TK. Ini disampaikan untuk menginspirasi peserta bahwa hal ini dapat dilakukan oleh siapapun, selama terdapat niat dan keinginan untuk menciptakan perubahan yang lebih baik.

 

Oleh: dr. Mochamad Muska Nataliansyah
Reportase International Forum on Quality and Safety in Healthcare: Asia
Hong Kong Convention and Exhibition Centre
28 – 30 September 2015

{module [150]}

Menyajikan Indikator Mutu Rumah Sakit

Pendahuluan

Dalam tulisan sebelumnya, telah dibahas beberapa pertimbangan dalam menyusun indikator mutu rumah sakit. Indikator perlu dipresentasikan untuk memberikan gambaran mutu rumah sakit. Presentasi ini baik berupa presentasi tim mutu rumah sakit ke kalangan manajemen puncak, presentasi direktur kepada surveyor akreditasi, maupun advokasi manajemen puncak ke tingkat pemilik rumah sakit (pemerintah pusat, pemerintah daerah, yayasan, maupun korporasi).

Dalam beberapa kesempatan penulis menyaksikan presentasi tersebut, kerap terjadi data unggulan menjadi kurang diperhatikan karena disajikan kurang sempurna. Kerap pula penyaji harus menjelaskan ulang data tersebut dalam sesi tanya jawab. Akibatnya, waktu yang semestinya bisa digunakan untuk diskusi peningkatan mutu menjadi terbuang percuma.

Bagaimana menyajikan data indikator mutu dengan efisien? Tulisan ini akan mencoba mengupas beberapa pertimbangan utama sehingga dapat membantu pembaca menentukan strategi penyajian data indikator mutu rumah sakit tersebut dalam sebuah presentasi lisan. Ilustrasi yang digunakan dalam tulisan ini bukan merupakan data asli salah satu rumah sakit dan hanya digunakan dengan tujuan mendukung ide-ide dalam tulisan ini. Selamat menikmati.

Tipe Data Indikator Mutu Rumah Sakit

Dalam pembicaraan mengenai pengelolaan indikator mutu rumah sakit, selalu muncul istilah “data”. Dianggap sebagai objek yang sudah dikenal, data jarang didefinisikan. Untuk menghindari beragam definisi data, mari kita sepakati data sebagai keterangan yang menggambarkan persoalan atau hasil dari pengamatan karakteristik tertentu. Indikator mutu merupakan pengukuran yang diwujudkan dalam angka (Takaki et al., 2013; Collopy, 2000), maka hasil pengamatan indikator mutu boleh kita sebut sebagai data.

Ada berbagai cara mengklasifikasi data. Untuk tujuan penyajian indikator mutu rumah sakit ini, kita akan menggolongkan data menjadi dua, yaitu data kategorik dan data kuantitatif (Bahna & McLarty, 2009). Data kategorik memiliki karakteristik tertentu yang ditentukan sebelum data diambil. Data kategorik biasa digolongkan menjadi tiga, yaitu nominal, ordinal, dan interval.

Data nominal adalah data kategori yang hanya bisa dijelaskan dengan nama, seperti misalnya nama instrumen bedah (bisturi, klem, kocher, pemegang jarum, dan pinset). Data nominal bisa memiliki banyak atribut seperti contoh sebelumnya, namun bisa juga berupa data biner yang hanya memiliki dua atribut seperti jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Walaupun indikator mutu rumah sakit selalu merupakan pecahan, tidak menutup kemungkinan data primernya berupa data nominal seperti contoh dalam tabel berikut ini.

Tabel 1 Ilustrasi data nominal infeksi luka operasi sebelum dan setelah intervensi. Dalam pengumpulan data, setiap pasien yang memenuhi kriteria dicatat apakah ada infeksi atau tidak: dua pilihan atribut yang ditentukan sebelumnya.

Indikator: Infeksi Luka Operasi

Intervensi

Total

Sebelum

Sesudah

Infeksi

56

21

77

Tidak Infeksi

280

363

643

Total

336

384

720

Data ordinal juga mempunyai atribut yang ditentukan sebelumnya dan setiap sampel masuk dalam salah satu kategori. Bedanya dengan data nominal adalah adanya penjejangan (pelapisan) yang tidak pasti jaraknya dalam data ordinal. Misalnya dalam survei kepuasan pasien instalasi gawat darurat, dibuat lima kategori kepuasan, yaitu sangat puas, puas, kurang puas, tidak puas, dan sangat tidak puas. Tidak ada jarak yang pasti antar kategori dalam data ordinal. Contoh data ordinal yang kerap dibahas dalam persiapan akreditasi rumah sakit adalah skala nyeri.

Jarak antar kategori membedakan data interval dan data nominal. Data interval mempunyai jarak antar kategori yang sama. Bulan-bulan dalam satu tahun adalah contoh data interval karena kurang lebih jaraknya sama, yaitu 30 hari.

Data kuantitatif berbeda dengan data kategori. Data kuantitatif terbagi menjadi dua, yaitu data kontinyu dan data diskret. Data kontinyu merupakan data hasil pengukuran yang teliti dan dapat pada angka berapa saja. Data diskret merupakan data yang merupakan pendekatan satuan terukur misalnya laju nadi (kali per menit), usia dalam tahun, dan lain-lain. Data diskret mirip sekali dengan data interval kecuali bahwa data interval biasanya hanya dalam kategori terbatas sementara data diskret bisa tak terbatas.

Pertimbangan Penyajian Data

Data dapat disajikan dengan teks, tabel, maupun tampilan grafis. Tampilan grafis lebih disukai daripada tampilan teks dan serba angka karena lebih efektif meninggalkan pesan walau juga dapat membawa ke arah yang salah (Stengel et al., 2008). Untuk menggunakannya, panduan dari van Belle, “struktur kalimat untuk menampilkan 2-5 angka, tabel untuk menampilkan informasi numerik yang lebih banyak, dan grafik untuk hubungan yang kompleks,” masih relevan (Bahna & McLarty, 2009).

Menampilkan data dengan teks memang merupakan teknik yang paling umum walaupun jelas bukan pula yang terbaik. Menggunakan kalimat pendek yang tepat adalah satu-satunya cara optimalisasi penyajian data dengan teks.
Pilihan yang lebih baik dari teks adalah tabel. Tabel dapat menyajikan satu macam informasi namun juga mampu menampilkan hubungan lebih dari satu informasi. Kemampuan pemirsa memahami isi tabel bergantung pada desain tabel. Variabel kuantitatif harus diurutkan (kecil ke besar atau sebaliknya) atau dibuatkan interval. Penting untuk memastikan tidak ada kelompok variabel yang tumpang tindih.

Bila dalam tabel termuat data frekuensi, pertimbangkan untuk menambahkan persentase frekuensi tersebut. Penting juga untuk mempertimbangkan untuk menggabungkan kategori-kategori yang nilainya kecil menjadi satu kategori. Kategori-kategori tersebut perlu ditulis dengan jelas dan ringkas di bawah judul tabel yang juga jelas dan ringkas. Ingat bahwa orang cenderung lebih suka melihat tabel daripada teks, sehingga penting sekali agar tabel mudah ditemukan dan diingat.

Tabel 2. Contoh tabel interval kelompok umur dan frekuensinya. Tabel di sebelah kanan disajikan lebih baik.

Kelompok Umur

Frekuensi

Kelompok Umur

Frekuensi

1 – 5

10

1 – 4

9 (9%)

5 – 10

34

è

5 – 9

34 (34%)

10 – 15

38

9 – 14

38 (38%)

15 – 20

18

15 – 19

19 (19%)

Tampilan grafik memiliki dampak visual yang paling cepat, paling kuat, paling tahan lama namun kurang presisi (Bahna & McLarty, 2009). Grafik atau diagram paling mumpuni dalam menampilkan tren atau perbandingan. Bila grafik dibuat untuk menggantikan data (atau datanya bersumber) dari tabel, tidak perlu untuk menampilkan tabel asalnya. Dewasa ini, grafik atau diagram sangat mudah dibuat dengan program spreadsheet atau program pengolah data statistik lain. Walau demikian, setiap tipe grafik memiliki karakteristik tersendiri yang perlu dipahami sebelumnya. Pemahaman karakteristik grafik ini penting agar pesan yang disampaikan tidak “melenceng” dari maksud awal.

Penyajian indikator mutu dalam bentuk grafis sebaiknya mengikuti kebiasaan dalam penyajian data ilmiah, yaitu tidak mengubah grafis penyajian data menjadi sebuah karya seni. Penyajian diharapkan tetap efisien, tidak terlalu banyak pewarnaan yang tidak perlu, tumpang tindih tiga dimensi, dan dilengkapi dengan keterangan teks yang ringkas dengan ukuran yang seimbang dengan grafis (Stengel et al., 2008). Apabila diperlukan satuan, cantumkan juga satuan dengan jelas (Bahna & McLarty, 2009).

Diagram garis dan diagram batang paling sering dipakai dalam penyajian data. Diagram garis dipakai untuk menggambarkan perubahan nilai suatu variabel seiring dengan waktu, sementara diagram batang dipakai menggambarkan nilai beberapa variabel (Sonnad, 2002). Dalam presentasi indikator mutu, kerap ditemukan presenter yang menggambarkan perubahan indikator mutu seiring waktu menggunakan diagram batang karena dianggap lebih jelas mencitrakan perubahannya. Hal ini kurang tepat dan sebaiknya dihindari. Dalam menyajikan diagram batang dan garis, penting pula untuk memperhatikan skala pengukuran agar perbedaan nilai antar variabel atau antar periode waktu lebih mudah dilihat. Gambar berikut ini adalah contoh indikator mutu yang digambarkan dengan diagram garis dan diagram batang.

28sept-1

Gambar 1. Diagram garis di sebelah kiri menunjukkan penurunan angka kejadian infeksi luka operasi sementara diagram batang di sebelah kanan menunjukkan angka kejadian infeksi luka operasi di empat ruang perawatan bedah yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin.

Diagram batang mirip dengan histogram. Dalam beberapa pembahasan bahkan keduanya dianggap sama. Histogram bentuknya memang hampir sama dengan diagram batang, namun keduanya melayani fungsi yang berbeda. Histogram menggambarkan distribusi frekuensi

28sept-2

Gambar 2. Seorang spesialis anestesi mengukur skala nyeri pasien 8 jam setelah operasi appendiktomi di sebuah rumah sakit selama tiga bulan. Distribusi frekuensi disajikan dalam histogram ini. Nilai mengukuran dicantumkan pada puncak batang untuk memudahkan pembacaan, karena ada nilai-nilai dengan rentang cukup jauh.

Diagram pie juga merupakan pilihan penyajian data yang menarik namun mungkin kurang bermanfaat dalam penyajian data indikator mutu. Diagram pie memiliki keunggulan menyajikan distribusi relatif suatu data dibandingkan totalnya (Bahna & McLarty, 2009). Beberapa diagram pie dapat digunakan untuk membandingkan data-data yang berbeda.

28sept-3

Gambar 3. Contoh diagram pie yang menunjukkan distribusi frekuensi kepuasan pasien instalasi gawat darurat di suatu rumah sakit.

Penyajian data indikator mutu rumah sakit dengan teks, tabel, dan grafik pada presentasi seperti disampaikan di atas merupakan upaya agar audiens mendapatkan informasi lebih banyak dibandingkan kalau mendengar saja atau melihat saja (Cipolla, n.d.). Untuk itu, membuat presentasi yang baik secara keseluruhan juga penting. Tetaplah penting untuk mempersiapkan presentasi, mempelajari topik, dan mengeksekusi presentasi dengan baik. Buatlah presentasi dengan pembukaan, topik utama, dan kesimpulan (Cipolla, n.d.). Penyajian data yang sudah dipersiapkan dengan baik sesuai paparan di atas tetap harus dikuasai dan dikomunikasikan dengan baik selama presentasi.

Penutup

Penyajian data indikator mutu rumah sakit dapat menjadi penentu masa depan penting rumah sakit. Paradigma keselamatan dan mutu yang selalu terkait dewasa ini, menjadikan pengukuran mutu menjadi hal utama dalam persiapan akreditasi rumah sakit maupun pengembangan rumah sakit. Ide utama dalam penyajian data indikator mutu rumah sakit semestinya dapat terkomunikasikan dengan baik. Penyajian data indikator mutu seperti yang diuraikan di atas diharapkan dapat berkontribusi pada penyajian data indikator mutu yang lebih baik dan bermanfaat bagi rumah sakit.

Bahan Bacaan

Bahna, S.L. & McLarty, J.W., 2009. Data Presentation. Annals of Asthma, Allergy, & Immunology, 103, pp.S15-21.
Cipolla, R., n.d. [Online] Available at: HYPERLINK “http://mi.eng.cam.ac.uk/~cipolla/archive/Presentations/MakingPresentations.pdf” http://mi.eng.cam.ac.uk/~cipolla/archive/Presentations/MakingPresentations.pdf [Accessed 2 September 2015].
Collopy, B.T., 2000. Clinical indicators in accreditation: an effective stimulus to improve patient care. International Journal for Quality in Health Care, 12(3), pp.211-16.
Sonnad, S.S., 2002. Describing Data: Statistical and Graphical Method. Radiology, 225(3), pp.622-28.
Stengel, D., Calori, G.M. & Giannoudis, P.V., 2008. Graphical Data Presentation. Injury, Int. J. Care Injured , 39, pp.659-65.
Takaki, O. et al., 2013. Graphical representation of quality indicators based on medical service ontology. Springer Plus, 2(274), pp.1-20.

Penulis

Artikel ini ditulis dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H. dan merupakan opini pribadi. Data yang dipakai dalam contoh adalah fiktif dan digunakan hanya untuk memperjelas maksud.

{module [150]}